Anda di halaman 1dari 64

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Pembangunan nasional di bidang pendidikan merupakan bagian dari upaya
mencerdaskan kehidupan bangsa sesuai dengan Pembukaan UUD 1945 alinea ke4.
Dalam hal ini pendidikan tidak hanya menekankan kepada penguasaan aspek
kognitif namun juga aspek afektif dan psikomotor. Terlebih sekarang pemerintah
sedang mencanangkan pendidikan karakter bangsa karena di era reformasi ini
bangsa Indonesia seperti kehilangan jati diri bangsa.
Krisis multidimensi yang melanda bangsa Indonesia menimbulkan
dampak negatif bagi dunia pendidikan dengan memunculkan permasalahan-
permasalahan baru di dunia pendidikan antara lain pelayanan pendidikan tidak
dapat dilaksanakan dengan optimal karena menggunakan cara berpikir lama
sehingga tidak mampu lagi mengatasi permasalahan pendidikan di masa sekarang.
Diperlukan cara berpikir baru dan terobosan-terobosan yang inovatif untuk
mengatasi permasalahan pendidikan di masa kini dan masa yang akan datang.
Salah satu permasalahan mendasar yang dilakukan di sekolah adalah
proses pembelajaran yang monoton dan klasikal yang cenderung membosankan.
Hal ini menyebabkan keterpurukan bagi siswa pada khususnya dan dunia
pendidikan pada umumnya karena model lama seperti ini tidak mampu
memberikan kompetensi bagi siswa untuk bersaing di era globalisasi.
Matematika merupakan mata pelajaran yang sangat terpengaruh dengan
model pembelajaran yang dikembangkan oleh guru. Apabila guru masih
1

2


menggunakan metode ceramah dalam kegiatan belajar mengajar, maka akan sulit
untuk mewujudkan siswa yang cerdas. Pembelajaran harus mampu memberikan
bekal kepada siswa untuk berpikir kritis, logis, analitis, sistematis, dan kreatif.
Untuk memberikan bekal kepada siswa maka diperlukan pembelajaran
matematika yang inovatif, menarik dan menyenangkan bagi siswa agar mata
pelajaran matematika bukan lagi dianggap sebagai mata pelajaran yang sulit dan
menakutkan.
Menurut salah satu guru bidang studi matematika di SMK Negeri I
Berastagi Siswa-siswi di kelas X SMK Negeri I Berastagi masih kesulitan dalam
mempelajari dan memahami materi pelajaran operasi matriks yang diajarkan.
Salah satu materi yang sulit untuk dipahami adalah menyelesaikan operasi
matriks.
Pembelajaran matematika untuk materi operasi matriks sangat sulit untuk
dipahami oleh siswa. Hal ini dibuktikan dengan hasil tes formatif siswa kelas X-2
Jurusan Akomodasi Perhotelan semester 2 yang belum mencapai batas kriteria
ketuntasan minimal kelas X SMK Negeri 1 Berastagi yaitu 65 dan siswa yang
mendapat nilai 65 ke bawah sekitar 68%. Dan ini membuktikan bawa materi
operasi matriks kelas X-2

jurusan Akomodasi Perhotelan (AP) SMK Negeri 1
Berastagi belum tuntas secara klasikal dan membuktikan bahwa masih ada
masalah.
Hal tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain, pertama karena
guru terlalu mendominasi siswa dalam belajar sehingga keterlibatan peserta didik
dalam proses pembelajaran sangat kurang, Selain itu siswa juga tidak dapat
3


berfikir aktif dan kreatif, sehingga dapat menyebabkan siswa yang memiliki
kemampuan untuk dapat menguasai materi ini menjadi malas dan tidak
bersemangat untuk mengerjakannya.
Menurut informasi dari guru, bahwa minat dan motivasi siswa untuk
mempelajari matematika masih kurang. Penyebab ini sesuai dengan pernyataan
Oemar Hamalik (2010 : 161 ) bahwa : motivasi menentukan tingkat berhasil atau
gagalnya proses belajar murid. Belajar tanpa motivasi akan mengakibatkan
sulitnya untuk mencapai keberhasilan. Oleh karena itu banyak sedikitnya motivasi
belajar siswa yang ada pada diri siswa akan mempengaruhi prestasi belajar.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa motivasi adalah dorongan yang timbul pada
diri seseorang secara sadar atau tidak sadar untuk melaksanakan suatu tindakan
dengan tujuan tertentu.
Metode pengajaran yang digunakan kurang maksimal dan menarik.
Selama ini guru selalu menggunakan pembelajaran secara klasikal, dengan
metode ceramah sebagai metodenya. Meningkatkan berpikir kreatif siswa dan
hasil pembelajaran siswa antara lain diperoleh dari memilih metode dan model
yang baik untuk menciptakan proses belajar mengajar yang baik.
Untuk mengatasi masalah tersebut diperlukan model pembelajaran yang
tepat, dimana dalam proses belajar mengajar matematika guru hendaknya
memberikan kesempatan yang cukup kepada siswa untuk terlibat aktif dalam
pembelajaran, karena dengan keaktifan ini siswa akan mengalami, menghayati
dan mengambil pelajaran dari pengalamannya. Salah satu model pembelajaran
yang menuntut keaktifan siswa adalah pembelajaran kooperatif. Model
4


pembelajaran kooperatif selain membantu siswa memahami konsep-konsep yang
sulit juga berguna untuk membantu siswa menumbuhkan keterampilan kerja sama
dalam kelompoknya dan melatih siswa dalam berpikir kritis sehingga kemampuan
siswa dalam memahami materi pelajaran yang disampaikan dapat meningkat.
Selain itu, siswa akan lebih termotivasi untuk belajar dengan adanya pembelajaran
kelompok. Pembelajaran kooperatif juga memberi peluang kepada siswa yang
berbeda latar belakang dan kondisi untuk bekerja saling bergantung satu sama lain
atas tugas-tugas bersama dan melalui penggunaan struktur penghargaan
kooperatif, belajar untuk menghargai satu sama lain. Salah satu model
pembelajaran kooperatif yaitu STAD, siswa bekerja sebagai sebuah tim untuk
menyelesaikan sebuah masalah, menyelesaikan suatu tugas atau mengerjakan
sesuatu untuk mencapai tujuan bersama. Siswa tidak hanya bertanggung jawab
terhadap dirinya sendiri tetapi juga kelompoknya. Model pembelajaran kooperatif
tipe STAD merupakan model yang sangat menarik karena merupakan gabungan
antara dua hal, belajar dengan kemampuan masing-masing individu dan belajar
kelompok sehingga siswa dapat saling bertukar pengetahuan yang dimiliki untuk
menyelesaikan masalah. Jadi dengan memilih model pembelajaran kooperatif tipe
STAD diharapkan agar kemampuan siswa pada materi operasi matriks dapat
meningkat. Selain itu, waktu penelitian bertepatan dengan penyampaian pokok
bahasan operasi matriks Sehingga penulis merasa tertarik untuk mengadakan
penelitian yang berjudul Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Student
Teams Achievement Division (STAD) Untuk Meningkatkan kemampuan Siswa
Dalam Menyelesaikan Operasi Matriks Pada Siswa Kelas X Jurusan Akomodasi
Perhotelan SMK Ngeri 1 Berastagi Tahun Pelajaran 2011/2012.
5


B. Identifikasi Masalah
Sehubungan dengan latar belakang masalah, maka ada beberapa
masalah yang perlu dipecahkan agar pembahasan tidak mengambang, maka
perlu dilakukan pengidentifikasian masalah. Berdasarkan uraian pada latar
belakang masalah, maka dapat diidentifikasikan beberapa masalah sebagai
berikut:
1. Hasil belajar matematika siswa belum maksimal
2. Kurangnya motivasi belajar siswa
3. Kurangnya minat belajar siswa.
4. Metode yang digunakan oleh guru belum maksimal.

C. Pembatasan Masalah
Sesuai dengan identifikasi masalah dimana metode pembelajaran yang
digunakan oleh guru dalam proses pembelajaran kurang maksimal, sehingga hasil
belajar siswa masih rendah. Maka masalah hanya dibatasi pada perbaikan model
pembelajaran tipe STAD untuk menyelesaikan operasi matriks di kelas X SMK
Negeri 1 Berastagi. Karena berdasarkan pengamatan dan pengalaman guru bidang
studi matematika yang mengajar di SMK Negeri 1 Berastagi bahwa materi
tersebut tergolong sulit dan yang menjadi pengamatan khusus ataupun perbaikan
khusus adalah perbaikan metode mengajar guru, sehingga diharapkan dapat
meninggkatkan kemampuan siswa dalam menyelesaikan operasi matriks.



6


D. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan, maka dapat
dirumuskan permasalahan sebagai berikut :
1. Bagaimanakah ketuntasan belajar siswa setelah perbaikan pembelajaran
dengan menggunakan model pembelajaran tipe STAD dalam menyelesaikan
operasi matriks ?
2. Bagaimanakah ketercapaian tujuan pembelajaran khusus (TPK) setelah
perbaikan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran tipe STAD
dalam menyelesaikan operasi matriks ?
3. Bagaimanakah pelaksanaan proses pembelajaran setelah perbaikan
pembelajaran dengan menggunakan model kooperatif tipe STAD dalam
menyelesaikan operasi matriks ?
4. Bagaimanakah respon siswa setelah perbaikan pembelajaran terhadap
pelaksanaan proses pembelajaran model kooperatif tipe STAD dalam
menyelesaikan operasi matriks yang diajarkan ?
5. Apakah setelah perbaikan pembelajaran dengan model kooperatif tipe STAD
dalam menyelesaikan operasi matriks efektif digunakan ?

E. Tujuan Penelitian
Setiap kegiatan penelitian ilmiah mempunyai tujuan akhir yang
diharapkan diperoleh dari pelaksanaan penelitian tersebut. Adapun tujuan
pelaksanaan penelitian ini adalah :
7


1. Untuk mengetahui ketuntasan belajar siswa setelah perbaikan pembelajaran
dengan menggunakan model pembelajaran tipe STAD dalam menyelesaikan
operasi matriks.
2. Untuk mengetahui ketercapaian tujuan pembelajaran khusus (TPK) setelah
perbaikan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran tipe STAD
dalam menyelesaikan operasi matriks.
3. Untuk mengetahui pelaksanaan pembelajaran dalam menyelesaikan operasi
matriks dengan menggunakan model koopratif tipe STAD di kelas X SMK
Negeri 1 Berastagi.
4. Untuk mengetahui respon siswa dalam pembelajaran menyelesaikan operasi
matriks dengan menggunakan model koopratif tipe STAD di kelas X SMK
Negeri 1 Berastagi.
5. Untuk mengetahui apakah pelaksanaan pembelajaran efektif dalam
pembelajaran menyelesaikan operasi matriks dengan menggunakan model
koopratif tipe STAD di kelas X SMK Negeri 1 Berastagi.

