Anda di halaman 1dari 4

KONSISTENSI NORMAL 1.

Teori Percobaan ini dilakukan untuk menentukan jumlah air yg dibutuhkan pada penyiapan pasta semen untuk pengujian. Le Chatelier adalah yang pertama mengobsrevasi dan menemukan bahwa hidrasi dari semen secara kimiawi menghasilkan produk yang sama dengan hidrasi dari masing-masing senyawa. Kandungan kalsium silikat pada semen merupakan senyawa cementious yang utama dalam semen, dan perilaku fisik dari kedua senyawa ini ketika berhidrasi sendiri adalah serupa dengan semen ketika mengalami hidrasi4. Produk dari semen yang telah terhidrasi ini memiliki solubility Istilah setting digunakan untuk mendefinisikan pengerasan dari pasta semen, atau dalam pengertiannya, setting merupakan proses perubahan dari fluida menjadi solid. Walaupun ketika proses setting pasta ini juga mengalami peningkatan kekuatan, perlu dipisahkan pengertian setting dengan hardening, di mana hardening merupakan kondisi peningkatan kekuatan pasta semen. Setting disebabkan oleh proses bertahap dari hidrasi, yang pertama adalah reaksi dari C3A dan C3S. Namun, adanya penambahan gypsum menghambat hidrasi dari kalsium alumina sehingga C3S akan mengalami hidrasi terlebih dahulu. Hal ini penting untuk dilakukan karena apabila C3A berhidrasi terlebih dahulu maka akan terbentuk suatu kalsium alumina yang bersifat porous. Hal ini mengakibatkan kandungan semen lainnya akan terhidrasi dalam kondisi porous dan selanjutnya akan berakibat signifikan pada kekuatan pasta semen. Proses setting bergantung pada temperatur sekitar. Waktu setting dari semen akan berkurang seiring dengan peningkatan temperatur. temperatur melebihi 30, akan terjadi efek sebaliknya. Pada temperatur rendah, proses setting akan terhambat. Dalam setting, kondisi false set perlu dihindari, yaitu kondisi dimana semen mengeras secara cepat dalam beberapa menit setelah ditambahkan air. Beberapa penyebab dari false set diperkirakan berasal dari dehidrasi dari gypsum ketika diberikan pada clinker yang temperaturnya terlalu tinggi : hemyhydrate (CaSO4. H2O) atau anyhydrate (CaSO4) akan terbentuk dan ketika semen ditambahkan air, maka ketika hidrasi berlangsung, gypsum mendominasi reaksi yang mengakibatkan pada pengerasan semen. Selain itu, false set dapat juga terjadi akibat pengaruh alkali dalam semen, dimana pada saat penyimpanan semen, dapat terjadi karbonasi pada semen. Alkali karbonat ini kemudian akan bereaksi dengan Ca(OH)2 dan hal ini akan menyebabkan pasta dengan cepat mengeras. Penyebab lain dari false set adalah akibat aktivitas C3S ketika semen berada pada lingkungan dengan kelembaban tinggi. Air akan terserap dalam semen dan semen ini kemudian akan bereaksi secara cepat ketika ditambahkan dengan air, sehingga akan menghasilkan proses hidrasi yang terlampau cepat. tingkat hidrasi semen bergantung pada kehalusan semen, dan untuk peningkatan kekuatan yang cepat, permukaan semen yang halus sangat diperlukan. Jumlah air yang dibutuhkan dari pasta yang terkonsistensi adalah lebih banyak pada semen yang permukaannya halus ini, namun sebaliknya, semakin halus semen, semakin meningkatkan workability pada campuran bet Metode uji ini untuk menentukan tingkat perkembangan cepat kaku dari pasta semen atau untuk menetapkan semen tersebut memenuhi batas spesifikasi cepat kaku atau tidak. Semen dengan pengikatan semu yang sangat cepat biasanya memerlukan air sedikit lebih banyak untuk menghasilkan konsistensi yang sama, yang dapat menghasilkan kuat tekan sedikit lebih rendah dan memperbesar penyusutan. Pengikatan cepat akan menyebabkan kesulitan dalam penanganan dan pengecoran beton yang biasanya akan menyebabkan semen gagal memenuhi persyaratan waktu pengikatan.

