Anda di halaman 1dari 67

1

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM GEOLOGI FISIK

DISUSUN OLEH :

NAMA NIM

: :

FAHMI YAHYA DBD 111 0022

LABORATORIUM GEOLOGI JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS PALANGKA RAYA 2012

BAB I PETA TOPOGRAFI

1.1 Pengertian Peta Pengertian peta secara umum adalah gambaran dari permukaan bumi yang digambar pada bidang datar, yang diperkecil dengan skala tertentu dan dilengkapi simbol sebagai penjelas. Beberapa ahli mendefinisikan peta dengan berbagai pengertian, namun pada hakikatnya semua mempunyai inti dan maksud yang sama. Berikut beberapa pengertian peta dari para ahli. a. Menurut ICA (International Cartographic Association) Peta adalah gambaran atau representasi unsur-unsur ketampakan abstrak yang dipilih dari permukaan bumi yang ada kaitannya dengan permukaan bumi atau benda-benda angkasa, yang pada umumnya digambarkan pada suatu bidang datar dan diperkecil/diskalakan. b. Menurut Aryono Prihandito (1988) Peta merupakan gambaran permukaan bumi dengan skala tertentu, digambar pada bidang datar melalui sistem proyeksi tertentu. c. Menurut Erwin Raisz (1948) Peta adalah gambaran konvensional dari ketampakan muka bumi yang diperkecil seperti ketampakannya kalau dilihat vertikal dari atas, dibuat pada bidang datar dan ditambah tulisan-tulisan sebagai penjelas. d. Menurut Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal 2005) Peta merupakan wahana bagi penyimpanan dan penyajian data kondisi lingkungan, merupakan sumber informasi bagi para perencana dan pengambilan keputusan pada tahapan dan tingkatan pembangunan. Dengan menggunakan peta, kita dapat mengetahui segala hal yang berada di permukaan bumi, seperti letak suatu wilayah, jarak antarkota, lokasi pegunungan, sungai, danau, lahan persawahan, jalan raya, bandara, dan

sebagainya. Ketampakan yang digambar pada peta dapat dibagi menjadi dua yaitu ketampakan alami dan ketampakan buatan manusia (budaya). 1.2 Jenis-jenis Peta Peta dikelompokan menjadi 5 bagian, yaitu: a. Berdasarkan Isi Data yang Disajikan 1. Peta umum, yakni peta yang menggambarkan kenampakan bumi, baik fenomena alam atau budaya. Peta umum dibagi menjadi 3 jenis, yaitu:
2. Peta topografi yaitu peta yang menggambarkan permukaan bumi

lengkap dengan reliefnya. Penggambaran relief permukaan bumi ke dalam peta digambar dalam bentuk garis kontur. Garis kontur adalah garis pada peta yang menghubungkan tempat-tempat yang mempunyai ketinggian yang sama. 3. Peta chorografi yaitu peta yang menggambarkan seluruh atau sebagian permukaan bumi yang bersifat umum, dan biasanya berskala sedang. Contoh peta chorografi adalah atlas 4. Peta dunia yaitu peta umum yang berskala sangat kecil dengan cakupan wilayah yang sangat luas. 5. Peta khusus (Peta tematik) yaitu peta yang menggambarkan informasi dengan tema tertentu / khusus. Misal peta politik, peta geologi, peta penggunaan lahan, peta persebaran objek wisata, peta kepadatan penduduk, dan sebagainya. a. Peta Berdasarkan Sumber Datanya Peta Turunan (Derived Map)yaitu peta yang dibuat berdasarkan pada acuan peta yang sudah ada, sehingga tidak memerlukan survei langsung ke lapangan. Peta induk yaitu peta yang dihasilkan dari survei langsung di lapangan.

b. Peta berdasarkan skala 1. Peta kadaster (sangat besar) adalah peta yang berskala > 1: 100 sampai > 1: 5000. Contoh: Peta pertanahan, Peta Pertambangan 2. 3. 4. 5. Peta besar adalah peta yang berskala > 1: 5000 sampai > 1: 250.000. Contoh: peta kecamatan/kabupaten Peta sedang adalah peta yang berskala > 1: 250.000 sampai > 1: 500.000. Contoh: peta provinsi Peta kecil adalah peta yang berskala > 1: 500.000 sampai > 1: 1.000.000. Contoh: peta negara Peta geografis (sangat kecil) adalah peta yang berskala > 1: 1.000.000 ke bawah. Contoh: Peta benua/dunia c. Peta berdasarkan bentuk 1. 2. 3. Peta datar, atau peta dua dimensi, atau peta biasa, atau peta planimetri Peta timbul atau peta steereometri Peta digital, merupakan peta hasil pengolahan data digital yang tersimpan dalam komputer. Peta ini dapat disimpan dalam disket atau CD Rom. Contoh Citra satelit, foto udara 4. 5. Peta garis, yaitu peta yang menyajikan data alam dan kenampakan buatan manusia dalam bentuk titik, garis, dan luasan. Peta foto, yaitu peta yang dihasilkan dari mozaik foto udara yang dilengkapi dengan garis kontur, nama, dan legenda d. Peta berdasarkan tingkat kedetailan 1. 2. Peta detail, peta yang skalanya > 1:25.000 Peta semi detail, peta yang skalanya > 1:50.000

3. Peta tinjau, peta yang skalanya > 1:250.000

1.3 Pengenalan Peta Topografi

Hakekat daripada peta topografi adalah peta yang menggambarkan keadaan suatu daerah yang dilihat dari atas yang kurang lebih sesuai dengan keadaan sebenarnya. Ada beberapa cara penggambaran peta topografi yaitu : Garis Kontur, adalah garis yang menghubungkan titik- titik ketinggian yang sama pada suatu permukaan bumi Garis hachures, yaitu garis lurus yang ditarik dari titik - titik ketinggian tertinggi ke titik- titik yang lebih rendah disekitarnya (lereng curam garisnya makin merapat ) Pewarnaan (Tinting),daerah yang mempunyai relief tinggi warnanya makin gelap sebaliknya relief rendah warnanya makin cerah contohnya atlas. Bayangan (shading), topografi curam diberi bayangan yang tebal,rapat serta pendek, sebaliknya daerah landai diberi garis bayangan tipis, panjang dan renggang. Kombinasi, dengan cara menggabungkan antara kontur dengan warna dan lain-lainnya. 1.4 Elemen Peta Topografi Unsur-unsur penting dalam peta topografi meliputi :
1. Relief, menggambarkan beda tinggi suatu tempat ke tempat lain di suatu

daerah misal bukit, dataran, pegunungan, lembah, lereng dan lain sebagainya. Biasanya untuk peta topografi berwarna digunakan warna coklat untuk dataran dan biru untuk lautan, dengan variasi warna disesuaikan dengan keadaan relief, daerah berelief tinggi warna semakin tua dan gelap. Relief terjadi karena adanya resistensi antara batuan terhadap proses erosi dan pelapukan juga dipengaruhi gejala-gejala asal dalam seperti perlipatan, patahan dan lain sebagainya.
2. Pola Aliran, Dalam interpretasi pola aliran dapat mudah dilakukan

dengan pemanfaatan data penginderaan jauh baik citra foto ataupun non

foto sangat terlebih lagi apabila data penginderaan jauh yang stereoskopis (foto udara) dengan menampakkan 3 dimensional, sehingga hasil yang didapatkan akan maksimal. Citra satelit yang paling baik digunakan untuk mengetahui pola aliran adalah citra radar (ifsar) yang menghasilkan kenampakan tiga dimensi yang paling baik. Pola aliran mempunyai berbagai jenis pola, diantaranya ialah dendritic, paralel, radial, trelis, rectangular, centripetal, angular dan multibasinal.
1. Dendritik: seperti percabangan pohon, percabangan tidak teratur

dengan arah dan sudut yang beragam. Berkembang di batuan yang homogen dan tidak terkontrol oleh struktur, umunya pada batuan sedimen dengan perlapisan horisontal, atau pada batuan beku dan batuan kristalin yang homogen.
2. Rectangular : Aliran rectangular merupakan pola aliran dari

pertemuan antara alirannya membentuk sudut siku-siku atau hampir siku-siku. Pola aliran ini berkembang pada daerah rekahan dan patahan.
3. Paralel: anak sungai utama saling sejajar atau hampir sejajar,

bermuara pada sungai-sungai utama dengan sudut lancip atau langsung bermuara ke laut. Berkembang di lereng yang terkontrol oleh struktur (lipatan monoklinal, isoklinal, sesar yang saling sejajar dengan spasi yang pendek) atau dekat pantai.
4. Trellis: percabangan anak sungai dan sungai utama hampir tegak

lurus, sungai-sungai utama sejajar atau hampir sejajar. Berkembang di batuan sedimen terlipat atau terungkit dengan litologi yang berselangseling antara yang lunak dan resisten.
5. Deranged : pola aliran yang tidak teratur dengan sungai dengan

sungai pendek yang arahnya tidak menentu, payau dan pada daerah basah mencirikan daerah glacial bagian bawah.

6. Radial Sentrifugal: sungai yang mengalir ke segala arah dari satu titik.

Berkembang pada vulkan atau dome.


7. Radial Centripetal: sungai yang mengalir memusat dari berbagai arah.

Berkembang di kaldera, karater, atau cekungan tertutup lainnya.


8. Annular: sungai utama melingkar dengan anak sungai yang

membentuk sudut hampir tegak lurus. Berkembang di dome dengan batuan yang berseling antara lunak dan keras.
9. Pinnate : Pola Pinnate adalah aliran sungai yang mana muara anak

sungai membentuk sudut lancip dengan sungai induk. Sungai ini biasanya terdapat pada bukit yang lerengnya terjal.
10.Memusat/Multibasinal: percabangan sungai tidak bermuara pada

sungai utama, melainkan hilang ke bawah permukaan. Berkembang pada topografi karst. Tabel 1. merupakan pola pengaliran dengan karaktersitiknya. Morisawa (1985) menyebutkan pengaruh geologi terhadap bentuk sungai dan jaringannya adalah dinamika struktur geologi, yaitu tektonik aktif dan pasif serta lithologi (batuan). Kontrol dinamika struktur diantaranya pensesaran, pengangkatan (perlipatan) dan kegiatan vulkanik yang dapat menyebabkan erosi sungai. Kontrol struktur pasif mempengaruhi arah dari sistem sungai karena kegiatan tektonik aktif. Sedangkan batuan dapat mempengaruhi morfologi sungai dan jaringan topologi yang memudahkan terjadinya pelapukan dan ketahanan batuan terhadap erosi. Tabel 1.1. merupakan tabel kontrol struktur terhadap bentuk sungai.