F. Manfaat Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini diharapkan bermanfaat sebagai berikut:
1. Setelah mengetahui ketuntasan belajar siswa akibat perbaikan pembelajaran
operasi matriks suatu bentuk objektif dengan menggunakan model kooperatif
tipe STAD, model kooperatif tipe STAD ini dapat dipedomani untuk
pelaksanaan pembelajaran berikutnya.
2. Setelah mengetahui ketercapaian tujuan pembelajaran khusus siswa akibat
perbaikan pembelajaran dengan menggunakan model kooperatif tipe STAD,
8


model kooperatif tipe STAD ini dapat dipedomani untuk meningkatkan hasil
belajar matematika pada sub pokok bahasan menyelesaikan operasi matriks.
3. Setelah mengetahui pelaksanaan proses model pembelajaran kooperatif tipe
STAD akibat perbaikan pembelajaran dengan menggunakan model
pembelajaran kooperatif tipe STAD, model kooperatif tipe STAD ini dapat
digunakan sebagai bahan masukan dan sumbangan pemikiran dalam rangka
perbaikan pengajaran untuk meningkatkan pemahaman siswa dalam
pembelajaran matematika khususnya pada sub pokok bahasan berikutnya.
4. Setelah mengetahui respon siswa terhadap pelaksanaan proses model
pembelajaran kooperatif tipe STAD akibat perbaikan pembelajaran dengan
menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD, model kooperatif
tipe STAD ini dapat menarik minat belajar, keberanian, dan konsentrasi
siswa terhadap matematika serta mampu memotivasi siswa untuk lebih
tertarik pada materi operasi matriks.
5. Setelah mengetahui keefektivan model pembelajaran kooperatif tipe STAD
akibat perbaikan pembelajaran dengan menggunakan model kooperatif tipe
STAD, model kooperatif tipe STAD ini dapat memberikan informasi dan
masukan bagi sekolah maupun guru dalam usaha meningkatkan prestasi
belajar siswa serta mampu lebih membuka wawasan guru akan keberagaman
model pembelajaran yang dapat dipilih dan dimanfaatkan dalam proses
pembelajaran.
6. Dapat dimanfaatkan sebagai bahan perbandingan ataupun referensi bagi
penelitian yang lebih baik.
9


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Kerangka Teoritis
1. Pengertian Belajar
Belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan oleh individu untuk
memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai
hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya
(Slameto, 2010 : 2). Perubahan tingkah laku ini bukan disebabkan oleh proses
pertumbuhan yang bersifat fisiologis atau proses kematangan. Perubahan yang
terjadi karena belajar dapat berupa perubahan-perubahan dalam kebiasaan (habit),
kecakapan-kecakapan (skills) atau dalam ketiga aspek yakni pengetahuan
(kognitif), sikap (affektif), dan keterampilan (psikomotor). Kegiatan belajar
merupakan kegiatan yang paling pokok dalam keseluruhan proses pendidikan. Hal
ini mengandung arti, bahwa berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan
banyak bergantung kepada bagaimana proses belajar yang dialami oleh peserta
didik atau siswa.
Syaiful Sagala ( 2010 : 31 ) yang menyatakan
Belajar adalah proses mental yang terjadi dalam diri seseorang untuk
memperoleh penguasaan kognitif, afektif, dan psikomotorik melalui proses
interaksi antara individu dan lingkungan digunakan dengan
mendeskripsikan perubahan potensi perilaku yang berasal dari
pengalaman, sehingga menyebabkan munculnya perubahan perilaku yang
bersifat positif baik perubahan dalam aspek pengetahuan, sikap maupun
psikomotorik.



9
10


Hilgard yang dikutip oleh Wina Sanjaya (2008 : 112) menyatakan Belajar
adalah proses perubahan melalui kegiatan atau prosedur latihan baik latihan dalam
laboratorium maupun dalam lingkungan alamiah. Pandangan seorang guru
terhadap pengertian belajar akan mempengaruhi tindakannya dalam membimbing
siswa untuk belajar. Seorang yang mengartikan belajar sebagai menghafal fakta
tentunya akan lain cara mengajarnya dibandingkan dengan guru lain yang
mengartikan bahwa belajar sebagai suatu proses perubahan tingkah laku. Untuk
itu penting artinya pemahaman guru akan pengertian belajar tersebut.
Dari uraian pendapat-pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa belajar
adalah proses kegiatan sebagai usaha yang mengacu kepada perubahan tingkah
laku sebagai hasil dari pengalaman, praktik atau latihan selama berinteraksi
dengan lingkungan.

2. Pengertian Mengajar
Slameto (2010 : 92), menyatakan Mengajar adalah membimbing siswa
agar mengalami proses belajar. Tidak hanya sekedar menyampaikan informasi
dari guru kepada siswa. Banyak kegiatan ataupun tindakan yang harus dilakukan,
terutama bila diinginkan hasil belajar lebih baik pada seluruh siswa. Oleh karena
itu rumusan pengertian mengajar tidaklah sederhana.
Terdapat aneka ragam rumusan pengertian tentang mengajar. Setiap
rumusan mempunyai kaitan arti dalam praktek pelaksanaannya. Rumusan itu
sendiri bergantung pada pandangan perumusannya. Seorang berpandangan bahwa
mengajar hanya sekedar menyampaikan pelajaran, tentu akan merumuskan
pengertian yang sederhana. Rumusan yang dibuat tentang mengajar adalah upaya
11


menyampaikan bahan pelajaran kepada siswa. Jadi disimpulkan bahwa mengajar
adalah segala upaya yang disengaja dalam rangka memberi kemungkinan bagi
siswa untuk terjadinya proses belajar sesuai dengan tujuan yang telah dirumuskan.
Wina sanjaya (2008 : 112) menyatakan Secara deskriptif mengajar
diartikan sebagai proses menyampaikan informasi atau pengetahuan dari guru
kepada siswa. Arifin yang dikutip oleh Muhibbin Syah (2010 : 179) menyatakan
Mengajar adalah suatu rangkaian kegiatan menyampaikan bahan pelajaran
kepada murid agar dapat menerima, menanggapi, menguasai dan mengembangkan
bahan pelajaran itu. Atau dapat pula dikatakan bahwa mengajar merupakan suatu
usaha mengorganisasi lingkungan dalam hubungannya dengan anak didik dan
bahan pengajaran sehingga menimbulkan terjadinya proses belajar pada siswa.
Pengertian ini mengandung makna bahwa guru dituntut untuk dapat berperan
sebagai organisator kegiatan belajar siswa yang mampu memanfaatkan
lingkungan, baik yang terdapat di dalam kelas maupun di luar kelas.
Tardif dalam Muhibbin Syah (2010:179) menyatakan Mengajar adalah
perbuatan yang dilakukan seseorang (dalam hal ini guru) dengan tujuan
membantu atau memudahkan orang lain (siswa) melakukan kegiatan belajar.
Sedangkan Tyson dan Caroll dalam Muhibbin Syah (2010:179) menyatakan
Mengajar adalah sebuah cara dan sebuah proses hubungan timbal balik antara
guru dengan siswa yang sama-sama aktif melakukan kegiatan.
Dari uraian pendapat pendapat tersebut, berarti mengajar bukan sekedar
proses penyampaian ilmu pengetahuan, melainkan mengandung makna yang lebih
12


luas dan kompleks, yaitu terjadinya komunikasi dan interaksi manusiawi dengan
berbagai aspeknya.
3. Pengertian Pembelajaran
Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan
sumber belajar pada suatu lingkungan belajar Achjar Chalil (2012) dalam
http://carapedia.com/pengertian_definisi_pembelajaran_menurut_para_ahli.
(Trianto, 2010 : 17) menyatakan Pembelajaran merupakan Interaksi dua
arah dari seorang guru dan peserta didik, dimana antara keduanya terjadi
komunikasi yang intens dan terarah menuju pada suatu target yang telah
ditetapkan sebekumnya.
Disisi lain pembelajaran mempunyai pengertian yang mirip dengan
pengajaran, tetapi sebenarnya mempunyai konotasi yang berbeda. Dalam
konteks pendidikan, guru mengajar agar peserta didik dapat belajar dan
menguasai isi pelajaran hingga mencapai sesuatu objektif yang ditentukan
(aspek kognitif), juga dapat memengaruhi perubahan sikap (aspek afektif),
serta keterampilan (aspek psikomotor) seorang peserta didik, namun proses
pengajaran ini memberi kesan hanya sebagai pekerjaan satu pihak, yaitu
pekerjaan pengajar saja. Sedangkan pembelajaran menyiratkan adanya
interaksi antara pengajar dengan peserta didik.
Dimyati dan Mudjiono yang dikutip oleh Syaiful Sagala (2009:62)
menyatakan Pembelajaran adalah kegiatan guru secara terprogram dalam desain
instruksional, untuk membuat siswa belajar aktif, yang menekankan pada
penyediaan sumber belajar.
13


Pembelajaran yang berkualitas sangat tergantung dari motivasi pelajar dan
kreatifitas pengajar. Pembelajar yang memiliki motivasi tinggi ditunjang dengan
pengajar yang mampu memfasilitasi motivasi tersebut akan membawa pada
keberhasilan pencapaian target belajar. Target belajar dapat diukur melalui
perubahan sikap dan kemampuan siswa melalui proses belajar. Desain
pembelajaran yang baik, ditunjang fasilitas yang memandai, ditambah dengan
kreatifitas guru akan membuat peserta didik lebih mudah mencapai target belajar.
Dari uraian pendapat-pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa
pembelajaran adalah proses belajar mengajar yang diciptakan oleh guru melalui
interaksi yang aktif antara guru dan siswa untuk memperoleh suatu perubahan
perilaku siswa ke arah yang lebih baik.

4. Hasil Belajar
Menurut, Dymiati dan Mudjion (2006 : 200) hasil belajar adalah tingkat
keberhasilan yang dicapai oleh siswa setelah mengikuti suatu kegiatan
pembelajaran, dimana tingkat keberhasilan tersebut kemudian ditandai dengan
skala nilai berupa huruf atau kata atau symbol. Lebih lanjut lagi menurut Nana
Sudjana (2009 : 22) Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki
siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya.
Hasil belajar tampak sebagai terjadinya perubahan tingkah laku pada diri
siswa, yang dapat diamati dan diukur dalam bentuk perubahan pengetahuan sikap
dan keterampilan. Menurut Oemar Hamalik (2010 : 155) Perubahan tersebut
dapat diartikan terjadinya peningkatan dan Pengembangan yang lebih baik
14


dibanding dengan sebelumnya, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, sikap
kurang sopan menjadi sopan dan sebagainya.
Dalam http://republikguru.blogspot.com/2010/07/defenisi-hasil-belajar.
Hasil belajar siswa dapat dirumuskan sebagai Tujuan Instruksional Umum (TIU)
yang dinyatakan dalam bentuk yang lebih spesifik dan merupakan komponen dari
tujuan umum mata kuliah atau bidang studi.
Dari penjelasan-penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa hasil belajar
adalah pencapaian tujuan belajar yang meliputi perubahan tingkah laku berupa
pengetahuan, ketrampilan, dan pemahaman materi yang dipengaruhi oleh faktor
intern dan faktor ekstern.

5. Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Terdapat faktor yang saling mempengaruhi dalam pencapaian hasil belajar
yang optimal. Faktor tersebut adalah bersumber dari diri sendiri (internal) dan
faktor dari luar diri siswa (eksternal). Berikut ini akan dibahas faktor-faktor yang
dianggap paling dominan mempengaruhi hasil belajar yaitu motivasi, minat dan
sikap. Dalam http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2191111-faktor-
faktor -yang-mempengaruhi-hasil/#ixzz1RGxr7hze menyatakan :
a) Minat
Minat adalah keinginan jiwa terhadap sesuatu objek dengan tujuan untuk
mencapai sesuatu yang dicita-citakan. Hal ini menggambarkan bahwa seseorang
tidak akan mencapai tujuan yang dicita-citakan apabila di dalam diri orang
tersebut tidak terdapat minat atau keinginan jiwa untuk mencapai tujuan yang
dicita-citakannya itu.
15


b) Motivasi
Motivasi adalah dorongan yang timbul pada diri seseorang secara sadar atau
tidak sadar untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu.
c) Sikap
Sikap adalah gejala internal yang berdimensi afektif berupa
kecenderungan untuk mereaksi atau merespons dengan cara yang relatif tetap
terhadap objek, orang, peristiwa dan sebagainya, baik secara positif maupun
negatif.
Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa faktor faktor
hasil belajar merupakan bersumber dari diri sendiri (internal) yaitu motivasi,
minat, sikap dan dari luar sendiri (eksternal).

6. Ketuntasan Belajar
Depdikbud dalam (http://kumpulblogger.com) terdapat kriteria ketuntasan
belajar perorangan dan klasikal yaitu : ( a ) Seorang siswa dikatakan telah tuntas
belajar jika siswa tersebut telah mencapai skor 65% atau nilai 65, dan ( b ) Suatu
kelas dikatakan belajar siswa jika terdapat 85% yang telah mencapai daya serap
lebih dari atau sama dengan 65%.
Depdiknas dalam oleh Trianto (2010:241) bahwa : Setiap siswa dikatakan
tuntas belajarnya (ketuntasan individu) jika proporsi jawaban benar siswa 65%,
dan suatu kelas dikatakan tuntas belajarnya (ketuntasan klasikal) jika dalam kelas
tersebut terdapat 85% siswa yang telah tuntas belajarnya
Dari kutipan-kutipan tersebut maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar
tuntas secara individu apabila siswa mencapai skor 65% dari skor total dan
16


tuntas secara klasikal apabila jumlah siswa yang tuntas mencapai 85% dari
jumlah keseluruhan siswa.

