Anda di halaman 1dari 38

1

A. 1.

Pendahuluan Latar belakang masalah

Perubahan-perubahan yang terjadi dalam pendekatan pembangunan sanitasi di Indonesia, perkembangan dunia pendidikan, dan perkembangan teknologi berpengaruh pada kompetensi sanitarian yang dibutuhkan oleh dunia kerja. Sanitarian tidak lagi dituntut untuk mampu melaksanakan pembangunan sarana fisik sanitasi, tetapi lebih dituntut untuk melakukan pengawasan terhadap faktor lingkungan yang mempengaruhi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat dalam bidang sanitasi. Perubahan tuntutan kompetensi sanitarian ternyata belum ditanggapi dengan baik oleh pembuat kebijakan dalam pendidikan sanitarian. Standar kompetensi yang digunakan saat ini masih didominasi oleh kompetensi yang mengarah pada intervensi fisik terhadap masalah sanitasi, sementara kompetensi yang menyangkut pemberdayaan masyarakat dalam bidang sanitasi masih terbatas. Salah satu akibat dari keadaan tersebut adalah terjadinya kesenjangan antara kompetensi yang dimiliki sanitarian dengan tuntutan tugas sanitarian di dunia kerja. Kesenjangan kompetensi yang dihasilkan lembaga pendidikan sanitarian dengan tuntutan tugas dapat berpengaruh terhadap kinerja sanitarian di lapangan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa fakta yang menunjukkan tentang rendahnya kinerja sanitarian dai berbagai daerah.Subakir (2000) menemukan bahwa 68,6% Sanitarian Puskesmas di Propinsi Jambi memiliki kinerja yang rendah, dan 72,1% merasa kurang diperhatikan oleh atasannya. Sari (2002) menemukan 11,1% sanitarian merasa kurang puas dengan pekerjaannya sebagai sanitarian di Semarang. Aini (2003) menemukan bahwa sanitarian Puskesmas di Kota Palembang yang berkinerja buruk 71,4 %. Daulay (2006) menemukan bahwa 50% sanitarian puskesmasdi Kota Medan memiliki motivasi yang rendah, hanya 38,2 % yang memiliki minat yang tinggi untuk bekerja, dan 44% sanitarian menunjukkan kompetensi sedang dalam bekerja. Iswahyudi (2001) menemukan bahwa 56% sanitarian puskesmas di Kabupaten Sintang memiliki motivasi rendah dalam bekerja. Muslim (2010) melaporkan bahwa (45%) sanitarian puskesmas di Sumatera Barat memiliki tingkat penguasaan terhadap standar kompetensi yang rendah, dan (52,5%) memiliki motivasi berprestasi yang rendah. Kinerja yang rendah, penguasaan kompetensi yang rendah, serta motivasi berprestasi yang rendah sesungguhnya merupakan permasalahan yang sangat mendasar dalam peningkatan pendayagunaan sanitarian dalam pembangunan sanitasi di Indonesia. Masalah-masalah tersebut tersebut dapat terjadi karena berbagai sebab, antara lain berasal dari hasil pendidikan sanitarian. Hasil pendidikan sanitarian itu sendiri sangat ditentukan oleh standar kompetensi yang digunakan sebagai arah pembelajaran, proses pembelajaran, serta alat bantu belajar mengajar dan sumber belajar yang digunakan. Dari uraian yang telah dikemukakan, dapat disimpulkan bahwa salah satu yang perlu dilakukan adalah meningkatkan relevansi kompetensi yang diajarkan

dengan kompetensi yang dibutuhkan. Langkah awal dari upaya tersebut adalah melalui identifikasi dan pengmabangan kompetensi yang dibutuhkan oleh sanitarian di dunia kerja. Identifikasi dapat dilakukan melalui suatu penelitian yang melibatkan dosen sebagai profesional di bidang sanitasi, sanitarian sebagai praktisi sanitasi, dan mahasiswa sebagai orang sedang menuntut ilmu di bidang sanitasi. 2. Permasalahan Berdasarkan batasan masalah yang telah dikemukakan, masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berkiut: a. Bagaimanakah persepsi dosen Jurusan Kesehatan Lingkungan Politeknik Kesehatan Padang terhadap pentingnya masing-masing kompetensi yang teridentifikasi? Bagaimanakah persepsi mahasiswa Jurusan Kesehatan Lingkungan Politeknik Kesehatan Padang terhadap pentingnya dan penguasaan masingmasing kompetensi yeng teridentifikasi? Bagaimanakah persepsi sanitarian terhadap pentingnya kompetensi yang teridentifikasi? Tujuan Penelitian a. Tujuan Umum Secara umum tujuan penelitian ini adalah: Mengetahui kompetensi yang dapat dikembangkan sebagai arah dan tujuan pendidikan sanitarian di Jurusan Kesehatan Lingkungan Politeknik Kesehatan Padang b. Tujuan Khusus 1) Mengungkapkan persepsi dosen terhadap pentingnya masing-masing kompetensi sanitarian yang teridentifikasi 2) Mengungkapkan persepsi mahasiswa terhadap pentingnya dan penguasaan masing-masing kompetensi sanitarian yang teridentikasi 3) Mengungkapkan persepsi sanitarian terhadap pentingnya masingmasing kompetensi sanitarian yang teridentifikasi 4) Mengungkapkan kompetensi yang memenuhi kriteria untuk dapat dikembangkan sebagai tujuan penidikan sanitarian di Jurusan Kesehatan Lingkungan Politeknik Kesehatan Padang 4. Manfaat penelitian 1. Manfaat teoritis Hasil penelitian ini dapat bermanfaat untuk model identifikasi dan pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dan Pemebalajaran Tuntas. masing-masing

b.

c. 3.

2. Manfaat praktis a. Hasil penelitian ini bermanfaat bagi Kementerian Kesehatan RI dalam penyusunan dan penetapan kurikulum bagi Lembaga Pendidikan Tenaga Sanitarian b. Hasil peneilitian ini bermanfaat bagi Jurusan Kesehatan Lingkungan Politeknik Kesehatan untuk melakukan pengembangan kurikulum guna menghasilkan tenaga sanitarian yang memiliki kompetensi sesuai dengan kebutuhan pasar kerja. c. Hasil penelitian ini bermanfaat bagi organisasi profesi sanitarian dalam menyusun usulan kurikulum pendidikan sanitarian pada pemerintah.

B. Landasan Teoritis 1. Kompetensi

Pada dasarnya, tujuan pendidikan adalah untuk membelajarkan peserta didik (learners) sehingga pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai yang telah dipelajarinya dari muatan (contents) kurikulum dapat menjadi kompetensi sehingga ia mampu berfungsi (functional competence) dengan sukses di masyarakat. Untuk itu, sangat lumrah jika suatu lemabaga pendidikan melakukan perbaikan kurikulum terus menerus agar para alumni dapat mengembangkan muatan kurikulum yang telah dikuasai itu menjadi kompetensi fungsional, bukan sekedar sudah menyelesaikan studi di sekolah atau sudah menabung sejumlah SKS di jurusan/progrm studi saja. Tentu saja perbaikan kurikulum itu didasarkan pada hasil kajian tentang kompetensi prospektif dan aktual yang harus dimiliki maha/siswa setelah tamat, dan berdasarkan itu, memberlakukan kurikulum yang membekali mereka dengan kompetensi yang diinginkan. Dalam literatur, ditemukan banyak variasi definisi tentang pengertian kompetensi, tetapi semuanya mengandung persamaan makna yaitu ability to do or perform something well. Parnell (1978:18), misalnya, mengartikan kompetensi suatu demonstrated ability to apply knowledge, understanding, or skills assumed to contribute to success in life. National Volunteer Skills Centre (2003) menyebutkan :a competency is defined in terms of what a person is required to do (performance), under what condition it is to be done (condition) and how wll it is to be done (standards) MacAsham memandang kompetensi sebagai hasil konstruksi pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai (sikap) yang membuat seseorang sukses dalam hidupnya (Hasan, 2002). Sebagai bagian dari pribadi, kompetensi, menurut Thomas Ewens, melekat pada diri setiap individu tetapi perlu dikembangan selanjutnya sampai menjadi kompetensi fungsional yang terujud dalam pekerjaan dan terefleksikan dalam karakternya (Chikering & Claxton,1981). Sedangkan The Futher Education Unit dari Inggris mendefenisikan kompetensi sebagai the possession and development of sufficient skills, appropriate attitudes and experience for successful performance in life

roles (Harris,et.el.,1995:21). Dari beberapa definisi tersebut terlihat bahwa kompetensi terkait dengan kemampuan seseorang untuk mengaplikasikan pengetahuan, keterampilan, dan nilaia-nilai yang telah terintegrasi sedemikian rupa sehinggga dengan itu ia mampu fungsional dan melakukan pekerjaan sesuai peran atau fungsinya di masayarakat. Kompetensi terkait dengan kemampuan yang harus dimiliki seseorang untuk dapat dilaksanakan dalam bekerja. Kemampuan tersebut harus dapat diterapkan dalam berbagai kondisi. National Volunteer Skills Centre. 2003, menyebutkan ada empat aspek yang tercakup dalam sebuah kompetensi, yaitu (1) task skills, keterampilan melaksanakan tugas-tugas sepesifik (2) Task management skills, yaitu kemampuan mengelola berbagai tugas yang berbeda dalam suatu pekerjaan, (3) contingency management skills, yaituk keterampilan merespon halhal di luar tugas-tugas rutin, dan (4) environment skills, yaitu keterampilan untuk melaksnakan tugas dengan baik dalam berbagai situasi lingkungan yang berbeda. Kompetensi merupakan perkembangan lebih lanjut dari suatu kemampuan, sedangkan kompetensi yang dikembangkan lebih lanjut akan menjadi keahlian. (Elliot & Dweck, 2005:16), menyebutkan bahwa kemampuan, kompetensi, dan keahlian merupakan suatu rangkaian kontinum. Sebelum seseorang menjadi ahli, maka tahap pertama yang perlu dilalui adalah kemampuan dan disusul dengan kompetensi. 2. Kompetensi sanitarian

Kompetensi seorang sanitarian telah ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan sejak tahun 2007. Standar Kompetensi tersebut ditetapkan melalui Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor: 373/Menkes/Sk/III/2007 Tentang Standar Kompetensi Sanitarian. Dalam Keputusan Menteri Kesehatan tersebut, ditetapkan 39 kompetensi bagi Sanitarian Diploma 3 dan 46 kompetensi untuk Sanitarian Diploma 4. Standar kompetensi untuk Sanitarian Diploma 3 yang berjumlah 39 dapat dikelompokkan menjadi: a. Bidang Penyehatan air 1) Melakukan pemeriksaan kualitas fisik air dan limbah cair 2) Melakukan pemeriksaan kualitas kimia air dan limbah cair 3) Melakukan pemeriksaan kualitas mikrobiologi air dan limbah cair 4) Mengoperasikan alat pemboran 5) Melakukan pendugaan air tanah 6) Melakukan pemboran air tanah untuk pembangunan sarana air bersih b. Penyehatan udara 1) Melakukan pemeriksaan kualitas fisik udara/kebisingan, getaran, kelembaban, kecepatan angin dan radiasi 2) Melakukan pemeriksaan kualitas kimia udara 3) Melakukan pemeriksaan kualitas mikrobiologi udara 4) Mengoperasikan alat-alat pengambil sampel udara c. Penyehatan tanah 1) Melakukan peemriksaan kualitas fisik tanah dan limbah padat 2) Melakukan pemeriksaan kulitas kimia tanah dan limbah padat

3) Melakukan pemeriksaan mikrobiologi dan parasitologi tanah dan limbah padat d. Penyehatan makanan 1) Melakukan pemeriksaan kualitas fisik makanan dan minuman 2) Melakukan pemeriksaan kualitas kimia makanan dan minuman 3) Melakukan pemeriksaan kualitas mikrobilogi dan parasitologi makanan dan minuman 4) Melakukan pemeriksaan kualitas mikrobiologi dan parasitologi sampel usap alat makanan dan minuman serta usap rektum 5) Menerapkan prinsip-prinsip sanitasi pengelolaan makanan e. Penyehatan perumahan, tempat-tempat umum, tempat wisata dan sarana transportasi 1) Menilai kondisi kesehatan perumahan 2) Melakukan pengelolaan sanitasi linen 3) Mengawasi sanitasi tempat-tempat umum, pariwisata dan sarana transportasi f. Pengendalian serangga dan binatang pengganggu 1) Melakukan survai vektor dan binatang pengganggu 2) Mengoperasikan alat-alat aplikasi pengendalian vektor 3) Melakukan pengendalian vektor dan binatang pengganggu 4) Mengawasai sanitasi tempat pembuatan, penjualan, penyimpanan, pengangkutan dan penggunaan pestisida g. Pencegahan dan pengendalian pencemaran lingkungan 1) Melakukan analisis dampak kesehatan lingkungan 2) Melakukan pengukuran kualitas air dan limbah cair 3) Mengidentifikasi makro dan mikro bentos dalam badan air 4) Melakukan pengelolaan limbah padat sesuai dengan jenisnya 5) Melakukan pemeriksaan sampel toksikan dan biomonitoring 6) Melakukan pengelolaan pembuangan tinja 7) Melakukan pengelolaan limbah berbahaya dan beracun h. Bidang Pemberdayaan Masyarakat di bidang kesehatan lingkungan 1) Melakukan kegiatan penyuluhan dan pelatihan 2) Melakukan pemberdayaan masyarakat dalam bidang kesehatan lingkungan 3) Melakukan intervensi sosial sesuai hasil analisis sampel air, udara, limbah, makanan, minuman, vektor dan binatang pengganggu ii. Bidang penelitian kesehatan lingkungan 1) Melakukan survailan kesehatan lingkungan 2) Melaksanakan penelitian yang berkaitan dengan kesehatan lingkungan j. Perbaikan kualitas lingkungan 1) Berwirausaha di bidang pelayanan kesehatan lingkungan 2) Merencanakan intervensi teknis sesuai hasil analisis sampel air, udara, limbah, makanan, minuman, vektor dan binatang pengganggu

3.

