P. 1
Skripsi Legalisasi Perkumpulan Freemason Ditinjau Dari Perspektif Iman Kristen

Skripsi Legalisasi Perkumpulan Freemason Ditinjau Dari Perspektif Iman Kristen

|Views: 808|Likes:
Dipublikasikan oleh Themistoclis Maruli

dokumen Skripsi mengenai pandangan Iman Kristen terhadap legalisasi keberadaan perkumpulan Freemason, menurut Keppres No. 69 Tahun 2000. Diajukan sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Theologia di Sekolah Tinggi Theologia Paulus Medan.

dokumen Skripsi mengenai pandangan Iman Kristen terhadap legalisasi keberadaan perkumpulan Freemason, menurut Keppres No. 69 Tahun 2000. Diajukan sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Theologia di Sekolah Tinggi Theologia Paulus Medan.

More info:

Categories:Types, Research
Published by: Themistoclis Maruli on Sep 18, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/17/2013

pdf

text

original

Sections

LEGALISASI PERKUMPULAN FREEMASON MENURUT KEPPRES NO.

69 TAHUN 2000 DITINJAU DARI PERSPEKTIF IMAN KRISTEN

SKRIPSI

Diajukan Kepada Sekolah Tinggi Theologia Paulus Medan Untuk Memenuhi Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Sarjana Theologia (S. Th.)

Oleh Marulitua Pandapotan Sianturi NIM/NIKA: 0801270/111300089

Sekolah Tinggi Theologia Paulus Medan 2012

1

ABSTRAKSI Sianturi, Marulitua Pandapotan, 0801270, Legalisasi Perkumpulan Freemason Menurut Keppres No. 69 Tahun 2000 Ditinjau Dari Perspektif Iman Kristen. Skripsi: Sekolah Tinggi Theologia Paulus Medan: 2012.

Penulis melakukan penelitian untuk mengetahui tinjauan iman Kristen terhadap legalisasi perkumpulan Freemason menurut Keppres No. 69 Tahun 2000. Legalisasi perkumpulan Freemason sebetulnya telah ada di Indonesia sejak 200 tahun yang lalu, saat kolonialis Hindia Belanda bermukim di Indonesia. Namun keberadaan Freemason sempat dilarang oleh Presiden Soekarno lewat Keppres No. 264 Tahun 1962, sebelum akhirnya dilegalkan kembali oleh Presiden Abdurrahman Wahid pada tahun 2000. Suatu hal yang memprihatinkan, khususnya bagi umat Kristen di Indonesia, karena ajaran-ajaran Freemason jelasjelas bertentangan dengan ajaran Kekristenan yang benar, namun justeru mendapat legalitas di bumi Indonesia. Masalah lainnya adalah belum dipahaminya kedudukan Keppres dalam sistem hukum Negara Republik Indonesia, kemudian latar belakang dikeluarkannya Keppres No. 69 Tahun 2000 masih belum jelas. Selain itu, umat Kristen di Indonesia belum pernah ada yang dimintai pendapat/persetujuannya sebelum Keppres No. 69 Tahun 2000 itu diterbitkan, Hal lain yang menjadi masalah adalah perkumpulan Freemason belum dipahami jati dirinya, kemudian sepak terjang perkumpulan Freemason, baik secara global, maupun lokal (di Indonesia) belum jelas. Di samping itu juga ancaman yang ditimbulkan oleh perkumpulan Freemason terhadap Kekristenan, khususnya di Indonesia tidak signifikan. Oleh karena itu perguruan Tinggi Theologia, khususnya di Indonesia juga perlu mengantisipasi dampak keluarnya Keppres No. 69 Tahun 2000. Untuk mencegah umat Kristen dari kesesatan perkumpulan Freemason, maka diperlukan penyadaran, dan penyebaran pengetahuan, tentang bagaimanakah sebenarnya perkumpulan Freemason tersebut, sehingga umat Kristen, khususnya di Indonesia mampu mengantisipasi meluasnya pengaruh ajaran sesat dari Freemason. Penelitian ini juga dilakukan untuk mengetahui latar belakang legalisasi perkumpulan Freemason sebagaimana yang diatur dalam Keppres no. 69 Tahun 2000, sekaligus untuk mengetahui lebih dalam mengenai perkumpulan Freemason, juga untuk mengetahui bagaimanakah sikap pihak Gereja terhadap eksistensi perkumpulan Freemason dari waktu ke waktu. Selain itu juga untuk mengetahui kriteria perkumpulan atau organisasi yang sesuai dengan iman Kristen. Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode studi kepustakaan, wawancara, dan telaah dokumen, untuk mendapatkan gambaran yang memadai mengenai sikap dan perspektif iman dari umat Kristen, baik secara global maupun dalam lingkup masyarakat Indonesia. Dari penelitian yang telah dilakukan, penulis melihat bahwa umat Kristen, baik secara umum (yang ditunjukkan oleh penolakan dan pengutukan oleh para pimpinan Gereja-gereja dari denominasi yang berbeda-beda) di dunia maupun di Indonesia telah memiliki sikap yang jelas terhadap perkumpulan Freemason, yaitu menentang dan tidak

2

menerima ajaran-ajaran Freemason, sebagaimana sikap yang telah ditunjukkan oleh para pimpinan Gereja dari berbagai denominasi, yang dari waktu ke waktu gigih menentang ajaran-ajaran Freemason, diantaranya yaitu para Paus Roma, mulai dari Paus Clement XI, hingga Paus Pius XI, yang melalui Ensiklik-ensiklik (Surat Kepausan) mengutuk dan mengecam ajaran-ajaran Freemason, selain itu kecaman serupa juga datang dari para pimpinan Gereja Orthodox Timur (Eastern Orthodox Church), yang mengeluarkan kutukan terhadap siapapun yang bergabung dalam perkumpulan Freemason, berikut ancaman sanksi pengucilan/ekskomunikasi bagi jemaat Gereja yang bergabung dengan perkumpulan Freemason. Sanksi lebih jauh diantaranya juga pelarangan anggota jemaat Gereja yang menjadi anggota Freemason untuk menerima komuni (Perjamuan Kudus), dan larangan untuk menjadi orang tua baptis bagi jemaat yang menjadi anggota Freemason. Penolakan terhadap Freemason sedang dan akan terus dilakukan oleh Gereja sepanjang waktu, untuk melestarikan Iman Kristen yang benar dan murni.

3

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas terselesaikannya skripsi dengan judul “Legalisasi Perkumpulan Freemason Menurut Keppres No. 69 Tahun 2000 Ditinjau Dari Perspektif Iman Kristen”. Skripsi ini disusun dalam rangka melengkapi salah satu prasyarat akademik untuk memperoleh gelar Sarjana Theologia pada program studi Theologia di Sekolah Tinggi Theologia (STT) Paulus Medan. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini dapat terselesaikan atas dukungan dan bantuan, baik secara langsung maupun tidak langsung dari berbagai pihak. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada: 1. Pater Dr. Chrysostomos P. Manalu, D. Th., selaku Ketua STT Paulus Medan yang telah memberikan kesempatan untuk belajar di STT Paulus Medan. 2. Mater Adolfina Elisabeth Koamesakh, S.S., S. Th., M. Th., M. Hum., selaku Pembantu Ketua I STT Paulus Medan, sekaligus sebagai Dosen Penasihat Akademik penulis selama menjadi mahasiswa STT Paulus Medan. 3. Bapak Ev. Edward Manalu, M. A., selaku Pembantu Ketua II STT Paulus Medan. 4. Bapak Pdt. Ruston Nababan, M. Th., selaku Pembantu Ketua III STT Paulus Medan, dan Dosen Pembanding I dalam penyusunan skripsi ini. 5. Bapak Pdm. Irwanto Berutu, M. Th., selaku Pembantu Ketua IV STT Paulus Medan.

4

6.

Bapak Marojahan Hutabarat, M. Min., M. Pd.K., selaku Ketua Jurusan Theologia STT Paulus Medan.

7.

Bapak Pdt. Nixon Lumban Gaol, M. A., M. Pd.K., selaku Dosen Pembimbing I dalam penyusunan skripsi ini.

8.

Bapak Pdt. Dr. Sozisochi Lase, M. A., M. Pd.K., selaku Dosen Pembimbing II dalam penyusunan skripsi ini.

9.

Bapak Yakobus Ndona, M. Pd.K., selaku Dosen Pembanding II dalam penyusunan skripsi ini.

10. Seluruh dosen dan staf pegawai STT Paulus Medan. 11. Orang Tua tercinta, Bapak B. Sianturi dan Ibu T. Br. Sinaga, atas kasih sayang dan dukungan doa dan materi kepada penulis. 12. Adik-adik tercinta, Farida Theresia Sianturi, Brigadir (Pol.) Josua P. Sianturi, S. H., dan Rostaria Magdalena Sianturi, atas kasih sayang dan dukungan doa yang telah diberikan. 13. Rosline Lase, selaku sahabat dan kekasih penulis, atas dukungan dan kesetiannya selama mendampingi penulis. 14. Semua pihak yang telah membantu dan tidak bisa disebutkan satu-persatu. Penulis menyadari bahwa dalam skripsi ini masih terdapat kekurangankekurangan, dan jauh dari sempurna, karena keterbatasan kemampuan, pengetahuan, dan pengalaman yang penulis miliki. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca semua. Penulis berharap semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat kepada penulis pribadi maupun kepada para pembaca.

