P. 1
Luna Torashyngu - Lovasket 2

Luna Torashyngu - Lovasket 2

3.0

|Views: 701|Likes:
Dipublikasikan oleh Hardyansyah Harisman

More info:

Published by: Hardyansyah Harisman on Sep 14, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/14/2012

pdf

text

original

LOVASKET 2

FOR THE LOVE OF THE GAME

Luna Torashyngu

Cerita ini adalah cerita fiksi, bukan merupakan kejadian yang sebenarnya.

Cerita sebelumnya:

THE ROSES, geng cewek di SMA Altavia—SMA swasta paling elite di Bandung— bubar. Vira, pemimpin geng itu, terpaksa pindah sekolah karena papanya ditangkap dengan tuduhan korupsi dan semua kekayaan keluarganya disita. Vira terpaksa pindah ke sebuah sekolah negeri di pinggiran kota yang kebanyakan muridnya berasal dari keluarga menengah ke bawah. Keadaan sekolah itu berbeda 180 derajat dengan SMA Altavia yang kebanyakan muridnya merupakan anak pejabat atau orang kaya. Nggak cuman pindah sekolah, Vira juga harus rela kehilangan teman-temannya, pacar, dan yang terpenting, peluangnya sebagai kandidat kuat kapten tim basket putri SMA Altavia sekaligus ketua ekskul basket di sekolah itu. Semua kejadian yang menimpanya membuat Vira frustrasi. Batin Vira tertekan dan sifatnya berubah. Vira yang dulu periang menjadi pendiam dan lebih suka mengurung diri di kamar sepulang sekolah. Niken adalah Ketua OSIS SMA 31—sekolah baru Vira. Sebagai ketua OSIS, Niken bingung menghadapi keinginan pihak sekolah yang berniat mengurangi jumlah kegiatan ekstrakurikuler di SMA itu karena masalah biaya. Pihak sekolah memberikan wewenang pada OSIS untuk menentukan ekskul mana yang bisa dihapus. Niken tentu saja pusing seribu keliling karena harus menginvestigasi masing-masing ekskul untuk mengetahui kegiatan mereka. Niken juga merasa nggak enak pada temen-temennya yang tentu berharap agar ekskul mereka nggak dihapus.

terutama dari Rida. walau kabarnya memiliki sejumlah pemain yang baik. kapten tim basket putri SMA 31. karena itu Vira berniat memberikan pelajaran pada mantan sahabat dan sekolahnya itu dengan cara mempermalukan tim basket putri SMA Altavia yang sering memenangi berbagai kejuaraan. Dengan berbagai cara. Ternyata bergabungnya Vira dengan tim basket putri SMA 31 nggak berjalan mulus. Rida nggak yakin kehadiran Vira dapat membuat permainan tim putri SMA 31 lebih baik dan berprestasi. Kedekatan Niken pada mama Vira membuatnya tahu Vira adalah pemain basket yang berbakat. Walau di babakbabak awal sempat mengalami masalah dan kesulitan. Vira akhirnya bisa meyakinkan Rida untuk menerima kehadirannya dalam tim. Vira menganggap kematian Diana adalah tanggup jawab Stella dan pihak SMA Altavia. Niken mati-matian membujuk Vira untuk bergabung dengan tim basket putri SMA 31. Ini membuat Niken merasa nggak enak pada Rei.Salah satu ekskul yang terancam akan dihapus adalah basket. Ekskul basket menjadi kandidat kuat untuk dihapus karena tidak pernah berprestasi bagus. Tapi bujukan Niken itu nggak ditanggapi Vira yang sedang depresi dan bersumpah nggak akan main basket lagi untuk selamanya. Tapi kejadian bunuh dirinya Diana. membuat mata hari Vira terbuka. Mamanya yang ikut membujuk juga nggak berhasil meluluhkan hati Vira. Kedekatan mereka membuat Niken cemburu. Turnamen basket antar-SMA sekota Bandung menjadi ajang pembuktian bagi Vira untuk membalaskan dendamnya pada bekas sekolahnya. termasuk ketika harus bertanding satu lawan satu dengan Stella. sampe munculnya penolakan atas kehadiran dirinya dari sebagian pemain. apalagi mereka sering keluar malam bersama untuk bermain streetball atau basket jalanan. Padahal Rei— ketua ekskul ini—adalah teman Niken sejak kecil. Dia juga semakin dekat dengan Rei. Banyak hambatan yang menghadang Vira. akhirnya tim putri SMA 31 . salah satu anggota The Roses yang juga sahabat Vira. mulai dari kondisi permainan tim yang berantakan dan tanpa strategi bermain yang jelas. Akhirnya dia bersedia bergabung dengan tim basket SMA 31.

Vira dan teman-temannya justru yang lebih mendapat sambutan meriah dari seluruh penonton yang menyaksikan langsung pertandingan itu. Kejar-kejaran angka berlangsung seru. Rida sebagai kapten tim lalu memutuskan SMA 31 tetap bertanding tanpa Vira. Vira nggak berhasil menuntaskan “dendamnya” secara langsung pada bekas sekolahnya. Dia juga berhasil menyatukan Niken dan Rei. Tapi cederanya Vira ternyata nggak memadamkan semangat bertanding teman-temannya. SMA 31 nggak gentar. Walau melawan SMA Altavia yang lebih diunggulkan. Vira cedera di menit-menit akhir pertandingan dan harus keluar lapangan. ternyata Vira nggak muncul. . Kehadiran Vira menambah panas suasana pertandingan. Dan walaupun akhirnya SMA 31 gagal mengalahkan SMA Altavia dengan angka sangat tipis. tapi dia mendapat “kemenangan” lain yang jauh lebih penting. Sayang. hingga akhirnya Vira muncul di pertengahan quarter kedua. SMA 31 yang selalu tertinggal dalam perolehan angka mulai bangkit mengancam lawannya. serta membuat ekskul basket SMA 31 nggak jadi dihapus. Vira akan berhadapan dengan mantan tim dan teman-teman basketnya. diiringi drama dan bumbu persaingan antara Vira dan mantan teman-temannya. Mereka bisa mengimbangi permainan lawannya. Saat final. dan menghadapi SMA Altavia. terutama Stella. bahkan sempat unggul dari SMA Altavia.berhasil maju ke babak final.

nggak?” tanya Niken tanpa basa-basi... “Kamu nyariin Vira?” Rei malah balik nanya.... siapa suruh berdiri di dalam lapangan.. “Eh. Untung cowok kelas satu yang tadi melempar bola ke arahnya udah pergi. maaf. Hampir. itu... “Eehh.” Terdengar suara cowok dari arah samping Niken. jadi nggak melihat wajah Niken yang memerah menahan malu. “Salah kamu sendiri..” ujar seorang cowok kelas satu yang datang menghampiri Niken.” Niken baru sadar dia emang berdiri sedikit di dalam lapangan basket. Niken menoleh dan melihat Rei yang tau-tau udah berdiri di sampingnya. .. “Emang kamu mikirin apa sih? Sampai nggak sadar berdiri di dalam lapangan?” tanya Rei sambil cengar-cengir.. “Liat-liat dong kalo maen!” sungut Niken sambil memperhatikan cowok yang mengambil bola basket yang tergeletak nggak jauh dari tempat Niken berdiri itu. Kak.SATU DUK! “Aduh!” Hampir aja Niken jadi korban hantaman benda bulat berwarna oranye yang meluncur deras ke arahnya. karena benda itu cuman nyerempet bahu kirinya dikit. “Kamu liat Vira.

tapi aku kan ada janji dengan pacarku tersayang... Pake nanya segala! Rei malah jadi ngakak mendengar jawaban Niken. “Udah deh.. Mia. Kalo nggak salah. Kalo dalam hal satu ini boleh dibilang kedua cewek ini bagai bumi dan langit.“Bukan. Pas ditelepon. Malah boleh dibilang soulmate.. Mungkin Vira pengin sekali ini menikmati pertindangan tanpa diganggu ... Mungkin itu sebabnya kali ini Vira nggak ngajak Niken nonton pertandingan. “Kamu tambah cantik deh kalo lagi kesel. Basket. Debi. nggak?” Rei menghentikan ketawanya dan malah menatap Niken. Sedang Niken. itu juga nggak selalu masuk. nenek kamu!” jawab Niken kesal.. bikin Niken tambah tersipu-sipu. Amel juga nggak tau.. dan anak-anak basket cewek lainnya.” sungut Niken.. Niken juga selalu lupa peraturan-peraturan basket.. andalam tim basket cewek SMA 31. HP-nya nggak aktif.. jangan bercanda.” goda Rei. Mereka kompak dalam segala hal.. Vira terkenal jago basket.” “Vira kan mo nonton pertandingan basket di C‟tra. Masa dia nggak bilang ke kamu?” Niken menggeleng. “Dia nggak bilang ke kamu?” Rei balik nanya lagi. ya pasti nyariin tuh cewek. “Kamu nggak diajak?” tanya Niken. Udah jelas dia nanyain Vira.” “Jangan mulai jayuz. “Bilang apa? Pas bel pulang tuh anak langsung ngabur nggak bilang-bilang. kecuali satu.. dia baru bisa menembak bola ke ring. Kamu liat Vira. “Diajak sih. dan selalu nanya ke Rei atau Vira kalo nonton pertandingan basket bareng mereka. “Reiiii!!!” *** Vira emang sahabat baik Niken. Rei. Rei kembali ngakak sambil mengacak-acak rambut Niken. sebulan belajar basket. dia pergi bareng Rida.

Jelas aja. Lusi siapa tadi?” “Lusi Chyndana Dewi. “Kamu tau banyak soal mereka. walau nggak selalu jadi starter.” kembali Vira menjelaskan.” lanjut Rida....... *** .. termasuk SEA GAMES kemaren. tapi tetap aja Amel bisa ketiduran tanpa terganggu suara-suara ribut di sekelilingnya)... karena nggak mau terganggu suara dengkuran Amel yang selalu ketiduran setiap diajak nonton pertandingan (padahal suasana pertandingan pasti rame. yang bisa diajak diskusi soal pertandingan yang mereka tonton. “Yang nomor 9 itu hebat ya. ya?” tanya Rida.pertanyaan-pertanyaan seperti: “Kenapa sih disentuh dikit aja langsung pelanggaran?” Mungkin kali ini Vira pengin nonton basket bareng temen-temen setimnya.. “Mira Wulandari? Dia pemain nasional juga.. “Aku kan baca koran..” kata Mia.. “Maksud kamu Lusi Chyndana Dewi?” Vira balik nanya.” Vira menjelaskan.” jawab Vira sambil cengengesan. siang ini Vira bersama temen-temen setimnya bergabung bersama ribuan penonton lain yang menyaksikan pertandingan persahabatan antara tim basket putri Jawa Barat melawan tim basket putri Kalimantan Timur.. Mungkin itu juga sebabnya Vira juga nggak ngajak Amel. gitu yaaa. Dia juga banyak bikin angka. “Iya.. Andalan Indonesia di berbagai event internasional. Maennya udah kayak cowok. Lusi. “Ooo. Pertandingan ini merupakan salah satu ajang latihan bagi kedua tim yang akan menghadapi kualifikasi kejuaraan nasional (kejurnas) yang akan berlangsung bulan depan. Apa pun alasannya...” “Yang nomor 7 juga bagus tuh maennya. “Hebaat!” seru Rida sambil bertepuk tangan ketika salah seorang pemain putri Jabar berhasil memasukkan bola ke ring lawan dengan caray lay-up. dia kan atlet nasional..

Dia melengos dan melanjutkan langkahnya. Vira menunggu apa yang akan dilakukan Stella kali ini. Mending mandi. “Itu bukannya Stella?” tanya Rida lirih pada Vira. . “Udahlah..Saat akan keluar dari C‟tra Arena setelah pertandingan selesai. Mia. “Masih tetep sombong aja dia!” sungut Mia.. tapi emang sengaja dimatiin supaya nggak ngeganggu keasyikan Vira nonton basket. langsung membuat wajah ketiga temennya itu berubah seperti baru dapet undian berhadiah aja! *** Vira baru pulang menjelang magrib. trus ngerjain PR buat pelajaran besok.. Stella! batin Vira.. “Dari mana aja sih kamu? Pergi kok nggak bilang-bilang? Kenapa HP-nya dimatiin?” semprot Niken.. Tapi ternyata Stella nggak ngelakuin apa-apa. Ternyata nggak cuman Vira.. Vira melihat sosok yang begitu dikenalnya. dia dapet omelan dari Niken.” sahut Vira. yang juga akan keluar dari pintu yang sama.. Yang ditanya cuman mengangguk. tambah panjang urusannya.. Soalnya baterai HP itu sebenarnya tidak habis. lalu buru-buru ke kamarnya.” sahut Vira sambil nyengir. Tuh anak kalo udah ngomel-ngomel mending jangan diladenin. juga Rida. “Aku yang traktir. Aku lupa nge-charge tadi malem.” lanjut Vira.. Dan Stella pun melihat mereka.. Udah bisa ditebak. Seketika itu juga terlihat wajah ragu-ragu dari Debi. Biarin aja Niken. “Sori. Mending makan yuk! Kan dari tadi kita belum makan siang. nggak usah dipikirin. baterainya abis. diikuti teman-temannya. Apalagi kalo Niken sampe meriksa HP Vira. kalo nggak mau urusannya bisa panjang. Dia nggak mau ngeladenin Niken. besok pasti dia udah biasa lagi. yang lainnya pun melihat kehadiran Stella bersama anak-anak basket Altavia..

. Dia lalu berdiri dan siap-siap berangkat ke sekolah.” Vira menggaruk-garuk kepalanya. dia pun kembali melanjutkan kegiatannya tadi sebelum Vira pulang. Niken sih oke-oke aja. sama sekali nggak negur Vira. ternyata Niken masih kesel ama Vira. Buktinya waktu sarapan roti yang dibikin Bi Sum. Niken diminta tinggal di situ buat nemenin Vira. Masih pake seragam sekolah. Pancingannya mengena! “Hah? Apa?” tanya Vira sambil berbalik. pembantunya). “Kamu tau aku ketemu siapa di GOR kemaren?” Vira mencoba membuka pembicaraan. Niken yang disiplin dan tegas itu diharapkan bisa mengatur Vira yang kadang-kadang suka seenaknya sendiri. “Kamu ketemu siapa di sana?” tanya Niken.. Rumah itu lalu dibeli oleh keluarga Vira dan direnovasi seperlunya untuk tempat tinggal Vira di Bandung. “Ya udah kalo nggak mau tau. lagi! *** Pagi harinya. “Tadi kan kamu bilang ketemu ama seseorang di GOR. nggak menjawab ucapan Vira.. .. sementara kedua ortunya tinggal di Jakarta. Contohnya ya kayak sekarang. di rumah yang dulunya dikontrak Vira bareng mamanya. dan ibunya juga ngizinin. Dengan wajah mendung. Vira baru pulang pas menjelang malem.” ujar Vira lagi... Lagi pula dengan tinggal bareng. Toh rumah Vira juga deket dengan rumahnya. dia cuman diam.. Karena Vira sendirian (sebetulnya berdua bareng Bi Sum. Kalo ada apa-apa tinggal lompat pagar pembatas kompleks. itu. Siapa?” “Ooo.Niken merengut begitu Vira nggak meladenin omelannya. Sejak tiga bulan yang lalu Niken emang tinggal bareng Vira. “Siapa? Ketemu di mana?” tanya Vira berlagak bloon. Niken cuman diam. Baca novel sambil nonton TV. “Emang kamu ketemu siapa?” tanya Niken tiba-tiba. Vira yang membelakangi Niken tersenyum.

” “Saya tahu...“Ya banyak.!!!” *** “Jadi semuanya menolak main kalau tuntutan mereka tidak kita kabulkan?” “Mereka bilang begitu. Bagi mereka yang terpenting sekarang adalah diri sendiri. Soal prestasi..” “Kamu sudah bilang mengenai kondisi kita dan bilang soal itu kita bicarakan setelah babak final?” “Saya sudah coba semua cara untuk meyakinkan mereka. “Viraaaa. mungkin harus kita lupakan dulu tahun ini. bikin Niken cuman melongo. sebaiknya mulai sekarang Anda bersiap-siap untuk membentuk tim baru.” “Membentuk tim baru? Tapi apa mungkin? Dengan waktu yang semakin dekat. ada wasit. Mereka tetap pada tuntutan mereka. termasuk yang Bapak katakan. masih banyak pemain berbakat di luar sana yang punya fanatisme kedaerahan dan tidak semata-mata bermain untuk kepentingan diri sendiri. pemain basket.” “Apa mereka tidak punya fanatisme kedaerahan lagi?” “Menurut saya. Tapi gagal. sampe tukang parkir. fanatisme kedaerahan bagi mereka sudah tidak penting lagi. anak sekolah lain.” “Besok saya akan coba bicara langsung dengan mereka.” “Apa Anda ingin kita mengundurkan diri? Mau ditaruh di mana muka kita kalau sampai hal itu terjadi? Belum lagi kita pasti mendapat sanksi dari pengurus pusat.. Maksud kamu yang mana?” jawab Vira sekenanya.” “Saya yakin.” ..... Vira segera meninggalkan Niken yang lima detik kemudian baru sadar dirinya baru aja dikerjain. Tapi untuk berjaga-jaga. satpam.

“Kalo tim cowoknya.DUA PERTANDINGAN persahabatan basket putri antara tim SMA 31 melawan SMA 12 sudah memasuki detik-detik akhir. Mendengar ucapan Rei dan Niken. Matanya menangkap sosok yang begitu dikenal.. “Maksudnya?” tanya Niken yang duduk di sampingnya. Sampai saat ini tim putri SMA 31 masih unggul 43-27 dan kelihatannya keunggulan itu akan terus bertahan sampai akhir pertandingan. sedang menuju ke arahnya. Mendengar pertanyaan Vira. Vir! Ajarin cara maen basket yang bener biar bisa menang.. kamu yakin nggak punya saudara cowok yang juga jago maen basket kayak kamu?” sahut Rei. “Atau kamu ikut aja tim basket cowok. dan belum pernah kalah. “Sejak final turnamen antar-SMA. Tapi dia segera terdiam. “Lima-kosong. “Vir. Vira cuman bisa ngakak.” jawab Rei dengan nada bangga.” ujar Rei menyambut yang duduk di pinggir lapangan.. Rei cuman nyengir. tim basket cewek udah lima kali melawan SMA lain. Rei?” celetuk Vira yang lagi ngelap keringatnya.” Niken ikut-ikutan menimpali. Lay-up manis dari Rida menjadi angka terakhir. karena nggak lama kemudian pertandingan berakhir. .

“Memang ada apa.. Bapak juga ingin meminta kamu untuk datang besok sore ke GOR Padjadjaran... kan?” Vira menggeleng. Yang ditanya cuman mengangkat bahu tanda nggak tahu. pelatih basket SMA Altavia.. “Kamu tau. jadi Bapak hanya tinggal memoles kamu sedikit. dan pemain cewek SMA 31 lainnya. *** “Itu bukannya bekas pelatih Vira di Altavia?” tanya Niken pada Rei. selain ingin melihat permainanmu. pada dasarnya kamu memang berbakat.. kan?” tebak Vira. “Untuk melihat perkembangan permainan kamu.. Ternyata permainan kamu meningkat pesat ya. Kamu besok tidak ada acara. *** “Bapak nggak mungkin sengaja datang ke sini cuman untuk melihat Vira main. Semua ini juga berkat Bapak yang ngelatih saya dari awal. Bapak ada di sini? Ada apa?” tanya Vira sambil menjabat tangan Pak Andryan.“Bentar yaa. Pak?” tanya Vira.. Mia.” Vira cuman menggaruk-garuk kepalanya sambil nyengir. Bapak tahu kamu sudah main basket sejak SMP. “Ah. Juga Debi. . Da?” tanya Niken pada Rida.” jawab Pak Andryan..” “Jangan merendah. Bapak bisa aja. “Memang.. lalu menghampiri seorang pria berusia setengah baya yang sangat dikenalnya. tanda tidak tahu.. Yang ditanya cuman mengangguk... “Ngapain dia ke sini?” Kali ini Rei menggeleng.” ujar Vira... “Pak Andryan. Lagi pula.

Itu yang nomor 23. Kalian berdua. jam tiga kurang dikit. Rida cuman mengangguk. Tapi.” Vira menoleh ke arah yang ditunjuk Pak Andryan. yang jelas masih ada hubungannya dengan basket. shooting. teman setimnya dulu di Altavia yang sekarang jadi rivalnya. Vira udah ada di depan GOR Padjadjaran. kalo ada Alexa di sini.. Sebuah bola basket menggelinding dan berhenti di dekat Vira. Cewek yang dipanggil Alexa menengadahkan kepalanya.. bermaksud mengambil bola miliknya. jangan telat dan bawa perlengkapan untuk main. ya?” komentar Vira. “Kok sepi. “Maksud Bapak. Bapak tunggu yaa...” *** Keesokan sorenya. Ada yang duduk atau berdiri di pinggir lapangan basket sambil ngobrol. “Alexa?” sapa Vira heran. atau yang lainnya. “Vira?” Vira nggak nyangka bakal ketemu Alexa. kebanyakan cewek. ada juga yang di tengah lapangan sambil latihan. . Bareng Rida tentunya. Nggak laam kemudian cewek pemilik bola basket tersebut mendekat. baik latihan dribel. “Kok kayak mo latihan. Rida?” “Iya.“Nanti kamu juga tau. “Oya. Vir?” tanya Rida.” Rida salah. Dari luar GOR Padjadjaran emang terlihat sepi. suasananya agak ramai. Lebih dari dua puluh orang ada di dalam GOR. “Emang kamu ngarepin apa? Banyak orang?” “Kirain ada pertandingan. sekalian ajak juga temen kamu yang rambutnya diikat ke belakang. tapi saat mereka berdua masuk ke dalam.” Ucapan Pak Andryan itu jelas membuat Vira bertanya-tanya. jangan-jangan ada.

“Kok gue ngerasa kalo ini ulah lo?” ujar Vira sambil melototi Stella. emang lo aja yang boleh ikut seleksi?” jawab Stephanie sambil tertawa. ya?” tanya Stella dengan angkuh. karena dia kan pelatih lo.. Vira menoleh ke arah datangnya suara dari tribun di belakangnya. di sebelah Alexa.” jawab Stella.. “Dia? Maksud lo Pak Andryan?” “Siapa lagi.. “Lo jangan macem-macem.“Lo juga dateng!?” Stella berdiri nggak jauh dari Vira. Tanpa memedulikan Stella...” Suara yang memotong ucapan Stella itu terasa lembut di telinga Vira. “Pasti dia yang nyuruh lo ke sini. lalu memeluk Stephanie yang berdiri di sana. “Oya? Sejak kapan?” “Sejak dia merasa dirinya sebagai pelatih besar dan terlalu banyak bicara daripada melatih.?” “Iya..” “Nggak lagi. Dan kenapa sih lo makin songong aja? Lo boleh nggak suka ama Pak Andryan. “Jadi lo belum tau? Dia nggak cerita ke lo?” “Cerita apa?” “Pak Andryan udah nggak jadi pelatih basket di Altavia lagi..” “Halo. Vira menatap Stella. Viraa. . membuat rivalnya itu balik menatap tajam ke arahnya.” Alexa yang menjelaskan... tapi lo harus hormati dia..” Ucapan Stella itu bikin heran Vira. “Maksud lo?” tanya Vira. Vira naek ke tribun diikuti Rida. “Lo juga ada di sini?” “Iya dong. “Stephanie!” seru Vira.

“Mungkin Adik-adik sudah tahu maksud Adik-adik diundang kemari. Mendengar itu.” Demikian Pak Dibyo menjelaskan.. Namanya Pak Dibyo dan dia mengaku sebagai salah satu pelatih basket tim Jawa Barat. karena kami hanya memilih yang terbaik. karena saat itu terdengar suara peluit berbunyi.. Para calon yang diseleksi dibagi menjadi dua tim yang berhadapan. Bukan hasil pertandingan yang dilihat. apalagi setelah melihat mantan kakak kelasnya itu udah memakai pakaian basket lengkap dengan sepatunya. “Tuh! Kita udah disuruh kumpul! Ntar aja ganti bajunya!” tukas Stephanie sambil menepuk pundak Vira.. “Seleksi? Seleksi apa?” Stephanie nggak perlu menjawab pertanyaan Vira. Seleksi untuk tim basket Jawa Barat? Mereka nggak tahu itu sebelumnya. Rida apalagi. Pak Andryan berdiri di sampingnya. “Nanti kami akan memilih dua belas orang sebagai anggota tim. Vira makin bingung. .” lanjut Pak Dibyo. tetapi kemampuan individu. *** Seleksi yang dilakukan ternyata bermain basket. Karena itu. *** Pria di samping Pak Andryan memperkenalkan diri.Ucapan Stephanie tentu aja membuat Vira makin bingung. Yang meniup peluit itu seorang pria setengah baya. Vira dan Rida berpandangan. Adikadik akan mengikuti seleksi untuk pembentukan tim junior Jawa Barat untuk kejuaraan beberapa bulan lagi. kami harap Adik-adik bisa mengeluarkan kemampuan terbaik Adik-adik dalam seleksi.

siapa tau kamu terpilih masuk tim. *** .“Tapi jangan lupakan kerja sama tim...” lanjutnya menghibur Rida. Siapa sih yang nggak bangga kalo terpilih mewakili daerahnya? Apalagi dengan cara itu. bagus tapi *** “Aku tadi mainnya jelek..” keluh Rida. “Udah deh. Vira cuman tersenyum mendengar ucapan Rida. “Aku kayak gitu lagi. “Tapi nggak papa kok.. Nggak tahu kenapa. ya?” “Seperti biasa. terutama Rida. Beberapa kali dia malah melakukan kesalahan yang mendasar seperti salah mengoper. ya?” tanya Rida pada Vira saat mereka ganti pakaian usai seleksi. Kami lebih memilih pemain yang bisa bekerja sama secara tim daripada pemain yang punya skill individualis..” kata Vira.” jawab Vira sambil mengikat tali sepatunya. “Kamu inget waktu kita lawan SMA 2 di semifinal kejuaraan basket antar-SMA dulu?” Vira balik nanya. Kita tunggu aja hasilnya. maen di turnamen tingkat internasional.” lanjutnya. dan Stephanie.. Rida tadi satu tim bareng Vira di tim biru. Kirain tadinya cuman diundang untuk main atau sekedar latihan. mereka berdua tadi mainnya nggak sebagus biasanya.” Pak Dibyo mengingatkan. Alexa.. kamu optimis aja. kalo kamu nervous.. aku juga sedikit kaget karena nggak nyangka bakal ikut seleksi untuk tim provinsi. siapa tau aku bisa jadi atlet nasional. Apa kamu nggak pengin terpilih juga?” “Ya pengin juga sih.. “Kayaknya aku nggak bakal lolos seleksi... atau tembakannya nggak akurat... “Kamu pengin jadi anggota tim provinsi?” “Tentu aja. Dan itu merupakan salah satu penyebab timnya kalah melawan tim merah yang dimotori Stella...

Dia lalu mengambil HP dari tasnya.” jawab pembantunya pendek.. Cuman itu suara yang didengar Stella melalui HP-nya. Dia nggak tahu alasan HP Mom-nya nggak aktif. Pasti Mom nggak pulang lagi! batinnya.Jam dua belas malam tinggal kurang dikit saat mobil yang dikemudikan Stella memasuki halaman rumahnya. Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Stella hanya menghela napas. seperti beberapa malam sebelumnya. “Belum. dan menghubungi sebuah nomor.. Setelah memarkir mobilnya di garasi.. tapi yang jelas malam ini dirinya akan kembali tidur sendirian di dalam rumah yang mewah ini. dia lalu memasuki rumah besar dan mewah yang udah terlihat sepi dan lengang.. “Mom udah pulang. Stella lalu mematikan HP dan berjalan dengan gontai menuju kamarnya di lantai dua. Bi?” tanya Stella pada pembantunya yang usianya udah hampir setengah abad. Non.. .

.. Padahal biasanya kan. rekor nggak pernah telat Niken udah tercoreng. Niken pantes kesel. ban kempes. Akibatnya mereka berdua telat juga sampe ke sekolah dan harus berhadapan dengan guru piket supaya diizinkan masuk ke kelas.. yang sering telat kalo menjemput Niken.. hi hi hi. soalnya Niken tahu siapa Rei sebenarnya. selalu nggak dateng. saingan dengan satpam sekolah yang bertugas membuka pintu gerbang. bahkan berkalikali. Niken adalah salah satu anak SMA 31 yang selalu dateng paling awal ke sekolah. Itu gara-gara Rei telat menjemput dia. Tapi sekarang.. mulai dari jalanan macet. sampe telat bangun gara-gara ngerjain PR (alasan yang terakhir ini kayaknya bohong deh. Ini udah ketiga kalinya dia telat masuk sejak jadian dengan Rei. “Tau gini kan aku bisa pergi sendiri ato ikut Vira?” sungut Niken saat keluar dari ruang guru piket. nih anak udah ngejogrok di depan pintu gerbang. alasan Rei bisa macem-macem..TIGA PAGI-PAGI Niken udah kesel bin sebel bin mangkel ama Rei. Nggak ding! Jangankan telat. Dan semuanya gara-gara makhluk bernama Rei. Rei cuman diem.. Kalo ditanya. dan ngerjain PR bukan merupakan salah satu hobi cowoknya itu). Bahkan kadang-kadang pintu gerbang sekolah belum dibuka.

dia kan masih penasaran ama kamu.” .” “Ya kamu bilang aja mo ke mana kek. Dia juga nggak sadar Vira lagi menatapnya dari bangku belakang dengan tampang kasihan. *** “Kenapa kamu nggak jujur aja sih bilang ke Niken.” “Sama aja..Alhasil. apalagi bawa-bawa kaos dan celana basket. kamu kan tau Niken sekarang tinggal bareng aku. Abis itu paling udah biasa lagi. kalo dia nggak keburu mati penasaran!” ujar Vira di sela-sela ketawanya... bisa ngamuk dia. “Tapi. Untung Bu Narsih nggak ngomong apa-apa setelah Niken menunjukkan surat izin masuk dari guru piket. Nah kalo sampe dia tau aku sering pulang pagi. “Gara-gara Rei lagi?” tanya Amalia yang duduk di sebelah Niken. Apalagi Elmo....” “Bedalah.. “Rei. jadi dia bisa langsung duduk.. Vira tertawa. kenapa sih kamu nggak pernah ikut lagi?” tanya Rei.. Mendengar ucapan Rei. Niken paling marah sampe jam istirahat... Niken baru masuk kelas sekitar dua puluh menit dari saat Bu Narsih memulai pelajaran biologinya. kamu kan cuman temennya.. Niken bisa bilang ke Kak Aji.. “Oya.” jawab Rei. “Bilang Elmo tunggu aja.” Mendadak Rei ganti topik... Bakal lama marahnya.. “Nggak mungkin lah. alasan kamu sering telat bangun?” tanya Vira pada Rei saat ketemu di jam istirahat. apa aku juga berani? Apalagi kita tau sifat dia. anak-anak nanyain kamu tuh! Kamu udah lama nggak nongol.. Kalo aku telat sih. Dia pasti nggak begitu marah ke kamu.. Niken nggak menjawab...” sahut Rei. apalagi garagara ikut streetball... “Bukannya sekarang juga Niken udah marah ke kamu karena kamu sering telat jemput die?” “Beda..” “Kalo kamu nggak berani bilang ke Niken. bisa-bisa Niken marah ke aku. Pasti dia bakal curiga liat aku pergi malem-malem. malah langsung mengambil buku dari tasnya..

. “Mo ke mana?” tanya Rei. “Berarti bakal ada acara makan-makan nih.” Vira cuman nyengir. “Ke kelas Rida. Ada berita penting buat dia. Niken emang nggak pulang bareng Rei. Katanya sih mo bantuin betulin motor. Vira udah menduga. kamu juga pasti lolos. “Iya. “Dari tadi pagi nggak liat tuh. *** “Kamu tau nggak. kali. mastiin soal ini. saat pulang sekolah... Rida ternyata ada di kelasnya. Nggak masuk.” tegas Vira.” “Makan-makan sih gampang. Vir?” tanya Rida.Vira lalu hendak meneruskan langkahnya. dia girang banget mendengar kabar baik yang dibawa Vira. karena gitu-gitu Rei sedikit tahu soal mesin motor. kamu liat Rida nggak?” Rei menggelengkan kepala. tapi karena Rei mo ke rumah temennya.” “Dia lolos seleksi untuk tim provinsi. kan?” tebak Rei. yang penting. dan aku yakin. Dan bisa ditebak. “Masa sih?” *** Ucapan Rei emang seratus persen ngawur. cepat atau lambat Niken bakal nanya soal Rei. Ngapain aku boong? Pak Andryan yang nelpon sendiri ke aku.... “Kamu tau dari mana?” “Nebak aja. bukan karena masih kesel (walau sebetulnya emang masih kesel sih). Aku lewat depan kelasnya juga nggak keliatan.” ujar Rei. “Bener.. kenapa Rei suka banget telat akhir-akhir ini?” tanya Niken di dalam mobil.. ...

tentu aja bohong. Tapi mo gimana lagi? Aku udah berusaha bangun pagi.. “Kenapa sih? Mo ngejar setoran? Dulu juga kamu cuman maen malam Minggu aja.” “Yaaa. Dan Rei juga udah kecapekan. Kan kamu suka ngobrol ama dia pas latihan basket.....” kata Rei saat meminta supaya Vira nggak cerita ke Niken. Apalagi kamu akhir-akhir ini lebih sering telat jemput dia.” “Bukan masalah maennya. Mungkin karena sekarang lebih menantang. jawaban Rei pasti macem-macem.. “Kalo aku yang nanya.. kali ya? Lagi pula aku punya rencana tersendiri.. Aku biasanya maen tiga sampe empat kali. Aku sih sebetulnya juga nggak mau telat. tapi tetep aja nggak bisa.. tapi kali ini beda. Tiga juga jarang banget. Pantes aja kalo dia selalu telat bangun.. tapi sekarang hampir tiap hari. sampe kecapekan gitu? Perasaan dulu-dulu nggak pernah deh. Tapi sekarang.” Rei celingak-celinguk.” “Tapi Rei nggak pernah cerita soal dia selalu telat. apa pun yang terjadi.” Vira pura-pura balik nanya.” jawab Vira. Tapi yang jelas. Tapi dia udah berjanji untuk nggak membocorkan kegiatan Rei yang sebenarnya. Rei? Cepat atau lambat Niken pasti bakal curiga. Mungkin aja kamu tau. nanti juga aku yang akan ngomong langsung ke Niken. kali. Seingat dia. aku tau dia nyembunyiin alasan yang sebenarnya. “Hmmm. “Tunggu deh. “Yang bener. Kecapekan.” “Sampe empat kali?” Vira cuman geleng-geleng. Boleh dibilang untuk Niken.” “Emang kamu maen berapa kali sih. Dalam hati Vira sebetulnya kasihan juga melihat ekspresi Niken.” “Oya? Kejutan apa?” “Hmmm. “Tapi sampe kapan.. . Rei bisa maen tiga bahkan empat kali semalam. sebelum mendekati Vira dan membisikkan sesuatu di telinga cewek itu.” tanya Vira. cuman kalo lagi rame.. atau dia pernah cerita ke kamu. Rei?” tanya Vira nggak percaya.“Kok kamu malah nanya aku sih? Kamu kan pacarnya. Itu juga badan Vira udah terasa remuk. dulu dia ama Rei paling cuman maen dua atau tiga kali setiap ikut streetball. Duitnya lebih gede.

Untung Niken nggak bertanya apa-apa lagi..“Bener. . Maafin gue ya... Masa sih aku boong soal ini?” “Vir. aku nggak bengong kok. aku cuman lagi konsentrasi nyetir ke depan. nggak..” Suara Niken membuyarkan lamunan Vira. “Kok malah bengong sih? Awas. ntar nabrak loh!” Niken memperingatkan Vira...... “Eh. lagi-lagi bohong.” “Masa” “Iya..” tukas Vira. gue cuman juga bingung harus berpihak ke siapa! batin Vira...

Alexa.” Pak Isman memulai “pidato” pembukaannya.. Adik-adik semua terpilih untuk mewakili Jawa Barat pada kejuaraan basket tingkat nasional nanti. Vira juga melihat wajah-wajah yang dikenalnya waktu turnamen antar-SMA kemaren yang tentu aja merupakan pemain andalan sekolah mereka masing-masing. Di hadapan wajah-wajah muda ini sekarang berdiri seorahg pelatih yang udah dikenal sebagian dari mereka. Stella.. pelatih yang kemarin sukses membawa tim senior putri Jawa Barat lolos ke putaran vinal kejurnas yang akan diselenggarakan sebulan lagi di Jakarta. dan harus punya tekad . Karena itu... Pak Isman juga akan menangani tim junior..EMPAT Minggu pagi. dan Stephanie. Dan suatu kejutan. Kayak pejabat aja pake pidato-pidatoan segala. hingga seleksi akhir dua hari yang lalu. karena selain menangani tim senior.. saya harap Adik-adik mampu menjaga penampilan Adik-adik. MEREKA yang terpilih sebagai anggota tim basket junior Jawa Barat udah berkumpul di GOR Padjadjaran. Dia adalah Isman Sujana. untuk latihan pertama.. Tapi ada juga wajahwajah yang baru dilihatnya sekarang. mau berlatih keras. termasuk Vira. “Adik-adik tentu sudah tahu. Di antara cewek-cewek yang terpilih itu terdapat Vira. Rida. Kami menilai berdasarkan penampilan Adik-adik di berbagai turnamen yang Adik-adik telah ikuti. “Adik-adik terpilih setelah melewati seleksi yang ketat. Sepertinya mereka bukan berasal dari Bandung.

. kita latihan dari pagi. Apa Adik-adik semua mau melakukan hal itu!!??” Semua diam. Dia sekadar membantu menyeleksi pemain untuk tim ini.... . “Pak Andryan nggak ikut ngelatih?” tanya Rida ke Vira.. “Kami akui. sebagian besar Adik-adik di sini masih bersekolah. kemaren lo maennya jelek banget. Ternyata kali ini gebrakannya itu manjur. “Hei! Lo mau cari gara-gara lagi!?” Vira yang maju membela Rida. agak terlambat untuk membentuk tim ini.. Anehnya. “Dia ngelatih di sini? Jangan mimpi! Emang dia kira dia siapa. Tapi sudah tidak ada waktu. kali ini dengan suara keras. Kita akan latihan setiap sore. Pak Andryan nggak kelihatan dari tadi. “Pak Andryan nggak masuk dalam tim karena ada kerjaan di tim lain.. Tapi kok bisa kepilih ya? Apa lo kenal ama pelatihnya? Atau lo nyogok?” ujar Stella sinis. “Seingat gue. “ADIK-ADIK MAU MELAKUKAN YANG TERBAIK UNTUK JAWA BARAT!!??” Pak Isman mengulangi ucapannya. Tapi kami juga tahu. Stella nggak menanggapi ucapan Vira. Cewek-cewek muda di hadapannya menyahuti dengan penuh semangat dan hampir serentak. Untuk yang berasal dari luar Bandung.. “Gue nggak ngomong ama lo!” bales Vira.” “Pidato pembukaan” dari Pak Isman disusul dengan perkenalan seluruh anggota tim dan tim pelatih yang ada. Dia malah menatap Rida. Anehnya. kami sedang mengusahakan untuk memindahkan sekolah kalian untuk sementara ke sini. nggak ada yang menyahuti ucapan Pak Isman. Jadi kami minta yang terbaik dari Adik-adik semua. Jadi kami akan memberikan toleransi untuk yang bersekolah. Kalian juga akan kami carikan tempat tinggal dengan tanggungan kami.” sahut Vira. KAMI BERSEDIA!!!” Kayak anak TK aja.. kecuali pada hari Minggu atau libur. bisa ngelatih tim provinsi?” tiba-tiba Stella yang kebetulan ada di dekat situ dan mendengar pembicaraan Vira dengan Rida ikut nyeletuk.untuk berbuat yang terbaik bagi Jawa Barat. “YA.

Mereka nggak tau soal ucapan Stella sebelumnya. tapi aku punya impian untuk masuk tim ini. “Sakit hati sih. Rida menahan tangannya.” Dalam hati. Dan lo juga. Yang ditanya cuman mendengus. makanya dia manfaatin itu.” ujar vira.. Kamu bisa dihukum..” “Lo emang ember. Gue kasian aja ama lo.” Vira maju hendak menampar Stella. “Maksud kamu?” “Kalo kamu nampar dia. Vir. akan timbul keributan. Pak Dibyo. tapi jangan harap bisa ngegeser gue untuk jadi starter. Vira menoleh ke arah Rida.“Mungkin lo bisa masuk dalam tim. “Karena itu yang dia mau.. bisa-bisa lo jadi cadangan abadi juga. Dan orang-orang di sini akan jadi saksi kamu yang pertama nampar. Dan sebetulnya itu yang diinginkan Stella. “Tapi apa kamu nggak sakit hati dengan ucapan Stella tadi?” tanya Vira. Tumben kamu pinter.. “Lo mau dikeluarin dari tim?” tanya Stephanie dengan nada ketus pada Stella. Kalo lo masih maen ama anak kampung ini.. Apalagi kata-kata Stella tadi juga ada benernya. “Jangan. tapi secara nggak terduga. Sampe sekarang aku juga heran kenapa bisa lolos. “Kamu kenapa sih nggak biarin aku nampar dia?” tanya Vira masih dengan nada kesal.” cegah Rida lirih. atau bahkan dikeluarin dari tim. Dia tau kalo kamu pasti ngebela aku.. lalu pergi dari situ.” “Kamu kenal ama Pak Isman. Rida cuman tersenyum.” jawab Rida. dan melihat tatapan mata Rida yang seperti memohon. Vir! Mulai dari sekarang gue peringatin lo. atau ofisial lainnya?” tanya Vira. “Kamu bener. Vira mengakui kebenaran ucapan Rida. .. Untun gaja. Jadi aku nggak mau hal-hal sekecil tadi ngerusak impianku.. Stella buru-buru ditarik Stephanie yang juga melihat situasi yang mulai panas.

yang tersembunyi. duit dari mana?” Vira menepuk pundak Rida. “Kalo begitu. dan akhirnya ditutup dengan sebuah mini game sesama pemain. Yang rambutnya diikat dan yang memakai kaus biru.“Nggak. Mungkin kamu nggak sadar. “Anda yakin dengan kemampuan mereka?” tanya Pak Dibyo saat melihat permainan anak-anak asuhannya.” Pak Dibyo melihat ke arah yang ditunjuk Pak Isman. “Tidak ada jalan lain. Percaya deh!” tukas Vira. “Bermusuhan? Maksudnya?” “Mereka tadinya satu tim di sekolah. Persis seperti yang dibilang Pak Andryan. Bapak tidak melihat turnamen antar-SMA beberapa bulan yang lalu. Terutama yang dua itu.” *** Latihan pertama hari itu adalah latihan fisik. bahkan sudah mendekati para senior. kamu pasti bisa. Mereka berdua punya teknik di atas yang lainnya. Karena itu buktiin dong kamu bisa masuk starter.. tapi yang jelas. mereka-mereka itu lebih bisa melihat kemampuan kamu yang sebenarnya. “Kamu emang paling bisa kalo ngasih semangat.” “Kamu nyogok supaya masuk tim?” “Jangan bercanda. Dan sekarang mereka bersaing untuk sekolah masing-masing.” . Kalo kamu maennya seperti di turnamen dulu. Vira pindah sekolah. disusul sedikit latihan teknik. ditambah ada sedikit masalah pribadi antara mereka berdua. “Vira dan Stella.” “Tapi mereka masih muda dan belum berpengalaman. Tapi karena satu hal. Sayang. Apa Pak Andryan juga bilang mereka berdua bermusuhan?” tanya Pak Dibyo.. kamu masuk tim ini karena kemampuan kamu.” “Walau begitu mereka punya teknik dan bakat yang bagus. Hanya mereka harapan kita satu-satunya.

