Anda di halaman 1dari 14

Spesifikasi Pekerjaan Konstruksi Beton Bertulang

PEKERJAAN BETON BERTULANG 1.0 LINGKUP PEKERJAAN


Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan dan alat-alat bantu lainnya serta pengangkutan yang dibutuhkan menyelesaikan semua pekerjaan beton berikut pembersihannya sesuai dengan yang tercantum dalam gambar, baik pekerjaan pondasi maupun struktur atas, serta pekerjaan yang berhubungan dengan beton.

2.0

PERATURAN-PERATURAN
Kecuali ditentukan lain dalam persyaratan selanjutnya, maka sebagai dasar pelaksanaan digunakan peraturan sebagai berikut :

Tata cara Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung (SK SNI T-15-199103). Pedoman Beton Indonesia 1989. Peraturan Beton Bertulang Indonesia 1971 (NI-2). American Concrete Institute (ACI) 1986. Peraturan Perencanaan Tahan Gempa Indonesia untuk Gedung 1983. Pedoman Perencanaan untuk Struktur Beton Bertulang Biasa dan Struktur Tembok Bertulang untuk Gedung 1983. Persyaratan Umum Bahan Bangunan di Indonesia (PUBI-1982)/NI-3. Peraturan Portland Cement Indonesia 1972/NI-8. Mutu dan Cara Uji Semen Portland (SII 0013-81). Mutu dan Cara Uji Agregat Beton (SII 0052-80). ASTM C-33 Standard Specification for Concrete Aggregates. Baja Tulangan Beton (SII 0136-84). Jaringan Kawat Baja Las untuk Tulangan Beton (SII 0784-83). American Society for Testing and Material (ASTM). Peraturan Bangunan Nasional 1978. Peraturan Pembangunan Pemerintah Daerah setempat. Petunjuk Perencanaan Struktur Bangunan untuk Pencegahan Bahaya Kebakaran pada Bangunan Rumah dan Gedung (SKBI-2.3.53.1987 UDC : 699.81 : 624.04).

Peraturan-peraturan yang diperlukan tersebut diatas harus disediakan Kontraktor di "Site"sehingga memudahkan apabila hendak digunakan.

3.0

KEAHLIAN DAN PERTUKANGAN


Kontraktor harus bertanggung jawab terhadap seluruh pekerjaan beton sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang disyaratkan, antara lain mutu, pengamanan selama pelaksanaan, penggunaan alat bantu jika dibutuhkan. Semua pekerjaan beton harus dilakukan oleh tenaga ahli dan tukang yang cukup berpengalaman. Khusus untuk pekerjaan beton yang membutuhkan keahlian dan ketelitian tinggi, seperti pembuatan beton dengan volume besar dan tebal, maka Kontraktor wajib menyediakan tenaga ahli yang sudah berpengalaman dalam bidangnya dan harus selalu berada di lokasi pekerjaan, baik di tempat pembuatan beton maupun di lokasi pengecoran, selama pekerjaan tersebut
BT-1

Spesifikasi Pekerjaan Konstruksi Beton Bertulang

berlangsung, sehingga dapat cepat mengantisipasi segala kemungkinan yang dapat terjadi. Kontraktor harus mengusulkan metode kerja yang digunakan untuk melaksanakan pekerjaan beton volume besar tersebut dan perawatannya untuk mendapatkan persetujuan dari MK/KP. Selain tenaga ahli, juga untuk pekerjaan beton volume besar tersebut, Kontraktor wajib menggunakan tukang yang berpengalaman, sehingga sudah mengetahui hal-hal yang harus dikerjakan pada saat pengecoran berlangsung. Semua tenaga ahli dan tukang tersebut harus tetap mengawasi pekerjaan sampai pekerjaan perawatan beton selesai dilakukan. Metode kerja yang disetujui oleh KP/MK tidak membebaskan Kontraktor dari tanggung jawab sepenuhnya atas hasil pekerjaannya. Jika dipandang perlu, maka MK berhak untuk menunjuk tenaga ahli di luar yang ditunjuk Kontraktor untuk membantu mengevaluasi semua usulan Kontraktor, dan semua biaya yang timbul, menjadi beban Kontraktor. Khusus untuk pekerjaan beton bertulang yang terletak langsung diatas tanah, jika tidak disebutkan pada gambar pelaksanaan, harus dibuatkan lantai kerja dari beton tak bertulang dengan campuran semen : pasir : koral = 1:3:5 setebal minimum 5 cm, kecuali ditetapkan lain oleh KP.

