Anda di halaman 1dari 11

Kesakralan Tersirat dalam Puisi Lirik Langit ke-7 Karya Kusman K.

Mahmud Makalah ini diajukan untuk memenuhi tugas Penulisan kreatif Dosen Pembimbing: Kusman K. Mahmud

Ingeu Widyatari Heriana 180110110055 Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran 2012

LANGIT KE-7 x: kakek, betulkah langit berlapis-lapis? y: tak terbantahkan, sayang! x: tertinggi, lapis ke berapa, kakek? y: ke-7, pasti! x: seperti apa, di sana? y: lebih biru daripada biru lebih teduh daripada teduh lebih damai daripada damai x: duhai, sungguh menyenangkan, kakek aku ingin ke sana!

ANALISIS PUISI Struktur Fisik Diksi (Pilihan Kata) Bapak Kusman K. Mahmud dalam puisinya Langit ke-7 menggunakan kata-kata yang sederhana dengan bahasa keseharian. Puisi Beliau kali ini mudah dimengerti karena tidak ditemukan gaya bahasa yang diindah-indahkan atau dilebih-lebihkan. Puisi Langit ke-7 menggunakan kata-kata yang menunjukkan berupa dialog antara kakek dengan cucunya. Walaupun pengadaan tokoh dengan pemberian serupa insial x dan y. Kata-kata dipilih Kusman K. Mahmud menjadikan puisinya sayu, hening, dan sendu. Puisi ini berbentuk dialog, tetapi termasuk ke dalam puisi lirik karena memiliki ciri-ciri sayu dan sendu tadi, serta kata-kata yang dipilih Kusman tidak bersifat dramatik. Hanya percakapan sehari-hari yang muncul pada puisi Beliau. Dibuktikan dengan kutipan-kutipan berikut. x: kakek, betulkah langit berlapis-lapis? ... x: tertinggi, lapis ke berapa, kakek? ...

x: seperti apa, di sana? y: lebih biru daripada biru lebih teduh daripada teduh lebih damai daripada damai ... Citraan (Imagery) Melalui pilihan kata-kata, Kusman dalam Langit ke-7 menggugah indera penglihatan, peraba, dan pendengaran pembaca. Dibuktikan dengan kutipan berikut. x: kakek, betulkah langit berlapis-lapis? ... x: tertinggi, lapis ke berapa, kakek? ... Pembaca bisa membayangkan langit berlapis-lapis, lapis tertinggi dengan indra penglihatan karena ukuran tinggi bisa dilihat dengan indera visula, mata. y: lebih biru daripada biru Begitu pula dengan biru yang menyatakan warna karena warna hanya bisa diketahui dengan melihat. Tentunya mengandalkan indera penglihatan visual, mata. Kalimat tersebut Beliau pilih menjadikan puisinya imajinatif karena bersifat abstrak atau mengandung makna tersirat mengajak pembaca membayangkan sesuatu yang lebih biru dari biru, sedangkan biru itu banyak macamnya. lebih teduh daripada teduh Sedangkan teduh, bisa dirasakan dengan indera peraba non visual, kulit. Teduh yang berarti tidak dingin dan tidak panas dirasakan secara biologis oleh pembaca melalui kulit. lebih damai daripada damai Damai dirasakan pembaca dengan indera penglihatan, pendengaran, dan peraba.

Kedamaian yang berarti tidak kacau bisa dirasakan melalui indera penglihatan, tenang dengan indera pendengaran dan penglihatan, rapi dengan indera penglihatan, dan hening dengan indera pendengaran. x: duhai, sungguh menyenangkan, kakek aku ingin ke sana! Hal yang menyenangkan bisa dirasakan dengan indera penglihatan, pendengaran, dan peraba. Sesuatu yang nyaman dilihat, didengar, dan diraba merangsang psikologi seseorang dalam hatinya merasakan kebahagiaan.

Bahasa Kias (Figurative Lnguage) Lirik: y: tak terbantahkan, sayang! y: ke-7, pasti! x: seperti apa, di sana? ... menggunakan gaya bahasa berupa majas Elipsi, yaitu kalimat yang subjeknya atau predikatnya tidak disebutkan lagi karena dianggap sudah diketahui. Kata-

kata yang tinggal mendapat tekanan. Kata-kata yang dicetak tebal sudah jelas menunjukkan langit yang sebelumnya disebut-sebut dan sedang dibahas. Tak terbantahkan yang dimaksud adalah kebenaran langit berlapis-lapis, pasti! Menyatakan kebenaran langit ke-7 sebagai langit tertinggi juga mendapat tekanan berupa tanda seru, dan di sana menyatakan langit ke-7 yang sedang dibahas. y: lebih biru daripada biru lebih teduh daripada teduh lebih damai daripada damai ... menggunakan gaya bahasa penegasan berupa Paralelisme anafora karena kata-kata yang dilang terdapat di awal kalimat dibuktikan dengan kata-kata yang dicetak tebal. Kusman dalam puisinya juga menggunakan gaya bahasa hipernim. Lirik x: duhai, sungguh menyenangkan, kakek aku ingin ke sana! terdapat kata menyenangkan merupakan ragam dari kata bahagia, gembira, riang, dan sebagainya. Dalam kalimat tersebut juga terdapat penghilangan kata setelah kata ingin, seharusnya terdapat kata pergi. Hal tersebut dipilih untuk kepentingan estetika.

