Anda di halaman 1dari 54

1

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang 1.1.1 Pengenalan Jenis Pupuk Pupuk adalah bahan sumber unsur hara yang secara sengaja

diberikan/disajikan pada media tanam agar tanaman dapat memperoleh kesehatan, pertumbuhan dan produksi yang lebih baik. Menurut asal terjadinya, pupuk dikenal dengan sebutan pupuk pabrik (buatan) dan pupuk alam. Pupuk buatan yakni pupuk yang dibuat di pabrik melalui proses kimiawi, misalnya urea, TSP, KCL, NPK dan DS. Pupuk alam ialah pupuk yang terbentuk secara alami contohnya pupuk kandang, kotoran kelelawar dan hasil utama produk tanaman misalnya pupuk hijau.Menurut zat hara yang dikandung dikenal dengan sebutan pupuk organik dan pupuk anorganik. Pupuk organik ialah pupuk yang berasal dari hasil utama atau ikatan jasad hidup misalnya pupuk kandang, pupuk hijau, kotoran burung guano dan kompos. Pupuk anorganik ialah pupuk yang dihasilkan dari garam bahan-bahan kimia, contoh : TSP, KCL dan NPK. Menurut tingkat kecepatan proses terurainya menjadi zat yang siap diserap oleh tanaman dikenal dengan nama pupuk labil dan stabil. Pupuk stabil contohnya TSP dan pupuk kandang. Pupuk labil contohnya urea dan NPK. Ditinjau dari kandungan unsur hara maka dikenal dengan sebutan pupuk tunggal dan pupuk majemuk. Pupuk tunggal yakni pupuk yang hanya mengandung satu jenis unsur hara, contohnya urea hanya mengandung nitrogen. Pupuk majemuk yakni pupuk yang mengandung unsure hara lebih dari dua jenis unsure hara, missal NPK dan pupuk kandang. Tanaman membutuhkan sedikitnya 17 unsur hara yang dapat dikelompokkan menjadi hara makro dan hara mikro. Zat hara yang diperlukan bagi pertumbuhan dan produksi tanaman disebut hara esensial (hara penting). Hara makro yakni zat hara yang dibutuhkan dalam jumlah banyak, tetapi umumnya hanya tersedia terbatas pada mediun tanah. Sedangkan hara mikro yakni zat hara yang hanya diperlukan jumlah yang sedikit, tetapi umumnya tersedia lebih di dalam medium tanah.

1.1.2 Penyemaian Biji Legume Pada umumnya biji digunakan sebagai bahan untuk penanamankarena dangan biji dapat memperoleh proses perkecanbahan dengan sempurna. Ada dua jenis bibit tanaman yakni bibit vegetatif dan generatif. Pertumbuhan tanaman sangat tergantung dari potensi bibit dan kondisi lingkungan habitatnya. Cahaya sinar matahari merupakan faktor utama yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman melalui proses fotosintesis. Kadang kita menggunakan bibit vegetatif karena tanaman yang bersangkutan tidak menghasilkan biji. Tanaman menghasilkan biji tapi sulit dikecambahkan. Tanaman diharapkan cepat berproduksi untuk mempertahankan keadaan heteozigot. Keuntungan dilaksanakannya pembiakan generatif antara lain : tanaman yang diperoleh lebih sehat, cepat menyimpan benih, lebih praktis, mudah dan murah. Adapun kekurangannya antara lain : diberikan waktu lama dari saat tanam sampai bereproduksi, pada tanaman yang menyerbuk silang, penyerbukan silang sehingga terjadinya spesies yang lebih jelek. mungkin

1.1.3 Pembuatan Amoniasi Jerami Padi Disekitar kita banyak terdapat jenis hijauan untuk makanan ternak Limbah pertanian nonlegum umumnya mempunyai nilai nutrisi dan kecernaannya rendah, jika limbah pertanian tersebut akan digunakan sebagai hijauan pakan sebaiknya diberi perlakuan terlebih dahulu untuk meningkatkan nilai nutrisi maupun kecernaannya.Limbah pertanian yang potensial khususnya di Jawa adalah jerami padi. Salah satu cara untuk meningkatkan kecernaan dan nilai nutrisi tersebut adalah dengan tehnik amoniasi. Indonesia sebagai negara agraris memiliki potensi yang besar dalam sektor pertanian, sebagian besar masyarakat Indonesia masih menjadikan pertanian sebagai komoditas usaha dan potensi. Hal tersebut terlihat dari banyaknya daerah-daerah di Indonesia yang dijuluki sebagai lumbung padi. Jerami padi merupakan limbah pertanian terbesar, sebagian besar jerami padi tidak dimanfaatkan, karena selalu dibakar setelah proses pemanenan.

1.1.4 Agronomi Tanaman Pakan Agronomi adalah suatu usaha cocok tanam yang akan menghasilkan hijauan sebagai sumber pakan. Pertumbuhan dan produksi hijauan sangat bergantung pada media yang digunakan untuk bercocok tanam, disamping media, yang tidak kalah penting adalah lingkungan. Media adalah tempat tumbuhnya tanaman dan dari media tersebut tanaman memperoleh air dan hara yang diperlukan jaringan dalam pembangunannya, pertumbuhannya dan produksi tanaman. Tekstur dan tekstur media (tanah) akan mempengaruhi komponen air, udara, dan kehidupan mikrobiologi tanah. Faktor pertumbuhan tanaman utama yang lain adalah cahaya, suhu dan kelembaban udara. Media tanah dapat berasal dari satu media utama atau kombinasi dari dua jenis atau tiga komponen utama. Komponen tanah yang berbeda akan mengakibatkan kondisi dan proporsi tekstur, struktur, tingkat keasaman dan kandungan hara yang berbeda yang akan berdampak kepada pertumbuhan dan produksi hijauan pakan yang berbeda pula.

1.1.5 Pembuatan Hijauan Awetan Kering (Hay) Hay atau hijauan awetan kering adalah hijauan ternak baik dari jenis rumput-rumputan, kacang-kacangan atau hijauan lainnya yang sengaja dipotong sebelum fase generatif, untuk persediaan pakan ternak pada saat sulit mencari pakan. Jenis hijauan untuk dibuat hay umumnya memiliki batang tipis atau halus atau hijauan yang bertekstur halus. Hay merupakan hijauan makanan ternak yang sengaja dipotong dan dikeringkan agar bisa diberikan kepada ternak pada kesempatan yang lain. Hay dibuat dengan maksud untuk penyediaan makanan ternak pada saat-saat tertentu, misalnya di masa-masa paceklik dan bagi ternak selama perjalanan.

1.1.6 Analisis Produksi Rumput Potongan Produksi hijauan adalah produksi fisik tanaman pakan, dapat saja terdiri dari jumlah tunasatau batang, bobot hijauan (segar, kering) dan produksi bagian atau seluruh komponen nutrisi (bahan kering, protein, kalori, dll). Rumput

potongan ialah usaha cocok tanam rumput yang cara pemanenannya dilaksanakan dengan cara dipangkas/disabit. Umumnya jenis rumput yang dimanfaatkan sebagai rumput potongan adalah berbagai jenis tanaman rumput yang memiliki ukuran kasar atau medium seperti jenis rumput gajah, meksiko, benggala atau setaria. Namun demikian rumput jenis bentuk halus dapat saja digunakan sebagai rumput potongan, baik untuk disajikan dalam bentuk segar ataupun awetan. Agar diperoleh usaha yang efektif dan efisien, maka diperlukan analisis antara kebutuhan dan produksi hijaun yang seimbang. Pengetahuan tentang pengenalan dan potensi sebagai jenis tanaman serta kebutuhan hijauan pakan pada berbagai jenis ternak akan sangat membantu perencanaan kebutuhan pakan hijauan.

1.1.7 Pemupukan Tanaman Pakan Pemupukan merupakan kegiatan memberikan unsur hara ke dalam medim tanaman yang diperlukan untuk memacu pertumbuhan , kesehatan dan produksi tanaman pakan. Unsur hara sangat diperlukan bagi pertumbuhan dan produksi tanaman khususnya unsur hara makro, hara makro yakni unsur hara yang banyak diperlukan bagi pertumbuhan dan produksi tanaman terapi umumnya secara alami hanya tersedia sedikit atau terbatas. Untuk memenuhi kebutuhan yang sesuai diperlukan usaha pemupukan. Jenis dan jumlah unsur hara yang ditambahkan sebagai pupuk harus disesuaikan dengan fase pertumbuhan tanaman agar dicapai kegiatan pemupukan yang efektif dan efisien. Ada beberapa cara pemberian atau penempatan pupuk antara lain ialah ditabur di atas tanah di dekat rumpun tanaman, ditanam atau ditugalkan ke dalam tanah, disemprotkan melalui permukaan daun. Saat pemupukan juga harus disesuaikan dengan kebutuhan unsur hara dan sifat kimiawi pupuk. Pupuk yang sifatnya lama terurai harus diberikan pada saat yang tepat. . 1.1.8 Analisis Produksi Rumput Alam (Lapang) Hijauan lapang adalah tumbuhan rerumputan, kekacangan dan herba yang tumbuh secara alami. Hijauan alam mungkin saja dimanfaatkan atau bahkan dikembangkan sebagai sumber hijauan pakan. Hijauan alam adalah tumbuhan

yang secara alami telah mengalami seleksi dan adaptasi lingkungan selama bertahun-tahun dan beberapa jenis dapat dikategorikan sebagai hijauan unggul lokal. Daerah dengan kondisi lahan yang luas dan jarang penduduk maka hamparan hijauan lapang dapat dimanfaatkan sebagai hamparan padang penggembalaan. Umumnya hijauan alam dimanfaatkan sebagai hijauan padang

penggembalaan ternak. Penggembalaan ternak sengaja hanya dilaksanakan pada musim penghujan saja, mengingat pada musim kemarau pertumbuhan dan produksi hijauan sangat menurun. Bila pada musim kemarau dilaksanakan penggembalaan sangat dikhawatirkan akan terjadi kekurangan hijauan, kerusakan padang penggembalaan dan kesehatan ternak akan terganggu. Musim yang tidak dilaksanakan penggembalaan dikenal dengan istilah periode istirahat. Periode istirahat untuk daerah dengan musim kemarau sekitar empat bulan. Periode istirahat akan lebih lama lagi kalau musim kemarau lebih dari empat bulan. 1.1.9 Pengenalan Jenis Hijauan Pakan Hijaun adalah semua jenis tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber pakan. Terdapat empat golongan tanaman pakan yang secara umum telah dikenal sebagai sumber pakan ruminansia, yakni jenis rerumputan, kekacangan, ramban dan hijauan limbah pertanian. Tanaman kekacangan adalah tanaman hijauan pakan yang memiliki ciri sistem akar tunjang. Tanaman ramban adalah tanaman sumber hijauan pakan yang terbentuk perdu atau pohon baik termasuk famili kekacangan maupun non kekacangan. Hijauan limbah pertanian adalah bagian areal hijauan pangan yang ditinggalkan setelah dipetik hasil utamanya berupa biji-bijian, polong atau umbi. Beberapa jenis rumput dari tiga kelompok antara lain : a. Kelompok rerumputan bentuk kasar : Pennisetum purpureum, P.purpuroides, Panicum maximum, Euclaena mexicana. b. Kelompok rerumputan bentuk medium : Setaria sphcelata, S.splendida, Cenchrus siliaris, Digitaria decumbens, Panicum muticum.

c. Kelompok rerumputan bentuk halus : Axonopus compressus, Brachiaria decumbens, B.brizantah, B.ruzizinsis, Cynodon dactylon, C.plectostachyus, Paspalum conjugatum.

