Anda di halaman 1dari 82

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang

Perkembangan dunia IPTEK saat ini berdampak terhadap proses perubahan kehidupan masyarakat dunia menuju kehidupan yang lebih maju, terutama pada bidang industri. Perkembangan IPTEK dunia yang semakin cepat telah menuntut manusia untuk lebih berperan aktif untuk menciptakan teknologi-teknologi baru. Dengan proses perubahan ini, masyarakat menuju kehidupan yang lebih maju akan lebih cepat terealisasi. Maka dari itu sangat dibutuhkan pembelajaran pengetahuan khususnya mahasiswa yang berkualitas untuk mengikuti perkembangan teknologi dijaman sekarang. Disamping sumber daya alam, sumber daya manusia perlu adanya kemauan dan tekad dalam menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Oleh karena itu pemahaman terhadap teori-teori yang diberikan selama kuliah dan mengaplikasikan teori tersebut dalam kerja praktek di lapangan adalah suatu tolak ukur keberhasilan penguasaan ilmu dalam bidang teknologi. Untuk itu Kerja Praktek di PT. Sasa Inti Gending - Probolinggo merupakan momentum yang sangat tepat untuk meningkatkan kualitas mahasiswa terhadap perkembangan IPTEK dan untuk menjadikan sumber daya manusia yang diharapkan. Mata kuliah kerja praktek merupakan syarat untuk menyelesaikan perkuliahan sehingga kami berupaya menimba ilmu yang berkaitan dengan teknologi industri. 1.2 Maksud dan Tujuan

Pelaksanaan kerja praktek di PT. Sasa Inti Gending Probolinggo memiliki maksud dan tujuan sebagai berikut : 1). 2). Sebagai persyaratan untuk menyelesaikan perkuliahan di Universitas jember. Agar mahasiswa mampu menerapkan teori yang didapat selama kuliah dalam bentuk praktek.

3). 4). 5).

Mahasiswa dapat mengetahui dan menyadari akan pentingnya suatu keterampilan di dunia industri Mempersiapkan mahasiswa untuk beradaptasi dengan lingkungan kerja setelah menyelesaikan studinya. Mahasiswa mampu memberikan penilaian secara obyektif terhadap perbandingan teori dan praktek dalam lembaga tinggi sekolah.

1.3

Rumusan Masalah Mengacu dari ruang lingkup pembahasan di atas maka permasalahan yang

kami bahas adalah (merupakan data kegiatan untuk memperoleh / diperlukan pelapornya) PT. Sasa Inti Gending probolinggo. 1.4 Metode Penulisan 1.4.1 Metode penulisan data Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data terdiri dari beberapa metode yaitu : 1. Penelitian kepustakaan (Library Research) yaitu pengumpulan data dengan cara studi pustaka atau buku-buku referensi sebagai acuan utama dalam penyusunan laporan. 2. Penelitian lapangan (Field Research) yaitu bentuk penelitian dilakukan untuk memperoleh data mengenai masalah dengan cara pengamatan langsung terhadap objek yang diteliti. 1.4.2 Teknik Pengolahan Data Metode pengolahan data merupakan kegiatan untuk memperoleh data yang diperlukan. Beberapa teknik yang digunakan yaitu : 1. 2. Interview adalah metode pengumpulan data dengan teknik wawancara dengan pengawas dan operator. Observasi adalah merupakan metode pengumpulan data dengan melakukan pengamatan langsung terhadap obyek yang diteliti di lapangan.

3. 1.5

Dokumentasi adalah merupakan pendataan terhadap dokumentasi yang berkaitan dengan pembahasan masalah.

Tempat dan Waktu Pelaksanaan Pelaksanaan kerja praktek memakan waktu kurang lebih satu bulan. Waktu

dan jadwal pelaksanaan : Tempat Waktu 7 Mei 15 Mei 2012 16 Mei 18 Mei 2012 21 Mei 29 Mei 2012 30 Mei 7 Juni 2012 1.6 Tinjauan Umum Perusahaan PT. Sasa inti merupakan salah satu produsen Mono Natrium Glutamat (MNG) di Indonesia. MNG yang diproduksi Pembangunan PT Sasa inti dijual di pasar dalam negeri maupun di pasar luar negeri. Saat ini ekspor MNG dilakukan dengan tujuan Negara-negara di Eropa, Asia, Afrika. Peusahaan ini berawal dari pembangunan Pabrik PT Sasa Fermentasi yang berlokasi di Gedangan Sidoarjo Jawa Timur pada bulan Pebruari 1968. Pabrik ini diresmikan oleh Gubernur Jawa Timur Bapak Muhammad Noer pada tanggal 09 Juni 1969. Teknologi yang digunakan dibeli dari Wei Chuan Taiwan. Bahan baku asam glutamate dan bahan pembantu masih diimpor dari luar negeri. Pada tahun 1973 didirikan pabrik PT Sasa Inti yang berlokasi di Gending Probolinggo, di atas tanah seluas 11,3 hektar. Pabrik ini menggunakan teknologi fermentasi asam glutamat yang dibeli dari Ve Wong Taiwan. Peresmian dilakukan pada tanggal 30 Agustus 1975 oleh Gubernur Jawa Timur Bapak Mohammad Noer dan Kepala Daerah : PT. SASA INTI Gending Probolinggo Jawa Timur Lokasi BTG (Boiler Turbine Generator) NDR (New Distribution Room) Water Chiller Diesel dan Compressor

1.6.1 Profil Perusahaan

Tingkat

II

Probolinggo

Bapak

Kolonel

Soenyoto.

Pabrik

ini

menghasilkan MNG, asam glutamat (Dry Glutamic Acid/Dry GA) dan pupuk cair (Liquid Fertilizer/LF). Bahan baku utama berupa tetes tebu sebagian besar dipenuhi dari dalam negeri. Proses produksi secara keseluruhan sejak pabrik beroperasi pada tahun 1975 sampai saat ini ditangani oleh putra-putri Indonesia. Sejak tahun 1988, PT Sasa Inti bekerjasama dengan AJICO yang berpusat di Tokyo Jepang. Pada tahun 2001 dibangun plant baru yaitu Plant New Drying System (NDS). Plant ini dibangun untuk menghasilkan produk MNG dengan persyaratan yang lebih ketat. Plant ini mulai beroperasi pada tahun 2002. Pada Tahun 2008 dibangun Plant baru di lokasi PT Sasa IntiGending Probolinggo yaitu packing. Tujuan dari dibangunnya plant ini untuk memindahkan proses pengemasan yang semula berada pada di PT Sasa Inti-Gedangan Sidoarjo. Per maret 2010 secara keseluruhan proses pengemasan yang ada di PT Sasa Inti-Gedangan dipindah ke PT Sasa Inti-Gending. Perbaikan mutu produk dan peningkatan kapasitas produksi Pabrik PT Sasa Inti Gending dilakukan secara terus menerus. Luas area pabrik saat ini bertambah menjadi kurang lebih 30 hektar. Berbagai riset dan pengembangan juga dilakukan secara terus menerus dengan orientasi untuk menghasilkan produk yang halal, bersih serta memenuhi kualifikasi produk untuk pasar ekspor. Per tanggal 01 Pebruari 2011 istilah MSG diganti menjadi MNG (Mono Natrium Glutamate) Beberapa hal telah dicapai oleh PT.SASA INTI GENDING yaitu : 1. Telah mendapatkan sertifikat ISO 9001 : 2008 untuk sistem manajemen mutu dari lembaga SAI Global 2. Sertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk kehalalan produk.

3. Telah mendapatkan sertifikat HACCP untuk menjamin keamanan produk. 4. Mendapatkan kategori biru dalam penilaian Proper ( Manajemen Lingkungan) Keamanan Mono Natrium Glutamate 1. National Academy of Science (N.A.S) dan National Research Council (N.R.C) di USA 2. Federation of America Societies for Experimental Biology (FASEB) di USA 3. Joint WHO / FAO Expert Committee on Food Additives (JECFA) dari PBB. 4. SK Menteri Kesehatan RI No : 235/MENKES/PER/DL/79 5. SK Menteri Agama RI No : B VI/02/2444/1976 Sertifikat HALAL MUI No : 07870398 Th. 2008 1.6.2 Sturuktur Organisasi PT. SASA INTI Gending Dilihat dari struktur organisasi perusahaan sangatlah jelas bahwa suatu organisasi yang dibentuk untuk tujuan kerja sama dalam mencapai tujuan bersama. Suatu organisasi harus memperlihatkan hubungan struktur antara faktor sosial ataupun dengan yang lainnya secara hirarki didalam organisasi yang dibuat harus memperlihatkan hubungan wewenang antara atasan dan bawahan, antara bawahan dan bawahan dalam pembagian tugas. Untuk memahami tentang struktur organisasi di PT. Sasa Inti Gending ,tentunya manajemen menghendaki adanya koordinasi suatu pekerjaan yang efektif dan efisien guna kelancaran, pembagian tugas dan kelangsungan organisasi hingga ketingkat yang paling bawah. Organisasi perusahaan yang dianut oleh PT. Sasa Inti Gending adalah organisasi yang berbentuk pohon yang berbentuk jalur komando yang disebut Fungsi LINI dan jalur Non Komando disebut Fungsi Staff.

Fungsi ini adalah personel yang mempunyai kedudukan paling tinggi yang mempunyai wewenang langsung dapat memerintah bawahan untuk melakukan kegiatan, aktifitas dan tanggung jawab atas tercapainya Visi, Misi dan Tujuan yang telah diprogramkan oleh perusahaan.

Fungsi Staff adalah membantu fungsi lini untuk melakukan semua kegiatan / aktifitas kerja agar mudah dan cepat tercapainya suatu program perusahaan tanpa adanya wewenang untuk melakukan perintah langsung dan ini bersifat memberikan saran pertimbangan kepada fungsi ini.

Semua sistim organisasi pasti mempunyai kelebihan dan kelemahan dalam fungsi kontrol pelaksanaan manajemen ,maka organisasi yang dianut oleh PT.Sasa Inti Gending juga tidak luput dari kelemahan tersebut. Adapun kebaikan dari kekurangan dari sistim organisasi ini adalah sebagai berikut : Kelebihan / kebaikan adalah adanya kesatuan wewenang dan tanggung jawab pada pimpinan, koordinasi yang lebih baik diterapkan ,diperoleh dari tenaga ahli dan mempunyai keluwesan dan toleran yang tinggi,dll. Kekurangan dan kelemahan adalah saran dan kritikan dari staff biasa saja diabaikan oleh pimpinan komando, penggunaan staff ahli akan menambah pembebanan biaya, kemungkinan pimpinan staff melampaui kewenangan staffnya sehingga menimbulkan ketidak senangan pejabat lain,dll.

Bagan Struktur Organisasi PT. Sasa Inti Gending


LF. Sales G. Affair Divisi Administrasi Administrasi Personalia/HRD Adm. II Pembelian Elect. & Instrument Teknik Mekanik & Maint. Dewan Direksi Pimpinan Pabrik Divisi Teknik Engineering Utility Teknik Packing Fermentasi Divisi Proses Isolasi PMR PPC-TD

Divisi Packing

Packing Polycello Plant PLL Laboratorium QA & SMK-3 Sekretaris Keamanan

Gambar 1. Sruktur Organisasi

1.6.3. Visi, Misi, dan Goal Perusahaan VISI Menjadi Perusahaan yang menghasilkan produk bermutu, aman, halal, serta tetap menjaga kelestarian lingkungan. MISI Mengutamakan keselamatan kerja, melaksanakan sistem produksi bersih, aman, efisien serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia. GOAL Kelangsungan hidup perusahaan dengan daya saing tinggi.