Bunyi Langit ke-7 tidak menggunakan rima yang beraturan. Pola bunyi yang terjadi dalam puisi ini mengalir begitu saja sebagai percakapan sehari-hari.

Tipografi Bentuk baris yang disusun Beliau tidak membentuk bait-bait yang berpola karena bentuk puisinya yang berupa dialog. Tiap-tiap baris yang berupa dialog disusun sejajar tanpa ada jarak yang biasanya menandakan bait.

Struktur Batin Tema (Sense) Puisi ini memiliki pokok pasti mengenai kesakralan angka 7. Di Indonesia, angka 7 dianggap sebagai angka ganjil yang memiliki mitos-mitos bagi yang mempercayainya. Kepercayaan tokoh kakek dengan cucunya terhadap langit ketujuh menjadi fokus. Hal tersebut berlandaskan pada unsur religiusitas, ajaran agama Islam dalam cerita sejarah Rasul. Kehidupan Nabi Muhammad sebagai Rasul diberikan perjalanan ke langit ketujuh melihat kehidupan yang berbeda dengan kehidupan di dunia. Lantas, lapisan tersebut disakralkan oleh umat-umatnya sebagai pengikut. Iming-iming berupa surga terdapat dalam puisi ini secara tersirat disampaikan oleh pengarang melalui kutipan berikut. y: lebih biru daripada biru lebih teduh daripada teduh lebih damai daripada damai x: duhai, sungguh menyenangkan, kakek aku ingin ke sana! Perasaan (Feeling) Perasaan atau sikap penyair dalam puisi Langit ke-7 tenang, sabar, jujur, dan mengayomi tokoh cucu. Pada tiap-tiap larik, pengarang tidak menggunakan sikap yang menggebu-gebu, membara, berkobar-kobar, ganas, tegas atau pun keras untuk puisinya. Sifat

ekspresif dan sugestif tidak muncul dalam puisi ini, justru imajinatif dominan. Pengarang juga menjadikan puisinya sebagai alur yang penasaran karena imajinatif. Dibuktikan dengan kutipan berikut.

y: tak terbantahkan, sayang! ... y: ke-7, pasti! ... x: seperti apa, di sana? y: lebih biru daripada biru lebih teduh daripada teduh lebih damai daripada damai x: duhai, sungguh menyenangkan, kakek aku ingin ke sana! Nada atau Suasana (Tone) Sikap penyair yang tenang dalam puisinya menjadikan Langit ke-7 mengandung suasana sendu, sayu, dan mengayomi juga kepada pembaca. Kusman tidak sombong dalam menyampaikan lirik-lirik. Suasana dalam puisi ini tidak tegang, kacau, lesu, tidak juga sedih walaupun disampaikan dengan sayu. Pengarang menjadikan puisinya beralur penasaran menggugah imaji dan rasa ingin tahu pembaca lewat pertanyaan-pertanyaan sang cucu dan jawaban kakek yang abstrak. Amanat (Invention)

Melalui puisinya yang berjudul Langit ke-7, Kusman K. Mahmud ingin menyampaikan bahwa pembaca harus ingat bahwa masih ada ciptaan-Nya selain di bumi dan sekelilingnya yang tidak dapat dijangkau oleh nalar manusia. Mengingat ciptaan-Nya berarti mengingat dan memercayai keberadaan diri-Nya. Puisi yang berbentuk dialog antara kakek dan cucu, secara tersirat apabila kita menyadari dapat disimpulkan bahwa pengarang ingin menyampaikan, orang yang lebih tua hendaknya mengayomi yang lebih muda. Pertanyaan-pertanyaan yang lebih muda harus dijawab dengan jujur, sabar, objektif, dan menggugah sifat kritis atau ketidakpuasan rasa ingin tahu. Bentuk dialog dianalogikan sebagai keseharian pembaca sehingga dapat menyatu dengan kehidupan dan bisa diterapkan.

Secara tersirat juga bisa pahami bahwa pada lirik x: duhai, sungguh menyenangkan, kakek aku ingin ke sana! sebagai penyemangat untuk pembaca bisa benar-benar sampai ke langit tertinggi merasakan kesenangan lebih biru daripada biru, lebih teduh daripada teduh. lebih damai daripada damai. Pembaca dapat tergugah untuk melaksanakan ajaran agama yang mendasari kepercayaan adanya Langit ke-7. KESIMPULAN Kusman K. Mahmud mengarang puisi lirik yang sayu dan sendu berjudul Langit ke-7 dengan gaya bahasa yang sederhana seperti percakapan keseharian, namun sarat dengan imajinery. Suasana tenang menyadarkan pembaca bahwa masih ada ciptaan-Nya selain di bumi dan sekelilingnya yang tidak dapat dijangkau oleh nalar manusia. Mengingat ciptaan-Nya berarti mengingat dan memercayai keberadaan diri-Nya.

Alur yang mudah dimengerti dan sama sekali seperti keseharian di kehidupan pembaca, menggugah semangat pembaca untuk menerapkan amanat tersirat dalam puisi ke dalam kehidupan.

Anda mungkin juga menyukai