Anda di halaman 1dari 30

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM MANAJEMEN TERNAK UNGGAS

Oleh : KELOMPOK IIIA

LABORATORIUM PRODUKSI TERNAK UNGGAS FAKULTAS PETERNAKAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN PURWOKERTO 2008

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Ayam Pedaging (Broiler) adalah ayam ras yang mampu tumbuh cepat sehingga dapat menghasilkan daging dalam waktu relatif singkat (5-7 minggu). Broiler mempunyai peranan yang penting sebagai sumber protein hewani asal ternak. Perkembangan ayam broiler komersial di Indonesia dimulai pada pertengahan dasawarsa 1970-an dan meluas dibudidayakan pada tahun 1980-an. Laju perkembangan usaha tersebut sejalan dengan laju pertumbuhan penduduk, pergeseran gaya hidup, tingkat pendapatan, perkembangan situasi ekonomi, politik serta keamanan. Kurun waktu 1980 sampai 1990 merupakan periode waktu dimana perkembangan peternakan ayam broiler banyak mengalami pasang surut , tetapi sampai saat ini banyak peternak ayam broiler yang masih bertahan dan bahkan dapat meraih kesuksesan. Masa produksi ayam broiler yang hanya 6 minggu membuat banyak pihak tertarik akan usaha ini. Berbagai kendala dan hambatan tidak membuat peternakan ayam broiler surut. Hal ini mendukung dengan adanya kebijakan baru pada tahun 1991 yang membuat peternakan ayam broiler semakin berkembang pesat sederajat dengan bisnis pada bidang kehidupan lainnya. Beberapa peternak mengeluh bahwa memelihara ayam broiler itu repot dan tidak tahan penyakit. Sebenarnya hal itu tidak akan terjadi bila manajemen yang diterapkan telah benar. Manajemen tersebut dapat berupa manajemen pemeliharaan, pakan, kandang, kesehatan ternak dan hal lain yang dapat meningkatkan produksi ayam niaga pedaging. Manajemen yang dilakukan tidak hanya pada saat pemeliharaan saja, tetapi sebaiknya manajemen mulai dilakukan saat prapemeliharaan. Manajemen pra pemeliharaan meliputi pembersihan kandang atau cuci kandang, pengapuran, pemasangan litter, pemasangan tirai dan pensucihamakan mikroorganisme pengganggu. Pensucihamakan dapat dilakukan dengan penyemprotan desinfektan atau formaldehyde.

Produksi peternakan unggas dapat ditingkatkan dengan usaha perbaikan pakan, bibit dan manajemen untuk memenuhi kebutuhan protein hewani. Usaha ini akan sia- sia apabila bahan makanan tersebut sampai ketangan konsumen dalam keadaan rusak. Misalnya daging unggas akan cepat busuk jika penangannya tidak sesuai. Daging adalah salah satu hasil ternak yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Daging mempunyai kandungan gizi yang lengkap, sehingga keseimbangan gizi untuk hidup dapat terpenuhi. Karena fungsinya ini, maka daging harus diolah dengan baik mulai dari pasca panen samapi dikonsumsi sehingga dapat memperpanjang daya tahan dan menambah daya guna daging.

1.2. Tujuan Adapun masud dan tujuan dari praktikum ini adalah: 1. Mengetahui tentang hal- hal yang harus dilakukan saat pra pemeliharaan ayam broiler 2. Mengetahui tentang manajemen pemeliharaan broiler yang baik dan benar dari mulai peroide stater, grower dan finisher. 3. Mengetahui tentang halhal yang berhubungan dengan pasca

pemeliharaan ayam broiler 4. Mengetahui tata cara memperoleh karkas ayam yang baik dan berkualitas

II. MATERI DAN CARA KERJA

2.1. Materi 2.1.1. Alat 2.1.1.1. Pra Pemeliharaan 1. Kandang 2. Lap pel 3. Ember 4. Tirai 5. Penyemprot desinfektan dan penyemprot formalin. 6. Koran. 7. Sekam. 8. Brooder. 9. Pemanas.

2.1.1.2. Pemeliharaan 1. Galon minuman. 2. Feeder tray. 3. Feeder tab. 4. Bokor. 5. Ember. 6. Gelas aqua. 7. Seperangkat memvaksin. 8. Alat penyemrot desinfektan. 9. Timbangan. 10. Kain pembersih. alat untuk

2.1.1.3. Pasca Pemeliharaan 1. Alat pembersih galon minuman dan feeder tab. 2. Penyemprot desinfektan. 3. Lap pel. 4. tali rafia 5. timbangan 6. sekat 7. box ayam

2.1.1.4. Praktikum laboratorium a. pisau b. scalpel c. gunting bedah d. alat pencabut bulu e. plastic f. timbangan g. bak plastic g. baskom

2.1.2. Bahan 2.1.2.1. Pra Pemeliharaan 1.Air. 2.Kapur 20 kg. 3.Formalin 20 %.

2.1.2.2. Pemeliharaan 1. DOC AM 888. 2. Air minum 3. Agriminovit. 4. Sulfamonometoxin. 5. Dextrometocin. 6. Moxacol. 7. Promotor. 8. Cyprogrin. 9. Pakan starter. 10. Pakan grower. 11. Pakan finisher. 12. Vaksin ND dan IBD. 13. Susu skim dan es batu. 14. Air gula. 15. Desinfektan.

2.1.2.3. Pasca Pemeliharaan 1. Air biasa. 2. Desinfektan.

Praktikum Laboratorium 1. air panas 2. ayam hidup

2.2. Cara Kerja 2.2.1. Pra Pemeliharaan 1. Kandang dicuci dengan air, semua kotoran dicuci bersih dengan lap pel, 2. Setelah itu kandang di lapisi kapur, dengan mengunakan kain pel, 3. Penutup tirai kandang dicuci dan dijemur, lalu disimpan, 4. Kandang disemprot dengan formalin 20%, 5. Lantai kandang dialasi dengan karung, lalu diatasnya dilapisi dengan sekam, sampai merata dengan ketebalan merata, 6. Alas litter disemprot dengan desinfektan, 7. Pembuatan brooder dengan membatasi kandang dengan sekat, 8. Diatas kandang lalu dipasang gasolek dan cimawar, 9. Kandang diistirahatkan 7 hari sebelum digunakan.