Tabel 1.1. Pola pengaliran dan karakteristiknya (van Zuidam, 1985)

POLA PENGALIRAN DASAR KARAKTERISTIK Perlapisan batuan sedimen relatif datar atau paket batuan kristalin yang tidak seragam dan memiliki ketahanan terhadap pelapukan. Secara regional daerah aliran memiliki kemiringan landai, jenis pola pengaliran membentuk percabangan menyebar seperti pohon rindang. Pada umumnya menunjukkan daerah yang berlereng sedang sampai agak curam dan dapat ditemukan pula pada daerah bentuklahan perbukitan yang memanjang. Sering terjadi pola peralihan antara pola dendritik dengan pola paralel atau tralis. Bentuklahan perbukitan yang memanjang dengan pola pengaliran paralel mencerminkan perbukitan tersebut dipengaruhi oleh perlipatan. Baruan sedimen yang memiliki kemiringan perlapisan (dip) atau terlipat, batuan vulkanik atau batuan metasedimen derajat rendah dengan perbedaan pelapukan yang jelas. Jenis pola pengaliran biasanya berhadapan pada sisi sepanjang aliran subsekuen. Kekar dan / atau sesar yang memiliki sudut kemiringan, tidak memiliki perulangan lapisan batuan dan sering memperlihatkan pola pengaliran yang tidak menerus.

DENDRITIK

PARALEL

TRALLIS

REKTANGULAR

Daerah vulkanik, kerucut (kubah) intrusi dan sisa sisa erosi. Pola pengaliran radial pada daerah vulkanik disebut sebagai pola pengaliran multi radial. Catatan : pola pengaliran radial memiliki dua sistem yaitu sistem sentrifugal (menyebar ke luar dari titik pusat), berarti bahwa daerah tersebut berbentuk kubah atau kerucut, sedangkan sistem sentripetal (menyebar kearah titik pusat) memiliki arti bahwa daerah tersebut berbentuk cekungan. Struktur kubah / kerucut, kemungkinan retas (stocks) cekungan dan

RADIAL

ANNULAR

MULTIBASINAL

Endapan berupa gumuk hasil longsoran dengan perbedaan penggerusan atau perataan batuan dasar, merupakan daerah gerakan tanah, vulkanisme, pelarutan gamping dan lelehan salju (permafrost)

Tabel 1.2. Pola pengaliran modifikasi

10

SUB DENDRITIK PINNATE ANASTOMATIK MENGANYAM (DIKHOTOMIK) SUB PARALEL KOLINIER SUB TRALLIS DIREKSIONAL TRALLIS TRALLIS BERBELOK TRALLIS SESAR ANGULATE KARST

Umumnya struktural Tekstur batuan halus dan mudah tererosi Dataran banjir, delta atau rawa Kipas aluvium dan delta Lereng memanjang atau dikontrol oleh bentuklahan perbukitan memanjang. Kelurusan bentuklahan bermaterial halus dan beting pasir. Bentuklahan memanjang dan sejajar Homoklin landai seperti beting gisik Perlipatan memanjang. Percabangan menyatu atau berpencar , sesar paralel Kekar dan / atau sesar pada daerah miring Batugamping

11

Gambar 1.1 pola pengaliran umum

12

Gambar 1.2. Modifikasi pola pengaliran, dalam skala yang luas

13

Gambar 1.3. Modifikasi pola pengaliran-pengaliran

14

1.

Kebudayaan (culture), yaitu segala bentuk hasil budidaya manusia, misalnya perkampungan, jalan, persawahan, dan sebagainya. Culture sangat membantu geologi dalam penentuan lokasi. Pada umumnya pada peta topografi relief akan digambarkan dengan warna coklat, drainage dengan warna biru dan culture dengan warna hitam. Hal ini sangat membantu dalam hal penentuan lokasi.

1.5 Kelengkapan Peta Topograf

Pada peta topografi yan baik harus terdapat unsure atau keterangan yang dapat digunakan untuk berbagai kegiatan penelitian atau kemiliteran yakni: a. Skala Merupakan perbandingan jarak horizontal yang sebenarnya dengan jarak peta. Perlu diketahui bahwa jarak yang diukur pada peta adalah jarak horizontal. Ada 3 macam skala yang biasa dipakai pada peta topografi. 1. sama Representative Feaction Scale (Scala R. F.) Ditunjukan dengan pecahan contoh 1:10000. Artinya 1 cm di peta dengan 10000 cm di lapangan atau sama dengan 100 m di Kelemahan penggunaan skala ini yaitu jika peta Grafik Scale ( Skala Grafik) Yaitu perbandingan jarak horizontal sesungguhnya dengan jarak pada peta yang ditunjukan dengan sepotong garis. Skala ini adalah paling baik karena tidak terpengaruh oleh pemuaian maupan penciutan dari peta. 3. Verbal Scale (Skala Verbal) Dinyatakan dalam ukuran panjang, contah 1 cm = 10 km. Skala ini hampir sama dengan skala R. F.
2.

lapangan. 2.

mengalami pemuaian maka skala tidak akan berlaku lagi.

Arah Utara Peta Salah satu perlengkapan peta yang tidak kalah pentingnya adalah arah utara, karena tiap peta dapat digunakan dengan baik haruslah diketahui arah urtaranya. Arah utara ini berguna untuk penyesuaian dengan antara

15

utara peta dngan arah utara jarum kompas. Ada 3 macam arah utara jarum kompas yaitu:
b. Arah utara magnetik

c. Grid North d. True North 4. Legenda Peta topografi banyak digunakan tanda untuk mewakili bermacammacam keadan yang ada di lapangan dan biasanya terletak di bagian bawah peta. 5. Judul Peta Judul peta meruapakan nama daerah yang tercakup didalam peta dan berguna unuk pencairanpeta bila suatu waktu diperlukan. Sumber pembagian nomor lembar peta tersebut disebut Quadrangle. 6. Converage Diagram Maksudnya peta tersebut dibuat dengan cara atau metode yang bagaimana, hal ini untuk dapat memperkirakan sampai sejauh mana kebaikan atau ketelitian peta. Misalnya dibuat berdasarkan foto udara atau dibuat berdasarkan pengukuran di lapangan.
7. Indeks Administrasi

Pembagian Daerah berdasarkan hokum administrasi, hal mini penting untuk memudahkan pengurusan surat izin untuk melakukan atau mengadakan penelitian pemetaan. 8. Indeks Adjoing Sheet Menunjukan kedudukan peta yang bersangkutan terhadap lembar-lembar peta di sekitarnya. 9. Edisi Peta Edisi peta dapat dipakai untuk mengetahui mutu dari pada peta atau mengetahui kapan peta tersebut dicetak atau dibuat.

1.6 Peta Topografi dan Garis Kontur

16

1.

Pengertian Garis Kontur Garis kontur adalah garis khayal dilapangan yang menghubungkan titik dengan ketinggian yang sama atau garis kontur adalah garis kontinyu diatas peta yang memperlihatkan titik-titik diatas peta dengan ketinggian yang sama. Nama lain garis kontur adalah garis tranches, garis tinggi dan garis tinggi horizontal. Garis kontur + 25 m, artinya garis kontur ini menghubungkan titik-titik yang mempunyai ketinggian sama + 25 m terhadap tinggi tertentu. Garis kontur disajikan di atas peta untuk memperlihatkan naik turunnya keadaan permukaan tanah. Aplikasi lebih lanjut dari garis kontur tanah adalah untuk irisan terhadap memberikan proyek informasi (bangunan) slope (kemiringan melintang rata-rata), profil memanjang atau

permukaan tanah

jalur

dan perhitungan galian serta timbunan (cut and fill) permukaan tanah asli terhadap ketinggian vertikal garis atau bangunan. Garis kontur dapat dibentuk dengan membuat proyeksi tegak garis-garis perpotongan bidang mendatar dengan permukaan bumi ke bidang mendatar peta. Karena peta umumnya dibuat dengan skala tertentu, maka untuk garis kontur ini juga akan mengalami pengecilan sesuai skala peta. 2. Interval Kontur Interval kontur adalah jarak tegak antara dua garis kontur yang berdekatan dan merupakan jarak antara dua bidang mendatar yang berdekatan. Pada suatu peta tofografi interval kontur dibuat sama, berbanding terbalik dengan skala peta. Semakin besar skala peta, jadi semakin banyak informasi yang tersajikan, interval kontur semakin kecil. 3. Indeks kontur adalah garis kontur yang penyajiannya ditonjolkan setiap kelipatan interval kontur tertentu. Kontur Setengah Garis kontur yang harga ketinggiannya adalah setengah dari interval kontur. Biasanya digambar dengan garis putus-putus.
1.7 Penentuan Interval Kontur

17

Untuk hal-hal yang umum dapat menggunakan rumus: IK = 1 xN 2000

Di mana: IK = interval kontur N = skala peta Misal peta dengan skala 1 : 50.000, sehingga interval konturnya adalah 25 m. Tetapi penentua interval kontur dengan rumus seperti di atas tidaklah mutlak tergantung daripada kebutahan atau tujuan pembuatan peta tersebut. Misal peta untuk daerah petambangan dengan luasan yang kecil tentunya menggunakan interval kontur yang lebih kecil sehingga relief daerah dapat dilihat dengan jelas. 1.8 Sifat-sifat garis Kontur Garis-garis kontur merupakan cara yang banyak dilakukan untuk melukiskan bentuk permukaan tanah dan ketinggian pada peta, karena memberikan ketelitian yang lebih baik. Cara lain untuk melukiskan bentuk permukaan tanah yaitu dengan cara hachures dan shading. Bentuk garis kontur dalam 3 dimensi Gambar 344. Penggambaran kontur Garis kontur memiliki sifat sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. 5. 6.
7.

Berbentuk kurva tertutup. Tidak bercabang. Tidak berpotongan. Menjorok ke arah hulu jika melewati sungai. Menjorok ke arah jalan menurun jika melewati permukaan jalan. Tidak tergambar jika melewati bangunan. Garis kontur yang rapat menunjukan keadaan permukaan tanah yang terjal. Garis kontur yang jarang menunjukan keadaan permukaan yang landai Penyajian interval garis kontur tergantung pada skala peta yang disajikan, jika datar maka interval garis kontur tergantung pada

8.
9.

18

skala peta yang disajikan, jika datar maka interval garis kontur adalah 1/1000 dikalikan dengan nilai skala peta , jika berbukit maka interval garis kontur adalah 1/500 dikalikan dengan nilai skala peta dan jika bergunung maka interval garis kontur adalah 1/200 dikalikan dengan nilai skala peta. 10. Penyajian indeks garis kontur pada daerah datar adalah setiap selisih 3 garis kontur, pada daerah berbukit setiap selisih 4 garis kontur sedangkan pada daerah bergunung setiap selisih 5 garis kontur. 11. Satu garis kontur mewakili satu ketinggian tertentu.. 12. Garis kontur berharga lebih rendah mengelilingi garis kontur yang lebih tinggi. 13. Rangkaian garis kontur yang berbentuk huruf "U" menandakan punggungan gunung. 14. Rangkaian garis kontur yang berbentuk huruf "V" menandakan suatu lembah/jurang 1.9 Kegunaan Garis Kontur
1.

