Anda di halaman 1dari 22

1

BAB I PENDAHULUAN

Anak sekolah merupakan aset atau modal utama pembangunan di masa depan yang perlu dijaga, ditingkatkan dan dilindungi kesehatannya. Sekolah selain berfungsi sebagai tempat pembelajaran juga dapat menjadi ancaman penularan penyakit ataupun penyebab timbulnya gangguan kesehatan jika tidak dikelola dengan baik. Salah satu issue kesehatan yang menyangkut anak usia sekolah adalah tentang nyeri punggung yang diduga akibat penggunaan tas punggung yang terlalu berat. Tas sekolah menjadi bagian tak terpisahkan dari siswa sekolah. Tas sekolah digunakan sebagai wadah buku dan alat sekolah lainnya untuk dibawa ke sekolah. Kecenderungan saat ini sekolah sering memberi pekerjaan rumah, tugas-tugas, dan kegiatan ekstra kurikuler yang berdampak pada banyaknya material yang harus dibawa siswa sekolah. Sementara, dari berbagai jenis tas yang ada, tas punggung merupakan tas yang banyak digunakan. Sebuah penelitian di Inggris memperlihatkan bahwa berat tas sekolah anak-anak di negara itu berkisar antara 4 kg hingga 7,7 kg, dimana berat ini 1017% dari berat badan anak usia 12-14 tahun. Penelitian terhadap 1403 anak-anak Spanyol usia 12-17 tahun menemukan bahwa 61% anak harus menyandang tas ransel yang beratnya lebih dari 10% berat badan mereka. Dan hal ini menjadikan mereka lebih cenderung mengalami sakit punggung daripada anak-anak yang menyandang tas lebih ringan (Beritasatu, 2012). Beberapa penelitian menunjukkan bahwa terdapat kecenderungan

peningkatan nyeri punggung pada siswa sekolah dan sebagian dari penelitian tersebut menyatakan bahwa penggunaan tas punggung yang tidak benar berhubungan dengan trauma muskuloskeletal. Walaupun masih kontroversial, jenis tas, cara membawanya, dan berapa lama dibawa diduga berkaitan dengan gangguan musculoskeletal akibat tas sekolah. Faktor-faktor lain yang

berhubungan yaitu berat tas, ukuran, bentuk, distribusi berat, dan kondisi fisik individu. Penelitian epidemiologi tentang hubungan tas punggung dan nyeri atau 1
Universitas Indonesia

gangguan punggung pada anak dan remaja dinyatakan oleh sebagian peneliti berhubungan (Negrini, 2002; Negrini, 2007; Szpalski, 2002). Sementara peneliti yang lain tidak menemukan hubungan tersebut (Jones, 2002; Watson, 2003; Grimmer, 2002; Goodgold, 2002). Secara ekperimental, penelitian pada anak dan dewasa menghasilkan hubungan antara berat tas dan sudut inklinasi trunkus jika seseorang membawa tas dengan beban lebih dari 20% dari massa tubuhnya (Li, 2003 & Hong, 2003). Peneliti yang lain juga menemukan suatu perubahan pada trunkusnya ke arah depan pada anak usia 11 sampai dengan 13 jika membawa beban mulai dari 17% dari masa tubuhnya (Brackley, 2004). Sementara hasil dari penelitian-penelitian serta di beberapa negara telah direkomendasikan bahwa berat tas sekolah tidak melebihi 10% dari berat tubuh siswa sekolah (Bauer, 2009; Brackley, 2004; Cardon, 2005; Milanese, 2010). Untuk itu, perlu adanya upaya penyadaran dan pencegahan agar anak usia sekolah tidak mengalami nyeri punggung dan kelelahan pada saat belajar, yaitu dengan cara tidak membiasakan membawa tas punggung yang beratnya melebihi 10-17% dari berat tubuh mereka. Hal tersebut dapat dilakukan melalui program promosi kesehatan. Berbagai program promosi kesehatan ditujukan untuk anak usia sekolah. Promosi kesehatan di sekolah adalah suatu upaya menciptakan sekolah menjadi komunitas yang mampu meningkatkan derajat kesehatannya melalui: a) penciptaan lingkungan sekolah yang sehat; b) pemeliharaan dan pelayanan kesehatan di sekolah; dan c) upaya pendidikan kesehatan yang berkesinambungan. Sekolah menempati kedudukan strategis dalam upaya promosi kesehatan, karena: a) sebagian besar anak-anak usia 5-19 tahun terpajan dengan lembaga pendidikan dalam jangka waktu yang cukup lama (taman kanak-kanak sampai sekolah lanjutan atas); b) sekolah mendukung pertumbuhan dan perkembangan alamiah seorang anak, sebab di sekolah seorang anak bisa mempelajari berbagai pengetahuan, termasuk kesehatan, sebagai bekal kehidupannya kelak. Promosi kesehatan di sekolah membantu meningkatkan kesehatan siswa, guru dan