BAB II TEORI DASAR 2.1 Elektonika Dasar 2.1.1 Resistor Resistor juga disebut tahanan dann adapula yang menamakan werstand (dari kata asing). Resistor adalah suatu hambatan listrik yang dipakai dalam suatu rangkaian pesawat-pesawat elektronika. Adapun fungsi dari resistor dalam suatu rangkaian elektronika adalah sebagai berikut: Menghambat atau memperkecil arus listrik Memperkecil atau memperbesar tegangan listrik Pembagi arus pada rangkaian parallel Sebagai pemikul beban Membagi tegangan istrik

Berdasarkan Jenisnya Resistor dibagi menjadi: 1. Fixed resistor yaitu resistor yang nilai hambatannya tidak dapat dirubah-rubah 2. Variabel Resistor yaitu resistor yang nilai hambatannya dapat dirubahrubah 3. Resistor non-linier yaitu resistor yang nilai hambatannya tidak linier karena faktor lingkungan misalnya suhu dan cahaya 1. Resistor Tetap (Fixed) Secara fisik bentuk resistor tetap adalah sebagai berikut :

Gambar 2.1 Bentuk fisik resistor tetap

Beberapa hal yang perlu diperhatikan : 1. Makin besar bentuk fisik resistor, makin besar pula daya resistor tersebut 2. Semakin besar nilai daya resistor makin tinggi suhu yang bisa diterima resistor tersebut. 3. Resistor non-linier yaitu resistor yang nilai hambatannya tidak linier karena faktor lingkungan misalnya suhu dan cahaya Simbol dari fixed resistor adalah sebagai berikut :

Resistor Tetap

Standar

AS dan Jepang

Eropa

Gambar 2.2 Simbol resistor tetap

2. Resistor Variabel Ada dua jenis resistor variable diantaranya adalah 1. Trimpot yaitu variabel resistor yang nilai hambatannya dapat diubah dengan mengunakan obeng. Berikut contoh bentuk fisik dari variable resistor jenis Trimpot :

Gambar 2.3 Bentuk fisik variabel resistor (trimpot)

10

2. Potensiometer yaitu variabel resistor yang nilai hambatannya dapat diubah langsung mengunakan tangan (tanpa alat bantu) dengan cara memutar poros engkol atau mengeser kenop untuk potensio geser.
Berikut contoh bentuk fisik dari variable resistor jenis potensiometer :

Gambar 2.4 Bentuk fisik variabel resistor (potensiometer)

Simbol dari variable resistor adalah sebagai berikut :

Resistor Variabel

Standar

AS dan Jepang

Eropa

Gambar 2.5 Simbol variabel resistor

3. Resistor non-linier PTC : Positive Temperatur Coefisien adalah jenis resistor non-linier yang nilai hambatannya terpengaruh oleh perubahan suhu. Makin tinggi suhu yang mempengaruhi makin besar nilai hambatannya. NTC : Negative Temperatur Coefisien adalah jenis resistor non-linier yang nilai hambatannya terpengaruh oleh perubahan suhu. Makin tinggi suhu yang mempengaruhi makin kecil nilai hambatannya.

11

LDR : Light Dependent Resistor adalah jenis resistor non-linier yang nilai hambatannya terpengaruh oleh perubahan intensitas cahaya yang mengenainya. Makin besar intensitas cahaya yang mengenainya makin kecil nilai hambatannya. Simbol dari resistor non-linier adalah sebagai berikut :

Resistor Non Linier

Jenis

LDR

NTC

PTC

Gambar 2.6 Simbol resistor non linier

Pembacaan nilai tahanan pada resistor selain menggunakan alat ukur juga dapat menggunakan pembacaan nilai gelang warna pada badan resistor, untuk setiap warna memiliki nilai sendiri, seperti yang terlihat pada gambar di bawah:

Gambar 2.7 Kode gelang warna resistor

12

Sebagai contoh, hijau-biru-kuning-merah adalah 56 x 104 = 560 k 2%. Deskripsi yang lebih mudah adalah: pita pertama, hijau, mempunyai harga 5 dan pita kedua, biru, mempunyai harga 6, dan keduanya dihitung sebagai 56. Pita ketiga,kuning, mempunyai harga 104, yang menambahkan empat nol di belakang 56, sedangkan pita keempat, merah, merupakan kode untuk toleransi 2%, memberikan nilai 560.000 pada keakuratan 2%. Identifikasi lima pita digunakan pada resistor presisi (toleransi 1%, 0.5%, 0.25%, 0.1%), untuk memberikan harga resistansi ketiga. Tiga pita pertama menunjukkan harga resistansi, pita keempat adalah pengali, dan yang kelima adalah toleransi. Resistor lima pita dengan pita keempat berwarna emas atau perak kadang-kadang diabaikan, biasanya pada resistor lawas atau penggunaan khusus. Pita keempat adalah toleransi dan yang kelima adalah koefisien suhu. 2.1.2 Kapasitor Kapasitor disebut juga kondensator. Komponen elektronik ini bisa menyimpan tenaga dalam waktu tertentu tanpa disertai reaksi kimia. Berbeda dengan baterai dan aki. Baterai dan aki bisa menyimpan tenaga listrik namun disertai dengan reaksi kimia. Pada dasarnya kondensator dibentuk dari dua buah plat penghantar yang terisolasi satu sama lain. Isolator tersebut disebut juga dielektrik, jika dielektriknya terbuat dari kertas disebut kondensator kertas, jika dielektriknya terbuat dari kramik, maka kondensator tersebut disebut kondensator kramik. Kapasitansi Kapasitansi didefenisikan sebagai kemampuan dari suatu kapasitor untuk dapat menampung muatan elektron. Coulombs pada abad 18 menghitung bahwa 1 coulomb = 6.25 x 1018 elektron. Kemudian Michael Faraday membuat kesimpulan bahwa sebuah kapasitor akan memiliki kapasitansi sebesar 1 farad jika dengan tegangan 1 volt dapat memuat muatan elektron sebanyak 1 coulombs. Dengan rumus dapat ditulis : Q = C V

13

Q = muatan elektron dalam C (coulombs) C = nilai kapasitansi dalam F (farads) V = nilai tegangan V (Volt)

Kegunaan Kegunaan kapasitor dalam berbagai rangkaian listrik adalah: a. Mencegah loncatan bunga api listrik pada rangkaian yang mengandung kumparan, bila tiba-tiba arus listrik diputuskan dan dinyalakan. b. Menyimpan muatan atau energi listrik dalam rangkaian penyala elektronik. c. Sebagai filter dalam catu daya (power supply). Jenis Kapasistor Berdasarkan Kutubnya Kapasitor sendiri dibagi menjadi dua jenis, yaitu kapasitor polar dan kapasitor bipolar/ non polar. Pembagian ini berdasarkan pada adanya polaritas (kutub positif dan negatif) dari masing-masing kapasitor. Kapasitor Polar Kapasitor polar memiliki dua kutub yang berbeda pada kakinya (-/+), sehingga dalam pemasangannya tidak boleh terbalik. Tiap kapasitor polar memiliki tegangan kerja yang berbeda-beda, biasanya batas maksimal tegangan yang diperbolehkan untuk sebuah kapasitor tertulis pada badannya. Tegangan kerja pada elco dinyatakan dalam volt.

Gambar 2.8 Bentuk fisik kapasitor bipolar

14

Apabila sebuah kapasitor polar memiliki nilai 10 uF/25 volt, itu artinya kapasitor tersebut bernilai 10 mikro Farad dan memiliki batas maksimum tegangan 25 volt. Kapasitor Non Polar Kapasitor non polar walaupun sama-sama untuk menyimpan muatan listrik, tapi banyak perbedaan diantara dua macam capasitor ini, baik dari bahan yang digunakan untuk membuat kapasitor tersebut maupun dalam kegunaannya.Kapasistor non polar tidak memilik kutub pada kakinya (-/+), sehingga dalam pemasangannya boleh terbalik. Membaca Kapasitansi Pada kapasitor yang berukuran besar, nilai kapasitansi umumnya ditulis dengan angka yang jelas. Lengkap dengan nilai tegangan maksimum dan polaritasnya. Misalnya pada kapasitor elco dengan jelas tertulis kapasitansinya sebesar 22uF/25v. Kapasitor yang ukuran fisiknya mungil dan kecil biasanya hanya bertuliskan 2 (dua) atau 3 (tiga) angka saja. Jika hanya ada dua angka satuannya adalah pF (pico farads). Sebagai contoh, kapasitor yang bertuliskan dua angka 47, maka kapasitansi kapasitor tersebut adalah 47 pF. Jika ada 3 digit, angka pertama dan kedua menunjukkan nilai nominal, sedangkan angka ke-3 adalah faktor pengali. Faktor pengali sesuai dengan angka nominalnya, berturut-turut 1 = 10, 2 = 100, 3 = 1.000, 4 = 10.000 dan seterusnya. Misalnya pada kapasitor keramik tertulis 104, maka kapasitansinya adalah 10 x 10.000 = 100.000pF atau = 100nF. Contoh lain misalnya tertulis 222, artinya kapasitansi kapasitor tersebut adalah 22 x 100 = 2200 pF = 2.2 nF. Selain dari kapasitansi ada beberapa karakteristik penting lainnya yang perlu diperhatikan. Biasanya spesifikasi karakteristik ini disajikan oleh pabrik pembuat didalam datasheet.

15

2.1.3 Kumparan (Induktor) Sebuah induktor atau reaktor adalah sebuah komponen elektronika pasif (kebanyakan berbentuk torus) yang dapat menyimpan energi pada medan magnet yang ditimbulkan oleh arus listrik yang melintasinya. Kemampuan induktor untuk menyimpan energi magnet ditentukan oleh induktansinya, dalam satuan Henry. Biasanya sebuah induktor adalah sebuah kawat penghantar yang dibentuk menjadi kumparan, lilitan membantu membuat medan magnet yang kuat didalam kumparan dikarenakan hukum induksi Faraday. Induktor adalah salah satu komponen elektronik dasar yang digunakan dalam rangkaian yang arus dan tegangannya berubah-ubah dikarenakan kemampuan induktor untuk memproses arus bolak-balik. Sebuah induktor ideal memiliki induktansi, tetapi tanpa resistansi atau kapasitansi, dan tidak memboroskan daya. Sebuah induktor pada kenyataanya merupakan gabungan dari induktansi, beberapa resistansi karena resistivitas kawat, dan beberapa kapasitansi. Pada suatu frekuensi, induktor dapat menjadi sirkuit resonansi karena kapasitas parasitnya. Induktansi (L) (diukur dalam Henry) adalah efek dari medan magnet yang terbentuk disekitar konduktor pembawa arus yang bersifat menahan perubahan arus. Arus listrik yang melewati konduktor membuat medan magnet sebanding dengan besar arus. Perubahan dalam arus menyebabkan perubahan medan magnet yang mengakibatkan gaya elektromotif lawan melalui GGL induksi yang bersifat menentang perubahan arus. Induktansi diukur berdasarkan jumlah gaya elektromotif yang ditimbulkan untuk setiap perubahan arus terhadap waktu. Sebagai contoh, sebuah induktor dengan induktansi 1 Henry menimbulkan gaya elektromotif sebesar 1 volt saat arus dalam indukutor berubah dengan kecepatan 1 ampere setiap sekon. Jumlah lilitan, ukuran lilitan, dan material inti menentukan induktansi.