Menunjukan bentuk ketinggian permukaan tanah. dua tempat.

2. Menentukan profil tanah (profil memanjang, longitudinal sections) antara

3.

Menghitung luas daerah genangan dan volume suatu bendungan kemiringan tertentu.

4. Menentukan route/trace suatu jalan atau saluran yang mempunyai

5.

Menentukan kemungkinan dua titik di lahan sama tinggi dan saling terlihat.

1.10 Penentuan Ketinggian dan Jarak

Ada beberapa cara untuk menentukan titik ketinggian dan jarak yakni:

19

1.
2.

Pada indeks kontur langsung dapat diketahui. Pada intermediate kontur dihitung dari indeks kontur dengan memperhatikan interval kontur. Pada intermediate kontur cara interpolasi. Titik triagulasi.

3.
4.

1.11

Sistem Quadrangle Sistem Quadrangle adalah suatu cara dalam penataan pembuatan registrasi pada peta topografi. Sistem Quadrangle di Indonesia ada 2 macam yaitu system lama dan system baru. Perbedaan keduanya terletak pada perbandingan luas peta , notasi, dan pembagian derajat busurnya. a) Sistem Quadrangle Lama Adalah sisa peninggalan jaman pendudukan Belanda. Ketentuanketentuan yang ada dam sisitem ini adalah: 1. Pembagian kotak dengan luas 20 x 20 berskala 1 : 100.000
2. Titik 0o bujur ada di Jakarta dan titik 00 lintang ada di equatorial.

3. Penomoran garis lintang dengan angka Romawi sedang penomoran garis bujur dengan angka akrab. 4. Notasi lembar peta dan skala ditulis, missal L 5. Peta no.40/XX, skala 1 :100.000 6. Peta no.40/XX-A, skala 1 : 50.000 7. Peta no.40XX-a, skala 1 : 25.000

40
XX

A E I M

B F J N

C G K O

d h l p

20

b) Sistem Quadrangle Baru Notasinya semua ditulis dengan angka Arab. Pembagian kotak-kotaknya mempunyai luas 30 x 20 dengan 0 derajat dihitung dari Greenwich. Cara penulisanya adalah missal 5018 angka 50 merupakan angka perubahan secara horizontal dan angka 18 merupakan perubahan secara vertical. 5019 5018 5119 5118 IV II
5019

I II

Peta no.5019 berskala 1 : 100.000 sedangkan peta no.5019-IV berskala 1.12 Profil Topografi Untuk mengetahui kenampakan morfologi dan kenampakan struktur geologi padasuatu daerah, maka diperlukan suatu penampang tegak atau profil (section). Penampangtegak atau sayatan tegak adalah gambaran yang memperlihatkan profil atau bentuk dari permukaan bumi. Profil ini diperoleh dari line of section yang telah ditentukan lebih dulu pada peta topografi, misalnya A A atau B B. Skala pada profil : 1 : 50.000

1.

Skala normal (nature scale) : yaitu skala vertikal diperbesar sama denga n skalahorisontal.

21

2. Skala perbesaran (exaggerated) : yaitu skala vertikal diperbesar lebih

besar dari skalahorisonta 3. Persyaratan pembuatan profil : dengan bidang vertikal.


5. Base line letaknya mendatar dipilih pada jarak tertentu di daerah 4. Profil line/topographic line yaitu garis potong antara permukaan bumi

profilline, dimana tinggi base line tergantung kebutuhan. Seringkali dipilih 0 meter sesuai ketinggian permukaan air laut. Pada base line terletak jarak mendatar sesuai dengan jarak horisontal. 6. End line/garis samping dikiri dan kanan tegak lurus base line. Disinitertera angka ketinggian sesuai interval kontur.

22

Gambar 1.4. Topografi dan kontur

Gambar 1.5. Profil topografi suatu daerah

23

1.13

Penentuan Besar Kelerengan dan Beda Tinggi Peta Topografi merupakan peta yang menggambarkan keadaan relief suatu daerah, dimana kontur renggang menggambarkan daerah yang relative datar, sedangkan kontur yang rapat menggambarkan daerah yang terjal atau curam, di dalam peta topografi kadangkala kita banyak diperhadapkan degan pertanyaan di antaranya berapa besar kelerngan suatu tempat? Atau berapa beda tinggi daerah x? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, di dalam acara praktikum ini akan kita bahas cara-cara mengetahui nilai suatu kelerengan dan beda tinggi suatu daerah. Rumus mencari besar kelerengan dan beda tunggi: d(m) = panjang sayatan x skala peta h(m) = (n kontur 1) x IK hr kr = =

h
n

k
n

Keterangan: d = jarak datar (m) h = ketinggian (m) hr = beda tinggi (m) kr = kelerengan (%)

24

1.14

Hasil Praktikum 1
1. Jenis P raktikum

Peta Topografi 2. Tujuan Praktikum


- Mampu membuat sayatan pada peta topografi suatu daerah. - Mampu menghitung panjang sayatan, jarak datar, interval kontur,

jumlah kontur, beda tinggi dan kelerengan pada peta topografi. 3. Alat dan bahan yang digunakan - Pensil - Drawing pen - Penggaris - Peta topografi suatu daerah - Kalkulator 4. Kesimpulan Dalam praktikum ini, praktikan dapat membuat sayatan pada peta topografi. Dengan data panjang sayatan, sayatan praktikan dapat mengetahui jarak datar, interval kontur, beda tinggi dan kelerengan pada peta topografi disuatu daerah. Pada praktikum didapatkan 255 sayatan. Sebagai contoh jika panjang sayatan 0,4 cm, jumlah kontur (n = 3 -1) = 2, skala pada peta 1 : 25000 dan diketahui interval kontur 12,5 sehingga untuk jarak datar (d = panjang sayatan x skala peta) = 100 m, beda tinggi (h = (n-1) x ik) = 25 dan kelerengan (k = h/d x 100 %) = 25 %.

25

1.15

Hasil Praktikum 2 1. 2. 3. Jenis P raktikum Peta Topografi Tujuan Praktikum - Mampu membuat profil topografi dari peta topografi suatu daerah. Alat dan bahan yang digunakan - Pensil - Drawing pen - Penggaris - Peta topografi suatu daerah - Kalkulator

Ketas kalkit - Milimeter blok 4. Kesimpulan Dalam praktikum ini, prtaktikan dapat menggambar profil peta topografi suatu daerah berdasarkan pada peta topografi yang telah diberikan. Untuk membuat profil peta topografi ini sebelumnya harus ditentukan daerah mana yang akan digambarkan pada penampang dengan cara meenarik garis lurus memotong kontur. Untuk ketinggian, menggunakan ketinggian yang telah ada didalam peta, untuk panjang menggunakan rumus Ik = indeksnya. sehingga didapatkan panjang

26

BAB II BATUAN BEKU

2.1

Genesa Batuan Beku Batuan beku adalah batuan yang terjadi dari pembekuan magma. Magma adalah silika alam yang bersifat cair, panas dan pijar yang penuh dengan gas-gas volatil (gas-gas yang sangat mudah menguap). Berdasar kandungan silika (SiO2) batuan beku dibagi menjadi : Tabel 2.1. Pembagian batuan beku berdasarkan kandungan silika (SiO2) Nama Batuan Batuan beku asam Batuan beku intermediet Batuan beku basa Batuan beku ultra basa Kandungan Silika (SiO2) lebih dari 66% 52% - 66% 45% - 52% Kurang dari 45%

Pembagian ganesa batuan beku atau tempat terjadinya batuan beku adalah sebagai berikut.
a) Batuan Beku Luar

Kelompok batuan ekstrusi terdiri dari semua material yang dikeluarkan ke permukaan bumi baik di daratan ataupun di bawah permukaan laut. Meterial ini mendingin dengan cepat, ada yang berbentuk padat, debu, atau suatu larutan yang kental dan panas cairan ini biasa disebut lava. Ada dua tipe magma ekstrusi, yang pertama memiliki kandungan silika yang rendah dan viskositas relatif rendah. Sebagai contoh adalah lava basaltik yang sampai kepermukaan melalui celah dan setelah dipermukaan mengalami pendinginan yang cepat. Biasanya lava basaltik memiliki sifat sangat cair, sehingga bila sampai kepermukaan akan menyebar dengan daerah yang sangat luas.

27

Tipe yang ke dua dari lava ini adalah bersifat asam, yang memiliki kandungan silika yang tinggidan vikositas relatif tinggi. Akibat dari vikositas ini bila sampai kepermukaan akan menjadi suatu aliran sepanjang lembah.
b) Batuan Beku Dalam

Magma yang membeku di bawah permukaan bumi, pendinginannya sangat lambat (dapat mencapai jutaan tahun), memungkinkan tumbuhnya kristal-kristal yang besar dan sempurna bentuknya, menjadi tubuh batuan beku intrusive. Tubuh batuan beku dalam mempunyai bentuk dan ukuran yang beragam, tergantung pada kondisi magma dan batuan di sekitarnya. Magma dapat menyusup pada batuan di sekitarnya atau menerobos melalui rekahan-rekahan pada batuan di sekelilingnya. Bentuk-bentuk batuan beku yang memotong struktur batuan di sekitarnya disebut diskordan, termasuk di dalamnya adalah batholit, stok, dyke, dan jenjang volkanik.
1. Batholit, merupakan tubuh batuan beku dalam yang paling besar

dimensinya. Bentuknya tidak beraturan, memotong lapisan-lapisan batuan yang diterobosnya. Kebanyakan batolit merupakan kumpulan massa dari sejumlah tubuh-tubuh intrusi yang berkomposisi agak berbeda. Perbedaan ini mencerminkan bervariasinya magma pembentuk batholit. Beberapa batholit mencapai lebih dari 1000 km panjangnya dan 250 km lebarnya. Dari penelitian geofisika dan penelitian singkapan di lapangan didapatkan bahwa tebal batholit antara 20-30 km. Batholite tidak terbentuk oleh magma yang menyusup dalam rekahan, karena tidak ada rekahan yang sebesar dimensi batolit. Karena besarnya, batholit dapat mendorong batuan yang di1atasnya. Meskipun batuan yang diterobos dapat tertekan ke atas oleh magma yang bergerak ke atas secara perlahan, tentunya ada proses lain yang bekerja. Magma yang naik melepaskan fragmenfragmen batuan yang menutupinya. Proses ini dinamakan stopping. Blok-blok hasil stopping lebih padat dibandingkna magma yang naik,