4.0 4.1

PERSYARATAN BAHAN Semen


Semen yang digunakan adalah Portlanc Cement jenis II menurut NI-8 atau tipe I menurut ASTM dan memenuhi standar portland cement yang digariskan oelh Asosiasi Semen Indonesia serta memenuhi SII 0013-81, kecuali ditentukan lain oleh Konsultan Perancang. Khusus untuk lokasi yang mempunyai kadar sulfat lebih 300 ppm, maka harus digunakan semen dengan ketahanan sulfat tinggi yaitu semen tipe V. Semua semen yang akan dipakai harus dari satu merek yang sama (tidak diperkenankan menggunakan bermacam-macam jenis/merek semen untuk suatu konstruksi/struktur yang sama), dalam keadaan baru dan asli, dikirim dalam kantong-kantong semen yang masih disegel dan tidak pecah, jika beton akan dibuat di lapangan. Dalam pengangkutan semen harus terlindung dari hujan. Semen harus diterimakan dalam sak (kantong) asli dari pabriknya dalam keadaan tertutup rapat, dan harus disimpan di gudang yang ventilasinya baik dan diletakkan pada tempat yang tinggi, sehingga aman dari kemungkinan yang tidak diinginkan, dan usahakan paling sedikit 30 cm dari lantai. Sak-sak semen tersebut tidak boleh ditumpuk sampai tingginya melampaui 2 m atau maximum 10 sak. Sistem penyimpanan semen harus diusahakan sedemikian rupa, sehingga tidak terjadi semen tersebut terseimpan terlalu lama. Untuk semen yang diragukan mutunya dan terdapat kerusakan akibat salah penyimpanan, rusak, membatu, dapat ditolak penggunaannya tanpa melalui test lagi. Bahan yang telah ditolak harus segera dikeluarkan dari lapangan paling lambat dalam waktu 2 x 24 jam atas biaya Kontraktor.

BT-2

Spesifikasi Pekerjaan Konstruksi Beton Bertulang

4.2

Agregat
Semua pemakaian batu pecah (agregat kasar) dan pasir beton, harus memenuhi syaratsyarat :

Peraturan-peraturan relevan yang tercantum pada pasal 2.0. Bebas dari tanah/tanah liat (tidak bercampur dengan tanah/tanah liat atau kotorankotoran lainnya).

Batu pecah (agregat kasar) harus mempunyai ukuran lebih kecil dari 30 mm, dan untuk lokasi dimana jarak pembesian sangat rapat, maka harus digunakan agregat kasar dengan ukuran lebih kecil, dengan tetap memperhatikan gradasi butirnya. Penggunaan ukuran butir lebih besar dari 30 mm tidak diizinkan, kecuali ditentukan lain oleh KP. Gradasi dari agregat-agregat tersebut secara keseluruhan harus dapat menghasilkan mutu beton yang disyaratkan, padat dan mempunyai daya kerja yang baik dengan semen dan air, dalam proporsi campuran yang akan dipakai. Pasir beton (agregat halus) harus terdiri dari butir-butir yang bersih, tajam dan bebas dari bahan-bahan organis, lumpur dan kotoran lainnya. Kadar lumpur harus lebih kecil dari 4 % berat. Kontraktor harus mengadakan test kualitas dari agregat-agregat tersebut dari tempat penimbunan pada laboratorium yang sudah disetujui. Dalam hal adanya perubahan sumber dari mana agregat tersebut diperoleh, maka Kontraktor wajib untuk memberitahukan secara tertulis kepada MK. Agregat harus disimpan di tempat yang bersih, yang keras permukaannya dan harus dicegah supaya tidak terjadi pencampuran dengan tanah.

4.3

Air
Air yang akan dipergunakan untuk semua pekerjaan-pekerjaan di lapangan adalah air bersih, tidak berwarna, tidak mengandung bahan-bahan kimia (asam alkali), tidak mengandung organisme yang dapat memberikan efek merusak beton/tulangan, minyak atau lemak dan memenuhi syarat-syarat untuk beton. Air yang mengandung garam (air laut) sama sekali tidak diperkenankan untuk dipakai. Air yang akan digunakan wajib diperiksa pada laboratorium yang disetujui MK, untuk mendapatkan kepastian apakah air tersebut dapat dipergunakan untuk pembuatan beton.

4.4

Besi beton
Semua besi beton yang digunakan harus memenuhi syarat-syarat :

Peraturan-peraturan relevan yang tercantum pada pasal 2.0. Baru, bebas dari kotoran-kotoran, lapisan minyak/karat dan tidak cacat (retak-retak, mengelupas, luka dsb). Dari jenis baja dengan mutu sesuai yang tercantum dalam gambar. Mempunyai penampang yang rata dan seragam, dan memenuhi toleransi yang disyaratkan. Merupakan produksi pabrik yang disetujui oleh KP.

BT-3

Spesifikasi Pekerjaan Konstruksi Beton Bertulang

Pemakaian besi beton dari jenis yang tidak sesuai dengan ketentuan diatas, harus mendapat persetujuan tertulis Konsultan Perancang (KP) Pemasok besi beton harus dari satu sumber (manufacture) dan tidak dibenarkan untuk menggunakan bermacam-macam merek besi beton tersebut untuk pekerjaan konstruksi. Sebelum mengadakan pemesanan Kontraktor harus mengadakan pengujian mutu besi beton yang akan dipakai, sesuai dengan petunjuk-petunjuk MK/KP. Setelah hasil percobaan diperoleh dan disetujui oleh MK/KP, baru pemesanan dapat dilakukan. Contoh besi beton harus diambil dengan disaksikan oleh MK, berjumlah minimum 3 (tiga) batang untuk tiap-tiap diameter besi beton, dengan panjang +/- 100 cm. Pemeriksaan mutu besi beton juga akan dilakukan setiap saat bilamana dipandang perlu oleh MK. Contoh besi beton yang diambil untuk pengujian tanpa kesaksian MK tidak diperkenankan sama sekali dan hasil test yang bersangkutan tidak sah. Semua biaya-biaya percobaan tersebut sepenuhnya menjadi tanggung jawab Kontraktor. Penggunaan besi beton yang sudah terangkai seperti steel wiremesh atau yang sejenis, harus mendapat persetujuan tertulis Konsultan Perancang. Besi beton harus dilengkapi dengan label yang memuat nomor pengecoran dan tanggal pembuatan, dilampiri juga dengan sertifikat pabrik yang sesuai untuk besi tersebut. Besi beton yang tidak memenuhi syarat-syarat karena kwalitasnya tidak sesuai dengan spesifikasi struktur harus segera dikeluarkan dari lokasi pekerjaan setelah menerima instruksi tertulis dari MK, dalam waktu 2 x 24 jam atas biaya Kontraktor.

