Anda di halaman 1dari 12

Perkembangan Bahasa Bahasa penting bagi kehidupan murid dan guru, mereka perlu bahasa untuk saling berbicara,

mendengar, membaca dan menulis. Mereka perlu bahasa untuk mendeskripsikan masa lalu secara detail dan merencanakan masa depan, seperti teori Vygotsky, bahasa memainkan peran utama dalam perkembangan kognitif anak.

Apa itu Bahasa? Bahasa adalah bentuk komunikasi, entah itu lisan, tertulis atau tanda, yang didasarkan pada sistem simbol. Semua bahasa manusia adalah generatif (diciptakan). Penciptaan tidak terbatas adalah kemampuan untuk memproduksi sejumlah kalimat yang tak terbatas yang bermakna dengan menggunakan seperangkat kata dan aturan. Kualitas ini membuat bahasa merupakan kegiatan yang sangat kreatif. Semua bahasa manusia juga mengikuti aturan fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, dan pragmatis. Pengertian bahasa menurut beberapa ahli diantaranya: 1. BILL ADAMS Bahasa adalah sebuah sistem pengembangan psikologi individu dalam sebuah konteks inter-subjektif 2. WITTGENSTEIN Bahasa merupakan bentuk pemikiran yang dapat dipahami, berhubungan dengan realitas, dan memiliki bentuk dan struktur yang logis 3. CARROL Bahasa adalah sebuah sistem berstruktural mengenai bunyi dan urutan bunyi bahasa yang sifatnya manasuka, yang digunakan, atau yang dapat digunakan dalam komunikasi antar individu oleh sekelompok manusia dan yang secara agak tuntas memberi nama kepada benda-benda, peristiwa-peristiwa, dan proses-proses dalam lingkungan hidup manusia 4. SUDARYONO Bahasa adalah sarana komunikasi yang efektif walaupun tidak sempurna sehingga ketidaksempurnaan bahasa sebagai sarana komunikasi menjadi salah satu sumber terjadinya kesalahpahaman. 5. SAUSSURE

Bahasa adalah objek dari semiologi 6. FERDINAND DE SAUSSURE Bahasa adalah ciri pembeda yang paling menonjol karena dengan bahasa setiap kelompok sosial merasa dirinya sebagai kesatuan yang berbeda dari kelompok yang lain 7. PLATO Bahasa pada dasarnya adalah pernyataan pikiran seseorang dengan perantaraan onomata (nama benda atau sesuatu) dan rhemata (ucapan) yang merupakan cermin dari ide seseorang dalam arus udara lewat mulut 8. BLOCH & TRAGER Bahasa adalah sebuah sistem simbol yang bersifat manasuka dan dengan sistem itu suatu kelompok sosial bekerja sama. 9. Mc. CARTHY Bahasa adalah praktik yang paling tepat untuk mengembangkan kemampuan berpikir 10. WILLIAM A. HAVILAND Bahasa adalah suatu sistem bunyi yang jika digabungkan menurut aturan tertentu menimbulkan arti yang dapat ditangkap oleh semua orang yang berbicara dalam bahasa itu 11. Mc. CARTHY Bahasa adalah praktik yang paling tepat untuk mengembangkan kemampuan berpikir 12. WILLIAM A. HAVILAND Bahasa adalah suatu sistem bunyi yang jika digabungkan menurut aturan tertentu menimbulkan arti yang dapat ditangkap oleh semua orang yang berbicara dalam bahasa itu Teori-Teori perkembangan Bahasa 1. Jean Piaget Menurut Piaget, perkembangan kognitif mempengaruhi perkembangan bahasa anak. Tapi bagi Piaget bukan perkembangan bahasa pertama yang paling fundamental dalam perkembangan kognitif melainkan aktivitas atau action. Menurut Piaget, ada dua kategori berbahasa yang utama pada anak-anak praoperasional (2-7 tahun), yaitu :