16

Jenis-jenis induktor Lilitan ferit sarang madu Lilitan sarang madu dililit dengan cara bersilangan untuk mengurangi efek kapasitansi terdistribusi. Ini sering digunakan pada rangkaian tala pada penerima radio dalam jangkah gelombang menengah dan gelombang panjang. Karena konstruksinya, induktansi tinggi dapat dicapai dengan bentuk yang kecil. Lilitan inti toroid Sebuah lilitan sederhana yang dililit dengan bentuk silinder menciptakan medan magnet eksternal dengan kutub utara-selatan. Sebuah lilitan toroid dapat dibuat dari lilitan silinder dengan menghubungkannya menjadi berbentuk donat, sehingga menyatukan kutub utara dan selatan. Pada lilitan toroid, medan magnet ditahan pada lilitan. Ini menyebabkan lebih sedikit radiasi magnetik dari lilitan, dan kekebalan dari medan magnet eksternal. 2.1.4 Dioda Dioda merupakan piranti non-linier karena grafik arus terhadap tegangan bukan berupa garis lurus, hal ini karena adanya potensial penghalang (Potential Barrier). Ketika tegangan dioda lebih kecil dari tegangan penghambat tersebut maka arus dioda akan kecil, ketika tegangan dioda melebihi potensial penghalang arus dioda akan naik secara cepat. Dioda terbuat dari bahan semi konduktor tipe P dan semi konduktor tipe N yang di sambungkan. Semi konduktor tipe P berfungsi sebagai Anoda dan semi konduktor tipe N berfungsi sebagai katoda. Misalkan kita memiliki sepotong silikon tipe-p dan sepotong silikon tipe-n dan secara sempurna terhubung membentuk sambungan p-n. Sesaat setelah terjadi penyambungan, pada daerah sambungan semikonduktor terjadi perubahan. Pada daerah tipe-n memiliki sejumlah elektron yang akan dengan mudah terlepas dari atom induknya. Pada bagian tipe-p, atom aseptor menarik elektron (atau menghasilkan lubang). Kedua pembawa muatan mayoritas tersebut memiliki 17

cukup energi untuk mencapai material pada sisi lain sambungan. Pada hal ini terjadi difusi elektron dari tipe-n ke tipe-p dan difusilubang dari tipe-p ke tipen. Proses difusi ini tidak berlangsung selamanya karena elektron yang sudah berada di tempatnya akan menolak elektron yang datang kemudian. Proses difusi berakhir saat tidak ada lagi elektron yang memiliki cukup energi untuk mengalir. Kita harus memperhitungkan proses selanjutnya dimana elektron dapat menyeberang sambungan. Daerah yang sangat tipis dekat sambungan disebut daerah deplesi (depletion region) atau daerah transisi. Daerah ini dapat membangkitkan pembawa muatan minoritas saat terdapat cukup energi termal untuk membangkitkan pasangan lubang-elektron. Salah satu dari pembawa muatan minoritas ini, misalnya elektron pada tipe-p, akan mengalami pengaruh dari proses penolakan elektron difusi dari tipe-n. Dengan kata lain elektron minoritas ini akan ikut tertarik ke semikonduktor tipe-n. Gerakan pembawa muatan akibat pembangkitan termal ini lebih dikenal sebagai drift. Situasi akan stabil saat arus difusi sama dengan arus drift. Pada daerah sambungan/daerah diplesi yang sangat tipis terjadi pengosongan pembawa muatan mayoritas akibat terjadinya difusi ke sisi yang lain. Hilangnya pembawa muatan mayoritas di daerah ini meninggalkan lapisan muatan positip didaerah tipe-n dan lapisan muatan negatif di daerah tipe-p. Bias Maju Dioda

Gambar 2.9 Dioda dengan bias maju

18

Gambar di atas merupakan gambar karakteristik dioda pada saat diberi bias maju. Lapisan yang melintang antara sisi P dan sisi N diatas disebut sebagai lapisan deplesi (depletion layer), pada lapisan ini terjadi proses keseimbangan hole dan elektron . Secara sederhana cara kerja dioda pada saat diberi bias maju adalah sebagai berikut, pada saat dioda diberi bias maju, maka elektron akan bergerak dari terminal negative batere menuju terminal positif batere (berkebalikan dengan arah arus listrik). Elektron yang mencapai bagian katoda (sisi N dioda) akan membuat elektron yang ada pada katoda akan bergerak menuju anoda dan membuat depletion layer akan terisi penuh oleh elektron, sehingga pada kondisi ini dioda bekerja bagai kawat yang tersambung. Bias Mundur Dioda

Gambar 2.10 Dioda dengan bias maju

Berkebalikan dengan bias maju, pada bias mundur elektron akan bergerak dari terminal negative batere menuju anoda dari dioda (sisi P). Pada kondisi ini potensial positif yang terhubung dengan katoda akan membuat elektron pada katoda tertarik menjauhi depletion layer, sehingga akan terjadi pengosongan pada depletion layer dan membuat kedua sisi terpisah. Pada bias mundur ini dioda bekerja bagaikan kawat yang terputus dan membuat tegangan yang jatuh pada dioda akan sama dengan tegangan supply.

Tegangan Breakdown 19

Dengan tegangan bias maju yang kecil saja dioda sudah menjadi konduktor. Tidak serta merta diatas 0 volt, tetapi memang tegangan beberapa volt diatas nol baru bisa terjadi konduksi. Ini disebabkan karena adanya dinding deplesi (deplesion layer). Untuk dioda yang terbuat dari bahan Silikon tegangan konduksi adalah diatas 0.7 volt. Kira-kira 0.3 volt batas minimum untuk dioda yang terbuat dari bahan Germanium. Sebaliknya untuk bias negatif dioda tidak dapat mengalirkan arus, namun memang ada batasnya. Sampai beberapa puluh bahkan ratusan volt baru terjadi breakdown, dimana dioda tidak lagi dapat menahan aliran elektron yang terbentuk di lapisan deplesi. Tegangan Kaki (Knee Voltage) Adalah tegangan pada saat arus mulai naik secara cepat pada saat dioda berada pada daerah maju, tegangan ini sama dengan tegangan penghalang. Apabila tegangan dioda lebih besar dari tegangan kaki maka dioda akan menghantar dengan mudah dan sebaliknya bila tegangan dioda lebih kecil maka dioda tidak menghantar dengan baik Hambatan Bulk Di atas tegangan kaki, arus dioda akan membesar secara cepat, dengan kata lain pertambahan yang kecil pada tegangan dioda akan menyebabkan perubahan yang besar pada arus dioda.Setelah tegangan penghalang terlampaui, yang menghalangi arus adalah hambatan Ohmic daerah P dan N, Jumlah hambatan tersebut dinamakan Hambatan Bulk Dioda Ideal Secara sederhana, dioda akan menghantar dengan baik pada arah maju dan kurang baik pada arah balik, Secara ideal, dioda akan berperilaku seperti penghantar sempurna artinya dioda akan memiliki hambatan nol pada saat diberi catu maju dan hambatan tak terhingga saat dicatu balik. 2.1.5 Transistor

20

Transistor merupakan dioda dengan dua sambungan (junction). Sambungan itu membentuktransistor PNP maupun NPN. Ujung-ujung terminalnya berturut-turut disebut emitor, base dan kolektor. Base selalu berada di tengah, di antara emitor dan kolektor. Transistor ini disebut transistor bipolar, karena struktur dan prinsip kerjanya tergantung dari perpindahan elektron di kutup negatif mengisi kekurangan elektron (hole) di kutup positif. bi = 2 dan polar = kutup. Adalah William Schockley pada tahun 1951 yang pertama kali menemukan transistor bipolar. Berikut adalah gambar transisot jenis NPN dan PNP

Gambar 2.11 Simbol transistor NPN dan PNP

Transistor adalah komponen yang bekerja sebagai sakelar (switch on/off) dan juga sebagai penguat (amplifier). Transistor bipolar adalah inovasi yang mengantikan transistor tabung (vacum tube). Selain dimensi transistor bipolar yang relatif lebih kecil, disipasi dayanya juga lebih kecil sehingga dapat bekerja pada suhu yang lebih dingin. Dalam beberapa aplikasi, transistor tabung masih digunakan terutama pada aplikasi audio, untuk mendapatkan kualitas suara yang baik, namun konsumsi dayanya sangat besar. Sebab untuk dapat melepaskan elektron, teknik yang digunakan adalah pemanasan filamen seperti pada lampu pijar. Transistor bipolar memiliki 2 junction yang dapat disamakan dengan penggabungan 2 buah dioda. Emiter-Base adalah satu junction dan BaseKolektor junction lainnya. Seperti pada dioda, arus hanya akan mengalir hanya jika diberi bias positif, yaitu hanya jika tegangan pada material P lebih positif daripada material N (forward bias). Pada gambar ilustrasi transistor NPN

21

berikut ini, junction base-emiter diberi bias positif sedangkan base-kolektor mendapat bias negatif (reverse bias).

Gambar 2.12 Arus elektron transistor NPN

Karena base-emiter mendapat bias positif maka seperti pada dioda, elektron mengalir dari emitter menuju base. Kolektor pada rangkaian ini lebih positif sebab mendapat tegangan positif. Karena kolektor ini lebih positif, aliran elektron bergerak menuju kutup ini. Misalnya tidak ada kolektor, aliran elektron seluruhnya akan menuju base seperti pada dioda. Tetapi karena lebar base yang sangat tipis, hanya sebagian elektron yang dapat bergabung dengan hole yang ada pada base. Sebagian besar akan menembus lapisan base menuju kolektor. Inilah alasannya mengapa jika dua dioda digabungkan tidak dapat menjadi sebuah transistor, karena persyaratannya adalah lebar base harus sangat tipis sehingga dapat diterjang oleh elektron. Jika misalnya tegangan base-emitor dibalik (reverse bias), maka tidak akan terjadi aliran elektron dari emitor menuju kolektor. Jika pelan-pelan 'keran' base diberi bias maju (forward bias), elektron mengalir menuju kolektor dan besarnya sebanding dengan besar arus bias base yang diberikan. Dengan kata lain, arus base mengatur banyaknya elektron yang mengalir dari emiter menuju kolektor. Ini yang dinamakan efek penguatan transistor, karena arus base yang kecil menghasilkan arus emiterkolektor yang lebih besar. Istilah amplifier (penguatan) menjadi salah kaprah, karena dengan penjelasan di atas sebenarnya yang terjadi bukan penguatan, melainkan arus yang lebih kecil mengontrol aliran arus yang lebih besar. Juga dapat dijelaskan bahwa base mengatur membuka dan menutup aliran arus

22

emiter-kolektor (switch on/off).Pada transistor PNP, fenomena yang sama dapat dijelaskan dengan memberikan bias seperti pada gambar berikut. Dalam hal ini yang disebut perpindahan arus adalah arus hole.

Gambar 2.13 Arus hole transistor PNP

Untuk memudahkan pembahasan prinsip bias transistor lebih lanjut, berikut adalah terminology parameter transistor. Dalam hal ini arah arus adalah dari potensial yang lebih besar ke potensial yang lebih kecil.

Gambar 2.14 Arus potensial

IC : arus kolektor IB : arus base IE : arus emitor VC : tegangan kolektor VB : tegangan base VE : tegangan emitor VCC : tegangan pada kolektor VCE : tegangan jepit kolektor-emitor

23

VEE : tegangan pada emitor VBE : tegangan jepit base-emitor ICBO : arus base-kolektor VCB : tegangan jepit kolektor-base Perlu diingat, walaupun tidak perbedaan pada doping bahan pembuat emitor dan kolektor, namun pada prakteknya emitor dan kolektor tidak dapat dibalik. 2.1.6 SCR Komponen lain yang mempunyai karakteristik mirip dengan thyristor

adalah Silicon Kontrolled Rectifier (SCR), hanya disini tegangan penyalaan dapat diubah ubah sesuai dengan besarnya arus yang diberikan pada gerbang (gate) dari SCR tersebut. Makin besar arus yang diberikan , makin besar pula tegangan penyalaanya. Simbol SCR digambarkan seperti Gambar dibawah ini. SCR dalam banyak literatur disebut Thristor saja.

Gambar 2.15 Simbol SCR

Melalui kaki (pin) gate tersebut komponen ini memungkinkan ditriger menjadi ON, yaitu dengan memberi arus gate. Ternyata dengan memberi arus gate Ig yang semakin besar dapat menurunkan tegangan breakover (Vbo) sebuah SCR. Tegangan ini adalah tegangan minimum yang diperlukan SCR untuk menjadi ON. Pada nilai arus gate tertentu, ternyata akan membuat SCR menjadi ON. Bahkan dengan tegangan forward yang kecil sekalipun misalnya 1 volt saja atau lebih kecil lagi. 24

MOSFET Transistor efek-medan semikonduktor logam-oksida (MOSFET) adalah salah satu jenis transistor efek medan. Prinsip dasar perangkat ini pertama kali diusulkan oleh Julius Edgar Lilienfeld pada tahun 1925 . MOSFET mencakup kanal dari bahan semikonduktor tipe-N dan tipe-P, dan disebut NMOSFET atau PMOSFET (juga biasa nMOS, pMOS). Bahan semikonduktor yang digunakan untuk membuat MOSFET adalah silikon, namun beberapa produsen IC, terutama IBM, mulai menggunakan campuran silikon dan germanium (SiGe) sebagai kanal MOSFET. Sayangnya, banyak semikonduktor dengan karakteristik listrik yang lebih baik daripada silikon, seperti galium arsenid (GaAs), tidak membentuk antarmuka semikonduktor-keisolator yang baik sehingga tidak cocok untuk MOSFET. Hingga kini terus diadakan penelitian untuk membuat isolator yang dapat diterima dengan baik untuk bahan semikonduktor lainnya. Berbagai simbol digunakan untuk MOSFET. Desain dasar umumnya garis untuk saluran dengan kaki sumber dan cerat meninggalkannya di setiap ujung dan membelok kembali sejajar dengan kanal. Garis lain diambil sejajar dari kanal untuk gerbang. Kadang-kadang tiga segmen garis digunakan untuk kanal peranti moda pengayaan dan garis lurus untuk moda pemiskinan. Sambungan badan jika ditampilkan digambar tersambung ke bagian tengan kanal dengan panah yang menunjukkan PMOS atau NMOS. Panah selalu menunjuk dari P ke N, sehingga NMOS (kanal-N dalam sumur-P atau substrat-P) memiliki panah yang menunjuk kedalam (dari badan ke kanal). Jika badan terhubung ke sumber (seperti yang umumnya dilakukan) kadang-kadang saluran badan dibelokkan untuk bertemu dengan sumber dan meninggalkan transistor. Jika badan tidak ditampilkan (seperti yang sering terjadi pada desain IC desain karena umumnya badan bersama) simbol inversi kadang-kadang digunakan untuk menunjukkan PMOS, sebuah panah pada sumber dapat digunakan dengan cara yang sama seperti transistor dwikutub (keluar untuk NMOS, masuk untuk PMOS).

