Anda di halaman 1dari 15

Selayang Pandang Ilmu Ilal Hadis Muhamad Ridwan Nurrohman Pendahuluan Ketika seseorang sedang mengalami penyakit luar,

misalnya sakit mata atau paling jauh sakit kepala dan sakit perut, kebanyakan orang akan mengetahui bahwa orang itu sedang sakit, meskipun ia bukanlah seorang dokter ahli. Tetapi ketika seseorang itu sedang sakit jiwa atau sekurang-kurangnya diabetes fase awal, siapa yang tahu kalau memang dia itu berpenyakit? Mungkin hanya orang-orang tertentulah yang bisa mengetahuinya, itupun mestilah melewati beberapa tes terlebih dahulu. Nah, itulah sedikit gambaran yang sangat jauh dari masalah yang akan kita bahas pada kali ini. Ilmu ilal hadis bukanlah ilmu yang bisa dicapai oleh sembarang orang. Hanya manusia-manusia terpilihlah yang dapat mengetahui ilal hadis ini. Bila kasus tentang penyakit dalam yang penulis sajikan di atas saja sudah mengharuskan si peneliti itu benarbenar orang yang ahli dibidangnya, apalagi terhadap hadis. Yang jelas sangatlah jauh berbeda dengan gambaran kasus di atas. Hadis pada masa sekarang telah menjadi hal yang amat-sangat membutuhkan pondasi keimanan untuk meyakininya. Karena memang secara indrawi memang tidak bisa diteliti lagi, kecuali berpangkal pada kepercayaan pada otoritas dan kejujuran para ulama ahli hadis. Terlebih bila kita berbicara tentang ilal hadis, suatu ilmu yang tidak bisa begitu saja didapatkan melalui penelitian ilmiah, bahkan ada Ulama yang mengatakan bahwa ilmu tentang hal ini hanya bisa didapatkan melalui ilham. Sehingga ada yang memvonis bahwa ilmu ini bukanlah sebuah metode ilmiah. Toh, yang bisa mengetahuinya juga bukan manusia biasa, tidak semua orang bisa mendapatkan ilham? Benarkah demikian? Nah, dalam tulisan singkat inilah penulis ingin mencoba memaparkan sebuah selayang pandang mengenai ilmu ilal hadis, dan bagaimana posisinya dalam penelitian ilmiah. Kitab yang bisa dijadikan rujukan dalam penelitian dalam masalah ini sebenarnya cukup memadai, bila yang menelitinya memang mempunyai ilmu yang luas dan mendalam, namun mungkin bagi penulis yang masih thuwailib ini teramatlah sangat sulit. Namun sekuat tenaga akan penulis paparkan sesuai kadar keilmuan yang telah penulis temukan dalam khazanah keilmuan turats maupun kontemporer mengenai masalah ini. Diantara kitab dan buku yang memberikan informasi-informasi penting mengenai hal ini kepada penulis adalah Mahfudz alRahman al-Salafiy dalam muqaddimah kitab Al-Ilal al-Waridah fi al-Ahadis al-Nabawiyah karya Abu al-Hasan al-Daruquthniy dan kitab Ulum al-Hadis karya Imam Abu Amr Usman bin
Selayang Pandang Ilmu Ilal Hadis |1

Abdurrahman al-Syahzawi (yang masyhur dengan Ibnu Shalah) atau lebih dikenal dengan kitab Muqaddimah Ibnu Shalah. Dan beberapa rujukan lainnya. Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode studi pustaka, yaitu penelitian lewat khazanah keilmuan berupa kitab-kitab dan buku yang terkait. Komparasi konsep juga penelusuran contoh-contoh dilakukan melalui kitab-kitab yang tersedia mengenai permasalahan ini. Dan pada akhirnya, hanya kepada Allah sajalah kita meminta pertolongan dan ampunanNya. Pengertian Ilmu Ilal Hadis Secara umum ilmu Ilal hadis ini bisa dikatakan sebagai ilmu yang menerangkan sebabsebab yang tersembunyi, yang dapat mencacatkan dan menurunkan derajat hadis.1 Sedangkan Ilal hadis itu sendiri secara lebih jelasnya akan dibagi menjadi dua bahasan besar. Yaitu dalam kacamata etimologi dan terminologi. Menurut kajian etimologi, kata al-Illat itu sendiri bisa diartikan sebagai penyakit (alMard).2 Dan hadis yang terdapat illat padanya sebagian menyebutnya hadis malul atau muallal, ada juga yang mengistilahkannya dengan maalla (huruf lam-nya satu).3 Yang mengistilahkan hadis ini dengan malul dengan berpijak kepada perkataan para fuqaha dalam pembahasan tentang Qiyas, dari kata, al-Illatu wa al-Malul. Meskipun tidak masyhur di kalangan para ahli bahasa, namun istilah ini dipergunakan oleh para ulama hadis, setaraf Imam al-Bukhari, al-Tirmidzi, al-Daruqhutniy, al-Hakim, dan para muhaddis lainnya.4 Namun dinilai kurang pas oleh Imam Ibnu Shalah, yang juga diaminkan oleh Imam alNawawi.5 Maka mereka yang tidak setuju dengan istilah mualal tadi lebih mendahulukan untuk menggunakan istilah maala/maalla (dengan menggunakan satu huruf lam saja) seperti dalam ungkapan, a-allahu fulan bi kadzaa.6 Dan dalam makalah ini penulis lebih memilih