5

Medan, Agustus 2012

Marulitua Pandapotan Sianturi

6

DAFTAR ISI LEMBAR PENGESAHAN SIDANG SKRIPSI ABSTRAK………………………………………………………………………i KATA PENGANTAR………………………………………………………….iii BAB I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang……………………………………………………..1 1.2. Identifikasi Masalah………………………………………………..4 1.3. Pembatasan Masalah………………………………………….........5 1.4. Rumusan Masalah…………………………………………….........5 1.5. Tujuan Penelitian…………………………………………………..6 1.6. Manfaat Penelitian…………………………………………………6 1.7. Sistematika Penelitian……………………………………………...7 BAB II. KERANGKA TEORITIS DAN KERANGKA KONSEPTUAL 2.1. Kajian Teoritis……………………………………………………..8 2.1.1. Pengertian Terminologis Legalisasi, Bidat, Freemason, Keppres No. 69 Tahun 2000, dan Perspektif Iman Kristen……...8 2.1.1.1. Pengertian Legalisasi…………………………………..8 2.1.1.2. Pengertian Bidat…………………………….................8 2.1.1.3. Pengertian Freemason…………………………………8 2.1.1.3.1. Sejarah Freemason……………………………..10 2.1.1.3.2. Hubungan Freemason Dengan Ordo Templar…12 2.1.1.3.3. Pengaruh Peradaban Mesir Kuno Bagi Freemason ………………………………………………...13 2.1.1.3.4. Filosofi Pagan Freemason……………………...16 2.1.1.3.5. Pandangan Freemason Tentang Asal Usul Kehidupan……………………………………..18 2.1.1.3.6. Kehadiran Freemason Di Indonesia……….......19 2.1.1.3.7. Tingkatan-Tingkatan (derajat) Ritual Dalam Freemason……………………………………..23

7

2.1.1.3.8. Simbolisme Dalam Freemason Yang berhubungan Dengan Toleransi Dan Harmoni……………………………………….24 2.1.1.3.9. Hiram Abbiff Dalam Alam Pikiran Masonik….25 2.1.1.3.10. Konsep “Tuhan” Menurut Ajaran Freemason..27 2.1.1.3.11. Yesus Kristus Dalam Pandangan Freemason...28 2.1.1.3.12. Fungsi Alkitab Dalam Perkumpulan Freemason……………………………………28 2.1.1.3.13. Konsep Keselamatan Dalam Freemason……..28 2.1.1.3.14. Konsep Kekekalan Dalam Freemason………..29 2.1.1.3.15. Kemungkinan Hubungan Freemason Dengan Okultisme…………………………………….30 2.1.1.3.16. Keterlibatan Anggota Dan Pemimpin Jemaat Dalam Freemason Dan Dampaknya Bagi Gereja………………………………………...30 2.1.1.4. Pengertian Dan Asal Mula Keppres…………………..32 2.1.1.4.1. Pengertian Keppres No. 69 Tahun 2000……….33 2.1.1.4.2. Latar Belakang Keppres No. 69 Tahun 2000….33 2.1.1.5. Pengertian Perspektif Iman Kristen…………………..35 2.1.1.5.1. Pengertian Perspektif…………………….…….35 2.1.1.5.2. Pengertan Iman………………………………...35 2.1.1.5.3. Pengertian Kristen……………………………..35 2.2. Kerangka Konseptual…………………………………………….35 BAB III. METODE PENELITIAN 3.1. Tempat Penelitian………………………………………………….37 3.2. Waktu Penelitian…………………………………………………...37 3.3. Metode Penelitian………………………………………………….37 3.4. Teknik Pengumpulan Data…………………………………………38 3.5. Teknik Analisis Data………………………………………………39 BAB IV. LEGALISASI PERKUMPULAN FREEMASON DITINJAU DARI PERSPEKTIF IMAN KRISTEN

8

4.1. Gereja Katolik Roma………………………………………………41 4.2. Gereja Orthodox Timur (Eastern Orthodox Church)……………...51 4.3. Gereja Kristen Lainnya…………………………………………….59 BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan………………………………………………………...62 5.2. Saran……………………………………………………………….62 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN DAFTAR RIWAYAT HIDUP

9

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Rasul Paulus mengatakan dalam surat kepada jemaat di Roma pasal 13: “Tunduklah kepada pemerintah yang ada di atasmu, karena pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikanmu”.1 Nasihat Rasul Paulus tersebut mengandung suatu pengertian bahwa kita sebagai orang Kristen memiliki kewajiban secara langsung untuk bersikap patuh terhadap pemerintah di mana kita berada/ hidup. Ketaatan kepada pemerintah adalah suatu hal yang pokok dalam kehidupan orang Kristen, sebagaimana ditegaskan lagi oleh Rasul Paulus, bahwa “segala pemerintahan berasal dari Allah.” Namun, sejarah telah menunjukkan bahwa perlakuan tiap Negara terhadap umat Kristen di Negara-negara tertentu tidak sama. Ada kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah di suatu Negara yang memberi kebebasan beragama sepenuhnya bagi umat Kristen untuk beribadah, namun ada juga Negara yang mengeluarkan kebijakan yang menghambat perkembangan Gereja.2 Salah satu kebijakan yang pernah dikeluarkan oleh pemerintah Republik Indonesia, yang perlu mendapat perhatian serius dan kritis dari umat Kristen, khususnya yang berada di Indonesia, adalah Keputusan Presiden RI (Keppres) No. 69 Tahun 2000, tentang legalisasi perkumpulan/organisasi sosial kemasyarakatan

Surat Rasul Paulus Kepada Jemaat di Roma yang menekankan tentang perlunya orang Kristen menjadi warga Negara yang ideal. 2 Yosef Eko Budi Susilo, Gereja dan Negara: Hubungan Gereja Katolik Indonesia Dengan Negara Pancasila, (Averroes Press, 2002), hal. 3

1

10

dan keagamaan: Liga demokrasi, Rotary Club, Divine Life Society, Vrijmetselaren Loge (Freemason), Moral Rearmament Movement, Ancient Mystical Organization of Rosicrucians (AMORC), dan Organisasi Baha’i. Salah satu perkumpulan yang diatur dalam Keppres No. 69 Tahun 2000 adalah perkumpulan Freemason, yang telah dilarang secara resmi (dikutuk) oleh Gereja karena ajarannya yang menyesatkan. Keberadaan perkumpulan Freemason, khususnya di Indonesia, dimulai sejak datangnya kaum kolonialis Belanda di kepulauan Nusantara pada abad ke18, yang secara resmi mendirikan loge (rumah pemujaan) pertamanya di Batavia (Jakarta), “La Choisie” pada tahun 1764. Salah satu Grand Master (Suhu Agung) dari loge Freemason di Batavia adalah Carpenter Alting, seorang pendeta Gereja Gereformeerd di Hindia Belanda, yang berperan penting dalam mereformasi dan mere-organisasi perkumpulan Freemason di Hindia Belanda dan menjadikan perkumpulan Freemason sebagai penopang kebijakan kolonial Belanda di Nusantara.3 Dengan keluarnya Keppres No. 69 Tahun 2000 pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid, maka perkumpulan Vrijmetselaren (Freemason) mendapat legalitas untuk hadir, dan beroperasi secara terbuka dengan pengesahan dari pemerintah Negara Republik Indonesia. Tentu hal ini merupakan masalah yang serius bagi Kekristenan, khususnya di tanah air, mengingat bidat Freemason telah menjadi “lawan” bagi Kekristenan secara global, yang ditandai dengan penolakan atau pelarangan bagi

anggota/jemaat Gereja untuk ikut serta atau bergabung dalam keanggotaan
Jan Siar Aritonang & Karel Steenbrink (ed), A History Of Christianity In Indonesia, (Leiden: Koninklijke Brill, 2008), hal. 648
3

11

perkumpulan Freemason. Larangan dimaksud di atas dikeluarkan oleh beberapa Gereja besar seperti Gereja Orthodox, Katolik Roma, dan Gereja Injili. Memang, sebelum dikeluarkannya Keppres No. 69 Tahun 2000, perkumpulan Freemason, bersama-sama dengan perkumpulan Baha’i, Rotary Club, Rosicrucian, dan Divine Life Society, sempat dilarang keberadaannya di Indonesia pada masa Presiden Soekarno, yang mengeluarkan Keppres No. 264 Tahun 1962, namun alasan penguasa saat itu melarang perkumpulan-perkumpulan tersebut adalah politis (menghambat penyelesaian revolusi dan tidak mau menerima manifesto politik Soekarno), dan bukannya karena alasan theologis, sebagaimana pelarangan yang dilakukan oleh otoritas Gereja terhadap perkumpulan-perkumpulan yang dinyatakan sebagai aliran sesat/bidat. Masalah yang cukup pelik saat ini adalah masih minimnya pengetahuan umat Kristen, khususnya di Indonesia, tentang apa itu perkumpulan Freemason, Baha’i, Rotary Club, dan Rosicrucian, dan apa mengapa pihak Gereja telah mengutuk salah satu perkumpulan yang disebutkan di atas, Freemason, dan apa bahaya yang terkandung dalam ajaran perkumpulan dimaksud. Maka, dengan memahami secara jelas pengertian dari bidat Freemason, maka diharapkan umat Kristen, khususnya di Indonesia akan dapat mengantisipasi dan menghindari keikutsertaan mereka di dalam perkumpulan tersebut. Rasul Paulus mengatakan dalam surat Efesus 5:11: “janganlah kamu ikut ambil bagian dalam perbuatan kegelapan yang tidak menghasilkan apa-apa, tetapi sebaliknya, telanjangilah perbuatan itu”. Oleh karena itulah maka penulis mencoba menyajikan sebuah penelitian dengan judul: “Legalisasi Perkumpulan

12

Freemason Menurut Keppres No. 69 Tahun 2000 Ditinjau Dari Perspektif Iman Kristen”.

