Anda di halaman 1dari 31

BAB I PENDAHULUAN

Pemeriksaan foto kepala atau skull rontgen merupakan pemeriksaan radiografi yang relatif perlu diperhatikan, selain karena anatomi dari skull yang kompleks serta bentuk wajah dan variasi anatomis pada setiap orang berlainan, immobilisasi maksimal juga sangat dibutuhkan untuk mendapatkan gambar radiograf skull yang berkualitas. Secara garis besar pemeriksaan skull dapat dipisahkan menjadi pemeriksaan tengkorak (skull), sinus, nasal bones, facial bones, orbita, zygoma dan mandibula. Untuk pemeriksaan skull banyak memiliki variasi proyeksi yang digunakan, hal ini bertujuan untuk mendapatkan spesialisasi dan karakter gambaran radiograf yang berbeda dari masing-masing anatomi skull (1). Foto kepala atau skull rontgen biasanya dilakukan pada pasien post trauma, perdarahan lewat telinga, benjolan di kepala, sakit kepala yang menetap, sakit telinga, dan diduga ada metastase tumor (1). Foto kepala jarang dilakukan pada pasien dengan penyakit susunan syaraf pusat kecuali terdapat bukti jelas adanya suatu kelainan saraf cranialis atau bukti klinis adanya peningkatan tekanan intracranial (2). Sebelum melakukan foto kepala, perlu dilakukan pemeriksaan klinis yang teliti terlebih dahulu. Karena akan membantu memperoleh foto yang benar dan menghubungkan antara kelainan klinis dan kelainan radiologis. Foto kepala itu sulit untuk diinterpretasikan secara radiologis, biarkan foto sinar-x membantu, tetapi jangan MENGGANTIKAN keputusan klinis (2).

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1.Anatomi Kepala Skull atau tengkorak membentuk rangka kepala dan muka, termasuk pula mandibula, yaitu tulang rahang bawah. Tengkorak terdiri atas 22 tulang (atau 28 tulang termasuk tulang telinga), dan ditambah lagi 2 atau lebih tulang-tulang rawan hidung yang menyempurnakan bagian anteroinferior dari dinding-dinding lateralis dan septum hidung (nasal).(6) Adapun pembagiannya dapat di gambarkan sebagai berikut : 1. 8 buah tulang tengkorak (cranial bones) Tulang tulang yang berfungsi melindungi otak (gubah otak), terdiri dari : 1 os. Frontal 2 os. Parietal 1 os. Occipital 1 os. Ethmoid 1 os. Sphenoid 2 os. Temporal

2 Os. Maleus 2 Os. Inkus os. telinga 2 Os. Stapes . (6) 2. 14 tulang rangka muka (facial bones) Berfungsi memberi bentuk, struktur pada wajah serta menyokong tulangtulang di dalam wajah, Melindungi bagian tepi atas sistem pernafasan dan saluran pencernaan, bersama-sama cranial membentuk lengkung mata (eye sockets), tediri dari : 2 os. maxillary bones 2 os. nasal 2 os. lacrimal 2 os. zygoma (malar) 2 os. palatine
2

2 os. inferior nasal conchae 1 os. vomer 1 os. Mandibula.(6)

2.2.Landmark dan baseline dalam pemeriksaan foto kepala Landmark merupakan suatu tanda yang berada di daerah tubuh yang digunakan untuk membantu dalam suatu pemeriksaan. Saat memposisikan kepala pasien, harus diperhatikan bentuk wajah dan variasi anatomis landmark untuk dapat menentukan bidang yang akan digunakan setepat mungkin disesuaikan dengan posisi kaset. Telinga, hidung, dan dagu bukanlah patokan yang tepat. bagian tubuh seperti mastoid dan orbital margin merupakan landmark yang tepat (1).
3