2 aplikasi konsistensi normal Pengujian konsintensi normal dengan flow table sesuai ASTM C-305-82 yang digunakan untuk menentukan jumlah air yang optimum agar menghasilkan mortar yang mudah dikerjakan. Jumlah air yang digunakan untuk campuran mortar erat sekali hubungannya dengan sifat kemudahan dan kemudahan untuk dikerjakan. Karena konsistensi/kelecakan mortar tergantung dari kadar air yang terkandung dalam mortar itu sendiri. Mortar dengan bahan dan campuran yang berbeda akan membutuhkan jumlah air yang berlainan untuk mencapai sifat kelecakan (konsistensi normal). Untuk mengetahui jumlah air yang dibutuhkan untuk mencapai konsistensi normal dalam suatu mortar, perlu dilakukan suatu pengujian.

BERAT JENIS SEMEN ( penjelasan ) 2. Berat Jenis dan Berat Isi Berat jenis dari bubuk semen pada umumnya berkisar antara 3,10 sampai 3,30. biasanya rata-rata berat jenis ditentukan 3,15. berat jenis semen penting untuk diketahui, karena semen portland yang tidak sempurna pembakarannya dan atau dicampur dengan bubuk batuan lainnya, berat jenisnya akan terlihat lebih rendah daripada angka tersebut. Untuk mengukur baik atau tidaknya atau tercampur atau tidaknya suatu bubuk semen dengan bahan lain, dipakai angka berat jenis 3,00. dengan demikian jika kita menguji semen dan hasilnya menunjukkan bahwa berat jenisnya kurang dari 3,00 kemungkinan semen itu tercampur dengan bahan lain (tidak murni) atau sebagian semen itu telah mengeras. Berat isi (berat satuan) semen sangat tergantung pada cara pengisian semen ke dalam takaran. Jiak cara mengisinya sembur (los), berat isinya rendah yaitu antara ,1 ka/liter.jika pengisiannya dipadatkan, berat isinya dapat mencapai 1,5 ka/liter. Dalam praktek biasanya dipakai berat isi rata-rata yaitu antara 1,25 ka/liter.

Pengikatan semen ( tambahan ) Waktu Pengerasan Semen Waktu pengerasan semen dilakukan dengan menentukan waktu pengikatan awal (initial setting) dan waktu pengikatan akhir (final setting). Sebenarnya yang lebih penting adalah waktu pengikatan awal, yaitu saat semen mulai terkena ait hingga mulai terjadi pengikatan (pengerasan). Untuk mengukur waktu pengikatan biasnya digunakan alat vicat.bagi jenis-jenis semen portland waktu pengikatan awal tidak boleh kurang dari 60 menit sejak semen terkena air. . Pengerasan Awal Palsu Adakalanya semen portland menunjukkan waktu pengikatan awal kurang dari 60 menit, dimana setelah semen dicampur dengan air segera nampak mulai mengeras (adonan menjadi kaku). Hal ini mungkin terjadi karena adanya pengikatan awal palsu, yang disebabkan oleh pengaruh gips yang dicampurkan pada semen bekerja tidak sesuai dengan fungsinya. Seharusbya fungsi gips dalam semen adalah untuk menghambat pengerasan, tetapi dalam kasus diatas ternyata gips justru mempercepat pengerasan. Hal ini dapat terjadi karena gips dalam semen telah terurai. Biasanya pengerasan palsu ini hanya mengacau saja, sedangkan pengaruh terhadap sifat semen yang lain tidak ada. Jika terjadi pengerasan palsu, adonan dapat diaduk lagi. Setelah pengerasan palsu berakhir, jika adonan diaduk lagi adonan semen akan mengeras seperti Kekekalan bentuk semen ( metode kue )

. Kekekalan Bentuk Yang dimaksud dengan kekekalan bentuk adalah sifat dari bubuk semen yang telah mengeras, di mana bila adukan semen dibuat suatu bentuk tertentu bentuk itu tidak berubah. Buka benda dari adukan semen yang telah mengeras. Apabila benda menunjukkan danya cacat (retak, melengkung, membesar, dan menyusut), berarti semen itu tidak baik atau tidak memiliki sifat tetap bentuk.