4.5

Admixtures.
Pemakaian admixtures saat ini merupakan sesuatu yang umum untuk pembuatan beton. Walaupun demikian sebelum admixtures digunakan, Kontraktor wajib mengusulkan penggunaan tersebut kepada MK/KP untuk mendapatkan persetujuan. Dalam usulan tersebut Kontraktor harus mencantumkan dan melampirkan brosur admixtures yang menjelaskan tentang data, jenis bahan dasarnya, berikut risiko yang akan timbul dengan menggunakan admixtures tsb. Juga harus dilengkapi dengan metode kerja dan kegunaan admixtures tersebut. Khusus untuk pekerjaan beton yang memiliki ketebalan lebih dari 1.50 meter, maka penggunaan admixtures mungkin dibutuhkan untuk menjaga temperatur beton agar tidak terlalu tinggi, yang dapat menyebabkan keretakan beton akibat beda temperatur yang besar. Jumlah admixtures yang akan digunakan harus mengikuti ketentuan pabrik pembuat, demikian juga dengan proses pencampurannya dan lamanya pengadukan dengan beton, yang umumnya membutuhkan waktu lebih panjang, harus dikonfirmasikan dengan pihak pabrik.

BT-4

Spesifikasi Pekerjaan Konstruksi Beton Bertulang

4.6
4.6.1

Kualitas Beton
Kecuali bila ditentukan lain dalam gambar, kualitas beton adalah K-225 untuk tiang bor dan K-400 untuk struktur lainnya. Mutu beton K-125 (semen:pasir beton:batu pecah = 1:2:3) digunakan pada umumnya untuk kolom-kolom praktis dan bagian-bagian lain yang tidak bersifat struktural, kecuali ditentukan lain oleh KP. Kontraktor harus memberikan jaminan atas kemampuannya membuat kualitas beton ini dengan memperhatikan data-data pengalaman pelaksanaan pada tempat lain dan dengan mengadakan trial-mix di laboratorium. Selama pelaksanaan harus dibuat benda-benda uji berupa silinder beton atau kubus beton, dengan ukuran yang umum digunakan , dengan W/C factor yang sesuai disini adalah sekitar 0.52 - 0.55 maka pemasukan adukan ke dalam cetakan benda uji dilakukan menurut Peraturan Beton Indonesia tanpa menggunakan penggetar. Pada masa-masa pembetonan pendahuluan harus dibuat minimum 1 benda uji per 1,5 m3 beton hingga dengan cepat dapat diperoleh 30 benda uji yang pertama. Pengambilan benda uji harus dengan periode antara yang disesuaikan dengan kecepatan pembetonan. Kontraktor harus membuat laporan tertulis atas data-data kualitas beton yang dibuat dengan disahkan oleh MK dan laporan tersebut harus dilengkapi dengan perhitungan tekanan beton karakteristiknya. Laporan tertulis tersebut harus disertai sertifikat dari laboratorium. Setiap akan diadakan pengecoran atau setiap 5 m3, selama pelaksanaan harus ada pengujian slump, dengan syarat minimum 5 cm dan maksimum 12 cm. Cara pengujian slump sebagai berikut : Beton diambil tepat sebelum dituangkan kedalam cetakan beton (bekisting). Cetakan slump dibasahkan dan ditempatkan diatas kayu yang rata atau plat beton. Cetakan diisi sampai kurang lebih sepertiganya. Kemudian adukan tersebut ditusuk-tusuk 25 kali dengan besi dia 16 mm panjang 30 cm dengan ujung yang bulat (seperti peluru). Pengisian dilakukan dengan cara serupa untuk dua lapisan berikutnya. Setiap lapisan ditusuk-tusuk 25 kali dan setiap tusukan harus masuk dalam satu lapisan yang dibawahnya. Setelah atasnya diratakan, segera cetakan diangkat perlahan-lahan dan diukur penurunannya (nilai slumpnya).

4.6.2

4.6.3

4.6.4

4.6.5

5.0 5.1

SYARAT-SYARAT PELAKSANAAN Persetujuan dari MK.


Sebelum semua tahap pelaksanaan berikut dilaksanakan Kontraktor harus mendapatkan persetujuan tertulis dari MK. Laporan harus diberikan kepada MK beberapa hari (sesuai kesepakatan dalam rapat koordinasi) sebelum pelaksanaan berikut dilaksanakan. Syarat pelaksanaan berikut harus disepakati bersama sebelum pelaksanaan dimulai. Hal hal khusus akan didiskusikan secara lebih ditail antara semua pihak yang berkepentingan. Semua tahapan pelaksanaan tersebut harus dicatat secara baik dan jelas, sehingga mudah untuk ditelusuri jika suatu saat data tersebut dibutuhkan untuk pemeriksaan.

5.2

Persiapan dan Pemeriksaan.