Pendidikan Berbasis Kompetensi (PBK)

Pendidikan berbasis kompetensi menekankan pada kemampuan yang harus dimiliki oleh lulusan suatu jenjang pendidikan. Kompetensi yang sering disebut dengan standar kompetensi adalah kemampuan yang secara umum harus dikuasai lulusan. Kompetensi menurut Hall dan Jones (1976: 29) adalah pernyataan yang menggambarkan penampilan suatu kemampuan tertentu secara bulat yang merupakan perpaduan antara pengetahuan dan kemampuan yang dapat diamati dan diukur. Kompetensi (kemampuan) lulusan merupakan modal utama untuk bersaing di tingkat global, karena persaingan yang terjadi adalah pada kemampuan sumber daya manusia. Oleh karena. itu, penerapan pendidikan berbasis kompetensi diharapkan akan menghasilkan lulusan yang mampu berkompetisi di tingkat global. Implikasi pendidikan berbasis kompetensi adalah pengembangan silabus dan sistem penilaian berbasiskan kompetensi. Dikaitkan dengan pendidikan, Pendidikan Berbasis Kompetensi (PBK) merupakan pendidikan yang lebih fokus pada pengembangan kompetensi peserta didik agar dapat sukses di masyarakat, kompeten dalam pekerjaan, dan berkembang dalam hidupnya sebagai hasil aplikasi muatan kurikulum yang telah dipelajarinya di lembaga pendidikan. Dengan kata lain, PBK adalah suatu bentuk pendidikan yang berdasarkan kurikulum yang didisain dari hasil analisis peran prospektif dan atau aktual peserta didik di masyarakat modern dan mensertifikasi penguasaan kompetensi itu berdasar unjuk kerja nyata mereka dalam sebagian atau semua aspek peran tersebut (Grant,1976:6). Karena itu, PBK merupakan sistem instruksional yang memberikan kredit pada peserta didik atas kemampuan mereka mengapliksikan muatan kurikulum dalam kehidupan nyata, dari pada sekedar sudah memenuhi persyaratan formal bahwa telah menyelesaikan kuliah/pelajaran saja (Thomson, 1981: 177). Menurut Ansyar (2007) Ada empat faktor penting yang mengharuskan Pendidikan Berbasis Kompetensi diberlakukan: (1) banyak pengetahuan yang telah dipelajari peserta didik, tetapi sedikit yang dapat diaplikasi-kannya dalam kehidupan (Ramsden, 1993), karena memang ada perbedaan besar antara knowing dan doing, atau behaving (Combs, et.al., 1974:107; Erickson, 2002: 46); (2) akibatnya, banyak lulusan lembaga pendidikan tidak mampu menerapkan pengetahuan yang telah dipelajarinya itu dalam kehidupannya sehari-hari (Depdiknas 2002). Sebab, banyak pengetahuan dari perkuliahan itu tidak terkait erat dengan kehidupan nyata mahasiswa (Parnell, 1978;Erickson,2002) sehingga mereka kurang mampu mengaplikasikannya dalam pemecahan masalah nyata sehari-hari (Depdiknas,2002); (3) perspektif PBK yang mensyaratkan adanya link antara pendidikan dan dunia nyata menuntut relevansi kurikulum; (4) prinsip PBK adalah apa yang harus dipelajari mahasiswa dirumuskan secara spesifik, jelas, dan terukur bagi pentingnya komunikasi dan akuntabilitas pendidikan.

4. Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi Pada hakikatnya, pengembangan kurikulum mencakup prinsip dan prosedur yang berkenaan dengan perencanaan, penyajian (delivery), manajemen, dan evaluasi dari segenap proses belajar-mengajar (Richards, 2001). Sementara itu, secara umum kurikulum merujuk kepada program pendidikan yang mencakup (a) tujuan suatu program pendidikan, (b) isi program, (c) prosedur peserta didikan dan pengalaman belajar yang diperlukan guna mencapai tujuan tersebut, dan (d) sarana atau alat untuk menilai apakah tujuan yang dicanangkan tersebut tercapai. Blank (1982) membuat dua belas tahapan yang harus ditempuh dalam pengembangan kurikulum berbasis kompetensi. Tahapan-tahapan tersebut adalah (1) identifikasi suatu jenis pekerjaan, (2) identifikasi prasyarat yang dibutuhkan peserta didik, (3) Identifikasi tugas, (4) analisis tugas dan pengetahuan yang diperlukan, (5) tentukan perfoman akhir, (6) susunan sekuensi tugas, (7) kembangkan tes, (8) tulis tes, (9) kembangkan pedoman belajar, (10) uji coba pedoman belajar, (11) kembangkan manajemen system pembelajaran, dan (12) Implementasi dan evaluasi program. Depdiknas (2008) menetapkan delapan langkah dalam pengembangan kurikulum berbasis kompetensi. Sebagai langkah awal dari delapan tahapan tersebut yang harus dilakukan adalah analisis SWOT dan Tracer Studi serta Labor Market Signals. Secara skematis langkah-langkah tersebut dapat digambarkan pada Gambar 1.

Gambar: 1: Proses Penyusunan Kurikulum Berbasis Kompetensi

5. Kerangka berfikir penelitian Secara skematis kerangka berfikir yang dikembagkan dalam penelitian ini dapat digambarkan seperti gambar 2
Identifikasi dari Standar kompetensi lama

Daftar kompetensi

Identifikasi dari praktisi sanitasi

Persepsi dosen Tentang pentingnya kompetensi

Persepsi Mahasiswa tentang pentingnya kompetensi

Persepsi Sanitarian tentang pentingnya kompetensi

Persepsi Mahasiswa tentang penguasaan kompetensi

Kategorisasi Kompetensi

Kompetensi kategori I

Kompetensi kategori II

Kompetensi kategori III

Kompetensi kategori IV

Kompetensi kategori V

Standar kompetensi baru

Gambar 2: Kerangka berfikir penelitianMetode Penelitian

C. Metode Penelitian 1. Desain penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian survei yang menggunakan analisis deskriptif. Notoatmodjo (2002:138) menyebutkan penelitian merupakan penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat gambaran atau deskripsi tentang suatu keadaan secara objektif. Metode ini digunakan untuk memecahkan atau menjawab permasalahan yang sedang dihadapi pada situasi sekarang. Penelitian ini dilakukan dengan menempuh langkah-langkah pengumpulan data, klasifikasi, pengolahan/analisis data, membuat kesimpulan, dan laporan. Sukardi (2004:14) menyebut bahwa pada penelitian deskriptif peneliti berusaha menggambarkan kegiatan penelitian yang dilakukan pada objek tertentu secara jelas dan sistematis. Penelitian deskriptif hanya berusaha menggambarkan secara jelas dan sekuensial terhadap pertanyaan penelitian yang telah ditentukan sebelum peneliti terjun ke lapangan dan mereka tidak menggunakan hipotesis sebagai petunjuk arah dalam penelitian. Penelitian dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu tahap identifikasi kompetensi sanitarian, tahap pengembangan instrumen, tahap penentuan sampel penelitian, tahap pengumpulan data, tahap pengolahan data dan tahap analisis data. 2. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini secara geografis dilakukan di wilayah Sumatera Barat. Penelitian ini dilakukan tahun 2010 sampai tahun 2011. 3. Populasi dan Sampel Penelitian

Populasi dalam penelitian ini terdiri dari tiga kelompok, yaitu dosen pada Jurusan Kesehatan Lingkungan Polteknik Kesehatan Kemenkes Padang, mahasiswa semester VI pada Jurusan Kesehatan Lingkungan Politeknik Kesehatan Kemenkes Padang, dan sanitarian yang bertugas di bidang sanitasi di Sumatera Barat. Dosen tetap pada Jurusan Kesehatan Lingkungan Politeknik Kesehatan Padang berjumlah 21 orang, mahasiswa semester VI berjumlah 56 orang, dan sanitarian yang bekerja di pelayanan kesehatan, yaitu puskesmas dan rumah sakit berjumlah 112 orang. Sampel dosen diambil secara total, yakni semua dosen tetap pada Jurusan Kesehatan Lingkungan Politeknik Kesehatan Padang diambil sebagai sampel, yakni sebanyak 21 orang. Sampel untuk mahasiswa juga diambil secara total yakni semua mahasiswa semester VI sebanyak 54 orang. Sampel untuk sanitarian diambil sebanyak 60 orang dengan menggunakan teknik acak sederhana. 4. Pengembangan Instrumen Penelitian Secara umum tahapan-tahapan yang ditempuh dalam mengembangkan instrumen penelitian adalah sebagai berikut:

10

a. Identifikasi kompetensi oleh peneliti Identifikasi kompetensi sanitarian diawali dengan mengkaji kurikulum dan standar kompetensi yang digunakan sebagai arah dan tujuan pendidikan saanitarian. Standar kompetensi yang digunakan selama ini ditetapkan melalui Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 373/Menkes/Sk/III/2007 Tentang Standar Profesi Sanitarian. Kompetensi yang tercantum dalam standar kompetensi tersebut berjumlah 39 buah. Kompetensi yang tercantum dalam standar kompetensi tersebut diolah sebagai bahan dasar instrumen. Pengolahan dilakukan meliputi penyederhanaan kompetensi yang terlalu luas, perbaikan redaksional, dan penghapusan kompetensi yang diperkirakan tidak diperlukan. b. Konfirmasi dengan sanitarian Kompetensi yang telah berhasil dikumpulkan sebanyak 46 kompetensi selanjutnya dikomfirmasikan pada beberapa praktisi sanitarian yang bertugas di Puskesmas dan Rumah Sakit yang tersebar di Sumatera Barat, yaitu Puskesmas Tangah Sawah Bukittinggi, Puskesmas Biaro, Puskesmas Muara Panas, Puskesmas Muaro Bodi, Puskesmas Silungkang, RSSN Bukittinggi, RSUD Sungai Dareh, dan RSUD Pariaman. Dari hasil komfirmasi tersebut diperoleh tambahan 4 kompetensi, sehingga jumlah kompetensi menjadi 50 buah. c. Pengembangan draft instrumen Hasil konfirmasi daftar kompetensi yang diperoleh dari praktisi sanitasi dari berbagai instansi digunakan sebagai dasar pengembangan instrumen penelitian. Kompetensi yang diusulkan oleh praktisi sanitasi dirumuskan dalam bentuk kalimat yang dianggap memenuhi persyaratan sebagai rumusan sebuah kompetensi. Sementara itu usulan kompetensi yang memiliki kesamaan, digabung menjadi satu kompetensi, sehingga kompetensi terakhir yang diperoleh berjumlah 50 kompetensi. d. Pertemuan Peneliti dengan Panelis Langkah akhir dalam identifikasi kompetensi dilakukan dengan melakukan pertemuan dengan beberapa orang individu yang dianggap memiliki pemahaman yang baik tentang profesi sanitarian. Individu yang terlibat dalam panelis tersebut adalah dari dua orang dari Dosen Jurusan Kesehatan Lingkungan Politeknik Kesehatan Padang, satu orang dari organisasi profesi, dan satu orang dari praktisi sanitasi. Hasil pertemuaan dengan tim panelis diperoleh masukan tentang perbaikan redaksional beberapa kompetensi tanpa merubah substansi dari kompetensi itu sendiri. e. Penyempurnaan akhir instrumen Kuesioner yang dihasilkan dari proses pengembangan instrumen berisi daftar kompetensi, 39 merupakan modifikasi kompetensi yang berasal dari daftar standar kompetensi sanitarian yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan, dan 11

