Anda di halaman 1dari 26

PEMINGSANAN (IMOTILISASI) PADA IKAN MAS (Cyprinus carpio) DENGAN MENGGUNAKAN SUHU RENDAH SECARA LANGSUNG DAN IKAN

NILA (Oreochromis niloticus) DENGAN MENGGUNAKAN BAHAN ANESTESI ESENS CENGKEH (Syzigium aromaticum)

Oleh : Kelompok 2 M. Andi Rahman Santika Soebagio Elka Firmanda Selviyani C34080009 C34080055 C34080056 C34080085

DEPARTEMEN TEKNOLOGI HASIL PERAIRAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2010

PEMINGSANAN (IMOTILISASI) PADA IKAN MAS (Cyprinus carpio) DENGAN MENGGUNAKAN SUHU RENDAH SECARA LANGSUNG DAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus) DENGAN MENGGUNAKAN BAHAN ANESTESI ESENS CENGKEH (Syzigium aromaticum)

Oleh : M. Andi Rahman C34080009

DEPARTEMEN TEKNOLOGI HASIL PERAIRAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2010

PEMINGSANAN (IMOTILISASI) PADA IKAN MAS (Cyprinus carpio) DENGAN MENGGUNAKAN SUHU RENDAH SECARA LANGSUNG DAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus) DENGAN MENGGUNAKAN BAHAN ANESTESI ESENS CENGKEH (Syzigium aromaticum)

Oleh : Santika Soebagio C34080055

DEPARTEMEN TEKNOLOGI HASIL PERAIRAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2010

PEMINGSANAN (IMOTILISASI) PADA IKAN MAS (Cyprinus carpio L) DENGAN MENGGUNAKAN SUHU RENDAH SECARA LANGSUNG DAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus) DENGAN MENGGUNAKAN BAHAN ANESTESI ESENS CENGKEH (Syzigium aromaticum)

Oleh : Elka Firmanda C34080056

DEPARTEMEN TEKNOLOGI HASIL PERAIRAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2010

PEMINGSANAN (IMOTILISASI) PADA IKAN MAS (Cyprinus carpio) DENGAN MENGGUNAKAN SUHU RENDAH SECARA LANGSUNG DAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus) DENGAN MENGGUNAKAN BAHAN ANESTESI ESENS CENGKEH (Syzigium aromaticum)

Oleh : Selviyani C34080085

DEPARTEMEN TEKNOLOGI HASIL PERAIRAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2010

KATA PENGANTAR Segala puji, syukur dan hormat penulis panjatkan kehadiran Tuhan Yang Maha Kasih yang telah memberikan kekuatan dan kemampuan sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan pratikum dengan judul Pemingsanan (Imotilisasi) Pada Ikan Mas (Cyprinus carpio L) dengan Menggunakan Suhu Rendah Secara Langsung dan Ikan Nila (Oreochromis niloticus) dan Menggunakan Bahan Anestesi Esens Cengkeh (Syzigium aromaticum). Pratikum ini dilakukan sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan mata kuliah Teknologi Penanganan dan Transportasi Biota Perairan. Pada kesempatan ini kami menghaturkan ucapan terima kasih sedalam-dalamnya kepada: 1. Dr. Ruddy Suwandi, MS., M.Phil. yang telah membimbing dan memberikan ilmu yang bermanfaat. 2. Dede Saputra JE., S.Pi. yang telah membimbing dalam praktikum. 3. Kristian Edo Zulfamy yang telah membantu dalam melaksanakan praktikum. 4. Hendar Kadarusman, Riyan Adi Priyanto, Neng Tanty Sofyana, dan Dwi Febrianti yang telah membantu dalam praktikum selama ini. 5. Teman teman Teknologi Hasil Perairan angkatan 45 dan semua pihak yang telah mendukung dalam mata kuliah Teknologi Penanganan dan Transportasi Biota Perairan. Penulis menyadari masih ada kekurangan serta keterbatasan penulis dalam menyelesaikan penulisan ini. Oleh karena itu, saran dan kritik yang bersifat konstruktif sangat diharapkan untuk melengkapi penulisan ini. Harapan penulis semoga penulisan ini dapat bermanfaat bagi yang membutuhkannya. Bogor, 24 September 2010