2.2.2. Pemeliharan a. Penerimaan DOC 1. DOC yang datang, dikeluarkan dari kardus dan dihitung jumlahnya 2. Gasolek dan cimawar dinyalakan 3. DOC diberi minum yang dicampur dengan air gula 4. Setelah 2 jam DOC diberi pakan stater b. Pemeliharaan Minggu I 1. Setiap 2 jam sekali DOC diberi pakan 2. Air minum diberi 2 kali sehari, yaitu jam 06.00 WIB dan 16.00 WIB 3. Air minum yang diberikan dicampur dengan antistress dan vitamin serta antibiotik 4. Pada hari ke-4 pemeliharaan DOC divaksin ND I dengan cara tetes mata dan suntik subcutan. Minggu II 1 . Ayam diberi pakan setiap 4 jam sekali 2. Air minum diberi 2 kali sehari, yaitu jam 06.00 WIB dan 16.00 WIB

3. Air minum yang diberikan dicampur dengan antistress dan vitamin serta antibiotik ( penyakit SNOT ) 4. Pada hari ke- 11 Ayam di vaksin IBD ( gumboro ) dengan menggunakan Drink water. 5. Ayam yang sakit dikarantina 6. Pindah kandang ke kandang 1 Minggu III dan IV 1. Ayam diberi pakan setiap 6 jam sekali 2. Air minum diberi 2 kali sehari, yaitu jam 06.00 WIB dan 16.00 WIB 3. Air minum yang diberikan dicampur dengan antistress dan vitamin serta antibiotik 4. Hari ke-21 ayam divaksin ND 2 dengan cara Drink water 5. Setiap 2 hari sekali kandang disemprot desinfektan 6. Ayam yang sakit dikarantina 7. Menjelang dipanen ayam diberi minum air putih biasa Cara pembuatan vaksin Drink Water 1. vaksin disiapkan ( Gumboro dan ND 2 ) 2. siapkan air sebanyak yang dibutuhkan misalnya 15 liter 3. air ditambah dengan susu skim dan air es 4. lalu vaksin yang disimpan dalam tempat dingin di campurkan dalam larutan tadi. 5. Vaksin siap diberikan pada ayam.

2.2.3. Pasca Pemeliharaan 1. Semua data dicatat dari minggu pertama sampai minggu kelima 2. Dihitung nilai FCR dengan rumus : pakan rata-rata / BB rata-rata 3. Deflesi dihitung dengan rumus : jumlah ayam mati / total ayam masuk x 100 % 4. Menghitung Efisiensi pakan : bobot rata-rata / pakan rata-rata x 100 % 5. Menghitung IP : BB (kg) x sisa ayam hidup (100 - deplesi)x 100 FCR x lama pemeliharaan

2.2.4. Praktikum Laboratorium 1. Siapkan ayam broiler hidup, ditimbang bobot hidupnya, 2. Ayam dipotong, darah dibiarkan mengalir sampai berhenti, 3. Darah ayam ditampung dalam plastic, lalu ditimbang, 4. Siapkan air panas, 5. Masukan ayam dalam iar panas selama 30 menit, 6. Ayam yang telah dipotong dan direndam tadi dimasukan dalam mesin pencabut bulu, 7. Nyalakan mesin pencabut bulu, sampai bulu ayam lepas, sambil disiram air hangat, 8. Bulu dan daging ditimbang, 9. Kepala, leher, ceker dan kedua sayap dipotong ( Ditimbang ), 10. Jeroan ayam dikeluarkan , 11. Jantung, hati dan gizzard dipisahkan dari jeroan dan ditimbang, 12. Bagian paha dipotong lalu ditimbang, 13. Bagian perut ( dada ) dipisahkan dari punggung lalu dada dan punggung ditimbang, 13. sisa jeroan, kepala., leher, ceker dan ujung sayap ditimbang ( limbah karkas ), 14. Semua hasil timbangan dicatat.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Pra Pemeliharaan Kegiatan sebelum pemeliharaan terdiri dari : a. Cuci kandang b. Pengapuran 20 kg untuk 4 kandang. c. Penutupan tirai luar (kandang secara umum). d. Semprot formalin 29 %. e. Pasang alas karung 1 x 6 m, sekam alas liter 2 - 5 cm. f. Semprot desinfektan (mengendapkan debu dan menonaktifkan MO disekam). g. Pembuatan Brooder dengan menggunakan sekam. h. Pembuatan pemanas (350 cimawar; 700 gasolex) i. Istirahatkan kandang selama minimal 1 minggu.

3.1.2. Pemeliharaan Perkandangan kombinasi periode awal liter, periode akhir slate. 1. Penerimaan DOC Tanggal penerimaan = 23 Oktober 2008. Jenis Jumlah Bobot awal 2. Kegiatan rutin Pemberian pakan Minggu 1 Minggu 2 Minggu 3-5 Pemberian minum Pagi Sore = 06.00 WIB. = 16.00 WIB. = 2 jam sekali = 4 jam sekali. = 6 jam sekali. = AM 888 dari PT baretha. = Kandang 5 , 816 ekor. = 37 gram.

10

3. Kegiatan Insidental

: diskusi mingguan

Tabel 1. Perhitungan selama 5 minggu Perhitungan Ayam mati Sisa Deplesi Konsumsi pakan Rata-rata pakan PBB BB FCR IP a. Vaksinasi Vaksin ND 1 hari ke 4, jam 19.00 WIB (vaksin dilakukan secara subkutan dan tetes mata 1 tetes) Vaksin IBD hari ke 12, jam 19.00 WIB (vaksin dilakukan lewat tetes mulut) b. Desinfektan 2 hari sekali. 143 gr 180 gr 0,69 292,1 % 398 gr 435 gr 1,26 219,8 % 1063 gr 1100gr 1,05 467,9 % 1513 gr 1550 gr 1,42 366,1 % 2063 gr 2100 gr 1,507 370,55 % 124,22 gr 503,14 gr 1121,21 gr 2155,41 gr 3109,9 gr Minggu 1 11 ekor 805 ekor 1,35 % 100 kg Minggu 2 21 ekor 795 ekor 2,57 % 400 kg Minggu 3 24 ekor 792 ekor 2,94 % 888 kg Minggu 4 31 ekor 785 ekor 3,80 % 1692 kg Minggu 5 43 ekor 773 ekor 5,26 % 2404 kg

