Anda di halaman 1dari 73

BAB I PENDAHULUAN Tiap mahkluk hidup tubuhnya tersusun dari sel-sel.

Sel adalah bagian terkecil dari makhluk hidup, baik secara struktural maupun fungsional. Di dalam sel terdapat organel-organel dengan fungsi yang berbeda-beda. Maka dalam melakukan pengamatan terhadap sel yang akan diambil dari preparat segar tumbuhan yang berasal dari daun Rhoediscolor dan awetan sel tikus putih yaitu dengan mengamati bentuk sel tersebut menggunakan mikroskop. Dalam praktikum kali ini bertujuan agar mahasiswa dapat mengamati sel daun Rhodiscolor dan preparat awetan sel tikus putih yaitu untuk mengetahui bentuk dan bagian-bagiannya. Praktikum ini mempunyai manfaat yaitu supaya mahasiswa dapat mengetahui bentuk dan bagian-bagian sel dari daun Rhoediscolor dan preparat awetan sel tikus putih.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Sel Ilmu yang mempelajari tentang sel dan bagian bagiannya, baik dalam keadaan hidup ataupun yang telah dimatikan disebut sitologi. Sedangkan sel itu sendiri adalah minimal struktural unit dari protoplasma pada hewan atau tumbuhan yang membawa unsur unsur kehidupan. Di dalam sel terdapat dinding yang biasa disebut dengan membran plasma. Inti yang mempunyai selubung dan sitoplasma yang mengandung organel dan paraplasma. Bentuk bentuk serta strukrur tiap sel bervariasi luas sesuai dengan fungsi masing masing sel yang merupakan komponen jaringan atau organ tubuh meskipun memiliki perbedaan struktur berkaitan dengan fungsinya (Dellman, 1989). Berdasarkan adanya membran nukleus (inti), maka sel dibedakan menjadi dua bagian antara lain sel prokariotik sel eukariotik. Sel prokariotik adalah sel yang tidak atau belum mempunyai membran inti, contohnya alga biru dan bakteri. Sedangkan sel eukariotik adalah sel yang sudah mempunyai membran inti. Contohnya pada mitokondria, golgi, lisosom, dan retikilum endoplasma (Kimball, 1989). 2.2 Bentuk dan Ukuran Sel Sel pada makhluk hidup mempunyai empat macam bentuk sel. Diantaranya adalah gelendong, cakram, polihedral, dan kolumner. Berbentuk gelendong maksudnya sel mempunyai inti di tengah sedangkan yang berbentuk cakram kecil yaitu berbentuk lingkaran besar dan kecil. Bentuk kolumner yaitu inti di tengah dan tertata rapi dan polihedral yaitu inti di tengah dan terdapat dendrit dan akson sel tumbuhan dan hewan mempunyai ukuran antara 10 30 m (Kimball, 1989).

2.3 Struktur Umum Sel Dalam sebuah sel terdapat organ organ yang mempunyai tugas dan fungsi masing masing. Organ organ tersebut antara lain adalah membran sel, sitoplasma, inti sentriol, retikulum endoplasma, ribosom, golgi, lisosom, mitokondria, vakuola, plastida, dan dinding sel (Kimball, 1989). 2.3.1 Membran Sel Komponen kimia penyusun membran sel adalah dari senyawa lipoprotein yang terdiri dari lipid / lemak yang berupa fosfolipid, glikolipid, dan sterol protein yang berupa glikoprotein. Fungsi dari membran sel antara lain melindungi dan mempertahankan isi sel mengatur keluar masuknya zat dan sebagai reseptor atau penerima rangsang (Kimball, 1989). 2.3.2 Sitoplasma Sitoplasma merupakan cairan yang berada di dalam sel dan luar inti. Yang tersusun dari cairan (sitosol) dan padatan (organela). Fungsi dari sitoplasma adalah sebagai tempat berlangsungnya kegiatan sel dan sebagai tempat penyimpanan bahan bahan kimia yang penting bagi metaboliame sel (Kimball, 1989). Bagian bagian sitoplasma adalah dinding sel, membran plasma, sitoplasma fralasia, super natant, organel, paraplasma (Hartono, 1968). 2.3.3 Inti (Nukleus)

Nukleus dikenal sebagai pembawa informasi tentang berbagai fingsi sel dan organisme. Bentuk ini (nukleus) lazimnya bulat sampai lonjong, tetapi dapat berbentuk kincir (otot polos) berbentuk kacang (monosit) atau bergelambir (leukosit neutrofil) (Dellman dan Brown, 1989). 2.3.4 Sentriol Tersusun dari tubulus tubulus yang tersusun tiga tiga secara melingkar hanya dijumpai pada sel hewan dan dapat dilihat pada saat sel membelah sentriol berfungsi sebagai menentukan arah pembelahan sel (Kimball, 1989). 2.3.5 Retikulum Endoplasma Retikulum Endoplasma terdapat dalam dua bentuk yang berbeda baik struktur maupun fungsinya yakni Retikulum Endoplasma kasar dan Retikulum Endoplasma halus. Fungsi Retikulum Endoplasma kasar adalah melaksanakan biosintesis berbagai bentuk protein untuk keperluan intra maupun ekstra seluler dan berperan dalam glikolasi protein membuat glikoprotein sedangkan Retikulum Endoplasma halus berperan dalam sintesis hormon sterois pada sel inter stisial testil, resintesis lipid dalam ssel sel penyerap pada usus halus, melepas dan menangkap ion kalsium pada otot kerangka (Dellman dan Brown, 1989).

2.3.6 Ribosom Merupakan struktur yang paling kecil yang tersusupensi didalam sitoplasma merupakan situs dan tempat berlangsungya sintesa protein (Kimball, 1989).

2.3.7 Golgi Terdapat pada hampir semua sel tumbuhan dan sel hewan yang terdiri dari setumpuk saku pipih yang dibatasi membran. Fungsi dari golgi adalah mengangkut dam mengubah secara kimia dan materi materi yang ada didalamnya, membentuk lisosom, dan sebagai organela sekresi (Kimball, 1989). 2.3.8 Lisosom Umumnya dikenal dua tipe, lisosom primer hanya berisi enzim hidrolitik, sedangkan lisosom sekunder adalah peleburan antara lisosom primer dan berbagai gelembung substrat. (Dellman dan Brown, 1989). 2.3.9 Mitokondria Bentuk mitokondria ada dua macam yaitu berbentuk benang dan berbentuk bulat atau batang. Mitokondria terdiri terdiri atas lipoprotein (phospholipid yang terikat pada protein). Maka dari itu dapat diwarnai dengan asam fuelsin (Hartono, 1989).

2.3.10 Vakuola Vakuola adalah organel sitoplasmatik berisi cairan, dibatasi membran. Fungsi vakuola pada tumbuhan sebagai tempat menyimpan cadangan makanan,

tempat menyimpan pigmen, tempat menyimpan minyak atsirin, dan tempat menyimpan sisa metabolisme (Kimball, 1989). 2.3.11 Plastida Plastida merupakan organel yang hanya ditemukan pada sel tumbuhan, terdapat didalam sitoplasma diluar inti sel. Bentuk bulat atau oval dan mempunyai pigmen yaitu kloroplas (Kimball, 1989). 2.3.12 Dinding Sel Sel pada hewan tidak terdapat dinding sel sebagaimana pada tumbuhan. Pada sel tumbuhan dinidng sel tebal dan banyak mengandung selulosa yang agak sukar dihancurkan oleh getah getah pencernaan (Hartono, 1968).

BAB III MATERI DAN METODE

Praktikum biologi pengenalan sel dilaksanakan pada hari Kamis 15 Oktober 2009 pukul 13.00 15.00 WIB di Laboratorium Fisiologi dan Biokimia Ternak Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro Semarang. 3.1 Materi Materi atau bahan yang digunakan dalam praktikum pengenalan sel adalah daun tanaman Rhoediscolor dan preparat sel hewan. Sedangkan alat alat yang dipergunakan adalah mikroskop, kaca obyek, kaca penutup, jarum besar bertangkai, pinset dan alat tulis. 3.2 Metode Metode yang dilaksanakan dalam praktikum pengenalan sel adalah dengan membuat sayatan tipis pada lapisan epidermis permukaan bawah daun Rhoediscolor. Kemudian meletakkan hasil sayatan pada kaca obyek yang telah ditetesi air dan menutupnya dengan kaca penutup secara perlahan lahan agar tidak terjadi gelembung udara. Setelah itu, mengamati obyek dibawah mikroskop dengan perbesaran 10x, mengamati bagian bagiannya dan menggambarnya.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Pengamatan

4.1.1

Daun Rhoediscolor Keterangan:


1. 2. 3.

Dinding sel Membran sel Sitoplasma

Ilustrasi 1 Penampang melintang daun Rhoediscolor (Pembesaran 10x) Sumber: Data Primer Praktikum Biologi, 2009 Keterangan:
1. Dinding sel 2. Membran sel 3. Inti sel 4. Sitoplasma

5. Vakuola Ilustrasi 2 Penampang melintang daun Rhoediscolor (Pembesaran 40x) Sumber: Data Primer Praktikum Biologi, 2009 4.1.2 Sel Hewan Keterangan: 1. sitoplasma 2. inti sel 3. anak inti

Ilustrasi 3 Preparat Sel Tikus Putih (Pembesaran 10x) Sumber: Data Primer Praktikum Biologi, 2009 4.2 Pembahasan Dari hasil pengamatan pada sel Rhoediscolor dan sel Tikus Putih dapat dilihat bagian bagian sel : dinding sel (pada Rhoediscolor), membran sel, sitoplasma, vakuola, inti sel (Kimball, 1989). 4.2.1 Dinding sel Dinding sel hanya terdapat pada sel tumbuhan tersusun dari pektin, lignin, dan selulosa yang agak tebal sehingga menyebabkan kaku. Bentuk dinding sel pada tanaman Rhoediscolor adalah segi enam beraturan dan tersusun secara teratur. Fungsi dinding sel adalah melindungi organel organel sel didalamnya. Letak dinding sel disebelah luar membran sel dan merupakan lapisan terluar pada sel tumbuhan. (Kimball, 1989).

