Anda di halaman 1dari 37

Kebudayaan Tana Toraja (Tator)

Tator aslinya mempunyai nama tua yang dikatakan dalam literatur kuna mereka sebagai "Tondok Lepongan Bulan Tana Matari' Allo" , yang berarti negeri dengan pemerintahan dan masyarakat berketuhanan yang bersatu utuh bulat seperti bulatnya matahari dan bulan. Agama asli nenek moyang mereka adalah Aluk Todolo yang berasal dari sumber Negeri Marinding Banua Puan yang dikenal dengan sebutan Aluk Pitung Sa'bu Pitung Pulo. Ketika Belanda masuk, agama Aluk Todolo tergeser oleh missionaris Kristen yang menyebarkan agama diwilayah ini. Namun adat istiadat yang berakar pada konsep Aluk Todolo hingga kini masih dijalankan. Kita masih akan menikmati pertunjukan upacara kematian masyarakat tator sebagai pengaruh kuat dari agama nenek moyang mereka. Menurut data sejarah, penduduk yang pertama-tama menduduki/mendiami daerah Toraja pada zaman purba adalah penduduk yang bergerak dari arah Selatan dengan perahu. Mereka datang dalam bentuk kelompok yang dinamai Arroan (kelompok manusia). Setiap Arroan dipimpin oleh seorang pemimpin yang dinamai Ambe' Arroan (Ambe' = bapak, Arroan = kelompok). Setelah itu datang penguasa baru yang dikenal dalam sejarah Toraja dengan nama Puang Lembang yang artinya pemilik perahu, karena mereka datang dengan mempergunakan perahu menyusuri sungai-sungai besar. Pada waktu perahu mereka sudah tidak dapat diteruskan karena derasnya air sungai dan bebatuan, maka mereka membongkar perahunya untuk dijadikan tempat tinggal sementara. Tempat mereka menambatkan perahunya dan membuat rumah pertama kali dinamai Bamba Puang artinya pangkalan pusat pemilik perahu sampai sekarang. Hingga kini kita akan melihat disekitar Ranteapo terdapat beberapa Bamba Puang milik keluarga keluarga paling berpengaruh dan terkaya disitu yang mendirikan Tongkonan (rumah adat Tator) beserta belasan lumbung padinya. Setiap Tongkonan satu keluarga besar dihiasi oleh puluhan tanduk kerbau yg dipakai untuk menjelaskan status sosial dalam strata masyarakat adat. Tongkonan itulah yang menjadi atraksi budaya dan menjadi obyek foto ratusan turis yang mendatangi tator.

Budaya Toraja Memesona Dunia


RANTEPAO - Tana Toraja (Tator) sebagai salah satu daerah tujuan wisata di Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel), kerap lebih dikenal oleh para wisatawan mancanegara ketimbang Makassar, Ibu Kota Sulsel sendiri. Tator yang penuh dengan berbagai macam pesona budaya dapat dicapai dengan kendaraan darat dalam waktu delapan jam melalui desa-desa khas Bugis-Makassar yang indah permai dan desa-desa nelayan. Selain itu, penerbangan Merpati Nusantara Airlines dengan pesawat Cassa selalu siap mengantar setiap hari. Cukup 45 menit dari Bandara Hasanuddin, Makassar, penumpang dapat tiba di Lapangan Pongtiku, Tator. Bila menggunakan angkutan udara, dari ketinggian akan tampak Tator dengan hamparan sawah luas terbentang yang dilatarbelakangi rumah adat Tongkonan yang mempunyai bentuk seperti tanduk kerbau. Rumah tinggal tersebut merupakan karya masyarakat Toraja yang khas. Masyarakat Tator dikenal sangat menghargai arti hidup yang direfleksikan dalam berbagai adat

dan budaya, serta pola hidup baik sebagai petani maupun peternak. Tedong bonga alias kerbau belang atau albino, menjadi ternak andalan dan kesayangan masyarakat Tator. Pasalnya, tedong bonga tersebut dipakai pada acara adat dan ritual, sehingga wajar jika harga tedong bonga per ekor dapat mencapai puluhan juta rupiah. Tedong bonga yang badannya bagus dan tanduknya panjang dan besar, biasanya dibeli sampai Rp 50 juta. Bahkan Rp 100 juta bila dianggap benar-benar kerbau pilihan, tutur Marten, salah seorang warga Tator. Kendati zaman modern sudah memasuki sisi ruang kehidupan, masyarakat Tator dalam kesehariannya masih dikaitkan dengan beraneka ragam perayaan seperti pesta panen, upacara pemindahan rumah (Rambu Solok) dan upacara kematian (Rambu Tuka). Pada acara-acara tersebut sudah barang tentu mereka menggunakan pakaian adat lengkap dengan aneka perhiasannya. Setiap menggelar acara adat, acara santap bersama yang disertai dengan minuman tuak, biasanya berlangsung berhari-hari. Pada kesempatan tersebut, para kerabat dan keluarga akan dapat membayar utang pesta yang lalu. Selain dapat menyaksikan pesta adat, di Tator juga masih banyak objek wisata yang patut dikunjungi di antaranya, Londa yang terletak kurang lebih empat kilometer dari Ibu Kota Kabupaten Tana Toraja, Rantepao di mana tau-tau yaitu perlambang jasad mereka yang telah meninggal dipajang di depan gua di atas tebing yang curam. Hal yang sama juga dapat ditemukan di Lemo, sekitar 12 kilometer dari Rantepao. Di lokasi tersebut terdapat tempat peristirahatan terakhir para ningrat Tana Toraja yang disemayamkan dalam bentuk tau-tau dan paling baik dikunjungi pada pagi hari. Sementara Kete Kusu merupakan sebuah desa yang menjadi museum rumah tongkonan dan rumah adat. Di antara rumah tersebut, juga tampak hamparan persawahan dilatarbelakangi dengan tebing-tebing yang tinggi, tempat tau-tau yang tua. Di antara tau-tau itu, ada yang mencapai lebih dari satu abad. Dan yang tak kalah menariknya untuk dikunjungi adalah lokasi arung jeram di Sungai Sadang. Lokasi ini merupakan yang terbaik di Indonesia. Bagi yang senang tantangan, tentu tidak akan menyia-nyiakan kesempatannya untuk berlaga menguji keterampilan di lokasi arung jeram tingkat empat dan lima yang sangat mengasikkan. Jadi Warisan Dunia Keunikan dan kekhasan adat budaya Tator telah membuat daerah tujuan wisata tersebut diusulkan menjadi warisan budaya dunia. Usulan tersebut sudah digulirkan sejak tahun 2000. Hasil usulan tersebut, Tator kini mendapat nomor registrasi C1038 dari UNESCO, organisasi dunia yang menangani masalah kebudayaan. Untuk usulan pertama, baru terbatas pada perkampungan Kete Kesu dan pada 2002, tim UNESCO telah melakukan peninjauan. Hasilnya, tim merekomendasikan agar pengunggulan Tana Toraja dikembangkan menjadi serial nomination yakni usulan yang terdiri dari beberapa situs dalam suatu kawasan. Lewat kesepakatan bersama antara pemerintah daerah dan pusat, diputuskan penambahan delapan situs anyar, selain situs Kete Kesu tentunya. Kedelapan situs itu adalah Pallawa, Bori Parinding, Kandeapi, Rante Karassik, Buntupune, Pala Tokke, Londa dan Lemo. Akhirnya, kesembilan situs tersebut diusulkan ke kantor UNESCO di Paris pada 21 April 2004. Usulan tersebut kembali menghasilkan keputusan, di mana Indonesia harus melakukan

reformulasi pengusulan Tana Toraja. Di antaranya pemetaan delapan situs, penentuan zona inti dan zona penyangga, belum adanya justifikasi mengenai kriteria, harus disertakan situs pembanding yang memiliki kemiripan dan belum disertakan site management plan. Akhirnya pada Agustus 2004, Asdep Urusan Kepurbakalaan dan Permuseuman sudah melakukan pemetaan tambahan. Termasuk mempertemukan para pakar budaya lalu mempresentasikannya kepada kelompok kerja (Pokja) Warisan Dunia. Terakhir, sosialisasi warisan budaya dunia Tana Toraja. Menindaklanjuti hal tersebut, Kementerian Budaya dan Pariwisata (Menbudpar) harus menyelesaikan beberapa pekerjaan rumah di antaranya pembuatan peta kawasan skala 1:10.000 dan penetapan Menbudpar terhadap penetapan kawasan Tator sebagai kawasan cagar budaya nasional. (*)

Ciri Khas Tator

Kata Toraja itu sendiri berasal dari bahasa Bugis to riaja, yang artinya 'orang yang berdiam di negeri atas'. Keunikan kebudayaan Tana Toraja terletak pada ritual pemakaman, rumah tradisional, ukiran kayu dan tari-tariannya. Dari sekian banyak kebudayaan yang ada, ritual pemakaman merupakan peristiwa sosial yang penting dalam strata kehidupan masyarakat Toraja. Hubungan keluarga masyarakat di sini bertalian dekat dengan kelas sosial. Tingkatan kelas sosial masih kentara di Toraja. Kelas sosial diturunkan melalui ibu. Adapun tingkatan kelas sosial yang ada yaitu bangsawan, orang biasa, dan budak. Budak sudah dihapuskan sejak zaman penjajahan Belanda meskipun saat ini masih ada sebagian masyarakat yang menjadi budak. Kelas bangsawan mendapat tempat yang sangat dihormati di Tana Toraja. Bangsawan sangat menjaga martabat kebangsawanannya. Hal ini dapat dilihat masih adanya sikap merendahkan terhadap orang biasa karena alasan martabat keluarga. Kaum bangsawan wajib mengadakan ritual pemakaman dan jenazah bangsawan di letakkan di tempat pemakaman khusus. Suku Toraja memiliki rumah tradisional yang khas. Rumah tradisional khas Toraja yaitu rumah Tongkonan, berasal dari bahasa Toraja, tongkon, yang berarti 'duduk'. Rumah ini merupakan pusat pemerintahan, kekuasaan adat, dan perkembangan kehidupan sosial budaya masyarakat Toraja. Ada tiga jenis rumah Tongkonan. Pertama, Tongkonan Layuk merupakan tempat kekuasaan tertinggi yang digunakan sebagai pusat pemerintahan. Kedua, Tongkonan

Pekamberan merupakan milik anggota keluarga yang memiliki wewenang tertentu dalam adat dan tradisi lokal. Terakhir, Tongkonan Batu khusus anggota keluarga biasa. Ciri khas lain dari suku Toraja adalah adanya seni ukiran. Suku Toraja menggunakan ukiran untuk menunjukkan konsep keagamaan dan sosial. Ukiran dari kayu ini juga merupakan wadah berkomunikasi orang Toraja karena bahasa Toraja hanya diucapkan dan tidak memiliki sistem tulisan. Oleh karena itu, ukiran kayu yang disebut Passura (tulisan) merupakan perwujudan budaya Toraja. Ada sekitar 67 jenis ukiran yang ada dengan aneka corak dan warna. Setiap ukiran memiliki nama khusus dan motif yang berbeda. Contohnya, ukiran motif hewan dan tanaman melambangkan kebajikan, motif tanaman seperti gulma air serta hewan seperti kepiting dan kecebong melambangkan kesuburan. Selain seni ukir, dikenal seni pahat. Seni ini dapat dilihat dalam rumah Tongkonan. Salah satu hasil seni pahat adalah Kabongo, yaitu kepala kerbau yang dipahat dari kayu cendana atau kayu nangka dan dilengkapi tanduk kerbau asli. Lokasi wisata yang sering dikunjungi di Tana Toraja adalah Rantepao. Rantepao terletak sekitar 328 km dari Makassar dan Makale. Kota Rantepao ini terletak di dataran yang lebih tinggi dengan pemandangan yang sangat indah. Tidak jauh dari kota Rantepao, terdapat dua lokasi pemakaman suku Toraja yang terkenal, yaitu Kete Kesu dan Londa. Kete Kesu dan Londa adalah tempat pekuburan alam purba berdinding batu, berupa gua. Gua-gua di Kete Kasu dan Londa kedalamannya bisa mencapai 1000 m. Pekuburan alam purba ini dilengkapi benteng pertahanan yang bernama Tarangenge, yang terletak di atas punggung gua. Gua tersebut penuh dengan tulang dan tengkorak para leluhur dan tau-tau. Tau-tau ini merupakan pertanda bahwa telah sekian banyak putra-putra Toraja terbaik yang dimakamkan melalui upacara adat tertinggi di wilayah Tana Toraja.