11

3.1.3. Pasca Pemeliharaan Pasca pemeliharaan menghitung : a. FCR FCR = pakan rata-rata / BB rata-rata = 3109.9 / 2063 = 1,507 = jumlah ayam mati / total ayam masuk x 100 % = 43 / 816 x 100 % = 5,26 % = bobot rata-rata / pakan rata-rata x 100 % = 2063 / 3109,9 x 100 % = 66,33 % d. Indeks produksi = BB (kg) x sisa ayam hidup (100 - deplesi)x 100% FCR x lama pemeliharaan IP = 2,063 x (100 5,26) x 100 % = 370,55 % 1,507 x 35

b. Menghitung deplesi Deplesi c. Efisiensi pakan

3.1.4. Praktikum Laboratorium Bobot ayam hidup Bobot karkas ayam Paha 2 Punggung Dada Sayap 2 Giblet Total bobot karkas Bobot non karkas Bobot darah Bobot bulu : 1650 gram. : 1384,5 gram. : 304,73 gram : 305,82 gram. : 342,68 gram. : 90 gram. : 111,74 gram. : 72,897 gram : 250 gram. : 41,29 gram. : 135,34 gram.

12

Perhitungan % bagian karkas Paha 2 : 304,73 gram / 1202,81 gram x 100 % : 25,33 % Punggung : 350,82 gram / 1202,81 gram x 100 % : 25,425 % Dada : 342,68 gram / 1202,81 gram x 100 % : 28,489 % Giblet : 110 gram / 1202,81 gram x 100 % : 9,57 % Sayap 2 : 137,88 gram / 1202,81 gram x 100 % : :11,46 % Total karkas : 1202,81 gram/ 1650 gram x 100% : 72,897 %

13

Pembahasan Pra Pemeliharaan Kegiatan pra pemeliharaan diawali denan kegiatan persiapan kandang. Kegiatan ini memegang peranan penting dalam keberhasilan pemeliharan ayam broiler, persiapan kandang mempunyai pengertian yaitu menyediakan lingkungan yang benar benar sesuai dan kondusif untuk partumbuhan ayam broiler dikarenakan ayam broiler merupakan ayam yang rentan terhadap berbagai macam penyakit dari periode starter sampai periode finisher tetapi yang perlu mendapat perhatian khusus yaitu pada periode starter. Jika dalam melakukan persiapan kandang banyak kekurangan akan banyak menimbulkan berbagai permasalahan terutama pada bidang kesehatan. Tahap yang dilakukan dalam persiapan kandang yaitu : 1.Pembersihan kandang Tahap ini pada intinya membersihkan kandang yang sudah dipakai pada periode sebelumnya, pembersihan ini biasanya digunakan sprayer yang berkekuatan tinggi sehingga kotoran yang ada pada lantai (slate) lepas, tetapi ibarat tidak ada rotan akar pun jadi,ketika mesin jet shet untuk membersihkan kebetulan saja rusak yang akhirnya hanya dengan sikat dan air saja dalam membersihkan kandang tetapi pada prinsipnya sama yaitu menghilangkan kotoran, hanya saja memerlukan tenaga dan waktu yang cukup lama perlu diketahui juga bahwa kotoran menjadi mata rantai penyambung bibit penyakit pada periode selanjutnuya, lingkungan disekitar kandang juga perlu diperhatikan dalam tahap pembersihan kandang ini yaitu semak belukar dan tanaman perdu agar tidak menjadi sarang bagi predator anak ayam (kucing) dan tempat hidup serangga pengganggu seperti lalat dan tidak mengganggu sirkulasi udara ( Abidin, Z., 2002 ).

14

2. Pengapuran Tahap pengapuran sangat penting dalam pra pemeliharaan karena dapat mencegah berkembangnya mikroorganisme yang dapat merugikan seperti ookista (penyebab cocsidiosis), konsentrasi kapur yang digunakan pada pengapuran ini yaitu 2%( 2 kg kapur diencerkan dalam 10 liter air), kapur yang digunakan saat praktikum untuk 4 kandang yaitu kurang lebih 20kg. 3. Penyemprotan kandang Penyemprotan dilakukan secara rutin 2 3 kali agar efektif dalam menghilangkan bibit penyakit. Berikut ini hal- hal yang berkaitan dengan penyemprotan kandang : a. penyemprotan dengan larutan detergen 1-2% yang dilakukan setelah kandang dibersihkan (dicuci), penyemprotan ini bertujuan agar bahan bahan organic yang berasal dari sisa-sisa pakan terutama yang tergolong dalam senyawa lunak dapat larut. Bahan-bahan organic yang tertinggal dalam kandang dapat menjadi media partumbuhan bagi jamur atau mikroorganism. Setelah disemprot dibiarkan 5 sampai 10 menit kemudian dibilas sampai bersih dan dibiarkan sampai bersih dan dibiarkan mongering. b. Penyemprotan dengan larutan formalin 5-10 % setelah tirai kandang dipasang. Perbandingan larutan adalah 1 liter formalin dalam 20 liter air (untuk kondisi normal) dan 1 liter formalin dalam 10 liter air (bila peternakan habis terserang wabah). Konsentrasi tersebut diperhitungkan agar dapat memusnahkan bibit penyakit tapi tidak membahayakan penyemprot. Setelah kandang disemprot, kandang dibiarkan 7-21 hari supaya mata rantai bibit penyakit terputus. c. Penyemprotan menggunakan desinfektan seperti dekstan, istam,

benzalvak, dan lain-lain, satu hari sebelum DOC masuk. Yang harus disemprot adalah bagian seluruh kandang terutama pada bagian brooder, tempat pakan, dan tempat minum. Saat praktikum kandang disemprot dengan larutan formalin ( formaldehyde ) sebanyak 2 kali yaitu sebelum dan sesudah pemasangan litter.