28

sehingga mengendap. Saat mengendap fragmen-fragmen ini bereaksi dan sebagian terlarut dalam magma. Tidak semua magma terlarut dan mengendap di dasar dapur magma. Setiap frgamen batuan yang berada dalam tubuh magma yang sudah membeku dinamakan Xenolith.
2. Stock, seperti batolit, bentuknya tidak beraturan dan dimensinya lebih

kecil dibandingkan dengan batholit, tidak lebih dari 10 km. Stock merupakan penyerta suatu tubuh batholit atau bagian atas batholit.
3. Dyke, disebut juga gang, merupakan salah satu badan intrusi yang

dibandingkan dengan batholit, berdimensi kecil. Bentuknya tabular, sebagai lembaran yang kedua sisinya sejajar, memotong struktur (perlapisan) batuan yang diterobosnya.
4. Jenjang Volkanik, adalah pipa gunung api di bawah kawah yang

mengalirkan magma ke kepundan. Kemudian setelah batuan yang menutupi di sekitarnya tererosi, maka batuan beku yang bentuknya kurang lebih silindris dan menonjol dari topografi disekitarnya. Bentuk-bentuk yang sejajar dengan struktur batuan di sekitarnya disebut konkordan diantaranya adalah sill, lakolit dan lopolit.
1. Sill, adalah intrusi batuan beku yang konkordan atau sejajar

terhadap perlapisan batuan yang diterobosnya. Berbentuk tabular dan sisi-sisinya sejajar.
2.

Lakolit, sejenis dengan sill. Yang membedakan adalah

bentuk bagian atasnya, batuan yang diterobosnya melengkung atau cembung ke atas, membentuk kubah landai. Sedangkan, bagian bawahnya mirip dengan Sill. Akibat proses-proses geologi, baik oleh gaya endogen, maupun gaya eksogen, batuan beku dapt tersingka di permukaan.
3.

Lopolit, bentuknya mirip dengan lakolit hanya saja bagian

atas dan bawahnya cekung ke atas. Batuan beku dalam selain mempunyai berbagai bentuk tubuh intrusi, juga terdapat jenis batuan berbeda, berdasarkan pada komposisi mineral

29

pembentuknya. Batuan-batuan beku luar secara tekstur digolongkan ke dalam kelompok batuan beku fanerik. 2.2 Struktur Batuan Beku Berdasarkan tempat pembekuannya batuan beku dibedakan menjadi batuan beku ekstrusif dan intrusif. Hal ini pada nantinya akan menyebabkan perbedaan pada tekstur masing masing batuan tersebut. Kenampakan dari batuan beku yang tersingkap merupakan hal pertama yang harus kita perhatikan. Kenampakan inilah yang disebut sebagai struktur batuan beku. 1. Struktur Batuan Beku Ekstrusif Batuan beku ekstrusif adalah batuan beku yang proses pembekuannya berlangsung dipermukaan bumi. Batuan beku ekstrusif ini yaitu lava yang memiliki berbagia struktur yang memberi petunjuk mengenai proses yang terjadi pada saat pembekuan lava tersebut. Struktur ini diantaranya: a. b. c. Masif, yaitu struktur yang memperlihatkan suatu masa batuan yang terlihat seragam. Sheeting joint, yaitu struktur batuan beku yang terlihat sebagai lapisan Columnar joint, yaitu struktur yang memperlihatkan batuan terpisah poligonal seperti batang pensil.Pillow lava, yaitu struktur yang menyerupai bantal yang bergumpal-gumpal. Hal ini diakibatkan proses pembekuan terjadi pada lingkungan air. d. Vesikular, yaitu struktur yang memperlihatkan lubang-lubang pada batuan beku. Lubang ini terbentuk akibat pelepasan gas pada saat pembekuan. e. f. Amigdaloidal, yaitu struktur vesikular yang kemudian terisi oleh mineral lain seperti kalsit, kuarsa atau zeolit Struktur aliran, yaitu struktur yang memperlihatkan adanya kesejajaran mineral pada arah tertentu akibat aliran 2. Struktur Batuan Beku Intrusif Batuan beku ekstrusif adalah batuan beku yang proses pembekuannya berlangsung dibawah permukaan bumi. berdasarkan kedudukannya

30

terhadap perlapisan batuan yang diterobosnya struktur tubuh batuan beku intrusif terbagi menjadi dua yaitu konkordan dan diskordan. a) Konkordan Tubuh batuan beku intrusif yang sejajar dengan perlapisan disekitarnya, jenis jenis dari tubuh batuan ini yaitu : 1. 2. Sill, tubuh batuan yang berupa lembaran dan sejajar dengan perlapisan batuan disekitarnya. Laccolith, tubuh batuan beku yang berbentuk kubah (dome), dimana perlapisan batuan yang asalnya datar menjadi melengkung akibat penerobosan tubuh batuan ini, sedangkan bagian dasarnya tetap datar. Diameter laccolith berkisar dari 2 sampai 4 mil dengan kedalaman ribuan meter. 3. Lopolith, bentuk tubuh batuan yang merupakan kebalikan dari laccolith, yaitu bentuk tubuh batuan yang cembung ke bawah. Lopolith memiliki diameter yang lebih besar dari laccolith, yaitu puluhan sampai ratusan kilometer dengan kedalaman ribuan meter. 4. Paccolith, tubuh batuan beku yang menempati sinklin atau antiklin yang telah terbentuk sebelumnya. Ketebalan paccolith berkisar antara ratusan sampai ribuan kilometer. b) Diskordan Tubuh batuan beku intrusif yang memotong perlapisan batuan disekitarnya. Jenis-jenis tubuh batuan ini yaitu: 1. Dike, yaitu tubuh batuan yang memotong perlapisan disekitarnya dan memiliki bentuk tabular atau memanjang. Ketebalannya dari beberapa sentimeter sampai puluhan kilometer dengan panjang ratusan meter. 2. Batolith, yaitu tubuh batuan yang memiliki ukuran yang sangat besar yaitu > 100 km2 dan membeku pada kedalaman yang besar. a. Stock, yaitu tubuh batuan yang mirip dengan Batolith tetapi ukurannya lebih kecil.

31

2.3 Tekstur Batuan Beku Tekstur didefinisikan sebagai keadaan atau hubungan yang erat antar mineralmineral sebagai bagian dari batuan dan antara mineral-mineral dengan massa gelas yang membentuk massa dasar dari batuan. Tekstur pada batuan beku umumnya ditentukan oleh tiga hal yang penting, yaitu: A. Kristalinitas Kristalinitas adalah derajat kristalisasi dari suatu batuan beku pada waktu terbentuknya batuan tersebut. Kristalinitas dalam fungsinya digunakan untuk menunjukkan berapa banyak yang berbentuk kristal dan yang tidak berbentuk kristal, selain itu juga dapat mencerminkan kecepatan pembekuan magma. Apabila magma dalam pembekuannya berlangsung lambat maka kristalnya kasar. Sedangkan jika pembekuannya berlangsung cepat maka kristalnya akan halus, akan tetapi jika pendinginannya berlangsung dengan cepat sekali maka kristalnya berbentuk amorf. Dalam pembentukannnya dikenal tiga kelas derajat kristalisasi, yaitu:
1. Holokristalin, yaitu batuan beku dimana semuanya tersusun oleh

kristal. Tekstur holokristalin adalah karakteristik batuan plutonik, yaitu mikrokristalin yang telah membeku di dekat permukaan.
2. Hipokristalin, yaitu apabila sebagian batuan terdiri dari massa gelas

dan sebagian lagi terdiri dari massa kristal.


3. Holohialin, yaitu batuan beku yang semuanya tersusun dari massa

gelas. Tekstur holohialin banyak terbentuk sebagai lava (obsidian), dike dan sill, atau sebagai fasies yang lebih kecil dari tubuh batuan. B. Granularitas Granularitas didefinisikan sebagai besar butir (ukuran) pada batuan beku. Pada umumnya dikenal dua kelompok tekstur ukuran butir, yaitu:

32

a. Fanerik/fanerokristalin, Besar kristal-kristal dari golongan ini dapat dibedakan satu sama lain secara megaskopis dengan mata biasa. Kristal-kristal jenis fanerik ini dapat dibedakan menjadi: a) c) Halus (fine), apabila ukuran diameter butir kurang dari 1 mm. Kasar (coarse), apabila ukuran diameter butir antara 5 30 mm. dari 30 mm. b. Afanitik, Besar kristal-kristal dari golongan ini tidak dapat dibedakan dengan mata biasa sehingga diperlukan bantuan mikroskop. Batuan dengan tekstur afanitik dapat tersusun oleh kristal, gelas atau keduanya. Dalam analisis mikroskopis dapat dibedakan:
a) Mikrokristalin, apabila mineral-mineral pada batuan beku bisa

b) Sedang (medium), apabila ukuran diameter butir antara 1 5 mm. d) Sangat kasar (very coarse), apabila ukuran diameter butir lebih

diamati dengan bantuan mikroskop dengan ukuran butiran sekitar 0,1 0,01 mm.
b) Kriptokristalin, apabila mineral-mineral dalam batuan beku

terlalu kecil untuk diamati meskipun dengan bantuan mikroskop. Ukuran butiran berkisar antara 0,01 0,002 mm.
c)

Amorf/glassy/hyaline, apabila batuan beku tersusun oleh gelas.

C. Bentuk Kristal Bentuk kristal adalah sifat dari suatu kristal dalam batuan, jadi bukan sifat batuan secara keseluruhan. 1. Ditinjau dari pandangan dua dimensi dikenal tiga bentuk kristal, yaitu:
a) Euhedral, apabila batas dari mineral adalah bentuk asli dari

bidang kristal.

33

b) Subhedral, apabila sebagian dari batas kristalnya sudah tidak

terlihat lagi.
c)

Anhedral, apabila mineral sudah tidak mempunyai bidang kristal asli.

2.

Ditinjau dari pandangan tiga dimensi, dikenal empat bentuk kristal, yaitu:
a) Equidimensional, apabila bentuk kristal ketiga dimensinya sama

panjang.
b) Tabular, apabila bentuk kristal dua dimensi lebih panjang dari

satu dimensi yang lain.


c)

Prismitik, apabila bentuk kristal satu dimensi lebih panjang dari dua dimensi yang lain.

d) Irregular, apabila bentuk kristal tidak teratur.