1.2. Identifikasi Masalah Identifikasi masalah adalah tahapan permulaan dari penguasaan masalah, sehingga obyek dari suatu jalinan situasi tertentu dapat dikenal sebagai suatu masalah dan identifikasi masalah merupakan pertanyaan-pertanyaan yang semuanya terkait dengan inti masalah yang diteliti.4 Berdasarkan uraian di atas, maka penulis merumuskan identifikasi masalah tersebut sebagai berikut: 1. Keppres belum dipahami kedudukannya dalam sistem hukum Negara Republik Indonesia. 2. Latar belakang dikeluarkannya Keppres No. 69 Tahun 2000 masih belum jelas. 3. Umat Kristen di Indonesia belum pernah ada yang dimintai pendapat/persetujuannya sebelum Keppres No. 69 Tahun 2000 itu diterbitkan. 4. Perkumpulan Freemason belum dipahami jati dirinya. 5. Sepak terjang perkumpulan Freemason, secara global, maupun lokal (di Indonesia) belum jelas. 6. Ancaman yang ditimbulkan oleh perkumpulan Freemason terhadap Kekristenan, khususnya di Indonesia tidak signifikan. 7. Sikap umat Kristen, khususnya di Indonesia terhadap Keppres No. 69 Tahun 2000 sudah jelas.

4

Etiknius Harefa, Diktat Metode Penelitian Theologia, (Medan: STT Paulus, 2010), hal. 85

13

8. Perguruan

Tinggi

Theologia,

khususnya

di

Indonesia,

perlu

mengantisipasi dampak keluarnya Keppres No. 69 Tahun 2000.

1.3. Pembatasan Masalah Setelah menguraikan identifikasi masalah, maka terlihat begitu luas ruang lingkup masalah tentang “Legalisasi perkumpulan Freemason Menurut Keppres No. 69 Tahun 2000 Ditinjau Dari Perspektif Iman Kristen”. Dan dikarenakan keterbatasan tenaga dan kemampuan, dana serta waktu, maka penulis membuat batasan masalah sebagai berikut: 1. Latar belakang legalisasi perkumpulan Freemason sebagaimana yang diatur dalam Keppres no. 69 Tahun 2000. 2. Pengertian Freemason. 3. Sikap pihak Gereja terhadap eksistensi perkumpulan Freemason dari waktu ke waktu. 4. Kriteria perkumpulan atau organisasi yang sesuai dengan iman Kristen.

1.4. Rumusan Masalah Sehubungan dengan pembatasan masalah, maka selanjutnya penulis akan mendeskripsikan tentang rumusan masalah sebagai berikut: 1. Apakah yang melatarbelakangi legalisasi perkumpulan Freemason sebagaimana yang diatur dalam Keppres no. 69 Tahun 2000? 2. Apakah yang dimaksud dengan perkumpulan Freemason? 3. Bagaimanakah sikap pihak Gereja terhadap eksistensi perkumpulan Freemason dari waktu ke waktu?

14

4. Bagaimanakah kriteria perkumpulan atau organisasi yang sesuai dengan perspektif iman Kristen?

1.5. Tujuan Penelitian Adapun tujuan penelitian adalah sebagai berikut: 1. Untuk mengetahui latar belakang legalisasi perkumpulan Freemason sebagaimana yang diatur dalam Keppres no. 69 Tahun 2000. 2. Untuk mengetahui pengertian perkumpulan Freemason. 3. Mengetahui sikap pihak Gereja terhadap eksistensi perkumpulan Freemason dari waktu ke waktu. 4. Mengetahui kriteria perkumpulan atau organisasi yang sesuai dengan iman Kristen.

1.6. Manfaat Penelitian 1. Bagi Penulis Dapat menambah pengetahuan dalam hal Keputusan Presiden sebagai salah satu perundang-undangan di Indonesia. 2. Bagi Pemerintah Sebagai bahan masukan dalam pembentukan perundang-undangan di Indonesia 3. Bagi Umat Kristen, khususnya di Indonesia Sebagai sumber pengetahuan mengenai perkumpulan Freemason, dan alat untuk dapat mengantisipasi perkembangannya, sehingga dapat menyikapinya sesuai dengan iman Kristen.

15

4.

Bagi Sekolah Tinggi Theologia Paulus Medan Dapat menambah referensi perpustakaan dan koleksi penelitian, khususnya yang berkaitan dengan perkumpulan Freemason pada khususnya, dan ilmu theologia pada umumnya.

1.7. Sistematika Penelitian Untuk lebih menolong dan memudahkan penyusunan skripsi ini, penulis membuat sistematika yang sederhana sebagai berikut: Bab I : Pendahuluan Dalam bab ini diuraikan tentang latar belakang masalah, identifikasi masalah, pembatasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, serta sistematika penelitian Bab II : Kerangka Teoritis dan Kerangka Berfikir/konseptual Dalam bab ini diuraikan teori-teori mengenai Keppres,

Freemason, dan Perspektif Iman Kristen Bab III : Metode Penelitian Dalam bab ini diuraikan tentang : Tempat penelitian, waktu penelitian, metode penelitian yang digunakan, teknik

pengumpulan data, dan teknik analisis data. Bab IV : Legalisasi Perkumpulan Freemason Menurut Keppres No. 69 Tahun 2000 Ditinjau Dari Perspektif Iman Kristen Bab V : Kesimpulan Dan Saran

16

BAB II KERANGKA TEORITIS DAN KERANGKA KONSEPTUAL

2.1. Kajian Teoritis 2.1.1. Pengertian Terminologis Legalisasi, Perkumpulan, Freemason,

Keppres No. 69 Tahun 2000, dan Perspektif Iman Kristen 2.1.1.1. Pengertian Legalisasi Kata legalisasi berasal dari kata bahasa Inggris: “legal”. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, “legal” berarti “sesuai dengan peraturan perundang-undangan atau hukum”.5 Sedangkan menurut kamus yang sama, legalisasi berarti “pengesahan (menurut Undang-undang atau

hukum)”. Dengan kata lain, legalisasi berarti membuat sesuatu menjadi legal di mata perundang-undangan atau hukum.

2.1.1.2. Pengertian Perkumpulan Kata perkumpulan berarti “perhimpunan”, (tentang organisasi dan sebagainya); “perserikatan”.6

1.1.1.3. Pengertian Freemason

Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi 3, (Jakarta: Balai Pustaka, 2005), hal. 651 6 Ibid., hal. 612

5

17

Berbagai pandangan dikemukakan oleh berbagai pihak mengenai apakah yang dimaksud dengan Freemason. Freemason adalah sebuah bidat dalam bentuk organisasi internasional yang konon berkembang dari asosiasi tukang batu (dalam bahasa Inggris=mason). Freemason modern dimulai dengan berdirinya Grand Lodge (Loge Agung) di London (1717). Ideologi deistis dan penolakan kebenaran objektif membuat Freemason sangat berwarna sinkritis, bahkan atheis dan anti Katolik.7 Pandangan lain menyebutkan bahwa Freemason adalah suatu gerakan okultisme yang menyembah dan melayani setan dan kuasa-kuasa setan. Freemason memakai sarana-sarana apa saja untuk mendapat kekuasaan, otoritas dan pengaruh dalam hidup manusia. Freemason merupakan gabungan dari banyak kepercayaan yang memiliki akar di Mesir kuno dan bergerak melalui Asyur, Kasdim, Babilonia, Cina, India, Skandinavia, Romawi, dan Yunani. Banyak orang bergabung dengan penganut Mason karena mereka memandangnya sebagai perkumpulan persaudaraan dan penuh kebajikan. Freemason memiliki andil dalam perkembangan gerakan Zaman Baru (New Age).8 Freemason kini beranggotakan sekitar enam juta orang dari kurang lebih 120 negara. Organisasi Freemason tidak mempunyai pusat, setiap negara mempunyai organisasi yang berdiri sendiri. Sekalipun demikian setiap organisasi Freemason di mana pun mempunyai nomor pendirian dan berhubungan satu dengan lainnya. Freemason merupakan organisasi
7