Sedangkan baseline merupakan suatu garis khayal pada daerah tubuh yang juga digunakan untuk membantu dalam suatu pemeriksaan. Pada penjelaasan berikut akan dijelaskan beberapa landmark dan baseline yang ada di kepala yang sering digunakan dalam pemeriksaan radiografi (1). a. Landmark 1. Vertex Suatu titik yang berada pada pertengahan MSP kepala pada tulang parietal 2. Glabella Suatu titik yang berada pada MSP sejajar dengan kedua alis mata pada tulang frontal 3. Nasion Suatu titik yang berada pada MSP setinggi kedua mata 4. Acanthio Suatu titik yang berada pada MSP di antara lubang hidung dan bibir 5. Infra Orbital Point Suatu titik yang berada di bawah dari orbita 6. Outer Canthus of Eye Suatu titik yang berada pada lateral dari orbita 7. Inner Canthus of Eye Suatu titik yang berada pada medial dari orbita 8. Mental Suatu titik yang berada pada MSP di bawah bibir
4

9. External Meatus Acusticus Ekternus (MAE) Suatu titik yang berada tepat di lubang telinga

b. Baseline

1. Glabellomeatal Line Garis yang menghubungkan MAE dengan Glabella 2. Orbito Meatal Line Garis yang menghubungkan MAE dengan Orbita

3. Infra Orbito Meatal Line Garis yang menghubungkan MAE dengan Infra Orbita Point 4. Acanthiomeatal Line Garis yang menghubungkan MAE dengan Acanthio 5. Mentomeatal Line Garis yang menghubungkan MAE dengan Mental 6. Glabelloalveolar Line Garis yang menghubungkan Glabella dengan Alveola

2.3.Indikasi foto kepala 1. Trauma Trauma kepala yang berat pada orang dewasa, terutama bila disertai dengan hilangnya kesadaran untuk waktu yang lama atau bila secara klinis jelas adanya fraktur depresi (5). Trauma ringan :

Bila penderita tidak kehilangan kesadaran dan hanya pingsan sebentar, dan bila pemeriksaan klinis normal (3). Trauma pada anak anak :

Biasanya mudah untuk mendeteksi adanya fraktur depresi pada anak anak dengan pemeriksaan klinis dan foto kepala dibutuhkan untuk menunjukkan luasnya cedera dan pengobatan yang diperlukan. Trauma kepala yang ringan dengan pemeriksaan klinis yang normal BUKAN merupakan indikasi untuk foto sinar-X karena tidak akan mengubah cara pengobatan. Foto kepala pada anak-anak setelah trauma kebanyakan tidak membantu. Observasi klinis secara cermat jauh lebih penting (3).

2. Perdarahan lewat telinga Atau bocornya cairan cerebrospinal lewat telinga atau hidung setelah trauma hampir selalu berarti ada fraktur pada basis cranii. Hal ini amat sulit dikenali pada foto sinar-X. Foto lateral yang dibuat dengan penderita berbaring terlentang bisa menunjukkan adanya darah di dalam sinus sphenoidalis atau udara didalam kepala (2).

3. Benjolan atau lekukan pada kepala


7

Foto sinar-X akan membantu diagnosa asalkan benjolan itu tidak berubah tempat pada pemeriksaan klinis, dan tidak mobile. Bila benjolan itu lunak, foto pada daerah itu akan membantu untuk mengesampingkan adanya defek cranium dibawahnya (infeksi, tumor, dll) (3).

4. Sakit kepala yang menetap Foto kepala jarang memberikan informasi yang berguna KECUALI bila terdapat juga tanda-tanda klinis, misal kelainan neurologis, peningkatan tekanan intrakranial, atau kebutaan. Bila penderita diketahui menderita tumor maligna di bagian tubuh yang lain, foto kepala lateral akan membantu menunjukkan adanya metastase ke kepala (2).

5. Sakit telinga Pemeriksaan klinis lebih baik daripada foto sinar-X kecuali bila anda ahli atau membuat juga foto mastoid. Foto rutin kepala jarang memberi manfaat bila dicurigai ada mastoiditis (2).

6. Metastase atau penyakit umum seperti Paget Disease Foto kepala lateral akan membantu menegakkan diagnosa. Proyeksi tambahan yang lain biasanya tidak berguna (2).