Abu Amr Usman bin Abdurrahman al-Syahzawi, Ulumul Hadis. Tahqiq: Nur al-Din Itr. (Damaskus: Dar al-Fikr, 1986) hlm. 89. Lihat juga, Endang Soetari, Ilmu Hadis: Kajian Riwayah & Dirayah. Cetakan Kelima. (Bandung: Mimbar Pustaka, 2008) hlm. 204. 2 Pendapat Ibnu Qutiyah dalam Mahfudz al-Rahman al-Salafiy, Muqaddimah Kitab Al-Ilal al-Waridah fi al-Ahadis al-Nabawiyah. Tahqiq: Mahfudz al-Rahman al-Salafiy. (T.Tmp: Dar al-Thayyibah, TT) hlm. 36. (Selanjutnya ditulis, Muqaddimah Kitab Al-Ilal al-Waridah) 3 Abdulkarim bin Abdullah al-Khudhoiry, Tahqiq al-Ragbah fi Taudih al-Nukhbah. (Riyadh: Dar alMinhaj, 1426 H) hlm. 128. (Selanjutnya ditulis, Tahqiq al-Ragbah) 4 Ibnu Shalah, Ulumul Hadis. Hlm. 89. Lihat juga, Mahfudz al-Rahman al-Salafiy. Ibid. 5 Ibnu Shalah mengatakan, bahwa mengistilahkan yang ber-illat ini dengan malul adalah suatu perkara yang merendahkan di hadapan para ahli bahasa. Lihat, Ibnu Shalah. Ibid. Sedangkan Imam al-Nawawi mengatakan, bahwa pengistilahan itu adalah keliru (dalam irab-nya). Lihat, Abdulkarim bin Abdullah alKhudhoiry. Ibid. 6 Abdulkarim bin Abdullah al-Khudhoiry. Ibid.

Selayang Pandang Ilmu Ilal Hadis

|2

untuk menggunakan istilah malul atau muallal, karena dalam segi kemasyhuran istilah ini memang jauh lebih masyhur. Menurut kajian terminologis, malul adalah sebab-sebab yang tersembunyi, yang dapat mencacatkan dan menurunkan derajat hadis, bersama dengan keadaan dzahir hadis tersebut adalah hadis yang selamat sanad dan matannya (baca: sahih, atau sekurang-kurangnya hasan)7 yang tidak akan diketahui kecuali hanya dengan hafalan hadis yang luas, pemahaman hadis yang mendalam serta pengetahuan yang luar biasa mumpuni dalam hal hadis.8 Dan para ahli hadis memberikan beberapa pemahaman tentang hadis-hadis yang termasuk dalam kategori hadis malul ini, yaitu pertama, gelar malul ini tidak mencakup kepadanya hadis yang berderajat munqathi, majhul, atau hal-hal yang secara dzahir bisa menunjukkan bahwa hadis itu adalah dhaif.9 Kedua, ada juga yang memahaminya secara lebih luas, tidak seperti yang diungkapkan dalam poin yang di atas. Karena hadis-hadis yang dhaif karena munqathi, majhul, atau dikarenakan sebab lainnya ini masih termasuk juga dalam kategori qaadihah (dapat mencacatkan), dan para ulama yang mengkaji tentang ilal hadis pun memasukan hadis-hadis dengan kasus demikian dalam kitab mereka.10 Ketiga, bahkan ada yang memahaminya sangat berbeda dari kedua poin di atas. Menurut mereka, tidaklah salah kalaupun kita menyebutkan hadza al-hadis sahihun muallan (ini hadis sahih yang malul). Karena memang secara dzahir hadis itu memang sahih.11 Dan pemahaman yang lebih tepat dalam hal ini, menurut hemat penulis, adalah pendapat yang kedua. Karena lingkup kajian seperti inilah yang pada akhirnya dijadikan patokan oleh para penyusun kitab ilal hadis. Wallahu alam. Ilmu Ilal Hadis sebagai Metode Ilmiah Ilmu ilal hadis ini memiliki posisi yang teramat sangat penting dan ekslusif, betapa tidak, ilmu ini benar-benar menjadi suatu faktor yang penting dalam penentuan suatu hadis sahih atau tidaknya. Bila terdapat banyak teori-teori dan kitab yang secara mendalam membahas masalah jarh wa tadil, dan tarikh ruwat, maka tidak begitu adanya dengan ilmu ilal hadis ini. Kitab-kitab yang disusun dengan label ilal hadis hanyalah berupa kumpulan
Ibnu Shalah, Ulumul Hadis. Hlm. 90. Al-Hakim Abu Abdullah Muhammad bin Abdullah al-Naisabury, Marifah Ulum al-Hadis. (Beirut: Dar al-Afaq al-Jadidah, 1980) hlm. 113. Lihat juga, Ahmad Muhammad Sykir dalam al-Bits al-Hatsts; Syarh Ikhtishr Ulm Hads Li Ibn Katsr. Tahqiq: Nashiruddin al-Albani. (Riyadh: Maktabah al-Maarif, 1996) hlm. 200. (Selanjutnya disebut al-Bits al-Hatsts) 9 Muhammad bin Ismail Al Shananiy, Taudih al-Afkar li Maani Tanqih al-Andzar. (Madinah: Maktabah al-Salafiyah, TT) hlm. 27. Lihat juga, Mahfudz al-Rahman al-Salafiy, Muqaddimah Kitab Al-Ilal al-Waridah. Hlm. 38. 10 Mahfudz al-Rahman al-Salafiy. Ibid. 11 Ibid.
8 7