D. Hubungan Antar Kristal Hubungan antar kristal atau disebut juga relasi didefinisikan sebagai hubungan antara kristal/mineral yang satu dengan yang lain dalam suatu batuan. Secara garis besar, relasi dapat dibagi menjadi dua, yaitu:
a) Equigranular, yaitu apabila secara relatif ukuran kristalnya yang

membentuk batuan berukuran sama besar. Berdasarkan keidealan kristal-kristalnya, maka equigranular dibagi menjadi tiga, yaitu:
b) Panidiomorfik granular, yaitu apabila sebagian besar mineral-

mineralnya terdiri dari mineral-mineral yang euhedral.


c) Hipidiomorfik granular, yaitu apabila sebagian besar mineral-

mineralnya terdiri dari mineral-mineral yang subhedral.


d) Allotriomorfik granular, yaitu apabila sebagian besar mineral-

mineralnya terdiri dari mineral-mineral yang anhedral.


e) Inequigranular, yaitu apabila ukuran butir kristalnya sebagai

pembentuk batuan tidak sama besar. Mineral yang besar disebut fenokris dan yang lain disebut massa dasar atau matrik yang bisa berupa mineral atau gelas.

34

2.4

Komposisi Mineral Untuk menentukan komposisi mineral pada batuan beku kita cukup mempergunakan indeks warna dari bentuk kristal, sebagai dasar penentuan mineral penyusun batuan. Atas dasar warna mineral sebagai penyusun batuan beku dapat dikelompokan menjadi dua yaitu: 1. 2. Mineral Felsik, yaitu mineral yang berwarna terang, terutama dari mineral kuarsa, feldspar, feldspartoid, dan muskovit. Mineral mafik, yaitu mineral-mineral yang berwarna gelap, terutama biotit, amphibol, dan olivin.

Gambar 2.1. Basalt

35

Gambar 2.2. Granodiorit

Gambar 2.3. Andesit

2.5

Hasil Praktikum 1) Jenis Praktikum Deskripsi batuan beku 2) Tujuan Praktikum Mampu mendiskripsikan batuan beku 3) Alat dan bahan yang digunakan Lembar dekripsi Pensil Batuan beku Pensil warna

36

Drawing pen

4) Kesimpulan Berdasarkan sifat tekstur, struktur, dan komposisi batuan beku, kita dapat mendeskripskan batuan tersebut kedalam golongan yang telah dijelaskan, sehingga praktikan dapat mengetahui baik tekstur, struktur, komposisi maupun nama batuan yang telah disediakan dalam praktikum. Dalam mendeskripsian batuan beku, agar memudahkan dalam pendeskripsian, maka harus bertahap yakni meliputi warna, tekstur, struktur, komposisi, jenis batuan dan terakhir dapat menyebutkan nama batuan tersebut. Salah satu batu yang dideskripisikan pada saat praktikum yakni Andesit dengan warna abu-abu kehitaman, tekstur derajat kristalisasi holohialin, granularitas afanitik, struktur masif, komposisi mineral pertengahan (plagioklas, piroksen, K-Feldspar), jenis batuan batuan beku intermediet.

BAB III BATUAN SEDIMEN

3.1

Genesa Batuan Sedimen Batuan sedimen adalah batuan yang terjadi akibat proses litifikasi dari hancuran batuan lain. Litifikasi batuan adalah proses yang meliputi kompaksi, autigenik, diagnesa yaitu prises terubahnya material pembentuk batuan yang bersifat lepas menjadi batuan yang kompak. Batuan ini juga dibentuk oleh

37

proses-proses yang terjadi di permukaan bumi, oleh Koesoemadinata (1979) telah membedakan batuan sedimen menjadi lioma golongan. Sedimen-sedimen yang ada terangkut sampai di suatu tempat yang disebut cekungan. Di tempat tersebut sedimen sangat besar kemungkinan terendapkan karena daerah tersebut relatif lebih rendah dari daerah sekitarnya dan karena bentuknya yang cekung ditambah akibat gaya grafitasi dari sedimen tersebut maka susah sekali sedimen tersebut akan bergerak melewati cekungan tersebut. Dengan semakin banyaknya sedimen yang diendapkan, maka cekungan akan mengalami penurunan dan membuat cekungan tersebut semakin dalam sehingga semakin banyak sedimen yang terendapkan. Penurunan cekungan sendiri banyak disebabkan oleh penambahan berat dari sedimen yang ada dan kadang dipengaruhi juga struktur yang terjadi di sekitar cekungan seperti adanya patahan. Sedimen dapat diangkut dengan tiga cara, yaitu :
1)

Suspension: ini umumnya terjadi pada sedimen-sedimen yang sangat kecil ukurannya (seperti lempung) sehingga mampu diangkut oleh aliran air atau angin yang ada.

2)

Bed load: ini terjadi pada sedimen yang relatif lebih besar (seperti pasir, kerikil, kerakal, bongkah) sehingga gaya yang ada pada aliran yang bergerak dapat berfungsi memindahkan pertikel-partikel yang besar di dasar. Pergerakan dari butiran pasir dimulai pada saat kekuatan gaya aliran melebihi kekuatan inertia butiran pasir tersebut pada saat diam. Gerakan-gerakan sedimen tersebut bisa menggelundung, menggeser, atau bahkan bisa mendorong sedimen yang satu dengan lainnya.

3)

Saltation yang dalam bahasa latin artinya meloncat umumnya terjadi pada sedimen berukuran pasir dimana aliran fluida yang ada mampu menghisap dan mengangkut sedimen pasir sampai akhirnya karena gaya grafitasi yang ada mampu mengembalikan sedimen pasir tersebut ke dasar. Pada saat kekuatan untuk mengangkut sedimen tidak cukup besar dalam membawa sedimen-sedimen yang ada maka sedimen tersebut akan

38

jatuh atau mungkin tertahan akibat gaya gravitasi yang ada. Setelah itu proses sedimentasi dapat berlangsung sehingga mampu mengubah sedimen-sedimen tersebut menjadi suatu batuan sedimen. Material yang menyusun batuan sedimen adalah lumpur, pasir, kelikir, kerakal, dan sebagainya. Sedimen ini akan menjadi batuan sedimen apabila mengalami proses pengerasan. Sedimen akan menjadi batuan sedimen melalui proses pengerasan atau pembatuan (lithifikasi) yang melibatkan proses pemadatan (compaction), sementasi (cementation) dan diagenesa dan lithifikasi. Ciri-ciri batuan sedimen adalah: (1). Berlapis (stratification), (2) Mengandung fosil, (3) Memiliki struktur sedimen, dan (4). Tersusun dari fragmen butiran hasil transportasi. Secara umumnya, sedimen atau batuan sedimen terbentuk dengan dua cara, yaitu:
1. Batuan sedimen yang terbentuk dalam cekungan pengendapan atau dengan

kata lain tidak mengalami proses pengangkutan. Sedimen ini dikenal sebagai sedimen autochthonous. Yang termasuk dalam kelompok batuan autochhonous antara lain adalah batuan evaporit (halit) dan batugamping. 2. Batuan sedimen yang mengalami proses transportasi, atau dengan kata lain, sedimen yang berasal dari luar cekungan yang ditransport dan diendapkan di dalam cekungan. Sedimen ini dikenal dengan sedimen allochthonous. Yang termasuk dalam kelompok sedimen ini adalah Batupasir, Konglomerat, Breksi, Batuan Epiklastik. Selain kedua jenis batuan tersebut diatas, batuan sedimen dapat dikelompokkan pada beberapa jenis, berdasarkan cara dan proses pembentukkannya, yaitu :
1.

Terrigenous (detrital atau klastik). Batuan sedimen klastik merupakan batuan yang berasal dari suatu tempat yang kemudian tertransportasi dan diendapkan pada suatu cekungan. Contoh: a). Konglomerat atau Breksi; b). Batupasir; c). Batulanau; d). Lempung

39

2.

Sedimen kimiawi/biokimia (Chemical/biochemical). Batuan sedimen kimiawi / biokimia adalah batuan hasil pengendapan dari proses kimiawi suatu larutan, atau organisme bercangkang atau yang mengandung mineral silika atau fosfat. Batuan yang termasuk dalam kumpulan ini adalah: a). Evaporit ; b). Batuan sedimen karbonat (batugamping dan dolomit) ; c). Batuan sedimen bersilika (rijang) ; d). Endapan organik (batubara)

3.

Batuan

volkanoklastik

(Volcanoclastic

rocks).

Batuan

volkanoklastik yang berasal daripada aktivitas gunungapi. Debu dari aktivitas gunungapi ini akan terendapkan seperti sedimen yang lain. Adapun kelompok batuan volkanoklastik adalah: Batupasir tufa dan Aglomerat Secara garis besar, genesa batuan sedimen dapat dibagi menjadi dua, yaitu: Batuan Sedimen Klastik dan Batuan Sedimen Non-klastik. Batuan sedimen klastik Batuan yang terbentuk dari hasil rombakan batuan yang sudah ada (batuan beku, metamorf, atau sedimen) yang kemudian diangkut oleh media (air, angin, gletser) dan diendapkan disuatu cekungan. Proses pengendapan sedimen terjadi terus menerus sesuai dengan berjalannya waktu sehingga endapan sedimen semakin lama semakin bertambah tebal. Beban sedimen yang semakin tebal mengakibatkan endapan sedimen mengalami kompaksi. Sedimen yang terkompaksi kemudian mengalami proses diagenesa, sementasi dan akhirnya mengalami lithifikasi (pembatuan) menjadi batuan sedimen. Batuan sedimen Non-klastik Batuan sedimen yang genesanya (pembentukannya) dapat berasal dari proses kimiawi, atau sedimen yang berasal dari sisa-sisa organisme yang telah mati.
1.2 Batuan Sedimen Klastik

Didalam pemerian batuan sedimen klastik yang mempunyai ukuran butir yang relatif kasardibedakan atas tiga bagian yakni:

40

1. didasarkan atas: a. Fragmen

Komposisi Pada batuan sedimen klastik ini, pemerian komposisi mineralnya

b. Yakni butiran pembentuk batuan yang berukuran paling besar, fragmen dapat berupa butiran mineral, batuan, atau fosil. c. Matrik d. Yakni bagian dari butiran pembentuk batuan yang berukuran lebih kecil dari fragmen, biasanya mempunyai komposisi yang sama dengan fragmen. e. Semen f. Yakni bahan pengikat antara matrik dan semen.