11

kompetensi merupakan kompetensi yang disepakati oleh praktisi dan profesional di bidang sanitasi. Masing-masing kompetensi berisi 4 opsi pentingnya yang akan diisi oleh responden, dengan menggunakan skala likert, yaitu (4) untuk kompetensi yang dianggap sangat penting; (3) untuk kompetensi yang dianggap penting; (2) untuk kompetensi yang dianggap kurang penting; dan (1) untuk kompetensi yang tidak penting. Disamping daftar standar kompetensi, responden juga diberikan peluang untuk menambahkan kompetensi yang dianggap perlu, tetapi belum ada dalam daftar standar kompetensi. 5. Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan instrument kuesioner. Kuesioner digunakan untuk mengumpulkan data tentang persepsi dosen, mahasiswa dan sanitarian tentang pentingnya kompetensi yang dilakukan dengan teknik angket. Teknik penyampaikan kuesioner dilakukan melalui tiga cara. Kuesioner bagi responden dosen dan mahasiswa disampaikan secara langsung. Kuesioner untuk sanitarian disampaikan melalui jasa pos dan surat elektronik. Kuesioner yang diberikan kepada dosen yang ada di tempat saat penelitian sebanyak 18 kuesioner. Kuesioner yang diberikan kepada mahasiswa semester VI yang berada di tempat sewaktu penelitian sebanyak 54 orang. Kuesioner untuk sanitarian yang dikirim sebanyak 60 orang ditambah dengan 6 orang cadangan untuk mengantisipasi adanya kuesioner yang tidak dikembalikan. Kuesioner untuk sanitarian yang dikembalikan sampai batas waktu yang ditetapkan sebanyak 62, dengan rincian 58 dari sampel utama dan 4 orang dari sampel cadangan. Dengan demikian sampel cadangan yang terpakai hanya dua, dan dua sampel lagi tidak dipakai. 6. Pengolahan data Pengolahan data dalam penelitian ini dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu penyuntingan (editing), pengkodean (coding), pemasukan data (entry), dan pembersihan data (cleaning). 7. Analisis data Dalam analisis selanjutnya pentingnya kompetensi hanya dikategorikan menjadi dua, yaitu penting dan tidak penting. Kompetensi yang dikategorikan penting adalah kompetensi yang termasuk sangat penting, dan penting dengan kisaran nilai rata-rata 2,5 sampai 4,0, sedangkan kompetensi yang dikategorikan tidak penting adalah agak penting dan tidak penting dengan kisaran nilai rata-rata < 2,5. Slanjutnya masing-masing kometensi dikategorikan menjadi lima, yaitu: a. Kategori I merupakan kompetensi yang dipersepsikan penting oleh dosen dan sanitarian serta dikuasai oleh mahasiswa. Kompetensi kategori I ini dimasukkan ke dalam standar kompetensi yang dikembangkan secara langsung tanpa perubahan. b. Kategori II, kompetensi yang dipersepsikan penting oleh dosen, dan sanitarian, tetapi tidak dikuasai oleh mahasiswa. Kompetensi kategori ini

12

dikembangkan sebagai standar kompetensi dengan terlebih dahulu melakukan pengkajian terhadap keluasan cakupan kompetensi, pokok bahasan untuk mencapainya, dan kemungkinan untuk pencapaiannya dalam waktu yang disediakan untuk mempelajarinya. c. Kategori III adalah kompetensi yang dipersepsikan penting oleh dosen, tetapi dipersepsikan tidak penting oleh sanitarian, baik dikuasai maupun tidak dikuasai oleh mahasiswa. Kompetensi kategori ini dapat dikembangkan setelah dilakukan pengkajian secara teoritis dan praktis kedudukan kompetensi tersebut dalam keilmuan sanitasi secara keseluruhan. d. Kategori IV, yaitu kompetensi dipersepsikan tidak penting oleh dosen, dan sanitarian serta tidak dikuasai oleh mahasiswa. Kompetensi ini tidak akan dikembangkan sebagai standar kompetensi sanitarian. e. Ketegori V, yaitu kompetensi yang diusulkan oleh sanitarian yang memenuhi kriteria: 1) Diusulkan minimal oleh 10 orang sanitarian 2) Kompetensi tersebut secara teoritis merupakan bagian dari rumpun ilmu sanitasi D. Hasil Penelitian dan Pembahasan 1. Persepsi Dosen Terhadap Kompetensi Gambaran persepsi dosen terhadap pentingnya kompetensi juga dapat dilihat pada Gambar 3.
4 3.5 3 2.5 2 1.5 1 1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 31 33 35 37 39 41 43 45 47 49

Persepsi Dosen
Gambar 3: Grafik persepsi dosen terhadap pentingnya masning-masing kompetensi.

13

Grafik 4.1 menunjukkan bahwa semua kompetensi memperoleh nilai di atas 2,5, yang berarti semua kompetensi termasuk kategori penting bagi dosen. Kompetensi yang mendapat nilai persepsi paling rendah adalah kompetensi nomor 26, yaitu komepetensi yang menyangkut identifikasi bentos dan plankton dalam badan air. Kompetensi nomor 26 ini diperlukan dalam menilai kualitas air suatu badan air melalui keberadaan dan komposisi plankton dan bentos yang hidup dalam badan air. Keberadaan kedua makhluk dan komposisi kedua makhluk ini dapat digunakan untuk menentukan kualitas air badan air. 2. Persepsi Mahasiswa terhadap Kompetensi Gambaran persepsi mahasiswa terhadap kompetensi dapat juga dilihat melalui histogram yang digambarkan pada Gambar 4 berikut:
4 3.5 3 2.5 2 1.5 1 1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 31 33 35 37 39 41 43 45 47 49

Persepsi Mahasiswa
Gambar4: Grafik persepsi mahasiswa tentang pentingnya masing-masing kompetensi. Gambar 4 mempelihatkan bahwa terdapat 7 kompetensi yang mendapat nilai petrsepsi kurang dari 2,5 yang berarti dipersepsikan tidak penting oleh mahasiswa. Kompetensi-kompetensi tersebut adalah kompetensi nomor 41 sampai 47. Kometensi-kompetensi tersebut meliputi berusaha di bidang kesehatan lingkungan, pendugaan air tanah, identifikasi peluang usaha di bidang kesehatan lingkungan, pemboran air tanah, pengawasan tempat penjualan dan penyimpanan pestisida, pengelolaan klinik sanitasi, dan pemeriksaan dan penilaian depot air minum isi ulang.

14

3. Penguasaan Mahasiswa terhadap Kompetensi Gambar 5 beikut ini memberikan gambaran tentang persepsi mahasiswa tentang pengusaan terhadp masing masing-masing kompetensi.
4 3.5 3 2.5 2 1.5 1 1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 31 33 35 37 39 41 43 45 47 49

Gambar 5 : Grafik persepsi mahasiswa terhadap penguasaan masing-masing kompetensi Gambar 5 menunjukkan bahwa terdapat 9 kompetensi yang tidak dikuasai oleh mahasiswa pada akhir masa studinya. Kompetensi tersebut adalah (17) pemeriksaan mikroba dan parasit dalaam tanah, (26) identifikasi bentos dan plankton dalam air, (43) identifikasi peluang usaha di bidang sanitasi, (45) pengawasan tempat penjualan dan penyimpanan pestisida, (40) analisis dampak kesehatan lingkungan, (41) berwirausaha dalam bidang sanitasi, (44) pemboran air tanah, (50) pemetaan masalah kesehatan dan lingkungan, dan (42) pendugaan air tanah. 4. Persepsi Sanitarian terhadap kompetensi Gambar 6 berikut ini menggambarkan persepsi sanitarian terhadap pentingya masing-masing kompetensi yang ditawarkan dalam penelitian ini.

4 3.5 3 2.5 2 1.5 1 1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 31 33 35 37 39 41 43 45 47 49

Gambar 6: Grafik persepsi sanitarian terhadap pentingnya masing-masing kompetensi

15

Berdasarkan gambar 6, terlihat bahwa terdapat lima kompetensi yang dipersepsikan tidak oleh sanitarian. Kompetensi tersebut adalah kompetensi nomor 15, 16, 17, 42, dan 44. Kompetensi-kompetensi tersebut adalah pemeriksaan sifat fisik tanah, pemeriksaan sifat kimia tanah, pemeriksaan mikroba dan parasit tanah, pendugaan air tanah, pemboran air tanah. 5. Kompetensi Penting bagi Dosen dan Sanitarian serta Dikuasai oleh Mahasiswa Gambar 7 berikut ini menggambarkan persepsi dosen dan sanitarian serta penguasaan mahasiswa terhadap masing-masing kompetensi.
4 3.5 3 2.5 2 1.5 1 1 3 5 7Persepsi Dosen 17 19 21 23 25Sanitarian 33 35 Penguasaan Mhs 47 49 9 11 13 15 37 39 41 43 45 Persepsi 27 29 31

Gambar 7: Grafik Persepsi dosen dan sanitarian terhadap kompetensi serta penguasaan mahasiswa. Dari gambar 7, dapat dilihat bahwa terdapat 39 kompetensi yang dipersepsikan penting oleh dosen dan sanitarian serta dikuasai oleh mahasiswa di akhir masa studinya. Kompetensi-kompetensi tersebut merupakan kompetensi yang ideal dan dapat dikembangkan sebagai kompetensi dalam pendidikan sanitarian (kompetensi kategori I). Gambar 7 juga menunjukkan ada 5 kompetensi yang dipersepsikan penting oleh Dosen dan Sanitarian tetapi tidak dikuasai oleh mahasiswa (Kompetensi kategori 2). Kompetensi-kompetensi tersebut adala kompetensi 26, Identifikasi plankton dan bentos dalam badan air, kompetensi 40, Analisis Dampak Lingkungan, Kompetensi 41, Berwirausaha di bidang kesehatan lingkungan, kompetensi 43, identifikasi peluang usaha di bidang kesehatan lingkungan, kompetensi 45, pengawasan tempat penjualan dan penyimpanan pestisida, dan kompetensi 50, pemetaan masalah kesehatan dan lingkungan Dari Gambar 7 juga dapat diketahui kompetensi kategori III, yaitu kompetensi yang dipersepsikan penting oleh dosen, tetapi tidak penting bagi sanitarian. Kompetensi yang memenuhi criteria tersebut ada 5, yaitu kompetensi

16

16, pemeriksaan sifat kimia tanah, kompetensi 15 pemeriksaan sifat fisik tanah, kompetensi 17 pemeriksaan mikroba dan parasit tanah, kompetensi 44, pemboran air tanah, kompetensi 42, pendugaan air tanah. Pembahasan 1. Persepsi Dosen terhadap Kompetensi

Sebelumnya telah disajikan data tentang persepsi dosen terhadap pentingnya masing-masing kompetensi sanitarian. Dari data tersebut terlihat bahwa secara keseluruhan tidak ada kompetensi yang dipersepsikan tidak penting oleh dosen. Semua kompetensi yang ditawarkan dalam kuesioner dipersepsikan penting oleh dosen, meskipun kalau ditelusuri lebih lanjut ada beberapa kompetensi yang yang dipersepsikan tidak penting oleh dosen secara individu. Kompetensi yang mendapat persepsi tidak penting dari dosen ada sembilan. Bila dikelompokkan maka kompetensi-kompetensi tersebut menyangkut pengambilan sampel makanan, pemeriksaan depot air isi ulang, pemeriksaan dan penilaian tempat-tempat umum, kewirausahaan, pemeriksaan tanah, dan pemeriksaan kualitas air badan air dengan menggunakan bentos. 2. Persepsi Mahasiswa terhadap Kompetensi