Acara Adat Toraja

Upacara-upacara adat tersebut di atas baik Rambu Tuka' maupun Rambu Solo' diikuti oleh seni tari dan seni musik khas Toraja yang bermacam-macam ragamnya. RAMBU TUKA

Acara upacara adat Rambu Tuka' (acara untuk memasuki rumah adat yang baru/Tongkonan) atau yang selesai direnovasi; dan waktunya sekali dalam 50 atau 60 tahun. Upacara tersebut dikenal dengan nama Ma'Bua', Meroek, atau Mangrara Banua Sura'. Untuk upacara adat Rambu Tuka' diikuti oleh seni tari : Pa' Gellu, Pa' Boneballa, Gellu Tungga', Ondo Samalele, Pa'Dao Bulan, Pa'Burake, Memanna, Maluya, Pa'Tirra', Panimbong dan lainlain. Untuk seni musik yaitu Pa'pompang, pa'Barrung, Pa'pelle'. Musik dan seni tari yang ditampilkan pada upacara Rambu Solo' tidak boleh (tabu ditampilkan pada upacara Rambu Tuka'. RAMBU SOLO (Upacara Pemakaman) Rumah bambu tarnpak berderet, himpit menghimpit diatas padi yang tengah menghijau, tidak jauh dari situ berbaris orang orang mengikuti dibelakang mereka hewan ternak untuk dipersembahkan pada tuan rumah, tidak ketinggalan pula tuan rumah menyambut dengan ramahnya oleh tari tarian dan beraneka macam santapan yang telah dipersiapkan di atas daun pisang. Sepintas terlihat bak sebuah acara menyambut kesuka-citaan besar, tidak dinyana upacara yang begitu megahnya adalah upacara untuk prosesi pemakaman yang lebih dikenal dengan upacara Rambu Solo'. Adat istiadat yang telah diwarisi oleh masyarakat Toraja secara turun temurun ini, mewajibkan keluarga yang ditinggal membuat sebuah pesta sebagai tanda hormat terakhir pada mendiang yang telah pergi. Namun dalam Pelaksanaannya, upacara Rambu Solo terbagi dalam beberapa tingkatan yang mengacu pada strata sosial masyarakat Toraja, yakni: Dipasang Bongi: Upacara yang hanya diiaksanakan dalam satu malam. Dipatallung Bongi: Upacara yang berlangsung selama tiga malam dan dilaksanakan dirumah dan ada pemotongan hewan. Dipalimang Bongi: Upacara pemakamanyang berlangsung selama lima malam dan dilaksanakan disekitar rumah serta pemotongan hewan Dipapitung Bongi:Upacara pemakaman yang berlangsung selama tujuh malam yang setiap harinya ada pemotongan hewan. Biasanya pada upacara tertinggi dilaksanakan dua kali dengan rentan waktu sekurang kurangnya setahun, upacara yang pertama disebut Aluk Pia biasanya dalam pelaksanaannya bertempat disekitar Tongkonan keluarga yang berduka, sedangkan Upacara kedua yakni upacara Rante biasanya dilaksanakan disebuah "lapangan Khusus" karena upacara yang menjadi puncak dari prosesi pemakaman ini biasanya ditemui berbagai ritual adat yang harus dijalani, seperti : Ma'tundan, Mebalun (membungkus jenazah), Ma'roto (membubuhkan ornamen dari benang emas dan perak pada peti jenazah), Ma'Popengkalo Alang (menurunkan jenazah kelumbung untuk disemayamkan), dan yang terkahir Ma'Palao (yakni mengusung jenazah ketempat peristirahatan yang terakhir). Tidak hanya ritual adat yang dapat dijumpai dalam Upacara Rambu solo, berbagai kegiatan budaya yang begitu menariknya dapat dipertontonkan dalam upacara ini, antara lain : Mapasilaga

tedong (Adu kerbau), perlu diketahui bahwa kerbau di Tana Toraja memiliki ciri yang mungkin tidak dapat ditemui didaerah lain, mulai yang memiliki tanduk bengkok kebawah sampai dengan kerbau berkulit putih; Sisemba (Adu kaki); Tari tarian yang berkaitan dengan ritus rambu solo': Pa'Badong, Pa'Dondi, Pa'Randing, Pa'Katia, Pa'papanggan, Passailo dan Pa'pasilaga Tedong; Selanjutnya untuk seni musiknya: Pa'pompang, Pa'dali-dali dan Unnosong.; Ma'tinggoro tedong (Pemotongan kerbau dengan ciri khas masyarkat Toraja, yaitu dengan menebas kerbau dengan parang dan hanya dengan sekali tebas), biasanya kerbau yang akan disembelih ditambatkan pada sebuah batu yang diberi nama Simbuang Batu. Menjelang usainya Upacara Rambu Solo', keluarga mendiang diwajibkan mengucapkan syukur pada Sang Pencipta yang sekaligus menandakan selesainya upacara pemakaman Rambu Solo'.

Pemakaman Tator

PEMAKAMAN Kematian bagi masyarakat Toraja menjadi salah satu hal yang paling bermakna, sehingga tidak hanya upacara prosesi pemakaman yang dipersiapkan ataupun peti mati yang dipahat menyerupai hewan (Erong), namun mereka pun mempersiapkan tempat "peristirahatan terakhir" dengan sedemikian apiknya, yang tentunya tidak lepas dari strata sosial yang berlaku dalam masyarakat Toraja maupun kemampuan ekonomi individu, umumnya tempat menyimpan jenazah adalah gua/tebing gunung atau dibuatkan sebuah rumah (Pa'tane). Budaya ini telah diwarisi secara turun temurun oleh leluhur mereka. Adat masyarakat Toraja menyimpan jenazah pada tebing/liang gua, merupakan kekayaan budaya yang begitu menarik untuk disimak lebih dalam lagi, dapat dijumpai di beberapa kawasan pemakaman yang saat ini telah menjadi obyek wisata, seperti Londa, yang merupakan pemakaman purbakala yang berada dalam sebuah gua, dapat dijumpai puluhan erong yang berderet dalam bebatuan yang telah dilubangi, tengkorak berserak di sisi batu menandakan petinya telah rusak akibat di makan usia; Lemo adalah salah satu kuburan leluhur Toraja, hasil kombinasi antara ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa dengan kreasi tangan terampil Toraja pada abad XVI (dipahat) atau liang Paa'. Jumlah liang batu kuno ada 75 buah dan tau-tau yang tegak berdiri sejumlah 40 buah sebagai lambang-lambang prestise, status, peran dan kedudukan para bangsawan di Desa Lemo. Diberi nama Lemo oleh karena model liang batu ini ada yang menyerupai jeruk bundar dan berbintik-bintik.

Kesenian Toraja

Tana Toraja memiliki kesenian daerah yang telah mendarah daging turun temurun pada masyarakatnya. Berbagai macam obyek yang menarik baik secara langsung diciptakan oleh-Nya maupun secara sengaja dibuat oleh orang-orang yang memiliki cita rasa di bidang seni yang tinggi tentang budayanya sendiri. Kesenian daerah yang ada di Toraja antara lain : Tarian-tarian

pa'gellu Gellu' Pangala' adalah salah satu tarian tradisional dari Tana Toraja yang dipentaskan pada acara pesta "Rambu Tuka" juga tarian ini ditampilkan untuk menyambut para patriot atau pahlawan yang kembali dari medan perang dengan membawa kemenangan. Tetapi tarian ini tabu atau pamali dipentaskan pada acara "Rambu Solo". tarian ma'badong Penari membuat lingkaran yang saling mengkaitkan jari-jari kelingking. Penari bisa pria juga bisa wanita setengah baya atau tua. Biasanya mereka berpakaian serba hitam namun terkadang berpakaian bebas karena tarian ini terbuka untuk umum. Tarian ini hanya diadakan pada upacara kematian ini bergerak dengan gerakan langkah yang silih berganti sambil melantunkan lagu (Kadong Badong) yang syairnya berisikan riwayat manusia mulai dari lahir hingga mati dan do'a, agar arwah si mati diterima di negeri arwah (Puya) atau alam dialam baka. Tarian Badong ini biasanya berlangsung berjam-jam, sering juga berlangsung semalam suntuk. Perlu diketahui bahwa hanya pada upacara pemakaman yang lamanya tiga hari/malam ke atas yang boleh dilaksanakan tarian Badong ini atau khusus bagi kaum bangsawan. Musik Di samping seni tari dan seni suara serta pantun juga diperkenalkan seni musik tradisional Toraja antara lain : Passuling Semua lagu-lagu hiburan duka dapat diikuti dengan suling tradisional Toraja (Suling Lembang). Passuling ini dimainkan oleh laki-laki untuk mengiringi lantunan lagu duka (Pa'marakka) dalam menyambut keluarga atau kerabat yang menyatakan dukacitanya. Passuling ini dapat juga dimainkan di luar acara kedukaan, bahkan boleh dimainkan untuk menghibur diri dalam keluarga di pedesaan sambil menunggu padi menguning. Pa'pelle/Pa'barrung Semua lagu ini sangat digemari oleh anak-anak gembala menjelang menguningnya padi di sawah. Alat musiknya terbuat dari batang padi dan disambung sehingga mirip terompet dengan daun enau yang besar. Pa'barrung ini merupakan musik khusus pada upacara pentahbisan rumah adat (Tongkonan) seperti Ma'bua', Merok, Mangara dan sejenisnya. Pa'pompang/Pa'bas Inilah musik bambu yang pagelarannya merupakan satu simponi orkestra. Dimainkan oleh banyak orang biasanya murid-murid sekolah di bawah pimpinan seorang dirigen. Musik bambu jenis ini sering diperlombakan pada perayaan bersejarah seperti hari peringatan Proklamasi

Kemerdekaan RI, Peringatan Hari Jadi tana Toraja. Lagu yang dimainkan bisa lagu-lagu nasional, lagu-lagu daerah Tana Toraja, lagu-lagu gerejawi, dan lagu-lagu daerah di seluruh Indonesia. Pa'karobi Alat kecil dengan benang halus diletakkan pada bibir. Benang atau bibir disentak-sentak sehingga menimbulkan bunyi yang berirama halus namun mengasyikkan. Pa'tulali' Bambu kecil yang halus, dimainkan sehingga menimbulkan bunyi/suara yang lumayan untuk menjadi hiburan. Pa'geso'geso' Sejenis alat musik gesek. Terbuat dari kayu dan tempurung kelapa yang diberi dawai. Dawai yang digesek dengan alat khusus yang terbuat dari bilah bambu dan tali akan menimbulkan suara khas. Alat ini mengeluarkan nada sesuai dengan tekanan jari si pemain pada dawai. Pa'geso'geso' terkenal dari Kecamatan Saluputti.

Objek Wisata Toraja

OBJEK WISATA Tana Toraja memiliki adat istiadat serta budaya yang telah mendarah daging turun temurun pada masyarakatnya. Berbagai macam obyek yang menarik baik secara langsung diciptakan oleh-Nya maupun secara sengaja dibuat oleh orang-orang yang memiliki cita rasa di bidang seni yang tinggi tentang budayanya sendiri. Obyek Wisata di Tana Toraja diantaranya: Batutumonga Daya tarik utama: - Panorama indah - Resort/penginapan Lokasi desa/lembang: Sesean Suloaran Arum jeram ( rafting ) Daya tarik utama: Arung jeram di sungai Mai'ting Lokasi desa/lembang: Dende' - Piongan Kecamatan Rinding Allo yang berjarak kurang lebih 60 km dari Rantepao adalah kecamatan yang mempunyai dan memiliki sungai yang airnya deras dan diselingi oleh batu-batu yang besar serta sepanjang tepian sungai dari hulu sampai hilir diselimuti hutan alam yang asli dan lebat

yang sangat asik dan sangat menarik serta menantang kita, untuk mencoba arung jeram ini. Para tourist yang masih muda belia, sangat tertarik dengan acara rafting ini. Trekking Trekking merupakan salah satu minat khusus dalam dunia pariwisata. Untuk daerah tujuan wisata Tana Toraja sangat cocok untuk trekking, oleh karena alam Tana Toraja sangat mendukung. Indo'Sela', Torajaland Expedition, adalah salah satu usaha pariwisata yang mengurus orang yang berminat untuk trekking dengan alamat: "Sella Homestay", Jln. Landorundun 43 Rantepao-Tana Toraja, Tlp. 001.62.0423.25210. Makula Sanggala Daya tarik utama: Permandian air panas alam Lokasi desa/lembang: Tokesan Rekreasi bagi manusia-manusia modern yang kini hidupndi dalam abad komputer dan IPTEK yang canggih, bukan lagi sekedar sebagai pelengkap, tetapi sudah menjadi kebutuhan utama, untuk membuat otak, hati, dan perasaan mengalami refresing. Oleh sebab itu kami mengajak Anda untuk segera mengunjungi Kolam Renang Air panas Makula' (Swimming Pool Spring) yang jaraknya hanya 28 km dari kota Rantepao arah ke selatan. Bila Anda tiba di sana tersedia kolam air panas. Kamar hotel yang representatif. Restaurant yang menyediakan bermacam makanan kesukaan Anda, dan pelayanan yang siap melayani Anda, serta tarif/harga yang berdamai. Pergi/pulang Anda dapat menikmati pemandangan alam yang menyenangkan hati. Prasarana jalannya beraspal. Selamat berekreasi dan jangan lupa membawa keluarga.