a. Berbicara Egosentris (Egocentric Speech) Berbicara egosentris adalah ketika anak-anak tidak peduli kepada siapa mereka berbicara atau apakah ada yang mendengarkan atau tidak. b. Berbicara Sosial (Socialized Speech) Berbicara sosial adalah ketika anak-anak saling bertukar pikiran satu sama lain, mengkritisi satu sama lain, bertanya, menjawab, dan bahkan memerintah atau mengancam. 2. Bruner Menurut Bruner (dalam Helena, 2004) bahasa adalah alat yang paling penting bagi pertumbuhan kognitif anak. Pembicaraan atau omongan yang mendukung anak dalam melakukan kegiatan disebut scaffolding talk. Scaffolding talk atau omongan guru yang digunakan untuk menyelenggarakan kegiatan di kelas, dapat berlangsung mulai dari memeriksa presensi sampai membubarkan kelas. 3. Lev Vygotsky Menurut Vygotsky, Private speech adalah salah satu cara yang dapat membantu perkembangan bahasa anak. Private speech merupakan komunikasi yang dilakukan dengan diri sendiri. Biasanya private speech ini dilakukan dengan 2 cara, secara internal yaitu berbicara dalam hati dan tanpa bersuara, atau secara eksternal yaitu berbicara dengan suara. Private speech juga merupakan salah satu bentuk

penggunaan bahasa yang bertujuan untuk mengembangkan anak menjadi pribadi yang mandiri.

Bahasa yang dicipatakan terdiri dari suara, atau fonem. Fonologi adalah sistem suara bahasa. Untuk mempelajari fonologi bahasa, anak harus mempelajari kandungan suaranya dan urutan suara yang diperbolehkan, yang sangat penting untuk kegiatan membaca nanti. Morfologi adalah aturan untuk mengkombinasikan morfem, yang merupakan rangkaian suara yang merupakan kesatuan bahasa yang terkecil. Sebagaimana aturan yang mengatur morfem memastikan urutan suara tertentu terjadi, aturan yang mengatur morfologi memastikan bahwa serangkaian suara tertentu terjadi dalam urutan tertentu dan sesuai aturan lainnya. Sintaksis adalah cara kata dikombinasikan untuk membentuk frasa dan kalimat yang bisa diterima. Misalnya, jika seseorang berkata kepada anda, Bob dipukul oleh Tom maka anda tahu siapa yang memukul dan siapa yang dipukul karena anda memahami struktur kalimat tersebut.

Semantik adalah makna dari kata atau kalimat. Misalnya, gadis dan wanita punya makna semantik yang sama, yakni manusia yang berjenis kelamin perempuan, tetapi berbeda dalam makna umurnya. Kata punya batasan semantik pada bagaimana mereka dapat digunakan dalam kalimat. Pragmatis adalah penggunaan percakapan yang tepat. Ini melibatkan pengetahuan tentang konteks apa yang dikatakan dan kepada siapa serta bagaimana mengatakannya. Misalnya, pragmatis dilakukan ketika anak-anak belajar membedakan antara bahasa sopan dan kasar, dan ketika mereka belajar untuk menceritakan lelucon sedemikian rupa sehingga menjadi lucu. Lundsteen, membagi perkembangan bahasa dalam 3 tahap, yaitu: 1. Tahap pralinguistik Pada tahap meraban pertama, selama bulan-bulan awal kehidupan, bayi-bayi menangis, mendekut, mendenguk, menjerit, dan tertawa, seolah-olah menghasilkan tiap-tiap jenis yang mungkin dibuat. Banyak pengamat menandai ini sebagai tahap bayi menghasilkan segala bunyi ujaran yang dapat ditemui dalam segala bahasa dunia. Adalah menarik perhatian bahwa produksi-produksi seorang bayi ditandai dengan cara ini, tetapi karakterisasi tersebut mungkin tidak benar berdasarkan fakta-fakta, terutama sekali dalam kasus konsonan-konsonan yang amat rumit. Bagaimanapun juga, hal yang penting adalah bahwa suara-suara bayi yang masih kecil itu secara linguistik tidaklah merupakan ucapan-ucapan yang berdasarkan organisasi fonemik dan fonetik. Suara-suara atau bunyi-bunyi tersebut tidaklah merupakan bunyi-bunyi ujaran, tetapi barulah merupakan tanda-tanda akustik yang diturunkan oleh bayi-bayi kalau mereka menggerakkan alat-alat bicaranya dalam setiap susunan atau bentuk yang mungkin dibuat. Mereka bermain dengan alat-alat suara mereka, tetapi rabanan mereka hendaknya jangan digolongkan sebagai performansi linguistic. 2. Tahap protolinguistik (tahap meraban kedua) Tahap ini disebut juga tahap kata omong kosong, tahap kata tanpa makna. Awal tahap maraban kedua ini biasanya pada permulaan pertengahan kedua tahun pertama kehidupan. Anak-anak tidak menghasilkan sesuatu kata yang dapat dikenal, tetapi mereka berbuat seolah-olah mengatur ucapan-ucapan mereka sesuai dengan pola suku kata. Banyak kerikan yang aneh-aneh serta dekutan-dekutan yang menyerupai vokal