2.4.Posisi foto kepala


8

Ada lima posisi dasar yang umumnya digunakan dalam pemeriksaan radiografi skull, yakni :
1. Postero-anterior (occipito-frontal) dan PA Axial projections (Caldwell)

Tujuan PA: melihat detail-detail tulang frontal, struktur cranium disebelah depan dan pyramid os petrossus (4). Tujuan PA Caldwell : melihat detail kavum orbita. Terlihat gambaran alae major dan minor os sphenoidale superimposed terhadap orbita, petrosus ridge yang merupakan tegmen timpani juga diproyeksikan didekat margo inferior cavum orbita (4). Posisi pasien :
o o o

Duduk tegak atau prone Atur MSP pada pertengahan lysolm Fleksikan lengan , atur agar posisi tangan senyaman mungkin (1).

Posisi obyek :
o

Atur kepala dan hidung agar menepel kaset dan MSP tegak Atur OML agar tegak lurus kaset, tahan nafas saat eksposi (1)

lurus kaset
o

10

2. Lateral. Tujuannya untuk melihat detail-detail tulang kepala, dasar kepala, dan struktur tulang muka (5) . Patologi yang ditampakkan Fraktur, neoplastic proscess, Pagets disease, infeksi, tumor, degenerasi tulang. Pada kasus trauma gambaran skull lateral akan menampakkkan fractur horisontal, air-fluid level pada sinus sphenoid, tanda-tanda fraktur basal cranii apabila terjadi perdarahan intracranial (1). Posisi Pasien Prone atau duduk tegak, recumbent, semiprone (Sims) Position (1). Posisi Obyek Atur kepala true lateral dengan bagian yang akan diperiksa dekat dengan IR Tangan yang sejajar dengan bagian yang diperiksa berada di depan kepala dan bagian yang lain lurus dibelakang tubuh Atur MSP sejajar terhadap IR Atur interpupilary line tegak lurus IR Pastikan tidak ada tilting pada kepala Atur agar IOML // dengan IR (1).

11

Struktur yang ditampakkan Bagian yang menempel dengan film ditampakkan dengan jelas. Sella tursika mencakup anterior dan posterior clinoid dan dorsum sellae ditampakkan dengan jelas (2).

12

3. Towne (semi-axial / grasheys position)

Tujuannya melihat detail tulang occipital dan foramen magnum, dorsum sellae, os petrosus, kanalis auditorius internus, eminentia arkuata, antrum mastoideum, processus mastoideus dan mastoid sellulae. Memungkinkan perbandingan piramida os petrosus dan mastoid pada gambar yang sama (5). Posisi towne diambil dengan berbagai variasi sudut angulasi antara 30-60 derajat ke arah garis orbitomeatal. Sentrasi dari depan kira-kira 8 cm di atas glabela dari foto polos kepala dalam bidang midsagital (2). Posisi pasien

Pasien dalam keadaan supine/duduk tegak, pusatkan MSP tubuh ke garis tengah grid. Tempatkan lengan dalam posisi yang nyaman dan atur bahu untuk dibaringkan dalam bidang horizontal yang sama. Pasien hyprshenic dalam posisi duduk tegak jika memungkinkan. Bila ini tidak memungkinkan, untuk menghasilkan proyeksi yang diinginkan pada bagian oksipital asal oleh penyudutan CR Caudad dengan mengangkat kepala dan mengaturnya dalam posisi horizontal. Stewart, merekomendasikan sudut 400. Proyeksi oksipitofrontal
13

ditemukan oleh Hass dapat digunakan dalam proyeksi AP Axial pada pasien hypersthenic. Metode Hass adalah kebalikan dari proyeksi AP Axial (Towne), tapi memberikan hasil sebanding (1). Posisi obyek

Atur pasien sehingga MSP tegak lurus dengan garis tengah kaset. Fleksikan leher secukupnya, garis orbito meatal tegak lurus ke bidang film. Bila pasien tidak dapat memfleksikan lehernya, aturlah sehingga garis infra orbito meatal tegak lurus dan kemudian menambah sudut CR 70 . Untuk memperlihatkan bagian oksipito basal atur posisi film sehingga batas atas terletak pada puncak cranial. Pusatkan kaset pada foramen magum. Untuk membatasi gambaran dari dorsum sellae dan ptrous pyramid, atur kaset sehingga titik tengah akan bertepatan dengan CR Periksa kembali posisi dan imobilisasi kepala. Tahan napas saat ekspose (1).