Sekilas Tanah Toraja / Tator Sejarah Toraja


Tahun 1926 Tana Toraja sebagai Onder Afdeeling Makale-Rantepao dibawah Self bestur Luwu Tahun 1946 Tana Toraja terpisah menjadi Swaraja yang berdiri sendiri berdasarkan Besluit Lanschap Nomor 105 tanggal 8 Oktober 1946 Tahun 1957 berubah menjadi Kabupaten Dati II Tana Toraja berdasarklan UU Darurat Nomor 3 Tahun 1957 UU Nomor 22 Tahun 1999 Kabupaten Dati II Tana Toraja berubah menjadi Kabupaten Tana Toraja

ASAL MASYARAKAT TANA TORAJA Konon, leluhur orang Toraja adalah manusia yang berasal dari nirwana, mitos yang tetap melegenda turun temurun hingga kini secara lisan dikalangan masyarakat Toraja ini menceritakan bahwa nenek moyang masyarakat Toraja yang pertama menggunakan "tangga dari langit" untuk turun dari nirwana, yang kemudian berfungsi sebagai media komunikasi dengan Puang Matua (Tuhan Yang Maha Kuasa). Lain lagi versi dari DR. C. CYRUT seorang anthtropolog, dalam penelitiannya menuturkan bahwa masyarakat Tana Toraja merupakan hasil dari proses akulturasi antara penduduk (lokal/pribumi) yang mendiami daratan Sulawesi Selatan dengan pendatang yang notabene adalah imigran dari Teluk Tongkin (daratan Cina). Proses akulturasi antara kedua masyarakat tersebut, berawal dari berlabuhnya Imigran Indo Cina dengan jumlah yang cukup banyak di sekitar hulu sungai yang diperkirakan lokasinya di daerah Enrekang, kemudian para imigran ini, membangun pemukimannya di daerah tersebut. Nama Toraja mulanya diberikan oleh suku Bugis Sidendereng dan dari luwu. Orang Sidendreng menamakan penduduk daerah ini dengan sebuatn To Riaja yang mengandung arti "Orang yang berdiam di negeri atas atau pegunungan", sedang orang Luwu menyebutnya To Riajang yang artinya adalah "orang yang berdiam di sebelah barat". Ada juga versi lain bahwa kata Toraya asal To = Tau (orang), Raya = dari kata Maraya (besar), artinya orang orang besar, bangsawan. Lama-kelamaan penyebutan tersebut menjadi Toraja, dan kata Tana berarti negeri, sehingga tempat pemukiman suku Toraja dikenal kemudian dengan Tana Toraja. Sejarah Aluk Konon manusia yang turun ke bumi, telah dibekali dengan aturan keagamaan yang disebut aluk. Aluk merupakan aturan keagamaan yang menjadi sumber dari budaya dan pandangan hidup leluhur suku Toraja yang mengandung nilai-nilai religius yang mengarahkan pola-pola tingkah laku hidup dan ritual suku Toraja untuk mengabdi kepada Puang Matua. Cerita tentang perkembangan dan penyebaran Aluk terjadi dalam lima tahap, yakni: Tipamulanna Aluk ditampa dao langi' yakni permulaan penciptaan Aluk diatas langit, Mendemme' di kapadanganna yakni Aluk diturunkan kebumi oleh Puang Buru Langi'

dirura.Kedua tahapan ini lebih merupakan mitos. Dalam penelitian pada hakekatnya aluk merupakan budaya/aturan hidup yang dibawa kaum imigran dari dataran Indo Cina pada sekitar 3000 tahun sampai 500 tahun sebelum masehi. Beberapa Tokoh penting daiam penyebaran aluk, antara lain: Tomanurun Tambora Langi' adalah pembawa aluk Sabda Saratu' yang mengikat penganutnya dalam daerah terbatas yakni wilayah Tallu Lembangna. Selain daripada itu terdapat Aluk Sanda Pitunna disebarluaskan oleh tiga tokoh, yaitu : Pongkapadang bersama Burake Tattiu' menuju bagian barat Tana Toraja yakni ke Bonggakaradeng, sebagian Saluputti, Simbuang sampai pada Pitu Ulunna Salu Karua Ba'bana Minanga, derngan membawa pranata sosial yang disebut dalam bahasa Toraja "To Unnirui' suke pa'pa, to ungkandei kandian saratu yakni pranata sosial yang tidak mengenal strata. Kemudian Pasontik bersama Burake Tambolang menuju ke daerah-daerahsebelah timur Tana Toraja, yaitu daerah Pitung Pananaian, Rantebua, Tangdu, Ranteballa, Ta'bi, Tabang, Maindo sampai ke Luwu Selatan dan Utara dengan membawa pranata sosial yang disebut dalam bahasa Toraja : "To Unnirui' suku dibonga, To unkandei kandean pindan", yaitu pranata sosial yang menyusun tata kehidupan masyarakat dalam tiga strata sosial. Tangdilino bersama Burake Tangngana ke daerah bagian tengah Tana Toraja dengan membawa pranata sosial "To unniru'i suke dibonga, To ungkandei kandean pindan", Tangdilino diketahui menikah dua kali, yaitu dengan Buen Manik, perkawinan ini membuahkan delapan anak. Perkawinan Tangdilino dengan Salle Bi'ti dari Makale membuahkan seorang anak. Kesembilan anak Tangdilino tersebar keberbagai daerah, yaitu Pabane menuju Kesu', Parange menuju Buntao', Pasontik ke Pantilang, Pote'Malla ke Rongkong (Luwu), Bobolangi menuju Pitu Ulunna Salu Karua Ba'bana Minanga, Bue ke daerah Duri, Bangkudu Ma'dandan ke Bala (Mangkendek), Sirrang ke Dangle. Itulah yang membuat seluruh Tondok Lepongan Bulan Tana Matari' Allo diikat oleh salah satu aturan yang dikenal dengan nama Tondok Lepongan Bulan Tana Matari' Allo arti harfiahnya adalah "Negri yang bulat seperti bulan dan Matahari". Nama ini mempunyai latar belakang yang bermakna, persekutuan negeri sebagai satu kesatuan yang bulat dari berbagai daerah adat. Ini dikarenakan Tana Toraja tidak pernah diperintah oleh seorang penguasa tunggal, tetapi wilayah daerahnya terdiri dari kelompok adat yang diperintah oleh masing-masing pemangku adat dan ada sekitar 32 pemangku adat di Toraja. Karena perserikatan dan kesatuan kelompok adat tersebut, maka diberilah nama perserikatan bundar atau bulat yang terikat dalam satu pandangan hidup dan keyakinan sebagai pengikat seluruh daerah dan kelompok adat tersebut. ===Upacara Adat Tana Toraja=== Di wilayah Kab. Tana Toraja terdapat upacara adat yang terkenal dan tidak ada duanya di dunia, yaitu upacara adat Rambu Solo' (upacara untuk pemakaman) dengan acara Sapu Randanan, dan Tombi Saratu', juga acara upacara Ma'nene'. Dan Upacara Adat Rambu Tuka.

Upacara-upacara adat tersebut di atas baik Rambu Tuka' maupun Rambu Solo' diikuti oleh seni tari dan seni musik khas Toraja yang bermacam-macam ragamnya.

RAMBU TUKA

Upacara adat Rambu Tuka' adalah acara yang berhungan dengan acara syukuran bisalnya acara pernikahan, syukuran panen dan peresmian rumah adat/tongkonan yang baru, atau yang selesai direnovasi; menghadirkan semua rumpun keluarga, dari acara ini membuat ikatan kekeluargaan di Tana Toraja sangat kuat semua Upacara tersebut dikenal dengan nama Ma'Bua', Meroek, atau Mangrara Banua Sura'. Untuk upacara adat Rambu Tuka' diikuti oleh seni tari : Pa' Gellu, Pa' Boneballa, Gellu Tungga', Ondo Samalele, Pa'Dao Bulan, Pa'Burake, Memanna, Maluya, Pa'Tirra', Panimbong dan lainlain. Untuk seni musik yaitu Pa'pompang, pa'Barrung, Pa'pelle'. Musik dan seni tari yang ditampilkan pada upacara Rambu Solo' tidak boleh (tabu ditampilkan pada upacara Rambu Tuka'.

RAMBU SOLO (Upacara Pemakaman)

Adat istiadat yang telah diwarisi oleh masyarakat Toraja secara turun temurun ini, mewajibkan keluarga yang ditinggal membuat sebuah pesta sebagai tanda penghormatan terakhir pada mendiang yang telah pergi. Namun dalam Pelaksanaannya, upacara Rambu Solo terbagi dalam beberapa tingkatan yang mengacu pada strata sosial masyarakat Toraja, yakni: Dipasang Bongi: Upacara yang hanya diiaksanakan dalam satu malam. Dipatallung Bongi: Upacara yang berlangsung selama tiga malam dan dilaksanakan dirumah dan ada pemotongan hewan. Dipalimang Bongi: Upacara pemakamanyang berlangsung selama lima malam dan dilaksanakan disekitar rumah serta pemotongan hewan Dipapitung Bongi:Upacara pemakaman yang berlangsung selama tujuh malam yang setiap harinya ada pemotongan hewan. Biasanya pada upacara tertinggi dilaksanakan dua kali dengan rentan waktu sekurang kurangnya setahun, upacara yang pertama disebut Aluk Pia biasanya dalam pelaksanaannya bertempat disekitar Tongkonan keluarga yang berduka, sedangkan Upacara kedua yakni upacara Rante biasanya dilaksanakan disebuah "lapangan Khusus" karena upacara yang menjadi puncak dari prosesi pemakaman ini biasanya ditemui berbagai ritual adat yang harus dijalani, seperti : Ma'tundan, Mebalun (membungkus jenazah), Ma'roto (membubuhkan ornamen dari benang emas dan perak pada peti jenazah), Ma'Popengkalo Alang (menurunkan jenazah kelumbung untuk disemayamkan), dan yang terkahir Ma'Palao (yakni mengusung jenazah ketempat peristirahatan yang terakhir). Tidak hanya ritual adat yang dapat dijumpai dalam Upacara Rambu solo, berbagai kegiatan budaya yang begitu menariknya dapat dipertontonkan dalam upacara ini, antara lain : Mapasilaga

tedong (Adu kerbau), perlu diketahui bahwa kerbau di Tana Toraja memiliki ciri yang mungkin tidak dapat ditemui didaerah lain, mulai yang memiliki tanduk bengkok kebawah sampai dengan kerbau berkulit belang (tedang bonga), tedong bonga di Toraja sangat bernilai tinggi harganya sampai ratusan juta; Sisemba (Adu kaki); Tari tarian yang berkaitan dengan ritus rambu solo': Pa'Badong, Pa'Dondi, Pa'Randing, Pa'Katia, Pa'papanggan, Passailo dan Pa'pasilaga Tedong; Selanjutnya untuk seni musiknya: Pa'pompang, Pa'dali-dali dan Unnosong.; Ma'tinggoro tedong (Pemotongan kerbau dengan ciri khas masyarkat Toraja, yaitu dengan menebas kerbau dengan parang dan hanya dengan sekali tebas), biasanya kerbau yang akan disembelih ditambatkan pada sebuah batu yang diberi nama Simbuang Batu. Menjelang usainya Upacara Rambu Solo', keluarga mendiang diwajibkan mengucapkan syukur pada Sang Pencipta yang sekaligus menandakan selesainya upacara pemakaman Rambu Solo'.

PEMAKAMAN

Kematian bagi masyarakat Toraja menjadi salah satu hal yang paling bermakna, sehingga tidak hanya upacara prosesi pemakaman yang dipersiapkan ataupun peti mati yang dipahat menyerupai hewan (Erong), namun mereka pun mempersiapkan tempat "peristirahatan terakhir" dengan sedemikian apiknya, yang tentunya tidak lepas dari strata sosial yang berlaku dalam masyarakat Toraja maupun kemampuan ekonomi individu, umumnya tempat menyimpan jenazah adalah gua/tebing gunung atau dibuatkan sebuah rumah (Pa'tane). Budaya ini telah diwarisi secara turun temurun oleh leluhur mereka. Adat masyarakat Toraja menyimpan jenazah pada tebing/liang gua, merupakan kekayaan budaya yang begitu menarik untuk disimak lebih dalam lagi, dapat dijumpai di beberapa kawasan pemakaman yang saat ini telah menjadi obyek wisata, seperti Londa, yang merupakan pemakaman purbakala yang berada dalam sebuah gua, dapat dijumpai puluhan erong yang berderet dalam bebatuan yang telah dilubangi, tengkorak berserak di sisi batu menandakan petinya telah rusak akibat di makan usia; Lemo adalah salah satu kuburan leluhur Toraja, hasil kombinasi antara ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa dengan kreasi tangan terampil Toraja pada abad XVI (dipahat) atau liang Paa'. Jumlah liang batu kuno ada 75 buah dan tau-tau yang tegak berdiri sejumlah 40 buah sebagai lambang-lambang prestise, status, peran dan kedudukan para bangsawan di Desa Lemo. Diberi nama Lemo oleh karena model liang batu ini ada yang menyerupai jeruk bundar dan berbintik-bintik.

Buntu Pune

Lokasi pemukiman masyarakat Toraja zaman dahulu sekaligus pemakaman yang bernuansa eksklusif, dibangun oleh Pong Maramba sebagai simbol pemerintah di zamannya.

Liang Tondon

Ningrat atau para bangsawan di wilayah Balusu disemayamkan di suatu tempat khusus yang terdiri dari 12 liang, lokasi tempat pemakaman Balusu inilah yang diberi nama Liang Tondon. Saat ini di era reformasi, Liang Tondon Balusu bersedia sebagai salah satu Tourist Destination yang menarik untuk disimak. Tetapi sesuai Undang-Undang Ordonantee RI, tidak boleh memindahkan/ mengambil barang purbakala yang ada di tempat ini.

To'Doyan

Tidak berbeda dengan obyek wisata sebelumnya, To'Doyan adalah lokasi obyek wisata berupa pohon besar yang digunakan sebagai makam bayi (anak yang belum tumbuh giginya). Pohon ini secara alamiah memberi akar-akar tunggang yang secara teratur tumbuh membentuk ronggarongga. Rongga inilah yang digunakan sebagai tempat menyimpan mayat bayi.

Tampang Allo

Sejarah singkat obyek Tampang Allo ini merupakan sebuah kuburan goa alam yang terletak di Kelurahan Sangalla' dan berisikan puluhan Erong, puluhan tau-tau dan ratusan tengkorak serta tulang belulang manusia. Pada sekitar abad XVI oleh penguasa Sangalla' dalam hal ini Sang Puang Manturino bersama istrinya Rangga Bualaan memilih Goa Tampang Allo sebagai tempat pemakamannya kelak jika mereka meninggal dunia, sebagai perwujudan dari janji dan sumpah suami istri yakni "sehidup semati satu kubur kita berdua". Goa Tampang Alllo berjarak 19 km dari Rantepao dan 12 km dari Makale.

Patane Pong Massangka

Patane (kuburan dari kayu berbentuk rumah Toraja) dibangun pada tahun 1930 untuk seorang janda bernama Palindatu yang meninggal dunia pada tahun 1920 yang diupacarakan secara adat Toraja tertinggi yang disebut Rapasan Sapu Randanan. Palindatu memiliki anak bernama Pong Massangka yang memiliki jiwa perlawanan terhadap Belanda sehingga ia dibuang ke Nusa Kambangan pada tahun 1917, dikembalikan ke Tana Toraja pada tahun 1930 dan meninggal dunia pada tahun 1960 dalam usia 120 tahun. Kini mayat Pong Massangka dengan gelar Ne'Babu' disemayamkan dalam Patane ini dan tau-taunya yang terbuat dari batu yang dipahat siap menanti kunjungan Anda. Jaraknya 9 km dari Rantepao arah utara.