Penulis

DAFTAR ISI
Halaman KATA PENGANTAR ..................................................................................................................... i DAFTAR ISI .................................................................................................................................. ii DAFTAR GAMBAR ....................................................................................................................... iii DAFTAR TABEL ........................................................................................................................... iv DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................................................... v 1. PENDAHULUAN ...................................................................................................................... 1 1.1 Latar belakang .................................................................................................................. 1 1.2 Tujuan ............................................................................................................................... 1 2. TINJUAN PUSTAKA ................................................................................................................ 2 2.1 Deskripsi dan klasifikasi ikan mas (Cyprinus carpio L.) .................................................... 2 2.2 Deskripsi dan klasifikasi ikan nila (Oreochromis niloticus) ................................................ 3 2.3 Imotilisasi (pemingsanan) dengan penurunan suhu secara langsung dan bertahap ............................................................................................................................ 3 2.4 Anestesi ............................................................................................................................ 4 3. METODOLOGI ......................................................................................................................... 6 3.1 Waktu dan tempat ............................................................................................................. 6 3.2 Bahan dan alat .................................................................................................................. 6 3.2.1 Bahan dan alat pada praktikum pemingsanan dengan suhu rendah............................................................................................................ 6 3.2.2 Bahan dan alat pada praktikum pemingsanan dengan esens cengkeh ....................................................................................................... 6 3.3 Prosedur Kerja .................................................................................................................. 7 3.3.1 Prosedur kerja pada praktikum pemingsanan dengan suhu rendah............................................................................................................ 7 3.3.2 Prosedur kerja pada praktikum pemingsanan dengan esens cengkeh ....................................................................................................... 9 4. HASIL DAN PEMBAHASAN ................................................................................................... 11 4.1 Pemingsanan dengan es secara langsung ....................................................................... 11 4.2 Pemingsanan dengan esens cengkeh .............................................................................. 12 5. KESIMPULAN DAN SARAN ................................................................................................... 14 6. DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................................. 15 LAMPIRAN.................................................................................................................................... 16

DAFTAR GAMBAR Nomor Teks Halaman

1 Morfologi ikan mas (Cyprinus carpio)..................................................................................... 2 2 Morfologi ikan nila (Oreochromis niloticus)............................................................................ 3 3 Diagram alir proses pemingsanan ikan dengan penurunan suhu secara langsung............. 8 4 Diagram alir proses pemingsanan ikan dengan menggunakan esens cengkeh................... 10

DAFTAR TABEL Nomor Teks Halaman

1 Hasil pengamatan pemingsanan ikan dengan penurunan suhu secara langsung pada ulangan pertama........................................................................................................... 16 2 Hasil pengamatan pemingsanan ikan dengan penurunan suhu secara langsung pada ulangan ke-2................................................................................................................. 16 3 Hasil pengamatan pemingsanan ikan dengan esens cengkeh pada ulangan pertama........ 17 4 Hasil pengamatan pemingsanan ikan dengan esens cengkeh pada ulangan ke- 2.............. 17 5 Hasil pengamatan pemingsanan ikan dengan esens cengkeh pada ulangan ke- 3.............. 17

DAFTAR LAMPIRAN Nomor Halaman

1 Hasil pengamatan pemingsanan ikan dengan penurunan suhu secara langsung pada ulangan pertama............................................................................................................. 16 2 Hasil pengamatan pemingsanan ikan dengan bahan anestesi alami esens cengkeh pada ulangan pertama.................................................... 17

1. PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumberdaya perikanan dan kelautan.

Wilayah perairan yang lebih luas dibandingkan darat, membuka potensi yang baik bagi Indonesia sebagai penghasil komoditi perairan hasil tangkapan maupun budidaya. Hasil produksi perikanan Indonesia yang meningkat juga memperlebar peluang Indonesia dalam pasar dunia. Namun, pemanfaatan hasil perairan Indonesia masih sangat kurang. Banyak sekali ikan yang ditangkap namun kurang mendapatkan penanganan dan cara distribusi yang baik. Penanganan yang baik mampu mempertahankan mutu hasil perairan sehingga tingkat harga tidak turun drastis. Produk dengan mutu tinggi juga akan mempertahankan kandungan gizi dan vitamin yang terkandung dalam hasil perairan tersebut. Wilayah Indonesia yang begitu luas sangat membutuhkan transportasi ikan yang baik. Transportasi ikan harus diperhatikan agar ikan yang dikirim sampai ke tangan konsumen dalam keadaan yang baik. Konsumen saat ini sudah mulai sadar akan kualitas hasil perikanan yang mereka konsumsi. Tantangan yang harus dihadapi oleh transportasi biota perairan adalah menjaga agar biota tidak keracunan dan tetap dalam keadaan prima sampai tujuan. Salah satu cara yang dapat ditempuh adalah dengan menggunakan teknik imotilisasi yang bertujuan untuk memperkecil metabolisme agar biota dapat hidup lebih lama. Salah satu teknik imotilisasi adalah dengan penurunan suhu secara bertahap. Perubahan suhu yang kecil menyebabkan ikan tetap tenang, tidak banyak bergerak, aktivitas metabolis-me dan respirasi berkurang sehingga diharapkan daya tahan hidup ikan cukup tinggi. Di samping itu, dengan redahnya metabolisme ikan maka kebutuhan energi untuk aktivitas ikan juga akan rendah (Karnila dan Edison, 2001)

1.2

Tujuan Mengetahui pengaruh pemberian es secara langsung terhadap daya tahan ikan mas

(Cyprinus carpio) dan pengaruh pemberian esens cengkeh (Syzigium aromaticum) terhadap daya tahan ikan nila (Oreochromis niloticus).