14

4. Vertiko-submental (basal)

Tujuannya untuk melihat detail dari basis crania (5). Patologi yang ditampakkan Fraktur dan neoplatic/inflamantory process dari arc zygomaticum (5). Posisi Pasien Supine atau erect .Posisi erect akan membuat pasien merasa lebih nyaman (2). Posisi Obyek Hyperekstensikan leher hingga IOML // IR Vertex menempel pada IR Atur MSP tegak lurus meja/permukaan bucky Pastikan tidak ada rotasi ataupun tilting Posisi ini sangat tidak nyaman, sehingga usahakan agar pemeriksaan dilkakukan dengan waktu sesingkat mungkin (1).

15

Struktur yang ditampakkan Arc zygomaticum

5. Waters Tujuannya untuk melihat gambaran sinus paranasal (7). Patologi Yang Ditampakkan Inflamantory condition (sinusitis, secondary osteomyelitis) dan polyp sinus (7). Posisi Pasien Erect Posisi Obyek
16

Ekstensikan leher, atur dagu dan hidung menghadap permukaan meja/bucky. Atur kepala sehingga MML (mentomeatal line) tegak lurus terhadap IR, OML akan membentuk sudut 370 derajat terhadap bidang IR. Instruksikan pada pasien untuk membuka mulut dengan tidak mengubah posisi atau ada pergerakan pada kepala dan MML menjadi tidak tegak lurus lagi Atur MSP tegak lurus terhadap pertengahan grid atau permukaan meja/bucky. Pastikan tidak ada rotasi atau tilting (1).

Struktur Yang Ditampakkan Tampak bagian inferior Sinus maxillary bebas dari superimposisi dengan processus alveolar dan petrous ridge, inferior orbital rim, dan tampak gambaran sinus frontalis oblique. Sinus sphenoid tampak apabila pasien membuka mulut

17

2.5.Sistematika pembacaan foto kepala 1. Perhatikan tabula interna, eksterna dan diploe bentuk kepala. 2. Pelajari garis-garis impresia, canal-canal dan sutura, misalnya : a. b. c. d. e. f. Arachnoidal impression Sutura Sinus venosus Pleksus venosus dalam diploe Sebelum umur 16 tahun maka impresion digitae adalah normal Bila ada penipisan atau penebalan calvaria, bandingkan dengan yang normal. 3. Daerah yang ada kalsifikasi, misalnya : a. b. c. Glandula pinealis Pleksus choroideus Basal ganglia
18

d. e.

Duramater CA deposit dalam arteri serebralis

4. Sella tursica a.
b.

Harus diukur dan dilihat bentuknya Prosesus clinoideus anterior dan posterior serta dorsum sella diperiksa untuk melihat adanya erosi.

c.

Normal bila lebarnya 4 16 mm dengan rata-rata 10,5 mm. Dalamnya 4 12 mm dengan rata-rata 8 mm.

d.

Perhatikan basis sella tursica untuk melihat adanya gambaran double contour atau erosi.

5.

Pelajari orbita, sphenoid ridge, petrous ridge tulang temporal.