Universitas Indonesia

karyawan, orang tua serta masyarakat sekitar lingkungan sekolah, sehingga proses belajar mengajar berlangsung lebih produktif. Salah satu studi menunjukkan bahwa upaya promosi kesehatan di suatu sekolah dasar di Distrik Ife, barat laut Nigeria yang dilakukan dalam kurun waktu 2002-2005 berhasil meningkatkan kualitas gedung sekolah, mengurangi kepadatan di kelas, menambah pasokan air bersih, meningkatkan kebersihan dan perawatan sarana sanitasi, kebersihan makanan, dan perilaku siswa dalam membuang sampah (Adegbenro, 2007). Studi lain yang dilakukan Buczynski dan Garcia di Maui (2003) menunjukkan bahwa melibatkan anak sekolah dalam investigasi terhadap ada tidaknya telur nyamuk terbukti meningkatkan pengetahuan dan kepekaan mereka terhadap penyakit yang ditularkan nyamuk, yang mengancam kesehatannya. Studi tentang efek promosi kesehatan terhadap asupan makanan yang dilakukan Shi-Chang dkk di China tahun 2004 juga menunjukkan bahwa pengetahuan anak sekolah tentang pedoman asupan makanan meningkat dari 49,2% sebelum intervensi menjadi 68,0% setelah intervensi (p<0,01), pengetahuan orang tua siswa tentang defisiensi gizi juga meningkat dari 35,0% menjadi 66,2% (p<0,01) dan makanan kaya nutrisi dari 38,8% sebelum intervensi menjadi 66,8% (p<0,01). Demikian pula dengan studi Nathan dkk (2004) yang menunjukkan bahwa anak sekolah adalah saluran promosi kesehatan yang sangat efektif untuk memberantas vektor penyakit di lima negara di kawasan Amerika Tengah dan Selatan.

Universitas Indonesia

BAB II TINJAUAN LITERATUR

2.1 Anak Usia Sekolah Dasar Usia Sekolah Dasar disebut juga periode intelektualitas, atau periode keserasian bersekolah. Pada umur 6-7 tahun seorang anak dianggap sudah matang untuk memasuki sekolah. Periode Sekolah Dasar terdiri dari periode kelas-kelas rendah, dan periode kelas tinggi. Pada kelas-kelas rendah (umur 6-9 tahun), seorang anak biasanya menunjukkan ciri: 1. Adanya korelasi positif yang cukup tinggi antara kondisi fisik dengan prestasi. 2. Tunduk kepada peraturan-peraturan permainan yang ada dalam dunianya. 3. Cenderung memuji diri sendiri. 4. Seringkali membandingkan dirinya dengan temannya. 5. Apabila tidak dapat menyelesaikan suatu soal, maka soal itu dianggap tidak penting. 6. Pada periode ini (utamanya usia 6-8 tahun), seorang anak menghendaki nilai rapor yang baik, tanpa mengingat apakah prestasinya memang pantas diberi nilai baik atau tidak. Adapun pada kelas-kelas yang lebih tinggi (10-12 tahun), seorang anak memiliki ciri : 1. Punya minat terhadap kehidupan praktis sehari-hari yang konkrit. 2. Realistik, ingin tahu dan ingin belajar. 3. Menjelang akhir periode (lulus SD) mulai terlihat minat kepada hal-hal atau mata pelajaran khusus sebagai tanda mulai menonjolnya bakatbakat khusus pada diri seorang anak. 4. Sampai usia 11 tahun, seorang anak membutuhkan guru atau orang dewasa lainnya untuk menyelesaikan tugas dan memenuhi

keinginannya. Selepas usia ini pada umumnya anak mulai mempunyai 4


Universitas Indonesia

keterampilan untuk menyelesaikan tugas-tugasnya tanpa tergantung bantuan orang lain. 5. Anak memandang angka rapor sebagai ukuran yang tepat mengenai prestasi sekolahnya. 6. Mulai senang membentuk kelompok sebaya untuk bermain bersama, sekaligus membuat peraturan sendiri, yang berbeda dari aturan yang sebelumnya (Yusuf, 2003).

2.2 Tas Punggung 2.2.1 Pengertian Ransel atau tas punggung adalah sebuah wadah atau tempat yang digunakan seseorang diatas punggungnya yang dilindungi oleh dua tali yang memanjang vertikal melewati bahu, akan tetapi ada juga pengecualian, contohnya tas ransel yang dibuat untuk benda-benda ringan biasanya hanya membutuhkan satu tali. Tas ransel digunakan untuk memudahkan dalam membawa bawaan yang sesuai dengan kebutuhan. Teknologi yang dipakai diformulasikan khusus sesuai kebutuhan pemakai. Tas ransel biasanya lebih dipilih daripada tas tangan (clutch) untuk mengangkat benda berat, karena terbatasnya muatan untuk mengangkat benda berat untuk waktu yang lama. Tas ransel yang besar dapat mengangkat beban berat hingga 10 kg, biasanya mengandalkan berat yang sebagian besar dari badan mereka, memakai kekuatan pinggul dan meninggalkan kekuatan bahu untuk menstabilkan muatan, dikarenakan pinggul lebih kuat dari bahu, dan menambah keseimbangan (Wikipedia, 2011).