” “Tapi kamu juga dapet peringatan.. *** “Aku tadi kelihatan mulai emosi. Rida yang melihat adegan tersebut jadi deg-degan. emang sih tadi agak kelepasan. Biar Stella tau aja. Kamu tenang aja. hee. Vira dan Stella merupakan duet yang hebat. Jadi sampai sekarang mereka masih bermusuhan?” “Benar. Kalo dibiarin.. Kalo Stella mungkin.” “Hee. Karena itu untuk latihan saya tidak pernah memasukkan keduanya dalam satu tim.... *** “Lo kalo maen bisa nggak sih kalo nggak kasar?” seru Vira ke Stella setelah untuk kesekian kalinya bertabrakan (atau sengaja ditabrak) dengan cewek itu. dia jadi diem. “Sori. Kita juga tidak bisa mencoret salah satu. lalu meninggalkan Vira. dia bakal ngelunjak. karena kita membutuhkan kedua-duanya. Lagi pula menurut Pak Andryan.. Buktinya kan setelah aku bales maen agak kasar. . “Dasar cumi! Lo kira gue nggak bisa kayak lo!?” Vira bangun lalu mengejar Stella yang lagi memegang bola.... takut emosi Vira mulai “terpancing”.... tapi tadi sebetulnya aku emang sengaja kok ngelakuin itu..” jawab Rida..” “Begitu ya?” Pak Isman manggut-manggut mendengar penjelasan Pak Dibyo. “Kenapa? Lo udah mulai lembek?” Stella malah balas mengejek.. ya?” tanya Vira pada Rida seusai latihan.“Saat itu saya berada di luar kota. tapi untungnya sih masih bisa aku kontrol. kalau saja mau bekerja sama dan melupakan permusuhan mereka.. aku nggak bakal kok berbuat hal-hal yang konyol.” Tiba-tiba Vira meringis sambil memegang betisnya.. heee. “Agak sih.

. tapi nggak terlalu mengganggu. “Dikit... Vira nggak langsung pulang.” Tapi nggak sampe semenit. Ntar kalo ada apa-apa. Ada yang mau dibelinya.. Dalam hati Vira menyesali kebodohannya. Vira yang baru sowan ke tempatnya Kolonel Sanders (alias KFC) cuman bisa bengong. Dia nggak mau dapet “ceramah” lagi gara-gara pulang kemaleman.. itu yang dirasakan Vira sekarang. “Kamu udah periksain betis kamu ke dokter?” tanya Rida lagi.” “Ya ampun.. Tahu nggak dapet tempat kan mending dia makan di restoran atau kafe. Tapi ternyata foodcourt penuh banget. Vira. saat ini Vira malah pengin makan di foodcourt. Kenapa dia tadi nggak nyari meja dulu baru mesen. Capek dan laper. “Udah.” “Kapan?” “Abis turnamen dulu. Karena itu dia mampir dulu ke mal. bukan kafe atau sejenisnya.” katanya.. dia langsung menuju tempat makan. Emang kadang-kadang kambuh. Karena itu setelah mendapat apa yang dicarinya.” “Udah.” “Itu kan udah lama..” tandas Vira sambil membuka pintu mobilnya. Maklum aja. “Udah nggak papa kok. *** Setelah nganterin Rida. Nggak ada meja yang tersisa. .” “Tapi.. pas jam makan malam. Sambil menenteng-nenteng baki berisi makanan. ini cedera lama kok. Biasa-biasa aja. Vira udah berjalan normal lagi. nggak usah dipikirin.” Vira cuman tersenyum. Nggak usah yang mahalmahal. Kalo sekarang?” “Belum. “Tenang aja deh.. dan berkeliling mencari meja yang kosong. Tentu aja sebelumnya Vira ngasih tau Niken lewat telepon.“Kambuh lagi?” tanya Rida sedikit cemas.

Satu-satunya jalan paling gabung dengan orang lain dalam satu meja. asal masih ada kursi yang kosong.. Tangannya juga udah pegel nenteng-nenteng baki yang lumayan berat (karena pesanan Vira emang banyak. Dan pandangan Vira langsung tertuju ke sebuah meja dengan empat kursi..” tegur Vira seramah mungkin. . Dia seolah-olah baru melihat hantu. Laper berat dia!). Kalo nanti cewek itu bisa diajak ngobrol ya tinggal ngobrol. dan.. boleh ikut duduk nggak? Soalnya meja yang lain udah penuh. tapi hanya ditempati oleh seorang cewek berambut pendek yang duduk membelakanginya. ya paling diemdieman aja kayak di angkot! “Permisi.Setelah hampir lima menit berkeliling di area foodcourt. Itung-itung nambah temen.. jadi Vira nggak begitu merasa kagok. Biarin deh gue semeja kalo emang dibolehin ama dia! batin Vira. Tapi kalo ternyata si cewek termasuk penganut aliran “diam itu emas”. Lagian cewek itu kelihatannya cuman sendiri. Harapan untuk mendapat meja yang kosong udah nggak ada. Hal yang sama juga terjadi pada si cewek. Wajah yang pernah dikenalnya. “Hah? Elo?” Raut wajah Vira berubah begitu melihat wajah si cewek. Cewek yang lagi asyikmakan mi hotplate itu menoleh ke arah Vira. Vira akhirnya nyerah juga.

“Tumben. “Kamu tumben ke sini?” Vira malah balik nanya. dan ini Stella. nggak ada apa-apa.” “Heh. Dia dan Amel emang beda kelas. sesuai jam pelajaran. “Nggak. Lagi males keluar kelas aja. Seorang cewek berambut pendek mendatangi mereka. kamu nggak keluar kelas.. gue Vira. Kata Amalia..” jawab Vira ngasal. “Gue Hera. Ada apa sih?” tanya Amel lagi. “Kalo gitu sama dong. nggak keluar pas istirahat. dari kelas 1-A.” ujar cewek yang berambut pendek itu sambil mengulurkan tangan yang disambut oleh cewek berambut agak ikal yang tadi menjawabnya. Kami berdua dari kelas 1-D. Kenalin..LIMA “BOLEH ikut gabung. bengong aja!” Suara cempreng Amel mengagetkan Vira yang lagi bengong di bangkunya. Lagi tapa?” tanya Amel.” jawab cewek yang berambut agak ikal. Sedang temennya yang lebih tinggi serta berwajah setengah bule cuman diam sambil memandang orang yang baru dateng dan mengganggu keasyikan bermain mereka.. . nggak?” Suara itu menghentikan dua cewek yang lagi asyik bermain basket di lapangan sekolah. “Ikut ekskul basket juga?” tanya cewek berambut pendek tersebut. “Iya. “Abis nggak liat kamu di kantin.

*** Pandangan Vira tertuju ke arah pintu kelas. “Nggak jadi rapat.” Vira cuman senyum-senyum mendengar jawaban Niken.... Tapi emang salah Niken juga sih. pengin tau aja. eh... busway. Pasti itu ulah salah satu pengurus OSIS yang nggak pengin ada rapat. Lagi males keluar aja.. “Kok udah beres?” tanya Vira yang tahu kalo jam istirahat ini Niken mo ngadain rapat OSIS.” tukas Vira.” Amel duduk di sebelah Vira.. takut Vira tersinggung lagi.. Dari sana Niken masuk sambil membawa seabrek map dan kertas-kertas lainnya.. yaitu tentang rencana pemilihan ketua OSIS baru. “By the way. tapi itu udah cukup untuk Amel.. Ya jelas aja banyak yang nggak setuju. “Ya nggak sih. ya? Gimana dia?” tanya Amel lagi. nggak ada apa-apa. “Beres dari Hongkong!?” jawab Niken ketus.” sahut Amel lirih. Waktu ada masalah dengan papa kamu.. Udah otak pusing dijejelin materi pelajaran di kelas.. “Emang penting kamu nanya soal itu?” Vira balik nanya dengan nada rada ketus. “Dia nggak berubah. “Ya udah kalo gitu.. Nggak tau kuncinya dipegang siapa.” jawab Vira pendek.” Vira menatap Amel. ngadain rapat OSIS pas jam istirahat. any way. Emang kenapa sih?” “Nggak. Bikin Amel jadi sedikit mengkeret. pas istirahat harus ikut rapat yang kadang-kadang juga bikin pusing. .. “Kali ini beda. Percaya deh..“Bener?” “Iya. Cuman Amel liat kamu terakhir kayak gini waktu kita masih di Altavia.” “Kenapa?” “Ruang OSIS-nya dikunci. Padahal kata Niken rapat kali ini cukup penting. kamu kabarnya satu tim ama Stella..

ditanggung deh pasti bakal banyak yang ikutan. Stella. Alexa. Hi. Coba deh kalo rapatnya diselingi ama acara makan-makan gratis plus doorprize. Tubuhnya tinggi. bahkan kayaknya itu merupakan spesialisasinya.. Pertama kali kenal. Orangnya sedikit pendiam dan nggak banyak bicara. Sita juga tipe temen yang baik. terpaksa ketiga orang itu pindah sementara ke Bandung (karena nggak mungkin harus tiap hari bolak-balik dari dan ke kota asal mereka. Masing-masing dari Tasikmalaya. atau Stephanie. Rida..” Begitu alasan Niken. Kalo soal rapat OSIS pasti banyak yang nggak berminat.“Abis kalo rapatnya setelah bubaran sekolah.. cuman Sita lebih kurus. *** Selain yang berasal dari Bandung. hi. Emang serbasalah sih. Selain berat di ongkos. Vira sendiri secara nggak sengaja bisa kenal lebih deket dengan Sita di hari pertama latihan karena satu tim saat mini game. hi. Purwakarta. dari dua belas orang anggota tim basket junior cewek Jawa Barat kali ini. yang skill-nya nggak kalah dari pemain-pemain dari kota besar. Mereka akhirnya mencari tempat tinggal sementara di Bandung. Selain maennya bagus dan bisa diajak kerja sama. tiga di antaranya berasal dari kota lain di Jawa Barat. Salah seorang dari mereka bernama Sita.. Mungkin karena dia belum kenal semua orang di sini. nama lengkapnya Sita Setyasari. Vira . sementara untuk sekolah (karena kebetulan ketiganya masih SMA) dititipkan di salah satu SMA Negeri yang ditunjuk oleh Pengda PERBASI Jawa Barat. dan Bogor. malah banyak yang kabur. kecuali mungkin Vira. Vira udah suka ama Sita. hampir sama dengan Vira.. Sita juga jago tembakan tiga angka.. berasal dari salah satu SMA swasta di Tasik. Tapi nggak tahu kenapa. yang bukan pengurus OSIS sekalipun. Apalagi tubuh Sita emang menunjang banget untuk jadi pemain basket. kota kecil seperti Tasik punya seorang pemain basket yang berbakat. Dan nggak disangka. Sebetulnya hampir semua anggota tim juga belum pada saling kenal sih. juga ngabisin waktu dan tenaga). Dan karena berasal dari luar kota padahal latihan dilakukan setiap hari.

Vira jadi ingat Lisa. kalo bangunnya nggak kesiangan. point guard dari SMA 2 Bandung yang juga anak seorang perwira tinggi kepolisian. ntar Papa tidur di mana?” tanya Vira. Boleh dibilang. Bahkan saat tahu Sita lagi cari tempat kos selama tinggal di Bandung (sementara ini katanya dia numpang di rumah temen bapaknya sampe dapet tempat kos yang murah tapi layak). Atau Vira ngejemput Sita saat pulang. selain Alexa. Ke mana-mana selalu ngikutin. yang biasanya dipake kalo papa-mama Vira ke Bandung.. tempat yang jarang-jarang dia datengin. bikin Vira ngikik.. Mama Vira juga nggak keberatan kalo kamarnya dipake sementara untuk Sita.lebih deket aja ke Sita sebagai temen barunya dibanding yang lain. Paling nggak buat menghadapi Stella yang kayaknya juga mulai menyebarkan pengaruh ke anggota tim lainnya. “Kalo Mama ama Papa nanti ke Bandung kan bisa nginep di hotel.. Ada-ada aja! Kebetulan sekolah tempat Sita belajar selama tinggal di Bandung satu jurusan dengan angkot yang lewat di depan kompleks rumah Vira.” jawab mamanya. yang juga jadi “buntut” Stella. Sebab yang dia tahu.” kata mama Vira lewat telepon saat dikasih tahu Vira. Kadang-kadang Vira juga nganterin ke sekolah. Hehe. “Kan masih ada sofa di ruang tamu. “Gratis kok. Vira langsung nawarin Sita untuk tinggal di rumahnya. sekalian ngajak jalan-jalan sebelum latihan.” kata Vira. kayak buntut aja. Lisa juga pasti selalu ngejogrok di . Sita mau. dan Niken juga nggak keberatan.. Lisa itu soulmate-nya Stella. Stella selalu datang ke GOR sendirian. “Lho. Salah satunya Monika.. pasti dia ikut walau dia sama sekali nggak punya urusan di situ. Itung-itung buat bikin rumah tambah rame. Ke mana pun Stella pergi. Udah lama dia nggak melihat Lisa. Dekat dengan Sita membuat Vira jadi punya tambahan pendukung di tim. Jadi Sita cukup satu kali naek angkot untuk pulang-pergi ke sekolah. Aneh! batin Vira... Dulu saat Vira dan Stella latihan basket di Altavia.. jadi Sita bisa lebih mengenal Bandung. Monika jadi “pengikut setia” Stella. Melihat Monika. Kebetulan di rumah Vira emang masih ada satu kamar kosong. atau Mama tidur bareng kamu.

tim yang kalah mendapat hukuman. bikin yang lain nunggu. dan walau Vira nggak yakin. tapi mungkin aja Lisa udah insaf. mereka harus bekerja sama untuk bisa memenangi permainan. Dan kali ini Pak Isman mengubah susunan pemain setiap tim. Padahal dari materi tim. Vira juga berpikiran positif aja. ada juga Stephanie yang kemampuan tekniknya di atas rata-rata . sebetulnya tim merah lebih unggul. agar setiap pemain terbiasa bermain dengan rekan tim lainnya. “Jangan harap gue mau oper bola ke lo. ya? Vira membantah pikirannya sendiri. Mereka berdua jadi satu tim! Mau nggak mau. nggak hura-hura lagi serta lebih serius untuk belajar. atau ikut bimbel. Lumayan capek juga. Misalnya belajar. Tapi kok kayaknya nggak mungkin. Stephanie yang juga satu tim dan kebetulan mendengar ucapan mereka berdua cuman bisa geleng-geleng kepala. Selain Stella dan Vira. Siapa tahu Lisa punya urusan lain yang lebih penting dari sekadar jadi buntut orang ke mana-mana..” Belum apa-apa Stella udah ngeluarin ancaman ke Vira. yaitu mendribel bola keliling lapangan sebanyak sepuluh kali. “Lo kira gue sudi nerima bola dari lo?” bales Vira. Soalnya dalam mini game ini. Beda dengan Amel dan almarhumah Diana yang datengnya lebih sering kalo latihan udah mo selesai. Stephanie benar. Tapi udahlah. Tim Merah yang diperkuat Vira dan Stella emang bener-bener kacau-balau. Apa yang ditakutkan Vira (dan mungkin juga Stella) akhirnya datang juga. Apalagi dia kan udah kelas 3. Bakal kacau nih! batin Stephanie.. buat apa juga dia mikirin urusan orang lain? *** Sore ini sesi latihan kembali ditutup dengan mini game. atau malah ngaret. Selain karena udah males berurusan dengan segala sesuatu yang berbau Stella. Tapi Vira nggak terlalu mikirin soal nggak adanya Lisa sekarang.pinggir lapangan dari awal latihan sampe selesai. Tujuannya jelas.

Jika kalian berdua ingin tetap dalam tim ini. tapi tadinya Bapak yakin perselisihan kalian itu tidak memengaruhi tim ini.” jawab Vira. tapi nggak separah lawannya. seusai latihan. Tapi di lapangan. Apalagi pada Vira dan Stella. Kalian masih mau masuk dalam tim ini. . “Bapak sebetulnya sudah mendengar tentang perselisihan kalian. Dan bagi Bapak. disusul Stella beberapa menit kemudian. Tapi harapan Bapak salah. Basket itu permainan tim. Nggak heran kalo tim putih yang diperkuat Rida. dan Sita bisa menguasai permainan. Karena itu Bapak sengaja memasang kalian dalam satu tim. tunjukkan kemampuan terbaik kalian. walau sebetulnya kerja sama antarmereka belum juga begitu baik. Pak. “Walau kalian berdua punya teknik yang termasuk paling bagus di antara yang lain. Permainan tim merah agak membaik begitu Vira ditarik keluar. kan?” tanya Pak Isman. semua itu nggak terlihat. Vira dan Stella dipanggil oleh Pak Isman.yang lain. tim merah ini merupakan “bayangan” tim inti nanti. keunggulan tim putih tetap bertahan. “Mau. dengan harapan kalian mengeluarkan kemampuan terbaik kalian. bukan yang tekniknya paling bagus. Alexa.” Vira dan Stella cuman bisa diam mendengar ucapan Pak Isman. “Kamu Stella?” Stella cuman mengangguk. Sampai peluit panjang dibunyikan Pak Isman tanda selesainya pertandingan. seperti yang pernah Bapak dengar dari Pak Andryan tentang kalian. percuma saja jika kalian tidak bisa bekerja sama. Dan hukuman harus diterima anggota tim merah. Kalian mengerti kan maksud Bapak?” Vira mengangguk pelan. Bahkan boleh dibilang. Akibat buruknya permainan mereka. yang terpenting adalah mereka yang bisa bekerja sama dalam tim. sedang Stella cuman diam. Tapi udah terlambat. “Bapak tidak ingin tahu apa masalah kalian dan bagaimana menyelesaikannya. Yang ada adalah tim yang kacau dan sama sekali nggak ada kerja sama antarpemain. bukan individu.

menoleh ke arah Stella.. Cewek itu lalu melirik jam yang tergantung di depan tempat tidurnya. Lima hari lagi kita akan beruji coba dengan salah satu tim mahasiswa. Untung pembantunya belum tidur. seorang wanita berusia empat puluh tahunan. Mereka harus naik tangga menuju . Jam dua pagi! Walau udah tahu penyebab suara berisik itu. “Mom!” Stella mendekati mamanya yang ternyata udah tertidur lelap di sofa. *** Suara berisik di luar membangunkan Stella yang udah tertidur lelap. Dan Stella tahu siapa.“Kalau begitu buktikan bahwa kalian pantas berada di tim ini. “Mom! Are you drunk again?” Yang ditanya. Berdua mereka memapah tubuh mama Stella menuju kamar. Dan Bapak harap saat itu kalian bisa membuktikan bahwa kalian pantas berada dalam tim ini.” perintah Stella. Mengerti?” Vira dan Stella mengangguk hampir berbarengan. walau juga nggak langsung dateng begitu dipanggil. Tanpa menunggu jawaban Stella. wanita yang ternyata adalah mamanya itu langsung merebahkan diri di sofa panjang yang ada di ruang tengah. Terlihat lampu di ruang tengah dinyalakan seseorang.” Stella segera memanggil pembantunya. Suasana di luar kamarnya sangat sepi. Stella menuruni tangga menuju ruang tengah rumahnya. “Bantu angkat Mom ke kamar. kamu belum tidur?” wanita itu malah balik bertanya. “Stella. Bau alkohol yang kuat tercium dari mulut wanita itu. Stella tetap bangun dan keluar dari kamarnya. Keadaan terlihat remang-remang karena cuman beberapa lampu di sudut-sudut ruangan yang dinyalakan. “Mom.. Cukup susah walaupun tubuh mamanya nggak begitu gede.

Di kamarnya. sebelum akhirnya keluar dari kamar dan kembali ke kamarnya. C’mon. Beberapa saat lamanya dia menatap wajah mamanya. Tapi ternyata nggak tersambung. Dad! Where are you? tanya Stella dalam hati. . Stella mengambil HP-nya dan menelepon seseorang. Beberapa kali mencoba. Telepon yang dihubungi lagi sibuk. Setelah hampir setengah jam dan dengan keringat yang membasahi tubuh masing-masing. hasilnya sama aja. Stella segera melepaskan sepatu mamanya.kamar yang berada di lantai dua. akhirnya mama Stella sukses juga dibaringkan ke tempat tidurnya.

“Niken?” tanya Vira.... “Rei. Hari ini adalah hari libur walau bukan hari Minggu. . Di kamar. atau bahkan sering ketiduran di kursi kalo lagi ngantuk. Di sini aja.). jadi latihan dilakukan pagi sampe siang. tapi dia nggak masuk. “Ada di dalem. biasanya Rei selalu masuk ke dalam kalo ke rumah Vira. kali. nggak.. Tinggal Vira yang sering bingung kalo camilan yang dia taruh di kulkas maupun yang ada di meja makan sering hilang tanpa bekas.ENAM VIRA baru aja pulang dari latihan ketika melihat Rei lagi duduk di teras rumahnya.. Itung-itung ikut memberantas kelaparan di negeri ini (ceilee. bahkan udah menganggap rumah Vira sebagai rumahnya sendiri. Vira melongok ke dalem rumahnya. “Eh. Kayaknya sih lagi SMS-an. lebay amat yaa. tanpa ragu-ragu Rei suka duduk sendiri di ruang tengah tanpa perlu dipersilakan..” jawab Rei yang lagi asyik ngutak-ngutik HP-nya. Tapi untungnya Vira nggak pernah marah kalo ada makanannya yang hilang.” jawab Rei. Heran juga. tumben di luar? Nggak masuk?” sapa Vira... Maksudnya. Baginya itu udah takdir. suka ngambil minuman sendiri di kulkas (bahkan kadang-kadang ikutan ngambil makanan).

” “Tapi kan kalian tetep latihan?” “Iya. Sebelumnya dia celingukan dulu ke dalam rumahnya.” “Tapi kapan? Daripada kalian berantem mulu?” “Tenang aja.” *** Setengah jam berlalu.. baru jadian bentar. “Kenapa sih kamu nggak bilang aja?” kata Vira lirih. pasti deh aku cerita. Dia emang udah kenal Sita. Bahkan usaha Vira untuk membujuknya keluar kamar nggak berhasil. Niken yang mulai terus... Apalagi mereka berdua sama-sama pemain basket. belum saatnya. “Jangan. “Ngapain juga Rei masih di sini? Aku kan udah nyuruh dia pulang!” bentak Niken saat Vira berusaha membujuknya dari luar pintu kamar. Kakaknya hari ini married. “Hah? Apaan?” “Perang dingin lagi?” Rei cuman menggaruk-garuk kepalanya. tapi Sita udah minta izin buat absen selama dua hari. Rei?” tanya Vira. “Kalian itu. kan aku udah bilang.” Vira diam sebentar mendengar ucapan Rei sambil mengambil minum dari dalam tas sport-nya.. karena pernah suatu saat ke rumah Vira. takut kedengeran Niken. tapi Niken belum juga keluar dari kamarnya. “Dia lagi ke Tasik. Risiko tanggung sendiri. soal yang kemaren-kemaren. jadi kalo ngobrol cepet nyambungnya.” Vira duduk di kursi yang ada di samping Rei. “Ada apa lagi. pas Sita yang bukain pintu. tapi bukan sekarang.” “Terserah deh... memastikan keadaan aman... .” “Kali ini masalahnya apa?” “Biasalah..“Kamu cuman sendiri? Sita mana?” Rei balik nanya. tapi demen amat perang dingin.” “Bukan aku..

tapi orang lain.” “Berapa banyak?” “Berapa ya? Mungkin bisa sampe tiga kali lipat dari yang dulu.. “Ada apa. Rida juga nggak dateng... Ntar aku bantuin bujuk dia deh.. Untung aja kedatangan Rida nggak begitu memengaruhi tim. Dan walau tim junior Jawa Barat kalah. Rida nggak mau menjawab. karena masih ada Stella sebagai starter. Apa bener di tempat yang sekarang duitnya lebih gede?” tanya Vira. Vir?” Vira mendekat ke arah Rei.” janji Vira. “Tenang aja. kamu kan tau sifat Niken.. “Hmm. Pak Isman nggak kecewa. Bukan karena sakit. Selain itu dia harus ikut bimbel sore nanti... Saat ditanya Vira kenapa nggak dateng latihan. Bahkan saat uji coba melawan Tim Putri Universitas Parahyangan (Unpar). “Rei.. tapi dia sama sekali belum bisa mengerti jalan pikiran cewek itu.” “Nggak bakal. karena emang yang dihadapi adalah salah satu tim basket . Trust me..Akhirnya Rei nyerah juga setelah Niken nggak keluar-keluar. Dulu Rida begitu semangat masuk tim Jawa Barat. “Tapi jangan cerita soal itu yaa. Besok juga dia udah biasa lagi.” “Siapa?” *** Udah berbulan-bulan Vira mengenal Rida... tiba-tiba Vira seperti ingat sesuatu.” Saat Rei udah mau menstarter motornya.. “Iya. “Bukan buat aku. Tapi tibatiba. bentar!” Rei menoleh. karena Rida tetep masuk sekolah setiap hari. Kenapa? Tertarik lagi? Tapi bukannya sekarang duit bukan masalah buat kamu?” Rei balik bertanya. udah dua hari ini dia nggak ikut latihan.. Rei.

putri mahasiswa terbaik di Jawa Barat. terutama dalam hal kerja sama tim. “Gitu dong kalo maen basket. Yang penting permainan tim udah menunjukkan sedikit kemajuan. “Lo kira gue juga rela dikeluarin dari tim gara-gara lo?” balas Vira.” “Terus kenapa dia sekarang nggak masuk?” . Kalahnya juga tipis. mungkin Rida lagi bosan main basket. Jadi nggak boleh main-main soal pelajaran. Vira cuman mencibir. Pikirnya. Vira dan Stella pun selamat dari kemungkinan dikeluarkan dari tim. “Emang ibunya sakit apa?” “Katanya sih sesak napas gitu.” ucap Stella pada Vira sebelum pertandingan. Ternyata mereka berdua berhasil menyingkirkan ego masing-masing dan bekerja sama. duet Stella dan Vira bermain kompak dalam pertandingan sore ini. Dadanya sakit. lebih mentingin soal sekolah daripada basket walau itu berarti membuat cita-citanya untuk jadi pemain nasional. Vira sengaja nanya ke Debi karena hari ini Rida nggak masuk sekolah tanpa alasan yang jelas. *** Tadinya Vira juga nggak begitu memperhatikan absennya Rida.. jadi dia pulang sekolah harus nungguin ibunya. mereka kan udah kelas 3. Bisa aja Rida sekarang udah berubah pikiran.” kata Debi saat Vira nanyain soal Rida pas jam istirahat. Mereka bisa bermain secara tim. Sebentar lagi bakal menghadapi ujian kelulusan. atau lagi konsen ke pelajaran. Stella dan Vira juga udah menunjukkan kemampuan mereka. Itu yang mengobati kekecewaan Pak Isman dan sedikit melupakan nggak hadirnya Rida yang emang dipersiapkan sebagai pengganti Stella. Maklum. Akhirnya Vira tahu alasan Rida nggak dateng lagi ke latihan dari Debi. walau mungkin belum sekompak dulu saat Vira masih di SMA Altavia..” ledek Stephanie pada Vira saat mereka mo ganti baju. Jadinya. “Ibu Rida lagi dirawat di rumah sakit. “Gue nggak mau dikeluarin dari tim gara-gara lo.

soalnya Ibu ngelarang aku berhenti sekolah. dan adiknya yang masih kelas 2 SMP.” “Tapi beda. .” Sejak ayahnya meninggal tiga tahun yang lalu.Debi cuman mengangkat bahunya tanda nggak tahu.. Itu juga kata Vira dibayarnya nanti aja kalo keluarga Rida udah punya uang. Rida cerita keluarganya kesulitan membiayai pengobatan ibunya. Ini yang jadi masalah bagi Rida dan keluarganya sekarang. Soal jantung emang nggak boleh main-main. dua kakak yang semuanya udah bekerja. “Karena itu. Ibu Rida harus menjalani operasi sampai beberapa kali untuk menormalkan fungsi jantungnya. sedang aku juga masih sekolah. keluarganya juga masih berusaha mendapatkan uang bukan dengan cara berutang. itu sih minjem-minjem juga. Selain itu mungkin kami akan menggadaikan sertifikat rumah. Selain kata Rida nggak mau bikin repot Vira. aku nggak bisa konsen dulu di basket. Ternyata nggak cuman itu. Vira harus mencari cara lain untuk menolong Rida.” Sebetulnya Rida nggak perlu terlalu pusing kalo aja dia mau menerima tawaran Vira yang berniat meminjamkan uang untuk biaya operasi ibunya. apalagi kalo utangnya nanti terlalu besar. bisa berakibat fatal.” ujar Rida. Aku pengin bantu cari uang untuk biaya operasi ibu. Aku juga berusaha ikut bantuin. Dan setiap tahap operasi memakan biasa yang nggak sedikit. Cara yang bisa diterima Rida. Paling nggak kami nggak minta belas kasihan orang lain. Bahkan mungkin nanti di sekolah.. tapi juga menghasilkan duit yang lumayan gede. Tapi Rida nggak mau. Saat Vira menyempatkan diri membesuk di rumah sakit. Padahal. “Kami takut nggak bisa bayar. dari mana keluarga kamu mendapat uang?” “Kakak mo jual motornya. Mungkin aku bakal cari kerjaan part time. tapi nggak tau gimana caranya. Rida emang tinggal bareng ibu. walau kecil. “Trus.. sakit yang diderita ibunya bukanlah masalah enteng. Karena Rida tetep nggak mau menerima bantuin dari Vira walau udah dipaksa.. seperti yang diajarkan Ayah dan Ibu.” “Yah.

walau dirinya juga nggak yakin dengan jawabannya itu. tempatnya bener.. Alamatnya bener kok! katanya dalam hati. “Kenapa. Katanya mo maen basket. Dia seakan berkata pada dirinya sendiri. “Kita mo maen futsal?” tanya Rida..” jawab Vira sambil melirik jam tangannya.Setelah lama berpikir. Dengan sedikit ragu-ragu. tapi aku kan nggak bisa maen futsal.. Udah jam sembilan malem lewat dikit. Mas. “Yuk!” ajak Vira sambil membuka pintu mobilnya.... “Hmmm.. Vira lalu mengambil HP-nya dan menghubungi HP Rei. “Hmmm.. anu. kan?” *** Malam harinya.” jawab Vira. tempat buat maen basket di mana ya?” tanya Vira sambil celingukan ke dalam.. “Ada yang bisa saya bantu?” Seorang cowok di meja depan menegur Vira dan Rida. Vir?” tanya Rida heran. kan?” tanya Rida lagi. “Bener kok.. “Udah.. Vira dan Rida masuk ke gedung futsal yang masih buka. walau udah terlihat agak sepi. kamu mau dapet duit lumayan banyak tapi nggak ngutang. Vira memarkir mobilnya di halaman parkir sebuah gedung yang biasa digunakan untuk bermain futsal. malah nggak aktif! “Vir. Yah. “Dasar pikun!” ucap Vira. Dari seragam yang dipakainya. sama sekali nggak ada bau-bau basketnya. jelas menunjukkan dia karyawan di situ. tiba-tiba Vira menepuk keningnya.” “Siapa juga yang mo ngajak kamu maen futsal?” Vira melirik secarik kertas yang dari tadi dipegangnya. “Ya. . Sekilas di dalam emang cuman kelihatan lapangan futsal. ikut aja..

” “Oya.” “Lo nanyanya gimana?” .. “Bukan nggak mau.. maennya jago banget.” jawab cowok itu. tapi... “Hai. Ternyata seorang cowok berambut panjang diikat yang memanggil dia. “Bener tempatnya di sini? Kok di gedung futsal?” tanya Vira. bukan lapangan basket. Kita sering jadi tim kalo main bertiga.. Ngeluyur mulu.“Maen basket? Ini lapangan futsal.” celoteh si cowok. temennya Rei. “Rida temen sekolah gue. tetep aja dia nggak pernah belajar. “Iya. jadi harus konsen belajar. “Da.. “Tumben lo ke sini..” Vira seperti teringat sesuatu. cuman masih pake sandal jepit. “Coba aja kalo bisa. Kata Rei lo udah nggak mau main lagi. tau Mas.” Vira memberi alasan. emang di sini kok.. tapi nggak sempet aja. “Iya. Rida.. denger-denger lo ikut tim basket Jabar. tapi dia hampir tiap hari dateng. Dia memakai kaus dan celana basket..” jawab Elmo. ya?” “Cuman tim junior. Cowok berambut panjang itu mendekat. posisi lo bisa tergeser ama dia.” balas cowok bernama Elmo itu sambil terkekeh.” “VIRA!!” Vira—juga Rida—menoleh ke arah suara itu.” “Kalo Rei sih nggak ngaruh. Mo!” balas Vira mengenali cowok itu.. ini Elmo. juga temen di tim basket. baik tim basket sekolah maupun tim Jabar.. “Tapi tadi gue tanya karyawan di sini. Dia lalu mengulurkan tangannya untuk bersalaman dan disambut oleh Vira. Bentar lagi ujian.” katanya sambil melirik ke arah Rida yang dari tadi diem aja.” ujar Vira setengah berpromosi.” Rida menyambut uluran tangan Elmo. Hati-hati. Gue kan udah kelas tiga. “Halah alesan aja lo! Rei juga kelas tiga. kenalin temen gue. “Oya. Dik.. Lagian dia kan punya misi tersendiri.. mo ikut streetball ato nggak.

“Gue tanya tempat maen basket di sini. di mana tempat untuk streetball? Elmo menuju sebuah pintu yang berada pada salah satu sudut gedung. gedung ini lalu direnovasi dan diubah jadi gedung futsal. Trus.” Elmo lalu memberi tanda untuk mengikuti dia masuk ke dalam gedung. Karena itu rahasia. Sekarang cuman orang yang tau atau diundang aja yang boleh dateng. “Kalo lo nanyanya gitu. Oleh pemilih yang baru. nggak kayak dulu bisa siapa aja. Vira udah bisa nebak kenapa Rei belum datang. Makanya tempatnya juga di dalam gedung. Lalu tutup karena nggak laku dan gedung beserta tanahnya dijual. ya? Emang di gedung futsal yang cukup besar itu terdapat dua lapangan. Sekarang ini kita mesti hati-hati. Tapi basement bekas tempat parkir masih . Lapangan dua tiga perempat? batin Vira. “Tempat ini tadinya pusat perbelanjaan grosir. bilang aja mo maen di lapangan dua tiga perempat. Kayaknya dia udah dikenal di sini. “Kalo lo ditanya di meja depan. tangannya dicekal Rida. cuman senyum aja. Kok mirip-mirip Harry Potter. Kita masuk aja dulu. tempat ini bener-bener dijaga. “Rei kayaknya belum dateng. Tadi abis magrib dia dateng ke rumah. Tapi si mas itu bilang nggak ada. buktinya dia nggak ditanya-tanya karyawan yang ada di meja depan. seolah-olah bisa membaca pikiran Rida.” kata Elmo sambil membuka pintu.” tukas Vira sambil menunjuk karyawan yang tadi dia tanyai.” kata Elmo sambil terus berjalan. Saat Vira hendak mengikuti Elmo. Begitu pintu terbuka. Itu sandinya. “Nggak papa. Dan duaduanya tentu aja dipake untuk maen futsal.” ujar Vira. terdapat tangga ke bawah. berarti tuh anak belum sukses membujuk Niken yang masih kesel bin sebel bin mangkel. Ternyata basement gedung futsal itu sangat luas. ketutup kegiatan futsal di sini. Mereka bertiga turun ke basement. Tanpa ragu-ragu Elmo langsung turun menyusuri tangga. yang di sampingnya terdapat sebuah konter kecil yang menjual makanan dan minuman ringan. Dan kalo sampe sekarang belum dateng ke tempat ini. dia emang nggak bakal ngasih tau.

” Dari kejauhan. Sebagai gantinya ditaruh drumdrum bekas di sepanjang sisi lapangan. Ide dibikin arena streetball di basement juga dari dia. karena yang dateng kebanyakan males parkir di basement. . Sayup-sayup terdengar suara keramaian. Vira udah bisa melihat arena streetball yang belum begitu rame.ada dan jarang dipake.” jawab Elmo sambil terkekeh. “Canggih juga idenya. Jadi kita taruh aja drum bekas buat pembatas. Tapi apa pemilik gedung tau kalo basement-nya dijadiin tempat streetball?” tanya Vira. Ya kalo keluar lapangan lumayan lah kebentur drum. “Nggak ada ram besinya?” tanya Vira. karena nggak takut lagi ada penggerebekan.. sementara Rida tiba-tiba bergidik ngeri. kita bisa mulai agak sorean. sedang yang punya nggak pengin lantainya rusak. Vira mengernyitkan keningnya.. Suara yang nggak terdengar dari atas. Tersembunyi dan nggak menarik perhatian. Jadi kita aman. Lagi pula sejak dipindah ke sini. Anaknya yang punya gedung ini emang pemain streetball. Jadi bisa banyak game yang dimainkan.” Elmo menjelaskan. “Susah bikin ram di sini tanpa merusak lantai. “Jangan kuatir. Nggak ada ram-ram besi seperti di arena yang dulu.

. Lalu dia mengguncang bahu sahabatnya itu. Tapi Vira melihat matanya berkaca-kaca.. ada apa sih? Jangan bikin orang bingung dong. Paling nggak sampe sore nanti. Niken cuman diam di samping tempat tidur. Nike nggak menjawab.. “Ken. Vira pikir Niken akan membahas soal kenapa dia pulang jam dua pagi sambil ngomel-ngomel.. Niken tibatiba masuk ke kamarnya dan ngebangunin dia. Tapi ternyata nggak. “Niken. “Aku. aku. Dia masih tetap diam. Lalu dia menutup wajahnya dengan tangan dan menangis sesenggukan. jadi sekarang masih ngantuk... jadi Vira bisa bebas tidur semau dia.” . Walau matahari udah setinggi Gunung Tangkuban Perahu.” Vira bangun dan duduk di sebelah Niken. Setelah sukses membangunkan Vira. Itu bikin Vira tambah bingung.. Vira nggak peduli. “Ada apa sih?” tanya Vira yang masih setengah sadar. Apalagi sekarang hari Minggu.. saat dia harus pergi latihan.TUJUH PAGI-PAGI kamar Vira udah kedatangan tamu yang nggak diundang..” suara Niken terdengar bergetar. “Ada apa?” tanya Vira bingung. “Ada apa?” tanya Vira lagi. Nggak berkata apa-apa. Tadi malam dia pulang jam dua dini hari.

Mau menyelamatkan diri. bahkan kalopun Niken sampe ngambek atau marah berat. Kadang-kadang suka ketiduran. dia nggak mau bilang. “Aku. lalu membelai rambut sahabatnya itu.. Mendadak dirinya serasa berada di tepi jurang yang dalam. apa pun yang terjadi. “Kok bisa gitu? Kamu tau dari mana?” Niken menengadahkan wajahnya... Tapi pas ditanya emang dia ngapain aja sampe capek gitu. “Apa?” Walaupun sebetulnya Vira udah mendengar ucapan Niken... Serbasalah.” Niken mengulangi ucapannya. Kalo ditanya alasannya. dan di belakangnya terdapat kobaran api yang siap membakar tubuhnya. “Rei. disusul dengan tangis sesenggukan. “Siapa yang mutusin?” tanya Vira. Kalopun nepatin. kali ini terdengar lebih keras. Dia tahu sebagian alasan Rei sampai sering nggak nepatin janji ke Niken.. ato pikirannya ke mana-mana.” “Kenapa?” Niken nggak langsung menjawab pertanyaan Vira. dan itu sama juga boong... dirinya pasti bakal terbakar.. Rei udah nggak sayang lagi ama aku. . Dia juga udah nggak merhatiin aku kalo lagi ngobrol.” ujar Niken lirih. satu-satunya jalan cuman loncat ke dalam jurang.” Vira cuman menghela napas. Aku rasa ada yang dia sembunyiin.“Aku.. aku putus ama Rei... sering terlambat. Rei cuman bilang dia capek.. dia ingin lebih memastikan lagi apa yang didengarnya. “Aku... hampir-hampir nggak terdengar oleh Vira.... Dia ingin memberitahukan itu supaya Niken nggak salah sangka atau bahkan putus dari Rei. Rei berulang kali mengingatkan Vira supaya nggak ngomong apa-apa ke Niken. “Ken.” “Aku rasa.” jawab Niken akhirnya. Diam di tempat.. Vira segera merengkuh Niken ke pelukannya. aku udah putus ama Rei.. bikin Vira tambah bingung. dia malah sesenggukan lagi.. Tapi Vira juga ingat. akhir-akhir ini sering nggak nepatin janji.