6. Soft tissue. 7. Pada anak-anak perhatikan lebar dari sutura dan besarnya fontanel (8).

PADA

VERTIKO-SUBMENTAL

YANG

HARUS

DIPERHATIKAN
1. Foramen ovale Dimana keluar cabang nervus mandibula dari nervus lima dan arteri meningea yang kecil. 2. Foramen spinosum Dimana keluar arteri meningea media 3. Foramen laserum yang terletak didekat apek dari piramid os petrosus. 4. Carotic canal yang dapat dilihat di antero lateral pyramid os petrosus, dari carotic canal keluar arteria carotis 5. Sinus petrosus inferior
19

Dapat dilihat sebagai garis sempit antara cllvus dan pucuk dan petrous pyramid. 6. Auditory canal Dapat dilihat sedikit posterior dari temporo mandibula joint. Bila skull membesar dapat disebabkan oleh karena : a. Gangguan pada hypophyse
b. Tumor dalam sella turcica, misalnya : Acromegali.

c. Tumor otak d. Obstruksi hidrosefalus oleh karena : i. Tumor cerebellum, pons atau ventrikel ke IV
ii. Obstruksi Aquaductus sylvii :

iii.
iv.

Ventrikel ke I Foramen maghendi atau luschka

Adhesion atau pseudotumor Penebalan dari tulang kepala, misalnya : -

Acromegali Pagets disease Fibrous dysplasia (8).

2.6.Kelainan radiologis pada foto kepala

1) Microcephali
Kelainan congenital
20

Disebabkan pertumbuhan otak yang kurang Kepala kecil diseluruh diameter Dahi datar dan lantai sedang occipitale prominent Tulang kepala kadang-kadang dense dan tebal Sutura dan fontanela dapat normal tetapi pada beberapa kasus kecil dan menutup sebelum waktunya (3).

2) Hydrocephalus : kenaikan jumlah cairan cerebrospinal dalam ventrikel dari

otak atau ruang subarachinoid disekitar otak. Ada 2 macam : A. B. Congenital Acquired : Disebabkan obstruksi aliran cerebrospinal dan ventrikel ke ruang subarachnoid atau resorbsi kurang (3).

Tanda- tanda Hydrocephalus : -

Pada anak-anak : Kepala besar tidak sesuai dengan pertumbuhan tulang muka. Sutura membuka Tulang kepala sendiri jadi tipis dan fontanel menonjol. Fossa posterior menonjol ke belakang dan bawah sedang fossa anterior menonjol ke depan.

Pada anak-anak yang sudah agak besar : Tendensi pembesaran kepala kurang Gyri tertambah dan menekan pada tulang kepala, ini terlihat jelas
21

pada tulang frontal dan basis dari fossa medial.


-

Sella turcica dangkal (3).

3) Cranio stenosis
a. Kelainan kepala ini disebabkan oleh karena sutura yang menutup sebelum waktunya. b. Causa belum diketahui tetapi rupanya dengan kelainan skeletal lainnya, misalnya : Adanya syndactyli dan kelainan-kelainan congenital dari organ tubuh lainnya. c. Sebagai akibat dari pertumbuhan otak yang lebih besar daripada skull maka tabula interna menjadi tipis dan lekuk-lekuk menjadi bertambah. d.

Macam-macam kelainan : Scapocephall : Sutura sagital menutup terlalu dini dan juga sutura yang

berhubungan dari os temporale kepala menjadi panjang dan lebar menjadi berkurang.

Turricephall : Yang paling sering terdapat, sutura transversa menutup

terlalu dini, kepala berbentuk seperti tower, lekuk-lekuk bertambah.

Plogiocephall : Premature ossifikasi dari hanya separo dari sutura, atau

sutura dari separo kepala hingga yang tidak terkena akan tumbuh berlebihan (4). 4) Kelainan di kepala yang dapat menyebabkan keluhan sakit kepala yang khronis, cari penyebabnya sbb : A. Apakah ada tanda-tanda tekanan intrakranial yang meninggi
a. Lebar atau dalamnya lebih besar dari normal (sella turcica) b. Impresio digitate :

22

i. Gyri selalu membuat pulsasi, bila tekanan naik maka pulsasi akan naik dan mengakibatkan erosi pada tabula interna. ii. Gambaran impresio digitate ini normal pada bayi dan anak serta orang dibawah 16 tahun.
iii. Sutura melebar (sebelum mengadakan fusi) : tidak terlihat pada umur <

14 tahun.
c. Osteoporosis yang diffuse dari calvaria atau kadang-kadang local osteoporosis.