2.2.2

Kerugian Pemakaian Tas Punggung Penggunaan tas ransel dengan beban berlebihan atau tas ransel digunakan hanya bahu sebelah saja akan menyebabkan hal-hal sebagai berikut:

Universitas Indonesia

1. Trauma ringan berulang pada punggung, leher, dan bahu sehingga seringkali anak-anak bahkan dewasa mengeluh nyeri pada bagianbagian tersebut. 2. Terjadi perubahan postur bahu dan leher. 3. Terjadi pergeseran pusat gravitasi tubuh, hal ini menyebabkan tubuh akan cenderung membungkuk ke depan untuk meringankan beban tersebut (Ariandhita, 2011).

2.2.3

Cara Pemakaian Tas Punggung Adapun cara pemakaian tas punggung yaitu : 1. Pakai Kedua Tali Tas Tas ransel dibuat dengan dua tali supaya beban tas bisa terbagi rata. Jadi, sebaiknya kita memakai kedua tali tersebut. Jika hanya memakai satu tali, berarti semua beban bertumpu pada salah satu bagian tubuh saja. Ketika membeli tas punggung, memilih tas punggung yang dilengkapi dengan tali yang lebar dan tidak terlalu ketat di badan kita. Hal ini bisa membantu membagi beban tas, membuat bawaan terasa lebih ringan, dan mencegah tangan menjadi mati rasa karena tali yang terlalu kencang. 2. Batasi Bawaan Menurut para dokter dan terapis fisik, beban tas punggung hanya boleh dibawa dengan beratnya 10% sampai 15% dari berat badan kita. Jadi, jikalau berat badan kita 50 kg, berarti kita sebaiknya hanya membawa beban sekitar 5 kg - 7,5 kg. Batas maksimum ini ditetapkan agar seseorang tidak terkena sakit pinggang, atau pun sakit punggung karena bawaan yang terlalu berat. 3. Mengangkat Ransel Ketika akan mengangkat ransel dari lantai untuk dipakai di bahu, diharapkan harus ekstra hati - hati, hal ini akan mudah melukai punggung kita. Oleh karena itu, sebaiknya ketika akan mengangkat tas dari lantai, jangan melakukannya dengan terburu-buru. Sebaiknya
Universitas Indonesia

dalam posisi berlutut dan menunduk sedikit, baru kemudian mengangkat tas punggung perlahan-lahan. Hal ini dimaksudkan, agar pinggang tidak terkejut dengan menerima tambahan berat dan menghindari cedera atau otot terkilir. 2.2.4 Memilih Tas Punggung untuk Anak Terkadang orang tua dalam memilih tas sekolah anak tidak mempertimbangkan kondisi kesehatan anak tersebut. Berikut ada beberapa tips atau cara untuk memilih tas punggung yang sesuai dengan anak, yaitu: 1. Mempertimbangkan ukurannya, sehingga pas dan cocok dengan tubuh anak. Bila perlu, dicoba terlebih dahulu. 2. Agar distribusi beban merata sehingga tidak hanya terpusat di bahu, memilih tas yang selain memiliki cangklongan di pundak juga memiliki tali di pinggang atau dada. Tali tersebut berfungsi menstabilkan keseimbangan badan, karena tas jenis ini membuat tubuh bagian atas menjadi lebih berat. Hal ini dapat mempengaruhi keseimbangan. Tanpa keseimbangan yang baik, anak lebih mudah jatuh. Berbeda dengan prajurit militer, anak-anak tidak dianjurkan menggunakan tas punggung sambil melakukan kegiatan seperti bermain sepatu roda, skateboard, atau kegiatan lain yang

membutuhkan keseimbangan. 3. Memilih cangklongan yang lebar dan berbantalan lunak. Tali yang sempit akan menekan bahu. Bukan tidak mungkin malah dapat mengganggu kelancaran peredaran darah. Cangklongan sebaiknya juga dapat diatur sesuai ukuran tubuh si anak. Jika terlalu longgar, akan menyebabkan tas punggung bergoyang-goyang atau berpindah posisi. Selain tidak nyaman, hal tersebut dapat memunculkan sakit otot leher dan punggung. Sebaliknya, tali bahu yang terlalu kencang dapat membuat sesak napas. Jarak antara tali sebaiknya tidak terlalu sempit sehingga seakan menjepit leher. Namun, terlalu lebar pun akan membebani tulang sendi lengan.

