Anda di halaman 1dari 41

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Era globalisasi dan semakin terintegrasinya pasar keuangan menyebabkan produk dan aktivitas yang ditawarkan perbankan menjadi semakin kompleks dan bervariasi. Hal ini mengakibatkan eksposur risiko yang ditanggung Bank dari penerbitan produk dan pelaksanaan aktivitas menjadi semakin tinggi. Peningkatan risiko yang ditanggung oleh Bank, harus diimbangi dengan pengendalian risiko yang memadai. Untuk mengendalikan risiko dimaksud Bank perlu meningkatkan kualitas penerapan manajemen risiko. Upaya peningkatan kualitas penerapan manajemen risiko dimaksud tidak hanya ditujukan bagi kepentingan Bank tetapi juga bagi kepentingan nasabah. Salah satu aspek penting dalam melindungi kepentingan nasabah dan dalam rangka pengendalian risiko adalah transparansi informasi terkait produk atau aktivitas Bank. Melalui peningkatan kualitas penerapan manajemen risiko, Bank diharapkan dapat mengukur dan mengendalikan risiko yang dihadapi dalam melakukan kegiatan usahanya dengan lebih baik. Selanjutnya peningkatan kualitas penerapan manajemen risiko yang dilakukan perbankan akan mendukung efektivitas kerangka pengawasan bank berbasis risiko yang dilakukan oleh Bank Indonesia (PBI No. 11/25/PBI/2009). Situasi lingkungan eksternal dan internal perbankan yang mengalami perkembangan pesat diikuti dengan semakin kompleksnya risiko kegiatan usaha perbankan meningkatkan kebutuhan praktek tata kelola bank yang sehat (good

corporate governance) dan penerapan manajemen risiko yang meliputi pengawasan aktif pengurus bank, kebijakan, prosedur dan penetapan limit risiko, proses identifikasi, pengukuran, pemantauan, sistem informasi, dan pengendalian risiko, serta sistem pengendalian intern. Dalam perjalanannya tidak semua risiko dapat teratasi. Adanya kenaikan risiko telah memicu perlunya instrumen keuangan yang baru dan alat analisis untuk mengelola risiko. Manajemen risiko adalah desain prosedur serta implementasi prosedur untuk mengendalikan risiko. Manajemen risiko muncul sebagai salah satu jawaban terhadap semakin meningkatnya risiko pasar uang global sebagai akibat inovasi teknologi (Ghozali, 2007). Penerapan manajemen risiko tersebut akan memberikan manfaat, baik kepada perbankan maupun otoritas pengawasan bank. Bagi perbankan, penerapan manajemen risiko dapat meningkatkan shareholder value, memberikan gambaran kepada pengelola bank mengenai kemungkinan kerugian bank dimasa datang, meningkatkan metode dan proses pengambilan keputusan yang sistematis yang didasarkan atas ketersediaan informasi, digunakan sebagai dasar pengukuran yang lebih akurat mengenai kinerja bank, digunakan untuk menilai risiko yang melekat pada instrumen atau kegiatan usaha bank yang relatif kompleks serta menciptakan infrastruktur manajemen risiko yang kokoh dalam rangka meningkatkan daya saing bank. Bagi otoritas pengawasan bank, penerapan manajemen risiko akan mempermudah penilaian terhadap kemungkinan kerugian yang dihadapi bank yang dapat mempengaruhi permodalan bank dan sebagai salah satu dasar penilaian dalam menetapkan strategi dan fokus pengawasan bank.

Semua organisasi, pemerintahan maupun swasta, bermotifkan laba maupun nir laba yang dibangun dengan suatu maksud atau tujuan, yaitu memberi nilai (value) kepada semua pihak yang terkait (stakeholders). Dalam upaya pencapaian tujuan menciptakan nilai tambah bagi sstakeholders tersebut, setiap organisasi sama-sama mengahadapi berbagai ketidak pastian. Ketidak pastian itu mengandung risiko potensial yang dapat menghilangkan peluang untuk mengasilkan nilai tambah, bahkan dapat menggerogoti nilai yang telah ada bagi para stakeholders. Merupakan tugas Manajemen untuk mengelola risiko-risiko dimaksud agar menjadi peluang yang akan dapat meningkatkan nilai dari para stakeholders tersebut. Esensi dari penerapan manajemen risiko adalah kecukupan prosedur dan metodologi pengelolaan risiko sehingga kegiatan usaha bank tetap dapat terkendali (manageable) pada batas/limit yang dapat diterima serta menguntungkan bank. Namun demikian mengingat perbedaan kondisi pasar dan struktur, ukuran serta kompleksitas usaha bank, maka tidak terdapat satu sistem manajemen risiko yang universal untuk seluruh bank sehingga setiap bank harus membangun sistem manajemen risiko sesuai dengan fungsi dan organisasi manajemen risiko pada bank. Pengembangan nilai yang menjadi tujuan organisasi akan maksimal apabila strategi dan pengelolaan yang dilakukan manajemen mampu menghasilkan keseimbangan yang pas antara semua aspek terkait, mulai dari penetapan tujuan membangun nilai (misalnya pertumbuhan atau laba usaha), risiko efektif dari semua sumber daya yang diperlukan, termasuk sistem kontrol intern (internal control) yang ada. (Tampubolon, 2005).

Risiko dalam konteks perbankan merupakan suatu kejadian potensial, baik yang dapat diperkirakan (anticipated) maupun yang tidak diperkirakan

(unanticipated) yang berdampak negatif terhadap pendapatan dan permodalan bank. Untuk dapat menerapkan proses manajemen risiko, maka pada tahap awal bank harus secara tepat mengidentifikasi risiko dengan cara mengenal dan memahami seluruh risiko yang sudah ada (inherent risks) maupun yang mungkin timbul dari suatu bisnis baru bank, termasuk risiko yang bersumber dari perusahaan terkait dan afiliasi lainnya. Sejalan dengan perkembangan dunia usaha, risiko bisnis yang dihadapi juga berkembang secara luas dan risiko yang paling utama dalam dunia perbankan adalah risiko kredit, risiko operasional, dan risiko pasar. Dari ketiga risiko tersebut, risiko kredit menjadi risiko yang paling utama dan paling besar. Risiko kredit merupakan risiko yang paling signifikan dari semua risiko yang menyebabkan kerugian potensial. Risiko kredit adalah risiko yang terjadi karena kegagalan debitur yang menyebabkan tak terpenuhinya kewajiban untuk membayar hutang.

Non Performing Loan (NPL) adalah salah satu indikator kunci untuk menilai kinerja fungsi bank, karena NPL yang tinggi adalah indikator gagalnya bank dalam mengelola bisnis antara lain timbul masalah likuiditas (ketidakmampuan membayar pihak ketiga), Rentabilitas (utang tidak bisa ditagih), Solvabilitas (Modal berkurang) . Sedangkan laba yang merosot adalah salah satu imbasnya karena praktis bank kehilangan sumber pendapatan di samping harus menyisihkan pencadangan sesuai kolektibilitas kredit. Selektifitas dan kehati-hatian yang dilakukan manajemen dalam memberikan kredit dapat mengurangi risiko kredit macet, oleh karena itu diperlukan manajemen yang baik agar memiliki kinerja NPL yang baik.2 Krisis ekonomi tahun 1997 dan tahun 2008 menyebebkan lonjakan inflasi, sehingga membuat bank Indonesia membuat kebijakan menaikkan suku bunga.

Kenaikan suku bunga ini membuat bank umum selektif dan hati hati dalam memberikan kredit untuk mengantisipasi lonjakan NPL.