1.1.10 Pembuatan Hijauan Awetan Segar (Silase) Silase adalah hijauan makan ternak yang disimpan dalam keadaan segar (kadar air 60-70 %), didalam suatu tempat yang disebut silo. Karena hijauan yang baru dipotong kadar airnya sekitar 75-85 %, maka untuk bisa memperoleh hasil silase yang baik, hijauan tersebut bisa dilayukan terlebih dahulu 2-4 jam. Silo adalah tempat penyimpanan makanan ternak (hijauan), baik yang dibuat didalam tanah maupun diatas tanah. (AAK,1985) Tanaman yang cocok dibuat awetan segar (silase) adalah tanaman yang banyak mengandung air(sukulen). Pembuatan silase merupakan proses fermentasi yang pada prinsipnya memanfaatkan sejumlah bakteri an aerob (bakteri asam laktat) unutk memproduksi asam laktat sehingga dalam waktu singkat pH mendekati 3,5 sampai 4,2

1.2 Tujuan 1.2.1 Pengenalan Jenis Pupuk 1. Praktikan mengetahui berbagai jenis pupuk secara visual, kandungan hara mineral serta aplikasinya.

2. Praktikan mengetahui sifat fisik pupuk. 3. Praktikan mengetahui kandungan zat hara bagi spesifikasi sifat pertumbuhan dan produksi tanaman pakanksnfg

1.2.2 Penyemaian Biji Legume 1. Menjelaskan tingkat perkecambahan bibit tanaman pakan

1.2.3 Pembuatan Amoniasi Jerami Padi 1. Mengtahui alat dan bahan pembuatan jerami amoniasi. 2. Melaksanakan cara pembuatan jerami amoniasi. 3. Mengetahui proses amoniasi. 4. Mengevaluasi hasil amoniasi jerami secara visual.

1.2.4 Agronomi Tanaman Pakan 1. Mengtahui alat dan bahan pembuatan jerami amoniasi. 2. Melaksanakan cara pembuatan jerami amoniasi. 3. Mengetahui proses amoniasi. 4. Mengevaluasi hasil amoniasi jerami secara visual.

1.2.5 Pembuatan Hijauan Awetan Kering (Hay) 1. Dapat mengetahui pembuatan hay 2. Dapat melaksanakan pembuatan hay 3. Dapat menilai pembuatan hay secara visual 4. Memehami cara penyimpanan hay.

1.2.6 Analisis Produksi Rumput Potongan 1. Dapat menganalisis produksi hijauan berdasarkan berbagai faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman pakan.

1.2.7 Pemupukan Tanaman Pakan 1. Dapat melaksanakan kegiatan pemupukan yang sesuai dengan kebutuhan sifat pertumbuhan tanaman pakan.

1.2.8 Analisis Produksi Rumput Alam (Lapang) 1. Dapat menganalisi produksi hijauan alam sebagai gambaran pada penggembalaan.

1.2.9 Pengenalan Jenis Hijauan Pakan 1. Dapat mengenal jenis hijauan, tekstur hijauan dan produksi hijauan.

1.2.10 Pembuatan Hijauan Awetan Segar (Silase) 1. Pada akhir pembelajaran praktikum mahasiswa dapat melaksanakan kegiatan pengawetan hijauan pakan dalam bentuk segar (silase) unutk menanggulangi kekurangan hijauan

BAB II MATERI DAN CARA KERJA

2.1. Materi 2.1.1 Pengenalan Jenis Pupuk 1. Alat a. Kantong plastik b. Buku petunjuk praktikum c. Nampan 2. Bahan : pupuk organic : Pupuk pusri Pupuk Anorganik : 1. NPK Mutiara 2. ZA 3. NPK Ponska 4. NPK Tani 5. KCL 6. Urea 7. SP 36 8. Organik Pusri 9. Nitrophoska Blue Speciel

2.1.2 Penyemaian Biji Legum 1. Alat a. Cangkul b. Polybak c. Timbangan 2. Bahan Biji Albasia

10

2.1.3 Amoniasi Jerami Padi 1. Alat a. Timbangan b. Ember c. Kantong Plastik ukuran 60 x 90 cm d. Rafia 2. Bahan a. Jerami padi kering. b. Pupuk Urea c. Air Tawar

2.1.4

Agronomi Tanaman Pakan 1. Alat : a. Pisau b. Cangkul c. Timbangan d. Tali rafia e. Meteran f. Alat tulis

2.1.5 Pemupukan Tanaman Pakan 1. Alat : a. Timbangan dengan ketelitian 0,1 gram b. Alat tugal c. Sendok pupuk 2. Bahan a. Tanaman pakan b. Pupuk urea c. Tanah / lahan luas + 25m2 d. Bibit tanaman pakan (Stek dan anakan rumput) e. Air sumur / irigasi / air hujan

11

Analisis Produksi Rumput Potongan 1. Alat : a. Quadrat ukuran 100 x 100 cm b. Sabit c. Tali rafia d. Timbangan 2. Bahan Tanaman rumput jenis potongan yang ada dilahan teaching farm.

2.1.7

Analisis Produksi Rumput (Lapang) 1. Alat : a. Quadrat ukuran 100 x 100 cm b. Sabit, kntong plastik dan tali rafia c. Timbangan kapasitas < 5 kg d. Buku petunjuk praktikum 2. Bahan Tumbuhan alam yang ada dikawasan Teaching Farm Fakultas Peternakan

Pembuatan hijauan awetan kering (Hay) 1. Alat : a. Tampah / tampi, sabit dan lembaran koran. b. Timbangan kapasitas 1-10 kg c. Sumber panas (alami, butan. 2. Bahan : Hijauan rumput, legume, ramban dan limbah pertanian.

Pengenalan Jenis Hijauan Pakan 1. Alat a. Pisau / sabit b. Meteran

12

2. Bahan a. Tanaman jenis kekacangan : centre, puero dan kalopo, gliriside, kaliandra, lamtoro, albasia. b. Tanaman jenis ramban : Dadap, nangka, waru, tetean, kembang sepatu.

Pembuatan Silase 1. Alat a. Timbangan dengan ketelitian 100 gram b. Ember plastik c. Kantong plastik d. Tali raffia 2. Bahan a. Hijauan rumput gajah b. Bekatul c. Jagung

13

2.2 Cara Kerja 2.2.1 Pengenalan Jenis Pupuk a. Semua jenis pupuk diamati secara berurutan b. Bentuk fisik pupuk digambar c. Sifat fisik, warna, bau, kandungan dan kadar zat hara dicatat d. Kegunaan zat hara bagi spesifikasi sifat pertumbuhan dan produksi tanaman dicatat.

2.2.2

Penyemaian Biji Legum a. Disiapkan buku praktikum b. Media tanah ditata kemudian dimasukkan ke plastik c. Kemurnian biji dihitung d. Benih yang akan diuji disiapkan e. Benih ditanam f. Jumlah benih yang tumbuh dan yang mati dicatat g. Benih yang diuji dipelihara h. Dibuat analisis proporsi viability atau daya tumbuh i. Dibuat gambar contoh benih yang tumbuh dan mati

2.2.3

Pembuatan Amoniasi Jerami Padi a. Jerami padi kering ditimbang masing-masing 5 kg, yang satu diacah dan yang 5 kg berikunya tanpa dicacah. b. Urea ditimbang sebanyak 6% dari bobot jerami padi kering, kemudian dilarutkan dengan air tawar sebanyak 100 300% dari bobot urea atau sebanyak 30% dari bobot jerami kering. c. Jerami dimasukkan ke dalam kantong plastik secara bertahap secara bertahap sambil diperciki / dibasahi larutan urea, kemudian kantong plastik diikat dengan tali raffia. d. Jerami disimpan di tempat yang teduh dan terlindung dari hujan sekkurang-kurangnya tiga minggu.

14

e. Jerami dibongkar dan diamati bau, warna dan tekstur seta disajikan pada ternak (uji palatabilitas).

2.2.4

Agronomi Tanaman Pakan a. Rumput dan tanaman pengganggu dibersihkan dulu dengan sabit dan cangkul. b. Tanah dicanngkul dengan kedalaman 30 cm yang bertujuan untuk menggemburkan tanah. c. Sesudah tanah bersih dibuat guludan. d. Penanaman dilakukan dengan menggunakan stek dari tanaman rumput gajah. e. Rumput gajah ditanam di dalam perit dengan posisi miring 300 f. Stek rumput gajah dipelihara hingga tumbuh.

2.2.5

Pemupukan Tanaman Pakan a. Pupuk yang digunakan ditimbang terlebih dahulu sesuai kebutuhan b. Dilakukan pmupukan dengan cara diletakkan/dikubur di alam tanah dengan posisi diantara 2 tanaman.

2.2.6

Analisis Produksi Rumput Potongan a. Rumput dan tanaman pengganggu dibersihkan dulu dengan sabit dan cangkul. b. Tanah dicanngkul dengan kedalaman 30 cm yang bertujuan untuk menggemburkan tanah. c. Sesudah tanah bersih dibuat guludan. d. Penanaman dilakukan dengan menggunakan stek dari tanaman rumput gajah. e. Rumput gajah ditanam di dalam perit dengan posisi miring 300 f. Stek rumput gajah dipelihara

15

2.2.7

Analisis Produksi Rumput Alam (Lapang) a. Quadran diletakkan secara acak. b. Diamati dan diatat masa hijauan dalam kuadran tentang tinggi tanaman, kerapatan, ketegaran dan komponen rerumputan, kekangan dan weed. c. Masa hijauan yang bermanfaat dan tidak bermanfaat dipisahkan sebagai sumber pakan atau ditaksir bobot kering dari tiga kelompok. d. Ditimbang bagian rerumputan, kekacangan dan herba yang bermanfaat sebagai hijauan pakan. e. Produk hijauan dianalisis tanpa menyertakan bobot herba.