Universitas Indonesia

4. Memilih tas yang berbahan ringan. Pada bagian tas yang menempel di punggung sebaiknya dilengkapi bantalan. Bantalan tersebut berfungsi untuk mencegah benda-benda keras dan tajam menghantam atau menusuk punggung. Dan juga memilih bahan tas yang mudah dibersihkan. Meskipun ringan, tas punggung harus cukup kuat. Untuk itu perhatikan kekuatan tali, bahan, maupun jahitannya. 5. Tas punggung harus memiliki beberapa kantung (kompartemen) terpisah. Kompartemen yang terpisah-pisah membuat barang mudah diatur secara menyebar. Ada sebahagian tas yang kompartemennya cukup lengkap. Mulai dari bagian untuk buku, jaring bertali untuk botol minuman, kantung-kantung kecil untuk dompet uang koin, gantungan kunci, bahkan untuk pemutar CD (Surono, 2011).

2.2.5

Mengisi Tas Punggung Anak Penelitian telah menunjukkan bahwa sakit leher atau sakit tulang punggung pada anak-anak kebanyakan disebabkan oleh tas punggung yang salah pemakaian. Dengan mengikuti langkah di bawah ini diharapkan dapat mengurangi masalah tersebut: 1. Tidak membiarkan anak membawa beban lebih dari 15% dari berat tubuhnya, atau lebih dari 15 pon. 2. Memastikan barang yang paling berat berada paling dekat dengan punggung anak. 3. Membuat tetap bersih, mengeluarkan barang-barang yang tidak diperlukan selain barang untuk sekolah agar mengurangi bebannya. 4. Menggunakan kedua tali bahunya, hal ini untuk menyesuaikan tali dengan baik dan nyaman agar tidak berputar atau membelit ataupun bengkok. 5. Menggunakan tali pinggangnya, mengurangi beban pada bahunya dengan mengikatkan tali pada pinggangnya.

Universitas Indonesia

6. Meluruskan tas punggungnya, memastikan tas punggungnya berada pada bagian tengah punggung, dan jangan membiarkan tasnya berada di bawah garis pinggang. 7. Menggunakan roda terutama jika membawa beban yang sangat berat.

2.3 Model dan Teori Promosi dan Proteksi Kesehatan Berbagai model dan teori dapat digunakan sebagai kerangka kerja dalam mengintervensi perubahan perilaku di dalam promosi kesehatan, tergantung pada dasar pemikiran dan tujuan yang ingin dicapai. 2.3.1 Theory of Reasoned Action (TRA) and Theory of Planned Behaviors (TPB) Teori yang dicetuskan oleh Ajzen dan Fishbein ini mendasarkan teorinya pada sikap dan norma subyektif, dimana keduanya merupakan faktor internal yang penting di dalam memprediksi perilaku. Determinan pertama yang dimaksud adalah sikap terhadap perilaku yang merupakan keyakinan terhadap konsekuensi dari perilaku, dapat positif ataupun negatif. Sedangkan determinan kedua yaitu norma subyektif yang merupakan motivasi individu, terkait dengan harapan mereka. Sikap dan norma subyektif bersifat sangat bervariasi tergantung pada target perilaku, konteks, dan populasi yang menjadi obyek studi. Target intervensi dari teori ini adalah adanya perubahan sikap yang diarahkan pada keyakinan tentang hasil dan nilai terkait hasil atau perubahan norma subyektif dengan fokus terhadap persepsi terkait norma subyektif yang diharapkan dan motivasi untuk terlibat terkait apa yang orang lain. Kelemahan teori ini yaitu bahwa perilaku mungkin tidak secara utuh berada di bawah kontrol individu. Maka selanjutnya ditambahkan sati variabel lagi, yaitu persepsi terhadap kontrol perilaku. Dan untuk selanjutnya teori ini disebut TPB (Sahar, 2012). 2.3.2 Social Cognitive Theory (SCT) SCT seringkali digunakan sebagai kerangka kerja untuk mendesain intervensi perubahan perilaku. Perilaku manusia menjelaskan hubungan
Universitas Indonesia

10

timbal balik antara kognitif, perilaku, dan kejadian-kejadian di lingkungan. Dengan kata lain, apa yang kita fikirkan akan berpengaruh terhadap apa yang kita lakukan, dan sebaliknya, lingkungan juga mempengaruhi apa yang kita fikirkan dan lakukan. Menurut SCT, kumpulan persepsi yang terkait determinan efficacy merupakan faktor predisposisi untuk berperilaku tertentu. Yang dimaksud dengan persepsi self-efficacy (keberhasilan diri) adalah pandangan terhadap kemampuan pribadi untuk keberhasilan menampilkan perilaku khusus (Sahar, 2012). 2.3.3 The Trans Theoretical Model (TTM) Pada awal 1980-an James Prochaska dan Carlo DiClemente (dikutip dari http://www.uri.edu) memperkenalkan konsep SCM (Stage of Change Model) untuk memahami perubahan perilaku. Selanjutnya konsep ini dikembangkan oleh beberapa pakar seperti Velicer, Fava, Norman, dan Redding (1998), menjadi konsep yang lebih spesifik diteliti dan menjadi kerangka dalam menghentikan kebiasaan merokok (smoking cessation), konsep itu dinamakan Transtheoretical Model karena merupakan penggabungan dari konsep yang diteliti oleh masing masing dari ke-4 pakar namun dispesifikkan untuk smoking cessation (Pitaloka, 2006). James Prochaska dan Carlo DiClemente melihat perubahan perilaku sebagai proses yang dilakukan melalui lima tahap, yaitu prakontemplasi, kontemplasi, persiapan, tindakan, dan pemeliharaan. Sebagaimana dijelaskan dalam tabel berikut: Tahapan Perubahan Pre-contemplation Karakteristik Belum mempertimbangkan untuk berubah. Menikmati ketidaktahuan: Ignorance is bliss " Contemplation Mengalami ambivalensi untuk berubah atau tetap pada perilakunya. Netral: "Sitting on the fence"