Kompetensi yang menyangkut pemeriksaan dan penilaian sanitasi pengelolaan makanan (kompensi nomor urut 24) merupakan kompetensi yang dipersepsikan paling penting untuk dikuasai dan sekali gus dipersepsikan relatif seragam oleh mahasiswa. Dari sudut pandang ilmu sanitasi, makanan dapat berperan sebagai penyebab (agent) dan pembawa (vehicle) penyakit bagi manusia. Beberapa jenis bahan makanan kalau dikonsumsi dalam jumlah yang terlalu banyak atau penanganannya salah, dapat menyebabkan penyakit. Makanan juga dapat dijadikan sebagai media atau perantara bagi suatu penyebab (agent) untuk sampai kepada manusia yang sehat. Pemeriksaan dan penilaian sanitasi pengelolaan makanan merupakan salah satu upaya untuk memutus mata rantai penularan penyakit melalui makanan. Kompetensi tentang pemeriksaan dan penilaian sanitasi makanan selalu dibutuhkan oleh seorang sanitarian. Penyakit-penyakit yang berkaitan dengan makanan (food borne desease) masih merupakan masalah kesehatan utama di sebagian besar wilayah Indonesia. Penyakit-penyakit yang tergolong food borne desease masih sering menimbulkan keracunan secara individu mapun massal pada masyarakat dan masih terus akan terjadi selama masalah sanitasi dalam pengelolaan makanan masih tejadi. Pencegahan penyakit-penyakit yang tergolong food borne desease dilakukan melalui peningkatan sanitasi dalam pengelolaan makanan pada setiap tahapan. Dengan demikian kalau kompetensi ini dipersepsikan paling penting untuk dikuasai dan sekali gus mendapat nilai persepsi paling seragam oleh mahasiswa dapat dimaklumi. Kompetensi tentang pendugaan air tanah dan pemboran air tanah yang dipersepsikan oleh mahasiswa sebagai dua kompetensi yang paling tidak penting

17

untuk dikuasai paling merupakan dua kompetensi yang memiliki keterkaitan sangat erat. Pendugaan air tanah merupakan suatu upaya untuk mengetahui kedalaman permukaan air tanah sebelum dilakukan pemboran, terutama di daerahdaerah yang data air tanahnya belum dimiliki. Pemboran air tanah merupakan salah satu metode untuk mendapatkan air tanah. Kompetensi nomor 30 menyangkut pemeriksaan dan penilaian sanitasi tempat-tempat umum dipersepsikan paling beragam oleh mahasiswa. Tempattempat umum dari sudut pandang sanitasi merupakan tempat yang sering dijadikan oleh banyak orang untuk berkumpul untuk keperluan tertentu, antara lain seperti terminal, bandara, stasiun kereta api, kantor pos, dan rumah ibadah. Pemeriksaan dan penilaian sanitasi tempat-tempat umum dilakukan untuk mencegah terjadinya penularan penyakit atau terjadinya kecelakaan akibat tempattempat umum yang tidak memiliki sanitasi yang baik. Kompetensi tentang pemeriksaan dan penilaian sanitasi tempat-tempat umum dipersepsikan tidak penting oleh 14 mahasiswa dan dipersepsikan sangat penting oleh 19 oleh mahasiswa. Variasi yang beragam terhadap kompetensi ini dapat berkaitan dengan tempat tugas seorang sanitarian. Tempat-tempat umum hanya ditemukan di daerah perkotaan. Bagi mahasiswa yang memiliki pengalaman belajar praktek di wilayah perkotaan, maka dapat saja mempersepsikan kompetensi ini sebagai kompetensi yang penting, sementara mahasiswa yang banyak mengalami pengalaman belajar di daerah pedesaan dapat mempersepsikan kompetensi ini tidak penting karena di wilayah pedesaan tempat-tempat umum tidak ditemukan. Kompetensi-kompetensi yang dipersepsikan tidak penting oleh mahasiswa ada yang tercantum dalam standar kompetensi dan ada yang tidak. Kompetensi yang tercantum dalam standar kompetensi ada, yaitu kompetensi nomor 41, 42, 44, dan 45. Kompetensi yang tidak tercantum dalam standar kompetensi nomor 43, 46, dan 47. Kompetensi yang tercantum dalam standar kompetensi tapi dipersepsikan tidak penting oleh mahasiswa menunjukkan adanya kekurangpahaman mahasiswa tentang kegunaan kompetensi tersebut dalam dunia kerja sanitarian. Kompetensi yang tidak tercantum dalam standar kompetensi dan dipersepsikan tidak penting oleh mahasiswa dapat terjadi karena mahasiswa memang belum terpapar dengan kompetensi secara teoritis maupun praktis. 3. Penguasaan Mahasiswa terhadap Kompetensi Kompetensi yang dipersepsikan penting oleh mahasiswa ternyata tidak sama dengan kompetensi yang dipersepsikan paling dikuasai oleh mahasiswa. Kompetensi yang dipersepsikan paling penting adalah kompetensi nomor 24, yaitu pemeriksaan dan penilaian sanitasi pengelolaan makanan, sedangkan kompetensi yang dpersepsikan paling dikuasai adalah kompetensi nomor 12, yaitu pemeriksaan kebisingan, vibrasi, cahaya, kelembaban, angin dan suhu udara. Perbedaan tersebut dapat terjadi akibat adanya perbedaan tingkat kesulitan untuk menguasai kompetensi tersebut. Kompetensi nomor 12 dapat dikuasai oleh mahasiswa melalui praktek dengan peralatan yang relatif sederhana, sementara

18

penguasaan kompetensi nomor 24 memerlukan pemahaman teori dan pengalaman praktik yang lebih banyak. Kompetensi yang dipersepsikan tidak dikuasai tidak semuanya dipersepsikan tidak penting oleh mahasiswa. Dari sembilan kompetensi yang dipersepsikan tidak dikuasai, empat kompetensi diantaranya dipersepsikan sebagai kompetensi yang penting untuk dikuasai, dan lima kompetensi memang dipersepsikan tidak penting untuk dikuasai. Kompetensi yang dipersepsikan penting tapi tidak dikuasai tersebut menyangkut pemeriksaan mikroba dalam tanah (nomor 17), identifikasi plankton dan bentos dalam badan air (nomor 26), analisis dampak kesehatan lingkungan (nomor 40), dan pemetaan masalah kesehatan dan lingkungan (nomor 50). Kompetensi tentang pemeriksaan mikroba dan parasit dalam tanah (17), sudah tercantum dalam standar kompetensi. Hasil konfirmasi yang diperoleh dari beberapa orang mahasiswa responden, mereka mengatakan bahwa kompetensi tersebut tidak pernah dipraktikkan selama proses pembelajaran. Hal tersebut sejalan dengan penjelasan yang diperoleh dari pengelola pendidikan bahwa kompetensi tersebut memang tidak dipraktikan oleh mahasiswa. Kompetensi tentang identifikasi plankton dan bentos dalam dalam air (26) juga tercantum dalam standar kompetensi. Praktik yang dibutuhkan untuk mendukung pencapaian kompetensi tersebut sebenarnya sudah pernah dilakukan oleh mahasiswa melalui mata kuliah ekologi. Penguasaan mereka terhadap materi praktik tersebut ternyata belum cukup bagi mereka untuk menguasai kompetensi tersebut secara penuh. Kompetensi tentang analisis dampak kesehatan lingkungan (nomor 40) merupakan kompetensi yang sangat luas. Pelaksanaan kompetensi memerlukan beberapa rangkaian kegiatan yang relatif banyak. Penguasaan terhadap kompetensi ini memerlukan penguasaan terhadap kompetensi-kompetensi lain. Dengan demikian ketika mahasiswa ditanyakan tentang penguasaan terhadap kompetensi tersebut sebagian besar dari mereka kurang yakin untuk mengatakan bahwa mereka telah menguasainya, karena kegiatan secara utuh tidak pernah dipraktikkan selama proses pembelajaran. Kompetensi tentang kemampuan melakukan pemetaan masalah kesehatan dan lingkungan (nomor 50) belum tercantum dalam standar kompetensi sanitarian, sehingga praktikum yang dibutuhkan untuk mencapai kompetensi ini memang belum pernah dilakukan. Mahasiswa mempersepsikan kompetensi ini penting untuk dikuasai. Hal ini dapat terjadi karena setelah mereka melakukan praktik belajar lapangan di puskesmas dan di wilayah pedesaan, mereka selalu berhadapan dengan peta tematik yang memuat berbagai informasi tentang kesehatan dan lingkungan. Keragaman persepsi terhadap penguasaan kompetensi juga bervariasi antara kompetensi. Keragaman yang tertinggi terjadi pada kompetensi tentang pemeriksaan dan penilaian sanitasi tempat-tempat umum (30), sedangkan keragaman paling rendah adalah kompetensi tentang pemboran air tanah (44). Penguasaan yang beragam terhadap kompetensi nomor 30 ini dapat terjadi dari hasil proses belajar yang berbeda. Praktik pencapaian kompetensi ini intensif dilakukan pada saat praktik belajar lapangan, yang tempatnya berbeda-beda antara

19

mahasiswa. Penguasaan yang seragam terhadap kompetensi nomor 44 dapat terjadi karena semua mahasiswa sama-sama tidak pernah mengalami praktik untuk mencapai kompetensi ini. 4. Persepsi Sanitarian terhadap Kompetensi

Kompetensi tentang pemeriksaan dan penilaian sanitasi pengelolaan makanan (24) dipersepsikan sebagai kompetensi yang memiliki tingkat kepentingan paling tinggi untuk dikuasai dan sekaligus dipersepsikan relatif seragam oleh sanitarian. Kompetensi yang dpersepsikan paling penting ini sama dengan yang dipersepsikan paling penting oleh mahasiswa. Persepsi sanitarian terhadap kompetensi ini seraltif seragam, hal ini ditandai dengan nilai standar deviasi yang rendah. Kompetensi yang dipersepsikan paling tidak penting adalah kompetensi tentang pendugaan air tanah (42). Kompensi 42 ternyata memang dipandang tidak begitu penting untuk dikuasai oleh sanitarian. Rekapitulasi data pada master tabel menunjukkan bahwa sanitarian yang memberikan nilai penting pada kompetensi 42 ini adalah 25 orang (41,7%) dan tidak ada yang memberikan nilai sangat penting. Kompetensi yang terkait dengan kompetensi 42, adalah kompetensi tentang pemboran air tanah (44). Kedua kompetensi ini sama-sama dipersepsikan tidak penting oleh sanitarian, meskipun kedua kompetensi ini tercantum dalam standar kompetensi sanitarian. Kompetensi yang mendapat nilai persepsi paling beragam dari sanitarian adalah kompetensi tentang pemeriksaan dan penilaian sanitasi tempat wisata (31). Pengaplikasian kompetensi ini bagi sanitarian memang tidak sama, karena ketersediaan tempat wisata di berbagai wilayah tidak sama. Bagi sanitarian yang bertugas di daerah yang memiliki tempat-tempat wisata akan mempersepsikan kompetensi ini sebagai kompetensi yang penting. Sementara itu sanitarian yang bertugas pada daerah yang tidak memiliki tempat wisata tentu tidak dapat mengaplikasikan kompetensi ini dan akan mempersepsikan kompetensi ini sebagai kompetensi yang tidak penting dikuasai. Keadaan ini didukung oleh data yang ada pada master tabel bahwa dari 12 responden yang memberikan nilai tidak penting pada kompetensi 31, 11 diantaranya diberikan oleh sanitarian yang bertugas di rumah sakit. Hal ini dapat dimaklumi karena sanitarian yang bertugas di rumah sakit tidak memiliki kesempatan untuk mengaplikasikan kompetensi ini dalam bertugas. 5. KompetensiKategori I

Kompetensi yang termasuk dalam kategori ini dapat dimasukkan ke dalam standar kompetensi tanpa perubahan. Dosen sebagai sanitarian professional mempersepsikan kompetensi ini penting untuk dikuasai. Sanitarian sebagai praktisi yang menerapkan ilmu sanitasi dalam dunia kerja juga mempersepsikan kompetensi ini penting untuk dikuasai. Mahasiswa sebagai orang mempelajari ilmu sanitasi mempersepsikan kompetensi ini telah dikuasai.