Bank Pembangunan Daerah (BPD) Sulawesi Tenggara adalah salah satu bank yang turut serta mendukung sektor ekonomi nasional pada umumnya dan Sulawesi Tenggara pada khususnya. Bank Pembangunan Daerah (BPD) sulawesi Tenggara berperan sebagai lembaga perantara keuangan (financial intermediary) dengan menghimpun dana dan menyalurkan dana kepada masyarakat. Dalam mencapai visi dan misi Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Tenggara, berbagai strategi dan kebijakan telah diterapkan sehingga menghasilkan perkembangan yang cukup signifikan. Strategi dan kebijakan yang dilakukan adalah pencapaian parameter bank sehat yang diarahkan kepada pencarian dan pemanfaatan celah serta peluang yang dapat menghasilkan pendapatan yang optimum tanpa mengabaikan prinsip kehati-hatian dan meminimumkan risiko yang akan timbul, meningkatkan kinerja sumber daya manusia yang handal dan profesional, memperluas jaringan usaha dan terus mengikuti perkembangan teknologi sistem informasi.

Perkembangan usaha Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Tenggara secara keseluruhan mengalami peningkatan yang nyata dari tahun-tahun sebelumnya, terutama dalam kondisi perekonomian yang memiliki ekses yang cukup besar kepada pengelolaan jasa perbankan. Arah dan kebijakan pengembangan usaha BPD Sulawesi Tenggara diantaranya memperkuat struktur permodalan bank dalam rangka meningkatkan ketahanan bank terhadap risiko yang mungkin timbul dan dalam rangka menunjang

pertumbuhan bisnis bank. Serta mengupayakan tingkat kredit bermasalah (Non Performing Loan) berada di bawah ketentuan yang ditetapkan. Selain itu Sebagai Agent of Regional Development BPD Sulawesi Tenggara mengupayakan pertumbuhan kredit terutama pada sektor usaha produktif, sehingga diharapkan dapat mendorong pertumbuhan usaha mikro, kecil, menengah dan koperasi di daerah. Berikut gambaran Kinerja Keuangan Bank Pembangunan Daerah (BPD) Sulawesi Tenggara dalam annual report selama tahun 2009 sampai tahun 2010 disajikan pada tabel berikut: Tabel 1.1 Aktiva, Kewajiban, Ekuitas dan laba bersih setelah pajak per 31 Desember 2009 dan 2010 (dalam jutaan rupiah) Nama Akun Tahun 2009 (Rp) Total Aktiva Total Kewajiban Total Ekuitas Total Kewajiban + Ekuitas Laba setelah pajak penghasilan 1.558.991 1.280.707 278.284 1.558.991 55.467 Tahun 2010 (Rp) 1.669.787 1.368.573 301.214 1.669.787 81.500

Sumber: Annual Report 2010, BPD Sultra. Berdasarkan tabel tersebut, sekilas menunjukkan bahwa posisi keuangan Bank Pembangunan Daerah (BPD) Sulawesi Tenggara mengalami peningkatan. Hal ini nampak dari posisi aktiva pada tahun 2009 mengalami peningkatan pada tahun

2010, begitu juga pada posisi kewajiban, ekuitas beserta laba setelah pajak penghasilan yang juga mengalami peningkatan dari tahun 2009 sampai tahun 2010. Hasil perhitungan Rasio-Rasio Keuangan Utama Bank Pembangunan Daerah Sultra dalam Laporan Manajemen yang terdapat pada Annual Report tahun 2010, adalah sebagai berikut:

Tabel 1.2 Rasio-Rasio Keuangan Utama Per 31 Des 2009 dan 2010
RASIO Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) AKtiva Tetap terhadap Modal Asset Produktif Bermasalah terhadap total asset produktif Non Performing Loan (NPL) CKPN terhadap aktiva produktif Return on Asset (ROA) Return on Equity (ROE) Net Interest Margin (NIM) Biaya Operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) 2009 36,64 % 2,91% 5,86% 102,59 % 5,30% 23,56 % 12,96 % 55,42 % 2010 31,23 % 3,60% 5,75% 3,59% 6,62% 31,01 % 12,55 % 64,75 % PERTUMBU HAN -14,77% 23,71% -1,88% -96,50% 24,91% 31,62% -3,16% 16,84%

Sumber: Annual Report 2010, BPD Sultra. Dari perhitungan rasio diatas, dapat diketahui tingkat NPL (non performing loan) pada BPD Sultra untuk tahun 2010 menurun sebesar -1,88% dari tahun sebelumnya.

BPD Sultra terus melakukan penyempurnaan Kebijakan Perkreditan Bank sejalan dengan pedoman Bank Indonesia. Begitu pula dengan penyempurnaan prosedur dan sistem manajemen risiko perkreditan melalui penyempurnaan siklus kerja proses pengelolaan kredit sehingga proses kredit yang efektif dan efisien dapat tercapai serta terus mengembangan sistem pengukuran profil risiko. Berdasarkan hal tersebut diatas, maka Penulis tertarik untuk melakukan kajian tentang peranan manajemen risiko kredit dan pengaruhnya terhadap kredit bermasalah, oleh karena itu Penulis mencoba mengungkapkan masalah ini ke dalam skripsi dengan judul : Analisis Peranan Manajemen Risiko Kredit Terhadap Tingkat Kredit Bermasalah Pada BPD Sultra.

1.2

Rumusan Masalah. Berdasarkan latar belakang diatas yang telah diuraikan, maka permasalahan

pokok yang dirumuskan dalam penelitian ini adalah :

1. 2. 3.

Bagaimana Pelaksanaan Manajemen Risiko Kredit pada BPD Sultra? Seberapa besar tingkat kredit bermasalah (Non Performing Loan) pada BPD Sultra? Seberapa besar pengaruh Manajemen Risiko Kredit terhadap tingkat kredit bermasalah (Non Performing Loan) pada Bank BPD Sultra?

1.3

Tujuan Dan Manfaat Penelitian. 1.3.1 Tujuan Penelitian

Semakin efektif peranan manajemen risiko kredit diharapkan berpengaruh terhadap kinerja operasi bank dalam hal ini tingkat kredit bermasalah (Non Performing Loan). Maka pengujian dalam penelitian ini bertujuan antara lain : 1. Mengetahui pelaksanaan manajemen risiko kredit pada BPD Sultra.

2. 3.

Mengetahui tingkat kredit bermasalah (Non Performing Loan) pada BPD Sultra. Mengetahui pengaruh dari penerapan manajemen risiko kredit terhadap tingkat kredit bermasalah (Non Performing Loan) pada BPD Sultra.

1.3.2

Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan bagi peneliti adalah : a. Bagi Perusahaan Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bukti secara empirik mengenai tingkat kinerja Manajemen Risiko Kredit dan dapat digunakan sebagai bahan masukan dan bahan pertimbangan dalam perumusan kebijakan perusahaan di masa yang akan datang. b. Bagi Masyarakat.

Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bukti secara empirik mengenai tingkat kinerja operasi perbankan sehingga masyarakat bisa menilai kinerja operasi bank. c. Bagi Penulis. Kegiatan Penelitian ini merupakan penerapan untuk

mengaplikasikan pengetahuan teoritis yang dipelajari secara umum kedalam penelitian yang sebenarnya, sehingga penelitian ini dapat menambah wawasan dan pengetahuan mengenai kinerja operasi perbankan dalam hal ini kinerja manajemen Risiko Kredit dan dapat dijadikan sebagai bahan referensi bagi peneliti lain yang akan meneliti pada bidang yang sama.