15

4. Pemasangan litter Kandang yang digunakan saat praktikum adalah kandang litter karena alasnya menggunakan sekam. Kandang yang telah dikapur harus diberi alas baik untuk kandang jenis litter ataupun slate. Alas diberikan untuk memberikan kenyamanan bagi anak ayam dan supaya anak ayam tidak terperosok pada kandang slate. Kriteria bahan alas (litter) yang dapat digunakan antara lain dapat menyerap air, tidak cepat menggumpal, mudah didapat, murah harganya dan tidak menimbulkan polusi udara (debu). Pada umumnya litter yang digunakan adalah sekam padi, serbuk gergaji, serutan kayu, potongan kayu, jerami dan sebagainya. Masing-masing bahan memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, berdasarkan penelitian dan hasil pengalaman dilapangan, bahan yang baik digunakan di daerah tropis adalah serutan kayu karena serutan kayu memiliki daya serap air yang baik, tidak cepat menggumpal dan kandungan debunya rendah. Akan tetapi peternak paling banyak menggunakan sekam padi yang murah dan mudah mendapatkannya. Sebelum bahan litter dipasang, terlebih dahulu dipasang tirai alas untuk kandang slat (kandang litter tidak perlu) yang bisa terbuat dari karung plastic bekas pakan ayau terpal. Sebaiknya tirai alas dibuat dengan ukuran 1-2 meter x lebar kandang. Hal ini disebabkan untuk mempermudah dalam pelepasan yang dilakukan secara bertahap dan berselang-seling. Ketebalan litter diatur sesuai jenis lantai kandang, pada kandang slate sebaiknya tidak terlalu tebal antara 2-3 cm,karena alas tidak digunakan sampai akhir pemeliharaan (hanya sampai umur 18-21 hari) sehingga penggunaan sekam dapat lebih hemat, 1 karung sekam dapat digunakan untuk 6m2. Sedangkan untuk kandang litter sebaiknya alas litter agak tebal sekitar 5-7 cm (Anonymous., 2007 ).

16

5. Pemasangan tirai Tirai berfungsi menutup kandang untuk meminimalkan pengaruh angina dari luar kandang dan mempertahankan suhu dalam kandang agar optimal terutama pada masa brooding sehingga pemanas dapat bekerja secara optimal. Bahan tirai dapat berasal dari karung plastik bekas pakan, terpal atau goni, yang penting dapat digunakan untuk menahan angin dan dapat digunakan lebih dari sekali. Pemasangan tirai pada dinding luar, dinding dalam dan diatas brooder. Tirai pada dinding luar kandang pemasangannya dengan membuat rol (gulungan) agar mudah dinaikan dan diturunkan (efisien tenaga). a. Penambahan tirai bagian dalam (inner curtain) sangat dianjurkan, sehingga ruang yang dipanaskan lebih kecil dan gas lebih hemat, tetapi suhu brooder yang dikehendaki dapat tercapai. b. Pada daerah dingin, tirai bagian dalam ditambahkan pada bagian atapnya, sehingga tirai dalam terdiri dari tirai dalam dan tirai atas. Jarak antara tirai atas dan samping kurang lebih 20 cm, sehingga memungkinkann pertukaran udara. c. Pemasangan tirai luar sebaiknya difiksasi/diaku bagian bawahnya. Pembukaan tirai dimulai dari bagian bawah dan disesuaikan dengan kebutuhan. d. Tirai bagian luar dapat dipakai hingga umur 18 21 hari (kandang slate/panggung), sedangkan kandang postal/litter cukup pada umur 15 21 hari. e. Untuk menambah ventilasi, alas litter dapat mulai dikurangi ataupun dilepas pada umur 15 21 hari untuk kandang slate. Pada waktu malam hari, tetap harus ada sedikit rongga udara untuk membuang sisa-sisa hasil pembakaran seperti gas monoksida dan ammonia. Rongga udara sebaiknya sedikit lebih tinggi dari pemanas (30 cm).

17

6. Pembuatan Brooder Brooder merupakan induk buatan untuk memberikan lingkungan yang sesuai dengan kebutuhan alami anak ayam. Yang perlu diperhatikan dalam pembuatan brooder adalah temperature dan bentuk brooder. Suhu berperan penting dalam massa brooding karena anak ayam belum mampu menyesuaikan diri dengan suhu lingkungan kandang. Sumber energi untuk memanaskan brooder dapat menggunakan elpiji, minyak tanah, batu bara dan sekam. Hal- hal yang harus diperhatikan dalam pemasangan brooder yaitu : 1. bahan broder dapat mengguanakan seng, dengan penahan dari bambu. Brooder kotak dapat menggunakan bambu. Brooder lingkaran

memungkinkan ayam menyebar secara merata sedangkan bentuk kotak ada kecenderungan anak ayam mengumpul ditengah. Letak brooder dapat di tengah maupun tepi di dalam kandang. 2. bahan tirai bagian dalam dapat menggunakan plastik transparan maupun karung bekas pakan. 3. pemanas dapat menggunakan gasolek, cimawar maupun kompor biasa, namun biasanya peternak banyak menggunakan pemanas cimawar. 4. lama brooding 10 12 hari (musim panas/kemarau), 12 14 hari (musim hujan). 5. tiapa kandang sebaiknya tersedia minimal 1 thermometer (ditengah kandang) dan diberi standar suhu yang dikehendaki pada umur tertentu (maksimal dan minimal), bila suhu aktual dibawah suhu minimal, maka pemanas harus dinyalakan, bila suhu aktual diatas suhu maksimal maka pemanas harus dimatikan. Berdasarkan sistem pemanasan yang digunakan, brooder dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu individual pen brooders dan central heating sistem ( Rosidi, dkk., 2000 ). Saat praktikum broder yang digunakan di kandang satu yaitu 1 buah gasolek dan 1 cimawar, dimana 1 gasolek dapat mewakili 2 cimawar.

