Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PRAKTIKUM BUDIDAYA TANAMAN SEMUSIM ACARA II PENANAMAN DAN PEMELIHARAAN TANAMAN

Disusun Oleh: Nama NIM Kelas Kelompok Assisten : Arif Ardiawan : A1L008062 : Agrotek B :4 : Supangat

KEMENTRIAN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS PERTANIAN PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI PURWOKERTO 2010

ACARA II PENANAMAN DAN PEMELIHARAAN TANAMAN

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Jagung merupakan komoditi tanaman pangan kedua terpenting setelah padi yang akhir-akhir ini semakin meningkat pula penggunaannya sebagai pakan dan bahan baku industri. Berbegai usaha telah dilakukan untuk meningkatkan produksi jagung nasional dan tampaknya telah membawa hasil nyata. Pada dasarnya konsumen jagung terbesar saat ini adalah untuk pangan dan industri pakan. Semaikin baiknya kehidupan ekonomi, maka konsumsi protein hewani akan semakin meningkat. Hal ini menimbulkan dorongan berkembangnya industri peternakan khususnya ternak ayam. Dalam komponen ransom ayam, komponen terbesar adalah jagung dengan prosentase mencapai 50% sehingga semakin tumbuhnya industri pakan menuntut penyediaan jagung yang semakin meningkat. Tidak jauh berbeda dengan jagung, kondisi kebutuhan kedelai di Indonesia juga meningkat seiring banyaknya permintaan produk olahan kedelai seperti tempe, kecap mupun makanan lainnya. Kebutuhan nasional terhadap kedelai belum mampu dicukupi oleh pemerintah, terbukti masih banyak kedelai yang diimpor dari Negara lain untuk memenuhi kebutuhan kedelai nasional. Menilik pada kondisi tersebut, sebagai tindakan yang bijak maka perlu suatu analisis kondisi yang terjadi yang menyebabkan rendahnya produktivitas kedua komoditas diata sehingga kebutuhan kedelai dan jagung akan terpenuhi. Analisa perlu diterapkan terhadap aspek budidaya seperti tindakan penanaman dan juga pemilihan benih yang bermutu serta tindakan perawatannya. B. Tujuan Pelaksanaan praktikum ini bertujuan untuk: 1. Mengetahui teknik atau cara menanam jagung dan kedelai 2. Mengetahui sistem pertanaman yang dapat digunakan untuk tanaman jagung dan kedelai.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Seringkali terjadi para petani melakukan penanaman akan tetapi hanya dengan asal tanam saja tanpa memperhatikan langkah-langkahnya secara baik, sehingga produksi yang dihasilkan rendah. Oleh karena itu dalam proses

penanaman harus benar-benar diperhatikan langkah-langkahnya agar tanaman dapat tumbuh sebagai mana mestinya. Tanaman yang ditanam dengan cara yang benar akan dapat menghasilkan produksi yang maksimal. Dalam penanaman yang paling penting adalah waktu tanam dan persiapan tanah, selain itu bibit juga sangat mempengaruhi produksi dari tanaman tersebut. Bibit yang unggul akan dapat menghasilkan varietas tanaman yang baik. Unggul disini dimaksudkan memiliki banyak sifat-sifat agronomi yang unggul dibandingkan varietas lain, selain itu juga tahan terhadap penyakit (Harjadi, 1979). Faktor-faktor yang perlu diperhatikan supaya tanaman dapat tumbuh dan memberikan hasil yang baik, dalam arti tanaman yang ditanam dapat tumbuh sesuai dengan yang diharapkan dan memberikan hasil yang optimal. Faktorfaktor tersebut antara lain : 1. Tanah. Kondisi tanah harus diatur agar fungsi tanah dapat berperan sebagaimana mestinya. Tanah memiliki beberapa fungsi antara lain (Aak, 1988): a. Sebagai tempat tegaknya tanaman. b. Sebagai media tumbuh yang menyediakan unsur hara, air dan udara. c. Sebagai tempat tumbuhnya akar, umbi, polong yang bersifat sebagai cadangan makanan pada beberapa tanaman. Karena peranan tanah yang sangat penting, maka kondisi tanah harus benar-benar dijaga dengan cara pengolahan tanah yang baik.. 2. Jenis tanaman yang diusahakan. Setiap jenis tanaman memiliki cara penanaman yang berbeda-beda. Ada jenis tanaman yang bijinya dapat ditanam langsung. Ada tanaman yang perlu disemaikan terlebih dahulu sebelum ditanam di lapang.