2. Tekstur Ada tiga hal yang menjadi perhatian dalam pengamatan tekstur dalam batuan sedimen: a. Ukuran Besar Butir (Grain Size) Dalam pemerian ukuran besar butir digunakan pedoman ukuran berdasarkan skala Wentworth, yaitu: Table 3.1. Skala Wentworth untuk mentukan besarnya ukuran butir Nama Butir Bongkah Brangkal Kerakal Kerikil Pasir Sangat Kasar Pasir Sedang Pasir Halus Pasir Sangat Halus Lanau Boulder Couble Pebble Granule Very Coarse Sand Medium Sand Fine Sand Very Fine Sand Silt Besar Butir (mm) 256 256-64 64-4 4-2 2-1 -1/4 -1/8 1/8-1/16 1/16-1/256

41

Lempung

Clay

1/256

3. Derajat Pemilahan/ Sortasi Yang dimaksud dengan derajat pemilahan atau sortasi adalah tingkat keseragaman dari butiran pembentuk batuan sedimen. Derajat pemilahan ini pun hanya dapat diamati secara megaskopis pada batuan yang bertekstur kasar, tingkat derajat pemilahan terdiri dari pemilahan baik (well sorted), pemilahan sedang (moderately sorted), dan pemilahan buruk (poorly sorted).

Gambar 3.1. derajat pemilahan A. Pemilahan baik, bila ukuran butir di dalam batuan sedimen tersebut seragam. Hal ini biasanya terjadi pada batuan sedimen dengan kemas tertutup. B. Pemilahan sedang, bila ukuran butir di dalam batuan sedimen terdapat yang seragam maupun yang tidak seragam. C. Pemilahan buruk, bila ukuran butir di dalam batuan sedimen sangat beragam, dari halus hingga kasar. Hal ini biasanya terdapat pada batuan sedimen dengan kemas terbuka. 4. Derajat Pembundaran (Roundness)

42

Yang dimaksud dengan derajat pembundaran atau roundness adalah nilai membulat/meruncingnya fragmen pembentuk batuan sedimen, yang dapat dikategorikan kedalam menyudut (angular), menyudut tanggung (subangular), membulat (rounded) membulat tanggung (subrounded), dan membulat baik (well rounded). Berdasarkan kebundaran atau keruncingan butir sedimen maka Pettijohn, dkk., (1987) membagi kategori kebundaran menjadi enam tingkatan ditunjukkan dengan pembulatan rendah dan tinggi (Gambar 3.2). Keenam kategori kebundaran tersebut yaitu: 1. Sangat meruncing (sangat menyudut) (very angular) 2. Meruncing (menyudut) (angular) 3. Meruncing (menyudut) tanggung (subangular) 4. Membundar (membulat) tanggung (subrounded) 5. Membundar (membulat (rounded), dan 6. Sangat membundar (membulat) (well-rounded).

Gambar 3.2 Derajat pembundaran 5. Struktur Struktur batuan sedimen tidak banyak dilihat dari contoh-contoh batuan di laboratorium. Macam-macam astruktur batuan sedimen yang penting antara lain Struktur Perlapisan, dimana struktur ini merupakan

43

sifat utama dari batuan sedimen klastik yang menghasilkan bidang-bidang sejajar sebagai hasil proses pengendapan. 3.3 Batuan Sedimen Non-klastik 1. Batuan Sedimen Organik Batuan sedimen organik adalah yang dihasilkan olek aktifitas organisme yang terdapat sebagai sisa organisme yang biasanya tetap tinggal di tempatnya. Contohnya dari batuan sedimen semacam ini adalah batu gamping koral, diatomea, dll. Pada batuan sedimen organik selalu terlihat struktur-struktur organismenya dengan jelas walaupun seringkali terdapat rekristalisasi. 2. Batuan Sedimen Kimia Sebagian dari sedimen semacam ini dihasilkan oleh proses penguapan. Contohnya adalah endapan gypsum, garam, dan lain-lain. Batuan sedimen kimiawi biasanya hanya terdiri dari satu macam mineral saja yang jelas walaupan bersifat berhablur tetapi kilapnya adalah non-metalik. 1. Struktur Batuan Sedimen Struktur batuan sedimen non klastik terbentuk dariproses reaksi kimia ataupun kegiatan organik.Macamnya antara lain yang penting : a. Fosilliforous Struktur yang ditunjukan oleh adanya fosil ataukomposisi terdiri dari fosil (sedimen organik) b. Oolitik Struktur dimana suatu fragmen klastik diselubungi olehmineral non klastik, bersifat konsentrisdengan diameter berukuran lebih kecil 2 mm (0,252mm) kristal kristal berbentuk bulat atauelipsoid, seperti telur ikan. Contoh : batugamping oolit. c. Pisolitik Sama dengan oolitik tetapi ukuran diameternya lebihbesar dari 2 mm. contoh : batugampingpisolitik.

44

d.

Konkresi Kenampakan struktur ini sama dengan struktur oolitiktetapi tidak menunjukan adanya sifatkonsentris.

e.

Cone in cone Struktur pada batugamping kristalin yang menunjukan pertumbuhan kerucut perkerucut.

f. g.

Bioherm Tersusun oleh organisme murni dan bersifat insitu Blostrome Seperti bioherm tetapi bersifat klastik. Bioherm danbiostrome merupakan struktur luar yanghanya tampak dilapangan.

h.

Septaria Sejenis konkresi tetapi mempunyai komposisi lempung .ciri khasnya adanya rekahanrekahan yang tidak teratur akibat penyusutan bahanbahanlempungan tersebut karena proses dehidrasi yang kemudian celahcelah yang terbentuk terisi olehkristalkristal karbonat yang kasar.

i.

Geode Banyak dijumpai pada batuan gamping, berupa rongga-rongga yang terisi oleh kristal-kristal yang tumbuh ke arah pusat rongga tersebut. Kristalbisa kalsit ataupun kuarsa.

j. 2.

Styolit Styolit ini merupakan hubungan antar butir yang bergerigi.

Komposisi batuan sedimen Komposisi mineral batuan sedimen non klastik cukup penting dalam menentukan penamaanbatuan. Pada batuan sedimen jenis non klastik biasanyakomposisi mineralnya sederhana yaitu apabila terdiri dari satu atau dua macam mineral. Sebagaiberikut : Batugamping : Kalsit dolomit Chert Gypsum : Kalsedon : Mineral gypsum

45

Anhidrit

: Mineral anhidrit

Gambar 3.3. Batubara

Gambar 3.4. Batugamping terumbu

46

Gambar 3.5. Batulempung 3.4 Hasil Praktikum 1. 2. 3. -

Jenis Praktikum Deskripsi batuan sedimen Tujuan Praktikum Mampu mendiskripsikan batuan sedimen Alat dan bahan yang digunakan Lembar dekripsi batuan sedimen Pensil Batuan sedimen Pensil warna Drawing pen Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan, untuk mendeskripsikan nama batuan sedimen, harus mengetahui struktur, tekstur dan komposisi dari batuan sedimen tersebut. Untuk memudahkan praktikan dalam mendeskripsikan batuan sedimen, haruslah sesuai dengan urutan yakni meliputi warna, tekstur, struktur, komposisi, jenis batuan, dan yang terakhir praktikan dapat mengetahui nama dari batuan tersebut. Sebagai contoh batuan yang dipraktikumkan adalah batulempung. Berikut pendeskripsian batu lempung. warna abu-abu Kehijauan, tektur klastik, ukuran butir lempung (< 1/125), daerajat pemilahan baik, derajat

4. Kesimpulan

47

pembundaran membundar, struktur masif komposisi feldspar, jenis batuan batu sedimen klastik.

BAB

IV

BATUAN METAMORF

4.1

Genesa Batuan Metamorf Batuan metamorf adalah batuan yang terbentuk oleh proses metamorfose pada batuan yang.telah ada sebelumnya. Proses metamorfose sendiri adalah proses perubahan mineral, tekstur atau struktur batuan dalam keadaan padat akibat perubahan tekanan (P) dan suhu yang tinggi / temperature (T) dalam kerak bumi tanpa perubahan pada komposisi kimia. Metamorforsa terjadi dalam suatu lingkungan yang sangat berbeda dengan lingkungan dimana batuan asalnya terbentuk. Banyak mineral-mineral hanya stabil dalam batas-batas tertentu dalam temperatur, tekanan dan kimiawi. Jika batuan tersebut dikenakan temperatur dan tekanan yang lebih tinggi daripada dekat permukaan, batas kestabilan mineral dapat dilampaui, penyesuaian mekanis dan kimia dapat terjadi dalam batuan membentuk mineral-mineral baru yang stabil dalam kondisi baru.

4.2

Tipe-tipe Metamorfose 1) Metamorfose sentuh / termal / kontak

48

Metamorfose yang terjadi akibat intrusi magma atau ekstrusi lava. Perubahan yang terjadi akibat temparatur (T) yang tinggi. 2) Metamorfose dinamik Metamorfose yang terjadi pada daerah yang mengalami dislokasi intensif. Biasanya didapatkan di daerah sempit, misal akibat patahan. Metamorfose yang terjadi diakibatkan oleh kenaikan tekanan (P). 3) Metamorfose regional Metamorfose yang terjadi pada daerah yang luas akibat pembentukan pegunungan atau orogenesa. Batuan yang termetamorfose diakibatkan terutama oleh kenaikan tekanan (P) dan temperatur (T) secara bersamasama. Biasanya didapatkan di daerah geosinklin yang dasarnya mengalami penurunan. Fasies metamorfosis dicirikan oleh mineral atau himpunan mineral yang mencirikan sebaran T dan P tertentu. Mineral-mineral itu disebut sebagai mineral index. Beberapa contoh mineral index antara lain:
1.

Staurolite : intermediate high-grade metamorphism Kyanite Zeolite : intermediate high-grade : low grade metamorphism : contact metamorphism

2. Actinolite : low intermediate metamorphism 3.

4. Silimanite : high grade metamorphism 5.

6. Epidote

4.3 Tekstur Batuan Metamorf Tekstur dalam batuan metamorf menyangkut mengenai rekristalisasi dari mineral yang sangat dipengaruhi oleh temperatur yang terjadi saat metamorfose. Tekstur dalam batuan metamorf akan dicerminkan oleh ukuran dan bentuk butir penyusun. Tekstur dalam batuan metamorf dibedakan atas dua macam yaitu Kristaloblastik dan Palimpsest. 1. Kristaloblastik

49

Yaitu mineral-mireral batuan asal sudah mengalami kristalisasi kembali seluruhnya pada waktu terjadi metamorfose. Terjadi pada saat tumbuhnya mineral dalam suasana padat (tekstur batuan asalnya tidak tampak lagi), dalam pembentukan batuan beku mineral tumbuh pada suasana cair. Penamaannya biasanya diakhiri dengan kata blastik. a. Lepidoblastik Terdiri dari mineral-mineral tabular/pipih, misalnya mineral mika (muskovit, biotit).

b.

Nematoblastik Terdiri dari mineral-mineral prismatik, misalnya mineral plagioklas, k-felspar, piroksen.

c.