2.2.8

Pembuatan Hijauan Awetan Kering (Hay) a. Hijauan dari analisis rumput lapang ditimbang (1 kg). b. Sampel diambil dari hijauan tersebut masinng-masing 500 gr, tiap sampel diulang tiga kali. Hijauan tersebut dijemur pada tampir atau tampah atau hamparan kertas atau alat lain hingga kering (kadar air 15-20 %) dan ditimbang, kemudian dihitung persen bahan kering. c. Lama penjemuran dicatat dan cuaca dicatat (saat panen dan penjemuran) penjemuran tidak lebih dari 7 hari. d. Kualitas hay diamati secara visual (warna, bau dan struktur). e. Sampel hijauan yang telah dikeringkan dengan sinar matahari diambuil 50 gr, tiap regu tiga ulangan dan dikeringnkan pada suhu 105 C, selama 8 jam dan ditimbang, selanjutnya dihitung persen bahn keringnya. f. Bahan kering yang sebenarnya dari hijauan terrsenut diperoleh dengan mengalihkan persen bahan kering dari kedua pengamatan tersebut.

16

2.2.9

Pengenalan Jenis Hijauan Pakan a. Diamati jenis rumput satu persatu. b. Digambar setiap jenis rumput dan hijauan lain. c. Dicatat setiap bagian rumput dan hijauan lapang.

2.2.10 Pembuatan Silase a. Memotong dan mencacah hijauan rumput gajah. b. menimbang bahan tambahan (pengawet) yang akan dicampurkan dengan hijauan jagung 5 % katul 10 % dari bobot hijauan. c. Mencampur hijauan dan bahan pengawet dan masukan ke dalam plastic kemudian padatkan sampai padat sehingga udara sedikit.

17

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN


3.1 Hasil 3.1.1 Pengenalan Jenis Pupuk Nama Kompos Kandungan K: 0,619 % N: 1,213 % P: 1,333 % Tekstur Serbuk Warna Hitam Gambar Fungsi Memperpanjang fase vegetatif, meningkat- kan kualitas daun, merangsang partumbuhan tanaman

NPK organik N: 9 % P: 9 % K: 9 %

Bulat

Hitam

Untuk pertumbuhan generatif dan vegetatif

KCl

60 % K2O

Kristal

Putih orange

Untuk pertumbuhan tanaman perkebunan

Semar

N: 10 % P: 5 % K: 5 %

Silinder

Coklat

Merangsang pertumbuhan tanaman, mempercepat per-tumbuhan batang

NPK pelangi

N: 20 % P: 10 % K: 10 %

Bulat

Hitam, merah, orange abu-abu

Pertumbuhan genera-tif dan vegetatif

18

TSP

P205: 36 % S: 5 %

Bulat

Putih merah

Memperpanjang fase vegetatif, memperce-pat partumbuhan batang

NPK

N: 15 % P: 15 % K:15 %

Bulat

Putih

Mempercepat pertumbuhan batang, merangsang karbohi-drat

Urea

N: 46 %

Kristal

Penitrifikasian yang cepat untuk tanah

3.1.2 Penyemaian Biji Legume Biji yang diamati ialah biji kacang hijau dan kacang kedelai Berat awal biji = 101 gram Berat biji kacang hijau = 8,8 gram Berat biji kotor = 91,2 gram KB kacang hijau = Berat bersih Berat kotor = 8,8 101 = 8,713 %
X 100 % X 100 %

KB kacang kedelai = Berat bersih Berat kotor = 91,2 101 = 90,297 %


X 100 %

X 100 %

19

3.1.3 Amoniasi Jerami Padi Amoniasi jerami yang dicacah Tekstur Warna Bau : halus : coklat : menyengat

Amoniasi jerami yang tidak dicacah Tekstur Warna Bau : agak halus : coklat : lebih menyengat

3.1.4 Agronomi Tanaman Pakan Luas lahan : 6 m x 6 m = 36 m2 Jarak tanam :40 cm x 50 cm Stek yang dibutuhkan :

Stek/m

= Luas Jarak tanam = 6x6 0,4 x 0,5 = 180 stek/m2

Rumput gajah ditanam dengan kemiringan 20-30 ke arah utara.

3.1.5 Pembuatan Hijauan Awetan Kering (Hay) Berat awal Berat kering = 950 gr = 230 gr

%penyusutan (rumput)= berat awal- berat akhir x 100% Berat awal =950-230 x 100% = 75.79% 950 BK penyusutan= 100%-%penyusutan (rumput) =100%- 75.79%= 24.21%

20

3.1.6 Analisis Produksi Rumput Potongan Produksi : 2m2 1m2 = 2Kg 2m2 = 4Kg Luas 1,8 ha =18.000 m2 Defoliasi bulan basah = 40 hari Defoliasi bulan kering = 60 hari Kebutuhan per ekor per hari = 30 Kg/hari Produksi bulan kering bulan basah Bulan basah = 8 bulan Bulan kering = 4 bulan BB = 2Kg

Ybasah

= 18000x30x2x8 40 = 216.000 Kg/th

KT basah

216.000 30x30x8

= 30 ekor

Ykering

= 18000x30x6/4x8 60 = 54.000 Kg/th

KT kering

= 54.000 30x30x4 = 15 ekor

21

3.1.7 Pemupukan Tanaman Pakan Lahan : lahan praktikum agronomi tanaman pakan Dosis pupuk : 200Kg/ha Luas lahan : 36 m2

Kebutuhan per lahan per kelompok : 720 gram/urea/lahan

Kebutuhan tiap stek = Kebutuhan tiap lahan Jumlah stek KT basah = 720 105 = 6,86 = 7 gram/bibit

3.1.8 Analisis Produksi Rumput Alam (Lapang) No 1 2 3 4 I R R R W II L W W R III W L L L Berat 550 gr 250 gr 250 gr 280 gr

Perhitungan R = x 70.02 + x 21.1 + 0 x 8.7 = 52.52 + 5.3 +0 = 57.82 % L = 0 x 70.02 + x 21.1 +3/4 x 8.7 = 0 + 5.3 + 6.53 = 11.83 % W = x 70.02 + 2/4 x 21.1 + x 8.7 = 17.505 + 10.55 + 2.175 = 30.23 %

22

3.1.9 Pengenalan Jenis Hijauan Pakan

23

3.1.10 Pembuatan Awetan Hijauan Segar (Silase)

Bobot hijauan rumput = 19 kg Bobot bekatul (10 %) = 1,9 kg Bobot hijauan rumput = 20 kg Bobot jagung (5 %) = 1 kg

24

3.2 Pembahasan 3.2.1 Pengenalan Jenis Pupuk Tanaman sedikitnya membutuhkan 17 unsur hara yang dapat dikelompokkan menjadi hara makro dan hara mikro. Hara makro yakni zat hara yang dibutuhkan dalam jumlah banyak, tetapi umumnya hanya tersedia terbatas pada medium tanah. Hara mikro adalah zat hara yang hanya diperlukan dalam jumlah sedikit, tetapi tersedia lebih di dalam tanah. Contoh hara makro adalah carbon, oksigen, hidrogen, nitrogen, fosfor, kalium, calsium, magnesium, dan sulfur atau belerang. Sedangkan contoh hara mikro adalah besi, borium, mangan, tembaga, seng, khlor, mo, dan co. Pupuk merupakan sumber unsur hara yang secara sengaja diberikan pada media tanam agar tanaman dapat memperolseh kesehatan,pertumbuhan dan produksi yang lebih baik Unsur hara dikatakan esensial apabila : a. Kekurangan unsur hara tersebut dapat menghambat dan mengganggu pertumbuhan baik vegetatif maupun generatif. b. Kekurangan unsur tersebut tidak dapat diganti dengan unsur lain. c. Unsur tersebut harus secara langsung terlibat dalam gizi makanan tanaman. Berdasarkan kebutuhannya unsur hara esensial dapat dibagi menjadi dua kelompok yaitu hara makro dan hara mikro (Hakim, 1986). Kebutuhan tanaman akan zat hara pelengkap dan hara makro adalah sedikit sekali. Umumnya kebutuhan akan zat-zat hara tersebut dapat dipenuhi oleh persediaannya yang ada dalam alam (tanah). Berlainan dengan zat hara utama N, P dan K yang tersedia dalam tanah yang sering tidak tercukupi kebutuhan tanaman sehingga memerlukan tambahan dari luar berupa pembuatan pemberian pupuk buatan yang mengandung salah satu zat hara tersebut. Praktikum pengenalan jenis pupuk, pupuk yang biasanya digunakan adalah KCL, NPK, urea dan TSP yang banyak mengandung salah satu zat hara (Sutejo, 1987). Rinsema (1983) menyatakan bahwa pupuk organik (pupuk buatan) berguna untuk :

25

a. Mengganti hara tanaman dalam tanah yang makin makin lama makin berkurang, karena terus menerus ditanami. b. Membuat tanah yang kurus menjadi tanah yang produktif. c. Memperbaiki tanah-tanah yang kekurangan (miskin) akan unsur-unsur hara tanaman tertentu. d. Meningkatkan hasil terutama pada tanah-tanah yang kekurangan akan unsur-unsur hara yang terkandung didalam pupuk yang kita gunakan. Pada saat praktikum, telah dikenalkan beberapa macam pupuk diantaranya: Urea Urea merupakan pupuk buatan yaitu pupuk yang dibuat oleh pabrik dengan proses kimiawi. Urea juga termasuk pupuk labil dan pupuk tunggal. Menurut Rinsuma WT (1983) urea mempunayi kadar N 30% yang terdiri dari 15%N-amida;7.5%N-amonium dan 7.5%N-nitrat. Merupakan pengandung nitrogen sintesis lain yang mempunyai harapan; mengandung hampir tiga kali nitrogen yang dikandung natrium nitrat. Sudah mengalami hidrolisa dalam tanah menghasilkan amonium karbonat. Amonium karbonat yang dihasilkan sangat baik untuk nitrifikasi yang cepat terutama jika terdapat cukup banyak kation dapat tertukar. Salah satu kelemahannya adalah sangat mudah menyerap air, hal ini sebagian besar ditanggulangi dengan melapisi butir urea itu dengan bubuk kering. Kompos Bahan yang berasal dari sisa-sisa organik apa saja (sampah sisa hijauan dan lain-lain) yang ditumpuk akan mengalami perubahan sehingga dapat dipakai sebagai pupuk, disebut kompos. Pembuatan kompos adalah suatu proses dekomposisi sisa-sisa tanaman. Sisa-sisa hasil pertanian, tanaman, kotoran ternak, urine ternak, sisa makanan ternak, batang dan ranting, daun-daun yang jatuh, sampah kesemunya dapat dijadikan kompos.