Jenis tanaman juga berpengaruh pada pengolahan tanah. Ada yang menghendaki pengolahan tanah yang sempurna dan ada yang hanya memerlukan pengolahan tanah sebagian. 3. Bahan tanam yang digunakan. Bahan tanam menentukan cara menanam dan pertumbuhan tanaman, misalnya tebu dengan stek pucuk dapat ditanam dengan direbahkan, tetapi bibit yang berupa rayungan harus ditanam tegak. Untuk bibit yang berbentuk tanaman muda ada yang setelah ditanam memerlukan perlindungan terlebih dahulu sebelum tanaman cukup kuat untuk menerima cahaya matahari secara langsung. 4. Musim dan waktu tanam. Tanaman harus ditanam di musim yang tepat. Tanaman yang tidak ditanam pada musim yang tepat pertumbuhannya akan lambat, atau mudah terserang serangan hama/ penyakit sehingga produksinya akan berkurang. Tiap tanaman memiliki waktu tanam yang berbeda, ada tanaman yang baik ditanam pada musim hujan, kemarau dan akhir musim hujan, atau akhir musim kemarau (Effendi, 1980). Selain hal-hal diatas faktor yang tersangkut pada penanaman antara lain energi penyinaran dalam bentuk panas dan cahaya dan udara yang memberikan karbondioksida dan oksigen. Tanah dan energi penyinaran bervariasi di

permukaan bumi. Walaupun komposisi udara di atas bumi hampir seragam di atas tanah, presentasi udara di dalam tanah bervariasi sangat besar. Penyiangan dan pembumbunan perlu dilakukan, mengingat bibit yang masih muda menghendaki perlindungan dari tumbuhan pengganggu (gulma), atau tanaman lainnya. Pembumbunan dilakukan dengan maksud untuk memperkuat berdirinya batang. Selain itu, pembumbunan berarti menyediakan makanan yang ada pada tanah yang dipakai untuk membumbun. Pembumbunan juga berfungsi mengatasi tanah yang terlalu banyak air dan sekaligus memperbaiki drainase. (AAK : 1993) Setiap tanaman perlu makanan untuk pertumbuhan dan perkembangan. Makanan tersebut berupa unsur-unsur hara, baik yang terdapat di dalam tanah, di udara maupun hara hasil buatan manusia. Untuk melengkapi tersedianya makanan

di dalam tanah dan untuk mencukupi kebutuhan makan dari tanaman yang diusahakan, maka terwujudlah pupuk yang dibuat oleh manusia (buatan). Pupuk buatan ini biasanya memiliki kandungan hara yang diperlukan tanaman dalam jumlah besar, seperti urea dengan kadar nitrogen (N) 45 %, KCl dengan kadar K2O 50 %. Pemupukan dengan pupuk organik sebagai pupuk dasar, dilakukan bersamaan dengan saat pengolahan tanah. Pupuk tersebut dapat berupa pupuk daun, pupuk kandang atau pupuk kompos. Pupuk buatan yang mengandung unsur N, P dan K diberikan bersama-sama dengan saat penanaman benih. Sebagian dari pupuk yang mengandung unsur nitrogen diberikan pada saat tanaman berumur 1 bulan bersama dengan penyiangan dan pembumbunan, dan pada umur 45 hari setelah tanam. (AAK : 1993)

II.

METODOLOGI PRAKTIKUM

A. Bahan dan Alat Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah benih kedelai, benih jagung hibrida, benih jagung manis, pupuk N,P,K, Furadan. Sedangkan peralatan yang digunakan antara lain tugal untuk membuat lubang, penggaris untuk menentukan jarak tanam.

