Anda di halaman 1dari 5

Hubungan Ekonomi Jepang Malaysia

Hubungan ekonomi Jepang-Malaysia telah berkembang dengan pesat. Namun demikian, hubungan Jepang-Malaysia menjadi sebuah kepedulian dari kedua negara, khususnya Malaysia, ketika mereka memformulasikan kebijakan-kebijakan pembangunan industri dan luar negeri. Dalam tulisan ini menelaah perkembangan mutakhir dari hubungan Jepang-Malaysia (yang difokuskan pada perdagangan luar negeri, investasi, dan bantuan pembangunan) dan meramalkan kemungkinan perkembangannya menuju abad ke-duapuluh satu.
Perdagangan Luar Negeri

Jepang selama ini telah menjadi bangsa yang miskin sumber daya dari semua negaranegara industri. Kebanyakan sumber daya industrial dan pertaniannya harus diimpor dari luar negeri. Sedangkan Malaysia selama ini merupakan sebuah negeri yang kaya akan sumber daya serta ekspornya dalam bentuk timah, minyak bumi (mentah atau telah diolah sebagian), minyak tumbuh-tumbuhan (mentah, sudah diolah, dan dimurnikan), kayu, dan karet alam serta lateks ke Jepang selama ini begitu menjanjikan. Malaysia mendapatkan surplus perdagangan dengan Jepang dalam tahun 1976-1980. Namun demikian, dalam tahun 1981-1983, Malaysia megalami defisit perdagangan dengan Jepang. Pada dasarnya ini disebabkan oleh dua alasan: (a) Hargaharga komoditi anjlok yang tiba-tiba sangat mempengaruhi ekspor Malaysia ke Jepang dan (b)meningkatkan kebutuhan akan impor dari Jepang, khususnya untuk produk-produk kimia dan industry berat.1 Dapat dikatakan bahwa hubungan perdagangan Jepang-Malaysia selama ini merupakan hal yang kritis, yakni ekspor manufaktur (khususnya produk-produk kimia dan industri berat) serta impor bahan-bahan mentah (kayu dan bahan-bahan bakar fosil, misalnya minyak mentah dan gas alam cair). Kendati adanya kenyataan bahwa hubungan perdagangan antara Jepang dan negara-negara industrialisasi baru (NIE) telah bergeser dari vertikal menuju horizontal, namun ekspor barang-barang hasil manufaktur Malaysia ke Jepang merosot dari US$ 467,5 juta dalam tahun 1984 (10,6 persen dari total impor Jepang ke Malaysia) menjadi US$ 466,1 juta (9,9 persen) dalam tahun 1998.2 Menuju abad keduapuluh satu, hubungan perdagangan vertical
1 2

Lim Hua Sing. Peranan Jepang di Asia. (Jakarta:PT Gramedia Pustaka Utama, 2001),hlm.37. Ibid.hlm.39.

Jepang-Malaysia tampaknya tidak akan berubah dengan cepat. Malaysia akan terus merestruktrisasi menuju aktivitas-aktivitas yang padat modal dan teknologi yang membutuhkan aliran masuk industry-industri yang padat modal dan teknologi, serta impor produk-produk modal dan menengah dalam jumlah besar dari Jepang. Karena yen dan aliran masuk FDI (penanaman modal asing langsung) yang lebih kuat dari Jepang dan NIE, maka ekspor barangbarang hasil manufaktur, khususnya permesinan dan peralatan (khususnya permesina elektrikal), dan barang-barang kimia ke Jepang juga diharapkan meningkat namun demikian, peningkatan itu tampaknya tidak akan sangat signifikan, karena negara-negara industri baru yang lebih maju dalam bidang-bidang ini, secara tertentu juga telah memasuki pasaran Jepang. Negara-negara industri baru itu akan menjadi pesaing kuat ketimbang Malaysia. Maka dari itu, tingkat ekspor barang-barang hasil manufaktur Malaysia sangat tergantung tidak hanya pada keterbukaan pasar Jepang, tetapi juga pada keberhasilan industrialisasi di Malaysia dalam beberapa tahun mendatang.
Investasi

Jepang telah menjadi salah satu investor yang paling penting di Malaysia. Malaysia telah menarik usaha dari para investor Jepang untuk melakukan ekspansi bisnis di Malaysia. Investasi Jepang (berdasarkan modal yang disetor) di Malaysia telah meningkat dari M$32,6 juta pada tahun 1980 menjadi M$69,1 juta dalam tahun 1981 dan kemudian menjadi M$139,9 juta (hampir 26,5 persen dari seluruh investasi asing langsung di Malaysia) dalam tahun 1982. Dengan kata lain, jumlah total masing-masing investasi Jepana di Malaysia telah meningkat dalam jumlah besar pada awal tahun 1980-an.3 Investasi Jepang dalam sektor manufaktur Malaysia telah dipertahankan pada tingkat 41 sampai 91 persen selama periode tahun 1985-1992. FDI Jepang di kantor-kantor cabang dan real estat di Malaysia sama sekali di abaikan. FDI jepang di Malaysia sedang bergeser secara mentah dari padat karya ke padat modal dan teknologi. Karena biayabiaya operasi yang lebih tinggi, semakin banyak wiraswastawan Jepang yang lebih menyukai Malaysia ketimbang NIE (negara-negara industry baru) bila mereka mau menanamkan modal di Asia.

