Anda di halaman 1dari 45

0

USULAN PENELITIAN EFEKTIFITAS SERAI WANGI (Cymbopogon Nardus L), DAUN PARE (Momordica Charantia), DAN DAUN TOMAT (Solanum Lycopersicum) TERHADAP KEMATIAN JENTIK Aedes Aegypti

OLEH MARIA STELLA KLARISKA NAI NIM:1007014168

JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN DAN KESEHATAN KERJA FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS NUSA CENDANA KUPANG 2012

BAB I PENDAHULUAN

A Latar Belakang Upaya penanggulangan dan pemberantasan demam berdarah dengue (DBD) dititikberatkan pada pemberantasan nyamuk Aedes aegypti. Upaya penanggulangan diantaranya dengan pengendalian secara fisik, pengendalian secara biologi dan pengendalian secara kimia. Usaha pengendalian secara fisik dilakukan melalui kegiatan 3 M (menguras, menutup, dan mengubur) serta melalui kegiatan pemberantasan sarang nyamuk (PNS). Pengendalian secara biologi dilakukan melalui manipulasi vegetasi tempat istirahat dan perkembangbiakan nyamuk serta menggunakan predator alamiah untuk membunuh jentik dan nyamuk (Dinata, 2006). Pengendalian secara kimia di lakukan dengan menggunakan senyawa kimia baik sintetis maupun dengan menggunakan senyawa kimia nabati/botanik untuk membunuh jentik dengan cara di taburkan atau di masukan ke dalam tempat perkembangbiakan (Depkes, 2002). Pemberantasan jentik merupakan kunci strategi program pengendalian vektor di seluruh dunia. Penggunaan insektisida sebagai larvasida merupakan cara yang paling umum digunakan oleh masyarakat untuk mengendalikan pertumbuhan vektor tersebut (Dinata, 2008). Insektisida yang sering di gunakan dalam upaya pengendalian vektor yaitu jenis sintetis dan nabati, namun yang sering digunakan di Indonesia jenis sintetis, seperti abate. Jenis ini m u d a h d i d a p a t k a n d i b e r b a g a i t e m p a t , mengendalikan populasi

nyamuk secara efektif langsung di tempat perkembangbiakannya, sangat ekonomis karena dengan biaya terjangkau populasi nyamuk dapat

dikendalikan hingga 2 bulan, cepat menurunkan populasi nyamuk karena langsung membasmi jentiknya sehingga lebih banyak yang dapat dibasmi sebelum menjadi dewasa (Pangaribuan, 2012). Menurut Helen Murphy FNP-MHS dari Pacific Northwest Agriculture Safety & Health Center University of Washingtong, insektisida

organophospat

yang merupakan bahan baku pembuat abate dapat

menyebabkan kanker pada sejumlah bagian tubuh, seperti kanker otak, kanker paru, pankreas, leukimia, kanker prostat, kanker ovarium, kanker payudara, juga menyebabkan anak lebih rentan tiga kali menderita kanker dibandingkan orang dewasa. Selain kanker dapat juga menyebabkan keracunan pada sejumlah organ tubuh seperti, sakit kepala, lelah dan tremor merupakan gejala keracunan otak. Sesak napas, batuk dan nyeri pada dada merupakan gejala keracunan pada paru-paru. Sementara keracunan pada saluran pencernaan ditandai dengan diare, muntah dan kram pada perut selain itu menyebabkan resistensi pada vektor. Cara kerja OP kolinesterase yang terdapat dalam dengan menghambat enzim

sistem saraf.

Enzim ini menjadi

terfosforilasi (keracunan fosfor) ketika terikat dengan OP dan ikatannya bersifat tetap ( reversible). Penghambatan ini menyebabkan terkumpulnya asitelkolin pada sinaps ( bagian sel saraf) dan mengakibatkan kejang otot dan akhirnya menyebabkan kelumpuhan serta kematian pada jentik maupun serangga dewasa (Hasan, 2012). Penggunaan insektisida yang berulang dapat

menambah resiko kontaminasi residu dalam air, terutama air minum dan munculnya resistensi dari berbagai macam spesies nyamuk yang menjadi vektor penyakit (Daniel, 2006). Mencermati berbagai dampak maupun risiko penggunaan insektisida sintetis, maka perlu dicari cara lain yang lebih ekonomis, tidak menimbulkan dampak terhadap manusia, tetapi dapat bermanfaat untuk pemberantasan vektor. Oleh karena itu, penggunaan insektisida nabati atau botanik yang bersifat alamiah merupakan salah satu alternatif yang perlu dipertimbangkan (Nugroho, 2008). Insektisida nabati dalam pengendalian vektor umumnya dilakukan pada stadium jentik (larvasida). Sejak pertama kali dirintis oleh Champbell dan Sulivan pada tahun 1933, hingga kini telah banyak penelitian yang menguatkan bahwa bahan tanaman tertentu ternyata memiliki zat beracun bagi serangga. Jenis insektisida ini mudah terurai (biodegradable) di alam, sehingga tidak mencemarkan lingkungan dan relatif aman bagi manusia dan ternak, karena residunya akan terurai dan mudah hilang (Yulianti, 2007). Ada beberapa tanaman yang dapat di gunakan sebagai insektisida nabati antara lain serai wangi (Cymbopogon Nardus l), daun pare (Momordica Charantia), dan daun tomat (Solanum Lycopersicum.). Tanaman ini mudah diperoleh karena sangat dekat dengan kehidupan masyarakat, mudah dikembangkan karena tanaman ini dapat hidup di segala musim, dan mudah diekstraksi secara sederhana (Yulianti, 2007). Serai wangi (Cymbopogon nardus L) terutama pada bagian batang dan daun memiliki senyawa kimia berupa minyak atsiri yang di dalamnya terdapat

senyawa sitronela yang dapat di gunakan untuk membunuh serangga (Imansyah, 2006). Berdasarkan hasil penelitian Radja (2008) bahwa ekstrak serai wangi dengan dosis 12,5/500 ml efektif mematikan jentik Aedes aegypti sebesar 77,6 %. Daun tomat (Solanum Lycopersicum) dapat membunuh jentik (larva) nyamuk penyebab DBD. Hal ini karena daun tomat mengandung alkaloida (senyawa yang bisa bersifat racun dan menggagalkan proses metamorfosis) dan saponin (senyawa aktif yang bersifat seperti sabun). Senyawa itulah yang mampu membunuh jentik nyamuk DBD. Hasil percobaan menunjukkan ekstrak daun tomat dengan konsentrasi 0,2% mampu membunuh 8% larva A. aegepty. Ekstrak daun tomat 0,4% dapat mematikan 20% larva, konsentrasi 0,6% mematikan 40% larva, konsentrasi 1% mengakibatkan 80% larva mati, dan konsentrasi 3% mampu mematikan 99% larva Aedes aegepty (DINAS PPK dan UKM Pontianak, 2011). Tanaman pare (Momordica charantia) merupakan salah satu jenis tanaman yang juga dapat di gunakan sebagai insektisida nabati. Pare memiliki sifat kimia pahit dan dingin, selain itu daun pare juga berkhasiat sebagai penyubur rambut, batuk, kencing nanah, penyakit kulit, penambah ASI, demam nifas, hepatitis, malaria, penurun demam (Rahmat, 1997). Berdasarkan penelitian Heri dan Silfi (2005) diketahui bahwa daun pare dengan kandungan momordicinnya yang pahit dapat mematikan perkembangan nyamuk Aedes aegypti beserta jentiknya. Ekstrak daun pare juga mempunyai efek larvasida terhadap larva nyamuk. Senyawa yang diduga berfungsi sebagai larvasida