1.4

Ruang Lingkup Penelitian. Untuk mempermudah dan menghindari kemungkinan terjadinya kesalahan

dalam penafsiran judul, maka dibatasi dengan Metode analisis deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Peranan Manajemen Risiko Kredit diukur dengan pendekatan Key Risk Indicators (KRI) untuk menilai kualitas Manajemen Risiko Kredit dan untuk mengetahui besarnya pengaruh manajemen risiko kredit terhadap kredit bermasalah (Non Performing Loan) pada BPD Sultra digunakan pengujian statistik. Pengujian statistik yang digunakan adalah perhitungan koefisien korelasi rank spearman, koefisien determinasi, dan uji hipotesis.

10

Untuk tahun 2009 dan 2010

BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Manajemen Risiko Perkembangan produk-produk dunia perbankan yang semakin beragam disertai dengan kemajuan sistem informasi yang cepat menyebabkan operasi dan kegiatan perbankan menjadi lebih kompleks. Untuk itu perlu diperhatikan cara untuk mengantisipasi dampak kerugian ataupun resiko yang akan dihadapi bank maka diperlukan suatu pengelolaan risiko didalamnya yaitu manajemen resiko. 2.1.1 Pengertian Manajemen Risiko Manajemen risiko adalah suatu pendekatan terstruktur/metodologi dalam mengelola ketidakpastian yang berkaitan dengan ancaman; suatu rangkaian aktivitas manusia termasuk: Penilaian risiko, pengembangan strategi untuk mengelolanya dan mitigasi risiko dengan menggunakan pemberdayaan/pengelolaan sumberdaya. Strategi yang dapat diambil antara lain adalah memindahkan risiko kepada pihak lain, menghindari risiko, mengurangi efek negatif risiko, dan menampung sebagian atau semua konsekuensi risiko tertentu. Manajemen risiko

11

tradisional terfokus pada risiko-risiko yang timbul oleh penyebab fisik atau legal (seperti bencana alam atau kebakaran, kematian, serta tuntutan hukum. Manajemen risiko keuangan, di sisi lain, terfokus pada risiko yang dapat dikelola dengan menggunakan instrumen-instrumen keuangan. Berdasarkan Peraturan Bank Indonesia No. 5/8/PBI/2005 Manajemen Risiko adalah serangkaian prosedur dan metodologi yang digunakan untuk mengidentifikasi, mengukur, memantau, dan mengendalikan Risiko yang timbul dari kegiatan usaha Bank. Adapun menurut Ferry N. Idroes, manajemen risiko didefinisikan sebagai berikut: Manajemen risiko sebagai suatu metode logis dan sistematik dalam identifikasi, kuantifikasi, menentukan sikap, menetapkan solusi, serta melakukan monitor dan pelaporan risiko yang berlangsung pada setiap aktivitas atau proses. (2008:5) Dari definisi diatas menunjukkan proses manajemen risiko secara

berkesinambungan berlangsung tanpa henti yang dimulai dari proses identifikasi risiko hingga pelaporan risiko dalam mendukung aktivitas yang dilakukan organisasi. Pengertian lain Risk Management (Pengelolaan risiko) menurut Amin Widjaja Tunggal adalah: Pengelolaan risiko (risk management) adalah suatu proses untuk mengidentifikasi, mengakses, mengelola dan mengendalikan peristiwa atau situasi yang dapat menjadi risiko, untuk menambah kepastian tercapainya tujuan organisasi. (2007:27) Berdasarkan dari pengertian tersebut, maka dapat kita ketahui bahwa manajemen risiko atau pengelolaan risiko sangatlah diperlukan dalam kegiatan

12

usaha dari setiap perusahaan. Manajemen risiko merupakan suatu proses dalam mengidentifikasi maupun mengelola serta mengendalikan situasi yang dapat menjadi risiko untuk dihindari atau diminimalisasi karena setiap kegiatan usaha mengandung banyak risiko didalamnya termasuk risiko kredit. Sedangkan menurut (SBC Warburg:2004), pengertian manajemen risiko yaitu sebagai berikut: Manajemen risiko adalah seperangkat kebijakan, prosedur yang lengkap, yang dipunyai organisasi, untuk mengelola, memonitor, dan mengendalikan eksposur organisasi terhadap risiko Berdasarkan pengertian diatas maka dapat disimpulkan bahwa untuk mengelola, memonitor dan mengendalikan eksposur organisasi terhadap risiko diperlukan seperangkat kebijakan dan prosedur yang lengkap yang dimiliki oleh sebuah organisasi. 2.1.2 Manajemen Risiko Perbankan dari Sisi Pandang Bank Indonesia Peraturan Bank Indonesia No. 11/25/PBI/2009 tentang Perubahan Atas Peraturan Bank Indonesia No. 5/8/PBI/2003 tentang Penerapan manajemen risiko untuk bank umum, pada tanggal 1 Juli 2009 merupakan wujud keseriusan Bank Indonesia dalam masalah manajemen risiko perbankan. Keseriusan tersebut sebelumnya lebih dipertegas lagi dengan dikeluarkannya Peraturan Bank indonesia No. 7/25/PBI/2005 pada Agustus 2005 tentang Sertifikasi manajemen risiko bagi pengurus dan pejabat bank umum, yang mengharuskan seluruh pejabat bank dari tingkat terendah hingga tertinggi memiliki sertifikasi manajemen risiko yang sesuai dengan tingkat jabatannya.

13

Berdasarkan kedua peraturan di atas, Bank Indonesia menekankan bahwa perbankan dalam menjalankan bisnis dan pengendalian diperlukan untuk mengatur risiko-risikonya, yang mencakup risiko identifikasi, pengukuran, pemantauan, dan pengendalian. Kedua peraturan di atas dilengkapi dengan Peraturan Bank Indonesia No. 8/4/PBI/2006 yang disempurnakan dengan Peraturan Bank Indonesia No. 8/14/PBI/2006 tentang Pelaksanaan Good Corporate Governance bagi Bank Umum, yang menunjukkan keseriusan Bank indonesia dalam meminta pengurus perbankan agar taat untuk menerapkan manajemen risiko guna melindungi kepentingan para pemangku kepentingan (stakeholder). Bank indonesia meminta perbankan yang berada di Indonesia agar mengatur risiko-risikonya dalam suatu struktur manajemen yang terintegrasi; serta membangun sistem dan struktur manajemen yang dibutuhkan dalam mencapainya. Dalam PBI No. 11/25/PBI/2009 peraturan yang berlaku bagi bank umum ditetapkan sebagai berikut: Perbankan dibangun dengan suatu pembatasan liabilitas/kewajiban. Perbankan dibangun di bawah wewenang hukum perusahaan. Perbankan dibangun di bawah hukum yang berkenaan dengan koperasi. Cabang-cabang dari bank-bank asing.

14

Serta mengatur tentang Perusahaan Anak sebagai badan hukum atau perusahaan yang dimiliki dan/atau dikendalikan oleh bank secara langsung maupun tidak langsung, baik di dalam maupun di luar negeri yang melakukan kegiatan usaha di bidang keuangan, yang terdiri dari:

Perusahaan Subsidiari (subsidiary company) yaitu Perusahaan Anak dengan kepemilikan Bank lebih dari 50% (lima puluh perseratus); Perusahaan Partisipasi (participation company) adalah Perusahaan Anak dengan kepemilikan Bank 50% (lima puluh perseratus) atau kurang, namun Bank memiliki Pengendalian terhadap perusahaan;

Perusahaan dengan kepemilikan Bank lebih dari 20% (dua puluh perseratus) sampai dengan 50% (lima puluh perseratus) yang memenuhi persyaratan yaitu:

1) kepemilikan

Bank dan para pihak lainnya pada Perusahaan Anak adalah

masing-masing sama besar; dan

2) masing-masing pemilik melakukan Pengendalian secara bersama terhadap


Perusahaan Anak;

Entitas lain yang berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan yang berlaku wajib dikonsolidasikan.