26

Pupuk TSP Pupuk TSP sangat dianjurkan sebagai pupuk dasar, yaitu digunakan

pada saat tanam atau sebelum tanam. Hal ini disebabkan karena pupuk ini merupakan pupuk yang unsurnya tidak cepat atau segara tersedia dan juga sangat dibutuhkan pada stadia permulaan tumbuh. Kandungan P dalam pupuk ini adalah berkisar antara 16%-21% Pupuk KCL Sebagai bahan baku dari pupuk KCL biasanya adalah deposit garam kalium yang larut dalam air dan umumnya berasosiasi dengan magnesium, sulfat dan chlor. Salah satu deposit atau mineral ini adalah silvit (KCl). Dari segi praktis yang perlu diperhatikan dalam penggunaan pupuk kalium adalah : dosis pupuk, frekuensi penggunaan, penempatan, bentuk dari bahan-bahan pupuk dan adanya pengaruh garam dari pupuk. Pupuk ammoniasi a. Ammonium sulfat atau sulphate ammonia mengandung 21-22,5% N. Kandungan 23% sulfur merupakan jumlah yang besar, memasamkan tanah apabila dipakai terus menerus. b. Ammonium clorida yang mengandung 26% N. c. Ammonium nitrat yang mengandung 33,5 sampai 35%. d. Calsium ammonium nitrat mrngandung 15,5 27,5 N, kandungan batu kapur pada pupuk ini antara 40 55%. Pupuk Phospat Pupuk ini diambil akar tanaman dalam bentuk ion PO4 dan H2P2O4 pupuk ini berguna untuk pembentukan biji dalam bentuk yang sempurna. Pospat juga berguna untuk mempercepat masaknya dan juga menstimulir pembentukan akar pada pertumbuhan permulaan. Pupuk P yang baik adalah super pospat yang mengandung kira-kira 16 20% P yang larut dalam air.

27

Tinjauan utama dari pemupukan dengan pupuk organik adalah untuk menambah kandungan humus tanah untuk memperbaiki keadaan fisik, kimia dan biologis dari dalam tanah untuk menaikkan jumlah hara tanaman yang dapat diambil tanaman. Tanah-tanah yang berstruktur baik, dan bahan organik sendiri akan memperbaiki erasi, daya menahan air dan permeabilitas, juga akan tahan erosi. (Buckman, 1982). Petani dapat memberikan sejumlah pupuk organik yang dapat membentuk humus kedalam tanah dengan memberikan pupuk kandang, pupuk hijau aatau kompos. Pupuk kandang merupakan pupuk organik yang paling baik. Kompisisi rata-rata dari kotoran kuda dan sapi yang berkisar antara 20 25% bahan kering, terdapat didalamnya sebanyak 0,30 0,60% nitrogen, 0,20 0,35% asam pospat dan 0,15 0,70% K2O, disamping itu pupuk kandang mengandung unsur hara mikro dalam jumlah yang cukup. Pupuk binatang dapat dibagi dalam pupuk padat, pupuk cair dan pupuk encer. Pupuk dapat terdiri dari kotoran yang padat bercampur dengan sedikit jerami. Jerami ini ikut juga menyerap sebagian dari kotoran yang cair. Pupuk hijau maksud pemupukannya adalah untuk memelihara dan memperbaiki struktur tanah dengan pemberian suplai bahan organik. Akibat negatif pemupukan dengan pupuk hijau adalah lapangan untuk ditanami menjadi kotor, timbulnya pengganggu pemakan daun dan penyakit, tanaman tumbuh tidak merata (Rinsema, 1983).

3.2.2 Penyemaian Biji Legume Daya kecambah adalah daya untuk berkecambah pada keadaan biasa yang dinyatakan dalam prosentae benih yang berkecambah dalam waktu tertentu. Tenaga kecambah adalah banyaknya biji dihitung dalam prosen yang berkecambah dalam waktu yang lebih pendek dari pada untuk menetapkan gaya kecambah. (Aak, 1983).

28

Biji hijauan dapat digolongkan menjadi 3 bagian, yaitu: a. Ukuran besar,dibenamkan sampai kurang lebih 3 cm kedalam tanah. b. Ukuran sedang,di benamkan sedalam 1,2 cm kedalam tanah. c. Ukuran lembut (Soenardi,1968) Biji yang mutunya tinggi merupakan syarat utama untuk mendapat hasil panen yang tinggi. Benih yang mutunya rendah merupakan banyak benih yang tidak tumbuh sehingga populasi tanaman kurang dari semestinya. Banyak spesies-spesies tanaman legum makanan manusia dan ternak dalam sub familia papilionaseae. Genus-genus tanaman legum dengan spesiesnya yang termasuk sub famili papilionaseae ialah Arechis hipogea (kacang tanah), Glicine sova (kacang kedelai), Phaseolus radiatus (kacang hijau) dan lain-lain. Praktikum kali ini menggunakan kacang kedelai sebagai biji legum yang akan ditanam. Biji kedelai yang akan ditanam dipisahkan terlebih dahulu dari kotoran seperti batu, kedelai yang rusak dan biji lain selain biji kedelai hitam. Hal ini sesuai dengan pendapat Sumarno (1987) yang menyatakan bahwa pembijian dilakukan bila kadar air biji telah mencapai sekitar 20%. Setelah dibijikan harus dijemur lagi hingga kadar air biji mencapai sekitar 10%. Biji yang rusak, berkeriput, pecah kulitnya dan patah harus dipisahkan. Biji yang rusak karena dimakan hama juga perlu dibuang. Tanah yang gembur dimasukkan kedalam plastik kemudian biji ditanam didalamnya, tanah tersebut harus subur. Hal ini sesuai dengan pendapat Sumarmono (1987) yang menyatakan bahwa penangkaran benih hendaknya dilakukan pada tanah yang gembur, kesuburannya sedang sampai baik, PH tanah 5,5 6,5, cukup pengairan, terletak ddidataran rendah sedang (10 600 m diatas permukaan laut). Penanaman hendaknya disesuaikan dengan iklim, sehingga pada saat panen biji yang dihasilkan dapat dijemur. Lantai jemur dari semen sangat diperlukan agar dapat dihasilkan benih yang bermutu tinggi. (halus), dibenamkan sedalam kira-kira 1 cm.

29

Legum tropik yang bersifat perennial (hidup lebih dari satu tahun). Biasanya kemampuan mengikat nitrogen bebas dari udara legum tropik perennial juga lebih besar dari pada legum tropik perennial juga lebih besar dari pada legum tropik annual. Beberaaapa legum tropik perennial adalah spesies Glycine wightii, Lotononis bainessii, berasal dari Afrika, genusgennus Desmodium, jenis Leucaena, Siratro, Stylo, dan Centro berasal dari Amerika tengah dan selatan, sedangkan puero berasssal dari Asia timur (Raksohadiprojo, 1981). Praktikum persemaian biji legume, langkah awal sebelum

penanaman biji legume ke dalam kantong plastik adalah terlebih dahulu memilih biji yang baik, kemudian dilanjutkan dengan memurnikan biji itu dengan cara: - menimbang berat benih awal

- memisahkan biji murni dengan kotoran atau biji lain - menimbang biji murni - untuk mengetahui persen biji murni dapat dilakukan dengan menghitung % biji murni =

biji murni x100% biji awal

Cara atau metode penanaman setiap jenis tanaman berbeda-beda, namun untuk waktu penanaman sebaiknya dilakukan pada awal musim hujan. Bagi daerah yang senantiasa tersedia air, karena sistem irigasinya baik, waktu tanam menjadi masalah asal pada saat penanaman, tanah tidak dalam kondisi kering agar selama proses pertumbuhan awal kelembaban tanah dapat terjamin. Penanaman dengan penyebaran biji hanya tinggal menunggu biji tumbuh menjadi tanaman, tanpa memperhatikan jarak tanam. Biji yang sulit tumbuh, sebelum disebar ke area, biji dapat diberi perlakuan skarifikasi antara lain dengan cara perendaman pada air panas beberapa menit, diampelas atau memberikan inokulum (Aminudin, 1999). Hijauan makanan ternak yang meliputi bentuk rumput-rumputan, kacang-kacangan, rambanan dan sisa limbah pertanian sangat mendukung usaha peternakan terutama ternak herbivore. Potensi yang ada pada setiap daerah berbeda-beda berhubungan dengan penggunaan tanah setempat. Bagi

30

suatu luasan yang didominasi penggunaan tanah berupa padang rumput, maka ketersediaan rumput sangat mendukung usaha peternakan (Hendarto, 1996). Turunnya nilai gizi dan palatabilitas. Pengeringan yang cepat dengan penyinaran matahari minimal dan mencegah kehujanan sagat penting untuk menghindarkan kehilangan zat zat makanan yang terlampau besar. Kehilangan lebih lanjut terjadi pada waktu pembuatan dan penyimpanan. Pembuatan yang tidak hai hati menyebabkan kerontokan daun dan penyimpanan dalam keadaan lembab menyebabkan timbulnya jamur (Soegiri, 1980) Menurut Aminudin (1999) faktor faktor yang perlu diperhatikan dalam memilih hay untuk makanan ternak antara lain warna, jenis hay, perbandingan antara daun dan batang dan umur pemotongan. Warna hijauan pada hay biasanya banyak mengandung vitamin (terutama pro vitamin A dan riboflafin) dibanding dengan hay yang warna hijaunya sudah hilang. Umur pemotongan merupakan indikator terbaik untuk menilai baik atau tidaknya suatu hay apabila peternak dapat mengetahuinya karena dengan bertambahtuanya hay tersebut maka kadar protein dan P akan menurun, kadar zat zat yang merendahkan kecernaan bertambah. Keuntungan-keuntungan: a. Hijauan (rumput) akan lebih kuat atau tahan terhadap renggutan; b. Biji dapat disimpan dengan mudah dan tahan lama; c. Cara penanaman biji lebih mudah dari pada pot dan stek; d. Menghemat tenaga, waktu, dan biaya. Kerugian-kerugian: a. Penanaman biji diperlukan suatu persiapan awal yang lebih mantap ataupun pengelolaan lebih cermat dan tekun; b. Biji lebih memerlukan waktu penanaman yang tepat; c. Kadang-kadang sulit diperoleh biji.

