P. 1
Revisi SPM Kesehatan & Prospek Pengimplementiannhya

Revisi SPM Kesehatan & Prospek Pengimplementiannhya

4.0

|Views: 1,067|Likes:
Dipublikasikan oleh sutopo patriajati
Standar Pelayanan Minimum bidang kesehatan baru saja di revisi melalui Permenkes RI No 741 tahun 2008 dan telah dikeluarkan petunjuk teknisnya melalui SK Menkes RI No 828 th 2008. Apa perbedaan dengan SPM yang lama dan bagaimana prospek penimplementasiannya?
Standar Pelayanan Minimum bidang kesehatan baru saja di revisi melalui Permenkes RI No 741 tahun 2008 dan telah dikeluarkan petunjuk teknisnya melalui SK Menkes RI No 828 th 2008. Apa perbedaan dengan SPM yang lama dan bagaimana prospek penimplementasiannya?

More info:

Published by: sutopo patriajati on Jan 17, 2009
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

11/06/2012

 

Berita Aktual SM Cetak Suara Warga Entertainmen Gaya Kejawen Layar Lelaki Sehat Sport Wanita Surat Pembaca

  Home Berita Utama Semarang & Sekitarnya Lintas Muria Lintas Pantura Lintas Solo Lintas Kedu ­B a n y u m a s Yogyakarta Internasional Ekonomi & Bisnis Wacana Olahraga Hiburan & Seni  Hukum P e remp u a n Ragam Pendidikan Kesehatan Teknologi Kampus Arsip SM Cetak WACANA 17 Januari 2009

Revisi SPM Kesehatan dan Implementasinya
l

Oleh Sutopo Patria Jati

STANDAR  Pelayanan Minimal (SPM) Kesehatan merupakan bentuk konkret janji/utang pemerintah  untuk memenuhi ketentuan tentang jenis dan mutu pelayanan dasar di bidang kesehatan, yang  menjadi urusan wajib daerah dan berhak dinikmati setiap warga negara secara minimal.  Revisi terakhir telah dilakukan Departemen Kesehatan (Depkes), seperti tertuang dalam Peraturan  Menteri Kesehatan (Permenkes) No 741/Tahun 2008. Aturan ini merevisi SPM Kesehatan versi lama,  yang mengacu pada SK Menkes No 1457/Tahun 2003). Adakah perbedaan di antara kedua aturan itu? Perbedaan paling menyolok terletak pada jumlah pelayanan yang menyusut drastis, dari 31 jenis  pelayanan dan 54 indikator, menjadi empat jenis pelayanan dan 18 indikatornya.  Keempat jenis pelayanan yang akhirnya terpilih meliputi: a) pelayanan kesehatan dasar (14  indikator), b) pelayanan kesehatan rujukan (2 indikator), c) penyelidikan epidemiologi dan  penanggulan kejadian luar biasa/KLB (1 indikator), serta d) promosi kesehatan dan pemberdayaan  masyarakat (1 indikator).   Hasli evaluasi Depkes tahun 2007, yang mungkin melandasi pengerutan isi SPM, antara lain karena  jumlah pelayanan selama ini dianggap terlalu banyak, sehingga dikhawatirkan membingungkan.  Indikatornya juga terlalu  ”tinggi ”, sehingga terkesan memberatkan. Bahkan ada jenis pelayanan yang dinilai bukan menjadi prioritas kebutuhan riil di daerah. Sejauhmana kebenaran hasil evaluasi tersebut memang sudah tak relevan lagi untuk dibahas saat ini.  Persoalannya, apakah setelah direvisi, SPM Kesehatan akan lebih mudan diimplementasikan?  Ternyata masih muncul keraguan tentang kesiapan dan keseriusan pemerintah dalam  pengimplementasian SPM Kesehatan di daerah, meskipun isinya sudah direvisi.  Problem Klise Anggaran Salah satu keraguan terbesar manakala harus mengimplementasikan SPM adalah seberapa  mampukah pemerintah mendanai upaya pencapaian target sesuai dengan SPM, khususnya melalui  anggaran kesehatan mereka tiap tahun? Kondisi ini terkait dengan belum teridentifikasikannya secara  pasti dan jelas, berapa sebenarnya unit cost setiap kegiatan yang akan dijadikan patokan dasar untuk  penyusunan pagu indikatif kegiatan yang akan dianggarkan itu.  Kesulitan penghitungan unit cost SPM Kesehatan sebenarnya bisa diminimalisasi, karena pemerintah  telah membuat jabaran langkah kegiatannya sesuai dengan jenis pelayanan masing ­masing yang  diatur dalam Kepmenkes No 828/Tahun 2008 tentang Petunjuk Teknis (Juknis) SPM Bidang  Kesehatan di Kabupaten/Kota.  Namun potensi masalah berikutnya yang dikhawatirkan adalah jika isi yang dijabarkan dalam Juknis  SPM itu ternyata dianggap belum matching dengan nomenklatur yang ada dalam Permendagri No  13/Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah dan perubahannya (Permendagri No  59/Tahun 2007). Aturan ini meliputi 18 nama program kesehatan beserta minimal 170 pos kegiatan yang  ”boleh”  didanai melalui APBD. Belum lagi jika harus dikaitkan dengan kebutuhan untuk sinkroniasi antara isi    SPM Kesehatan dan 34 jenis urusan wajib kesehatan yang secara eksplisit telah diserahkan ke daerah  dan harus bisa dipertanggungjawabkan pemerintah daerah seperti diatur dalam PP No 38/Tahun  2007.  Keenganan dan keterbatasan kemampuan para teknokrat dan politisi di daerah dalam mempelajari  secara cermat seluruh kebutuhan dasar sektor kesehatan di daerah, serta minimnya  inisiatif/keberanian untuk menerjemahkannya dalam format baku sesuai dengan sistem perencanaan  dan penganggaran, kelihatannya menjadi problem klise yang sudah banyak diketahui bahkan diakui  sendiri oleh pemerintah.  Hal ini tentu tidak bisa dilepaskan dari masih kentalnya ego sektoral yang menyebabkan kurangnya  sinkronisasi berbagai agenda dan aturan main baru tersebut, sehingga menyebabkan proses  pengadopsiannya menjadi berkepanjangan dan pada akhirnya malah kian makin membingungkan  para pelaksana di daerah.  Dampaknya kemudian akan muncul kefrustasian yang kian sulit diatasi bahkan oleh pemerintah  daerah sendiri, termasuk saat mereka harus mem ­bridging isi SPM Kesehatan ke dalam sejumlah  aturan penting lainnnya, sesuai dengan sistem perencanaan dan penganggaran yang ada. Padahal  keberhasilan ini jelas sangat menentukan tingkat kemudahan daerah dalam mengimplementasikan  SPM Kesehatan. Prospek ke Depan  Konsekuensinya, ke depan akan tetap muncul fenomena penyusunan anggaran untuk SPM Kesehatan  yang terkesan asal ­asalan. Proyeksi suram tentang kesiapan pengimplementasian SPM Kesehatan di  daerah ini kian diperparah manakala pemerintah dan stakeholders kesehatan lainnya masih belum  bisa mengatasi sejumlah kegagalan yang selama ini terjadi. 