Sinta Maring (ed.), Mengenal 265 Paus, Dari St. Petrus Hingga Benedictus XVI, (Bekasi: Kristisima Media Pustaka, 2006), hal. 211 8 C. Peter Wagner (ed.), Meruntuhkan Benteng-Benteng di Kota Anda, (Yogyakarta: Penerbit Andi, 1999), hal. 204-205

18

tertutup dan ketat dalam penerimaan anggota barunya. Sekalipun organisasi ini merupakan organisasi hanya bagi kaum laki-laki namun kini sudah banyak pula kelompok Freemason wanita.9 Freemason mengajarkan sebuah kepercayaan alami yang

menganggap bahwa seseorang bisa berkenan bagi Tuhan saat ia menganut agama apapun.10 Freemason menunjukkan keberadaan semua elemen dari agama, dan memperjelas bahwa Freemason telah menjadi pesaing dari agama Injil. Karena di dalamnya tercakup bait-bait dan altar-altar, doadoa, suatu aturan moral, penyembahan, pernak pernik berpakaian, hari-hari perayaan, janji upah atau penghukuman pada kehidupan setelah mati, adanya hirarki, proses pelantikan anggota baru, dan ritual-ritual pemakaman. Freemason juga adalah sebuah perkumpulan dengan ritual-ritual rahasia. Pada kegiatan pelantikan anggota barunya, mereka mensyaratkan adanya “sumpah darah rahasia” yang bertentangan dengan moral-moral Kekristenan.11

1.1.1.3.1. Sejarah Freemason Loge Freemason pertama berdiri di Inggris pada tanggal 24 Juni 1717 dengan nama Grand Lodge of England. Freemason bukan hanya berkembang di berbagai negara Eropa tetapi pada abad ke-17 sudah

berkembang di Amerika, yaitu pada tahun 1730 berdiri Loge pertama
9

10

www.id.wikipedia.org/wiki/Freemasonry, 19 April 2012 www.catholic.com/quickquestions/what-does-the-church-say-about-freemasonry, 19 April Ibid., www.catholic.com Forum Tanya jawab, 19 April 2012

2012
11

19

Amerika, di mana pada saat itu Amerika masih merupakan koloni Inggris. Loge pertama Amerika berdiri di Philadelphia di bawah binaan dari Masonic Grand Lodge England (loge agung Masonik Inggris), dengan Benjamin Franklin sebagai Grand Master (Suhu Agung) yang pertama.12 Banyak tokoh-tokoh revolusi kemerdekaan di benua Amerika, adalah anggota Freemason, termasuk di antaranya adalah Rivadavia,13 Presiden pertama Argentina, Simon Bolivar, dan para deklarator kemerdekaan Amerika Serikat, termasuk George Washington Presiden Amerika Serikat yang pertama. Di Eropa, banyak pimpinan Negara atau bangsawan yang adalah anggota Freemason, di antaranya adalah Napoleon Bonaparte,14 raja-raja Inggris: Edward VII, Edward VIII, George VI.15 Namun, organisasi tersebut segera menjadi pusat kekuatan yang membuat risau Gereja, khususnya Gereja Katolik. Konflik antara Freemason dan Gereja terus tumbuh, meninggalkan jejak di Eropa abad kedelapan belas dan kesembilan belas. Freemason mulai menyebar ke negara-negara lain di luar Eropa, pada paruh kedua abad kesembilan belas. Sejalan dengan tidak menjadi partai politik, Freemason menjadi terorganisir di awal abad kedelapan belas sebagai sebuah lembaga sosial berskala internasional sesuai dengan arus sosial politik. Untuk menyokong upaya melaksanakan kebebasan beragama, Freemason melibatkan diri dalam pertarungan

http://id.wikipedia.org/wiki/Freemasonry, 19 April 2012 C. Peter Wagner (ed.), Meruntuhkan Benteng-Benteng di Kota Anda, (Yogyakarta: Penerbit Andi, 1999), hal. 203 14 John Anthony West, The Travellers Key To Ancient Egypt: A Guide to The Sacred Places of Ancient Egypt , (New York: Knopf, 1985), hal. 34 15 www.la-mason.com/famous.htm. Famous Masons, 20 April 2012
13

12

20

melawan kekuatan dan pengaruh kaum klerus (kependetaan) dalam upaya untuk menggapai sasaran tunggal mereka meruntuhkan kekuatan dan pengaruh Gereja atas masyarakat.16

1.1.1.3.2. Hubungan Freemason Dengan Ordo Templar Para Templar, yang juga disebut Tentara Miskin Pengikut Yesus Kristus dan Bait Salomo, dibentuk pada tahun 1118, dua puluh tahun setelah tentara salib merebut Yerusalem. Pendiri ordo ini dalah dua ksatria Prancis, Hugh de Payens dan Godfrey de St. Omer. Berawal dari sembilan anggota, ordo ini terus berkembang. Nama Bait Salomo dipakai karena mereka membangun basis di lokasi reruntuhan bait tersebut. Di tempat ini sekarang berdiri Dome of the Rock (Mesjid Al-Aqsa). Para Templar menyebut dirinya “tentara miskin”, tetapi dalam waktu singkat mereka menjadi sangat makmur. Mereka mengontrol penuh para peziarah Kristen yang berdatangan dari Eropa ke Palestina, dan menjadi sangat kaya dari uang para peziarah tersebut. Mereka pula yang pertama kali menyelenggarakan sistem cek dan kredit, menyerupai yang ada pada sebuah bank. Mereka membangun semacam kapitalisme abad pertengahan, dan merintis jalan menuju perbankan modern dengan transaksi mereka yang berbasis bunga.17 Namun, ordo tersebut ditumpas oleh pihak Gereja (Paus Clement V) dan Raja (Philip Le Bel dari Perancis) karena dianggap sebagai ancaman bagi iman Kristen dan perpolitikan di Eropa. Selama penangkapan pada tahun 1307, beberapa orang ksatria
http://id.harunyahya.com/id/works/3104, Ancaman Global Freemasonry, 14 Mei 2012 Michael Baigent, Richard Leigh, The Temple and the Lodge, hal. 78-81, dikutip tidak langsung oleh website http://id.harunyahya.com/id/works/3104
17 16

21

Templar lolos, dan berhasil menutupi jejak mereka. Menurut berbagai dokumen sejarah, sejumlah besar mereka berlindung di satu-satunya kerajaan di Eropa yang tidak mengakui kekuasaan Gereja Katolik di abad keempat belas, yaitu Skotlandia. Di sana, mereka menyusun kekuatan kembali di bawah perlindungan Raja Skotlandia, Robert the Bruce. Tak lama kemudian, gerakan rahasia mereka dilanjutkan dengan penyamaran yang tepat: mereka menyusup ke dalam gilda (serikat sekerja) terpenting di Kepulauan Inggris abad pertengahan, yaitu loge (pemondokan) para tukang batu (bahasa Inggris: Mason), dan mereka pun segera mendominasi loge-loge tersebut.18 Para Templar yang berlindung di Skotlandia pun menyelenggarakan/menciptakan ritual ala Skotlandia yang kini populer dalam perkumpulan Freemason.19

1.1.1.3.3. Pengaruh Peradaban Mesir Kuno Bagi Freemason Mesir Kuno memiliki posisi penting dipandang dari segi asal usul Freemason. Gagasan terpenting yang diadopsi oleh Freemason dari Mesir Kuno adalah tentang alam semesta yang ada oleh dan dari dirinya sendiri, lalu berkembang secara kebetulan. Orang Mesir percaya bahwa materi selalu ada; mereka menganggap tidak logis pendapat tentang sebentuk tuhan yang membuat sesuatu dari ketiadaan mutlak. Permulaan dunia dipandang terjadi ketika keteraturan muncul dari kekacauan, dan semenjak itu terjadi pertarungan antara kekuatan pengaturan dan kekacauan. Keadaan kacau ini dinamai Nun, seperti penggambaran orang Sumeria.
http://id.harunyahya.com/id/works/3104, Ancaman Global Freemasonry, 13 Mei 2012 Mimar Sinan, “Templars and Freemasons”, hal. 11, dikutip tidak langsung oleh website http://id.harunyahya.com/id/works/3104
19 18

