Anda di halaman 1dari 29

TEKNOLOGI DAN FORMULASI OBAT TRADISIONAL (2 SKS)

PENDAHULUAN
Sejarah, pengertian, dan karakteristik Obat Tradisional

Pengampu : Nestri Handayani Ahmad Ainurofiq


Sistem ujian : Ujian akan diadakan 2x (untuk materi dari Ibu Nestri) dan 2x untuk materi Bp. Rofiq

Sistem

penilaian : Nilai mutlak : (rata-rata dari dua pengampu) A : 80 B : 70-79 C : 60-70 D : <60

Materia

Medika Indonesia, jilid I-VI, Depkes RI, Jakarta Sediaan galenika, Depkes RI, Jakarta Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat,Depkes RI, Jakarta List, P.H., Schmidt, P.C., 1989, Phytopharmaceutical Technology, CRC Press. Boston Harborne, Metode Fitokimia,penerbit ITB,Bandung

Pada saat ini trend masyarakat untuk back to nature semakin tinggi, terutama yang menyangkut masalah kesehatan Orang lebih suka menggunakan pengobatan dengan bahan alami daripada dengan obat obatan sintetik, hal ini karena selain harganya lebih ringan juga efek samping relatif lebih kecil Perkembangan OT? Kini OT telah banyak mengalami perkembangan, baik dari segi : Ilmiah : Khasiat dan Keamanan Bentuk sediaan : pil, kapsul, tablet, sirup

Obat

tradisional atau obat bahan alam Indonesia merupakan bagian dari khazanah budaya bangsa Kebiasaan minum jamu dan ramuan tanaman obat telah berlangsung sejak jaman nenek moyang Relief candi-candi abad ke-8 telah menggambarkan kebiasaan penggunaan tanaman obat Naskah-naskah kuno memuat tulisan-tulisan mengenai ramuan tradisional untuk kesehatan dan pengobatan

Kebiasaan

minum jamu untuk kesehatan terus berlangsung bahkan berkembang sebagai usaha komersial Jamu gendong dan tukang jamu keliling, tahun 1920-an Usaha jamu rumahan Industri jamu, saat ini mencapai lebih dari 1000 industri skala kecil, menengah, dan besar (GP Jamu, 2007)

HERBAL

OBAT
Pencegahan Perawatan

KOSMETIKA
Kecantikan

SUPLEMEN

Kesehatan umum

Pengobatan

Penggunaan

obat dari bahan alam menuntut langkah-langkah pengembangan untuk tujuan meningkatkan mutu produk Penggunaan yang semula hanya didasarkan pada pengalaman perlu didukung penelitian ilmiah

Obat

bahan alam kemudian dikelompokkan menjadi 3 kelompok, yaitu : 1. Jamu 2. Ekstrak terstandar, dan 3. Fitofarmaka

Bahan

atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, hewan, mineral, sediaan galenik, atau campuran dari dari bahan tersebut yang secara tradisional telah digunakan telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman (empirical based herbal medicine)

Telah

ada upaya standardisasi terhadap proses pembuatannya (Scientific based herbal medicine) Standardisasi meliputi bahan baku (simplisia), proses, dan kualitas produksi, termasuk uji praklinik, yaitu uji khasiat dan uji toksisitas

Sediaan

obat tradisional yang telah dibuktikan khasiat dan keamanannya, dan bahan bakunya terdiri atas simplisia atau sediaan galenik yang telah memenuhi persyaratan yang berlaku (PerMenKes RI no.760/MemKes/Per/RI/IX/1992) Melalui uji praklinik dan klinik dan terbukti efektif untuk suatu indikasi tertentu sehingga layak disebut obat (Clinical based herbal medicine)

Fitofarmaka :

Dasar pengalaman Parameter pengujian dan indikasi tidak jelas - jamu becak tani - jamu habis bersalin - jamu bersih darah Bahan baku belum terstandardisasi Promotif dan preventif

Dasar ilmiah Parameter pengujian dan indikasi jelas - antidiabetikum - antihipertensi - obat cacing Bahan baku terstandardisasi Kuratif

JAMU

Harus memenuhi kriteria : Aman Klaim khasiat dibuktikan berdasar data empiris Memenuhi persyaratan mutu Klaim penggunaan harus diawali dgn kata-kata : Secara tradisional digunakan untuk

JAMU

OBAT HERBAL TERSTANDAR

OBAT HERBAL TERSTANDAR

Harus memenuhi kriteria : Aman Klaim kasiat harus dibuktikan berdasarkan uji pra-klinik Telah dilakukan standardisasi thdp bahan baku yg digunakan dlm produk jadi Memenuhi persyaratan mutu Contoh produk : ......

FITOFARMAKA

Harus memenuhi kriteria : Aman Klaim kasiat harus dibuktikan berdasarkan uji klinik Telah dilakukan standarisasi terhadap bahan baku yang digunakan dalam produk jadi Memenuhi persyaratan mutu Contoh produk :

FITOFARMAKA

Produk Obat tradisional Kode TR untuk produk obat tradisional (jamu) dalam negeri Kode TL untuk produk produk obat tradisional (jamu) impor Kode P-IRT untuk produk industri rumah tangga Produk Makanan/suplemen Kode MD untuk produk makanan/suplemen dalam negeri Kode ML untuk produk makanan/suplemen impor Kode SP untuk produk industri kecil Produk Kosmetika Kode CD diberikan untuk produk kosmetika dalam negeri Kode CL untuk produk kosmetika impor

Tanaman Obat
Temulawak (Curcuma xanthorriza) Kunyit (Curcuma domestica) Bawang putih (Allium sativum) Jati Blanda (Guazuma ulmifolia) Handeuleum/daun unggu (Gratophyllum pictum) Tempuyung (Sonchus arvensis) Kejibeling (Strobilanthes crispus) Labu merah (Cucurbita moschata) Katuk (Sauropus androgynus) Kumis kucing (Orthosiphon stamineus)
Sumber : Santoso (1993)

Bagian
Umbi Umbi Umbi Daun Daun Daun Daun Biji Daun Daun

Indikasi/Potensi
Hepatitis, Artritis Hepatitis, Artritis, Kandidiasis, Hiperlipidemia Hiperlipidemia Hemoroid Nefrolitiasi, Diuretik Nefrolitiasi, Diuretik Taeniasis Meningkatkan produksi ASI Diuretik

Tanaman Obat
Seledri (Apium graveolens) Pare (Momordica charantia) Jambu biji/klutuk (Pssidium guajava) Sirih (Piper betle) Saga telik (Abrus precatorus) Sembung (Blumea balsmaifera) Benalu teh (Loranthus spec) Bratawali (Tinospora rumphii) Pegagan/kaki kuda (Centella asiatica) Legundi (Legundi trifolia) Inggu (Ruta graveolens) Sidowajah (Woodfordia floribunda) Pala (Myristica fragrans)
Sumber : Santoso (1993)

Bagian
Daun Buah, biji Daun Daun Daun Daun Batang Batang Daun Daun Daun Daun Buah

Indikasi/Potensi
Hipertensi Diabetes Diare Antiseptik Stomatitis aftosa Analgetik, Antipiretik Antikanker Antimalaria, Diabetes Diuretik, Hipertensi Antiseptik Analgetik, Antiseptik Antiseptik, Diuretik Sedatif