BT-5

Spesifikasi Pekerjaan Konstruksi Beton Bertulang

Kontraktor tidak diizinkan untuk melakukan pengecoran beton tanpa izin tertulis dari MK. Kontraktor harus melaporkan kepada MK tentang kesiapannya untuk melakukan pengecoran dan laporan tersebut harus disampaikan beberapa hari sebelum waktu pengecoran, sesuai dengan kesepakatan di lapangan, untuk memungkinkan MK melakukan pemeriksaan sebelum pengecoran dilaksanakan. Kontraktor harus menyediakan fasilitas yang memadai seperti tangga ataupun fasilitas lain yang dibutuhkan agar MK dapat memeriksa pekerjaan secara aman dan mudah. Tanpa fasilitas tersebut, Kontraktor tidak akan diizinkan untuk melakukan pengecoran. Semua koreksi yang terjadi akibat pemeriksaan tersebut harus segera diperbaiki dan selanjutnya Kontraktor harus mengajukan izin lagi untuk dapat melaksanakan pengecoran. Tidak dibenarkan adanya penambahan waktu akibat koreksi yang timbul, kecuali ditentukan lain oleh Pemberi Tugas/MK. Persetujuan untuk melaksanakan pengecoran tidak berarti membebaskan Kontraktor dari tanggung jawab sepenuhnya atas ke tidaksempurnaan ataupun kesalahan yang timbul. Sebelum pengecoran dilakukan harus dipastikan bahwa semua peralatan yang akan tertanam di dalam beton sudah terletak pada tempatnya, dan semua kotoran sudah dibersihkan dari lokasi pengecoran. Demikian pula untuk siar pelaksanaan sudah harus dilaksanakan sesuai dengan persyaratan.

5.3

Siar Pelaksanaan.
Kontraktor wajib mengusulkan lokasi siar pelaksanaan dalam gambar kerjanya, kecuali dalam gambar disebutkan secara khusus letak siar pelaksanaan. Jumlah siar pelaksanaan harus diusahakan seminimum mungkin, agar perlemahan struktur dapat dikurangi. Siar pelaksanaan tidak diizinkan untuk melalui daerah yang diperkirakan sebagai daerah basah, seperti toilet, reservoir dll, kecuali ditentukan lain oleh KP/MK. Jika tidak ditentukan lain oleh KP, maka lokasi siar pelaksanaan harus diperhatikan sebagai berikut : Harus terletak pada daerah di mana gaya geser adalah minimal, umumnya terletak pada sepertiga bentang tengah dari panjang efektif elemen struktur. Pada pengecoran beton yang tebal dan volume yang besar, lokasi siar pelaksanaan harus dipertimbangkan sedemikian rupa, sehingga tidak menyebabkan perbedaan temperatur yang besar pada beton tersebut, yang dapat berakibat retaknya beton, disamping adanya tegangan residu yang tidak diinginkan. Siar pelaksanaan dapat dibuat secara horisontal, dan pengecoran dapat dibagi menjadi berlapis-lapis. Lokasi siar pelaksanaan tersebut harus disetujui oleh KP/MK. Kontraktor sudah harus mempertimbangkan di dalam penawarannya, segala hal yang berhubungan dengan siar pelaksanaan seperti waterstop, perekat beton, dowel dsb., maupun pembersih permukaan beton agar dapat dijamin lekatan antara beton lama dan baru. Siar pelaksanaan harus bersih dari semua kotoran dan bekas beton yang tidak melekat dengan baik, dan sebelum pengecoran dilanjutkan, harus dikasarkan sedemikian rupa sehingga agregat besar menjadi terlihat, tetapi tetap melekat dengan baik.

5.4

Pengangkutan dan pengecoran Beton.


Beton harus diangkut dengan cara sedemikian rupa, sehingga dapat tiba di lokasi proyek dalam keadaan yang masih layak untuk digunakan sebagai beton segar. Jika lokasi pembuatan beton cukup jauh dari proyek, maka harus digunakan admixtures yang dapat memperlambat proses pengerasan dari beton. Pada saat beton diangkut ke lokasi pengecoran juga harus diperhatikan, agar tidak terjadi pemisahan antara bahan-bahan dasar pembuat beton.

BT-6

Spesifikasi Pekerjaan Konstruksi Beton Bertulang

Pada saat pengecoran tinggi jatuh dari beton segar harus lebih kecil dari 2 meter. Untuk itu harus disiapkan alat bantu sehingga syarat ini dapat dipenuhi. Sebelum pengecoran beton harus tetap dijaga agar tetap dalam kondisi plastis dalam waktu yang cukup, sehingga pengecoran beton dapat dilakukan dengan baik. Kontraktor harus mengajukan jumlah alat dan personel yang akan mendukung pengecoran beton, yang dianalisa berdasarkan besarnya volume pengecoran yang akan dilakukan. Sebagai gambaran setiap alat pemadat mampu memadatkan sekitar 5 - 8 m3 beton segar per jam. Beton segar harus ditempatkan sedekat mungkin dengan lokasi akhir, sehingga masalah segregasi dan pengerasan beton dapat dihindarkan, dan selama pemadatan beton masih bersifat plastis. Untuk menjaga kelangsungan pengecoran beton, Kontraktor harus mempersiapkan alat pelindung yang mungkin berguna seperti hujan yang dapat terjadi sewaktu-waktu.