22

yang ada hanyalah adalah sebuah jurang dalam, berair, gelap tanpa cahaya matahari yang padanya terdapat suatu kekuatan, daya penciptaan yang memerintahkan keteraturan bermula. Kekuatan laten di dalam zat kekacauan ini tidak mengetahui keberadaan dirinya; ia adalah suatu kemungkinan, sebuah potensi yang berjalin di dalam acaknya

ketidakteraturan.20 Di Mesir Kuno ada suatu masyarakat keagamaan yang mewariskan sebuah sistem pemikiran dan kepercayaan terhadap Hermetisisme. Freemason meyakini sesuatu yang serupa dengan ini. Misalnya, mereka yang telah mencapai tingkat tertentu akan menghadiri upacara-upacara pada masyarakat tersebut, mengungkapkan berbagai pemikiran dan perasaan spiritual mereka, serta melatih mereka yang ada di tingkat yang lebih rendah. Dalam upacara-upacara tersebut terdapat sejumlah kemiripan yang signifikan dengan berbagai ritus Masonik (bersifat Freemason).21 Freemason adalah organisasi sosial dan ritual yang bermula dari Mesir Kuno.22 Salah satu hal paling penting yang menghubungkan Mesir Kuno dengan kaum Mason adalah simbol-simbol mereka. Simbol sangat penting dalam Freemason. Kaum Mason mengungkapkan makna sejati filsafat mereka kepada anggota melalui alegori (kiasan). Seorang Mason, yang melewati tahap demi tahap melalui 33 tingkat hirarki Masonik,

Christopher Knight, Robert Lomas, “The Hiram Key”, hal. 131, dikutip tidak langsung oleh website http://id.harunyahya.com/id/works/3104 21 Dr. Selami Isindag, “Masonluktan Esinlenmeler” (Inspirations from Freemasonry), hal. 274-275, dikutip tidak langsung oleh website http://id.harunyahya.com/id/works/3104 22 Dr. Selami Isindag, “Masonluktan Esinlenmeler” (Inspirations from Freemasonry), hal. 120, dikutip tidak langsung oleh website http://id.harunyahya.com/id/works/3104

20

23

mempelajari makna-makna baru untuk masing-masing simbol pada tiap tingkatnya. Konsepsi bangsa Mesir Kuno paling menonjol dari berbagai simbol dan legenda, yang merentang jauh ke abad-abad awal sejarahnya. Di berbagai loge Freemason, dan seringkali di dalam terbitan-terbitan (media cetaknya), gambar piramid dan sphinx serta tulisan heiroglif dapat ditemukan. Pada masa Mesir kuno, berbagai upacara inisiasi di kuil Memphis berlangsung lama, diselenggarakan dengan penuh perhatian dan kemegahan, dan memperlihatkan banyak kesamaan dengan upacaraupacara Freemason.23 kata-kata yang digunakan di dalam upacara kenaikan tingkat seorang Mason menjadi Imam Mason adalah: “Ma'atneb-men-aa, Ma'at-ba-aa', yang berarti : “Agunglah Imam Freemason yang tak dapat dipungkiri, Agunglah jiwa Freemason”.24 Kata "Ma'at" berarti keahlian membangun tembok, dan bahwa terjemahan terdekatnya adalah "Masonry (Masonik)". Ini berarti bahwa kaum Freemason ribuan tahun setelahnya, masih melestarikan bahasa Mesir Kuno di loge-loge mereka. Simbol penting Freemason lainnya adalah wujud yang pernah menjadi unsur penting dalam arsitektur Mesir, yaitu obelisk. Obelisk adalah sebuah menara tinggi, tegak lurus dengan piramid sebagai puncaknya. Obelisk dipahat dengan hiroglif Mesir Kuno, dan terkubur selama berabad-abad di bawah tanah sampai ditemukan di abad kesembilan belas, dan dipindahkan ke kota-kota di Barat seperti New
Rasim Adasal, "Masonlugun Sosyal Kaynaklari ve Amaclari" (The Social Origins and Aims of freemasonry), Mimar Sinan, December 1968, No. 8, hal. 26, dikutip tidak langsung oleh website http://id.harunyahya.com/id/works/3104 24 Christopher Knight, Robert Lomas, The Hiram Key, (London: , Arrow Books, 1997), hal. 188
23

24

York, London, dan Paris. Obelisk terbesar dikirimkan ke AS. Pengiriman ini dilakukan oleh kaum Freemason. Obelisk, sebagaimana huruf-huruf Mesir Kuno yang terpahat padanya, diklaim oleh kaum Freemason benarbenar sebagai simbol-simbol mereka sendiri.25

1.1.1.3.4. Filosofi Pagan Freemason Setelah memahami bahwa asal usul Freemason terletak pada suatu doktrin pagan yang merentang hingga ke Mesir Kuno, dan bahwa di Mesir kuno pula makna sejati dari konsep-konsep dan simbol-simbolnya tersembunyi, maka Freemason jelas bertentangan dengan agama-agama Monoteistik.26 Freemason adalah humanis, materialis, dan evolusionis. Di kalangan internal Freemason, di antara mereka yang telah mencapai tingkat inisiasi yang lebih tinggi, terdapat para Mason yang memahami bahwa mereka adalah pewaris dari suatu tradisi kuno dan pra-Kristen yang diteruskan dari masa pagan.27 Walaupun sebagian kecil kaum Freemason tingkat rendah menganggap Freemason sebagai suatu organisasi amal dan sosial, namun Freemason sebenarnya menyangkut rahasia keberadaan manusia. Dengan kata lain, tampilan luar Freemason sebagai organisasi amal atau sosial sebenarnya adalah penyamaran untuk menyembunyikan filosofi organisasi tersebut. Dalam kenyataannya, Freemason adalah sebuah organisasi yang bertujuan menanamkan filosofi tertentu secara sistematik kepada anggota-anggotanya, juga kepada masyarakat lainnya.
http://id.harunyahya.com/id/works/3104, Ancaman Global Freemasonry, 14 Mei 2012 Ibid., http://id.harunyahya.com/id/works/3104, Ancaman Global Freemasonry, 14 Mei 2012 27 Michael Howard, “The Occult Conspiracy: The Secret History of Mystics, Templars, Masons and Occult Societies”, hal. 2-3, dikutip tidak langsung oleh website http://id.harunyahya.com/id/works/3104
26 25

25

Unsur fundamental filosofi ini, yang telah berkembang menjadi Freemason dari budaya pagan, khususnya dari Mesir Kuno, adalah materialisme.28 Kaum Freemason masa kini, sebagaimana para fir’aun, imam, dan kelas-kelas lain dari Mesir Kuno, mempercayai bahwa materi kekal dan tidak diciptakan, dan bahwa dari materi tak berjiwa ini makhluk hidup dapat muncul secara kebetulan. Mereka beranggapan bahwa seluruh angkasa, atmosfer, bintang-bintang, alam, seluruh makhluk hidup dan tak hidup tersusun dari atom-atom. Manusia tidak lebih dari kumpulan atomatom yang terbentuk secara spontan. Keseimbangan pada arus listrik di antara atom-atom memastikan kelangsungan hidup makhluk hidup. Manusia dianggap berasal dari materi dan energi, dan akan kembali menjadi materi dan energi. Tumbuhan memanfaatkan atom-atom manusia, dan semua makhluk hidup, termasuk manusia, memanfaatkan tumbuhan. Segala sesuatu terbuat dari zat yang sama. Namun karena otak manusia mengalami evolusi tertinggi dibandingkan semua hewan, muncullah kesadaran. Sains positif meyakini bahwa tidak ada yang menjadi ada dari ketiadaan, dan tidak ada yang akan musnah. Jadi, dapat disimpulkan bahwa manusia tidak perlu bersyukur atau menurut kepada kekuatan apa pun. Alam semesta adalah sebuah totalitas energi tanpa awal dan akhir. Segala sesuatu lahir dari totalitas energi ini, berevolusi dan mati, tetapi tidak pernah benar-benar sirna. Benda-benda berubah dan bertransformasi.

28

http://id.harunyahya.com/id/works/3104, Ancaman Global Freemasonry, 14 Mei 2012

26

Sama sekali tidak ada hal-hal semacam kematian atau kehilangan, yang ada ialah perubahan yang terus-menerus, transformasi dan formasi.29

1.1.1.3.5. Pandangan Freemason Tentang Asal Usul Kehidupan Menurut kaum Freemason, karakteristik terpenting dari ajaran moralitas adalah tidak memisahkan diri dari prinsip-prinsip logika dan tidak memasuki teisme (ketuhanan), makna-makna rahasia, atau dogma yang tidak diketahui. Dengan landasan ini ditegaskan bahwa penampakan kehidupan pertama bermula di dalam kristal-kristal pada kondisi-kondisi yang tidak dapat diketahui atau ditemukan saat ini. Makhluk hidup lahir sesuai dengan hukum evolusi dan perlahan-lahan menyebar di seluruh dunia. Sebagai hasil dari evolusi, manusia sekarang ini muncul dan berkembang melampaui hewan baik dalam kesadaran maupun

kecerdasan.30 Karakteristik Masonik yang terpenting adalah menolak teisme, yakni kepercayaan akan Tuhan. Bahwa kehidupan muncul secara spontan dari materi tak hidup, dan kemudian mengalami evolusi yang menghasilkan kemunculan manusia. Dengan kata lain, kaum Freemason adalah evolusionis karena mereka tidak mengakui keberadaan Tuhan. Selain alam tidak ada kekuatan lain yang membimbing manusia, dan bertanggung jawab atas pemikiran dan tindakan manusia.” Kehidupan berawal dari satu sel dan mencapai tahapannya saat ini sebagai hasil dari