Selayang Pandang Ilmu Ilal Hadis

|3

hadis-hadis yang pernah diterangkan oleh para ulama hadis terdahulu. Sampai-sampai dikatakan bahwa ilmu mengenai ilal hadis ini adalah ilham. Abdurrahman bin Mahdi berkata: Mengetahui illat hadis itu adalah ilham, jangan ditanyakan kepada mereka, Dari mana anda bisa mengetahuinya? karena sungguh mereka tidak akan bisa menjawab.12 Dan kebanyakan orang malah sama sekali tidak mengetahuinya.13 Namun ini bukan berarti bahwa ilmu ilal hadis ini tidak bisa dikatakan sebagai sebuah metode ilmiah. Karena meskipun ketika berbicara tentang kesimpulan bahwa hadis ini malul ataupun tidak itu adalah sesuatu hal yang teramat sangat sulit, atau bahkan dikatakan ilham, akan tetapi terdapat tahapan-tahapan penelitian yang cukup jelas demi mencapai kesimpulan itu. Inilah yang nantinya akan menguatkan tesis bahwa ilmu ilal hadis ini adalah sebuah metode yang ilmiah. Kata yang lebih tepat untuk menggambarkan ilmu ini adalah suatu fan ilmu yang tersembunyi bagi mayoritas ulama hadis, sehingga sebagian dari kalangan huffadz berkata, Pengetahuan kami terhadap perkara ini, layaknya ramalan bagi orang-orang yang tidak tahu terhadap ilmu ini.14 Tahapan-tahapan dalam penelitian ilal hadis ini adalah sebagai berikut: Pertama, mengumpulkan semua riwayat dari hadis yang diteliti. Kedua, memperhatikan perbedaan riwayat-riwayatnya, kekuatan hafalannya, dan juga kemantapan para perawinya.15 Setelah dilakukan tahapan demikian, maka terdapat beberapa indikator ditemukannya ilal dalam suatu hadis, yaitu menyendirinya rawi (tafarrud), yang mana dalam ke-tafarrudannya itu ia bertentangan dengan riwayat lainnya. Bersama beberapa qarinah yang akan membawa pemahaman seorang pakar ilal hadis kepada keraguan tentang mursal atau mauqufnya suatu hadis, ataupun tercampurnya satu hadis dengan hadis lainnya, ataupun indikasiindikasi lainnya.16 Ada beberapa ilmu yang mendukung pula terhadap pencapaian pengetahuan tentang ilmu ilal hadis ini, diantaranya pengetahuan tentang mudallas (khususnya: tadlis isnad atau jelasnya, meriwayatkan hadis dari orang yang mana ia pernah bertemu dengannya, namun tidak mendengar hadis darinya), pengetahuan tentang mursal khafiy (rawi yang meriwayatkan hadis tersebut sezaman dengan sahabat tertentu, tetapi tidak ada kabar yang meriwayatkan bahwa rawi tersebut mendengar hadis tersebut darinya), dan beberapa ilmu lainnya yang memiliki tingkat kerumitan yang cukup tinggi. Juga ada poin penting yang perlu menjadi
Ucapan Ibnu Numair dalam Abdurrahman Muhammad bin Abi Hatim, Kitab al-Ilal. Tahqiq: Khalid bin Abdurrahman al-Juaraisy. (Riyadh: Percetakan Kerajaan Fahad, 2006) hlm. 52. 13 Ibid. Hlm. 51-52. Lihat juga, Ahmad Muhammad Sykir, al-Bits al-Hatsts. Hlm. 200. 14 Ahmad Muhammad Sykir, al-Bits al-Hatsts. Hlm. 196. 15 Ibid. Hlm. 200. 16 Jalaluddin al-Suyuthi, Tadrib al-Rawi fi Syarh Taqrib al-Nawawi. (Riyadh: Dar al-Ashimah, 1423 H) hlm. 408. (Selanjutnya disebut Tadrib al-Rawi)
12

Selayang Pandang Ilmu Ilal Hadis

|4

perhatian, bahwa syarat kesahihan seorang ulama hadis akan berpengaruh terhadap penilaian malul dan tidaknya suatu hadis.17 Wallahu alam. Macam-macam Ilal Hadis Berdasarkan penelusuran para ulama hadis, illat hadis itu terdapat dalam tiga tempat, yaitu illat hadis pada sanad, illat hadis pada matan dan illat hadis pada sanad serta matan secara bersamaan. Pertama, illat pada sanad. Illat yang terdapat di dalam sanad itu lebih banyak terjadi jika dibandingkan dengan illat yang terjadi pada matan. Illat tersebut adakalanya membuat sanad jadi cacat, tetapi tidak mencacatkan matannya dan adakalanya kecacatan tersebut juga berpengaruh pada matannya.18 Illat yang terjadi dan hanya berpengaruh terhadap sanadnya saja, dapat diketahui jika hadis tersebut juga diriwayatkan oleh rawi lain dengan sanad yang lebih shahih.19 Contohnya adalah hadis