Oleh karena banyak causa penyakit sistemik yang menyebabkan osteoporosis dari skull maka tanda ini tidak dapat berdiri sendiri, misalnya : i. ii. iii. Kelainan phosphor dan Ca Blood dyscrasia Kelainan metabolisme endokrin

d. Ada pemindahan calcificasi yang normal, misalnya : i.

Glandula pinealis
ii. iii. iv. v. vi. vii.

Pleksus choroideus Falx cerebri Tentorium cerebelli Ligament petro clinoid Dinding sinus longitudinal superior dan duramater Arachnoidal granulation

e. Deposit calcium yang abnormal disebabkan oleh :

i.

Non neoplastic : Congenital dan neonatal Tuberous sclerosis


23

Infantile hemiplegia

Penyakit parasit Toxoplasmoses Toruloses Cystecorcoses Echinococcus Trichinoses

Proses Inflamasi Tuberculous meningitis Encephalitis Brain abses Tuberculoma

ii. Gillomas

Vascular Arterio sclerosis Angioma Aneurisma Subdural haematom Cerebral haematom Parathyroid insufficiency X ray injury Neoplastic :

24

B. C.
D.

Meningiomas Congenital tumor Choroid plexus papilloma Kelainan pada sinus paranasalis Kelainan pada mastoid Kelainan di daerah pharynx, misalnya : Ca Nasopharinx

a.

b. Adenoid yang membesar


E.

Kelainan gigi dan sekitarnya, misalnya : Abses gigi M3 miring Osteomyelitis mandibula Tumor adamantinoma Cysta di mandibula (4).

a. b. c. d.
e.

SINUS PARANASALIS
INDIKASI : 1. Nyeri lokal 2. Pembengkakan atau trauma
3. Discharge yang berbau (7).

POSISI : 1. Warters position 2. Cadwell position


25

3. Lateral position
4. Granger position (4).

HAL-HAL YANG PENTING UNTUK DIPELAJARI : 1. Derajat radioluscent dan sinus frontalis, maxillaris, ethmoidalis dan sphenoidalis 2. Tulang-tulang disekitar sinus paranasal 3. Tebal dari mukosa
4. Adanya filling defect (4).

KELAINAN RADIOLOGIS : 1. Lesi yang membuat gambaran kenaikan densitas yang difuse pada paranasal. 2. Bila opacity difuse perlu juga dipikirkan kemungkinan terisi darah pada kasus post trauma. 3. Tumor dapat menyebabkan bayangan difuse pada sinus paranasal, untuk itu perlu mencari adanya tanda-tanda destruksi. 4. Penebalan mukosa Normal penebalan mukosa tidak lebih dari 1 mm. Bila lebih maka dapat disebabkan keradangan yang kronis atau oedematous. Dapat disertai perubahan polipoid atau tidak.
5.

Polip:memberikan gambaran bergelombang disebabkan alergi alergi. Mucocelle : sebagai komplikasi dari peradangan (4).

6.
7.

26

MASTOID (Merupakan bagian pars petrosa os temporal)


POSISI : 1. 2. 3.
4.

Schuller position Law position Stenver position Townes position (8).

KELAINAN RADIOLOGIS : Pneumatisasi proccesus mastoid tidak terlihat dengan jelas sampai umur kurang dari 6 tahun.Setelah umur 6 tahun, baru terlihat dengan jelas : 1. 2. 3. 4.
5.

Clowding Destruksi tulang Penebalan dinding sel Sclerosis Colesteatoma (8).

27

BAB III KESIMPULAN


1.