adalah saponin, flavonoid, triterpenoid, alkaloid dan minyak lemak. Ekstrak daun pare yang diberikan terhadap jentik beserta larva nyamuk di dalam bak air berhasil membunuh sebagian besar jentik dan larva. Dalam tempo satu hari, jumlah jentik dan larva berkurang signifikan. Hasil eksperimen laboratorium dengan memberikan berbagai dosis ekstrak daun pare (Momordica charantia), yaitu 350 ppm, 400 ppm, 450 ppm dan 500 ppm pada masing-masing bejana atau wadah yang berisi 25 ekor jentik Aedes aegypti. Setelah waktu kontak 24 jam dihitung jumlah jentik yang mati dan replikasi penelitian dilakukan 5 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase jentik yang mati pada dosis 350 ppm sebanyak 40 %, dosis 400 ppm sebanyak 75,2 %, dosis 450 ppm sebanyak 86,4 %, dan pada dosis 500 ppm sebanyak 100 %. Diantara berbagai dosis yang dicobakan dosis 500 ppm adalah dosis optimalnya (Agustine, 2011). Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti tertarik untuk meneliti masalah tersebut dengan judul Efektifitas Serai Wangi (Cymbopogon nardus L), Daun Pare (Momordica charantia) Dan Daun Tomat (Solanum Lycopersicum) Terhadap Kematian Jentik Aedes aegypti B Rumusan Masalah Berdasarkan uraian diatas maka penulis merumuskan permasalahan penelitian sebagai berikut: Bagaimanakah efektifitas serai wangi

(Cymbopogon nardus L), daun pare (Momordica charantia) dan daun tomat (Solanum Lycopersicum)) terhadap kematian jentik Aedes aegypti?

C Tujuan 1. Tujuan Umum Mengetahui efektifitas serai wangi (Cymbopogon nardus L), daun pare (Momordica charantia) dan daun tomat (Solanum Lycopersicum) terhadap kematian jentik Aedes aegypti 2. Tujuan Khusus a. Mengetahui daya bunuh ekstrak serai wangi (Cymbopogon nardus L), daun pare (Momordica charantia) dan daun tomat (Solanum Lycopersicum) terhadap kematian jentik Aedes aegypti b. Mengetahui perbedaan kematian larva Aedes aegypti dengan menggunakan berbagai dosis ekstrak serai wangi (Cymbopogon nardus L), daun pare (Momordica charantia) dan daun tomat (Solanum Lycopersicum) c. Mengetahui lama efek residu ekstrak serei wangi (Cymbopogon nardus L), daun pare (Momordica charantia) dan daun tomat (Solanum Lycopersicum) terhadap kematian jentik Aedes aegypti 3. Manfaat a. Bagi Dinas Kesehatan Bahan informasi dan pertimbangan bagi pemerintah untuk

mengembangkan ekstrak serai wangi (Cymbopogon nardus L), daun pare (Momordica charantia) dan daun tomat (Solanum Lycopersicum) sebagai salah satu jenis larvasida alami

b. Bagi Masyarakat Menambah informasi kepada masyarakat tentang pengendalian vektor dengan menggunakan larvasida alami c. Bagi Institusi Bahan refrensi untuk menambah sumber pustaka dan rujukan bagi peneliti yang akan datang d. Bagi Peneliti Menambah pengetahuan, pengalaman dan wawasan khususnya mengenai larvasida alami khususnya serai wangi (Cymbopogon nardus L), daun pare (Momordica charantia) dan daun tomat (Solanum Lycopersicum)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. NYAMUK Aedes aegypti 1. Klasifikasi nyamuk Aedes aegypti Menurut Sucipto (2011) susunan taksonomi nyamuk Aedes aegypti dapat diklasifikasikan sebagai berikut: Phylum : Arthropods. Klass : Hexapods (serangga) Ordo : Diptera. Subordo :Nematocera. Famili : Culicidae. Subfamili :Culicinae. Genus : Aedes. Spesies aegypti 2. Siklus Hidup Nyamuk Aedes aegypti Daur hidup nyamuk Aedes aegypti mulai dari telur hingga nyamuk dewasa memerlukan 7-10 hari, sama seperti nyamuk lainnya, hingga Aedes aegypti juga mengalami metamorfosis sempurna yang terdiri dari 4 stadium yaitu telur, jentik, kepompong, dan nyamuk dewasa (Depkes RI,1995) :Aedes

a. Telur Pada umumnya nyamuk ini bertelur di tempat-tempat yang mengandung air jernih pada tempat penampungan air. Satu betina dapat menghasilkan 60-100 butir telur. Ciri dari telur Aedes aegypti berbentuk lonjong, berwarna hitam, tidak mempunyai sirip dan alat pelampung serta posisi telur dalam air diletakan terpisah pada benda-benda terapung di air atau pada dinding bejana pada permukaan air (Depkes RI, 2006). Telur Aedes aegypti masih mampu bertahan di tempat yang kering antara 3 bulan sampai satu tahun. Telur tersebut menetas bila sudah mendapatkan lingkungan yang cocok, seperti pada musim hujan. Telur ini akan menetas setelah 3-4 jam setelah mendapat genangan air (Supartha, 2008). Telur dapat menetas setelah terkena air namun tidak semua telur menetas dalam waktu yang bersamaan. Stadium ini membutuhkan waktu 1-2 hari untuk menjadi jentik (Depkes RI, 2006). Jika tidak ada air maka telur akan tahan menunggu air selama 6 bulan. Ukuran rata-rata telur 0,8mm (Warta Nusantara, 2009).

10

Sumber: Supartha, 2010

Gambar 2.1. Telur Aedes aegypti ( Pembesaran 62,5 kali ) b. Jentik Jentik yang menetas akan tumbuh menjadi besar yang panjangnya 0,5 - 1 Cm. Jentik Aedes aegypti akan selalu bergerak aktif dalam air. Geraknya berulang-ulang dari bawah keatas permukaan air untuk bernafas. Pada waktu istirahat, posisinya hampir tegak lurus dengan permukaan air biasanya berada di dinding tempat penampungan air. Setelah 5-7 hari jentik akan berubah menjadi kepompong (Darling, 2008). Menurut sudjarno (2011), pada stadium ini kelangsungan hidup jentik dipengaruhi suhu, pH air, perindukan, ketersediaan makanan, cahaya, dan predator. Pada saat larva mengambil oksigen dari udara, jentik menempatkan siphonnya di permukaan air sehingga abdomennya terlihat menggantung pada permukaan air seolah-olah badan larva berada dalam posisi membentuk sudut dengan permukaan air. Jentik Aedes aegypti dapat hidup di air berpH 5,8 8,8 dan tahan terhadap air dengan kadar garam 10 59,5