hilang dari output para bayi, dan mereka mulai menghasilkan urutan-urutan KV (konsonan-vokal), dengan satu suku kata yang sering diulang berkali-kali. Pada suatu waktu bagian terakhir periode ini (sekitar akhir tahun pertama kehidupan) muncullah kata pertama. Biasanya kata itu tidak akan berbunyi lebih menyerupai kata orang dewasa daripada sejumlah rabanan yang telah dihasilkan oleh bayi selama tahap ini, tetapi akan dianggap sebagai kata pertama itu. Misalnya seorang bayi (bayi keluarga Cairns) mengatakan [X] dan menunjuk kepada tempat lilin, lampu, lampu senter, lampu mobil, bahkan kepada tombol (lampu) di dinding. Orang tuanya menerima [X] sebagai kata bukan karena berbunyi lebih menyerupai kata daripada ucapan-ucapannya yang lain, tetapi karena jelas bunyi tersebut mempunyai jodoh makna (dalam kasus ini cahaya; lampu), dan itulah sebenarnya apa yang disebut ujaran dan bahasa itu. 3. Tahap linguistik Pada usia sekitar 1 tahun anak mulai mengucapkan kata-kata. Satu kata yang diucapkan oleh anak-anak harus dipandang sebagai satu kalimat penuh mencakup aspek intelektual maupun emosional sebagai sebagai rasa untuk menyatakan mau tidaknya terhadap sesuatu. Anak menyatakan mobil dapat berarti saya mau mobilmobilan, saya mau ikut naik mobil bersama ayah, atau saya mau minta diambilkan mobil mainan.

Ucapan-ucapan satu kata pada periode ini disebut holofrase-holofrse, karena anakanak menyatakan makna keseluruhan frase atau kalimat dalam satu kata yang diucapkanya itu. Banyak sekali terdapat kedwimaknaan dalam ujaran anak-anak selama tahap ini dan juga berikutknya. Maka seringkali perlu diamati benar-benar apa yang sedang dilakukan anak-anak itu, barulah kita dapat menentukan apa yang dia maksudkan dengan yang dia ucapkan itu.

Bzoch membagi tahapan perkembangan bahasa anak dari lahir sampai usia 3 tahun dalam empat stadium, yaitu: 1. Perkembangan bahasa bayi sebagai komunikasi prelinguistik 2. Kata kata pertama : transisi ke bahasa anak 3. Perkembangan kosa kata yang cepat-Pembentukan kalimat awal. 4. Dari percakapan bayi menjadi registrasi anak pra sekolah yang menyerupai orang dewasa.

A. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Bahasa

Aliran nativisme berpandangan bahwa perkembangan kemampuan berbahasa seseorang ditentukan oleh faktor-faktor bawaan sejak lahir yang diturunkan oleh orang tuanya. Dengan demikian, jika orang tuanya memiliki kemampuan berbahasa yang baik dan cepat, perkembangan bahasa anak pun juga akan baik dan cepat. Begitu juga sebaliknya, jika kemampuan bahasa orang tuanya lambat dan kurang baik, perkembangan bahasa anak pun ikut lambat dan kurang baik.

Sementara itu, aliran empirisme atau behaviorisme justru berpandangan sebaliknya, yaitu bahwa kemampuan perkembangan berbahasa seseorang tidak ditentukan oleh bawaan sejak lahir melainkan ditentukan oleh proses belajar dari lingkungan sekitarnya. Jadi, menurut aliran ini proses belajarlah yang sangat menentukan kemampuan perkembangan bahasa seseorang. Dari perspektif ini, meskipun kemampuan bahasa orang tuanya kurang baikdan lambat tetapi jika proses stimulasi dan proses belajar dilakukan secara intensif dengan lingkungan berbahasa secara baik dan cepat, kemampuan perkembangan bahasa anak menjadi baik dan cepat.

Adapun aliran lain yang cendrung lebih moderat, yaitu aliran konvergensi mengajukan pandangan yang merupakan kolaborasi dari faktor bawaan dan pengaruh lingkungan. Menurut aliran ini perkembangan kemampuan bahasa seseorang merupakan konvergensi atau perpaduan dari kedua faktor tersebut. Faktor bawaan yang kuat pengaruhnya terhadap perkembangan bahasa seseorang adalah aspek kognitif. Kemampuan berbahasa seseorang banyak dipengaruhi oleh kapasitas kemampuan kognitif seseorang.

Sedangkan faktor lingkungan juga besar pengaruhnya terhadap perkembangan bahasa seseorang yaitu besarnya kesempatan yang diperoleh dari lingkungannya. Individu yang sehari-harinya banyak berinteraksi dengan lingkungan yang kaya kemampuan bahasanya cenderung memliki kesempatan lebih banyak dalam dan lebih bagus untuk mengembangkan bahasanya. Sebaliknya, individu yang banyak berinteraksi dengan lingkungan yang miskin kemampuan bahasanya cenderung memberikan kesempatan yang terbatas terhadap perkembangan bahasa individu yang tumbuh dan berkembang di dalamnya.

Secara rinci dapat diidentifikasi sejumlah faktor yang mempengaruhi perkembangan bahasa, yaitu:

A. Menurut Jean Piaget

1. Kognisi Tinggi rendahnya kemampuan kognisi individu akan mempengaruhi cepat lambatnya perkembangan bahasa individu. Ini relevan dengan pembahasan sebelumnya bahwa terdapat korelasi yang signifikan antara pikiran dengan bahasa seseorang. 2. Pola komunikasi dalam keluarga Dalam suatu keluarga yang pola komunikasinya banyak arah atau interaksinya relatif demokratis akan mempercepat perkembangan bahasa keluarganya dibanding yang menerapkan komunikasi dan interaksi sebaliknya. 3. Jumlah anak atau jumlah keluarga Suatu keluarga yang memiliki banyak anak atau banyak anggota keluarga, perkembangan bahasa anak lebih cepat, karena terjadi komunikasi yang bervariasi dibandingkan dengan yang hanya memiliki anak tunggal dan tidak ada anggota lain selain keluarga inti. 4. Posisi urutan kelahiran Perkembangan bahasa anak yang posisi kelahirannya di tengah akan lebih cepat ketimbang anak sulung atau anak bungsu. Hal ini disebabkan anak tengah memiliki arah komunikasi ke bawah saja dan anak bungsu hanya memiliki arah komunikasi ke atas saja. 5. Kedwibahasaan (Bilingualisme) Anak yang dibesarkan dalam keluarga yang menggunakan bahasa lebih dari satu atau lebih bagus dan lebih cepat perkembangan bahasanya ketimbang yang hanya menggunakan satu bahasa saja karena anak terbiasa menggunakan bahasa secara bervariasi.