Universitas Indonesia

11

Belum mempertimbangkan untuk berubah dalam waktu dekat Preparation Beberapa pengalaman untuk berubah. Mencoba berubah. Merencanakan untuk beraksi dalam waktu dekat Action Menjalankan perilaku barunya dalam waktu tertentu (3-6 bulan) Maintenance Melanjutkan komitmennya untuk mempertahankan perilaku baru (> 6 bulan) Relapse Meneruskan perilaku yang dulu: "Fall from grace" (Pitaloka, 2006) 2.3.4 The Interaction Model of Clients Health Behaviors (IMCHB) Model ini dikenalkan oleh Deci and Ryan. Model ini berfokus pada karakteristik klien dan faktor eksternal klien untuk memberikan penjelasan yang menyeluruh terhadap kegiatan yang secara langsung menurunkan risiko dan promosi kesehatan. Cox mengindikasikan bahwa motivasi dari dalam, melakukan sesuai untuk diri sendiri dikarenakan minat atau pikiran positif atau respon emosi merupakan sumber motivasi untuk berperilaku sehat. Elemen kritis dari hasil kesehatan adalah penggunaan layanan kesehatan, indikator klinikal kesehatan, keparahan masalah kesehatan, tindakan keperawatan yang dianjurkan dan kepuasan terhadap layanan (Sahar, 2012). 2.3.5 Relapse Prevention (RP) Teori ini dikemukan oleh Marlatt dan Gordon utk perilaku adiktif (ketergantungan), misalnya ketergantungan terhadap alkohol, rokok, kegemukan, dan ketergantungan obat.

Universitas Indonesia

12

Teori pencegahan kekambuhan, artinya memberikan ruang bagi klien untuk kembali ke perilaku positif melalui peningkatan respons koping dengan latihan. Menurut Marlatt & Gordon pengalaman pribadi dapat meningkatkan self-efficacy dan kontrol personal. Tiga kategori kejadian yang berhubungan dengan tingginya angka kekambuhan yaitu tingkat emosi negatif, situasi sosial, dan hasrat fisik. Strategi pencegahan kekambuhan yaitu penggunaan respons koping, selfmonitoring, latihan relaksasi, dan latihan kekambuhan (Sahar, 2012). 2.3.6 PRECED-PROCEED Model Model ini dikembangkan oleh Green dan Kreuter (1991) pada tahun 1980, merupakan model yang paling cocok diterapkan dalam perencanaan dan evaluasi promosi kesehatan, yang dikenal dengan model PRECED (Predisposing, Reinforcing and Enabling Causes In Educational Diagnosis and Evaluation). PRECEDE merupakan kerangka untuk membantu perencanaan mengenal masalah, mulai dari kebutuhan pendidikan sampai pengembangan program. Pada tahun 1991 model ini disempurnakan menjadi model PRECEDE-PROCEDE. PROCEEDE merupakan singkatan dari Policy, Regulatory, and Organizational Contructs in Educational and Environmental

Development. Dalam aplikasinya model ini dilakukan bersama-sama dalam proses perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. PRECEDE digunakan pada fase diagnosis masalah, penetapan prioritas dan tujuan program. Sedangkan PROCEEDE digunakan untuk menetapkan sasaran dan kriteria kebijakan, pelaksanaan, dan evaluasi. Model ini mempunyai langkah-langkah: (1) Pengkajian Sosial, (2) Pengkajian Epidemiologi, (3) Pengkajian Perilaku dan Lingkungan, (4) Pengkajian Pendidikan dan Ekologi, (5) Pengkajian Administrasi dan Kebijakan, (6) Implementasi, (7) Evaluasi Proses, (8) Evaluasi Pengaruh Kuat (Impact), (9) Evaluasi Hasil (Allender, 2010; Ervin, 2002).