5.5

Pemadatan Beton.
Beton yang baru dicor harus segera dipadatkan dengan alat pemadat mesin (vibrator) dengan tipe yang disetujui oleh MK. Vibrator harus disediakan dalam jumlah yang memadai, sesuai dengan besarnya volume pengecoran yang akan dilakukan. Minimal harus dipersiapkan satu vibrator cadangan yang akan dipakai, jika ada vibrator yang rusak pada saat pemadatan sedang berlangsung.

BT-7

Spesifikasi Pekerjaan Konstruksi Beton Bertulang

5.6

Perawatan Beton. Perawatan beton harus dilakukan segera setelah pemadatan selesai. Perawatan prinsipnya antara lain adalah untuk menjaga agar tingkat kelembaban beton keseluruhan dijaga agar tidak terlalu cepat berubah, yang dapat menyebabkan terjadinya keretakan dan penurunan kualitas beton. Untuk itu harus dilakukan perawatan beton sedemikian sehingga tidak terjadi penguapan yang cepat terutama pada permukaan beton yang baru dipadatkan. Cara yang dipakai antara lain dengan membasahi beton tersebut dengan air selama minimal 7 hari. Kemudian agar diusahakan agar beton dapat terlindung dari sengatan langsung sinar matahari. Untuk beton yang tebal, maka harus dilakukan isolasi khusus agar permukaan beton tidak langsung terkena angin dan matahari. Material isolasi harus dibuat agar tidak menyerap panas matahari, tetapi memantulkan panas. Isolasi harus dibuat sangat rapat sehingga kelembaban dapat dipertahankan dan berkurang secara lambat. Juga harus diperhatikan agar tidak terjadi penurunan temperatur yang cepat pada permukaan sehingga dapat menyebabkan keretakan pada permukaan beton. Pemadatan harus segera dilakukan sesaat setelah beton segar dituang ke dalam acuan, dan pemadatan harus dilakukan dengan baik, sehingga beton dapat menjadi padat secara merata. Pada lokasi yang diperkirakan sulit untuk dipadatkan seperti pada pertemuan balokkolom, dinding beton yang tipis, dan pada lokasi pembesian yang rapat dan rumit, maka Kontraktor harus mempersiapkan metode khusus untuk pemadatan beton, agar tidak terjadi keropos pada beton, sehingga secara kualitas tidak akan disetujui. Jika dipandang perlu Kontraktor dapat mengusulkan cara pemadatan lain yang dipandang a dapat menyebabkan perbedaan temperatur yang besar antara permukaan dan inti beton. Hal ini dapat menyebabkan keretakan struktur dan terjadinya tegangan menetap pada beton, tanpa adanya beban yang bekerja. Untuk menghindari hal tersebut, mak penggunaan stiroform atau pasir dianjurkan. Pasir harus selalu dibasahkan selama jangka waktu minimal 14 hari. Penggunaan material pembantu dapat dilakukan untuk perawatan beton, dan material tersebut harus mendapat persetujuan KP/MK sebelum digunakan. Kontraktor wajib menyerahkan usulan tersebut dan melengkapinya dengan metode kerja dan brosur yang mendukung material tersebut.

5.7

Cara untuk menghindari keretakan pada beton.


Untuk semua pekerjaan beton, Kontraktor harus menyediakan peralatan yang dibutuhkan untuk mengukur dan memonitor segala kejadian yang mungkin terjadi selama pekerjaan beton berlangsung. Disamping peralatan juga dibutuhkan material pembantu yang mungkin dapat dicampur ke dalam beton maupun yang akan digunakan pada saat perawatan beton untuk mencegah terjadinya penguapan yang terlalu cepat. Peralatan dan material tersebut harus diinformasikan kepada MK/KP untuk mendapatkan persetujuannya. Lebar retak yang diizinkan maksimal sebesar 0.004 kali tebal selimut beton.