11

mg/l. Jentik Aedes aegypti instar IV dalam kurun waktu lebih dari 2 hari berganti kulit dan tumbuh menjadi pupa. Menurut Kestina (1995), jentik nyamuk Aedes aegypti dapat hidup pada suhu 25C sampai dengan 35C. Suhu dapat mempengaruhi perkembangan jentik nyamuk, jentik tidak dapat berkembang secara normal pada suhu dibawah 10C. Menurut Depkes RI (1985), adapun ciri-ciri larva Aedes aegypti adalah : 1) Adanya corong udara pada segmen terakhir 2) Pada segmen-segmen abdomen tidak dijumpai adanya rambut rambut berbentuk kipas (Palmate hairs) 3) Pada corong udara terdapat pecten 4) Sepasang rambut serta jumbai pada corong udara (siphon) 5) Pada setiap sisi abdomen segmen kedelapan ada comb scale sebanyak 8 21 atau berjejer 1 3 6) Bentuk individu dari comb scale seperti duri 7) Pada sisi thorax terdapat duri yang panjang dengan bentuk kurvadan adanya sepasang rambut di kepala 8) Corong udara (siphon) dilengkapi pecten Menurut Heodjono (1993) jentik yang baru menetas masih kecil dengan ukuran panjang lebih kurang 1,5mm. Selama pertumbuhannya jentik mengalami 4 kali pelepasan kulit (moulting), tingkat pelepasan kulit ini di sebut dengan instar ( stadium 1,11,111,IV). Adapun perkembangan setiap instarnya:

12

1) Larva Instar I, berukuran kecil yaitu 1-2 mm atau 1-2 hari setelah telur menetas, duri-duri (spinae) pada dada belum jelas dan corong pada siphon pernapasan belum menghitam 2) Larva Instar II, berukuran 2,5-3,5 mm atau 2-3 hari setelah telur menetas, duri-duri dada belum jelas, corong pernapasan sudah mulai menghitam 3) Larva Instar III, berukuran 3-4 hari setelah telur menetas, duriduri dada mulai jelas dan corong pernapasan berwarna coklat kehitaman. 4) Larva Instar IV, berukuran paling besar yaitu 5-6 atau 4-6 hari setelah menetas, dengan warna gelap.

Sumber: purnama, 2010)

Gambar 2.2. Jentik Aedes aegypti (Pembesaran 4 kali )

13

c. Kepompong (pupa) Pupa hidupnya masih terdapat dalam air, pada tingkat ini tidak memerlukan makanan tetapi memerlukan udara, dimana

pengambilan oksigen dilakukan melalui siphon. Disini terjadi pembentukan sayap dan apabila cukup waktunya, nyamuk keluar dari kepompongnya dan dapat terbang. Stadium ini membutuhkan 1-2 hari untuk menjadi nyamuk dewasa. Ciri dari pupa nyamuk Aedes aegpti yaitu posisi sejajar dengan air , gerakannya lambat, berbentuk seperti koma, sering berda di permukaan air, bentuk shipon gemuk larva. Stadium keempat yang telah mengalami
pergantian kulit akan berubah menjadi pupa yang dapat mencapai ukuran 6 mm (Depkes RI, 2006).

Sumber:Purnama, 2010

Gambar 2.3. Kepompong Aedes aegypty (Pembesaran 10 kali) d. Nyamuk dewasa Perkembanganya nyamuk Aedes aegypti sangat dipengaruhi oleh suhu, pH dan ketersediaan makanan. Umur, nyamuk Aedes aegypti ini rata-rata 2 minggu tetapi sebagian di antaranya dapat hidup 2 3 bulan. Ciri-ciri nyamuk Aedes aegypti yaitu warnanya

14

coklat metalik dengan belang-belang putih, kaki putih dengan gelang-gelang putih pada bahunya serta ruas kaki yang berakhir dan pada kakinya belakang semuanya putih. Palpi nyamuk Aedes aegypti lebih pendek dari probosis, mempunyai skutelum 3 lobus dari antena, nyamuk jantan mempunyai buku lebih tebal dibandingkan nyamuk betina (Depkes RI, 1995). Setelah menetas nyamuk biasanya melakukan perkawinan yang terjadi pada waktu senja. Perkawinan hanya terjadi cukup satu kali, sebelum nyamuk betina pergi untuk menghisap darah. Nyamuk jantan umurnya lebih pendek dibandingkan nyamuk betina ( seminggu ). Nyamuk jantan selama hidupnya melakukan perkawinan hanya sekali, setelah itu mati. Umur nyamuk jantan kurang lebih dari satu minggu, sedangkan umur nyamuk betina kurang lebih dua minggu nyamuk jantan menghisap cairan buah buahan atau tumbuhan untuk keperluan hidupnya sedangkan nyamuk betina menhisap darah untuk pertumbuhan telurnya. Jarak terbang nyamuk betina tidak jauh dari tempat perindukannya sedangkan nyamuk betina dapat terbang sejauh 0,5 sampai 2 km
(Sudjarno,

2011).

15

Sumber: Gadis, 2012

Gambar 2.4. Nyamuk Aedes aegypti (Pembesaran 2,7 kali ) 3. Bionomik Nyamuk Aedes aegypt Menurut ulie (2009) bionomik vektor adalah tempat perindukan, kebiasaan menggigit, kebiasaan istirahat dan jarak terbang vektor : a. Tempat perindukan Tempat perindukan (Breeding place) utama adalah tempat-tempat penampungan air di dalam dan di sekitar rumah. Nyamuk Aedes aegypti berkembang biak pada genangan air yang lansung berhubungan dengan tanah. Tempat perindukan nyamuk dibedakan atas 3 yaitu: 1) Tempat Penampungan Air (TPA) Yaitu tempat-tempat untuk menampung air guna keperluan sehari-hari seperti drum, tempayan, bak mandi, ember, tangki air dan lain-lain. 2) Bukan tempat penampungan Yaitu tempat-tempat yang bisa menampung air tetapi bukan untuk keperluan sehari-hari seperti tempat minum hewan

16

piaraan (ayam dan burung), barang bekas, vas bunga dan perangkap semut. 3) Tempat penampungan air alam (alamiah/ Natural) Tempat penampungan alamiah ini seperti lubang pohon, lubang batu, pelepah, kulit kerang, tempurung kelapa dan potongan bambu 4) Kebiasaan menggigit dan mengisap Nyamuk Aedes aegypti jantan tidak menghisap darah tetapi hanya menghisap sari-sari tumbuhan, sedangkan nyamuk Aedes aegypti betina menghisap darah manusia dan binatang. Nyamuk Aedes aegypti betina bersifat anthropofilik, karenanya lebih menyukai arah manusia daripada darah binatang. Pada nyamuk Aedes aegypti, hanya nyamuk betina saja yang menggigit. Nyamuk tersebut mempunyai kebiasan tidak langsung menggigit, melainkan terbang dulu disekitar hospes beberapa kali kemudian baru menggigit. Nyamuk Aedes aegypti betina menghisap darah dengan tujuan mematangkan telur dalam tubuhnya. Nyamuk Aedes aegypti betina mempunyai kebiasaan menggigit beberapa orang secara bergantian dalam waktu singkat (multiple bites) disebabkan sifat sensitif yang dimilikinya, dimana keadaan ini sangat membantu dalam memindahkan virus dengue ke beberapa orang sekaligus. Nyamuk Aedes aegypti betina