25

kanalP

Kanal -N

MOSFET JFET MOSFET pengayaan pemiskinan

Gambar 2.16 Simbol MOSFET dan JFET

Untuk simbol yang memperlihatkan saluran badan, di sini dihubungkan internal ke sumber. Ini adalah konfigurasi umum, namun tidak berarti hanya satu-satunya konfigurasi. Pada dasarnya, MOSFET adalah peranti empat saluran, dan di sirkuit terpadu banyak MOSFET yang berbagi sambungan badan, tidak harus terhubung dengan saluran sumber semua transistor. Struktur semikonduktorlogamoksida sederhana diperoleh dengan menumbuhkan selapis oksida silikon diatas substrat silikon dan mengendapkan selapis logam atau silikon polikristalin. Karena oksida silikon merupakan bahan dielektrik, struktur MOS serupa dengan kondensator planar dengan salah satu elektrodanya digantikan dengan semikonduktor. Ketika tegangan diterapkan membentangi struktur MOS, tegangan ini mengubah penyebaran muatan dalam semikonduktor. Umpamakan sebuah semikonduktor tipe-p (dengan NA merupakan kepadatan akseptor, p kepadatan lubang ; p = NA pada badan netral), sebuah tegangan positif VGB dari gerbang ke badan membuat lapisan pemiskinan dengan memaksa lubang bermuatan positif untuk menjauhi antarmuka gerbang isolator / semikonduktor, meninggalkan daerah bebas pembawa. Jika VGB cukup tinggi, kepadatan tinggi pembawa muatan negatif membentuk lapisan inversi dibawah antarmuka antara semikonduktor dan isolator. Umumnya, tegangan gerbang dimana kepadatan

26

elektron pada lapisan inversi sama dengan kepadatan lubang pada badan disebut tegangan ambang. Sebuah transistor efek-medan semikonduktorlogamoksida (MOSFET) adalah berdasarkan pada modulasi konsentrasi muatan oleh kapasitansi MOS di antara elektroda badan dan elektroda gerbang yang terletak diatas badan dan diisolasikan dari semua daerah peranti dengan sebuah lapisan dielektrik gerbang yang dalam MOSFET adalah sebuah oksida, seperti silikon dioksida. Jika dielektriknya bukan merupakan oksida, peranti mungkin disebut sebagai FET semikonduktorlogamterisolasi (MISFET) atau FET gerbang terisolasi (IGFET). MOSFET menyertakan dua saluran tambahan yaitu sumber dan cerat yang disambungkan ke daerah dikotori berat tersendiri yang dipisahkan dari daerah badan. Daerah tersebut dapat berupa tipe-p ataupun tipe-n, tetapi keduanya harus dari tipe yang sama, dan berlawanan tipe dengan daerah badan. Daerah sumber dan cerat yang dikotori berat biasanya ditandai dengan '+' setelah tipe pengotor. Sedangkan daerah yang dikotori ringan tidak diberikan tanda. Jika MOSFET adalah berupa kanal-n atau NMOS FET, lalu sumber dan cerat adalah daerah 'n+' dan badan adalah daerah 'p'. Maka seperti yang dijelaskan diatas, dengan tegangan gerbang yang cukup, diatas harga tegangan ambang, elektron dari sumber memasuki lapisan inversi atau kanal-n pada antarmuka antara daerah-p dengan oksida. Kanal yang menghantar ini merentang di antara sumber dan cerat, dan arus dialirkan melalui kanal ini jika ada tegangan yang dikenakan di antara sumber dan cerat. Jika tegangan gerbang dibawah harga ambang, kanal kurang terpopulasi dan hanya sedikit arus bocoran pra ambang yang dapat mengalir dari sumber ke cerat.

2.1.7

Amplifier

27

Operational Amplifier atau di singkat op-amp merupakan salah satu komponen analog yang sering digunakan dalam berbagai aplikasi rangkaian elektronika. Aplikasi op-amp yang paling sering dipakai antara lain adalah rangkaian inverter, non-inverter, integrator dan differensiator. Pada Op-Amp memiliki 2 rangkaian feedback (umpan balik) yaitu feedback negatif dan feedback positif dimana Feedback negatif pada op-amp memegang peranan penting. Secara umum, umpan balik positif akan menghasilkan osilasi sedangkan umpanbalik negative menghasilkan penguatan yang dapat terukur. Op-amp ideal Op-amp pada dasarnya adalah sebuah differential amplifier (penguat diferensial) yang memiliki dua masukan. Input (masukan) op-amp ada yang dinamakan input inverting dan non-inverting. Op-amp ideal memiliki open loop gain (penguatan loop terbuka) yang tak terhingga besarnya. Seperti misalnya op-amp LM741 yang sering digunakan oleh banyak praktisi elektronika, memiliki karakteristik tipikal open loop gain sebesar 104 ~ 105. Penguatan yang sebesar ini membuat op-amp menjadi tidak stabil, dan penguatannya menjadi tidak terukur (infinite). Disinilah peran rangkaian negative feedback (umpanbalik negatif) diperlukan, sehingga op-amp dapat dirangkai menjadi aplikasi dengan nilai penguatan yang terukur (finite). Impedasi input op-amp ideal mestinya adalah tak terhingga, sehingga mestinya arus input pada tiap masukannya adalah 0. Sebagai perbandingan praktis, op-amp LM741 memiliki impedansi input Zin = 106 Ohm. Nilai impedansi ini masih relatif sangat besar sehingga arus input op-amp LM741 mestinya sangat kecil. Ada dua aturan penting dalam melakukan analisa rangkaian op-amp berdasarkan karakteristik op-amp ideal. Aturan ini dalam beberapa literatur dinamakan golden rule,yaitu: Aturan 1: Perbedaan tegangan antara input v+ dan v- adalah nol (v+ - v- = 0 atau v+ = v- ) Aturan 2:

28

Arus pada input Op-amp adalah nol (i+ = i- = 0) inilah dua aturan penting op-amp ideal yang digunakan untuk menganalisa rangkaian op-amp. Karakteristik Dasar Op-Amp Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa pada dasarnya Opamp adalah sebuah differential amplifier (penguat diferensial), yang mana memiliki 2 input masukan yaitu input inverting (V-) dan input non-inverting (V+).

Gambar 2.17 Diagram schematic simbol Op-Amp

Simbol op-amp adalah seperti pada gambar 2.15 dengan 2 input, non-inverting (+) dan input inverting (-). Umumnya op-amp bekerja dengan dual supply (+Vcc dan Vee) namun banyak juga op-amp dibuat dengan single supply (Vcc ground). Simbol rangkaian di dalam op-amp pada gambar 2.15 adalah parameter umum dari sebuah op-amp. R-in adalah resitansi input yang nilai idealnya infinit (tak terhingga). R-out adalah resistansi output dan besar resistansi idealnya 0 (nol). Sedangkan AOL adalah nilai penguatan open loop dan nilai idealnya tak terhingga. Saat ini banyak terdapat tipe-tipe op-amp dengan karakterisktik yang spesifik. Op-amp standard type 741 dalam kemasan IC DIP 8 pin. Untuk tipe yang sama, tiap pabrikan mengeluarkan seri IC dengan insial atau nama yang berbeda. Misalnya dikenal MC1741 dari motorola, LM741 buatan National 29

Semiconductor, SN741 dari Texas Instrument dan lain sebagainya. Tergantung dari teknologi pembuatan dan desain IC-nya, karakteristik satu op-amp dapat berbeda dengan op-amp lain. Adder/ Penjumlah Rangkaian penjumlah atau rangkaian adder adalah rangkaian penjumlah yang dasar rangkaiannya adalah rangkaian inverting amplifier dan hasil outputnya adalah dikalikan dengan penguatan seperti pada rangkaian inverting. Pada dasarnya nilai outputnya adalah jumlah dari penguatan masing masing dari inverting, seperti :

Bila Rf = Ra = Rb = Rc, maka persamaan menjadi :

Tahanan Rom gunanya adalah untuk meletak titik nol supaya tepat, terkadang tanpa Rom sudah cukup stabil. Maka rangkaian ada yang tanpa Rom juga baik hasilnya. Rangkaian penjumlah dengan menggunakan noninverting sangat suah dilakukan karena tegangan yang diparalel akan menjadi tegangan terkecil yang ada., sehingga susah terjadi proses penjumlahan.

30

Gambar 2.18 Rangkaian penjumlah dengan hasil negative

2.1.8

Filter Filter adalah suatu rangkaian yang dipergunakan untuk membuang

tegangan output pada frekuensi tertentu. Untuk merancang filter dapat digunakan komponen pasif (R,L,C) dan komponen aktif (op-amp, transistor). Dengan demikian filter dapat dikelompokkan menjadi filter pasif dan filter aktif. Jadi filter tergantung dari tipe elemen yang digunakan pada rangkaiannya, filterakan dibedakan pada filter aktif dan filter pasif. Elemen pasif adalah tahanan, kapasitor dan induktor. Filter aktif dilengkapi dengan transistor atau op-amp selain tahanan dan kapasitor. Tipe elemen ditentukan oleh pengoperasian range frekuensi kerja rangkaian. Misal RC filter umumnya digunakan untuk audio atau operasi frekuensi rendah dan filter LC atau kristal lebih sering digunakan pada frekuensi tinggi. Pertama-tama pada bagian ini menganalisa dan merancang filter analog aktif RC menggunakan op-amp. Pada frekunsi audio, induktor tidak sering digunakan karena badannya besar dan mahal serta menyerab banyak daya. Induktor juga menghasilkan medan magnit. Filter aktif mempunyai keuntungan dibandingkan filter pasif yaitu : 31

1. Penguatan dan frekuensinya mudah diatur, selama op-amp masih memberikan penguatan dan sinyal input tidak sekaku seperti pada filter pasif. Pada dasarnya filter aktif lebih gampang diatur. 2. Tidak ada masalah beban, karena tahanan input tinggi dan tahanan output rendah. Filter aktif tidak membebani sumber input. 3. Harga, umumnya filter aktif lebih ekonomis dari pada filter pasif, karena pemilihan variasai dari op-amp yang murah dan tanpa induktor yang biasanya harganya mahal. Filter aktif sangat handal digunakan pada komunikasi dan sinyal prosesing, tapi juga sangat baik dan sering digunakan pada rangkaian elektronika seperti radio, televisi, telepon ,radar, satelit ruang angkasa dan peralatan biomedik. Umumnya filter aktif digolongkan menjadi : 1. Low Pass Filter (LPF) 2. High Pass Filter (HPF) 3. Band Pass Filter (BPF) 4. Band Reject Filter (BPF) 5. All Pass Filter (APF) Pada masing masing filter aktif menggunakan op-amp sebagai elemen aktifnya dan tahanan , kapasitor sebagai elemen pasifnya. Biasanya dan pada umumnya IC 741 ckup baik untuk rangkaian filter aktif, namun op-amp dengan high speed seperti LM301, LM318 dan lain lainnya dapat juga digunakan pada rangkaian filter aktif untuk mendapatkan slow rate yang cepat dan penguatan serta bandwidth bidang kerja lebih baik. Gambar output dari filter aktif seperti tampak pada gambar berikut ini, sebagai karakteristik responsi frekuensi dari 5 filter aktif. Responsi idealnya ditunjukkan dengan garis terputus putus. Low Pass Filter mempunyai penguatan tetap dari 0 Hz sampai menjelang frekuensi cut off fH. Pada fH penguatan akan turun dengan 3dB, artinya frekuensi dari 0 Hz sampai fH dinamakan pass band frekuensi dengan batas 0,707 tegangan output. Sedang frekuensi yang diredam dibawah 3dB

32

atau 0,707 Vo dinamakan stop band frekuensi. Perubahan naik turunnya grafik karakteristik tersebut tergantung dari kualitas komponen selain bentuk rangkaiannya. 2.2 Teori Kontrol Sistem Kendali, yang merupakan fokus pengkajian bidang Teknik Kendali, pada umumnya digambarkan sebagai sistem apa saja (tidak terbatas hanya sistem-sistem yang terkait langsung dengan bidang kajian Teknik Elektro) yang dapat di-identifikasi atau ditengarai terdiri dari minimal 2 (dua) bagian utama, yaitu: 1. Bagian (atau Sub-Sistem) Proses atau yang dikendalikan (Plant), yang bisa merupakan peralatan, perangkat, atau proses yang menghasilkan luaran (output, hasil, produk, isyarat luaran, output signal) karena dikendalikan oleh bagian pengendali. 2. Bagian (atau Sub-Sistem) Pengendali (Kontroller), yang juga bisa merupakan peralatan, perangkat, atau proses yang menghasilkan isyarat kendali (kontrol signal) untuk mengendalikan kendalian.