31

3.2.3 Amoniasi Jerami Padi Amoniasi adalah usaha meningkatkan kualitas jerami dengan memberikan perlakuan khusus jerami dngan metode pengolahan menggunakan ammonia (NH3) dan yang dipakai biasanya urea. Urea seringdigunakan karena urea mempunyai sifat-sifat: 1. mudah diolah 2. harganya relative murah 3. kandungan nitrogen tinggi 4. merupakan sumber gas NH3 untuk memecah ikatan selulosa Pembuatan hijauan awetan amoniasi menggunakan jerami padi karena: 1. jerami mudah diperoleh 2. jumlahnya banyak 3. nutrisinya rendah 4. kecernaan rendah Pengolahan jerami terdiri atas beberapa teknik, yaitu teknik perlakuan fisik (physical treatment technique), perlakuan biologis (biological treatment), dan perlakuan kimiawi (chemical technique). Teknik amoniasi jerami padi tergolong sebagai teknik perlakuan kimiawi. Tujuannya agar konstituen dari jerami yang berkualitas rendah dapat dicerna enzim pencernaan, sehingga meningkatkan daya cerna

(digestibility) dan jumlah jerami yang dimakan (intake). Jerami merupakan bagian dari batang tumbuhan tanpa akar yang tertinggal setelah dipanen butir buahnya. Jika jerami padi langsung diberikan kepada ternak tanpa melalui proses pengolahan, maka jerami padi ini akan tergolong sebagai makanan ternak yang berkualitas rendah. Jerami padi memiliki kandungan zat gizi yang minim, kandungan protein yang sedikit dan daya cernanya rendah. Meskipun demikian, teknik amoniasi dapat mengubah jerami menjadi makanan ternak yang potensial dan berkualitas karena dapat meningkatkan daya cerna dan kandungan proteinnya. Prinsip dalam teknik

32

amoniasi ini adalah penggunaan amonia sebagai sumber amonia yang dicampur ke dalam jerami. Urea yang akan dicampurkan tersebut dapat dilarutkan ke dalam air terlebih dahulu (cara basah) atau langsung ditaburkan pada setiap lapisan jerami yang akan diamoniasi (cara kering). Pencampuran urea dengan jerami harus dilakukan dalam kondisi hampa udara (anaerob) dan proses amoniasi jerami ini memerlukan

penyimapanan selama 1 bulan. Teknik amoniasi dapat meningkatkan daya cerna jerami. Ternak akan lebih mudah mengkonsumsi jerami hasil amoniasi dibandingkan dengan jerami yang tidak diolah. Urea dalam proses amoniasi berfungsi untuk menghancurkan ikatan-ikatan lignin,selulosa dan silica yang merupakan faktor penyebab rendahnya daya cerna jerami bagi ternak.

3.2.4 Agronomi Tanaman Pakan Agronomi adalah usaha cocok tanam yang akan menghasilkan hijoan sebagai sumber pakan. Pertumbuhan dan kualitas hijauan pakan dipengaruhi oleh tanah (media) iklim menajemen dan spesies media adalah tempat tumbuhnya tanaman dari media tersebut tanaman dapat memperoleh air dan hara tanaman sangat diperlukan untuk m,embangun jaringan tanaman, tekstur dan struktur media mempengaruhi kandungan air, udara, dan kehidupan mikroba tanah. Kegiatan agronomi permukaan memakai sistem manajemen yang baik secara sederhana manajemen agronomi terdiri dari : pemilihan lahan, pembukaan lahan, pengolahan lahan, penanaman/penyemaian,

pemeliharaan tanaman, pengairan, panen. Tanah merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman, karena tanah

mempunyai beberapa peranan penting antara lain : sebagai tempat tumbuh dan tempat perkembangan akar menyediakan unsur hara dan air bagi tanaman menyediakan udara bagi akar tanaman

33

merupakan media bagi pertumbuhan flora dan fauna, khususnya mikroflora dan mikrofauna yang secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi pertumbuhan tanaman (Hakim, 1986).

Selain

dipengaruhi

oleh

bahan

dan

induk

serta

proses

pembentukannya, sifat tanah yang baik juga dipengaruhi oleh tindakan pengolahan lahan/tanah. Pengolahan lahan secara sederhana berarti membalik-balikkan tanah, sehingga memungkinkan air dan udara masuk ke dalamnya karena tanah menjadi gembur dan pembalikan tanah ini memungkinkan rumput pengganggu terbentuk karena di dalam sehingga kebunpun menjadi bersih. Sebenarnya pengolahan lahan/tanah ini dimaksudkan untuk memecahkan gumpalan tanah menjadi gembur dan mengatur permukaan tanah sehingga sesuai untuk ditanami. Tujuan utama pengolahan tanah adalah untuk menyiapkan tempat persemaian (seed bed), memberantas gulma, memperbaiki kondisi tanah untuk penetrasi akar, infiltrasi air dan aerasi, dan untuk pelumpuran tanah, sedangkan secara khusus pengolahan tanah dapat ditujukan untuk mengendalikan hama, membuang sisa-sisa tanaman di permukaan tanah yang mengganggu, pengendalian erosi, dan penyampuran pupuk, kapur, pestisida ke dalam tanah (Hakim, 1986). Pengolahan tanah yang dilakukan pada praktikum ini dilakukan dengan menggunakan tenaga manusia. Pengolahan tanah dilakukan secara bersama-sama, ada yang mencangkul, mengambil rumput dan sisa akar serta ada yang memecah gumpalan tanah. Lahan yang akan ditanami rumput gajah pertama kali dibersihkan dari rumput dan tanaman penggangu serta akar akarnya dibuang kemudian tanah dicangkul, dengan tujuan supaya tanah menjadi gembur. Hal ini sesuai dengan pernyataan Harjadi dan Sadayati (1975) lahan yang kakn digunakan untuk penanaman sebelumnya dilakukan pembersihan atau pembabatan dari rumput rumput, gulma, akardan sampah lainnya lahan yang telah dibersihkan selanjutnya dicangkul. Pencangkulan

meliputi pembajakan yang bermaksut memecah lapisan tanah menjadi

34

bongkahan sehingga pembgemburan selanjutnya mudah dilakukan, selain itu dapat mempercepat pemasakan tanah, sebab dengan membalikkan dan membiarkan beberapa hari sebelum digemburkan maka proses mineralisasi bahan organik lebih cepat, selain itu harrowing bertujuan menghancurkan bongkahan bongkahan besar menjadi struktur struktur lemah sekaligus membersihkan sisa sisa perakaran tumbuhan lain. Pengolahan lahan terjadi pada lapisan tanah paling atas yang biasanya berwarna kehitaman dan gembur disebut lapisan tanah atas (top soil). Menurut Misa (1992) top soil ialah lapisan tanah yang subur dan biasanya mengandung banyak organik, surface soil (tanah permukaan) ialah tanah lapisan permukaan yang biasanya berpindah waktu penggarapan tanah. Tanah yang telah digemburkan selanjutnya dibuat patokan atau guludan. Guludan adalah gundukan tanah yang ditumpuk sehingga menyerupai bukit. Penanaman dilakukan disela sela guludan dengan mengguakan stek. Stek adalah potongan batang, sedangkan stolon adalah potongan batang yang merayap atau batang yang berimpit dengan tanah. Menurut AAK (1985) stek yang baik diperoleh dari : Batang yang sehat dan tua Setiap stek panjangnya 20 25 cm, minimal mengandung dua buku Cara pemotongan stek harus benar Cara penanaman stek Ruas dibagian bawah harus masuk kedalam tanah dengan baik sebab nanti akan tumbuh akar. Kedudukan stek bisa tegak, miring atau berbaring. Praktikum kali ini stek ditanam berbaring atau miring sekitar 30 menghadap ke utara. Pada setiap tempat penanaman bisa ditanam 2 3 stek. Setelah stek ditanam, tanah ditekan rapat pada steknya supaya tidak mudah rebah sehingga kolon akar bisa mudah kontak dengan tanah.

35

Jarak tanam stek dipengarui oleh faktor keadaan tempat tanam, umur tanah, kualitas produksi tanaman hijauan (stek) yang akan ditanam biasanya jarak tanamnya 60-90 cm x 45-60 cm, sedangkan yang menggunakan stolon 90 x 60 cm atau 100 cmx100 cm. (Aminudin, 1999). Stek yang ditanam harus dipilih yang batangnya sehat dan tua, setiap stek panjangnya 20-25 cm, minimal mengandung dua buah buku dan cara pemotongan stek harus betul. Keuntungan penanaman dengan bahan stek adalah cara penanaman da pengangkutan lebih mudah dari pada pols. Stek lebih tahan lama jika ditempatkan di tempat yang sejuk. (Aak, 1983). Praktikum penanaman stek yang dilakukan, bibit stek yang kami tanam berasal dari rumpun rumput gajah yang ada di sekitar lahan olahan. Sehingga kami tidak merasa kesulitan untuk memperolehnya. Tetapi stek yang kami tanam tidak terlalu mengikutu literatur. Karena stek yang kami tanam tidak terlalu fokus pada rumpun rumput gajah yang memiliki minimal dua buku dan cukup tua batangnya. Kami hanya sedapatnya saja memotong rumpun, yang penting memilii akar dan cukup tinggi atau besar, karena sedikitnya rumpun rumput gajah yang ada yang sesuai dengan literatur.

36

3.2.5 Pembuatan Hijauan Awetan Kering (Hay) Hay adalah hijauan, rumput, leguminosa yang sengaja dikeringkan sehingga dapat disimpan lama dan sebagai persediaan makanan ternak bila mana dibutuhkan. Pengeringan dalam pembuatan hay dilakukan dengan memepergunakan sinar matahari atau pesawat pengering. Hay yang diawretkan mempunyai martabat makanan yang lebih rendah dari pada hijauan segar, tetapi jerlas lebih tinggi dari pada jerami, untuk menjaga agar martabat makanan dari pada hay tidak terlalu jauh perbedaannya dengan hijauan segar. Hay merupakan tanaman hijauan pakan ternak yang berupa rumput-rumputan atau leguminosa yang disimpan dalam bentuk kering berkadar air : 20-30%. Pembuatan hay bertujuan untuk menyeragamkan waktu panen agar tidak mengganggu pertumbuhan pada periode berikutnya, sebab tanaman yang seragam akan memilih daya cerna yang lebih tinggi. Tujuan khusus pembuatan hay adalah agar tanaman hijauan (pada waktu panen yang berlebihan) dapat disimpan untuk jangka waktu tertentu sehingga dapat mengatasi kesulitan dalam mendapatkan pakan hijauan pada musim kemarau.ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan, yatu kesuburan tanah, jenis hijauan, saat pemotongan, proses pengeringan dan penyimpanan (Sastroamidjojo, 1982). Pembuatan hay dapat diperoleh dengan dua cara pengeringan yakni dari panas matahari dan buatan. Pengeringan dengan menggunakan panas matahari biasanya dilakukan di daerah tropis. Pertama hijauan dipotongpotong, kemmudian langsung dibawa ketempat penjemuran tertentu, dilapangan penjemuran ataupun rak khusus. Kedua hijauan ditebarkan tipistipis dan stiap saat harus dibalik. Ketiga usahakan agar proses penjemmuran bisa berlangsung dalam waktu singkat sehingga kadar air menjadi 15 20%, sedangkan pengeringan dengan panas buatan pada umumnya dilakukan di daerah yang memiliki iklim dingin (subtropis). Pengeringan dilakukan dengan menggunakan mesin sehingga kadar air hijauan menjadi 15 20% (AAK, 1985).

