Anda di halaman 1dari 2

PETA AMBLESAN TANAH DAERAH SEMARANG DAN SEKITARNYA, JAWA TENGAH

Oleh : Tigor MHL Tobing dan Dodid Murdohardono

Untuk mengetahui besarnya penurunan muka tanah (Land Subsidnce) di daerah penyelidikan dilakukan pengukuran elevasi dengan menggunakan alat ukur Waterpass (Wild) dan Theodlit T0. Pengukuran ini dimaksudkan untuk mengetahui perubahan elevasi dari setiap titik pengamatan dan Titik Tetap (Bench Mark) yang telah ada setiap yahunnya mulai dari tahun 1996 200. Pengukuran dilakukan pada 29 titik pengamatan (monitoring pile) dan 1(satu) buah Titik Tetap dan pada 3(tiga) titik pengamatan tambahan di lokasi bor mesin. Dari hasil pengukuran yang dilakukan oleh pihak Dinas Pertambangan dan Direktorat Tata Lingkungan Geologi dan Kawasan Pertambangan (Direktorat Geologi Tata Lingkungan) dapat dihitung besarnya perubahan(penurunan) elevasi pada titik pengamatan. Hasil perhitungan ini belum memberikan gambaran yang pasti besarnya nilai penurunan pada daerah penyelidikan mengingat data yang ada memberikan nilai penurunan yang cukup besar dibandingkan dengan yang terjadi di lapangan dan dibandingkan dengan hasil perhitungan besaran perosokan dengan beban. Hasil perhitungan yang dilakukan memberikan nilai besarnya amblesan bekisar antara 1 mm 171 mm, pada beberapa lokasi pengukuran diperoleh data yang cukup besar yaitu 149,5 167,25 mm/pertahun rata-rata yang diperoleh dari hasil pengamatan dengan menggunakan titik ketinggian DTK dan elevasi dari patok Dinas Pertambangan. Berdasarkan data yang diperoleh dari lapangan dibuat peta zona amblesan (Land Subsidence) yang dikelompokkan menjadi 10 zona dengan interval 2 cm. Pembuatan zona ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran besarnya amblesan yang terjadi pada saat ini. Penurunan (amblesan) yang cukup besar terjadi di bagian utara yaitu di sekitar Pelabuhan, Pondok Hasanudin hingga selatan stasiun Tawang. Pada umumnya daerah ini dibentuk oleh endapan aluvial rawa dan di lapangan daerah ini sering mengalami banjir atau genangan air. Penurunan (amblesan) yang terjadi di daerah ini sangat erat hubungannya antara sifat fisik tanah, yaitu Kompresibilitas tanah dan besarnya pemompaan air tanah dalam yang dilakukan di daerah ini serta terjadinya perubahan tata guna lahan. Lapisan lempung sebagai penyusun utama endapan aluvial yang terdapat di dataran Semarang bagian utara, pada umumnya mempunyai sifat keteknikan dengan kompresibiltas tinggi dan merupakan tanah terkonsolidasi normal, sehingga beban bangunan dan pemompaan air tanah secara berlebihan menyebabkan terjadinya proses penurunan. Berdasarkan data laboratorium mekanika tanah contoh dari bor mesin nilai koefisien konsolidasi tanah di dataran aluvium berkisar 0,00022 0,00200 cm2/det, sedangkan nilai indeks kompresibilitas tanah berkisar antara 0,165 0,772. Besarnya kompresibilitas tanah tersebut dapat dilihat dari dampaknya apabila diberikan beban bangunan di atasnya yang menimbulkan adanya perosokan tanah (settlement). Dengan mengasumsikan berat bangunan ringan sedang sebesar 5 ton/m2 memberikan nilai perosokan > 40 cm di daerah Tanah Mas - Pondok Hasanudin. Dibandingkan dengan penyebaran amblesan tanah yang telah terjadi mulai dari Tanah Mas, Bandar Harjo, Pelabuhan, Stasiun Semarang Tawang, sampai Kaligawe dengan