7. Ketercapaian Tujuan Pembelajaran Khusus
Ketercapaian tujuan pembelajaran khusus (TPK) sangat menentukan hasil
belajar siswa. Suparman dalam Jimmy Lolowang (2011 : 1) merumuskan tujuan
pembelajaran khusus (TPK) yaitu :
(1) Dasar dan pedoman bagi seluruh proses pengembangan tujuan
pembelajaran selanjutnya (perumusan TPK merupakan titik permulaan
sesungguhnya dari proses pengembangan pembelajaran); (2) Alat untuk
menguji validitas isi tes (isi pelajaran yang akan diajarkan disesuaikan
dengan apa yang akan dicapai); (3) Arah proses pengembangan
pembelajaran karena di dalamnya tercantum rumusan pengetahuan,
keterampilan dan sikap yang akan dicapai peserta didik pada akhir proses
pembelajaran.

Kriteria dalam merumuskan TPK berdasarkan unsur-unsur dalam TPK
Harjanto dalam Jimmy Lolowang (2011 : 1) adalah (1) Menggunakan kata kerja
operasional; (2) Berorientasi kepada peserta didik; (3) Berbentuk tingkah laku;
dan (4) Hanya memuat satu perubahan tingkah laku. Selanjutnya Knirk dan
Gustafson dalam Jimmy Lolowang (2010 : 1) dalam merumuskan tujuan
pembelajaran khusus hendaknya Harus mencakup unsur-unsur komponen yang
dikenal dengan singkatan ABCD (Audience, Behavior, Condition, Degree).
Pada setiap pembelajaran diharapkan agar tujuan pembelajaran tercapai.
Usman dan Setiawati dalam http//tips-belajar-internet.blogspot.com memberi
acuan tingkat keberhasilan belajar siswa terhadap proses belajar yang dilihat dari
TPK adalah sebagai berikut :
17


a) Istimewa/ maksimal : apabila seluruh bahan pelajaran yang diajarkan
itu dapat dikuasai siswa; b) Baik sekali/ optimal : apabila sebagian besar
85% s/d 94% bahan pelajaran yang diajarkan itu dapat dikuasai siswa;
c) baik/ minimal : apabila bahan yang diajarkan hanya 75% s/d 84%
dikuasai siswa; d) Kurang : apabila bahan pelajaran yang diajarkan kurang
dari 75% dikuasai siswa; secara keseluruhan pencapaian TPK dianggap
tuntas apabila 80% dari seluruh TPK sudah tuntas dicapai oleh siswa.
Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut, maka secara keseluruhan tujuan
pembelajaran khusus (TPK) dipandang telah tercapai apabila 80% dari seluruh
TPK telah tercapai.

8. Pelaksanaan Pembelajaran
Dalam http://id.netlog.com/JIMMYLOLOWANG/blog/blogid=28830
juga tertulis Pelaksanaan pembelajaran yang dapat dikatakan sempurna dan
tercapai, harus memenuhi persyaratan : (a) tercapainya ketuntasan secara klsikal;
(b) aktivitas guru dan siswa minimal kategori baik.
Menurut Suryosubroto keterlaksanaan kegiatan pembelajaran meliputi:
(a) menyajikan alat, sumber dan perlengkapan belajar; (b)
mengkondisikan kegiatan belajar mengajar menggunakan waktu yang
tersedia untuk kegiatan belajar mengajar secara efektif; (d) memotivasi
belajar siswa; (e) menguasai bahan pelajaran yang akan disampaikan; (f)
mengaktifkan siswa dalam kegiatan belajar mengajar; (g) melaksanakan
komunikasi interaktif kepada siswa; (h) melaksanakan penilaian proses
hasil belajar.

Adapun indikator yang dapat dilihat untuk menentukan apakah
pembelajaran yang dilaksanakan berhasil atau tidak menurut Suryosubroto dalam
tips-belajar-internet.blogspot.com dapat dilihat dari dua segi yaitu:
a. Mengajar guru, menyangkut sejauh mana tujuan pembelajaran yang
direncanakan tercapai.
b. Belajar murid, mengungkapkan sejauh mana tujuan pembelajaran yang
ingin tercapai melalui kegiatan belajar mengajar atau yang sering disebut
dengan ketuntasan belajar dilakukan dengan tes evaluasi.
18


Dari pendapat-pendapat tersebut, maka pelaksanaan pembelajaran yang
dikatakan sempurna dan tercapai apabila pelaksanaan pembelajaran yang
dilakukan guru minimal kategori baik.

9. Respons Siswa Terhadap Pelaksanaan Pembelajaran
Respon siswa terhadap pelaksanaan pembelajaran berperan penting
menentukan hasil belajar siswa. Respon siswa dapat dilihat dari angket yang
dikerjakan oleh siswa setelah akhir pelaksanaan perbaikan pembelajaran siklus II.
Berdasarkan jurnal.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/9308234246.pdfMulbar
bahwa Kegiatan pembelajaran dikatakan efektif apabila respon siswa baik dan
persentase jawaban yang diperoleh lebih atau sama dengan 80% dari rata rata
persentase indikator. Hal ini menunujukkan bahwa respon siswa merupakan salah
satu faktor yang sangat penting untuk menentukan keberhasilan belajar
matematika karena tanpa adanya respon dari siswa pembelajaran matematika
belum tentu bisa berhasil dengan baik.
Menurut Oemar Hamalik respon siswa merupakan gerakan-gerakan yang
terkoordinasi oleh persepsi seseorang terhadap peristiwa-peristiwa luar dalam
lingkungan sekitar. Hal ini senada dengan pernyataan Evi Susanti (2011:2)
bahwa Pengertian respon siswa adalah perilaku yang lahir sebagai hasil
masuknya stimulus yang diberikan guru kepadanya atau tanggapan untuk
mempelajari sesuatu dengan perasaan senang.
Dari uraian-uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa respon siswa
terhadap pelaksanaan pembelajaran minimal berjalan dengan baik ( kategori baik )
19


apabila pesentase jawaban yang diperoleh lebih dari 80% dari rata rata
persentase indikator.

10. Efektivitas Pembelajaran
Oemar Hamalik (2010 : 1) menyatakan Pembelajaran yang efektif adalah
pembelajaran yang menyediakan kesempatan belajar sendiri atau melaksanakan
kegiantan seluas luasnya kepada siswa untuk belajar
Efektivitas dapat dinyatakan sebagai tingkat keberhasilan dalam mencapai
tujuan dan sasarannya. http://www.infogue.com/article/2011/03/06/ pengertian
efektivitas pembelajaran bahwa :
Pembelajaran efektif merupakan suatu pembelajaran yang memungkinkan
siswa untuk dapat belajar dengan mudah. Efektivitas merujuk pada
kemampuan untuk memiliki tujuan yang tepat atau mencapai tujuan yang
telah ditetapkan. Efektivitas juga berhubungan dengan masalah bagaimana
pencapaian tujuan atau hasil yang diperoleh, kegunaan atau manfaat dari
hasil yang diperoleh, tingkat daya fungsi unsur atau komponen, serta
masalah tingkat kepuasan pengguna.
Menurut http://tips-belajar-internet.blogspot.com keefektifan pembelajaran
matematika dapat ditinjau dari empat aspek yaitu : (1) belajar siswa 65%, ketuntasan
klasikal 80%, (2) ketercapaian tujuan pembelajaran khusus (TPK) minimal 80%, (3)
keefektifan pelaksanaan minimal kategori baik, (4) respon siswa terhadap pelaksanaan
pembelajaran minimal berkategori baik.
Dari pendapat tersebut, maka dapat disimpulkan
(1) Siswa tuntas secara individu dan klasikal,
(2) Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK) tercapai
(3) keefektifan pelaksanaan minimal kategori baik,
(4) respon siswa terhadap pelaksanaan pembelajaran minimal berkategori baik.
20


11. Metode Pembelajaran
Metode pembelajaran merupakan suatu cara yang digunakan untuk
menerapkan rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang
telah disusun dapat tercapai secara maksimal. Banyak metode yang dapat
digunakan dalam proses belajar mengajar matematika. Metode mengajar dapat
diartikan suatu cara penyampaian bahan ajar yang dilaksanakan oleh pengajar.
Wina Sanjaya, (2008 : 145) menyatakan Metode adalah cara yang digunakan
untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata
agar tujuan yang telah disusun tercapai secara optimal.
Menurut Gerlach dan Elly dalam (http://guru-online.info/artikel) yang
dipublikasikan 1 maret 2011 bahwa Metode pembelajaran diartikan sebagai
rencana yang sistematis untuk menyampaikan informasi. Syaiful Sagala (2009 :
169) bahwa Metode mengajar adalah cara yang digunakan oleh guru dalam
mengorganisasikan kelas pada umumnya atau dalam menyajikan bahan pelajaran
pada khususnya.
Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa metode pembelajaran
merupakan cara yang digunakan oleh guru dalam usaha untuk menyampaikan
informasi kepada siswa.

12. Metode Diskusi
Wina Sanjaya (2010 : 154) menyatakan Metode diskusi adalah metode
pembelajaran yang menghadapkan siswa pada suatu permasalahan. Pada metode
diskusi bahan atau materi pembelajaran tidak diorganisir sebelumnya serta tidak
disajikan secara langsung kepada siswa, materi pembelajaran ditemukan dan
21


diorganisir oleh siswa sendiri, oleh karena tujuan utama metode ini bukan hanya
sekedar hasil belajar, tetapi yang lebih penting adalah proses belajar (Wina
Sanjaya, 2008 : 155).
Wina Sanjaya (2008 : 155) menyatakan Secara umum ada dua jenis
diskusi yang biasa digunakan dalam proses pembelajaran yaitu :
(1) Diskusi kelompok. Diskusi kelompok ini dinamakan juga diskusi
kelas, pada diskusi ini permasalahan yang disajikan oleh guru dipecahkan
oleh kelas secara keseluruhan, yang mengatur jalannya diskusi adalah guru
itu sendiri ; (2) Diskusi kelompok kecil. Pada diskusi ini siswa dibagi
dalam beberapa kelompok, setiap kelompok terdiri dari 3-7 orang. Proses
pelaksanaan diskusi ini dimulai dari guru menyajikan masalah dengan
beberapa sub masalah. Setiap kelompok memecahkan sub masalah yan g
disampaikan guru. Proses diskusi diakhiri dengan laporan setiap
kelompok.

Dari pendapat-pendapat tersebut maka pengertian metode diskusi adalah
metode pembelajaran yang menghadapkan siswa pada suatu permasalahan dan
memecahkan permasalahan tertentu.
Wina Sanjaya (2008 : 156) menyatakan Metode diskusi mempunyai
kelebihan dan kelemahan yaitu :
(1) Kelebihan metode diskusi, manakala diterapkan dalam kegiatan
belajar mengajar : (a) metode diskusi dapat merangsang siswa untuk lebih
kreatif khususnya dalam memberikan gagasan dan ide-ide, (b) dapat
melatih untuk membiasakan diri bertukaran pikiran dalam mengatasi setiap
permasalahan, (c)dapat melatih siswa untuk dapat mengemukakan
pendapat atau gagasan secara verbal, disamping itu diskusi juga biasa
melatih siswa untuk menghargai pendapat orang lain ; (2) Kelemahan
metode diskusi : (a) sering terjadi pembicaraan dalam diskusi dikuasai oleh
2 atau 3 orang siswa yang memiliki keterampilan berbicara, (b) kadang-
kadang pembahasan dalam diskusi meluas sehingga kesimpulan menjadi
kabur, (c) memerlukan waktu yang cukup panjang yang kadang-kadang
tidak sesuai dengan yang direncanakan, (d) dalam diskusi sering terjadi
perbedaan pendapat yang bersifat emosional yang tidak terkontrol.
Akibatnya ada pihak yang merasa tersinggung, sehingga dapat
mengganggu iklim pembelajaran.