37

Ada 2 metode pembuatan hay yang dapat diterapkan yaitu : 1. Metode hamparan Merupakan metode sederhana, dilakukan dengan cara menghamparkan hijauan yang sudah dipotong di lapangan terbuka di bawah sinar matahari. Setiap hari hamparan dibalik-balik hingga kering. Hay yang dibuat dengan cara ini biasanya memiliki kadar air 20-30% (tanda : warna kecoklatan). 2. Metode pod Dilakukan dengan menggunakan sebagai rak sebagai tempat menyimpan hijauan yang telah dijemur selama 1-3 hari (kadar air 50%). Hijauan yang akan diolah harus dipanen saat menjelang berbunga (berkadar protein tinggi, serat kasar dan kandungan air optimal), sehingga hay yang diperoleh tidak berjamur (tidak berwarna gosong) yang akan menyebabkan turunnya palatabilitas dan kualitas. Kriteria hay yang baik adalah : 1. warna hijau kekuningan 2. tak banyak daun yang rusak, bentuk daun masih utuh/jelas, dan tidak kotor atau berjamur 3. tak mudah patah bila batang dilipat dengan tangan. Waktu yang terbaik untuk memanen rumput yang akan dibuat hay ialah pada fase mulai berbunga. Bila dipotong pada fase muda sekali nilai gizinya lebih tinggi tetapi produksinya rendah dan kadar airnya tinggi. Bila dipotong setelah berbunga kenaikan produksi tidak seimbang dengan turunnya nilai gizi dan palatabilitas. Pengeringan yang cepat dengan penyinaran matahari yang minimal dan mencegah kehujanan sangat penting untuk menghindarkan kehilangan zat-zat makanan yang terlampau besar. Kehilangan lebih lanjut terjadi pada waktu pembuatan dan penyimpanan. Telah diperkirakan bahwa selama pembuatan hay dan

penyimpanannya rata-rata penyusutan bahan kering kira-kira 25%, dan dalam musim yang buruk, penyusutan nilai gizinya dapat mencapai 50-

38

60%. Pengeringan buatan pada rumput memperkecil kehilangan bahan kering yang terjadi pada pembuatan hay atau pembuatan silase. Jika rumput yang ditaruh di tempat yang lembab tidak tejadi dan kerontokan daun dan penyusutan karoten minimal.

3.2.6 Analisis Produksi Rumput Potongan Rumput pada waktunya akan mengalaki periode devoliasi. Devoliasi merupakan pemotongan atau pengambilan bagian tanaman yang ada diatas permukaan tanah baik oleh manusia ataupun untuk yang lain diwaktu ternak tersebut digambarkan. Prinsip dari hijauan pakan adalah akumulasi hasil panen sepanjang tahun. Indonesia terdapat dua kondisi iklim yang berbeda sepanjang tahun, yakni musim kemarau dan musim hujan. Hal yang membedakan antara musim penghujan dan musim kemarau bagi pertumbuhan tanaman ialah kondisi distribusi curah hujan bulanan. Dipulau Jawa misalnya pertumbuhan dan produksi tanaman pakan sangat nyata, produksi hijauan mengalami fluktasi mengiokuti jumlah

ketersediaan air bulanan. Jadi produksi hijauan sepanjang tahun adalah produksi hijauan pada musim penghujan ditambah hijauan musim kemarau. Analisis produksi rumput potongan dapat digunakan untuk mencari suatu cara terbaik agar pertumbuhan dan perbanyakan tanaman rumput dapat berkembang secara optimal. Melalui analisis produksi rumput potongan, kebutuhan pakan hijauan ternak dapat diketahui secara pasti sehingga usaha yang dilakukan akan lebih efektif dan efisien. Rumput potong yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah rumput gajah. Rumput gajah ini tumbuh dengan rizoma yang pendek, batangnya tumbuh tegak dengan ketinggian 2,5 m, daunnya berwarna hijau, cerah, meruncing pada ujungnya, tulang daun kuat, pelepah daun tertutup oleh bulu halus (Raksohadiprojo, 1981)

39

Praktikan kali ini memotong rumput gajah, dengan lahan seluas 4 m dan menghasilkan rumput 28 kg, sehingga dalam 1 m menghasilkan 7kg, perhitungan menganalisis produksi hijauan sepanjang tahun menggunakan rumus : y = LxPBxBB + LxPKx30Xbk DB DK

Y = produksi hijauan sepanjang tahun L = luas lahan PB = Produksi hijauan pada bulan basah 30 = 1 bln BB = Jumlah bulan basah DB = Jumlah defoliasi pada bulan basah PK = Produksi hijauan pada musim kemarau BK = Jumlah bulan kering dalam 1 tahun DK = Periode defoliasi Pemotongan rumput pada praktikum kali ini antara 5 10 cm diatas permukaan tanah. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan AAK (1985) yaitu pemotongan rumput gajah 10 cm diatas tanah, untuk menjamin pertumbuhan kembali optimal. Sebaiknya defoliasi dilakukan pada hari vegetatif atau menjelang berbunga. Bulan basah periode defoliasi lebih pendek daripada bulan kering maka pertumbuhan semakin terhambat, produksi hijauan semakin turun dan periode defoliasi semakin panjang. Faktor faktor yang mempengaruhi produksi rumput hijauan menurut Mc Ilroy (1976) adalah : Daya tahan Daya saring Sifat tanah kering Kesuburan tanah Iklim

Daerah dengan bangunan irigasi tekhnis yang mantap dan pengairan tanaman sesuai dengan kebutuhan. Produkivitas hijauan relativ stabil, jadi produksi hijauan sangat tergantung pada faktor lingkungan utamanya.

40

Tingkat ketersediaan air sepanjang tahun baik dari sumber curah hujan maupun irigasi. Faktor faktor produktivitas rumput potong pertahun dioantaranya: Periode rumput pada bulan basah atau kering Periode devoliasi Jumlah bulan basah dan bulan kering. (Mcilroy, 1976)

3.2.7 Pemupukan Tanaman Pakan Pemupukan pada umumnya bertujuan untuk memelihara atau memperbaiki kesuburan tanah dengan memeberikan zat-zat kepada tanah yang langsung atau tidak langsung dapat menyumbangkan bahan makanan kepada tanaman-tanaman (Sosrosoedirdjo dan Bachtiar,----). Penambahan zat makanan ke dalam tanah secara alamiah telah ebrlangsung sejak zaman dahulu pada terbentuknya alam ini, melalui proses pembusukan dan dokomposisi dari seresah, bangkaidan limbah organic lainnya dngan bantuan jasad renik yang jumlahnya tidakterhingga terdapat dalam tanah (Hendarto dan Gantika, 1996). Praktikum kali ini adalah melakukan pemupukan yang berarti melakukan kegiatan memberikan unsur hara ke dalam medium tanaman yang diperlukan untuk memacu pertumbuhan, kesehatan dan produksi tanaman pakan. Pada praktikum kali ini menggunakan cara yang kedua yaitu ditanam dalam baris-baris, kemudian ditimbun tanah. Banyak jenis pupuk yang telah dibuat di dalam pabrik sesuai dengan kebutuhan untuk pertumbuhan tanaman. Salah satu pupuk yang dapat memberikan nitrogen atau yang mengandung nitrogen adalah urea yang mempunyai bentuk atau tekstur kristal, warna putih dan mempunyai kandungan 46 gr. Serta mempunyai unsur hara 1.016 ton. Urea merupakan pengandung nitrogen sintesis yang lain yang mempunyai harapan; ia mengandung hampir tiga kali nitrogen yang dikandung natrium nitrat. Ia sudah mengalami hidrolisa dalam tanah manghasilkan amonium karbonat. Jadi, efek segera pupuk ini ke arah basa

41

walaupun pengaruh sisanya cenderung merendahkan pH tanah. Amonium karbonat yang dihasilkan sangat baik untuk nitrifikasi yang cepat terutama jika terdapat cukup banyak kation dapat tertukar. Jadi, urea akhirnya menyajikan baik ion NH4 maupun ion NO3 bagi tanaman. Salah satu keburukannya adalah ia sangat mudah menyerap air, hal ini sebagian besar ditanggulangi dengan melapisi butir urea itu dengan bubuk kering. Pupuk urea ini yang digunakan sebagai pupuk dalam pemupukan praktikum ini. Penambahan unsur hara mikro pada pupuk harus lebih hati-hati dari unsur hara makro. Perbedaan antara jumlah unsur hara mikro dalam keadaan kurang merupakan racun sangat kecil.

3.2.8 Analisis Produksi Rumput Alam (Lapang) Padang rumput merupakan suatu usah yang berjangka panjang dan memerlukan investasi modal yang cukup tinggi. Dua faktor yang menyebabkan rendahnya produksi ternak yang terpenting pada padang penggembalaan adalah rendahnya kesuburan tanah dan kurangnya air. (Sastroamidjojo, 1983). Daerah dengan kondisi lahan yang luas dan jarang penduduk, maka hamparan hijauan lapangan dapat dimanfaatkan sebagai hamparan padang penggembalaan alam. Sastroamidjojo (1982) juga menjelaskan bahwa ada dua cara penggembalaan. Pertama Countrous Graging (penggembalaan tetap), yaitu pengggembalaan yang dilakukan seorang menetap sepanjang tahun pada suatu ladang, penggembalaan rotation graging (penggembalaan bergilir) yaitu penggembalaan yang dibagi menjadi beberapa bagian dan ternak dilepas untuk beberapa waktu pada bagian pertama, keduan dan sterusnya, dan kembali kebagian pertama. Praktikum kali ini menggunakan kuadran yang memiliki ukuran 100100 cm yang terbuat dari batang besi berbentuk persegi. Kuadran diletakkan di tanah yang banyak ditumbuhi rumput alam secara acak. Langkah ini bertujuan untuk mendapatkan hasil hijauan yang lebih tepat dan akurat sesuai dengan jenis tanaman yang ada di padang penggembalaan.