AGREGAT KASAR (KERIKIL) Agregat kasar beton dapat berupa kerikil hasil disintegrasi alami dari batu-batuan atau berupa batu pecah yang diperoleh dari pemecahan batu. Pada umunyayang diamksud dengan agregat kasar adalah agrgat dengan besar butiran 5 mm.Jenis agregat ini permukaannya kasar dan banyak memerlukan air untuk penggunaan dalam beton serta kegunaannya cukup bagus.Syarat-syarat kasar agregat antara lain : Agregat kasar harus terdiri dari butir yang keras dan tidak berpori. Agregatkasar yang tidak mengandung butir-butir pipih hanya dapat digunkan bila j u m l a h b u t i r p i p i h t e r s e b u t t i d a k l e b i h d a r i 2 0 % d a r i j u m l a h k e s e l u r u h a n agregat. Butir-butir agregat harus tahan terhadap cuaca. Agregat kasar tidak mengandung lumpur lebih dari 1% ditentukan terhadap berat kering. Yang diartikan lumpur adalah bagian-bagian yang dapat melaluis a r i n g a n n o . 2 0 0 ( s a r i n g a n A S T M ) a t a u s a r i n g a n 0 , 0 6 3 m m . B i l a k a d a r lumpur melebihi 1% maka agregat kasar harus dicuci dulu sebelumdigunakan. A g r e g a t k a s a r t i d a k b o l e h m a n g a n d u n g z a t - z a t r e a k t i f a l k a l i y a n g d a p a t memecahkan beton jika zat tersebut bereaksi dengan alkali Na 2 O dan K 2 Odalam semen Portland. Kekerasan butiran agregat kasar dapat diperiksa dengan menggunakan mesinLos Angeles dimana tidak lolos 50% saringan no. 12 (ASTM). Agregat kasar harus terdiri dari butir-butir yang beraneka ragam besarnya danharus bergradasi baik.Butiran-butiran agregat runcing dan sangat kasar. Butiran yang pipih danm emanjang membutuhkan lebih banyak semen untuk menghasilkan beton yangmudah dikerjakan. Hal-hal tersebut diatas penting, bukan saja untuk agregat kasar tetapi juga untuk agregat halus. Biasanya agregat alam bentuknya bundar akantetapi agregat yang diperoleh dari pemecahan batu yang sangat bersudut, pipih, sangat tipis dan sangat panjang sebaiknya tidak usah digunakan.Berdasarkan proses terjadinya, agrgat kasar dapat dibagi atas

LABORATORIUM STRUKTUR DAN BAHANJURUSAN SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS HASANUDDIN Kampus Tamalanrea Telp. (0411)514636 Ujung Pandang 90245 ANALISA PERHITUNGAN CA p p a r e n t s p e s i f i c g r a v i t y = C - BCB u l k s p e s i f i c g r a v i t y o n d r y b a s i c = A - BAB u l k s p e s i f i c g r a v i t y S S D b a s i c = A - BA - CA b s o r p t i o n ( p e n y e r a p a n ) = X 1 0 0 % CDimana :A = b e r a t c o n t o h k o n d i s i S S D d i u d a r a ( g r a m ) B = berat contoh kondisi SSD dalam air (gram)C = b e r a t c o n t o h k e r i n g d i u d a r a ( g r a m ) DATA PENGAMATAN Terlampir

KESIMPULAN H a s i l p e n g a m a t a n b e r a t j e n i s a g r e g a t k a s a r m e m e n u h i d a l a m k i s a r a n ( r a n g e ) spesifikasi agregat beton menurut ASTM yaitu 1,60 3,20. Sedangkan untuk absorpsi (penyerapan), hasil pengamatan adalah 1,14% , memenuhi spesifikasi maksimal 4,0% http://www.scribd.com/doc/50691469/2/AGREGAT-KASAR-KERIKIL#page=17 http://docs.google.com/viewer?a=v&q=cache:aehGipViM4J:puslit2.petra.ac.id/ejournal/index.php/jts_itenas/article/shop/17835/17751+modulus+kehalusan&hl=id&gl=id &pid=bl&srcid=ADGEESiNXs4RLF3nnqU7DeN8pij6f1n0PvGKZenlsk43qbpvdDScILjSP9S7t4OSlqSmgIiGCsbzIaVQjAfDIuJLkmW8gXCho5cCWF-Ep69wef-rs6KY4r__8OYVP9hg6ArporwRtQ&sig=AHIEtbQFPmoCCjF4H6X2LYsKLv-4oKRxMA http://edwardvianst.blogspot.com/2011/05/v-behaviorurldefaultvmlo.html