2.2

Deskripsi dan Klasifikasi Ikan Nila (Oreochromis niloticus) Ikan nila adalah ikan yang dapat dibudidayakan (pembesaran) pada perairan tawar dan

payau yang bersifat herbivora atau pemakan tumbuh- tumbuhan. Selain itu, nila juga memakan penghancuran sampah di dalam air (detrivor) yang berupa sampah lunak atau lembek. Ikan nila terkenal sebagai ikan yang sangat tahan terhadap perubahan lingkungan hidup. Ikan nila makan dengan cara mengambil lumpur, menghisap bagian-bagian yang dapat dicerna, dan sisanya akan dikeluarkan (Suyanto 2001). Klasifikasi dan identifikasi ikan nila (Oreochromis niloticus) menurut Rastidja (1997) adalah sebagai berikut: Filum Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Chordata : Actinopterygii : Perciformes : Cichlidae : Oreochromis : Oreochromis niloticus

Morfologi Ikan nila (Oreochromis niloticus) dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2. Ikan nila (Oreochromis niloticus)


Sumber: Sugiarto (1988)

Ikan nila memiliki bentuk badan yang pipih, berpunggung lebih tinggi daripada ikan mujair. Pada badan dan sirip ekor ditemukan garis-garis lurus, sedangkan garis-garis memenjang ditemukan pada sirip punggung dan sirip dubur. Seluruh tubuh ikan tertutup oleh sisik, sisik ikan nila tergolong sisik sikloid .Ikan nila biasanya hidup di sungai, waduk, rawa, dan sawah. Di daerah tropis, ikan nila dapat hidup dan tumbuh dengan baik sepanjang tahun pada lokasi ketinggian 500 meter di atas permukaan air laut (Suyanto 2001).

2.3

Imotilisasi (Pemingsanan) dengan Penurunan Suhu Secara Langsung dan Bertahap Imotilisasi adalah proses pemingsanan yang berprinsip pada hibernasi yaitu usaha

menekan metabolisme suatu organisme hingga kondisi minimum untuk mempertahankan hidupnya lebih lama. Teknik imotilisasi terdiri dari Imotilisasi dengan penurunan suhu secara langsung, imotilisasi dengan penurunan suhu secara bertahap, dan imotilisasi dengan bahan kimia. Suhu merupakan faktor utama yang mempengaruhi proses fisika kimia yang terjadi di dalam perairan. Suhu air secara tidak langsung akan mempengaruhi kelarutan oksigen dan secara langsung mempengaruhi proses kehidupan organisme. Pengaruh suhu air akan langsung mempengaruhi derajat metabolisme ikan. Selain teradaptasi pada suhu tinggi atau suhu rendah tertentu, ikan juga mempunyai sifat tersendiri dalam mengadaptasi perubahan suhu lingkungan. Ikan air tawar mempunyai daya toleransi yang besar terhadap perubahan suhu (Jubaedah 2006). Perubahan suhu yang kecil saat penurunan suhu bertahap menyebabkan ikan tetap tenang, tidak banyak bergerak, aktivitas metabolisme, dan respirasi berkurang sehingga diharapkan daya tahan ikan cukup tinggi. Di samping itu, dengan rendahnya metabolisme ikan maka kebutuhan energi untuk aktivitas ikan juga akan rendah. Ini berarti perombakan ATP menjadi ADP, AMP, dan IMP untuk menghasilkan energi juga sangat rendah sehingga oksigen yang digunakan untuk merombak ATP untuk menghasilkan energi juga sangat rendah. Hal ini menyebabkan kadar oksigen dalam darah ikan tidak turun secara drastis, sehingga ikan mampu hidup lebih lama (Karnila dan Edison 2006). 2.4 Anestesi Anestesi adalah suatu proses terkendalinya sistem saraf pusat yang menyebabkan turunnya kepekaan terhadap rangsangan dari luar dan rendahnya respon gerak dari rangsangan tersebut. Transportasi biota hidup dengan sistem kering dapat dilakukan dengan menurunkan suhu media hidupnya atau menggunakan bahan-bahan pembius (anestesi) alami maupun buatan (Karnila dan Edison 2007 dalam Suwandi R dan Saputra D 2010). Anestesi secara luas digunakan dalam perikanan dan akuakultur untuk pemingsanan hewan untuk transportasi, vaksinasi, mengukur, memilah dan penandaan, sampling untuk darah atau biopsi gonad, dan koleksi gamet, dan juga untuk mengurangi stres dan memfasilitasi kinerja prosedur yang menyakitkan (Halil 2009). Bahan anestesi alami yang digunakan untuk kepentingan transportasi biota hidup hasil perairan biasanya berupa tanaman-tanaman herbal atau jenis lainnya. Bahan anestesi alami

meliputi ekstrak pepaya, ekstrak sambiloto, esens cengkeh, ekstrak tembakau, dan es. Ekstrak pepaya memiliki kandungan kimia antara lain enzim papain, alkaloida karparina, pseudo karparina, saponin, sakarosa, dektrosa, dan levulosa. Ekstrak sambiloto mengandung andrographolide yang merupakan senyawa keton terpena. Cengkeh mengandung euganol sebagai antiseptik dan antimikroba. Ekstrak tembakau mengandung nikotin yang merupakan senyawa alkaloid. Es merupakan media pendingin yang paling baik dari media pendingian lainnya. Di dalam penggunaannya, es curai dan es tabung lebih efisien dan ekonomis. Penggunaan bahan anestesi alami dilakukan dalam rangka menjamin keamanan produk hingga sampai kepada konsumen (Karnila dan Edison 2006). Bahan anestesi sintetik adalah MS222 dan CO2. MS222 merupakan bahan antimetabolit buatan yang digunakan untuk imotilisasi. MS222 disebut juga dengan tricane (etil m-aminobenzoat metanesulfat) berbentuk kristal molekul C10H15NO5S dan berat molekul 201,31. Pemakaian CO2 yang disarankan adalah 1:1 meliputi campuran gelembung CO2 dan O2 ke air (Karnila dan Edison 2007 dalam Suwandi R dan Saputra D 2010). MS222 digunakan untuk mengatasi stress dalam transportasi (Pramod dkk 2010).

3. METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat Praktikum pemingsanan ikan dengan menggunakan teknik penurunan suhu secara langsung pada ikan mas (Cyprinus carpio) dan teknik pemingsanan ikan dengan menggunakan esens cengkeh pada ikan nila (Oreochromis niloticus) dilaksanakan dua kali yaitu pada hari Selasa tanggal 31 Agustus dan 21 September 2010. Praktikum ini dilaksanakan di Laboratorium Karakteristik Bahan Baku Industri Hasil Perairan, Departemen Teknologi Hasil Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. 3.2 Bahan dan Alat Praktikum pemingsanan(imotilisasi) pada ikan mas (Cyprinus carpio) dengan menggunakan suhu rendah secara langsung dan ikan nila (Oreochromis niloticus) dengan menggunakan bahan anestesi esens cengkeh (Syzigium aromaticum) menggunakan bahan dan alat yang dibagi menjadi dua kriteria yaitu, bahan utama dan bahan tambahan. Bahan utama merupakan bahan pokok pada praktikum sedangkan bahan tambahan merupakan bahan yang digunakan untuk membantu dalam jalannya praktikum. Alat utama merupakan alat yang harus tersedia selama praktikum sedangkan alat tambahan merupakan alat yang dibutuhkan demi kelancaran dan kemudahan dalam praktikum. Bahan utama yang digunakan pada praktikum pemingsanan ikan dengan menggunakan teknik suhu rendah secara langsung adalah ikan mas (Cyprinus carpio) dan es batu sedangkan bahan tambahan yang digunakan yaitu air. Alat utama yang digunakan pada praktikum ini yaitu wadah stoples dan pipet tetes. Alat tambahan yang digunakan yaitu termometer, gelas ukur, timbangan, akuarium, dan aerator. Bahan dan alat tersebut harus tersedia selama praktikum berlangsung agar praktikum dapat berjalan dengan baik dan hasil yang diperoleh akurat. Bahan utama yang digunakan pada praktikum pemingsanan ikan dengan menggunakan bahan anestesi adalah ikan nila (Oreochromis niloticus) dan esens cengkeh sedangkan bahan tambahan yang digunakan yaitu air. Alat yang digunakan pada praktikum ini yaitu wadah stoples dan pipet tetes. Alat tambahan yang digunakan yaitu termometer, gelas ukur, timbangan, akuarium, dan aerator. Sama halnya seperti pada praktikum pemingsanan ikan dengan menggunakan teknik suhu rendah secara langsung, bahan dan alat tersebut harus tersedia selama praktikum berlangsung agar praktikum dapat berjalan dengan baik dan hasil yang diperoleh akurat.

3.3

Prosedur Kerja Praktikum pemingsanan (imotilisasi) menggunakan dua jenis biota dan dua metode yang

berbeda yaitu, Ikan mas (Cyprinus carpio) yang diimotilisasi dengan teknik penurunan suhu rendah secara langsung menggunakan es dan ikan nila (Oreochromis niloticus) yang diimotilisasi menggunakan bahan anestesi alami yaitu esens cengkeh. Pemingsanan dilakukan pada ikan mas (Cyprinus carpio) yang telah dipuasakan dengan menggunakan teknik imotilisasi penurunan suhu rendah secara langsung. Pada metode ini, biota perairan diimotilisasi langsung pada suhu rendah. Biota perairan dimasukkan ke dalam air dingin yang telah diturunkan suhunya dengan menggunakan es batu. Es yang digunakan sebaiknya dihancurkan terlebih dahulu, hal tersebut dimaksudkan agar proses penurunan suhu merata ke seluruh air. Pengukuran suhu awal (T0) dilakukan sebelum penambahan es dan dimasukkannya ikan pada wadah yang telah berisi air. Pengukuran suhu air dilakukan dengan menggunakan thermometer. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pengunaan termometer yaitu tangan praktikan tidak boleh menyentuh langsung termometer karena dikhawatirkan suhu tubuh dari praktikan akan ikut terukur oleh termometer dan menyebabkan hasil yang tidak akurat. Selain itu, termometer setiap selesai digunakan harus segera dibersihkan. Setelah dilakukan pengukuran suhu air dengan menggunakan termometer, ikan mas (Cyprinus carpio) tersebut ditimbang sebagai bobot awal (W0). Pengukuran bobot ikan dilakukan dengan mengunakan timbangan, baik timbangan digital maupaun manual. Namun timbangan digital memiliki hasil yang lebih akurat jika dibandingkan dengan timbangan manual karena memiliki tingkat akurasi atau ketepatan yang lebih tinggi. Setelah itu, wadah stoples yang telah disiapkan diberi es dan setelah 5 menit dilakukan pengukuran suhu awal pengamatan (T1). Wadah yang digunakan dalam praktikum pemingsanan ikan sebaiknya memiliki warna yang transparan. Kemudian ikan mas (Cyprinus carpio) dimasukkan kedalam wadah stoples yang berisi air dan es. Kegiatan pengamatan tingkah laku ikan dan pencatatan suhu ikan dilakukan setiap 10 menit. Adapun indikator yang harus diperhatikan selama pengamatan berlangsung adalah pergerakan ikan, tingkah laku ikan, bukaan operkulum, pergerakan sirip ikan yang meliputi sirip caudal, ventral, dorsal, anal, dan pektoral. Selain itu, jumlah lendir dan kotoran yang dihasilkan juga ikut diperhatikan selama kegiatan pengamatan berlangsung. Setelah ikan mas (Cyprinus carpio) pingsan, dilakukan pengukuran bobot akhir (Wt) dan dilakukan penyadaran ikan dengan menggunakan air mengalir melalui operkulum ikan sampai ikan kembali sadar. Jika ikan mas (Cyprinus carpio) sadar maka proses pemingsanan dengan menggunakan teknik penurunan suhu secara langsung yang dilakukan pada biota perairan dikatakan sukses.