Gambar 2.19 Konfigurasi dasar sistem kendali

Jadi secara konseptual, konfigurasi dari sistem kendali dapat digambarkan seperti pada Gambar tersebut. Selain isyarat luaran (output signal) dan isyarat kendali (kontrol signal) suatu sistem kendali sering dilengkapi (walau pun tidak harus demikian) dengan isyarat umpan -balik (feedback signal) yang dalam operasinya dibandingkan dengan suatu isyarat masukan acuan (reference input signal) atau perintah (command ) atau set-

33

point, agar pengendali dapat menghasilkan isyarat kendali yang mengendalikan kendalian sampai menghasilkan luaran yang diharapkan. Sistem kendali demikian biasa dikategorikan sebagai Sistem Kendali (dengan) Umpan-Balik (Feedback Kontrol Sistim). Tidak semua sistem kendali merupakan sistem kendali dengan umpan-balik, banyak juga sistem kendali yang beroperasi tanpa umpan-balik. Jenis Sistem Kendali Secara garis besar, sistem kendali dibagi dalam dua kategori besar : 1. Sistem Kendali Loop Terbuka Sistem yang kelurannya tidak mempunyai pengaruh terhadap aksi kendali. Keluaran sistem tidak dapat digunakan sebagai perbandingan umpan balik dengan masukan. Gambar menunjukan diagram sistim kendali lup terbuka

Gambar 2.20 Blok diagram sistem kendali lup terbuka

Karakteristik Sistem kendali lup terbuka : - output tidak diukur maupun di umpanbalikkan - bergantung pada kalibrasi - hubungan antara output dan input diketahui - tidak ada internal disturbance maupun eksternal disturbance - terkait dengan waktu. Kelebihan: - konstruksinya sederhana dan perawatannya mudah - lebih murah - tidak ada persoalan kestabilan - cocok untuk keluaran yang sukar diukur /tidak ekonomis (contoh: untuk mengukur kualitas keluaran pemanggang roti)

34

Kelemahan: - gangguan dan perubahan kalibrasi - untuk menjaga kualitas yang diinginkan perlu kalibrasi ulang dari waktu ke waktu. Contoh : - kendali traffic (lalu lintas) - mesin cuci 2. Sistem Kendali Loop Tertutup Sistem yang memiliki umpan balik untuk mengurangi kesalahan atau beda antara masukan acuan dengan keluaran sebagaimana ditunjukkan oleh gambar 2.19

Gambar 2.21 Blok diagram sistem kendali lup tertutup

Masukan: harga yang diinginkan Keluaran: harga yang sebenarnya (respon plant/proses). Sistem kendali pada sistem lup tertutup berupaya untuk mempertahankan keluaran sistem agar sama atau hampir sama dengan masukan acuan meskipun terjadi gangguan pada sistem. Jika terjadi perubahan pada nilai masuka referensi, secara otomatis pengendali / kontroller akan melakukan aksi kendali terhadap proses sesuai dengan beda atau error anatra masukan referensi dan keluaran sehingga keluaran akan kembali sesuai dengan masukan refrensi.

35

Contoh : a. Sistem Kendali Lup Tertutup Manual

Gambar 2.20 Sistem kendali lup tertutup manual Gambar 2.22 Sistem kendali lup manual

b. Sistem Kendali Lup Tertutup Otomatis

Gambar 2.23 Sistem kendali lup tertutup otomatis

Gambar Sistem Kendali Lup Tertutup Otomatis dari Sistem termal Terdapat dua jenis sistem kendali yaitu sistem kendali lup terbuka dan sistem kendali lup tertutup. Perbedaan utama kedua jenis sistem kendali tersebut terletak pada kehadiran umpan balik (feedback) pada sistem. Sistem kendali lup terbuka tidak, memiliki umpan balik sehingga tidak mampu memperbaiki keluaran jika terjadi kesalahan pada keluaran. Perbaikan

36

terhadap sistem dilakukan dengan kalibrari terhadap sistem. Sistem kendali lup tertutp memiliki umpan balik sehingga memiliki kemampuan untuk memperbaiki kesalahan yang terjadi secara langsung.

37

BAB III APLIKASI PERALATAN ELEKTRONIKA (Instrumentasi) di PT.SASA INTI GENDING 3.1 Operasional (Instrumentasi) BTG & Boiler BTG dan boiler adalah salah satu utility yang berperan penting sebagai penghasil uap panas (steam) dan energi listrik yang cukup besar selain energi yang dipasok dari PLN. Sistem kontrol merupakan satu kesatuan atau kumpulan dari komponen-komponen yang bekerja secara bersama-sama untuk membentuk sauatu konfigurasi sistem yang berfungsi untuk mengatur, memberi pentunjuk maupun memberi perintah sesuai dengan obyek yang di kontrol. Sehingga dibutuhkan sistem kontrol guna meningkatkan efisiensi kerja dari mesin-mesin indrustri atau produksi. Secara umum macam-macam sistem kontrol yang ada pada BTG dan boiler yaitu: a. Sistem kontrol level (Volume air) b. Sistem kontrol Pressure (Tekanan) c. Sistem kontrol Temperatur (Suhu) A. Instrumentasi kontrol level 1. Drum Level Aplikasi Pengontrolan ini bertujuan untuk menjaga ketinggian (level) air yang ada pada tangki sebelum di alirkan ke feed water pump menuju boiler. Pada indikator kontroler pada ketinggihan air di jaga separu tangki, dalam keadaan normal setting 0, keadaan high (+100 mm) dan keadaan low (- 100).

Prinsip kerja 38

Pada saat polisher dalam tangki atau drum penuh akan mengisi dua pipa high dan low. Perbeadaan air dalam dua pipa dibandingkan oleh diferensial pressure transmitter, keluaran dalam bentuk analog 4-20 mA DC dan di tampilkan pada display dalam bentuk digital dan induktor dalam kontroler. Keluaran data dari kontroler dalam bentuk analog 4-20 mA DC di ubah dalam bentuk satuan Pneumatic oleh positioner untuk menggerakan katub kontrol valve pada feed water untuk mengisi air poliser pada tangki/drum. 2. Daerator Level Aplikasi Pengontrolan pada tangki daerator berfungsi untuk menjaga ketinggian level air. Pada indikator kontroler ketinggian air di jaga separuh isi tangki 0.2 keadaan high (+150 mm) dan keadaan low (- 150 mm). Prinsip kerja Air yang didalam dideteksi oleh deferensial level transmitter. Kemudian hasil deteksi di keluarkan dalam bentuk analog 4-20 mA DC dan di tampilkan pada display dalam bentuk digital dan induktor dalam kontroler. Keluaran data dari kontroler dalam bentuk analog 4-20 mA DC di ubah dalam bentuk satuan Pneumatic oleh positioner untuk menggerakan kontrol valve daerator level. Jika air drum daerator penuh maka akan menghasilkan arus yang sehingga akan menutup kontrol valve dan menyalakan lampu indikator high atau sebaliknya. 3. Oil service Tank Level Aplikasi 39

Pengontrolan ini dilakukan mengukur ketinggihan level fuel oil yang ada pada fuel oil tank Prinsip kerja Pada saat fuel tank oil yang ada pada tank akan membuat flow switch mengaktifkan kontrol sinyal dengan melalui kontak kontrol Y pada oil transfer pump kontrol circuit motor Steper Panel dan juga low switch akan mem-onkan relay untuk menyalakan indikator low. Pada saat fuel tank oil yang ada pada tank sedikit akan membuat flow switch relay untuk menyalakan indikator high sekaligus mengaktifkan relai dan menyalakan indikator high sekaligus interlock pada Oil Transfer kontrol Circuit Motor Stater Panel . B. Instrumentasi Kontrol Pressure 1. S/H Outlet Steam Pressure Aplikasi Pengontrolan ini bertujuan untuk menjaga tekanan steam pada super heater, dimana tekanannya adalah 6 Kg/cm2 Prinsip kerja Uap (Steam) yang keluar dari super heater menghasilkan tekanan yang diukur oleh diferensial transmitter. Kemudian hasilnya diubah ke bentuk analog yaitu berupa arus 4-20 mA DC selanjutnya hasil tersebut di tampilkan dalam bentuk digital, lampu indikator menyala dan mengaktifkan burner kontrol panel.

2.

Daerator Pressure Aplikasi 40

Pengontrolan ini bertujuan menjaga tekanan yang ada pada tangki daerator. Prinsip kerja Steam yang ada pada daerator di kuatkan oleh kondensor kemudian di dideteksi oleh diferensial transmitter. Kemudian hasilnya diubah ke bentuk analog yaitu berupa arus 4-20 mA DC, selanjutnya hasil tersebut di tampilkan oleh indikator kontroller dalam bentuk digital dan lampu indikator. Dimana pada indikator kontroller tekanan di setting pada 3 Kg/cm2 dalam keadaan pemakaian normal dan keadaan high 3.5 Kg/cm2 serta keadan low 2.5 Kg/cm2, jika steam terlalu besar maka kontrol valve akan mengecil dan lampu indikator menyala. 3. Instrument Air Pressure Aplikasi Pengontrolan ini bertujuan menjaga tekanan udara dalam pembakaran pada boiler. Prinsip kerja Udara yang digunakan untuk menggerakan semua kontrol valve yang berasal dari diesel tekananya diatur oleh pressure switch, dengan tekanan 1.02 10.02 Kg/cm2. Melalui kontak Y menyalakan lampu indikator. Lampu indikator akan menyala jika tekanan udara rendah/low

4.

Cooling Water Pressure Aplikasi Pengontrolan ini bertujuan untuk mendeteksi air yang masuk ke feed water tank. 41

Prinsip kerja Tekanan air yang masuk feed water tank di dideteksi oleh pressure switch. Pressure switch menghasilkan sinyal yang melalui kontak relay Y, selanjutnya akan menyala lampu indikator jika tekanan air berkurang. 5. Aplikasi Pengontrolan berfungsi untuk menjaga keadaan tekanan sistem pada keluaran turbin yang menuju header agar tetap mencapai 7 Kg/cm2. Prinsip Kerja Tekanan steam yang melewati by pass dikuatkan oleh kondensor untuk selanjutnya dideteksi oleh diferensial pressure transmitter. Keluaran data dari indikator kontroler dalam bentuk analog 4-20 mA DC di ubah dalam bentuk satuan pneumatic oleh positioner untuk menggerakan kontrol valve pada by pass. Jika tekanan steam besar maka turbin by pass steam reducing kontrol valve akan membuka atau sebaliknya tapi kontrol ini bekerja jika turbin dalam keadaan mati. Turbine by pass Steam Pressure