20

Kompetensi yang termasuk kategori ini merupakan kompetensi yang penting dikuasai dari sudut pandang teoritis. Dosen sebagai sanitarian professional memandang pentingnya sebuah kompetensi terutama dari sudut pandang teoritis, yakni kedudukan kompetensi yang bersangkutan dalam rumpun keilmuan sanitasi sesuai dengan ruang lingkup sanitasi yang ada dalam berbagai literatur. Kompetensi yang masuk dalam lingkup sanitasi secara teoritis akan dipersepsikan penting, meskipun secara praktis kompetensi tersebut mungkin tidak dibutuhkan oleh sanitarian dalam pekerjaannya. Kompetensi yang penting dari sudut pandang teoritis dapat dimaknai bahwa untuk menjalankan peran seorang sanitarian dengan baik, diperlukan kompetensi-kompetensi lain yang mungkin saja tidak diaplikasikan secara langsung dalam dunia pekerjaan sanitarian. Kompetensi yang termasuk kategori ini dapat saja berperan sebagai penunjang dalam menjalankan peran sebagai sanitarian. Dengan demikian kompetensi yang dipersepsikan penting dari sudut pandang teoritis dapat saja berbeda dari sudut pandang praktis. Kompetensi yang tergabung dalam kategori ini merupakan kompetensi yang penting untuk dikuasai dari sudut pandang praksis dan praktis. Sanitarian sebagai praktisi di bidang sanitasi mempersepasikan pentingnya sebuah kompetensi berdasarkan penerapan kompetensi tersebut dalam pekerjaannya sesuai dengan pedoman yang dikeluarkan oleh pemerintah. Kompetensi yang ditetapkan sebagai tugas pokok sanitarian sesuai dengan ketentuan perundangundangan akan dipersepsikan penting oleh sanitarian. Kompetensi yang sering digunakan dalam pekerjaan juga akan dipersepsikan penting, sedangkan kompetensi yang tidak digunakan akan dipersepsikan tidak penting. Kompetensi yang dipersepsikan penting oleh sanitarian dapat dimaknai bahwa kompetensi tersebut memberikan kontribusi yang besar terhadap pelaksanaan tugas pokok sanitarian. Kompetensi yang termasuk dalam kategori ini memiliki cakupan dan rumusan yang sudah tepat. Mahasiswa sebagai pihak yang mempelajari kompetensi akan berusaha menguasai kompetensi sesuai dengan materi pembelajaran yang diberikan oleh dosen. Kompetensi yang dipersespsikan dikuasai oleh mahasiswa sampai akhir masa studinya berarti telah memiliki cakupan dan rumusan yang tepat sehingga mahasiswa merasakan adanya suatu keyakinan telah menguasai kompetensi tersebut. Balnk (1982) menyebutkan ada 10 kriteria job task yang baik, sementara itu job task ini dapat diartikan sebagai sebuah kompetensi. a. b. c. d. e. f. g. Benilai, sehingga layak untuk dihargai Merupakan suatu unit yang lengkap Jelas awal dan akhirnya Dapat dijabarkan ke dalam prosedur dari awal sampai akhir Dapat merupakan tugas khusus dalam pekerjaan Menghasilkan suatu produk akhir Berarti untuk dipelajari oleh peserta didik

21

h. i. j. k.

Dirasakan oleh peserta didik sebagai suatu unit pembelajaran yang utuh Dimulai dengan kata kerja aktif (operasional/terukur) Singkat dan tepat Dapat dipelajari dalam waktu 6 sampai 30 jam

Kompetensi yang termasuk dalam kategori ini ada yang sudah terdapat dalam standar kompetensi dan ada yang belum. Dari 39 kompetensi yang termasuk kategori I ini, 34 di antaranya sudah tercantum dalam standar kompetensi, meskipun rumusannya tidak persis sama karena telah dilakukan perubahan, dan lima (5) di antaranya belum terdapat dalam standar profesi sanitarian yang digunakan selama ini. Kompetensi-kompetensi tersebut adalah: 1) 2) 3) 4) 5) Penilaian kualitas sarana air bersih (SAB) Perencanaan promosi kesehatan Inspeksi sanitasi SGL, SPT, PMA, PAH dan perpipaan. Pengelolaan klinik sanitasi Pemeriksaan dan penilaian sanitasi depot air isi ulang

Penilaian kualitas sarana air bersih merupakan kompetensi yang penting secara teoritis maupun praksis dan praktis. Salah satu tugas pokok sanitarian adalah melakukan pengawasan kualitas sarana air bersih. Pengawasan kualitas sarana bersih merupakan salah satu cara untuk menilai kelayakan air bersih untuk dikonsumsi sebelum dilakukan pemeriksaan laboratorium. Dalam bidang sanitasi, setiap sarana air bersih memiliki standar kualitas dalam kaitannya dengan pencemaran air. Secara eksplisit kompetensi tersebut belum tercantum dalam standar kompetensi sanitarian, Meskipun demikian dosen yang mengasuh mata kuliah yang berkaitan dengan kompetensi ini tetap memberikan materi tentang kompetensi tersebut. Hal ini dapat terjadi karena secara teoritis kualitas sarana air bersih merupakan lingkup dari sanitasi. Hal ini antara lain terlihat dari ruang lingkup sanitasi yang dikemukanan oleh Ehlers & Steel (1965), dan Salvato (1982). Kemampuan melakukan penilaian kualitas sarana air bersih merupakan kompetensi yang penting secara praksis dan praktis. Penilaian kualitas sarana air bersih merupakan tugas pokok sanitarian seperti ditetapkan oleh pemerintah yaitu (1) melakukan persiapan pelaksanaan kegiatan, (2) melakukan pengamatan kesehatan lingkungan, (3) Melakukan pengawasan kualitas lingkungan, dan (4) melakukan pemberdayaan masyarakat dan meningkatkan kualitas kesehatan lingkungan. Perencanaan promosi kesehatan merupakan kompetensi yang menunjang pelaksanaan peran sebagai sanitarian. Pengandalian masalah sanitasi tidak dapat dilakukan hanya dengan pendekatan teknis saja, akan tetapi perlu dilakukan melalui perubahan perilaku. Masalah sanitasi yang terjadi saat ini tidak terlepas dari masalah perilaku. Pemahaman masyarakat tentang pentingnya sanitasi dalam pencegahan penyakit masih rendah, sehingga masalah sanitasi masih sering

22

terabaikan. Dengan demikian promosi kesehatan memiliki peran penting dalam menunjang tugas sebagai sanitarian. Pemberdayaan masyarakat dan meningkatkan kualitas kesehatan lingkungan merupakan salah atu tugas pokok sanitarian. Pemberdayaan masyarakat merupakan rangkaian kegiatan yang terencana dan sistematis. Dimsum Indonesia (2008), menyebutkan pemberdayaan masyarakat menyebutkan kegiatan-kegiatan komponen pemberdayaan masyarakat meliputi serangkaian kegiatan yang diawali dengan membangun kesadaran kritis masyarakat, dan pengorganisasian masyarakat. Lebih lanjut disebutkan bahwa untuk menumbuhkan kesadaran dan partisipasi masayarkat dilakukan melalui beberapa tahapan yang salah satu diantaranya adalah menyampaikan pengetahuan mengenai kesehatan lingkungan, sanitasi, dan teknologi sanitasi. Inspeksi sanitasi SGL, SPT, PMA, PAH dan perpipaan merupakan kompetensi yang dipersepsikan penting oleh dosen dan sanitarian yang belum tercantum dalam standar kompetensi sanitarian. Meskipun belum tercantum dalam standar kompetensi, namun dosen yang mengasuh mata kuliah penyehatan air tetap memberikan materi yang berkaitan dengan kompetensi ini, karena kegiatan ini tidak dapat dipisahkan dari kegiatan penyehatan air secara keseluruhan. Dalam dunia praktis, kegiatan ini merupakan kegiatan rutin sanitarian yang bertugas di puskesmas. Inspeksi sanitasi merupakan kegiatan yang dilakukan untuk menilai risiko pencemaran air oleh sebuah sarana penyediaan air bersih seperti sumur gali (SGL), sumur pompa tangan (SPT), perlindungan mata air (PMA), penampungan air hujan (PAH) dan perpipaan (PP). Sarana yang memiliki risiko pencemaran tinggi dapat dipastikan bahwa air yang dihasilkan akan tercemar, sehingga harus diperbaiki. Pengelolaan klinik sanitasi merupakan kompetensi sanitarian yang dipersepsikan penting oleh dosen dan sanitarian tetapi belum tercantum dalam standar kompetensi sanitarian. Kompetensi ini juga dipersepsikan telah dikuasai oleh mahasiswa. Pengelolaan klinik sanitasi tercantum dalam kompetensi sanitarian untuk jenjang pendidikan diploma IV. Meskipun demikian dalam praktiknya, pengelolaan klinik sanitasi di puskesmas dilakukan oleh sanitarian lulusan diploma III. Dengan kenyataan demikian, maka dosen dan sanitarian mempersepsikan kompetensi penting untuk dikuasai. Klinik sanitasi merupakan program yang dikembangkan oleh pemerintah pada tahun 2000-an. Klinik sanitasi merupakan suatu wahana untuk mengatasi masalah kesehatan masyarakat melalui upaya terintegrasi antara kesehatan lingkungan pemberantasan penyakit dengan bimbingan, penyuluhan, dan bantuan teknis dari petugas Puskesmas. Klinik Sanitasi bukan sebagai unit pelayanan yang berdiri sendiri, tetapi sebagai bagian intergral dari kegiatan Puskesmas, bekerjasama dengan program yang lain dari sektor terkait di wilayah kerja

23

Puskesmas. Pasien adalah penderita penyakit yang diduga berkaitan dengan kesehatan lingkungan yang dirujuk oleh petugas medis ke Ruang Klinik Sanitasi, sementara klien adalah masyarakat umum bukan penderita penyakit yang datang ke Puskesmas untuk berkonsultasi tentang masalah yang berkaitan dengan kesehatan lingkungan. Klinik sanitasi merupakan program yang dimaksudkan untuk Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui upaya preventif dan kuratif yang dilakukan secara terpadu, terarah, dan tersusun secara terus-menerus. Secara khusus tujuan klinik sanitasi adalah (1) Meningkatlkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat (pasien dan klien) serta masyarakat disekitarnya akan pentingnya lingkungan dan perilaku hidup bersih dan sehat (2) Masyarakat mampu memecahkan masalah kesehatan yang berhubungan dengan kesehatan lingkungan, (3) Terciptanya keterpaduan antar program-program kesehatan dan antar sektor terkait yang dilaksanakan di Puskesmas dengan pendekatan secara holistik terhadap penyakit-penyakit berbasis lingkungan, (4) Meningkatkan kewaspadaan dini terhadap penyakit-penyakit berbasis lingkungan melalui pemantauan wilayah setempat (PWS) secara terpadu (PWS terhadap lingkungan dan penyakit). Pemeriksaan dan penilaian sanitasi depot air isi ulang yang dipersepsikan penting oleh dosen dan sanitarian yang belum tercantum dalam standar kompetensi sanitarian. Menurut Departemen Kesehatan RI (2008), Depot Air Minum (DAM) adalah badan usaha yang mengelola air minum untuk keperluan masyarakat dalam bentuk curah dan tidak dikemas. Kualitas air produksi Depot Air Minum akhir-akhir ini ditengarai semakin menurun, dengan permasalahan secara umum antara lain pada peralatan DAM yang tidak dilengkapi alat sterilisasi, atau mempunyai daya bunuh rendah terhadap bakteri, atau pengusaha belum mengetahui peralatan DAM yang baik dan cara pemeliharaannnya. Dasar pelaksanaan penyehatan Depot Air Minum ini adalah Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 907/MENKES/SK/VII/2002 Tentang Syarat-Syarat dan Pengawasan Kualitas Air Minum. 6. Kompetensi Kategori II a. Identifikasi bentor dan plankton dalam badan air Identifikasi plankton dan bentos dalam badan air merupakan salam satu cara mengetahui kualitas air badan air. Plankton merupakan organisme yang melayang dalam badan air, sedangkan bentos merupakan organisme yang hidup di dasar perairan. Keberadaan dan komposisi plankton dan bentos dalam badan air dapat digunakan sebagai petunjuk untuk menentukan kualitas air badan air. Sementara itu untuk penentuan kualitas air secara analisis kuantitatif dilakukan dengan pemeriksaan kualitas fisik, pemeriksaan kualitas kimia, dan pemeriksaan kualitas mikroorganisme. Kompetensi ini sudah sangat spesifik dan dapat dicapai melalui proses pembelajaran yang dilakukan. Kompetensi ini merupakan satu unit kegiatan yang jelas awal dan akhirnya. Kompetensi dapat dikuasai melalui pembelajaran

24

teori dan praktik di laboratorium. Dengan demikian maka kompetensi tentang identifikasi plankton dan bentos tetap diperlukan oleh sanitarian. Pokok bahasan yang diperlukan untuk mencapai kompetensi ini harus dimasukkan dalam kelompok mata kuliah MKB (Matakuliah Keahlian Berkarya). b. Analisis Dampak Kesehatan Lingkungan Kemampuan melakukan Aanalisis Dampak Kesehatan Lingkungan (ADKL) merupakan kemampuan mengaplikasikan berbagai kompetensi sanitarian dalam melakukan analisis terhadap dampak kesehatan lingkungan yang tidak baik. Kompetensi ini merupakan nama salah satu matakuliah dalam kurikulum Jurusan Kesehatan Lingkungan yang termasuk dalam kelompok MPB (Matakuliah Perilaku Berkarya). Dari hasil telaah kurikulum yang dilakukan diperoleh gambaran deskripsi matakuliah ini, yaitu menyangkut pengertian, manfaat, dan ruang lingkup Analisis Dampak Kesehatan Lingkungan (ADKL), hubungan ADKL dengan ilmu lain, konsep dasar maximum allaweble toxicant concetration, lethal concentration. LC.50, LD.50, sumber-sumber pencemaran lingkungan yang mempengaruhi kesehatan manusia, konsep observasi dan deteksi zat ekotoksik, prosedur ADKL, studi kasus ADKL, penyusunan laporan, dan presentasi hasil. Cakupan kompetensi yang luas dari kompetensi ini menjadi salah satu sebab kompetensi ini tidak dikuasai oleh mahasiswa. 7.