18

Pemeliharaan Pemeliharaan ayam broiler diawali dengan penerimaan DOC di peternakan. Menurut Abidin, Z ( 2002 ) ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penerimaan DOC, yaitu : a. pemanas yang sudah ada dinyalakan 1 2 jam sebelum DOC datang. b. Pastikan temperatur brooder sudah memenuhi standar 33C c. Alas koran harus dalam keadaan bersih, terdapat tiga lapis koran dan diangkat satu lapis tiap hari (sampai hari ketiga) d. Menyiapkan air minumdari larutan gula 2% (1kg gula merah dalam 10 liter air minum) atau dapat menggunakan larutan sorbitol yaitu campuran antara larutan gula dan antibiotik. e. Penyiapan batu kerikil bersih dan diletakan dalam piringan galon air minum ukuran 7 liter (2 galon). Bila galon yang diginakan ukuran 2 liter ,piringan tidak perlu diberi kerikil. f. Pada saat DOC tiba catat jumlahnya, jam kedatangan, kondisi DOC dan kondisi boks, kemudian buka semua tutup boks dan biarkan sampai 15 menit supaya DOC dapat menyesuaikan dengan lingkungan setempat. g. Timbang sampel DOC,hitung jumlahnya dan masukan DOC ke dalam brooder dengan hati-hati. h. Biarkan DOC minum selama 2 jam, siapkan pakan yang telah diayak dan ditaburkan tipis kedalam feeder tray. i. Setelah 2 jam dan pastikan DOC telah minum semuanya, ganti air minum dengan air vitamin anti stres. Setelah penerimaan DOC maka hal yang dilakukan yaitu pemberian pakan dan minum secara berkala. Manajemen pakan yang harus dilakukan yaitu : a. Pemberian pakan pada periode starter menggunakan pakan dengan kandungan protein 21%. Kandungan protein tinggi ditujukan untuk memacu pertumbuhan ayam yang optimal pada periode awal. Pemberian pakan dilakukan secara bertahap (sedikit demi sedikit) pada umur awal (1 minggu). Pemberian pakan starter dilakukan sampai dengan umur 21 hari.

19

b.

Pakan pada periode finisher menggunakan pakan dengan kandungan protein minimal 19%. Hal tersebut bertujuan untuk efisiensi pakan, karena pada periode finisher laju pertumbuhan sudah mulai menurun. Penggantian pakan dilakukan secara bertahap dari pakan starter : finisher, 75% : 25%, 50% : 50%, 25% : 75%, finisher total.

c.

Pemakaian feeder tary (baki), dianjurkan satu tray untuk 70-80 ekor (1-3 hari) sehingga masih tersedia tempat kosong untuk tidur ayam (beeding space).

d.

Penambahan alas tabung pakan 10 kg sebanyak 10 buah dapat dilakukan pada umur 3hari sehingga kapasitas feeder space untuk 50 ekor dan pada umur 5 hari (20 buah) dengan feeder space untuk 40 ekor.

e.

Feeder tray yang digunakan harus dalam keadaan kering dan bersih. Jumlah feeder tray sebaiknya dua kali yang diperlukan per kandangnya, sehingga feeder tray sempat dibersihkan setiap hari dan dijemur di sinar matahari.

f.

Feeder tray bisa dipakai sampai umur 10 hari (asalkan jumlah pakan di dalamnya tidak terlalu banyak/tidak tumpah (maksimal 300gr/tray).

g.

Dibawah gasolek sebaiknya jangan diberi tempat pakan/ feeder tray karena panas akan merusak nutrisi yang ada dalam pakan. Umur 9 10 hari, penambahan seluruh alas tabung kuning dapat dilakukan sehingga feeder space 1:25 30 ekor. Umur 13 14 hari 50% tempat pakan tabung kuning bisa digantung. Umur 15 16 hari tabung kuning digantung semua.

h.

Tinggi tempat pakan setinggi tembolok yang diukur dari bibir atas tabung. Prinsip pemberian pakan adalah full feed (pakan selalu tersedia setiap saat), tetapi perlu diingat bahwa ayam lebih suka makan pada suhu optimum sesuai dengan naluri ayam yaitu pagi hari (jam 05.00 08.00) dan sore hari (jam 17.00-20.00). Jadi pada jam-jam tersebut harus lebih diperhatikan ketersediaan pakannya.

i.

Bentuk pakan yang terlalu besar/pelet harus diayak dahulu supaya menjadi lebih kecil (crumble). Pengayakan ini juga untuk memisahkan kotoran (Anonymous, 2007).

20

Sedangkan pemberian minum dilakukan dengan cara : a. Pemberian air minum dapat menggunakan galon biasa, galon otomatis (plasson) dan nipple. Air minum yang diberikan harus sesuai standar kebutuhan harian (dibagi beberapa kali pemberian). b. Kapasitas tempat minum (galon/plasson) 1:80-90 ekor (1-4 hari pertama). Penambahan tempat minum dapat dilakukan umur 5-6 hari, menjadi 1:60 ekor. c. Air minum harus selalu tersedia dalam jumlah yang cukup, bersih, segar, layak minum, diklorinasi (3 ppm) dan tempat minum terjangkau dengan mudah oleh ayam. Klorinasi ini adalah untuk mencegah pencemaran dan penularan bibit penyakit. Kualitas air minum sangat penting karena ayam minum 2 kali jumlah pakan yang dikonsumsinya. d. Pemberian antibiotik umur 1-3 hari sebaiknya dapat habis dalam 4-6 jam. Karena konsumsi minum untuk 4-6 jam relatif masih sangat sedikit, sebaiknya dituang langsung ke plasson (sadle conector ditutup). Tetapi vitamin yang diberikan 6-12 jam dapat dicampur ke dalam tangki kandang. e. Sangatlah penting bahwa air minum tersedia setiap saat untuk broiler karena kekurangan pasokan air minum baik dalam jumlah penyebaran serta tempat air minum dan konsumsinya dapat mengurangi laju pertumbuhan. f. Tempat air minum harus selalu diperiksa ketinggianya setiap hari dan disesuaikan agara tepi tempat air minum sejajar dengan tembolok ayam broiler sejak hari ke-18 dan seterusnya. Ketinggian nipple disesuaikan secara sentral menggunakan kerekan sehingga ayam dapat minum dengan mendongakan kepalanya 45 terhadap nipple. g. Pada temperatur normal, konsumsi air minum ayam adalah 1,6-1,8 kali dari konsumsi pakan. Faktor ini sebaiknya digunakan sebagai pedoman, sehingga penyimpangan konsumsi yang berkaitan dengan kualitas pakan, temperatur dan kesehatan ayam dapat segera diketahui.