Misalnya, di dalam rumah dia menggunakan bahasa sunda dan di luar rumah dia menggunakan bahasa Indonesia.

Dalam bukunya Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja Syamsu Yusuf mengatakan bahwa perkembangan bahasa dipengaruhi oleh 5 faktor, yaitu: faktor kesehatan, intelegensi, statsus sosial ekonomi, jenis kelamin, dan hubungan keluarga.

Pengaruh Biologis dan Lingkungan Ahli bahasa terkenal Noam Chomsky (1957) mengatakan bahwa manusia cenderung mempelajari bahasa pada waktu tertentu dan dengan cara tertentu. Bukti paling kuat untuk basis biologis dari bahasa adalah bahwa anak-anak diseluruh dunia mencapai titik penting dalam berbahasa pada saat yang hampir bersamaan dalam perkembangan mereka, dan dengan urutan yang hampir sama, meskipun ada banyak variasi dalam input bahasa yang mereka terima. Misalnya di beberapa kultur, orang dewasa tak pernah berbicara dengan bayi di bawah satu tahun, tetapi bayi ini tetap menerima masukan bahasa. Anak juga bervariasi dalam penguasaan bahasa dengan cara yang tidak dapat dijelaskan melalui kerangka lingkungan saja (Hoff, 2001). Misalnya, peneliti bahasa Roger Brown (1973) mencari bukti bahwa orang tua mendukung anak untuk berbicara sesuai kaidah tata bahasa (gramatikal). Dia menemukan bahwa terkadang orang tua memberi senyum dan pujian kepada anak bila anak berbicara secara gramatikal. Dari pengamatan ini, Brown menyimpulkan bahwa proses yang terjadi dalam diri anak lebih besar pengaruhnya ketimbang input dari lingkungan. Namun, anak jelas tidak belajar bahasa secara terpisah dari lingkungan sosialnya (Nelson, Aksu-Koc & Johnson, 2001; Snow & Beals, 2001). Banyak terjadi dalam perkembangan bahasa ketika pengasuh anak berbeda secara substansial dengan gaya mereka dalam memberikan input. Di sisi lain lingkungan berperan signifikan dalam perkembangan bahasa, terutama dalam penguasaan kosakata (Tamis-LeMonda, Bornstein & Baumwell, 2001). Misalnya, dalam salah satu studi, saat anak berusia tiga tahun, anak yang tinggal dalam keluarga miskin menunjukkan kekurangan kosakata jika dibandingkan dengan anak dari keluarga menengah ke atas, dan defisit ini terus tampak saat mereka masuk sekolah pada usia enam tahun (Farkas, 2001). Ringkasnya, perkembangan bahasa anak-anak tak hanya dipengaruhi oleh faktor biologis saja, atau faktor sosial saja (Berko Glean, 2000; Gleason & Ratner, 1998). Selama

apa pun Anda berbicara dengan anjing, si anjing tidak akan berbicara, karena ia tak punya kapasitas biologis untuk berbahasa sebagaimana yang dimiliki manusia. Sayangnya, ada beberapa anak yang tidak bisa mengembangkan keahlian berbahasa yang baik meski sudah berinteraksi dan punya model peran yang yang baik. Kaum interaksionis menganggap penting kontribusi faktor biologi dan pengalaman dalam perkembangan bahasa anak. Yakni, anak secara biologis siap untuk belajar bahasa saat mereka berinteraksi. Di dalam atau di luar sekolah, kunci utamanya adalah mendorong anak mengembangkan bahasa. Perkembangan bahasa bukan hanya soal memberi penghargaan anak karena ia berucap benar dan meniru seorang pembicara atau guru. Anak akan lebih cerdas berbahasa jika orang tua dan guru secara aktif melibatkan anak-anak dalam percakapan, memberi mereka pertanyaan, dan menekankan bahasa interaktif dibandingkan bahasa perintah.