C. Instrumentasi Kontrol Temperatur 1. S/H Outlet Steam Temperatur. Aplikasi

42

Pengontrolan untuk menjaga temperatur steam yang ada pada super heater sebelum masuk ke turbin. Pada indikator kontroler temperatur di setting 450o C. Prinsip kerja Suhu steam pada S/H Outlet Steam dideteksi oleh thermocouple jenis J mempunyai keluaran pertama 1-5 V DC atau 4-20 mA DC dan keluaran kedua 1-5 V DC masuk ke kontroler untuk di ditampilkan ke dalam bentuk tampilan digital dan hasilnya dalam bentuk analog 4-20 mA DC. Sinyal arus dirubah ke satuan pneumatic oleh positioner untuk menggerakan valve pada S/H Temperatur kontrol valve. 2. Turbine by pass Steam Temperatur. Aplikasi Pengontrolan ini untuk menjaga temperatur steam yang menuju ke steam header, dimana temperatur kurang lebih dari 180o C. Prinsip kerja Uap panas yang melalui turbin by pass di deteksi suhunya menggunakan resistansi bulk. Dan kemudian hasilnya dikonversikan ke indikator R/I converter dan ditampilkan oleh indikator kontroler dalam bentuk indikator digital. Keluaran dari indikator kontroler berupa arus 4-20 ma DC diubah dalam satuan pneumatic oleh positioner untuk menggerakan kontrol valve. Kontrol valve tersebut adalah turbin by pass otomize steam kontrol valve. Jika suhunya diatas diatas 179o C maka steam temperature kontrol valve akan mengecil dan turbin by pass steam temperatur kontrol valve membuka agar temperatur steam tetap stabil 179o C . Sebaliknya jika suhunya dibawah 179o C maka 43 Steam

steam temperature kontrol valve akan membuka lebar guna memperbesar tekanan steam dan turbin by pass steam temperatur kontrol valve menutup agar temperatur steam tetap stabil 179o C 3. Pengaturan temperatur pada alat lain 3.1.1 Standart Proses 3.1.1.1 Bahan Baku A. Air pengisi boiler dan BTG 3.1.1.2 Proses A. Boiler TG Deaerator = Tekanan (P) = 3 Kg/cm2 dan Temperatur (T) air = 1300-1450C Economizer = Temperatur (T) air =1500-2000C Boiler = Tekanan gas= 65-74 Kg/cm2 dan Tekanan uap =7 8 Kg/cm2 Superheater = Tekanan (P) = 62-66,5 Kg/cm2 dan temperature (T) air =300-4600C B. Fuel oil = Tekanan pompa = 5-12 Kg/cm2 dan tekanan Burner = 5 11 Kg/cm2 3.1.2 Prinsip Kerja PH= 7,60 9,00 M Alkalinity =max 1,49 Cl =max 2,15 TH (total hardness) traces Ec = 0,7 S/cm Gas Alam (Natural Gas) tekanan gas masuk dari PT. PGN ke pipa sebelum burner P= 3 Kg/cm2

B. Bahan baku Boiler

44

Mesin boiler di PT. Sasa Inti menggunakan bahan bakar Gas dari PGN dengan P=24 Kg/cm2. Kemudian disalurkan ke mesin Boiler dengan melalui beberapa valve. Pada dasarnya Boiler adalah suatu mesin yang dapat menghasilkan uap secara berkesinambungan pada suatu tekanan dan temperature tertentu, dari mesin Boiler dihasilkan 2 macam uap yaitu uap jenuh (saturated) dan uap kering (SuperHeated). Tipe dari Boiler di PT. Sasa Inti ini menggunakan Boiler tipe pipa air, dimana didalam Boiler tersebut terdapat pipa pipa yang kemudian dibakar pada suhu dan tekanan tertentu dengan menghasilkan S/H press.out = 64 Kg/cm2 ,S/H temp.out = 4500 C untuk mengerakkan turbin yang dikopel dengan sebuah generator sinkron melalui sistim gear box 1500 rpm menghasilkan tenaga listrik 5172 KVA, tekanan dan temperature dari boiler akan menjadi turun menjadi 7 Kg/cm2 karena sistem sudut-sudut turbin dengan suhu 1700C dari turbin (Steam Super Heater). Dan menuju ke deaerator dengan tekanan 3 5 Kg/cm2,yang digunakan untuk meningkatkan suhu dari air demineral diperlukan steam dari boiler kemudian menuju ke economizer untuk dikembalikan lagi ke boiler dan menuju ke chimney atau cerobong asap.

45

Gambar 3.1. Flow Chart BTG

46

Gambar 3.2. Alur Sistem BTG

47

3.1.3

Bagian BTG

Berikut alat - alat yang terdapat di BTG : 1. Mix Bad Poliser Merupakan alat yang berfungsi untuk memurnikan air sehingga diperoleh air yang bebas mineral yang terdapat di dalam air tersebut yang akan digunakan untuk suatu proses tertentu diantaranya untuk pengisi boiler (feed water). Air ini harus mempunyai kriteria : pH antara 7,6 8, EC 0,5 S/cm, CI max 2,15 , Th : traces, M. alkalinity max max 1,98. 2. Demineralized Water Tank Merupakan bagian yang berfungsi untuk menampung air yang telah dihilangkan zat lain yang terkandung didalam air biasa. Hal ini bertujuan agar air yang masuk ke boiler tidak menyebabkan karak / karat yang dapat memperpendek umur boiler. 3. Feed Water Tank Feed water tank merupakan bak untuk menampung air yang akan dipakai oleh boiler. Air yang ditampung di tangki ini telah diatur kondisi mineralnya. Disini air mulai dipanaskan dengan uap buangan dari boiler. 4. Deaerator Lift Pump Deaerator lift pump merupakan pompa yang digunakan untuk mengalirkan air dari feed water ke deaerator. 5. Deaerator Deaerator merupakan tangki untuk menghilangkan kandungan oksigen di dalam air yang akan digunakan oleh boiler. Disini air dipanaskan sehingga tekanan air menjadi 3 Kg/cm2 dan temperaturnya 1420 C dan mempunyai pH : 8,87 9. Air yang akan menuju deaerator diinjeksi dengan oxynon H 104.

48

6. Boiler Feed Water Pump Boiler feed water pump merupakan pompa yang digunakan untuk memompa air dari deaerator ke boiler melalui economizer. 7. Economizer Feed water yang akan digunakan oleh boiler dipanaskan dulu di economizer sehingga temperaturnya naik dari 1420 C menjadi 1790 C. Pemanasan ini menggunakan gas buang hasil pemanasan air di boiler. Dengan adanya economizer maka akan meningkatkan efisiensi sistem dan mempercepat pemasaran di boiler. 8. Air Heater Udara yang digunakan untuk pembakaran dipanaskan dahulu di air heater. Pemanasan ini juga menggunakan gas buang hasil pemanasan di boiler. 9. Boiler Di boiler, feed water dipanaskan hingga menjadi uap. Uap yang dihasilkan masih berupa uap basah yang mempunyai tekanan 65 kg/cm2, temperature uap 4500C dan memiliki derajat kesamaan ph 9,2 10,2. Feed water sebelum masuk ke boiler diinjeksi dengan oxynon 201 dan Kalgen 351 yang mempunyai pH antara 8 9. Di dalam boiler dibutuhkan udara pembakaran yang diambil dari air heater, bahan bakar gas dan feed water. 10. Super Heater Super heater mengubah uap basah yang dihasilkan oleh boiler menjadi uap kering yang mempunyai tekanan 63 Kg/cm2, temperature uap antara 4400 - 4500 C dan pH antara 8 9,1. Uap kering dari super heater dikirim ke turbin uap untuk menggerakan turbin uap. Akan tetapi, bila turbin uap tidak dioperasikan, maka uap kering dikirim ke desuperheater dan dikondensasikan. 11. Turbin Uap Turbin Uap digerakan oleh uap yang dialirkan dari superheater. Karena turbin uap dikopling dengan generator, maka turbin ini

49

nantinya memutar generator sinkron. Uap yang menggerakan turbin ini memiliki tekanan 63 Kg/cm2 dan temperaturnya 4500C. Putaran turbin minimal 8800 rpm. Uap yang dikeluarkan dari turbin bertekanan 7 kg/cm2, sedangkan temperaturnya 1700 C. Kapasitas uap yang digunakan untuk memutar turbin diatur oleh governor. 12. Generator Generator mengkonversi energi mekanik menjadi energi listrik. Daya yang dihasilkan generator saat putaran turbin 8800 rpm dan putaran generator 1500 rpm adalah 1570 kW dan arusnya 1131 A. Generator yang digunakan merupakan generator sinkron dengan eksitasi generator tanpa sikat. (brushless ac generator). 13. Kondensator Uap yang dialirkan ke kondensor nantinya berubah menjadi air dengan cara diembunkan. Air ini selanjutnya dikirim ke water treatment plant untuk diatur kondisi mineralnya. Pendingin yang digunakan ialah air dingin dengan temperature 280 - 310 C yang dialirkan dari cooling tower water. 14. Steam Heater Steam header digunakan untuk menampung uap yang berasal dari boiler dan uap yang dialirkan untuk memutar turbin uap. Uap dikondisikan sehingga mempunyai kesamaan temperature dan tekanan 1700 C, 7 Kg/cm2 , uap tersebut dimanfaatkan untuk proses produksi. 15. Chimney (cerobong asap) Chimney digunakan untuk membuang asap buang hasil pembakaran boiler.

3.2 Sistim Pemeliharaan (Instrument) BTG dan Boiler

50

Untuk menjalanan BTG dan Boiler dengan baik maka perlu sistem pemeliharaan sehingga semua peralatan dan instrument dapat berjalan dengan baik. Sistem pemeliharaan tersebut antara lain : 1.Pengecekan secara berkala valve line feed water deminizer tank, deaerator, feed water pump, economizer, cooling water dan chemical equiptment. 2.Semua valve yang diperlukan dibuka dan semua valve yang lain harus ditututp sesuai keperluannya. Mulai dari valve yang mengatur temperature, instrument udara, water level, steam untuk burner dan gas LPG serta by pass steam trap. 3.Pemeriksaan posisi valve. 4.Pengisian minyak pelumas. 5.Periksa level pada tangki minyak. 6.Periksa aliran steam. 7.Pemeriksaan drum level yang bertujuan untuk menjaga level air yang ada pada tangki sebelum di alirkan ke feed water pump menuju boiler. 8.Pemeriksaan kontrol level untuk menjaga level ketinggihan air pada daerator. 9.Pemeriksaan kontrol level untuk mengukur level fuel oil pada fuel oil tank. 10.Pemeriksaan kontrol pressure untuk menjaga tekanan steam pada heater sehingga tekanan tetap 64 Kg/cm2. 11.Pemeriksaan kontrol pressure untuk menjaga tekanan pada tangki daerator. 12.Pemeriksaan kontrol pressure untuk menjaga tekanan udara dalam pembakaran pada boiler. 13.Pemeriksaan kontrol pressure untuk mendeteksi air yang masuk ke feed water tank. 14. Pemeriksaan kontrol pressure untuk menjaga tekanan sistem pada keluaran turbine sehingga tetap 7 Kg/cm2. 15. Pemeriksaan kontrol temperatur untuk menjaga temperature steam yang ada super heater sebelum masuk ke turbin. super

51

16. Pemeriksaan kontrol temperatur untuk menjaga temperature steam yang menuju ke steam header. 17. Pemeriksaan kontrol temperatur untuk menjaga temperature steam pada economizer inlet water, economizer outlet water, A/H Outlet air, Boiler Outlet Gas, economizer outlet gas, dan A/H Outlet Gas. 3.3 Operational Instrumentasi dan (Mikrokontroler) Kontrol DieselCompressor Mesin diesel pada Utility Diesel digunakan sebagai premover (penggerak) yang dikopel dengan Generator sebagai pembangkit listrik cadangan apabila listrik dari PLN mengalami trouble, mengalami padam ataupun kebutuhan listrik pabrik tidak mencukupi. Generator ini diparalel dengan PLN guna mencukupi kebutuhan listrik seluruh plant. Apabila kebutuhan listrik seluruh plant telah tercukupi oleh PLN dan BTG, maka Diesel pun dimatikan. 3.3.1 Data-data mesin diesel dan compressor 3.3.1.1. Diesel Diesel 9,10 = Model8L40CXE , kapasitas 3500 KVA Jumlah 2 unit semua terletak di diesel selatan 3.3.1.2 Compressor Compressor pada PT Sasa Inti menghasilkan 2 macam udara yaitu: Udara Proses Pressure : 2.6 2.95 Kg/cm2 Temperature: 60 700C 80% udara proses disalurkan ke FP, sisanya ke PMR

dan decalsium. Udara Instrument Udara untuk menggerakkan alat pneumatic Udara instrument dibedakan 2 yaitu: dan kontrol valve. Pressure: 6 7.5 Kg/cm2. 52