BT-8

Spesifikasi Pekerjaan Konstruksi Beton Bertulang

Beton yang telah selesai dipadatkan harus segera dirawat sesuai dengan yang disyaratkan. Umumnya permukaan beton tidak harus didinginkan secara mendadak, yang terpenting adalah tidak terjadi perbedaan temperatur yang besar antara permukaan dan inti beton, dan beton harus dihindarkan dari sinar matahari langsung ataupun tiupan angin. Pada struktur beton yang tebal, maka perbedaan temperatur antara permukaan dan inti beton menjadi kendala yang harus diatasi pada saat pembuatan beton berlangsung. Kontraktor wajib menyediakan alat pengukur temperatur yang akan diletakkan pada dasar beton, di dalam beton dan di permukaan beton dengan jarak vertikal antara alat ditetapkan maksimal 50 cm. Sedangkan jarak horisontal antara titik satu dengan lainnya maksimal 20 meter. Lokasi alat pengukur tersebut harus disetujui oleh MK/KP. Perbedaan temperatur antara masing-masing alat secara vertikal dibatasi maksimal 20 derajat C. Kontraktor harus menyiapkan semua perlengkapan yang dibutuhkan untuk mengatasi jika perbedaan temperatur menjadi lebih dari 20 derajat C, misalnya dengan mempertebal isolasi yang sudah digunakan atau membuat isolasi menjadi benar-benar kedap terhadap angin dan udara. Hal ini harus segera dilakukan agar perbedaan temperatur tidak menjadi lebih besar. Untuk itu harus disiapkan material isolasi lebih dari kebutuhan sebelum pengecoran dilakukan. Beberapa hal yang harus diperhatikan baik sebelum, selama maupun sesudah pengecoran beton adalah : a. Usahakan agar semua material dasar yang digunakan tetap dalam kondisi terlindung dari sinar matahari, sehingga temperatur tidak tinggi pada saat pencampuran dimulai. b. Air yang akan digunakan harus didinginkan, misalnya dengan mengganti sebagian air dengan es, sehingga temperatur menjadi lebih rendah. c. Jumlah semen yang akan digunakan dikurangi, dan diganti dengan admixtures dengan komposisi yang diizinkan oleh pabrik pembuat, dengan catatan, bahwa mutu beton tetap dipenuhi dan daya tahan beton tetap dapat dipertahankan sehingga memenuhi syarat. d. Semen yang digunakan mempunyai hidrasi rendah. e. Jika mungkin, tambahkan nitrogen cair ke dalam campuran beton. f. Waktu antara pengadukan beton dan pengecoran harus dibatasi maksimal 2 jam. g. Lakukan pengecoran bertahap sedemikian rupa, misalnya dengan membuat siar pelaksanaan secara horisontal pada beton yang tebal, sehingga tebal satu lapis pengecoran menjadi kurang lebih 1 meter, dan perbedaan temperatur dapat dikontrol. h. Jika mungkin, diusulkan pengecoran dilakukan pada malam hari dimana temperatur lapangan sudah lebih rendah dibandingkan pada siang hari. i. Harus disiapkan isolasi panas yang merata pada seluruh permukaan beton yang terbuka untuk mencegah tiupan angin dan menjaga agar temperatur tidak terlalu berbeda pada seluruh penampang beton. j. Lakukan perawatan awal segera setelah pemadatan selesai, dan harus diteruskan sampai sistem isolasi terpasang seluruhnya. k. Sediakan pelindung sehingga permukaan beton terlindung dari sinar matahari dan angin. Hal ini dapat dilakukan dengan membuat dinding pada sekeliling daerah pengecoran dengan plastik atau material sejenis, demikian juga pada bagian atasnya. Jika ternyata pada permukaan beton dijumpai keretakan setelah pemadatan selesai, maka jika mungkin yaitu beton masih dalam kondisi plastis maka harus dilakukan pemadatan kembali pada beton tersebut.

BT-9

Spesifikasi Pekerjaan Konstruksi Beton Bertulang

Jika setelah pemadatan selesai masih terjadi keretakan di luar toleransi yang diizinkan, maka Kontraktor harus melaporkan hal tersebut secara tertulis yang berisi antara lain metode kerja dan peralatan yang digunakan berikut komposisi campuran yang digunakan, kepada KP/MK untuk dievaluasi lebih lanjut. Kontraktor tidak diizinkan untuk memperbaiki keretakan tersebut sebelum mendapatkan persetujuan tertulis dari MK. Sambil menunggu evaluasi tersebut Kontraktor harus segera mengusulkan metode perbaikan yang akan dilakukannya dengan beban biaya Kontraktor. Jika keretakan yang terjadi masih dapat diterima/ diperbaiki, maka usulan Kontraktor akan dipelajari, dan umumnya keretakan tersebut diatasi dengan menggunakan grouting yang tidak susut (nonshrink-grout)

5.8

Adukan Beton yang dibuat di tempat (Site Mixing)


Adukan beton harus memenuhi syarat-syarat :

Semen diukur menurut volume. Aggregat diukur menurut volume. Pasir diukur menurut volume. Adukan beton dibuat dengan menggunakan alat pengaduk mesin (concrete batching plant). Jumlah adukan beton tidak boleh melebihi kapasitas mesin pengaduk. Lama pengadukan tidak kurang dari 2 menit sesudah semua bahan berada dalam mesin pengaduk. Mesin pengaduk yang tidak dipakai lebih dari 30 menit harus dibersihkan lebih dahulu, sebelum adukan beton yang baru dimulai.

5.9
5.9.1 5.9.2

Test Kubus Beton (Pengujian Mutu Beton)


MK berhak meminta setiap saat kepada Kontraktor untuk membuat benda uji silinder atau kubus dari adukan beton yang dibuat (dua sample untuk tiap 5 m3). Untuk benda uji berbentuk silinder, cetakan harus berbentuk silinder dengan ukuran dia 15 cm dan tinggi 30 cm dan memenuhi syarat dalam Peraturan Beton Indonesia. Untuk benda uji berbentuk kubus, cetakan harus berbentuk bujur sangkat dalam segala arah dengan ukuran 15 x 15 x 15 cm dan memenuhi syarat dalam Peraturan Beton Indonesia. Pengambilan adukan beton, pencetakan benda uji kubus dan curingnya harus dibawah pengawasan MK. Prosedurnya harus sesuai dengan standar yang berlaku di Indonesia.

