Anda di halaman 1dari 1

Abses Bartholine ABSTRAK

Ira Theresia(406100033)

Seorang pasien wanita, 37 tahun, datang dengan keluhan terdapat benjolan pada kemaluannya, semenjak 1 bulan yang lalu. Benjolan tersebut terasa cenut-cenut dan nyeri. Pasien sudah pernah mengalami hal yang sama seperti ini sebelumnya (4 bulan yang lalu), dan sudah dianjurkan untuk dilakukan pengangkatan namun pasien menolak. Pada pemeriksaan fisik didapatkan TS 110/70 mmHg, Nadi 78 x/menit, Suhu 36.4 C. Pada genital (kelenjar bartholin kiri) didapatkan benjolan sebesar telur angsa, berwarna merah, pada perabaan lebih hangat, lunak, dan terasa nyeri. Pada pemeriksaan penunjang didapatkan Leukosit 12.400. Akhirnya pasien ini didiagnosa Abses Bartholines. Dan kemudian pasien dilakukan incisi (1cm) pada daerah mukokutan dengan anestesi lokal (Chlor ethyl), keluar pus sebanyak 70cc. Setelah tindakan, pasien pulang. Diberikan terapi Dexiclav 3 x 500mg, dan Mefinal 3x 250mg. Pasien dianjurkan untuk kontrol lagi ke klinik kandungan 1 minggu kemudian dan direncanakan untuk dilakukan ekstirpasi kista.

DISKUSI Pada pasien ini didiagnosis Abses Bartholines sudah tepat dan sudah sesuai dengan teori. Yaitu apabila ditemukan pembesaran pada kelenjar Bartholine, teraba lunak, berwarna merah dan pada perabaan lebih hangat daripada sekitarnya, serta terasa nyeri pada perabaan. Penangan pada kasus ini tergolong cepat, karena 3 jam setelah pasien masuk RS, pasien langsung dilakukan incisi. Pada pasien ini terjadi abses berulang. Hal ini sudah sesuai dengan teori bahwa, abses bartholine bisa berulang kecuali telah dilakukan pengangkatan (ekstirpasi). Penatalaksanaan pada pasien ini sudah tepat. Yaitu dengan dilakukan incisi pada daerah mukokutan, lalu dikeluarkan isinya. Dan diberikan obat Antibiotik serta Analgetik. Pada pasien ini dianjurkan untuk dilakukan ekstirpasi apabila keadaan sudah tenang. Menurut buku ilmu kandungan, penatalaksanaan untuk kista bartholine adalah dengan marsupialisasi, yaitu suatu tindakan setelah dilakukan sayatan dan isi kista dikeluarkan, dinding kista yang terbuka dijahit pada kulit vulva yang terbuka pada sayatan. Pada pasien ini harusnya dilakukan pemeriksaan GO untuk follow up, agar dapat memastikan penyebabnya dan supaya dapat mendapat terapi yang lebih tepat. Namun pada pasien ini tidak dilakukan.

Kasus IV