Granoblastik Terdiri dari mineral-mineral granular (equidimensional), dengan batas-batas sutura (tidak teratur), dengan bentuk mineral anhedral, misalnya kuarsa.

d.

Porfiroblastik Tekstur pada batuan metamorf dimana suatau kristal besar (fenokris) tertanam pada massa dasar yang relatif halus.

e.

Idioblastik Tekstur pada batuan metamorf di mana bentuk mineral-mineral penyusunnya berbentuk euhedral.

f.

Xenoblastik Tekstur pada batuan metamorf dimana bentuk mineral-mineral penyusunnya berbentuk anhedral.

2. Relict texture (tekstur sisa) atau Palimpsest

Yaitu tekstur batuan metamorf yang masih menunjukkan tekstur batuan asalnya. Penamaanya biasanya diawali dengan kata blasto. a. Blastoporfiritik

50

Suatu tekstur sisa dari batuan asal yang bertekstur porfiritik. b. Blastoopitik Suatu tekstur sisa dari batuan asal yang bertekstur apitik.

Gambar 4.1. Tekstur Batuan Metamorf Beberapa tekstur batuan metamorfik, A. Granoblastic dengan tekstur mosaic, B. Granoblastic (butir tak teratur), C. Schistose dengan porfiroblast euhedral, D. Schistose dengan granoblastik lentikuler, E. Metasandstone dengan Semischistose, F. Semischistose dalam batuan blastoporphyritic metabasalt, G. Mylonite granite ke arah bawah menjadi Protomylonite, H. Orthomylonite ke arah bawah menjadi Ultramylonite, I. Granoblastic di dalam blastomylonite. 4.4 Struktur Batuan Metamorf Struktur batuan metamorf adalah kenampakan batuan yang berdasarkan ukuran, bentuk atau orientasi unit poligranular batuan tersebut (Jackson, 1970). Pembahasan mengenai struktur juga meliputi susunan bagian masa batuan termasuk hubungan geometrik antar bagian serta bentuk dan kenampakan internal bagian-bagian tersebut (Bucher & Frey, 1994). Secara

51

umum struktur batuan metamorf dapat dibedakan menjadi 2 yaitu : struktur foliasi dan struktur non foliasi.

1.

Struktur Foliasi Struktur foliasi adalah struktur paralel yang dibentuk oleh mineral pipih/ mineral prismatik, seringkali terjadi pada metamorfosa regional dan metamorfosa kataklastik. Beberapa struktur foliasi yang umum ditemukan :
1) Slaty cleavage : struktur foliasi planar yang dijumpai pada bidang

belah batu sabak/slate, mineral mika mulai hadir, batuannya disebut slate (batusabak).
2) Phylitic : rekristalisasi lebih kasar daripada slaty cleavage, batuan

lebih mengkilap daripada batusabak (mulai banyak mineral mika), mulai terjadi pemisahan mineral pipih dan mineral granular meskipun belum begitu jelas/belum sempurna, batuannya disebut phyllite (filit).
3) Schistose : struktur perulangan dari mineral pipih dan mineral

granular, mineral pipih orientasinya menerus/tidak terputus, sering disebut dengan close schistosity, batuannya disebut schist (sekis).
4) Gneisose : struktur perulangan dari mineral pipih dan mineral

granular, mineral pipih orientasinya tidak menerus/terputus, sering disebut dengan open schistosity, batuannya disebut gneis. 2. Struktur Non Foliasi Struktur non foliasi adalah struktur yang dibentuk oleh mineral-mineral yang equidimensional dan umumnya terdiri dari butiran-butiran granular, seringkali terjadi pada metamorfosa termal. Beberapa struktur non foliasi yang umum ditemukan :
1) Granulose : struktur non foliasi yang terdiri dari mineral-mineral

granular

52

2) Hornfelsik : struktur non foliasi yang dibentuk oleh mineral-

mineral equidimensional dan equigranular, tidak terorientasi, khusus akibat metamorfosa termal, batuannya disebut hornfels.
3) Cataclastic

struktur

non

foliasi

yang

dibentuk

oleh

pecahan/fragmen batuan atau mineral berukuran kasar dan umumnya membentuk kenampakan breksiasi, terjadi akibat metamorfosa (kataklasit).
4) Mylonitic : struktur non foliasi yang dibentuk oleh adanya

kataklastik,

batuannya

disebut

cataclasite

penggerusan mekanik pada metamorfosa kataklastik, menunjukan goresan-goresan akibat penggerusan yang kuat dan belum terjadi rekristalisasi mineral-mineral primer, batuannya disebut mylonite (milonit).
5) Phyllonitic : gejala dan kenampakan sama dengan milonitik tetapi

butirannya halus, sudah terjadi rekristalisasi, menunjukan kilap silky, batuannya disebut phyllonite (filonit). 4.5 Klasifikasi batuan metamorf berdasarkan komposisi kimia batuan asal 1) Batuan metamorf pelitik, berasal dari batuan lempungan (batulempung, serpih, batulumpur); komposisinya banyak mengandung Al2O3, K2O, dan SiO2; batuannya kebanyakan bertekstur skistosa contohnya sekis, batusabak, dll.; mineralogi : muskovit, biotit, kianit, silimanit, kordierit, garnet, stauroeit; secara umum batuan pelitik akan berubah menjadi batuan metamorfosis dengan meningkatnya T, akan terbentuk berturut-turut : batu sabak - filit sekis genes. 2) Batuan metamorf kuarsa-felspatik, berasal dari batupasir atau batuan beku felsik (misalnya granit, riolit), dicirikan kandungan SiO2 tinggi dan MgO serta FeO rendah, hasilnya batuannya bertekstur bukan skistosa. 3) Batuan metamorf karbonatan, berasal dari batuan yang berkomposisi CaCO3 (batugamping, dolomit), hasil metamorfosa berupa marmer, bila batuan asal (batugamping) mengandung MgO dan SiO2 diharapkan

53

terbentuk mineral tremolit, diopsid, wolastonit dan mineral karbonatan yang lain, bila batuan asal mengandung cukup Al2O3 diharapkan terbentuk mineral plagioklas, epidot, hornblenda yang hampir mirip dengan mineralogi batuan metamorf yang berasal dari batuan beku basa. 4) Batuan metamorf basa, berasal dari batuan beku basa (SiO2 sekitar 50%), batuan metamorfnya disebut metabasite, batuan asal banyak mengandung MgO, FeO, CaO dan Al2O3 maka mineral metamorfosanya berupa klorit, aktinolit, epidot (fasies sekis hijau) dan hornblenda (fasies amfibolit), untuk T lebih tinggi akan muncul klino dan ortopiroksen dan plagioklas. 5) Batuan metamorf ultra basa, berasal dari batuan beku ultra basa, batuan hasil metamorfosa berupa serpentinit, sering dijumpai pada daerah metamorf yang mengandung glaukofan.

54

Gambar 4.2 Marmer

Gambar 4.3. Kuarsit

Gambar 4.4. Batu Sabak

55

4.6

Hasil Praktikum 1) 2) 3) Jenis Praktikum Deskripsi batuan metamorf Tujuan Praktikum Mampu mendiskripsikan batuan metamorf Alat dan bahan yang digunakan
- Lembar deskripsi batuan metamorf

- Pensil - Batuan metamorf - Pensil warna - Drawing pen 4) Kesimpulan Batuan metamorf merupakan batuan yang terbentuk oleh proses metamorfose pada batuan yang telah ada. Untuk mendiskripsikan batuan metamorf harus mengetahui tipe-tipe dari batuan metamorf, tekstur, struktur, dan komposisi. Untuk itu, untuk memudahkan praktikan dalam mendiskripsian batuan metamorf, harus mengikuti langkah yakni, menentukan warna, tekstur, struktur, komposisi, jenis batuan, dan terakhir praktikan dapat menentukan nama batuan tersebut. Berdasarkan praktikum, berikut pendeskripsian kuarsit. Warna putih kekuningan, tekstur, kristaloblastik (Granoblastik), struktur nonfoliasi (Kataklastik), komposisi Kuarsi (SiO2), jenis batuan batuan metamorf non-foliasi

56

BAB V STRATIGRAFI

1.1. Pengertian Stratigrafi Stratigrafi adalah studi mengenai sejarah, komposisi dan umur relatif serta distribusi perlapisan tanah dan interpretasi lapisan-lapisan batuan untuk menjelaskan sejarah Bumi. Dari hasil perbandingan atau korelasi antarlapisan yang berbeda dapat dikembangkan lebih lanjut studi mengenai litologi (litostratigrafi), kandungan fosil (biostratigrafi), dan umur relatif maupun absolutnya (kronostratigrafi). stratigrafi kita pelajari untuk mengetahui luas penyebaran lapisan batuan.
1.2. Hukum Dasar Stratigrafi

1.

Uniformitarianisme The Present is the key to the past. (James Hutton, 1785) Maksudnya adalah bahwa proses-proses geologi alam yang terlihat sekarang ini dipergunakan sebagai dasar pembahasan proses geologi masa lampau. Uniformitarianisme adalah peristiwa yang terjadi pada masa geologi lampau dikontrol oleh hukum-hukum alam yang mengendalikan peristiwa pada masa kini. Contoh : pembentukan endapan sedimen di muara sungai yang membentuk delta, akan menghasilkan 3 bagian yang berbeda kemiringan lapisan batuan, maka bila dijumpai tipe endapan yang terdiri dari top set, bottom set, dan fore set, menunjukkan adanya proses pengendapan di muara sungai. Jadi penentuan paleogeografi bisa ditentukan berdasar pembacaan data yang terekam pada batuan. Dengan mudah kita dapat menentukan kedalaman lingkungan sediment laut berdasar keberadaan fosil organisme,terumbu karang, yang menunjukan laut dangkal, dan endapan diatome untuk laut dalam.

57

2.

Original Horizontality Sedimen yang baru terbentuk cenderung mengikuti bentuk dasarnya dan cenderung untuk menghorizontal, kecuali cross bedding. Hal ini karena pengaruh sedimen dikontrol oleh hukum gravitasi dan hidrolika cairan.

3.

Superposisi Dalam keadaan yang tidak terganggu, lapisan paling tua akan berada dibawah lapisan yang lebih muda. Hal ini secara logis dapat dijelaskan bahwa proses pengendapan mulai dari terbebtuknya lapisan awal yang terletak di dasar cekungan, selanjutnya ditutup oleh lapisan yang terendapkan kemudian, yang tentu lebih muda dari ditutupinya.