5.9.3

BT-10

Spesifikasi Pekerjaan Konstruksi Beton Bertulang

5.9.4

Pengujian Pada umumnya pengujian dilakukan sesuai dengan Peraturan Beton Indonesia, termasuk juga pengujian-pengujian susut (slump) dan pengujian tekan (Crushing test). Jika beton tidak memenuhi syarat-syarat pengujian slump, maka kelompok adukan yang tidak memenuhi syarat itu tidak boleh dipakai, dan Kontraktor harus menyingkirkannya dari tempat pekerjaan. Jika pengujian tekanan gagal maka perbaikan-perbaikan atau langkah-langkah yang diambil harus dilakukan dengan mengikuti prosedur-prosedur Peraturan Beton Indonesia atas biaya Kontraktor. Semua biaya untuk pembuatan dan percobaan benda uji kubus menjadi tanggung jawab Kontraktor. Benda uji kubus harus ditandai dengan suatu kode yang menunjukan tanggal pengecoran, bagian struktur yang bersangkutan dan lain-lain data yang perlu dicatat. Semua benda uji kubus harus ditest pada laboratorium beton yang disetujui oleh MK. Laporan asli (bukan foto copy) hasil percobaan harus diserahkan kepada MK dan Konsultan Perancang segera sesudah selesai percobaan, dengan mencantumkan besarnya kekuatan karakteristik, deviasi standard, campuran adukan dan berat benda uji kubus tersebut. Percobaan/test kubus beton dilakukan untuk umur-umur beton 3, 7 dan 14 hari dan juga untuk umur beton 28 hari. Apabila dalam pelaksanaan nanti kedapatan bahwa mutu beton yang dibuat seperti yang ditunjukkan oleh benda uji kubusnya gagal memenuhi syarat spesifikasi, maka MK berhak meminta Kontraktor supaya mengadakan percobaan-pecobaan non destruktif seperti dengan core drilled atau kalau memungkinkan mengadakan percobaan loading atas biaya Kontraktor. Percobaan-percobaan ini harus memenuhi syarat-syarat dalam Peraturan Beton Indonesia. Hasil percobaan tersebut akan dievaluasi sesuai dengan yang disyaratkan dan hasilnya akan menentukan tindakan yang akan dilakukan.

5.9.5 5.9.6 5.9.7 5.9.8

5.9.9

5.10

Besi Beton/ Tulangan

5.10.1 Pemasok besi beton harus mendapatkan persetujuan dari KP sebelum material dipesan. 5.10.2 Besi beton harus disimpan pada tempat yang bersih dan ditumpu secara baik sehingga tidak merusak kualitasnya. Tempat penyimpanan harus cukup terlindung sehingga kemungkinan karat dapat dihindarkan. 5.10.3 Pembengkokan besi beton harus dilakukan sesuai dengan gambar pelaksanaan dan berdasarkan standar/ peraturan yang berlaku di Indonesia. Pembengkokan tersebut harus dilakukan dengan menggunakan alat-alat (bar bender) sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan cacat patah, retak-retak dan sebagainya. Semua pembengkokan tulangan harus dilakukan dalam keadaan dingin dan pemotongan harus dengan Bar Cutter, tidak boleh dengan sistem panas. Semua sambungan tulangan dengan diameter lebih besar dari 25 mm, harus menggunakan mekanikal join dengan tipe yang disetujui oleh KP. Kontraktor wajib mengusulkan tipe mekanikal join yang akan digunakan. Jika dipandang perlu KP/MK dapat meminta untuk dilakukan pengetestan atas usulan Kontraktor dengan beban biaya Kontraktor.
BT-11

Spesifikasi Pekerjaan Konstruksi Beton Bertulang

5.10.4 Sebelum penyetelan dan pemasangan besi beton dimulai, Kontraktor diwajibkan membuat gambar kerja (Shop Drawing) berupa penjabaran gambar rencana pembesian Struktur, rencana kerja pemotongan dan pembengkokan besi beton (bending schedule), yang diserahkan kepada MK untuk mendapat persetujuan tertulis. 5.10.5 Pemasangan dan penyetelan berdasarkan peil-peil, sesuai dengan gambar dan harus sudah diperhitungkan mengenai toleransi penurunannya. Sebelum besi beton dipasang, permukaan besi beton harus bebas dari karat, minyak dan lain-lain yang dapat mengurangi lekatan besi beton. 5.10.6 Pemasangan selimut beton (beton decking) harus sesuai dengan gambar detail standard. Sebagai catatan, pemasangan tulangan-tulangan utama tarik/tekan penampang beton harus dipasang sejauh mungkin dari garis tengah penampang, sehingga pemakaian selimut beton yang melebihi ketentuan-ketentuan tersebut diatas harus mendapat persetujuan tertulis dari MK dan Perencana. 5.10.7 Pemasangan rangkaian tulangan yaitu kait-kait, panjang penjangkaran, overlap, letak sambung dan lain-lain harus sesuai dengan gambar. Apabila ada keraguan tentang rangkaian tulangan maka Kontraktor harus memberitahukan kepada MK/Konsultan Perancang untuk klarifikasi. Untuk hal itu sebelumnya Kontraktor harus membuat gambar pembengkokan tulangan (bending schedule), diajukan kepada MK untuk mendapatkan persetujuannya. 5.10.8 Penyetelan besi beton harus dilakukan dengan teliti, terpasang pada kedudukan yang teguh untuk menghindari pemindahan tempat, dengan menggunakan kawat yang berukuran tidak kurang dari 16 gauge atau klip yang sesuai pada setiap tiga pertemuan. Pembesian harus ditunjang dengan beton atau penunjang besi, spacers atau besi penggantung seperti yang ditunjuk pada gambar atau dicantumkan pada spesifikasi ini. Penunjang-penunjang metal tidak boleh diletakan berhubungan dengan bekisting. 5.10.9 Ikatan dari kawat harus dimasukan dalam penampang beton, sehingga tidak menonjol kepermukaan beton. 5.10.10 Sengkang-sengkang harus diikat pada tulangan utama dan jaraknya harus sesuai dengan gambar. 5.10.11 Precast Mortar Spacing Block harus digunakan untuk menahan jarak yang tepat pada tulangan, dan minimum mempunyai kekuatan beton yang sama dengan beton yang akan dicor. 5.10.12 Sebelum pengecoran semua penulangan harus betul-betul bersih dari semua kotorankotoran.