17

biasanya menggigit di dalam rumah dengan aktivitas menggigit antara pukul 09.00-10.00 dan pukul 16.00-17.00. 5) Kebiasaan beristirahat. Nyamuk Aedes aegypti lebih suka beristirahat di tempat yang gelap, lembab dan tempat tersembunyi di dalam rumah/ bangunan termasuk tempat tidur, closet, kamar mandi, dan lainlain. Kebiasaan hinggap beristirahat lebih banyak di dalam rumah yaitu pada benda-benda yang bergantungan seperti baju dan tirai/ dinding (Depkes RI, 1985). 6) Jarak terbang nyamuk Pergerakan nyamuk dari tempat perindukan ke tempat mencari mangsa dan ke tempat istirahat di tentukan oleh kemampuan terbang, yaitu rata-rata 40-100 meter. Namun secara pasif misalnya karena angin nyamuk ini dapat berpindah lebih jauh. Untuk mempertahankan cadangan air dalam tubuh nyamuk dari penguapan oleh karena aktivitasnya maka jarak terbang

nyamuk terbatas, sehingga penyebaranya tidak jauh dari tempat perindukan, tempat mencari mangsa dan tempat istirahat terutama di daerah (Depkes RI, 1985).

18

B. Pengendalian Jentik Aedes aegypti Menurut Effendi (2008) pencegahan penyakit DBD sangat tergantung pada pengendalian vektornya, yaitu nyamuk Aedes aegypti. Pengendalian nyamuk tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa metode yang tepat, yaitu antara lain: 1. Pengendalian Terhadap Lingkungan Metode pengelolaan lingkungan untuk mengendalikan nyamuk tersebut antara lain dengan pemberantasan sarang nyamuk (PSN), pengelolaan sampah padat, modifikasi tempat perkembangbiakan nyamuk, dan perbaikan desain rumah. Sebagai contoh: menguras bak mandi/ penampungan air sekurang-kurangnya sekali seminggu, mengganti/ menguras vas bunga dan tempat minum burung seminggu sekali, menutup dengan rapat tempat penampungan air, mengubur kaleng-kaleng bekas, aki bekas, ban bekas di sekitar rumah, serta membersihkan talang dari genangan air hujan di atas rumah . 2. Pengendalian jentik secara kimia Pengendalian secara kimia dapat di kelompokan menurut sumber bahan kimia yang di peroleh , yaitu: a. Bahan kimia sintetis Penggunaan bahan-bahan kimia sintetis untuk membasmi jentik di kenal dengan larvasida jenis temephos atau abate. Penggunaan bahan kimia ini harus mempertimbangkan kerentanan terhadap

19

pestisida yang di gunakan, bisa di terima oleh masyarakat, aman terhadap manusia maupun organisme lainnya. b. Bahan kimia nabati/botanik Tumbuh-tumbuhan di sekitar kita dapat di gunakan sebagai senyawa kimia untuk membasmi dan mengendalikan populasi serangga terutama nyamuk dan juga jentik. Penggunaan bahan kimia nabati tidak berbahaya terhadap lingkungan dan vegetasi yang ada di dalamnya karena mudah terurai atau terdekomposisi serta tidak berdampak pada resisten bagi serangga (Imansyah, 2006). Selain itu bahan kimia nabati dapat di buat sendiri sehingga mengurangi biaya pembelian insektisida sintetis (Mahligai, 2012). Penggunaan bahan kimi nabati/ insektisida nabati daya tahannya singkat sehingga memerlukan frekwensi penggunaan yang lebih banyak dari bahan kimia sintetis, hal ini karena sifatnya mudah terurai di lingkungan sehingga harus sering di aplikasikan (Mahligai, 2012). Sejak pertama kali dirintis oleh Champbell dan Sulivan pada tahun 1933, hingga kini telah banyak penelitian yang menguatkan bahwa bahan tanaman tertentu ternyata memiliki zat beracun bagi serangga (Yulianti, 2007). Tumbuh-tumbuhan yang sering di pakai sebagai insektisida nabati seperti serei wangi, biji sirsak, akar tuba, daun sirih, daun pepaya (Imansyah, 2006).

20

3. Pengendalian secara biologi Berbeda dengan kedua cara diatas, pengendalian secara biologi menggunakan predator/ pemangsa sebagai musuh alami vektor seperti untuk jentik biasa menggunakan beberapa jenis ikan pemakan jentik sepereti ikan kepala timah dan ikan guppy atau ikan seribu. Dapat juga menggunakan jentik nyamuk lain sebaga predator hayati untuk jentik tertentu seperti jentik nyamuk Toxorhychites sebagai predator bagi nyamuk Aedes aegypti (Syahdan, 2006).
4. Pengendalian secara genetika

Pengendalian ini bertujuan mengganti populasi serangga yang berbahaya dengan populasi baru yang tidak merugikan yaitu dengan cara mengubah kemampuan reproduksi dengan jalan memandulkan serangga jantan. Pemandulan ini dapat dilakukan dengan

menggunakan bahan kimia seperti preparat TEPA atau dengan radiasi Cobalt 60, antimiotik, antimetabolit dan bazarone (ekstrak dari tanaman Aeorus calamus), kemudian serangga yang telah mandul ini diperbanyak lalu dilepaskan di alam bebas. Zat kimia atau radiasi itu merusak DNA di dalam kromosom sperma tanpa mengganggu proses pematangan ini disebut steril male technic release. Cara lain yaitu dengan radiasi yang dapat mengubah letak susunan dalam kromosom disebut chromosome translocation. Mengawinkan antar strain nyamuk dapat menyebabkan sitoplasma telur tidak dapat ditembus oleh sperma sehingga tidak terjadi pembuahan, disebut cytoplasmic incompatibility.

21

Mengawinkan serangga antar spesies yang terdekat akan mendapatkan keturunan jantan yang steril disebut hybrid sterility (Luhjingga, 2011). 5. Pengendalian Legislatif Pengendalian legislatif atau per Undang-undangan yaitu peraturan yang mengatur tentang pemberantasan Vektor atau nyamuk. di Provinsi Nusa Tenggara Timur yaitu melalui Peraturan Daerah (PERDA) No. 3 Tahun 2005, tentang Pemberantasan Nyamuk. C. Insektisida Nabati 1. Pengertian Insektisida nabati adalah insektisida yang di dapatkan dari tanaman (Sucipto, 2011). 2. Cara masuk Insektisida Menurut Djojosumarto (2008) cara masuk insektisida ke dalam tubuh serangga sasaran dibedakan menjadi 3 kelompok sebagai berikut : a. Racun lambung atau racun perut adalah insektisida - insektisida yang membunuh serangga sasaran bila insektisida tersebut masuk ke dalam organ pencernaan serangga dan diserap oleh dinding saluran pencernaan. Selanjutnya insektisida tersebut dibawa oleh cairan tubuh serangga ke tempat sasaran yang mematikan (misalnya ke susunan saraf serangga). Oleh karena itu, serangga harus terlebih dahulu memakan umpan yang sudah disemprot dengan insektisida dalam jumlah yang cukup untuk membunuhnya