Udara untuk proses BO, yaitu dalam

memindah larutan antar tanki pada Proses Fermentasi. Mesin Compressor Untuk Kebutuhan Udara Proses: Atlas 1+2 = Type: ZA-6-AE Kapasitas 100 Nm3/menit Press 3,0 kg/cm2 Centac 1 = Type: 2CII45MI Kapasitas 132 Nm3/menit Press 1,8 kg/cm2 Centac 3 = Type: 2CII45DXMXL Kapasitas 250 Nm3/menit Press 1,8 kg/cm2 Centac 4 = Type: 3CII89MXZ Kapasitas 265 Nm3/menit Press 3,0 kg/cm2 Centac 5 = Type: 5C200MXZ Kapasitas 472 Nm3/menit Press 3,0 kg/cm2 Centac 6 = Type: 5CH200MX2XLP Kapasitas 479 Nm3/menit Press 3,0 kg/cm2 Mesin Compressor Untuk Kebutuhan Udara Instrumen: GHH 1+2 = Type: SCREW3K20 Kapasitas 50 Nm3/menit Press 2,5 kg/cm2 CVO 1+2 = Type: 5MX2/90 Kapasitas, 15 Nm3/menit Press 8,0 kg,cm2

53

COPCO 1+2

Type: LE9N Kapasitas 1,6 Nm3/menit Press 8,0 kg,cm2

HV 1+2

Type: PUAS218 Kapasitas 5,5 Nm3/menit Press 8,0 kg,cm2

3.3.2 Sistem Kontrol Kompressor dengan CMC Panel Panel CMC adalah kontrol berbasis mikroprosesor dan sistem pemantauan untuk Centac. CMC menangani kontrol kompresor, monitoring serta mengontrol peralatan pembantu seperti starter motor utama, katup solenoid kondensat dan beban solenoid valve. Panel CMC memiliki papan komputer yang disebut Kontrol Basis Module (BCM). Pada papan ini memiliki chip mikrokontroler dan memori yang memerintahkan panel apa yang harus dilakukan terhadap berbagai masukan tekanan dan suhu. Semua perangkat keras untuk analisis data, jumlah input dan output (I / O) poin dan memori sistem yang optimal dipilih secara akurat untuk mengontrol dan melindungi Centac kompresor. Fitur dari sistem CMC adalah: Kemudahan penggunaan hanya dua belas tombol untuk membantu para operator OUI(Operating User Interface) Beberapa fungsi, 240 x 128 pixel grafis LCD untuk menampilkan data, status operasi dan operator dasar instruksi. Memberikan indikator keluaran dan untuk membantu menentukan penyebab dalam proses yang terjadi pada kompresor. Dasar Kontrol CPU berjalan pada 25MHz Modul Basis Modul Kontrol, Operator Antarmuka Pengguna dan Modul Komunikasi Universal mampu komunikasi serial pada baud 38.400

54

Operasional port untuk berkomunikasi ke Kontroller Sistem Udara (ASC), Air Sistim Manager(ASM) atau Sistem Kontrol Terdistribusi lainnya (DCS) melalui protokol Modbus. 3.3.3 BCM ( BASE CONTROL MODULE) Kontrol Basis Module (BCM) adalah otak dan jantung dari sistem. Hal ini memungkinkan CMC untuk berkomunikasi dan mengontrol kompresor dengan alat penunjang lainnya. Tiga BCM dapat dihubungkan ke dalam sistem tunggal bila diminta. Hal ini secara efektif memungkinkan CMC untuk mengontrol dan memonitor pratically sistem apapun. Modul User Interface menggabungkan 240x128 piksel Tampilan Liquid Crystal (LCD) dengan keypad 12-tombol. Unit tampilan standar menyediakan pengguna dengan semua informasi yang dibutuhkan untuk membuat mengendalikan keputusan tanpa harus menekan banyak tombol atau mengingat data penting. Karena data kontrol sebagian besar selalu ditampilkan, pengguna tidak akan harus ingat perintah panjang menu.

55

Gambar 3.3 Base Kontrol Modul (BCM)

56

Berikut ini tabel deskripsi connector pada BCM Tabel 1 Deskripsi connector pada BCM

57

Tabel 2 Connector I/O pada BCM

58

3.3.4

Universal Communication Module (UCM) sebagai HMI (Human Machine Interface) UCM ( Universal Communication Module) merupakan alat yang

berfungsi sebagai HMI yang menyediakan sistem kontrol dengan antarmuka standar industri sehingga CMC dapat berkomunikasi dengan beberapa sistem lainnya.

Gambar 3.4 Tampilan Univesrsal Communication Modul (UCM)

59

Tabel 3 LED indikator dan Parameter Komunikasi pada UCM

60

Tabel 4 Alamat I/O pada UCM

61

Sistem Keseluruhan pada CMC

Gambar 3.5 Sistem Keseluruhan pada CMC UCM menyediakan sistem kontrol dengan antarmuka standar industri untuk Sistem Pengendalian Terdistribusi menggunakan RS-422 atau RS-485 dengan protokol Modbus.UCM juga mendukung Allen-Bradley DF1 protokol. Dengan pemilihan standar ini, CMC dapat berkomunikasi dengan beberapa sistem, misalnya, Air System Controller (ASC) dan Air System Manager (ASM).

62

3.4

Operasional (Microprosesor) Kontrol Water Chiller Water Chiller merupakan bagian yang bertugas mendistribusikan air dingin untuk digunakan sebagai pendingin dalam proses produksi. Water chiller memiliki dua bagian yaitu chilled water dan cooling tower. Chilled water menghasilkan air dingin dengan suhu antara 50C - 70C dan 180C - 200C sedangkan cooling tower menghasilkan air dingin dengan suhu antara 290C 310C. Masing masing dioperasikan oleh mesin Trane. 3.4.1 Unit Kontrol Panel (UCP) Pada Mesin Trane Dalam utility water chiller juga terdapat sebuah alat untuk melakukan pengontrolan yaitu unit kontrol panel (UCP). UCP ini dalam beberapa kontrol modul yang lain disebut dengan LLID (Low Level Intelegen Device). Sebuah IPC (Interprocecor Communication) bus dapat menghubungkan antara LLID tersebut dengan prosesor utama. Pengontrolan pada Chiller adalah kunci utama dari kinerja chiller. Seperti mesin centrifugal Trane CenTraVac yang melakukan penyerapan dengan garis Horizon chiller menggunakan kecerdasan UCP untuk mendapatkan kinerja yang terbaik.

Gambar 3.6 Bagian-Bagian pada Mesin Trane Letak dari Unit Kontrol Panel dari mesin trane bisa dilihat pada gambar di atas.

63

UCP2 (Unit Kontrol Panel 2) atau disebut Kontrol Panel Unit versi 2 yang merupakan suatu sistem kontrol mikroprosesor adalah kumpulan modul dan perangkat lunak yang melakukan sistem kontrol, perlindungan, dan optimalisasi fungsi untuk chiller CVGF. Semua modul kontrol elemen berada pada panel kontrol dan dipasang pada panel backplane. Unit Kontrol Panel ini mempunyai beberapa fitur fungsi kontrol yaitu: Mengontrol temperatur fluida yang meninggalkan evaporator Mengontrol batas evaporator pada suhu rendah Mengontrol batas suhu rendah Mengontrol aliran fluida melalui AFD Mencegah gangguan dalam sistem melalui Kontrol Adaptive Mengatur batas tekanan pada suhu tinggi Generator Dan pada pada monitor panel akan menampilkan beberapa data yaitu: Pengukuran suhu air yang masuk dan keluar dari evaporator dan kondensator Absorber / kondensor air temperatur masuk dan keluar Pemakaian daya mesin Tampilan tegangan Jam operasional mesin Pengaturan dan operasional purge Sedangkan Interface yang terhubung dengan UCP2 adalah Mesin Eksternal dengan keluaran indikasi alarm Mesin Eksternal dengan keluaran indikasi peringatan Batas Eksternal dengan keluaran indikasi peringatan Indikasi keluaran Kapasitas maksimum Eksternal auto-stop/emergency Setpoint air dingin eksternal Unit Kontrol Panel pada utility water chiller di PT. Sasa Inti Gending, Probolinggo ada beberapa macam, karena mengikuti perkembangan teknologi yang semakin maju. Berikut ini adalah macam unit kontrol panel (UCP) yang ada pada PT. Sasa Inti Gending, Probolinggo : a. UCP 695

64

Berikut merupakan tampilan/display dari Unit Kontrol Panel (UCP) 695

Gambar 3.7 Tampilan Unit Kontrol Panel (UCP) b. UCP2

Gambar 3.8 Tampilan Unit Kontrol Panel (UCP)

Berikut adalah beberapa level mode yang muncul dalam display/monitor:

65

Stopped = menghentikan dari proses dan akan membutuhkan tindakan pengguna untuk pergi ke Auto. Run Inhibited = menghentikan unit yang dihentikan dari saat proses dengan Tracer, Eksternal BAS, atau Atur ulang Auto diagnostik. Auto = menentukan apakah ada kebutuhan untuk menjalankan. Waiting to Start = perintah yang dibutuhkan untuk menunggu sebelum kompresor dijalankan Starting Compressor = kompresor dijalankan Running = Kompresor berjalan tanpa batas yang berlaku. Running-limit = Kompresor berjalan dengan batas berlaku. Preparing to Shutdown = Unit menutup inlet guide vanes sebelum mematikan kompresor. Shutting Shutdown = telah berhenti dan melakukan shutdown.

c. Tracer AdaptiView

Gambar 3.9 Tampilan Unit Kontrol Panel (UCP)

66

Gambar 3.10 Tampilan Menu pada Unit Kontrol Panel (UCP)

67

3.4.2 Remote Mounted Starter Pada sebuah mesin Trane CVGF utility water chiller dikemas dalam sebuah pendingin air sentrifugal menggunakan refrigeran HFC-134a yang terdiri dari sebuah hermetis dua-tahap, gigi-drive kompresor sentrifugal, evaporator, kondensor, economizer interstage, unitmounted mikroprosesor berbasis kontrol panel dan kompresor motor starter. Remote Mounted Starter mempunyai beberapa jenis yaitu, Wye Delta, Across the Line, dan Solid State . Modul Starter menyediakan logika untuk memberikan perlindungan motor dan kompresor yang overload, pembalikan fase, kehilangan fase, fase ketidakseimbangan, tegangan di atas /bawah normal, kondisi restart, surge dan kehilangan daya sesaat. Modul starter (2U1/yang ada pada PT. Sasa ) melakukan kontrol starter ketika memulai, menjalankan dan menghentikan motor. Modul-modul Starter menyediakan untuk antarmuka, dan pengendalian, Y-Delta dan Solid-State starter. Unit-mount starter dapat menjadi bintang 1-delta atau solid-state dalam 1 tipe jenis NEMA sampai dengan 952 RLA pada 380-480 Volts (bintang-delta), 900 RLA pada 481-600 Volts (bintang-delta), dan 1472 RLA pada 380-600 volt (solid-state). Remote-mount starter dapat menjadi bintang-delta atau solidstate untuk tegangan rendah. Semua dalam 1 jenis tipe NEMA hingga 1402 pada 380-600 volt RLA (bintang-delta), 1472 RLA di 380-600 Volts (solidstate), dan 360 RLA pada 3300-6600 volt (x-line, reaktor primer, dan ototransformator)

68

Berikut letak/posisi Unit Mounted Starter

Gambar 3.11 Unit Mounted Starter pada Water Chiller Tabel 5 Alarm Reset

69

Gambar 3.12 Solid State Starter Tabel 6 Alarm Solid State Starter

70

3.5 Sistem Pemeliharaan (Microprocecor) Kontrol Water Chiller Dalam pemeliharaan sistem kontrol pada utility chiller maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan diantaranya adalah sebagai berikut: Unit Kontrol Panel (UCP) Operator harus tahu dan paham akan kondisi Unit Kontrol Panel (UPC), baik saat terjadi penurunan tegangan utama, maupun saat terjadi gangguan pada alat/mesin chiller Pengecekan secara berkala (tiap jam) pada Unit Kontrol Panel sehingga tahu jika ada kendala pada mesin chiller maupun kondisi air (baik yang dari proses maupun menuju proses) Melakukan perawatan yang rutin untuk mencegah kotoran masuk ke dalam mesin Remote Mounted Starter Gunakan twisted pair untuk rangkaian kontrol IPC antara starter dan UCP2 pada starter dipasang terpencil. Kawat yang disarankan adalah Beldon Tipe 8760, 18 AWG atau setara, untuk berjalan hingga 1000 kaki [305 m] Pisahkan tegangan rendah (kurang dari 30V) kabel dari kabel V 115 dengan memakai saluran masing-masing Saat arah rangkaian kontrol IPC keluar dari posisi/letak starter, pastikan bahwa itu setidaknya 6 "[152 mm] dari semua kabel yang membawa tegangan yang lebih tinggi, misalnya, 115 V Untuk UCP2: IPC harus terlindung, twisted-pair kabel, perisai harus didasarkan pada salah satu ujungnya saja, di UCP2 tersebut. Ujung lainnya harus terselesaikan dan ditempel kembali pada selubung kabel, untuk mencegah kontak apapun.