21

Pemberian pakan saat praktikum dilakukan secara bertahap. Minggu pertama setiap 2 jam sekali, minggu kedua 4 jam sekali serta minggu ketiga dan keempat 6 jam sekali. Maksud dari cara bertahap ini untuk membantu pertumbuhan organ dan tubuh broiler agar sempurna dan mencegah penimbunan lemak yang berlebihan. Air minum yang diberikan pada ayam biasanya dicampur dengan antibiotik dan vitamin. Misalnya saja saat praktikum antibiotik yang diberikan yaitu doxterin, sulfamonothoxin, dan cyprogrin. Sedangkan vitamin yang diberikan misalnya agriminovit, minovit dan supralit. Pemberian sulfamonothoxin ditujukan untuk pencegahan penyakit malaria pada ayam dan cyprogrin untuk mencegah penyakit SNOT ( coryza ). Usaha pencegahan penyakit pada ayam broiler bisa dilakukan dengan sanitasi kandang dan vaksinasi. Pada broiler vaksinasi yang umum dilakukan yaitu vaksin ND 1, gumboro dan ND 2. Sauvani ( 2007 ) mengatakan bahwa ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam vaksinasi yaitu jenis vaksin, metode vaksin, jadwal vaksin, dosis vaksin, waktu pemberian vaksin dan cara penyimpanan vaksin tersebut. Vaksin ND 1 biasanya dilakukan pada minggu pertama. Pada saat praktikum, vaksin ND1 diberikan saat ayam berumur 4 hari dengan cara tetes mata dan subcutan, sebenarnya vaksin ini dapat dilakukan juga dengan cara intramuskular. ND 1 bersifat aktif atau kill. Setelah broiler berusia 11 hari maka divaksin IBD atau gumboro. Metode vaksin yaitu dengan drink water ( DW ), karena vaksin bersifat inaktif. Pada metode DW ini vaksin dilarutkan bersama dengan air yang telah dicampur dengan susu skim. Vaksin dengan metode DW biasanya disimpan dalam tempat yang dingin (kulkas atau dengan es batu). Tujuan dari penyimpanan seperti ini adalah agar vaksin tidak mati karena suhu lingkungan yang lebih tinggi sehingga vaksin diinaktifkan terlebih dahulu. Penggunaan susu skim selain untuk media pertumbuhan vaksin juga berfungsi untuk membantu menguatkan daya tahan ayam ( Alferd, 2005 ). Saat praktikum, ternyata ayam yang telah divaksin ND 1 dan IBD mengalami kelumpuhan sebagian (tidak bisa berjalan) bahkan ada yang mati. Menurut Alferd (2005) Kelumpuhan pada ayam setelah vaksinasi umumnya

22

merupakan reaksi post vaksinal akibat pengaruh vaksin yang cukup keras,atau pada saat di vaksin terdapat sejumlah ayam yang kondisinya lemah. Untuk menghindari hal itu sebaiknya pastikan ayam benar- benar sehat saat divaksin dan jangan mengganti- ganti vaksin dengan konsentrasi atau jenis yang lain. Selama pemeliharaan hendaknya litter yang digunakan sering dibolakbalik atau kalau perlu diganti. Tujuannya yaitu untuk menghindari penumpukan kotoran yang akan menimbulkan amoniak yang menganggu kesehatan broiler itu sendiri. Selain itu, biasanya di alas juga sering tumbuh cacing yang berbahaya jika dimakan oleh DOC. Pada awal pemeliharaan kandang yang digunakan ukurannya kecil, semakin lama ayam semakin besar sehingga perlu adanya pelebaran kandang. Biasanya pelebaran kandang dilakukan pada hari- hari ganjil. Fumigasi perlu tetap dilakukan selama pemeliharaan. Pada saat praktikum pemeliharaan, penyemprotan kandang dilakukan setiap 2 hari sekali. Bagian yang disemprot tidak hanya dalam kandang saja tetapi juga luar kandang. Untuk mencegah penularan penyakit setiap pagi dan sore tempat minum dicuci dan tempat pakan dibersihkan. Selain itu, ayam yang diduga sakit dipisahkan dengan ayam yang sehat. Hasil yang didapat saat praktikum yaitu jumlah ayam masuk atau chick in 820 ekor. Sampai akhir pemeliharaan ayam mati sebanyak 32 ekor. Setiap minggu bobot badan ayam terus meningkat mulai dari 40 gr, 162.5 gr, 450 gr, 850 gr, 1400gr dan 2020 gr. Peningkatan berat badan ini menunjukan adanya pertumbuhan tubuh ayam.

23

Pasca Pemeliharaan Pasca pemeliharaan pada usaha peternakan ayam broiler bisa berupa perhitungan hasil rekording dan juga kegiatan yang bersifat fisik lainnya. Berikut ini hal- hal yang berkaitan dengan kegiatan pasca pemeliharaan yaitu : 1. Pengosongan kandang Kandang yang telah dipakai hendaknya dilakukan pengosongan setelah digunakan. Kandang yang telah dipakai jangan langsung digunakan kembali tetapi harus di istirahatkan terlebih dahulu. Biasanya kandang dikosongkan setiap 4 bulan sekali, namun bisa juga dilakukan minimal 1 bulan sebelum di gunakan lagi. Maksud dari pengosongan kandang ini adalah untuk mempersiapkan kandang dan agar mikroorganisme dapat dihilangkan ( Abidin, Z., 2002 ). 2. Fumigasi kandang Fumigasi kandang perlu dilakukan setelah kandang dipakai. Kandang yang telah dipakai sangat berpotensi sebagai sumber penyakit. Dengan fumigasi ini, diharapkan mikroorganisme atau bibit penyakit yang ada dapat dibasmi sehingga kandang bebas dari bibit penyakit dari pemeliharaan sebelumnya. 3. Pembersihan tempat pakan dan minum Tempat pakan dan minum yang telah dipakai harus dicuci bersih jika memungkinkan harus dicucihamakan terlebih dahulu. Ada beberapa penyakit yang dapat menular lewat tempat pakan dan minum seperti SNOT, dengan adanya pembersihan tempat pakan dan minum maka penularan penyakit dapat diminimalisir.