22

b. Racun kontak adalah insektisida yang masuk ke dalam tubuh serangga lewat kulit (bersinggungan langsung). Serangga sasaran akan mati bila bersinggungan (kontak langsung) dengan insektisida tersebut. c. Racun pernapasan Racun pernapasan adalah insektisida yang bekerja lewat saluran pernapasan. Serangga sasaran akan mati bila menghirup insektisida dalam jumlah yang cukup. Kebanyakan racun pernapasan berupa gas atau bila asalnya padat atau cair yang segera berubah atau menghasilkan gas. 3. Keunggulan dan Kelemahan Insektisida Nabati Menurut (Mahligai, 2012) Penggunaan insektisida nabati memiliki keunggulan dan kelemahan yaitu sebagai berikut : a. Keunggulan 1) Insektisida nabati tidak atau hanya sedikit meninggalkan residu pada komponen lingkungan dan bahan makanan sehingga dianggap lebih aman dari pada insektisida sintetis/kimia 2) Zat pestisidik dalam insektisida nabati lebih cepat terurai di alam sehingga tidak menimbulkan resistensi pada sasaran 3) Dapat dibuat sendiri dengan cara yang sederhana 4) Bahan pembuat insektisida nabati dapat disediakan di sekitar rumah

23

5) Secara ekonomi tentunya akan mengurangi biaya pembelian insektisida sintetis. b. Kelemahan 1) Frekwensi penggunaan insektisida nabati lebih tinggi

dibandingkan dengan insektisida sintetis. Tingginya frekuensi penggunaan insektisida nabati adalah karena sifatnya yang mudah terurai di lingkungan sehingga harus lebih sering diaplikasikan 2) Insektisida nabati memiliki bahan aktif yang kompleks (multiple active ingredient) dan kadang kala tidak semua bahan aktif dapat dideteksi 3) Tanaman insektisida nabati yang sama, tetapi tumbuh di tempat yang berbeda, iklim berbeda, jenis tanah berbeda, umur tanaman berbeda, dan waktu panen yang berbeda mengakibatkan bahan aktifnya menjadi sangat bervariasi. D. Tanaman Insektisida Nabati Beberapa tanaman yang dapat di gunakan sebagai insektisida nabati, antara lain: 1. Serai Wangi (Cymbopogon nardus L) Serai wangi merupakan tumbuhan herbal menahun jenis rumputrumputan, dengan tinggi tanaman sekitar 50-100 cm. Memiliki daun kasar dan tajam, berbentuk tunggal berjumbai, panjang kurang lebih 1m dan lebar 1,5 cm. Batang tidak berkayu, berusuk-rusuk pendek dan

24

warna putih. Akar serabut dan di perbanyak dengan pemisahan tunas atau anakan (Santoso, 1992). Manfaat serai terutama batang dan daun sebagai bumbu masakan, minyak wangi, bahan pencampur jamu, dan dapat di buat minyak atsiri. Ramuan serai wangi dapat di manfaatkan sebagai pengusir

serangga (contoh: nyamuk sebagai vektor). Serai mengandung senyawa kimia yang alami, berbentuk padat dan berbau khas. Minyak atsiri yang merupakan produksi serai terdiri dari senyawa sitral, sitronela, geraniol, mirsena, nerol, farsenol methyl heptenon dan dipentena. Menurut imansyah dalam radja (2008) bahwa senyawa sitronela mempunya sifat racun (desiscant), racun ini seperti racun kontak yang dapat memberikan kematian pada serangga karena kehilangan cairan secara terus menerus. Menurut Santoso (1992) tanaman serai wangi dipanen agar tidak berdampak pada berkurangnya kadar geraniol dan sitronela yaitu saat tanaman memiliki enam daun tua sedangkan daun ketujuh masih menguncup. Pengeringan terlalu lama dapat berdampak pada menguapnya unsur-unsur yang mudah menguap dan terjadi oksidasi terhadap minyak sehingga kualitas minyak merosot. Serai wangi di buat dalam bentuk bubuk dengan cara di blender menurut cara yang sesuai, di luar pengaruh cahaya matahari. Penelitian ini menggunakan bagian tanaman serai wangi yaitu bagian batang dan daun.

25

Menurut Radja (2008) dosis efektif ekstrak serai wangi dengan kematian larva Aedes aegypti, instar IV sebesar 77,6% adalah 12,5 ml/500 ml. 2. Daun Pare (Momordica charantika) Tanaman pare (Momordica charantia) berasal dari kawasan Asia Tropis, tanaman ini memiliki banyak manfaat antara lain dapat merangsang nafsu makan, dapat menyembuhkan penyakit kuning, memperlancar pencernaan dan sebagai obat malaria. Selain dari semua yang ada diatas, penelitian yang pernah dilakukan membuktikan bahwa tanaman pare dapat membuat turunnya jumlah sperma pada tikus putih jantan, sehingga pare dapat dikatakan dapat menjadi obat KB alami bagi pria karena mengandung zat antifertilitas (Frendli, 2012). Daun pare dapat di gunakan sebagai larvasida alami, hal tersebut karena alkaloid yang terkandung di daun pare. Daun pare merupakan salah satu bagian yang mengandung alkaloid yang pahit yaitu momordicin, steroid, flavonoid, karotenoid, saponin, asam resinant, resin, vitamin A, B. C, serta minyak lemak yang terdiri dari asam olenant, asam streat. Fungsi senyawa alkaloid, triterpenoid, saponin, dan flavanoid dalam daun pare dapat menghambat daya makan larva. Cara kerja senyawa-senyawa tersebut adalah dengan bertindak sebagai racun perut. Karena itu, bila senyawa-senyawa ini masuk kedalam tubuh larva, alat pencernaannya akan terganggu. Selain itu senyawa ini

26

menghambat reseptor perasa pada daerah mulut larva. Hal ini mengakibatkan larva gagal mendapatkan stimulus rasa sehingga tidak mampu mengenali makanannya, akibatnya larva akan mati karena kelaparan (Silfiyanti, 2006). Ekstrak daun pare dengan konsentrasi 400 ppm didapat rata-rata jumlah larva Aedes sp yang mati 5,5 atau 55 %. Pada perlakuan 450 ppm rata-rata yang mati adalah 6,5 atau 65 %. Sedangkan pada perlakuan 500 ppm dan perlakuan IV jumlah larva yang mati adalah 7,75 atau 77,5 persen dan 8,25 (82,5%) (widiya, 2005). 3. Daun Tomat (Solanum Lycopersicum) Keistimewaan buah tomat adalah tingginya kandungan likopen. Selain memberikan warna merah pada buah tomat, likopen terbukti efektif sebagai zat antioksidan. Likopen juga dapat menurunkan risiko terkena kanker, terutama kanker prostat, lambung, tenggorokan, dan usus besar. Kandungan asam klorogenat dan asam p-kumarat di dalam tomat mampu melemahkan zat nitrosamin penyebab kanker. Vitamin A yang terkandung di dalam tomat sangat baik untuk kesehatan mata (Sutomo, 2008). Tomat juga banyak dimanfaatkan di dalam industri kecantikan, banyak masker dan pil anti penuaan yang berbahan dasar tomat. Bukan tanpa alasan, pigmen likopen memang terbukti efektif sebagai antioksidan. Zat lain seperti tomatin di dalam tomat bersifat sebagai antiinflamasi, yaitu dapat menyembuhkan luka dan jerawat. Tomat