4.2.2

Membran Sel Merupakan senyawa hipoprotein (tersusun oleh lemak / lipid dan protein).

Membran sel bersifat semi permeabel. Fungsinya untuk mengatur transportasi zat dari sel satu ke sel yang lain, sebagai pembatas antara dinding sel dengan organel organel sel. Membran sel mengandung 50% protein (Kimball, 1989).

4.2.3

Sitoplasma Sitoplasma terletak diantara membran sel dan nukleus. Sebagian besar

merupakan substansi homogen yang berupa air. Fungsi sitoplasma adalah sebagai tempat organel organel sel seperti Retikulum Endoplasma golgi, lisosom, sentriol, dan lain lain (Kimball, 1989). 4.2.4 Vakuola Berisi larutan sisa pertukaran zat yang mengandung asam dan garam organik, garam garam nitrat, glikosida, lanin, enzim, kelenjar kelenjar, butir butir zat pati ( Kimball, 1989 ). 4.2.5 Inti Sel Rata rata berdiameter 5m. Inti sel dilindungi oleh membran ganda yang memisahkan isinya dan sitoplasma. Fungsi dari inti sel mengatur semua aktivitas sel, sebagai pembawa sifat (Kimball, 1989).

BAB V KESIMPULAN Dari percobaan pengenalan sel tersebut dapat disimpulkan bahwa sel merupakan unit stuktural terkecil pada makhluk hidup, maka tidak bisa dilihat dengan mata telanjang tetapi bisa dilihat dibawah mikroskop.

Pada dasarnya, makhluk hidup multiseluler, sel hewan maupun sel tumbuhan mempunyai tipe sel yang hampir sama. Tetapi karena dalam komponen penyusunnya berbeda sehingga mempengaruhi bentuk sel secara keseluruhan. Perbedaan sel tumbuhan dan sel hewan yaitu pada sel tumbuhan mempunyai dinding sel, plastida, vakuola. Pada sel tumbuhan mempunyai mikrofilamen serta tidak mempunyai lisosom. Sedangkan pada sel hewan tidak berdinding sel, tidak mempunyai plastida, tidak bervakuola, mempunyai golgi, mempunyai mikrofilamen dan lisosom.

DAFTAR PUSTAKA Dellman. H.D, dan E.M. Brown. 1989. Buku Teks Histologi Veterlner Jilid I. Universitas Indonesia. Jakarta Hartono, R. 1968. Pengamatan Kuliah Histologi. Institut Pertanian Bogor. Bogor Kimball, J.W. 1989. Biologi Jilid I Edisi Kelima. Erlangga. Jakarta

BAB I PENDAHULUAN Tumbuhan merupakan satu kesatuan hidup yang terdiri dari beberapa macam organ yang melaksanakan fungsinya masing-masing. Tumbuhan dalam hidupnya akan mengalami proses tumbuh dan berkembang. Pada saat itu sel-sel menjadi terspesialisasi untuk menjalankan berbagai fungsi. Setiap tipe sel mungkin ditemukan di dalam tiga organ tumbuhan: akar, batang, atau daun. Pada tumbuhan

multiseluler sel-sel tersebut akan bekerjasama dalam suatu kelompok membentuk jaringan. Jaringan sederhana tersusun atas sel-sel yang tipenya sama, sedangkan jaringan komplek seperti jaringan vaskuler tersususn atas sel-sel yang berbeda bekerja sama melakukan fungsi utama. Dalam praktikum kali ini bertujuan agar mahasiswa lebih jelas membedakan bagian-bagian tumbuhan dan dapat mengetahui fungsinya. Selain itu juga menambah pengetahuan tantang macam-macam jaringan tumbuhan. Praktikum ini mempunyai manfaat yaitu supaya mahasiswa dapat membedakan tumbuhan monokotil dan tumbuhan dikotil melalui struktur tubuhnya.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Jaringan Jaringan tumbuhan adalah kumpulan sel yang mempunyai fungsi yang sama. Jaringan pada tumbuhan dapat dibedakan menurut fungsinya yang memiliki ciri-ciri dan spealisasi sendiri (Yartim, 1987). Jaringan adalah kumpulan sel yang berhubungan erat satu sama lain dan mempunyai struktur dan fungsi yang sama.

Tumbuhan berpembuluh matang dapat dibedakan menjadi beberapa tipe yang semuanya dikelompokkan menjadi jaringan (Kimball,1992). 2.2 Macam-macam Jaringan Tumbuhan Jaringan menurut fungsinya dibedakan menjadi 2 yaitu jaringan muda (meristem) dan jaringan dewasa (permanen). 2.2.1 Jaringan Meristem Jaringan meristem adalah jaringan muda yang terdiri atas sekelompok sel-

sel yang mempunyai sifat selalu membelah diri, fungsinya adalah mitosis, dimana sel-selnya kecil, berdinding tipis, tanpa vakuola tengah (Sutrian, 1992). Berdasarkan letaknya, jaringan meristem dibagi menjadi 3, yaitu meristem apikal yang terletak diujung batang dan akar, meristem lateral yang terletak di kambium dan kambium gabus dan meristem Intercalar yang terletak diantara ruas satu dan ruas lainnya (Mulyani, 1980).

2.2.2

Jaringan Permanen Merupakan jaringan yang telah mengalami diferensiasi. Pada umumnya

jaringan dewasa tidak membelah lagi, bentuknyapun relatif permanen, serta rongga selnya besar (Mulyani, 1980). Jaringan permanen dibagi menjadi: (a). Jaringan epidermis adalah jaringan yang menutupi permukaan tubuh; (b). Jaringan parenkim adalah jaringan terbesar yang terdapat pada tumbuhan karena mengisi sebagian besar jaringan tumbuhan (Sutrian, 1992).

Jaringan penyokong merupakan jaringan yang berfungsi untuk menyokong agar tanaman dapat berdiri dengan kokoh dan kuat. Jaringan penyokong dibagi menjadi: (a). Jaringan kolenkim: jaringan penyokong tumbuhan yang masih muda, jaringan yang berdinding tebal terutama pada sudut-sudutnya (b). Jaringan sklerenkim: merupakan jaringan terdiri dari sel-sel yang sudah bersel mati, dinding sel tidak elastis tapi kuat (Sutrian, 1992). Jaringan pengangkut adalah jaringan yang berguna untuk transportasi hasil asimilasi dari daun ke seluruh bagian tumbuhan dan pengangkutan air serta garam-garam mineral dari akar ke daun. Jaringan pengangkut dibagi menjadi: (a). Xylem: merupakan jaringan kompleks yang terdiri dari beberapa sel, baik sel mati maupun sel hidup. Xilem berfungsi sebagai pengangkut air dan garam mineral dari akar ke daun (b). Floem, merupakan jaringan kompleks yang terdiri dari beberapa unsur dengan tipe yang berbeda, yaitu buluh lapisan, sel pengiring, parenkim, serabut dan skelereid. Floem berfungsi sebagai pengangkut hasil fotosintesis ke seluruh bagian tumbuhan (Benyamin, 1995).

2.3. Tumbuhan Dikotil ( Kacang Tanah ) Tumbuhan dikotil yaitu tumbuhan yang memiliki biji berkeping 2 yang juga merupakan cabang dari tumbuhan Angiospermae. Ciri-ciri dari tumbuhan dikotil yaitu batang bercabang-cabang, berkambium, akar tunggang dan mempunyai ikatan pembuluh kolateral terbuka. Salah satu contoh dari tumbuhan dikotil adalah tanaman kacang tanah, yang merupakan salah satu tumbuhan dikotil yang berordo Rofales dan dari famili Papilionaceae (Kimball, 1992).

Arachis hipogaea (kacang tanah) merupakan tumbuhan berkeping dua yang memiliki lembaga dengan dua daun lembaga (berbiji belah) dan serta pucuk lembaga yang tidak memiliki pelinding yang khusus. Akar dan daunnya memperlihatkan adanya pertumbuhan menebal sekunder karena akar dan batangnya memiliki kambium (Soepomo, 1994). Kacang tanah berakar tunggang, cabang akarnya tumbuh tegak lurus, lembaga tumbuh menjadi akar tunggang yang bercabang-cabang. Batang tumbuhan dikotil umumnya mempunyai batang yang lebih besar bagian bawahnya dan ke ujung semakin kecil. Berkas pengangkutan batang tersusun dalam lingkaran (xylem pada bagian dalam dan floem pada bagian luar), berkas pengangkutnya bersifat kolateral terbuka (Soeprapto, 1991). 2.4. Tumbuhan Monokotil ( Jagung ) Tumbuhan monokotil yaitu tumbuhan yang memiliki biji berkeping tunggal. Tumbuhan monokotil juga merupakan tumbuhan Angiospermae. Tumbuhan monokotil memiliki ciri-ciri, batang tidak bercabang, tidak berkambium, akar serabut dan mempunyai ikatan pembuluh kolateral tertutup. Contoh dari tumbuhan monokotil adalah jagung (Zea mays) merupakan tumbuhan monokotil yang berasal dari famili Poaceae (Graminecae) (Kimball, 1992). Jagung (Zea mays) merupakan tumbuhan yang berumur pendek. Dari buku pada pangkal batang keluar akar-akar serabut, tetapi tidak mengeluarkan anak inti, batang tegak beruas, tidak memiliki rongga di tengahnya yang kasar (Soepomo,

1994). Jagung memiliki akar serabut yang menyebar ke samping dan ke bawah dengan panjang kurang lebih 25 cm dan penyebarannya pada lapisan tanah ketika

jagung berumur antara 6 sampai 10 hari. Mulai tumbuh dari akar yang sebenarnya bersifat permanen dan tumbuh dengan panjang 2,5 cm dari permukaan tanah. Akar adventif merupakan bentukan akar lain yang tumbuh dari akar batng di atas permukaan tanah yang kemudian akan masuk ke dalam tanah. Akar ini berfungsi untuk memperkuat tegaknya jagung dan menambah organ penghisap air dan garamgaram mineral (Soeprapto, 1994).