Penguasaan kompetensi analisis dampak kesehatan lingkungan ini dapat dilakukan melalui pelaksanaan kegiatan secara langsung dan pengulangan yang memadai. Pengalaman secara langsung dapat dilakukan dengan cara menjadi tim dalam kegiatan analisis dampak kesehatan lingkungan yang dilakukan. Pengulangan yang memadai dapat dilakukan melalui proses pembelajaran dalam jangka waktu yang relatif lama. Dengan demikian, melihat waktu yang disediakan dan proses pembelajaran yang diberikan dalam perkuliahan maka penguasaan terhadap kompetensi yang luas ini tidak dapat diwujudkan dalam pendidikan sanitarian jenjang diploma III. Solusi yang ditawarkan untuk kompetensi ini adalah melakukan modifikasi keluasan cakupan dan memperbaiki rumusan. Kemampuan melakukan analisis dampak kesehatan lingkungan bukan lagi untuk semua kegiatan, akan tetapi kegiatan-kegiatan tersebut diperkecil, sesuai dengan jenjang pendidikan sanitarian. Cakupan kompetensi yang ditawarkan adalah kemampuan mengidentifikasi dampak kesehatan lingkungan dari suatu kegiatan. Dengan demikian rumusan kompetensi yang diajukan adalah mampu melakukan identifikasi dampak kesehatan lingkungan. Kemampuan melakukan analisis dampak kesehatan lingkungan secara utuh dapat diberikan pada sanitarian yang telah bekerja melalui suatu pelatihan atau pada jenjang pendidikan diploma IV.

25

c. Berwirausaha dalam bidang sanitasi Kemampuan berwirausaha di bidang kesehatan lingkungan juga merupakan suatu kompetensi yang sangat luas dan sulit untuk diukur pencapaiannya. Untuk mampu berusaha di bidang kesehatan lingkungan seorang sanitarian tidak hanya sekedar harus menguasai kewirausahaan, karena untuk menjadi seorang pengusaha diperlukan prasyarat yang lain, seperti peluang usaha, modal usaha, dan jaringan usaha. Cakupan kompetensi yang luas tersebut juga menjadi salah satu penyebab tidak dikuasainya kompetensi tersebut oleh mahasiswa. Kemampuan berwirausaha di bidang kesehatan lingkungan juga merupakan suatu kompetensi yang sangat luas dan sulit untuk diukur pencapaiannya. Untuk mampu berusaha di bidang kesehatan lingkungan seorang sanitarian tidak hanya sekedar harus menguasai kewirausahaan, karena untuk menjadi seorang pengusaha diperlukan prasyarat yang lain, seperti peluang usaha, modal usaha, dan jaringan usaha. Cakupan kompetensi yang luas tersebut juga menjadi salah satu penyebab tidak dikuasainya kompetensi tersebut oleh mahasiswa. Jiwa kewirausahaan bagi seorang sanitarian memang diperlukan karena dengan demikian seorang sanitarian dapat memebrikan bimbingan pada masyarakat untuk membuka usaha dan sekaligus mengatasi masalah-masalah kesehatan lingkungan, antara lain seperti usaha daur ulang sampah, pengolahan air, pengolahan limbah. Dengan demikian kompetensi ini perlu diperkecil cakupannya sehingga dapat dikuasai oleh mahasiswa dalam waktu serta metode pembelajaran yang ada dan yang terpenting pencapaian kompetensi tersebut dapat diukur. Solusi yang dapat ditempuh untuk kompetensi ini adalah mmperkecil cakupan dan memperbaiki rumusan kompetensi menjadi lebih terukur. Cakupan kompetensi yang ditawarkan bukan lagi mampu berusaha di bidang sanitasi/kesehatan lingkungan, kan tetapi diperkecil menjadi cukup hanya mampu mengidentifikasi peluang usaha dibidang sanitasi/kesehatan lingkungan. Dengan kemampuan mengidentifikasi peluang usaha dalam bidang kesehatan lingkungan, maka bila prasyaraat lain untuk berusaha terpenuhi maka dengan dengan sendirinya kemampuan berusaha akan terwujud. Kemampuan mengidentifikasi peluang usaha di bidang kesehatan lingkungan merupakan kompetensi yang belum tercantum secara eksplisit dalam kompetensi sanitarian. Dengan demikian penguasaan yang kurang terhadap kompetensi ini terjadi karena materi untuk mencapai kompetensi ini belum diberikan secara khusus, sebagaimana kompetensi lain. Kompetensi ini merupakan salah satu syarat untuk dapat mampu berusaha di bidang kesehatan lingkungan. Dengan demikian maka kompetensi ini perlu dimasukkan dalam kompetensi sanitarian dan menambahkan materi untuk mencapai kompetensi ini dalam matakuliah yang relevan.

26

e. Pengawasan tempat penjualan dan penyimpanan pestisida


Pengawasan Tempat penjualan pestisida melibatkan beberapa sektor, antara lain sektor perdagangan, sektor pertanian, dan sektor kesehatan. Dalam sektor kesehatan pengawasan tempat penyimpanaan dan penjualan pestisida dilakukan oleh sanitarian, terutama yang bertugas di puskesmas dan dinas kesehatan. Dari sudut pandang kesehatan, pengawasan pestisida dilakukan untuk mencegah terjadinya keracunan yang dapat melalui air, udara, tanah, dan makanan. Kompetensi tentang pengawasan tempat penyimpanan dan penjualan pestisida dilihat dari cakupannya sudah spesifik dan terukur pencapaiannya. Kurangnya penguasaan mahassiswa terhadap kompetensi ini terjadi karena materi belajar yang dibutuhkan untuk mencapai kompetensi ini tidak diberikan dalam perkuliahan. Hal ini dapat diketahui dari telaah terhadap GBPP maupun silabus mata kuliah ternyata tidak ada yang mencantumkan pokok bahasan untuk mencapai kompetensi ini. Solusi yang ditawarkan terhadap kompetensi ini adalah tetap dicantumkan dalam daftar kompetensi sanitarian. Konsekuensi dari pencantuman kompetensi ini harus diikuti dengan pencantumkan materi belajar dalam salah mata kuliah yang tergabung dalam mata kuliah keahlian berkarya (MKB), maupun mata kuliah keilmuan dan keterampilan (MKK).

gawasan tempat

e.

f. Pemetaan terhadap masalah kesehatan dan lingkungan


Kemampuan melakukan pemetaan terhadap masalah kesehatan dan lingkungan merupakan kompetensi yang sangat diperlukan oleh seorang sanitarian dalam bekerja. Kompetensi ini belum tercantum dalam standar kompetensi sanitarian yang digunakan selama ini, akibatnya kompetensi ini tidak dipelajari dalam proses pembelajaran, sehingga tidak dikuasai oleh mahasiswa. Kompetensi tentang kemampuan melakukan pemetaan terhadap masalah kesehatan dan lingkungan perlu dicantumkan dalam standar kompetensi sanitarian. Materi belajar yang diperlukan untuk menguasai kompetensi ini perlu dimasukkan ke dalam suatu mata kuliah baik dalam mata kuliah kelompok MKK maupun kelompok MKB. Kompetensi yang masuk ke dalam standar kompetensi Setelah melalui pembahasan secara komperehensif melalui pertimbangan teorits dan praktis, maka dari enam kompetensi yang termasuk kategori II yang masuk ke dalam standar kompetensi ada lima kompetensi, yaitu: 1) Identifikasi plankton dan bentos dalam badan air 2) Identifikasi dampak kesehatan lingkungan 3) Identifikasi peluang usaha di bidang kesehatan lingkungan 4) Pengawasan tempat penjualan dan penyimpanan pestisida 5) Pemetaan terhadap masalah kesehatan dan lingkungan

27

6. Kompetensi kategori III a. a. Pemeriksaan sifat kimia, fisik, mikroba, dan parasit tanah Tanah merupakan salah satu komponen lingkungan fisik yang saling berinteraksi dengan komponen lingkungan fisik lain, seperti air dan udara. Secara teoritis kemampuan melakukan pemeriksaan sifat fisik, kimia dan organisme tanah tidak bisa dilepaskan dari kompetensi seorang sanitarian. Tanah yang tercemar akan berpengaruh terhadap kualitas air, karena sebagian besar air tersimpan dalam tanah sebagai air tanah. Bahan kimia dan mikroba yang terdapat dalam tanah dapat masuk ke dalam tubuh manusia secara langsung melalui kulit yang luka atau selaput lendir serta melalui perantara seperti tangan dan makanan. Dengan demikian pemeriksaan fisik, kimia, dan organisme tanah memiliki kedudukan yang penting dalam sistem keilmuan sanitasi. Dari sudut pndang praktis, tidak pentingnya kompetensi tersebut di mata sanitarian saat ini hanya bersifat temporer. Penyakit-penyakit yang ditularkan melalui udara dan air jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan penyakit yang ditularkan melalui tanah. Dengan demikian skala prioritas untuk analisis tanah dalam upaya pencegahan penyakit masih rendah dibandingkan dengan analisis air dan udara. Meskipun demikian untuk masa mendatang pemeriksaan fisik, kimia dan organisme tanah akan menjadi perhatian sejalan dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan masyarakat. Berdasarkan pertimbangan teorits dan praktis yang telah dikemukakan, maka kompetensi tentang pemeriksaan fisik, kimia dan organisme tanah perlu dimasukkan ke dalam daftar kompetensi sanitarian. Materi yang dibutuhkan untuk menguasai kompetensi ini perlu dicantumkan dalam mata kuliah penyehatan tanah dan diberikan dengan baik oleh dosen yang tepat. Dengan demikian penguasaan terhadap kompetensi ini akan lebih baik. a. Pendugaan dan pemboran air tanah Fungsi utama sanitarian dalam penyediaan air bersih/air minum adalah pengawasan kualitas terhadap air atau sarananya. Pengawasan tersebut ditujukan untuk mencegah terjadinya penyakit atau penularan penyakit melalui air yang digunakan oleh masyarakat. Dalam praktiknya di Indonesia, fungsi pengadaan air bersih pernah menjadi domain sanitarian, yakni pada era tahun tujuh puluhan sampai delapan puluhan. Fungsi ini dilaksanakan melalui Proyek Impres Sarana Air Minum dan Jamban Keluarga (SAMIJAGA) pada zaman pemerintahan Orde Baru. Pada era tersebut pengadaan sarana air bersih di daerah pedesaan dibebankan pada Departemen Kesehatan dan secara operasional dilaksanakan oleh sanitarian puskesmas. Fungsi pengadaan sarana air bersih sejak tahun sembilan puluhan tidak lagi dilaksanakan oleh Departemen Kesehatan, akan tetapi dilaksanakan oleh Departemen Pekerjaan Umum, sedangkan fungsi Departemen Kesehatan hanya melakukan pengawasan kualitas air. Peran sanitarian yang pada mulanya sebagai pelaksana pembangunan sarana, bergeser menjadi pengawas kualitas air dan

b.