27

juga mempunyai sifat antipiretik (penurun demam). Sementara serat yang tinggi di dalam tomat mampu mengatasi ganguan pencernaan seperti sembelit dan wasir (Sutomo, 2008). Selain manfaat di atas, tomat juga bisa dijadikan sebagai bioinsektisida untuk membunuh jentik nyamuk. Di dalam daun tomat terdapat senyawa alkaloida (senyawa yang bisa bersifat racun dan menggagalkan proses metamorfosis) dan saponin (senyawa aktif yang bersifat seperti sabun) yang dapat mematikan jentik nyamuk. Buah tomat mengandung alkaloid solanin (0,007%), saponin, asam folat, asam malat, asam sitrat, bioflavonoid (termasuk rutin), protein, lemak, gula (glukosa, fruktosa), adenin, trigonelin, kholin, tomatin, mineral (Ca, Mg, P, K, Na, Fe, sulfur, chlorine), vitamin (B1, B2, B6, C, E, likopen, niasin), dan histamin. Rutin dapat memperkuat dinding pembuluh darah kapiler. Klorin dan sulfur adalah trace element yang berkhasiat detoksikan. Klorin alamiah menstimulir kerja hati untuk membuang racun tubuh dan sulfur melindungi hati dari terjadinya sirosis hati dan penyakit hati lainnya. (Yulianti, 2007). Hasil percobaan menunjukkan ekstrak daun tomat dengan konsentrasi 0,2% mampu membunuh 8% larva A. aegepty. Ekstrak daun tomat 0,4% dapat mematikan 20% larva, konsentrasi 0,6% mematikan 40% larva, konsentrasi 1% mengakibatkan 80% larva mati, dan konsentrasi 3% mampu mematikan 99% larva A. aegepty. Dengan

28

demikian, daun tomat ternyata mengandung zat aktif yang berfungsi sebagai insektisida (Dinas PPK dan UKM Pontianak, 2011). E. Kerangka Konsep 1. Dasar Pemikiran Variabel Yang Diteliti Beberapa usaha dilakukan dalam upaya pengendalian jentik nyamuk sebagai penular penyakit di Indonesia. Salah satu upaya yang sering dilakukan yaitu menggunakan bahan kimia sintetis yakni abate. Penggunaan bahan-bahan kimia tersebut, di satu sisi sangat menguntungkan karena mampu membunuh vektor dalam waktu singkat. Namun bila di tinjau dari dari segi ekonomi sangat menelan biaya yang sangat besar serta membutuhkan tenaga yang terampil untuk mengaplisikasikannya. Penggunaan insektisida yang berulang juga dapat menambah resiko kontaminasi residu pestisida dalam air, terutama air minum. Untuk itu perlu di galakan upaya pengendalian dengan menggunakan bahan yang dapat meminimalisir terjadinya dampat baik terhadap manusia maupun lingkungan. Upaya yang sedang digalakan adalah penggunaan bahan kimia nabati sebagai cara yang lebih ekonomis, praktis serta aman bagi manusia, lingkungan dan serangga yang menjadi sarsaran. Insektisida nabati/botanik merupakan tanaman bersifat alamiah, mudah terurai, dan bebas dari bahan-bahan kimia sintetik (Imansyah, 2006). Tanaman yang dapat di gunakan yaitu tanaman serai wangi mengandung zat kimia sitronela, daun pare mengandung momordicin

29

dan Alkaloida dan daun tomat mengadung Alkaloida dan saponin. Kandungan kimia alamiah yang berbeda namun memiliki efek racun untuk membunuh serangga. Untuk mengetahui kemampuan ketiga tanaman tersebut sebagai insektisida nabati maka di lakukan penelitian terhadap jentik Aedes aegypti dan jentik Aedes aegypti yang di gunakan dalam penelitian ini yaitu jentik Aedes aegypti instar IV. 2. Kerangka Konsep Berdasarkan alur pikir yang di uraikan di atas, maka secara sederhana dapat di gambarkan kerangka konsep variabel yang di teliti seperti berikut:

30

Pengendalian terhadap lingkungan

a.

b.

Pemberantasan sarang nyakmuk (PSN) Gerakan 3 M -

Kimia Sintetis: 1. Abate(temephos) 2. Methoprene Pengendalian secara kimia Nabati / Botanik: 1. Serai Wangi (Cymbopogon nardus L) 2. Daun pare (Momordica charantia) 3. Daun tomat (Solanum Lycopersicum) 1. Lavender 2. zodia

Pengen dalian jentik Aedes aegypti

Kematian jentik Aedes aegypti Instar IV

Pengendalian secara biologi

Ikan predator(ikan kepala timah/ikan seribu) 1. Suhu air 2. pH air 3. Jenis air

Pengendalian secara legislatif

PERDA NTT No. 3 Tahun 2005, tentang Pemberantasan Nyamuk

31

Keterangan: :Variabel yang tidak di teliti :Variabel independen yang di teliti :Variabel dependen yang di teliti F. Hipotesis a. Ada daya bunuh ekstrak serai wangi (Cymbopogon nardus L), daun pare (Momordica charantia) dan daun tomat (Solanum Lycopersicum) terhadap jentik Aedes aegypti b. Ada perbedaan kematian larva Aedes aegypti dengan menggunakan ekstrak serai wangi (Cymbopogon nardus L), daun pare (Momordica charantia) dan daun tomat (Solanum Lycopersicum) c. Ada perbedaan efek residu antara ekstrak serai wangi (Cymbopogon nardus L), daun pare (Momordica charantia) dan daun tomat (Solanum Lycopersicum) terhadap kematian jentik Aedes aegypti

32

BAB 111 METODOLOGI PENELITIAN

A Jenis dan Rancangan Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen murni (experiment research) yaitu melihat efek dari ekstrak serai wangi (Cymbopogon nardus L), daun pare (Momordica charantia) dan daun tomat (Solanum Lycopersicum) sebagai biolarvasida terhadap kematian jentik Aedes aegypti instar IV sesuai dengan dosis dan waktu yang telah di tetapkan dengan rancangan pre dan post tes dengan kelompok kontrol. Pada penelitian ini subjek dibagi atas 2 kelompok, kelompok II di sebut kelompok perlakuan dan kelompok I di sebut kelompok kontrol (Notoatmodjo, 2002). P1 P2 P3 P4 Keterangan: P1=kontrol, P2= perlakuan serai wangi, P3=perlakuan daun pare, X1 X2 X3 X4 01:Sebagai kontrol 02:Dengan ekstrak serai wangi 03:Dengan ekstrak daun pare 04:Dengan ekstrak daun tomat

P4:perlakuan daun tomat, X1=kelompok jentik kontrol, X2=kelompok jentik mendapat perlakuan serai wangi, X3=kelompok jentik yang mendapat perlakuan daun pare, X4=kelompok jentik mendapat perlakuan daun tomat, 01:hasil observasi kelompok kontror, 02:hasil observasi kelompok perlakuan

33

serai wangi, 03=hasil observasi kelompok perlakuan daun pare, 04=hasil observasi kelompok perlakuan daun tomat. B Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini di lakukan di laboratorium Entomologi Jurusan KeslingPoliteknik Kesehatan Kupang. Waktu penelitian di lakukan pada bulan Agustus tahun 2012. C Populasi dan Sampel Penelitian 1. Populasi Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh jentik Aedes aegypti instar IV hasil pembiakan telur Aedes aegypti di laboratorium Entomologi KeslingPoliteknik Kesehatan Kupang dan hasil penangkapan jentik Aedes aegypti pada kontainer yang terdapat Aedes aegypti. 2. Sampel Jumlah sampel setiap wadah perlakuan adalah 15 ekor jentik Aedes aegypti instar IV. Sedangkan banyaknya replikasi pada setiap perlakuan sebanyak 3 kali pengulangan, jumlah jentik Aedes aegypti . 3. Kontrol Jumlah kontrol setiap kelompok adalah 15 jentik Aedes aegypti instar IV pada setiap pengulangan yang tidak dilakukan perlakuan.