BT-12

Spesifikasi Pekerjaan Konstruksi Beton Bertulang

5.10.13 Penggantian besi Kontraktor harus mengusahakan supaya besi yang dipasang adalah sesuai dengan apa yang tertera pada gambar.

Dalam hal ini dimana berdasarkan pengalaman Kontraktor atau pendapatnya terdapat kekeliruan atau kekurangan atau perlu penyenpurnaan pembesian yang ada maka :

Kontraktor dapat menambah ekstra besi dengan tidak mengurangi pembesian yang tertera dalam gambar. Usulan penambahan tersebut harus segera dikonfirmasikan pada Konsultan Perancang. Jika hal teersebut diatas akan dimintakan oleh Kontraktor sebagai pekerjaan tambah, maka penambahan tersebut hanya dapat dilakukan setelah ada persetujuan tertulis dari Konsultan Perancang.

Jika Kontraktor tidak berhasil mendapatkan diameter besi yang sesuai dengan yang ditetapkan dalam gambar maka dapat dilakukan penukaran diameter besi dengan diameter yang terdekat dengan catatan :

Harus ada persetujuan tertulis dari MK. Jumlah besi persatuan panjang atau jumlah besi ditempat tersebut tidak boleh kurang dari yang tertera dalam gambar (dalam hal ini yang dimaksud adalah jumlah luas). Khusus untuk balok portal, jumlah luas penampang besi pada tumpuan juga tidak boleh lebih besar jauh dari pembesian aslinya. Penggantian tersebut tidak boleh mengakibatkan keruwetan pembesian ditempat tersebut atau didaerah overlapping yang dapat menyulitkan pengecoran atau penyampaian penggetar. Tidak ada pekerjaan tambah dan tambahan waktu pelaksanaan.

Toleransi Besi Toleransi Besi Dibawah 10 mm 10 mm sampai 16 mm (tapi tidak termasuk dia. 16 mm) 16 mm sampai 28 mm (tapi tidak termasuk dia. 28 mm) 28 mm sampai dengan 32 mm Toleransi dia. +/- 0,4 mm +/- 0,4 mm +/- 0,5 mm +/- 0,6 mm Variasi dalam berat yang diperbolehkan +/- 7 % +/- 5 % +/- 4 % +/- 2 %

BT-13

Spesifikasi Pekerjaan Konstruksi Beton Bertulang

5.11

Pemasangan alat-alat didalam beton/Sparing

5.11.1 Kontraktor harus membuat gambar kerja yang menunjukkan secara tepat lokasi sparing yang akan terdapat pada elemen struktur. Kebutuhan akan sparing yang terjadi akibat perubahan disain harus diinformasikan segera kepada KP/MK untuk mendapatkan pemecahannya. Tidak dibenarkan untuk membobok, membuat lubang atau memotong konstruksi beton yang sudah jadi tanpa sepengetahuan dan ijin tertulis dari Konsultan Perancang. 5.11.2 Ukuran dan pembuatan lubang, pemasangan alat-alat didalam beton, pemasangan sparing dan sebagainya, harus sesuai gambar atau menurut petunjuk-petunjuk MK. 5.11.3 Perkuatan pada lubang-lubang beton untuk keperluan pekerjaan M/E yang akan dibuat kemudian oleh Konsultan Perancang tetap menjadi beban Kontraktor.

5.12

Kolom Praktis dan Ringbalok untuk Dinding


Semua kolom-kolom praktis dan ringbalok untuk dinding Bata/Conblock/Celcon harus mengikuti petunjuk seperti tercantum dalam Pedoman Perencanaan untuk Struktur Beton Bertulang Biasa dan Struktur Tembok bertulang untuk Gedung 1983 untuk struktur type D.

5.13

Beton Kedap Air.

5.13.1 Jika tidak disebutkan dalam gambar struktur/ arsitektur maka Kontraktor harus sudah mempertimbangkan di dalam penawarannya bahwa beton kedap air dibutuhkan pada lokasi yang diperkirakan akan berhubungan langsung dengan air hujan ataupun air tanahseperti pada dinding basement, reservoir, stp, semua pit, lantai atap, sebagian lantai yang terbuka. 5.13.2 Umumnya untuk lokasi dimana dibutuhkan beton kedap air juga akan digunakan waterproofing. Pemakaian water proofing dimaksudkan sebagai tambahan keamanan terhadap kebocoran, oleh sebab itu konstruksi beton yang bersangkutan secara natural harus diusahakan sekedap mungkin. Beton yang keropos/bocor harus diperbaiki terlebih dahulu sebelum lapisan water proofing digunakan. 5.13.3 Kontraktor bertanggung jawab atas pekerjaan-pekerjaan pembuatan beton kedap air tersebut. Apabila dikemudian hari (selama masa garansi water proofing), ternyata kedapatan bocor atau rembesan, maka Kontraktor harus mengadakan perbaikanperbaikan dengan biaya dari Kontraktor sendiri. Prosedur perbaikan tersebut harus dengan petunjuk-petunjuk MK sedemikian rupa sehingga tidak merusak bagian-bagian lain yang sudah selesai.

BT-14