Universitas Indonesia

13

2.4 Konsep Promosi Kesehatan di Sekolah Dasar Kesehatan sekolah secara global dicanangkan pertama kali oleh WHO pada 1995. Kegiatan ini dirancang untuk memperbaiki kesehatan siswa, warga sekolah dan keluarganya, melalui sekolah dengan menggunakan organisasi sekolah untuk memobilisasi dan memperkuat kegiatan promosi dan pendidikan kesehatan di tingkat lokal, nasional, regional dan global. Tujuan dari pencanangan ini adalah untuk meningkatkan jumlah sekolah yang melaksanakan program promosi kesehatan. WHO mencanangkan lima strategi promosi kesehatan di sekolah, yang terdiri dari: 1. Advokasi Kesuksesan program promosi kesehatan di sekolah sangat ditentukan oleh dukungan dari berbagai pihak. Guna mendapat dukungan tersebut, perlu ada upaya-upaya untuk menyadarkan berbagai pihak, seperti sektor terkait, donor, LSM nasional dan internasional, sehingga terjalin kemitraan untuk mengembangkan program promosi kesehatan di sekolah. 2. Kerjasama Kerjasama dengan berbagai pihak sangat bermanfaat bagi penanggungjawab program kesehatan di sekolah karena mereka dapat belajar dan berbagi pengalaman tentang cara menggunakan berbagai sumber daya yang ada, memaksimalkan investasi dalam pendidikan dan pemanfaatan sekolah untuk melakukan promosi kesehatan. 3. Penguatan kapasitas nasional Berbagai sektor yang terkait harus memberikan dukungan untuk memperkuat program promosi kesehatan di sekolah. Salah satu bentuk dukungan yang diberikan adalah pengembangan kebijakan dan strategi nasional, menyusun rencana kegiatan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi program promosi kesehatan di sekolah.

Universitas Indonesia

14

4. Penelitian Penelitian merupakan salah satu komponen dari pengembangan dan penilaian program promosi kesehatan di sekolah yang akan dilakukan dan dikembangkan. Bagi sektor terkait penelitian merupakan akses untuk mengembangkan program promosi kesehatan di sekolah secara nasional, disamping untuk melakukan evaluasi peningkatan perilaku hidup sehat siswa sekolah. WHO telah mengembangkan Rapid Assessment and Planning Process (RAPP) untuk membantu melakukan penilaian kapasitas untuk pengembangan program promosi kesehatan di sekolah. 5. Kemitraan WHO menganjurkan untuk menjalin kemitraan dengan berbagai organisasi pemerintah dan swasta untuk: a. Revitalisasi dan mendapatkan dukungan dari berbagai pihak untuk meningkatkan status kesehatan melalui sekolah b. Mengembangkan penelitian dan berbagi pengalaman dari berbagai negara maupun lokal tentang upaya-upaya yang telah dilakukan sekolah untuk mengembangkan promosi kesehatan di sekolah c. Mendorong mobilisasi guna meningkatkan kesehatan di sekolah.

Kelima strategi promosi kesehatan digunakan untuk melengkapi keenam elemen dalam rangka mewujudkan sekolah sehat. Elemen tersebut yaitu: a. Pelibatan staf kesehatan dan pendidikan, guru, orang tua, tokoh- tokoh masyarakat dalam upaya promosi kesehatan di sekolah b. Penjaminan lingkungan yang sehat dan aman, baik fisik maupun psikososial c. Penyelenggaraan pendidikan kesehatan berbasis keterampilan yang efektif dan "Life skill" d. Penyediaan akses terhadap pelayanan kesehatan e. Penerapan kebijakan sekolah dan aktivitas yang menunjang kesehatan f. Upaya peningkatan kesehatan masyarakat secara menyeluruh
Universitas Indonesia

15

BAB III METODOLOGI PENGUMPULAN DATA

3.1 Metode Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan di Sekolah Dasar Islam Terpadu Lukmanul Hakim Kota Yogyakarta. Pemilihan sekolah secara purposive sampling kemudian sampel diambil seluruh siswa kelas IV, V, dan VI. Ukuran-ukuran yang dinilai pada sampel adalah berat tas yang dibawa, jenis tas, berat badan, dan nyeri yang dirasakan. Pengukuran nyeri ditentukan dengan kuesioner apakah mengalami nyeri punggung (daerah tulang belakang) dalam seminggu terakhir yang bukan karena cidera traumatik (jatuh, terbentur benda keras, dan sejenisnya).

3.2 Instrumen Pengkajian Instrumen yang digunakan dalam pengkajian ini yaitu timbangan untuk mengukur berat badab dan berat tas yang dibawa, dan juga kuesioner untuk menentukan nyeri punggung yang dialami siswa sekolah dasar. Kuesioner memuat tentang lokasi dan frekuensi nyeri yang dirasakan.

3.3 Hasil Pengkajian Jumlah siswa yang membawa tas punggung adalah jumlah yang dominan dipakai saat ke sekolah. Sebanyak 247 siswa (77,9%) membawa tas punggung, diikuti dengan tas bahu 66 siswa (20,8%), sedangkan yang menggunakan tas jinjing 1 siswa (0,3%), dan lain-lain misalnya tas map, 3 siswa (0,9%). Cara membawa tas yang tersering dilakukan subjek adalah di punggung yaitu sebanyak 234 (73,8%). Masih terdapat 65 orang siswa (20,5%) yang membawa tas dengan berat lebih dari 10% berat badan.