22


13. Model pembelajaran kooperatif
Teori yang melandasi kooperatif adalah teori konstruktivisme. Pada
dasarnya pendekatan teori konstruktifisme dalam belajar adalah suatu pendekatan
dimana siswa harus scara individual menemukan dan mentransformasikan
informasi yang kompleks, memeriksa informasi dengan aturan yang ada dan
merefisinya bila perlu Soejadi dalam (http://pembelajaranpenjasberbasisict.
blogspot.com/2011/10/makalah-model-pembelajaran-kooperatif.html).
Nurhadi dalam (http://wiki.bestlagu.com/sitemap/t -169178.html)
Pembelajaran kooperatif adalah suatu sistem yang didasarkan pada alasan bahwa
manusia sebagai makhluk individu yang berbeda satu sama lain sehingga
konsekuensi logisnya manusia harus menjadi makhluk sosial, makhluk yang
berinteraksi dengan sesama.
Menurut Abdurrahman dan Bintoro http://blog.21/10/2009 /pembelajaran-
kooperatif/html pembelajaran kooperatif adalah Model pembelajaran kooperatif
merupakan suatu model pembelajaran dimana siswa dalam kelompok kelompok
kecil yang memiliki tingkat kemampuan berbeda, model pembelajaran ini
mengutamakan kerjasama antar siswa dalam kelompok.
Dari uraian pendapat-pendapat tersebut, dapat dinyatakan bahwa
pembelajaran kooperatif merupakan strategi pembelajaran yang dilakukan dengan
cara berkelompok yang anggotanya terdiri dari empat sampai enam orang dengan
struktur kelompok yang bersifat heterogen.
Terdapat enam langkah-langkah kooperatif, dimulai dengan guru
menyampaikan tujuan pembelajaran dan motivasi siswa untuk belajar. Fase ini
23


diikuti oleh penyajian informasi, seringkali dengan bahan bacaan daripada secara
verbal. Selanjutnya siswa dikelompokkan ke dalam tim-tim belajar. Tahapan ini
diikuti bimbingan guru pada saat siswa bekerja bersama untuk menyelesaikan
tugas bersama mereka. Fase terakhir pembelajaran kooperatif meliputi fersentasi
hasil kerja kelompok atau evaluasi tentang apa tang telah mereka pelajari dan
memberi penghargaan terhadap usaha-usaha kelompok maupun individu. Adapun
langkah-langkah model pembelajaran kooperatif menurut Ibrahim dalam Trianto,
(2010:66 ) dapat di lihat pada tabel berikut :
Tabel II.1 : Langkah-Langkah Model Pembelajaran Kooperatif
Fase Tingkah Laku Guru
Fase 1
Menyampaikan tujuan dan
memotifasi siswa
Guru menyampaikan semua tujuan
pelajaran yang ingin dicapai pada
pembelajaran tersebut dan memotifasi
siswa belajar
Fase 2
Menyajikan informasi
Guru menyajikan informasi kepada siswa
dengan jalan demonstrasi atau lewat
bahan bacaan
Fase 3
Mengorganisasikan siswa kedalam
kelompok-kelompok belajar
Guru menjelaskan kepada siswa
bagaimana caranya membentuk
kelompok belajar dan membantu setiap
kelompok agar melakukan transisi secara
efisien
Fase 4
Membimbing kelompok kerja dan
belajar
Guru membimbing kelompok-kelompok
belajar pada saat mereka mengerjakan
tugas mereka
Fase 5
Evaluasi
Guru mengevaluasi hasil belajar tentang
materi yang telah dipelajari atau masing-
masing mempersentasikan hasil kerjanya
Fase 6
Memberikan penghargaan
Guru mencari cara-cara untuk
menghargai baik upaya maupun hasil
belajar individu dan kelompok
24


14. Model Pembelajaran Kooperatif STAD
Ibrahim, dkk. (2000 : 20) menyatakan STAD dikembangkan oleh Robert
Salvin dan teman-temannya di universitas John Hopkin dan merupakan
pendekatan pembelajaran kooperatif yang paling sederhana. Slavin (2005:143)
dalam http://model pembelajaran.com/pembelajaran-model-kooperatif-tipe-stad/
berpendapat bahwa:
Student Teams Achievment Division (STAD) adalah salah satu metode
pembelajaran kooperatif yang paling sederhana dan merupakan model
yang paling baik untuk permulaan bagi para guru yang baru menggunakan
pendekatan kooperatif. Pembelajaran model koooperatif tipe Stad adalah
salah satu pembelajaran kooperatif yang diterapkan untuk menghadapi
kemampuan siswa yang heterogen. Dimana model ini dipandang sebagai
model yang paling sederhana dan langsung dari pendekatan pembelajaran
kooperatif. Model ini paling awal ditemukan dan dikembangkan oleh para
peneliti pendidikan di John Hopkins Universitas Amerika Serikat dengan
menyediakan suatu bentuk belajar kooperatif. Di dalamnya siswa diberi
kesempatan untuk melakukan kolaborasi dan elaborasi dengan teman
sebaya dalam bentuk diskusi kelompok untuk memecahkan suatu
permasalahan.
Trianto , (2010 : 68) menyatakan Pada STAD siswa dalam satu kelas tertentu
dibagi menjadi kelompok dengan anggota 4-5 orang, setiap kelompok haruslah
heterogen, terdiri dari laki-laki dan perempuan, berasal dari berbagai suku, memiliki
kemampuan tinggi, sedang dan rendah. Anggota tim menggunakan lembar kegiatan
atau perangkat pembelajaran yang lain untuk menuntaskan materi pelajarannya dan
kemudian saling membantu satu sama lain untuk memahami bahan pelajaran melalui
tutorial, kuis, satu sama lain dan atau melakukan diskusi. Setiap dua minggu siswa
diberi kuis. Kuis itu diskors dan tiap individu diberi skor perkembangan.
25


Jadi dari penjelasan para pendapat tersebut maka model kooperatif tipe STAD
adalah rancangan atau kerangka-kerangka teknik pembelajaran yang terdiri dari 4-5
orang yang heterogen yang bersama-sama memecahkan suatu permasalahan pada
pelajaran.

15. Operasi matriks
Berdasarkan kurikulum SMK tahun 2006 materi pelajaran operasi matriks
diuraikan sebagai berikut :
Standar kompetensi : Matriks
Memecahkan masalah yang berkaitan dengan konsep
operasi matriks.
Kompetensi dasar : Menyelesaikan operasi matriks.
Indikator : 1. Menentukan hasil penjumlahan dua matriks atau lebih
2. Menentukan hasil pengurangan dua matriks atau lebih
3. Menentukan hasil perkalian dua matris atau lebih
4. Menentukan hasil perkalian matriks dengan bilangan skalar
a. Pengertian matriks.
Matriks adalah kumpulan bilangan berbentuk persegi panjang yang
disusun menurut baris dan kolom. Bilangan-bilangan yang terdapat di suatu
matriks disebut dengan elemen atau anggota matriks. Dengan representasi
matriks, perhitungan dapat dilakukan dengan lebih terstruktur.
b. Bentuk Umum matriks
Ukuran suatu matriks dapat diketahui berdasarkan jumlah baris dan kolom
yang dimiliki matriks. Ukuran dari matriks A adalah mxn karena memiliki m baris
26


dan n kolom. Dalam bentuk notasi, jika ingin dituliskan dengan informasi ukuran
matriks, dapat dituliskan dengan A
mxn
.
Bentuk umum dari matriks berukuran nxm dapat dituliskan seperti berikut:
A
mxn
=
(
(
(
(

nm n n
m
m
a a a
a a a
a a a
....
.... .... .... ....
....
....
2 1
2 22 21
1 12 11

b. Penjumlahan dan Pengurangan matriks
Penjumlahan dan pengurangan matriks hanya dapat dilakukan apabila
kedua matriks memiliki ordo yang sama. Elemen-elemen yang dijumlahkan atau
dikurangi adalah elemen yang posisi atau letaknya sama.
a
ij
b
ij
= c
ij
atau dalam representasi sebagai berikut :
[

] = [

]
d. Perkalian Skalar
Matriks dapat dikalikan dengan sebuah skalar.
. A = ( . a
ij
) i=1,...,m ; j=1,...,n
Contoh perhitungan :
5 . [


] = [


] = [


]
e. Perkalian Matriks
Matriks dapat dikalikan, dengan cara tiap baris dikalikan dengan tiap
kolom, lalu dijumlahkan pada baris yang sama.

=
m
k
kj ik
b a
1
.
27


Contoh perhitungan :
[


] . [



] = [


] = [


]
5. Kesulitan Belajar
Faktor yang menjadi penyebab kesuitan belajar siswa berkaitan dengan
guru yang selalu meremehkan siswa, guru yang tidak pernah bisa memotivasi
siswa untuk belajar lebih giat, guru yang tidak pernah memeriksa pekerjaan siswa,
sekolah yang membiarkan para siswa bolos tanpa sanksi tertentu, adalah contoh
dari faktor penyebab kesulitan belajar siswa dan pada akhirnya akan
menyebabkan ketidak berhasilan siswa tersebut. Muhibbin Syah menyatakan
faktor penyebab timbulnya kesulitan belajar terdiri atas : (1) faktor intern siswa
yakni hal-hal atau keadaan-keadaan yang datang dari dalam diri siswa. (2) faktor
ekstern siswa yakni hal-hal atau keadaan-keadaan yang datang dari luar diri siswa.
Menurut Lerner dalam Mulyono Abdurrahman (2009 : 262) kesalah
umum yang dilakukan oleh anak dalam menyelesaikan tugas-tugas dalam bidang
studi matematika adalah kurang pemahaman tentang (1) simbol, (2) nilai tempat,
(3) perhitungan, (4) penggunaan proses yang keliru, (5) dan tulisan yang tidak
terbaca.
Kesulitan yang dihadapi siswa dalam materi operasi matriks siswa adalah :
1. Siswa kurang mampu mengkalikan matriks dengan skalar
2. Siswa kurang mampu mengkalikan matriks dengan matriks
3. Siswa kurang mamahami cara menjumlahkan matriks
4. Siswa kurang memahami cara mengkurangkan matriks
28


16. Rencana Perbaikan Pembelajaran Dengan Model Pembelajaran Tipe STAD
Sebelum melaksanakan perbaikan pembelajaran yang dilaksanakan didalam
kelas, terlebih dahulu peneliti membuat perangkat pembelajaran yang lebih
sistematis dan efektif agar siswa dapat memahami apa yang diajarkan guru kepada
mereka nantinya. Untuk melaksanakan perbaikan pembelajaran yang dilakukan di
SMK Negeri 1 Berastagi pada kelas X AP, maka peneliti harus mempersiapkan
perangkat pembelajaran dan pelaksanaan pembelajaran.

a. Perangkat Pembelajaran
Adapun perangkat pembelajaran yang harus dipersiapkan peneliti adalah :
1. Buku ajar
Peneliti menyusun/membuat buku ajar (buku siswa) yang dapat membantu
siswa lebih paham dan mengerti dalam pelajaran matematika terutama matriks.
Buku ajar (buku siswa) diberikan kepada guru yang melaksanakan perbaikan
pembelajaran pada kelas X jurusan akomodasi perhotelan (AP) SMK Negeri 1
Berastagi
2. Lembar kerja siswa (LKS)
Peneliti memberikan LKS sebagai salah satu alat bantu dalam pembelajaran
yang dilakukan di SMK Negeri 1 Berastagi pada kelas X jurusan AP. LKS yang
diberikan kepada siswa lebih bervariasi, lebih sistematis, dan siswa lebih serius
dan juga tidak bosan dalam pelajaran matematika terutama pada subpokok operasi
matriks.