A. Ruang Lingkup Manajemen Risiko Perbankan Dewan direksi setiap bank mempunyai tugas untuk menetapkan bahwa risiko perbankan dalam menjalankan bisnis diatur dalam suatu tata cara yang efektif baik

15

untuk bank secara individual maupun untuk bank secara konsolidasi dengan perusahaan anak. Dalam pelaksanaan tugas tersebut dibutuhkan: pengawasan aktif dari dewan komisaris, dewan direksi dan oleh personil manajemen risiko yang terkait yang dipilih oleh bank, penetapan kebijakan dan prosedur untuk menentukan batas untuk risiko yang dilaksanakan oleh bank, penetapan prosedur untuk mengidentifikasi, mengukur, memantau, dan mengendalikan risiko, penetapan dari struktur informasi manejemen yang serasi dalam mendukung manajemen terhadap risiko, serta penetapan dari suatu struktur pengawasan intern untuk mengatur risiko.

B. Menetapkan Struktur Manajemen Risiko Bank Direksi dan manajemen bank adalah orang yang secara resmi bertanggung jawab untuk menerapkan suatu kebijakan manajemen risiko yang efektif pada bank yang dipimpinnya. Agar pelaksanaan tugas yang diembannya dapat dilaksanakan dengan baik, direksi harus menetapkan: sasaran-sasaran dan kebijakan-kebijakan dari bank, kompleksitas dari bisnis yang dikelolanya, serta kemampuan bank untuk mengatus bisnisnya.

16

Bank Indonesia mengharapkan bank yang mempunyai kompleksitas tinggi dalam pelaksanaan operasional bisnisnya, seperti memiliki transaksi (trading) obligasi, nilai tukar, pinjaman dalam valuta asing dan sekuritisasi, agar mempunyai struktur manajemen risiko yang lebih kompleks dibandingkan dengan bank yang hanya mempunyai kegiatan usaha dalam bentuk tabungan dan pinjaman secara operasional yang relatif sederhana seperti pinjaman dan simpanan serta didukung oleh sumber daya manusia yang memiliki pengetahuan, pengalaman dan keahlian di bidang manajemen risiko sesuai dengan kompleksitas usaha Bank. C. Risiko-risiko Perbankan yang harus Dikelola Menurut Bank Indonesia Bank Indonesia mewajibkan struktur manajemen risiko dari seluruh bank untuk mencakup risiko-risiko sebagai berikut: risiko pasar, risiko kredit, risiko opeasional, dan risiko likuiditas. Definisi dari setiap risiko yang diwajibkan untuk dikelola oleh masing-masing bank sama halnya dalam peraturan Bank Indonesia. Pengertian Bank Indonesia atas risiko-risiko tersebut sedikit berbeda dengan pengertian yang dimuat dalam kesepakatan Basel II. Pengertian yang dimaksud adalah sebagai berikut. 1. Risiko Pasar Risiko yang timbul karena adanya pergerakan variabel pasar (adverse movement) dari portofolio yang dimiliki oleh bank yang dapat merugikan bank. Variabel pasar antara lain suku bunga dan nilai tukar. 2. Risiko Kredit

17

Risiko yang timbul sebagai akibat kegagalan debitur dan/atau lawan transaksi (counterparty) dalam memenuhi kewajibannya. Termasuk didalamnya risiko konsentrasi kredit yaitu risiko yang timbul akibat terkonsentrasinya penyediaan dana kepada satu pihak atau sekelompok pihak, industri, sektor, atau area geografis tertentu yang berpotensi menimbulkan kerugian cukup besar yang dapat mengancam kelangsungan usaha Bank. 3. Risiko Operasional Risiko yang antara lain disebabkan oleh adanya ketidakcukupan dan atau tidak berfungsinya proses internal, kesalahan manusia, kegagalan sistem, atau adanya problem eksternal yang mempengaruhi operasional bank. 4. Risiko Likuiditas Risiko yang antara lain disebabkan oleh bank tidak mampu memenuhi kewajibannya yang telah jatuh tempo. Jika suatu bank memiliki model bisnis yang lebih rumit, biasanya sejalan dengan skala usaha yang semakin besar dari bank yang dimaksud, maka Bank Indonesai akan meminta bank tersebut untuk mengatur: risiko hukum, risiko reputasi, risiko stratejik, dan risiko kepatuhan. 5. Risiko Hukum Risiko yang disebabkan oleh adanya kelemahan aspek yuridis. Kelemahan aspek yuridis antara lain disebabkan oleh adanya tuntutan hukum, ketiadaan peraturan perundang-undangan yang mendukung atau kelemahan perikatan seperti tidak dipenuhinya syarat sahnya suatu kontrak. 6. Risiko Reputasi

18

Risiko yang antara lain disebabkan oleh adanya publikasi negatif yang terkait dengan kegiatan usaha bank atau persepsi negatif terhadap bank. 7. Risiko Stratejik Risiko yang antara lain disebabkan oleh adanya penetapan dan pelaksanaan strategi bank yang tidak tepat, pengambilan keputusan bisnis yang tidak tepat, atau kurang responsifnya bank terhadap perubahan eksternal. 8. Risiko Kepatuhan Risiko yang disebabkan bank tidak mematuhi atau tidak melaksanakan peraturan perundang-undangan dan ketentuan lain yang berlaku. Dalam hal sebuah bank mengalami kerugian terkait dengan empat kelompok terakhir (risiko hukum, reputasi, stratejik, dan kepatuhan), maka terhadap bank yang bersangkutan akan dipersyaratkan untuk memonitor risiko spesifik yang sedang berlangsung. D. Pengawasan Aktif Dewan Komisaris, Dewan Direksi, dan Manajemen Tanggung jawab utama dari dewan direksi dan dewan komisaris bank adalah untuk menentukan jenis risiko yang perlu dikelola di dalam unit manajemen risiko berdasarkan kompleksitas bisnisnya. Dewan direksi dan dewan komisaris selanjutnya harus menentukan bagaimana cara mengalokasikan otoritas dan tanggung jawab atas manajemen risiko di dalam dewan direksi dan manajemen. Wewenang dan tanggung jawab dari dewan komisaris dan dewan direksi meliputi: 1. risiko, menyetujui dan mengevaluasi kebijakan manajemen

19

2. mengalokasikan tanggung jawab kepada manajemen untuk melaksanakan kebijakan manajemen risiko, 3. memutuskan transaksi yang memerlukan persetujuan dewan. Wewenang dan tanggung jawab yang diemban oleh dewan direksi dan dewan komisaris bersifat makro dan jangka panjang. Pelaksanaan harian dari wewenang dan tanggung jawab dewan direksi dan dewan komisaris didelegasikan kepada manajemen bank mulai dari setingkat di bawah direksi. Wewenang dan tanggung jawab dari manajemen harus meliputi hal-hal antara lain: 1. produksi dari dokumentasi menggambarkan kebijakan dan strategi manajemen risiko bank,