Londa

Obyek wisata Londa yang berada di desa Sandan Uai Kecamatan Sanggalai' dengan jarak 7 km dari kota Rantepao, arah ke Selatan, adalah kuburan alam purba. Tercipta secara alamiah oleh Yang Maha pengasih Tuhan yang empunya bumi ini. Gua yang tergantung ini, menyimpan misteri yakni erong puluhan banyaknya, dan penuh berisikan tulang dan tengkorak para leluhur tau-tau. Tau-tau adalah pertanda bahwa telah sekian banyak putra-putra Toraja terbaik telah dimakamkan melalui upacara adat tertinggi di wilayah Tallulolo. Gua-gua alam ini penuh dengan panorama yang menakjubkan 1000 meter jauh ke dalam, dapat dinikmati dengan petunjuk guide yang telah terlatih dan profesional. Kuburan alam purba ini dilengkapi dengan sebuah "Benteng Pertahanan". Patabang Bunga yang bernama Tarangenge yang terletak di atas punggung gua alam ini. Obyek ini sangat mudah dikunjungi, oleh karena sarana dan prasarana jalannya baik. Satu hal perlu diingat bahwa seseorang yang berkunjung ke obyek ini, wajib memohon izin dengan membawa sirih pinang atau kembang. Sangat tabu/pamali (dilarang keras) untuk mengambil atau memindahkan tulang, tengkorak atau mayat yang ada dalam gua ini.

Bori' Kalimbuang

Obyek wisata utama adalah Rante (Tempat upacara pemakaman secara adat yang dilengkapi dengan 100 buah menhir/megalit), dalam Bahasa toraja disebut Simbuang Batu. 102 bilah batu menhir yang berdiri dengan megah terdiri dari 24 buah ukuran besar, 24 buah ukuran sedang dan 54 buah ukuran kecil. Ukuran menhir ini mempunyai nilai adat yang sama. Penyebab perbedaan adalah perbedaan situasi dan kondisi pada saat pembuatan/pengambilan batu. Megalit/Simbuang Batu hanya diadakan bila pemuka masyarakat yang meninggal dunia dan upacaranya diadakan dalam tingkat Rapasan Sapurandanan (kerbau yang dipotong sekurang-kurangnya 24 ekor). Pada tahun 1657 Rante Kalimbuang mulai digunakan pada upacara pemakaman Ne'Ramba' di mana 100 ekor kerbau dikorbankan dan didirikan dua Simbuang Batu. Selanjutnya pada tahun1807 pada pemakaman Tonapa Ne'padda' didirikan 5 buah Simbuang Batu, sedang kerbau yang dikorbankan sebanyak 200 ekor. Ne'Lunde' yang pada upacaranya dikorbankan 100 ekor kerbau didirikan 3 buah Simbuang Batu. Selanjutnya berturut-turut sejak tahun 1907 banyak Simbuang Batu didirikan dalam ukuran besar, sedang, kecil dan secara khusus pada pemakaman Lai Datu (Ne'Kase') pada tahun 1935 didirikan satu buah Simbuang Batu yang terbesar dan tertinggi. Simbuang Batu yang terakhir adalah pada upacara pemakaman Sa'pang (Ne'Lai) pada tahun 1962. Dalam Kompleks Rante Kalimbuang tersebut terdapat juga hal-hal yang berkaitan dengan upacara pemakaman yang membuat kita mengetahui lebih banyak tentang Bori' Kalimbuang.

Ta'pan Langkan

Ta'pan Langkan artinya istana burung elang. Dalam abad XVII Ta'pan Langkan digunakan sebagai makam oleh 5 rumpun antara lain Pasang dan Belolangi'. Makam purbakala ini terletak di desa Rinding Batu dan memiliki sekian banyak tau-tau sebagai lambang prestise dan kejayaan masa lalu para bangsawan Toraja di Desa Rinding Batut. Dalam adat masyarakat Toraja, setiap rumpun mempunyai dua jenis tongkonan tang merambu untuk manusia yang telah meninggal. Ta'pan Langkan termasuk kategori tongkonan tang merambu yang jaraknya 1,5 km dari poros jalan Makale-Rantepao dan juga dilengkapi dengan panorama alam yang mempesona.

Situs Purbakala Sipore

Sipore/Sirompa' atau bertemu adalah salah satu nama yang diputuskan hasil musyawarah dari pemuka/tokoh adat dalam kampung Lion. Sirope sebagai salah satu tempat pekuburan, oleh masyarakat sekitarnya dengan cara membuat liang kubur yang disebut erong dan digantung pada tebing atau batu cadas. Berdasarkan cerita dari para pendahulu, bahwa erong asalnya dari daerah bagian utara (Sa'dan) yang datang dijual seharga 3 ekor kerbau, menyusur sungai Sa'dan, digunakan di sirope. Erong menurut masyarakat Kampung Lion merupakan salah satu cara terbaik menyimpan mayat. Melalui cara ini masyarakat secara umum utamanya dari kalangan bangsawan dan masyarakat mampu membeli erong. Menyusul, pada zaman besi, mulai membuat/memahat batu ini. Sirope sebagai tempat pekuburan yang unik, mengingat erong dalam lokasi pekuburan tersebut

cukup banyak dan tertata dengan rapi. Dari keunikan pekuburan Sirope, maka anda akan ketinggalan jika tidak mengunjungi obyek wisata sirope. Jarak 2 km dari poros jalan Makale-Rantepao. Demikian sejarah singkat obyek wisata sipore ini diinformasikan/ diberitakan ke seluruh dunia. ===Obyek-Obyek Wisata Tana Toraja===

Benteng Buntu Barana'

Benteng Buntu Barana' di Takala pada abad XVIII dulu dibuat Sia Ne'Salu bersama istrinya L. Ta'bi. Benteng Buntu Barana dibuat dengan basis pertahanan dalam menghadapi peperangan melawan musuh-musuh, baik yang datang dari luar maupu dari dalam. Benteng Buntu Barana' ini diperkuat oleh dukungan dari gabungan wakil-wakil masyarakat Tobarani seperti dari Tondon, Kesu', Madandan, Balepe', Pangala' dan beberapa kampung lainnya dalam suatu misi tersendiridari 10 orang yang lebih dikenal To Padatindo dalam menghadapi lawan yang datangnya dari luar Tana Toraja. Benteng Buntu Barana' terdiri dari 3 bagian benteng, yaitu : 1.Benteng Batu Pa'patulelean terletak pada bagian selatan. 2.Benteng Mangunda'pa agak di bawah dari Benteng Buntu Barana' 3.Benteng Buntu Barana' pada bagian ketinggian. Ketiga benteng ini tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain oleh karena merupakan satu kesatuan yang strategis sebagai benteng pertahanan yang tidak pernah terkalahkan, ketika perang melawan penjajahan Belanda, yang dipelopori oleh Tanga Layuk dan Sitto. Pada lokasi Benteng Buntu Barana' juga kita dapat menyaksikan panorama yang sangat indah ke beberapa penjuru seperti arah ke Bori Tallunglipu dan kota Rantepao. Jaraknya dari kota Rantepao 4 km.

Buntu Kalando

* Daya tarik utama: o Meseum mini o Tongkonan Puang Sangalla * Lokasi desa/lembang: Sangalla Objek wisata ini adalah Tongkonan Puang Sangalla' yang telah difungsikan sebagai museum dan home stay, terletak di Kelurahan Kaero Sangalla' 20 Km dari kota Rantepao. Buntuk Kalando mempunyai adat "Tanado Tananan Lantangna Kaero Tongkonan Layuk" yaitu sebagai tempat kediaman "Puang Sangalla". Tongkonan ini dibangun bersama dengan tiga lumbung padi (Alang Sura'). Buntu Kalando sebagai Tongkonan Tananan Lantangna Kaero Tongkonan Layuk dilengkapi dengan beraneka ragam tanduk yaitu tanduk kerbau, tanduk rusa, dan tanduk anoa terpampang di bagian muka Tongkonan dua buah kabongo' yaitu satu kabongo' bonga' Sura' dan satu kabongo' pudu' serta di

atasnya didudukkan katik yang menyerupai langkan maega (burung elang), perlambang kebesaran. Sebagai museum dalam tongkonan ini dilengkapi barang-barang koleksi antara lain: 1. Alat kerajaan Sangalla' 2. Pakaian adat kebesaran 3. Barang-barang bersejarah 4. Barang-barang antik 5. Alat-alat perang 6. Alat-alat ritus 7. Alat-alat pertanian 8. Alat-alat dapur 9. Alat-alat makan 10. Alat-alat minum 11. Barang-barang berkhasiat (balo') 12. Alat-alat top seks Toraja 13. Dan lain-lain

Galugu Dua Sangkambong

* Daya tarik utama: o Tongkonan o Pertenunan tradisional Lokasi desa/lembang: Sa'dan Manimbong

Kambira

Daya tarik utama: Passiliran (Kuburan pada pohon hidup untuk bayi yang masih belum tumbuh gigi) Lokasi desa/lembang: Buntu Sangalla'

Lemo

Daya tarik utama: o Liang Paa o Tau-tau o Bangunan tongkonan sasana budaya * Lokasi desa/lembang: Lemo Berada di km 9 jurusan Makale-Rantepao masuk 600 meter. Lemo adalah salah satu kuburan leluhur Toraja, hasil kombinasi antara ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa dengan kreasi tangan terampil Toraja pada abad XVI (dipahat) atau Liang Paa'. Jumlah lubang batu kuno ada 75 buah

dan tau-tau yang tegak berdiri sejumlah 40 buah sebagai lambang prestise, status, peran dan kedudukan para bangsawan di Desa Lemo. Diberi nama Lemo oleh karena model liang batu ini ada yang menyerupai jeruk bundar dan berbintik-bintik. Sejak tahun 1960, obyek wisata ini telah ramai dikunjungi oleh para wisatawan asing dan domestik. Pengunjung dapat pula melepaskan keinginannya dan membelanjakan dollar atau rupiahnya pada kios-kios suvenir. Ataukah berjalan-jalan di sekitar obyek ini menyaksikan buah-buahan pangi yang ranum kecoklatan yang siap diolah dan dimakan sebagai makanan khas suku toraja yang disebut "Pantollo Pamarrasan".

Lo'ko Mata

Lo'Ko Mata suatu lokasi yang diciptakan Tuhan Yang Maha Kuasa mengambil posisi di lereng gunung Sesean pada ketinggian 1400m di atas permukaan laut. Suatu tempat yang sangat menawan, fantastic dan bila seseorang datang dan menyaksikan serta merenungkan ciptaan ini rasa kangen pasti ada. Selain itu Anda dapat menyaksikan panorama alam yang sangat indah dan deru arus sungai di bawah kaki kuburan alam ini. Yang terletak di desa Pangden 30 km dari kota Rantepao. Nama Lo'ko' Mata diberi kemudian oleh karena batu alam yang dipahat ini menyerupai kepala manusia, tetapi sebenarnya Liang Lo'ko' Mata sebelumnya bernama Dassi Dewata atau Burung Dewa, oleh karena liang ini ditempati bertengger dan bersarang jenis-jenis burung yang indah-indah warna bulunya, dengan suara yang mengasyikkan kadang menakutkan. Pada abad XIV (1480) datanglah pemuda kidding yang memahat batu raksasa ini untuk makam mertuanya yang bernama Pong Raga dan Randa Tasik (I) selanjutnya pada abad XVI tahun 1675 lubang yang kedua dipahat oleh Kombong dan Lembang. Dan pada abad XVII lubang yang ketiga dibuat oleh Rubak dan Datu Bua'. Liang pahat ini tetap digunakan sampai saat ini saat kita telah memasuki abad XX. Luas areal wisata Lo'ko' Mata 1 ha dan semua lubang yang ada sekitar 60 buah.

Lombok Parinding

* Daya tarik utama: o Liang lo'ko o Erong * Lokasi desa/lembang: Bori' Parinding

Londa

* Daya tarik utama: o Liang Lo'ko' o Erong o Tau-tau

o Kuburan tergantung * Lokasi desa/lembang: Sandan Way

Ma'daung Tondok

* Daya tarik utama: o Patane khusus mayat bayi purba o Liang lo'ko' o Erong o Panorama o Kompleks rumah adat tradisional * Lokasi desa/lembang: Sillanan / Mebal MISTIK!!! Sepenggal kata yang mungkin cukup mampu mendesirkan bulu kuduk, hal itupun tepat untuk melukiskan adat Ma'daung Tondok Sillanan yang dalam pelaksanaannya penuh mengandung ritual-ritual mistis. Obyek wisata Ma'daung Tondok terletak di Kecamatan Mengkendek 20 km arah Selatan Makale, ke arah Barat, di Desa Sillanan. Obyek ini didukung oleh obyek-obyek wisata yang sangat menarik seperti : Lo'ko'wai, To'Banga, Pangrapasan dan Ma'dandan serta Tongkonan Karua Sillanan. Di mana masing-masing memiliki daya tarik yang spesifik dan keunggulan tersendiri seperti : Lo'ko'wai; di tempat ini terdapat mayat bayi yang unik dan awet (mummy) di mana rambut, kuku, gigi serta kulitnya masih utuh meskipun umur mayat tersebut diperkirakan sudah berkisar 4 abad. Mayat tersebut disakralkan oleh masyarakat di wilayah adat Ma'daung Tondok yang secara mitologis diyakini adalah keturunan dewa. Kurang lebih 400 meter terdapat kuburan manusia purba yang terdiri dari tumpukan erong, serta beberapa liang pahat di sekitarnya. Hal lain yang bisa kita nikmati di sektor-sektor obyek ini adalah keindahan alam. Para pengunjung masih dapat menyaksikan pohon-pohon tropis yang terpelihara meskipun umurnya telah tua, dan berkhasiat obat. Perkampungan tradisional yang masih asli dan unik tempat upacara adat, suatu benteng pertahanan yang digunakan untuk memantau musuh pada sekitar abad XVI. Benteng ini tidak pernah diterobos oleh musuh pada zaman dahulu. Wilayah obyek wisata Ma'daung Tondok secara keseluruhan sampai saat ini masih terpelihara dengan baik dan siap menanti kunjungan Anda.