15

Universitas Indonesia

16

Tabel 3.1. Subyek Berdasarkan Jenis Tas dan Cara Membawa Tas (n: 317)
Jenis Tas Tas punggung Tas bahu Tas jinjing Jenis lain Jumlah N 247 66 1 3 317 % 77,9 20,9 0,3 0,9 100 Cara Membawa Tas Di punggung Di punggung Menyilang bahu Dijinjing Jumlah N 234 44 38 1 317 % 73,8 13,9 12 0,3 100

Sementara prevalensi nyeri dijumpai pada 131 siswa (41,3%) dan tidak nyeri 186 siswa (58,7%). Keluhan nyeri kemudian dikelompokkan menjadi nyeri spinal (leher, punggung atas, pinggang) dan non spinal (bahu, siku, pergelangan tangan dan tangan, bokong-pinggul-paha, lutut, kaki dan pergelangan kaki). Frekuensi nyeri punggung dijumpai lebih banyak yaitu 96 siswa (73,3%) dan nyeri di luar itu dijumpai pada 35 siswa (26,7%). Nyeri pinggang dijumpai lebih banyak yaitu 39 siswa (29,8%) diikuti nyeri leher 30 siswa (22,9%) dan nyeri punggung atas 27 siswa (20,6%). Tabel 3.2. Lokasi dan Frekuensi Nyeri
Lokasi Nyeri Nyeri Spinal Leher Punggung atas Pinggang Jumlah Nyeri Non Spinal Bahu Siku Pergelangan tangan+tangan Bokong, pinggul, paha Lutut Pergelangan kaki+kaki Jumlah N 30 27 39 96 17 4 3 8 1 2 35 % 22,9 20,6 29,8 73,3 12,9 3,1 2,3 6,1 0,8 1,5 26,7

Universitas Indonesia

17

BAB 1V PERENCANAAN PROMOSI KESEHATAN

Perencanaan promosi kesehatan adalah proses diagnosis penyebab masalah, penetapan prioritas masalah dan alokasi sumber daya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Oleh sebab itu, perencanaan promosi kesehatan di sekolah harus dibuat secara bersama-sama oleh pihak sekolah, masyarakat di sekitar sekolah, profesional kesehatan, dan pihak terkait sehingga dihasilkan program promosi kesehatan di sekolah yang efektif dalam biaya (cost effective) dan berkesinambungan.

4.1 Analisis Situasi Analisis situasi digunakan untuk menentukan diagnosis masalah dan menetapkan prioritas masalah. Model pendekatan yang digunakan dalam membuat perencanaan dan evaluasi kesehatan adalah model PRECEDEPROCEED. PRECEDE (Predisposing, Reinforcing and Enabling Causes in Educational Diagnosis and Evaluation) digunakan pada fase diagnosis masalah kesehatan, penetapan prioritas masalah dan tujuan program. PROCEED (Policy, Regulatory, Organizational Construct in Educational and Environmental Development) digunakan untuk menetapkansasaran dan kriteria kebijakan serta pelaksanaan dan evaluasi. Berikut gambaran dari kerangka PRECEDE-PROCEED:

16

Universitas Indonesia

18

Hasil pengkajian menggambarkan bahwa tas punggung paling banyak dipakai anak sekolah dasar dengan jumlah yang membawa tas dengan berat lebih dari 10% berat badan cukup tinggi yaitu 20,5%. Data frekuensi nyeri punggung merupakan nyeri yang dominan dialami anak sekolah dasar. Banyak faktor risiko yang menyebabkan nyeri punggung pada anak sekolah antara lain faktor fisik, mekanik, dan psikososial.

4.2 Pengembangan Rencana Kegiatan Promosi Kesehatan 4.2.1 Tujuan Promosi Kesehatan

4.2.1.1 Tujuan Umum Prevalensi nyeri punggung pada siswa sekolah dasar menurun 90% setelah program berjalan 6 bulan. 4.2.1.2 Tujuan Khusus 1. Pengetahuan dan sikap siswa, warga, dan masyarakat sekolah serta masyarakat di sekitarnya tentang tas punggung, pemilihan dan cara pemakaiannya meningkat 50% setelah program berjalan 2 bulan. 2. Kebiasaan siswa untuk membawa tas punggung dengan benar secara berat dan posisi meningkat 75% setelah program berjalan 4 bulan.

4.2.2

Sasaran Promosi Kesehatan 1. 2. Sasaran langsung (primer) : siswa sekolah. Sasaran sekunder : warga sekolah (guru, kepala sekolah

dan staf sekolah lainnya), masyarakat sekolah (pengelola kantin dan penjaga sekolah) dan masyarakat di sekitarnya, termasuk orang tua siswa. 3. Sasaran tersier pelaksana UKS : Komite Sekolah, Tim Pembina dan

Universitas Indonesia

19

4.2.3

Metode Promosi Kesehatan Metode yang akan digunakan adalah penyuluhan, pemasangan poster, spanduk serta pemutaran video. Penyuluhan, poster, dan spanduk digunakan dalam rangka memberikan pendidikan kesehatan, sedangkan video diberikan untuk lebih dapat memberikan dampak optimal dalam mengubah sikap dan perilaku.