BAB III MATERI DAN METODE Praktikum Biologi dengan materi Jaringan Tumbuhan dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 15 Oktober 2009. Pukul 13.00-15.00 WIB, di laboratorium Fisiologi dan Biokimia Fakultas Peternakan, Universitas Diponegoro, Semarang. 3.1 Materi

Alat yang digunakan dalam praktikum dalam materi jaringan tumbuhan antara lain silet untuk menyayat batang tumbuhan. Kaca objek dan kaca penutup sebagai wadah meletakkan objek yang akan diamati. Mikroskop untuk meletakkan bagian dari jaringan tumbuhan yang telah disayat untuk diamati, serta alat tulis untuk menggambarkan hasil pengamatan. Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah akar dan batang jagung (Zea mays) sebagai tumbuhan monokotil yang akan diamati. Akar dan batang kacang tanah (Arachis hipogaea) sebagi tumbuhan dikotil yang akan diamati. 3.2 Metode Dalam praktikum ini perlu pertama kali mengamati bentuk akar tanaman maupun batang dari bahan tanaman yang telah disediakan (dikotil dan monokotil). Setelah itu membuat sayatan melintang dengan menggunakan silet dari batang muda tanaman jagung dan kacang tanah. Sayatan diusahakan setipis mungkin agar dalam pengamatan jaringan dan sel-selnya dapat terlihat jelas. Kemudian meletakkan sayatan pada kaca objek yang sudah bersih yang telah ditetesi air dan menutupnya dengan kaca penutup. Usahakan jangan ada gelembung udara di dalamnya. Amatilah preparat di bawah mikroskop dengan perbesaran 10 X kemudian dengan perbesaran 40 X. Setelah itu menggambarkan struktur jaringan tersebut dan menjelaskan perbedaan tanaman monokotil dan dikotil.

BAB III MATERI DAN METODE Praktikum Biologi dengan materi Pengenalan Jaringan Tumbuhan dilakukan pada hari Kamis tanggal 15 Oktober 2009 jam 13.00 15.00 di Laboratium Fisiologi dan Biokimia Ternak Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro Semarang. 3.1 Materi Materi yang digunakan dalam praktikum pengenalan jaringan tumbuhan menggunakan bahan antara lain preparat akar jagung, batang jagung, akar kacang tanah, dan batang kacang tanah yang berumur kurang lebih satu minggu. Alat yang

digunakan adalah mikroskop untuk melihat perbesaran preparat dan alat tulis untuk mencatat dan menggambar hasil pengamatan. 3.2 Metode Metode yang digunakan dalam praktikum pengenalan jaringan tumbuhan mengambil preparat yang tersedia, kemudian mengamati preparat tersebut dengan menggunakan mikroskop, langkah selanjutnya mengamati preparat dengan perbesaran 10x dan 40x, kemudian menggambar hasil pengamatan. Dan yang terakhir menuliskan bagian bagian jaringan tumbuhan pada praktikum Biologi.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Pengamatan Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan di Laboratorium Fisiologi dan Biokimia Ternak Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro Semarang di dapat hasil berikut: Keterangan : 1. 2. 3. 4. 5. Epidermis Korteks Endodermis Xylem Floem

6. Ilustrasi 4 Penampang melintang akar jagung Sumber: Buku Praktikum Biologi 2009 Keterangan : 1. 2.

Empulur

Epidermis Korteks

3. Jaringan Penyokong 4. 5. Ilutrasi 5 Penampang melintang batang jagung Sumber: Data Primer Praktikum Biologi, 2009 Keterangan : 1. 2. 3. 4. 5. Epidermis Korteks Endodermis Xylem Floem Xylem Floem

Ilustrasi 6 Penampang melintang akar kacang tanah Sumber: Data Primer Praktikum Biologi, 2009 Keterangan : 1. 2. 3. 4. Epidermis Korteks Floem Xylem

5.

Kambium

Ilustrasi 7 Penampang melintang batang kacang tanah Sumber: Data Primer Praktikum Biologi, 2009

4.2 4.2.1

Pembahasan Epidermis Epidermis pada tanaman kacang dan jagung berada paling luar. Hal ini

sesuai dengan sitasi bahwa jaringan epidermis yakni jaringan paling luar yang menutup seluruh permukaan tubuh tumbuhan, seperti permukaan akar, batang, daun, bunga, buah, maupun biji (Prawirohartono, 2000). Fungsi jaringan epidermis sebagai pelindung jaringan di dalamnya serta sebagai tempat pertukaran zat (Syamsuri, 2004). 4.2.2 Korteks Letak korteks pada tanaman jagung dan kacang tanah sama. Pernyataan tersebut sesuai dengan sitasi karena korteks merupakan daerah antara epidermis dengan silinder pusat. Korteks terdiri dari sel sel parenkim yang tersusun

melingkar (Syamsuri, 2004). Korteks atau kulit pertama terdiri atas lapisan lapisan sel berbanding tipis. Sel sel tersebut tidak menyusun rapat, sehingga mempunyai banyak ruang antar sel yang penting pertukaran zat (Prawihartono, 2000). 4.2.3 Endodermis Endodermis seperti yang terlihat pada gambar merupakan jaringan kedua setelah epidermis. Pada tanaman kacang dan jagung letak endodermis sama. Endormis adalah lapisan terdalam korteks dan sekaligus sebagai pemisah antara korteks dengan silinder pusat. Sel sel endodermis tersusun rapat, tanpa ruang antar sel (Prawihartono, 2000). Endodermis tersusun atas sel sel yang tebal, yang menandai batas korteks. Endodermis berperan mengatur lalu lintas zat ke dalam pembuluh akar (Syamsuri, 2004). 4.2.4 Empulur Empulur seperti yang dapat dilihat pada gambar hanya terdapat pada jagung dan batang kacang tanah. Letak empulur pada akar jagung dan batang kacang tanah sama. Empulur merupakan parenkim yang terdapat di tengah tengah stele. Empulur juga terdapat di sekitar kelompok kelompok ikatan pembuluh berbentuk seperti jari jari, disebut jari jari empulur (Prawihartono, 2009). Bagian dalam dari batang tersusun oleh sel sel parenkim sebagai tempat penyimpanan makanan (Syamsuri, 2004). 4.2.5 Kambium

Berdasarkan gambar, kambium hanya terdapat pada tumbuhan dikotil. Kambium pada tumbuhan dikotil merupakan meristem sekunder yang dapat menyebabkan terjadinya pertumbuhan sekunder (Prawihartono, 2000). Kambium terdiri dari prokambium dan kambium vaskuler. Prokambium membentuk jaringan pembuluh xylem dam floem. Kambium vaskuler terbentuk dari prokambium, terletak diantara jaringan xylem dan floem (Syamsuri, 2004). Tidak adanya kambium pada tumbuhan monokotil tidak dapat tumbuh membesar. Oleh karenanya, seluruh jaringan pada batang monokotil merupakan jaringan primer (Prawihartono, 2000).

4.2.6

Xylem Xylem pada tanaman kacang dan jagung mempunyai fungsi yang sama

yaitu berfungsi menyakurkan air mineral dari akar ke daun (Syamsuri, 2004). Letak xylem pada kacang tanah dan jagung sama yaitu berada di bagian dalam (Prawihartono, 2000). Xylem merupakan jaringan campuran yang terdiri atas beberapa tipe sel. Pembuluh xylem mempunyai dinding sel tebal. Dindingnya tidak dalam lapisan seragam tetapi biasanya menebal dalam pola berkas berkas spiral (Kimball, 1994). 4.2.7 Floem Floem pada kacang tanah dan jagung sama yaitu terletak disebelah luar (Prawihartono, 2000). Fungsi floem pada tanaman kacang dan jagung mempunyai fungsi yang sama yaitu pengangkut makanan dan hormon ke seluruh bagian tubuh

tumbuhan (Kimball, 1994). Pendukung utama fungsi pengangkutan pada floem adalah elemen floem yang berupa sel sel pipa yang ujungnya mempunyai lapisan atau saringan sehingga disebut pembuluh tapis (Syamsuri, 2004).

BAB V KESIMPULAN Berdasarkan hasil pengamatan pada tanaman jagung dan tanaman kacang tanah, dapat disimpulkan bahwa tumbuhan terdiri dari bermacam macam jaringan yang masing masing mempunyai fungsi dan peran berbeda beda. Jaringan dapat dibedakan menjadi jaringan meristem (jaringan muda) dan jaringan dewasa. Jaringan merupakan kumpulan sel yang berhubungan erat satu sama lain. Jaringan terdiri atas sel sel yang mempunyai bentuk, asal, fungsi dan struktur yang sama untuk menyelenggarakan sistem kehidupan. Jaringan jaringan yang terdapat pada tumbuhan diantaranya tumbuhan dikotil memiliki akar tunggang, daun menyirip, batang bercabang, berkambium, dan biji berkeping dua.