Aku cuman mo ngingetin janji kamu. Niken masih di rumah?” Terdengar suara cempreng Rei dari seberang telepon... atau ke mana kek. Dia menoleh pada Niken.. Vira beringsut dari tempat tidur dan meraih HP-nya yang berada di atas meja belajar. Tadinya Vira ingin mengabaikan panggilan di HP-nya.. “Ng.. bilang aja aku pulang ke rumah. Dengan perasaan malas. Dia harus menyelamatkan hubungan mereka..Tapi ini kan Niken mo putus! Dan Vira nggak bisa membiarkan Niken mengambil keputusan atas dasar dugaan yang salah. apa pun yang dikatakan Rei nanti.” “Nggak masalah kalo dia udah pergi. Dia udah nggak sesenggukan lagi. “Rei. kan?” tanya Niken.. Vira harus ngomong semua yang dia ketahui..” “Tapi. . Jangan kuatir.. Aku nelepon kamu bukan untuk nyari dia kok.” “Vira. Rei.. Rei.. sebenarnya.” jawab Vira lirih.. seolah-olah dia meminta persetujuan Niken untuk menjawab telepon itu. Dari Rei! batin Vira.. Ken.. nggak.. Tapi kalo dia nanya aku. ke sekolah. “Siapa?” tanya Niken. “Enggg.. Nanti juga dia akan mengerti. supaya apa pun yang terjadi. aku tahu Niken... “Kenapa nggak diangkat?” tanya Niken... tapi HP-nya berbunyi terus.” “Halo.” “Aku tahu risikonya.” Suara HP Vira memotong ucapannya. bilang aku udah pergi.” Vira nggak ngomong apa-apa lagi.” Niken seolah-olah mengerti apa yang ada di pikiran Vira. “Jawab aja. jangan kamu cerita apa pun soal aku. bahkan sampai Rei mengakhiri pembicaraan. “Rei bilang apa? Dia nanyain aku. “Pagi-pagi gini?” “Ya....

“Oya. teringat ucapan Rei tadi di telepon. dia harus mulai dengan bicara yang sebenarnya.” Vira cuman diam.” Vira mengalihkan pembicaraan. *** “Makasih yaa.” ujar Vira... sebelum Rei nelepon. mana dia peduli aku ada di mana. “Nggak. Kalo dia pengin bicarain soal ini. “Hah? Apa?” “Tadi. “walau belum cukup untuk membiayai pengobatan Ibu.. kayaknya kamu mo ngomong sesuatu. kan?” “Bukan itu masalahnya. Mungkin nginep sampe besok.. “Aku mo pulang dulu ke rumah. paling nggak uang yang aku dapat tadi malam bisa meringankan biaya rumah sakit. sebenarnya kalian nggak perlu putus..” lanjutnya.. Niken nggak mengacuhkan ucapan Vira.Vira mengangguk pelan... Vira cuman geleng-geleng kepala melihat kelakuan Niken.... “Kamu bilang aku udah pergi.” “Ngomong? Oh itu. kan?” “Kamu dengar sendiri... kan?” Niken terdiam saat Vira mengulangi ucapannya. Rei udah nggak jujur ke aku.” “Kamu masih cinta Rei. Rei cuman pesen aku bilang ke kamu nanti kalo dia nyariin kamu. “Nggak ada yang perlu dibicarain. Kan bisa dibicarain baik-baik... Dulu-dulu.... kamu tadi mo ngomong apa?” tanya Niken lagi.” Vira menepuk keningnya. “Buat apa? Sekarang sok sibuk nyariin aku.” “Tapi kamu sebetulnya masih cinta dia.. .” jawab Vira berbohong... “Ternyata kamu keras kepala juga ya.” kata Rida pada Vira saat mereka mau mulai latihan. aku cuman mo ngomong...” Niken mengalihkan pembicaraan sambil beranjak dari tempat tidur.

Rida menggelengkan kepalanya. Aku kira lama-lama kamu bisa membiayai seluruh biaya pengobatan ibu kamu..” “Jadi kamu belum nyerahin duit hasil maen tadi malam ke kakak kamu?” tanya Vira.. kamu bisa ikut lagi. Setelah memperkenalkan. Nggak semua menjawab pertanyaan itu. Tadi aja aku diinterogasi kakak-kakakku. Nanti malam juga bisa.” tandasnya. Pak Nurdin memulai cuap-cuapnya. tapi juga seorang pria lain berpakaian rapi yang usianya kira-kira hampir sama dengan Pak Isman.” “Aku nggak tau. bukan?” tanya Pak Nurdin seperti guru SD aja. “Nanti aja kalo aku udah temukan alasannya. *** Seperti biasanya. “Kalo kamu mau. Padahal aku udah berkali-kali bilang latihan basket bareng kamu. Pak Isman lalu memperkenalkan pria di samping kanannya itu sebagai Pak Nurdin Tahir. “Adik-adik sebelumnya tentu sudah tahu untuk apa Adik-adik berkumpul dan berlatih di sini.. Aku sendiri sampe sekarang masih bingung kalo kakakkakakku nanya dari mana asal uang yang aku dapat tadi malam. Tapi sesuai hasil rapat Pengda PERBASI Jabar kemarin dan berdasarkan .. Di samping Pak Isman nggak cuman berdiri Pak Dibyo sebagai asisten pelatihnya.. kok baru pulang jam dua pagi. tepatnya di bidang Pembinaan Prestasi. salah seorang anggota pengurus daerah PERBASI Jawa Barat. Tapi kali ini ada yang berbeda. ia mengenakan kaus berkerah hijau yang dibungkus jaket parasut dan celana katun serta sandal kulit. Diawali dengan batuk-batuk kecil kayak pejabat yang mo pidato. Pak Isman pun mempersilakan Pak Nurdin untuk berbicara.“It’s okay. “Rencananya Adik-adik memang akan dikirim mengikuti Kejuaraan Nasional Junior. Mereka nanya dari mana.” jawab Vira. sebelum latihan para pemain dikumpulkan dulu untuk menerima pengarahan soal materi latihan pagi ini dan cuap-cuap lain dari para pelatih.

“Gilaa.” Pak Nurdin berhenti sebentar. Kejurnas Junior baru diadakan tahun depan. “Jangan pesimis dulu. seolah-olah menunggu reaksi dari para pemain. kami bermaksud menyampaikan berita gembira untuk Adik-adik. dan terlalu awal kalo mulai latihan sekarang. membuat para pemain tambah ribut.” lanjut Pak Nurdin. “Apa lo semua nggak pernah baca berita? Dari awal nggak ada yang namanya Kejurnas Junior.....evaluasi hasil latihan Adik-adik.” kata salah seorang pemain saat mereka udah selesai latihan dan lagi pada ganti baju.. Kejuarana berskala nasional . “. karena Kualifikasi Kejurnas ini sudah dekat. Turun di Kejurnas Senior? Kalimat itu sontak menimbulkan kegaduhan di antara pemain. Kami ingin memberi kesempatan pada Adik-adik untuk menimba pengalaman dan mengasah kemampuan Adik-adik... “Maksud lo?” tanya salah seorang pemain. Paling nggak untuk tahun ini. kita mo ditandingin ama tim senior daerah lain? Bisa abis kita.” komentar salah seorang pemain...” Ucapan Pak Nurdin seketika itu juga mengubah suasana. Nggak salah tuh!? *** “Gue udah yakin kalo kita dari awal emang mo diturunin di kualifikasi Kejurnas. yaitu seminggu lagi.. Saat ini mungkin mereka semua punya pikiran yang sama... satu angkatan dengan Stephanie. dan sekarang kuliah di Unpar. saya minta Adik-adik berlatih dengan lebih serius. Mereka saling bisik-bisik sendiri dan nggak memedulikan ucapan Pak Nurdin selanjutnya.. Seminggu lagi? Semua pemain berpandangan mendengar ucapan Pak Nurdin. Tapi nggak ada yang bereaksi secara berlebihan. paling cuman bisik-bisik..” “Karena itu.Kami akan menurunkan Adik-adik pada Kualifikasi Kejuaraan Nasional Basket Putri Tingkat Senior yang akan berlangsung di Bandung. Namanya Agnes.

. kapan dia melatih tim senior?” “Jadi.. “Mungkin mereka latihan di tempat lain.. kita dipanggil untuk menggantikan Tim Senior. pria itu nggak membantah atau mengiyakan.” “Agnes benar. apa kita pernah melihat tim putri senior latihan?” Ucapan Agnes seakan menyadarkan yang lain. “Yup. Kakaknya salah satu pemain senior Jabar.. “Nggak mungkin.... Karena pihak pengurus nggak mau nurutin keinginan mereka dengan alasan dana terbatas dan semua udah dianggarkan dari awal. tapi bukan dalam rangka latihan.. Pemainnya menuntut uang saku dan fasilitas yang sama dengan tim putra.. Padahal kualifikasi kejurnas udah deket. Padahal tim junior latihan hampir tiap hari.” Agnes menjelaskan.” “Lo tau dari mana soal ini?” tanya Alexa. *** Saat Vira menanyakan apa yang dibicarakan oleh Agnes dan Stephanie pada Pak Isman langsung.. tapi kenapa dia juga melatih kita. “.dan selama kita latihan di sini.. . Beberapa minggu latihan. tujuan kita dari awal dipanggil emang untuk ikut Kejurnas Senior?” tanya Alexa. Kalo tiap hari. Pak Isman adalah pelatih tim senior. nggak pernah terlihat satu pun para pemain senior latihan.” jawab Stephanie. bahkan hampir seharian. “Temen kuliah gue.yang diadakan tahun ini adalah kualifikasi Kejurnas. Mungkin karena nggak mau menanggung malu karena kualifikasi kejurnas bakal diadain di Bandung.. Cuman pernah terlihat beberapa cewek yang dikenal sebagai anggota tim senior Jawa Barat di sekitar GOR. “Udah lama gue denger kabar ada masalah di tim senior putri. akhirnya para pemain jadi mogok latihan.?” kata Vira. Benar juga. dan finalnya sebulan lagi di Jakarta.” Stephanie tiba-tiba ikutan ngomong.

Sama sekali nggak nyambung dengan pertanyaan Vira. .“Siapa pun lawan kalian dan mau diturunkan di event mana pun... Bapak minta kalian tetap berlatih serius dan sepenuh hati..” jawab Pak Isman.

. “Lo kira gue main-main!?” Vira balik bertanya dengan suara keras. “Soal kecil apanya? Dia udah nyakitin perasaan gue...” jawab Hera.. EGP!” “Vir.. Begitu juga Amel dan Lisa yang berdiri di dekatnya. “Dengar. jangan lo gede-gedein... “Diana bener. tapi justru itu membuat Vira berbalik menatap dirinya. . “Lo mo ngikut dia!?” Diana cuman diam..” Diana mencoba membela Hera. NGERTI!?” Ucapan keras Vira tentu aja membuat anggota The Roses lainnya kaget. Vir?” tanya Stella. Itu karena ucapan itud itunjukan padanya. gue nggak mau tau! Pokoknya besok gue nggak mau liat wajah munafik lo di sini!” tegas Vira pada Hera.” “Tapi gue kan nggak sengaja. “Tapi. ke Planet Mars kek. gue nggak tau itu bakal nyakitin perasaan lo. ini soal kecil. “Lo serius..DELAPAN “MULAI besok. Gue kan udah minta maaf. TERUTAMA Hera.. “Terserah lo mo pindah ke mana! Mo ke Arab kek. Lalu dia balik menatap Hera... Stella yang berada di dekat Hera segera memeluk temannya itu... gue nggak mau liat wajah lo di sini. kenapa lo harus kayak gini?” tukas Stella. gue mo pindah sekolah ke mana?” tanya Hera dengan suara bergetar sambil menahan tangis. Ini soal kecil.. Air mata mulai keluar dari kedua matanya.

Dia bukan anggota The Roses lagi!” tukas Vira.“Lo kira dengan minta maaf. Niken nggak ikut karena begitu bel istirahat berbunyi tuh anak langsung ngabur keluar kelas. “Aku ketemu Hera.” Stella cuman bisa memeluk Hera yang menangis terisak-isak sambil memandang Vira dengan tatapan penuh amarah. Paling kalo nggak ke ruang OSIS ya ke perpustakaan. *** Di sekolah saat jam istirahat.. “Iya. Vira malah ngomongin soal lain dengan Amel. “Mau lo apa sih.. “Tapi. “Bukannya tadi gue udah bilang.” kata Hera sambil mulai terisakisak. Amel yang lagi menyantap mi baso merasa lehernya baru aja dipukul dari belakang.. Nggak tahu ke mana dan Vira nggak bermaksud mencari tahu. “Gue nggak nyuruh dia pindah sekolah. “Udah. Vira tahu Niken butuh waktu untuk menyendiri. .. Vira berdua bareng Amel di kantin.. Percuma. “Lo nggak bisa seenaknya nyuruh orang pindah sekolah!” seru Stella... H-E-R-A. Emosinya mulai terpancing melihat kelakuan Vira.. lo nggak usah belain gue.” Vira mengeja huruf demi huruf nama Hera..” “Gue nggak mau lo ikut susah. gue nggak mau liat muka dia lagi di sini... “Kamu bilang Hera?” tanya Amel setelah menenangkan diri dan mengatur napas.. Baso yang udah mo ditelannya keluar lagi ke dalam mangkoknya.” “Itu saja aja lo nyuruh Hera pindah sekolah!” “Jadi lo tetep belain dia!? Lo mau bernasib sama dengan dia!?” “Lo.. udah. Terserah gimana caranya kalo dia tetep mau sekolah di sini! Kalo sampe gue ketemu dia. Vir?” tanya Stella. Her. itu bisa ngobatin sakit hati gue?” jawab Vira sambil tersenyum sinis. dia akan gue buat lebih menderita daripada sekarang.” kata Vira. Hera. Gue cuman nggak mau ketemu atau liat wajahnya di sini.!!” Ucapan Stella terhenti karena Lisa menggamit lengannya.

“Masih sekolah di Singapura?” Hera mengangguk pelan. hendak mencari meja lain..” Suara Hera terdengar lain di telinga Vira. biar gue yang pergi.” Vira masih berdiri di tempatnya. “Nggak usah. Kalo lo nggak suka ketemu gue. . Vira menggelengkan kepalanya. walau nggak lama. “Gimana kabar lo?” Itu kalimat pertama yang diucapkan Vira setelah hampir lima belas menit dia dan Hera cuman diam menikmati makanan masing-masing...” jawab Vira. Lo boleh duduk di sini.. Kali ini nada bicara Hera nggak seketus tadi... Dia seperti ragu-ragu dengan ucapan Hera. Vira membalikkan badannya.“Dia ada di sini? Bukannya Stella pernah bilang Hera pindah sekolah ke Singapura?” tanya Amel lagi. “Kalian cerita soal apa?” tanya Amel setelah Vira selesai cerita. walau juga nggak bisa dibilang ramah. “Singapura kan deket dari sini... Jadi gue akan tetap di sini ngehabisin makanan gue. “Dan lo?” tanya Vira. dan mo pergi. tapi sempet ngobrol..” “Di mana kamu ketemu dia?” Vira lalu cerita soal pertemuan nggak sengaja mereka di foodcourt.” kata Hera yang melihat Vira memesan cream soup selain ayam dan nasi. kan?” Kali ini Vira mengangguk. “Lo mo ke mana?” tanya Vira saat Hera hendak berdiri dari kursinya.” Vira langsung membalikkan badannya.” “Makanan lo belum abis. “Gue udah selesai. Orang kayak Hera bisa bolak-balik kapan aja dia mau. “Tapi sempet say hello. Dia nggak sekadar say hello pada Hero.. “Seperti lo bilang tadi. “Baek.” jawab Hera pendek. makanan gue belum abis. Amel nggak tahu kalo Vira berbohong. “Cream soup nggak enak kalo udah dingin. “Dia kebetulan udah selesai makan..

dari mana lo tau soal gue?” tanya Vira.. “Nggak.. Berita soal ditangkapnya bokap lo. “Tentang Diana?” tanya Vira. Kamu mau?” Vira memandang tahu isi yang ada di piringnya. jadi gue bisa maen-maen ke sini.“Sekarang lagi libur. Semuanya.” ujar Hera... sekalian ngunjungin kakek dan nenek gue. rumah lo yang disita. gue pasti akan mencegah dia ngelakuin tindakan bodoh itu. Amel cuman mo bilang tahu isi di piring kamu tinggal satu. Gue bener-bener sedih.” Suara Amel membuyarkan Vira dari lamunannya. juga cerita dari orang lain. “Lo sendiri? Gue denger lo juga udah pindah dari Altavia?” Hera balik nanya setelah mereka kembali diam sejenak.. raut wajah Hera berubah. sampe pertandingan final antara SMA lo melawan Altavia. Semua bisa gue dapetin dari TV. marah.” Vira merasa tubuhnya makin mengecil di hadapan Hera. terutama kalo dia ingat masa lalunya saat masih sekolah di Altavia... surat kabar. Jadi seharusnya tinggal tiga biji. gue nggak pernah kontak Stella lagi. Tapi kenapa sekarang cuman tinggal satu? . “Jadi.. Gue ganti nomor HP gue dan gue bilang ke keluarga gue supaya jangan ngasih tau nomor HP gue ke siapa pun. Gue pengin ngelupain semua hal yang berhubungan dengan Altavia. Dia pasti mau ngedengerin ucapan gue. “Her?” “Sejak gue pindah sekolah. “Lo denger dari siapa? Stella? Lo ama dia masih sering kontak-kontakan?” Hera terdiam sebentar mendengar pertanyaan Vira. Dulu dia salah satu yang mau dengerin curhat gue selain Stella.. Kalo aja saat itu gue ada di sana. Amel sebiji sambil makan baso. dan Internet.... Tadi dia emang ngambil tahu isi lima biji dan dia sendiri baru makan sebiji. Gue juga nggak pernah kontak semuanya. dan tertekan. “Tuh kan. Mendengar nama Diana.” Ucapan Hera serasa menampar wajah Vira. “Diana selalu baek ke gue. tapi yang jelas bukan Stella atau temen-temen lainnya. ngelamun lagi. “Gue tau soal lo dari banyak sumber. “Hah? Ada apa?” tanya Vira.” jawab Hera.

*** Rei cuman ngakak saat Vira menanyakan soal kelanjutan hubungannya dengan Niken.... tapi nggak pernah ketemu. lalu segera ngacir mengejar Rei. “Mo ke mana?” tanya Amel. Jadi kamu nggak usah kuatir.. Dia cuman bisa nyengir.” katanya. “Bukannya dari tadi kamu udah ngambil? Kenapa sekarang pake minta izin?” tanya Vira.. kan?” “Ya nggak lah. Saat itu ekor matanya menangkap bayangan seorang cowok melintas di depan kantin.” . “Tolong bayarin ya. membuat muka Amel memerah karena malu. “Siapa juga yang maen-maen. buat Amel.” “Aku kenal Niken dari kecil.” kata Amel sambil mulutnya berdesis kayak ular. “Ada perlu sebentar.. HP-nya juga selalu sibuk atau nggak aktif. “Tapi kamu nggak berusaha untuk. Aku tau sifat dia.?” sahut Rei setelah tawanya berhenti.. “Tapi kamu nggak berniat putus ama dia. Eh begitu lagi nggak dicariin.. Aku tahu harus bagaimana menghadapi dia.” kata Vira sambil meletakkan selembar uang dua puluh ribuan di depan Amel. Vira segera berdiri dari kursinya... “Kamu jangan maen-maen. sekarang cowok itu melintas di hadapannya... Vira menyodorkan piring berisi tahu isi yang tinggal sebiji itu pada Amel..” “Dan kamu bener-bener yakin soal ini?” “Yakin seribu persen..” potong Rei.. Rei! Niken tuh serius mo putus ama kamu!” kata Vira...“Kalo kamu nggak mau. ya? Pedes nih. Rei! Dari kemarin Vira mencari Rei.

Niken yang mendengar ucapan Vira malah menatap wajah sahabatnya dengan heran. “Mom.*** Pulang sekolah.. ya?” “Nggak usah.” Stella segera menuju kamar mamanya. nggak tau ke mana.. “Tadi Tuan datang. Aku mo ketemu Pak Danang.” “Aku tunggu.. Nggak ada jawaban.. “Emang kenapa? Aku nggak papa kok. Kayaknya mereka habis bertengkar hebat.” “Mom?” “Ada di kamar..” *** Kejutan nggak menyenangkan menanti Stella saat tiba di rumahnya... Vira mendekati Niken yang lagi beresin tas sekolahnya.. “Kamu nggak papa. tapi sayup-sayup Stella mendengar isak tangis tertahan di dalam kamar..” panggil Stella sambil mengetuk pintu kamar mamanya pelan-pelan. “Mom!” . ntar kelamaan..” “Dad datang? Terus. Itu membuatnya punya keberanian untuk membuka pintu kamar yang ternyata nggak terkunci. Katanya mo ada pertandingan minggu depan?” “Iya sih.. “Nggak pulang bareng?” Vira menawarkan. aku masih ada urusan. Kamu ntar sore kan mau latihan. mo nyerahin berkas-berkas OSIS. Non.” katanya.. Niken lalu langsung melangkah keluar kelas.. “Thanks... kan?” tanya Vira. Diawali dari laporan pembantunya tentang papanya. Soalnya aku juga mo ke toko buku dulu. di mana dia?” “Pergi lagi.

“Mom. Lalu wanita itu pingsan di pelukan anaknya. Bahkan lampu meja yang ada di samping tempat tidur pecah berantakan di lantai.. are you okay?” Stella membalikkan wajah mamanya dan terkejut melihat apa yang ada di depannya. Mama stella nggak menjawab pertanyaan anaknya. mamanya menatap wajah Stella.Stella mendapati mamanya terpuruk di pinggir tempat tidur.. Mom.. terutama di sekitar mata. menangis terisakisak dengan wajah tertelungkup ke tempat tidur. kenapa?” tanya Stella sambil membelai rambut mamanya.. Wajah mamanya terlihat biru lebam.... akan bercerai dengan Dad. Setelah pelan-pelan menghentikan tangisnya.. “Mom.. “Mom.. Who did this to you? Dad?” tanyanya. Darah masih mengalir dari mulut dan hidungnya akibat benturan keras. “Mom.” ujar mamanya lirih di sela-sela isak tangisnya. . malah menangis keras di pelukan Stella. Segera dia memasuki kamar yang ternyata berantakan....

Tentu aja ini kejutan besar mengingat dia nggak pernah absen latihan. Nggak jelas alasannya. Apalagi Vira! . Dan Vira tahu. Itu berarti bermain basket adalah segala-galanya bagi dia.. terbersit keinginan Stella untuk mundur dari tim. Stephanie mengarahkan pandangannya ke Vira. sama-sama basketball freak! Stella juga menganggap basket bagian dari hidupnya dan akan melakukan apa pun untuk bisa main basket. Stella bahkan rela melupakan sebentar pemusuhan mereka supaya bisa jadi starter tim. Stella membuang kesempatan emas untuk jadi pemain daerah dan berarti juga membuang kesempatan merintis jalan menjadi pemain nasional. Tapi sekarang. Vira yang kenal siapa Stella tentu terkejut mendengar kabar dari Alexa. Alexa yang ditanya cuman menggeleng tanda dia sendiri nggak tahu.SEMBILAN STELLA nggak dateng latihan sore ini. Stella nggak mungkin melakukan hal itu tanpa alasan yang bener-bener kuat. Tapi sekarang. Tapi nggak cuman itu. “Kira-kira Stella kenapa ya?” tanya Stephanie yang juga nggak percaya mendengar keinginan Stella itu. bahkan kalo harus main di Kutub Selatan sekalipun pasti bakal dilakoninya. Stella hampir sama dengan dirinya.. Melalui Alexa. Bukan apa-apa.

. karena nggak yakin Stella mau ngomong dengan dirinya. Dia cuman pengin tahu. Vira juga nggak punya niat mulia untuk membujuk Stella membatalkan keinginannya itu.” “Siapa? Hati-hati loh dengan orang yang baru kamu kenal. Rasa penasaran Vira membuat dia bertekad datang ke rumah Stella.” “Jangan kuatir.*** Vira penasaran soal rencana mundurnya Stella dari tim. Sendirian.. apa yang bisa membuat Stella mengabaikan basket.. apalagi Bandung kota gede. *** . “Iya. dan aku yakin dia nggak bakal macemmacem ke aku.” “Kamu yakin?” “Yakin dua ratus persen. Kali ini Vira minta Sita pulang sendiri naek taksi dengan alasan mo menjenguk teman yang sakit. baru kenal. Bahkan Sita juga nggak dia ajak..” Vira nggak ngomong apa-apa lagi. hanya dengan Stella-lah Vira bisa mengeluarkan seluruh kemampuan terbaiknya. atau mungkin sikap ngajak perang dari cewek itu. tapi nggak tahu kenapa. padahal biasanya kan mereka pulang bareng. Selesai latihan. tapi bagaimanapun Vira harus mengakui bahwa Stella adalah partner bermain basket yang menyenangkan.” kata Sita. “Nggak papa. Dia sengaja nggak nelepon. “Kamu punya temen di Bandung?” tanya Vira.. Mereka berdua emang musuhan. Walau itu dengan risiko dia bakal disambut dengan wajah dingin Stella. Dia nggak mau ngajak siapa-siapa karena udah bertekad bakal melakukan ini sendiri. Orangnya baik kok. Untung Sita bisa ngerti.. nanti aku minta temenku untuk jemput. Bukan berarti Vira nggak bisa bekerja sama dengan yang lain. Vira langsung menuju rumah Stella.

. Vira coba melihat apakah tanda tangan-tanda tangan itu ada. Vira ingat. Lima menit kemudian.. Tapi cahaya lampu yang dipasang di sekitar garasi masih kurang terang hingga Vira nggak bisa melihat papan pantul dengan jelas. mengamati situasi. Sebuah BMW hitam udah lebih dulu diparkir di depan tembok rumah Stella sehingga Vira harus memarkir mobilnya di belakang BMW tersebut. Vira nggak langsung turun dari mobilnya. masih sama seperti saat terakhir kali dia ke sini. The Roses rame-rame menandatangani papan pantulannya. Sambil menunggu Stella—Vira sendiri nggak tahu apa anak itu mau nemuin dia—Vira memperhatikan keadaan sekeliling rumah.. kan?” Pria yang dipanggil Mang Uce mengangguk.. kecuali kalo Stella udah menghapusnya.. Bahkan ring basket yang terpasang di depan garasi juga masih ada. “Stella ada. Ini kan.?” “Vira. sementara Vira menunggu di beranda rumah. Neng. Pintu pagar tertutup rapat. Penasaran. jadi kemungkinan tanda tangan mereka di situ juga masih ada. . Vira mengira ada tamu di rumah Stella. baru dia turun. “Engg. Dia diam dulu. ya Mang Uce itu. Vira menekan bel yang ngumpet di balik nomor rumah. walau nggak digembok. Tapi ternyata rumah itu kelihatan sepisepi aja.Mobil Vira sampai ke depan rumah Stella sekitar jam tujuh malam.. Mang?” tanya Vira pada seorang pria setengah baya yang membuka pintu pagar.. mo ngapain aja. Tapi sekilas Vira melihat cat papan pantul itu masih sama. Vira dan anggota The Roses lainnya emang sering maen ke sini. Mang Uce masih ingat. ada. Jadi mereka bisa bebas di rumah Stella. Mang Uce masuk ke rumah melalui pintu samping. walau udah berusaha dengan berbagai cara. Ring itu pemberian Vira setelah dia mematahkan ring yang sebelumnya dipasang Stella. Dulu. sebelum dipasang. hanya di beberapa bagian temboknya telah dicat ulang dengan warna yang berbeda. ada. karena mamanya pasti kerja dan Stella cuman tinggal dengan dua pembantu dan seorang penjaga rumahnya. dari mulai rujak party sampai pajamas party. Kalo siang rumah Stella emang sepi. Rumah itu nggak berubah.. Nggak lama kemudian pintu pagar terbuka...

Nggak ada yang nyuruh gue ke sini. ya?” “Mereka bukan orang-orang kampung..” Vira sadar.” “Apa yang gue lakuin.” potong Vira. kan? Atau lo juga mo sekalian nanya kenapa gue mundur dari tim? Pasti menurut lo itu aneh karena nggak sesuai dengan sifat gue..” “Gue nggak sok care ama lo... lo mo tanya kenapa gue nggak ikut latihan hari ini. Lo nggak mungkin mau ninggalin basket tanpa sebab yang kuat. Gue cuman heran aja dengan tindakan lo. Stella mulai cari gara-gara lagi. Suka-suka gue mo ngapain. “Gue sama sekali nggak mau ngajak lo ribut.” katanya lagi.” timpal Vira. Stella seakan-akan bisa membaca pikiran Vira. “Atau. .. Lo nggak usah deh jadi rese atau sok care ama gue. “Jangan ge-er lo. sejak kapan lo jadi orang yang pengin tau urusan orang lain? Gue rasa sejak lo berteman dengan orang-orang kampung itu.. Tiba-tiba dia teringat sesuatu. Gue dateng atas kemauan gue sendiri.. Dan lo bener. gue emang penasaran ama sikap lo yang aneh. Lagi pula. Gue cuman mo ngomong. Stella tersenyum sinis mendengar ucapan Vira.. Gue tau siapa lo. “Lo berani juga dateng ke sini. Vira melihat ada ekspresi lain di balik wajah jutek Stella.... itu terserah gue.. lo disuruh Pak Isman ngebujuk gue supaya nggak jadi mundur?” tebaknya lagi. “Mo ngomong apa?” tanya Stella. Vira menoleh dan melihat wajah jutek Stella keluar dari balik pintu. Mo ngajak ribut di sini?” hardik Stella lagi.“Ngapain lo ke sini!?” Suara itu nggak asing di telinga Vira. Karena itu dia berusaha untuk nggak terpancing dengan ucapan Stella yang bernada provokatif.” “Tapi rese. Seperti ekspresi kesedihan..” “Bagi gue iya. “Heh. kan?” Vira tetap berusaha tenang. “Terserah lo mo bilang apa. “Gue tau.. tetap dengan suara keras.

kekuatan tim berkurang tanpa lo.. walau gue masih yakin peluang untuk menang di kualifikasi masih besar. itu terserah lo.” kata Vira. Tim kita emang sedikit berubah permainannya tanpa lo. jadi sori kalo gue nggak bisa dengerin ocehan lo lama-lama di sini. permainan tim nggak sama tanpa lo. “Besok semua anggota tim bakal nginep di Sheraton Inn. lo pasti ngerasa permainan tim basket Altavia sedikit berubah..” ujar Stella akhirnya.. kami tinggal di sana.” Vira nggak mengacuhkan ucapan terakhir Stella. *** “Temen lo?” .” “Ya. tanpa lo sekalipun.“Pak Isman bilang.” “Jangan sotoy lo. Mungkin sama aja saat gue pindah dari Altavia. meninggalkan Stella sendirian di teras depan. Seperti ada sesuatu yang dipikirkannya.. Tapi jujur gue akuin. Dia segera beranjak menuju depan pagar. Selama pertandingan. Terserah kalo lo nggak percaya. “Itu kata Pak Isman atau kata lo?” “Kata Pak Isman..” kata Vira. Sesaat lamanya. Peluang kita untuk menang di kualifikasi jadi semakin kecil. dan gue nggak bisa lupain soal itu begitu aja. Stella diam mendengar ucapan Vira. walau lo nggak mau mengakui itu.. “Gue emang benci ama lo.. “Jangan harap gue bakal berubah pikiran. “Gue lagi ada tamu dan bentar lagi mo pergi. Tapi gue juga bukan orang egois. Suasana hening kayak kuburan. Gue lebih mementingkan kepentingan bersama daripada kepentingan gue sendiri.” “Dan menurut lo?” Vira menghela napas. orang yang udah nikam gue dari belakang saat gue lagi susah. Kalo aja lo berubah pikiran.” ujarnya. lo bisa langsung nyusul ke sana. Stella sendiri langsung masuk ke dalam rumah..

. ..” jawab Mang Uce polos. Cewek itu berwajah blasteran seperti Stella.. “Teman tim basket?” “Lo tadi nguping?” Cewek itu cuman tertawa mendengar pertanyaan Stella. kira-kira tau nggak Stella mo pergi ke mana? Kok wajahnya suntuk gitu?” “Lho? Emang Non Stella nggak bilang ke Non Vira?” Mang Uce malah balik nanya. Vira menggeleng.Seorang cewek yang duduk di ruang tengah menegur Stella yang baru aja masuk. iseng-iseng Vira bertanya pada Mang Uce yang mengantarnya keluar. “Gue tahu lebih banyak dari yang lo kira.. ya?” “Non Stella mo ke rumah sakit.. seperti penyanyi-penyanyi hip-hop Amrik.” “Ke rumah sakit? Siapa yang sakit?” “Nyonya kan masuk rumah sakit. membuat Vira terenyak.” jawabnya di sela-sela tawanya. dipukulin ama Tuan. “Nggak tuh. Emang ada apa? Kayaknya lagi ada masalah. *** Saat sampe di pintu gerbang.. sambil duduk di sofa lain yang ada di situ.” jawab Stella pendek. “Mang. dengan rambut panjang sebahu yang dipilih kecil-kecil. “Iya.

gak tau ya.. ... gue harus jaga kondisi....” “Gimana ya?” gumam Vira sambil menggaruk-garuk kepalanya yang rambutnya mulai panjang lagi... “Emang berapa sih duitnya?” tanya Vira.” “Siapa?” “Ntar lo bakal liat sendiri deh...” bujuk Elmo.. ada apa?” “Lo mo maen malem ini?” Terdengar suara Elmo dari seberang telepon. Dua hari lagi gue ada pertandingan. Mo.. iya.. Vir. Katanya penasaran pengin lawan lo one on one.. dia sengaja cari-cari lo... “Ayolah... Bayarannya gede.” “Lo dateng deh...SEPULUH VIRA baru aja memasukkan mobilnya ke garasi saat HP di dalam tas sport-nya berbunyi. ada yang mo nantangin lo. “Halo. “Hmmm.” “Siapa sih? Cowok ato cewek?” “Cewek lah. Pokoknya lo harus dateng yaa.” “Nantangin gue?” “Iya.

. Tapi tadi gue telepon sih katanya dia mo dateng. Ya udah. “Lo?” Cewek itu mengulurkan tangan.. tunggu gue di sana deh.. Belum makan. berambut dipilin kecil-kecil kayak penyanyi hip-hop cewek Amrik dan badannya lebih tinggi sedikit daripada Vira.” “Bener nih? Bener lo mo dateng?” “Iyaaa. Aksen bahasa Indonesianya kedengeran aneh... Gue hampir seharian ini nggak ketemu dia. “Jadi lo yang namanya Vira?” tanya si cewek. Mungkin tingginya hampir sama dengan Stella. nanya aja. “Vir? Lo mau.. kan?” “Ada Rei nggak di sana?” “Rei? Belum keliatan.” “Masalahnya gue capek. bawel amat sih lo. Tapi rasarasanya sih dia pernah melihatnya.... Apa nggak bisa hari lain? Abis gue pertandingan gitu?” “Dia maunya malam ini.. cuman di mana Vira lupa.” *** Di hadapan Vira berdiri seorang cewek.“Bukan masalah duitnya. Usianya juga diperkirakan Vira lebih tua daripada dirinya. Dia pengin tau kemampuan Ratu Streetball kita. lagi.. Mungkin sekitar tiga-empat tahun di atas dirinya. Emang lo nggak janjian ama dia? Biasanya kan kalian datengnya barengan?” “Nggak. Soalnya dia bukan orang Bandung. Tunggu aja. Besok udah harus balik ke Jakarta.” “Emang kenapa kalo ada Rei?” “Nggak papa.” Vira melenguh pelan.. masa lo nggak tanggepin tantangannya? Ntar apa pikiran dia dan yang lain yang ada di sini? Dikiranya lo takut. Gue pasti dateng. Vira tidak pernah melihat cewek ini sebelumnya di arena streetball.. tapi ini masalah kehormatan.. Mo. .

Gue denger lo cewek yang paling jago di sini.” Elmo membacakan aturan permainan..silakan bersiap-siap. bergabung dengan teman-temannya... atau bahasa kerennya rules of the game.. ya?” tanya Elmo di antara gemuruh suara penonton. “.” Vira membalas uluran tangan cewek bernama Bianca itu. makanya gue pengin liat kemampuan lo. Nggak ada free throw. “Sure. Setiap bola masuk mendapat poin satu. menyikut. Ucapannya itu membuat Vira menoleh..” kata Rei. Free body contact diperbolehkan kecuali memukul... “Vir?” Vira menoleh ke arah Elmo. lalu mengangguk.. atau tindakan lain yang nggak sportif yang dengan sengaja dilakukan untuk melukai lawan. Elmo mendekati kedua cewek yang lagi perang saraf itu...” jawab Bianca pendek sambil terus menatap Vira.“Panggil aja gue Bianca. kecuali lembaran dari luar area three point shot akan mendapat dua poin. lalu ngeluyur begitu aja. *** Rei mendekati Vira yang lagi mengikat tali sepatunya. pertandingan akan dimulai lima menit lagi.” “Kalo kalah?” Rei cuman mengangkat bahunya.. dia pemenangnya.” katanya sambil menepuk bahu Vira. Siapa yang lebih dulu memperoleh angka lima belas. menendang. Aku taruhan banyak buat kamu. “Makanya jangan sampe kalah. .. “Kamu harus menang.. sistem pertandingannya satu babak dan memakai satu sisi lapangan. “Oke. yang melakukan pelanggaran akan kehilangan giliran untuk menyerang. “Okee. jadi pertandingannya one on one.. “Kamu taruhan banyak?” “Lumayan buat nambah-nambah kalo menang.” lanjutnya.

Vira yang kelihatan nggak berdaya di awal pertandingan. *** Dia seorang shooting guard! Dan jago menembak tiga angka! Sekarang Vira tahu posisi Bianca dan dia tahu cara menghadapi penembakpenembak jarak jauh. Penonton bersorak riuh. Dia nggak akan menembak dari jauh dua kali. Dia coba memblokir gerakan Bianca. Bianca mencoba masuk melalui sisi kiri Vira. lalu berbalik dan siap menyerang kembali. Vira mengira Bianca akan coba menerobos dari sebelah kanan dirinya. atau duitnya yang bakal melayang. Untuk kedua kalinya Bianca melakukan tembakan dari luar area three point shot. Itu terlalu kebetulan. Dribel sebentar. Dia malah mundur hingga masuk ke area three point shot. Tapi dia salah. Vira coba menghadang sambil mengukur kemampuan lawan. kecuali dia seorang shooting guard! batin Vira. Secara nggak terduga. Bianca langsung melakukan tembakan dari luar area three point shot. Rei menepuk keningnya. Tentu aja Vira nggak mau membiarkan Bianca lolos begitu aja. sambil tangannya menggapai merebut bola. Entah apa yang dipikirkannya. Masuk! 2-0 langsung di awal pertandingan. Gerakan memutar! Udah basi! batin Vira. Tiba-tiba aja Bianca memutarkan badannya 250 derajat.*** Bianca mendapat giliran menyerang pertama. Vira menunggunya di depan garis three point shot. Tapi dugaan Vira salah. Jangan beri mereka ruang menembak! . Dan masuk! 4-0 untuk sang penantang. Bianca membawa bola ke garis tengah. Vira nggak terpancing gerakan Bianca.

Bianca kembali menyerang. hingga Vira akhirnya memutuskan untuk maju. Penonton bersorak riuh termasuk Rei. Tapi baru aja dia akan melakukan hal itu. Bianca menatapnya sinis. Dan ternyata Bianca emang nggak menembak. Vira berhasil mencuri bola! Giliran Vira melakukan serangan. Tapi tiba-tiba dia merasa kakinya jadi berat. Salah perhitungan sedikit. Vira cuman bisa pasrah membiarkan Bianca melewatinya dan memasukkan bola ke ring dengan sebuah layup yang cantik. Tapi Bianca bisa melakukannya dengan sempurna. Vira kembali bersiap. tapi Vira yang tahu gerakannya bergerak lebih cepat. Bianca coba mengecoh Vira dengan seakan-akan melakukan tembakan. lalu tiba-tiba gerakannya berubah ke sisi kiri. Saat Bianca masih mendribel bola. Bianca maju menerjang dirinya. tangan kirinya menyambar bola. Tapi Vira nggak terkecoh. Kali ini Vira maju menghadang. Vira tersentak dan hampir jatuh tersungkur. Bianca ternyata secara jitu berhasil menyelundupkan bola di antara kedua kaki Vira. Dia tahu. Vira yang nggak menyangka Bianca bakal melakukan hal itu mencoba menghadang. Curang! sungut Vira dalam hati. Serangan Bianca dihadapinya dengan lebih agresif. tapi hanya mendribel bola di sekitar garis tengah. Sempat terjadi saling dorong. Vira lalu melakukan gerakan memutar dan tangan kanannya menangkap bola yang akan terlempar. Pegangannya pada bola terlepas dan Bianca memanfaatkan kesempatan untuk mengambilnya. Ternyata tuh cewek nggak cuman bisa menembak jauh. Vira coba melakukan gerakan menipu dengan seolah-olah mau masuk dari sisi sebelah kanan Bianca. Gerakan melewati lawan tadi adalah gerakan yang sangat sulit. . Dia nggak langsung masuk. Dia mencoba menerobos lewat kiri bawah. tapi jago mengontrol bola dan dribel. Kontak badan yang lumayan keras terjadi. Tapi Bianca nggak terpancing. seakan-akan menunggu Bianca maju menerjang. menembak bola dalam posisi berdekatan dan jarak yang masih jauh dari ring adalah pekerjaan sia-sia. 5-0! Dia benar-benar hebat! Tanpa sadar Vira memuji dalam hati. seperti ditahan tangan raksasa dari bawah. bola akan terlepas.

Niken baru tahu itu dari Amel yang meneleponnya.” kata Bianca sinis. “Nggak tau. Dia tahu reputasi Vira dalam hal mengepak pakaian. Niken mengangguk..“Jadi cuman segini kemampuan pemain yang jadi andalan tim Jabar? Heh. Makanya dia bela-belain dateng malem-malem pakai sepeda untuk bantu sahabatnya itu beres-beres. *** Pertandingan baru berjalan sekitar lima belas menit. Ke mana sih dia? tanya Niken dalam hati. tapi terus pergi lagi. tapi Vira udah tertinggal 9-0..” Niken melirik jam tangannya..... Dia emang bener-bener kecapekan. Udah hampir jam sepuluh. Dia sama sekali nggak punya kesempatan untuk mendapat poin. . Cuman biasanya dia melakukannya pas malam Minggu.. Berantakan! “Tunggu aja. Cuman ada Sita yang ternyata belum tidur. atau kalo besoknya libur. “Bukan siapa-siapa. Tapi besok kan sekolah.” jawab Bianca sambil bersiap menyerang kembali. bikin malu aja. Niken nggak menjumpai temannya itu. kan?” tanya Sita. Lagi pula Vira harus mengepak pakaiannya karena sepulang sekolah dia langsung pindah ke hotel. fisik Vira terlihat jeblok. Apalagi fisiknya kepayahan mengimbangi permainan cepat Bianca. Dia tau kalo gue pemain tim Jawa Barat? Siapa dia? “Siapa sebenarnya lo?” tanya Vira. Nggak seperti biasanya.. “Vira ke mana?” tanya Niken. Sebetulnya kebiasaan keluar malam dan pulang dini hari udah sering dilakukan Vira. Tadi sih udah pulang. *** Sesampai di rumah Vira. Kamu tidur sini.