4. Cross Cutting Relationship Hukum ini menyatakan bahwa Batuan yang terpotong mempunyai umur geologi yang lebih tua daripada yang memotong. Prinsip-prinsip Cross-cutting Relationship :
a. Cross-cutting Relationship Struktural, dimana suatu retakan yang

memotong batuan yang lebih tua


b. Cross-cutting Relationship Stratigrafi, terjadi jika erosi permukaan

atau ketidakseragaman memotong batuan yang lebih tua, struktur geologi atau bentuk-bentuk geologi yang lain.
c. Cross-cutting Relationship Sedimentasi, terjadi jika suatu aliran telah

mengerosi endapan yang lebih tua pada suatu tempat. Sebagai contoh suatu terusan atau saluran yang terisi oleh pasir.
d. Cross-cutting Relationship Paleontologi, terjadi jika adanya aktivitas

hewan dan tumbuhan yang tumbuh. Sebagai contoh ketika jejak hewan yang terbentuk atau terendapkan pada endapan berlebih.
e. Cross-cutting Relationship Geomorfologi, terjadi pada daerah yang

berliku atau bergelombang (sungai, dan aliran di sepanjang lembah).

58

5.

Faunal Succesion Fosil (fauna) akan berbeda pada setiap perbedaan umur geologi, fosil yang berada pada lapisan bawah akan berbeda dengan fosil di lapisan atasnya. Fosil-fosil yang dijumpai pada perlapisan batuan secara perlahan mengalami perubahan kenampakan fisiknya (ekibat evolusi) dalam cara yang teratur mengikuti waktu geologi. Demikian pula suatu kelompok organism secara perlahan digantikan oleh kelompok organism lain. Suatu perlapisan tertentu dicirikan oleh kandungan fosil tertentu. Suatu perlapisan batuan yang mengandung fosil tertentu dapat digunakan untuk koreksi antara suatu lokasi dengan lokasi yang lain.

6. Lateral Continuity Pengendapan lapisan batuan sedimen akan menyebar secara mendatar, sampai menipis atau menghilang pada batas cekungan dimana ia diendapkan. Lapisan yang diendapakna oleh air terbentuk terus-menerus secara lateral dan hanya membaji pada tepian pengendapan pada masa cekungan itu terbentuk. 7. Law of Inclusion Suatu tubuh batuan yang mengandung fragmen dari batuan yang lain selalu lebih muda dari tubuh batuan yang menghasilkan fragmen tersebut. 8. Komplelsitas Kondisi tektonik yang lebih kompleks menunjukkan bahwa telah terjadi gangguan tektonik lebih dari satu kali pada daerah tersebut. Hal ini menunjukkan daerah tersebut berumur leih tua disbanding lapisan batuan yang berstruktur lebih sederhana. 9. Hukum V Pola penyebaran singkapan batuan dipengaruhi oleh kemiringan lapisan batuan dan topografi. Hubungan antara kemiringan lapisan batuan dan topografi daerah dirumuskan dengan Hukum V

59

10. Sostasi Yaitu diferensiasi berdasarkan kerapatan jenis. Massa jenis yang lebih berat berada di bagian bawah, sedangkan yang lebih ringan berada di bagian atas. 1.3. Pemanfaatan Dasar Stratigrafi 2. Kepentingan Ilmiah Mempelajari bagaimana keadaan lapisan batuan misalkan, tebal lapisan batuan atau kemiringan lapisan batuan, dan lain-lain sebagainya. 3. Kepentingan Teknik Dalam mempelajari stratigrafi biasanya kita akan membuat sesuatu penampang stratigrafi, kegunaan daripada kolom stratigrafi tersebut antara lain mempelajari secara keseluruhan urutan-urutan vertikal dari suatu perlapisan, mempelajari secara detail litologi batuan, mengetahui tebal lapisan, mengetahui hubungan antar lapisan, megetahui sejarah geologinya dan lin sebagainya.
1.4. Keselarasan dan Ketidakselarasan

1. Keselarasan Merupakan pengendapan yang berlangsung secara terus menerus tanpa ada selang waktu dari suatu lapisan yang lain di bawah lapisan yang berada di atasnya. 2. Ketidak Keselarasan Merupakan tidak menerusnya proses pengendapan atau sedimentasi disebabkan adanya proses erosi. Ketidakselarasan ini di bagi tiga, yaitu:

1. Ketidakselarasan menyudut (Angular Unconformity)

60

Gambar 5.1. Angular Unconformity Yaitu kelompok batuan yang berada di bawah ketidakselarasan membentuk sudut dengan kelompok batuan lain yang berada di atasnya 2. Ketidakselarasan sejajar (Disconformity)

Gambar 5.2. Disconformity Lapisan batuan yang berada di atas dan di bawah dibang ketidakselarasan saling sejajarsatu sama lainnya tetapi jelas nampak suatu bidang erosi. 3. Nonconformity

61

Gambar 5.3. Nonconformity Merupakan bidang erosi antara batuan sedimen yang berada di atas batuan kristalin di bawahnya. 4. Paraconformity

Ga mbar 5.4. Paraconformity Yakni ketidakselarasan antara batuan-batuan yang sama yang tidak menimbulkan perbedaan yang mencolok.
4.1. Korelasi Batuan

Dalam pengembangan ilmu geologi terutama untuk mengetahui bagaimana penyebaran statigrafi batuan dalam skala yang cukup besar, perlu dilakukan

62

korelasi antar batuan , dimana korelasi tersebut bertujuan menujukan bahwa horizon tertentu dalam suatu bagian geologi mewakili lithologi ang sama dengan horizon lain pada beberapa bagian lain. Dalam melakukan korelasi batuan tersebut ada hal-hal yang harus diperhatikan, yaitu: 1) Harus menghubungkan batuan ng mempunya lithologi yang sama. 2) Dapat menggunakan tampilan dua dimensi. 3) Dapat melakukan korelasi 3 dimensi.
4) Menggunakan key bed (batuan yang mempunyai ketebalan tipis tapi

pelamparan horizontal cukup luas).

4.2. Hasil Praktikum 1. Jenis Praktikum Stratigrafi

63

2. Tujuan Praktikum Dapat Mengenal Stratigrafi dan Penerapannya 3. Alat dan bahan yang digunakan -

Lembar korelasi batuan Pensil warna Drawing pen Pensil Penggaris

4. Kesimpulan Stratigrafi merupakan ilmu yang mempelajari pemerian lapisan batuan dalam kulit bumi. Dalam praktikum, praktikan dapat menjelasankan gambar litologi dari batuan serta dapat mengetahui simbol-simbol batuan dan simbol litologi yang digunakan dalam pemerian batuan berdasarkan gambar resistensi batuan yang telah ada. Sehingga praktikan juga dapat menjelaskan proses terjadinya atau pembentukan batuan yang terdapat pada lembar gambar yang telah diberikan. Dalam praktikum yang telah praktikan laksanakan bahwa dalam gambar dapat dianalisis proses yang terjadi pada gambar yang telah diberikan yakni, terdapat ketidak selarasan Angular Unconformity antara batu granit dan gabro, dan juga batuan mengalami intrusi yakni batu granit dan gabro. Pada gambar terdapat batuan yang tua yakni breksi atas dasar hukum superposisi.

BAB VI PENUTUP

64

6.1

KESIMPULAN Peta topografi yaitu peta yang menggambarkan permukaan bumi lengkap dengan reliefnya. Penggambaran relief permukaan bumi ke dalam peta digambar dalam bentuk garis kontur. Garis kontur adalah garis pada peta yang menghubungkan tempat-tempat yang mempunyai ketinggian yang sama. Penggambaran peta topografi meliputi: garis kontur, garis hachures, pewarnaan, kombinasi dan bayangan.
Batuan baku adalah batuan yang terbentuk dari magma yang mendingin

dan mengeras, dengan atau tanpa proses kristalisasi, baik di bawah permukaan sebagai batuan intrusif (plutonik) maupun di atas permukaan sebagai batuan ekstrusif (vulkanik). Magma ini dapat berasal dari batuan setengah cair ataupun batuan yang sudah ada, baik di mantel ataupun kerak bumi. yang terbentuk karena pendinginan dan pembekuan magma. batuan sedimen adalah salah satu dari tiga kelompok utama batuan (bersama dengan batuan beku dan batuan metamorfosis) yang terbentuk melalui tiga cara utama: pelapukan batuan lain (clastic); pengendapan (deposition) karena aktivitas biogenik; dan pengendapan (precipitation) dari larutan. Jenis batuan umum seperti batu kapur, batu pasir, dan lempung, termasuk dalam batuan endapan. Batuan endapan meliputi 75% dari permukaan bumi.
Metamorforsa terjadi dalam suatu lingkungan yang sangat berbeda dengan

lingkungan dimana batuan asalnya terbentuk. Tipe-tipe metamorfose meliputi, metamorfose kontak, dinamik, dan regional. Untuk tekstur yakni kristaloblastik dan palimsest, dan untuk Struktur batuan metamorf adalah foliasi dan non-foliasi.
Stratigrafi adalah studi mengenai sejarah, komposisi dan umur relatif serta

distribusi perlapisan tanah dan interpretasi lapisan-lapisan batuan untuk menjelaskan sejarah Bumi. Dari hasil perbandingan atau korelasi antarlapisan yang berbeda dapat dikembangkan lebih lanjut studi

65

mengenai litologi (litostratigrafi),

kandungan fosil (biostratigrafi),

dan

umur relatif maupun absolutnya (kronostratigrafi). stratigrafi kita pelajari untuk mengetahui luas penyebaran lapisan batuan. 6.2 SARAN 1. Diharapkan kedepannya asisten pembimbing dapat lebih menjelaskan secara rinci mengenai batuan yang akan didiskripsikan, agar praktikan tidak mengalami kesulitan pada saat praktikum pendiskripsian batuan. Caranya seperti mengambil sampel salah satu batuan dan menjelaskan kepada praktikan mengenai warna, struktur, tekstur, komposisi jenis dan nama. 2. Diharapkan kedepannya untuk praktikum, sebelum dilaksanakan praktikum diharapkan dilaksanakan matrikulasi lebih mendalami dengan harapan memudahkan

DAFTAR PUSTAKA

66

____. 2010. Ketidakselarasan http://www.toiki.or.id/2010/07/ketidakselarasanunconformity.html. diakses pada 13 Mei 2012. Graha, Setia Doddy Ir. 1987. Batuan dan Mineral. Bandung : Nova Iskandar. GarisKontur. http://www.crayonpedia.org/mw/Garis_Kontur,_Sifat_dan_Interpolasinya. diakses pada 13 Mei 2012. Noor, Jauhari. 2012. Struktur Batuan Beku. http://www.scribd.com/doc/57623968/6/Struktur-Batuan-Beku. diakses pada 13 Mei 2012. Suhardi, M.S. 1984. Geologi Teknik, Untuk Teknik Sipil. Yogyakarta : Biro Penerbit UGM. Tim penyusun. 2012. Buku Panduan Geologi Fisik. Palangka Raya.

67