28

sarana air bersih yang dilakukan melalui pemeriksaan kualitas fisik, kimia, dan mikrobiologi air, serta inspeksi sanitasi. Perubahan fungsi sanitarian dalam pengadaan sarana air bersih telah membawa perubahan pada sebagian dosen dalam pembelajaran. Pembelajaran tentang pembangunan fisik sarana air bersih dan jamban keluarga pada awalnya diberikan secara intensif dalam pembelajaran. Seiring dengan perubahan fungsi sanitarian, maka secara perlahan materi pembelajaran tentang pembangunan fisik sarana air bersih berangsur-angsur tidak diberikan lagi. Pembelajaran yang menyangkut pendugaan air tanah, pemboran air tanah, dan pembangunan jamban keluarga tidak lagi diberikan kepada mahasiswa, meskipun kompetensi tersebut masih tercantum dalam standar kompetensi. Fakta dan kecenderungan yang terjadi dalam pergeseran fungsi dan tugas sanitarian dalam penyediaan sarana air bersih perlu diikuti dengan perubahan standar kompetensi sanitarian. Fakta menunjukkan bahwa pengadaan sarana air bersih bukan lagi menjadi tugas sanitarian. Kecenderungan menunjukkan bahwa ke depan tugas pengadaan sarana air bersih tetap akan ditangani oleh sektor pekerjaan umum. Dengan keadaan demikian maka kompetensi yang menyangkut tentang pendugaan air tanah dan pemboran air tanah tidak perlu dimasukkan ke dalam standar kompetensi sanitarian. Kompetensi sanitarian dalam hal penyediaan air bersih lebih diarahkan pada pengawasan kualitas sarana dan pengawasan kualitas air bersih c. Kompetensi yang masuk dalam standar kompetensi Berdasarkan pembahasan yang dilakukan, maka kompetensi kategori III yang direkomendasikan masuk ke dalam standar kompetensi adalah: 1) Pemeriksaan sifat fisik tanah 2) Pemeriksaan sifat kimia tanah 3) Pemeriksaan mikroba dan parasit tanah

8.

Kompetensi kategori IV

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dikemukakan pada bagian sebelumnya dari tulisan ini, ternyata tidak ditemukan adanya kompetensi yang dipersepsikan tidak penting oleh dosen. Semua kompetensi yang diajukan dalam kuesioner mendapatkan nilai rata-rata penting, meskipun ada beberapa dosen yang memberikan nilai tidak penting (2) pada beberapa kompetensi. Dengan keadaan demikian, maka tidak ada kompetensi yang memenuhi kriteria untuk langsung dihilangkan.

29

9.

Kompetensi kategori V

Sanitasi dalam keadaan bencana (tanggap darurat) sangat dibutuhkan di daerah yang rawan terjadi bencana alam. Sumatera Barat sebagai daerah yang rawan terhadap bencana alam sangat memerlukan tenaga terampil yang dapat menangani sanitasi dalam keadaan darurat. Dalam hal ini tenaga kesehatan yang dapat dipersiapkan untuk berperan banyak dalam hal ini adalah sanitarian. Berdasarkan fakta tersebut, maka kompetensi penanganan sanitasi tanggap darurat merupakan kompetensi yang perlu dimasukkan dalam standar kompetensi sanitarian. Pencapaian kompetensi ini dapat dilakukan dengan memberikan pengalaman belajar pada mahasiswa yang berkaitan dengan penyediaan sarana sanitasi yang memenuhi fungsi dasar di saat bencana. Berdasarkan pembahasan yang telah dilakukan terhadap masing-masing kompetensi yang memenuhi kriteria untuk dikembangkan, maka secara keseluruhan terdapat 48 kompetensi yang akan dijadikan sebagai standar kompetensi sanitarian. Ke-48 kompetensi tersebut terbagi menjadi kompetensi utama, kompetensi tambahan dan kompetensi lainnya. 10. Kompetensi yang masuk dalam standar kompetensi a. Kelompok Kompetensi Utama 1) Penyehatan Air a) Pengambilan sampel air dan air limbah b) Pemeriksaan dan penentuan kialitas fisk dan kimia air c) Pemeriksaan dan penentuan kualitas bakteriologi air d) Perencanaan intervensi teknis untuk mengolah air e) Penuilaian kualitas sarana air bersih f) Pemeriksaan dan penilaian sanitasi depot air isi ulang g) Perencanaan pengolahan air bersih untuk rumah tangga h) Inspeksi sanitasi SGL, SPT, PMA, PAH, dan perpipaan 2) Penyehatan Makanan a) Pengambilan sampel makanan b) Pemeriksaan mikrobiologi makanan c) Pemeriksaan kimia makanan d) Perencanaan intervensi teknis peningkatan sanitasi makanan e) Pemeriksaan dan penilaian TP2M f) Pemeriksaan dan penilaian sanitasi pengolahan makanan 3) Penyehatan Udara a) Pengambilan sampel udara b) Pemeriksaan partikel udara c) Pemeriksaan mikroba udara d) Pemeriksaan gas di udara e) Pemeriksaan kebisingan, vibrasi, cahaya, kelembaban, angin dan suhu udara

30

f)

Perencanaan intervensi teknis perbaikan kualitas udara

4) Penyehatan Tanah a) Pengambilan sampel tanah b) Pemeriksaan sifat fisik tanah c) Pemeriksaan sifat kimia tanah d) Pemeriksaan mikroba dan parasit dalam tanah e) Perencanaan intervensi perbaikan kualitas tanah 5) Pengendalian Vektor a) Survai vektor dan binatang pengganggu b) Perencanaan dan pelaksanaan pengendalian vektor dan binatang pengganggu c) Pengawasan tempat penjualan dan penyimpanan pestisida 6) Penyehatan perumahan, tempat umum, dan sarana transportasi a) Penilaian sanitasi rumah b) Pemeriksaan dan penilaian sanitasi sarana transportasi c) Pemeriksaan dan penilaian sanitasi tempat-tempat umum d) Pemeriksaan dan penilaian sanitasi tempat wisata 7) Pencegahan pencemaran lingkungan a) Pemeriksaan fisik dan kimia limbah cair b) Perencanaan intervensi teknis pengolahan limbah cair c) Pengelolaan limbah padat d) Pengelolaan limbah berbahaya dan beracun e) Pengelolaan tinja manusia f) Pengambilan sampel air badan air untuk pemeriksaan bentos dan plankton g) Identifikasi bentos dan plankton dalam badan air h) Identifikasi dampak kesehatan lingkungan 5) Kelompok Kompetensi Pendukung a) Survailans epidemiologi b) Perencanaan dan pelaksanaan penelitian kesehatan lingkungan c) Pemetaan masalah kesehatan dan lingkungan d) Sanitasi tanggap darurat e) Pengelolaan klinik sanitasi 6) Kompetensi lainnya a) Identifikasi peluang usaha di bidang sanitasi b) Perencanaan promosi kesehatan c) Pelaksanaan promosi kesehatan

31

11. Kesimpulan a. Terdapat 50 kompetensi (100%) yang dipersepsikan penting oleh dosen Jurusan Kesehatan Lingkungan Politeknik Kesehatan Padang b. Terdapat 43 kompetensi (86%) yang dipersepsikan penting oleh mahasiswa semester VI Jurusan Kesehatan Lingkungan Politeknik Kesehatan Padang. c. Terdapat 41 (82%) kompetensi yang dipersepsikan dikuasai oleh mahasiswa semester VI Jurusan Kesehatan Lingkungan Politeknik Kesehatan Padang. d. Terdapat 39 (78%) kompetensi kategori I, yakni yang dipersepsikan penting oleh dosen dan sanitarian serta dikuasai oleh mahasiswa Jurusan Kesehatan Lingkungan Padang. e. Terdapat enam (12%) kompetensi kategori II, yakni yang dipersepsikan penting oleh dosen dan sanitarian, tetapi tidak dikuasai oleh sanitarian f. Terdapat lima (10%) kompetensi kategori III, yakni yang dipersepsikan penting oleh dosen, tetapi dipersepsikan tidak penting oleh sanitarian. g. Tidak terdapat kompetensi yang memenuhi kategori IV, yakni yang dipersepsikan tidak penting oleh dosen tetapi penting oleh sanitarian h. Terdapat satu kompetensi kategori V, yakni yang diusulkan oleh sanitarian dapat dimasukkan ke dalam kompetensi sanitarian. i. Terdapat 48 kompetensi yang dapat ditetapkan sebagai kompetensi dalam pendidikan sanitarian di Jurusan Kesehatan Lingkungan Padang Politeknik Kesehatan Padang. 12. Implikasi a. Pengembangan Standar Kompetensi Implikasi temuan penelitian ini dalam pengembangan kompetensi sanitarian dalam pendidikan sanitarian di Jurusan Kesehatan Lingkungan Politeknik Kesehatan Padang adalah sebagai berikut: 1) Kementerian kesehatan melakukan kajian ulang tentang kompetensi sanitarian yang ada saat ini, sehingga lebih sesuai dengan tuntutan tugas sanitarian di lapangan. 2) Pengelola Jurusan Kesehatan Lingkungan perlu melakukan lokakarya yang melibatkan selurh dosen, organisasi profesi HAKLI, dan sanitarian sebagai respon atas temuan penelitian ini dan merumuskan langkahlangkah untuk menjadikan kompetensi yang ditemukan dalam penelitian ini sebagai arah dan tujuan pembelajaran. 3) Organisasi Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI) Sumatera Barat perlu mempelajari dan meneruskan temuan kompetensi dari penelitian ini untuk dibahas di HAKLI pusat untuk diterusakan kepada Menteri Kesehatan guna ditetapkan sebagai standar kompetensi sanitarian yang baru.

32

b.

c.

Pengembangan Kurikulum Implikasi hasil penelitian terhadap upaya pengembangan kurikulum yang digunakan dalam pendidikan sanitarian di Jurusan Kesehatan Lingkungan Politeknik Kesehatan Padang adalah sebagai berikut: 1) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia perlu memberikan otonomi yang lebih luas pada masing-masing Politeknik Kesehatan dalam pengembangan kurikulum dengan cara memperbesar porsi muatan lokal dalam kurikulum sesuai dengan kebutuhan di wilayah politeknik bersangkutan. 2) Pengelola Jurusan Kesehatan Lingkungan perlu melakukan lokakarya yang melibatkan dosen, HAKLI dan sanitarian untuk mengelaborasi kompetensi yang ditemukan oleh penelitian menjadi elemen-elemen kompetensi, berupa elemen pengetahuan, elemen keterampilan, dan elemen nilai untuk selanjutnya dijadikan sebagai bahan pembelajaran. 3) Organisai Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia wilayah Sumatera Barat terlibat secara aktif dalam pembahasan kurikulum yang dikembangkan. Pengembangan Kompetensi Dosen Implikasi hasil penelitian terhadap pengembangan dosen di Jurusan Kesehatan Lingkungan Politeknik Kesehatan Padang adalah: 1) Pengelola Jurusan Kesehatan Lingkungan Politeknik Kesehatan Padang memberikan kesempatan dan menfasilitasi dosen matakuliah untuk mengikuti pelatihan pengembangan kompetensi guna meningkatkan penguasaan terhadap materi pembelajaran dan metode pembelajaran yang berkaitan dengan kompetensi yang telah dikembangkan. 2) Manajemen Politeknik Kesehatan Padang mengalokasikan anggaran untuk pengembangan kompetensi dosen.

d. Pengembangan Sarana dan Sumber Belajar Sarana dan sumber belajar merupakan bagian penting lain yang dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran guna mencapai kompetensi. Implikasi hasil penelitian ini terhadap pengembangan sarana dan sumber belajar adalah sebagai berikut: 1) Manajemen Politeknik Kesehatan dan Jurusan Kesehatan Lingkungan menyusun rencana pengadaan sarana dan sumber belajar dengan melibatkan dosen pengasuh mata kuliah yang lebih mengetahui dengan pasti tentang sarana dan peralatan yang dibutuhkan. 2) Manajemen Politeknik Kesehatan dan Jurusan Kesehatan Lingkungan memberikan kesempatan seluas-luasnya dan menfasilitasi dosen dan mahasiswa untuk mengakses sumber-sumber belajar melalui jaringan internet melalui kerja sama dengan berbagai perpustakaan elektronik di dalam maupun luar negeri. e. Pengembangan Materi Uji Kompetensi Uji kompetensi merupakan ujian yang harus diikuti oleh seorang calon sanitarian sebelum mendapatkan predikat sebagai sanitarian. Materi

33

uji kompetensi yang diujikan harus relevan dengan standar kompetensi yang dijadikan sebagai tujuan dan acuan dalam pembelajaran. Dengan demikian implikasi temuan penelitian ini dalam pengembangan materi uji kompetensi adalah: 1) Tim yang diberikan kewenangan untuk menyusun materi ujian kompetensi mempelajari dan memahami secara seksama masingmasing kompetensi menyangkut elemen-elemen kompetensi, dan teknik penilaian kompetensi. 2) Tim yang penyusun materi ujian kompetensi memberikan kisi-kisi yang jelas tentang tingkat penguasaan elemen kompetensi yang akan diujikan kepada seluruh mahasiswa dan sanitarian. 13. Saran a. Pengelola Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan Jurusan Kesehatan Lingkungan Politeknik Kesehatan Padang perlu melakukan monitoring terhadap bahan belajar yang diberikan oleh dosen guna memastikan bahwa materi yang dipelajari oleh mahasiswa betul-betul sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai. b. Pengelola Program Studi Diploma III Kesehatan Lingkungan Poltrknik Kesehatan Padang perlu melakukan pembinaan kepada dosen dan instruktur untuk menerapkan pembelajaran yang terpusat pada mahasisiswa (Student Center Learning) c. Pengelola program studi perlu menjalin komunikasi yang intensif dengan organisasi profesi sanitarian (Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia=HAKLI) agar materi uji kompetensi yang diberikan sesuai dengan standar kompetensi yang dijadikan arah dalam pembelajaran d. Organisasi Profesi HAKLI Daerah perlu terus melakukan advokasi terhadap pemerintahan di daerah guna lebih meningkatkan dukungan pemernitah terhadap tugas dan fungsi sanitarian di daerah yang selama ini masih sering mendapatkan prioritas pendanaan yang rendah. e. Organisasi Profesi HAKLI Pusat perlu terus melakukan advokasi terhadap jajaran pemerintahan di tingkat pusat guna mendapatkan dukungan terhadap pelaksanaan tugas dan fungsi sanitarian di tingkat pusat. f. Dosen Jurusan Kesehatan Lingkungan Politeknik Kesehatan Kemenkes Padang perlu menerapkan metode pembelajaran yang bervariasi yang disesuaikan dengan elemen kompetensi yang ingin dicapai dalam pembelajaran. 14. DAFTAR PUSTAKA Achmadi, Umar Fahmi. 2011. Dasar-dasar Penyakit Berbasis Lingkungan. Jakarta. Rajawali Press.