Hadis tersebut

diriwayatkan oleh Yala bin Ubaid dari Sufyn ats-Tsauri dari Amr bin Dinr dari Ibnu Umar. Rawi-rawi dalam sanad tersebut tsiqat, tetapi terdapat illat di dalamnya. Illat-nya terletak pada kekeliruan Yala bin Ubaid dalam menyandarkan periwayatannya kepada Sufyan atsTsauri dari Amr bin Dinr. Kekeliruan itu bisa diketahui karena adanya rawi lain yang meriwayatkan matan tersebut dari jalan yang sama, di antara mereka adalah Ab Nuaim, Muhammad bin Ynus dan Makhlad bin Yazd. Ketiga rawi ini sama-sama meriwayatkan dari Sufyn ats-Tsauri, hanya saja dalam versi mereka Sufyn ats-Tsauri itu menerima hadis dari Abdullh bin Dinr, bukan dari Amr bin Dinr seperti yang Abu Yala katakan. Maka dari keterangan ini dapat diketahui bahwa sanad Yala bin Ubaid itu ber-illat, karena ia menyandarkan periwayatannya dari Amr bin Dinr, padahal sebenarnya ia adalah Abdullh bin Dinr.20 Kedua, illat pada matan. Illat yang terdapat pada matan tidak sebanyak illat yang ada pada sanad. Di antaranya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab sahihnya ini:

Ini akan berkaitan erat terhadap standard yang dipasang oleh para ulama hadis, contoh konkretnya yaitu antara standard Imam al-Bukhari dan Imam Muslim antara konsep liqa-nya Imam Muslim dan sima-nya Imam al-Bukhari. 18 Muhammad Ajjj al-Khatb, Ushl al-Hads; Ulmuhu wa Musthahuhu. (Beirut: Dr al-Fikr, 1989) hlm. 294. (Selanjutnya disebut Ushl al-Hads) 19 Ahmad Muhammad Sykir, al-Bits al-Hatsts. Hlm. 202. 20 Ibid. Hlm. 203.

17

Selayang Pandang Ilmu Ilal Hadis

|5

: " " } {
Hadis tersebut oleh para ulama dipandang sebagai hadis yang malul, yang menjadikan hadis tersebut malul yaitu terdapat lafadz penafian terhadap pembacaan Bismillahi ar-rahman ar-rahim. Sedangkan terdapat riwayat lainnya yang sangat banyak, yang tidak mencantumkan lafadz tersebut pada hadis tersebut, dengan pemahaman bahwa ketika mengawali shalatnya, Rasulullah Saw. membaca surat al-Hamdulillahi Rabbil Alamiin, yaitu nama lain bagi surat Al-Fatihah. Maka riwayat ini gharib dan bisa dikatakan bertentangan dengan riwayat yang lebih sahih, diantaranya yang diriwayatkan oleh al-Bukhari.21 Dan ketiga, illat pada sanad dan matan. Illat yang terdapat pada sanad dan matan mempunyai pengaruh yang dapat mencacatkan kepada keduanya (sanad dan matan). Dan ini terjadi ketika ke-dhaif-an hadis tersebut nampak.22 Jenis-jenis illat Hadis yang berderajat malul ini pada kenyataannya cukup banyak jenisnya, sampaisampai Imam al-Hakim membaginya dalam sepuluh jenis, yang beliau nyatakan, bahwa yang sepuluh ini pun sebenarnya masih belum juga mewakili hadis malul secara keseluruhan, dikarenakan begitu luas dan pentingnya ilmu ini.23 Kesepuluh jenis itu adalah sebagai berikut:
1. Sanadnya secara zhahir tidak bermasalah, tetapi di dalamnya ada rawi yang tidak

diketahui simanya, dari siapa ia meriwayatkan hadis tersebut. Contohnya adalah hadis berikut:

: : " : :
24

"

Ibid. Hlm. 204. Abdulkarim bin Abdullah al-Khudhoiry, Tahqiq al-Ragbah. Hlm. 129-131. 23 Al-Hakim, Marifah Ulum al-Hadis. Hlm. 118. 24 Riwayat ini ditemukan dalam Abu Bakar al-Baihaqi, Syuabul Iman. (India: Dar al-Salaf Bombay, 2003) jld. 2. Hlm. 141.
22

21

Selayang Pandang Ilmu Ilal Hadis

|6

Ketika Imam Muslim bertanya kepada Imam al-Bukhari tentang hadis ini, beliau menjawab, Hadis ini (isinya) bagus, tetapi aku tidak tahu kalau di dunia ini ada hadis tentang bab itu, kecuali hadis tersebut, dan hadis itupun malul. Imam Bukhari juga mengatakan bahwa Musa bin Uqbah itu tidak mendengar hadis dari Suhail.25
2. Hadis mursal yang diriwayatkan secara marfu (sanadnya sampai kepada nabi) padahal

rawinya tsiqat dan hafizh. Atau disebut juga me-marfu-kan hadis yang mursal. Contohnya adalah hadis berikut:

: :
Hadis tersebut diriwayatkan oleh Ibnu Aliyah dari Khalid dari Abu Qilabah. 26 Abu Qilabah mengatakan bahwa hadis itu ia terima dari Nabi saw, padahal ia adalah seorang tabiinn. Tidak mungkin seorang tabiinn menerima hadis dari Nabi Saw. Kalaupun menerima hadis, maka ia mesti menerimanya dari sahabat.27 Illat hadis tersebut bisa diketahui, salah satunya, melalui riwayat al-Tirmidzi, beliau meriwayatkannya melalui Sufyan bin Waki, Humaid bin Abdurrahman, Dawud al-Athar, Mamar, Qatadah dan Anas bin Malik. Dari sanad ini dapat diketahui bahwa Abu Qilabah melewati Anas bin Malik.
3. Hadis yang diriwayatkan dari seorang sahabat yang mahfuzh, tetapi hadis tersebut

diriwayatkan juga dari sahabat lain yang berbeda domisilinya. Dengan kata lain, illat hadis semacam ini adalah mensyadzkan hadis yang mahfuzh. Contohnya adalah hadis berikut:

" : "
Hadis ini diriwayatkan oleh dua jalan sanad, yaitu:
1) Musa bin Uqbah, Abu Ishaq, Abu Burdah dan Abu Musa al-Asyari.28 2) Yahya bin Yahya dan Qutaibah bin Said, Hammad bin Zaid, Tsabit, Abu Burdah

dan al-Aghar al-Muzani.