Ibid.hlm.41.

FDI Jepang di Malaysia tampaknya akan mengalami beberapa perubahan nyata yang dapat diperhatikan. Pertama, FDI Jepang akan terus mendapatkan momentumnya dalam dorongan investasi di Malaysia. Dari sisi Malaysia , membaiknya infrastruktur industri dan sosial, meluasnya pasar-pasar domestik berkat daya beli yang makin tinggi, perbaikan dan perkembangan sumber daya tenaga kerja, melimpahnya bahan-bahan mentah pertanian dan industry, serta kebijakan-kebijakan pemerintah yang suportif bagi percepatan perkembangan industri, dan sebagainya, kesemuannya merupakan faktor-faktor penarik yang penting. Meskipun demikian, dari sisi Jepang, apresiasi yen yang fenomenal, biaya-biaya operasi yang tinggi, friksifriksi perdagangan dan konfllik-konflik ekonomi dengan Barat serta meningkatnya kompetisi dari negara-negara industri baru, dan sebagainya merupakan faktor-faktor yang penting bagi Jepang untuk menanamkan modalnya di Malaysia. Kedua, dibandingkan dengan negara-negara industry baru (NIE), Malaysia akan menjadi lebih menarik khususnya bagi industry-industri yang padat karya. Biaya-biaya operasi di negara-negara industri baru menjadi semakin mahal karena adanya perselisihan perburuhan dan naiknya upah, restrukturisasi industri dan penyesuaian kembali kurs yang terus berlanjut. Ketiga, FDI Jepang dalam sektor non-manufaktur Malaysia tampaknya akan meningkat dengan kecepatan lebih tinggi daripada sektor manufaktur menjelang abad keduapuluh satu, kendati adanya kenyataan bahwa menjelang akhir Maret 1989 investasi kumulatif Malaysia sebesar dua kali lipat dari investasi di sektor non-manufaktur. Menjelang abad keduapuluh satu, tanpa diragukan lagi, porporsi dari FDI Jepang dalam sektor manufaktur Malaysia akan terus lebih besar ketimbang dalam sektor non-manufaktur. Keempat, FDI Jepang di Malaysia akan bergeser menuju sektor-sektor yang padat modal dan teknologi dalam dasawarsa mendatang sejalan dengan usaha-usaha Malaysia untuk menjadi sebuah negara industri baru (NIE) dalam abad keduapuluh satu. Bantuan Pembangunan Bantuan ekonomi dari luar negeri, khususnya dari Jepang, telah menjadi sumber yang penting untuk membiayai proyek-proyek industri dan untuk mengembangkan sumber daya manusia di Malaysia. Statistik-statistik mutakhir menyatakan bahwa dalam tahun 1990, total bantuan pembangunan resmi (ODA) bilateral dari Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan

Pembangunan (OECD) yang diterima oleh Malaysia mencapai sebanyak US$468,8 juta.4 Selama periode 1986-1991, Jepang, Australia, dan Inggris merupakan pemasok ODA terbesar di antara para anggota OECD. Pencairan ODA dibagi menjadi hibah (bantuan hibah dan kerjasama teknis) dan bantuan pinjaman. Di antara hibah-hibah, jumlah total hibah jauh lebih sedikit ketimbang bantuan pinjaman. Bantuan pinjaman itu merupakan yang paling penting dalam pencairan ODA Jepang ke Malaysia pada tahun 1992-1991 (kecuali pada tahun 1986, dan 1988-1989). Kesimpulan Hubungan ekonomi jepang-Malaysia merupakan hubungan pemberian modal oleh jepang yang ditukar oleh sumber daya alam di Malaysia. Jepang juga menjanjikan agar lebih banyak warga malaysia untuk mendapatkan pelatihan dan pendidikan di Jepang. FDI dan bantuan Jepang dalam jumlah yang besar telah dituangkan ke dalam proyek-proyek pembangunan industri berat Malaysia, di mana beberapa di antaranya telah mengalami beberapa persolan serius dalam beberapa tahun terakhir ini. Baiknya Jepang memiliki konsistensi dalam mengimplementasikan secara efektif melalui kebijakan Berpaling ke-timur Malaysia ini.

Daftar Pustaka Bacaan dan Buku Rujukan : Irsan, Abdul. 2005. Jepang: Politik Domestik, Global, dan Regional. Makassar: Hasanuddin University Press Sing, Lim Hua. 2001. Peranan Jepang di Asia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama -

Ibid.hlm.49

Hubungan Ekonomi Jepang Malaysia

Nama kelompok :

Apriangga Fitrialdy Lesmana Arom Abdun Nafi Diah Ayu Wulandari Rahmi Hidayati Sinta Mustika Andryani

1002045124 1002045109 1002045133 1002045120 1002045140

Universitas Mulawarman Fakultas Ilmu Sosial dan Politik 2012