4. Pembersihan Kotoran dan pencucian tirai Sebenarnya pembersihan kotoran tidak hanya dilakukan saat pasca pemeliharaa saja. Penumpukan kotoran dapat menimbulkan penumpukan amonia yang dapat membahayakan lingkungan sekitar. Kotoran yang dibuang tidak hanya yang dibawah kandang saja tetapi juga didalam kandang. Kotoran juga merupakan media pertumbuhan penyakit sehingga harus sering dibersihkan. Tirai kandang pun sebaiknya dicuci dan dijemur untuk menghindari pertumbuhan bibit penyakit.

24

Selain melakukan kegiatan diatas, kegiatan pasca pemeliharaan yang lainnya yaitua menghitung hasil pemeliharaan berdasarkan catatan rekording. Halhal yang dihitung yaitu deflesi, FCR, efisiensi pakan dan indeks produksi. Manfaat yang dapat diambil dari perhitungan ini adalah untuk mengetahui tingkat pertumbuhan ternak dan mengetahui kemajuan suatu usaha peternakan (laba rugi). a. Menghitung deflesi ( tingkat kematian ) Deflesi adalah presentasi kematian ayam yang dipelihara dengan jumlah ayam yang masuk. Deflesi dapat dihitung dengan rumus : D = jumlah ayam mati x 100 % total ayam masuk Semakin tinggi nilai deflesi, maka angka kematian ayam tinggi pula sehingga jumlah ayam yang hidup semakin sedikit. Angka deflesi yang tinggi bisa diakibatkan penyakit maupun manajemen yang tidak sesuai. b. Menghitung Feed Consumption Ratio ( FCR ) Efisiensi pakan dinyatakan dalam perhitungan FCR (Feed Convertion Ratio). Nilai FCR dapat dihitung dengan rumus : pakan rata-rata / BB rata-rata Semakin rendah angka FCR, semakin baik kualitas pakan, karena lebih efisien dengan pakan sedikit menghasilkan bobot badan yang tinggi (Prabowo, 2007). Misalnya FCR 1 ini berarti untuk menghasilkan kenaikan berat badan 1kg dibutuhkan pakan sebanyak 1 kg/ ekor. c. Menghitung efisiensi pakan Efisiensi pakan yaitu banyaknya pakan yang diperlukan untuk menghasilkan produksi. Rumusnya terbalik dengan rumus FCR, yaitu : = bobot rata- rata x 100% Pakan rata- rata Beda halnya dengan FCR semakin tinggi nilai efisiensi pakan maka akan semakin bagus, karena dengan pakan yang sedikit dapat menghasilkan produksi daging yang tinggi.

25

d. Menghitung indeks produksi ( IP ) Indeks produksi merupakan suatu angka yang menunjukan tingkat kemajuan produksi ayam, semakin tinggi IP maka hal ini berarti produksi ayam semakin bagus dan sebaliknya. Biasanya standar IP tiap perusahaan berbeda- beda , namun pada intinya IP diatas 300 sudah menunjukan produksi yang baik. Rumus IP : = BB (kg) x sisa ayam hidup (100 - deplesi)x 100% FCR x lama pemeliharaan

Berdasarkan hasil perhitungan saat praktikum diperoleh data produksi yaitu bobot ayam akhir 2020 gr, deflesi 5.26% ; FCR 1,507 ; efisiensi pakan 66.33% dan IP 370.55 %. Bisa dilihat bahwa deflesi cukup tinggi, hal ini bisa diakibatkan karena banyak ayam yang terserang penyakit, terjepit kandang dan terinjak praktikan. FCR yang tinggi diakibatkan karena pemberian pakan yang tidak terkendaki selain itu banyak pakan yang terbuang percuma, sehingga FCR tinggi.FCR yang tinggi akan menyebabkan efisiensi pakan dan IP menjadi rendah, sehingga produksi bisa dikatakan rendah.

26

Praktikum Laboratorium Daging ayam merupakan salah satu jenis daging unggas yang paling banayk dijua. Penjualan bisa dalam bentuk ayam utuh, karkas ayam, ataupun dijual terpisah- pisah. Daging unggas mempunyai komposisi protein 16% 31.5%, abu 1.1% dan air 71.9%. komposisi tersebut bervariasi karena dipengaruhi factor interistik ( umur, jenis ) dan ekstrinstik. Untuk memperoleh hasil pemotongan yang baik, ternak unggas sebaiknya diistirahatkan sebelum dipotong. Cara pemotongan ternak unggas yang lazim digunakan di Indonesia adalah kosher, yaitu memotong arteri karotis, vena jugularis, dan oesphagus. Saat penyembelihan darah harus keluar sebanyak mungkin, jika darah dapat keluar sempurna, maka beratnya sekitar 4% dari bobot tubuh (Soeparno, 1992). Saat praktikum bobot darah ayam 41,29 gram, seharusnya jika mengacu pada litelatur 4% daro bobot badan adalah 62 gram ( 1650 gr x 4%). Setelah dipotong, maka ayam dicabuti bulunya. Untuk mempernudah pencabutan bulu, unggas dicelup dalam air hangat antara 50 - 80C selama beberapa detik. Pencabutan bulu ( defeathering ) dapat dilakukan dengan scalding ( air panas ), dengan tangan atau mesin pencabut bulu halus dengan tangan. Mulyowati (2002) menerangkan bahwa pencelupan dengan air panas

diklasifikasikan menjadi: a. Hard scalding, suhu air 65- 85 C selama 5-30 detik b. Sub scalding, suhu air 55- 60 C selama 45-50 detik c. Semi scalding, suhu air 50- 54 C selama 20-120 detik Pencabutan bulu juga dapat dilakukan dengan mesin pencabut bulu ( picker ). Mesin pencabut bulu terdiri dari dua buah silinder karet yang permukaannya terdiri dari duri- duri lunak dari karet, arahnya berlawanan. Saat praktikum pencabutan bulu menggunakan metode semi scalding lalu dimasukan dalam picker. Hasil picker ternyata tidak hanya merontokan bulu saja tetapi juga kulit dan kepalanya lepas dan terdapat sobekan daging di dada. Hal ini dikarenakan pada saat scalding terlalu lama ( lebih dari 30 detik ).