34

D Definisi Operasional Definifi operasional variabel-variabel yang di teliti dalam penelitian ini: No 1 Variabel Ekstrak serai wangi Definisi Operasional Sediaan berbentuk cairan yang di hasilkan dari olahan batang dan daun serai yang di haluskan dan di campur dengan air kemudian disaring untuk mendapatkan ekstraknya Sediaan berbentuk cairan yang di hasilkan dari daun pare yang di haluskan dan di m campur dengan aquades kemudian disaring untuk mendapatkan ekstraknya Sediaan berbentuk cairan yang di hasilkan dari olahan daun tomat yang di haluskan dan di campur dengan air kemudian disaring untuk mendapatkan ekstraknya Banyaknya ekstrak insektisida nabati yang di masukan kedalam air tempat hidupnya jentik untuk membunuh jentik yang ada Kemampuan ekstrak serai wangi (Cymbopogon nardus L), daun pare (Momordica charantia) dan daun tomat (Solanum Lycopersicum) dalam membunuh jentik Aedes aegypti sebanyak-banyaknya pada tiap-tiap dosis yang telah di tetapkan Lama waktu yang di butuhkan oleh ekstrak serai wangi (Cymbopogon nardus L), daun pare (Momordica charantia) dan daun tomat (Solanum Lycopersicum) dalam membunuh jentik Aedes aegypti dalam waktu 24 jam beserta waktu pengulangan percobaan Kemampuan insektisida nabati dalam membunuh jentik Aedes aegypti sesuai dosis yang telah di tetapkan setelah pemaparan selama Kriteria objektif Dosis :10ml, 20 ml, 25 ml dan 35 ml Skala Ordinal

Ekstrak daun pare

Dosis :10ml, 20 ml, 25 ml dan 35 ml

Ordinal

Ekstrak daun tomat

Dosis :10ml, 20 ml, 25 ml dan 35 ml

Ordinal

Dosis

Efektivitas

Jika jumlah kematian Rasio jentik pada satu jenis ekstrat berdasarkan dosis yang telah di tetapkan melebihi jenis ekstrat lainnya

Efek residu

Hari ke 1 sampai hari ke Interval n

Daya Bunuh

a. Hidup b. Mati

Nominal

35

Kematian jentik

waktu maksimal 24 jam Jumlah jentik yang mati setelah terpapar oleh insektisida nabati

E Bahan, Alat dan Cara Pengukuran 1. Bahan dan Alat Dalam Penelitian Peralatan dan bahan-bahan yang di gunakan dalam penelitian ini adalah: a. Timbangan analitik b. Daun pare, Daun tomat dan Serai wangi c. Blender d. Gelas ukur e. Baskom f. Ember g. Air dan aguades h. Pipet jentik i. Pipet volume j. Senter k. Kertas saringan l. Thermometer dan pH meter m. Mikroskop n. Spidol o. Kertas label p. Timer q. Jentik Aedes aegypti

36

2. Tahap- tahapan Dalam Penelitian Penelitian ini terbagi dalam 4 tahap secara berurutan sebagai berikut: a. Kolonisasi Larva 1) Menangkap nyamuk Aedes aegypti betina dalam kondisi penuh darah 2) Nyamuk betina dalam kondisi penuh darah di masukan kedalam kurungan (drop net). 3) Nyamuk dewasa yang teridentifikasi Aedes aegypti, diberikan makan larutan fisiologis 10% dengan menggunakan kapas 4) Masukan pula air dalam gelas dengan volume setengah dari volume gelas dimana dinding gelas di tempel kertas saring yang berfungsi untuk menempelnya telur dari nyamuk Aedes aegypti 5) Masukan gelas tersebut kedalam kurungan nyamuk/ drop net 6) Untuk penetasan telur, kertas saring tersebut dicelupkan ke dalam wadah yang berisi air 7) Biarkan selama 24-48 jam ( waktu penetasan) 8) Jentik dibiarkan hingga pada instar yang di butuhkan b. Pembuatan sediaan Bubuk Insektisida 1. Serai Wangi a) Daun dan batang serei diambil sesuai kebutuhan di cuci lalu ditiriskan hingga kering, kemudian di potong kecil-kecil (1cm), di masukan kedalam blender dan di tambahkan aquades secukupnya (50-100ml), kemudian di blender sampai halus

37

b) Hasil blenderan di tambahkan aquades hingga volume total yang di gunakan 250 ml dan di rendam selama satu malam c) Rendaman tersebut disaring, hasil saringan di masuk ke dalam wadah 2. Ekstrat Daun Pare a) Ambil daun pare yang masih segar secukupnya b) Timbang daun pare sesuai kebutuhan c) Daun pare yang sudah di timbang di haluskan/di blender dan di larutkan di dalam air bersih sebanyak 250 ml d) Larutan tersebut di saring dan ampasnya di buang e) Larutan yang telah di saring di tampung dalam wadah 3. Ekstrat Daun Tomat a) Ambil daun tomat yang masih segar secukupnya b) timbang daun tomat sesuai kebutuhan c) Daun tomat yang sudah di timbang di haluskan dan di larutkan di dalam air bersih sebanyak 250 ml d) Larutan tersebut di saring dan ampasnya di buang e) Larutan yang telah di saring di tampung dalam wadah c. Prosedur perlakuan /percobaan penelitian 1) Memberikan tanda pada gelas ukur sehingga dapat membedakan kontrol dan perlakuan 2) Gelas ukur sebanyak 37 buah, masing-masing disi air sebanyak 250 ml

38

3) Masukan jentik Aedes aegypti instar IV ke dalam gelas masingmasing 15 ekor 4) Ukur suhu dan pH air 5) Masukan cairan insektisida kedalam 37 buah gelas ukur dengan dosis masing-masing 10ml, 20ml, 25ml dan 35ml per per 250ml air. Untuk gelas kontrol tidak di tambahkan bubuk insektisida.