42

Hiajauan makanan ternak yang terdapat dipadang penggembalaan dapat rusak oleh beberapa sebab, misalnya musim kemarau yang panjang sebab, misalnya musim kemarau yang panjang dan sebab lain yang perlu mendapat perhatian adalah system penggembalan. Rumput mengandung selulosa dan serat kasar yang tinggi. Biasanya makanan ternak terdiri dari hijauan berkualitas rendah yang dicampur rumput berkualitas tinggi sehingga kebutuhan TDN, BK, PT, akan terpenuhi (Hurtema, 1986). Rerumputan mempinyai fungsi sebagai pelindung tanah bagian atas atau topsoil, degan kata lain melindungi top soil dari gangguan erosi dn air. Daunrerumputan yang saling tindih menutupi seluruh areal tanah, sebagai karpet yang dapat menutupi atu menahan jatuhnya hujan secara langsung di atas topsoil. Rerumputan yang bai untuk dijadikan tanaman (rumput) penggembalaaan mempunyai ciri-ciri: a. rumput harus dapat menyesuaikan dengan tanah dan iklim setempat, b. dapat dimanfaatkan dalam tanah bergiliran dengan tanaman lain, c. dapat menghasilkan daun dan batang yang mudah dicernakan dan bergizi, d. sepanjang tahun penggembalaan, batang dan daunnya tetap lunak dan banyak mengandung air,

e. tidak mudah rusak damn mempunyai daya regresi yang kuat. ( Rismunandar, 1989).

Analisa rumput padangan menggunakan rumus: Y Y L P =

LxPx30 xBB xPUF pd

= Produksi hijauan kumulatif selama setahun periode penggembalaan = Luas padangan (ha) = Produksi hijauan (kg/m2/periode defolisasi)

BB = Jumlah bulan hijauan (12 bulan dikurangi periode istirahat) PO = Periode defolisasi idetik dengan lamanya rerumputan PUF = Angka propet used factor (25-70 %)

43

Hal yang perlu diperhatikan pada saat praktikum adalah mengamati dan memisahkan jenis rumput, legume dan weed sehingga jelas dapat diketahui hasilnya. Lokasi pengamatan merupakan lahan yang masih belum dimanfaatkan sebagai padangpengembalaan. Dngan adanya hasil pengamatan tersebut, kemungkinan lokasi tersebut cocok untuk pdang penggembalaan.

3.2.9 Pengenalan Jenis Hijauan Pakan Menurut AAK (1983) makanan hijauan adalah semua bahan makanan yang berasal dari tanaman dalam bentuk daun-daunan. Termasuk kelompok makanan hijauan ialah bangsa rumput, legume dan hijauan dari tumbuh-tumbuhan lain seperti daun nangka, daun waru dll. Berbagai macam jenis hijauan, baik gramineae (bangsa rumput) ataupun leguminose (bangsa kacang-kacangan), yang pada umumnya tumbuh baik di Indonesia (Soegiri, 1980). 1. Rumput gajah (Pennisetum purpureum) Berasal dari Afrika tropik, bahan penanaman : stek, pols. Rumput ini berumur panjang, tumbuh vertikal membentuk rumpun, daun lebat, dan bisa mencapai tinggi 2-2,5 m.. Produksi rata-rata sekitar 250 ton/ha/th. Rumput ini baik sebagai silage dan sebagai rumput potongan ataupun gembala, asal pertumbuhannya bisa dipertahankan pendek-pendek. Pertumbuhannya sangat cepat, dan waktu masih muda nilai gizinya cukup tinggi. Karena tanaman ini mengandung zat makanan dari dalam tanah begitu cepat, maka tanah harus selalu sering dipupuk. 2. Rumput benggala (Pannicum maximum) Berasal dari Afrika tropik dan sub tropik. Bahan penanaman : pols, biji. Termasuk rumput berumur panjang (tahunan). Tumbuh tegak, kuat, batang seperti padi, mencapai tinggi 2-2,5 m, warna daunnya hijau tua, bentuknya ramping, bagian tepi kasar tetapi lunak dan dengan lidah daun yang kuat. Membentuk rumpun yang jumlahnya

44

bisa mencapai ratusan batang, karena mudah membentuk anakan, dan memiliki akar serabut yang dalam, sehingga lebih tahan kekeringan. Digemari oleh semua ternak, lebih-lebih sapi.

Merupakan bahan hijauan yang baik untuk dikeringkan sebagai hay ataupun bahan silage, disamping itu juga bisa dijadikan rumput gembalaan. 3. Rumput mexico (Euchlaena mexicana) Berasal dari Mexico (Amerika Tengah). Bahan penanaman : pols atau stek. Termasuk berumur pendek (annual), tumbuh tegak mencapai tinggi 2,5 m, daun lebar panjang, mirip jagung. Pertumbuhannya agak lambat, tetapi bila ditanam di daerah panas yang basah lebih cocok 4. Setaria sphacelata Berasal dari Afrika tropik, bahan penanaman : pols. Berumur panjang, tumbuh tegak mencapai tinggi 2 m dan membentuk rumput. Bila kondisi baik satu rumpun bisa mencapai ratusan batang. Pertumbuhan kembali sangat cepat setelah pemotongan. Termasuk tanaman yang tahan kering dan teduh, serta genangan air, tetapi yang lebih disukai adalah tanah lembab dan subur. 5. Panicum coloratum Berasal dari Afrika timur, bahan penanaman : pols. Tanaman berumur panjang, tumbuh tegak dan membentuk rumpun tetapi rumpunnya tak selebat Setaria sphacelata, atau Pannicum maxicum. Daun berwarna biru hijaudan tulang tengah berwarna putih nyata, lidah daun pendek. Rumput ini palatable (enak) dan baik sebagai bahan hay atau silage dan penggembalaan.

45

6. Rumput sudan (Sudan grass) Berasal dari Sudan, bahan penanaman : pols, biji. Berumur panjang, tumbuh tegak mencapai tinggi 2,5-3 m, membentuk rumpun dan tahan kering. Daunnya lebat dan kuat, berwarna hijau tua, halus tetapi bagian tepinya kasar, tulang tengah daun berwarna putih yang jelas. 7. Centrosema pubescens (Centro) Berasal dari Amerika selatan (tropik), bahan penanaman : biji. Berumur panjang (lebih dari satu tahun). Batang-batangnya tumbuh menjalar, dan bagian ujungnya melilit. Bunganya berwarna ungu, besar dan polongnya panjang, berdaun tiga buah berbentuk oval pada setiap tangkai. Daun lebat, batang tak berkayu. Tahan hidup di bawah naungan dan tahan kekeringan. Dipergunakan sebagai penutup tanah dan pupuk hijau, karena tumbuh cepat, agresif dan daunnya lebat. Bisa ditanam di tanah kering, tanpa dipupuk. 8. Pueraria phaseoloides Berasal dari India timur, yang kini telah tersebar luas di negara-negar tropik. Bahan penanaman : biji atau stek. 9. Lamtoro Berbentuk pohon yang bisa mencapai ketinggian 10m, dan memiliki sistem perakaran yang cukup dalam. Daunnya kecil-kecil, bentuknya lonjong, sedang bunganya bertangkai, berkepala berbentuk bulat bola yang warnanya putih kekuning-kuningan. Toleran terhadap hujan, angin, kekeringan/sinar matahari, serta tanah-tanah yang kurang subur asal drainase sempurna. Berguna sebagai makanan ternak, mempertahankan kesuburan tanah dan erosi.

46

3.2.10 Pembuatan Awetan Hijauan Segar (Silase) Silase adalah hijauan makanan ternak yang disimpan dalam keadaan segar (kadar air 60-70 %), didalam suatu tempat yang bernama silo. Karena hijauan yang baru dipotong kadar airnya sekitar 75-85 %, maka untuk memperoleh hasil silase yang baik, hijauan tersebut dilayukan selama 2-4 jam. Silo adalah tempat penyimpanan makan ternak (hijauan), baik yang dibuat didalam tanah maupun diatas tanah. Silo yang digunakan adalah terbuat dari kantong plastik. Tujuan pembuatan silase : a. untuk mengatasi kekurangan makanan ternak dimusim kemarau. b. untuk menampung kelebihan produksi hijauan makanan ternak atau memanfaatkan hijauan pada saat pertumbuhan terbaik, tetapi belum dipergunakan c. mendayagunakan hasil sisa pertanian atau hasil ikutan pertanian Prinsip prinsip pembuatan silase dan proses ensilage : a. Prinsip prinsip pembuatan silase Prinsip pembuatan silase adalah usaha untuk mencapai dan

mempercepat keadaan hampa udara atau an aerob dan suasana asam ditempat pentimpanan. Dalam keadaan hampa udara dan suasana asam inilah, maka bakteri pembusuk dan jamur akan mati, sehingga hijauan akan tahan lama didalamnya. Keadaan hampa udara Prinsip ini dapat dilaksanakan dengan penyimpanan hijauan makanan ternak yang dilakukan didalam tempat yang tertutup rapat dan dengan penimbunan hijauan yang dipadatkan. Pemadatan yang sempurna akan memperkecil kantong kantong udara didalam penyimpanan, sehingga keadaan hampa udara cepat tercapai. Guna mempermudah pemadatan, maka hijauan yang akan dibuat silase dipotong atau dicacah terlebih dahulu. Apabila terjadi penutupan silo yang tidak rapat atau didalam silo itu banyak terdapat kantong udara, maka hal ini akan menimbulkan organisme aerobik, terutama jamur akan tumbuh cepat.

