Anda di halaman 1dari 12

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah Pemanfaatan informasi geologi teknik di Indonesia telah dilakukan sejak dahulu kala, baik untuk perencanaan pembuatan jaringan jalan bagi kepentingan industry, perkebunan bahkan pertahanan. Informasi geologi teknik semakin bertambah penting setelah dilakukannya percobaan pengujian di lapangan disertai dengan pengujian mekanika tanah dan batuan. Sejak itu penyelidikan dan pemetaan geologi teknik secara teratur dilaksanakan sebagai penunjang perencanaan bangunan teknik sipil maupun pengembangan wilayah.

1.2 Rumusan Masalah Semakin meningkatnya peranan peta geologi teknik sebagai informasi awal dalam perencanaan penataan ruang, penyelidikan dan pemetaan geologi teknik menjadi suatu keharusan penerapan kajian ini dalam kegiatan perkuliahan. Mahasiswa/i harus mempunyai dasar dalam melakukan praktek dalam pembuatan peta geologi teknik.

1.3 Tujuan Tujuan dari dilakukannya penelitian ini yaitu untuk menginterpretasikan kondisi geomorfologi, stratigrafi, pola struktur dan potensi bencana serta bahan galian melalui studi literatur.

1.4 Lokasi Penelitian Daerah penelitian kami terletak pada kota Tangerang dan sekitarnya, Banten. Sebagian peta geologi lembar Jakarta dan Kepulauan Seribu, 1992.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Geomorfologi Untuk menyatakan keadaan morfologi suatu daerah, salah satu hal yang sangat penting dilihat adalah perbedaan ketinggian. Perbedaan ketinggian (elevasi) biasanya diukur dari permukaan laut, karena permukaan laut dianggap sebagai bidang yang memilki titik ketinggian (elevasi) nol. Tabel 3.1 Hubungan ketinggian absolut dengan morfografi (van Zuidam, 1985)

KETINGGIAN ABSOLUT < 50 meter 50 meter - 100 meter 100 meter - 200 meter 200 meter - 500 meter 500 meter - 1.500 meter 1.500 meter - 3.000 meter > 3.000 meter

UNSUR MORFOGRAFI Dataran rendah Dataran rendah pedalaman Perbukitan rendah Perbukitan Perbukitan tinggi Pegunungan Pegunungan tinggi

2.2 Pemetaan Geologi Teknik Geologi Teknik adalah ilmu yang mempelajari atau mengkaji gejala geologi dari aspek kekuatan dan/atau kelemahan geologi, diaplikasikan untuk kepentingan pembangunan infrastruktur terutama pada tahap desain dan tahap konstruksi bangunan. Pemetaan geologi teknik merupakan bagian dari eksplorasi. Sasaran umum suatu program eksplorasi adalah unutk mengenal seluruh bentuk lingkungan geologi yang bisa memberikan dampak terhadap konstruksi maupun pengembangan fisik wilayah/ lahan yang diusulkan. Sasaran khususnya adalah : a. Menetapkan penyebaran lateral dan ketebalan lapisan tanah serta batuan sampai zona yang mempengaruhi konstruksi yang diusulkan. b. Menetapkan kondisi air tanah dengan pertimbangan perubahan musim dan efek konstruksi. c. Menentukan kebencanaan geologi termasuk lereng-lereng yang tidak stabil, patahan/sesar, penurunan tanah dan collapse, runtuhan dataran banjir dan kegempaan. d. Memperoleh sampel- sampel material geologi untuk diidentifikasi dibuat klasifikasi dan pengukuran sifat-sifat keteknikannya. e. Melakukan pengujian di tempat (in situ) untuk mengukur sifat-sifat keteknikan dari material geologi.

BAB III METODE PENELITIAN

3.1 Metode Penelitian Metode penelitian yang dilakukan yaitu dengan menganalisis peta regional lembar Jakarta dan Kepulauan Seribu berdasarkan studi literatur, langkah-langkahnya antara lain: a. Mendigit peta geologi regional. b. Analisis Geomorfologi daerah penelitian. c. Interpretasi satuan geologi teknik pada peta geologi regional dengan mebuat zonasi berdasarkan studi literatur. d. Membuat peta geologi teknik. e. Membuat laporan geologi teknik. 3.2 Bagan Alir
Mendigit Peta Geologi Regional

Analisis Geomorfologi Daerah Penelitian

Interpretasi Satuan Geologi Teknik

Membuat Peta Geologi Teknik

Membuat Laporan Geologi Teknik

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian 4.1.1 Geomorfologi Daerah Penelitian Daerah penelitian memiliki ketinggian rata-rata berkisar antara 0-50 meter di atas permukaan laut (mdpl). Dengan kisaran ketinggian tersebut dan berdasarkan klasifikasi van Zuidam (1985) mengenai hubungan ketinggian dengan morfografi (Tabel 3.1), maka daerah penelitian dikategorikan sebagai bentuk lahan perbukitan.