Marante

* Daya tarik utama: o Tongkonan o Liang Paa' o Erong o Tau-tau * Lokasi desa/lembang: Tondon

Museum Londorundun

* Daya tarik utama: o Rumah adat Toraja o Museum * Lokasi desa/lembang: Tallunglipu, Bolu - Rantepao Menurut penuturan lisan orang Toraja khususnya bagi para bangsawan khususnya di Kecamatan Sa'dan Balusu' dan Sesean bahwa Londorundun yang bergelar "Datu Manili", adalah seorang putri yang cantik jelita yang memiliki rambut panjang dengan ukuran 17 depah 300 jengkal atau dalam Bahasa Toraja "Sang pitu da'panna, Talluratu' Dangkananna". Gadis jelita ini dipersunting oleh seorang raja dari Kabupaten Bone yang bernama "Datu Bendurana". Bukti sejarahnya adalah sebuah buku besar yang modelnya persis dengan sebuah kapal dikawal oleh dua batu kecil yang modelnya seperti perahu berada di Sungai Sa'dan di desa Malango' (Rantepao) sebelah kanan jembatan Malango' yang menurut cerita leluhur secara turun-temurun adalah kapal milik Datu Bendurana yang datang mencari dan menyelidiki Datu Manili (Londorundun). Mereka dipertemukan dalam jodoh dan oleh sebab itu orang Bone tidak boleh berselisih dengan orang Toraja, karena mereka mempunyai "Basse" atau "Perjanjian". Salah satu saudara kandung Londorundun adalah "Puang Bualolo" kawin ke wilayah Sa'dan, dan menjadi leluhur pemilik Museum Londorundun yang terletak di Desa Tallunglipu, kompleks BoluRantepao.

Pala'tokke

* Daya tarik utama: Kuburan tergantung * Lokasi desa/lembang: La'bo' Syahdan, dahulu ada seorang pria yang memiliki kesaktian, berbekal kesaktiannya pula Pala' Tokke mulai memanjat tebing dengan cara merangkak untuk kemudian membuat lubang pada tebing yang digunakan untuk menancapkan kayu sebagai penahan erong (peti mayat purba). Atas jasanya maka daerah ini kemudian diberi nama Pala' Tokke oleh masyarakat sekitar. Berkunjung ke Pala' Tokke dapat melihat peti mati yang menyerupai sebuah rak yang digantung pada sebuah tebing gunung.

Palawa'

* Daya tarik utama: o Tongkonan o Pengrajin tenunan tradisional * Lokasi desa/lembang: Palawa'

Penanian

* Daya tarik utama: o Tongkonan dan persawahan o Rante dan simbuang o Patane

o Kelelawar Lokasi desa/lembang: Nanggala

Pongtimbang

* Daya tarik utama: o Erong o Liang paa' * Lokasi desa/lembang: Baruppu' Obyek wisata Pongtimbang terletak di desa Baruppu' Kecamatan Rindingallo. Desa ini terkenal dengan penganut agama leluhur (Aluk Todolo) yang masih kental. Jarak lokasi dari Rantepao 58 km. Obyek wisata Pongtimbang adalah salah satu liang pahat yang dibuat pertama kali oleh seorang pria bernama Pandarrak. Pongtimbang berarti sumber menerima berkat (Pong = sumber, Timbang = menerima berkat). Di desa inilah acara Ma'Nene' (membersihkan kuburan-kuburan leluhur) setiap 5 tahun sekali dilakukan oleh masyarakat oleh karena masyarakat percaya bahwa membersihkan dan mengkafani kembali mayat-mayat yang telah lapuk pembungkusnya (balunna) adalah sesuatu yang mulia, di mana leluhur-leluhur akan senantiasa mengingat dan memberkahi turunan dan generasinya.

Potek Tengan

* Daya tarik utama: Situs purba/bersejarah * Lokasi desa/lembang: Tengan Tak kenal maka tak sayang, sesudah dikenal bisa jatuh cinta. Sungguh jatuh cinta pada obyek wisata Potok Tengan di Desa Tengan Kecamatan Mengkendek, persis di bawah kaki Gunung Kandora. Obyek wisata ini memiliki suatu rahasia yang terpendam yang pasti punya makna dan arti hidup yang sarat dengan pertanyaan. Ya, itulah 'Batu Suci' sebagai penjelmaan dari mayat 'Puang Pindakati' istri dari Datu Sawerigading. Permaisuri Datu Sawerigading ini dipuji-puji masyarakatnya di masa silam sebagai 'Dewi Pelindung' (Penolong). Sebagai penghormatan bagi Dewi Pelindung ini diadakan 'Pesta Meroek' setiap tahun. Generasi dari Dewi Pelindung dan datu Sawerigading, mengatur pemerintahannya dalam 3 fungsi yang disebut Tallu Borangna, yaitu pada Tongkonan Potok Tengan, dan pemimpinnya bergelar Pattole Baine, pada Tongkonan Garompa bergelar Masulosulo. Masing-masing dengan fungsi Pemimpin Tertinggi (salassa'). Penerangan dan obyek wisata sekali lagi dilengkapi dengan suatu mitos dan mungkin pasti (you believe it or not), adalah seorang yang pada zamannya dipandang sebagai Dewa dengan gelar "Tomebanuaditoke", Tometondok Dianginni, To turunan dibentoen, To Losson di Batara Mendemme' di Kapadanganna, Dialah "Puang Tambora Langi" si pembawa adat Sanda Saratu yakni 7777 pasal yang menjadi tatanan adat,

ada'na sukaran aluk masyarakat Toraja sejak leluhur hingga kini. Sarana prasarana menuju obyek sebagian sudah baik, tetapi sebagian pula yang masih jalan setapak model jalan kampung tempo dulu. Namun Anda tidak merasa lelah dan tiba-tiba telah berada di puncak potok tengan, oleh karena melalui jalan-jalan ke Potok Tengan ada kekuatan gaib yang mengantar Anda.

Ranpanan Kapa'

Ranpanan kapa' adalah upacara perkawinan secara adat di Tana Toraja, yang dilaksanakan oleh orang-orang tua tempo dulu, dengan memenuhi beberapa persyaratan antara lain pihak laki-laki wajib menyerahkan mas kawin berupa "kaleke' dan pangan". Tetapi untuk zaman di alam modern ini, pihak laki-laki dan pihak perempuan sama-sama membiayai pesta pernikahan (toleransi atau patungan) juga pakaian pengantin telah dimodifikasi.

Ranta Tendan

Ranta Tendan adalah pusaka leluhur Puang Balusu dan keluarga-keluarga lainnya, yang digunakan untuk acara upacara Rambu Solo' (Ma'palao). Di Rante Tendan ini kita dapat menyaksikan hadirnya puluhan dari ratusan "Simbuang Batu" sebagai pertanda , bahwa upacara Ma'palo sudah banyak kali diadakan, digunakan sejak abad X pada zaman hidupnya Puang Takke Buku. Jarak Rante Tendan dari kota Rantepao 15 km.

Suaya

* Daya tarik utama: o Erong o Liang Paa' o Tau-tau * Lokasi desa/lembang: Kaero

Tampangallo

* Daya tarik utama: o Liang lo'ko' o Erong o Tau-tau * Lokasi desa/lembang: Kaero

Tilangga

* Daya tarik utama: Kolam alam untuk rekreasi tirta * Lokasi desa/lembang: Sarira Tilangga' sebagai obyek wisata pemandian alam, jaraknya 12 km dari kota Rantepao, arah selatan.Bila pengunjung ingin melemaskan otot-otot dan urat-urat yang penat sepanjang hari

berkeliling ke objek-objek wisata, jangan lupa mandi di kolam air dingin Tilangga'. Airnya sangat jernih, dingin, sejuk dan tidak pernah kering. Dan Anda juga dapat menyaksikan ikanikan berwarna bersama belut-belut dalam kolam pemandian ini yang santai, tanpa merasa terusik. Pada saat ini air yang mengalir dari obyek wisata ini digunakan untuk air PAM bagi masyarakat kota Makale dan sekitarnya. Tiro Tasik Tiro : melihat/memandang Tasik : laut lepas Tiro Tasik adalah salah satu obyek wisata di mana Anda dapat menikmati laut lepas Teluk Bone. Sungguh suatu mujizat yang besar bahwa Tiro Tasik berada di tengah-tengah pegunungan, tetapi secara penglihatan dapat sangat dekat dengan laut. Juga pemandangan alamnya yang indah menawan dan hawanya yang sejuk. Tiro Tasik pada zaman dahulu dijadikan benteng pertahanan masyarakat distrik Sa'dan Matallo. Tiro Tasik adalah tanah milik Tongkonan Buntu Busia dan Sellak. Apabila Anda berada pada lokasi ini sejauh mata memandang arah sebelah timur Anda menyaksikan Teluk Bone dengan perahu-perahu layarnya yang pantang surut sekali terkembang. Arah Selatan dengan pemandangan sebagian alam Toraja yang indah permai berhiaskan lembah, bukit, dan sawah-sawah tersusun rapi secara alamiah. Arah Barat Anda dapat melihat Gunung Sesean yang menjulang tinggi dengan batu cadasnya yang diselingi pohon-pohon arabica. Arah Utara Anda dapat menyaksikan lebatnya hutan-hutan lindung yang ditumbuhi bermacam-macam jenis pohon tropis. Sepanjang jalan ke arah obyek wisata Tiro Tasik tak jemu-jemunya menyaksikan ciptaan-ciptaan leluhur yang antik dan bergengsi. Yakni perumahan adat milik masyarakat antara lain : Tongkonan Rea, Belo Sa'dan, Tammuan Allo' Buntu Lobo', Pambalan, Pantu dan Belo Bua', dengan wanita-wanitanya yang sedang mengayunkan "Balida"nya (alat tenun tradisional), untuk menenun kain-kain tradisional yang cantik dengan nama tenunan Paruki' (Tenun Ukir). Dan bila Anda merasa haus silakan mencicipi sang suke Tuak mammi'na To Sa'dan dengan nama "Tuak Sissing Beang" yang sangat harum aromanya dan membuat si peminum bertambah semangat.

To'barana

* Daya tarik utama: o Pertenunan tradisonal o Panorama tepi sungai * Lokasi desa/lembang: Sa'dan Malimbong

To' Puang-Batualu

Perkampungan pertama (Pa'tondokan Garonto) "Puang Pangonggang" dan dua orang seperangkatannya bernama Bongi dan Paliun. Mereka adalah orang pertama (Pong Mula Tau) yang dikenal dengan nama "Tana' Tau Tallu" yang kelak Tana' Tau Tallu ini berpindah ke Selatan Rante Alang yang disebut Batualu (Padang di Batualu) di mana lokasi To'Puang ini terletak. Lokasi ini diberi nama To'Puang setelah dihuni (natorroi) anak dewa dari gunung Sinaji

suatu tempat ketinggian sebelah selatan Batualu. Berlarut dalam situasi sedemikian ini oleh keluarga dari leluhur Toma'tau Tallu' di mana Pagonggang memegang tampuk kekuasaan (Puang Pagonggang) sebagai pengatur segala sesuatu di daerah yang dihuni (di daerah Batualu), namun seperangkatannya (Bongi/Paliun) tetap memegang teguh dan utuh memimpin daerah kekuasaannya masing-masing, yang tersimpul dalam idiom Toraja (Kada Bola'na Toraya) dari ketiga seperangkatan, dengan semboyan masingmasing pihak sebagai berikut : Semboyan Puang Pagonggang berbunyi: Tomamma' Penamile, Tomatindo Balian, Todiku Lambu Taruno, artinya bahwa Puang Pagonggang adalah pengambil inisiatif dan tidak untuk kepentingannya sendiri, tapi demi ketentraman/kemajuan masyarakat yang ada pada zaman itu. Semboyan Bongi berbunyi : Toma' Peniro Sumalunna Lombok artinya bahwa bongi merupakan pasukan tentara untuk keamanan/ketentraman masyarakat. Semboyan Paliun berbunyi: Peso paele Pupakan dengan pengertian bahwa Paliun sebagai pengatur, pelaksana dan perencana. Pada zaman pemerintahan Belanda, Puang Pong Tambing keturunan Puang Pagonggang memangku rangkap jabatan yakni pemangku adat (To Parengnge) dan kepala Pemerintahan (kepala Bua') di masyarakat Batualu. Tampuk kepengurusan Mustika sakti Puang parranan dalam tangan puang Pong Tambing (Kepala Bua) bersama pemimpin seperangkatannya Bongi dan Paliun. Sebab itu kepala Bua' dijabat Puang So'Nura' dengan gelar Puang Batualu kemudian pemangku adat dijabat Puang Londong Allo. Dari Toma'tan tallu (Pong Mula Tau) mulai dari angkatan pertama sampai angkatan So'Mule (Perenge' Tongkonan Dua), Tanete, terasa baik dan terwujud hikmat sehingga lokasi To'Puang dan daerah sekitar To'Puang juga memiliki mitos yang spesifik dapat dijadikan suatu objek potensial untuk berwisata. ===Tongkonan ( Rumah Adat Toraja )=== Konon bentuk tongkonan menyerupai perahu kerajaan Cina jaman dahulu Terik sinar matahari terasa semakin menyengat mata pada saat dipantulkan oleh papan berwarna merah yang menopang sebuah bangunan dengan bentuknya bak perahu kerajaan cina, guratan pisau rajut merajut di atas papan benwarna merah membentuk ukiran sebagai pertanda status sosial pemilik bangunan, ditambah lagi oleh deretan tanduk kerbau yang terpasang/digantung di depan rumah, semakin menambah keunikan bangunan yang terbuat dari kayu tersebut. Bentuk bangunan unik yang dapat dijumpai dihampir setiap pekarangan rumah masyarakat Toraja ini, lebih dikenal dengan sebutan nama Tongkonan. Konon kata Tongkonan berasal dari istilah "tongkon" yang berarti duduk, dahulu rumah ini merupakan pusat pemerintahan, kekuasaan adat dan perkembangan kehidupan sosial budaya masyarakat Tana Toraja. Rumah ini tidak bisa dimiliki oleh perseorangan, melainkan dimiliki secara turun-temurun oleh keluarga atau marga suku Tana Toraja. Dengan sifatnya yang demikian, tongkonan mempunyai beberapa fungsi, antara lain: pusat budaya, pusat pembinaan