Sedangkan tumbuhan monokotil mempunyai akar serabut, daun sejajar, batang tidak bercabang, tidak berkambium, dan biji berkeping satu.

DAFTAR PUSTAKA Kimball, J.W. 1983. Biologi edisi kelima jilid I. Erlangga, Jakarta Kimball, J.W. 1994. Biologi edisi kelima. Erlangga, Jakarta Prawiharno. 1997. Biologi Sains. Bumi Aksara, Jakarta Prawihartono. 2000. Biologi. Bumi Aksara. Jakarta Salisbury. 1995. Plant Physiology. Wadsworth Publising Company Inc. Callifornia Syamsuri, I. 2004. Biologi. Erlangga. Jakarta Yatun, W. 1991. Biologi Modern Biologi Sel. Tarsito. Bandung

BAB I PENDAHULUAN Zoologi adalah salah satu cabang ilmu yang mempelajari tentang semua kehidupan binatang. Ilmu yang digunakan antara lain adalah anatomi, fisiologi, da embriologi. Anatomi merupakan ilmu yang mempelajari tentang struktur mahluk hidup. Fisiologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang perkembangan dari suatu mahluk hidup. Hewan bertulang belakang atau vertebrata dibagi menjadi beberapa kelas. Diantaranya adalah kelas amphibi. Dalam praktikum kali ini, hewan yang digunakan adalah katak sawah (Rana canorivara). Amphibi seperti katak memiliki ciri-ciri tertentu, misalnya mempunyai kulit yang licin dan mengeluarkan bau yang amis yang digunakan untuk melindungi diri dari lingkungan sekitarnya yang dapat membahayakan dirinya.

Tujuan dari praktikum anatomi hewan ini adalah untuk mengetahui organorgan yang digunakan dalam sistem pencernaan dan pernafasan. Sedangkan manfaat praktikum ini adalah agar dapat mengenal dan mengetahui karakteristik katak, sistem pernafasan, pencernaan serta struktur dan fungsi sistem pernafasan dan pencernaan pada katak.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Karakteristik Katak Katak sawah (Rana Canorivora) tergolong amphibi tanpa ekor. Katak hidup di dua dunia, yaitu air dan daratan. Namun untuk perkembangbiakannya, katak masih menggunakan air sebagai media. Pembuahan biasanya terjadidi luar tubuh induk betina dan telur yang dikeluarkan oleh induk betina yang terbungkus dalam lapisan lendir yang berbentuk gumpalan atau selongsong panjang. Sebagian besar katak mengalami metamorfosis dari berudu (bernafas menggunakan insang), kemudian menjadi berudu yang mempunyai kaki. Ekornya akan menghilang dalam proses metamorfosis dan berbentuk miniatur katak. Setelah katak dewasa, maka alat penafasan katak berubah menjadi paru-paru (Kimball, 1992). 2.2 Sistem Pernafasan

Sistem respirasi memiliki fungsi utama sebagai tempat keluar masuknya oksigen ke dalam tubuh serta membuang ksrbon dioksida dari dalam tubuh. Sistem respirasi dibagi menjadi dua, yaitu respirasi eksternal dan internal. Respirasi eksternal merupakan proses penggunaan oksigen oleh sel tubuh dan penggunaan dari embuangan zat sisa metabolisme yang berupa gas karbondioksida. Sedangkan respirasi internal merupakan masuknya udara dari atmosfer ke dalam organ pernafasan diawali dengan kontraksi otot di dasar mulut kemudian rongga mulut meluas sehingga terjadi tekanan negatif di dalamnya. Selanjutnya nastrul terbuka dan udara masuk ke dalam paru-paru (Isnaeni, 2006). Organ pernafasan katak tersiri dari celah glotis, laring, paru-paru, dan alveoli. Laring terbentuk dari tulang rawan yang mempunyai dua pita elastis, yaitu pita suara. Paru-paru katak terdiri dari dua kantung erpis yang elastis dengan sedikit lipatan di dalam yang membantu permukaan bagian dalam unuk membentuk alveoli. Alveoli dibatasi oleh pembuluh-pembuluh kapiler paru-paru. Penyerapan paru-paru dibungkus oleh bronkus pendek ke kantung suara atau laring di belakang glotis (Kastowo, 1984). 2.2 Sistem Pencernaan Hewan memerlukan energi dalam jumlah yang cukup umtuk dapat mempertahankan diri dari kondisi homostalisnya. Energi yang dibutuhkan hewan dapat dicukupi dari makanan. Akan tetapi makanan yang masuk ke tubuh hewan seringkalai masuk dalam ukuran yang sangat kompleks sehingga energi yang terkandung di dalamnya tidak dapat langsung digunakan (Isnaeni, 2006).

Organ pencernaan katak terdiri dari beberapa saluran, yaitu mulut, kerongkongan, lambung, duodenum, intestinum, rektum, dan kloaka. Lidah terdapat dalam rongga mulut yang dapat digulung dan berpangkal pada ujung rahang bawah. Selain lidah, terdapat juga gigi yang berderet sepanjang tepi maxila yang berfungsi untuk mencengkeram mangsanya. Dinding kerongkongan mempunyai otot yang berfungsi menyalurkan makanan dari mulut, terjadinya gerak peristaltik yang berfungsi untuk menghancurkan makanan. Lambung merupakan tabung besar yang berdinding tebal berwarna putih dan terletak di sebelah kiri rongga peru. Makanan di dalam lambung dicerna secra kimiawi dan mekanis (Kimball, 1992). Usus dibagi menjadi tiga, yaitu duodenum, jejunum, dan ileum yang batas ketiganya tidak jelas. Duodenum merupakan bagian terpenting dari usus halus yang berasal dari pankreas dengan mengalirkan tiga macam enzim. Makanan masuk ke dalam hepatica (saluran vena) ke hati sebelum menuju ke usus besar. Setelah menuju ke usus besar akan terjadi penyerapan air jika kadar air tersebut berlebihan. Usus besar banyak terdapat bakteri yang berfungsi dalam proses pembusukan (Kastowo, 1984). Kloaka merupakan lubang pelepasan dimana bermuaranya tiga saluran, yaitu saluran pencernaan, kelamin, dan urine. Kloaka adalah tempat pembuangan hasil pencernaan pada katak (Kimball, 1992).

BAB III MATERI DAN METODE Praktikum Biologi dengan materi Anatomi Hewan dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 22 Oktober 2009, pada pukul 13.00-15.00 WIB di Laboratorium Fisiologi dan Biokimia Fakultas Peternakan, Universitas Diponegoro, Semarang. 3.1 Materi Materi yang digunakan dalam praktikum ini meliputi alat yang terdiri dari botol pembunuh untuk meletakkan katak dan klroform agar katak pingsan, baki bedah untuk membedah katak, gunting untuk membedah katak, pinset atu penjepit untuk menjepit katak agar lebih mudah terbuka, jarum pentul untuk menjepit keenpat kaki katak. Bahan yang digunakan yaitu katak sawah (Rana canorivara), kloroform, formalin 4%, atau alkohol 70% (untuk mengawetkan bahan percobaan). 3.2 Metode Metode atau cara kerja yang digunakan adalah membasahi kapas dengan kloroform kemudian memasukkan katak ke dalam plastik atau botol pembunuh (menunggu sampai katak pingsan) lalu meletakkan katak diatas baki bedah

kemudian menjepit keempat kaki katak dengan jarum pentul pada baki bedah lalu membedah perut katak dan mencatat semua hasil pengamatan serta

penggambarannya di buku pengamatan. BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Pengamatan

Ilustrasi 8 Morfologi Katak Sawah Sumber: Data Primer Praktikum Biologi, 2009

Keterangan:

1. Mulut 2. Mata 3. Kaki Depan

4. Kloaka 5. Kaki Belakang 6. Jari berselaput / selaput renang

Ilustrasi 9 Organ Dalam Katak Sawah Sumber: Data Primer Praktikum Biologi, 2009 Keterangan: 1. Mulut 2. Faring 3. Kerongkongan 4. Jantung 5. Paru-paru 6. Hati

7. Usus halus
8. Usus 12 jari

10. Lambung 11. Pankreas 12. Empedu

13. Usus besar

9. Ginjal

Ilustrasi 8. Sistem Pencernaan Katak Sawah Sumber: Data Primer Praktikum Biologi, 2009 Keterangan: 1. Mulut 2. Kerongkongan 3. Faring 4. Hati 5. Lambung 6. Usus besar 7. Usus 12 jari 8. Pankreas

9. Usus halus

Ilustrasi 9. Sistem Pernafasan Katak Sawah Sumber: Data Primer Praktikum Biologi, 2009

Keterangan: 1. Mulut

2. Laring 3. Faring 4. Bronkus

5. Bronkiolus 6. Alveolus

7. Celah goltis

4.2 4.2.1

Pembahasan Sistem Pencernaan Dari hasil pengamatan dalam praktikum bahwa alat pencernaan pada katak

tersusun atas saluran-saluran pencernaan. Organ pencernaan pada katak adlah rongga mulut, kerongkongan, lambung, usus 12 jari, usus halus, usus besar, kloaka, hati, kantong empedu, dan pankreas (Kimball, 1992). 4.2.1.1 Rongga Mulut Di dalam mulut terdapat lidah, kelenjar ludah, gigi maxila, gigi vormer. Lidah berfungsi untuk menangkap mangsa, sedangkan kelenjar ludah berfungsi membantu menelan mangsa (Kimball, 1992). 4.2.1.2 Kerongkongan atau Esofagus Kerongkongan terletak dibawah faring, kerongkongan berfungsi

meneruskan makanan dari rongga mulut menuju lambung dengan bantuan gerakan peristaltik (Kimball, 1992). 4.2.1.3 Lambung

Lambung (gaster) mempunyai kardium lebar. Dalam organ ini terdapat beberapa bagian antara lain kardiak sebagai tempat masuknya makanan dari esofagus (kerongkongan), corpus, dan pylorus sebagai lubang menuju anus (Kimball, 1992).

