Anda di halaman 1dari 3

KLASIFIKASI SINUSITIS Menurut anatomi sinus yang terkena

1. Sinusitis Maksilaris Sinus maksila disebut juga Antrum Highmore, merupakan sinus yang sering terinfeksi oleh karena merupakan sinus paranasal yang terbesar, letak ostiumnya lebih tinggi dari dasar sehingga aliran sekret (drainage) dari sinus maksila hanya tergantung dari gerakan silia. Dasar sinus maksila adalah dasar akar gigi (prosesusalveolaris) sehingga infeksi gigi dapat menyebabkan sinusitis maksila, ostium sinus maksila terletak di meatus medius di sekitar hiatus semilunaris yang sempit sehingga mudah tersumbat. Pada peradangan aktif sinus maksila atau frontal, nyeri biasanya sesuai dengan daerah yang terkena. Pada sinusitis maksila nyeri terasa di bawah kelopak mata dan kadang menyebar ke alveolus hingga terasa di gigi. Nyeri alih dirasakan di dahi dan depan telinga. Wajah terasa bengkak, penuh, dan gigi nyeri pada gerakan kepala mendadak, misalnya sewaktu naik atau turun tangga.Sering kali terdapat nyeri pipi khas yang tumpul dan menusuk. 2. Sinusitis Ethmoidalis Sinusitus ethmoidalis akut terisolasi lebih lazim pada anak, sering kali bermanifestasi sebagai seluliti sorbita karena dinding leteral labirin ethmoidalis (lamina papirasea). Sering menimbulkan selutis orbita. Pada dewasa sering kali bersama-sama dengan sinusitis maksilaris serta dianggap sebagai nyerta sinusitis frontalis yang tidak dapat dihindari. Gejala berupa nyeri yang dirasakan di pangkal hidung dan kantus medius, kadang-kadang nyeri di bola mata atau belakangnya, terutama bila mata di gerakkan. Nyeri alih di pelipis post nasal dan sumbatan hidung. 3. Sinusitis Frontalis Sinusitis frontalis akut hampir selalu bersama-samadengan infeksi sinus etmoidalisanterior. Gejala subyektif terdapat nyeri kepala yang khas, nyeri berlokasi di atas ali smata, biasanya pada pagi hari dan memburuk menjelang tengah hari. Kemudian perlahanlahan mereda hingga menjelang malam. Pasien biasanya menyatakan bahwa dahi terasa nyeri biladisentuh dan mungkint erdapat pembengkakan supra orbita. 4. Sinusitis Sfenoidalis

Pada sinusitis sfenodalis rasa nyeri terlokalisasi di vertex, oksipital, di belakang bola matadan di daerah mastoid, namun penyakit ini lebih lazim menjadi bagian dari pansinusitis sehingga gejalanya sering menjadi satu denga gejalainfeksi sinus lainnya. Menurut Adams (1978)

1. Sinusitis akut Infeksi beberapa hari sampai beberapa minggu. Gejalanya: demam, rasa lesu, terdapat ingus kental yang kadang-kadang berbau dihidung dan dirasakan mengalir ke nasofaring, hidung tersumbat, rasa nyeri di daerah yg terkena dan kadang-kadang nyeri alih. 2. Sinusitis subakut Infeksi beberapa minggu sampai beberapa bulan. Dikatakan subakut apabila tanda akut sudah reda. 3. Sinusitis kronik Infeksi dari beberapa bulan sampai beberapa tahun. Gejalanya: sekret di faring dan nasofaring, rasa tidak nyaman ditenggorok, pendengaran terganggu, nyeri kepala, gejala di saluran cerna karena mukopus yang tertelan. KOMPLIKASI SINUSITIS Komplikasi biasanya terjadi pada sinusitis akut atau pada sinusitis kronis dengan eksaserbasi akut. Komplikasi yang dapat terjadi antara lain: 1. Kelainan orbita Disebabkan oleh sinus paranasal yang berdekatan dengan mata (orbita). Penyebaran infeksi terjadi melalui trombollebitis dan perkontinuitatum. Kelainan yang dapat ditimbulkan adalah edem palpebra, selulitis orbita, abses subperiortal, abses orbita, dan trombosis sinus kavernosus. 2. Osteomielitis dan abses subperiostal. Biasanya ditemukan pada anak dan sering timbul akibat sinusitis frontal. Pada osteomielitis sinus maksila dapat timbul fistula oroantral. 3. Kelainan intrakranial

Seperti meningitis, abses ekstradural atau subdural, abses otak, dan trombosis sinus karvenosus. 4. Kelainan paru Seperti bronchitis kronik, bronkiektasis, dan asma bronkial. Adanya kelainan sinus paranasal disertai dengan kelainan paru ini disebut sinobronkitis.