B. Prosedur Kerja 1. Lahan yang ditanami sebelumnya telah dilakukan pengolahan.. 2. Benih jagung dan kedelai dipersiapkan. 3. Pupuk dipersiapkan sesuai dengan ukuran yang telah ditentukan. 4. Lubang dibuat dengan tugal dengan ketentuan: a. Monokultur Jagung manis maupun hibrida Jarak tanam 160 x 40 cm, terdiri dari 5 lubang tiap baris, tiap lubang diisi 2 butir benih jagung. b. Monokultur kedelai Jarak tanam 40 x 20 cm, lubang dibuat 19 baris yang terdiri dari 15 lubang tiap baris, tiap lubang diisi 2 butir biji kedelai. c. Tumpang Sari Jagung manis maupun hibrida dengan Kedelai. Jarak tanam sesuai dengan ketentuan diatas, akan tetapi letaknya disesuaikan dengan kondisi benih lainnya.. 5. Pupuk dasar diberikan pada saat tanam diletakkan 5 cm dari tanaman yaitu pupuk SP 36, Urea dan KCl. Untuk kedelai ditambahkan furadan. 6. Sampel tanaman yang akan diamati ditentukan. 7. Komponen tinggi tanaman dan jumlah daun pertumbuhannya diamati.

III.

HASIL PENGAMATAN

1. Monokultur Jagung ( ) Jarak tanam jagung 160 x 40 cm Pupuk dasar : * Urea 250 kg/ha 225 gr/g 4m * m25,625 gr/tan SP36 150 kg/ha135 gr/g

m23,06 gr/tan 3.2 m * KCl 100 kg/ha90 gr/g m22,25 gr/tan 2. Monokultur Kedelai ( ) Jarak tanam 20 x 20 cm Pupuk dasar : * SP36 100 kg/ha90 gr/g m20,4 gr/tan 3.2 m * KCl 100 kg/ha90 gr/g m20,4 gr/tan

4m 3. Tumpangsari Jagung ( ) dan Kedelai ( ) Jagung : Pupuk dasar : * Urea 40 gr * SP36 20 gr/g m2 3.2 m * KCl 10 gr/g m2 Kedelai: * SP36 70 gr/g m2 * KCl 70 gr/g m2 4m

Pupuk dasar :

IV.

PEMBAHASAN

Pelaksanaan praktikum dibebankan pada masing masing kelompok untuk mengaplikasikan satu dari lima pola tana yang diujikan yaitu mono kultur jagung hibrida dan manis, monokultur kedelai, tumpang sari kedelai dan jagung manis, serta tumpang sari kedelai dengan jagung hibrida. Pelaksanaan penanamn juga mempengaruhi produktivitas tanaman. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan pada saat menanam, menurut Karnomo (1989) adalah: 1. Syarat hidup tanaman, terutama dalam hubungannya dengan keadaan iklim atau cuaca. Dalam hal ini perlu diperhitungkan agar saat menanam stadia perkembangan tanamannya sesuai dengan keadaan lingkungannya. Untuk tanaman yang membutuhkan sedikit air

sebaiknya ditanam pada musim kemarau, sedangkan tanaman yang membutuhkan banyak air ditanam pada akhir musim kemarau. Tanaman yang memerlukan hari panjang sebaiknya ditanam pada bulan-bulan dimana foto periodnya panjang. 2. Serangan hama atau penyakit Saat menanam sebaiknya diatur agar selama stadia perkembangan tanaman tidak banyak populasi hama atau penyakit. Hama biasanya akan menyerang tanaman lebih besar pada waktu stadia reprodiksi tanaman. 3. Pertimbangan ekonomi Saat menanam suatu jenis tanaman dilakukan pada waktu petani tidak banyak menanamnya sehingga harga-harga tanamannya lebih tinggi karena jumlah permintaan akan hasil pertanian lebih banyak dari jumlah produksinya.

Kegiatan pemeliharaan yang dilakukan meliputi kegiatan pemupukan susulan serta penyiangan dan penyulaman. Penyiangan dilakukan setiap terdapat banyak gulma di petak percobaan. Sedangkan pelaksanaan penyulaman dilakukan