4.1.2 Stratigrafi Daerah Penelitian

a. Formasi Genteng Terdiri atas tuf batuapung, batu pasir tufan, breksi andesit, konglomerat dan sisipan batulempung tufan. Satuan ini berumur pada kala Miosen akhir. b. Formasi Serpong Satuan ini terdiri atas perselingan konglomerat, batupasir, batulanau, batu lempung dengan sisa tanaman, konglomerat batuapung dan tuf batuapung. Satuan ini berumur pada kala Pliosen. c. Satuan Batuan Tuf Banten Atas / Tuf Banten

Satuan ini terdiri atas lapisan tuf, tuf batu apung dan batu pasir tufaan yang berasal dari letusan Gunung Rawa Danau. Tuf tersebut menunjukkan keadaan yang lebih asam (pumice) dibandingkan dengan batuan volkanik yang diendapkan sesudahnya. Pada bagian atas satuan tersebut menunjukkan adanya perubahan kondisi pengendapan dari di atas permukaan air menjadi di bawah permukaan air. Satuan ini berumur Plio Pleistosen atau sekitar dua juta tahun yang lalu.

b. Endapan Kipas Aluvium Volkanik Muda Endapan ini terdiri atas material batupasir dan batu lempung tufan, endapan lahar, dan konglomerat. Ukuran butiran pada endapan kipas aluvial ini berubah menjadi semakin halus ke arah utara. Satuan ini terbentuk oleh material endapan volkanik yang berasal dari gunungapi di sebelah selatan Kabupaten Tangerang seperti Gunung Salak dan Gunung Gede - Pangrango. Batuan ini diendapkan pada umur Pleistosen (20.000 dua juta tahun yang lalu). Kipas

aluvial volkanik tersebut terbentuk pada saat gunungapi menghasilkan material volkanik dengan jumlah besar. Kemudian ketika menjadi jenuh oleh air,tumpukan material

tersebut bergerak ke bawah dan melalui lembah. Ketika mencapai tempat yang datar material tersebut akan menyebar dan membentuk endapan seperti kipas yang disebut dengan kipas aluvial. c. Endapan Pantai dan Endapan Pematang Pantai Endapan batuan ini berasal dari material batuan yang terbawa oleh aliran sungai dan berumur antara 20.000 tahun yang lalu hingga saat ini. Endapan tersebut tersusun oleh material lempung, pasir halus dan kasar, dan konglomerat serta mengandung cangkang molusca. Endapan aluvial tersebut dapat membentuk endapan delta, endapan rawa, endapan gosong pasir pantai, dan endapan sungai dengan bentuk meander atau sungai teranyam. d. Endapan Aluvium Endapan ini terdiri atas lempung, lanau, pasir, kerikil, kerakal dan bongkah yang berumur Kuarter. Tersebar pada daerah pedataran serta sekitar aliran sungai.

4.1.3 Struktur Geologi Daerah Penelitian Kondisi struktur geologi yang membentuk daerah kajian dan sekitarnya dikenal

dengan sebutan Tangerang High (Suyitno dan Yahya, 1974). Tinggian ini terbentuk oleh batuan Tersier yang memisahkan cekungan Jawa Barat Utara di bagian Barat dengan cekugan Sunda di bagian timur. Tinggian ini dicirikan oleh kelurusan bawah permukaan berupa lipatan dan sesar

nomal yang berarah Utara-Selatan. Di bagian Timur patahan normal tersebut terbentuk cekungan pengendapan yang disebut dengan Jakarta Sub Basin. Cekungan Jakarta tersebut mempunyai ciri adanya endapan aluvial yang tebal, sedang cekungan di Barat Tangerang High memiliki ciri endapan pantai dan delta. Struktur-struktur tersebut pada saat ini sulit dijumpai di permukaan karena pada saat ini endapan Kuarter yang berumur lebih muda telah menutupi lapisan batuan tersebut. Endapan Kuarter yang menutupi batuan tersebut berupa batuan Volkanik yang berasal dari G. Gede-Pangrango dan G. Salak. Hampir seluruh dari daerah kajian ditutupi oleh batuan volkanik yang berasal dari Gunung Gede - Pangrango dan Gunung Salak serta sebagian kecil ditutupi oleh endapan aluvial.:

4.2 Pembahasan 4.2.1 Satuan Geologi Teknik Peta geologi teknik ini mengandung faktor yang sangat penting terutama dalam aplikasinya sebagai bahan penunjang perencaaan lahan termasuk pengkajian bahan bangunan, jaringan jalan raya, sumberdaya mineral maupun penunjang analisis dampak lingkungan. Ketelitian peta geologi teknik bergantung dari skala dengan kegunaannya masing-masing. Dalam hal ini kami membagi satuan geologi teknik kedalam 3 zona, berdasarkan parameter daya dukung tanah dan zona kekuatan tanah dan batuan. A. Zona A (Merah Muda) Pada zona ini dicirikan oleh warna merah muda, daya dukung sangat rendah, yaitu < 0,1 kg/cm2, dan kekuatan tanah atau batuan sangat rendah dengan nilai < 8,157 x 103

kg/cm2. Potensi kebencanaan yang sering terjadi yaitu banjir, banjir rob, land

subsidence, swelling clay, slacking clay dan expansive soil. B. Zona B ( Kuning Gelap) Sebagian daerah terstrukturkan yang arahnya ke timur peta, dimana terdapat zona lemah yang rentan bencana. Pada zona ini dicirikan oleh warna kuning tua, daya dukung rendah, yaitu < 0,2 kg/cm2, dengan kekuatan tanah atau batuan rendah,

nilainya 8,157 x 10-3 7,341 x 10-2 kg/ cm2. Potensi kebencanaan yang terjadi yaitu banjir, land subsidence, liquifaksi, swelling clay, slacking clay dan expansive soil.

C. Zona C (Kuning Terang) Sebagian daerah terstrukturkan yang arahnya ke barat peeta, dimana terdapat zona lemah yang rentan bencanaa. Pada zona ini dicirikan oleh warna kuning terang, daya dukung menengah, nilainya < 0,5 kg/cm2 dengan kekuatan tanah atau batuan menengah, nilainya 7,341 x 10-2 2,447 x 10-1 kg/cm2. Potensi bencana yang terjadi yaitu, banjir, land subsidence, liquifaksi.

BAB V RANGKUMAN

1. Urutan stratigrafi daerah penelitian dari tua ke muda, yaitu: a. Formasi Genteng b. Formasi Serpong c. Satuan Tuf Banten d. Endapan Kipas Aluvium e. Endapan Pematang Pantai f. Aluvium

2. Struktur Geologi pada daerah penelitian kami, yaitu Tangerang High, terbentuk oleh batuan tersier yang memisahkan cekungan Jawa Barat Utara di bagian Barat dengan cekungan Sunda di bagian Timur. Tinggian ini dicirikan oleh sesar normal yang berarah Utara-Selatan di bagian Timur peta.

3. Satuan Geologi Teknik kami bagi menjadi 3 zona berdasarkan daya dukung tanah dan kekuatan tanah dan batuan.

DAFTAR PUSTAKA

Sapari Dwi Haian, Mohamad; Undang Mardiana; Cipta Endyana.2007. Pola Pengaliran Sungai Purba Cisadane di Kota Tangerang berdasarkan Nilai Tahanan Jenis. Jurusan Geologi Unpad.FMIPA Unpad Badan Standardisasi Nasional.1998. Legenda Umum Peta Geologi Teknik Indonesia Skala 1:100000. SNI 13-4932-1998. ICS 07.060 Zakaria, Zufialdi. 2010. Praktikum Geologi Teknik. Fakultas Teknik Geologi. Laboratorium Geologi Teknik.

LAPORAN INTERPRETASI GEOLOGI TEKNIK


Kota Tangerang dan Sekitarnya Provinsi Banten (Sebagian Peta Geologi Lembar Jakarta dan Kepulauan Seribu)

Disusun untuk memenuhi tugas Geologi Teknik

KELOMPOK 1 : HERMINIO ANDRE NADHIRAH SERAPHINE ARIE TRIANANDA SUHENDAR TRIANTO ARDHAN FAJAR ALAM GIANDA VERMA 1407100800xx 270110090001 270110090002 270110090003 270110090004 270110090005

UNIVERSITAS PADJADJARAN FAKULTAS TEKNIK GEOLOGI JATINANGOR 2012