Ekstrak daun toman, daun serai dan daun pare

10ml

20ml

25ml

35 ml

Kontrol

15 ekor

15 ekor

15 ekor

15 ekor

15 ekor

250 ml

250ml

250 ml

250 ml

250 ml

6) Ukur pH air dan amati banyaknya jentik yang mati setelah 1 jam, 2 jam, 3 jam, 6 jam dan 24 jam 7) Pengulangan percobaan di lakukan sebanyak tiga kali d. Prosedur pengamatan percobaan kedua (efek residu) 1) Mengamati dan membandingkan kematian jentik Aedes aegypti setiap hari setelah 24 jam pada setiap tingkatan dosis perlakuan

39

2) Mencatat efek toksisitas bubuk nabati terhadap jentik Aedes aegypti setiap hari setelah 24 jam pada tiap variasi dosis dan pengulangan 3) Menguji hasil pengamatan dengan uji statistik yang sesuai untuk menetapkan dosis yang memiliki tingkat efek residu paling baik F Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini, yaitu: 1. Data primer adalah data dari proses dan hasil penelitian di labopratorium yaitu berbagai dosis yang telah di tetapkan, jumlah jentik instar IV, menghitung jumlah jentik mati pada setiap pengulangan perlakuan, menghitung lama waktu efektif bubuk insektisida nabati. 2. Data sekunder adalah data yang di peroleh dari studi referensi yang sesuai, referensi penelitian terdahulu dan informasi dari instansi. G Analisa data Data yang telah terkumpul kemudian dilakukan editing, coding dan entri data. Kemudian di lakukan analisis data sesuai dengan kebutuhan penelitian menggunakan komputerisasi dengan dengan uji statistik yaitu anova satu arah untuk melihat ada tidaknya perbedaan antara dosis perlakuan bubuk nabati di lanjutkan dengan Uji LSD untuk melihat seberapa besarnya perbedaan antara dosis perlakuan bubuk nabati.

40

DAFTAR PUSTAKA

Agustine, Etarina. 2010. Pengaruh Pemberian Berbagai Dosis Ekstrak Daun Pare (Momordica Charantia) Terhadap Kematian Jentik Nyamuk Aedes Aegypti. Fakultas Kesehatan Masyarakat UNAIR: Surabaya. http://adln.fkm.unair.ac.id Depkes RI. 1992. Menggerakan Masyarakat Dalam Pemberantasan Sarang Nyamuk Demama Berdarah Dengue. Depkes RI: Jakarta . 1995. Pedoman Survei Entomologi Demam Berdarah Dengue.Cet. kedua, Jakarta . 2002. Pedoman Survei Entomologi Demam Berdarah Dengue. Ditjen PPM-PL :Jakarta . 2006. Profil Kesehatan Indonesia 2004. Ditjen PPM-PL: Jakarta . 1985. Pemberantasan Serangga Dan Binatang Pengganggu Ditjen PPM-PL.: Jakarta Dinata, Arda. 2006. Pengendalian Terpadu Nyamuk Demam Berdarah. http:www.litbang.depkes go.id (17 Juli 2012 )
Darling . 2008. Demam Berdarah Dengue .www.scribd.com (19 juli 2012)

41

Dinas PPK dan UKM. 2011. Daun Tomat Efektif Basmi Larva Nyamuk Demam Berdarah. http://www.ukmptk.com (21 juli 2012)

Daniel. 2008. Ketika Larva dan Nyamuk Dewasa Sudah Kebal Terhadap Insektisida . FARMACIA Vol.7 No.7 Effendi, Acep. 2008. Upaya Penanggulangan Penyakit Demam Berdarah Dengue. Dinas Kesehatan Provinsi NTT : Kupang Frendlii. 2012. Pare dan Manfaatnya. http://frendli.multiply.com (30 juli 2012) Hasyimi, M. dkk. 1999. Dampak Penggunaan Ovitrap Yang Di Bubuhi Temephos Terhadap Angka Larva Nyamuk Aedes aegypti. Medika Litbang Kesehatan Vol.IX No.4 Tahun 2000. Jakarta : Puslit Ekologi Kesehatan, Badan Litbang Kesehatan Hoedjono. 1993. Vektor DBD dan upaya penanggulangannya, majalah Parasitologi Indonesia 6:31-45 Hasan, Muhammad. 2012. Akhir Era Abatesasi. http ://www.Tribun-Timur.com (19 Juli 2012) Imansyah. 2006. Pengusir Nyamuk Alamiah. http ://www.mail-archive.com (21 Juli 2012) Luhjingga, Adelia . 2011. Upaya Pengendalian DBD. http://jinggadelia.community.undip.ac.id (17 Juli 2012 ) Mahligai. 2012. Kajian Tentang Insektisida. htttp.www.scribd.com (17 Juli 2012)

42

Nugroho, H. Bayu. 2008. Pengaruh Pemberian Ekstrak Buah Tomat (Solanum licopercium L) terhadap Jumlah Kematian Larva Anopheles aconitus. http://www.unissula.ac.id (21 juli 2012) Notoadmodjo, Soekidjo. 2002. Metodologi penelitian kesehatan, Ed. Revisis. Jakarta : Rhineka cipta Peangaribuan . 2011. ABATE.www.deposafety.com (19 Juli 2012) Panut, Djojosumarto. 2008. Teknik Aplikasi Pestisida Pertanian. Kanisisus : Yogyakarta Pemerintah Provinsi NTT. 2005. Peraturan daerah nomor 03 tentang pemberantasan nyamuk, kupang Purnama, S.G. 2010. Pengendalian Vektor DBD. UDAYANA : Denpasar Rammat. 1999. Budidaya Pare. Kanisius: Yogyakarya Radja isak, 2008. Pengaruh Ekstrat Serai Wangi Dan Ekstrat Biji Sirsak Terhadap Kematian Larva Nyamuk Aedes Terhadap Kematian Larva Aedes Aegypti. Skripsi tidak di terbitkan. I kupang:FKM Undana Sahdan, Mustakim 2006. Analisis Predasi Larva Nyamuk Toxorhynchites Spelandens Sebagai Jasad Pengendali Hayati Terhadp Larva Aedes Egypti (Vektor Demam Berdarah Dengue), tesis tidak di terbitkan. Makasar : program pascasarjana UNHAS

43

Santoso, H.B. 1992. Serai Wangi, Bertanam dan Penyulingan. Kanisius: Yogyakarta Supartha,I. 2008. Pengendalian Terpadu Vektor Virus Demam Berdarah Dengue, Aedes aegypti dan Aedes albopictus . http://dies.unud.ac.id (3 agustus 30 Juli 2012) Sutomo, Budi. 2008. Menguak Manfaat Tomat. http://budiboga.blogspot.com. (19 Juli 2012) Sudjarno, Ichsan. 2011. Morfologi Nyamuk Aedes Aegypti. http:Sanitasisurveilans.blogspot.com (30 Juli 2012 ) Sucipto, C.D. 2011. Vektor Penyakit Tropis. Gosyen Publishing: Yogyakarta Silfiyanti,E dan Kristianto.H. 2006. Pengantar Ekstrak Daun Pare Momordica charantia) Dalam Menghambat Pertumbuhan nyamuk Aedes aegypti. Malang: LIPI Ulie. 2010. Aedes Aegypt. http://kireyellow.blogspot.com (30 Juli 2012) Yulianti, Novita, 2007. Ekstrak Tomat untuk Basmi Larva Nyamuk. Semarang: FKM Unnes Di dalam Izmail, Djhio. 2007. Pembuatan Abate Alamiah Dari Ekstrak Tomat (Solanum lycopersicum L).

Wartanusantara. 2010. Ciri-ciri Nyamuk Aedes Aegypti. http://wartanusantara.blogspot.com ( 30 Juli 2012)

44