29


3. Lembar Observasi
Observasi dilakukan ketika dalam pelaksanaan perbaikan pembelajaran
yang dilakukan oleh guru pelaksana PTK. Peneliti tidak sendiri mengobservasi
guru yang akan melaksanakan perbaikan pembelajaran tetapi peneliti bersama
guru bidang studi matematika yang lain atau bersama kepala sekolah untuk
mengobservasi guru tersebut. Cara pengajaran yang dilakukan oleh guru tersebut,
dapat dilihat pada lembar observasi yang telah disediakan oleh peneliti. Peneliti
beserta guru matematika yang lain atau kepala sekolah dan salah satu teman ikut
mengobservasi dalam pelaksanaan perbaikan pembelajaran yang sedang
dilaksanakan oleh guru.
4. Angket
Guru yang melaksanakan perbaikan pembelajaran tersebut, maka peneliti
akan memberikan lembar angket kepada guru tersebut dan akan membagikannya
kepada siswa jurusan akomodasi perhotelan. Angket yang diberikan kepada siswa
merupakan salah satu bentuk respon siswa terhadap pembelajaran yang sudah
dilaksanakan oleh guru tersebut.

b. Pelaksanaan Pembelajaran
Dalam rencana perbaikan pembelajaran nantinya, peneliti akan menyiapkan
Rencana Perbaikan Pembelajaran (RPP) yang akan diberikan kepada guru bidang
studi matematika dan akan melaksanakan pembelajaran pada kelas X jurusan
akomodasi perhotelan, guru tersebut akan menerangkan sesuai RPP yang telah dibuat
peneliti dan sesuai dengan langkah-langkah model kooperatif tipe STAD.
30


Pelaksanaan perbaikan pembelajaran yang dilakukan oleh guru pada kelas X
jurusan AP, maka sebagai observer yaitu peneliti, Viktorius purba SP.d dan Kiki
Suryadharman Ginting akan mengamati guru yang sedang melaksanakan
perbaikan pembelajaran di kelas tersebut. Observer akan melihat dan mengamati
cara pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan guru tersebut sudah sesuai dengan
langkah-langkah RPP atau belum. Didalam mengamati guru yang sedang
melaksanakan perbaikan pembelajaran pada kelas X jurusan akomodasi
perhotelan, setelah guru selesai melaksanakan perbaikan pembelajaran pada kelas
X AP, maka guru tersebut melakukan refleksi.
Pelaksanaan perbaikan pembelajaran yang dilakukan sudah selesai maka
guru akan memberikan soal tes kepada siswa kelas X jurusan AP, dan apabila soal
tes siklus pertama belum tuntas, maka peneliti dan guru tersebut akan melanjutkan
ke siklus kedua. Pada siklus kedua yang akan dilaksanakan kembali oleh guru
tersebut, dan memberikan soal tes siklus kedua kepada siswa kelas X jurusan
akomodasi perhotelan sudah tuntas secara individu dan klasikal, maka peneliti
akan mengakhirinya dengan memberikan angket kepada siswa kelas X jurusan
akomodasi perhotelan.
Angket yang diberikan kepada siswa merupakan salah satu bentuk untuk
mengetahui sejauh mana siswa memahami, mengerti dan menyukai materi operasi
matriks yang disampaikan oleh guru dengan menerapkan model pembelajaran
kooperatif tipe STAD yang sudah selesai dilaksanakan pada siklus pertama dan
siklus kedua.
31


Berdasarkan hasil pengkajian tentang model kooperatif, maka dari itu
model kooperatif STAD dapat diintegrasikan dengan prosedur sebagai berikut:
a. Membentuk kelompok yang anggotanya = 4-5 orang secara heterogen
(campuran menurut prestasi, jenis kelamin, suku, dll)
b. Guru menyajikan pelajaran
c. Guru memerintahkan tiap kelompok untuk mendiskusikan apa yang didapatkan
oleh masing-masing kelompok dari pelajaran yang mereka ikuti.
d. Memerintahkan siswa untuk saling memberikan tanggapan pada hasil kerja
kelompok antara kelompok yang satu dengan yang lain.
e. Guru memberi kuis/pertanyaan kepada seluruh siswa. Pada saat menjawab kuis
tidak boleh saling membantu.
f. Memberi evaluasi.
g. Kesimpulan.

17. Pengertian Penelitian Tindakan Kelas
Menurut Kemmis dalam Depdiknas (2010:4) bahwa penelitian tindakan
kelas (PTK) adalah suatu bentuk penelitian refleksi dari yang dilakukan oleh para
partisipan dalam situasi-situasi sosial (termasuk pendidikan) untuk memperbaiki
praktek yang dilakukan sendiri.
PTK bukan hanya bertujuan mengungkapkan penyebab dari berbagai
permasalahan pembelajaran yang dihadapi seperti kesulitan siswa dalam pokok-
pokok tertentu, tetapi yang lebih penting lagi adalah memberikan pemecahan
masalah berupa tindakan tertentu untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil
belajar.
32


Permasalahan
Perencanaan
Tindakan - I
Pelaksanaan
Tindakan - I
Pengamatan/
Pengumpulan
Data - I
SIKLUS - I
Permasalahan
baru, hasil
Refleksi
Refleksi - I
Perencanaan
Tindakan - II
Pelaksanaan
Tindakan - II
Pengamatan/
Pengumpulan
Data - II
SIKLUS - II
Refleksi - I
Permasalahan
baru, hasil
Refleksi
SIKLUS - II
Bila Permasalahan
Belum
Terselesaikan
Refleksi - II
Dilanjutkan ke
Siklus Berikutnya
Dalam bidang pendidikan, khususnya dalam praktek pembelajaran,
penelitian tindakan berkembang menjadi Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau
Classroom Action Reserach (CAR). PTK adalah penelitian tindakan yang
dilaksanakan di dalam kelas ketika pembelajaran berlangsung. PTK dilakukan
dengan tujuan untuk memperbaiki atau meningkatkan kualitas pembelajaran. PTK
berfokus pada kelas atau pada proses pembelajaran yang terjadi di dalam kelas.
Untuk lebih jelasnya, rangkaian kegiatan dari setiap siklus dapat dilihat pada
gambar berikut.















Gambar 3. 1. Siklus Kegiatan PTK
Sumber : Depdiknas (2010:15)

33


Langkah-langkah penelitian tindakan kelas yang paling penting
diperhatikan adalah :
1. Merencanakan perbaikan
2. Melakukan tindakan
3. Mengamati
4. Melakukan refleksi
Dari pendapat-pendapat yang disebutkan maka dinyatakan bahwa
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah : penelitian tindakan yang bertujuan
untuk memperbaiki mutu praktik pembelajaran dikelas.

B. Kerangka Berpikir
Rendahnya hasil belajar pada siswa tidak terlepas dari peran guru sebagai
tenaga pengajar. Dalam proses pembelajaran yang baik, pada dasarnya akan
mendapat hasil belajar yang optimal. oleh karena itu guru sangat berpengaruh
terhadap proses belajar mengajar dalam kelas. Keberhasilan proses belajar
mengajar dalam kelas dapat ditunjang dari model pembelajaran yang digunakan
oleh guru. Selama ini Proses belajar mengajar yang dilaksanakan guru bidang
studi matematika pada pokok bahasan operasi matriks di SMK Negeri 1 Berastagi
biasanya melakukan diskusi atau tanya jawab. Hal ini menyebabkan materi
pelajaran tidak diserap oleh siswa secara maksimal sehingga hasil belajar siswa
belum maksimal.
Banyak faktor yang mempengaruhi kualitas pembelajaran, baik faktor
internal maupun eksternal. Faktor eksternal adalah dalam cara mengajar guru
yaitu metode diskusi yang diajarkan belum maksimal karena pembagian
34


kelompok dan penggunaan LKS yang belum sesuai. Sedangkan faktor internal
yaitu kurangnya minat dan motivasi belajar siswa sehingga banyak kesulitan-
kesulitan yang dihadapi siswa dalam pembelajaran menyelesaikan operasi
matriks. Oleh karena itu perlu diupayakan suatu cara penyampaian meteri
pembelajaran agar dapat menarik minat untuk belajar. Salah satu upaya yang tepat
untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan menerapkan model
pembelajaran koperatif tipe STAD, dan dapat diharapkan menjadi salah satu
alternatif untuk mengatasi permasalahan dalam pembelajaran di dalam
pembelajaran operasi matriks.
Dengan menggunakan model pembelajaran koperatif tipe STAD dapat
mengatasi kendala-kendala pembelajaran tersebut, karena metode ini dapat
mengefisienkan waktu pelajaran dan siswa dapat lebih mudah memahami
pelajaran karena strategi ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk
membuat suatu karya dan melihat langsung kekurangpahamannya dengan materi
tersebut dengan melihat hasil karya teman yang lainnya dan dapat saling mengisi
kekurangannya itu. Tidak seperti halnya selama ini kelompok siswa hanya
mendengarkan presentasi hasil diskusi setiap kelompok tanpa melihat langsung
hasil diskusinya.

C. Definisi Operasional
Untuk menyeragamkan pengertian istilah yang terkandung dalam judul
penelitian ini, maka perlu diberikan definisi operasional, yaitu :
1. Pembelajaran model koooperatif tipe STAD adalah salah satu pembelajaran
kooperatif yang diterapkan untuk menghadapi kemampuan siswa yang
35


heterogen. Dimana model ini dipandang sebagai model yang paling sederhana
dan langsung dari pendekatan pembelajaran kooperatif.
2. Hasil belajar siswa dilihat dari ketuntasan belajar siswa secara individu dan
klasikal. Kriteria ketuntasan belajar yaitu :
a. Seorang siswa telah tuntas belajar, jika siswa tersebut telah mencapai
persentase hasil belajar sebesar 65% atau memperoleh nilai 65.
b. Suatu kelas dikatakan tuntas belajar, jika dalam kelas tersebut telah
terdapat 85% siswa telah tuntas belajar.
3. Tujuan pembelajaran khusus (TPK) dipandang telah tercapai apabila paling
sedikit 80% siswa telah tuntas belajar untuk semua butir soal yang berkaitan
dengan TPK tersebut.
4. Respon siswa terhadap pelaksanaan pembelajaran juga merupakan bagian
dari keefektifan pembelajaran. Respon siswa dikatakan positif (baik), apabila
persentase jawaban yang diperoleh lebih dari atau sama dengan 80% dari
rata rata persentase indikator.
5. Penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dalam pembelajaran
matematika pokok bahasan program linier untuk menghitung nilai optimum
dari suatu bentuk objektif dikatakan efektif jika:
a. ketuntasan klasikal lebih atau sama dengan 85%
b. ketercapaian TPK atau indikator secara keseluruhan minimal 80%
c. pelaksanaan pembelajaran minimal kategori baik
d. respon siswa kategori baik terhadap pembelajaran.
36


BAB III
METODE PENELITIAN

A. Lokasi Penelitian
Sesuai dengan judul penelitian ini, sebagai lokasi penelitian adalah
Sekolah Menengah kejuruan (SMK) Negeri 1 Berastagi . Alasan pengambilan
lokasi adalah :
1. Hasil belajar matematika pada materi operasi matriks belum maksimal.
2. Kurangnya minat belajar siswa pada materi operasi matriks.
3. Kurangnya motivasi belajar siswa pada materi operasi matriks .
4. Metode yang digunakan oleh guru belum maksimal.

B. Subjek Dan Objek Penelitian
1. Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X-2 semester 2 SMK Negeri 1
Berastagi Tahun Pelajaran 2011/2012 dan jumlah siswa terdiri dari 31 orang.
Karena berdasarkan informasi dari guru bidang studi matematika SMK Negeri 1
Berastagi, kelas tersebut adalah kelas yang paling sulit dalam menyelesaikan
operasi matriks. Pemilihan lokasi diambil karena nilai rata-rata hasil belajar siswa
di kelas tersebut mendapat nilai yang paling rendah.

2. Objek penelitian
Objek penelitian ini adalah perbaikan pembelajaran dengan menggunakan
model pembelajaran kooperatif tipe STAD untuk meningkatkan kemampuan

36
37


siswa dalam pembelajaran menyelesaikan operasi matriks di SMK Negeri 1
Berastagi kelas X-2 Tahun Pelajaran 2011/ 2012.

C. Jenis penelitian
Penelitian ini merupakan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yaitu
melakukan tindakan untuk memperbaiki pembelajaran menggunakan model
pembelajaran kooperatif STAD pokok bahasan operasi matriks di kelas X-2
SMK Negeri 1 Berastagi.

D. Prosedur penelitian
Untuk memperoleh data yang dibutuhkan maka peneliti melakukan prosedur
penelitian dengan tahap-tahap sebagai berikut :
1. Tahap persiapan
a. Menyusun langkah-langkah penggunaan model pembelajaran tipe STAD
b. Menyusun rencana perbaikan pembelajaran dengan model pembelajaran
tipe STAD
c. Mendesain buku siswa
d. Menyusun lks siswa
e. Menyusun kuis dan soal untuk tes hasil belajar
f. Menyusun lembar observasi untuk pelaksanaan pembelajaran
g. Menyusun angket untuk memperoleh respons siswa terhadap pelaksanaan
pembelajaran
2. Tahap pelaksanaan
38


a. Melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan langkah-langkah model
pembelajaran tipe STAD
b. Mengobservasi pelaksanaan pembelajaran
c. Mengadakan evaluasi yaitu kuis dan tes
3. Tahap refleksi
Tahap ini dilakukan untuk mengetahui apakah masih terdapat kesulitan
yang dihadapi siswa, yang dapat digunakan sebagai dasar untuk tahap
perencanaan pada siklus selanjutnya. Sehingga pada siklus selanjutnya dapat
diperbaikai dan hasil yang dicapai lebih maksimal
Pada akhir perbaikan pembelajaran diberikan angket kepada siswa
untuk mengetahui sejauh mana siswa memahami, mengerti, dan menyukai
materi matriks yang disampaikan oleh guru dengan menerapkan model
pembelajaran kooperatif tipe STAD.