27

Langkah selanjutnya yaitu eviscerasi atau pengeluaran jeroan termasuk memisahkan kaki, kepala, ujung sayap dan ekor. Menurut Winarno ( 1996 ) berat karkas rata- rata sangat bervariasi, berkisar antara 65% - 75% dari berat hidupnya. Berat karkas saat praktikum yaitu 1202,81 gram, hal ini telah sesuai dengan pernyataan diatas bahwa berat karkas antara 65% - 75% ( berat utuh 1650 gram ). Mulywati (2002), menerangkan bahwa setelah proses evicerasi lalu di dapat karkas utuh. Langkah selanjutnya yaitu pemotongan karkas menjadi daging ( parting ). Karkas dipotong menjadi 9 potong yaitu 2 paha bawah (drumstick), 2 paha atas (thigh), 2 sayap (wing), 2 dada tulang (side breast/rib) dan 1 dada tengah ( keel ). Bagian atau proporsi dari karkas yaitu 2 paha 25.33%, punggung 25.425%, dada 28.489% dan 2 sayap 11.46%. Berdasarkan praktikum bobot 2 paha 304.73 gr, punggung 305.82 gr, dada 342.68 gr dan 2 sayap 137.88 gr, hal ini menunjukan bahwa bobot karkas telah sesuai dengan pernyataan diatas. Karkas yang telah dipotong lalu disimpan dalam mesin pendingin agar tahan lama. Karkas yang telah dipotong dapat dilihat kualitas dari berbagai sudut. Ada beberapa faktor penentu kualitas karkas yaitu : 1. Confirmation ( keserasian tubuh ) 2. fleshing 3. fat covering 4. portending dan non portending 5. banyaknya tulang terpotong dan lepas 6. perubahan warna kulit dan daging 7. tingkatakn kesobekan pada kulit dan daging.

Berikut ini tabel indikasi kualitas karkas unggas: Tabel 2. indikasi kualitas karkas unggas Factor Konformasi - tulang dada - punggung - kaki sayap Kualitas A Normal 0.3cm lengkung Normal Normal Kualitas B Hampir normal Agak bengkok Lekukan sedikit Agak abnormal Kualitas C Abnormal Bengkok nyata Lekukan besar Abnormal

28

- fleshing

Daging penuh

Daging penuh

agak Daging tipis

Fat covering

Seluruh ditutupi lemak kulit

karkas Lemak

subcutan Kurang menutupi

lapisan hanya di dada dan bagian karkas dibawah paha

Pin feathers - non portunding - protunding - kesobekan Hampir tidak ada Sedikit & tersebar Tersebar -

Dada& paha tidak Dada & paha 3.8 Tidak terbatas ada, bagian lain 7.6 cm 3.8cm

- persendian lepas - tulang patah Discoloration, memar kulit

Kurang 1 cm Tidak ada

2 cm 1 Dada tidak ada

Tidak terbatas Tidak terbatas Tidak terbatas

Berdasarkan hasil praktikum, dapat disimpulkan bahwa jika dilihat dari bobot karkas ayam yang digunakan telah memenuhi standar, namun sayangnya jika dilihat dari luar kualitas karkasnya jelek, karena kulit ayam sobek dan daging dada ada yang robek. Hal ini dikarenakan kesalahan pada saat prosesing.

29

IV. PENUTUP

Kesimpulan Kegiatan pra pemeliharaan terdiri dari cuci kandang, pengapuran, penyemprotan desinfektan, pemasangan litter, cuci tirai, pemasangan brodeer dan mengistirahatkan kandang sebelum digunakan selama 7 hari. Pengapuran dilakukan dengan melarutkan air dan kapur, sedangkan fumigasi dengan penyemprotan desinfektan (formaldehyde). Pemeliharaan meliputi penerimaan DOC, kegiatan rutin ( pemberian pakan dan minum ), fumigasi, vaksinasi, pelebaran kandang dan culling ayam sakit. Vaksinasi yang dilakukan saat praktikum sebanyak 3 kali yaitu ND 1 umur 4 hari, IBD umur 11 hari dan ND 2 umur 21 hari. Pasca pemeliharaan terdiri dari kegiatan pengosongan kandang, fumigasi, cuci tempat pakana dan minum serta pembersihan kotoran dan cuci tirai. Selain itu, dilakukan perhitungan deflesi, FCR, efisiensi pakan dan indeks produksi. Nilai yang didapat dari praktikum yaitu deflesi 3.9% ; FCR 1,634 ; efisiensi pakan 59 % dan IP 323,47 %. Menjaga kualitas dari produsen sampai ketangan konsumen merupakan langkah akhir setelah dilakukan pemanenan, kegiatan ini melalui berbagai prosesing pengolahan produk unggas. Tahapan dalam proses pengolahan produk unggas: penyembelihan, bleeding, pencabutan bulu, eviscerating, pemotongan karkas dan penyimpanan. Bobot karkas saat praktikum 1150 gr hal ini telah sesuai dengan litelatur yaitu bobot karkas 65%-75% dari bobot badan. Berat karkas saat praktikum : 2 paha 339,44 gram, punggung 434,28 gram, dada 334,77 gram dan 2 sayap 112,27 gram

Saran Praktikum lebih baik lagi, masih banyak yang perlu di benahi baik dari segi peralatan yang mendukung pemeliharaan maupun kandang. Terakhir, jangan pernah menyerah untuk mencari dan berbagi ilmu, Smangat!!!

30

DAFTAR PUSTAKA

Abidin, Zainal. 2002. Meningkatkan Produktivitas Ayam Kampung Pedaging. Agro Media Pustaka. Jakarta. Alfred. 2005. Vaksin Ayam. Poultry Indonesia Farm Indeks Unggas. www. Google.co.id Anonymous. 2007. Budidaya Ayam Ras Pedaging. Pustaka Umum. www. Google.co.id Mulyowati, dkk. 2002. Lecture Note Ilmu Produksi Ternak Unggas. Fapet UNSOED. Purwokerto. Prabowo. 2007. Budidaya Ayam Pedaging atau Potong Dengan Teknologi Nasa. Poultry Indonesia Farm Indeks Unggas. www. Goole.co.id Sauvani. 2007. Vaksinasi dan Penyakit. www. Google.co.id. Soeparno. 1992. Ilmu dan Teknologi Daging. UGM- Press. Jogjakarta. Winarno, F.G,. 1996. Mengatasi Permasalahan Beternak Ayam. Penebar Swadaya. Jakarta.