4.2.1.4 Usus 12 Jari Di dalam usus 12 jari, makanan yang sudah dilumatkan kemudian dipisahkan antara sari-sari makanan dan sisa-sisa makanan. Sari-sari makanan akan diedarkan kembali ke seluruh tubuh, sedangkan sisa-sisa makanan akan dibawa menuju usus halus (Kimball, 1992). 4.2.1.5 Usus Halus Di dalam usus halus, sisa-sisa makanan atu bagian makanan yang sudah tidak dicerna diteruskan ke usus besar (Kimball, 1992). 4.2.1.6 Usus Besar Sisa-sisa makanan atau bagian bakanan yang tidak dicrna melalui usus besar ditimbun untuk selanjutnya dikeluarkan melalui kloaka (Kimball, 1992). 4.2.1.7 Kloaka Kloaka merupakan lubang pelepasan sisa-sisa makana atu bagian makanan yang sudah tidak dicerna kembali dan di dalam kloaka bermuara juga ke saluran urogenital (Kimball,1992).

Selain alat-alat pencernaan, dalam sistem pencernaan pada katak juga terdapat kelenjar-kelenjar pencernaan yaitu hati (hepar), kantung empedu, dan pankreas.

4.2.1.8 Hati Kelenjar pencernaan berfungsi membantu pencernaan makanan. Hati merupakan kelenjar pencernaan yang paling besar terdiri dari lobus kanan dan lobus kiri yang berwarna merah kecoklatan. Hati sebagai tempat penghasil cairan empedu sebagai tempat penawar racun. Cairan empedu terdapat pada kantung empedu yang brwarna kehijauan (Kimball, 1992). 4.2.1.9 Kantung Empedu Merupakan kantung kecil berwarna hijau terletak di bawah hati yang berfungsi sebagai tempat untuk menyimpan empedu sebagai pemecah lemak (Kimball, 1992). 4.2.1.10 Pankreas Oragan tipis yang berwarna kekuningan memanjang terdapat pada selaput diantara lambung dan duodenum (mesentrium). Pankreas menghasilkan enzimenzim pencernaan (Kimball, 1992). 4.2.2 Sistem Pernafasan

Organ-organ pernafasan pada katak meliputi paru-paru, rongga mulut, dan lapisan kulit. Organ kulit dapat melakukan pernafasan dengan baik ketika katak berada di darat maupun di air. Hal ini dapat terjadi karena kulit katak sangat tiis serta mengandung banyak kapiler darah yang merupakan sarana tambahan untuk pertukaran gas dalam proses respirasi (Kimball, 1992). Katak mempunyai sepasang paru-paru berupa kantung elastis yang tipis. Permukaan dinding paru-paru bagian dalam terdapat lipatan-lipatan untuk memperluas permukaan sehingga kapiler-kapiler darah tampak berwarna kemerahmerahan. Katak memiliki dua buah bronkus yang berhubungan dengan rongga mulut dan perantara celah goltis. Hasil pengamatan sesuai dengan pendapat Kimball (1992) yang menyatakanbahwa pada katak dua kantung berdinding tipis terletak dalam badan dan berhubungan dengan rongga mulut melalui celah goltis, karena kami mengetahui mana yang celah goltis pada saat pengamatan. Organ pernafasan katak yang terpenting adalah paru-paru. Paru0paru terletak diantara sebelah anterior hati dari hari. Setiap paru-pru dihubungkan oleh bronkus yang pendek, bronkus tersebut berhubungan langsung dengan laring dan rongga mulut (Kastowo, 1984).

BAB V

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil praktikum Anatomi Hewan dengan bahan yang digunakan adalah katak sawah, maka dapat diambil kesimpulan bahwa sistem pencernaan katak sawah terjadi melalui dua proses proses pencernaan secara mekanik dan proses pencernaan secara kimiawi. Sistem pencernaan mekanik yaitu terjadi didalam mulut dengan menghasilkan kelenjar ludah. Sistem pencernaannya dimulai dari mulut, faring, kerongkongan, lambung, usus 12 jari, usus halus, usus besar, dan kloaka. Sedangkan proses kimiawi terjadi dilambung yang mana dalam lambung terdapat pankreas yakni berupa organ tipis yang memanjang berwarna kekuningan yang terdapat pada selaput diantara lambung dan duodenum (mesenterium). Kelenjar inilah yang menghasilkan enzim-enzim pencernaan. Organ pernafasan pada katak yang terpenting adalah paru-paru,yaitu

sepasang kantung yang berwarna putih kemerahan yang terdiri dari gelembunggelembung kecil. Paru-paru terletak disebelah anterior antara hati dengan hati. Organ pernafasan sebelum paru-paru yang terdapat dibagian depan adalah laring

yang bagian ujungnya tampak dari rongga mulut berupa celah.dari celah tersebut udara masuk kesepasang bronkus yang pendek kemudian keparu-paru.

DAFTAR PUSTAKA

Kastowo, Hadi. 1984. Anatomi Kooperative. Alumni. Bandung Kimball, J.W. 1992. Biologi Jilid III. Erlangga. Jakarta Isnaeni, W. 2003. Fisiologi Hewan. Erlangga. Jakarta

BAB I PENDAHULUAN Energi merupakan kebutuhan yang sangat vital dalam kehidupan. Seluruh energi yang dimanfaatkan oleh manusia, tumbuhan dan hewan pada hakikatnya bersumber pada energi matahari. Organisme tertentu dapat hidup tanpa tergantung pada organisme lain, karena dapat melakukan atau mengubah zat- zat anorganik menjadi zat- zat organik. Sehingga organisme ini disebut organisme autotrof. Sedangkan tumbuhan tingkat tinggi yang punya klorofil dan beberapa jasad renik yang berpigmen (misalnya : bakteri belerang) hanya mampu mengubah zat- zat anorganik dengan bantuan sinar matahari, sehingga tumbuh- tumbuhan dan beberapa jasad renik tadi disebut organisme fotoautotrofik. Sedangkan prosesnya disebut fotosintesis. Akan tetapi hewan memerlukan pangan atau energi yang sudah diproses dalam betuk molekul yang sangat kompleks. Praktikum ini bertujuan untuk membuktikan apakah fotosintesis dapat menghasilkan pati atau karbohidrat pada bagian tumbuhan yang mengandung zat hijau daun atau klorofil yang terkena sinar matahari. Manfaat dari praktikum ini adalah dapat mengetahui bahwa tanpa sinar matahari dan tanpa adanya klorofil tidak mungkin terjadi fotosintesis. Tidak akan ada pati dan karbohidrat yang sangat

dibutuhkan makluk hidup.Serta dapat mengetahui bahan yang digunakan dalam fotosintesis.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Fotosintesis Fotosintesis berasal dari kata foto yang artinya cahaya dan sintesis artinya pembentukan. Jadi fotosintesis adalah suatu proses metabolisme dalam tumbuhan yang membentuk karbohidrat dan hasil sampingan berupa oksigen dengan bantuan sinar matahari dan klorofil (Jumin, 1992). Fotosintesis adalah proses pembentukan bahan organik dari bahan anorganik dengan bantuan sinar matahari dan klorifil (Kimbal, 1983). Perubahan sinar matahari menjadi energi kimia (karbohidrat) dan pengubahan energi kimia ini menjadi energi kerja pada perisyiwa pernafasan dalam tumbuhan, hewan atau manusia itu merupakan rangkaian proses kehidupan proses di dunia. Asimilasi zat karbon juga kita kenal adanya asimilasi zat lemas (nitrogen), akan tetapi peristiwa ini dapat berlangsung tanpa pertolongan sinar, dan oleh karena itu asimilasi nitrogen bukanlah suatu fotosintesis, melainkan suatu kemosintesis biasa. Berlangsungnya asimilasi nitrogen itu tidak terbatasi pada bagian - bagian yang berhijau daun, akan tetapi seluruh bagian turut serta dalam proses tersebut (Prawirohartono, 1994). Reaksi yang terjadi dapat ditulis :

6CO2 + 6 H2O

C6H12O6 + 6 O2

( Kimbal, 1983 ).

Terdapat tiga reaksi penting dalam proses fotosintesis yaitu, penguraian air atau fotolistis air, transfer electron atom H yang berasal dari fotolisis air ke NADPH dan APP menjadi NADPH2 dan ATP, reduksi CO2 oleh NADPH2 dengan bantuan ATP untuk karbohidrat (Titrosomo,1983).

2.2 Macam- Macam Proses Fotosintesis Fotosintesis dapat berlangsung terutama dengan karbohidrat dan pigmen yaitu klorofil A yang berwarna hijau kebiru biruan dan klorofil B yang berwarna hijau didalam kloroplas sel hidup. Reaksi Fotosintesis terbagi menjadi dua fase yaitu reaksi terang dan reaksi gelap (Kimbal, 1983). Dalam reaksi terang dibutuhkan sinar matahari,dimana sinar matahari berfungsi memisahkan atom H dan O pada molekul air. Kemudian atom hidrogen dipakai untuk mereduksi CO2 dalam rangkaian reaksi gelap. Reaksi gelap merupakan kelanjutan dari reksi terang. Reaksi gelap berlangsung dalam stroma. Dalam reaksi ini tidak dibutuhkan sinar matahari (Setyati, 1996).