Dr. Selami Isindag, “Masonluktan Esinlenmeler” (Inspirations from Freemasonry), hal. 189, dikutip tidak langsung oleh website http://id.harunyahya.com/id/works/3104 30 Dr. Selami Isindag, “Evrim Yolu” (The Way of Evolution), hal. 141, dikutip tidak langsung oleh website http://id.harunyahya.com/id/works/3104

29

27

berbagai perubahan dan evolusi.”31 Dari sudut pandang evolusi, manusia tidak berbeda dengan binatang. Dalam pembentukan manusia dan evolusinya tidak ada kekuatan khusus selain dari yang berlaku pada binatang. Hal ini menunjukkan dengan jelas mengapa kaum Mason menganggap teori evolusi begitu penting, yaitu untuk mempertahankan gagasan bahwa manusia tidak diciptakan dan untuk menunjukkan kebenaran filosofi materialis humanis mereka sendiri.32 . 1.1.1.3.6. Kehadiran Freemason di Indonesia Kehadiran Freemason di Indonesia ditandai dengan berdirinya Loge (Lodge) bernama “La Choisie” di Batavia pada tahun 1764,33 atas prakarsa J.D. M. Radermacher (1741-1780), seorang perwira VOC yang merupakan anak dari seorang bendahara kerajaan Belanda, dan keponakan dari seorang anggota Dewan Direktur VOC.34 Radermacher, selain menjadi pegawai pengadilan (baljuw) Batavia, juga adalah anggota majelis Gereja Lutheran di Batavia.35 Loge La Choisie didirikan dengan jumlah anggota tiga belas orang Belanda.36 Pada penghujung abad ke-18,

keanggotaan di suatu Loge di Batavia menggambarkan dominasi kebudayaan Belanda yang kuat. Keanggotaan hanya terdiri dari orangDr. Selami Isindag, Sezerman Kardes VI, “Masonluktan Esinlenmeler” (Inspirations from Freemasonry), hal. 78, dikutip tidak langsung oleh website http://id.harunyahya.com/id/works/3104 32 http://id.harunyahya.com/id/works/3104, Ancaman Global Freemasonry, 14 Mei 2012 33 Dennys Lombard, Nusa Jawa: Silang Budaya Kajian Sejarah Terpadu: Jaringan Asia, Volume 2, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1996), hal. 73 34 http://en.wikipedia.org/wiki/Jacob_Cornelis_Matthieu_Radermacher, 22 April 2012 35 S. Kalff, “Een Baanbreker in den Raad Van Indie”, hal. 462-483, dikutip tidak langsung oleh Th. Stevens, Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia Belanda dan Indonesia 17641962, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2004), hal. 93 36 Th. Stevens, Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia Belanda dan Indonesia 17641962, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2004), hal. 63
31

28

orang Belanda dan Indo-Eropa, yang kebanyakan adalah pegawai-pegawai negeri. Mereka seolah-olah menemukan jati diri Eropa dalam keanggotaan mereka di dalam Loge.37 Di Batavia berdiri lagi dua loge Freemason, yaitu “La Fidele Sincerite” (1767), dan “La Vertuese” (1769) dengan jumlah anggota masing-masing adalah 48 orang dan 36 orang.38 Setelah itu, menyusul pembentukan Loge “La Constante Et Fidele” di Semarang (1801), “De Vriendschap” di Surabaya (1809), loge “Mata Hari” di Padang (1858), loge “Mataram” di Yogyakarta (1870), loge “Prins Frederick der Nederlanden” di Rembang (1871), loge “L’Union Frederick Royal” di Surakarta (1872), loge “Prins Frederick” di Kota Raja, Aceh (1880), loge “Veritas” di Probolinggo (1892), loge “Arbeid Adelt” di Makasar (1892), dan loge “Deli” di Medan (1888).39 Beberapa tokoh kolonial terkemuka tercatat sebagai anggota Freemason, yaitu: Thomas Stanford Raffles (Gubernur Jendral Inggris di Hindia Timur dan pendiri Singapura), Herman Willem Daendels dan L. A. W. J. Baron Sloet Van de Beele (keduanya adalah Gubernur Jendral Hindia Belanda), Merkus De Kock (Panglima Tentara Hindia Belanda), J. F. Jasper (Gubernur Yogyakarta), Karel Van Der Heyden (Gubernur Aceh), S. C. Tromp (Gubernur Sulawesi), Pendeta A. S. Carpentier Alting

J. Gelman Taylor, “Smeltkroes Batavia. Europeanen en Euraziaten in De Nederlandse vestigingen in Azie” hal. 118, dikutip tidak langsung oleh Th. Stevens, Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia Belanda dan Indonesia 1764-1962. (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2004), hal. 62 38 Th. Stevens, Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia Belanda dan Indonesia 17641962, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2004), hal. 75 39 Ibid., hal. 149

37

29

(pendiri Perserikatan Protestan Nederland di Hindia), H. J. Van Mook (Letnan Gubernur Jendral Hindia Belanda).40 Orang Indonesia pertama yang tercatat sebagai anggota Freemason adalah Raden Saleh, seorang pelukis terkenal pada tahun 1836. Menyusul kemudian Abdul Rahman, buyut dari Sultan Pontianak yang merupakan anggota muslim pertama Freemason Hindia (1844), seorang Sultan dari Kutai beserta keempat puteranya,41 Paku Alam V (1878),42 Paku Alam VI, Paku Alam VIII, R. A. Pandji Tjokronegoro (Bupati Surabaya),43 Pangeran Ario Kusumo Yudho (Bupati Ponorogo, R. M. Adipati Haryo Poerbo Hadiningrat (Bupati Semarang dan Salatiga),44 Rajiman

Wedyodiningrat (dokter Kraton Surakarta, Ketua Badan Penyelidik UsahaUsaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia dan pejabat ketua Budi Utomo 1914-1915),45 R. A. Tirtokoesoemo (Bupati Karanganyar dan Ketua pertama organisasi pergerakan Budi Utomo), Pangeran Ario Notodirodjo (Ketua Budi Utomo 1911-1914),46 R. S. Soekanto (Kepala Kepolisian Negara RI yang pertama).47 Cikal bakal dari Partai Komunis Indonesia, ISDV, diduga didirikan oleh orang-orang yang terlibat dengan Freemason, seperti P. Bergsma, J. A. Brandsetter, H. W. Dekker, dan Adolf Baars.48

Ibid., hal. 338 Ibid., hal. 300 42 Ibid., hal. 150 43 Ibid., hal. 302 44 Ibid., hal. 317 45 Ibid., hal. 171 46 Ibid., hal. 305 47 Ibid., hal. 172 48 Artawijaya, Dilema Mayoritas: Pertanyaan ideologis Umat Islam Indonesia Menghadapi Kelompok Sekular, Komunis, dan Kristen Radikal, (Jakarta: Medina Publishing, 2008), hal. 81
41

40

30

Hingga sekitar tahun 1930-an, terdapat sebanyak 25 buah loge Freemason di seluruh Hindia Timur (Indonesia), di antaranya di

Palembang, Purwokerto, Bandung (yang memiliki anggota sekitar 200 orang, jumlah terbanyak yang dimiliki oleh Loge di Indonesia pada masa itu),49 Pada masa pendudukan Jepang di Indonesia (1942-1945), para anggota loge Freemason sering melakukan pertemuan-pertemuan rahasia di kamp tawanan perang milik Jepang.50 Setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, loge-loge Freemason yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia berkembang lagi.51 Di Medan, seorang anggota loge “Deli”, Dokter Tengku Mansur, menduduki jabatan Wali negeri (Gubernur) Negara Sumatera Timur (1947-1950) dalam Republik Indonesia Serikat (RIS).52 Dalam sebuah edisi dari Indische Maconniek Tijdschrift (Majalah Masonik Hindia) tahun 1948, dikatakan bahwa dua orang anggota Freemason menjadi anggota kabinet pemerintah Indonesia.53 Keberadaan loge-loge Freemason secara resmi di Indonesia berlangsung sampai sekitar tahun 1961, saat Presiden Soekarno melalui Keppres No. 264 tahun 1962, melarang keberadaan perkumpulan Vrijmetselaren (Freemason) di Indonesia, dengan alasan asas dan tujuan Freemason tidak sesuai dengan identitas nasional Indonesia.54 Pelarangan

Th. Stevens, Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia Belanda dan Indonesia 17641962, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2004), hal. 387 50 Ibid., hal. 439 51 Ibid., hal. 464 52 Ibid., hal. 462 53 Ibid., hal. 462 54 Ibid., hal. 536

49

31

tersebut terjadi setahun setelah pemerintah Indonesia memutuskan hubungan politik dengan pemerintah Belanda.