Ikan mas (Cyprinus carpio)

Penimbangan bobot awal (W0)

Pengisian air sampai 1/3 dari isi wadah

Pemasukkan es ke dalam wadah

Penambahan es batu dan pengukuran suhu setiap 10 menit serta diamati tingkah lakunya

Ikan pingsan

Penimbangan bobot akhir

Penyadaran ikan

Ikan sadar

Dilakukan pengulangan sebanyak 2 kali dengan ikan yang berbeda

Keterangan :

awal dan akhir proses persiapan proses proses

Gambar 3. Diagram alir prosedur kerja pemingsanan pada ikan mas (Cyprinus carpio) dengan menggunakan bahan anestesi es secara langsung.

Ikan nila (Oreochromis niloticus) yang telah dipuasakan, dipingsankan

dengan

menggunakan bahan anestesi alami yaitu esens cengkeh. Pada metode ini, esesns cengkeh diteteskan pada biota perairan yang terdapat di dalam wadah. Ikan nila (Oreochromis niloticus) tersebut ditimbang sebagai bobot awal (W0). Pengukuran bobot ikan dilakukan dengan menggunakan timbangan digital. Hal yang harus diperhatikan dalam penggunaan timbangan digital adalah timbangan harus dikalibrasi terlebih dahulu agar hasil yang diperoleh akurat. Setelah itu, ikan dimasukkan ke dalam wadah stoples yang telah disiapkan. Wadah stoples yang digunakan sebaiknya memiliki warna yang transparan, hal tersebut bertujuan agar mempermudah bagi praktikan dalam kegiatan pengamatan. Setelah itu, ikan nila (Oreochromis niloticus) dimasukkan ke dalam wadah stoples yang sudah diisi air sebanyak 3 L. Sebelumnya, suhu air dalam wadah stoples diukur terlebih dahulu sebagai suhu awal (T0). Alat yang digunakan untuk mengukur suhu adalah thermometer. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pengunaan termometer yaitu tangan praktikan tidak boleh menyentuh langsung termometer karena dikhawatirkan suhu tubuh dari praktikan akan ikut terukur oleh termometer dan menyebabkan hasil yang tidak akurat. Selain itu, termometer setiap selesai digunakan harus segera dibersihkan. Bahan anestesi yang akan digunakan dalam praktikum disiapkan terlebih dahulu. Setelah itu, pada wadah yang telah disediakan dimasukkan sebanyak 20 tetes esens cengkeh serta diamati segala tingkah laku ikan dan prubahan fisiologis yang terjadi pada ikan nila (Oreochromis niloticus). Kegiatan pemberian bahan anestesi, pengamatan tingkah laku ikan, dan pencatatan suhu dilakukan setiap 10 menit. Adapun indikator yang harus diperhatikan selama pengamatan berlangsung adalah pergerakan ikan, tingkah laku ikan, bukaan operkulum, pergerakan sirip ikan yang meliputi sirip caudal, ventral, dorsal, anal, dan pektoral. Selain itu, jumlah lendir dan kotoran yang dihasilkan juga ikut diperhatikan selama kegiatan pengamatan. Pemberian bahan anestesi ini dilakukan sampai ikan mengalami pingsan. Ikan yang telah mengalami pingsan atau kondisi tidak sadar akan memberikan respons gerak yang sangat sedikit sekali terhadap rangsangan yang diberikan. Setelah ikan pingsan, dilakukan penimbangan bobot akhir (W0) dan setelah itu dilakukan penyadaran ikan menggunakan air yang mengalir melalui operkulum ikan sampai ikan kembali sadar. Jika ikan sadar, maka proses pemingsanan dengan menggunakan bahan anestesi esens cengkeh (Syzigium aromaticum) pada biota perairan dikatakan sukses. Prosedur kerja pemingsanan pada biota perairan dengan menggunakan bahan anestesi dapat dilihat pada Gambar 4.