2.3 2.3.1

Faktor yang mempengaruhi Proses Fotosintesis Hal- Hal Penting dalam Fotosintesis

Fotosintesis hanya berlangsung jika ada pigmen hijau yaitu klorofil karena telah dicobakan pada percobaan Ligen House bahwa hanya bagian hijau tumbuhan yang melepaskan oksigen. Kloroplas merupakan sel tumbuhan yang strukturnya pipih dengan panjang rata- rata 7 m dan lebar 3- 4 m .Masing masing dibatasi sepasang membran luas yang halus.Klorofil adalah bahan baku dimana fotosintesis terjadi . Daun merupakan tempat berlangsungnya proses fotosintesis pada tumbuhan. Permukaan atas daun tertutup selapis sel yang menyusun epidermis atas.Daun adalah tempat terjadinya Fotosintesis dimana disitulah muncul klorofil. 2.3.2 Faktor Pembatas Fotosintesis Intensitas cahaya unsur pembatas minimum dimulainya fotosintesis yaitu dengan batas panjang gelombang. Cahaya yang jatuh pada permukaan daun hanya 13% yang digunakan dalam fotosintesis. Suhu juga mempengaruhi proses berlangsungnya fotosintesis karena pada saat musim kemarau daun pada tanaman hanya sedikit untuk mengurangi penguapan. Ketersediaan zat anorganik juga mempengaruhi jalannya fotosintesis karena apabila zat anorganik yang tersedia hanya sedikit maka hasilnya akan sedikit ( Kimbal, 1983).

BAB III MATERI DAN METODE Praktikum Biologi tentang fotosintesis dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 29 Oktober 2009 pukul 15.00 17.00 WIB di Laboratorium Fisiologi dn Biokimia Fakultas Peternakan, Universitas Diponegoro , Semarang.

3.1 Materi Materi yang digunakan dalam praktikum ini adalah daun dari tumbuhan Angsana, alkohol dan JKJ. Alat yang digunakan adalah kertas timah, penjepit kertas, cawan petri, gelas beker, lampu spirtus, pinset, pipet tetes, kaki tiga dan alat tulis. 3.2 Metode Cara kerja dalam praktikum ini antara lain memilih beberapa daun tumbuhan yang terkena sinar matahari langsung dan menutup bagian daun dengan kertas timah dengan cara melipatkan kertas timah pada bagian daun dengan kertas timah dan kemudian menjepitnya. Selang beberapa hari membuka dan merebusnya pada alkohol panas hingga bewarna putih. Mengambil daun tersebut dan menetesinya dengan JKJ hingga rata keseluruhan permukaan daun. Mengamati dan mencatat perubahan yang tejadi.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Pengamatan

Ilustrasi 10 Gambar daun mula - mula

Sumber: Data Primer Praktikum Biologi, 2009 Keterangan : 1. Warna daun hijau Ilustrasi 11 Gambar daun sebelum ditutup

Sumber: Data Primer Praktikum Biologi, 2009

Sumber: Data Primer Praktikum Biologi, 2009 Keterangan : 1. Warna daun hijau

Sumber: Data Primer Praktikum Biologi, 2009

Ilustrasi 12 Gambar daun saat ditutup

Sumber: Data Primer Praktikum Biologi, 2009 Keterangan : 1. Alumunium foil 2. Warna daun hijau

Sumber: Data Primer Praktikum Biologi, 2009

Ilustrasi 13 Gambar daun saat dipanaskan (ditutup)

Sumber: Data Primer Praktikum Biologi, 2009 Keterangan : 1. Daun dipanaskan berwarna putih pucat 2. Alkohol 3. Kaki Tiga 4. Lampu spirtus

Sumber: Data Primer Praktikum Biologi, 2009

Ilustrasi 14 Gambar daun saat dipanaskan (tidak ditutup)

Sumber: Data Primer Praktikum Biologi, 2009 Keterangan : 1. Daun dipanaskan berwarna putih pucat

Sumber: Data Primer Praktikum Biologi, 2009

2. Alkohol 3. Kaki Tiga 4. Lampu spirtus

Ilustrasi 15 Gambar daun saat ditetesi JKJ (ditutup)

Sumber: Data Primer Praktikum Biologi, 2009 Keterangan : 1. Pipet tetes

Sumber: Data Primer Praktikum Biologi, 2009

2. Daun yang telah dipanaskan dengan alkohol 3. Cawan petri

Ilustrasi 16 Gambar daun saat ditetesi JKJ (tidak ditutup)

Sumber: Data Primer Praktikum Biologi, 2009

Sumber: Data Primer Praktikum Biologi, 2009

Keterangan : 1. Pipet tetes 2. Daun yang telah dipanaskan dengan alkohol 3. Cawan petri Ilustrasi 17 Gambar daun setelah ditetesi JKJ (ditutup)

Sumber: Data Primer Praktikum Biologi, 2009 Keterangan :

Sumber: Data Primer Praktikum Biologi, 2009

1. Bagian daun yang ditutupi dengan alumunium foil berwarna putih pucat.

2. Bagian daun yang tidak ditutup dengan alumunium foil berwarna hitam dan terdapat bercak-bercak putih dibagian tengah.

Ilustrasi 18 Gambar daun setelah ditetesi JKJ (tidak ditutup)

Sumber: Data Primer Praktikum Biologi, 2009 Keterangan :

Sumber: Data Primer Praktikum Biologi, 2009

1. Bagian daun yang tidak ditutupi oleh alumunium foil setelah ditetesi Jodium Kalium Jiodida berwarna hitam keseluruhan dan terdapat bercak-bercak putih pada bagian tengah daun. 4.2. Pembahasan

Bagian daun setelah dipanaskan dengan alkohol akan berwarna gelap atau menjadi pucat, serta bagian daun yang sebelumnya ditutup dengan kertas timah. Setelah ditetesi dengan reagen JKJ akan berwarna lebih terang daripada bagian daun yang tidak ditutupi dengan kertas timah. Reaksi terang berlangsung di grana reaksi ini memerlukan energi matahari untuk mengaktifkan klorofil sehingga klorofil ini dapat memberikan elektron. Klorofil yang telah diaktifkan ini memindahkan energinya untuk penguraian air (fotolisa) menjadi H2 dan O2. oksigen dilepas keudara untuk membentuk molekul oksigen bentk gas.Sedangkan hidrogen ditangkap oleh hidrogen yaitu NADP Nicotinamid Adenos Denukleotida Fosfat) menjadi NADPH2 (Kimball, 1983). Penangkapan energi matahari selain untuk fotolisa juga digunakan untuk pengubahan ADP( Adrenosin Difosfat) menjadi ATP ( Adenosin Trifosfat ).Jadi fotosintesis adalah gabungan dari reaksi hill dan fosforilasi pada reaksi terang perubahan energi cahaya ke energi kimia dicapai dengan pembentukan pembawa energi seperti ATP dan NADP (Jumin, 1992). Reaksi gelap berlangsung di stroma pada kloroplas. Reaksi ini juga sering disebut Reaksi Blackman. Reaksi gelap tidak memerlukan cahaya matahari dan sangat tergantung terhadap suhu karena pada reaksi ini terjadi reaksi biokimia yang berlangsung ditentukan oleh kegiatan enzim.Pada prinsipnya reaksi gelap adalah pemindahan hidrogen dari air hasil peristiwa hidrilisis oleh pembawa hidrogen. Ke asam organik berenergi rendah untuk membentuk karbohidrat yang berenergi (

tinggi. Reaksi reduksi ini adalah penambahan elektron dan atom hidrogen karbondioksida yang berakhir dengan terbentuknya unit gila (Titrasomo, 1983). Menurut Prawirohartono (1988), dengan ditutupnya sebagian permukaan daun dengan kertas timah yang tidak tembus cahaya matahari menghasilkan daun dengan warna terang dan biru agak gelap pada bagian lainnya.Hal ini sesuai dengan hasil praktikum yang menunjukan bahwa bagian daun yang ditutupi kertas timah setelah diuji dengan JKJ tampak putih tidak mengalami proses

fotosintesis.Sedangkan bagian yang tidak ditutupi kertas timah setelah diuji dengan JKJ berubah jadi kehitaman. Fotosintesis hanya terjadi apabila pada bagian daun terdapat amilum, pada daun yang ditutupi tidak terdapat amilum dan dipindahkan pada bagian yang terang.

BAB V KESIMPULAN Berdasarkan hasil dan pembahasan praktikum mengenai fotosintesis dapat disimpulkan bahwa fotosintesis merupakan reaksi pembentukan senyawa organik yang berisi karbon dan kaya energi dari karbondioksida dan air dibawah pengaruh cahaya dan bantuan klorofil. Percobaan dengan menggunakan daun yang ditutupi kertas timah tembus cahaya membuktikan bahwa proses fotositesis tidak dapat berlangsung tanpa bantuan sinar matahari. Sehingga kita mengetahui bahwa sinar matahari merupakan energi yang palinga besar dimuka bumi.