E. Alat Pengumpul Data
Alat pengumpul data yang digunakan penulis untuk mendapatkan data-
data yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah :
1. Tes
Alat pengumpul data yang digunakan untuk mendapatkan data
mengenai kemampuan siswa dalam menyelesaikan operasi matriks adalah tes
objektif dalam bentuk pilihan berganda. Peneliti akan mempersiapkan 40 soal
dengan 4 pilihan jawaban yaitu a,b,c,d. setiap jawaban yang benar diberi skor
1 dan setiap jawaban yang salah diberi skor 0. tes tersebut meliputi 3 ranah
kognitif yang meliputi : pengetahuan (C1), pemahaman (C2), dan penerapan
39


(C3). Sebelum tes disusun, maka terlebih dahulu dibuat kisi -kisi tes yang
digunakan seperti dalam tabel berikut.
Tabel III.1 Kisi-kisi Tes Hasil Belajar
Kompetensi
dasar
Indikator
Jenjang kognitif
Jumlah
C1 C2 C3
Menyelesaikan
operasi matriks


Menentukan
hasil
penjumlahan
dua matriks
atau lebih
1,2,9,13 3,4,6,10,
16, 18
8,11 12
Menentukan
hasil
pengurangan
dua matriks
atau lebih
15,20 5,7,17,19 12,14 8
Menentukan
hasil perkalian
dua matriks
atau lebih
21,22,32,
33
25,26,27,
29, 30,31
35,36,
38,40
14
Menentukan
hasil perkalian
matriks dengan
bilangan skalar
23,24 28,39 34,37 6
Jumlah 12 18 10 40

a. Validasi isi
Setelah tes disusun berdasarkan kisi-kisi soal, selanjutnya divalidasi
oleh beberapa validator. Validasi dilakukan untuk memvalidasi isi setiap butir
soal yang telah disusun, yaitu meliputi bahasa, kesesuaian butir soal dengan
tujuan pembelajaran, sistematika penulisan, kesesuaian kunci jawaban, dan
waktu yang diperlukan menyelesaikan soal.

40


b. Valditas Tes
Berdasarkan penilaian validator, selanjutnya dilaksanakan uji
persyaratan butir tes, yaitu validitas soal, reliabilitas, indeks kesukaran dan
daya pembeda.
Suatu alat evaluasi disebut valid (absah atau sahih) apabila alat tersebut
mampu mengevaluasi apa yang seharusnya dievaluasi. Oleh karena itu
keabsahannya tergantung pada sejauh mana ketepatan alat evaluasi itu dalam
melaksanakan fungsinya. Dengan demikian suatu alat evaluasi disebut valid
jika dapat mengevaluasi dengan tepat sesuatu yang dievaluasi itu. Rumus yang
digunakan dalam menghitung validitas item adalah sebagai berikut:
q
p
SD
M M
r
t
t p
pbi

= (Anas sudijono 2011 : 185)


Keterangan :
r
pbi
= Koefisien korelasi poin biserial yang melambangkan kekuatan korelasi
antara variabel I dengan variabel II
M
P
= Skor rata-rata hitung yang dimiliki oleh test, yang untuk butir item yang
bersangkutan telah dijawab dengan betul.
M
t
= Skor rata-rata dari skor total.
SD
t
= Standar deviasi dari skor total.
p = Proporsi test yang menjawab betul terhadap butir item yang sedang diuji
validitas itemnya.
q
= Proporsi test yang menjawab salah terhadap butir item yang sedang diuji
validitas itemnya.
41


Untuk mengetahui klasifikasi tes, harga r
pbi
dikonsultasikan Pada nilai
kritik Product Moment (r
tabel
) dengan taraf signifikan = 0,05. Jika r
pbi
> r
tabel

maka butir soal tersebut valid.

b. Reliabilitas Tes
Untuk mengetahui reliabilitas tes digunakan rumus KR
20
yaitu :
11
r =
|
|
.
|

\
|
|
.
|

\
|


2
2
1
t
i i t
S
q p S
n
n
(Anas Sudijono 2011 : 254)
Keterangan :
11
r = Reliabilitas tes
n = Jumlah butir tes
i i
q p = Jumlah hasil perkalian antara p
i
dengan q
i
2
t
S = Varian total

Untuk menafsirkan keberartian harga reliabilitas tes maka harga r
tersebut dibandingkan ke tabel r Product Moment dengan o = 0,05. Jika
r
hitung
> r
tabel
, maka tes dikatakan reliabel.

c. Indeks Kesukaran Soal
Untuk mengetahui indeks kesukaran soal di gunakan rumus yang
dikutip dari Anas Sudijono (2011 : 372), yaitu :
P =
JS
B



Keterangan :
P = Angka Indeks kesukaran item
B = Banyaknya testee yang dapat menjawab dengan betul terhadap butir
42


item yang bersangkutan
JS = Jumlah siswa yang mengikuti tes hasil belajar
Rentang indeks kesukaran antara 0,00 1,00 dengan klasifikasi sebagai
berikut :
Soal dengan P = 0,00 - 0,30 adalah soal sukar
Soal dengan P = 0,30 - 0,70 adalah soal sedang
Soal dengan P = 0,70 - 1,00 adalah soal mudah

d. Daya Pembeda
Untuk menentukan daya pembeda butir soal digunakan rumus :
D = P
A
-P
B
(Anas Sudijono, 2011 : 389)

A
A
A
J
B
P =

B
B
B
J
B
P =
Keterangan :
D = Angka indeks diskriminasi item
P
A
= Proporsi testee kelompok atas yang dapat menjawab dengan
betul butir item yang bersangkutan.
P
B
= Proporsi testee kelompok bawah yang dapat menjawab dengan
betul butir item yang bersangkutan.
J
A
= Jumlah testee yang termasuk dalam kelompok atas.
J
B
= Jumlah testee yang termasuk dalam kelompok bawah.
B
A
= Banyaknya testee kelompok atas yang dapat menjawab dengan
43


betul butir item yang bersangkutan.
B
B
= Banyaknya testee kelompok bawah yang dapat menjawab
dengan betul butir item yang bersangkutan.
Klasifikasi daya pembeda :
D = 0,00-0,20 : jelek (poor)
D = 0,20-0,40 : cukup (satisfactory)
D = 0,40-0,70 : baik (good)
D = 0,70-1,00 : baik sekali (excellent)
D = Negatif, semuanya tidak baik, jadi semua butir soal yang
mempunyai nilai D negatif sebaiknya dibuang saja.

2. Lembar Observasi
Observasi dilakukan pada saat pembelajaran sedang berlangsung.
Adapun peranannya adalah mengamati aktivitas pembelajaran, yang menjadi
observer adalah peneliti dan guru bidang studi matematika lain. Peneliti tidak
sendiri mengobservasi guru yang akan melaksanakan perbaikan pembelajaran
tetapi peneliti bersama guru bidang studi matematika yang lain atau bersama
kepala sekolah untuk mengobservasi guru tersebut. Cara pengajaran yang
dilakukan oleh guru tersebut, dapat dilihat pada lembar observasi yang telah
disediakan oleh peneliti. Peneliti beserta guru matematika yang lain atau kepala
sekolah dan salah satu teman ikut mengobservasi dalam pelaksanaan perbaikan
pembelajaran yang sedang dilaksanakan oleh guru.
3. Angket
44


Angket adalah sejumlah pertanyaan dilengkapi dengan alternatif jawaban
sehingga responden hanya memilih salah satu jawaban yang dianggap paling
benar. Angket ini penulis gunakan untuk mengetahui seberapa besar respon siswa.
Angket respon siswa diberikan pada siswa setelah seluruh kegiatan belajar
mengajar selesai dilaksanakan dengan menggunakan lembar angket siswa. Sebelum
angket disusun terlebih dahulu dibuat kisi-kisi angket seperti pada tabel berikut :
Tabel III.3 Kisi Kisi Angket
No Indikator
Nomor
Pertanyaan
Jumlah
1 Motivasi siswa terhadap pembelajaran
a. Antusias yang tinggi
b. Mengulang pelajaran
c. Tekun menghadapi tugas
d. Tidak cepat bosan
e. Tidak mudah putus asa
f. Dapat mempertahankan pendapat
g. Lebih suka belajar sendiri
h. Prestasi belajar akan lebih baik

5
18
16
4,20
13
1
10
6

9
2 Minat siswa terhadap pembelajaran
a. Memperoleh suatu kebanggaan
b. Rasa ingin tahu yang besar
c. Menumbuhkan rasa senang dalam belajar
d. Menaruh perhatian yang besar
ada kegiatan belajar
e. Mau bertanya, jika ada materi pelajaran
yang kurang jelas
f. Tidak mudah terganggu ketika belajar

8
3
11
2,19

7

17

7



45


3 Sikap siswa terhadap pembelajaran
a. Melihat masalah sebagai tantangan
b. Pikiran terbuka untuk menerima saran
dan ide teman
c. Berpikir positif
d.Tidak membuat alasan,
namun langsung bertindak
dalam mengerjakan tugas

12
9

15
14

4
Jumlah 20 20

F. Analisis Data
Setelah data diperoleh maka dilakukan analisis untuk mengetahui
apakah ada pengaruh pembelajaran dengan model pembelajaran tipe STAD
terhadap kemampuan siswa dalam menyelesaikan operasi matriks.
Sesuai dengan tujuan penelitian, maka analisis data dilakukan sebagai
berikut :

1. Hasil belajar siswa
a. Ketuntasan individual.
Berdasarkan kriteria ketuntasan yang diuraikan pada bab II, untuk
menentukan ketuntasan belajar siswa (individual) dapat dihitung dengan
menggunakan persamaan sebagai berikut :
KB =
t
T
T
100% (Trianto 2010 : 241)
Keterangan :
KB : Ketuntasan belajar
46


T : Jumlah skor yang diperoleh siswa
T
t
: Jumlah skor total
Kriteria :
0% KB 65% disebut tidak tuntas
65% KB 100% disebut tuntas
b. Ketuntasan klasikal

Analisis persentase ketuntasan belajar secara klasikal dirumuskan
sebagai berikut :
P =

siswa
belajar tuntas yang siswa
100% (Ruhadi, 2010 : 57)
Keterangan :
P = Ketuntasan klasikal
Suatu kelas dikatakan tuntas belajarnya (ketuntasan klasikal), jika ada
dalam kelas tersebut 80% siswa telah tuntas belajarnya.

2. Ketercapaian Tujuan Pembelajaran Khusus
Suatu tujuan pembelajaran khusus (TPK) dipandang telah tercapai apabila
paling sedikit 65% siswa telah tuntas belajar untuk semua butir soal yang
berkaitan dengan TPK tersebut.
T =
maks
S
S
1
100%
Keterangan :
T = Persentase pencapaian TPK.
S
i
=

Skor siswa untuk butir soal ke-i.
S
maks
=

Jumlah maksimum untuk soal ke-i.
47


Kriteria : secara keseluruhan TPK dikatakan tercapai 80% dari seluruh
TPK telah tuntas.

3. Pelaksanaan Pembelajaran
Untuk menganalisis data hasil pelaksanaan pembelajaran model kooperatif
tipe STAD dalam pembelajaran matematika pokok bahasan menyelesaikan
operasi matriks, dianalisi dengan rumus dalam http://id.shoong.com/writing-and-
speaking/2174908-teknik-pengumpulan-dan-analisis-data/ yaitu :
P =
N
n
x 100%
Keterangan :
P = adalah jumlah persentase yang dihitung
N = adalah total skor jawaban dari seluruh alternatif jawaban
n = adalah total skor jawaban dari suatu alternatif
Adapun kriterianya adalah : Nilai = 10 29, sangat kurang
Nilai = 30 49, kurang
Nilai = 50 69, cukup
Nilai = 70 89, baik
Nilai = 90 100, sangat baik
4. Respons Siswa
Untuk menentukan hasil respon siswa terhadap pelaksanaan perbaikan
pembelajaran, maka dikembangkan rumus yang diadopsi oleh Anas Sudijono
(2011 : 329), dapat dilihat pada table III.4 sebagai berikut :

48


Tabel III.4 Perhitungan Respon Siswa
No Interval Frekuensi Kategori
1 M + (1,5 x SD) s/d M + (0,5 x SD) f
1
Sangat baik
2 M + (0,5 x SD) s/d M - (0,5 x SD) f
2
Baik
3 M - (0,5 x SD) s/d M - (1,5 x SD) f
3
Kurang baik
4 M - (1,5 x SD) s/d M - (2,5 x SD) f
4
Tidak baik
(Adobsi dari Anas Sudijono 2011 : 329)
Dimana :
M
(x)
= M+ i
|
|
.
|

\
|

N
f x'
(Anas Sudjono 2011 : 327 )
M
(x)
= Mean
M = Mean terkaan
i = Panjang kelas
SD
x
= i
2
2
'
|
|
.
|

\
|


N
f x
N
f x

SD
x
= Standar Deviasi
Respon siswa dikatakan baik, apabila persentase jawaban yang diperoleh
sama atau lebih dari 80% dari rata-rata persentase indikator.