71

BAB IV ANALISA PRINSIP KERJA DIFFERENTIAL PRESSURE TRANSMITTER DENGAN SISTEM PLAT ORIFICE PADA UTILITY WATER CHILLER DI PT SASA INTI GENDING 4.1 Tujuan Analisis Analisis ini bertujuan untuk mengetahui cara kerja dari Differential Pressure Transmitter yang digunakan pada plant water chiller. Pengukuran ini sangatlah penting untuk mengetahui jumlah air yang mengalir selama proses berlangsung, sehingga dapat meningkatkan hasil produksi agar tetap stabil. 4.2 Data Hasil Penelitian Water Chiller merupakan bagian yang bertugas mendistribusikan air dingin untuk digunakan sebagai pendingin dalam proses produksi. Water chiller memiliki dua bagian yaitu chilled water dan cooling tower. Berikut diagram alir dari Plant Water Chiller.

Gambar 4.1 Diagram alur proses di Water Chiller

Kebutuhan air dingin yang digunakan dalam proses produksi harus dihitung jumlah penggunaannya. Salah satu alat yang bisa mengukur jumlah air adalah Differential Pressure Transmitter (DPT). DPT adalah salah satu peralatan pengukur aliran fluida maupun uap yang dipergunakan untuk

72

mengukur besarnya jumlah fluida yang mengalir dalam pipa, dan Differential Pressure Transmitter juga berfungsi sebagai alat untuk penghasil keluaran dari pengukuran dan perantara penghubung antara yang ada dilapangan dengan ruang kontrol. Differential Pressure Transmitter ini berfungsi untuk mengirimkan atau mentransmisikan data yang diukur dilapangan (vessel, pipe etc) ke unit penerima pada ruang kontrol (Kontrol Room) dan selanjutnya digunakan untuk melakukan aksinya misal mengurangi/menutup valve. Transmitter ini menggunakan sistem dua kabel transmisi, dimana kabel tersebut berfungsi sebagai pengiriman sinyal dan sebagai sumber tenaga. Differential Pressure Transmitter ini mengukur sinyal proses (input) yang dikirim dari lapangan kemudian diubah menjadi sinyal instrument dengan range 4 mA s/d 20 mA, dengan indikasi sebanding dengan 0 s/d 100%. Untuk mengukur tingkat aliran yang mengalir di Utility Water Chiller, digunakan Differential Pressure dengan system plat orifice. Plat Orifice adalah bentuk paling umum dari pembatasan yang digunakan dalam pengukuran aliran. Orifice merupakan salah satu komponen dari perangkat primer (primary device) untuk mengukur aliran dengan menggunakan prinsip mengubah kecepatan aliran, riilnya yaitu mengubah luasan yang dilalui aliran fluida tersebut. Perubahan kecepatan setelah melalui orifice plate tersebut berkaitan dengan perubahan tekanan (differential pressure). Perubahan tekanan ini yang kemudian diukur (di tapping) dan kemudian diasosiakan dengan laju aliran.

Gambar 4.2 DPT di Water Chiller

73

Sebuah orifice pada dasarnya adalah sebuah plat logam tipis dengan lubang di tengah yang memiliki jarak pada satu sisi di mana spesifikasi jarak berasal dari pabrikan. Sisi atas dari plat orifice biasanya memiliki tepi tajam. Gambar di bawah menunjukkan plat orifice representatif.

Gambar 4.3 Plat Orifice Representative dan plat orifice

Dengan adanya plat orifice dalam pipa, tekanan statis sedikit meningkat pada atas lubang (karena efek balik tekanan) dan kemudian menurun ketika aliran melewati lubang, dan mencapai pada titik minimum yang disebut vena contracta dimana kecepatan aliran berada pada tingkat maksimum (lihat
Gambar 4.4 Vena Contracta). Di luar titik ini, tekanan statis mulai normal dan

aliran akan melambat. Selain itu beberapa energi tekan diubah menjadi suara dan panas karena gesekan dan turbulensi pada plat orifice. Gambar di bawah memperlihatkan profil tekanan instalasi plat orifice.

74

Gambar 4.4 Vena Contracta.

Gambar 4.5 Oriface Plate Installation

Prinsip Bernoulli menyatakan bahwa ada hubungan antara tekanan fluida dan kecepatan fluida. Dengan mengukur perbedaan tekanan fluida antara bagian pipa normal dan di vena contracta akan didapatkan tingkat aliran volumetrik dan laju aliran massa dari persamaan Bernoulli. Tingkat aliran volumetrik (Q) dalam m / s :

75

A1 = luas penampang pipa sebelum plat Lubang (m) A2 = luas penampang Hole Lubang (m), P1 = tekanan fluida hulu Pa atau kg / cm P2 = tekanan fluida hilir, Pa atau kg / cm p1 = densitas cairan, dalam kg / m Sehingga tingkat aliran volumetric dapat ditulis menjadi : Q = K x (P/)1/2 Dan laju aliran massa (m) pada setiap titik dalam kg / s : m=xQ Dimana : m = laju aliran massa dalam kg / s Q = Laju alir volumetrik dalam m / s = densitas cairan dalam kg / m

Kecepatan fluida upstream (V1) dalam m / s , V1 = Q/A1 Q = Laju alir volumetrik dalam m / s A1 = luas penampang pipa sebelum plat Lubang di m Kecepatan fluida melalui lubang orifice (V2) dalam m / s V2 = Q/A2 Q = Laju alir volumetrik dalam m / s A2 = luas penampang Hole Lubang di m, 4.3 Pembahasan Pemasangan plat orifice dalam pipa bertujuan untuk menciptakan perbedaan tekanan antara fluida bagian inlet dengan outlet. Perbedaan tekanan

76

tersebut dibaca oleh Differential Pressure Transmitter (DPT). Di dalam DPT terdapat kapsul yang mampu mengukur perbedaan tekanan yang diukur. Prinsip kerjanya yaitu ketika ada tekanan yang masuk ke dalam kapsul tersebut, detector yang terhubung dengan membran akan bergerak dan memberikan sinyal berupa arus listrik sebesar 4 20 mA. Berikut ini gambar konstruksi dari Differential Pressure.

Gambar 4.6 Konstruksi DP Transmitter

Sensor tekanan diletakkan disisi plat bagian inlet (P1) dan satu lagi dibagian sisi plat bagian outlet (P2). Jika terjadi aliran dari inlet ke outlet, maka tekanan P1 akan lebih besar dari tekanan outlet P2. Instalasi yang ditunjukkan pada gambar di bawah ini menunjukkan bahwa tekanan tinggi dan tekanan rendah keran dari perangkat utama dideteksi oleh sensor pada sebuah diferensial pressure (D / P). Output dari bagian D/P bekerja pada sebuah tekanan untuk mili-amp transduser yang menghasilkan sinyal 4-20 mA.

77

Gambar 4.7 Orifice Plate dengan laju aliran

Sesuai dengan hukum Bernoulli, sistem sederhana ini dapat memberikan indikasi laju aliran (Q) yang sebenarnya transmisi sinyalnya sebanding dengan tekanan diferensial (P). Namun, karena hubungan antara laju aliran (Q) dan P tidak linear, maka sistem tersebut tidak akan tepat dalam instrumentasi atau pengukuran yang membutuhkan hubungan linear atau skala. Pada kenyataannya tekanan diferensial (P ) meningkat sebanding dengan kuadrat dari laju aliran (Q). Dari DPT (Differential Pressure Transmitter) terjadi perubahan parameter tekanan menjadi parameter arus (mA), dimana DPT tersebut hanya dapat mentransmisikan sinyal dalam range (mA) tertentu sesuai dengan spesifikasi dari DPT itu sendiri yaitu sebesar 4-20 mA. Sinyal ini kemudian dikirim dari FT (Flow transmitter) ke sebuah ekstraktor. Ekstraktor kemudian memproses sinyal dari FT menjadi hasil akar kuadrat agar sebanding atau linier dengan laju aliran dan menghasilkan arus 4 20 mA yang kemudian ditransmitter masuk ke flow computing totalizer atau bisa diolah ke dalam kontroler. Di flow computing totalizer inilah sinyal dari FT bisa dibaca laju aliran di dalam pipa (Q) secara digital.

Gambar 4.8 Square Root Extractor Instalation

78

Gambar 4.9 Grafik nilai Ekstraktor akar kuadrat input dan output

Gambar 4.10 Flow Computing Totalizer

79

BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan Dari hasil pengamatan secara langsung di PT. Sasa Inti Gending Probolinggo dan bedasarkan pembahasan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : 1). BTG BTG merupakan Plant pembangkit listrik uap pembantu PLN memasok listrik bagi seluruh pabrik. BTG memiliki kontrol digital yang terpusat dari sensor level, tekanan, suhu, dan aliran yang terhubung pada tampilan I/O dan kontrol valve. BTG terdiri atas : Boiler : Sebagai Pembangkit uap untuk menggerakkan turbin atau untuk proses lain yaitu pengeringan pemanasan. Turbine uap : Sebagai komponen yang mengubah energi tekanan uap menjadi mekanis berupa putaran Generator : Sebagai pembangkit tenaga listrik dengan memanfaatkan energi mekanis berupa putaran ke arus listrik. Kinerja dari sistim kontrol tersebut dibantu dengan sebuah kontrol valve yang mekanisme kerjanya diatur oleh sebuah indikator kontroller. 2). Water Chiller Water Chiller berfungsi menyuplai air pendingin untuk keperluan proses. Kontrol Water Chiller merupakan self kontrol. Ada yang berupa digital ada yang berupa manual. Sensor yang digunakan berupa sensor suhu, tekanan, getaran dan saklar aliran.

80

3). Diesel dan Kompresor Kompresor merupakan penyuplai udara bertekanan tertentu untuk proses pneumatic. Mesin kompresor memiliki kontrol digital yang bisa terhubung LAN oleh PC ataupun pemonitor lain. Sensor yang digunakan pada mesin kompresor berupa sensor tekanan, aliran, getaran, hentakan dan suhu.

5.2 Saran Dan Kesan Sesuai dengan penelitian yang kami lakukan di PT.Sasa Inti selama Kerja Praktek terutama pada bagian utility water chiller, sebagai saran kedepannya agar dalam proses operasional: 1. Seiring dengan kemajuan teknologi,agar dalam mengoperasikan valve pada tanki-tanki penampungan cooling tower sebaiknya bisa dilakukan secara otomatis melalui panel-panel khusus.Hal ini memungkinkan operator tidak harus langsung kelapangan untuk memutar valve yang pada lokasi tangki cooling tower yang volumenya terlalu tinggi atau yang volumenya terlalu rendah. 2. Dengan adanya panel khusus yang dapat mengatur valve secara otomatis (misalnya panel kontrol valve elektrik) pada tankitangki penampungan cooling tower maka didapatkan efisiensi waktu karena operator dapat mengatur putaran valve secara terpusat,tanpa harus langsung turun kevalve-valve yang letaknya biasanya berada didekat tangki-tangki. Hal ini dikarenakan PT.Sasa Inti memiliki cooling tower yang cukup banyak yaitu sejumlah 17 buah. Pelaksanaan Kerja Praktek di PT. Sasa Inti sudah cukup banyak membantu mahasiswa, karena di PT. Sasa Inti mahasiswa dibimbing untuk mengenal lebih

81

jauh peralatan-peralatan listrik yang tidak dimiliki oleh kampus, selain itu juga mahasiswa dapat lebih mengenal kehidupan di lingkungan perusahaan. Karyawan di tempat penempatan Kerja Praktek juga telah memperlakukan mahasiswa dengan sangat baik sehingga mahasiswa dapat beradaptasi dengan lebih mudah. Alangkah lebih baik lagi jika di setiap bagian penempatan Kerja Praktek diberikan pembimbing lapangan khusus sehingga mahasiswa dapat lebih mudah dalam berkonsultasi mengenai hal-hal yang berkaitan dengan bagian tersebut.

82