keluarga, pembinaan peraturan keluarga dan kegotongroyongan, pusat dinamisator, motivator dan stabilisator sosial. Oleh karena Tongkonan mempunyai kewajiban sosial dan budaya yang juga bertingkat-tingkat dimasyarakat, maka dikenal beberapa jenis tongkonan, antara lain yaitu Tongkonan Layuk atau Tongkonan Pesio' Aluk, yaitu Tongkonan tempat menciptakan dan menyusun aturan-aturan sosial keagamaan. Tongkonan Pekaindoran atau Pekamberan atau Tongkonan kaparengngesan yaitu Tongkonan yang satu ini berfungsi sebagai tempat pengurus atau pengatur pemerintahan adat, berdasarkan aturan dari Tongkonan Pesio' Aluk. Tongkonan Batu A'riri yang berfungsi sebagai tongkonan penunjang. Tongkonan ini yang mengatur dan berperan dalam membina persatuan keluarga serta membina warisan tongkonan. Tongkonan merupakan peninggalan yang harus dan selalu dilestarikan, hampir seluruh Tongkonan di Tana Toraja sangat menarik untuk dikunjungi sehingga bisa mengetahui sejauh mana adat istiadat masyarakat Toraja, serta banyak sudah Tongkonan yang menjadi objek wisata.

Tongkonan Marimbunna

Tongkonan tersebut terletak dikelurahan Tikala, sekitar 6 Km arah utara Rantepao. Marimbunna, merupakan nama dari orang pertama yang datang di daerah ini. Mempunyai daya tarik berupa peninggalan-peninggalan Marimbunna, yaitu: rumah sekaligus tempat mandi yang letaknya berada di atas karang, liang batu yang proses pembuatannya dipahat dengan menggunakan kayu serta ada juga kuburan Marimbunna yang diukir berbentuk perahu dan kerbau berdiri. Di sini kita juga dapat menjumpai jasad Marinbunna, yang tinggal tulangnya saja namun rambutnya tetap menempel di dahinya.

Benteng Batu

Benteng Batu adalah nama perkampungan asli orang Baruppu. Perkampungan ini terletak di Kecamatan Rindingallo, dengan jarak kurang lebih 50 Km arah utara Rantepao, didaerah ini seluruh wilayahnya dikelilingi oleh tebing. Sehingga otomatis keberadaannya terisolir dari dunia luar, untuk dapat masuk ke daerah tersebut hanya bisa melewati satu jalan yakni sebuah lorong batu yang memiliki daya tarik tersendiri. Tebing-tebing yang mengeliligi daerah ini masingmasing diberi nama, antara lain: Tebing batu, Kavu Angin dan Benteng Saji. Selain pemah dipakai untuk benteng pertahanan melawan Belanda, di tebing-tebing tersebut, terdapat kuburan dalam bentuk liang pahat maupun gua alam yang ada jasadnya. Pada setiap tahunnya, diadakan prosesi ritual penggantian pakaian jenazah yang disebut dengan to'ma' nene.

Tongkonan Bate-Banbalu

Tongkonan Bate-Bambalu terletak di Kecamatan Sa'dan Balusu, dengan jarak tempuh sekitar 2,5 Km arah timur Palopo. Didirikan sekitar abad X Masehi dan merupakan tongkonan tertua di daerah tersebut. Didirikan oleh seorang yang bernama Tanditonda, yang merupakan nenek moyang penduduk disana. Mitos yang ada menyebutkan bahwa Tanditonda adalah orang yang

kaya akan kerbau dan gemar minum susu kerbau, hingga suatu saat susu-susu kerbaunya hilang dicuri orang, yang ternyata kelak si pencuri itu menjadi istrinya. Sebelum menikah dengan perempuan yang bernama Manurun Di Batara tersebut, mereka membuat kesepakatan bahwa Tangditonda tidak boleh memukul istrinya. Namun suatu saat janji itu dilanggarnya, istrinya yang sebenarnya dewa itu akhirnya meninggalkannya menuju langit, jalan lewat pelangi, dengan meninggalkan rumah tongkonannya, dan juga tenun yang belum selesai.

Tongkonan Siguntu'

Tongkonan Siguntu' terletak di Dusun Kadundung, Desa Nonongan Kecamatan Sanggalangi'. Dengan jarak sekitar 5 Km dari kota Rantepao, tongkonan yang unik ini dibangun oleh Pongtanditulaan. Keberadaannya yang di atas sebuah bukit menyajikan pemandangan alam yang indah mempesona, dengan dikelilingi hamparan sawah pada bagian timur serta tebingtebing bukit Buntu Tabang, dengan keberadaan seperti ini membuat tongkonan nampak megah serasi bersatu dengan alam disekitarnya.

Tongkonan Lingkasaile-Beloraya

Tongkonan Lingkasaile adalah tongkonan yang pertama kali di daerah ini. Dibangun di kawasan Desa Balusu, 14 Km dari Rantepao, pendirinya bernama Takke Buku, keturunan Polo Padang dan Puang Gading. Tongkonan yang sudah ditumbuhi tanaman paku diatapnya ini, masih menyimpan perabot rumah tangga tempo dulu. Selain itu, tongkonan ini punya daya pikat khusus, yaitu di percaya, bila kita lewat pasti ingin menolehnya kembali. Oieh karena itulah tongkonan ini disebut dengan Lingkasaile-Beloraya, lingka sendiri berarti langkah, sedangkan Beloraya berarti menoleh kembali. Takke Buku memiliki/menyandang gelar Puang Takke Buku, beliau hidup kurang lebih pada abad ke-10. Selain Tongkonan Lengkasaile yang dibangun, ia juga membuat kuburan Bagi keluarganya yang disebut Liang Sanda Madao dan Rante Tendan yang digunakan tempat upacara pemakaman.

Tongkonan Rantewai

Tongkonan Rantewai atau Tongkonan Ranteuai, ini dibangun oleh sepasang suami istri bernama To welai Langi'na dan Tasik Rante Manurun. Didirikan sekitar abad XVII, Tongkonan ini memiliki simbol kepemimpinan, yakni tergambar pada patung kayu yang berbentuk "kepala naga" sebanyak delapan buah. Pada tahun 1917, Seluruhpeninggalan mengenai bukti perjuangan dalam mempertahankan tanah air bisa kita dapatkan di rumah adat Tongkonan Kollo-kollo ini.

Tongkonan Penanian

Suatu nama yang manis, oleh karena "Penanian" dalam bahasa Toraja, berarti sesuatu yang bermanfaat bagi semua orang, untuk dibaca dan dinyanyikan. Tongkonan ini terletak sekitar 14 Km arah timur kota Rantepao. Tongkonan Penanian mempunyai daya tarik keindahan tersendiri. Dengan menyajikan pemandangan serta tata letak deretan lumbung padi atau Alangsura' yang berjajar rapi dan antik. Lumbung-lumbung padi ini dibangun oleh Kepala Distrik Nanggala

bernama Siambe Salurapa' yang juga sebelumnya sebagai pemangku adat dalam daerah Nanggala dan sekitarnya.

Tongkonan Layuk Pattan

Tongkonan layuk pattan, terletak di desa ulusalu, sekitar 18 Km dari kota Makale. Di bawah kepemimpinan Ma'dika, pemimpin tertinggi desa ini, para generasi maupun leluhur desa senantiasa melaksanakan upacara adat rambu tuka' atau ma'bua' ditongkonan tersebut. Selain itu, tongkonan Layuk Pattan juga berfungsi sebagai tempat musyawarah aluk atau adat, yang lebih dikenal dengan istilah tondok panglisan aluk, tempat pemerintahan juga sebagai tempat pengadilan adat. Tongkonan Layuk Pattan didirikan oleh Kala' pada kira-kira abad XIV, beragam peninggalan sejarah yang dapat disaksikan disini. Selain Tau-tau berjumlah 130 buah, tempat upacara adat Rante, monumen batu menhir, juga barang pusaka lainnya seperti mawa', keris dan tombak. Desa ini juga dilengkapi dengan sebuah Benteng yang kokoh, belum pernah terkalahkan oleh musuh pada jaman dulu kala yaitu Benteng Boronan.

Perumahan Adat Palawa'

Dahulu kala ada seorang lelaki dari Gunung Sesean bernama "Tomadao" berpetualang. Dalam petualangannya ia bertemu dengan seorang gadis dari gunung Tibembeng bernama "Tallo' Mangka Kalena". Mereka kemudian menikah dan bermukim disebelah timur "desa Palawa" dan sekarang ini bernama Kulambu. Dari perkawinan ini lahir seorang anak laki-laki bernama Datu Muane' yang kemudian menikahi seorang wanita bernama Lai Rangri'. Kemudian mereka beranak pinak dan mendirikan sebuah kampung yang sekaligus berfungsi sebagai Benteng Pertahanan. Ada sebuah tradisi disaat peperangan terjadi antar kampung/musuh, jika ada lawan yang menyerang dan bisa dikalahkan atau dibunuh, maka darahnya diminum dan dagingnya dicincang, tradisi ini disebut Pa'lawak. Pada pertengahan abad XI, berdasarkan musyawarah adat disepakati, mengganti nama Pa' lawak menjadi Palawa', sebagai suatu kompleks perumahan adat. Dan bukan lagi daging manusia yang dimakan, tetapi diganti dengan ayam dan disebut Palawa' manuk. Keturunan Datu Muane secara berturut-turut membangun tongkonan di Palawa'. Sekarang ini terdapat 11 buah tongkonan (rumah adat) yang urutannya sebagai berikut (dihitung mulai dari arah sebelah barat): 1. Tongkonan Salassa' dibangun oleh Salassa'; 2. Tongkonan Buntu dibangun oleh Ne'Tatan 3. Tongkonan Ne'Niro dibangun olek Patangke dan Sampe Bungin 4. Tongkonan Ne'Dane dibangun oleh Ne'Matasik 5. Tongkonan Ne'Sapea dibangun oleh Ne'Sapeah 6. Tongkonan Katile dibangun oleh Ne'PipeTongkonan Ne'Malle dibangun oleh Ne'Malle 7. Tongkonan Sasana Budaya dibangun oleh Ne'Malle 8. Tongkonan Bamba II dibangun oleh Patampang 9. Tongkonan Ne'Babu dibangun oleh Ne'Babu' 10. Tongkonan Bamba I dibangun oleh Ne'Ta'pare. Tongkonan Palawa' juga memiliki Rante yang disebut Rante Pa'padanunan dan Liang Tua

(Kuburan Batu) di Tiro Allo dan Kamandi, selain tongkonan juga dibangun lumbung atau alang sura' tempat menyimpan padi.

Tongkonan Unnoni

Unnoni artinya, "Berbunyi dan bergabung keseluruh penjuru". Nama ini membawa nama harum bagi keturunan leluhur dari Tongkonan Unnoni, sebab beberapa turunan dari tongkonan ini menjadi Kepala Distrik yang sekaligus dilantik sebagai puang (golongan bangsawan tertinggi), di wilayah Sa'dan Balisu desa paling utara Tana Toraja. Puang, sekaligus sebagai to Parengnge' yakni sebagai pemimpin adat dan pemimpin rakyat. Turunan yang berasal dari tongkonan Unnoni antara lain ne' Tongongan, Puang ne'Menteng, Puang Bulo', Puang Pong Sitemme', Puang Ponglabba, Puang Ne' Matandung dan terakhir Puang Duma'Bulo' . Tongkonan Unnoni melahirkan atau erat hubunganya dengan Tongkonan Belo' Sa'dan,Tongkonan Rea, Tongkonan Buntu Lobo' dan Tongkonan Pambalan. Generasi Tongkonan Unnoni merupakan generas i yang pandai menenun . Istri para pemimpin dari masing-masing Tongkonan inilah yang memiliki ketrampilan menenun secara tradisional (tenun ukir). Cara menenun ini, oleh istri pemimpin diajarkan pada rakyatnya, hingga sekarang dan dapat dilestarikan. Proses menenun Tenun Paruki' inilah, yang dipertontonkan di Tongkonan Unnoni, mulai dari cara merendam benang sampai bisa jadi selembar kain tenun yang terukir cantik dan indah, dalam ukiran motif Toraja melalui sembilan tahapan.

Tongkonan Layukna Galuga Dua dan Pertenunan Asli Sangkombang.