1.1.1.3.7. Tingkatan-Tingkatan (Derajat) Ritual Dalam Freemason Ada tiga tingkatan dalam Freemason, yaitu: 1. Tingkat Pertama Freemason Pada tingkatan pertama, para calon anggota berharap untuk memperoleh manfaat dari Freemason “dengan pertolongan Tuhan”. Sebuah doa diucapkan bagi calon anggota. Dalam doa ini dikatakan bahwa calon anggota diminta untuk mendedikasikan hidupnya bagi pelayanan untuk Tuhan, berdoa supaya Tuhan membagikan

kebijaksanaan Ilahi-Nya. Dengan kebijaksanaan ini, calon anggota akan setia kepada sesama anggota lainnya, dan melakukan segala sesuatu untuk kemuliaan Tuhan.55 2. Tingkat Kedua Freemason Selama tingkatan kedua ini, para calon anggota memasuki Logeloge dan melafalkan lagi beberapa bagian dari ritual di tingkat pertama yang telah dilakukan sebelumnya. Para calon anggota harus paham apa saja yang diucapkannya, yang perlu untuk dilafalkan, dengan hafalan. Pengembangan daya ingat (menghafal) adalah suatu hal yang pokok dalam pertemuan-pertemuan di loge Freemason. Inilah tahap awal bagi seseorang untuk menjadi seorang Mason (anggota Freemason). Pengembangan daya ingat dari calon anggota Freemason merupakan
55

http://www.bilderberg.org/First_Degree.htm, FIRST DEGREE OR CEREMONY OF INITIATION, 8 Agustus 2012

32

hal yang penting dalam keterlibatannya selama keanggotaannya di perkumpulan Freemason. Pada tingkatan ini, calon anggota akan saling bertukar “kata kunci” (passwords), dan simbol-simbol masonik lain, yang kesemuanya berhubungan dengan etika/cara hidupnya.56 3. Tingkat Ketiga Freemason Tahap ketiga merupakan tahap terakhir yang dianggap melengkapi perjalanan seseorang dalam kehidupannya sebagai seorang anggota Freemason. Pada tingkat ketiga ini ada bagian upacara yang menggambarkan kematian dari Hiram Abbiff (seorang tokoh penting dalam alam pikiran kaum Freemason), dan kebangkitan dari kematian menuju kehidupan yang baru bersama Tuhan.57 Walaupun seseorang telah dapat melewati ketiga tahap pertama dalam Freemason, tak tertutup kemungkinan untuk dapat mencapai tingkat Master Mason (Suhu).

1.1.1.3.8. Simbolisme dalam Freemason yang Berhubungan dengan Toleransi dan Harmoni. Kebebasan, keadilan, persamaan, dan persaudaraan merupakan empat prinsip utama dalam Freemason.58 Ajaran Freemason dianggap bisa membawa individu lebih dekat kepada dunia yang diciptakan oleh Arsitektur Agung Alam Semesta (Grand Architect Of The Universe). Perkumpulan Freemason mendorong adanya keberagaman, tapi
Ibid., http://www.bilderberg.org/First_Degree.htm, FIRST DEGREE OR CEREMONY OF INITIATION, 8 Agustus 2012 57 Ibid., http://www.bilderberg.org/First_Degree.htm, FIRST DEGREE OR CEREMONY OF INITIATION, 8 Agustus 2012 58 Ibid., www.biblebelievers.org.au/mason5.htm, Baptist and Freemasonry, 20 April 2012
56

33

menghendaki individu-individu untuk mengasihi sesamanya manusia. Freemason dicirikan oleh upacara/ritual-ritual yang diisi oleh simbolisme.59

1.1.1.3.9. Hiram Abbiff Dalam Alam Pikiran Masonik Nama Hiram Abbiff tak pernah disebutkan ada dalam Alkitab, namun kalangan Masonik menganggap bahwa Hiram Abbiff terdapat dalam Alkitab. Dalam ritual bagi tingkatan Grand Master (Suhu Agung) Freemason, terdapat tiga karakter utama: Raja Salomo, Hiram Raja Tirus, dan Hiram Abbiff, yang berasal dari kisah Alkitab mengenai pembangunan Bait Allah. Raja Salomo dan Hiram Raja Tirus beberapa kali disebutkan dalam Alkitab (I Raj. 5). Yang paling mendekati istilah “Hiram Abbiff” dalam Alkitab adalah “Huram Abi” (2 Tawarikh 2:3). Mengenai kisah non-fiksi dari Hiram Abbiff, kaum Freemason menyatakan hal itu adalah kiasan (alegori) saja, yang digunakan untuk mengajar.60 Dalam ritual di tiga tingkatan dalam Freemason, para calon anggota mempersonifikasikan diri sebagai “Hiram Abbiff”, dengan mata ditutup, dan dituntun oleh pimpinan upacara selama ritual. Dalam ritual Masonik, Hiram Abbiff adalah Grand Master (Suhu Agung) dari pembangunan Bait Suci Salomo. Kisahnya adalah: Tiap hari, Hiram Abbiff menjadi pengarah para pekerja untuk menyelesaikan pekerjaannya. Ada pekerja-pekerja yang bekerja di Bait Suci, yang memperoleh rahasia-rahasia dari seorang
59 60

www.ephesians5:11.org, “Who is Hiram Abbiff?”, 20 April 2012 Ibid., www.ephesian5:11.org, “Who is Hiram Abbiff?”, 20 April 2012

34

Suhu Mason (Master Mason) sebagai upahnya, setelah pembangunan Bait Suci selesai. Saat mereka memperoleh rahasia-rahasia dari seorang Master Mason, mereka akan menerima upah sebagaimana layaknya seorang Suhu Mason (Master Mason). Namun, sebanyak 15 (lima belas) orang pekerja memutuskan tak mau menunggu hingga pekerjaan pembangunan Bait Suci selesai, Mereka pun lalu berkomplot untuk mencegat Hiram Abbiff di gerbang selatan, timur, dan barat dari Bait Suci, untuk menanyakan kepada Hiram tentang rahasia dari Suhu Mason. Hiram pun menolak permintaan mereka, dengan alasan bahwa saat itu belum waktunya yang tepat, dan rahasia tersebut barulah diberitahu jika hadir ketiga orang: Raja Salomo, Hiram Raja Tirus, dan dirinya sendiri (Hiram Abbiff). Komplotan tersebut lalu membunuh Hiram Abbiff, lalu

menguburkannya di sebelah barat gunung Moria. Namun jasad Hiram sempat dipindahkan secara diam-diam, sebelum akhirnya ditemukan terkubur selama 15 hari. Raja Salomo pun memerintahkan untuk membangkitkan Hiram dengan peralatan pertukangan yang dimiliki para pekerja bangunan Bait Suci. Upaya itu pun berhasil, lalu Hiram dan Raja Salomo saling berpelukan. Personifikasi Raja Salomo dalam ritual Freemason diperankan oleh Worshipful Master (Pemimpin upacara pemujaan) dalam setiap loge. Jadi, kaum Freemason menggantikan konsep “Iman” dengan peniruan/imitasi, dan “Tuhan

35

Yesus” dengan “Hiram Abbiff”, sebagai cara untuk memperoleh jalan masuk ke surga, setelah kematian.61

1.1.1.3.10.

Konsep “Tuhan” Menurut Ajaran Freemason Dalam Freemason, “Tuhan” digambarkan sebagai “Great

Architect Of The Universe” (Arsitek Agung Alam Semesta), yaitu sebuah konsep ketuhanan yang dianut oleh orang-orang yang menafsirkan keberadaan Tuhan menurut keinginan mereka sendiri. Pemikiran Freemason dipengaruhi oleh pandangan deisme abad ke-18, yang menganggap bahwa Tuhan adalah pencipta alam semesta, yang telah mengatur pergerakan-pergerakan dalam alam semesta, yang telah meletakkan hukum-hukum moral untuk ditaati oleh manusia, tapi tidak berkarya secara pribadi dalam dunia ini untuk berbelas kasih atau menghakimi. Dalam ritual-ritual mereka, nama “Arsitek Agung” disebutkan sebagai “Jah Bul On”, yang merupakan gabungan dari nama-nama: Jah (bahasa Ibrani: Yahweh), Bul (Baal, dewa kesuburan orang Kanaan), dan On (Osiris, Dewa bawah tanah bangsa Mesir). Padangan sinkritis tentang konsep ketuhanan Freemason sangat berlawanan dengan Tuhan Maha Kuasa yang telah dinyatakan dalam Yesus Kristus.62

61 62

Ibid., www.biblebelievers.org.au/mason5.htm, Baptist and Freemasonry, 20 April 2012 Ibid., www.biblebelievers.org.au/mason5.htm, Baptist and Freemasonry, 20 April 2012

36

1.1.1.3.11.

Yesus Kristus Dalam Pandangan Freemason Walaupun ada individu-individu yang percaya kepada Yesus

Kristus, tapi secara umum, kaum Freemason tidak menempatkan Yesus Kristus dalam posisi yang unik sebagai Anak Allah, Tuhan, dan Juru Selamat. Dalam doa-doanya, kaum Freemason tidak menyertakan nama Yesus Kristus. Yesus Kristus dianggap sama dengan guru-guru agama yang lain, seperti Konfusius, Muhammad, atau Zoroaster.63

1.1.1.3.12.