Bianca kembali berhasil mengecoh Vira dan dengan sedikit pamer melakukan gerakan slam saat memasukkan bola ke dalam ring. 10-0. Gue kenapa sih? tanya Vira dalam hati. Seluruh kemampuannya mendadak hilang malam ini. Vira seperti orang yang baru belajar maen basket. Bianca mengangkat tangannya seperti ketika meminta time-out. “Pertandingan selesai!” teriaknya lantang sambil menatap sinis pada Vira. “Apa maksud lo?” tanya Elmo. Sebagai jawaban, Bianca menunjuk papan skor. “Kalo gue terusin, kasian dia. Gue nggak mau dia mati kecapekan malam ini. Apalagi dia harus bertanding di Kejurnas dua hari lagi,” jawab Bianca, meremehkan Vira. Vira menatap Bianca dengan kesal. Apalagi mendengar ucapan Bianca yang meremehkan dirinya. Kalo aja gue nggak kecapekan! Kalo aja gue udah makan! “Lagian percuma diterusin, toh kita udah tau siapa yang bakal menang. Gue juga mo langsung balik ke Jakarta malam ini biar bisa langsung tidur di rumah.” Elmo sebagai “panitia pertandingan” nggak tahu harus berbuat apa. Di satu sisi, dia membenarkan ucapan Bianca. Percuma kalo pertandingan diteruskan. Vira nggak mungkin bisa mengejar ketinggalannya. Bukan cuman karena skornya yang ketinggalan jauh, tapi karena fisik Vira kelihatan udah nggak memungkinkan. Elmo menatap Vira seolah minta persetujuan. Tapi Vira diem aja, lagi sibuk mengatur napas. “Payah...” Bianca berjalan meninggalkan arena pertandingan. Sebelum keluar, dia menoleh pada Vira. “Jaga fisik lo. Kalo fisik lo masih kayak gini, lo bakal mampus di Kejurnas nanti...,” kata Bianca, seolah-olah sedang menggurui Vira. Vira cuman mendengus kesal sambil tetap menatap Bianca. Tiba-tiba matanya terbelalak. Sepertinya dia ingat sesuatu. Shit! Kenapa gue bisa lupa! Dia kan... “Tunggu!”

Seruan Vira membuat Bianca kembali menoleh ke belakang. “Pertandingan belum berakhir. Belum ada yang nyampe angka lima belas!” seru Vira lagi. Bianca membalikkan tubuh. “Jangan maksain diri deh! Lo jelas udah kalah...,” balas Bianca. “Siapa bilang? Selama belum ada yang nyampe angka lima belas, belum bisa dibilang siapa yang menang dan siapa yang kalah. Gue masih punya peluang untuk ngejar dan menangin pertandingan,” tandas Vira. “Heh! Lo ngigo? Berdiri aja lo udah kepayahan, mo ngomong soal menang...” “Lo yang ngigo kalo udah nyatain diri jadi pemenang. Gue belum merasa kalah. Gitu kan, Mo?” Bianca dan Vira sama-sama menatap Elmo yang dari tadi diam, minta keputusan darinya. “Apa pertandingan udah dinyatakan selesai sedang belum ada yang nyampe angka lima belas?” tanya Vira. Sekonyong-konyong terdengar seruan dari arah penonton. Seruan yang tadinya hanya berasal dari satu-dua orang, tapi lalu membesar, hingga akhirnya hampir seluruh penonton menyerukan kata yang sama. “TERUS!! TERUS!!! TERUS!!!” “Ini konyol...,” gumam Bianca. “Kenapa? Lo takut ngelanjutin pertandingan?” ejek Vira. “Takut? Nggak kebalik?” Vira kembali memandang Elmo. “Mo, gimana?” tanya Vira lagi. Setelah berdiam diri beberapa saat, Elmo mengangkat tangan kanannya ke atas. “Pertandingan belum selesai!” seru Elmo yang disambut sorak-sorai penonton.

*** Di sebuah kamar VIP di Rumah Sakit Borromeus Bandung...

Stella duduk di tepi tempat tidur sambil memandangi wajah mamanya yang tertidur pulas. Luka-luka di wajah dan sekujur tubuh mamanya sebagian udah mulai membaik. Tapi tetap aja butuh waktu yang nggak sebentar untuk memulihkan tubuh mamanya seperti semula, dan bisa butuh waktu lebih lama lagi untuk memulihkan luka kejiwaan yang diderita akibat peristiwa penganiayaan yang baru menimpanya. Don‟t worry, Mom! Stella nggak akan ngelepasin Dad setelah apa yang dia lakukan pada Mom. Stella janji, Dad pasti akan menerima ganjaran yang setimpal! batin Stella sambil mengelus tangan mamanya.

SEBELAS

PAGI-PAGI, Vira udah mendapat telepon dari Amel. “Ada apa, Mel?” tanya Vira sambil mengusap-usap rambutnya yang basah pake handuk. Dia baru aja selesai mandi. “Udah baca koran pagi ini?” tanya Amel, bikin Vira heran. Tumben Amel nelepon dia pagi-pagi cuman buat nanyain apa dia baca koran atau nggak. “Nggak. Koran apaan?” “Apa aja... hampir di semua koran ada kok beritanya.” “Berita apaan?” “Soal mamanya Stella...” Penasaran, Vira segera mencari surat kabar pagi ini, yang ternyata lagi dibaca oleh Sita. “Berita tentang apa?” tanya Sita sambil menyerahkan surat kabar yang ada di tangannya. “Tentang mamanya Stella...” “Stella? Stella Winchest? Temen setim kita?” “Siapa lagi...?” Setelah agak lama mencari, akhirnya Vira menemukan berita yang dimaksud Amel, di bagian berita kota Bandung dan sekitarnya. Ini dia! batin Vira.

Bareng Sita, Vira membaca judul berita yang dimaksud:

ISTRI WNA ASAL INGGRIS DIANIAYA SUAMINYA. Polwiltabes Bandung menahan pialang Wall Street. Membaca berita tersebut, Vira dan Sita berpandangan, seolah-olah mempunyai pikiran yang sama.

***

Saat kembali dari membeli makanan di depan rumah sakit, Stella melihat dua orang berdiri di depan pintu kamarnya. Dua orang yang sangat nggak dia harapkan kehadirannya. “Ngapain kalian ke sini?!” tanya Stella. Vira dan Amel yang sedang berdiri di depan pintu kamar menoleh. “Gue cuman mo nengokin keadaan nyokap lo,” jawab Vira pendek. Sementara Amel cuman diam. “Nengokin? Buat apa? Mom kan bukan nyokap lo! Buat apa lo urusin? Dan lo juga, Mel! Berani-beraninya lo nongol lagi di depan muka gue!” semprot Stella. “Disemprot” kayak gitu, Amel langsung mengkeret, sementara Vira tetap tenang. “We are sorry about what happened to your mother.. Kami baru tau beritanya dari koran pagi tadi, jadi baru sekarang sempet ke sini...,” ujar Vira. “Apa urusan lo ama nyokap gue, sampe lo sok care gitu?” “Mungkin lo lupa, tapi dulu nyokap lo sangat baek ke gue. Gue nggak mungkin ngelupain nyokap lo begitu aja, walau gue benci ama lo. Apalagi saat ini nyokap lo lagi dalam kesusahan...” “Siapa bilang nyokap gue lagi dalam kesusahan? Dia baek-baek aja...” “Lo nggak usah nutup-nutupin lagi. Berita tentang apa yang terjadi pada nyokap lo dimuat di hampir semua koran pagi tadi. Bahkan di TV juga. Dan gue, juga Amel, prihatin atas apa yang terjadi pada nyokap lo. Lupain dulu soal

permusuhan kita. Kami cuman mo liat keadaan nyokap lo, wanita yang udah gue anggap sebagai ibu gue sendiri.” Kali ini Stella terdiam mendengar ucapan Vira. Dia nggak berkata apa-apa lagi, langsung membuka pintu kamar dan masuk, sedang Vira dan Amel tetap menunggu di luar. Mereka berdua memutuskan baru akan masuk setelah dipersilakan. Nggak lama kemudian, wajah Stella muncul di balik pintu. “Nyokap gue lagi tidur. Sori, tapi dia butuh banyak istirahat. Apalagi seharian ini dia baru aja divisum untuk keperluan kasusnya di polisi.” Vira dan Amel menatap Stella. Mereka nggak tahu Stella berkata jujur atau nggak. Tapi Vira nggak mau bikin suasana jadi runyam. Ini rumah sakit dan dia nggak mau ribut di situ. Stella langsung menutup pintu kamar. “Gimana nih?” tanya Amel. Vira cuman mengangkat bahu. “Kita nggak bisa maksa dia. Itu haknya,” kata Vira, lalu melangkah meninggalkan pintu kamar, disusul oleh Amel. Baru sekitar sepuluh meter mereka melangkah, pintu kamar kembali terbuka. “Woi...!” panggil Stella, membuat Vira dan Amel menoleh. “Kalian boleh masuk...,” kata Stella pendek.

***

Jarum jam udah menunjukkan pukul sepuluh malam. Tapi Vira belum bisa memejamkan mata. Nggak tahu kenapa. Padahal dari pagi dia belum sempat istirahat. Sepulang sekolah, Vira langsung membesuk mama Stella di rumah sakit bareng Amel. Trus dia pulang, membereskan bajunya dan langsung pergi latihan. Seusai latihan, Vira langsung pergi ke hotel. Lalu tadi habis makan malam, ada brifing sebentar dari Pak Isman. Sampai jam setengah sembilan lebih, baru setelah itu pergi tidur. Tapi Vira sama sekali nggak merasa mengantuk setelah melakukan

Stephanie terlihat udah tidur. Apalagi kalo lagi ngobrol dengan Amel. supaya nggak terganggu orang yang lalu-lalang. Mereka udah pada tidur belum ya? tanya Vira dalam hati. Menyadari hal ini. Saat akan menekan tombol di HP-nya Vira baru ingat ada orang tidur di sebelahnya. Have a nice dream aja deh! batin Vira. Dan mengganti baju tidurnya dengan T-shirt dan celana selutut.. Gimana kalo nanti suaranya terlalu keras dan bikin Stephanie bangun? Apalagi kalo ngobrol kadang-kadang dia nggak inget tempat. “Steph. Niken. Amel. atau bahkan ngakak. Vira memilih tempat duduk di pojok. Vira bangkit dari tempat tidurnya. *** Lobi hotel masih ramai dengan beberapa tamu yang sedang asyik mengobrol. padahal kan bisa aja HP-nya tetep nyala tapi deringnya di-set silent atau getar doang. Mungkin karena kecapekan.berbagai aktivitas seharian ini. Dia bermaksud menelepon temen-temennya. Vira melirik ke tempat tidur di sebelahnya. Amel atau Niken ya? Vira menekan nomor HP Amel. Sekadar ngobrol. Kadang-kadang suka ngikik. Dinginnya AC kamar hotel nggak membuat dia bisa memejamkan mata.. Dia udah tertidur pulas.” panggil Vira perlahan. Setelah lama menunggu. Bukan karena Amel nggak mau diganggu.. Di sana dia bisa menelepon sepuasnya tanpa mengganggu orang lain. ternyata cuman dijawab pesan yang mengatakan nomor yang dituju nggak aktif atau di luar jangkauan. Vira tahu. .. itu artinya Amel udah tidur. Dia tahu kebiasaan Amel yang selalu mematikan HP-nya kalo tidur. Panggilan itu nggak membuat Stephanie membuka mata. Vira bermaksud pergi ke lobi hotel.. Vira meraih HP-nya. Ada-ada aja alasannya. atau siapa aja kek. tapi karena dia merasa nggak enak sama anggota keluarganya yang lain kalo tengah malam HP-nya berbunyi. atau lagi bermimpi indah karena dia baru aja terpilih secara aklamasi sebagai kapten tim tadi.

Sita? Cewek yang baru masuk ke lobi emang Sita. Saat menunggu Niken menjawab teleponnya. Terdengar nada sambung. Vira? Halo?” Tentu aja Vira nggak menjawab panggilan Niken.Vira lalu menekan nomor HP Niken. Sedang cowok yang bareng dia memakai jaket dan topi. hingga Vira nggak bisa melihat wajahnya. . apalagi postur tubuhnya. pada sepasang remaja yang baru aja masuk ke lobi.. Dia kan.. secara nggak sengaja pandangan Vira tertuju ke pintu masuk hotel. karena saat itu perhatiannya sedang tertuju pada Sita dan cowok yang bersamanya. Walau begitu Vira merasa nggak asing dengan jaket dan topi yang dipake cowok tersebut. “Halo.

” pesan Pak Isman di ruang ganti pemain. yaitu setiap tim akan saling bertemu. Tapi kita tetap harus waspada. dan Lampung. *** Penonton yang memadati GOR C‟tra Arena bertepuk tangan meriah saat pemain kedua tim memasuki lapangan. . Jangan gugup dan tetap fokus pada permainan. Tim dengan nilai kemenangan tertinggi akan menjadi juara grup dan berhak ikut babak final di Jakarta sebulan lagi. Apalagi ini pertama kalinya kalian bermain di turnamen tingkat nasional. Kualifikasi di Bandung diikuti tiga provinsi. Apalagi saat tim Jawa Barat masuk. Hari pertama kualifikasi dibuka dengan pertandingan antara tuan rumah Jawa Barat melawan Lampung. Banten. tapi Bengkulu mengundurkan diri karena masalah intern di kepengurusan PERBASI daerahnya. tepuk tangan terdengar lebih bergemuruh.DUA BELAS PERTANDINGAN kualifikasi Kejuaraan Nasional Bola basket Putri dimulai. “Sejauh ini prestasi Lampung memang di bawah kita. Seharusnya ada empat peserta. yaitu Jawa Barat sebagai tuan rumah. Sistem pertandingannya adalah setengah kompetisi.

tapi nggak gampang mencari seseorang di antara ribuan penonton. dan Poppy sebagai starter.“Terkenang masa lalu?” celetuk Stephanie lirih pada Rida yang berada di sampingnya. Yang lainnya bermain ofensif. terutama saat di final melawan SMA Altavia. Rei juga bilang bakal datang. kecuali yang bernomor punggung 6. Vira coba mencari orang-orang yang dikenalnya. Bapak tahu skill mereka tidak sebagus kalian. Pertandingan quarter pertama dimulai. terutama dalam hal dribel. Amel udah janji bakal nonton dan ngajak yang lainnya. Pikirannya teringat saat bersama tim SMA 31 di turnamen basket antar-SMA se-Bandung Raya. . Alexa. “Walau usia para pemain Lampung lebih tua daripada kalian. Rida merasa peristiwa itu baru kemarin. Dia pindahan dari Jawa Tengah dan Bapak tahu dia punya skill yang bagus. apalagi ngobrol dengan cewek itu. Karena itu Bapak tugaskan Rida untuk menjaga dia. dan sedikit dibantu oleh Poppy. Rida cuman tersipu malu. Untuk quarter pertama ini kita harus langsung tancap gas untuk menjatuhkan mental mereka. Mereka langsung melakukan serangan kilat melalui operan panjang langsung ke depan. Walau begitu Vira yakin. Di quarter pertama. dengan tim dan event yang lain. pasti ada teman-temannya yang datang menonton. Jadi mereka belum sempat ngobrol banyak. Indriyati. membuat barisan pertahanan tim Jawa Barat sedikit pontangpanting. tim Jawa Barat menurunkan Vira. Cuman Niken yang Vira nggak tahu bakal datang atau nggak. Stephanie. sedangkan Tim Lampung memakai kostum kuning-kuning. Apalagi beberapa hari ini Niken nginep di rumah ortunya dan baru balik ke rumah Vira malam sebelum Vira nginap di hotel. Rida. Vira menyapukan pandangannya ke seluruh penjuru arena. Tim Lampung memenangi perebutan bola di udara. Sekarang dia kembali berada di GOR ini. Penonton memenuhi hampir seluruh tempat duduk GOR yang berkapasitas sekitar lima ribu penonton itu. memakai kostum biru-biru. beberapa saat sebelum pertandingan dimulai. Mengerti!?” Pak Isman memberikan instruksi di pinggir lapangan. apalagi itu dilakukan sambil berjalan. termasuk Vira. Belakangan ini dia jarang ketemu.

” Dengan cerdik. No.. Vira tertahan oleh tangan lawan yang coba menutup gerakannya. Dribel sebentar. Bola sekarang berada di tangan tim Jawa Barat. coba merebut bola. Gerakan Rida dihalangi oleh center lawan yang bertubuh lebih tinggi darinya. “Ayo. Saat itulah salah seorang pemain lawan yang berada di dekatnya mulai menghadang. Dengan sigap dia berhasil menangkap bola yang dioperkan rekannya dari tengah. “Steph. Vira sempat melirik pemain yang baru aja masukin bola. Alexa mendribel bola sebentar sebelum memberikannya pada Poppy. dengan cerdik dioperkannya bola pada Rida yang udah . Vira mengoper bola pada Rida dengan cara memantulkannya ke lantai. memutar badannya dan melakukan layup cantik. Poppy nggak mau berduel dan langsung memberikan bola pada Vira yang telah melewati garis tengah. Masuk! Nilai pertama untuk tim Lampung. Dia berhasil menggapai bola lebih cepat dan langsung mengoper ke Stephanie. dan memutar badan membelakangi lawannya. Seorang pemain lawan mendekati Vira. saat dia kembali dihadang. Tiba-tiba Vira melakukan gerakan cepat. Vira berlari hendak mengambil bola. mencari teman. 6! Jadi ini pemain pindahan dari Jawa Tengah itu! Boleh juga! batin Vira... Rida melirik ke kanan dan ke kiri. yang membawa bola hingga melewati garis tengah. Diterima baik oleh Rida dan dia mencoba langsung menuju ring. berpacu dengan pemain lawan di dekatnya. Tapi seorang pemain lawan yang ada di dekatnya berhasil menghadang operan Rida. badannya sedikit dibungkukkan dan dia coba melewati lawannya dari samping kiri bawah. Stephanie langsung menusuk ke ring dari sisi kiri. jangan patah semangat!” Stephanie sebagai kapten memberi semangat teman-temannya.. Sambil mendribel bola. Bola pun terpental liar.” Stephanie bersiap menerima bola operan Rida. lalu berhasil berkelit dari hadangan Poppy. Vira mendribel bola.Salah seorang pemain Lampung berhasil menerobos hingga ke bawah ring. “Da...

Saat guard lawan menghadangnya. Rida menembak langsung. Walau masih berusia muda. karena para pemain cadangan tim Jawa Barat pun pelan-pelan mulai menunjukkan mereka nggak kalah dengan para starter. keadaan tetap nggak berubah. kualitas teknik dari para pemain Jawa Barat mulai terlihat. Apalagi setelah pemain andalan mereka berhasil dimatikan. Mereka mencoba kembali dengan operan panjang. Tim Jawa Barat tetap mendominasi perolehan angka. Tapi itu nggak berlangsung lama. “Kita menang!” teriak Poppy dengan wajah gembira. apakah mereka bisa mengemban tugas yang sangat berat.menunggu di tengah. Dan langsung memberikannya pada Vira. perbedaan angka kembali menjauh. Stephanie langsung masuk ke bawah ring dan melakukan lay-up. Tim Jawa Barat memimpin dan perlahan-lahan mulai menemukan bentuk permainannya. hingga perbedaan angka antara kedua tim jadi menipis. Pertandingan pun berakhir dengan skor 71-56 untuk kemenangan tim Jawa Barat. Fast break! Vira berlari cepat ke depan. Tapi kali ini tim Jawa Barat udah siap. Bahkan yang terlihat di lapangan. Hingga quarter pertama berakhir. Di quarter kedua dan seterusnya. Ini ujian pertama bagi Tim Bola Basket Putri Jawa Barat yang sebetulnya merupakan tim junior. Lampung sempat menampilkan perlawanan di quarter ketiga. . Jawa Barat unggul 16-7. para Young Guns ini nggak terlihat gugup menghadapi lawan yang jauh lebih senior dan berpengalaman. dia langsung mengoper bola pada Stephanie yang datang dari belakang. saat beberapa pemain tim Jawa Barat seperti Vira dan Stephanie diganti. Stephanie menjadi pencetak angka terbanyak di quarter pertama dan Vira jadi penyumbang assist (operan yang menghasilkan angka) terbanyak. dan masuk! Kedudukan sekarang sama kuat. sambil berpelukan dengan yang lain. hingga permainan nggak bisa berkembang. tim Lampung yang kelihatan jadi gugup. Apalagi setelah Stephanie dan Vira masuk lagi di quarter keempat. Tim Lampung kembali mengatur serangan. Selanjutnya. Rida berhasil mencegat operan panjang ke area three point shot. Bola masuk ke ring dengan mulus.

Lagian ibunya juga menyuruh dia tinggal di sini selama Vira nggak ada. Karena itu dia harus belajar sungguh-sungguh supaya keinginannya tercapai. Dari kemarin Niken emang cuman tinggal sendiri di rumah Vira.bertanding di Kejurnas tingkat senior. Niken sebetulnya udah berusaha mengusir kesepiannya. supaya persiapan lebih mantap. Jadilah sekarang setiap pulang sekolah Niken selalu langsung pulang... karena Vira dan Sita nginep di hotel selama pertandingan. supaya biayanya nggak terlalu berat. atau latihan soal untuk persiapan Ujian Nasional (UN) atau ujian masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Kalo nggak tidur. kalo aja Vira nggak nitipin rumahnya ke dia. jadi Niken sering mampir barang satu atau dua jam sepulang sekolah atau kalo hari libur untuk sekadar numpang baca buku-buku atau majalah di situ. Mal di dekat sekolah udah selesai dibandung dan di dalamnya ada toko buku. Tapi Niken nggak mau. Niken pengin tinggal di rumahnya sendiri. “Kamu jangan kalo lagi seneng aja mau tinggal di situ.” kata ibunya. Menjaga rumah Vira selama dia nggak ada itu merupakan salah satu bentuk tanggung jawab kamu. Dia nggak mau terus-terusan berutang budi pada Vira walaupun . Vira sebetulnya pernah menawari Niken untuk ikut salah satu bimbingan belajar (bimbel). Dan mereka telah melewati ujian tersebut dengan cukup mudah. Nggak sendiri banget sih karena ada Bi Sum. nggak mampir dulu ke toko buku sebagaimana hobinya beberapa bulan terakhir ini. “Jangan dulu gembira. dengan biaya ditanggung Vira. dia isi waktunya dengan mengerjakan PR. *** Di rumah sendirian lama-lama bikin Niken bete. Sekali-sekali kamu juga harus punya tanggung jawab. Kalo sepi begini. tapi kan Bi Sum selalu sibuk dengan tugasnya sebagai pembantu. Niken emang punya cita-cita meneruskan kuliah di PTN. Pertandingan berikutnya akan lebih berat. jadi nggak bisa terus menemani Niken ngobrol kalo Niken kesepian.” Pak Isman mengingatkan di tengah-tengah euforia kegembiraan anak-anak didiknya.

Kalo udah capek belajar. Jadi dia nggak punya alasan buat ngadain rapat sepulang sekolah sampe sore seperti yang duludulu. Kalo ditanya apa dia bakal ikut ujian masuk PTN. Tapi tetap aja itu nggak bisa mengusir kesepian yang dirasakan Niken. Apalagi kalo Vira berhasil membawa Tim Basket Jawa Barat menjadi juara di Kejurnas yang lagi diikutinya.Vira-nya sendiri nggak pernah mikirin soal utang budi. Jadi dia tetap berusaha sendiri dan tetap optimis walau tanpa ikut bimbel. yaitu jalur khusus merekrut mahasiswa baru tanpa ujian.. Sejak putus. liat aja ntar. Sebetulnya Vira mengizinkan Niken mengajak salah satu atau beberapa teman sekolah mereka untuk menginap di rumahnya. Vira sendiri juga nggak ikut bimbel. Niken sendiri nggak mungkin mengajak ibunya ikut nginep. nonton TV. “Yaaa. Lengkaplah udah kesepian Niken. Kata ibunya. yang dianggap punya prestasi tersendiri. karena ibunya harus menjaga warung serta membuat pesanan kerupuk dan gorengan tiap hari. karena Vira sendiri nggak pernah cerita soal itu. Tapi ibu Niken melarang. atau nyetel DVD. olahraga. Rei jug audah nggak pernah lagi datang menemuinya. peluangnya akan semakin besar.. sebetulnya justru Vira yang punya peluang besar masuk PTN dibandingkan Niken. Mengajak Panji . Niken bisa kena getahnya. biasanya prestasi di bidang akademik. dia cuman menjawab dengan wajah pasrah. Niken emang selalu berusaha menghindar dari Rei.” Tapi walau nggak sepinter Niken. Tapi Niken tahu diri. Niken nggak boleh mengajak orang lain menginap di rumah orang lain kalo yang punya rumah nggak ada di rumah—walau itu diperbolehkan yang punya rumah dan itu temen sekolah mereka sendiri. Niken sendiri nggak tahu Vira mendaftar untuk ikut PMDK atau ngak. hingga cowok itu menyerah dan nggak pernah berusaha menemuinya lagi. atau seni. Dan keberhasilan Vira yan gpernah membawa SMA Altavia juara turnamen basket se-Jawa dianggap cukup untuk membawa dia lolos PMDK. biasanya Niken membaca surat kabar. sejak pemilihan ketua OSIS minggu lalu. yaitu melalui jalur Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK). Lagi pula kalo ntar ada apa-apa di rumah karena ada orang lain yang menginap. Apalagi dia udah nggak jadi ketua OSIS lagi.

Vira yang duduk di dalam bus sempat melihat melalui jendela. kali ini Vira menyambut uluran tangan Rei dengan wajah dingin. Bukan apa-apa. Sekarang aku capek dan kita harus cepet-cepet balik ke hotel.. Saat sedang sendiri begini. Niken kadang-kadang teringat pada Rei.. Aku pengin ngomong sesuatu ama kamu. kan Niken dan ibunya yang nggak enak ke Vira.. seolah-olah nggak melihat raut wajah Vira yang udah kayak benang kusut.. “Kalo temen kamu waktu di Altavia masuk tim. ntar aku hubungi kamu. “Mo ngomong apa?” tanya Rei.. Kenapa sih dia tiba-tiba ngundurin diri?” Rei menanyakan soal Stella. “Rei. “Selamat ya.. masuk ke bus.. sekarang aku nggak bisa ngobrol banyak. Lalu Vira langsung berjalan melewati Rei. Rei sedang ngobrol dengan seseorang di luar bus dengan akrab.. kenapa sih kamu jadi gitu? tanya Niken dalam hati. walau aku rasa kamu maennya belum maksimal.. Rei. walau mungkin Vira-nya sendiri bisa maklum.. Tapi nggak sekarang. Penting. “Ntar aja. Kalo ada barang yang rusak atau hilang karena ulah Panji. *** Rei udah nunggu di depan bus yang akan membawa rombongan Tim Jawa Barat kembali ke hotel. Vira cuman memandang Rei dengan tatapan yang lain dari biasanya. “Thanks. Niken cuman nggak suka dengan sikap Rei yang nggak mau terus terang dan terkesan nutup-nutupin sesuatu ke dia. Jadi sori ya. Nggak seperti biasanya. Rei. Rei cuman bisa bengong melihat sikap Vira. Panji nggak bisa diem. Niken nggak bisa mungkin bahwa dia masih sayang Rei..” jawab Vira pendek. Tapi cuman sebentar.. Saat menunggu bus berangkat.” kata Rei sambil mengulurkan tangan. tapi it’s okay for a start. mungkin kalian bisa maen lebih bagus dari ini. Niken takut adiknya ntar malah bikin ulah di rumah Vira..” sahut Vira. Walau dia yang mutusin hubungan mereka.adalah hal yang paling dihindari Niken... .” jawab Vira.

Dugaan Vira mengenai Rei kini semakin kuat. .Cowok itu bahkan sempat memberi selamat pada orang itu dan menepuk-nepuk pipinya.

“Hai. untuk kemudian diberikannya pada mama Stella.. Begitu membuka pintu kamar rawat. Tapi sekarang. Kalo dipotong paling sampai sebatas bahu lewat dikit. Tumben lo potong rambut. Stella kaget sekali melihat siapa yang ditemuinya di dalam kamar mamanya... Siang ini. Karena kondisi mamanya membaik. Lis. sampai di atas kerah seragam sekolahnya. kondisi mama Stella udah agak mendingan. Dia lagi! Vira lagi duduk di samping tempat tidur mama Stella. mengupas jeruk yang dibawanya. Lisa memotong rambutnya pendek. Stel. Stella yang udah tiga hari membolos pun mulai masuk sekolah lagi. Lisa selalu membiarkan rambutnya panjang. Sekarang beliau udah bisa makan sendiri sambil duduk di tempat tidur. Luka-luka di sekujur tubuhnya juga udah mulai mengering. lama nggak ketemu.” sapa Vira ramah begitu tahu siapa yang datang. Vira berkomentar demikian karena saat dia masih sekolah di Altavia. Kali ini dia bareng Lisa.. “Hai.TIGA BELAS SETELAH dirawat beberapa hari di rumah sakit.” sapa Vira pada Lisa. sepulang sekolah Stella langsung pergi ke rumah sakit. Vira kemudian melihat Lisa yang berada di belakang Stella.. .

Vira kan sekarang lagi pertandingan dan harusnya nginep di hotel bareng timnya.. “Ngapain lagi lo ke sini?” tanya Stella jutek. Mom. Tante. Kayaknya dia masih takut ketemu Vira. Stella emang nggak bisa bertindak dan ngomong seenak hatinya. “Stella!” Mama Stella memperingatkan anaknya untuk menjaga sikap. daripada nanti nggak enak kalo dingin. “Nggak papa kok. Stella menggeleng. Sebetulnya buat Mom. nih tadi kebetulan Vira bawa nasi dan gurame asam pedas. Kok bisa ada di sini?” Stella pura-pura memberi alasan.” sahut Vira sambil melirik Stella.” jawab Vira. belum sempet makan.” Stella berusaha menolak secara halus. Vira tertawa geli melihat Stella yang jadi salah tingkah di depan mamanya.. tetap “ngumpet” di belakang Stella. Stella terdiam mendengar ucapan Vira. “Kamu udah makan?” tanya mama Stella pada anaknya. soalnya kayaknya porsinya lumayan banyak. tapi Mom barusan makan jatah dari rumah sakit. Mamanya sangat sayang pada Vira dan menganggap Vira seperti anaknya sendiri. jadi gue bisa keluar sebentar. Vir?” kata mama Stella. *** . Stella belum laper kok. Dari sekolah dia emang langsung ke rumah sakit. Lisa kalo mau.Lisa nggak menjawab sapaan Vira. Di depan mamanya. Andai tahu kelakuan anaknya terhadap Vira saat peristiwa keluarnya Vira dari SMA Altavia. “Nggak usah. Nggak papa kan. Untung Vira nggak ambil pusing dengan sikap Lisa itu. Jadi buat kamu aja deh. maksud Stella. makan aja. Dia pasti akan membela Vira. Stella menggeleng. mama Stella pasti nggak akan membiarkan anaknya bertindak sewenang-wenang terhadap Vira. “Engg. Dalam hati. “Kalo belum. “Hari ini nggak ada pertandingan.

“Gue nggak suka lo sering-sering nemuin nyokap gue,” kata Stella saat berjalan bareng Vira menyusuri koridor rumah sakit. Pada mamanya, Stella beralasan akan mengantar Vira yang akan pulang. Sedang Lisa tetap di kamar. “Kenapa?” “Pokoknya gue nggak suka aja! Lo mo cari muka di hadapan nyokap gue!?” Vira terdiam sebentar mendengar ucapan Stella. “Terserah lo mo nganggap gue cari muka ke nyokap lo atau apa pun. Yang jelas, gue sering nengokin nyokap lo karena gue care ama dia. Kalo ada orang yang baik ama gue, gue juga akan baik ke dia. Juga sebaliknya.” Ucapan Vira itu serasa menyindir Stella. “Ingat... apa yang gue lakuin terhadap lo itu akibat ulah lo juga. Gue nggak akan pernah lupa perbuatan lo ke Hera,” kata Stella nggak mau kalah. “Kenapa lo selalu aja ngungkit soal itu? Gue kan udah pernah bilang saat itu gue emang salah, dan gue udah ngakuin kesalahan gue.” “Lo kira ngakuin kesalahan aja udah cukup? Apa yang lo lakuin udah ngubah hidup seseorang! Ngubah hidup Hera. Dia sampai pindah sekolah. Lo udah ngancurin hidup dia!” Mendengar ucapan Stella, Vira menghentikan langkahnya dan menatap Stella. “Apa lo yakin hidup Hera jadi ancur gara-gara gue?” kata Vira. “Maksud lo!? Jelas aja lo udah ngancurin hidup dia. Lo udah bikin dia keluar dari Altavia!” “Jadi lo pikir kalo Hera nggak sekolah di Altavia, hidupnya akan hancur? Apa lo udah pernah ketemu dia setelah kejadian itu?” “Ketemu? Hera jadi stres, frustrasi, dan dia nggak mau lagi ketemu atau ngobrol dengan gue, dengan Lisa, dan semua anak Altavia. Hera jadi hilang dari kehidupan gue, padahal dia orang pertama yang jadi temen gue saat gue baru masuk Altavia. Dia yang bikin gue mencintai basket, dari sekadar hobi, lalu menjadi bagian hidup gue. Gue tau Hera sangat betah dan senang sekolah di Altavia. Dia punya impian di sana. Dan lo udah ngancurin impian dia.” Udah gue duga! batin Vira. Dia ingat ucapan Hera saat ketemu dulu.

“Gue nggak tau apa harus benci atau malah harus berterima kasih ama lo. Setelah pindah dari Altavia, gue malah mendapat berbagai pengalaman menarik yang membuat gue merasa menjadi diri gue yang sebenarnya. Dan terus terang, semua itu nggak akan gue dapetin, kalo gue masih ada di Altavia.” Vira hanya menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar ucapan Stella. Lalu tanpa berkata sepatah kata pun, dia melanjutkan langkahnya, tapi bahunya dicekal Stella. “Lepasin...!” kata Vira. “Jangan ganggu lagi kehidupan gue, atau keluarga gue. Gue nggak mau liat wajah lo lagi, apalagi deket-deket nyokap gue, atau...” “Atau apa?” Stella mendengus kesal dan mendekatkan wajahnya ke wajah Vira. “Gue bisa berbuat lebih dari yang gue udah lakuin di Altavia!” tandas Stella. Vira melepaskan cekalan tangan Stella. “Lo jangan kuatir... gue nggak akan jenguk nyokap lo lagi. Lagi pula nyokap lo udah baekan, jadi gue nggak kuatir lagi dengan kondisinya...,” jawab Vira, lalu pergi meninggalkan Stella. Baru beberapa langkah, Vira berhenti lagi dan kembali menoleh ke arah rivalnya itu. “Oya, soal Hera. Kalo lo bener-bener sahabat dia, harusnya lo cari tau soal dia dan gimana keadaannya sekarang. Jangan lo berkoar-koar soal kondisi dia setelah keluar dari Altavia berdasarkan kesimpulan lo sendiri!” ujar Vira. “Maksud lo?” Vira nggak menjawab pertanyaan itu. Dia kembali melangkah, meninggalkan Stella yang kebingungan dengan ucapannya.

***

HP Pak Isman berbunyi. Pak Isman yang akan kembali ke kamarnya mengambil HP dari pinggangnya. “Halo...”

“Maaf mengganggu, Pak Isman. Sekarang kami tunggu kehadiran Bapak di kamar 521.” “Ke... ada apa?” “Ada perubahan strategi untuk pertandingan besok.”

Untuk itu kalian harus banyak memberikan bola pada Sita jika dia dalam keadaan bebas. Susunan starter lainnya tetap sama seperti saat menghadapi Lampung. 85-26.EMPAT BELAS LAWAN kedua bagi Tim Jawa Barat adalah Tim Banten. penampilan sebuah tim bisa menurun. Semoga hal ini nggak terjadi pada mereka. bahkan boleh dibilang di atas rata-rata Tim Jawa Barat. Terbukti di pertandingan sebelumnya mereka membantai Tim Lampung dengan angka lebih telak. Tapi ini juga bisa merupakan kerugian. Tim Banten punya pemain dengan kemampuan teknik lebih baik. Dia menyaksikan pertandingan antara Tim Banten dan Tim Lampung dua hari lalu. Untuk pertandingan kali ini Sita diturunkan sebagai starter. apalagi kalo tim itu sedang bagusbagusnya. Dibanding Tim Lampung. “Mereka rata-rata berpostur tinggi. Ada dua pemain mereka yang merupakan anggota Tim Nasional. . Jangan melakukan tembakan tiga angka. karena dengan waktu istirahat yang lama.” Pak Isman memberikan instruksi. Fast break-nya sangat cepat. menggantikan posisi Poppy sebagai shooting guard. Skill anggota tim lainnya juga cukup baik. Tim Jawa Barat sebetulnya mempunyai keuntungan karena punya waktu istirahat lebih lama daripada Tim Banten yang baru aja bertanding dua hari yang lalu.

“Kita akan ke rumah temen lama. Tim Banten terus mengambil inisiatif serangan dan mengajak bermain cepat. Vira melakukan pivot . karena saat itu seorang pemain lawan menghadang dirinya yang membawa bola.. bawel aja lo! Sana gih kalo lo mo ke rumah Gita duluan. “Kita nggak bisa maen kayak gini terus!” kata Vira pada Stephanie yang ada di dekatnya.” Lisa mengkeret mendengar ancaman Stella.. setelah sebelumnya beberapa kali serangan mereka dapat dipatahkan oleh guard-guard Tim Banten yang bertubuh tinggi besar. “Maksud lo?” Vira nggak sempat menjawab pertanyaan Stephanie.. jadi mungkin agak sorean ke sana. Diimbangi dengan teknik dan strategi permainan yang lebih matang daripada Tim Jawa Barat.. Stella memberikan HP-nya pada Lisa. Sejak quarter pertama dimulai. Sebagai jawaban.” “Emang kita mo ke mana sih?” “Udah.*** Stella yang sedang menyetir tiba-tiba membelokkan mobilnya di sebuah persimpangan. nggak heran kalo dalam lima menit pertama Tim Banten udah unggul 8-2. bilang gue ada urusan sebentar.. “Lho? Kok belok? Rumah Gita kan lurus.” tanya Lisa yang duduk di samping Stella. Gue turunin lo di jalan. saat Tim Banten baru aja mencetak angka ke-12. *** Dugaan bahwa stamina Tim Banten bakal terkuras karena waktu istirahat yang lebih sebentar ternyata nggak terbukti... Mereka seolah punya tenaga ekstra. Satu-satunya angka bagi Tim Jawa Barat dibuat oleh Vira yang berhasil menembus masuk pertahanan Tim Banten. “Lo telepon Gita..” ujar Stella akhirnya.

Vira heran.. kenapa lo ke sini?” Stella nggak menjawab pertanyaan Lisa. posisi kamu bagus!” seru Pak Isman lagi. . Tapi lawannya yang merupakan pemain nasional yang udah senior nggak terpancing gerakan Vira. pass!” seru Vira tiba-tiba.” Operan Vira ke arah Sita yang tiba-tiba membuat lawannya kaget. “Pass. Shit! rutuk Vira dalam hati.(memutar badan sambil mendribel dengan satu kaki sebagai poros putaran) untuk memancing lawan mengikuti gerakannya. dan mencoba masuk ke daerah pertahanan lawan. “Jangan tembak! Oper lagi!” Sita mendengar seruan Vira.” “Trus. “Rumah Hera? Apa Hera ada di sini?” tanya Lisa. Tapi akhirnya dia sukses menangkap operan Vira. Pagarnya tertutup rapat. “Sita.. Vira yakin Sita nggak akan berhasil kalo memaksakan diri menembak. kok Pak Isman nggak tahu soal ini? “Tembak.. dan. tapi dia juga berada dalam posisi yang bagus untuk menembak. Dia menembak. Vira pernah melihatnya di TV saat membela Tim Nasional di ajang SEA Games dan dia masih ingat penampilannya saat itu. Dia tahu siapa yang menghadang Sita sekarang. Dia mencari bel pintu yang agak tersembunyi di balik pintu. Sita yang sebetulnya berada agak jauh dari Vira pun demikian.. “Shoot!” seru Pak Isman dari pinggir lapangan. Ada Rida. Alexa. Dia tetap menunggu di belakang Vira. Pemain nasional yang punya lompatan tinggi. “Gue nggak tau... Tapi gerakan Sita nggak jauh karena keburu dihadang. Dia mencoba mencari temannya melalui ekor matanya. Karena itu Sita memilih mendengarkan seruan Pak Isman... *** Rumah mewah itu dari luar terlihat sepi.

seorang wanita yang usianya nggak terpaut jauh dengan si bapak keluar. Kan Bu Irfan pernah cerita... “Itu lho.. “Mama kenal?” si bapak mengulangi pertanyaannya. Pa!?” terdengar seruan dari dalam halaman rumah. Stella baru kali ini melihat pria itu. ada yang cari yang namanya Hera.” Rida cuman manggut-manggut mendengar penjelasan Vira. Dia kan pemain nasional..” “Nggak ada? Tapi ini kan rumahnya. “Aku udah pernah liat lawannya. Dia udah memperingatkan tadi.” “Ooo. “Nggak ada yang namanya Hera di sini. Stella dan Lisa mengangguk.. “Dari mana kamu tahu tembakan Sita bakal diblok?” tanya Rida.” Si bapak cuman manggut-manggut..” “Siapa... *** Ribuan penonton di C‟tra Arena hampir serentak mengeluarkan seruan kecewa saat tembakan tiga angka Sita dapat diblok oleh lawannya. “Cari siapa?” tanyanya. anaknya Bu Irfan yang katanya lagi sekolah di Singapura. *** Seorang bapak gendut berusia setengah baya keluar dari pintu pagar.. Pak. “Ini. Dia menekan bel. “Hera?” Bapak itu mengernyitkan keningnya. . “Adik-adik mencari Hera?” tanya wanita itu. “Hera ada?” tanya Stella.. Ma. “Hera?” Nggak lama kemudian.Masih di situ! batin Stella. Mama kenal?” jawab si bapak. Vira cuman geleng-geleng kepala. dan bola keluar lapangan.