2. menerapkan

kebijakan manajemen risiko dan mengelolanya di dalam

koridor risk appetite yang telah disetujui,

3. menentukan transaksi yang memerlukan persetujuan manajemen risiko yang


lebih senior (dewan direksi dan dewan komisaris), 4. mengembangkan kultur mengerti risiko pada seluruh jajaran bank, 5. mengambangkan keterampilan manajemen risiko terhadap semua karyawan terkait, 6. memastikan operasional yang independen antara manajemen risiko dengan manajemen bisnis, 7. meninjau secara berkala:

20

a. keakuratan penilaian risiko berkenaan dengan risiko yang berkaitan dengan nasabah atau transaksi tertentu yang dibandingkan hasil sebenarnya (kerugian), b. keakuratan dan kelengkapan informasi manajemen risiko dan kualitas dari sistem yang mengirimkan informasi,

c. kelayakan

batas risiko dan kualitas prosedur yang mendukung alokasi

limit untuk mengelola risiko yang menjadi tanggung jawab unit risk. 8. penghitungan dan laporan:

a. keseluruhan risk appetite dari bank, yaitu seberapa besar risiko yang
disetujui untuk diambil bank, b. profil keseluruhan risiko bank yang berlangsung, yaitu distribusi total risiko yang terdapat dalam semua unit bisnis, c. kemampuan bank untuk mengatur risiko-risikonya dalam profil dan limit yang disetujui. E. Prosedur Kebijakan, Mengukur, serta menetapkan Limit Risiko Kebijakan manajemen risiko harus berisi suatu penilaian risiko yang berhubungan dengan masing-masing produk dan transaksi. Penilaian tersebut meliputi: 1. Suatu metode yang tepat untuk mengukur risiko, 2. Informasi relevan yang diperlukan untuk menilai risiko (diambil dari sistem informasi manajemen bank), 3. Penetapan limit untuk total nilai risiko, yang merupakan besaran risiko yang bersedia ditanggung oleh bank,

21

4.

Proses penilaian risiko dengan sistem peringkat, seperti proses credit grading,

5. Suatu penilaian dari skenario kasus terburuk untuk risiko tertentu,

6.

Memastikan semua risiko mengikuti suatu proses pengawasan yang tepat, untuk itu peninjauan ulang secara teratur diperlukan.

Dewan direksi dan manajemen senior harus menciptakan proses untuk menetapkan besaran risiko dari bank yang meliputi proses penentuan imit risiko yang sesuai. Penentuan limit risiko meliputi:

1. pendelegasian
tanggung

wewenang yang jelas secara tertulis untuk memastikan individu di mana pemberian wewenang harus

jawab

didokumentasikan pada setiap deskripsi tugas individu (job description),

2. limit keseluruhan

dan limit yang berdasarkan periode waktu (mana yang

lebih relevan), di mana limit harus didokumentasikan mengacu kepada tingkat-tingkat dari masing-masing limit, misalnya limit suku bunga untuk kontrak forward,

3. dokumentasi

menyeluruh (seperti diuraikan di atas) harus dibuat untuk

menguatkan proses penilaian (ini secara normal akan menjadi bukti melalui dokumentasi). Dalam limit risiko harus ditetapkan:

1. jumlah risiko keseluruhan yang bersedia ditanggung bank (risk appetite),

22

2. secara individu berdasarkan jenis risikonya (misalnya: berapa untuk risiko kredit, risiko pasar, risiko operasional, risiko likuiditas, risiko hukum, risiko stratejik, risiko reputasi, dan risiko kepatuhan),

3. sesuai

dengan fungsi tugas (misalnya: treasury, manajemen cabang,

manajemen risiko, dan anggota dewan). F. Proses Identifikasi, Penerapan, Pemantauan, dan Sistem Informasi. Dewan direksi dari suatu bank mempunyai tugas secara umum untuk memastikan bahwa: 1. semua jenis risiko teridentifikasi, 2. semua material risiko diukur, dimonitor, dan dikendalikan, 3. pengukuran risiko didukung oleh informasi terbaru, akurat, dan lengkap. Identifikasi faktor-faktor risiko biasanya dilaksaanakan oleh unit manajemen risiko yang berkoordiasi dengan bagian trading. Sebagai tambahan untuk mengidentifikasi faktor-faktor risiko, unti manajemen risiko akan mencari sumber independen tentang hargta penutupan setiap hari untuk masing-masing faktor. Data yang diperoleh dari sumber independen tersebut berfungsi untuk memastikan bahea revaluasi dari posisi bank ditentukan secara bebas dari para pialang (traders). Proses ini harus ditambahkan dengan analisis harian terhadap kinerja keuangan dari aktivitas trading. Analisis harian ini dipelukan untik memastikan bahwa figur rugi-laba yang dilaporkan sejalan dengan profil risiko bank itu. Proses analisis risiko harus mengidentifikasi semua karakteristik risiko dari bank, biasanya dimulai dengan rincian dari jenis usaha yang dilakukan. Seperti halnya terhadap risiko yang terkait dengan setiap produk dan aktivitas bisnis bank.

23

Hal ini akan melibatkan rincian dari faktor-faktor risiko dan mempertimbangkan risiko sebagai risiko kinerja dan risiko kerahasiaan. Analisis risiko yang berdasarkan produk dan bisnis, pengukuran risikonya harus: diproduksi dengan periode waktu (mana yang relevan) menyatakan sumber dari data yang digunakan, menyatakan prosedur yang digunakan untuk mengukur risiko, dan memiliki kemampuan untuk menunjukkan setiap perubahan yang terjadi pada profil risiko bank. Proses pemantauan risiko harus mengevaluasi semua eksposur risiko dan membuat suatu pelaporan yang mencerminkan setiap perubahan pada profil risiko bank. Sistem informasi manajemen risiko harus mampu melaporkan: semua eksposur risiko, eksposur sesungguhnya dibandingkan dengan limit yang disetujui, dan hasil nyata yang berhubungan dengan risiko yang diambil seperti berapa besar kerugian yang telah terjadi dibandingkan dengan tingkat target kerugian (risk appetite). Pejabat yang mengepalai manajemen risiko (chief risk officer) harus secara teratur meninjau ulang pelaporan risiko dari sistem manajemen risiko. G. Sistem Pengawasan Internal Proses manajemen risiko harus menciptakan suatu struktur yang dapat mengatur berbagai risiko dan mempertimbangkan sebagai suatu ancaman yang potensial bagi kelanjutan dari bisnis bank. Sampai di sini proses pengawasan risiko 24

meliputi manajemen aktiva dan kewajiban (assets & liabilities management/ALM) proses untuk manajemen dari:

1. risiko nilai tukar,


2. risiko tingkat bunga, 3. risiko likuiditas. Proses seperti ini diperbolehkan dalam suatu bank dengan pembatasan limit bisnis trading, jadi bisa mengatur semua yang terkait dengan risiko. Dewan direksi bank secara umum mempunyai kewajiban untuk memastikan bahwa bank telah menerapkan sistem pengawasan intern dengan aktivitas bisnis yang meliputi semua operasi bank. Sistem pengawasan internal harus mampu mengidentifikasi kegagalan dalam pengendalin dan setiap penyimpangan dari dokumen, prosedur, dan proses bank. Sistem pengawasan internal harus: 1. mematuhi peraturan Bank Indonesia secara tepat, 2. mematuhi persyaratan internal bank sebagaimana ditentukan oleh dewan direksi dan manajemen, 3. dapat digunakan dalam proses pelaporan informasi keuangan yang komprehensif, akurat, dan terbaru, 4. kesesuaian untuk mendukung manajemen dalam memuat keputusan untuk menerima atau menolak risiko, 5. menciptakan suatu kultur pelaporan yang berdasarkan risiko di seluruh bank.