Tongkonan Layukna Galuga Dua merupakan salah satu tongkonan yang dijadikan pengadilan, selain digunakan untuk pengadilan terhadap pelanggaran adat yang menjadi tanggung jawab To'Perengnge, juga merupakan pusat musyawarah para pemimpin keluarga dari Tongkonan Galuga dua untuk menentukan suatu rencana. Terletak sekitar 12 Km, arah utara dari Rantepao, Tongkonan Layukna Puang Galuga Dua; ini dibangun pada tahun 1189 oleh kedua putra Galuga. Dari kedua putranya ini, masing-masing membangun Tongkonan yaitu Tongkonan Papabannu' dari putra pertama dan Banau Sura' dari putra keduanya. Tongkonan Layukna Galuga selain tongkonan keluarga Galuga Dua juga merupakan pusat pertenunan dengan bebagai motif sesuai dengan kebutuhan adat dan ciri khas budaya Toraja. Macam-macam motif tenunan adalah: Tenunan Pamiring khusus untuk sarung perempuan,Tenunan Sappa khusus untuk celana lakilaki, Tenunan Paramba' khusus untuk selimut, Tenunan Paruki' khusus taplak meja dan dekorasi atau hiasan dinding, tenunan Lando khusus tombi untuk pesta untuk pesta rambu solo' atau sapu randanan.

To'Barana Sa'Dan dan Pertenunan Asli Toraja

Sa'dan artinya air atau batang air, To'Barana artinya tempat beringin atau pohon beringin, To' Barana merupakan tempat pengampunan masyarakat Sa'dan dahulu kala apabila masyarakat menghadapi sesuatu kesulitan. Lokasi To'Barana pada mulanya dibentuk oleh nenek moyang keluarga To Barana yang bernama Langi' para'pak. Pada lokasi ini dijadikan perkampungan tongkonan to'. Kemudian, tongkonan ini mengalami renovasi/dibaharui oleh leluhur To'Barana' bernama Puang Pong Labba. Kira- kira dua abad yang lalu dan kemudian mengalami renovasi

lagi oleh keluarga Puang Pong Padati pada tahun 1959. Lokasi dan rumah tongkonan yang diwariskan secara turun temurun kepada generasinya ini selain sebagi tongkonan juga sebagi pusat pertenunan asli Toraja. Para wanita di sini memiliki ketrampilan pandai menenun, karena sejak kecil telah diajarkan oleh orang tuanya. Bahan baku dari bahan tenunan asli di Sa'dan adalah benang kapas yang dipintal kemudian ditenun, seiring dengan perkembangan jaman saat ini tenun sa'dan sudah mulai menciptakan bemacam-macam motif tenun. Perumahan asli BALIK SALUALLO SANGNGALLA', Balik Saluallo, objek yang juga tidak ketinggalan memiliki beberapa keunggulan atau keunikan tersendiri. Buburan sebagai tempat persembahan masyarakat Toraja yang masih memeluk agama Aluk Todolo (Ancester believe) dilokasi ini untuk memohon hujan pada saat musim kemarau dengan melakukan persembahan pemotongan hewan. Pata' Padang; sebagai tempat awal bermusyawarah dan bermufakat bagi leluhur Toraja (pemimpin-pemimpin) dari seluruh pelosok di daerah Tondok Lelongan Bulan Tana Matarik Allo (Tana Toraja) untuk memutuskan/ menyatakan strategy melawan serangan dari luar daerah antara lain dari Bone. Pemimpinnya adalah seorang yang pintar, bijaksana, gagah berani, yang bernama "Tumbang Datu" sekilas pintas otobiografi dari "Tumbang Datu", salah satu generasi dari Tongkonan balik yang memiliki daya pikat tersendiri sebagai berikut: Tumbang Datu sebagai koordinator dalam sejarah Topadatindo yang pernah mengatur strategy untuk melawan musuh yang dating dari Bone. Dan Tumbang Datu selalu berhasil mengalahkan lawannya. Temyata Tumbang Datu adalah salah seorang leluhur dari Tongkonan Balik yang memiliki kharisma tersendiri. Kepandaiannya dapat dibuktikan mengalahkan Datu Luwu beberapa kali dalam kompetisi-kompetisi keterampilan seperti: mempertandingkan ayam. Ayam siapa yang paling banyak berbunyi. Datu Luwu menyiapkan ayam jantan besar, yang hanya sekali-sekali berbunyi. Sedang Tumbang Datu menyiapkan anak-anak ayam yang baru dipisahkan dari induknya. Ternyata ayam dari Tumbang Datu lebih banyak berbunyi dan malah berbunyi terus menerus sangat ramai. Jadi Datu Luwu' merasa kalah. Dan banyak lagi, cerita yang unik yang bisa anda dengar dan terima dari objek wisata Tongkonan Balik Saluallo, yang bemilai kejujuran dan keadilan. ===Tempat wisata di Tana Toraja=== 1. LEMO Lemo adalah tempat pekuburan dinding berbatu dan patung-patung (tau-tau). Jumlah lubang batu kuno ada 75 buah dan tau-tau yang tegak berdiri sejumlah 40 buah sebagai lambang-lambang

prestise, status, peran dan kedudukan para bangsawan di desa Lemo. Di beri nama Lemo oleh karena model liang batu ini ada yang menyerupai jeruk bundar dan berbintik-bintik. Sejak tahun 1960, objek wisata ini telah ramai di kunjungi para wisatawan asing dan wisatawan nusantara.Pengunjung dapat pula melepaskan keinginannya dan membelanjakan dolarnya, euronya atau rupiahnya pada kios-kios souvenir. Ataukah berjalan-jalan sekitar objek menyaksikan buah-buah pangi yang ranum kecoklatan, yang siap diolah dan di makan sebagai makanan khas suku Toraja yang di sebut "Pantollo Pamarrasan". Selamat menikmati. KAMBIRA ( KUBURAN BAYI / PASSILLIRAN ) Seseorang yang belum tembuh gigi apabila menungal dunia akan dikuburkan ke dalam sebatang pohon kayu yang hidup dari jenis pohon kayu Tarra'. Kayu yang digunakan dilokasi ini telah berumur sekitar 300 tahun yang lalu. Proses pelaksanaan pekuburan sejenis ini mengenal tahap-tahap sebagai berikut:Bayi yang meninggal dibalut dengan kian putih yang pernah dipakai dalam posisi dalam keadaan dipangku.Kemudian keluarga memberi tanda pada pohon kayu yang hendak digunakan sebagai kuburan (ma'tanda kayu).Membuat lubang dengan ketentuan tidak boleh berhadapan dengan rumah kediamannya.Mempersiapkan penutup kubur dari bahan pelepah enau (kulimbang ijuk).Membuat tana' (pasak) karurung dari ijuk sesuai tingkatan strata sosialnya.12 tana' karurung bagi tingkatan bangsawan.8 tana' karurung bagi tingkatan menengah.6 tana' karurung bagi tingkatan bawah. Ma'kadende' yaitu membuat tali ijuk sebelum jenasah dibawa ke kuburan, seekor babi jantan hitam dipotong/disembelih di halaman rumah duka, kemudian dibawa ke kuburan dengan diusung.Setibanya di kuburan babi/daging tersebut dimasak dalam bambu/dipiong, tanpa diberi garam atau bumbu lainnya setelah semua itu siap mayat dibawah ke kuburan dengan syarat sebagai berikut: Dibawa dalam posisi dipangku.Pengantar mayat baik laki-laki maupun perempuan harus berselubung kain.Dilarang berbicara, menoleh ke kiri atau ke kanan maupun ke belakang. Setibanya jenasah di pekuburan penjemput jenasah turun dari tangga lalu mengambil, mengangkat, dan memasukkan jenasah ke dalam lubang kayu dalam posisi berlutut menghadap keluar. Kemudian kubur itu ditutup dengan kulimbang di tana' /dipasak sesuai dengan statusnya dan sesudah ini dilapisi dengan ijuk dan diikat dengan kadende' (tali ijuk). Sepanjang kegiatan tersebut di atas, seluruh orang yang hadir dilarang berbicara, nanti setelah ma'taletek pa'piong (membelah bambu berisi daging yang sudah masak) berarti orang sudah boleh berbicara dan orang yang berada diatas tangga sudah boleh turun. 2. LONDA

Sama dengan Lemo, Londa adalah tempat pekuburan dinding berbatu dan patung-patung (tautau). Di dalamnya terdapat gua dengan banyak tengkorak kepala manusia. Objek wisata Londa yang berada di desa Sandan Uai Kecamatan Sanggalangi' dengan jarak 7 km dari kota Rantepao, arah ke selatan, adalah kuburan alam purba. Gua yang tergantung itu, menyimpan misteri yakni erong puluhan banyaknya, dan penuh berisikan tulang dan tengkorak para leluhur, tau-tau. Tautau adalah pertanda bahwa telah sekian banyak putra-putra Toraja terbaik telah dimakamkan melalui upacara adat tertinggi di wilayah Tallulolo. Gua-gua alam ini penuh dengan panorama yang menakjubkan 1.000 m jauh kedalam, dapat dinikmati dengan petunjuk guide yang sudah terlatih dan profesional. Kuburan alam purba ini dilengkapi dengan sebuah "Benteng Pertahanan". Patabang Bunga yang bernama Tarangenge, yang terletak di atas punggung gua alam ini. Objek ini sangat mudah dikunjungi, oleh karena sarana dan prasarana jalannya baik. Satu hal perlu diingat bahwa seseorang yang berkunjung ke objek ini, wajib memohon izin dengan membawa sirih pinang, atau kembang. Sangat tabu/pemali (dilarang keras) untuk mengambil atau memindahkan tulang, tengkorak, atau mayat yang ada dalam gua ini. 3. TAMPANG ALLO (burial cave) Sejarah singkat objek wisata Tampang Allo (atau Tampangallo) ini merupakan sebuah kuburan gua alam yang terletak di Kelurahan Kaero Kecamatan Sangalla' dan berisikan puluhan erong, puluhan tau-tau dan ratusan tengkorak dan tulang belulang manusia. Pada sekitar abad ke 16 oleh penguasa Sangalla' dalam hal ini Sang Puang Manturino bersama istrinya Rangga Bulaan memilih Gua Tampang Allo sebagai tempat pemakamannya kelak jika mereka meninggal dunia. Demikianlah Rangga Bulaan di gadis cantik, asuhan sang kera, meninggal lebih dahulu dan jenazalmya dimasukkan ke dalam Erong serta diletakkan dalam gua Tampang Allo. Sedangkan Sang Puang Manturino pada saat meninggal Erong ditempatkan pada pemakaman losso' yang letaknya tidak jauh dari Tampang Allo. Entah bagaimana kemudian erong Sang Puang ternyata kosong. Sedangkan jenasahnya telah bersatu dengan jenazah istrinya di Tampang Allo. Lama setelah Sang Puang dan istrinya Rangga Bulaan meninggal dunia pusaka kerajaan yang disebut Bakasiroe' diambil alih oleh Puang Musu' sebagai penguasa Tongkonan Puang Kalosi. Pada masa itu juga Tana Toraja yang dikenal sebagai Tondok Lepongan Bulan Tana Matarik Allo berada dalam kekacauan akibat serangan dari kerajaan Bone. Terjadi juga peperangan antara daerah/ masyarakat setempat dan tentara Bone membantu salah satunya dan akibat yang kalah perang dirampas sawah dan kekayaannya serta orang-orangnya dikirim ke Madan dan ke daerah Bugis. Puang Musu' membawa pusaka Baka Siroe' mengungsi ke Madan dan sewaktu Puang ini menyeberang sungai Sa'dan dan salah seorang yang bernama Karasiak membunuh Puang Musu'

dan merampas Baka Siroe'. Keturunan Puang Musu' selalu berusaha dengan cara apapun untuk mengembalikan pusaka Baka Siroe' ke tempatnya semula pada tahun 1934, terjadilah perdamaian antara Puang Musu' dengan keturunan Karasiak melalui perkawinan. Kemudian dengan lahirnya anak di pari tanga, Pusaka Baka Siroe' diberikan kepada anak tersebut untuk menyimpan dan memeliharanya. Demikian juga tempat pemakaman mereka kelak disepakati di Gua Tampang Allo sebagai perwujudan perjanjian dan sumpah suami istri yaitu "sehidup semati satu kubur kita berdua". Suaya , Kuburan raja-raja Sangalla. Kuburan berada di salah satu sisi dari bukit. Dipahat sebagai tempat beristirahat dari tujuh raja dan keluarga kerajaan Sangalla. Tau-tau dari Raja-raja dan keluarga raja berpakaian sesuai dengan pakaian adat raja Toraja di tempatkan dimuka kuburan batu. tangga batu tersedia untuk naik ke bukit dimana raja dikala hidupnya digunakan untuk bersepi-sepi, ditempat itu akan dibuat museum untuk menempatkan harta kekayaan dari raja-raja Sangalla. 4. KE'TE KESU' Ke'te' Kesu' adalah objek wisata yang sudah populer sejak tahun 1979 terletak dikampung Bonoran yang berjarak 4 km dari Kota Rantepao, telah ditetapkan sebagai salah satu Cagar Budaya dengan nomor; registrasi 290 yang perlu dilestarikan/ dilindungi. Objek wisata ini sangat menarik, oleh karena memiliki suatu kompleks perumahan adat Toraja yang masih asli, yang terdiri dari beberapa Tongkonan, lengkap dengan Alang Sura' (lumbung padinya). Tongkonan tersebut dari leluhur Puang ri Kesu' di fungsikan sebagai tempat bermusyawarah, mengelolah, menetapkan dan melaksanakan aturan-aturan adat, baik aluk maupun pemali yang digunakan sebagai aturan hidup dan bermasyarakat di daerah Kesu', dan juga di seluruh Tana Toraja, yang disebut aluk Sanda Pitunna (7777).Objek wisata ini dilengkapi pula dengan areal; upacara pemakaman (rante), kuburan (liang) purba dan makam-makam modern, namun tetap berbentuk motif khas Toraja, pemukiman, perkebunan dan persawahan yang cantik dan menyejukkan hati. Sekaligus para pengunjung dapat menyaksikan seni ukir Toraja di lokasi ini. 5. LO'KO MATA Lo'ko Mata mengambil posisi di lerang gunung Sesean pada ketinggian 1.400 m di atas permukaan laut. Suatu tempat yang sangat menawan, fantastik dan bila seseorang datang dan menyaksikan serta merenungkan ciptaan ini rasa kangen pasti ada. Selain itu anda dapat menyaksikan panorama alam yang sangat indah dan deru arus sungai di bawah kaki kuburan alam ini. Yang terletak di desa Pangden 30 km dari kota Rantepao. Nama Lo'ko' Mata diberi kemudian oleh karena batu alam yang dipahat ini menyerupai kepala manusia, tetapi sebenarnya liang Lo'ko' Mata sebelumnya bernama Dassi Dewata atau Burung