. Dia kelihatan nggak senang dengan ucapan Vira. Strategi yang Bapak terapkan saat melawan Lampung kemaren itu tepat.” .” Pak Isman memberi instruksi. Vira. alamat jelasnya Ibu tidak tahu. “Vir. Ibu cuma tahu bekas pemilik rumah ini pindah ke Jakarta. Kalo tidak salah sih di daerah Mampang atau di mana gitu. kita nggak bakal menang. “Apa maksud kamu?” tanya Pak Isman. tapi bukan berarti kita diam aja menunggu mereka menyerang. kemudian mengandalkan serangan balik..” potong Vira tiba-tiba.. Stella menjadi sedikit lemas. Harapannya mendadak hilang. Tapi untuk pertandingan ini.. Dik. “Vira. kamu jangan terlalu maju ke depan. Tapi dengan strategi seperti ini. menurut saya strategi bertahan itu keliru. “Kalian kurang konsentrasi. “Jadi kamu mo bilang strategi Bapak salah? Bapak tidak becus memasang strategi untuk kalian?” balas Pak Isman dengan nada suara mulai meninggi...” wanita itu menjelaskan pada Stella....” Stephanie memperingatkan Vira supaya diam. “Saya tidak tahu tujuan Bapak menerapkan strategi bertahan. Rumah ini udah dijual ke kami sekitar delapan bulan yang lalu. *** Quarter pertama berakhir. fokus pada pertahanan. “Dijual? Trus mereka pindah ke mana?” tanya Stella. Yang lain juga.“Maaf ya. Itu sama aja kita menyerahkan diri untuk dibantai.. Tim Banten emang lebih senior dan punya teknik yang bagus.” bisik Stephanie lagi. Saat ini kedudukan 21-9 masih untuk keunggulan Tim Banten. Yang namanya Hera sudah tidak tinggal di sini lagi..... “Saya nggak bilang begitu. “Wah. “Kita nggak bakal bisa menang kalo begini terus.” kata Vira... juga Rida. Kita justru harus tampil menyerang untuk punya peluang menang.” Mendengar penjelasan si Ibu.. sehingga kita bisa menang.

tapi bukan berarti nggak bisa dikalahkan. Apalagi kita udah ketinggalan lumayan jauh.. “Ucapan Bapak sudah jelas!?” Terdengar suara mengiyakan ucapan Pak Isman. Bertahan malah akan membuat mereka terus menambah angka. Vira hanya bisa mengangguk nggak rela. semua membenarkan perkataan Vira. apa kalian mampu?” “Mereka boleh dibilang lebih unggul teknik dan pengalaman. Bapak tidak memaksa!” Ucapan Pak Isman yang agak keras membuat para pemain terdiam. sekarang ini strategi untuk quarter kedua. menyerang adalah strategi terbaik saat ini.” sambung Alexa. Vira! Kalo kamu tidak setuju dengan strategi yang Bapak terapkan. “Saya kira Vira benar.” Dalam hati. termasuk Vira. “Cukup!” kata Pak Isman dengan suara agak keras... silakan keluar dari tim ini! Terutama kamu.“Kamu tau apa? Kamu mau kita melayani mereka secara terbuka? Dengan keunggulan teknik dan pengalaman mereka.... “Baik. Dan menurut saya. dengan strategi yang tepat. “Bapak pelatih kalian! Dan Bapak tahu apa yang terbaik untuk tim ini! Tugas kalian hanya bermain dan menuruti instruksi Bapak! Siapa yang tidak mau menuruti instruksi Bapak.” ..” kata Stephanie akhirnya. “Saya pikir juga begitu. Walau begitu nggak ada yang berani bersuara..

“Iya sih..LIMA BELAS “GUE nggak rela kalah dengan cara begini. wajar karena kita masih tim junior.. Vir.. “Lo jangan mulai macem-macem. Strategi Pak Isman itu salah.” “Trus.. “Gue nggak bakal mulai macem-macem kalo gue nggak yakin tindakan gue bener. “Yakin?” . Lo juga ngerasa begitu. asal kita punya strategi yang tepat. kan?” tukas Vira sambil melirik ke arah Pak Isman yang lagi ngobrol dengan Pak Dibyo. “Lo gila! Emang bisa?” “Potong leher gue kalo sampe akhir quarter ini kita nggak bisa menang atau minimal ngedeketin poin mereka... pasti semua bilang. Padahal walaupun kita dianggap tim junior.” “Kalo kita kalah dan gagal ke putaran final..” jawab Vira dengan nada yakin. kita bisa ngalahin Tim Banten. Skill mereka nggak beda jauh dengan kita.” sungut Vira saat berjalan memasuki lapangan untuk memulai pertandingan quarter kedua. Lo mo dikeluarin dari tim?” Stephanie mengingatkan.. lo mo ngapain?” Vira membisikkan sesuatu di telinga Stephanie.. tapi.

“Kalo kita menang dengan cara ini. Perubahan strategi “dadakan” yang dibuat Vira membawa hasil. Dengan posisi demikian. Tapi jangan sampe ketauan Pak Isman atau Pak Dibyo. *** Vira mulai melaksanakan rencananya.“Yakin. Lo kasih tau Hanna. . Pak Isman nggak menjawab pertanyaan asisten pelatihnya itu.” jawab Vira sambil mengedipkan mata. Tim Jawa Barat berubah menjadi tim yang lebih ofensif karena tiga pencentak angka terbanyaknya berada di depan. “Apa yang dilakukan Vira?” tanya Pak Dibyo yang melihat Vira sibuk mondarmandir di lapangan. Stephanie. dia mengambil alih posisi Hanna sebagai power forward. Vira sekarang berada di depan. Awas kalau dia berani macam-macam! batin Pak Isman. dia pasti nggak bakal marah. menjadi otak serangan Tim Jawa Barat. Dia cuman terus menatap Vira. Keringat dingin mulai terlihat di wajahnya. Apa-apaan ini? tanya Pak Isman dalam hati. Steph udah setuju. “Yup. “Pak Isman setuju?” tanyanya. Tapi mereka nggak mengira Tim Jawa Barat bakal mengubah formasi pemainnya. Kamu ingat kan saat kita melawan SMA 2?” Rida mengangguk. Lalu dia beralih ke Sita. “Yang bener?” tanya Rida nggak percaya. Vira. Saat pertandingan quarter kedua dimulai. Posisinya sebagai point guard diambil alih Hanna. Tim Bantel sebetulnya emang udah mengira di quarter kedua ini Tim Jawa Barat bakal tampil lebih ofensif daripada quarter pertama. “Apa-apaan ini!? Mereka bermain tidak sesuai instruksi kita!” kata Pak Dibyo.” Vira setengah berlari menghampiri Rida dan setengah berbisik ke cewek itu. dan Rida. gue kasih tau Rida dan Sita.

Perebutan bola . Nggak jarang para pemain Tim Banten harus mengalami shot clock violation (kehabisan waktu untuk menembak) karena ketatnya penjagaan Tim Jawa Barat. Dihadang oleh salah seorang pemain lawan. waktu istirahat berpengaruh saat permainan. Setelah mencetak angka. perainan Tim Jawa Barat menimbulkan secercah harapan. Sita berhasil mencuri bola dari salah satu pemain Banten. Di sini baru terlihat. Saat lawan membangun serangan. Walau masih setengah dari angka tim lawan. mereka langsung mendekat. Mereka seakan cuman berlari mengejar bola ke mana pun. tapi menunggu lawan di garis tengah. Gagal! Bola hanya mengenai pinggir ring dan memantul kembali ke lapangan. Saat itu Vira yang berada di bawah ring langsung me-rebound bola dan memasukkannya kembali ke ring dengan dibayang-bayangi seorang pemain lawan. hingga bola berbelok arah dan menuju Hanna. Nggak heran kalo Tim Jawa Barat dapat menghasilkan angka sedikit demi sedikit dan mulai memperpendek ketinggalannya. Rida mengoper bola pada Stephanie yang ada di sampingnya. Tim Jawa Barat nggak langsung mundur ke daerahnya. Rida coba memotongnya. Telapak tangannya cuman sempat menyentuh bola. tapi tangannya kurang panjang. Penonton yang sebagian besar merupakan suporter Tim Jawa Barat yang tadinya lesu karena timnya ketinggalan di quarter pertama jadi bersemangat lagi. Tim Jawa Barat seolah tidak memiliki strategi yang jelas. Tapi sebetulnya ini malah merepotkan Tim Banten. Tanpa buang waktu Stephanie langsung melakukan jump shoot dari three point shot area sebelum bisa dihalangi lawannya. Operan panjang dari guard Tim Banten langsung ke depan. C‟tra Arena pun jadi kembali bergemuruh oleh sorak sorai yang mendukung Vira cs. Vira dan Stephanie menjadi bintang dengan bergantian mencetak angka. permainan cepat yang diterapkan Tim Jawa Barat lama-lama membuat stamina para pemain Banten yang rata-rata udah berumur menjadi sedikit kedodoran. Mereka jadi nggak bisa bebas melakukan serangan karena terus ditempel putri-putri Jawa Barat tersebut. Dia langsung mengoper pada Rida dan melakukan fast break ke daerah pertahanan Tim Banten.Permainan di lapangan emang terlihat kacau. Angka mendekat menjadi 23-17. Di sisi lain.

Tapi terlalu keras hingga Hanna tersungkur. terutama pada Vira.” Stephanie berusaha membela Vira. Dia cuman menyesal. . Tinggal Pak Dibyo sebagai asisten pelatih Pak Isman yang berusaha menenangkan atasannya itu. Dia tahu. Setelah itu baru nanti akan diputuskan apakah kamu masih bisa berada di dalam tim ini atau tidak.” Vira mencoba membela teman-temannya. Vira! Kamu mau jadi pelatih di sini!? Silakan kalau begitu! Kalian bermain saja sesuka hati kalian!!” semprot Pak Isman. pasti Pak Isman bakal mencak-mencak karena strateginya dikacaukan oleh Vira. karena saya tahu dia juga bagus dalam menerobos ke bawah ring. Tim Banten meminta time out. kamu akan tetap di bangku cadangan sampai pertandingan ini selesai. Pak. “Pak. Si pemain lawan yang nggak rela bolanya lepas berusaha menghalangi Hanna dengan menyenggolnya. Vira sendiri udah pasrah dengan apa yang akan menimpa diirnya. Pak Isman langsung meluapkan kekesalannya. Vira menatap ke arah Stephanie.. tapi kami semua udah sepakat untuk lebih menyerang.. Semua pemain tertunduk mendengar ucapan Pak Isman. ini bukan kesalahan Vira. nggak urung ucapan pelatih Tim Jawa Barat ini membuat kaget seluruh pemain.terjadi antara Hanna dan salah seorang pemain Tim Banten. Bahkan saya yang mengusulkan agar Vira jadi forward. Saya yang memaksa teman-teman untuk bermain menyerang. hingga kedudukan sekarang menjadi 23-19. Empat angka lagi! kata Vira dalam hati sambil melihat ke papan skor.. Foul! Hanna sendiri berhasil mengeksekusi dua kali tembakan bebas. “Mau kalian apa sih!? Kalian udah nggak menganggap Bapak sebagai pelatih kalian!? Terutama kamu. Bahkan ada kemungkinan Vira bakal diganti. Hanna memenangi perebutan bola dan langsung mendribelnya. “Kalian ternyata sama saja! Sama-sama susah diatur!” “Saya yang salah. Dan benar. belum sempat menyamakan kedudukan sebelum time out. “Bapak tahu! Dan sebagai hukuman.” Walau udah menduga Pak Isman akan menjatuhkan hukuman pada Vira.

lo nggak usah membela gue. Seperti udah diduga.” jawab Stephanie..” “Udah. Gue udah puas kok karena apa yang gue rencanain berhasil dengan baik walau gue menyesal kita belum bisa nyamain kedudukan. Kita liat aja ntar apa yang terjadi.” tanya Amel..“Kamu coba membela Vira?” “Bukan. Siapa tau ada keajaiban. Pak Isman agak aneh hari ini. padahal dialah motor serangan Tim Jawa Barat yang lagi on fire.. “Ini semua salah gue.. Gue rasa lo bener. “Suatu saat kalian akan mengerti untuk apa Bapak lakukan semua ini. sementara Hanna diganti oleh Poppy.” “Udahlah. Nggak biasanya kan dia marah-marah begitu. *** “Thanks udah belain gue tadi..” *** Pertandingan quarter kedua kembali dilanjutkan. Stephanie juga ternyata ikut diganti oleh Agnes... Banyak yang menyayangkan Vira diganti.. nggak menanggapi ucapan Pak Isman. Semua pemain cuman diam. Steph.. Hanna juga. “Nggak masalah. “Tapi gara-gara gue.” . posisi Vira diganti oleh Alexa. dan kita bisa menang. Suaranya udah nggak sekeras tadi. ikut diganti.” Vira menengahi Stephanie. Digantinya Vira tentu aja menimbulkan pertanyaan di kalangan penonton. “Kok Vira diganti sih? Stephanie juga.” ujar Vira pada Stephanie. Pak. tapi.. nggak usah dipikirin. Nggak tahu dia bertanya pada siapa. Padahal tadi kan Pak Isman bilang cuman gue yang diganti. “kata Pak Isman di depan bangku cadangan. lo jadi ikut susah.

sebelum Rida membuat dua angka dari rebound hasil pantulan tembakan tiga angka dari Sita. Banyak yang meminta supaya Vira dimasukkan lagi dan Tim Jawa Barat kembali bermain menyerang.” perintah Pak Isman. Tim Jawa Barat pun kembali tertekan. dan perbedaan angka kembali membesar. “Kenapa sih Vira nggak masuk lagi? Apa dia cedera?” tanya Rei yang nonton bersama anak-anak basket SMA 31. . Strategi bertahan tim membuat mereka selalu tertinggal dalam pengumpulan angka.. Saat quarter ketiga dimulai..” celetuk Stephanie pada Vira seperti menghibur dirinya sendiri.” sahut Rendy. “Yah. Tim Jawa Barat tetap nggak terbantu. Vira nggak masuk lagi ke lapangan. Kembalinya Tim Jawa Barat ke strategi bertahan dan digantinya beberapa pemain inti mereka membuat Tim Banten kembali menguasai permainan.. ambil aja sisi baiknya.*** Tapi keajaiban yang diharapkan ternyata nggak kunjung terjadi. Dari kedudukan 23-19. Paling nggak lo bisa jalan-jalan lagi sepulang sekolah. “Stephanie! Kamu masuk. teriakan-teriakan bernada nggak puas mulai terdengar. Tim Banten terus menambah angka hingga 29-19... Tapi sampai pertandingan berakhir... disusul oleh Hanna. “Jangan-jangan cederanya kambuh lagi. Tim Banten pun memenangi pertandingan dengan skor 63-47 dan berhak lolos ke babak final di Jakarta. Para penonton pun mulai gemas.... dan gue nggak perlu nitip absen kalo ada kuliah sore. Rei.. Tapi walau Stephanie kembali masuk ke lapangan.

. jadi nggak perlu lagi ada pemusatan latihan. nih udah aku bikinin roti. Bibi mana?” “Ada di belakang.” kata Niken. “Thanks. Dia mulai bisa melupakan kekalahan Tim Jawa Barat.. “Aku mo ikut bimbel.. nggak sedih atau bete kayak dulu. juga udah mulai kembali ketiduran di kelas kalo lagi ngantuk berat.. Tadi aku mo bikin roti sendiri. ya sekalian aja aku bikinin kamu. Soalnya emang udah nggak ada kegiatan lagi.ENAM BELAS DUA hari kemudian. Vira udah kembali ke rumahnya. Dia juga udah bersikap biasa lagi.. Pasca-pertandingan. Dia udah mulai bersikap biasa lagi.. Niken emang udah balik lagi ke rumah Vira.. udah mulai konsen lagi maen game NBA LIVE di PS3-nya.” sapa Niken yang lagi asyik makan roti sambil membaca surat kabar.” “Ooo. secara nggak resmi Tim Jawa Barat emang bisa dibilang udah bubar walau belum ada pengumuman resmi dari Pak Isman atau pihak PERBASI Jawa Barat... Pagi ini. “Hai. Vira udah siap berangkat ke sekolah.. Mereka udah gagal lolos ke babak final bulan depan.. gitu. Vir.. tumben kamu yang bikin. mulainya ntar sore. Dia udah mulai konsentrasi ke pelajaran. Sita udah balik ke Tasik kemaren.” Vira emang cuman kembali tinggal berdua bareng Niken. ..

“Oya? Bagus dong? Ntar aku bayarin deh... Bimbel mana?” tanya Vira. “Makasih, tapi nggak usah. Ini bimbel punya tante teman SMP-ku. Bukan bimbel gede sih... tapi lumayan lah. Tante temanku itu nawarin aku buat bimbel di sana. Nggak bayar, tapi sebagai gantinya aku bantu-bantu di sana sebelum dan sesudah bimbel...” “Bantu-bantu? Kamu nggak disuruh ngepel di sana, kan?” “Ya nggak lah... Aku cuman bantuin soal administrasi, paling bantuin ngetik, masukin data di komputer, atau yang sejenisnya. Soalnya mereka kekurangan tenaga administrasi karena ada pegawainya yang cuti hamil, jadi aku diminta bantuin sementara. Sebagai imbalannya aku boleh ikut salah satu kelas bimbel yang sore tanpa bayar. Itu juga bantuinnya nggak full time kok. Paling aku bantuin satu jam sebelum les, dan sehabis les sebentar. Sebelum magrib juga udah pulang.” “Ya udah deh kalo itu mau kamu.”

***

“Vira!” Setengah berlari, Rendy menghampiri Vira. “Ada apa, Ren?” tanya Vira. “Kamu tau nggak di mana Rei?” “Rei?” Vira mengernyitkan keningnya. “Kok tanya ke aku? Kan dia satu kelas ama kamu?” “Dia nggak masuk hari ini.” “Nggak masuk? Kenapa?” “Lha... nggak tau. Telepon ke rumahnya sih kata ibunya dari kemaren dia pergi ke Tasik. Tapi sampe sekarang belum balik.” Rei pergi ke Tasik? Kemaren? Vira tambah heran. “Kenapa kamu nggak coba nelepon ke HP-nya?” tanya Vira lagi. “Nggak aktif mulu. Mampus deh...” Rendy tiba-tiba menepuk keningnya. “Emang ada apa?”

“Rei tuh minjem buku fisika-ku dan nanti abis istirahat bakal ada latihan soal. Aku nggak tau dia mo nggak masuk hari ini.” “Lho... kenapa baru ribut sekarang? Kalopun buku fisika kamu dibalikin ama Rei hari ini, emang kamu bisa belajar dalam waktu singkat?” tanya Vira. “Ya nggak... tapi kan masih sempet bikin sontekan dari situ.” “Dasar...”

***

Pulang sekolah, Vira pergi ke sekretariat PERBASI Jawa Barat di GOR Padjajaran. Tadi di sekolah dia di-SMS Pak Isman, menyuruhnya datang. Katanya untuk membicarakan soal kasus Vira saat pertandingan melawan Tim Banten. Vira sendiri sebetulnya udah malas ketemu Pak Isman, apalagi membahas kasusnya. Tapi akhirnya dia datang juga, karena Pak Isman bilang ini sangat penting. Sekretariat PERBASI Jawa Barat kelihatan sepi. Nggak ada satu orang pun yang kelihatan. Vira sendiri nggak heran dengan suasana seperti ini, karena para pengurus PERBASI, seperti juga organisasi olahraga lainnya di Indonesia, biasanya punya pekerjaan lain yang tetap dan dianggap lebih penting. Jadi, mengurus organisasi olahraga cuman dianggap sebagai hobi atau kerja sampingan. Nggak heran kalo prestasi olahraga di Indonesia nggak berkembang seperti negara lain, karena pengurusnya aja jarang ada yang serius. “Kamu Vira, kan?” Suara cewek di belakangnya membuat Vira menoleh. Seorang cewek yang lebih tinggi darinya dan berambut pendek seperti cowok berdiri di hadapannya. Vira mengenali cewek itu sebagai Lusy Chyndana Dewi. Di belakang Lusi berdiri dua cewek lain yang tingginya kira-kira hampir sama. “Selamat ya... berkat kalian, untuk pertama kalinya Tim Putri Jawa Barat nggak lolos ke final Kejurnas. Kalian emang hebat...,” sindir Lusi sambil memandang sinis ke arah Vira.

Vira nggak membalas sindiran Lusi. Dia lagi nggak mood buat cari ribut. Dan lagian, ngapain Lusi dan yang lainnya di sini? Mereka kan udah nggak masuk tim daerah lagi? “Harusnya kalian sadar... Kejurnas itu bukan level kalian. Kalian tuh masih junior, masih harus banyak belajar sebelum turun di Kejurnas,” lanjut Lusi sambil menunjuk pada Vira. “Vira!” Untung suara Pak Isman bisa meredam hati Vira yang mulai panas. Pak Isman menghampiri Vira. “Kalian masih di sini?” tanya Pak Isman pada Lusi dan kawan-kawannya. Lusi nggak menjawab pertanyaan itu, melainkan langsung melengos dan pergi bersama teman-temannya. “Pak, mereka...” “Sudah... jangan pedulikan mereka...,” potong Pak Isman. “Ayo kita jalan-jalan,” lanjutnya sambil memberi tanda supaya Vira mengikutinya.

***

Vira dan Pak Isman memasuki lapangan basket di dalam GOR Padjajaran. Seperti di Sekretariat PERBASI, suasana di dalam GOR juga terlihat sepi, karena emang nggak ada yang bertanding atau latihan di situ. Cuman terlihat tiga petugas kebersihan sedang menyapu lantai GOR. “Lihat ring basket itu?” tanya Pak Isman sambil berjalan menyusuri pinggir lapangan. “Berapa tingginya?” Vira heran mendengar pertanyaan Pak Isman. Kok malah nanyain tinggi ring basket ke dia? “Berapa, Vira?” tanya Pak Isman mengulangi pertanyaannya. “Ehmm... sekitar tiga meter, atau tepatnya tiga meter lebih lima sentimeter,” jawab Vira. Jelas aja dia tahu. Masa pemain basket nggak tahu tinggi ring basket? “Betul... dan tahukah kamu ada berapa cara untuk memasukkan bola ke ring itu?” tanya Pak Isman lagi, kembali membuat Vira heran.

Pak?” tanya Vira. *** Stella lagi asyik memilih gaun di sebuah butik di mal Parijs Van Java. saat merasa dirinya ditabrak oleh seseorang. ada berbagai macam cara untuk memasukkan bola ke dalam ring. “Eh.” Vira membaca salinan faks yang diberikan Pak Isman. Pak Isman mengangguk mengiyakan. Makanya Bapak segera undang kamu ke sini.. Dia mulai menerka-nerka ke mana arah pembicaraan Pak Isman. maaf. Raut wajahnya langsung berubah. Bapak ingin memberitahukan langsung kepada kamu.. kan?” Vira mengangguk.“Nggg.. Pak Isman menyodorkan selembar kertas yang digulung pada Vira. lay-up..” Pak Isman menjelaskan. Hasilnya langsung difaks kemari. bisa dengan cara menembak biasa. Pak?” “Kamu baca sendiri aja. kenapa tidak?” kata Pak Isman lagi. Kalau ada cara yang lebih baik. . bermaksud akan “menyemprot” cewek yang menabraknya. tidak harus dengan cara yang sama. dan selesai siang tadi.... tembakan bebas. tembakan tiga angka.” “Kesimpulannya. Tapi raut wajahnya langsung berubah begitu melihat siapa yang menabraknya. “Rapat apa. “Tadi pagi Komisi Disiplin PB PERBASI pusat mengadakan rapat di Jakarta. Stella memalingkan wajahnya. “Seperti juga ada berbagai macam cara untuk mencapai tujuan kita. “Maksud Bapak?” Sebagai jawaban.” kata orang yang menabrak Stella. “Yang bener. Berita ini bakal ada di surat kabar besok. nggg.

saat tahu berita ini. terutama Rida. itu kan sebetulnya nggak sportif.” “Tapi.” “Sebetulnya Bapak juga tidak begitu yakin. Tapi pihak pengurus meyakinkan Bapak bahwa protes kita pasti diterima. dan itu berarti kalian.. kenapa Bapak yakin protes kita bakal diterima? Lagi pula. Jadi pihak kita sepakat dengan Tim Lampung untuk protes soal ini.” Vira nggak percaya dengan apa yang baru didengarnya. Dan baru hari ini keputusannya keluar.” “Trus.” Vira bersorak dalam hati... “Seperti yang kamu baca di situ. “Kita? Kita ke Jakarta?” “Iya. Dia udah membayangkan raut wajah yang lain. Apa yang kamu tunjukkan di quarter . Tim Banten sebetulnya sudah diperingatkan supaya jangan memakai pemain yang sedang jadi rebutan dengan daerah lain.. kenapa kemarin Bapak memerintahkan kalian untuk bermain bertahan dan tidak terlalu ngotot?” tanya Pak Isman. Bapak tidak ingin kalian ada yang cedera. “Maksud Bapak? Pak Isman udah tahu soal ini?” “Kasus ini sebetulnya sudah bergulir sejak lama.. yang menggantikan tempat mereka di babak final?” “Tentu saja wakil dari grup yang sama.. walau dengan konsekuensi bakal kalah. padahal hasil pertandingan sudah tidak menentukan lagi. yang menjadi peringkat kedua di grup. tapi mereka nggak menggubris peringatan itu dan tetap menurunkannya saat melawan Lampung.“Hera?” *** “Jadi Tim Putri Banten didiskualifikasi dari Kejurnas karena memakai pemain yang nggak sah?” tanya Vira nggak percaya. “Jadi kamu sekarang tahu kan. jadi Bapak putuskan untuk ambil risiko dengan menginstruksikan kalian untuk bermain bertahan. cuma nggak sampai terekspos media.

... apakah bisa diandalkan untuk babak final nanti. Bapak tahu kamu.. Selain itu Bapak juga ingin lebih memantau permainan tim. Dan sebetulnya Bapak sangat mengandalkan kamu. mereka yang lebih dulu tidak sportif dengan memainkan pemain yang tidak sah. . Apalagi Bapak tahu cedera yang pernah menimpa kamu. jadi Bapak hanya tinggal berharap pada kamu dan Stephanie. Pak. Bapak juga pernah muda. Stephanie dan Stella untuk menjadi inspirator bagi yang lain.” Mendengar ucapan Pak Isman. Karena itu Bapak segera menarik kamu keluar.dan soal sportivitas.” “Kenapa Bapak nggak bilang aja terus terang kemarin?” “Nggak mungkin.. Bapak juga minta maaf karena kemarin juga sempat emosi. Soalnya Bapak tidak mengira kamu bisa berani seperti itu.” “Sudahlah. lawan-lawan di babak final bakal lebih berat daripada kemarin. Dia malu karena udah menuduh Pak Isman yang nggak-nggak. Vira jadi tertunduk malu. Vira sekarang sadar. jadi bisa memahami sikap kalian. Stella mengundurkan diri.kedua kemarin sangat besar risikonya. Saya waktu itu cuman. ternyata Pak Isman punya rencana lain untuk tim. Jadi Bapak nggak ingin memberi harapan terlalu jauh pada kalian.. “Maafin saya. Kalau ternyata perkiraan Bapak salah. “. tentu kalian akan lebih kecewa.” Vira cuman manggut-manggut mendengar penjelasan Pak Isman. Kita hanya menegakkan peraturan yang ada. Bpak aja waktu itu belum terlalu yakin. Tapi sayang. Ingat.

Soalnya harus nunggu mereka yang dari luar Bandung dan udah balik ke daerah masing-masing. “Bener. Stephanie menelepon Vira. Rida hampir nggak percaya saat diberitahu soal ini lewat telepon.” jawab Vira. kan? Atau ada perubahan pemain?” “Nanti dihubungi lagi satu-satu oleh Pak Isman.. . membawa berita yang mengejutkan.TUJUH BELAS SEPERTI perkiraan Vira. “Yang bener. Vir?” tanya Rida.” “Kalo begitu. Tapi sampai hampir satu minggu setelah berita yang dibawa Pak Isman. kita akan ke Jakarta bulan depan. “Iya. kapan kita mulai latihan lagi? Tetep tim yang lama. Padahal pertandingan babak final kurang dari sebulan lagi.” “Jadi kita yang akan ke babak final?” Rida masih nggak percaya. belum ada yang menghubungi mereka. Besok pasti beritanya ada di koran. *** Vira dan anggota Tim Jawa Barat lain memang sangat menantikan pemanggilan mereka ke dalam pemusatan latihan. Sampai suatu saat..

Telah terjadi kata sepakat dengan Tim Senior. tapi bukan kita yang akan menjadi anggota Tim Jawa Barat di babak final. “Nggak ikut gimana? Kita kan lolos ke babak final? Apa keputusannya berubah lagi?” tanya Vira. “Tim Jawa Barat emang pasti lolos.“Kita nggak bakal ikut Kejurnas. . Keesokan harinya Vira melihat dengan mata kepala sendiri Pak Isman dan Pak Dibyo melatih Tim Basket Putri Senior. “Maaf. Bapak tidak punya wewenang untuk menentukan siapa yang akan bertanding. “Tapi Bapak harusnya tahu siapa yang terbaik yang layak masuk babak final.” kata Pak Isman saat Vira mendatanginya seusai latihan.” *** Stephanie emang nggak bohong. “Bapak bilang akan memberikan kepercayaan pada saya dan anggota lainnya. Vira.” “Bapak tahu siapa yang terbaik!” Vira menatap Pak Isman dengan tajam..” kata Stephanie di seberang telepon. siapa yang seharusnya lebih berhak bertanding di babak final.” “Oya? Kalo gitu kenapa tadi sore gue liat Lusi dan anggota Tim Senior lainnya latihan di GOR Padjajaran? Dan lo tau siapa yang ngelatih mereka?” “Siapa?” “Pak Isman dan Pak Dibyo.” Pak Isman cuman diam mendengar ucapan Vira. “Tapi Bapak kan pelatihnya. jadi seharusnya kita dong yang ikut babak final. Tapi semua ini adalah keputusan pihak pengurus. Bapak harusnya berhak menentukan.. Tapi mana? Bapak nggak menghargai perjuangan kami di babak kualifikasi. bukan Bapak yang menentukan!” Pak Isman mulai keras lagi suaranya..” “Bukan kita? Maksud lo apa? Kita kan udah berjuang di babak kualifikasi.” “Sudah Bapak bilang..

. *** Stephanie baru aja selesai makan siang di kantin di kampusnya saat HP-nya yang diletakkan di atas meja berbunyi... SMA Altavia! batin Vira.. Pak Isman juga menganggap kemampuan kami masih di bawah mereka? Bapak sendiri juga menganggap kami nggak layak mewakili Jawa Barat dibanding mereka? Apa Bapak lupa kekalahan kemarin di babak kualifikasi itu karena strategi?” tanya Vira dengan penuh emosi.” kata Lusi yang ternyata berdiri di belakang Pak Isman dan sedari tadi mendengarkan pembicaraan pelatihnya dengan Vira. “Saya kira bertanding melawan anak-anak junior itu boleh juga. Dari Pak Isman! batin Stephanie. .. “Bapak ingin tau siapa yang terbaik? Beri kami kesempatan. Lalu dia langsung berbalik dan pergi meninggalkan Pak Isman yang masih termangu. “Halo. Mobil yang dikemudikan Vira berhenti di depan sebuah bangunan yang udah lama dihindarinya. Apa kau bisa mengumpulkan mereka dalam dua hari?” *** Sorenya.” “Stephanie? Secepat apa kamu bisa mengumpulkan teman-temanmu di Bandung?” “Maksud Bapak?” “Anggota Tim Basket Junior Jawa Barat...” lanjut Vira. Kami pun bisa menang melawan Tim Senior kalo dikasih kesempatan. Biar mereka bisa belajar dari kita.“Atau jangan-jangan.

tapi cuman sementara. baik kenangan indah maupun buruk. “Gue mo pulang besok.. Vira udah berada di dalam gedung basket SMA Altavia dengan seragam basket lengkap dengan sepatunya. Hera lalu maju ke arah ring.. Hera terkecoh. “Udah siap nih?” Vira menoleh. . Nggak ada pilihan lain.. dan Vira mencoba menghalang-halanginya.” jawab Hera sambil mendribel bola. Masuk! “Lo udah ceritain semuanya?” tanya Vira. Hera sedikit mendorong bola hingga Vira agak terdorong. Ada apa?” tanya Vira sambil melemparkan bola pada Hera. Dia asyik berlatih menembakkan bola ke dalam ring. dan penjagaannya pada Hera lepas sehingga Hera dengan leluasa mendekati ring dan memasukkan bola ke dalamnya. Hera terlihat memasuki gedung dengan T-shirt dan celana training. “Lo yang ngundang gue ke sini.Untuk beberapa saat lamanya Vira hanya memandang ke bekas sekolahnya dulu. Keadaan SMA Altavia masih sama seperti saat dia pergi dulu. Vira coba mengecoh dengan mendribel bola ke sisi lapangan sebelah kiri. bergantian dengan Hera yang sekarang berada di dalam area three point shot. Nggak berapa lama. Vira langsung menembak bola. Vira mengulurkan tangan. Vira berjalan menuju ke garis tengah. walau Vira udah lama nggak berstatus siswi di sini. Rambutnya yang panjang sebahu diikat ke belakang.” ujar Vira sambil mengambil bola yang baru dimasukkan ke ring. “Oya? Met jalan aja deh. Sekolah yang banyak menyimpan kenangan baginya. Nggak ada yang berubah. Dia mundur dan kembali menghadang Vira.” ujar Hera sambil coba menghadang Vira. Bahkan petugas jaganya pun masih sama. Makanya Vira dibolehin masuk dan Vira juga nggak lupa menyelipkan selembar uang lima puluh ribuan ke tangan si penjaga sekolah yang berusia lima puluh tahunan itu. Hera memutar tubuh dan sedikit merunduk. “Gue udah ketemu Stella. Dia pun masih mengenali Vira. Balik ke Singapura. mencoba merebut bola.

Vira nggak terkecoh. tapi mendadak Hera berlari ke sisi kiri.. “Cerita apa?” “Temen sebelah kamar gue orang Filipina. “Hebat. Dia nggak menyangka Hera bisa melakukan hal itu. Dia memutar tubuh. Tapi Hera yang sekarang kayaknya punya kemampuan di atas dirinya.. Dia langsung menusuk dari sisi kanan.” “Ooo. Gue diajarin berbagai macam gerakan saat kakaknya dateng berlibur di Singapura. atau bahkan Stella.. Hera lalu maju menyerang. Hera cuman mengangkat bahu. Lalu dia membuka celana training-nya.” Vira nggak segan-segan memuji gerakan Hera.. Kakaknya adalah pemain basket profesional di Liga Basket Filipina atau PBA. Vira kembali menghadang. Hera terus merangsek hingga dekat ring... Setelah itu Hera mengambil bola dan mulai mendribel. lalu kembali coba menerobos masuk.Hera mengangguk.. *** Beberapa meter dari depan rumahnya. dia melakukan gerakan slam. . hingga sekarang memakai celana basket pendek. “Dan tanggapan dia?” Sebagai jawaban. “Diem aja tuh. Nombok adalah kata lain dari slam dunk. Dia mencoba merebut bola dari Hera.” katanya.” Vira cuman manggut-manggut mendengar penjelasan Hera. Gerakan Hera yang nggak kalah dengan aksi pemainpemain NBA yang sering dilihat Vira di TV itu membuat Vira ternganga. “Dari mana lo belajar nombok?” tanyanya. “Apa gue belum cerita ke lo?” Hera malah balik bertanya sambil menghela napas. padahal dulu boleh dibilang kemampuan Hera berada di bawah dirinya atau Stella. Bahasa gaul para pebasket di Indonesia. lalu disusul dengan dunk sambil menceploskan bola ke ring. Vira melihat seseorang baru aja keluar dari pintu pagar rumahnya.. dari dalam mobil. Dan tanpa diduga. tapi gerakan Hera lebih cepat.

. Rei yang akan membuka pintu depan terkejut mendengar suara Vira. beberapa saat setelah Rei keluar. sesekali ketawa-ketiwi. melihat apa yang akan terjadi. Sita? Vira ingat. Rei turun dan membuka pintu pagar. Dia kembali menyalakan mesin mobilnya. lalu cabut dari situ. Dia menoleh dan mendapati Vira sedang menuju ke arahnya. “Vira? Kok kamu bisa ada di sini?” tanya Rei. Sita dan Rei nggak melihat mobil Vira karena tertutup kegelapan malam. lalu menjalankannya. Vira yang datang nggak lama kemudian memarkir mobilnya agak jauh dari motor Rei. Katanya dia udah minta temennya buat jemput di terminal bus. Mereka kelihatan mesra. Vira sendiri nawarin untuk menjemput Sita. Nggak lama kemudian Rei menyalakan motor dan memakai helmnya.Rei! Vira mengernyitkan keningnya. Lalu dia juga keluar dari mobil. Vira nggak mau membuang waktu. “Rei!” panggil Vira. Sita emang rencananya mo dateng hari ini. Dia mematikan mesin mobil dan memutuskan untuk tetap diam di tempatnya. Apa mo ketemu Niken? Tapi kan tadi siang Niken bilang setelah les dia mo pulang ke rumah ibunya. Motor Rei ternyata berhenti di sebuah bangunan kecil yang kelihatannya lagi direnovasi. Apa Niken nggak jadi pulang ke rumah ibunya? tanya Vira dalam hati. karena ibunya dapet pesanan kerupuk yang cukup banyak untuk acara sunatan tetangganya. Ada apa Rei dateng ke rumahnya saat dia nggak ada di rumah. Pertanyaan Vira terjawab ketika ada seorang cewek keluar dari rumahnya. mengejar motor Rei. Jadi Niken mo bantu-bantu dan kemungkinan nginep di sana. Sita udah dateng dan ternyata yang menjemput dia itu Rei! Sita kelihatan mengobrol dengan Rei yang duduk di atas motornya. tapi dia menolak.

” “Soal aku?” .“Aku mo ngomong ama kamu.” “Ngomong soal apa?” “Ya soal kamu...

Hari ini mereka akan menghadapi pertandingan yang boleh dibilang sangat penting bagi remaja-remaja putri itu. Stephanie.” katanya. . Dibilang hampir semua karena ada dua orang yang berasal dari Subang dan Cirebon yang nggak datang dengan alasan yang berbeda. Karena ingin memenangi pertandingan dan tampil di babak final Kejurnas itulah. Emang nggak mudah mengumpulkan para anggota tim yang udah kembali ke aktivitas mereka sehari-hari hanya dalam waktu dua hari. terutama yang berada di luar kota Bandung. Pertandingan antara Tim Basket Putri Junior Jawa Barat melawan Tim Basket Putri Senior untuk menentukan siapa yang terbaik dan berhak mewakili Jawa Barat di Kejurnas nanti. dan pemain Tim Junior Jawa Barat udah berkumpul di GOR Padjajaran.. lalu membagikan kostum basket berwarna kuning keemasan pada seluruh anggota tim. VIRA. Jadi sekarang cuman ada sepuluh orang yang masih mencoba menggapai impian mereka... hampir semua pemain junior Tim Jawa Barat kembali berkumpul di Bandung.DELAPAN BELAS Minggu sore. “Untuk sementara kita pakai ini. Vira yang baru aja datang membuka tas besar yang dibawanya. Setidaknya itulah janji pengurus PERBASI Jawa Barat bagi pemenang pertandingan ini. Rida...

kenapa kamu ada di sini? Perjalanan dari Tasik ke Bandung kan jauh. Apa kamu mau ngelakuin semua ini untuk sesuatu yang menurut kamu adalah sia-sia?” Sita cuman terdiam mendengar ucapan Vira. “Oke... katanya untuk kita udah disiapkan ruang ganti pemain di sebelah timur. Mereka memakai kostum basket berwarna biru muda. *** “Apa kamu yakin kita bakal menang?” tanya Sita pada Vira di ruang ganti pemain.. Tim Senior menempati sisi lain lapangan. “Kalo kamu?” Vira malah balik nanya. dengan logo provinsi di dada sebelah kiri. datang Pak Isman.“Tadi aku dikasih tau salah seorang petugas di sini. dan beberapa orang ofisial tim serta pengurus PERBASI Jawa Barat. Dia balik menatap Lusi. Tentu aja setelah Sita nggak ada di dekat Vira. Vira cuman nyengir mendengar ucapan Stephanie. Aku rasa peluang kita untuk menang kecil. berseberangan dengan Vira cs.. “Mereka lebih senior daripada kita.. Lusi dan para pemain Tim Senior memasuki arena. Pak Dibyo.” ujar Stephanie lirih yang mendengar ucapan Vira pada Sita.” sambung Stephanie. Pengalaman bertanding lebih banyak.. .” Semua pemain Tim Junior Jawa Barat yang udah bersiap di pinggir lapangan menoleh ke arah pintu masuk yang ditunjuk Poppy. Pandangan pertama menentukan! Jangan sampai kalah sebelum bertanding! Nggak lama kemudian. *** “Itu mereka. Vira memergoki Lusi sedang menatap dirinya dengan pandangan merendahkan. “Lo emang paling jago kalo ngemotivasi orang.” “Kalo kamu nggak yakin menang. semua sudah siap!?” tanya Pak Dibyo..