besarnya amblesan > 10 cm/th terlihat bahwa ada hubungan langsung dengan hasil perhitungan perosokan, terutama yang berada di daerah Tanah Mas dan Pelabuhan. Kondisi di lapangan memperlihatkan bahwa pengurugan depo kontainer dan bangunan berat banyak dijumpai di sekitar pelabuhan meluas hingga kawasan industri di sebelah timur sehingga akan mengakibatkan perosokan yang lebih besar dan hal ini akan memberikan hasil perosokan tanah di kawasan tersebut akan mendekati kesamaan dengan penyebaran dari amblesan tanah. Data hidrogeologi memperlihatkan bahwa kerucut penurunan muka air tanah tertekan hingga tahun 1989 masih berada di daerah Semarang Kota dengan kedudukan 10 m bmt, pemantauan tahun 1989, memperlihatkan penurunan muka air tanah hingga 10 m bmt meluas hingga ke arah timur. Penyebaran penurunan muka air tanah 10 m bmt mempunyai hubungan langsung dengan penyebaran zona amblesan tanah > 17 cm/th kearah timur hanya sampai di sekitar Banjir Kanal Timur - Trimulyo, hal ini tidak sesuai dengan penyebaran kerucut penurunan muka air tanah 15 m dan 20 bmt yang meluas sampai Terboyo. Ketidak terkaitan antara penurunan muka air tanah 15 m dan 20 m bmt dengan amblesan tanah ini kemungkinan disebabkan oleh karena penurunan air tanah terjadi dapat berlangsung cepat seiring dengan besarnya pemompaan, sedangkan proses amblesan tanah memerlukan waktu yang cukup panjang, sehingga dalam jangka waktu panjang kawasan kerucut penurunan muka air tanah 15 m dan 20 bmt akan mengalami amblesan tanah, bila tidak dilakukan upaya konservasi air tanah. Walaupun demikian data yang diperoleh dari hasil penyelidikan tahun 1999, tahun 2000 dan tahun 2001 masih dianggap kurang, mengingat tidak adanya titik pengamatan yang terpasang di sekitar pantai yaitu mulai dari Tanah Mas Pelabuhan Tanjung Mas Terminal Terboyo hingga kearah timur. Apabila diamati dengan baik maka dapat diambil kesimpulan sementara bahwa daerah yang paling besar mengalami amblesan (penurunan) muka tanah adalah daerah Tanah Mas Poncol Bandar Harjo Stasiun Tawang dengan besar amblesan > 10 cm/tahun rata-rata. Seperti yang telah dijelaskan diatas bahwa daerah yang mengalami penurunan muka tanah adalah daerah yang terletak pada kerucut penurunan muka airtanah 10 m pada tahun 1989. Jika melihat pola penurunan muka air tanah dalam di daerah ini yang bergerak ke arah timur, maka pola penurunan muka tanah diperkirakan akan mempunyai kesamaan dan daerah yang akan mengalami penurunan muka tanah akan terletak pada kerucut penurunan muka air tanah 20 m yang diamati pada tahun 1998. Daerah ini dipermukaan dibentuk oleh endapan aluvial rawa dan dibawah permukaan dibentuk oleh endapan aluvial sungai, sedangkan lapisan akuifer yang terdapat dibagian bawahnya adalah akuifer K.Garang dan akuifer Formasi Damar. Dampak pemompaan yang sangat berpengaruh kemungkinan adalah pemompaan yang berlebihan pada akuifer K.Garang. Hal ini juga dapat dilihat dari banyak sumur bor air disekitar daerah dataran di daerah ini. Untuk menghindari terjadinya proses amblesan di daerah ini, maka pengambilan air bawah tanah yang berasal dari akuifer K.Garang sebaiknya dibatasi dan pembuatan sumur bor air baru yang menyadap air dari akuifer ini sebaiknya dihentikan.