Ikan nila (Oreochromis niloticus)

Penimbangan bobot awal ikan (W0)

Pengisian 3 L air ke dalam wadah

Pengukuran suhu air

Pemasukkan ikan ke dalam wadah

Esens cengkeh

Penambahan bahan anestesi cengkeh dan pengukuran suhu setiap 10 menit serta diamati tingkah lakunya

Ikan pingsan

Penimbangan bobot akhir

Penyadaran ikan Dilakukan pengulangan sebanyak 2 kali dengan ikan yang berbeda

Ikan sadar

Keterangan :

awal dan akhir proses persiapan proses proses

Gambar 4. Diagram alir prosedur kerja pemingsanan ikan nila (Oreochromis niloticus) dengan menggunakan esens cengkeh.

4. HASIL DAN PEMBAHASAN Pemingsanan (imotilisasi) dapat dilakukan dengan dua cara. Cara pertama adalah pemingsanan dengan penurunan suhu yaitu menekan metabolisme dalam tubuh ikan dengan menurunkan suhu lingkungan ikan. Cara kedua adalah pemingsanan dengan menggunakan bahan anestesi baik yang kimia maupun alami. 4.1 Pemingsanan dengan penurunan suhu secara langsung Biota yang digunakan pada pemingsanan dengan penurunan suhu secara langsung adalah ikan mas (Cyprinus carpio). Ikan mas (Cyprinus carpio) dipingsankan dengan penurunan suhu secara langsung menggunakan es sebanyak 1000 g. Pengamatan yang dilakukan meliputi reaksi tingkah laku ikan sampai pingsan, penurunan suhu air, dan perubahan bobot sebelum dan sesudah pemingsanan. Pemingsanan ikan dengan menggunakan es secara langsung ini dilakukan dua kali ulangan. Ulangan pertama bobot ikan sebelum dipingsankan sebesar 155 g dan setelah dipingsankan bobot ikan turun menjadi 150 g. Adapun suhu awal adalah 27 o C, setelah sepuluh menit suhu air tercatat 10 o C, pada menit ke-20 suhu air 11 o C, menit ke-30 sebesar 12 o C, menit ke-40 sebesar 13 o C, menit ke-50 sebesar 14 o C, dan menit ke-60 sebesar 15 o C. Tingkah laku yang ditunjukkan oleh ikan selama pengamatan pada menit ke-10 adalah pergerakan ikan aktif, bukaan operkulum kecil, lendir banyak keluar, dan sirip bergerak lemah. Tingkah laku ikan pada menit ke-20 adalah pergerakan ikan mulai berkurang, kestabilan tubuh berkurang, dan lendir semakin banyak. Menit ke-30 bukaan operkulum semakin kecil, pergerakan sirip tidak terjadi, dan ikan tidak bergerak. Menit ke-40 adalah ikan tidak begerak, air mengeruh, dan bukaan operkulum kecil. Menit ke-50 bukaan operkulum mulai melebar, pergerakan sirip mulai terlihat, dan ikan mulai bergerak. Menit ke-60 bukaan operkulum semakin lebar dan ikan bergerak lambat. Pengamatan pada ulangan ke-2 diperoleh hasil bobot ikan sebelum dipingsankan sebesar 210 g dan setelah dipingsankan bobot ikan turun menjadi 190 g. Suhu air yang diukur selama pengamatan diperoleh suhu awal sebesar 28 o C, setelah sepuluh menit suhu air sebesar 7 o C dan setelah dua puluh menit suhu air sebesar 9 o C. Adapun tingkah laku yang ditunjukkan pada menit ke-10 adalah kestabilan ikan berkurang, pergerakan sirip tidak ada, bukaan operkulum kecil, kotoran banyak keluar, dan lendir banyak. Ikan pingsan pada menit ke-18. Pemingsanan dapat mempengaruhi bobot ikan. Ikan yang telah dipingsankan memiliki bobot yang lebih kecil dari pada ikan sebelum dipingsankan karena ikan yang dipingsankan laju metabolismenya ditekan hingga kondisi minimum dan mengalami eksresi yang berlebihan (Suwandi dan Saputra 2010). Penurunan suhu yang dilakukan dalam proses pemingsanan mempengaruhi metabolisme dalam tubuh ikan. Semakin rendah suhu menyebabkan metabolisme didalam tubuh semakin kecil dan terhambat. Hal ini mengakibatkan ikan mengalami kehilangan