25

Pengawasan internal merupakan fungsi independen dalam suatu bank. Peran utamanya adalah untuk menyelesaikan penilaian melalui laporan produksi yang menganalisis metodologi, prosedur, dan proses dengan organisasi manajemen risiko bank. Dalam kebijakan ini umumnya divisi internal audit melapor kepada presiden direktur dari bank tersebut dan tidak melaporkan ke Chief Risk Officer. Laporan tertulis dari pengawas internal secara umum akan meliputi: 1. kesesuaian sistem pengendalian intern bank dengan jenis risiko bank yang diambil, 2. penilaian kesesuaian dengan kebijakan prosedur dan limit sebagaimana ditentukan oleh bank sendiri dan disetujui oleh Bank Indonesia sebagai pengawas perbankan, 3. fungsi pengawasan manajemen risiko bank yang independen dari manajemen bisnis,

4. struktur bank yang menunjukkan organisasinya dan pemisahan kekuasaan


yang jelas serta garis pelaporan untuk manajemen risiko, manajemen bisnis, dan internal audit. Hal ini termasuk sertifikasi dari bagan struktur yang secara jelas menunjukkan garis pelaporan yang diperlukan dengan melampirkan deskripsi tugas (job description) dan limit kewenangan dari semua anggota yang terlibat, 5. keakuratan dan ketepatan dari semua laporan keuanan dan laporan informasi manajemen, 6. kepatuhan terhadap peraturan Bank Indonesia sebagai pengawas perbankan, 7. independensi dan objektivitas dari fungsi manajemen risiko,

26

8. kecukupan informasi untuk mendukung keputusan bisnis yang dibuat oleh


manajemen, 9. kecukupan dokumentasi untuk mendukung proses operasional, dalam hal ini mencakup pemetaan proses dari awal hingga akhir, 10. kualitas respon manajemen, dan ketepatan waktu seperti respon terhadap permintaan data dan dokumen pendukung dari audit internal dan eksternal, dan 11. peka terhadap setiap kelemahan dan kekurangan yang dirasa dalam operasi bank dan respon manajemen untuk menjawab kelemahan tersebut. H. Komite Manajemen Risiko dan Unit Manajemen Risiko Dewan direksi bank mempunyai kewajiban umum menciptakan struktur organisasi untuk mengelola risiko bank yang meliputi komite manajemen risiko dan unit manajemen risiko. Keanggotaan komite manajemen risiko terdiri dari mayoritas dewan direksi bersama-sama dengan para pejabat senior (executive officer) yang terkait. Komite manajemen risiko harus mampu menyediakan rekomendasi bagi direksi utama dalam beberapa hal: 1. kebijakan risiko, strategi, dan aplikasi, 2. setiap perubahan proses sebagai hasil rekomendasi audit internal atau evaluasi lainnya dari proses manajemen risiko, dan 3. penjelasan kepada Bank Indonesia dan dewan direksi bank beberapa keputusan yang dibuat oleh bank yang bertentanan dengan kebijakan manajemen risiko. Persyaratan dalam membangun struktur unit manajemen risiko adalah:

27

1. harus sesuai dengan ukuran kompleksitas dari risiko-risiko yang akan diambil oleh bank, 2. independen secara operasional dan pelaporan dari unit bisnis,

3.

melapor kepada anggota dari dewan direksi bank (biasanya Chief Risk Officer).

Unit manajemen risiko harus bertanggung jawab untuk: 1. memantau implementasi terhadap strategi manajemen risiko sebagaimana yang disetujui oleh dewan direksi bank dan Bank Indonesia,

2.

memantau keseluruhan tingkatan risiko yang dijalankan bank serta membandingkannya degan kesediaan bank menanggung risiko (risk appetite) sebagaimana yang disetujui oleh dewan direksi bank dan Bank Indonesia,

3. memantau tingkatan risiko yang akan dilaksanakan bank terhadap batas risiko dirancang untuk masing-masing jenis risiko (misalnya risiko kredit, risiko pasar, dan risiko operasional),

4.

melakukan stress testing terhadap model penilaian risiko yang digunakan,

5. melaksanakan peninjauan reguler terhadap prosedur dan proses manajemen risiko bank,

6. 7.

menguji proposal sebelum penerapan produk dan jasa baru, Melaksanakan pengujian reguler terhadap kemampuan prediksi suatu model risiko bank dibandingkan dengan hasil nyata dari proses pengambilan risiko (risk taking), (misalnya membandingkan tingkat kredit yang diklasifikasi

28

yang terjadi terhadap tingkat kredit yang diklasifikasi sebagaimana yang diprediksi dengan credit grading model), 8. membuat rekomendasi kepada komite manajemen risiko bank mengenai semua aspek proses manajemen risiko bank, dan 9. melaporkan secara reguler profil risiko bank kepada kepala manajemen risiko dan komite risiko bank. I. Peluncuran Produk dan Jasa Baru Bank harus mendokumentasikan proses peluncuran produk dan jasa baru mereka serta sistem dan prosedur yang mencakup otorisasi yang relevan dengan manajemen yang terkait. Dokumentasi tersebut meliputi: 1. peluncuran atau perubahan sistem, proses dan prosedur bagi implementasi dari produk dan jasa baru, 2. kewenangan yang terkait dengan produk sejak memperkenalkan produk dan jasa baru, 3. laporan menyeluruh yang terkait dengan risiko sehubungan dengan usulan produk dan jasa baru, 4. metode untuk mengukur dan memantau secara berkesinambungan terhadap risiko yang dihubungkan dengan produk dan jasa baru, 5. penilaian terhadap risiko hukum/legal yang dikaitkan dengan peluncuran produk atau jasa baru,

6. keterbukaan kepada nasabah tentang risiko melekat (inherent) yang terdapat


dalam produk atau jasa baru. J. Persyaratan Pelaporan dari Bank Indonesia

29

Bank Indonesia telah menetapkan bahwa setiap bank harus memberikan laporan-laporan yang terkait dengan manajemen risiko. Laporan-laporan yang dimaksud adalah sebagai berikut; 1. Laporan Profil Risiko Bank harus melaporkan profil risiko mereka kepada Bank Indonesia dan laporan tersebut harus berisi informasi yang sama dengan yang dibuat bagian manajemen risiko untuk kepala manajemen risiko (Chief Risk Officer) dan komite manajemen risiko diantaranya informasi tentang tingkat dan trend seluruh eksposur risiko. Laporan profil risiko harus disajikan setiap triwulan, yaitu Maret, Juni, September, dan Desember. Laporan ini harus disampaikan ke Bank Indonesia dalam lima belas (15) hari kerja pada setiap akhir triwulan.

2.