5. Efektivitas Pembelajaran
Berdasarkan uraian efektivitas pembelajaran pada bab II, maka
penggunaan model kooperatif tipe STAD untuk meningkatkan kemampuan siswa
menyelesaikan operasi matriks di kelas X AP SMK Negeri 1 Berastagi Tahun
pelajaran 2011/2012 dikatakan efektif jika memenuhi syarat-syarat sebagai
berikut :

49


1. Siawa tuntas secara klasikal dan tuntas secara individu
2. Ketercapaian TPK keseluruhan tercapai
3. Pelaksanaan pembelajaran minimal kategori baik
4. Respon siswa terhadap pelaksanaan pembelajaran minimal kategori baik.

50


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Perbaikan Pembelajaran Siklus I
1. Hasil Belajar Siswa
Dari hasil belajar yang diperoleh pada Penelitian Tindakan Kelas Siklus I,
maka diperoleh ketuntasan belajar yaitu ketuntasan belajar secara individu, dan
ketuntasan belajar secara klasikal yang diuraikan pada tabel IV.1 sebagai berikut :
Tabel IV.1 Persentase Ketuntasan Siswa Secara Individual

TPK
Siswa Yang
Tuntas
Persentase
Siswa Yang
Tidak Tuntas
Persentase
RPP 1
1 12
38,71%
19
61,29%
2 12
38,71%
19
61,29%
Persentase
RPP 1
38,71% 61,29%
RPP 2
1 11
35,48%
20
64,52%
2 15
48,39%
16
51,61%
Persentase
RPP 2
41,94% 58,06%
Persentase
Siklus 1
40,30% 59,70%

Berdasarkan tabel IV.I dapat dilihat bahwa siswa yang tuntas belajar pada
TPK 1 sebesar 38,71%, TPK 2 sebesar 38,71%, TPK 3 sebesar 35,48%, TPK 1
sebesar 48,39%, ada 13 orang dari 31 siswa yang tuntas, dan terdapat 18 orang
dari 31 siswa yang tidak tuntas belajar. Perhitungan selengkapnya lihat lampiran
halaman 102. Selanjutnya data dari tabel tersebut dirangkumkan ketuntasan siswa
secara klasikal dalam tabel IV.2 berikut :



50
51


Tabel IV.2 Deskripsi Ketuntasan Belajar Siswa Secara Klasikal
Keterangan
Siklus I
Hasil Persentase
Rata-rata hasil belajar siswa 50.54 50.54%
Siswa yang tuntas belajar 13 41.94%
Siswa yang tidak tuntas belajar 18 58.06%
Jumlah siswa 31 100%

Dari tabel IV.2 diperoleh bahwa hanya 41,94% siswa yang tuntas belajar
pada materi operasi matriks. Jadi hasil yang diperoleh, siswa belum dapat
dikatakan tuntas secara klasikal. Perhitungan selengkapnya lihat lampiran
halaman 104.

2. Ketercapaian TPK
Ketercapaian TPK pada siklus I dari materi operasi matriks yang
diajarkan, dapat dilihat dari tabel berikut ini :
Tabel IV.3 Deskripsi Ketercapaian Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK)
No Indikator
Butir
soal
Banyak
siswa yang
benar
Persentase
pencapaian
butir soal
Persentase
ketuntasan
TPK
Keterangan
1 Menentukan hasil
penjumlahan dua
matriks atau lebih
1 18 58.06
58.71%
Tidak
Tercapai
2 19 61.29
4 18 58.06
6 19 61.29
8 17 54.84
2
Menentukan hasil
pengurangan dua
matriks atau lebih
3 17 54.84
54.03%
Tidak
Tercapai
5 23 74.19
7 14 45.16
9 13 41.94
3
Menentukan hasil
perkalian dua
matriks atau lebih
1 15 48.39
38.71%
Tidak
Tercapai
2 13 41.94
6 8 25.81
4
Menentukan hasil
perkalian matriks
dengan bilangan
skalar
3 17 54.84
44.09%
Tidak
Tercapai
4 11 35.48
5 13 41.94
52


Dari tabel IV.3 diketahui bahwa dari keempat TPK yang diajarkan belum
ada TPK yang tercapai dapat dilihat dari rata-rata dari keempat TPK hanya
48,89%. Dengan demikian keempat TPK belum tercapai secara keseluruhan atau
0%. perhitungan selengkapnya lihat lampiran halaman 102.

3. Pelaksanaan Pembelajaran
Observasi dilaksanakan pada saat palaksanaan pembelajaran dan sebagai
observer yaitu peneliti dan guru matematika yang ada di lokasi penelitian, mulai
dari awal pelaksanaan tindakan sampai akhirnya tindakan berupa pengajaran
dengan menggunakan model kooperatif tipe STAD sebagai upaya meningkatkan
hasil belajar siswa pada materi operasi matriks di SMK Negeri 1 Berastagi kelas
X. Hasil observasi proses pembelajaran pada siklus I ditunjukkan pada tabel
berikut ini:
Tabel IV.4 Hasil Pengamatan Aktivitas Guru

Penilaian RPP 1 Penilaian RPP 2
Jumlah Rerata
1 2 3 1 2 3
Jumlah
58 59 57 55 53 56 338 56.33
Skor maksimum
92 92 92 92 92 92 552 92
Rata-rata
63.04 64.13 61.96 59.78 57.61 60.87 61.23 61.23

Dari tabel IV.4 dapat dilihat bahwa setiap aspek diamati kegiatan guru
rata-rata 61.23. Berdasarkan kriteria penilaian hasil observasi, berarti hasil
observasi pelaksanaan perbaikan guru adalah berkategori cukup. perhitungan
selengkapnya lihat lampiran halaman 117.
Selanjutnya hasil observasi kegiatan siswa dapat dilihat pada tabel IV.5
berikut :
53


Tabel IV.5 Hasil Pengamatan Kegiatan Siswa

Penilaian RPP 1 Penilaian RPP 2
Jumlah Rerata
1 2 3 1 2 3
Jumlah 60 59 59 60 59 59 355 59.17
Skor maksimum 96 96 96 96 96 96 576 96
Rata-rata 62.50 61.46 61.46 62.50 61.46 61.46 61.63

Dari tabel IV.5 dapat dilihat bahwa setiap aspek yang diamati untuk
kegiatan siswa rata-rata 61,63. perhitungan selengkapnya lihat lampiran halaman
131. Berdasarkan kriteria penilaian hasil observasi, berarti hasil observasi
pelaksanaan perbaikan kegiatan siswa adalah berkategori cukup.

4. Refleksi Perbaikan Pembelajaran Siklus I
Berdasarkan deskripsi perbaikan pembelajaran siklus I, dapat dilihat
bahwa ketuntasan belajar secara klasikal belum tuntas, secara keseluruhan tujuan
pembelajaran khusus belum tercapai, dan pelaksanaan pembelajaran belum
kategori baik. Pada pembelajaran siklus I, ketuntasan belajar secara klasikal masih
41,94% sedangkan suatu pembelajaran itu dikatakan tuntas secara klasikal adalah
80% dan ketercapaian TPK hanya mencapai 0% sedangkan secara keseluruhan
suatu TPK itu dipandang tercapai jika 80% dari keseluruhan TPK sudah tercapai.
Oleh karena itu peneliti akan kembali melakukan perbaikan pembelajaran yang
disebut dengan perbaikan pembelajaran siklus II.
Pada perbaikan pembelajaran siklus II, dilakukan perbaikan dan kesiapan
yang lebih matang dari guru dan siswa. Agar hasil perbaikan pembelajaran siklus
II lebih baik, diharapkan guru memberikan apersepsi yang lebih baik, memberikan
motivasi, dan pada saat terjadi diskusi kelompok diharapkan guru lebih baik
54


memperhatikan jalanya diskusi kelompok dan memberi arahan / bimbingan
kepada siswa agar terjalin kerjasama yang lebih baik.

B. Deskripsi Perbaikan Pebelajaran Siklus II
1. Hasil Belajar
Pada akhir pembelajaran dilakukan tes untuk melihat hasil belajar siswa
baik secara individu maupun klasikal. Pada perbaikan pembelajaran siklus II
diperoleh hasil belajar siswa yang dapat dilihat dari tabel IV.6 berikut :
Tabel IV.6 Persentase Ketuntasan Siswa Secara Individual

TPK
Siswa Yang
Tuntas
Persentase
Siswa Yang
Tidak Tuntas
Persentase
RPP 1
1 28 90,32% 3 9,68%
2 27 87,10% 4 12,90%
Persentase
RPP 1
88,71% 11,29%
RPP 2
1 29 93,55% 2 6,45%
2 28 90,32% 3 9,68%
Persentase
RPP 2
91,94% 8,07%
Persentase Siklus 1 90,32% 9,68%

Berdasarkan tabel IV.6 dapat dilihat bahwa siswa yang tuntas belajar pada
TPK 1 sebesar 90,32%, TPK 2 sebesar 87,10%, TPK 3 sebesar 93,55%, TPK 1
sebesar 90,32%, secara keseluruhan ada 29 orang dari 31 siswa yang tuntas. dan
terdapat 2 orang dari 31 siswa yang tidak tuntas belajar. perhitungan selengkapnya
lihat lampiran halaman 151. Selanjutnya data dari tabel tersebut dekripsikan
ketuntasan siswa secara klasikal dalam tabel IV.7 berikut :
55


Tabel IV.7 Deskripsi Ketuntasan Belajar Siswa Secara Klasikal
Keterangan Siklus II
Hasil Persentase
Rata-rata hasil belajar siswa 81.72 81.72%
Siswa yang tuntas belajar 29 93.55%
Siswa yang tidak tuntas belajar 2 3.23%
Jumlah siswa 31 100%

Dari tabel IV.7 diperoleh bahwa 29 siswa telah tuntas belajar siswa secara
individual, berarti secara klasikal siswa sebayak 95,55 % siswa telah tuntas belajar
pada materi operasi matriks. perhitungan selengkapnya lihat lampiran halaman
153. hal ini berarti ketuntasan belajar secara individual dan ketuntasan belajar
secara klasikal telah dipenuhi.

2. Ketercapaian TPK
Ketercapaian TPK pada siklus II dari materi operasi matriks yang
diajarkan, dapat dilihat dari tabel berikut ini :
Tabel IV.8 deskripsi ketercapaian Tujuan pembelajaran khusus (TPK)
No TPK
Butir
Soal
Banyak
Siswa Yang
Benar
Persentase
Pencapaian
Butir Soal
Persentase
Ketuntasan
TPK
Keterangan
1
Menentukan hasil
penjumlahan dua
matriks atau lebih
1 25 80.65
81.29% Tercapai
2 26 83.87
4 23 74.19
6 25 80.65
8 27 87.10
2
Menentukan hasil
pengurangan dua
matriks atau lebih
3 26 83.87
81.45% Tercapai
5 29 93.55
7 26 83.87
9 25 80.65
56



3
Menentukan hasil
perkalian dua
matriks atau lebih
1 25 80.65
81.72% Tercapai
2 25 80.65
6 26 83.87
4
Menentukan hasil
perkalian matriks
dengan bilangan
skalar
3 26 83.87
82.80% Tercapai
4 28 90.32
5 23 74.19
Rerata

81.72% Tercapai

Dari tabel IV.8 dapat dilihat bahwa keempat TPK sudah tuntas dan rata-
rata dari keempat TPK adalah 81.71%. dengan demikian secara keseluruhan
TPK telah tercapai 100%. perhitungan selengkapnya lihat lampiran halaman 151.