DAFTAR PUSTAKA Jumin. 1992. Ekologi Tanaman. Rajawali Press, Jakarta. Kimball, J. W. 1983. Biologi. Erlangga, Jakarta. Prawirohartono, S. 1988. Biologi, Jakarta. Setyati dan Haryadi M. M. 1996. .Pengantar Agronomi.Gramedia, Jakarta. Titrasomo, S. 1983. Biotani Umum 2. Angkasa. Bandung

BAB I PENDAHULUAN Pertumbuhan dan perkembangan merupakan dua istilah yang berbeda makna namun sulit untuk membedakannya. Karena kedua peristiwa biologis tersebut bekerja secara bersamaan didalam tubuh makhluk hidup. Pertumbuhan adalah suatu proses dalam kehidupan yang mengakibatkan perubahan volume atau ukuran organisme yang bersifat irreversibel. Pertambahan ukuran tubuh tanaman termasuk pada pertumbuhan tersebut, yang secara keseluruhan merupakan hasil dari pertumbuhan ukuran bagian-bagian tanaman akibat dari pertambahan jaringan sel pertumbuhan, berfungsi sebagai proses pertumbuhan menggunakan substrat. Perkembangan adalah suatu proses perubahan bentuk atau diferensial sel-sel tubuh untuk membentuk struktur dan fungsi tertentu dan tingkat kedewasaan suatu organisme yang bersifat kuantitatif, misalnya diferensial sel membentuk organ tertentu. Praktikum biologi dengan materi pertumbuhan dan perkembangan bertujuan untuk mengamati pertumbuhan dan perkembangan tanaman jagung dan kacang tanah dari umur 0 - 3 minggu serta menganalisa dan mengetahui faktor-faktor yang

mempengaruhi jalannya pertumbuhan dan perkembangan. Manfaat yang dapat di peroleh dari praktikum ini adalah praktikan dapat mengetahui proses pertumbuhan dan perkembangan, memantau pertumbuhan dan perkembangan tanaman jagung dan kacang tanah. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Pertumbuhan dan Perkembangan Pertumbuhan adalah suatu proses fisiologis dalam organisme yang berupa perubahan bentuk dan ukuran sebagai akibat adanya penebalan, pembesaran dan perbanyakan sel. Sehingga dapat disebut pula bahwa pertumbuhan merupakan perkembangan maju suatu jasad hidup. Diterangkan bahwa kenaikan voleme dapat disebabkan oleh pertambahan jumlah sel dan perbesaran tiap sel (Prawirohartono, 1999). Pertumbuhan makhluk hidup bersel satu ditandai dengan bertambahnya volume sel tubuh, sedangkan pada makhluk bersel banyak ditandai dengan bertambahnya ukuran atau besar sel dan jumlah sel. Perubahan yang tampak tidak hanya pada bertambahnya sel, tetapi juga organnya semakin kompleks. Sel membelah menghasilkan sekumpulan sel, dengan fungsi dan bentuk yang sama, disebut jaringan embrional. Selanjutnya jaringan embrional melakukan

penggandaan diri membentuk berbagai macam jaringan dengan fungsi dan struktur yang berbeda. Kemudian beberapa jaringan membentuk organ yang membentuk sistem organ dan akhirnya sistem organ akan bergantung dan berinteraksi dengan membentuk tubuh. Proses ini terjadi selama massa pertumbuhan (Kimball, 1994).

Perkembangan adalah suatu proses menuju kedewasaan atau tingkatan yang lebih sempurna, dan merupakan proses yang berjalan sejajar dengan pertumbuhan dan tidak dapat diukur sehingga tidak dapat dinyatakan secara kuantitatif (Saktiyono, 1999). Perkembangan tumbuhan meliputi proses kemajuan secara berangsur-angsur dan proses menuju kedewasaan (Cadogen, 1987). 2.2 Macam-Macam Pertumbuhan dan Perkembangan Pertumbuhan biasanya dimulai perlahan-lahan kemudian berlangsung cepat dan akhirnya pelan-pelan kembali atau berhenti sama sekali. Pertumbuhan dan perkembangan ada 3 periode yaitu lamban, eksponen dan perlambatan (Kimball, 1994). Pertumbuhan tanaman dibedakan menjadi dua, yaitu pertumbuhan primer dan pertumbuhan sekunder. Pertumbuhan primer terjadi pada massa embrio, ujung akar dan ujung batang. Embrio tersimpan dan terlindungi didalam biji. Zat makanan yang diperlukan embrio dipenuhi oleh cadangan makanan dalam biji yang berupa kotiledon. Ada 3 macam pertumbuhan primer yaitu: a) Pembelahan sel, terjadi pada daerah titik tumbuh akar dan batang serta pada jaringan kambium atau daerah meristematik. b) Perpanjangan sel, proses ini terjadi pada meristem primer yang mengalami pembelahan secara apikal sehingga mengakibatkan batang dan akar bertambah panjang. Daerah ini terdapat didaerah pembelahan. c)

Deferensiasi sel atau perubahan bentuk sel, meristem diujung batang membentuk daun muda menyelubungi bagian ujung membentuk tunas kuncup. Pada sudut antara daun dan batang tunbuh tunas samping yang akan menjadi cabang (Tjitrosoepomo, 1989).

Pertumbuhan sekunder adalah suatu proses terbentuknya kambium yang terdapat pada pembuluh. Kambium tersebut disebut kambium intravaskuler. Fungsi kambiun adalah membentuk xilem dan floem. Pada perkembangan selanjutnya, parenkim batang serta akar yang terletak antara vasis berubah menjadi intervasis. Akibat terbentuknya kambium intervasis yang bersambung dengan kambium intervaskuler, maka kambium pada batang dikotil berbentuk lingkaran sempurna. Pertumbuhan sekunder ini juga disebabkan oleh aktivitas jaringan kambium, meliputi kambium folagen yang membentuk floem (keluar) dan membentuk feloderm (kedalam). Kambium vasis yang membentuk xilem dan floem sekunder, dan kambium interfasis yang membentuk jari jari empulur (Prawirohartono, 1988). 2.3 Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Dan

Perkembangan Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam tubuh tumbuhan yang berpengaruh terhadap tumbuhan itu sendiri. Faktor ini disebabkan menjadi dua yaitu faktor intrasel dan faktor intersel. Faktor intrasel adalah sifat menurun atau faktor hereditas dan faktor intersel adalah hormon. Sifat menurun hereditas yaitu ukuran dan bentuk tubuh tumbuhan yang banyak dipengaruhi oleh gen yang terdapat didalam setiap kromosom yang ada didalam inti sel. Hormon merupakan substansi kimia yang sangat aktif dan tersusun atas senyawa protein. Faktor lain yang mempengaruhi pertumbuhan yaitu faktor dalam meliputi faktor genetik dan hormonal, faktor luar meliputi nutrisi, cahaya bersifat penghambat pertumbuhan,

suhu dan kelembaban derajat keasaman tanah, gravitasi mempengaruhi arah pertumbuhan (Tjitrosoepomo, 1989). 2.3.1 Faktor Luar (Lingkungan) Faktor lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan antara lain suhu, cahaya, kelembaban, oksigen, air dan makanan (Kimball, 1994). 2.3.1.1 Suhu Tumbuhan dapat tumbuh dengan baik pada suhu optimum, suhu optimum tumbuhan didaerah tropis berkisar antara 220C 370C. Peranan suhu sangat erat hubungannya dengan kerja enzim. Suhu yang terlalu tinggi dan atau rendah akan merusak enzim (Seputro, 1992). 2.3.1.2 Cahaya Cahaya sangat diperlukan tumbuhan untuk proses fotosintesis tetapi cahaya juga dapat menghambat, hal ini terjadi karena cahaya dapat mempengaruhi zat tubuh (auksin) yang terdapat didalam tumbuhan (Seputro, 1992).

2.3.1.3 Kelembaban Menurut Wilson (1962) semakin tinggi kelembaban maka semakin cepat pula pertumbuhannya. Pada umumnya kelembaban sampai pada batas-batas tertentu, bahwa tanah dan udara yang lembab baik dalam proses pertumbuhan

dengan lebih banyak air yang dapat diserap daun lebih sedikit yang dikeluarkan akan menyebabkan sel-sel lebih cepat mencapai ukuran maksimum.

2.3.1.4 Air dan Oksigen Air merupakan kebutuhan utama bagi tumbuhan, tanpa air tumbuhan tidak dapat hidup karena reaksi kimia didalam sel tidak dapat berlangsung, pada tumbuhan, air berfungsi antara lain untuk melakukan fotosintesis, mengaktifkan reaksi enzim dan menjaga kelembaban. Oksigen diperlukan dalam proses respirasi, dari proses ini dihasilkan energi (Saktiyono, 1989).

2.3.1.5 Makanan (Nutrisi) Zat-zat makanan yang diperlukan oleh tumbuhan terdiri dari

karbondioksida, air dan unsur-unsur mineral lain. Air dan mineral diserap oleh tumbuhan dari dalam tanah, sedangkan karbondioksida dari udara sekitarnya. Zatzat makanan menjadi sumber energi dan materi dalam sintesis dalam berbagai komponen sel (Prawirohartono, 1999). 2.3.2 Faktor Dalam Faktor dalam yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan adalah gen dan hormon (Seputro, 1992). 2.3.2.1 Gen

Gen mengandung faktor-faktor pembawa sifat (kromosom) yang diwariskan kepada keturunannya didalam sel. Gen berfungsi sebagai pengontrol reaksi kimia, khususnya sintesis protein. Protein merupakan unsur dasar penyusun tubuh tumbuhan. Jadi gen mempengaruhi pertumbuhan pada tumbuhan melalui sifat yang diturunkan dan sintesis protein yang dikendalikannya (Kimball, 1994).