Bagaimana Bahasa Berkembang? Penguasaan bahasa melewati beberapa tahap (Bloom, 1998; Foley & Thompson, 2002). Celoteh dimulai pada usia tiga sampai enam bulan. Bayi biasanya mengucapkan kata pertamanya pada usia 10 sampai 13 bulan. Pada usia 24 bulan, bayi biasanya mulai memadukan dua kata. Pada tahap ini, bayi dengan cepat memahami arti penting dari bahasa untuk berkomunikasi. Mereka menciptakan frase sperti itu buku, permenku, mama jalan, dan cium papa. Saat bayi menginjak usia kanak-kanak, pemahaman mereka terhadap sistem aturan bahasa mulai meningkat. Sistem aturan ini mencakup fonologi (sistem suara), morfologi (aturan untuk mengombinasikan unit makna maksimal). Sintaksis (aturan membuat kalimat), semantik (sistem makna), dan pragmatis (aturan penggunaan dalam setting sosial). Anak makin mampu menghasilkan semua suara bahasa. Mereka bahkan bisa menghasilkan serangkaian konsonan kompleks. Ketika anak mulai melampaui tahap pengucapan dua kata, mereka menunjukkan pengetahuan tentang aturan morfologi. Anak mulai menggunakan bentuk jamak dan positif dari kata benda (seperti kucing dan kucingkucing). Mereka meletakkan akhiran yang tepat pada kata kerja. Mereka menggunakan proposisi (seperti di dalam, di atas), kata sandang (seperti sebuah), dan beragam bentuk kata kerja (seperti saya akan pergi ke toko). Beberapa bukti perubahan dalam penggunaan

aturan morfologis oleh anak-anak tampak ketika mereka menyederhanakan aturan itu secara berlebihan. Anak kecil juga belajar untuk memanipulasi sintaksis. Mereka dapat membuat pertanyaan, kalimat pasif, klausa, dan semua struktur sintaksis dari bahasa mereka. Saat anak melangkah melampaui tahap dua kata, pengetahuan mereka tentang semantik atau makna juga bertambah cepat. Kosakata dari anak usia 6 tahun berkisar antara 8.000 sampai 14.000 kata. Dengan asumsi bahwa kata dipelajari sejak usia 12 bulan, ini berarti anak menguasai 5 sampai 8 kata baru setiap harinya antara 1 sampai 6 tahun. Setelah 5 tahun belajar kata, penyerapan anak usia 6 tahun tidak melambat. Menurut beberapa perkiraan, rata-rata anak pada usia ini menguasai sekitar 22 kata baru setiap hari. Walaupun ada banyak perbedaan antara bahasa anak usia 2 tahun degan usia 6 tahun, perbedaan yang paling jelas adalah pada aspek pragmatisnya. Anak 6 tahun jauh lebih lancar berbicara ketimbang anak 2 tahun. Pada usia 3 tahun, anak meningkatkan kemampuan mereka untuk berbicara tentang sesuatu yang tidak hadir secara fisik. Yakni, mereka meningktkan penguasaan karakteristik bahasa yang disebut displacement. Anak-anak tidak sekedar tahu hal-hal yang ada di sini dan saat ini, tetapi juga mampu berbicara tentang halhal secara fisik tidak ada di sini, dan sesuatu yang terjadi di masa lalu, atau mungkin terjadi di masa depan. Anak-anak prasekolah dapat memberi tahu anda apa yang mereka inginkan untuk makan siang esok hari. Ini tidak bisa oleh anak yang berada tahap penguasaan dua kata. Anak-anak prasekolah juga makin mampu berbicara dengan cara yang berbeda dengan orang yang berbeda. Kemajuan dalam bahasa di masa kanak-kanak ini memberikan dasar bagi perkembangan selanjutnya pada usia sekolah dasar. Anak-anak mendapatkan keahlian baru saat mereka masuk sekolah sehingga mereka bisa belajar membeca dan menulis: termasuk penggunaan displacement, mempelajari apa arti satu kata, dan bagaimana menata dan berbicara tentang suara (Berko Gleason, 2002). Mereka mempelajari prinsip abjad, bahwa huruf mereprentasikan suara dari bahasa. Saat anak berkembang pada periode anak-anak akhir (late childhood), mereka juga mulai menguasai tata bahasa dan lebih banyak kosakata. Selama masa kanak-kanak periode menengah dan akhir (middle and late childhood), terjadi perubahan cara anak berpikir tentang kata. Mereka menjadi tidak terlalu terikat dengan perbuatan dan dimensi perseptual yang berhubungan dengan kata, dan mereka menjadi makin analitis dalam memahami kata. Ketika diminta mengatakan kata pertama yang muncul di