Lihat, Ahmad Muhammad Sykir, al-Bits al-Hatsts Hlm. 205. Lihat juga, Jalaluddin al-Suyuthi, Tadrib al-Rawi. Hlm. 423. 26 Ibnu Abi Syaibah al-Kufi, Al-Mushannaf. (Maktabah Syamilah v. 3.4) juz. 7. Hlm. 472. 27 Periwayatan demikian hanya terdapat dalam Mushannaf Ibn Abi Syaibah dan Mushannaf Abdul Razzaq sedangkan dalam kitab lainnya seperti Sunan al-Tirmidzi, Sunan Ibnu Majah, Musnad Ahmad, al-Sunan al-Kubro al-Baihaqy, al-Mustadrak Hakim, Mujam al-Shagir al-Thabrani, dan Sahih Ibnu Hibban, kesemuanya melalui sahabat Anas bin Malik. 28 Riwayat ini ditemukan dalam Abu Bakar al-Baihaqi, Syuabul Iman. Jld. 9. Hlm. 125. Para rawi yang disebutkan disini tsiqat dan memenuhi persyaratan Imam Bukhari dan Muslim.
25

Selayang Pandang Ilmu Ilal Hadis

|7

Rawi-rawi yang ada dalam sanad nomor 1 adalah para rawi yang berdomisili di Madinah. Jika mereka meriwayatkan dari rawi-rawi yang berdomisili di Kuffah maka mereka banyak membuat kekeliruan. Menurut rawi-rawi yang tsiqat, hadis ini sebenarnya diriwayatkan oleh Abu Burdah dari sahabat al-Aghar al-Muzanim bukan dari Abu Musa al-Asyari. Di sisi lain Imam Muslim meriwayatkan hadis ini dari Yahya bin Yahya dan Qutaibah bin Said, Hammad bin Zaid, Tsabit, Abu Burdah dan al-Aghar al-Muzani dari Rasulullah Saw. (sanad nomor 2). Dengan demikian, hadis Musa bin Uqbah ini syadz pada sanad-nya (sanad nomor 1) karena ia berlainan dengan sanad yang lebih tsiqat. Sedangkan hadis riwayat Muslim rawi-rawinya lebih tsiqat dan mahfuzh.
4. Hadis yang diriwayatkan seorang sahabat secara mahfuzh, tetapi hadis itu diriwayatkan

juga dari seorang tabiinn yang diduga shahih. Misalnya hadis yang diriwayatkan oleh al-Askari yang bersanad Zuhair bin Muhammad, Utsman bin Sulaiman dari ayahnya yang mengatakan:

- -
Hadis yang diriwayatkan oleh al-Askari tersebut malul karena al-Askari menyangka bahwa Utsman bin Sulaiman menerima hadis itu dari Sulaiman (ayahnya Utsman). Padahal Utsman tidak pernah menerima hadis itu dari Nabi saw, bahkan iapun tidak pernah bertemu dengan Nabi Saw. karena ia adalah seorang tabiin. Sebenarnya Utsman menerima menerima hadis tersebut dari Nafi dan Nafi menerima dari ayahnya, yaitu Jubair bin Muthim. Menurut para ulama hadis, sahabat yang meriwayatkan hadis tersebut adalah Jubair bin Muthim. Berikut adalah sanad-sanad yang meriwayatkan hadis Jubair bin Muthim:
1) Bukhari; beliau meriwayatkan dari Abdullah bin Yunus, Malik, Ibnu Syihab,

Muhammad bin Jubair dan Jubair bin Muthim.


2) Muslim; beliau meriwayatkan dari Yahya bin Yahya, Malik, Ibnu Syihab,

Muhammad bin Jubair dan Jubair bin Muthim.


3) Abu Dawud; beliau meriwayatkan dari al-Qanabi, Malik, Ibnu Syihab,

Muhammad bin Jubair dan Jubair bin Muthim.


4) An-Nasa`i; beliau meriwayatkan dari Qutaibah, Malik, Ibnu Syihab, Muhammad

bin Jubair dan Jubair bin Muthim.


5) Ibnu Majah; beliau meriwayatkan dari Muhammad bin ash-Shabah, Malik, Ibnu

Syihab, Muhammad bin Jubair dan Jubair bin Muthim.

Selayang Pandang Ilmu Ilal Hadis

|8

5. Hadis yang sanadnya diriwayatkan secara ananah29 dan telah digugurkan oleh

seorang atau beberapa orang. Misalnya hadis yang diriwayatkan melalui sanad Yunus dari Ibnu Syihab dari Ali bin Husain dari seorang laki-laki Anshar, ia mengatakan:

: : : : " : "
Hadis yang diriwayatkan oleh Yunus yang diterimanya dari Ibnu Syihab dari Ali bin Husain yang mengatakan bahwa Ali menerimanya dari seorang laki-laki Anshar adalah malul. Illat-nya ialah kerena Yunus menggugurkan seorang sanad, yaitu Ibnu Abbas kemudian ia meriwayatkannya dengan menggunakan lafazh an (dari) yang seolah-olah ada persambungan dengan pendengaran antara Ali bin Husain dengan orang Anshar yang menceritakan kejadian itu. Padahal sebenarnya hadis tersebut diriwayatkan oleh sahabat Ibnu Abbas. Jadi dalam sanad sanad tersebut ada seorang rawi yang digugurkan, yaitu Ibnu Abbas. Hal ini bisa dilihat sanad-sanad berikut ini:
1) Imam Tirmidzi meriwayatkan dari Nashr bin Ali al-Jahdhami, Abdul Ala,

Mamar, az-Zuhri, Ali bin Husain dan Ibnu Abbas.