Dewa, oleh karena liang ini ditempati bertengger dan bersarang jenis-jenis burung yang indahindah warna bulunya, dengan suara yang sangat mengasyikkan tetapi kadang-kadang menakutkan.Pada abad ke 14 (1480) datanglah pemuda Kiding memahat batu raksasa ini untuk makam mertuanya yang bernama Pong Raga dan Randa Tasik (I) selanjutnya pada abad 16 tahun 1675 lubang rang ke II dipahat oleh Kombong dan Lembang. Dan pada abad ke 17 lubang yang ke III dibuat oleh Rubak dan Datu Bua'. Liang pahat ini tetap digunakan sampai saat ini saat kita telah memasuki abad ke XX (milenium III). Luas areal objek wisata. Lo'ko' Mata 1 ha dan semua lubang yang ada sekitar 60 buaah. 6. PANGLI, PATANE PONG MASSANGKA ( Statue of the murderer Pong Massangka, the man who killedA. A. van de Loosdrecht, the first missionary in Tana Toraja).... Patane (kuburan dari kayu berbentuk rumah Toraja) dibangun pada tahun 1930. Untuk seorang janda yang bernama Palindatu yang meninggal pada tahun 1920 dan diupacarakan secara adat Toraja tertinggi yang disebut Rapasan sapu randanan. Palindatu dikawini oleh seorang putra bernama Tangkeallo dan melahirkan beberapa anak. Salah satu anaknya yang bungsu bernama Semba' alias Pong Massangka dengan gelar Ne' Babu' oleh kematian misionaris belanda Arie van de Loosdrecht di Rante Dengen Bori' pada tanggal 27 Desember 1917, maka Pong Massangka alias Ne' Babu' salah satu yang tertuduh sehingga dihukum buang ke Bogor / Nusa Kambangan dan dikembalikan pada tahun 1930 ke Tana Toraja dan meninggal dunia pada tahun 1960 dalam usia 120 tahun (lahir 1840). Mayat Pong Massangka dengan gelar Ne' Babu' disemayamkan dalam patane ini dan tau-taunya yang terbuat dari batu yang dipahat siap menanti kunjungan anda. 7. MARANTE Pada mulanya Desa Tondon lasim disebut Mesa' Ba'bana Tondon Apa' Tepona Padang, yaintu Tondok Batu, Siba'ta, Kondo' dan Langi'. Sangpulo dua Karopi'na itulah Desa Tondon, yang dipimpin oleh dua pemangku adat yang lazim disebut Toparenge', yaitu Marante dan Barang Bua'. Fungsi Toparenge' disini adalah memimpin segala kegiatan yang dilaksanakan oleh masyarakat baik itu upacara pesta syukur (Rambu Tuka') maupun upacara pesta pemakaman (Rambu Solo'), juga penentu kebijakan-kebijakan yang berlaku dalam masyarakat. Seiring dengan kemajuan pembangunan dan terpilihnya Tana Toraja sebagai salah satu daerah tujuan wisata di Indonesia. Sejak itu juga Marante terpilih sebagai salah satu objek wisata yang ada di Tana Toraja, karena Marante mempunyai letak yang sangat strategis, yaitu terletak pada

jalan poro dari Makassar ke Palopo dan letaknya tidak jauh dari kota Rantepao yang jaraknya kira-kira 4 km. Disamping itu Marante mempunyai daya tarik tersendiri bagi wisatawan asing yang datang berkunjung ke Marante, baik itu wisatawan mancanegara maupun wisatawan nusantara/domestik. Objek wisata Marante memiliki banyak daya tarik peninggalan-peninggalan kuno yaitu berupa; - Rumah adat (rumah tongkonan)- Patung-patung (tau-tau)- Erong- Kuburan batu/liang pahatPatane (kuburan kayu) Dan masih banyak lagi pemandangan yang bisa memikat hati wisatawan.Demikianlah sekelumit sejarah singkat dan daya tarik objek wisata Marante.Tau-tau adalah patung yang menggambarkan si mati. Pada pemakaman golongan bangsawan atau penguasa / pemimpin masyarakat muka salah satu unsur Rapasan (pelengkap upacara acara adat), ialah pembuatan tau-tau. Tau-tau ini dibuat dari kayu nangka yang kuat yang pada saat penebangannya dilakukan secara adat. Mata yang hitam dibuat dari tulang dan tanduk kerbau. Tau-tau tersebut diatas terdapat di Toraja yakni tempat pekuburan di dinding berbatu. 8. BORI Objek wisata utama adalah rante (tempat upacara pemakaman secara adat yang dilengkapi dengan seratus buah menhir / megalit), dalam bahasa Toraja disebut simbuang batu. Seratus dua (102) batu menhir yang berdiri dengan megah terdiri dari 24 buah ukuran besar, 24 buah ukuran sedang dan 54 buah ukuran kecil. Ukuran menhir ini mempunyai nilai adat yang sama. Penyebab perbedaan adalah situasi dan kondisi pada saat pembuatan / pengambilan batu, misalnya; masalah waktu, kemampuan biaya dan situasi pada masa kemasyarakatan. Megalit / simbuang batu hanya diadakan bila seorang pemuka masyarakat yang meninggal dunia dan upacaranya dilaksanakan dalam tingkat Rapasan Sapurandanan (kerbau yang dipotong sekurang-kurangnya 24 ekor). Pada tahun 1657 Rante Kalimbuang mulai digunakan pada Upacara Pemakaman Ne'Ramba' dimana 100 ekor kerbau dikorbankan dan didirikan dua simbuang batu. Selanjutnya paad tahun 1807 pada acara pemakaman Tonapa Ne'Padda' didirikan 5 buah simbuang batu, sedang kerbau yang dikorbankan sebanyak 200 ekor. Ne'Lunde yang pada upacaranya dikorbankan lebih dari 100 ekor kerbau didirikan 3 buah Simbuang Batu. Selanjutnya berturut-turut sejak tahun 1907, banyak Simbuang Batu didirikan dalam ukuran besar, sedang, kecil dan secara khusus pada pemakaman almarhumah Lai Datu (Ne' Kase') pada tahun 1935 didirikan satu buah simbuang batu yang terbesar dan tertinggi. Simbuang batu yang

terakhir adalah pada upacara pemakaman almarhum Sa'pang (Ne'Lai) pada tahun 1962. Dalam kompleks Rante Kalimbuang tersebut terdapat juga hal-hal yang berkaitan dengan upacara pemakaman yaitu: Lakkian yaitu persemayaman jenazah selama upacara dilaksanakan di Rante Balakkayan yaitu panggung tempat membagi daging secara adat Sarigan yaitu usungan jenasah Langi' yaitu bangunan induk menaungi sarigan Liang Pa' / kuburan batu yang dipahat. 9. BATUTUMONGA Berlokasi di daerah Sesean yang beriklim dingin, sekitar 1300 meter di atas permukaan laut. Di daerah ini terdapat 56 menhir batu dalam sebuah lingkaran dengan lima pohon kayu ditengahnya. kebanyakan dari betu menhir itu berukuran dua sampai tiga meter tingginya. Pemandangan yang sangat mempesona di atas Rantepao dan lembah disekitarnya, dapat dilihat dari tempat ini sangat menarik untuk dikunjungi. 10. PALAWA' Dahulu kala seorang lelaki dari Gunung Sesean bernama "Tomadao" bertualang. Dalam petualangallnya ia bertemu dengan seorang gadis dari gunung Tibembeng bernama "Tallo Mangka Kalena". Mereka kemudian menikah dan bermukim di sebelah timur desa Palawa' sekarang ini yang bernama Kulambu. Dari perkawinan ini lahir seorang anak laki-laki bernama Datu Muane' yang kemudian menikahi seorang wanita bernama Lai Rangri'. Kemudian mereka beranak pinak dan mendirikan sebuah kampung yang sekaligus berfungsi sebagai benteng pertahanan. Apabila ada peperangan antara kampung dan ada lawan yang menyerang dan dikalahkan/dibunuh, maka darahnya diminum dan dagingnya dicincang dan disebut Pa'lawak. Pada pertengahan abad ke 11 berdasarkan musyawarah adat disepakati mengganti nama Pa'lawak menjadi Palawa'. Palawa' sebagai suatu kompleks perumahan adat. Dan bukan lagi daging manusia yang dimakan, tetapi diganti dgn ayam, dan disebut Pa'lawa' manuk. Keturuan Datu Muane secara berturut-turut membangun tongkonan di Palawa'. Sekarang ini terdapat sebelas tongkonan (rumah adat) yang urutannya sebagai berikut (dihitung dari sebelah barat):1. Tongkonan Salassa' dibangun oleh Salassa'2. Tongkonan Buntu dibangun oleh Ne' Tatan3. Tongkonan Ne' Niro dibangun oleh Patangke dan Sampe bungin4. Tongkonan Ne' Darre dibangun oleh Ne' Matasik5. Tongkonan Ne' Sapea dibangun oleh Ne' Sapiah6. Tongkonan Katile dibangun oleh Ne' Pipe7. Tongkonan Ne' Malle dibangun oleh Ne' Malle8. Tongkonan Sasana Budaya dibangun oleh Ne' Malle9. Tongkonan Bamba II dibangun oleh Patampang10. Tongkonan Ne' Babu' dibangun oleh Ne' Babu'11. Tongkonan Bamba I dibangun oleh Ne' Ta'pare

Sebagaimana layaknya tongkonan di Tana Toraja, maka tongkonan Palawa' juga memiliki rante yang disebut Rante Pa'padanunan dan liang tua (kuburan batu) di Tiro Allo dan Kamandi. Selain Tongkonan juga dibangun lumbung atau alang sura' (tempat menyimpan padi) sebanyak 5 buah. 11. LOMBOK PARINDING Kuburan Erong Lombok Parinding adalah merupakan salah satu objek wisata yang menarik karena mempunyai daya tarik tersendiri seperti Erong yang unik dan antik, yang terletak di Dusun Parinding Matampu Kecamatan Sesean, kurang lebih 7 km dari kota Rantepao ke utara. Lombok Parinding pertama kali ditempati oleh salah seorang yang bernama Tomangli anak dari suami istri Bongga Tonapo dan Datu Banua sekaligus cucu dari suami istri Palairan dan Patodemmanik dan disitulah mereka menetap mendirikan rumah sambil bertani-sawah. Selanjutnya Tomangli melahirkan 8 orang dan anak Tomangli berkembang biak sampai sekarang (keturunan yang ke 7). Melihat dan memperhatikan serta menghitung-hitung umur dan kuburan erong Lombok Parinding mulai dari ke 8 orang anak-anak Tomongli sudah berumur kurang lebih 700 tahun. Demikianlah sejarah singkat kuburan erong Lombok Parinding. Semoga sejarah singkat ini dapat bermanfaat bagi wisatawan dan dapat dijadikan sebagai bahan informasi. 12. BUNTU PUNE Objek wisata Buntu Pune terletak 3 km arah selatan jurusan Ke'te' Kesu', Buntu Pune adalah salah satu pemukiman yang dibangun oleh Pong Maramba' disekitar tahun 1880 dan merupakan pusat pemerintahannya setelah menjadi Parengnge' di wilayah Kesu' dan Tikala. Pada lokasi tersebut terdapat beberapa lumbung dan tongkonan yang dipindahkan dari daerah perbukitan dan lereng-lereng gunung batu oleh generasi berikutnya serta dibangun bertipe pemukiman orang Toraja zaman dulu yang bernuansa exklusif, sukar dicapai musuh karena pospos pengintaian yang berlapis-lapis serta didukung oleh situasi alam di sekitarnya. Buntu Pune didukung oleh latar belakang batu cadas dimana pada dinding-dinding batu tersebut terdapat guagua alam yang juga dimanfaatkan untuk kuburan-kuburan leluhur. Dengan demikian kita banyak menjumpai erong (peti mayat purba) di dalam liang-liang tersebut. Di lokasi tersebut terdapat juga patane (kuburan dari semen) di puncak gunung batu yang dibuat sekitar tahun 1918 dan sampai saat ini masih digunakan. Buntu Pune sampai sekarang masih terpelihara dengan baik dan termasuk salah satu situs peninggalan sejarah dan kepurbakalaan pada suaka peninggalan sejarah dan purbakala Sulawesi Selatan dan Tenggara.

13. TO'BARANA' SA'DAN Di lokasi To'Barana pada mulanya dilili' atau dibentuk oleh nenek moyang keluarga To'Barana' yang bernama Langi' Para'pak yang dijadikan perkampuang keluarga yang luasnya kira-kira 300 x 150 meter dan mendirikan sebuah rumah tongkonan keluarga yang dinamai tongkonan To'Barana'. Dibaharui oleh leluhur To'Baraba' bernama Puang Pong Labba kira-kira dua abad yang lalu dan kemudian dibaharui pula oleh keluarga Puang Pong Padata pada tahun 1959, dimana lokasi dan rumah tongkonan tersebut diwariskan kepada turun temurunnya sampai dewasa ini dan sudah menjadi objek wisata pertenunan asli. Lokasi tersebut di pinggir sungai Sa'dan dan dikelilingi sungai Sa'dan yang berbentuk huruf "S" itulah sebabnya To'Barana' adalah pusat Sa'dan.