Anda di halaman 1dari 3

Operasi katarak merupakan operasi intraokular yang tersering dilakukan sehingga teknik operasi selalu dikaji secara konstan.

Teknik operasi katarak telah berkembang dari insisi luas ekstrakapsular hingga mikroinsisi. Harapan pasien juga berubah, dengan meningkatnya ketepatan refraksi serta hasil visual dan keamanan prosedurnya. Penggunaan laser femtosecond pada operasi katarak merupakan kemajuan dalam teknologi katarak, namun informasi mengenai komplikasi intraoperasi, kurva studi operasi dan hasil visual sangat sedikit (Bali et al, 2012). Laser femtosecond telah digunakan pada operasi mata sejak 2001. Teknologi ini telah diaplikasikan untuk insisi kornea, reseksi baji, pembuatan saluran, dan keratoplasti. Laser femtosecond diketahui lebih akurat dibanding alat canggih lainnya dengan efek yang lebih sedikit pada jaringan kolateral. Keuntungan dari operasi katarak dengan laser femtosecond termasuk keakuratan yang lebih tinggi pada kapsuloreksis dan pengurangan kekuatan ultrasound pada proses fakoemulsifikasi. Kapsulotomi anterior yang dilakukan dengan laser femtosecond juga lebih teratur serta penempatan lensa intraokular pada pusat lensa lebih baik (Bali, et al, 2012). Prosedur Evaluasi preoperatif termasuk biomikroskop slit-lamp, tonometri, pengukuran visus dengan dan tanpa koreksi dan manifestasi refraksi. Pengukuran panjang aksis dan biometri, pachymetry, topografi kornea, densitometri lensa, mikroskopi spekular dan tomografi koherensi optikal untuk ketebalan makula. Glaukoma, opasitas kornea, hipotoni, pupil yang kurang berdilatasi (<7mm), instabilitas lensa atau zonular, darah atau material lain di ruangan anterior merupakan kriteria eksklusi operasi katarak femtosecond. Berdasarkan protokol standar operasi katarak, mata pasien yang akan dioperasi ditetesi ketorolac tromethamine 4 kali sehari selama 3 hari sebelum operasi. Operasi dilakukan dengan anestesi topikal 0,4%

oksibuprokain. Dilatasi pupil didapatkan dengan pemberian 1% tropicamide, 10% phenylephrine dan 1% cyclopentolate sebelum operasi (Bali, et al, 2012). Langkah awal prosedur termasuk programming lensa, kapsulotomi, pola insisi primer dan sekunder. Setelah pola ditetapkan dan pemilihan parameter telah lengkap, sistem telah siap dilakukan pada pasien. Sistem laser menggunakan patient interface steril disposabel. Patient interface tersebut terdiri dari lensa aplanasi, cincin penghisap dan tabung yang dimasukkan ke dalam bagian distal laser-focusing objective dan menjadi barier steril antara pasien dengan laser. Lensa objektif dimasukkan secara spring loaded untuk mengontrol tenaga aplanasi yang dikeluarkan objektif. Sistem pengantaran direndahkan sampai patient interface kontak dengan mata pasien. Sensor pada sistem pengantaran mendeteksi posisi objektif dan tenaga aplanasi yang diindikasikan pada sistem pengantaran layar sentuh. Dokter mengobservasi aplanasi kornea dengan video mikroskop dan menghisap ketika kornea telah teraplanasi ketika indikator tenaga aplanasi pada zona kuning atau hijau. Pada layar akan terlihat mikroskopik dan gambar tomografi koherensi optikal segmen anterior. Pengaturan titik kontrol termasuk sentrasi limbal, penandaan batas insisi kornea, sentrasi pupil dan identifikasi kedalaman dan posisi lensa serta permukaan kornea. Dengan menggunakan gambar tomografi koherensi optikal, pemilihan dilakukan untuk kapsulotomi, lensa,

ketebalan kornea dan panjang tunnel. Penggunaan laser dimulai dengan menekan tombol kaki dan proses operasi dimonitor pada layar video. Prosedur dapat dihentikan dengan melepas tombol kaki. Program akan mengantarkan energi laser secara berkelanjutan pada kapsul, lensa dan insisi primer dan sekunder kornea. Insisi kornea arkuata jika digunakan, mengikuti insisi kornea sekunder (Bali, et al, 2012). Setelah prosedur laser lengkap, pasien dikirim ke ruang operasi. Kornea yang telah diinsisi dengan laser didiseksi dengan spatula. Flap hasil kapsulotomi laser dibuka dengan forceps. Segmentasi lensa diselesaikan tergantung dokter yang mengoperasi dengan chopper atau

dengan teknik chop langsung. Operasi diselesaikan dengan prosedur fakoemulsifikasi standar. Setelah pelepasan korteks lensa, lensa intraokular diimplantasi di kantong kapsul. Postoperasi pasien diberikan regimen obat tetes 0,3% ciprofloxacin, ketorolac tromethamine dan 0,1% dexamethasone empat kali sehari selama dua minggu. Obat tetes steroid dikurangi menjadi dua kali sehari seminggu berikutnya (Bali, et al, 2012). Laser femtosecond telah dikembangkan untuk meningkatkan keakuratan dan minimalisir cedera jaringan kolateral pada operasi mata. Penggunaan pulse yang pendek mengurangi keluaran energi sehingga dapat mempertahankan struktur okular. Komplikasi yang dapat terjadi pada operasi ini adalah kesalahan saat penghisapan, insisi kornea yang memerluan asistensi keratome, konstriksi pupil setelah prosedur laser, robekan kapsul anterior radial, robekan kapsul posterior dan keluarnya vitreous dan dislokasi lensa posterior (Bali, et al, 2012).