setelah umur tanaman 14 hari. Penyulaman dilakukan untuk menghindari penurunan produksi akibat penurunan perkecambahan benih. Sedangkan penyiangan dilakukan untuk menghilangkan gulma yang dapat berkompetisi dengan tanaman budidaya dalam memanfaatkan factor pertumbuhan tanaman. Dilakukan pula kegiatan pemupukan yang ditujukan untuk memberikan hara yang diperlukan tanaman sehingga nutrisi yang dibutuhkan tanaman dapat tercukupi. Keberhasilan bertanam kedelai di lahan sawah menjadi banyak tergantung kepada waktu tanam, yang menentukan tidak saja kandungan air tanah tetapi juga tingkat perkembangan hama dan gulma. Selisih waktu tanam beberapa hari saja dapat menurunkan hasil dengan nyata. Penggeseran waktu tanam kedelai setelah padi musim hujan (April-Mei) menjadi setelah padi gadu (Juli-Agustus) akan menurunkan hasil puluhan persen, bahkan sampai tinggal setengah. Selain peka terhadap musim tanam, kedelai peka pula terhadap pengaruh daerah tanam dan macam lahan yang ditanami. Kedua hal itu dapat menubah urutan kemapuan menghasilkan dari varietas kedelai hingga menyulitkan perencanaan untuk pengujian dan demonstrasi yang diperlukan untuk pembinaan (Soeharsono, 1986). Terlihat perbedaan pada lahan antara sebelum dilakukan pemeliharaan dengan setelah dilakukan pemeliharaan. Sebelum dilakuakan pemeliharaan, kondisi disekitar disekitar tanaman terdapat banyak gulma (putri malu, rumput teki dll.) dan hama (belalang, kumbang dll.). Sedangkan kondisi setelah dilakukan pemeliharaan, gulma berkurang karena dilakukan penyiangan saat pemeliharaan. Jagung sering ditanam petani, baik secara monokultur maupun tumpang sari. Tanaman tumpangsari jagung dapat dikombinasikan dengan padi gogo atau palawija lainnya maupun sayuran. Hal tersebut dilakukan dengan tujuan penganekaragaman penggunaan makanan, pengurangan resiko kegagalan, dan peningkatanintensitas tanam. Penataan tanaman jagung dalam tumpangsari dengan tanaman lainnya haru disesuaikan dengan pola yang sudah ada di daerah yang bersangkutan sesuai dengan kebutuhan pokok petani, luas lahan, serta modal dan tenaga kerja yang tersedia. Selain itu diperlukan pula penataan tanaman yang baik agar kompetisi antar tanaman dalam mengambil hara, menggunakan radiasi matahari dan ruang tumbuh tidak berakibat buruk pada hasil (Sutoro.dkk. 1989).

Penanaman dilakukan dengan menggunakan tugal. Penanaman dengan penugalan benih dikerjalan pada lahan sawah yang sudah dibabat jeraminya, kebanyakan tanpa pengolahan tanah sepert halnya tanam dengan penaburan. Pertanaman dengan tugal lebih baik daripada yang didapat dari penaburan; jumlah tanamannya lebih besar dan tersebar lebih merata (Soeharsono, 1986) . Pemberian pupuk yang tepat selama pertumbuhan tanaman jagung dapat meningkatkan eisiensi penggunaan pupuk. Sifat pupuk N umumnya mudah larut didalam air sehingga mudah hilang baik melalui pencucian maupun penguapan. Untuk mengurangi kehilangan N, pemberian pupuk N sebaiknya diberikan secara bertahap. Seatu hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian pupuk N yang berasal dari urea yang diberikan sekaligus pada pertanaman jagung akan memberikan hasil lebih rendah daripada pertanaman jagung yang mendapatkan pupuk urea dengan takaran yang sama tetap diberikan beberapa kali (Sutoro.dkk. 1989).

V.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa: 1. penanaman dilakukan dengan cara menugal yaitu membuat lubang pada petakan dengan menggunakan tugal. Pada tiap lubang diberi 2 biji. 2. pola tanam yang dilakukan adalah pola tanam tumpangsari jagung manis dengan kedelai, jagung hibrida dengan kedelai, monokultur jagung manis, jagung hibrida dan kedelai.

DAFTAR PUSTAKA

Aak. 1983. Dasar-dasar Bercocok Tanam. Kanisius : Yogyakarta AAK (Aksi Agraris Kanisius). 1993. Teknik Bercocok Tanam Jagung. Penerbit Kanisius ; Yogyakarta. Effendi, Suryatna. 1980. Bercocok Tanam Jagung. Jakarta: C.V.Yasaguna Harjadi, Setyati. 1979. Pengantar Agronomi. Jakarta: PT Gramedia. Sutoro. Yoyo Soelaeman. Iskandar. 1988. Budidaya Tanaman Jagung. Balai Penelitian Tanaman Pangan. Bogor.