kesadaran (pingsan). Pengamatan pada ulangan pertama menunjukan bahwa ikan tidak pingsan, hal ini terjadi karena es yang digunakan masih dalam ukuran besar-besar sehingga penurunan suhu tidak merata. Selain itu kenaikan suhu setelah es mencair terjadi lebih cepat. 4.2 Pemingsanan dengan menggunakan esens cengkeh Bahan anestesi yang dapat digunakan dalam proses pemingsanan ikan terdiri atas bahan anestesi kimia dan bahan anestesi alami. Salah satu bahan anestesi alami adalah esens cengkeh. Pemingsanan dengan bahan anestesi alami esens cengkeh dilakukan tiga kali ulangan. Pada ulangan pertama bobot ikan sebelum dipingsankan sebesar 100 g, setelah dipingsankan bobot ikan sebesar 90 g, dan suhu air awal sebesar 27 o C. Adapun tingkah laku yang ditunjukkan selama pengamatan, pada menit ke-10 adalah kotoran banyak keluar, pergerakan pasif, bukaan operkulum kecil, kestabilan terjaga, dan lendir banyak keluar. Menit ke-20 kestabilan ikan mulai menurun, pergerakan aktif, dan pergerakan sirip pektoral aktif. Menit ke-25 kestabilan ikan menghilang, bukaan operkulum sangat kecil, dan ikan pingsan. Pengamatan pada ulangan ke-2 bobot awal ikan sebelum dipingsankan sebesar 110 g, setelah dipingsankan bobot tetap 110 g, dan suhu awal sebesar 28 o C. Adapun tingkah laku yang ditunjukkan ikan selama pengamatan, pada menit ke-10 adalah kotoran banyak keluar, kestabilan ikan menurun, lendir banyak keluar, dan pergerakan sirip caudal aktif. Menit ke-16 bukaan operkulum sangat kecil, kestabilan ikan menghilang, dan ikan pingsan. Pengamatan pada ulangan ke-3 bobot awal ikan sebelum dipingsankan sebesar 90 g, setelah pingsan bobot ikan tetap 90 g, dan suhu awal sebesar 27 o C. Adapun tingkah laku yang ditunjukkan selama pengamatan, pada menit ke-10 kotoran mulai keluar, pergerakan sirip aktif, lendir banyak, dan kestabilan terjaga. Menit ke-20 kestabilan berkurang, pergerakan sirip pektoral aktif, dan ikan pingsan. Setiap bahan yang digunakan untuk proses pemingsanan ikan memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan dari bahan anestesi alami yang digunakan yang berupa esens cengkeh dibandingkan penggunaan suhu rendah adalah waktu yang diperlukan dalam proses pemingsanan lebih cepat sedangkan kekurangan dari penggunaan bahan anestesi alami esens cengkeh akan meninggalkan aroma dan rasa pada daging ikan yang dipingsankan. Bahan anestesi alami memiliki efektivitas yang berbeda satu dengan yang lainnya. Efektivitas dari esens cengkeh sangatlah tinggi karena esens cengkeh mengandung eugenol yang langsung menyerang kerja dari sistem saraf pusat (Karnila dan Edison 2001). Hal ini menyababkan ikan yang dipingsankan lebih cepat mengalami kehilangan kesadaran. Zat aktif yang terdapat pada esens cengkeh adalah eugenol yang bersifat antiseptik dan antimikroba. Cengkeh juga befungsi sebagai aromaterapi yang dapat mengurangi stres. Kandungan eugenol dalam tanaman cengkeh memiliki variasi pada

setiap bagian. Bunga cengkeh mengandung eugenol sebesar 85-95%, tangkai cengkeh mengandung eugenol sebesar 90-95%, dan daun cengkeh mengandung eugenol sebesar 80-88% (Suwandi dan Saputra 2010). Pemingsanan dengan menggunakan esens cengkeh memperoleh hasil ikan rata-rata pingsan dalam waktu kurang dari 30 menit. Hal ini terjadi karena zat aktif dalam esens cengkeh yang berupa eugenol menyerang langsung pada kinerja saraf pusat. Pengamatan pada ulangan pertama bobot ikan turun sebesar 10 g sedangkan pada ulangan ke-2 dan ulangan ke-3 bobot ikan tidak mengalami penurunan bobot. Penurunan bobot terjadi karena metabolisme basal yang terjadi saat ikan pingsan menekan konsumsi oksigen dan laju ekskresi.

5. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Pemingsanan (imotilisasi) pada ikan dapat meningkatkan ketahanan hidup ikan selama transportasi karena dapat menekan tingkat aktivitas, respirasi, dan metabolisme ikan serendah mungkin. Pemingsanan dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan penurunan suhu dan penggunaan bahan anestesi. Bahan anestesi dapat dibagi menjadi bahan anestesi alami dan bahan anestesi kimia. Pemingsanan dengan menggunakan penurunan suhu lebih aman karena tidak meninggalkan residu maupun aroma dan rasa pada ikan yang dipingsankan. 5.2 Saran Perlu diperhatikan faktor kesegaran dan kesehatan ikan nila (Oreochromis niloticus) yang akan diimotilisasi dengan teknik penurunan suhu rendah secara langsung dan ikan mas (Cyprinus carpio) yang akan diimotilisasi dengan menggunakan esens cengkeh, karena sangat berpengaruh terhadap ketahanan, kelulusan hidup dan keberhasilan proses imotilisasi tersebut.