2.3.2.2 Hormon Hormon merupakan pengatur pertumbuhan yang sangat penting pada tumbuhan, tetapi tanggapan tumbuhan terhadap aktivitas zat tersebut terjadi pada bagian lain. Hormon pertumbuhan antara lain auksin, sitokinin, dan giberelin (Seputro, 1992). Pada dasarnya faktor yang mempengaruhi perkembangan hampir sama dengan faktor yang mempengaruhi pertumbuhan. Diantaranya suhu yang betulbetul optimum. Karena kedua proses tersebut akan terhambat oleh suhu yang sangat rendah dan suhu yang sangat tinggi. Selain itu tanaman memerlukan air dan zat hara untuk pertumbuhan dan perkembangan karena tanpa air dan zat hara yang cukup pertumbuhan dan perkembangan tak akan sempurna. Gen juga merupakan hal yang berpengaruh karena gen merupakan pembawa sifat keturunan (Saktiyono, 1989).

BAB III MATERI DAN METODE Praktikum Biologi yang membahas tentang pertumbuhan dan

perkembangan, dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 4 November 2009 pada pukul 15.00-17.00 WIB di Laboratorium Fisiologi dan Biokimia, Fakultas Peternakan, Universitas Diponegoro, Semarang. 3.1. Materi Praktikum biologi dengan materi pertumbuhan dan perkembangan menggunakan bahan-bahan diantaranya polybag atau pot untuk menempatkan tanah guna menanam bibit (jagung dan kacang tanah), jagung dan kacang tanah yang masing-masing telah berumur 1 minggu, 2 minggu dan 3 minggu. Alat yang digunakan dalam praktikum ini antara lain penggaris yang digunakan untuk mengukur tinggi tanaman jagung dan kacang tanah, jangka sorong yang digunakan untuk mengukur diameter batang tanaman jagung dan kacang tanah, dan alat tulis yang digunakan untuk mencatat tinggi, diameter dan banyaknya daun pada masing-masing tanaman. 3.2. Metode Metode yang dilaksanakan pada praktikum ini adalah mengisi 3 polybag dengan tanah gembur, pada minggu pertama, menanam biji jagung dan kacang

tanah pada polybag 1. Pada minggu kedua menanam biji jagung dan kacang tanah pada polybag 2, dan pada minggu ketiga menanam biji jagung dan kacang tanah pada polybag 3, kemudian melakukan penyiraman setiap hari pada masing-masing polybag dan setelah minggu keempat membongkar semua tanaman dan membersihkannya dari tanah yang menempel pada akar jagung dan kacang tanah. Mengamati dan mengukur tinggi tanaman jagung dan kacang tanah yang berumur satu minggu, dua minggu, dan tiga minggu. Menghitung jumlah daun tanaman jagung dan kacang tanah pada masing-masing umur. Mengukur diameter batang jagung dan kacang tanah pada masing-masing umur dengan menggunakan jangka sorong. Membuat grafik tinggi tanaman, jumlah daun dan diameter batang.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil Pengamatan Dari praktikum pertumbuhan dan perkembangan organisme maka didapatkan hasil sebagai berikut: 4.1.1. Hasil Pengamatan Tanaman Jagung Umur 1 minggu Umur 2 minggu Umur 3 minggu

Ilustrasi 19 Pertumbuhan Tanaman Jagung Keterangan: 1. Daun 2. Batang 3. Kotiledon 4. Akar

Tabel 1. Hasil Pengukuran Pertumbuhan Tanaman Jagung Tanaman Umur 1 minggu 2 minggu 3 munggu Tinggi Batang 7,9 cm 39 cm 66 cm Diameter Batang 0,31 cm 0,33 cm 0,50 cm Jumlah Daun 2 helai 3 helai 6 helai Tinggi Akar 10,2cm 7,3 cm 7,2 cm Diameter Akar 0,26 cm 0,17 cm 0,18 cm

JAGUNG

Sumber: Data Primer Praktikum Biologi 2009

Grafik Tinggi Batang Jagung


tinggi batang (cm) 80 60 40 20 0 1 2 umur (minggu) grafik tinggi jagung 3

Ilustrasi 20 Grafik Pertumbuhan Batang Tanaman Jagung

Jumlah Daun Tanaman Jagung Jumlah Daun (helai) 8 6 4 2 0 1 2 Umur (minggu) Jumlah Daun 3

Ilustrasi 21 Grafik Perkembangan Daun Tanaman Jagung 4.1.2 Hasil Pengamatan Tanaman Kacang Tanah Umur 1 minggu Umur 2 minggu Umur 3 minggu

Ilustrasi 17. Pertumbuhan Tanaman Kacang Tanah

Keterangan:

1. Daun

3. Kotiledon

5. Tunas

2. Batang

4. Akar

Tabel 2. Hasil Pengukuran Pertumbuhan Tanaman Kacang Tanah Tanaman Umur 1 minggu 2 minggu 3 munggu Tinggi Batang 3,4 cm 17,5 cm 50,3 cm Diameter Batang 0,30 cm 0,31 cm 0,33 cm Jumlah Daun 14 helai 16 helai 28 helai Tinggi Akar 4,36cm 3,1 cm 4,57cm Diameter Akar 0,75 cm 0,23 cm 0,29 cm

KACANG TANAH

Sumber: Data Primer Praktikum Biologi 2009.

Tinggi Batang Tanaman Kacang Tanah Tinggi Batang (cm) 60 40 20 0 1 2 Umur (Minggu) Tinggi Batang Tanaman Kacang Tanah 3

Ilustrasi 18. Grafik Pertumbuhan Batang Tanaman Kacang Tanah

Jumlah Daun Tanaman Kacang Tanah Jumlah Daun (helai) 30 20 10 0 1 2 Umur (minggu) Jumlah Daun Tanaman Kacang Tanah 3

Ilustrasi 19. Grafik Perkembangan Daun Tanaman Kacang Tanah 4.2. Pembahasan

Berdasarkan pengamatan praktikum pertumbuhan dan perkembangan, dapat dikatakan bahwa ada peningkatan pertumbuhan tanaman setiap minggunya, baik dimulai dari tinggi tanaman, diameter batang tanaman, jumlah daun, tinggi akar dan diameter akar. Hal ini sesuai dengan pernyataan Seputro (1992) bahwa hal tersebut bila digambarkan dalam bentuk grafik, peningkatan tersebut disebabkan perkembangan dan pertumbuhan dalam kedua tanaman tersebut yang dipengaruhi oleh faktor eksternal dan internal. Tanaman pada minggu pertama masih ditemukan kotiledon yaitu tempat cadangan makanan. Kotiledon tersebut merupakan embrio yang jelas. Ketika biji mulai berkecambah. Jumlah daun pada umur satu minggu masih tampak sedikit dan banyak ditemukan titik tumbuh diantara daun-daun. Dalam bukunya Kimball

(1994) mengatakan bahwa titik tumbuh ini terjadi akibat aktivitas jaringan meristem yang menentukan pertumbuhan. Selanjutnya tidak hanya pada daun saja, tetapi juga

pada meristem primer yang terdapat pada ujung akar dan batang yang mungkin tumbuh tinggi dan panjang. Tanaman pada umur dua minggu tampak bahwasannya kotiledon pada tanaman sudah tidak ada lagi, sehingga zat makanan yang dibutuhkan oleh tumbuhan tidak lagi berada pada kotiledon. Zat makanan sepenuhnya bersumber pada fotosintesis selalu terdapat jaringan meristem pada ujung batang dan akar tanaman yang juga terdapat jaringan meristem sekundernya yang menyebabkan pertumbuhan sekunder., yaitu bertambah besarnya tumbuhan, jumlah daun pada minggu kedua terlihat lebih banyak daripada minggu pertama dan pertambahan baik daun, tinggi tanaman juga bertambah dari minggu pertama. Pertumbuhan dan perkembangan akar tanaman berlangsung baik hal ini disebabkan oleh pengaruh hormon asam absilat, selain itu juga terjadi penebalan diameter batang yang juga merupakan proses perkembangan sel (Saktiyono, 1989). Tanaman pada umur tiga minggu tampak lebih tinggi dibandingkan mingguminggu sebelumnya. Jaringan meristem sekunder lebih berpusat kedalam perkembangan dan pertumbuhan batang. Jumlah daun semakin banyak. Hali ini merupakan produk energi proses pertumbuhan dan pembelahan sel cepat. Hormon juga berperan besar dalam pertumbuhan. Pertumbuhan dan perkembangan dari minggu satu sampai minggu ke tiga dari mulai tinggi, diameter dan jumlah daun selalu tumbuh dengan baik, hal ini dapat dilihat pada grafik (Kimball, 1994).

BAB V KESIMPULAN Berdasarkan hasil praktikum dan sumber maka dapat disimpulkan bahwa setiap makhluk hidup akan mengalami proses tumbuh dan berkembang yang terjadi secara irreversiabel yaitu tidak dapat kembali ke bentuk semula atau asal. Pertumbuhan dan perkembangan tanaman jagung khususnya dari waktu ke waktu terus terjadi kemajuan bila dilihat dari beberapa segi diantaranya dilihat dari tinggi tanaman, diameter batang, jumlah daun, diameter akar, dan tinggi akar. Pertumbuhan dan perkembangan itu juga tidak lepas dari faktor-faktor yang mempengaruhinnya antara lain gen, hormon, suhu, cahaya, kelembaban, serta air dan zat hara.

DAFTAR PUSTAKA

Cadogen, A. 1987. Biology Education. Book Publishing, Jakarta. Kimball, J. W. 1994. Biologi Jilid 2. Erlangga, Jakarta. Prawirohartono, S. 1999. Biologi. Erlangga, Jakarta. Saktiyono. 1989. Biologi Jilid 2. Erlangga, Jakarta. Seputro, D. 1992. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Gramedia, Malang. Tjitrosoepomo, G. 1989. Morfologi Tumbuhan. Gajah Mada University Press, Yogyakarta.

Wilson . 1962. Botany Third Edition. USA.