3. Pelaksanaan Pembelajaran
Observasi dilakukan oleh guru matematika yang lain di lokasi penelitian,
mulai dari awal pelaksanaan tindakan sampai akhirnya tindakan berupa
pengajaran dengan menggunakan model kooperatif tipe STAD sebagai upaya
meningkatkan hasil belajar siswa pada materi operasi matriks di SMK Negeri 1
Berastagi kelas X jurusan akomodasi perhotelan. Hasil observasi proses
pembelajaran pada siklus II ditunjukkan pada tabel berikut ini:

Tabel IV.9 Hasil Pengamatan Aktivitas Guru

Penilaian RPP 1 Penilaian RPP 2
Jumlah Rerata
1 2 3 1 2 3
Jumlah 80 79 81 83 85 82 490 81.667
Skor maksimum 92 92 92 92 92 92 552 92
Rata-rata 86.96 85.87 88.04 90.22 92.39 89.13 88.77
57


Dari tabel IV.9 dapat dilihat bahwa setiap aspek diamati kegiatan guru
rata-rata 88,77. perhitungan selengkapnya lihat lampiran halaman 164.
Berdasarkan kriterian penilaian hasil observasi, berarti hasil observasi
pelaksanaan perbaikan guru adalah berkategori baik.
Selanjutnya hasil observasi kegiatan siswa dapat dilihat pada tabel IV.10
berikut :
Tabel IV.10 Hasil Pengamatan Kegiatan Siswa

Penilaian RPP 1 Penilaian RPP 2
Jumlah Rerata
1 2 3 1 2 3
Jumlah 84 85 85 84 84 82 504 84
Skor maksimum 96 96 96 96 96 96 576 96
Rata-rata 87.50 88.54 88.54 87.50 87.50 85.42 87.50

Dari tabel IV.10 dapat dilihat bahwa setiap aspek yang diamati untuk
kegiatan siswa rata-rata 87,50. Perhitungan selengkapnya lihat lampiran halaman 178.
Berdasarkan kriteria penilaian hasil observasi, berarti hasil observasi pelaksanaan
perbaikan kegiatan siswa adalah berkategori baik.

5. Refleksi Perbaikan Pembelajaran siklus II
Setelah dilaksanakan perbaikan pembelajaran siklus II, dapat dilihat
ketntasan secara klasikal yaitu 96,77% , secara keseluruhan TPK sudah tercapai
yaitu 81.72% dan pelaksanaan pembelajaran berkategori baik. Maka pada
penelitian tindakan ini sudah cukup sampai perbaikan pembelajaran siklus II.

C. Respon Siswa
Angket respon siswa dilaksanakan pada perbaikan pembelajaran siklus II,
respon siswa dapat dilihat dari tabel IV.11 Berikut ini :
58


Tabel IV.11 Respon Siswa
Skor Frekuensi Persentase Kategori
71.01 - 68.37 14 45.16% Sangat Baik
68,37 65,73 12 38.71% Baik
65,73 63,09 3 9.68% Cukup
63,09 60,45 2 6.45% Kurang Baik

Dari tabel IV.11 Dapat dilihat bahwa sebanyak 26 orang atau 83,87%
respon siswa terhadap pelaksanaan perbaikan pembelajaran minimal kategori
baik. Berdasarkan kategori penilaian respon siswa, maka respon siswa terhadap
pelaksanaan perbaikan pembelajaran dengan penerapan model pembelajaran
kooperatif tipe STAD menyelesaikan matriks pada kelas X SMK Negeri 1
Berastagi Tahun Pelajaran 2011/2012 adalah kategori baik. perhitungan
selengkapnya lihat lampiran halaman 187.

D. Efektivitas Pembelajaran
Berdasarkan syarat-syarat efektivitas pembelajaran, bahwa :
1. Hasil belajar siswa tuntas secara klasikal dan individu.
2. Tujuan pembelajaran khusus tercapai.
3. Pelaksanaan pembelajaran adalah kategori baik.
4. Respon siswa adalah kategori baik.
Dengan demikian pelaksanaan perbaikan pembelajaran dengan penerapan
model pembelajaran kooperatif tipe STAD menyelesaikan matriks pada kelas X
SMK Negeri 1 Berastagi Tahun Pelajaran 2011/2012 adalah efektif.





59


E. Pembahasan
Dari hasil perbaikan pembelajaran yang dilaksanakan di SMK Negeri
1 Berastagi Tahun Pelajaran 20011/2012 di kelas X AP-2 sebanyak 31 siswa
yang mengikuti penelitian tindakan kelas dengan menerapkan model
pembelajaran kooperatif tipe STAD menyelesaikan matriks diperoleh :
1. Hasil belajar siswa yang dipaparkan pada perbaikan pembelajaran siklus I
yakni tabel IV.1 ada 13 siswa dari 31 siswa yang tuntas atau mendapat nilai lebih
dari 65 atau 41,94% dan 18 siswa dari 31 siswa yang tidak tuntas atau mendapat
nilai kurang dari 65 atau 58,06%. dan pada perbaikan pembelajaran siklus II yakni
tabel IV.6 ada 2 siswa dari 31 siswa yang tuntas atau mendapat nilai lebih dari 65
atau 6.45% dan 29 siswa dari 31 siswa yang tidak tuntas atau mendapat nilai
kurang dari 65 atau 93,55%.
2. Ketercapaian tujuan pembelajaran khusus pada perbaikan pembelajaran siklus I
dalam menyelesaikan operasi matriks belum tuntas secara keseluruhan dengan
persentase pencapaian 0% dan pada perbaikan pembelajaran siklus II ketercapaian
tujuan pembelajaran khusus indikator menyelesaikan operasi matriks sudah tuntas
secara klasikal dengan persentase pencapaian 100%.
3. Pelaksanaan pembelajaran kegiatan guru sebesar 61,23% dan hasil observasi
pelaksanaan perbaikan pembelajaran kegiatan siswa sebesar 61,23%. Sedangkan
hasil observasi pada siklus II pelaksanaan perbaikan pembelajaran meningkat
pada kegiatan guru sebesar 88,77 %dan hasil observasi pelaksanaan perbaikan
pembelajaran kegiatan siswa sebesar 87,50 %
60


4. Respon siswa terhadap pelaksanaan pembelajaran dengan menerapkan model
pembelajaran kooperatif tipe STAD menyelesaikan matriks pada kelas X SMK
Negeri 1 Berastagi Tahun Pelajaran 2011/2012 adalah kategori baik.
5. Berdasarkan syarat-syarat keefektivan pembelajaran yang telah dipaparkan di
bab III yaitu :
1. Hasil belajar tuntas secara klasikal.
2. Tujuan pembelajaran khusus t ercapai.
3. Pelaksanaan pembelajaran kategori baik.
4. Respon siswa terhadap pelaksanaan pembelajaran kategori baik,
maka pembelajaran matematika dengan menerapkan model pembelajaran
kooperatif tipe STAD pada materi operasi matriks di kelas X Jurusan Akomodasi
Perhotelan SMK Negeri 1 Berastagi Tahun Pelajaran 2011/2012 adalah efektif
61


BAB V
SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan
Dari hasil analisi bab IV, dapat ditarik simpulan bahwa :
1. Hasil belajar siswa setelah perbaikan pembelajaran dengan menggunakan model
pembelajaran kooperatif tipe STAD menyelesaikan matriks di kelas X jurusan
Akomodasi Perhotelan SMK Negeri 1 Berastagi Tahun Pelajaran 2011/2012 pada
siklus I ada 13 orang tuntas secara individu atau 41.94% secara klasikal, dan pada
siklus II ada 29 orang tuntas secara secara individu atau 93.55% secara klasikal. Jadi
hasil belajar siswa setelah perbaikan pembelajaran tuntas secara klasikal.
2. Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK) yang dilakukan di kelas X jurusan
akomodasi perhotelan dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe
STAD dalam menyelesaikan operasi matriks SMK Negeri 1 Berastagi Tahun
Pelajaran 2011/2012, pada siklus I persentase dari keseluruhan TPK sebesar 0%
dan pada siklus II persentase dari keseluruhan TPK sebesar 100%. Dengan
demikian ketercapaian TPK setelah perbaikan pembelajaran tercapai.
3. Pelaksanaan perbaikan yang dilaksanakan dengan menggunakan model
pembelajaran kooperatif tipe STAD pada materi operasi matriks di kelas X
jurusan akomodasi perhotelan SMK Negeri 1 Berastagi Tahun Pelajaran
2011/2012 Pada Pelaksanaan pembelajaran kegiatan guru siklus I sebesar
61.23% dan hasil observasi pelaksanaan perbaikan pembelajaran kegiatan siswa
sebesar 61,23%. Sedangkan hasil observasi pada siklus II pelaksanaan perbaikan
pembelajaran meningkat pada kegiatan guru sebesar 88,77 % dan hasil observasi
61
62


pelaksanaan perbaikan pembelajaran kegiatan siswa sebesar 87,50 %. Dengan
demikian pelaksanaan pembelajaran adalah berkategori baik.
5. Respon siswa terhadap pelaksanaan pembelajaran dengan menerapakan model
pembelajaran kooperatif tipe STAD pada materi operasi matriks di kelas X
jurusan akomodasi perhotelan SMK Negeri 1 Berastagi Tahun Pelajaran
2011/2012 dengan hasil 83,87%. Dengan demikian respon siswa kategori baik.
6. Model pembelajaran kooperatif tipe STAD pada materi operasi matriks di kelas
X jurusan akomodasi perhotelan SMK Negeri 1 Berastagi Tahun Pelajaran
2011/2012 adalah efektif.

B. Saran
Berdasarkan simpulan yang tercapai maka dikemukakan beberapa saran
sebagai berikut :
1. Setiap pelaksanaan pembelajaran hendaknya hasil belajar tuntas secara
klasikal, karena itu apabila tidak tuntas secara klasikal agar dilakukan
perbaikanpembelajaran.
2. Pada setiap pelaksanaan pembelajaran, hendaknya tujuan pembelajaran khusus
(TPK) setiap indikator diharapkan tuntas secara keseluruhan.
3. Dalam pelaksanaan pembelajaran, hendaknya guru memperhatikan jalannya
proses pelaksanaan pembelajaran.
4. Diharapkan kepada guru agar dapat memperhatikan dan menerima respon
siswa, demi perbaikan pembelajaran selanjutnya.
Setiap pelaksanaan pembelajaran hendaknya memenuhi syarat-syarat
keefektifan pembelajaran.
63


DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahman, Molyonno. 2009. Pendidikan Bagi Berkesulitan Belajar. Cetakan
Kedelapan Jakarta : Rineka Cipta

Aqib, Zainal, dkk, 2009, Penelitian Tindakan Kelas,CV. Yrama Widya, Bandung
Arikunto Suharsimi, Suhardjono, Supardi, 2009, Penelitian Tindakan Kelas, Cetakan
Kedelapan, Bumi Aksara, Jakarta.

Depdiknas, 2010, Membimbing Guru Dalam Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta.
Dymiati dan Mudjion, 2006, Belajar Dan Pembelajaran, Rineka Cipta, Jakarta.
Hamalik, Oemar, 2010, Proses Belajar Mengajar, Bumi Aksara, Jakarta.
http://carapedia.com/pengertian_definisi_pembelajaran_menurut_para_ahliinfo507.html
http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2143437-faktor-faktor-yang-
mempengaruhi-respon/#ixzz1Lg8vWlCb.

http://id.wikipedia.org/wiki/Matriks_%28matematika%29.
http://republikguru.blogspot.com/2010/07/ defenisi-hasil-belajar.html.
http://www.infogue.com/article/2011 /03/06/pengertian_efektivitas_pembelajaran.
http://www.scribd.com/doc/39878021/DIAGNOSA -KESULITAN-BELAJAR.
http://www.scribd.com/doc/50425863/
Robert E Slavin. 2011. Cooperative Learning. Bandung : Nusa Media
Sagala, Syaiful, 2009, Konsep dan Makna Pembelajaran. Cetakan Ketujuh.
Alfabet, Bandung.

........................, 2010, Supervisi Pembelajaran Dalam Profesi Pendidikan,
Cetakan Kesatu, Alfabet, Bandung.

Sanjaya, W, 2006. Strategi Pembelajaran. Jakarta Kencana

.................., 2009. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta Kencana

Slameto, 2010, Belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhi. Rineka Cipta.
Jakarta


63

64


Sudijono, Anas, 2011, Pengantar Evaluasi Pendidikan, Cetakan kesepuluh, Raja
Grafindo Persada, Jakarta.

Sugiyono, 2008, Metode Penelitian Pendidikan. Cetakan keenam, Alfabet,
Bandung.;

Syah, Muhibbin, 2010, Psikologi Pendidikan, Cetakan Kelimabelas, Rosda,
Bandung.

Trianto, 2010, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif, Cetakan
Ketiga, Kencana, Jakarta.