Daftar Pustaka Chumcal M.M. and R.W. Drener. 2002. Interrelationships between nutriens, fish and supplemental feeding in the regulation of phytoplankton biomass. American Society of Limnology and Oceanography Annual Meeting, Victoria, Canada. Jubaedah I. 2006. Pengelolaan waduk bagi kelestarian dan keanekaragaman hayati ikan. Jurnal penyuluhan pertanian. Vol 1 No. 1 : 42-47. Karnila R. dan Edison. 2001. Pengaruh Suhu dan Waktu Pembiusan Bertahap Terhadap Ketahanan Hidup Ikan Jambal Siam (Pangasius Sutchi F) dalam Transportasi Sistem Kering. Jurnal Natur Indonesia III (2): 151 167 . Halil dan Tansel. 2009. Efficacy of 2- phenoxyethanol as a anaeshetic for the musky octopus, Elesone moschata (Lamarck 1799), (Cephalopoda: Ocopodidae). Turk. J. Vet. Anim. Sci. 2009; 33(6): 463-467 Nurdjannah N. 2004. Diversifikasi penggunaan cengkeh. Perspektif 3(2): 61-70. Patriono E, Junaidi E, dan Setiorini A. 2009. Pengaruh Potongan Sirip Terhadap Pertumbuhan Panjang Tubuh Ikan Mas (Cyprinus carpio L). Jurnal penelitian sains vol 09: 12-13. Pramod P.K, Ramachandran A, Sajeevan T.P, Thampy S, dan Pai S.S. 2010. Comparative efficacy of MS-22 and benzocaine as anaesthetics under simulated transport conditions of a tropical ornamental fish Puntius filamentosus (Valenciennes). Aquaculture Research, 2010, 41, 309314. Rastidja. 1997. Pembenihan Ikan ikan Tropis. Budidaya Perikanan Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya Malang. Rudiyanti S dan Ekasari A.D. 2009. Pertumbuhan dan Survival Rate Ikan Mas (Cyprinus carpio L) pada Berbagai Konsentrasi Pestisida Regent 0,3 G. Jurnal Saintek Perikanan Vol . 5, No 1, 2009 39-47. Sugiarto. 1988. Teknik Pengembangan Ikan Mujair dan Nila. Jakarta: CV Simplek. Suwandi R dan Saputra D. 2010. Modul Praktikum Teknologi Penanganan dan Transportasi Biota Perairan. Teknologi Hasil Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor.

LAMPIRAN Tabel 1. Hasil pengamatan pemingsanan ikan dengan es pada ulangan pertama Waktu (menit)
10

Parameter
Pergerakan ikan aktif Bukaan operkulum kecil Lendir banyak keluar Sirip bergerak lemah

Suhu (o C)
10

20

Pergerakan ikan mulai berkurang Kestabilan tubuh berkurang Lendir semakin banyak

11

30

Bukaan operkulun semakin kecil Pergerakan sirip tidak terjadi Ikan tidak bergerak

12

40

Tidak terjadi pergerakan Air mengeruh Bukaan operkulum kecil

13

50

Bukaan operkulum mulai melebar Pergerakan sirip mulai terlihat Ikan mulai bergerak

14

60

Bukaan operkulum semakin lebar Ikan bergerak lambat

15

Bobot awal: 155 gr

Bobot akhir: 150 gr

Suhu awal : 27 o C

Tabel 2. Hasil pengamatan pemingsanan ikan dengan es pada ulangan ke-2 Waktu (menit)
10

Parameter
Kestabilan ikan berkurang Pergerakan sirip tidak ada Bukaan operkulum kecil Kotoran banyak keluar Lendir banyak.

Suhu (o C)
7

20

Ikan telah pingsan

Bobot awal: 210 gr

Bobot akhir: 190 gr

Suhu awal: 280 C

Tabel 3. Hasil pengamatan pemingsanan ikan dengan bahan anastesi alami esens cengkeh pada ulangan pertama Waktu (menit) 10 Parameter Kotoran banyak keluar Pergerakan pasif Bukaan operkulum kecil Kestabilan terjaga Lendir banyak keluar Kestabilan ikan mulai menurun Pergerakan aktif Pergerakan sirip pektoral aktif Kestabilan ikan menghilang Bukaan operkulum sangat kecil Ikan pingsan Bobot akhir: 90 gr Suhu awal: 270 C

20 25 Bobot awal: 100 gr

Tabel 4. Hasil pengamatan pemingsanan ikan dengan bahan anastesi alami esens cengkeh pada ulangan ke-2 Waktu (menit) 10 Parameter Kotoran banyak keluar Kestabilan ikan menurun Lendir banyak keluar Pergerakan sirip caudal aktif Bukaan operkulum sangat kecil Kestabilan ikan menghilang Ikan pingsan Bobot akhir: 110 gr Suhu awal: 280 C

16 Bobot awal: 110 gr

Tabel 5. Hasil pengamatan pemingsanan ikan dengan bahan anastesi alami esens cengkeh pada ulangan ke-3 Waktu (menit) 10 Parameter Kotoran mulai keluar Pergerakan sirip aktif Lendir banyak Kestabilan terjaga Kestabilan berkurang Pergerakan sirip pektoral aktif Ikan pingsan Bobot akhir: 90 gr

20 Bobot awal: 90 gr

Suhu awal: 27 C