47

Suasana asam Untuk mencegah adanya organisme didalam penyimpanan yang tidak dikehendaki, karena organisme tersebut bisa mengakibatkan terjadinya pembusukan yakni pembentukan asam butyrat yang tidak dikehendaki, maka dapat diusahakan dengan penurunan pH sekitar 4 didalam silo secepat mungkin. Usaha penurunan pH ini dapat dilakukan dengan memberikan bahan bahan pengawet baik langsung maupun tidak langsung. Pemberian bahan pengawet secara langsung ini dapat dilakukan dengan menambahkan bahan bahan kimia seperti : Na, Sulpur Dioksida HCL, asam Sulpat. Pemberian bahan pengawet tidak langsung yakni dilakukan dengan menambahkan bahan bahan yang banyak mengandung karbohidrat sebagai substrat pertumbuhan bakteri. Bahan bahan tersebut seperti dedak halus dan gilingan jagung. b. Proses ensilage Proses ini terjadi karena bakteri bakteri pembentuk asam susu, yakni bakteri Lactis Acidi dan Streptococus Lactis yang hidup an aerob pada pH 4. Itulah sebabnya maka keadaan atau media semacam itu secepat mungkin segera diciptakan, agar proses ensilage segera berlangsung sebelum bahan hijauan itu dirusak oleh bakteri pembusuk dan jamur. Proses ini terjadi karena didalam penyimpanan itu sel sel yang masih hidup terus bernafas dengan menggunakan O2 membentuk CO2, H2O dan panas. Enzim dan bakteri waktu itu aktif bekerja dan terjadilah fermentasi, yakni pemecahan karbohidrat menjadi alkohol, asam laktat, asam butyrat, asam karbonat dan pelepasan panas. Didalam hal ini protein dirombak menjadi ammonia, asam amino, amida, asam asetat, asam butyrat, dan air. Karena proses tersebut maka semakin lama sisa udara didalam silo berkurang, akibat suatu pemadatan silase dan juga karena udara terpakai untuk pernafasan sel sel tadi, sehingga pada saat tertentu oksigen akan habis, akhirnya pernafasan berhenti. Dalam

48

keadaan demikian maka jamur tidak dapat tumbuh, tetapi bakteri masih aktif menghasilkan asam organik. Akibat keaktifan bakteri inilah maka terjadi asam. Proses penambahan asam yang berlangsung terus ini berarti penurunan pH, yang mengakibatkan bakteri terlambat bekerjanya. Pada pH sekitar 4 ini bakteri berhenti bekerja, dengan demikian proses ensilage selesai. Bila udara dan air tidak masuk kedalam silo, maka silase akan tahan lama didalam tempat penyimpanan (dalam silo).

49

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN


Kesimpulan 4.1.1 Pengenalan Jenis Pupuk 1. Tujuan utama pemupukan adalah untuk mempertahankan dan meningkatkan produksi tanaman pakan 2. Unsur Makro yang ada pada pupuk misalnya N, P, K, dan S. 3. Penggunaan pupuk dilakukan sesuai dengan dosis untuk mencegah kelebihan maupun defisiensi pupuk. 4. Urea merupakan pupukyang mengandung nitrogen yang paling tinggi diantara pupuk yang lain yaitu 46% 5. Kekurangan dan kelebihan unsur makro dapat menyebabkan kerusakan pada tanaman.

4.1.2 Penyemaian Biji Legume 1. Kemempuan biji dapat dihitung dengan menggunakan rumus : Berat Biji Berat Total 2. Kemampuan biji tumbuh dipengaruhi oleh potensi bibit dan faktor lingkungan (suhu, radiasi matahari, kecepatan angin) 3. Masa tanam yang baik untuk kedelai adalah menjelang musim kemarau. 4. Daya Kecambah dapat diukur menggunakan rumus : Kecambah x 100 Bibit Awal 5. Pertumbuhan biji dan perkecambahan sangat dipengaruhi oleh kebutuhan air yang cukup dan suhu yang optimal. 6. Perkecambahan dapat terhambat oleh karena infeksi jamur, baktri maupun dormansi pada benih serta faktor lain seperti ketinggian dan iklim dan tanah. x 100

50

4.1.3 Amoniasi Jerami Padi 1. Hasil pengamatan yang dilakukan diperoleh beberapa data yang menunjukkan bahwa amoniasi yang dihasilkan memiliki ciri-ciri amoniasi yang baik berdasarkan pustaka yang dipakai 2. Hasil amoniasi tersebut kemungkinan mengandung hemiselulose yang berasal dari selulose yang dipecah oleh gas nh3.

4.1.4 Agronomi Tanaman Pakan 1. Proses awal pengolahan lahan adalah factor yang sangat menentukan dalam agronomi tanaman pakan 2. Medium yang berbeda akan memberikan respon yang berbeda terhadap produksi tanaman pakan 3. Jarak tanam juga merupakan factor yang penting dalam agronomi tanaman pakan.

4.1.5 Pembuatan Hijauan Awetan Kering (Hay) 1. Hay yang telah dihasilkan mempunyai kandungan zat-zat yang masih baik karena pada proses pengeringannya menggunakan sinar matahari 2. Bahan kering penyusutan pada data praktikum yaitu 24.21% sudah dapat dikatakan selaras dengan pustaka yang ada yaitu kira-kira bk penyusutan 25%.

4.1.6 Analisis Produksi Rumput Potongan 1. Produksi hijauan sangat tergantung dari faktor lingkungan utamanya tingakat ketersdiaan air sepanjang tahun. 2. Rumput gajah merupakan rumput potongan yang pertumbuhannya tetap. 3. Semakin lambat tanaman dipotong, kandungan serat kasarmya akan semakin tinggi, tetapi nilai gizinya semakin menurun. 4. Pemotongan ru,put dilakukan anatara 5 10 diatas permikaan tanah.

51

4.1.7 Pemupukan Tanaman Pakan 1. Pemupukan bertujuan untuk menambah atau mensuplai ekkurangan unsure hara suatu tanaman 2. Kegiatan pemupukan teriri dari dua tahap yaitu pemupukan dasar dan pemupukan untuk memacu pertumbuhan dan produksi 3. Pupuk yang digunakan adalah pupuk urea karena mengandung nitrogen yang berperan sebagai pembentuk proten, memperbanyak jumlah anakan, mempercepat pertumbuhan, dll.

4.1.8 Analisis Produksi Rumput Alam (Lapang) Lokasi pengamatan terdapat tanaman jenis rumput sebanyak 57.82%; legume 11.83%; weed 30.23%

4.1.9 Pengenalan Jenis Hijauan Pakan 1. Terdapat empat golongan pakan secara umum yaitu jenis rerumputan, kekacangan, ramban dan hijauan limbah pertanian 2. Hijauan rumput adalah hijauan yang menjadi pilihan utama sebagai pakan ternak 3. Tanaman ramban mempunyai keunggulan diantara hijauan lain yaitu mampu hidup yang lebih kuat pada musim kemarau 4. Hijauan limbah pertanian diberikan pada ternak untuk tetap menjaga agar ternak tetap hidup (pengganti hijauan rumput) 5. hijauan limbah pertanian mempunyai kandungan nutrisi sangat rendah karena unsur utamanya dimanfaatkan oleh manusia

4.1.10 Pembuatan Hijauan Awetan Segar (Silase) 1. Silase adalah hijauan makanan ternak yang disimpan dalam keadaan segar. 2. Silo adalah tempat penyimpanan makanan ternak (hijauan) baik yang dibuat didalam tanah maupun diatas tanah.

52

3. Prinsip prinsip pembuatan silase adalah keadaan hampa udara dan suasana asam ditempat penyimpanan. 4. Silase diberi bahan pengawet secara langsung maupun tidak langsung untuk usaha penurunan pH agar tidak terjadi pembusukan pada bahan pakan.

Saran Sebaiknya rakan-rekan asisten lebih memperhatikan kondisi

praktikan sebelum melaksanakan praktikum karena ditakutkan praktikan yang tidak terbiasa atau belum pernah melaksanakan kegiatan praktikum ini belum sepenuhnya siap kondisinya atau mungkin sedang sakit dan lain sebagainya. Ada baiknya juga praktikan difasilitasi air minum secukupnya ketika usai praktikum yang dirasa membutuhkan banyak keringat dan tenaga. Praktikan juga manusia yang tidak pernah jauh dari sebuah kesalahan, oleh karena itu praktikan pribadi minta maaf yang setulusnya kepada segenap asisten dan dosen pemangku.

53

DAFTAR PUSTAKA
Aak. 1983. Hijauan Makanan Ternak Potong, Kerja, dan Perah. Kanisius: Yogyakarta. Afik. 1983. Hijauan Makanan Ternak Potong Kerja dan Perah. Kanisius: Yogyakarta Agus. B. 1990. Beternak Sapi Potong. Kanisius: Yogyakarta. Aminudin, Siswono dan Hendarto Eko, 1999. Buku Ajar Agrostologi. Fapet UNSOED: Purwokerto Anonim. 1980. Mengenal Beberapa Jenis Hijauan Makanan Ternak Daerah Tropik. Dirjen Peternakan: Jakarta. Anonim. 1981. Panduan Pengujian Adaptasi Tanaman Makanan Ternak. Dirjen Peternakan Departemen Pertanian: Jakarta. Buckman, H.O. 1982. Ilmu Tanah. Bhratara Karya Aksara. Jakarta. Goemarno Soepardi. 1977. Masalah Kesuburan Tanah dan Pupuk. IPB. Bogor. Hakim. dkk. 1986. Dasar-Dasar Ilmu Ternak. Universitas Lampung. Lampung. Hidayat. NU. 1987. Pengerakan Jenis Tanaman Pakan. Fakultas Peternakan UNSOED: Purwokerto. Hendarto, E dan Hidayat N 1996. Diktat Beberapa Jenis Ramban Sebagai Sumber Hijauan Pakan. Fapet UNSOED: Purwokerto Hendarto, E dan N. Gantika 1996. Diktat Teknologi Cocok tanam Rumput. Fapet UNSOED: Purwokerto Kartadisastra.H.R. 1997. Penyediaan Ruminansia. Kanisius: Yogyakarta. dan Pengelolaan Pakan Ternak

Mcilroy, R.J. 1976. Pengantar Budidaya Padang Rumput Tropika. Pradya Paramita. Jakarta. Partomo, Budi. 1986. Cara Penyusunan Ransum Ternak. Poultry: Indonesia. Pitojo. 1995. Penggunaan Urea tablet. Penebar swadaya: Jakarta

54

Reksohadiprodjo, S. 1981. Produksi 1981. Produksi Tanaman Hijauan Makanan Ternak Tropik. Fak Ekonomi UGM: Yogyakarta Reksodiprodjo. 1999. Produksi Tanaman Hijauan Ternak Tropis. BPFE: Yogyakarta Rinsema, WT. 1983. Pupuk dan cara Pemupukan. Bhatara Karya Aksara: Jakarta Sastramidjojo. 1986. Peternakan Umum. Yasagana: Jakarta. Skeman. P. J. 1977. Tropical Fologe Legume. F. A. O. Rame. Italy. Sosromidjojo dan Soepardjo. 1992. Peternakan Umum. Yasama: Jakarta Soediyanto, dkk. 1984. Bercocok Tanam Jilid 1. Yosapura: Jakarta Soegiri, J. 1980. Penuntun Produksi Benih Hijauan Makanan Ternak. Dirjen Peternakan: Jakarta. Sosrosoedirdjo, S. 1985. Ilmu Memupuk. CV Yasaguna: Jakarta Sosrosoedirdjo, S dan B Rifai. Ilmu Memupuk. CV Yasaguna:Djakarta Sutyo, M. 1994. Pupuk dan cara pemupukan. Rineke cipta: Jakarta Syarief, S. 1989. Kesuburan dan Pemupukan Tanah Pertanian. Pustaka Buana. Bandung. Windarto. 1996. Perbanyakan Tanaman. Kanisius.: Yogyakarta