Laporan Produk dan Aktivitas Baru Bank harus melaporkan produk dan jasa baru untuk nasabah kepada Bank

Indonesia. Laporan harus meliputi semua produk dan jasa baru dan menyampaikan ke Bank Indonesia yang terdiri dari:

a. Laporan rencana penerbitan produk atau pelaksanaan aktivitas baru wajib


disampaikan paling lambat enam puluh (60) hari sebelum penerbitan atau pelaksanaan produk dan aktivitas baru, dan

b. Laporan realisasi penerbitan produk atau pelaksanaan aktivitas baru wajib


disampaikan paling lambat tujuh (7) hari kerja setelah produk atau aktivitas baru dilakukan. 3. Laporan Kerugian Keuangan yang Signifikan

30

Bank yang mencatat kerugian keuangan yang signifikan harus melaporkan secepatnya kepada Bank Indonesia. 4. Laporan Publikasi dan Akuntansi Dalam kaitan dengan transparansi bank harus mempublikasikan informasi yang cukup untuk mencakup strategi dan kebijakan manajemen risiko yang diambil, kesesuaian limit yang relevan terhadap risiko, sebagai tambahan terhadap informasi mengenai kondisi keuangan bank yang bersangkutan. Semua laporan yang dipublikasikan harus disetujui oleh Bank Indonesia. Bank indonesia mempunyai kekuasaan yang luas untuk mengenakan sanksi ke bank yang gagal dalam mematuhi peraturan perbankan. Sanksi tersebut dapat berupa penerapan denda sebagai sanksi administratif sampai dengan pencabutan izin dari bank yang bersangkutan. 2.2 Basel Accord I-II Basel Committee on Banking Supervision (BCBS) didirikan tahun 1975 sebagai penggerak harmonisasi dalam regulasi pengawasan bank pada tingkat internasional. Kecukupan modal merupakan fokus utama komite dan standar Bank International Settlement (BIS) diimplementasikan secara luas. Standar ini dimaksudkan untuk memperkuat sistem keuangan internasional dan mengurangi distorsi kondisi normal perdagangan. Sejak berdiri Komite Basel sangat aktif membahas isu-isu kecukupan modal. Perjanjian keuangan untuk mengatur bankbank komersial dilakukan pertama kali oleh bank sentral kelompok G-10 di kota Basel pada 15 Juli 1988, sehingga kesepakatan ini disebut Basel Accord dengan tujuan untuk memperkuat kesehatan dan stabilitas sistem perbankan internasional

31

dengan menentukan standar kecukupan modal minimal dan menciptakan tingkat playing field antar bank internasional melalui harmonisasi peraturan global. Hasil kesepakatan tersebut menetapkan ukuran umum tingkat solvency yang dikenal dengan Cooke Ratio dan rasio ini hanya memasukkan risiko kredit. Kesepakatan ini masih memiliki kekurangan dan memperoleh kritik dari berbagai pihak karena tidak memperhitungkan risiko lain di luar kredit, sehingga muncul kesepakatan Basel II yang memiliki tiga pilar serta menggunakan metodologi yang lebih maju untuk mengestimasi risiko. Ketiga pilar Basel Accord II (Ghozali, 2007) sebagai berikut: Pilar I, persyaratan modal minimum berdasarkan risiko pasar, risiko kredit, dan risiko operasional sebagai pengembangan aturan Basel I,

Pilar II, Proses review pengawasan yang mendorong bank untuk mengembangkan dan menggunakan teknik manajemen risiko yang lebih baik guna memonitor dan mengelola risiko, review penilaian risiko dan tingkat integrasi di dalam pelaporan manajemen, proses pengambilan keputusan,

Pilar III, Penciptaan disiplin pasar dengan mendorong regulator dan usahausaha institusi pengawas lainnya untuk memastikan praktik-praktik perbankan yang sehat dan aman dan memperkuat keterbukaan. Tabel Regulasi Manajemen Risiko Basel I Basel II Fokus pada metodologi internal

Fokus pada pengukuran tunggal

32

Memiliki pendekatan yang sederhana Memiliki sensitivitas yang lebih tinggi terhadap sensitivitas risiko terhadap risiko Menggunakan pendekatan one size fits all untuk risiko dan modal Lebih fleksibel dalam memenuhi kebutuhan yang berbeda dari bank

Untuk Risk Management Process Bank memenuhi arahan Basel II Accord, Manajemen Risiko dikelola berdasarkan tahapan-tahapan yang sistematis sebagai berikut: - Risk awareness - Risk identification - Risk monitoring - Risk mitigation

Bank harus mempunyai risk library, Control Risk Self Assessment (CRSA) maupun business self-assessment, metode metode pengukuran risiko, scenario analysis, sistem deteksi dini, contingency plan serta sistem pelaporan manajemen yang memadai. Risk awareness dilakukan melalui sosialisasi yang intensif, lokakarya dan pelatihan yang berkesinambungan untuk membangun risk culture bagi seluruh karyawan. 2.3 Pengertian Risiko Kredit

Risiko kredit dalam perbankan didefinisikan sebagai risiko kerugian yang dikaitkan dengan kemungkinan kegagalan debitur membayar kewajibannya atau tidak dapat melunasi hutangnya (Ghozali, 2007). Risiko kredit dapat timbul karena beberapa hal sebagai berikut: Adanya kemungkinan pinjaman yang diberikan oleh bank atau obligasi (surat hutang) yang dibeli oleh bank tidak terbayar 33

Tidak dipenuhinya kewajiban dimana bank terlibat di dalamnya bisa melalui pihak lain, misal: kegagalan memenuhi kewajiban pada kontrak derivatif Penyelesaian (settlement) dengan nilai tukar, suku bunga, dan produk derivatif Kerugian dari risiko kredit dapat timbul sebelum terjadinya default, sehingga secara umum risiko kredit harus didefinisikan sebagai potensi kerugian nilai market to market yang mungkin timbul karena pemberian kredit oleh bank. Risiko kredit dapat berupa sovereign risk (risiko kekuasaan), dimana risiko ini muncul ketika suatu negara memberlakukan pengawasan devisa (foreign exchange control), sehingga menjadi tidak mungkin bagi pihak lain melunasi kewajibannya. Risiko default merupakan risiko perusahaan, sedangkan risiko sovereign merupakan risiko negara. Selain sovereign risk, settlement risk merupakan bagian dari risiko kredit. Risiko ini timbul ketika dua pembayaran dengan valuta asing dilakukan pada hari yang sama. Settlemen risk dapat terjadi pada transaksi dengan nilai mata uang yang berbeda karena perbedaan waktu di dunia. Sumber risiko kredit (Ghozali, 2007), antara lain: 1. Lending risk yaitu risiko akibat debitur atau nasabah tidak mampu melunasi fasilitas yang telah disediakan oleh bank. Baik fasilitas kredit langsung maupun tidak langsung (cash loan maupun non cash loan) 2. Counterparty Risk yaitu risiko yang timbul karena pasangan usaha tidak dapat melunasi kewajibannya, baik sebelum maupun pada tanggal kesepakatan

4.

Issuer Risk yaitu yang timbul karena penerbit suatu surat berharga tidak dapat melunasi sejumlah nilai surat berharga yang dimiliki bank.

Risiko merupakan kerugian secara finansial, baik secara langsung maupun tidak langsung. Risiko Bank adalah keterbukaan terhadap kemungkinan rugi (exposure to the change of loss). (Philip Best,1998). Risiko kredit adalah risiko yang terjadi akibat kegagalan pihak lawan (counterparty) memenuhi kewajibannya. Risiko kredit dapat bersumber dari berbagai aktivitas fungsional bank seperti perkreditan (penyediaan dana), tresuri dan investasi, dan pembiayaan perdagangan, yang tercatat dalam banking book maupun trading book .