Salah satunya berupa ketidakefektifan pengawalan terhadap tahapan/pendekatan politis dan  partisipatif (bottom up) yang terbukti menjadi titik terlemah dalam proses penyusunan rencana dan  anggaran kesehatan.  Hal ini mungkin bersumber dari ketidakpiawaian ataupun ketidakseriusan yang dimiliki oleh internal  sektor kesehatan itu sendiri untuk melakukan advokasi kepada pihak penentu kebijakan di semua level  pemerintahan. Maka, tidaklah mengherankan mengapa selama ini alokasi anggaran sektor kesehatan  baik secara nasional maupun di daerah masih sangat minim.  Ketersediaan anggaran kesehatan yang masih minim, baik di pusat (sekitar 2 ­3 % dari Produk  Domestik Bruto) maupun di daerah (rata ­rata 5 ­10 % dari APBD), diharapkan bisa segera diubah secara signfikan, manakala proses  ”pencantolan ” isi program/kegiatan dalam SPM Kesehatan ke format baku  sesuai dengan Permendagri No 13/Tahun 2006 bisa berjalan lancar.  Syarat utamanya terletak pada seberapa jauh komitmen politis dari wali kota/bupati dan DPRD untuk  secara sadar dan cerdas berani mengedepankan isu kesehatan bukan hanya sebagai  ”angin surga ’ saat  kampanye, tetapi benar ­benar menjadi salah satu  ”maskot ” utama dari agenda pembangunan di  daerah.  Di sisi lain, peningkatan kapasitas Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) kesehatan  —terutama pada  aspek teknokratis dan aspek partisipatif— tetap menjadi pekerjaan rumah lain yang harus bisa  dituntaskan, apabila daerah ingin lebih berhasil mengimplentasikan SPM Kesehatan secara  konsisten  dan konsekuen. (32) —Dokter Sutopo Patria Jati MM, staf pengajar Fakultas Kesehatan Masyarakat Undip dan pengurus  IAKMI Jateng.   © 2008 suaramerdeka.com. All rights reserved
Groups

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->