34

-----------, 2008. Manajemen Penyakit Berbasis Wilayah. Jakarta. Penerbit Universitas Indonesia. ------------.2008. Horison Baru Kesehatan Masyarakat di Indonesia. Jakarta. Rineka Cipta. Ansyar, Mohammad.1989. Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum. Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan. Jakarta. ------------dan H. Nurtain. 1992. Pengembangan dan Inovasi Kurikulum. Proyek Pembinaan Tenaga Kependidikan. Jakarta. -----------.2007. Pendidikan Berbasis Kompetensi. Makalah, disampaikan pada Lokakarya Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi STAIN Bukittinggi. Aini, M.A. Hamdah Rosjidah. 2003. Analisis Kinerja Sanitarian Puskesmas Dalam Pelaksanaan Pengawasan Kualitas Air Bersih Di Kota Palembang Tahun 2003. Jakarta. Universitas Indonesia Blank, William E.1982. Handbook For Developing Competency-Based Training Programs. New Jersey. Prentice-Hall.Inc. Brannen, Julia.1992. Mixing Methods: Qualitative and Quantitative Research. Brookfield. Ashgate Publishing Company. Chickering, A. & Claxton, C. 1981. What is competence ?. Dalam Competencybased education: Beyond minimum competency testing. R. Nickse & L. McClure (Eds.). New York: Teachers College Press, 5 - 41. Choudaha, Rahul.2008. Competency-Based Curriculum for a Masters Program in Service Science, management and Engineering (SSME) an On-line Delphi Study. Doctoral Dissertation University Of Denver. Clark, T.G. 2005. Defining a Competency Framework to Shape the Profesional Education of National Security Strategies: A Web-based Delphi Study (Doctoral Dissertation. Texas A&M University, 2005) diakses tanggal 8 Februari 2011 melalui http://researchgate.net/publication. Combs,A.W., Blume,R.A., Newman,A.J. dan Wass,H.L. 1974. The professional education of teachers: A humanistic approach to teacher preparation. Boston, Mass.: Allyn and Bacon, Inc. Departemen Kesehatan RI. 2003. Kurikulum Nasional Program Studi Kesehatan Lingkungan Politeknik Kesehatan Tahun 2003. Departemen Kesehatan RI. 2008. Pedoman Pelaksanaan Penyelenggaraan Hygiene Sanitasi Depot Air Minum, Jakarta, Dirjen P2PL Depkes RI. Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Buku Panduan Pengembangan Kurikulum Berbasis Komptensi Pendidikan Tinggi, Suatu alternatif penyusunan kurikulum. Jakarta: Direktorat Akademik Ditjen Dikti.

35

Daulay, Doharni. 2006. Hubungan Karakteristik Individu dengan Kompetensi Sanitarian dalam Pelaksanaan Penyehatan Makanan di Puskesmas Kota Medan Tahun 2006 (Tesis Magister Kesehatan). Medan. Universitas Sumatera Utara. Dimsum Indonesia, 2008, Water and Sanitation, diakses melalui http://www.dimsum.its.ac.id/id/, tanggal 28 Maret 2012, pukul 11.00. WIB.

Elliot, Andrew J, Carol S. Dweck.2005 (Ed). Handbook of Competence and Motivation. New York. The Guilford Press. Encyclopedia of Public Health. Diaskes melalui www.answers.co,/library/Public Health Encyclopedia-cid-71484 tanggal 20 Desember 2010 Faisal, Sanafiah. 1990. Penelitian Kualitatif, Dasar-dasar dan Aplikasi. Malang. YA3. Franklin, K.K. & Hart J.K. 2007. Idea Generation and Exploration: Benefits and Limitation of Delphi Research Method. Innovative Higher Education 31, 237-246. Diakses melalui :www.springerlink.com, tgl 10 februari 2011 Goldhammer, K. & Wietzel, B. 1981. What is competency-based education? Dalam Competency-based education: Beyond minimum competency testing. R. Nickse & L. McClure (Eds.) New Yok: Teachers College Press, 43 61. Grant, G. 1979. Implications of competence-based education. Dalam On competence: A critical analysis of competence-based reforms in higher education. San Fransisco: Jossey-Bass Publishers, 1-17. Hall, G.E. & Jones, H.L. 1976. Competency-based education: The process for the improvement of education. Englewood Cliff, N.J.: Prentice Hall Inc. Harris, R., Guthrie, H., Hobart, B., dan Lundberg, D. 1995. Competency-based education and training: Between a rock and whirpool. Melbourne: Macmillan Education Australia Pt. Ltd. Hasan, S.H. 2002. Hakekat kurikulum berbasis competence. Makalah pada Seminar Nasional Kurikulum Berbasis Competence, UNP, 25 September 2002, Padang. Internationale Weiterbildung und Entwicklung gGmbH, 2009. Competency-based Training Compilation of Seminar Subject Matter; Training the Trainers. Inwent. Iswahyudi, Tujito.2001. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Motivasi Kerja Sanitarian Puskesmas di Kabupaten Sintang (Tesis Magister Kesehatan). Semarang. Universitas Diponegoro.

36

Junaeni, Ani. 2007. Faktor-faktor yang Berhubungan Dengan Kinerja Sanitarian Puskesmas Dalam Pelayanan Klinik Sanitasi pada Dinas Kesehatan Kota Cirebon. (Tesis Magiste Kesehatanr). Semarang. Universitas Diponegoro. Jama, Jalius.1987. The Identification of Student Teacher Competencies in Vocational Education and Technical Teacher College in Padang, Indonesia. Dsertation. The Ohio State University. Kantz, J.W. 2004. Use of a Web-based Delphi for Identifying Critical Competence of Professional Sciences Masters Program in Biotechnology (Doctoral Dissertation) Texas A&M University, 2004) diakses tanggal 8 Februari 2011 melalui http://www.researchgate.net/publication. Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 19/KEP/M.PAN/11/2000 Tentang Jabatan Fungsional Sanitarian dan Angka Kreditnya; Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 373/Menkes/Sk/III/2007 Tentang Standar Profesi Sanitarian :

Lincoln, Yovana S, Guba Egon. 1984. Naturalistic Inquiry. London. Sage Publication. Manning, Kim Else.2010. A Delphi Study: Exploring Faculty Perceptions of the Best Practices Influencing Student Persistence in Blended Courses (doctoral dissertation). Capella University, diakses melalui http:// eric.ed.gov, tanggal 13 Januari 2011 Marimin.2000. Teknik dan Aplikasi Pengambilan Keputusan Kriteria Majemuk. Jakarta. Grasindo. Miller, Melvin D.1985. Principles and a Philosophy for vocational education. The National Center for Research in Vovational Education The Ohio State University. Columbus. Miles, Matthew B, A. Michael Huberman. 1992. Analisis Data Kualitatif (Terjemahan). Peenrbit Universitas Indonesia. Jakarta. Moleong, Lexy J. 2002. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung. PT. Remaja Rosdakarya. Muslim, Burhan. 2010. Hubungan Tingkat Penguasaan Standar Kompetensi dengan Motivasi Berprestasi Sanitarian Puskesmas di Sumatera Barat Tahun 2010 (Penelitian Risbinakes). Padang. Politeknik Kesheatan Padang. Murry, J.W., & Hammons, J.O. 1995. Delphi: A Versatile Methodology for Conducting Qualitatif Research. The Review of Higher Education, 18, 423-436, diakses melalui http://eric.ed.gov, tanggal 13 Januari 2011 Musrofi, M.2008. Creative Manager Creative Enterpreneur. Jakarta. PT. Elex Media Komputindo.

37

National Volunteer Skills Centre. 2003. A Guide To Writing Competency Base Training. National Volunteer Skills Centre. Melbourne. Nurhayah, Isfandiari. 2005. Motivasi Kerja Sanitarian Puskesmas di Kabupaten Gunung Kidul Tahun 2005. (Tesis Magister). Semarang. Universitas Diponegoro. Orntein, A.C. & Hunkins, F.P. 1988. Curriculum: Principles, Foundations and Issues. Englewood Cliffs, N.J.: Prentice Hall. Okoli, C, & Pawlowski, S. The Delphi Method as a research tool: An Example, Design Considerations and Application. Information & Management 42, 14-29. Parnell, D. 1978. The case for competency-based education. Bloomington, Indiana: Phi Delta Kappa Educational Foundation. Patilima, Hamid. 2007. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung. Penerbit Alfabeta. Prayitno. 2008. Dasar Teori dan Praksis Pendidikan. Padang. Universitas Negeri Padang Bimbingan dan Konseling. Jakarta. Rineka Cipta. ---------, Erman Amti.2004. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta. Rineka Cipta. Politeknik Kesehatan Padang. 2009. Buku Panduan Pendidikan Politeknik Kesehatan Padang Tahun Akademik 2009/2010 -----------, 2011. Buku Panduan Pendidikan Tahun Akademik tahun 2011/2012 Pusat Pendidikan dan Letihan Pegawai Departemem Kesehatan Ri, 2008, Standarisasi Pelatihan Jabatan Fungsional Sanitarian. Jakarta. Pusdiklatkes Depkes, Republik Indonsia, 2003. Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Republik Indonesia, 2009, Undang-undang Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan. Republik Indonesia. 1996. Peraturan Pemerintah No. 32 Tahun 1996, tentang Tenaga Kesehatan. Biro Hukum Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta. Salvato, Joseph A, 1982, Environmental Engineering and Sanitation, New York, John Wiley & Sons. Sari, Titus Sunari. 2002. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kepuasan Kerja Sanitarian Puskesmas di Kota Semarang Tahun 2002. (Tesis Magister). Semarang. Universitas Diponegoro. Siswanto, Hadi., dkk. 2010. Etika Profesi Sanitarian dan Pembangunan Berwawasan Kesehatan. Yogyakarta. Graha Ilmu.

38

Subakir. 2000. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kinerja Sanitarian Puskesmas dan Hasil Kegiatan Kesehatan Lingkungan di Propinsi Jambi Tahun 2000 (Tesis Magister). Jakarta. Universitas Indonesia. Sugiyono.2008. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung. Alfabeta. Sukmadinata, Nana S. 2006. Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek. Bandung. Remaja Rosdakarya. Tujito, Iswahyudi. 2001. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Motivasi Kerja Tenaga Sanitarian Puskesmas di Kabupaten Sintang (Tesis Magister). Semarang. Universitas Diponegoro. Tyler, Ralph W.1949. Basic Principles of Curriculum and Instruction. Chicago. The University of Chicago Press. Widhiarso, Wahyu. 2010. Validasi Model Kompeetnsi Dosen Dalam Pembelajaran Berbasis Student Centered Learning. Makalah Seminar Hasil Penelitian UGM. 11-13 Januari 2010. Zais, R.S. 1976. Curriculum: Principles, Foundations. New York: Harper & Row Publishers.