Ada beberapa orang yang terlihat duduk di tribun. Rei sempat melihat ke arahnya dan mengacungkan jempol. Alexa. Bapak ingin agar kalian tetap bermain secara sportif dan menjunjung tinggi nilainilai fair play. Kita ini masih satu tim. walau mungkin hasil pertandingan sangat menentukan bagi kalian. Vira maklum. Sedang temen-temennya yang lain nggak . satu daerah. Karena kedua tim dilatih oleh pelatih yang sama.*** Akhirnya. Bapak nggak ingin ada yang saling mencederai. Stephanie. Tim Junior menurunkan starter dengan kekuatan terbaiknya.” Pak Isman memberikan pengarahan sebelum pertandingan. bersama Rendy dan anak-anak basket cowok SMA 31. Selain Lusi dan Mira. dan Poppy. Clara. penentuan itu pun dimulai. Nggak tahu apakah mereka sekadar duduk-duduk atau ingin menonton pertandingan. dan satu tujuan. Jadi kedua tim bermain tanpa pelatih. baik Pak Isman maupun Pak Dibyo nggak berada di pinggir lapangan untuk mendampingi salah satu tim. dan Dewi yang merupakan tulang punggung Jawa Barat saat mereka menjadi runner-up Kejurnas dua tahun lalu. “Ingat. Niken juga nggak kelihatan. mereka menurunkan pemain terbaik mereka sebagai starter. Dua orang wasit dan satu wasit cadangan yang berstatus wasit nasional membantu pertandingan ini. Demikian juga Tim Senior. sedang Pak Isman dan ofisial lainnya duduk di tribun penonton. Anak-anak basket cewek SMA 31 nggak kelihatan karena mereka pada waktu yang bersamaan lagi melakukan pertandingan di SMA Balawa. *** Vira mengedarkan pandangannya ke seluruh area GOR. Dia emang nggak janji mo datang karena lagi seneng-senengnya belajar. Vira sempat melihat Rei di salah satu sisi tribun. juga ada pemain senior lain seperti Dini. yang emang udah dijadwalkan jauh-jauh hari. Vira. Rida. untuk pertandingan kali ini.

pengalaman. Kami akan membuat sendiri yang modelnya lebih keren. Wasit meniup peluit dan quarter pertama pun dimulai. *** Tim Senior Jawa Barat boleh dibilang emang unggul segalanya dari juniornya. Unggul teknik. yang biasanya dilakukan oleh seorang center. “Gue heran. apa strategi kali ini?” tanya Stephanie pada Vira. Keduanya bertatapan.. ya?” sindir Vira. Vira yang tahu sifat Rida nggak mau temannya itu terintimidasi oleh Mira dan kalah sebelum bertanding.. Anak-anak basket mungkin tahu dari Rei. “Kostum yang lo pake udah jadul. wong tinggal serumah dengan Vira. “Hah? Kok nanya gue?” “Kan lo biasanya jago strategi. “Kalian bermimpi untuk memakai kostum ini lagi? Jangan harap!!” kata Mira sambil menunjuk kostum dan logo Jawa Barat yang dikenakannya. tapi bikin Mira jadi gregetan.datang mungkin karena nggak tahu. sedang Niken jelas aja tahu. karena Vira emang nggak bilang-bilang soal pertandingan ini di sekolah. terutama kalo dalam situasi kayak gini. kenapa lo dulu bisa jadi kapten di Altavia. serta stamina. Nggak heran kalo dalam lima menit .” Vira cuman geleng-geleng kepala mendengar ucapan Stephanie. *** “Oke. Kali ini Vira berhadapan langsung dengan Mira di garis tengah. *** Para starter dari kedua tim udah berada di lapangan.” jawab Vira ngasal. Kali ini giliran Stephanie yang nyengir. Kali ini Vira emang mengambil posisi Rida untuk perebutan bola di tengah pertama kali.

Sama gembiranya saat Vira tahu bahwa skill Hera meningkat pesat sejak dia pindah dari Altavia. tapi dihadang oleh Clara. “Asal kalian tahu.. Foul! Tembakan bebas untuk Tim Senior. Tim Senior semakin jauh meninggalkan adik-adiknya. Tapi dalam hati dia gembira bertemu dengan orang yang skill-nya melebihi dirinya.pertama Tim Senior langsung unggul 7-0 melalui permainan cepat dan terkoordinasi dengan rapi. *** “Strategi kamu nggak berjalan. . Stephanie benar-benar nggak bisa bergerak ditempel terus oleh Clara.” kata Rida pada Vira saat quarter pertama berakhir. Lusi yang mengeksekusi tembakan bebas berhasil melakukan tugasnya dengan baik. Rida datang membantu. Vira coba maju untuk mencegat Mira.. tapi malah mengenai tangan cewek itu. Lusi menoleh dan tersenyum sinis pada Vira yang lagi mengatur napas. Stephanie mengoper pada Rida. “Steph!” Stephanie menerima bola operan dari Poppy.” kata Lusi pada Vira. Dia langsung mendribel. Turn over! Fast break cepat Tim Senior membuat barisan pertahanan Tim Junior kelabakan. dua tahun yang lalu kami membantai Lampung dan Banten dengan skor yang sangat telak. tapi Mira langsung mengoper pada Lusi yang datang dari belakang. Gerakan Lusi yang cepat membuat Poppy panik hingga dia melakukan kesalahan dengan mencoba memukul bola yang masih berada dalam genggaman tangan Lusi. Lusi bergerak cepat menyusur sisi kanan daerah pertahanan Tim Junior dengan dibayang-bayangi Poppy. bahkan udah mampu mengalahkannya. tapi operannya cepat dipotong oleh Mira yang langsung berlari ke tengah lapangan. Vira nggak menanggapi ucapan Lusi. Mereka bener-bener kuat! batin Vira.

Apa lo yakin?” Stephanie mengulangi pertanyaannya. Permainan mereka belum seperti saat pertandingan kualifikasi. “Sebaiknya Bapak jangan underestimate dulu.. “Sebetulnya aku udah punya strategi.. Kita semua sudah tahu hasilnya.” balas Pak Isman.” kata Pak Nurdin yang duduk di samping Pak Isman. Yang lain menggeleng. “Ada yang punya?” Vira malah balik bertanya. Lagi pula Bapak sudah lihat kan. . Ini hanya akan menjatuhkan mental anak-anak muda itu. permainan mereka di babak kualifikasi? Di sini mereka belum mengeluarkan seluruh kemampuan yang mereka miliki. Anehnya. kontras dengan Tim Senior yang menutup quarter pertama dengan enam belas angka.. nggak kelihatan panik sedikit pun. Aku juga nggak berani menjamin ideku ini bisa berhasil. *** “Sudah saya katakan mempertandingkan mereka adalah ide buruk.. “Lo nggak punya strategi lain?” tanya Stephanie. Padahal di quarter pertama mereka cuman mendapat empat angka. “Gue suka kalo lo udah punya ide-ide gila. “Apa mereka bisa menang jika permainan mereka sebaik saat kualifikasi?” “Lihat saja. tapi sangat aneh.” ujar Vira.” “Bukan sedikit. tapi aku nggak yakin kalian bakal setuju.” sahut Stephanie sambil tersenyum. Yang jelas pertandingan belum berakhir.. dia tetap tenang. walau aku pikir kita harus mencobanya.“Aku tau.” *** “Lo yakin dengan ide lo ini?” tanya Stephanie dengan nada ragu-ragu. soalnya ini rada gila dan nggak masuk akal.. Ini baru quarter pertama. “Gue udah bilang kan ide ini mungkin sedikit aneh.” sahut Vira...

Karena itu hanya ide ini yang terpikir sama gue. Vira kuatir. “Nggg... Mereka tetap nggak bakal bisa ngalahin kita. “Makanya gue bilang.” “Bagaimana kalo kita menyerang aja seperti waktu melawan Tim Banten di quarter kedua dulu?” usul Poppy. “Biarin aja. kemungkinan nyeri di betis kanannya akan bertambah dan permainannya pasti nggak maksimal.” *** Sebuah kejutan kecil dibuat Tim Junior saat quarter kedua.. “Nggak bisa. kalo aja ada ide yang lebih baik. cedera lamanya kambuh lagi ..” kata Dini pada Nita. kenapa lo cetusin ide ini?” tanya Hanna. Betis kanan Vira mulai terasa kaku dan nyeri. Pergantian dirinya emang merupakan bagian dari strategi yang Vira rencanakan dari awal. Sementara itu. Vir. Vira duduk di pinggir lapangan sambil sesekali memegangi betis kanannya. ini sangat berisiko.” jawab Vira...” ujar Rida. Vira ternyata digantikan oleh Agnes.” sahut Lusi... Gimana kalo ternyata perkiraan kamu meleset dan mereka bisa kembali menambah banyak poin?” “Kalo gitu. Bahkan Pak Isman pun nggak bisa menyembunyikan kekagetannya. Kalo dia tetep ikut main sekarang. Mo seratus kali ngubah formasi juga nggak ngaruh. dan Alexa diganti oleh Monika. “Mereka kayaknya ngubah formasi lagi tuh. Tapi dirinya nggak bisa memungkiri bahwa strategi itu juga menyelamatkan dirinya.” “Kalo nggak.. aku kok jadi ragu-ragu ya. ya anggap aja sebagai takdir kita.. Mau apa dia? tanya Pak Isman dalam hati.“Nggak. “Benar.. Vira nggak main. Kita nggak bisa secara frontal melawan mereka. Jangan lagi! batin Vira.

Beberapa orang menonton pertandingan ini. Tapi Vira nggak peduli. nggak tau berasal dari mana. Vir?” tanya Hanna yang duduk di samping Vira dan melihat Vira sering memegangi betisnya.. Lo gue butuhin nanti. Vira melirik ke arah tribun penonton. Permainan bertahan yang diperlihatkan Tim Junior membuat Tim Senior menguasai lapangan. terlihat penampilan Tim Junior akan sedikit bertahan. “Strategi apaan sih? Lo nggak mau ngasih tau gue?” “Ntar lo juga tau kalo udah waktunya. ini bagian dari strategi.. *** . “Bawel ah. “Kok gue juga diganti sih? Kita kan butuh angka banyak untuk ngejar ketinggalan? Kok malah Monika yang masuk?” protes Alexa yang nggak rela dirinya diganti.” sahut Vira sambil mengurut-urut betisnya.. “Eh. Vira melihat papan skor. Formasi baru ini ternyata nggak berjalan dengan baik. *** Pertandingan quarter kedua dimulai. Dengan nggak tampilnya Vira dan Alexa. Mereka bermain lebih menyerang dan nggak memberi kesempatan bagi juniornya untuk melakukan serangan balik. Dia cuman mengharapkan sesuatu yang ada di tribun penonton dan yang diharapkannya belum ada. nggak kok. Entah apa alasannya.justru di saat-saat yang penting baginya. Dia pasti bakal masuk lapangan lagi. Angka demi angka berhasil dikumpulkan Tim Senior.” jawab Vira berbohong.” “Lo nggak papa.. Gue cuman ngurut-ngurut kaki gue aja biar nggak kram. walau nggak mudah karena Tim Junior berusaha bertahan sebisanya. karena Vira nggak punya rencana untuk istirahat lama-lama. Ayolah! Jangan terlalu jauh bedanya! harapnya.

” komentar Stephanie. Strateginya lumayan sukses.. lalu dia menekan tombol HP yang dari tadi dipegangnya. supaya kita nggak terlalu tertinggal dari mereka.Di pertengahan quarter kedua. “Dewi. “Vira nelepon siapa?” tanya Alexa pada Stephanie.” jawab Lusi. *** Untuk mengejar angka. kapan lo mo keluarin strategi rahasia lo? Quarter kedua udah mo abis. kalian berdua siap-siap masuk!” Lusi memberikan instruksi.” Vira memberi instruksi.” kata Vira.. “Pokoknya usahakan jangan terlalu jauh tertinggal. Ini cuman sementara kok. tapi nggak bakal lama. Vira mengangguk.. Rina. Hingga skor pun mendekat jadi 25-13. “Mereka ngandelin three point. Saat ini skor 23-7. “Gue tau. . Jabatan kapten tim untuk sementara dipegang Rida.” “Bentar lagi. “Ini bagian dari strategi. masih untuk keunggulan Tim Senior. Sebisa mungkin usahakan melakukan fast break. “Nggak jauh dari Hongkong. “Trus.” jawab Vira. Vira memasukkan Sita untuk menggantikan Poppy. Lalu dia menuju ke bangku cadangan tim senior. karena dalam waktu lima menit Sita dua kali memasukkan bola dari tembakan tiga angka. masih dengan gaya tenang. kan?” tanya Stephanie yang kelihatannya juga nggak rela dia diganti. Vira menjauh dari bangku cadangan dan kelihatan berbicara dengan seseorang. “Gue tau... Stephanie diganti oleh Erina.” kata Mira.. Lama-lama mereka pasti akan mengantisipasinya.” sungut Alexa sambil melihat papan skor. *** “Kita nggak mungkin ngandelin three point terus.

. Nggak lama kemudian Vira kembali ke bangku cadangan. dia nggak pernah mau kalah dari siapa pun.” katanya sambil mengambil tasnya...” katanya sambil mengedipkan mata kanannya. Gue kenal Vira. “Gue emang nggak yakin dengan strategi dia. “Gue ke kamar ganti pemain dulu..” tandas Stephanie.“Meneketehe.... “Mo ngapain?” tanya Stephanie.. tapi gue yakin dia nggak bakal sengaja bikin kita kalah.. Vira tersenyum.” ujar Alexa lagi..” “Apa lo yakin dengan strategi Vira? Dia kayaknya sengaja bikin kita kalah. “Sudah saatnya kita ngeluarin senjata rahasia kita... Gue juga tau jalan pikiran dia yang kadang-kadang nggak bisa dimengerti oleh siapa pun.

gue juga ngerasa gue nggak maksimal mainnya. gue lupain sementara rasa sebel gue.. tapi serasa ada yang kurang. Menurut gue. Skill individu. tepat saat dirinya akan pergi latihan basket di SMA Altavia. tim lo bagus.SEMBILAN BELAS Beberapa jam sebelumnya. Lo juga tau gimana hebatnya mereka. kerja sama. Dia masih nggak percaya... Stella yang berdiri di hadapannya cuman diam nggak menjawab. paling nggak kekuatan tim kita bertambah.. pengalaman. Untuk bisa nandingin apalagi ngalahin. atau paling nggak mendekati. Nggak tau kenapa. Gue sadar gue butuh tenaga lo kalo mo menang lawan Tim Senior. “Gue masih tetap sebel ama lo. “Gue tau kenapa. Karena lo nggak punya partner yang tepat.” kata Vira. “Iya.” .” “Tapi gue bisa maen dengan siapa aja kok. semua di atas rata-rata tim kita. pagi-pagi Vira udah nongol di depan rumahnya. “GUE butuh bantuan lo buat ngalahin mereka. Kalo ada lo.” kata Hera.. tapi demi tim.. kita harus bisa seperti mereka. “Gue lihat pertandingan kualifikasi Kejurnas kemaren.” Vira ingat ucapan Hera tadi malam.” balas Vira. Kemampuan lo nggak keluar semua di tim itu.

setelah melihat Stella tetap terdiam. Terserah lo mo ikut ke Jakarta atau nggak. gue nggak lupa. “Liat ajar ntar.. mungkin istilahnya bantuan. tapi tim kita.” lanjutnya. dan gue tau cuman satu orang yang bisa bikin lo dan tim lo sekarang ini jadi lebih baik lagi. “Gue juga nggak mau bahas itu... “Emang apa senjata rahasia kita?” tanya Alexa pada Stephanie.. Apa lo tega ngeliat impian mereka kandas begitu aja?” ujar Vira. gue nggak bisa maksa lo. *** Kembali ke pertandingan..” ralat Vira. tanpa lo kita nggak mungkin bisa menang. Gue ke sini cuman mo minta.. “Bukan tim gue. karena gue nggak mau disalahin kalo tim lo kalah. Cuman satu pertandingan dan gue nggak akan ganggu lo lagi..” “Iya. tapi partner lo nggak ada yang bisa ngeluarin kemampuan terbaik lo. Tapi jangan ngandelin gue..” tandas Stella.” kata Vira...” “Yang lo maksud.” sentak Stella. Lo jangan lakuin ini buat gue.. “Ya udah. Gue aja nggak tau apa yang ada di pikiran Vira sekarang. kan?” tanya Vira.” “Lo pasti juga penasaran kan. Tapi gue harap lo masih punya hati nurani. dia?” “Kalo gue nggak mau?” Stella akhirnya buka suara.. yang juga temen-temen lo. Gue udah pernah liat lo waktu bermain di Altavia. “Lo udah ketemu Hera..... tapi buat temen-temen tim. “Gue nggak mau bahas soal itu. “Gue nggak minta lo sekali ini aja. gue akan dateng.” jawab Stephanie sedikit sewot..“Gue tau. Lo udah tau juga kan kemampuan mereka saat Kejurnas dua tahun lalu? Kita kan nonton bareng finalnya di Jakarta. “Lo jangan nanya melulu ke gue. Kalo mood gue lagi bagus.. ya? Sebab gue udah perhitungin. . pengin menjajal kemampuan mereka? Pertandingannya ntar jam tiga sore di GOR Padjajaran.

Mudah-mudahan dia membawa kabar baik untuk kita. .” “Siapa. Vira terlihat masuk dari pintu timur.dan keajaiban. “Biar gue aja. Non. *** “Non Niken..” Niken keluar dari kamarnya di lantai atas dan terkejut begitu melihat siapa yang ada di ruang tamu.... Bi?” “Nggak tau.” sambung Hanna.... kita harus ngapain nih? Nggak ada yang kasih instruksi. masih untuk Tim Senior..” jawab Stephanie. ada tamu. *** Tapi sampai berakhirnya quarter kedua. Saat ini kedudukan adalah 30-17. Hanna berhenti. ini senjata rahasia kita?” tanya Stephanie. “Kak Aji?” *** “Jadi. Tapi baru beberapa langkah. “Tuh Vira udah balik!” Seluruh anggota tim berbalik ke arah yang ditunjuk Hanna. Dan dia nggak sendiri. “Gimana nih?” tanya Monica dengan napas senen-kemis.” sambung Alexa.. lalu dia beranjak pergi. “Tunggu aja sampe Vira balik..“Trus..” Stephanie mengambil keputusan.” potong Hanna. Vira belum balik.. “Gue susul dia ke ruang ganti. “.

“Mereka nurunin pemain baru tuh! Siapa?” tanya Mira... makanya kita jangan sampai lengah. Hanna. Non. Melihat Stella. “Menit apaan? Quarter dua udah abis.... Lus?” tanya Mira.. “Kenapa.... *** Quarter ketiga dimulai. sekarang kita harus fokus pada pertandingan. iya.. nggak papa.” “Oooo. tapi keluar karena masalah pribadi... Sttt. Di quarter ketiga ini Tim Junior menurunkan formasi pemain Vira. “Iya. kontan wajah Lusi berubah.” *** Nggak cuman di kubu lawan.. “Udah.” jawab Pak Isman. dia dulu anggota mereka.“Senjata rahasia? Senjata rahasia apaan?” Stella yang datang bersama Vira jadi bingung.” sambar Stephanie..” tanya Pak Nurdin.. melihat skor sementara. “O iya.. komentar saat Stella masuk lapangan juga terdengar di tribun penonton.. “Nggak. apa dia masuk tim kita lagi? Kok saya belum dengar soal itu?” . Lumayan juga ketinggalannya! batin Vira. dia bagus?” “Lumayan.” Vira melirik ke papan skor.. “Stella. sekarang udah mo quarter tiga. Stella Winchest...? Siapa namanya? Ssstt.. Sekarang udah menit keberapa?” potong Vira. udah..... “Trus. gimana nih?” tanya Hanna. Stephanie. Stella. “Itu bukannya pemain kita yang udah ngundurin diri.” “Kamu kenal dengan pemain baru mereka?” “Stella. dan Alexa...

Nggak sama sekali!” Stella menegaskan.. Vira sudah bicara dengan saya soal ini. Bedanya cuman Hanna. tim kita akan pincang. “Siapa bilang?” Vira ingat ucapan Stella saat di kamar ganti.” . Tapi setelah ini. Padahal kita tetap butuh yang lain sebagai pemain pengganti. Stephanie benar.. kita harus punya tim yang solid. “Gue lakuin ini bukan karena gue mo baikan ama lo. sebenarnya.. Tanpa dia. “Untuk ngalahin mereka.“Hmm. anak-anak basket Altavia. Dan demi mereka gue rela ngelupain sebentar permusuhan kita.. “Kapan? Kenapa saya tidak diberitahu?” *** “Udah damai nih. Gue lakuin ini. Satu-satunya jalan adalah memakai tim yang udah terbukti solid dan udah tau kemampuan pemainnya satu sama lain. yang dulu nggak masuk sebagai starter... Gue sengaja nggak nyebut-nyebut soal ini di hadapan yang lain. “Itu kita. Bener..” “Karena itu kita butuh Stella. “Iya. karena di dalam tim ada temen-temen gue juga.... formasi Tim Junior saat ini emang hampir sama dengan formasi starter saat SMA Altavia juara di turnamen antar-SMA se-Jawa-Bali setahun yang lalu. kan?” “Lo udah ngerti. takut menyinggung perasaan mereka karena ngerasa nggak dibutuhin. gue tau. dan itu nggak bisa kita wujudkan dalam waktu satu hari.” sahut Pak Isman lagi. “Ini seperti saat kejuaraan antar-SMA se-Jawa-Bali. jangan harap sikap gue ke lo berubah. kan?” tanya Stephanie. kan? Tim bola basket terbaik yang pernah dimiliki oleh SMA Altavia?” “Yup.” “Vir?” Sapaan Stephanie mengembalikan Vira ke alam nyata.?” goda Stephanie pada Vira.” Vira menjelaskan.

.. Kak Aji belum ketemu Vira. .... “Ke GOR? Ngapain?” tanya Aji sambil makan kue nastar yang disuguhkan Niken. kan?” Aji mengangguk males-malesan..” “Kamu tau kan kalo aku nggak suka basket?” “Tau.... Trus soal lo dan Stella?” tanyanya lagi. Gue tau Stella.... Kayaknya dia setengah hati untuk pergi memenuhi permintaan Niken.” Peluit tanda quarter ketiga dimulai berbunyi.tapi kita udah lama nggak pernah bermain bersama. The battle continues.. Tapi dia segera kembali tersadar pada kondisi yang sedang mereka hadapi. hee.“Itulah kenapa gue dipilih jadi kapten tim dulu hee.. gue ama Stella udah sepakat bakal ngelupain persoalan antara kami sementara ini.. *** “Kak Aji nggak pergi ke GOR Padjajaran?” tanya Niken. “Jangan kuatir. “. hee. cuman kan ini Vira yang main. Dia pasti bakal bersifat profesional. “Nonton basket.” Stephanie jadi narsis..

bahkan Alexa.. akurasi menembak.. “Pemain baru itu. Permainan cepat yang diperlihatkan Tim Junior juga membuat lawan kelabakan dan sedikit panik.. dan stamina yang prima. Nggak heran. setelah temannya melakukan foul terhadap Alexa hingga menghasilkan tembakan bebas bagi Tim Junior. “Bukan pemain baru itu yang hebat.. Angka yang didapat Tim Junior bukan cuman berasal dari Stella. kenapa mereka mendadak jadi hebat gitu? Emang mereka pake doping?” . Dari 30-17 pada awal quarter ketiga.. Stephanie.” tukas Lusi. ternyata dia hebat juga. Nggak heran kalo banyak foul yang dibuat Tim Senior yang merupakan keuntungan bagi Tim Junior. Teknik. mereka bisa menyamakan kedudukan.DUA PULUH MASUKNYA Stella memang benar-benar mengubah permainan Tim Junior..” tanpa sadar Dini memuji lawannya. jadi tenaganya masih fresh. diperkecil hingga 39-31. tapi juga Vira. Sebagai center. Delapan angka lagi. “Trus. Tim Junior mampu menipiskan ketinggalan. “Kenapa sih kalian!? Ayo semangat!” seru Lusi memberi semangat pada temantemannya... Apalagi dia baru main di quarter ketiga. Stella punya segalanya. Kemampuannya nggak jauh beda dengan yang lain.

Stella langsung mengoper bola pada Vira yang datang dari arah belakang. Ucapan Lusi ada benarnya. dan Stella mencoba menghadangnya. Steal! Dan turn over! Tanpa banyak gerakan. Lo nggak liat kemampuan yang lain juga jadi meningkat? Seakan-akan tadi mereka belum ngeluarin kemampuan mereka. Sekarang mereka nggak seperti menghadapi Tim Junior. Dia harus mengoper bola atau menembak ke ring. Dewi coba membantu temannya hingga sekarang posisi Vira terjepit. Alexa coba mengganggu gerakan Lusi. Vira mengangkat tangan kirinya dan jarinya membentuk huruf O. karena dia satu-satunya pemain Tim Senior yang belum pernah digantikan sampai quarter ketiga ini. Vira udah berhenti dan menangkap bola. sampai Vira bersiap melakukan posisi menembak. Dini memegang bola. dia berhasil melewati hadangan Alexa dan terus mendribel hingga melewati garis tengah lapangan. Duel dua center kembali terjadi. “Defend!” seru Lusi memberi komando. dan kedua pilihan itu nggak mudah. Saat Dewi berusaha memblok tembakan Vira. Suaranya udah terdengar serak dan nggak begitu lantang lagi. Dengan dibayang-bayangi Ilana. secara nggak terduga Vira . sementara dua pemain lawan terus mengganggunya. dan nggak seperti sebelumnya. Enam angka lagi selisih angka kedua tim. dia mengoper pada Lusi. Makanya dia bisa kalah duel ama Stella. Dengan skill-nya. atau akan terkena double. Sorak-sorai terdengar di kubu Tim Junior. hingga dia nggak mungkin lagi meneruskan mendribel. Nggak ada yang tau apa artinya. tapi menghadapi lawan yang punya kelas yang sama. Dua kali tembakan bebas Alexa masuk. salah satu indikasi bahwa stamina Lusi udah terkuras juga. bertukar posisi dengan Alexa yang mundur ke belakang. Duel dua center kembali terjadi. Di luar dugaan. tapi cewek itu lebih sigap. dan nggak seperti sebelumnya. Vira membawa bola menyisiri sisi kiri lapangan lawan.“Nggak tau kenapa. “Tembak. Vir!” seru Stephanie. menghasilkan angka 39-33.” kata Lusi. kali ini Stella berhasil memenangi duel tersebut. Dribel sebentar. seolah-olah mereka mendapat kekuatan baru.

Tapi Tim Junior balik membalas melalui tembakan tiga angka Sita yang masuk menggantikan Hanna.memutar badannya sedikit ke kanan. Dia cuman mendengus pelan. Mulanya nggak ada yang tahu kenapa Vira tiba-tiba melempar bola ke tengah lapangan tanpa melihat arah lemparannya. sampai seseorang yang berada di tengah lapangan menangkap bola yang dilemparkan Vira. sorakan mereka memberikan keriuhan tersendiri. *** “Untung lo masih ingat kode kita dulu. Stella nggak menanggapi ucapan Vira. Walau cuman beberapa orang plus pemain cadangan. “Saya pernah melihatnya.” sahut Pak Isman. dan tanpa terkawal dia melakukan lay-up manis.. walau sudah lama. terutama Vira. Bahkan Pak Isman pun sampai bertepuk tangan menyambut aksi Vira dan Stella. Vira melakukan blind pass dan yang menangkap bolanya adalah Stella! Belum sempat kekaguman lawan atas blind pass yang dilakukan Vira. Itu memang salah satu kebisaan mereka. Lus!” Dini minta Lusi sebagai Kapten Tim Senior supaya mengajukan time-out. “Tanggung..” kata Vira pada Stella.. *** Mira berhasil menambah angka untuk Tim Senior melalui jumping shot-nya. dan tiba-tiba melemparkan bola ke arah tengah.. Stella langsung berlari menuju ring. 39-35! Gor Padjadjaran kembali bergemuruh dengan sorak-sorai pendukung Tim Junior.. tinggal tiga menit lagi. .” komentar Pak Nurdin. “Time-out.” Lusi memberi alasan. Tapi Lusi nggak menggubris permintaan Dini. “Saya belum pernah melihat yang seperti tadi.

Vira juga melepas Lusi. Dari garis tengah dia membawa bola mendekati area three point shot Tim Junior. Inisiatif selalu diambil oleh Tim Junior yang udah minta dua kali time-out. Tapi selama quarter ketiga ini. dia kembali mencoba melewati Vira. Lusi kali ini nggak mau kecolongan lagi. Tim Senior nggak pernah meminta inisiatif timeout. Dalam permainan basket. nggak mau berduel dengannya. Sementara waktu terus berjalan. Dia berusaha mengecoh Stella dengan melakukan gerakan ke kanan. sejak awal quarter ketiga permainan Tim Senior nggak berkembang. Tapi Stella nggak mau terpancing. Dia malah melepas Lusi. . jika suatu tim mendapat tekanan terus-menerus dari lawan.. atau strategi yang dijalankan nggak berhasil. tapi tetap menerapkan strategi bermain yang hampir sama. Dengan skill individunya. Lusi yang mendapat operan bola dari Clara memutuskan untuk mencoba menerobos pertahanan Tim Junior sendirian. Mereka cuman berulang kali mengganti pemainnya.!” Teriakan teman-temannya seakan nggak didengar Lusi. Lusi memutar badannya sambil mendribel. seperti juga Stella. Lusi harus segera menembak bola ke ring atau dia akan terkena shot violation. Duel dua center kembali terjadi. “Oper. Mereka terus mendapat tekanan dari para junior dan keunggulan angka yang cukup jauh berhasil dipangkas. Selain itu dia masih penasaran dengan duel terakhirnya melawan Stella. Lus!” seru Mira. time-out adalah jalan terbaik. Dan aneh. Karena walaupun masih unggul 41-38. kalo nggak bisa dibilang menurun.. “Oper. Kali ini Stella nggak melepasnya seperti tadi. dan berikutnya giliran Vira yang menghadang. Tapi entah apa yang ada di pikiran Lusi. tapi terus menempel Lusi. Apa-apaan ini? tanya Lusi dalam hati sambil terus membawa bola.Sebetulnya permintaan Dini itu wajar. atau sekadar menarik napas. Para pemain bisa beristirahat sejenak sambil merencanakan strategi berikutnya. Pertanyaan Lusi terjawab saat Stella kembali menghadangnya. Dia sibuk berusaha lepas dari tempelan Stella. Giliran Tim Senior menyerang. menenangkan mental para pemain yang biasanya jadi down kalo ditekan tim lawan terus-terusan.

. Apa kamu nggak sadar mereka udah ngincer kamu?” Ucapan Mira membuat Lusi terperangah.. tempat seseorang udah siap menanti. Sementara itu Stella langsung melemparkan bola ke depan. Benda bulat berwarna oranye itu sekarang ada dalam genggaman Stella. satu-satunya pemain yang belum pernah .. membawa selisih angka kedua tim makin menipis. tapi kamu maksain untuk masukin sendiri.Dengan susah payah. Kedudukan saat ini adalah 41-40. dan menembak langsung. Dia berhasil melewati Mira yang udah kecapekan. saat tiba-tiba dia merasa ada sesuatu yang aneh. ke arah Stephanie.. Vira? Vira menerima bola muntahan hasil duel Stephanie versus Dewi dan langsung menggiringnya menuju ring. Lusi berhasil lepas dari hadangan Stella. Tim Senior sekarang cuman unggul satu angka dari Tim Junior. Stephanie berduel dengan Dewi di udara untuk mendapatkan bola operan Stella. tapi langkahnya tiba-tiba terasa berat. ternyata anak-anak junior itu nggak sebodoh yang kita kira. Bagaimana bisa? Kapan dia merebut bola? Lusi berusaha merebut kembali bola dari Stella. Nggak ada yang mendapat bola karena secara nggak terduga Stephanie cuman mendorong bola kembali ke tengah lapangan. “Siapa yang maen sendiri?” elak Lusi. Mereka cukup cerdik untuk terus ngincer kamu. Mana bolanya? Ternyata Lusi udah nggak memegang bola. “Ngincer aku? Maksud kamu?” “Heh. Dia kemudian langsung menuju ring dan siap memasukkan bola. “Tadi apa buktinya? Kamu bisa oper ke yang lain. *** “Kamu kenapa sih? Beberapa menit terakhir ini kamu selalu maen sendiri!” tanya Mira dengan nada kesal pada Lusi saat quarter ketiga berakhir.

. kekuatan mereka jadi berkurang. walau mungkin untuk sementara.. Aku kira kalo saat ini ada pelatih di antara kita. Nanti kita tetapkan strategi yan gudah kita susun pada menit kelima. Kamu terlalu capek. bahkan yang terakhir dilakukan dengan mudah... seperti merebut permen dari anak kecil aja!” “Aku nggak kecapekan kok! Sumpah! Aku kuat maen sampe empat quarter tanpa diganti. Walau begitu. “Berarti strategi kita berhasil.. kamu bisa masuk lagi.” Ucapan Mira yang didukung pemain lain akhirnya membuat Lusi menyerah. Nanti di pertengahan quarter keempat. center mereka dua kali berturut-turut berhasil mencuri bola dari kamu. udah deh..” kata Alexa. Mereka tau kamu udah kecapekan. “Akhirnya Lusi diganti juga tuh.” “Lusi. jangan bandel. Vira tersenyum lebar.. Sebaiknya kamu diganti dulu.diganti sejak pertandingan dimulai. mereka pasti bakal ngelakuin ini. suasana mendung masih belum hilang dari wajahnya.” sahut Vira.” Quarter keempat pun dimulai. . “dengan keluarnya Lusi. Buktinya.

sedang Poppy ada di belakangnya. coba merebut bola. kan?” tanya Vira pada Sita. sedang Poppy masuk lagi menggantikan Alexa. dan Vira dijaga ketat masingmasing oleh pemain lawan. Tim Senior yang kali ini tanpa Lusi coba melakukan fast break. Mengubah kedudukan menjadi 43-40. yang lalu mencoba lolos dari hadangan Poppy. karena Alexa. Tembakan bebas untuk Tim Senior. Kelihatan banget Sita kebingungan mengoper bola pada siapa. “Kamu bisa. hingga terjadi foul. “Mudah-mudahan. Tapi gerakan Sita malah mengganggu pergerakan Dewi. Tin junior sekarang memegang bola. Sita coba memancing lawan supaya terpecah konsentrasinya dengan mencoba masuk ke area three point . Mira berhasil lolos dan langsung mengoper pada Dewi. tenang aja. Vira membisikkan sesuatu ke telinga Sita. Dari Poppy dioper pada Sita. Stella. Dua kali tembakan bebas masuk.” Menit-menit pertama quarter keempat atau quarter penentuan. Sita menghadang.DUA PULUH SATU STEPHANIE digantikan Agnes di quarter keempat. Saat Dewi mencoba mendribel bola. “Nggak papa. yang langsung mendribel hingga tengah lapangan. Kelihatannya Tim Junior akan melakukan strategi bertahan.” Vira coba menghibur Sita yang merasa bersalah. Operan panjang Ilana dari belakang diterima dengan baik oleh Mira.

Dewi mencoba berkelit ke samping. Vira mengacungkan jempolnya ke arah Sita. membuat Sita tersenyum lebar. Mira memberikan bola pada Clara. tapi posisinya kurang menguntungkan. tapi nggak ada yang terpancing. Sekali berkelit. melewati hadangan Vira. “Kalo ada kesempatan menembak tiga angka. berhadapan dengan Stella.shot. Tapi Vira udah tahu hal itu. yang kemudian berlari menyusuri lapangan. dan Tim Junior akan kehilangan setengah kekuatan mereka. Sita menembak. seperti memberi isyarat pada Sita. Kapan dan di mana aja. Vira melompat dan . Nggak disangka-sangka. Mira mengoper bola pada Dewi. Vira mencoba mengganggu pergerakan Dewi. Ada Clara di sana. Dari tengah lapangan. Poppy berhasil meraih bola. Wajah Sita terlihat ragu-ragu. dan langsung mengoperkan pada Stella. langsung menuju ring lawan. Matikan keduanya. lakukan. yang bergerak lebih cepat daripada Ilana. Vira mengangkat tangannya. Sita mencoba menghadang. Dewi mencoba menerobos masuk. Dari jarak yang cukup jauh di luar area three point shot. ada Vira yang berlari dari tengah lapangan. tapid ia kembali teringat ucapan Vira saat berbisik tadi.” Ucapan Vira itu seakan memberikan kepercayaan baru pada Sita. Tim Senior rupanya udah tahu bahwa otak Tim Junior adalah Stella dan Vira. Kita butuh kesempatan mendapat poin sekecil apa pun. yang dibangun oleh Mira. Bola liar ke sisi kanan. tapi Mira bisa berkelit dan masuk ke daerah three point shot. Tangan kanannya berhasil menepis bola lepas dari tangan Dewi. Masuk! Kedudukan sekarang imbang 43-43. Nggak masuk! Bola mengenai bibir ring dan memantul lagi ke dalam lapangan. Clara yang berusia hampir tiga puluh tahun kalah tenaga dan stamina dibanding Stella yang jauh lebih muda. Fast break! Stella berlari cepat. Dihadang oleh Agnes. Clara memilih mengoper bola kembali pada Mira. Kembali Tim Senior melakukan serangan. tapi ada Poppy di situ. Jadi para pemain Tim Senior menjaga ketat Vira dan Stella. bahkan sampai dua orang pemain menutup pergerakan mereka. Stella langsung menembakkan bola tanpa ada satu pun lawan yang membloknya.

“Bukan masalah lo masih kuat atau nggak. angka seperti berkejar-kejaran. *** Selanjutnya. “Oke. Lusi juga masuk lagi tuh! Apa dia bisa nandingin Lusi?” ucapan Stella merujuk pada Rida. “Justru itu. lalu coba memasukkannya ke dalam ring dengan cara.. “Mana gue tau!” jawab Stella sambil menatap Vira dengan pandangan iri. Emang lo mampu nandingin dia yang kembali segar bugar? Mending lo istirahat dulu dan kasih kesempatan Rida yang masih fresh. hingga menit keenam saat Tin Senior meminta time-out. “Da. dan Sita?” “Siapa bilang gue ikut maen?” “Jadi?” .. Tetep lima lah. Alexa. “Siapa sih yang ngasih kewenangan lo jadi pelatih? Kenapa nggak lo aja yang diganti?” Stella mendengus kesal dan duduk di kursi pemain cadangan. berarti yang maen gue.. tapi pundaknya ditepuk Stephanie. seperti yang udah-udah.. Agnes. dan langsung tukar posisi dengan Agnes. “Agnes nggak keluar? Kalo gitu ada enam orang dong.” kata Stella.” kata Vira.berhasil menangkap bola yang masih berada di udara. “Strategi apaan? Waktu tinggal enam menit lagi....” “Nggak.” Stella pengin menanggapi ucapan Vira. “Gue masih kuat kok. jadi Rida gantiin Stella dan Stephanie masuk lagi. Vira bisa nombok?” tanya Stephanie pada Stella. Tumben.” sahut Vira. tapi ini strategi.” “Tunggu!” Stephanie memotong ucapan Vira.. Ucapan Vira membuat Stella yang lagi minum menoleh ke arahnya. Rida.” “Lho. kamu gantiin Stella. dia nggak menyebut Rida dengan sebutan anak kampung. lo.. dan angka masih ketat.. slam dunk! 43-45! Untuk pertama kalinya Tim Junior memimpin perolehan angka. Alexa masuk gantiin Poppy.

Kita harus kasih kepercayaan ke yang lain untuk nunjukin kemampuan mereka juga. Saat ini kalo mo menang. saat ini emang boleh dibilang Tim Senior turun dengan kekuatan terbaiknya. trus Agnes tuker posisi dengan Alexa. “Saya rasa mereka punya pertimbangan tersendiri.. “Trus kenapa tim cadangan yang turun? Kecuali Alexa dan Steph. *** “Vira dan Stella diganti? Nekat benar mereka. “Ya maulah..” tandas Stella.. ya!? Ngeganti gue aja udah merupakan kesalahan.. Yang ditanya mengangguk. “Gue nggak tau jalan pikiran lo!” *** Vira benar.. mereka ternyata lebih ngerti daripada kita. Masih banyak waktu kok..” komentar Pak Nurdin saat pertandingan dilanjutkan lagi. yang lainnya kalah skill dari mereka.” sahut Pak Isman yang udah mulai bisa memahami jalan pikiran anak-anak didiknya. Liat. Kepercayaan merupakan salah satu kunci untuk membangun kebersamaan dalam sebuah tim. Jangan pernah memandang remeh kemampuan teman kita. Udah nggak ada waktu lagi kalo lo mo nerapin berbagai macam strategi.“Lo gantiin gue. Lo mo menang nggak sih?” omel Stella di bangku cadangan. lalu tuker posisi dengan Agnes. Dengan kembali masuknya Lusi. *** “Lo gila. the best team and the best strategy should be shown.. “Jangan kuatir. kan?” tanya Vira ke Agnes..” sahut Vira tenang. apalagi lo juga ikutikutan diganti. karena mungkin suatu saat kita akan bergantung kepada teman yang . Lo bisa jadi guard.” jawab Vira.