2) Imam Muslim mentkahrijkan melalui sanad Zuhair bin Harb, al-Walid bin

Muslim, al-Auzai, az-Zuhri, Ali bin Husain dan Ibnu Abbas. Juga melalui sanad Hasan bin Ali al-Hulwani, Yaqub bin Ibrahim, Shalih, az-Zuhri, Ali bin Husain dan Ibnu Abbas.

Muanan adalah hadis yang di dalam sanadnya menggunakan shigat seperti . Para ulama ahli hadis mengatakan bahwa hadis seperti itu mursal, kecuali ada yang menerangkan tentang kemuttasil-annya. Lihat al-Khatb, Ushl al-Hads; Ulmuhu wa Musthalahuhu. Hlm. 356.

29

Selayang Pandang Ilmu Ilal Hadis

|9

6. Adanya perbedaan seorang rawi dalam penyandaran sanad dengan periwayatan rawi

lain yang lebih kuat. Seperti hadis Umar bin Khattab yang bertanya kepada Rasulullah saw:


Hadis tersebut diriwayatkan oleh dua sanad yaitu:
1) Ali bin Husain bin Waqid, Husain bin Waqid, Abdullah bin Buraidah, Buraidah

dan Umar bin Khattab.


2) Ali bin Khasyram, Ali bin Husain bin Waqid, ia menerima dari Umar bin

Khattab. Hadis yang menggunakan sanad nomor 2 tergolong sebagai hadis malul. Alasannya, illat hadis tersebut terletak pada Ali bin Khasyram.
7. Adanya perbedaan seorang rawi dalam penyebutan nama gurunya ataupun tidak

diketahui nama gurunya. Misalnya hadis berikut:

:
Hadis tersebut diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad: Nashr bin Ali, Abu Ahmad, Sufyan, Hajjaj bin Furafishah, rajulun (seorang laki-laki), Abu Salamah dan Abu Hurairah. Hadis dengan sanad ini adalah hadis malul, sebab di dalamnya terdapat seorang laki-laki yang mubham (disamarkan namanya), sehingga sulit untuk diketahui identitasnya. Illat yang terdapat dalam hadis tersebut bisa diketahui dengan cara memperhatikan sanad lain, yaitu sanad yang digunakan oleh Imam Tirmidzi. Beliau meriwayatkan hadis tersebut dengan sanad: Muhammad bin Rafi, Abdurrazaq, Bisyr bin Rafi, Yahya bin Abi Katsir, Abu Salamah dan Abu Hurairah. Bahkan Imam Abu Dawud dalam sanad lain meriwayatkan melalui Muhammad bin al-Mutawakkil al-Asqalani, Abdurrazaq, Bisyr bin Rafi, Yahya bin Abi Katsir, Abu Salamah dan Abu Hurairah.
8. Periwayatan suatu hadis yang tidak pernah didengar dari gurunya, yang ia riwayatkan

seakan-akan dia mendengarnya dengan jelas dari gurunya itu. Misalnya hadis berikut:

:
Imam Baihaqi meriwayatkan hadis tersebut melalui dua sanad. Sanad pertama adalah Abu Zakaria bin Abi Ishaq, Abul Abbas, Muhammad bin Ubaidillah, Yazid bin Harun,

Selayang Pandang Ilmu Ilal Hadis

| 10

Hisyam ad-Dastuwa`i, Yahya bin Abi Katsir dari Anas bin Malik. Sedangkan sanad kedua adalah Abu Hasan Ali bin Muhammad al-Maqri, al-Hasan bin Muhammad bin Ishaq, Yunus bin Yaqub, Muslim bin Ibrahim, Hisyam ad-Dastuwa`i, Yahya bin Abi Katsir dan Anas bin Malik. Yang menjadi pangkal adanya illat di dalam hadis tersebut adalah Yahya bin Abi Katsir. Menurut Imam Baihaqi, hadis tersebut mursal. Lantaran Yahya bin Abi Katsir tidak mendengar dari orang Bashrah yang bernama Amr bin Zabib. Dengan demikian sanad itu sebenarnya berangkat dari Yahya bin Abi Katsir yang diterimanya dari Ibnu Zahid dari sahabat Anas bin Malik. Walaupun Yahya bin Abi Katsir banyak menerima riwayat dari Anas bin Malik, namun hadis tersebut tidak ia terima dari Anas bin Malik. Pemalsuan pemberitaan inilah yang menjadikan hadis tersebut malul.
9. Hadis yang sudah mempunyai sanad tertentu tetapi salah seorang rawinya

meriwayatkan hadis tersebut dengan sanad lain secara wahm (diduga-duga). Misalnya hadis:

.
Para ulama hadis meriwayatkan hadis tersebut dengan sanad yang berbeda-beda dari sahabat yang berbeda-beda pula dengan derajat yang berlainan dan kebanyakan ulama menilainya dengan dhaif. Jika hadis tersebut diambil dari musnad Ishaq bin Rahawaih, maka hadis itu adalah musnad. Sanadnya terdiri dari Abdul Aziz, Abdullah bin Fadhl, al-Araj, Ubaidillah bin Abi Rafi dari sahabat Ali. Kemudian al-Mundzir bin Abdullah al-Hazami meng-isnad-kan (mencari sanad yang lain di luar sanad yang sudah ada) hadis tersebut secara wahm dari Abdul Aziz bin alMajisyun, dari Abdullah bin Dinar, dari Ibnu Umar. Di dalam hadis itu ia mengatakan bahwa Ibnu Umar mengetahui sendiri apa yang diperbuat oleh Rasulullah Saw. Maka disitulah yang menjadikan hadis tersebut malul.
10. Hadis yang marfu (bersambung sanadnya kepada nabi) diriwayatkan secara mauquf

(sanadnya hanya bersambung kepada sahabat). Contohnya adalah hadis:


Hadis tersebut diriwayatkan dari Abu Farwah Yazid bin Muhammad, dari ayahnya (Muhammad), dari ayahnya, dari al-Amasy, dari Abu Sufyan dan Jabir bin Abdullah secara marfu (dari Nabi saw). Hadis yang diriwayatkan dengan sanad tersebut adalah malul, karena yang benar hadis tersebut memang mauquf dari sahabat Jabir. Jelasnya, Waki menerima hadis
Selayang Pandang Ilmu Ilal Hadis | 11

itu dari al-Amasy yang diterima dari Abu Sufyan dan Abu Sufyan mengatakan bahwa ketika Jabir ditanya tentang hukum orang yang tertawa di waktu salat ia menjawab

. Jadi yang diberitakan oleh Waki itu tidak lain hanyalah perbincangan antara

Abu Sufyan dengan sahabat Jabir. Dengan demikian, kalimat itu bukanlah sabda Nabi Saw. Ke-malul-an sanad tersebut bisa diketahui melalui sanad lain yang masih diriwayatkan oleh al-Baihaqi dengan sanad: Abu Qasim Zaid bin Abi Hasyim al-Husaini, Abu Jafar Muhammad bin Ali bin Dahim, Ibrahim bin Abdullah, Waki, al-Amasy, Abu Sufyan dan Jabir bin Abdullah. Dan dari sanad Abu Bakar bin Husain, Hajib bin Ahmad, Muhammad bin Hammad, Abu Muawiyah, al-Amasy, Abu Sufyan dan Jabir bin Abdullah, tidak secara marfu.30 Kitab-kitab Ilal Hadis Tidak diragukan lagi bahwasanya fan ilmu ilal hadis ini merupakan fan ilmu terpenting dalam kajian ilmu-ilmu hadis. Maka tidak heran perhatian para ulamapun banyak tertuju pada hal ini, sehingga dengan susah payah mereka mencurahkan seluruh kekuatan, waktu, dan juga perhatiannya terhadap fan ilmu ini. Di antara bukti dari perhatian para ulama terhadap ilmu ini adalah sebagai berikut:
1.

Al-Ilal karya Sufyan bin Uyainah (w. 198 H) riwayat Ibnu al-Madini (w. 234 Al-Ilal karya Yahya bin Said al-Qathan (w. 198 H) Ilal al-Ahadis karya Hasan bin Mahbub al-Bajali (w. 224 H) Al-Ilal karya Yahya bin Main (w. 233 H)
5. Ilal al-Musnad karya Ali bin al-Madini (w. 234 H) 6. Ilal al-Hadis wa Marifat al-Suyukh karya Abu Jafar Muhammad bin Abdullah

H)
2. 3. 4.

al-Mukhrami al-Mushili (w. 242 H)


7. Kitab al-Ilal karya Abu Hafs Amr bin Ali al-Falash (w. 249 H) 8. Kitab al-Ilal karya Imam al-Bukhari (w. 256 H) 9. Al-Ilal, al-Ilal al-Mutafarriqah dan Ilal Hadis Ibnu Uyainah karya Ibnu al-

Madini Ismail al-Qadi (w. 282 H)

Semua contoh ini diambil dari Ahmad Muhammad Sykir dalam al-Bits al-Hatsts. Hlm. 205-217. Juga dari, Jalaluddin al-Suyuthi, Tadrib al-Rawi fi Syarh Taqrib al-Nawawi. Hlm. 422-427. Lihat juga, Mahfudz al-Rahman al-Salafiy, Muqaddimah Kitab Al-Ilal al-Waridah. Hlm. 43-46. Lihat juga, Al-Hakim, Marifah Ulum al-Hadis. Hlm. 113-119.

30

Selayang Pandang Ilmu Ilal Hadis

| 12

10. Al-Ilal dengan riwayat dari Abi Hasan Muhammad bin Ahmad bin al-Barra (w.

291 H)
11. Al-Ilal wa Marifatul Rijal karya Imam Ahmad bin Hambal (w. 241 H) dengan

riwayat anaknya, yaitu Abdullah bin Ahmad (w. 290 H)


12. Al-Ilal karya Ahmad bin Hambal dengan riwayat Ahmad bin Muhammad bin al-

Hajjaj al-Marudzi (w. 275 H)


13. Salt Khattab bin Basyar (w. 264 H) karya Imam Ahmad bin Hambal 14. Kitab al-Ilal karya Abu Bakar Ahmad Ibnu Muhammad bin Hni al-Asram 15. Ilal Hadis Ibnu Syihab al-Zuhri (w. 125 H) karya Muhammad bin Yahya al-

Dzahili (w. 258 H)


16. Kitab al-Ilal dan Kitab al-Tamyiz karya Imam Muslim bin al-Hajjaj al-Qusyairi

(w. 261 H)
17. Al-Musnad al-Muallal karya Yaqub bin Syihab (w. 262 H) 18. Kitab al-Ilal karya Abu Zurah Ubaidullah bin Abdul Karim al-Razi (w. 264 H) 19. Kitab al-Ilal karya Abi Basyr Ismail bin Abdullah bin Masud al-Asbahaniy (w.