benak mereka saat mereka mendengar satu kata, anak pada tahap ini biasanya memberikan kata yang mengikuti kata tersebut dalam kalimat. Misalnya, ketika diminta menjawab untuk kata anjing, si anak mungkin menjawab sarapan. Pada usia sekitar 7 tahun, anak mulai merespons dengan kata yang merupakan golongan yang sejenis dengan kata yang didengar. Misalnya, anak bisa merespons kata anjing, dengan kucing, atau kuda. Makan dengan minum. Ini adalah bukti bahwa anak mulai menggolongkan kosakata mereka berdasarkan suatu jenis kata dari pembicaraan (Berko Gleason, 2002). Ada satu hal yang perlu diperhatikan dalam perkembangan kosakata ini. Anak-anak yang masuk sekolah dasar dengan penguasaan kosakata yang sedikit akan mengalami kesulitan saat mulai belajar membaca (Berko Gleason, 2002). Anak-anak juga membuat kemajuan dalam penguasaan tata bahasa. Peningkatan keahlian penalaran logis dan analitis di kalangan anak SD akan membantu untuk memahami suatu konstruksi kata untuk perbandingan (lebih panjang, lebih pendek) dan penggunaan pendapat subjektif (jika anda presiden, maka...). Di masa remaja, kosakata bertambah dengan kata-kata yang makin abstrak. Mereka lebih memahami bentuk tata bahasa yang makin kompleks, seperti fungsi kata dalam kalimat. Remaja juga menunjukkan peningkatan pemahaman pada metafora dan satire. Pada masa remaja akhir (late adolescent), seseorang dapat mengapresiasi karya sastra dewasa secara lebih baik.

PERIODE UMUR PERKEMBANGAN/PERILAKU ANAK Sekedar bersuara 0-6 Bulan Membedakan huruf hidup Berceloteh pada akhir periode 6-12 Bulan Celoteh bertambah dengan mencakup suara dari bahasa ucap Isyarat digunakan untuk mengomunikasikan suatu objek Kata pertama diucapkan Rata-rata memahami 50 kosakata lebih Kosakata bertambah sampai rata-rata 200 buah Kombinasi dua kata Kosakata bertambah cepat

12-18 Bulan

18-24 Bulan 2 Tahun

Penggunaan bentuk jamak secara tepat Penggunaan kata lampau (past tense) Penggunaan beberapa preposisi atau awalan Rata-rata panjang ucapan naik dari 3 sampai 4 morfem per kalimat Menggunakan pertanyaan ya dan tidak dan pertanyaan mengapa, di 3-4 Tahun mana, siapa, kapan Menggunakan bentuk negatif perintah Pemahaman pragmatis bertambah 5-6 Tahun Kosakata mencapai rata-rata 10.000 kata Koordinasi kalimat sederhana Kosakata terus bertambah cepat 6-8 Tahun Lebih ahli menggunakan aturan sintaksis Keahlian bercakap meningkat 9-11 Tahun Definisi kata mencakup sinonim Strategi berbicara terus bertambah Kosakata bertambah denagn kata-kata abstrak 11-14 Tahun Pemahaman bentuk tata bahasa kompleks Memahami metafora dan satire 15-20 Tahun Dapat memahami karya sastra dewasa

Daftar Pustaka : Santrock, John W., 2010. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Kencana
http://dairabikamil.blogspot.com/2009/05/psycholinguistics-tahapan-perkembangan.html