Lusi tetap tergeletak sambil memegangi betis kirinya dan meringis kesakitan. Lusi berusaha merebut kembali bola dari Rida. ternyata Rida dan kawan-kawan bisa mengimbangi permainan Tim Senior yang udah turun dengan pemain-pemain terbaiknya. Pemain Tim Senior lainnya segera mengerubungi Lusi. apalagi oleh anak junior yang dianggapnya belum tahu apa-apa.kita remehkan itu. menimpa tubuh Lusi. Saat akan melewatinya. Lusi nggak bisa menguasai keseimbangan tubuhnya. Dia masih mengerang kesakitan. “Yang bener apanya? Udah jelas pemain lo yang coba ngejar dan narik baju. Siapa yang nggak bener!?” Alexa yang maju menanggapi. Akibatnya kaus Rida ikut tertarik ke bawah. Shit! rutuk Lusi dalam hati. “Heh! Maen yang bener dong!” omel Dini sambil menunjuk Rida. . tapi bisa ditangkap lagi olehnya. Foul! Rida segera bangun dan pergi ke sisi lapangan. kontrol bola Lusi nggak seketat dalam posisi diam. Dia tentu aja nggak rela bolanya direbut. Sementara itu Lusi digotong ke pinggir lapangan sambil menunggu tim medis. Pada angka 51-49. Akibat terlalu memaksakan diri mengikuti gerakan tubuh Rida. Dan walau boleh dibilang hanya menurunkan tim cadangan. dan itu membuat Rida berhasil merebut bola. Beberapa di antaranya terpancing emosinya melihat rekan satu tim mereka terkapar kesakitan. Saat Lusi berkelit. Faktor stamina yang lebih segar karena sempat beristirahat membuat perbedaan skill mereka dengan Tim Senior menipis. Lusi terlibat duel di tengah lapangan. Untung suasana nggak keburu memanas karena masing-masing keburu ditenangkan rekan-rekan setimnya. Bola yang dipegang pemain berusia 26 tahun itu berhasil ditepis Rida. tapi Rida bisa berkelit. dan terjatuh. dan Rida ikut terjatuh. Rida cepat mengulurkan tangannya. Steal! Rida berhasil memanfaatkan stamina Lusi yang belum sepenuhnya pulih. hingga pertandingan tetap berlangsung ketat. Sebelum terjatuh Lusi sempat memegang kaus Rida. Tapi anehnya.

bikin Stella tambah kesel.. Iya. nggak?” lanjut Vira.” sambung Vira. “Mo main lagi nggak?” tawar Vira pada Stella.“Lusi kenapa? Cedera?” tanya Hanna dari bangku cadangan. jadi gue nggak ngedoain cederanya jadi parah. ini malah ngedoain dia bisa main lagi!” sungut Stella. gue nggak punya masalah ama dia. Lusi adalah salah satu pemain terbaik Jawa Barat. “Gue mo masuk. ngedoain orang yang baik-baik kan dapet pahala. *** Cederanya Lusi serta masuknya kembali Vira dan Stella membuat hasil akhir pertandingan sepertinya udah diketahui. daripada ngedoain yang jelek-jelek.” Vira meneguk minumannya. Eh. Vir!” rutuk Stella. Setelah Rida menyamakan kedudukan . “Mudah-mudahan cederanya nggak parah dan dia bisa main lagi. “Sialan lo. “Emang kenapa? Tim kita masih ketinggalan. Apalagi suka atau nggak suka. Bahkan dia harus segera dibawa ke rumah sakit untuk mengatasi cederanya.” Vira memberi alasan. Posisinya digantikan oleh Ilana. Saatnya main habis-habisan. apalagi parah. Pertandingan emang tinggal tersisa kurang dari dua menit lagi. kemudian menghabiskan minuman yang dipegangnya dan berdiri menyusul Vira.. “Secara pribadi. “Dengan sisa waktu segini?” Stella balik nanya. yang rugi daerah kita juga. Kalo dia sampe cedera. “Lagi pula. Terserah kalo lo nggak mau. lalu menuju ke tengah lapangan. “Dasar orang aneh! Justru cederanya dia adalah keuntungan buat kita.” lanjut Vira. Tapi mungkin ini kesempatan terakhir lo main bareng gue. *** Lusi akhirnya emang nggak bisa melanjutkan sisa pertandingan.

dan Vira sekali lagi melakukan slam dunk yang dipelajarinya dari Hera. “Kita akhirnya ke Kejurnas!” teriak Poppy meluapkan kegembiraannya. seolaholah mereka udah jadi juara di suatu turnamen. *** Lima. Vira dan Stella bahkan dua kali membuat blind pass. Fast break yang mereka lakukan membuat para pemain senior keteteran. gemuruh kegembiraan langsung terpancar di kubu Tim Junior. *** “Pertandingan yang menarik. Begitu wasit meniup peluit tanda pertandingan berakhir... Mereka udah kecapekan dan udah nggak mampu lagi mengimbangi stamina juniornya yang masih kelihatan segar. Tim Senior seperti anak ayam kehilangan induk. dua. Hasil yang cukup meyakinkan mengingat lawan yang mereka hadapi.. Dia lalu memeluk Sita yang juga sedang meluapkan kegembiraan. tapi tetap nggak bisa memperbaiki keadaan mereka. “Jadi akhirnya kita akan mengirim Tim Junior?” tanya Pak Isman.” komentar Pak Nurdin.. empat. kemenangan ini juga membuktikan bahwa kemampuan Tim Junior nggak kalah dengan para seniornya. satu. Sebagian dari para pemain cadangan bahkan masuk ke lapangan dan memeluk rekan-rekannya yang bertanding. tiga. . Selain sebagai tiket mereka ke babak final Kejurnas... sekaligus memupuskan keraguan sebagian pihak tentang kemampuan mereka.lewat dua kali tembakan bebas.. Kontras dengan suasana di kubu Tim Senior yang terlihat lesu dan muram. Tim Senior melakukan dua kali time-out untuk mengubah strategi dan mengganti pemain. dan hal itu benar-benar dimanfaatkan juniornya. Di akhir-akhir pertandingan. Tim Junior berhasil memenangi pertandingan dengan hasil akhir 62-56. Vira dan Stella dibantu Stephanie seperti menguasai lapangan....

..” jawab Pak Nurdin singkat. Stella melirik Vira dan tanpa mengucapkan sepatah kata pun pergi menuju ruang ganti. . kita bicarakan dalam rapat besok pagi...” ujar Vira..“Hmm. Meninggalkan yang lain yang masih larut dalam kegembiraan. “Makasih. *** Vira mendekati Stella yang lagi minum di pinggir lapangan. soal itu.

walau itu bukan salah siapa-siapa. tapi karena Vira mengawali hari ini dengan sesuatu yang baru. Salah satunya adalah sekolah. apalagi jika rutinitas itu dirasa membosankan.DUA PULUH DUA I don’t like Monday! Itu adalah istilah yang sering terdengar setiap Senin. Bukan karena hari ini nggak ada ulangan. tapi Vira merasa baru kemarin dia resmi menyandangnya setelah Tim Junior Jawa Barat berhasil mengalahkan seniornya. setelah liburan paling malas untuk kembali ke rutinitas sehari-hari. Vira juga menyesalkan cederanya Lusi. atau hari ini dia menang undian. Vira sebetulnya lebih suka melihat ekspresi wajah anggota Tim Senior saat quarter keempat berakhir daripada melihat ekspresi wajah teman-temannya. Status itu sebetulnya udah disandang Vira sejak dia ikut kualifikasi Kejurnas. Meskipun kebahagiaannya sedikit berkurang akibat cederanya Lusi. Dia nggak tahu apakah cedera pemain senior itu parah atau nggak. Ya. hari ini adalah Senin yang membahagiakan. Emang. mulai hari ini dia menambah satu lagi catatan pentingnya. saat orang-orang kembali ke aktivitas dan rutinitas semula setelah menikmati liburan akhir pekan. Ekspresi wajah yang kelihatan begitu kesal dan seakan-akan seperti nggak ada harapan untuk hidup lagi. Tapi. Tapi bagi Vira. yaitu menjadi pemain basket putri provinsi Jawa Barat. Vira juga gembira karena bisa bermain kembali bersama Stella dalam satu tim dan .

” “Gitu ya. “Katanya sih ama temennya. Apalagi katanya hari ini ada ulangan di kelasnya.” “Katanya?” “Sita bilang gitu.menikmati salah satu pertandingan terbaiknya. *** Selesai mandi dan berpakaian seragam sekolah. Dia udah pamitan kok tadi malem. apa Sita bisa ngerjain ulangan padahal nggak sempet belajar. “Vir?” “Heh?” .. “Jangan harap. Sementara Niken meneruskan mengerjakan latihan soalnya...” jawab Niken.” Vira lalu menyantap nasi goreng sosis bikinan Bi Sum. Kalo dia sih mending minta ulangan susulan daripada bela-belain ngejar waktu. “Kenapa?” tanya Niken. Makanya dia cuman nitip salam lewat aku.. “Sita pergi ke terminal bus ama siapa?” tanya Vira seperti teringat sesuatu. Katanya dia nggak mau suara motornya bangunin orang karena masih subuh.” Vira manggut-manggut. “Udah. walau mereka berdua belum berdamai.. Vira turun ke lantai bawah. Di sana cuman ada Niken yang lagi mengerjakan latihan soal di ruang tengah. Temennya nunggu pake motor di ujung jalan.. Vira sendiri sangsi... Tadinya dia mo bangunin kamu.” Sita emang pulang ke Tasik pagi-pagi karena dia nggak mau bolos sekolah.” jawab Stella. tadi subuh. tapi nggak tega karena kamu pasti kecapekan.. “Lo nggak akan berubah pikiran untuk masuk lagi ke dalam tim? Kita mungkin bisa juara kalo lo ikut. Siapa lagi yang nganterin Sita kalo bukan Rei? batin Vira. “Aku tau. nggak papa. “Sita udah pergi?” tanya Vira.” tanya Vira pada Stella. “Nggak.

“Boleh. “HP-nya dimatiin.... ke pacarnya sendiri. pas dia ganti nomor.” Niken melihat nomor yang tertera di phonebook HP Vira. “Nggak aktif.. Ambil sendiri di tas deh.. “Dia mo kasih surprise. kali. Paling ntar pulang sekolah.. dia nggak ngasih tau kamu? Dan dia nggak ngasih tau kamu kalo mo ke Bandung? Tega bener kakakku ya.. Ini nomor Kak Aji yang lama.. atau baterainya abis..” “Pinjem HP-mu dong. dan aku tadi malem lupa ngecharge... “Vir?” “Ya?” . “Eh.” kata Niken. ya?” Vira malah balik nanya. HP-ku baterainya abis.. “Pantes aja..” jawab Vira tergagap-gagap.....” Niken seolah-olah bicara pada dirinya sendiri.” “Trus. kali.” ujar Niken.” sahut Vira. Nggak lama kemudian.. di mana pun.. tau.. Dan dia juga nggak pernah lupa nge-charge baterai HP-nya kalo udah low.. “Kamu tau kan..“Udah ketemu Kak Aji?” Ucapan Niken membuat Vira menghentikan gerakannya yang akan menyuap nasi ke dalam mulut. “Eh. Pertanyaan Vira membuat Niken menoleh dan menatap tajam ke arahnya. Aku lupa mo ngomong sesuatu ke dia. kan?” “Tentu aja. “Kamu nggak punya nomor HP Kak Aji yang baru? Berarti selama dia di sini kamu belum pernah telepon-teleponan ama dia?” “Eh.” Niken menekan nomor telepon Aji di HP Vira. emang dia ganti nomor..... Emang no nelepon siapa?” “Kak Aji. Kamu nggak punya nomor HP Kak Aji yang baru?” tanya Niken. eh. “Udah ketemu dia?” “Belum.” “Nggak. kan aku sibuk latihan. Kak Aji selalu nyalain HP-nya... Kak Aji lagi ada di Bandung?” tanya Niken. Nomor Kak Aji yang di sini ada di phonebook kamu.

... Dia nggak cerita apa-apa. siapa yang menyangka kalo Vira udah putus dengan kakaknya? “Jangan tanya kenapa. sekitar dua bulanan. nggak seperti orang lain kalo putus cinta. Niken cuman tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.” Mendengar jawaban Vira. Bukannya aku nggak peduli. walau dia kakakku. “Jangan kuatir.” tandas Niken. ya?” “Kata siapa?” “Vira. “Apa?” “Kapan kalian putus?” “Udah agak lama sih..” “Aku emang sengaja ngerahasiain ini. Kalo emang kalian nggak jodoh.” tandas Vira... Jadi. Bahkan kalo Kak Aji macem-macem ke kamu.” Vira terdiam mendengar ucapan Niken.. Dan aku juga minta Kak Aji untuk berbuat hal yang sama. “Kak Aji yang bilang ke kamu?” tanya Vira.“Kamu udah putus ama Kak Aji. Kak Aji kan kakak kamu. kenapa kamu ngerahasiain ini ke aku? Kak Aji juga. Aku seneng kamu bisa deket ama Kak Aji.. Tapi bukan berarti aku bakal maksain kamu harus jadian ama dia. bahkan mulai menyendok nasi gorengnya lagi. contohnya dirinya. Seolah-olah nggak saling kenal. .... Beberapa menit kemudian dia mengangguk. Aku cuman mo jaga perasaan kamu... karena aku nggak bakal membahasnya. Vira.. “Vira. ya mo gimana lagi.. aku nggak bakal nanya.. Aku ngambil kesimpulan ini setelah liat kalian berdua.” Dua bulan? Dan selama itu Niken nggak tahu? Dia juga nggak menangkap perubahan tingkah laku Vira dua bulan yang lalu. “Nggak. aku nggak bakal ikut campur soal hubungan kalian. kenapa sih harus mikirin perasaanku? Walau aku temen kamu dan Kak Aji itu kakakku..” “Kapan?” tanya Niken lagi setelah Vira kelihatan cuek aja.. Yan gaku heran. gitu. aku akan membela kamu.

Ternyata Rida belum pulang. “Belum.. Kamu mau ikut?” “Emang Pak Isman ada di sana?” “Kemaren sih kata Pak Isman ada rapat pengurus PERBASI dan jajaran pelatih sampe siang. Kami putus bukan karena dia macemmacem atau aku yang salah. “Kak Aji nggak pernah ganti nomor kok. nggak masalah. walau udah dicari jalan keluarnya.” Vira melirik jam tangannya. “Kamu udah dapet SMS dari Pak Isman?” tanya Vira. “Syukur deh kalo begitu. ntar ngeganggu. Niken menyerahkan HP Vira yang sedari tadi dipegangnya.” *** Pulang sekolah.” sahut Vira. kan?” kata Vira.. lagi.” Saat Vira akan mengambil tasnya yang ada di ruang tengah. Mo ngebahas soal kemungkinan masuknya Stella ke dalam tim kita. dan ada perbedaan pandangan di antara kami yang sukar disatukan. . Kamu?” “Belum juga. jadi pasti Pak Isman ada di sana. Nomor dia tetap yang ada di phonebook HP kamu. Kalo Pak Isman udah pulang ya udah.” kata Niken sambil tersenyum jail. lagi ngobrol bareng temen-temennya. Kakakmu orang baik kok. Kami putus cuman karena ngerasa udah nggak cocok aja. “Dasar kamu. Mo ikut nggak? Sekalian kamu bantu aku ngomong. Karena itu kami sepakat untuk putus secara baik-baik..” “Kenapa nggak nelepon dulu?” “Nggak usah. Vira setengah berlari menuju kelas Rida.” Rida mengangguk mengiyakan. Aku mo ke GOR Padjadjaran pulang sekolah ini. “Berangkat yuk! Ntar terlambat lagi! Kamu mo bareng aku.“Jangan kuatir. “Emang mo bareng siapa lagi? Kamu udah selesai makannya?” “Udah.

Tapi Vira nggak peduli soal itu. “Maksudnya apa?” tanya Rida.*** Saat Vira sampe di Sekretariat PERBASI Jawa Barat. “Tadi rapat pengurus dan pelatih memutuskan. Juga ke Rida. hingga diharapkan dua tahun lagi para pemain junior itu dapat menggantikan peran para seniornya. *** “Digabung?” Vira nggak percaya dengan apa yang didengarnya dari Pak Isman. untuk babak final Kejurnas nanti akan segera dibentuk satu tim baru.” kata Pak Isman. nggak ada satu pun dari para pengurus itu yang memberi ucapan selamat atas kemenangan Tim Junior kemarin. Anehnya.. kebetulan.” Pak Isman menjelaskan.. Walau begitu. termasuk Pak Isman. Demikian juga Rida. Sebagian pengurus masih lebih yakin dengan kemampuan Tim Senior yang dua tahun lalu berhasil masuk final. Bapak pengin membicarakan sesuatu ke kamu. Vira harus menunggu hampir satu jam sebelum dia melihat para peserta rapat keluar dari ruangan. yang pemainnya merupakan gabungan antara Tim Senior dan Junior. . ternyata rapat belum selesai. karena kemampuan tekniknya tidak kalah dari seniornya. Vira. Dia dan Rida segera menghampiri si pelatih. Selain itu juga untuk memuluskan proses regenerasi di tim hingga para pemain junior itu akan memperoleh pengalaman di Kejurnas. Lalu dia memperkenalkan Vira dan Rida ke beberapa pengurus PERBASI Jabar yang ada di situ dan belum mengenal mereka berdua. “Hai. ada beberapa pemain junior yang akan dimasukkan.

“Kenapa apa?” “Kenapa bukan kami semua yang pergi? Padahal mereka udah janji. Kenapa mereka mengingkari janji lagi?” Pak Isman menghela napas mendengar pertanyaan Vira.” Nggak kalah dengan duet Lusi dan Mira? Kami lebih baik dari mereka! batin Vira. bisa jadi pilihan alternatif kita di Kejurnas nanti.. Rida juga kemungkinan bisa masuk. Apalagi harus bekerja sama dengan mereka. padahal duet kalian berdua tidak kalah dengan duet Lusi dan Mira.. tergantung evaluasi nanti. sebetulnya soal ini diputuskan setelah ada protes dari Tim Senior soal pertandingan kemarin. tanpa embel-embel bakal digabung dengan Tim Senior. Bapak sendiri secara pribadi tidak masalah siapa yang akan pergi. Tapi Bapak pastikan Vira bakal masuk tim. Vira memutuskan untuk nggak membahas soal ini. Mungkin dari Tim Junior hanya akan dipilih sekitar empat atau lima orang. “Sayang. . pemenang pertandingan kemaren bakal dikirim ke babak final. tentu saja dengan kriteria yang ditetapkan mereka. Ditambah Stephanie... Nggak janji deh. kita nggak semuanya tampil di babak final?” tanya Vira. “Jadi. Pak?” tanya Vira. Karena itu dia cuman menggeleng pelan.Vira nggak bisa membayangkan dirinya berada satu tim dengan Lusi. Oya. “Dan asal kalian tahu. Kita kan hanya akan membawa paling banyak dua belas pemain.” Pak Isman berhenti sebentar sebelum melanjutkan. Mira. Bapak hanya bertugas melatih dan merekrut pemain. Tapi mendengar kabar yang di luar dugaannya itu. tapi ternyata pihak pengurus punya rencana tersendiri. dan Bapak tidak bisa berbuat apa-apa karena Bapak tidak punya wewenang di situ. atau pemain senior lainnya yang memandang remeh kemampuannya. Bapak baru akan membicarakan soal ini dengan tim pelatih.” lanjut Pak Isman. Bapak ingin Tim Junior yang pergi sesuai perjanjian kemarin. soal pembentukan tim dan sebagainya ditentukan oleh Badan Tim Nasional. “Tim Junior? Tentu saja tidak. “Kenapa. “Kamu kan tahu. kalau Stella bagaimana? Dia mau bergabung lagi?” Justru inilah yang akan dibicarakan Vira. karena baik kalian maupun Tim Senior punya kelebihan dan kelemahan masing-masing.

dan mudah-mudahan perkiraan Bapak ini tepat. dan yang lain. kita bakal kalah dan nggak bakal pergi! batin Vira. dan mereka memanfaatkan lubang itu untuk menggagalkan hasil pertandingan kemarin.” “Ini bukan solusi terbaik. mudah-mudahan bisa sore ini. strategi. “Memang. .” “Kenapa harus masalahin soal administrasi? Itu kan cuman masalah kertas? Nggak penting banget!” “Bagi sebagian orang. justru masalah administrasi sangat penting. Jadi kehadirannya kemarin dipertanyakan. Seharusnya Bapak tahu. membentuk tim baru berarti memulai semuanya dari nol. Kerja sama. Pak Isman pun mengakui hal itu.” tandas Vira. Waktu kita nggak banyak. tapi tidak ikut ke babak final. Tapi sebagai pelatih.” Kalo nggak ada Stella. Yang jelas. Pak?” tanya Rida. Apalagi mereka juga tahu Stella hanya membantu kalian supaya bisa menang di pertandingan itu.” kata Vira. “Karena itu. “Kehadiran Stella. dia nggak mungkin kelihatan kalah di depan anak didiknya. Saya sendiri baru aja mo minta bantuan Bapak untuk membujuk dia supaya mau bergabung lagi. “Tapi Stella kan bagian dari tim juga. Paling lambat besok sudah akan terpilih anggota tim. walau dibentuk dari pemain-pemain terhebat sekalipun. dan muncullah rencana penggabungan tim sebagai solusi terbaik. Lusi dan kawan-kawan telah melihat itu sebagai sebuah lubang di kemenangan kalian. pasti mereka tidak bakal protes dan kalian akan pergi semuanya. pemanggilan akan segera dilakukan. Kalau saja kemarin tidak ada Stella. Tapi secara administratif dia sudah bukan bagian dari tim. Mereka menganggap itu curang. Karena itu para pengurus dan pelatih mengadakan rapat untuk mencari jalan tengahnya. Dan Bapak lihat kalian rata-rata dapat beradaptasi dengan mudah. Kita punya peluang besar di Kejurnas kalo ada dia.. Mereka tahu Stella sudah keluar dari tim. dan membentuk tim baru adalah sebuah kesalahan.“Protes? Soal apa. Ucapan Vira ada benarnya juga..” Tapi jawaban Pak Isman kelihatannya nggak memuaskan Vira.

.. Berikutnya mungkin Stephanie dan Stella..” tolak Vira. tapi Bapak lebih tau mana yang terbaik untuk tim.“Begini saja... Apa kalian ada usulan siapa kira-kira?” tanya Pak Isman.. juga Rida akan Bapak masukkan. kalau dia mau. walau katanya tidak parah. Bapak akan usahakan hingga enam orang dari kalian masuk tim. “Makasih. Itu berarti setengah anggota tim. Dan untuk Vira. Jadi tinggal mencari dua orang lagi. apalagi Rida bisa jadi pelapis Lusi yang sedang cedera.

Dia bermain basket untuk hobi. Gue bisa ikut ke babak final. kita nggak bakal menang tanpa Stella. Malah kita semua nggak jadi pergi. Main basket ya main basket. karena dia yang membujuk dan membawa Stella.” hibur Stephanie saat ketemu Vira malamnya di sebuah kafe di daerah Dago. “Tapi gue merasa nggak enak aja ama temen-temen. mereka nggak bakal bisa menang. Tanpa Stella.. di luar permainan basket itu sendiri. nothing else! Apalagi Pak Isman bilang keputusan pernyatuan kedua tim dipicu oleh kehadiran Stella dalam pertandingan kemarin. Mereka udah bela-belain dateng ke sini cuman buat pertandingan kemarin. Tapi nggak cuman itu tujuan Vira bermain basket. Walau Pak Isman menjamin dirinya bakal masuk tim inti. tapi lalu dibikin kayak gini. tapi yang lain nggak. Dan Vira nggak seneng kalo kenikmatan bermain basket yang dia rasakan dicampuri hal-hal lain. Gue harus ngomong apa ke mereka?” . Tampil di Kejurnas emang merupakan impian setiap pemain.. jalan menuju babak final yang udah terbentang lebar jadi belok-belok lagi. Terutama yang dari luar kota kayak Sita. Tapi saat itu dia nggak punya pilihan lain. itu nggak membuat Vira puas. Bener kata lo. kesenangan. “Nggak usah merasa bersalah. termasuk dirinya. Itu membuat Vira jadi merasa bersalah. dan memiliki tempat berbagi.DUA PULUH TIGA VIRA benar-benar nggak menyangka.

Tapi nggak lama. Dia bahkan rela bolak-balik Tasik-Bandung cuman untuk memastikan keikutsertaan kita. alasannya masih kenyang.” *** Akibat terlalu banyak berpikir. nggak ada masalah. Vira mengambil HP dan melihat SMS yang masuk. yang lalu berbalik menjadi kebencian pada diri gue..” “Tapi gue tetep aja merasa nggak enak. nanyain kapan mulai latihan. “Gue sih udah dapet SMS dari Pak Isman tadi sekitar jam limaan. Besok kita mulai latihan jam tiga sore. Sita salah satu yang paling bersemangat untuk ikut Kejurnas.” sungut Bi Sum yang merasa jerih payahnya nggak dihargai. “Gue nggak tau harus jawab apa.. sekarang Non Vira. Dia bilang belum dapat kabar dari Pak Isman. Pemain yang lain juga kurang-lebih begitu.Suara HP menghentikan obrolan mereka berdua. “Tadi Non Niken juga nggak mau makan. karena gue yang udah menghancurkan impian mereka. kenapa Niken nggak mau makan? Padahal tadi pagi dia kelihatan fine-fine aja.” kata Vira. Trus dia masuk ke kamar dan sampe sekarang nggak keluar-keluar lagi. Gue yakin anak-anak yang lain pasti bisa ngerti. Akibatnya dia nggak nafsu makan. Lo udah berbuat yang terbaik bagi tim. Gue nggak tega liat kekecewaan mereka. Mungkin kita udah gagak di babak kualifikasi. “Niken juga nggak mau makan?” tanya Vira. “Dari Sita. “Tadi pas Bibi tawarin. kita nggak bakal bisa sejauh ini.” “Jangan berprasangka buruk.” sahut Stephanie. dan kalo bukan karena lo. . Sama sekali nggak mau menyentuh makan malam yang udah disiapkan Bi Sum. Vira jadi pusing sendiri. Vira emang sempat beberapa kali memergoki Niken lagi bengong sendiri dan seperti nggak konsen ke pelajaran.” Vira heran. Di kelas juga Niken bersikap biasa.

kecuali kalo udah makan di rumah kamu. Tumben.” tandas Niken. tapi ingin mengorek. Pas ada aku di rumah sih nggak pernah tuh. Waktu Sita tinggal di sini dan aku lagi nginep di rumah. “Ya udah. kali ini Vira nggak mau memaksa Niken untuk ngaku. Dia bertanya bukannya belum tahu. dan dia nggak mau menambah pikirannya dengan masalah lain. tapi dia nanyain kamu. trus pergi lagi deh. nggak tau. “Bentar lagi.. Kamu belum mo tidur?” kata Vira.. Aku belum laper kok.” Vira beranjak keluar kamar Niken.. Tapi kelihatan jelas dia menyembunyikan sesuatu..” jawab Niken. Pikirannya sendiri udah pusing dengan masalahnya. Tapi saat mencapai pintu. Paling sekali Rei ke sini. “Ada apa?” tanya Vira.. “Ha?” “Nggak biasanya kamu nggak mau makan. “Kamu belum makan?” tanya Vira. “Hmm. Dia lagi mengutak-ngutik HP-nya.” “Nggak ada apa-apa. “Vir?” “Eh. “Aku belum laper. aku mo ke kamar dulu. Niken memanggilnya.” jawab Vira.Pintu kamar Niken ternyata nggak dikunci.. “Emang kenapa?” tanya Vira. sejauh mana Niken tahu soal Rei dan Sita. Vira masuk ke kamar dan duduk di pinggir tempat tidur Niken. Jadi dia akhirnya tahu juga! batin Vira. apa Rei sering ke sini?” Vira tertegun mendengar pertanyaan Niken. Paling nggak dia ngasih jawaban yang jujur. “Ada apa lagi?” tanya Vira. Paling nggak malam ini. Niken termangu mendengar jawaban Vira. karena Rei emang nggak pernah datang saat dia ada di rumah. dan Niken belum tidur. .

. “Nggak. Dan Vira nggak mau melanggar sumpahnya. Niken tahu dia sering main streetball? Dari mana? “Nggak usah ngelak. Vira tahu.” Vira berpikir. Aku mo tidur.“Aku nggak nyangka. Aku capek.. iya. aku juga belum begitu ngantuk.. “Ya udah kalo begitu. tapi. Lagi pula. “Katanya kamu mo ke kamar? Kok malah bengong?” suara Niken membuyarkan lamunan Vira. Niken sebetulnya masih sayang pada Rei.. Kamu kira aku nggak tau kamu sering keluar malem buat main streetball? Kadang-kadang juga ama Rei. walau hatinya sering merasa miris kalo melihat Niken memikirkan soal Rei dan hubungan mereka. Toh kamu dan Rida tetep masuk dalam tim. Dia lalu menghela napas. Rei dan Sita. Tega kamu. ama siapa aja. aku kan udah putus ama dia. kamu mo ngomong sesuatu? Atau cerita? Nggak papa kok. ya? Nggak usah dipikirin.. kan? Kalian berdua emang kompak kalo soal begini.” “Nggak main streetball?” Ucapan Niken kembali mengejutkan Vira.” “Kamu juga mo tidur?” “Iya.” Niken nggak melanjutkan ucapannya.” “Soal Kejurnas. itu udah bukan urusanku lagi. “Nggak. jadi aku harus berangkat lebih pagi.. Kenapa masih pusing-pusing? Dia mo pacaran lagi kek. “Eh. mata Niken berkaca-kaca. Niken menggeleng..” balas Vira. “Udahlah.” jawab Niken dengan suara masih bergetar. Besok jadwal piketku.” Niken mencoba menghibur dirinya sendiri. Rei! batin Vira..” . Tapi dia udah bersumpah untuk nggak mengatakan apa pun tentang yang diketahuinya soal Rei pada Niken. Tapi Vira bisa melihat dengan jelas. tapi dia nggak mau menunjukkannya secara terbuka. apa Niken juga tahu Rida pernah ikutan main? “Malme ini kamu nggak main?” tanya Niken lagi.

Vira tersenyum.. aku yakin itu yang terbaik. Apa pun keputusan yang kamu ambil.” ujar Vira..” “Ya udah..” . kan? Jangan sampe besok telat bangun.. Semua itu tergantung kamu. “Goodnight.“Bukan itu masalahnya.. “Thanks. lalu beranjak menuju pintu kamar...” “Aku tau. kamu mo tidur. Aku akan selalu mendukung kamu.. “Goodnight to you too. kan?” Vira cuman diam.” tandas Niken.. Kamu ngerasa nggak enak dengan yang lain.” Gaya Niken udah kayak Mama Vira aja.

Vira menghitung anggota Tim Junior yang datang.. sebab Pak Isman dan pelatih lainnya belum kelihatan di lapangan. Ada lima orang termasuk dirinya. Vira melirik ke arah Stephanie. karena bagaimanapun mereka punya ambisi masing-masing untuk tampil di Kejurnas. Iseng. sama sekali nggak bicara sepatah kata pun. “Sori. Ada enam orang pemain dari Tim Senior. ada enam orang termasuk Lusi yang kaki kanannya terlihat masih memakai pelindung kaki dan duduk di tribun paling depan dengan dikerumuni rekan-rekannya. Juga Alexa dan Poppy yang ada di tempat itu. Untung aja latihan belum dimulai. Kali ini kapten Tim Junior itu terlihat diam.” sapa Rida... tadi ada perlu. Dan semuanya berasal dari Bandung.DUA PULUH EMPAT VIRA terlambat datang pada latihan pertamanya sebagai anggota tim gabungan Jawa Barat.” sahut Vira. Vira tahu. Pemain dari Tim Senior berkerumun di sana. dan ada lima orang dari Tim Junior. Anggota tim yang lain ternyata udah berkumpul. Vira menghitung. “Kamu terlambat. Kalo ada dua belas orang yang bakal dipanggil dan Pak Isman menepati janjinya. mereka semua nggak senang dengan apa yang terjadi. Pandangan Vira kemudian beralih ke kerumunan lain di sisi lapangan.. . Tapi nggak ada yang bisa diperbuat.. Semua merasa dibohongi.

. Sebab kamu sangat dibutuhin dalam tim ini. dari yang tadinya kelihatan “sangar” jadi sedikit melembut. “Nggak tau.berarti masih ada satu tempat lagi yang bakal diisi oleh pemain dari Tim Junior. Minggu depan juga aku udah bisa main lagi..... lalu kembali ke teman-temannya diikuti tatapan para pemain senior. Vira nggak menggubris perkataan Mira. “Aku harap nggak parah.. kan?” tanya Vira. Vir?” tanya Rida yang melihat Vira akan beranjak dari tempatnya. see you later.. “Mir..” lanjut Vira. *** . “Kenapa? Kamu ngarepin Lusi cedera parah!?” potong Mira. “Mo apa kamu?” kata Mira menyambut kedatangan Vira..” Vira menuju kerumunan pemain Tim Senior..” jawab Lusi. “Vira mo ngapain?” tanya Poppy harap-harap cemas. “Nggak papa kok.” tukas Stephanie sambil tersenyum.. “Ya udah..... kalian kayak nggak tau Vira aja.. “Nggak usah kuatir.” gumam Stephanie sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Syukur deh kalo begitu. “Cedera kamu nggak parah. Kedatangannya tentu aja menimbulkan kehebohan di kedua kubu. Dia kan udah pernah ngelakuin ini sebelumnya..” Vira berhenti sebentar sebelum melanjutkan. Lalu dia menatap ke arah Vira. Dan kelihatannya Vira bisa menebak siapa yang akan menjadi pemain kedua belas. Dia menuju ke Lusi yang duduk dan tertutup pemain lain..” Lusi memperingatkan temannya. “Mo ke mana. Vira.. Ucapan Vira yang terdengar lembut dan bersahabat membuat tatapan mata Lusi berubah.. Kedatangan Vira yang “tanpa diundang” jelas menjadi perhatian di kubu Tim Senior. “Sebentar.” lanjutnya.. “Vira.” jawab Alexa.

. Salah satu pemain yang bisa mengubah permainan sesuai kondisi di lapangan.” sahut Pak Isman. tapi langsung menuju sasaran.. Melihat kedatangan pelatihnya. tapi saya nggak bisa masuk dalam tim ini.” jawab Alexa sekenanya. termasuk Stephanie dan pemain Tim Junior lainnya yang ada di belakang Vira. “Vira? Nanti saja kalau mau bicara. “Apa kata kamu?” tanya Pak Isman. diikuti yang lainnya. dan kita membutuhkan itu semua.” kata Vira.. “Maaf. “Mo protes. Tanpa diduga..” “Oke. “Vira mo ngapain lagi?” tanya Poppy (lagi). kita nggak akan bisa bermain dengan baik.” kata Vira mantap. “Sebentar saja. “Saya keluar dari tim.” Ucapan Vira singkat. Ucapannya membuat Pak Isman dan yang lainnya terkejut.” kata Vira. Karena itu saya lebih baik memberi tempat saya pada orang lain yang mungkin lebih berguna bagi tim.Lima menit kemudian Pak Isman dan ofisial tim lainnya datang ke lapangan. “Kamu sudah pikirkan baik-baik keputusanmu itu? Kamu adalah salah satu pemain yang sangat dibutuhkan tim. Hanya lima detik. kamu mau bicara apa?” Vira menatap tajam wajah pelatihnya. Pak Isman yang baru aja menaruh tasnya di bangku menoleh ke arah Vira.. “Pak. Dan Bapak pasti tahu tanpa itu semua. “Alasannya?” “Nggak ada alasan bagi saya untuk tetap berada di tim ini. Juga Pak Dibyo dan ofisial lain yang ada di dekat situ. Vira segera menghampiri. dan nggak berguna bagi tim.. Sekarang kita sudah terlambat latihan. . Stephanie beranjak menyusul Vira.” Vira mengangguk mantap.. kali. saya mo bicara. Saya udah nggak punya lagi motivitasi dan hati untuk bermain di sini.

*** “Vir. Gue nggak akan nganjurin yang lain untuk ikut-ikutan mengundurkan diri.” ujar Stephanie saat Vira akan pergi..” jawabnya.. Nggak ada solidaritas tim di sini. nggak usah merasa ada beban. “Tapi. Dan bagi yan ginin keluar. Dan saya sudah memikirkan masak-masak keputusan ini. Bagi yang ingin tetap bergabung di tim ini silakan saja. Ini keputusan terberat yang pernah saya ambil.. dan sejenak mengedarkan pandangannya. Vira lalu memegang pundak Rida yang ada di dekatnya. “Terima kasih. walau Bapak menyayangkan keputusan kamu. tapi Bapak tidak bisa memaksa kamu untuk tetap masuk tim.” “Belum tentu kesempatan seperti ini akan datang dua kali. harus punya alasan yang kuat dan keluar dari pribadinya sendiri. “Ini keputusan gue sendiri. dengan alasan pribadi gue. Pak Isman menghela napas.” potong Vira. kan? Jangan sia-siakan kesempatan ini.” ujarnya. Semoga ini keputusan terbaik yang kamu buat.” kata Vira. Semoga tim ini juga bisa sukses.. “Baiklah.“Tapi saya tidak akan berguna jika tidak bisa bermain sepenuh hati. . kan?” “Tentu saja nggak.” kata Pak Isman akhirnya.” jawab Vira sambil tersenyum.. Pak.” “Tapi kamu tidak akan menolak kalau suatu saat nanti dipanggil lagi untuk mewakili daerah. “Impian kamu jadi pemain nasional.

“Lo kira gue punya temen yang harus dikunjungi di daerah pinggiran kayak gini?” jawab Stella. Stella yang sore ini memakai T-shirt putih dan celana katum krem nggak menanggapi seruan Vira.DUA PULUH LIMA Sore hari.. “Ganti mobil nih? Audi lo ke mana?” seru Vira. Dari dalam mobil.” “Kompleks perumahan kecil kayak gini..dan lo langsung bisa nemuin gue. Rambutnya yang agak pirang dan dibiarkan tergerai berkibar ditiup angin sore yang sepoi-sepoi. Biasanya gue yang ngejar-ngejar lo. keluar Stella. tapi kata pembantu lo. “Tumben.. nggak susah nemuin lapangan basket yang cuman satu-satunya.. “Lo mo ketemu gue?” tanya Vira.” “. Dari mana lo tau alamat gue?” “Dari Amel. Dia berjalan memasuki lapangan. VIRA lagi asyik bermain basket sendirian di lapangan kompleks rumahnya saat sebuah Honda CRV berhenti di pinggir lapangan. Vira menghentikan aktivitasnya dan memperhatikan mobil jenis SUV itu. Gue tadi ke rumah lo. lo lagi ada di lapangan kompleks.” sahut Stella sambil melihat ke arah lantai lapangan yang beberapa bagian semennya udah mulai pecah atau retak-retak. Masih kelihatan angkuh. .

ibunya menelepon. kan?” tanya Vira. nanti pas mo magrib baru pulang.” . Dia mengambil HP-nya yang disimpan di dalam tas. karena tugas administrasi yang dia kerjakan kebetulan nggak terlalu banyak.. Vira langsung membuka tas ranselnya yang diletakkan di bawah ring. Kepala Niken seolah mau meledak begitu melihatnya. Saat melewati tempat parkir motor pelataran toko buku. baterainya abis.Kaki gue bisa ancur kalo main di sini! batin Stella. “Iya. Jadi daripada dia bete nunggu di rumah dan digangguin Panji. “Kenapa lo nggak nelepon gue dulu? Amel pasti ngasih nomor HP gue. Karena pulang cepet. berpesan supaya sepulang sekolah dia mampir dulu ke rumah untuk mengambil pepes ayam buatan ibunya yang merupakan salah satu makanan favoritnya. baru pulang. Niken bisa pulang lebih cepat. *** “Lo dapet panggilan dari Pak Isman. Paling pepesnya belum jadi! batin Niken.. Dan yang membuat Niken nggak percaya dengan penglihatannya. Niken memutuskan untuk mampir dulu ke toko buku. mendingan baca-baca dulu di toko buku.. *** Hari ini bimbel tempat Niken belajar selesai lebih cepat karena salah satu pengajar yang harusnya memberi pelajaran mendadak sakit.” gumamnya kemudian.. Sebelumnya dia akan mampir ke rumah karena tadi pagi sebelum Niken berangkat sekolah. Nggak mungkin! batin Niken.. kan?” tanya Vira. Baca-baca sebentar di sana. “Apa gunanya nelepon kalo HP lo nggak aktif?” Mendengar ucapan Stella. ternyata Rei nggak sendiri. “Yah. tapi bersama seseorang. Niken melihat Rei baru keluar dari toko buku sambil menenteng dus berukuran sedang.

” kata Stella..” “Tapi karena kondisi nyokap lo. “Nggak perlu. Alexa... Sita. “Gue kira kemaren gue udah ngomong dengan jelas deh. semua yang lo kenal. Apa lo kira mereka semua masuk tim? Boleh telepon satu-satu pake HP. itu kan lo kenal semua.” tukas Stella. “Lo jadul banget sih... mereka juga keluar dari tim? Semuanya?” tanya Vira.. “Maksud lo? Steph.” *** . nggak update.. “Kok lo jadi maksa gue masuk tim sih?” “Siapa yang maksa?” “Lagian buat apa gue masuk sekarang? Nggak ada pemain yang gue kenal..” “Jangan ge-er.. lagi di mana mereka. Stella malah geleng-geleng kepala sambil menatap tajam ke arah Vira.” balas Vira. Gue keluar dari tim sama sekali nggak ada hubungannya ama lo.. udah keluar dari rumah sakit. Atau ada alasan lain?” tanya Vira. “Jadi. Sekali-sekali kuping lo perlu dikorek tuh biar nggak budek.. Ucapan Stella membuat Vira heran.” Vira terkejut. mulai budek lagi deh. kan? Tapi nyokap lo kan udah sembuh. Yang jelas bukan di GOR Padjadjaran..” “Termasuk Rida?” “Gue bilang kan semuanya...“Trus. “Yaaa. Tapi gue kira lo nggak mau balik ke tim karena ada gue. kenapa lo malah di sini? Nggak latihan dengan yang lain?” Mendengar ucapan Vira. Gue juga masih inget kok apa yang lo bilang... Gue nggak bakalan balik lagi ke tim daerah... Jadi nggak ada alasan lo nggak masuk lagi ke tim.

dia bisa menjelajah dunia maya dengan lebih cepat dan leluasa. . Vira membaca headline di sebuah situs portal berita yang dibuka di HP Stella. *** “Gue sebetulnya nggak kepikiran bakal ngomong hal ini sebelumnya ke lo.. “Lo ngomong apa sih?” tanya Vira heran. “Nih. Tapi gue harus ngucapin salut ke lo. Dia kembali mendribel bola lalu menembaknya. “Batal? Maksud lo apa? Gue tambah nggak ngerti. Stella mengeluarkan HP-nya.” Stella menyodorkan HP-nya ke Vira. Ini berita dua jam yang lalu. baca sendiri. Bola hanya mengenai bibir ring dan kembali ke tengah lapangan.Sampai di rumah. Lo udah tau Tim Jawa Barat batal ke Kejurnas. Akhirnya Stella mendapatkan apa yang diinginkannya. nggak perlu mamakai komputer atau laptop. “Ngasih tau apa?” Sebagai jawaban. Dengan HP model terbaru yang baru sebulan dibelinya itu. Niken segera menghambur ke kamarnya. Lo bisa ngelakuin apa yang nggak kepikiran oleh orang lain sebelumnya. kan?” Vira tambah heran mendengar ucapan Stella. jadi belum ada di TV atau koran..” “Lo belum tau? Nggak ada yang ngasih tau lo?” Stella balik nanya. “Dasar daerah pinggiran! Sinyal aja lemot gini!” sungut Stella.. Vira cuman tersenyum mendengar sungutan Stella. “Niken?” Aji yang terbangun tiba-tiba mendapati adiknya lagi menangis sesenggukan di meja belajarnya..” kata Stella. “Soal lo ngundurin diri dari tim. Dia nggak peduli walaupun di kamarnya saat ini ada Aji yang lagi tidur siang.