4.2.4

Media Promosi Kesehatan Teori pendidikan menyebutkan belajar yang paling baik dan mudah adalah dengan menggunakan panca indera sebanyak mungkin, yang untuk maksud tersebut hampir semua program pendidikan kesehatan menggunakan berbagai media. Dengan menyesuaikan dengan sasaran pendidikan, aspek yang ingin dicapai, metode yang digunakan dan sumberdaya yang ada, maka jenis media yang digunakan yaitu video, poster, dan spanduk

4.2.5
No. 1. 2. 3. 4. 5 6.

Monitoring, Evaluasi, dan Indikator Program Promosi Kesehatan


Kegiatan Waktu (Bulan) 1 2 3 4 5 6 PJ

Penyuluhan Pemutaran video Pemasangan spanduk Pemasangan poster Pemasangan banner Evaluasi

Indikator Keberhasilan: 1. Pengetahuan dan sikap siswa, warga, dan masyarakat sekolah serta masyarakat di sekitarnya tentang tas punggung, pemilihan dan cara pemakaiannya meningkat 50% setelah program berjalan 3 bulan.
Universitas Indonesia

20

2. Kebiasaan siswa untuk membawa tas punggung dengan benar secara berat dan posisi meningkat 75% setelah program berjalan 4 bulan.

Universitas Indonesia

21

DAFTAR PUSTAKA

Allender, J.A., Rector,C., Warner, K.D. (2010). Community health nursing : Promoting and protecting the publics health (7th ed). Philadelphia: Lippincott. Bauer DH, Freivalds A. Backpack load limit recommendation for middle school students based on physiological and psychophysical measurements. Work. 2009;32(3):339-50. Brackley HM, Stevenson JM. Are children's backpack weight limits enough? A critical review of the relevant literature. Spine (Phila Pa 1976). 2004 Oct 1;29(19):2184-90. Cardon GM, Balague F. Are children's backpack weight limits enough? A critical review of the relevant literature. Spine (Phila Pa 1976). 2005 May 1;30(9):1106; author reply -7. Ervin, Naomi,E. (2002) . Advanced Community Health Nursing Practice:Population Focused Care. New Jersey: Prentice Hall Goodgold S, Corcoran M, Gamache D, Gillis J, Guerin J, Coyle JQ. Backpack Use in Children. Pediatr Phys Ther. 2002 Fall;14(3):122-31. Green, Kreuter, Deeds & Partridge. (1980). Health Education Planning: A Diagnosis Approach. California: Mayfield Publishing Company, Grimmer K, Dansie B, Milanese S, Pirunsan U, Trott P. Adolescent standing postural response to backpack loads: a randomised controlled experimental study. BMC Musculoskelet Disord. 2002 Apr 17;3:10. Hong Y, Cheung CK. Gait and posture responses to backpack load during level walking in children. Gait Posture. 2003 Feb;17(1):28-33.
Universitas Indonesia

22

Jones GT, Macfarlane GJ. Predicting persistent low back pain in schoolchildren: a prospective cohort study. Arthritis Rheum. 2009 Oct 15;61(10):1359-66. Li JX, Hong Y, Robinson PD. The effect of load carriage on movement kinematics and respiratory parameters in children during walking. Eur J Appl Physiol. 2003 Sep;90(1-2):35-43. Milanese S, Grimmer-Somers K. Backpack weight and postural angles in preadolescent children. Indian Pediatr. 2010 Jul 7;47(7):571-2. Negrini S, Negrini A. Postural effects of symmetrical and asymmetrical loads on the spines of schoolchildren. Scoliosis. 2007;2:8. Negrini S, R. C. Backpacks on! Schoolchildren's perceptions of load, associations with back pain and factors determining the load. Spine (Phila Pa 1976) 2002 Jan 15;27(2):187-95. 2002. Pitaloka, RR. Ardiningtiyas, M.Psi. (2006). http://www.e-psikologi.com/ sosialbudaya/penulis.htm. Pusat Promosi Kesehatan Depkes RI. (2008). Promosi Kesehatan di Sekolah. http://www.promkes-depkes.go.id Szpalski M, Gunzburg R, Balague F, Nordin M, Melot C. A 2-year prospective longitudinal study on low back pain in primary school children. Eur Spine J. 2002 Oct;11(5):459-64. Watson KD, Papageorgiou AC, Jones GT, Taylor S, Symmons DP, Silman AJ, et al. Low back pain in schoolchildren: the role of mechanical and sychosocial factors. Arch Dis Child. 2003 Jan;88(1):12-7.

Universitas Indonesia