267 H)
20. Al-Ilal dan al-Ilal al-Shagir karya Abi Isa Muhammad bin Isa al-Tirmidzi (w.

279 H)
21. Kitab al-Ilal karya Abu Zurah Abdurrahman bin Amr bin Shafwan al-Dimisyqi

(w. 280 H)
22. Kitab al-Ilal karya Ibrahim bin Ishaq al-Harabi (w. 285 H) 23. Al-Musnad al-Kabir al-Muallal atau yang diberi nama al-Bahr al-Zukhar karya

Abu Bakar Ahmad bin Amr bin Abdul Khaliq al-Bazzzar (w. 292 H)31 Dan masih banyak lagi kitab-kitab yang telah disusun oleh para ulama tentang pembahasan ini. Dan salah satu karya terbesar dalam ilmu ilal hadis ini adalah kitab Az-Zuhr al-Mathll f al-Khabar al-Mall karya Imam Ibn Hajar al-Asqalan, kitab ini disebut-sebut akan menjadi kitab ilal hadis yang paling lengkap dari antara semua kitab serupa yang pernah disusun, karena perhatiannya sampai terhadap hal-hal yang paling rinci dan juga pengetahuannya yang sangat luas menjadikan kitabnya tersebut benar-benar mengumpulkan semua riwayat para ulama ilal hadis terdahulu dan mengumpulkannya dalam kitab yang beliau susun tersebut, namun sayangnya kitab ini tidak dapat ditemukan lagi sisa-sisanya.32
Lengkapnya dapat dilihat dalam Mahfudz al-Rahman al-Salafiy, Muqaddimah Kitab Al-Ilal alWaridah. Hlm. 46-56. 32 Dinukil dari al-Suyuthi oleh Ahmad Muhammad Sykir, al-Bits al-Hatsts. Hlm. 199.
31

Selayang Pandang Ilmu Ilal Hadis

| 13

Penutup Demikianlah pembahasan sederhana tentang ilmu ilal hadis ini. Dari paparan yang telah disampaikan penulis dari awal insya Allah telah menjawab semua pertanyaan yang juga terbetik sejak awal. Beberapa poin penting yang menjadi titik akhir dari makalah ini adalah: pertama, betapa pentingnya ilmu ilal hadis ini. Kedua, ilmu ilal hadis ini meskipun betapa rumit dan langkanya, ilmu ini tetaplah menjadi metode ilmiah, dengan berbagai pembuktian yang tersurat dan tersirat dalam makalah ini. Maka dengan semua kekurangan yang terdapat dalam makalah ini, demikianlah yang dapat penulis sampaikan. Segala kesempurnaan hanyalah milik Allah Swt. sedang kekurangan bersumber dari diri penulis sendiri.

Selayang Pandang Ilmu Ilal Hadis

| 14

Daftar Pustaka Abdurrahman Muhammad bin Abi Hatim. 2006. Kitab al-Ilal. Tahqiq: Khalid bin Abdurrahman al-Juaraisy. Riyadh: Percetakan Kerajaan Fahad. Al-Baihaqi, Abu Bakar. 2003. Syuabul Iman. India: Dar al-Salaf Bombay. Al-Hakim, Abu Abdullah Muhammad bin Abdullah. 1980. Marifah Ulum al-Hadis. Beirut: Dar al-Afaq al-Jadidah. Al-Khatb, Muhammad Ajjj. 1989. Ushl al-Hads; Ulmuhu wa Musthahuhu. Beirut: Dr al-Fikr. Al-Khudhoiry, Abdulkarim bin Abdullah. 1426 H. Tahqiq al-Ragbah fi Taudih al-Nukhbah. Riyadh: Dar al-Minhaj. Al-Kufi, Ibnu Abi Syaibah. Al-Mushannaf. Maktabah Syamilah v. 3.4. Al-Salafiy, Mahfudz al-Rahman. TT. Muqaddimah Kitab Al-Ilal al-Waridah fi al-Ahadis alNabawiyah. Tahqiq: Mahfudz al-Rahman al-Salafiy. T.Tmp: Dar al-Thayyibah. Al-Shananiy, Muhammad bin Ismail. TT. Taudih al-Afkar li Maani Tanqih al-Andzar. Madinah: Maktabah al-Salafiyah Al-Suyuthi, Jalaluddin. 1423 H. Tadrib al-Rawi fi Syarh Taqrib al-Nawawi. Riyadh: Dar al-Ashimah. Al-Syahzawi, Abu Amr Usman bin Abdurrahman. 1986. Ulumul Hadis. Tahqiq: Nur al-Din Itr. Damaskus: Dar al-Fikr. Soetari, Endang. 2008. Ilmu Hadis: Kajian Riwayah & Dirayah. Bandung: Mimbar Pustaka. Sykir, Ahmad Muhammad. 1996. al-Bits al-Hatsts; Syarh Ikhtishr Ulm Hads Li Ibn Katsr. Tahqiq: Nashiruddin al-Albani. Riyadh: Maktabah al-Maarif.

Selayang Pandang Ilmu Ilal Hadis

| 15