TIM BASKET PUTRI JAWA BARAT DIUSUT PENGDA PERBASI Buntut dari diterimanya banding Tim Banten. Nggak ada yang dikirim ke babak final. “Apa pun hasil pertandingan dua hari yang lalu nggak berpengaruh. mojang-mojang Priangan itu melakukan strategi bertahan. ofisial tim diduga terlibat.” ujar Stella. tapi akibatnya gue malah nggak diizinin main lagi. walau sempat mengubah strateginya di quarter kedua tapi tidak berlangsung lama. “Yang mana? Soal yang kita disuruh ngalah waktu lawan Banten?” Stella kembali memberikan HP-nya. “Tapi kita sama sekali nggak tau soal ini.TIM BASKET PUTRI BANTEN TETAP KE BABAK FINAL KEJUARAAN NASIONAL Banding mereka diterima.. Savira Priskila sejak quarter kedua tanpa alasan yang jelas juga mengundang pertanyaan. Dia mengembalikan HP pada Stella.” Kenapa jadi begini? batin Vira..” Vira membaca salah satu paragraf di berita tersebut. “. “Ini beneran?” tanya Vira nggak percaya.. tanya aja langsung ke Pak Isman. bahkan para pemain bisa ikut terlibat kalo mereka ternyata tau dan ikut mendukung. kalo emang bener yang lo ceritain ke gue waktu itu. sebetulnya Tim Basket Putri Jawa Barat berpeluang besar menang atas Tim Basket Putri Banten.” lanjut Stella. “Kalo nggak percaya..” . “Kasus ini bakal panjang. dinyatakan menggunakan pemain yang sah. walau hanya menurunkan Tim Junior. Bahkan gue udah coba ngelawan.” “Lo harus bisa buktiin soal itu kalo nanti ditanya.. Tapi entah apa alasannya.. “Gue kira masalahnya bakal jadi panjang. Tidak diturunkannya salah satu andalan Tim Jawa Barat. DIDUGA SENGAJA MENGALAH..” ujar Stella..

ya? Lo kayak bukan Stella yang gue kenal. Emang nggak boleh?” “Cuman iseng? Lo salah makan. lo harus cerita soal kasus lo. Nyokap gue sekarang baik-baik aja.” “Gue tau. Karena itu gue nggak bakal nantang lo One on One. Kalo nggak ya nggak papa. “Jadi.” ajak Vira. Vira melemparkan bola pada Stella. Tapi itu juga kalo lo mau cerita. tapi dia juga punya kelemahan.” kata Vira lagi.” “Thanks. Sepatu aja gue nggak bawa. dan kalo lo mau. Papa punya banyak kenalan pengacara hebat di Bandung dan Jakarta. “Tanding apa? Lo pati menang karena gue pake pakaian kayak gini. seulas senyum tipis tersungging di bibirnya. udah kerja lagi. Vira emang punya skill dan kemampuan di atas ratarata. .” “Kenapa? Lo udah nggak percaya lagi ke gue?” Stella cuman diam. lo bias cerita soal kasus lo dan bokap lo. “Taruhan yuk. lo mo nantang gue apa?” “Dengan pakaian kayak gini. “Kenapa sih lo pengin tau? Mo bales dendam?” Stella malah balik nanya. lo setuju?” Sebetulnya Stella adalah tipe orang yang tertutup. tapi lo nggak usah tau soal gue dan bokap gue. “Bales dendam apaan? Lo kira gue selama ini nyari kesempatan untuk bales dendam ke lo? Gue cuman pengin tau keadaan nyokap lo aja. Walau begitu. selengkap-lengkapnya. Kenapa lo ke sini? Nggak mungkin lo ke sini cuman untuk ngasih kabar soal ini.” tandas Vira. Kalo gue menang.Vira diam sejenak. Kita bertanding. yang nggak mau kehidupan pribadinya diketahui orang lain. Tapi dia juga tahu siapa Vira. kan?” Stella mengangguk. Salah satu kelemahan Vira yang diketahui Stella adalah tembakan tiga angkanya sangat lemah. Gue juga pengin bertanding secara fair…” “Trus. “Gimana kabar nyokap lo? Trus gimana kasus ama bokap lo?” tanya Vira. lo masih bisa three point. seperti memikirkan ucapan Stella. Siapa tau gue bias bantu. “Kenapa gue ke sini? Cuman iseng aja. “Lo belum jawab pertanyaan pertama gue.

” “Bener?” “Iya. pasti gue lakuin. sebelum akhirnya berkata lagi. karena saat latihan bersama di tim daerah. “Lo mo minta gue ngelakuin apa? Asal gue sanggup.Bahkan ketika Vira masih di SMA Altavia. Ucapannya itu menunjukkan dia mulai tertarik menerima tantangan Vira. ingin tahu sampai di mana kemajuan Vira. Vira nggak pernah kelihatan latihan atau menunjukkan kemampuan tiga angkanya.” ujarnya lirih. Vira sendiri tahu itu. “Kalo lo kalah?” tanya Stella.” Stella terdiam sejenak. statistik tembakan tiga angkanya lebih buruk daripada Stella. pasti dia udah melakukan sesuatu untuk memperbaiki statistiknya. Karena itu kalo dia sampai dengan pedenya menantang Stella bertanding tembakan tiga angka. . “Ajarin gue nombok…. Dan Stella penasaran juga. Asal lo jangan minta yang macem-mcem.

Kak?” tibatiba Panji yang lagi asyik main PS nyeletuk. Nak. membuat Panji melompat kegirangan. “Ke mana?” tanya Aji yang ada di ruang tamu. jadi tidak bisa ikut…. *** .DUA PULUH ENAM KEDATANGAN Vira ke rumah Niken disambut ibu Niken yang supercemas. Bu.” ibunya memperingatkan Panji supaya bersikap sopan. Dia tidak mau keluar. Mendengar pertanyaan Aji.” kat Vira. Vira menatap kakak Niken yang juga bekas pacarnya itu. “Panji juga boleh ikut… Ibu juga boleh ikut kalo mau…. “Mo ke mana sih Kak Vira? Makan-makan ya? Panji juga boleh ikut.” jawab ibu Niken. Vira juga mo ngajak Niken keluar.” lapor ibu Niken. Vira mengangguk. “Ibu mau ada pengajian di masjid malam ini. “Panji….” katanya. “Kak Aji juga boleh ikut kalo mau…. Tapi di luar dugaan. apalagi makan. “Dari tadi Niken cuman di kamar. “Kebetulan.” tandas Vira.

. cepet kamu cuci muka. “Ke mana?” “Ntar kamu juga tau. aku liat sendiri mereka berdua di ruko depan. padahal dia nggak kepilih masuk tim. nggak?” tanya Vira sambil menunjukk rolling door yang tertutup. trus ganti baju. “Bukannya kamu udah tau sebelumny?” Niken menggeleng.” kata Vira.” kata Niken. Vira nggak langsung menuju mobilnya. Vira seperti nggak terkejut dengan ucapan Niken.Vira akhirnya berhasil menemui Niken di kamarnya. Dia malah menuju sebuah ruko yang kelihatan kosong dari luar. “Iya. kenapa kita ke sini? Katanya mo makan-makan?” protes Panji. Kak Vira. “Tadinya aku cuman denger dari Bi Sum kalo Rei sering ke rumah kamu untuk ketemu Sita. Kasian mereka udah nungguin. Aku mo ngajak kamu pergi…. “Aku liat Rei bareng Sita tadi sore. bisa bantuin buka ini.” “Kamu lagi nggak nyiapin kejutan.” Anehnya. “Kenapa ke sini? Emang ruko ini punya siapa?” tanya Niken. “Ya udah. “Kejutan apaan? Kak Aji dan Panji juga ikut kok. Dia juga nggak menanyakan kenapa Sita bisa ada di Bandung.” “Mereka ikut?” “Iya… makanya cepet kamu ganti baju. kan?” tanya Niken. Dan seperti biasa. Tapi tadi. cuman pada Vira Niken mau bicara.” *** Sampai di ruko tempat Vira biasa memarkir mobilnya kalo dia pergi ke rumah Niken (karena jalan di depan rumah Niken nggak cukup dilewati mobil). Niken ingat. “Kak Aji. ini ruko yang sama tempat dia melihat Rei dan Sita keluar tadi malam.

nggak ada cahaya sedikit pun. “Udah biarin aja…. jadi pengetahuan mereka bisa bertambah dan waktu senggang mereka nggak digunakan untuk main atau ngelakuin hal-hal yang nggak berguna. Di dalam ruko terlihat gelap. “Vira. “Panji!” panggil Niken. dengan berbagai aksesori di dalamnya.” tandas Vira. Ruangan ruko dicat biru laut.” kata Niken waktu itu. dan terlihat bagian depan ruko yang dindingnya berupa kaca. seperti layaknya toko buku. supaya anak-anak di daerahku bisa membaca secara gratis.“Liat aja…” Aji mengangkat rolling door yang ternyata nggak dikunci. Saat itulah mereka bertiga baru bisa melihat apa yang ada di dalam ruangan. “Vira. “Ini… taman bacaan punya siapa? Punya kamu?” tanya Niken. ini…” “Taman bacaan… seperti cita-cita kamu. suatu hari Niken pernah bilang ke dia tentang cita-citanya untuk memiliki sebuah taman bacaan. Vira menggeleng. Berbagai rak buku tersusun rapi di pinggir dan tengah ruangan.” sungut Panji. kita ini…” Ucapan Niken terhenti karena secara tiba-tiba lampu di dalam ruko menyala. lalu bocah berusia sepuluh tahun itu berlari pulang ke rumahnya. “Panji pulang aja deh… katanya mo makan-makan…. Vira membuka pintu ruko yang ternyata nggak terkunci.” kata Aji. Sekarang ruangan ruko itu jadi terang benderang.” ajaknya. Sebuah meja berukuran sedang berada di dekat pintu masuk. “Terutama untuk bacaan anak-anak. . “Ayo masuk. Mereka bertiga masuk ke ruko yang gelap gulita. “Surprise!” kata Vira. “Seperti cita-citaku?” Vira masih ingat. Niken dan Aji hanya bisa mengikuti Vira masuk ke dalam.

“Ini punya kamu. tunggu!” Vira mencoba menahan Niken. Vira tertawa melihat Niken yang kebingungan. “Punya aku? Jangan bercanda…” Aku nggak bercanda. Dari balik salah satu rak buku. muncul wajah Rei. tibatiba pintu terbuka. siapa lagi? batin Niken. Ken?” tanya Aji. Dia seperti teringat sesuatu. “Ruang untuk membaca ada di lantai atas. Kamu juga satusatunya yang tau soal cita-citaku itu. “Kamu!” seru Niken. “…dan dia…. “Rei… aku pernah cerita juga ke dia. tapi sia-sia. Lalu tanpa ada aba-aba. . Dibikin supaya mereka bisa membaca dengan santai. Liat aja…” Vira menunjuk ke arah dinding depan mereka. Mo liat?” lanjutnya. dia langsung balik badan dan pergi.” Vira menjelaskan. “Kenapa sih kalian selalu berpikir aku yang membuat semua ini?” Vira malah balik nanya.” jawab Niken. Sesampainya di dekat pintu.” jawab Vira. Nggak mungkin dia yang bikin semua ini! Kalo bukan Vira. “Siapa. “Ken.” Niken memandang ke sekeliling ruangan. “Tunggu dulu… Apa maksud kamu dengan semua ini?” tanya Niken masih nggak percaya. di sana terpampang papan besar dengan tulisan: KEN‟s BOOK RENTAL. “Ken… kependekan dari Niken. “Udah. Rei! Jangan ngumpet mulu!” seru Vira. “Ya siapa lagi…? Cuman kamu yang bisa ngelakuin ini semua. kan?” Aji juga ikut-ikutan bertanya. Gitu. “Emang cuman aku satu-satunya yang tau soal cita-cita kamu?” “Ya iya… aku cuman cerita ke kamu…” Tiba-tiba ucapan Niken terhenti. hampir mengenai Niken. “Kamu membuat taman bacaan ini. Niken tetap melangkah menuju ke luar tanpa menoleh lagi.” lanjut Niken lirih. lalu nanti akan dikelola oleh Niken.

ini semua kerjaan Rei.” Vira menjelaskan. “Aku udah bilang. Aku nggak ikut campur.” kata Niken.” sangkal Vira. “Apa dananya hasil dari… streetball?” Vira hanya mengangkat bahunya sambil tersenyum. “Tapi masa hasil dari streetball bisa untuk nyewa ruko? Kan sewanya puluhan juta…” “Sebetulnya untuk ruko bukan aku yang nyewa. Mulai dari menyewa ruko dan membangunnya menjadi taman bacaan. dia bisa mendanai semua ini. “Nyewa ruko? Duitnya dari mana? Aku tau Rei. Mendengar itu Niken menatap Vira yang cuman senyum-senyum aja.” “Tapi aku tetap nggak percaya. Vira berhasil menahan Niken yang pengin pergi dari situ. Tiba-tiba dia menatap Vira.” “Kenapa kamu nggak percaya? Emang kenapa kalo Rei bisa membuat semua ini?” “Dananya? Pinjem kamu?” Vira menggeleng. Nggak mungkin dia yang ngelakuin ini semua. Vira mengangguk mengiyakan. Aku aja baru tau setelah proyek ini jalan. “Niken?” *** “Jadi. “Dan kamu ngerahasiain ini ke aku seperti Rei?” “Dia yang minta. “Semua ini dibangun Rei sendiri. Ada donatur…. Nggak mungkin minta ke ortunya.” potong Rei yang tiba-tiba udah ada di belakang Vira dan Niken. Rei yang membangun semua ini?” tanya Niken saat berbicara berdua Vira di luar ruko. dan dia langsung mengenali siapa yang ada di balik pintu. . Katanya biar ini jadi kejutan buat kamu.Seorang cewek masuk.

” Niken tertunduk mendengar ucapan Vira. Lagi pula aku nggak bisa menerima pemberian kamu ini. “Aku cuman pengin ngewujudin cita-cita kamu. “Aku udah nggak marah ke kamu.” “Aku nggak ngerasa ngorbanin diri. diam-diam Vira menyelinap ke dalam ruko. kan?” Mendengar ucapan Niken. di luar soal sewa ruko. “Ehhmm… sebetulnya belum semuanya selesai. “Kenapa ketawa? Bener kan kamu lagi deket ama Sita?” tanya Niken lagi. Niken menghela napas.” kata Rei. Mendengar pertanyaan Rei. “Apa-apaan sih. Dan Rei tentu aja ngelakuin ini semua untuk kamu. hingga cewek itu merasa jengah sendiri. Di sisi lain.” Rei mendekat ke arah Niken. Papan nama untuk di depan baru selesai besok. jadi aku nggak bisa nerima pemberian kamu ini. Untung di luar ruko suasana gelap sehingga wajah merah Rei yang kayak kepiting rebus nggak kelihatan.” kata Rei. Hasil karya dia. Melihat Rei sudah bisa menguasai keadaan. “Sita?” “Kamu lagi deket ama Sita. yang lainnya itu emang ide Rei.“Oke. kali… Apalagi dengan ngorbanin diri kamu sendiri. wajah Rei memerah. Aku enjoy aja ngelakuin semua ini…” “Dengan pulang pagi hampir tiap hari? Terlambat masuk sekolah? Ketiduran di kelas? Please.” Rei mengalihkan pembicaraan. “Kamu masih marah ke aku?” tanya Rei kemudian. “Tapi nggak harus sekarang. “Aku sayang kamu… masih dan tetap sayang kamu. Tapi kita udah nggak ada hubungan apaapa. Rei…? Gimana kalo Sita liat?” Niken berusaha menghindar. “Kamu nggak perlu ngelakuin semua ini Rei!” kata Niken setelah Vira kembali masuk ke dalam.” Rei diam mendengar ucapan Niken. Rei… aku nggak mau kamu kayak gitu. Rei sedikit mundur sambil tertawa kecil. sampai embusan napasnya terasa oleh Niken. .

“Kamu kira dari mana aku dapat koleksi buku sebanyak itu? Sebagian esar buku anak-anak sesuai keinginan kamu….” ujar Rei. Niken emang harus mengakui. Bisa menarik perhatian dan membuat betah mereka yang membaca di tempat. Tapi karena kakaknya sendiri harus kerja. jadi aku dan Sita yang harus mengurusnya sendiri. Niken diam. aku tetap larang dia. Sita membantuku mendapatkan koleksi buku-buku dari toko tempat kakaknya kerja dengan harga miring. Rei… Aku pernah liat kamu bareng Sita di toko buku. Mereka berdua nginep di hotel. Jadi dia sekalian belajar.” . atau bahkan gratis.” Rei menggamit lengan Niken. Jadi ya jelas aja aku bareng Sita bolak-balik ke toko buku untuk ngedapetin koleksi yang belum ada. “Kakak Sita kepala cabang toko buku terbesar di Tasik. desain interior dari taman bacaan yang dibuat Rei sangat bagus. dan yakin suatu saat kamu pasti bisa ngerti apa yang kulakukan untuk kamu. kan?” Rei melanjutkan.“Emang…” “Kenapa kau berani ngedeketin aku…” “Aku emang deket ama Sita… sebagai temen. nggak menjawab pertanyaan itu. “Sekarang ini Sita nggak nginep di tempat Vira karena dateng bareng kakaknya yang lagi cuti. “Sita juga ngebantu aku buat ngedekorasi taman bacaan. dan menunjuk ke arah ruko. Aku tau sifat kamu. ngapain aku capek-capek nerusin proyek ini buat kamu?” “Vira tau soal ini?” Rei mengangguk. Hasilnya bagus. Kakaknya juga membantu mencarikan koleksi lainnya di Bandung yang jelas lebih lengkap. Bahkan saat kita putus.” “Jangan boong. karena cita-cita dia emang mo jadi desainer interior. “”Vira emang aku larang ngomong apa pun ke kamu. dengan bantuan teman-teman kerjanya di sini. baik layout maupun pewarnaannya.” ujar Rei lagi. “Jadi… kamu ama Sita nggak ada hubungan apa-apa?” “Ya nggak lah… kalo aku ada apa-apa dengan Sita.

Tanpa disadari Vira. *** “Kayaknya mereka udah damai tuh.“Yeee… ge-er… kamu udah maenin perasaan aku. tau. “Emang masih ada yang mau ama kamu?” Rei balik nanya dengan mimik bercanda. Dia lega karena kelihatannya Niken udah nggak marah lagi.” kata Vira yang melihat (atau boleh dibilang mengintip) dari balik pintu. “Syukur deh…. Gimana kalo tau-tau aku punya cowok baru? Bakal gigit jari kamu…” kata Niken.” sahut Aji yang berdiri di samping Vira. tangan Aji pelan-pelan menggenggam tangannya dan si pemilik tangan itu menatapnya dengan pandangan penuh arti. “Yeee… emangnya aku nggak laku?” Niken dan Rei tertawa. Nada bicaranya udah nggak setegang tadi. .

Tapi namanya tradisi. tapi berkat Niken yang dalam beberapa minggu ini mengadakan gerakan sosial yang melibatkan anak-anak . para siswa SMA 31 sama sekali nggak pakai acara corat-coret baju. sebab hari ini adalah pengumuman kelulusan Ujian Nasional (UN). Tapi berbeda dengan SMA lain. Jadi tetap aja anak-anak kelas 3 datang ke sekolah sejak pagi untuk meluapkan kegembiraan bersama teman-temannya. nggak afdal rasanya kalo nggak ngumpul-ngumpul di sekolah. Wajahnya terlihat bahagia. Apalagi ada gosip tahun ini tingkat kelulusan di SMA 31 nggak 100%. spidol. yaitu dengan mengirimkan pengumuman kelulusan ke rumah masing-masing. dalam merayakan kelulusan mereka. baik menggunakan bolpoin. cat semprot. merayakan kelulusan bareng. Para siswa juga bisa mengetahui kelulusan mereka dari Internet mulai tengah malam tadi. jadi wajar mereka sekalian mencari info siapa teman yang nggak lulus.DUA PULUH TUJUH Tiga bulan kemudian… “SELAMAT yaa…” Niken saling pelut dan bersalaman dengan teman-teman sekolahnya. Tentu aja. Sebetulnya pengumuman UN untuk SMA 31 dan SMA lainnya di Bandung dilakukan secara nggak langsung. apalagi pake cat tembak! Itu semua bukan karena anjuran pihak sekolah yang melarang aksi corat-coret baju saat kelulusan.

“Di situ aja…. “Iya… ditaruh di mana?” “Hmm…” Pandangan Niken berkeliling ke ruangan yang kelihatan penuh sumbangan dari anak-anak lainnya. sedang Amel masih tinggal di dalam ruangan. Niken mengusulkan supaya baju-baju sekolah anak kelas 3 yang pasti sebentar lagi nggak kepakai dikumpulkan. . termasuk anak-anak baru nanti. buku-buku pelajaran. Hal ini tentu aja bakal membantu siswa-siswi SMA 31 yang sebagian besar berasal dari golongan menengah ke bawah. Amel muncul di ruang OSIS bersama sopirnya sambil membawa sebuah dus yang ukurannya lumayan gede.” balas Niken. “Oya… makasih banget. kotak pensil. sampai bolpoin untuk dijual kembali dengan harga murah. Karena itu.kelas 3 yang mo lulus. segala perlengkapan sekolah yang udah nggak bakal dipakai lagi bisa disumbangkan. selain berbagi kegembiraan dengan teman-temannya. Niken juga sibuk menerima sumbangan baju dan peralatan sekolah lainnya. Banyak amat…. “Hai… nih Amel bawain baju-baju seragam Amel dan juga perlengkapan sekolah lainnya. dibantu juga oleh dua anak kelas 1 dan 2 yang jadi panitia. kan?” kata Amel sambil memeluk Niken. “Selamat juga yaa… kamu lulus. sopir Amel langsung keluar. karena dia yang jadi koordinatornya. tapi untuk disimpan di sekolah. Mel.” katanya akhirnya sambil menunjuk ke salah satu sudut ruangan yang masih kelihatan cukup kosong. Soalnya biaya sekolah dan perlengkapannya sekarang emang serbamahal dan kadang-kadang membuat orangtua pusing tujuh belas keliling. Rencananya baju-baju ini nanti setelah diseleksi akan dijual kembali melalui koperasi sekolah untuk siswa-siswi SMA 31 yang butuh. tentu aja dengan harga yang jauh lebih murah daripada harga baju seragam baru.” kata Amel. Dia harus selalu stand by di ruang OSIS yang dijadiin posko pengumpulan sumbangan. Bahkan nggak cuman seragam sekolah. Bukan untuk disumbangkan ke panti asuhan atau yayasan sosial seperti yang biasa dilakukan. Setelah meletakkan dus yang dibawanya di tempat yang ditunjuk Niken. mulai dari tas.

Tapi karena weekend. Apalagi beberapa kali angkot yang ditumpangi terhalang konvoi anak sekolah yang merayakan kelulusan. Dengan susah payah. “Tapi mereka lulus. lalu mereka melepaskan pelukan mereka. Keterlambatan yang sebetulnya nggak disengaja. “Nggak. Kamu juga? Barengan aja kalo mau.” jawab Niken. Rida juga nggak dateng tuh. kan?” sahut Niken sambil membalas pelukan Amel. kan?” “Lulus kok. Niken akhirnya bisa sampai ke tempat Amel. juga karena di lapangan basket yang terletak di salah satu sisi sedang digelar ajang Streetball Competition. kan?” “Iya. Setelah lama mengedarkan pandangannya ke seluruh tribun. Semuanya lulus. Kan finalnya ntar sore. . Melihat lapangan basket yang ramai dan riuh karena teriakan penonton. Dia harus berjuang menembus kerumunan penonton. dia tahu dirinya datang terlambat. karena Niken udah cabut dari sekolah satu setengah jam sebelumnya setelah tugasnya sebagai koordinator sumbangan selesai. Nggak lama. Niken buru-buru turun dari angkot yang membawanya ke GOR Saparua. Dan setelah berlangsung selama lima hari. Niken akhirnya melihat Amel yang duduk di bagian depan. Kamu ntar sore mo nonton. Katanya mo latihan pagi ini. Nggak heran kalo jarak dari SMA 31 ke Lapangan Saparua yang biasanya bisa ditempuh dalam waktu 45 menit jadi molor hampir dua kali lipatnya. Sabtu sore ini digelar pertandingan final. penuh sesak. Sampe Niken sempat ketiduran di angkot. *** Suasana di GOR Saparua sore ini ramai. Niken langsung menuju lapangan basket. ya?” tanya Amel. di mana-mana jalan di Bandung macet berat. “Vira nggak dateng.” Amel menawarkan. Selain karena lapangan ini biasa dipakai olahraga pada sore hari. “Maunya sih… ntar deh kalo kerjaan di sini udah selesai.” jawab Niken. sampai ke bagian tribun mini yang ada di sekeliling lapangan.“Lulus dong… kamu juga.

“Udah lama mulai. Mereka adalah Vira dan Rida. Lalu dia melihat ke lapangan. kadang-kadang sampe berteriak memberi semangat saking . trus tadi macet banget. Niken duduk di sebelah Amel. tapi nggak enak setelah melihat Amel lagi asyik menonton pertandingan.” ujar Niken. Tas itu rupanya untuk menutupi tempat duduk di sebelahnya supaya nggak diduduki orang lain. “Udah mo selesai kayaknya. yaitu… Stella. jadi dia sama sekali nggak tahu peraturannya. Di papan skor terlihat dua tim yang bertanding.“Hai… sori telat…. Ada enam cewek yang bertanding di sana. “Kok baru dateng?” tanya Amel sambil mengambil tasnya yang dia letakkan di sampingnya. Parah….” kata Niken. Niken baru kali ini melihat streetball. Dia ingin bertanya pada Amel. Sedang yang seorang lagi dikenal Niken. apalagi ini. “Eh… D‟Roses…. “Iya… kerjaan baru beres. Bukan dari waktu. Vira dan Ria kira-kira masuk tim yang mana ya? tanya Niken dalam hati sambil menduga-duga. tegangnya. Dia melihat ke papan skor. tapi dari siapa yang mencapai angka tertentu lebih dulu. “Oooo… gitu…” NIken kembali mengarahkan pandangan ke lapangan (atau tepatnya setengah lapangan karena pertandingan hanya menggunakan setngah lapangan basket normal dan satu ring basket). cuman hubungannya nggak begitu baik. “D‟Roses?” Niken mengernyitkan kening.” “Kok cepet amat. ya?” tanyanya. dan dua di antaranya tentu aja dikenal baik oleh Niken. FUZZY versus D‟ROSES dengan kedudukan sekarang 11-13 untuk D‟Roses. “Siapa yang menang?” tanya Niken.” jawab Amel. Bola basket biasa aja dia nggak tahu.” Amel menjelaskan.” “Lama permainan streetball emang nggak sama dengan basket biasa.

dia dihadang seorang pemain lawan. Tubuh Stella yang lebih tinggi membuat dia dapat menahan lawannya hingga lawannya terpaksa mengoper bola pada temannya. Dalam pertandingan ini. satu angka lagi dan D‟Roses akan memenangi pertandingan!” Demikian suara komentator pertandingan yang terus cuap-cuap kayak tukang obat di pinggir jalan. Tapi di situ ada Vira. Dia meliukkan tubuh agak rendah. . dari jarak berapa pun. hingga lawannya kesulitan menghalangi geraknya.” kata Vira pada Stella. Masuk! “Iya. Jadi nggak ada angka khusus untuk tembakan tiga angka. Seorang pemain lawan yang merupakan kapten tim mencoba masuk ke daerah pertahanan D‟Roses. Ketika lawan coa menghadang pergerakan bolanya. Dia mengoper bola dengan cara yang unik. Stella mengangkat tangan dan mengoper bola ke belakang. Blind Pass! Dari belakang muncul Vira yang menerima blind pass dari Stella dan langsung menusuk ke ring. tapi Vira lebih cerdik. Steal! “Satu angka lagi…. Seorang pemain lawan yang berbadan lebih besar coba menghalangi. Tapi posisi Vira jadi sulit untuk menembak. Niken melihat papan skor berubah 11-14. dan dia langsung mencega bola operan lawannya. Sebuah tembakan lain dari Rida dapat diblok lawan. untuk keunggulan D‟Roses. Waktu lagi mendribel. tiap bola yang masuk emang akan dihitung satu angka. “Oper…” Sebuah suara terdengar di belakang Vira. Itu suara Rida! Vira nggak punya pilihan lain. Jadi namanya D‟Roses! batin Niken.. Stella menghadangnya dengan ketat. hingga sekarang giliran tim Fuzzy menyerang.*** Dalam posisi menyeang. Stella memimpin serangan. yaitu menggelindingkannya! Rida menerima bola dari VIra dan langsung menembak dari suut yang sempit. Stella memutar tubuh dan coba berkelit.

Penonton pun bertepuk tangan. Dalam streetball emang ada peraturan satu pemain hanya boleh dihadapi oleh satu orang. Kali ini Vira bermain lambat dengan mendribel bola dengan santai. Nggak ada jalan lain. Vira terpaksa mengoper pada Rida. Itu karena salah seorang pemain yang pertama kali membayangi Vira lalu mundur dan menyerahkan tugas pada temannya. tapi malah mendorongnya ke sisi kanan.“Gue tau…” Tim D‟Roses ganti menyerang. dia langsung meliuk dan menyusuri sisi kiri lapangan. saat salah seorang lawannya datang mendekat. Stella melompat sambil bergerak maju. hingga dia dikerumuni dua orang. Gerakan Vira memancing seorang lawannya mendekat. Rida nggak menangkap bola operan Vira. Di sana telah ada yang menunggunya… Stella. Rida melompat menyambut operan Vira dengan dibayangi oleh salah seorang pemain lawan. Bagus! Bisa juga lo show off! batin Vira melihat gaya Rida yang impresif. SLAM DUNK!! . mengarahkan bola ke arah ring. yang lalu mendesak Vira hingga ke sudut lapangan. Stella yang nggak terkawal menerima operan Rida dan melangkah ke arah ring dengan cepat. Saat pemain terakhir lawan coba menghadangnya. Tapi anehnya. wasit nggak meniup peluit tanda pelanggaran. “Foul!” teriak salah seorang penonton. Operan tinggi dari Vira menuju Rida. Tapi anehnya.

Nyokap nggak tahan. dia nggak mengubah kelakuannya…” Stella berhenti sebentar. bahkan udah punya anak di New York. Makanya Bokap tadinya mati-matian nggak mau cerai dari Nyokap. Bokap bisa kehilangan perusahaannya dan jatuh bangkrut. ya udah. makaya dia nyusuk ke sini untuk membatalkan keputusan Nyokap itu.” “Sebab… Nyokap ternyata memegang dua pertiga saham perusahaan keuangan yang didirikan oleh mereka. Bokap selingkuh. Kalimat terakhirnya diucapkan dengan suara tergetar.DUA PULUH DELAPAN “BOKAP gue udah keluar dari penjara…” Stella mulai bercerita.” “Kenapa bokap lo nggak mau? Kan dia sendiri yang salah. Udah cukup yang gue dengar. Tapi di sisi lain.” lanjutnya. akhirnya memutuskan untuk bercerai. “Nyokap udah lama merasa disakiti Bokap. “It‟s okay…” . Sebagai imbalannya. “Nyokap-bokap lo mo cerai? Kenapa?” tanya Vira yang duduk di samping Stella. tanda dia udah mulai terbawa perasaan. Kalo sampai Nyokap dan Bokap cerai. Bokap harus mau mengabulkan gugatan cerai Nyokap dan nggak boleh lagi nemuin Nyokap atau gue untuk selamanya…. Saat Nyokap tau soal ini.” ujar Vira. “Kalo lo nggak mau lanjutin cerita. Bokap gue nggak mau. “Nyokap dan Bokap bikin perjanjian. Tanpa sepengetahuan Nyokap. Nyokap nggak akan nuntut Bokap atas penganiayaan yang dilakukannya. Bokap jadi marah dan sering memukuli Nyokap.

lo pasti ntar bisa ngembangin sendiri. “Mo ngapain?” tanya Stella. “Yuk…. atau ke apartemen. dan itu berarti mengantar D‟Roses menjadi juara Streetball Competition untuk kelas putri. Gue juga begitu… “…karena itu. “Gue kan kalah…” “Siapa bilang lo harus menang untuk bisa belajar nombok?” *** Aksi slam dunk Stella mengubah skor menjadi 11-15. Dengan kata lain. Ini pasti pukulan yang sangat berat baginya. Dalam waktu dekat mungkin kami berdua juga akan pindah ke rumah yang lebih kecil. Salah satunya dengan menukar mobil-mobil yang kami punya ke mobil yang lebih murah. mereka masuk lapangan untuk menyalami cewek-cewek “bunga mawar” itu. Kan lo mo belajar… Masih ada waktu sekitar sejam sebelum gelap. Vira melihat jam tangannya.” Untuk pertama kalinya sejak mengenal Stella. Sorak-sorai pendukung D‟Roses pun nggak tertahan. Vira melihat cewek itu menitikkan air mata.Stella melanjutkan ceritanya. nyokap gue melepas perusahaan yang dirintisnya dari nol ke tangan Bokap. Itu supaya Bokap nggak ngejar-ngejar dia untuk menuntut perusahaannya. “Selamat yaa…. Saat giliran Stella. Stella sama sekali nggak mengeluarkan air mata.” ajaknya kemudian sambil berdiri. Nyokap minta gue untuk mulai hidup hemat. karena gue dan Nyokap sekarang cuman inggal ngandelin uang hasil penjualan saham dan gaji Nyokap sebagai pialang saham di sini. Gue ajarin dasarnya aja.” Stella menatap Vira dengan pandangan nggak percaya. Tapi dia lebih baik daripada Lisa yang juga . Bahkan saat kehilangan Hera dulu. Amel kelihatan kagok. lalu mendongak ke langit. Akhirnya dia cuman menyalami Stella. “Nyokap akhirnya memutuskan untuk menjual seluruh saham miliknya di perusahaan. Hal yang sama dia lakukan juga pada Rida. Nyokap udah nggak mau berhubungan lagi dengan Bokap. “Gue ajarin nombok.” kata Amel sambil menyalami dan memeluk Vira.

“O… iya…” Lisa pura-pura lupa. tapi D‟Roses… pake „D‟.” sindir Stephanie. Di tengah-tengah kegembiraan sang pemenang. “Tetep ada syaratnya dong….menonton pertandingan di tribun lain dan ikut memberi selamat tapi cuman ke Stella. Abis macet…. Ntar aja lo daftar lagi kalo udah operasi kelamin…. ditambah Niken. dan Stephanie yang kali ini datang bareng cowoknya. . gue harus tolak keinginan lo jadi anggota. “Dan apa?” “Dan semua yang pengin gabung… siapa aja…. Vira. “Bukan The Roses. “Selamat yaa… Sori aku telat.” tandas Vira. dan Rida sebagai anggota baru…. termasuk Niken.” kata Niken pada Vira. “Jadi kalian nggak eksklusif lagi? Nggak ada syarat khusus untuk jadi anggota D‟Roses?” tanya Stephanie lagi. Aku tau sibuknya pejabat sekolah. “Dan….” Vira menambahkan sambil terus menatap Stella.” ejek Vira tiba-tiba pada Rei yang ada di dekat Niken. seakan Stella lupa sesuatu. sedang yang lainnya cuman ngakak.” sambung Stella. lalu dia menyalami Vira dan Rida dengan perasaan terpaksa. Tentu aja Rei jadi misuh-misuh diejek kayak gitu. Lis?” tanya Stella.” balas Vira sambil tersenyum. “Nggak papa kok. dua pria setengah baya datang menghampiri.” Vira mengoreksi. “Jadi The Roses ada lagi nih…. Ucapan selamat juga datang dari Rei dan anak-anak basket SMA 31 yang juga ikut nonton. Rei.” jawab Stella. “Vira ama Rida nggak dikasih ucapan selamat. “Sekarang siapa aja anggotanya?” “Siapa ya…” Vira melirik ke arah Stella. “Apa?” “Di harus cewek… Jadi sori. “Gue. juga sebagian anak-anak basket SMA Altavia. dan Amel sebagai bekas anggota The Roses. Lisa.

dan beliau tertarik untuk mengajak kalian bergabung. Namanya belum ditentukan. Kalian tahu.” Vira menyambut uluran tangan Pak Andryan. Pak Wisnu tadi telah melihat permainan kalian bertiga. Nah. Pak Andryan menatap Stella. lalu tangan orang yang datang bersama mantan pelatihnya di SMA Altavia itu. Vira. “Oya… ada seseorang yang ingin Bapak perkenalkan kepada kalian….” kata salah satu pria itu. Pak?” tanya Vira. dua kali masuk final. “Benar. Bergabung dalam sebuah klub dan ikut kompetisi rutin selama setahun dan dibayar Itu tawaran yang benar-benar sulit untuk ditolak. kan?” Pak Andryan memperkenalkan orang yang bersamanya—seorang pria bermata sipit berusia sekitar 50 tahunan dengan rambut mulai memutih dan perut agak buncit.” kata Pak Andryan lagi. “Ini Pak Wisnu Tanujaya. “Pak Andryan? Bapak datang juga… makasih. “Bapak senang… Akhirnya kamu bisa menemukan nilai-nilai olahraga yang sesungguhnya. dan beberapa kali masuk final four.” ujar Tella singkat. pemain basket kota Bandung pasti nggak ada yang nggak mengenal klub itu. Pak. Melihat permainan kalian.” kata Pak Andryan sambil mengulurkan tangan. Beliau adalah pemilik klub basket Patriot Muda Bandung. Bagaimana?” Ucapan Pak Andryan benar-benar mengejutkan trio D‟Roses. untuk itu. .“Selamat ya…. Kami akan membentuk tim wanita. Siapa yang nggak kenal Patriot Muda? Klub basket itu tergabung dalam Indonesia Basket League (IBL). Apalagi prestasi klub yang sering disingkat PMB itu lumayan mentereng. jadi kami merekrut pemain-pemainnya untuk diseleksi. Stella yang pandangannya agak menunduk karena dilihatin Pak Andryan menerima uluran tangan itu. “Ma… makasih…. Stella. Patriot Muda akan membentuk tim wanita untuk ikut liga. yaitu liga basket profesional Indonesia. Jadi. Sekali juara liga. “Bener nih. dan Rida mengangguk. “Musim depan rencananya IBL akan membentuk liga basket profesional wanita.

Misalnya kalian menuntut pihak klub. Jadi. “Ntar kita diboongin lagi… Udah capek-capek ikut seleksi dan latihan. “Bapak sudah mendengar apa yang terjadi pada kalian dan Bapak ikut prihatin. eh nggak jadi bertanding. itu bisa saja. Pak Andryan tersenyum mendengar ucapan Vira.Bapak optimis kalian bisa masuk. Jadi kalian bertiga berpeluang besar.” celetuk Vira. ini tawaran yang bagus. membuat Rida dan Stella menatap tajam kepadanya. pelatihnya adalah Pak Andryan sendiri. dan setelah itu bisa diperpanjang kembali untuk musim berikutnya. Kontrak itu mencakup sampai kapan kalian bermain di klub. Kalian nanti akan dikontrak penuh sebagai pemain profesional selama satu musim kompetisi. “Husss… ngaco!” potong Pak Andryan. Tapi Bapak pastikan hal itu tidak akan terjadi lagi. Tapi kenapa Vira malah sok jual mahal gini? “Sampai berapa lama? Kita harus cepet-cepet membentuk tim karena musim kompetisi sudah dekat. jadi kalau ada yang tidak sesuai dengan isi kontrak. “Oya. Di situ kalian bisa lihat apa hak dan kewajiban kalian. pihak yang dirugikan bisa menuntut sampai ke pengadilan. Pak….” Pak Wisnu yang menjawab. “Tapi bagaimana? Tertarik?” “Hmmm… pikir-pikir dulu deh. atau akan dikenakan sanksi. selain itu di tim wanita nanti. dan hal-hal lain yang merupakan hak dan kewajiban antara pemain dan klub. karena kami punya kebijakan untuk merekrut pemain-pemain muda yang berbakat untuk dibina lebih lanjut. . Bagi mereka. Bukan begitu. Dan kontrak itu tidak boleh dilanggar oleh salah satu pihak.” desak Pak Andryan. Pak?” kata Pak Andryan menegaskan. kalian akan diberi kontrak sebagai pemain.” jawab Vira.” tandas Vira. jumlah bayaran kalian.” Pak Wisnu ikut menjelaskan. “Betul. Kontrak itu berkekuatan hukum tetap. Kita sudah tidak ada waktu. “Pak Andryan pelatihnya? Asyiik dong… bisa minta ditraktir lagi kalo abis latihan. Kenapa? Karena kali ini kalau lulus seleksi. apa yang kalian lakukan dalam klub sudah sangat jelas dan transparan dan tidak bisa diubah begitu saja.” tambah Pak Wisnu kemudian.

bikin semua melongo. Amel sepertinya melihat bayangan Diana sedang melihat ke arahnya dari kejauhan.” jawab Vira akhirnya. Bapak… Masa ngasih waktu lima detik buat mikir aja nggak mau? Pelit ah…. Di antara kegembiraan bersama teman-temannya. seakan-akan ikut merasakan kebahagiaan tematemannya saat ini. “Nggak?” “Iya… Nggak nolak!” Nggak ayal lagi.” sergah Vira.“Halah. “Lima detik?” “Nggak deh…. jitakan bertubi-tubi mampir ke kapal Vira yang cuman bisa teriak-teriak pasrah. . Diana tersenyum manis sambil mengacungkan ibu jarinya.

Lisa (Siswi SMA Altavia) Bikin gue capek karena gue harus nonton Stella kalo dia main.DUA PULUH SEMBILAN APA pendapat kalian soal permainan bola basket? Wiki(pedia) Olahraga bola berkelompok yang terdiri atas dua tim beranggotakan masing-masing lima orang yang bertanding mencetak poin dengan memasukkan bola ke keranjang lawan. Niken (Mantan Ketua OSIS SMA 31) . Amalia (Siswi SMA 31) Bola keranjang? Amel (Siswi SMA 31) Itu permainan favorit sahabat-sahabat Amel. padahal gue sama sekali nggak ngerti dan nggak tertarik dengan basket. Kalo sehari aja mereka nggak maen basket. lemesnya kyak nggak makan berhari-hari.

iseng-iseng ikut ekskul basket di sekolah. Gue mendapat banyak pelajaran dari sana terutama pelajaran tentang kehidupan. Gara-gara Vira juga sih yang bikin aku jadi lebih mencintai basket. tambah semangat aja deh mainnya. Oya. lama-lama jadi keterusan. tapi udah merupakan gaya hidup dan cara gue menjalani hidup ini. aku ingin mengangkat nama daerahku. Padahal kan cowokku pemain basket… Stephanie (Alumnus SMA Altavia) Apa ya? Kelihatannya keren sih kalo bisa main basket. Apalagi kalo diliatin cowokcowok keren bin licin. Vira (Siswi SMA 31) Basket bukan sekadar olahraga dan hobi bagi gue. . Rei (Siswa SMA 31) Tempat menyalurkan hobiku selain naik motor. Apalagi kalo dapet duit dari situ… Sita (Siswi SMA Puri Luhur Tasikmalaya) Dengan basket. Bangga kan kalo salah seorang putri daerahnya bisa jadi pemain nasional. Eh. karena basket juga aku jadi punya teman-teman yang menyenangkan… Elmo (Streetballer) Sarana buat nyari duit! Lumayan… Rida (Siswi SMA 31) Tadinya sih cuman hobi.Permainan yang aku nggak pernah bisa. basket bikin status gue lebih tinggi daripada anak-anak lain. Stella (Siswi SMA Altavia) Yang jelas.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->