34

2.4

Kredit

Kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara Bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga, termasuk: a. cerukan (overdraft), yaitu saldo negatif pada rekening giro nasabah yang tidak dapat dibayar lunas pada akhir hari; b. pengambilalihan tagihan dalam rangka kegiatan anjak piutang; c. pengambilalihan atau pembelian kredit dari pihak lain. Kualitas Kredit ditetapkan berdasarkan faktor penilaian sebagai berikut: a. prospek usaha; b. kinerja (performance) debitur; dan c. kemampuan membayar. Pasal 11 (1) Penilaian terhadap prospek usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 huruf a meliputi penilaian terhadap komponen-komponen sebagai berikut: a. potensi pertumbuhan usaha; b. kondisi pasar dan posisi debitur dalam persaingan; c. kualitas manajemen dan permasalahan tenaga kerja; d. dukungan dari grup atau afiliasi; dan e. upaya yang dilakukan debitur dalam rangka memelihara lingkungan hidup. (2) Penilaian - 12 (2) Penilaian terhadap kinerja debitur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 huruf b meliputi penilaian terhadap komponen-komponen sebagai berikut: a. perolehan laba; b. struktur permodalan; c. arus kas; dan d. sensitivitas terhadap risiko pasar. (3) Penilaian terhadap kemampuan membayar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 huruf c meliputi penilaian terhadap komponen-komponen sebagai berikut: a. ketepatan pembayaran pokok dan bunga; b. ketersediaan dan keakuratan informasi keuangan debitur; c. kelengkapan dokumentasi Kredit; d. kepatuhan terhadap perjanjian Kredit; e. kesesuaian penggunaan dana; dan f. kewajaran sumber pembayaran kewajiban. Pasal 12
35

(1) Penetapan kualitas Kredit dilakukan dengan melakukan analisis terhadap faktor penilaian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 dengan mempertimbangkan komponen-komponen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11. (2) Penetapan kualitas Kredit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan mempertimbangkan: a. signifikansi dan materialitas dari setiap faktor penilaian dan komponen; serta b. relevansi - 13 b. relevansi dari faktor penilaian dan komponen terhadap debitur yang bersangkutan. (3) Berdasarkan penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), kualitas Kredit ditetapkan menjadi: a. Lancar; b. Dalam Perhatian Khusus; c. Kurang Lancar; d. Diragukan; atau e. Macet. ( PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 7/2/PBI/2005 )

2.4 Non Performing Loan (Kredit Bermasalah) Non Performing Loan (NPL) adalah kredit yang masuk ke dalam kualitas kredit kurang lancar, diragukan dan macet berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan oleh Bank Indonesia (SE No. 7/3/DPNP). kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) selalu ada dalam kegiatan perkreditan bank, oleh karena itu setiap bank berusaha menekan seminimal mungkin besarnya kredit bermasalah agar tidak melebihi ketentuan Bank Indonesia sebagai pengawas perbankan. Kredit bermasalah adalah jumlah keseluruhan dari kredit kurang lancar, ditambah kredit diragukan, dan kredit macet. Jika kredit yang disalurkan mengalami kemacetan, maka akan berdampak pada berkurangnya sebagian besar pendapatan. Kredit macet

36

tidak menghasilkan pendapatan bunga sama sekali, sehingga pendapatan bank berkurang. Akibatnya, laba bank akan menurun dan apabila kredit macet ini terjadi pada suatu skala yang cukup besar, bank akan merugi. Menurut Tjoekam (1999:264), terjadinya kredit bermasalah berasal dari 5 variabel, yaitu kondisi keuangan debitur, kegiatan usaha, sikap debitur, sikap bank dan force majeur (keadaan memaksa). e. Kerangka Pikir Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Penulis, Penulis dapat

menyimpulkan bahwa penerapan manajemen risiko dalam upaya peningkatan efektivitas kehati-hatian Bank terhadap resiko kredit yang telah diatur menurut Peraturan Bank Indonesia No. 5/8/PBI/2003 merupakan suatu alat atau metoda bagi manajemen, untuk mengetahui seluruh jenis risiko dari bank yang dikelolanya, sehingga dapat dilakukan pemantauan, agar Bank tidak menderita kerugian karena unexpected loss (kerugian yang tidak diduga) atau Non Performing Loan (kredit bermasalah) dan mencapai keseimbangan antara risiko dan tingkat pengembalian untuk menghasilkan pendapatan yang berkesinambungan.

Gambar 2.1

Efektivitas Penerapan Manajemen Risiko kredit

Penurunan Tingkat Rasio NPL (Non Performing Loan)

37

BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi dan Objek Penelitian. Penelitian ini dilakukan pada Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Tenggara yang beralamat di Jl. Mayjen Soetoyo No. 95 Kota Kendari, dengan objek Penerapan Manajemen Risiko Kredit. B. Jenis dan Sumber Data. a. Jenis Data Data dalam Penelitian ini bersifat kualitatif. Data ini meliputi tentang konsep mekanisme manajemen manajemen risiko kredit dan gambaran umum Bank risiko. Pembangunan Daerah Sulawesi Tenggara yang dimana operasionalnya menerapkan

b. Sumber Data Data yang digunakan pada Penelitian ini adalah bersumber dari intern dan ekstern Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Tenggara. 9. Data Primer Data-data ini dikumpulkan langsung dari Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Tenggara. 10. Data Sekunder

38

Menerapkan data pendukung dan dikumpulkan tidak secara langsung berasal dari sumbernya, yaitu dari berbagai teori-teori berkaitan masalah yang ada. dengan masalah-

C. Metode Pengumpulan Data Dalam melakukan pengumpulan berbagai data yang ada, Penulis menggunakan beberapa instrumen, antara lain:

a). Observasi Penulis melakukan pengamatan secara langsung tentang Penerapan Manajemen Risiko Kredit sesuai dengan Peraturan Bank Indonesia pada Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Tenggara. b). Quitioner Penullis membuat beberapa daftar pertanyaan sebagai bahan interview pada Komite Manajemen Risiko dan Unit Manajemen Risiko BPD Sulawesi Tenggara Daftar Quitioner :

Apakah

BPD Sulawesi Tenggara telah melakukan Penerapan

Manajemen Risiko Kredit sesuai dengan Peraturan Bank Indonesia ? Seberapa besar eksposur risiko kredit pada BPD Sul-Tra ? Mengapa risiko kredit merupakan risiko yang paling signifikan dari semua risiko yang menyebabkan kerugian potensial ? Apakah akses terhadap data sudah relevan, tepat waktu dan konsisten ? Seberapa efektif manajemen risiko yang telah diterapkan ? Seberapa besar tingkat keseimbangan antara risiko dan tingkat pengembalian yang diperoleh ? c). Internet.

39

Penulis melakukan pengumpulan data sebagian besar berasal dari internet (Penerapan Manajemen Risiko bagi Bank Umum). D. Metode Analisis Data. Menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif, yaitu menjelaskan mekanisme dan gambaran kegiatan operasional BPD Sul-Tra Cab. Kendari. E. Definisi Operasional Manajemen Risiko Kredit. Manajemen Risiko suatu proses pengidentifikasian, pengukuran, Merupakan

pemantauan, sistem informasi dan pengendalian risiko serta sistem pengendalian interen yang memberikan gambaran mengenai kemungkinan kerugian Bank di masa mendatang. Risiko

Merupakan suatu kejadian potensial, baik yang dapat diperkirakan maupun yang tidak dapat diperkirakan yang berdampak negatif terhadap Pendapatan dan Permodalan Bank. Risiko Kredit Adalah Risiko yang terjadi akibat kegagalan debitur, yang menyebabkan tak terpenuhinya kewajiban untuk membayar utang. Non Performing Loan (NPL) adalah kredit yang masuk ke dalam kualitas kredit kurang lancar, diragukan dan macet berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan oleh Bank Indonesia

40

41