Skull atau tengkorak membentuk rangka kepala dan muka, termasuk pula mandibula,

yaitu tulang rahang bawah. Tengkorak terdiri atas 22 tulang (atau 28 tulang termasuk tulang telinga), dan ditambah lagi 2 atau lebih tulang-tulang rawan hidung yang menyempurnakan bagian anteroinferior dari dinding-dinding lateralis dan septum hidung (nasal). Indikasi foto kepala: Trauma Perdarahan lewat telinga Benjolan atau lekukan pada kepala Sakit kepala yang menetap Sakit telinga Metastase atau penyakit umum seperti Paget Disease

Posisi foto kepala Postero-anterior (occipito-frontal) dan PA Axial projections (Caldwell) Tujuan PA: melihat detail-detail tulang frontal, struktur cranium disebelah depan dan pyramid os petrossus. Tujuan PA Caldwell : melihat detail kavum orbita. Terlihat gambaran

28

alae major dan minor os sphenoidale superimposed terhadap orbita, petrosus ridge yang merupakan tegmen timpani juga diproyeksikan didekat margo inferior cavum orbita. Lateral. Tujuannya untuk melihat detail-detail tulang kepala, dasar kepala, dan struktur tulang muka.
-

Towne (semi-axial / grasheys position) Tujuannya melihat detail tulang occipital dan foramen magnum, dorsum sellae, os petrosus, kanalis auditorius internus, eminentia arkuata, antrum mastoideum, processus mastoideus dan mastoid sellulae. Memungkinkan perbandingan piramida os petrosus dan mastoid pada gambar yang sama.

Vertiko-submental (basal) Tujuannya untuk melihat detail dari basis crania.

Waters Tujuannya untuk melihat gambaran sinus paranasal.

Sistematika pembacaan foto kepala Perhatikan tabula interna, eksterna dan diploe bentuk kepala. Pelajari garis-garis impresia, canal-canal dan sutura, misalnya : a. Arachnoidal impression b. Sutura c. Sinus venosus d. Pleksus venosus dalam diploe e. Sebelum umur 16 tahun maka impresion digitae adalah normal
29

f. Bila ada penipisan atau penebalan calvaria, bandingkan dengan yang normal. Daerah yang ada kalsifikasi, misalnya : a. Glandula pinealis b. Pleksus choroideus c. Basal ganglia d. Duramater e. CA deposit dalam arteri serebralis Sella tursica a. Harus diukur dan dilihat bentuknya
b. Prosesus clinoideus anterior dan posterior serta dorsum sella

diperiksa untuk melihat adanya erosi. c. Normal bila lebarnya 4 16 mm dengan rata-rata 10,5 mm. Dalamnya 4 12 mm dengan rata-rata 8 mm. d. Perhatikan basis sella tursica untuk melihat adanya gambaran double contour atau erosi. -

Pelajari orbita, sphenoid ridge, petrous ridge tulang temporal. Soft tissue. Pada anak-anak perhatikan lebar dari sutura dan besarnya fontanel.

DAFTAR PUSTAKA

1. Artawijaya I Gusti Ngurah. Teknik Radiologi Skull. http://catatanradiograf.blogspot.com/2010/06/teknik-radiografi-skull.html 30

2. Ilyas G, Budyatmoko B. Perkembangan Mutakhir Pencitraan Diagnostik dalam

Radiologi Diagnostik. Edisi Kedua. FKUI-RSCM. Jakarta. 2005. 3. Jong William. Buku Ajar Ilmu Bedah. EGC. Jakarta.2005. 4. Rasad Sjahriar. Radiologi Diagnostik. Edisi ke-2. Balai Penerbit FKUI. Jakarta,2005.
5. Rusdy Ghazali M. Radilogi Diagnosik. Pustaka Cendekia Press. Yogyakarta, 2006.

6. Snell

Richard

S.

M.D,PhD.

Anatomi

Klinik

untuk

Mahasiswa

Kedokteran.EGC.Jakarta.1992. 7. Soepardy Efiaty Arsyad,dr.Sp.THT. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher. FKUI.Jakarta.2001. 8. Tim Radiologi RSUD Dr.Soetomo. Kumpulan Kuliah Radiologi I. Bursa SEMA FKUNAIR. Surabaya.1993.

31

Anda mungkin juga menyukai