Fungsi Alkitab dalam Perkumpulan Freemason Alkitab merupakan salah satu dari “Kumpulan Hukum-Hukum

Suci” yang digunakan dalam Freemason. Alkitab hanya dianggap sebagai sumber dari simbol-simbol Masonik ketimbang Firman Tuhan.

1.1.1.3.13.

Konsep Keselamatan Dalam Freemason Perkumpulan Freemason mengajarkan banyak tentang kebaikan

moral, tapi hampir tidak pernah mengajarkan mengenai dosa dan pertobatan. Para Mason (anggota Freemason) didorong untuk banyak beramal, karena menurut mereka dengan banyak berbuat baik, itulah cara untuk meraih keselamatan. Selain beramal, keselamatan dianggap dapat diperoleh melalui pencerahan (enlightenment) melalui cara-cara yang digunakan oleh agama-agama kuno.64

63 64

Ibid., www.biblebelievers.org.au/mason5.htm, Baptist and Freemasonry, 20 April 2012 Ibid., www.biblebelievers.org.au/mason5.htm, Baptist and Freemasonry, 20 April 2012

37

1.1.1.3.14. Konsep Kekekalan Dalam Freemason Para Mason percaya tentang adanya kekekalan jiwa, namun melalui teladan moral “Hiram Abbiff”, tokoh sentral dalam alam pikiran Masonik. Selain itu, Freemason memandang bahwa Grand Architect Of The Universe (GAOTU), Arsitek Agung Alam Semesta hidup dan memerintah selamanya.65 Sebagai bagian dari keyakinan materialis mereka, kaum Mason tidak menerima keberadaan roh manusia dan menolak sepenuhnya gagasan tentang hari akhir. Walau demikian, tulisan-tulisan Masonik terkadang menyebut tentang mereka yang meninggal “telah melangkah ke keabadian” atau ungkapan spiritual sejenisnya. Tetapi semua rujukan Masonik kepada kekekalan roh hanya simbolik belaka. Ajaran Freemason tidak menganggap penting keberadaan roh yang berada di luar jasad. Di dalam Freemason, kebangkitan setelah kematian adalah dengan meninggalkan karya spiritual dan material sebagai warisan kepada umat manusia. Inilah yang mengekalkan manusia. Barang siapa yang tidak mampu mengabadikan nama di kehidupan manusia yang jelasjelas singkat ini adalah orang yang gagal. Manusia yang telah berupaya selama berabad-abad untuk memperoleh kekekalan dapat mencapainya dengan karya yang ia lakukan, pelayanan yang ia berikan, serta pemikiran yang ia hasilkan; dan ini akan memberi arti pada kehidupannya.66

Ibid., www.biblebelievers.org.au/mason5.htm, Baptist and Freemasonry, 20 April 2012 Hasan Erman, "Masonlukta Olum Sonrasi" (After Death in Freemasonry), Mimar Sinan, 1977, No. 24, hal. 57, dikutip tidak langsung oleh website http://id.harunyahya.com/id/works/3104
66

65

38

1.1.1.3.15. Kemungkinan Hubungan Freemason dengan Okultisme Nama Baal dipakai sebagai salah satu sebutan untuk Tuhan dalam Freemason. Dalam Alkitab, Baal adalah sebutan bagi dewa kesuburan orang Kanaan, dan di kemudian hari, menjadi sebutan untuk Iblis. Dalam ritual di tingkat tertinggi Freemason, nama Lucifer dan Abaddon digunakan sebagai pernyataan Ketuhanan Masonik. Kedua nama itu memiliki kaitan dengan kejahatan dalam Alkitab. Beberapa konseling dan pelayanan penggembalaan memiliki pengalaman berurusan dengan para Mason yang bersaksi membutuhkan pelepasan dari keterikatan dari kuasa gelap, sebelum akhirnya dibebaskan oleh Kristus.67

1.1.1.3.16. Keterlibatan Anggota dan Pemimpin Jemaat dalam Freemason Dan Dampaknya Bagi Gereja Keterlibatan pemimpin jemaat Gereja dalam perkumpulan Freemason merupakan hal yang faktual. Perintis jemaat Gereja Methodis awal di Negara bagian Oregon dan Washington, Amerika Serikat, Pendeta Daniel Bagley, adalah seorang Freemason, bersama perdiri kota Seattle lainnya.68 Di Inggris, Gereja dan para Mason dengan cepat dapat hidup berdampingan secara damai.69 Di Amerika latin, terdapat beberapa imam dan tokoh-tokoh di Keuskupan Katolik

Ibid., www.biblebelievers.org.au/mason5.htm, Baptist and Freemasonry, 20 April 2012 C. Peter Wagner (ed.), Meruntuhkan Benteng-Benteng di Kota Anda, (Yogyakarta: Penerbit Andi, 1999), hal. 220 69 Sophia Perennis, Rene Guenon And The Future of The West, The Life and writings of a 20 th Century Metaphysician, (New York: Hillsdale, 2005), hal. 32
68

67

39

yang terdaftar sebagai anggota Freemason tingkat tinggi.70 The Christian Synosure, sebuah badan di dalam National Christian Association di Amerika Serikat, sebuah lembaga yang

mengorganisasikan orang-orang Kristen untuk menentang keberadaan perkumpulan-perkumpulan rahasia (secret societies), menaksir pada tahun 1892 terdapat 20 persen dari para Pastur dalam Gereja Episkopal Methodis yang adalah anggota Freemason.71 Bahkan, Gereja-gereja Protestan lainnya menjadi tuan rumah dalam pertemuanpertemuan Masonik, dan pendeta-pendetanya menyampaikan salam, berkat, dan memanjatkan doa dalam pertemuan-pertemuan tersebut.72 Di Afrika Selatan (Rhodesia), banyak imam Gereja yang juga menjadi Freemason, dan ada kerjasama yang lebih terbuka dan “nyaman” antara Gereja dengan Freemason ketimbang dengan yang terjadi di Inggris. Ritual-ritual pemujaan Masonik diadakan di Gereja-gereja, dan peletakan batu pertama gedung-gedung diadakan dalam ritual Masonik.73 Di Indonesia (Hindia Belanda), salah satu Grand Master (Suhu Agung) dari Loge Freemason Indonesia adalah A. S. Carpenter Alting, pendeta Gereja protestan di Indonesia.74 Dengan mengizinkan anggota Freemason menjadi jemaat di Gereja, sama saja dengan mengambil bagian dalam pekerjaan jahat
John Joseph Considine, Catholic Foreign Mission Society of America, Inc., (United States Of America: 1958), hal. 13. 71 Kevin W. Mannoia and Don Thorsen (ed.), Holiness Manifesto, (Grand Rapids, Michigan: Wm. D. Eerdmans Publishing, Co., 2008), hal. 99 72 Walter H. Conser, A Coat of Many Colours, Religion and Society Along The Cape Fear River of North Carolina, (Kentucky: The University Press Of Kentucky, 2006), hal. 127 73 Pamela Welch, Church and Settler in Colonial Zimbabwe, A Study in The History of The Anglican Diocese of Mashonaland/Southern Rhodesia 1890-1925, (Leiden: Koninklijke Brill N. V., 2008) 74 http://www.kaskus.co.id/showthread.php?t=7830668, 8 Agustus 2012
70

40

Freemason, melayani setan sehingga memberi setan hak untuk mendakwa melawan Gereja. Ketujuh surat kepada tujuh Gereja dalam Kitab Wahyu menyatakan bahwa Allah tak hanya menuntut pertanggungjawaban dari apa yang dilakukan oleh Gereja, tapi juga apa yang ditoleransi/dibiarkan oleh Gereja.75 Seseorang yang mempraktekkan ritual Freemason akan dikuasai oleh setan-setan. Jika seseorang yang menjadi pemimpin Gereja mempraktekkan ritual Freemason, maka bukan hanya dirinya dan keluarganya yang mendapat akibat tersebut, namun juga jabatan penggembalaan yang ia pegang.76

1.1.1.4. Pengertian dan Asal Mula Keppres Keppres adalah singkatan dari Keputusan Presiden. Undangundang Dasar 1945 menentukan Keppres sebagai salah satu bentuk perundang-undangan. Bentuk peraturan (Keppres) baru dikenal sejak tahun 1959 berdasarkan surat presiden no. 2262/HK/1959 yang ditujukan kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), yakni sebagai peraturan perundang-undangan yang dibentuk oleh Presiden untuk melaksanakan penetapan presiden. Kemudian melalui Ketetapan MPRS No. XX/MPRS/1996, Keputusan Presiden resmi ditetapkan sebagai salah satu bentuk peraturan Perundang-undangan menurut UUD 1945. Keputusan Presiden berisi keputusan yang bersifat khusus (einmalig)

Ibid., www.biblebelievers.org.au/mason5.htm, Baptist and Freemasonry, 20 April 2012 Ken Hepworth, Mematahkan Kutuk Atas Tanah dan Bangunan, (Yogyakarta: Penerbit Andi, 2009), hal. 104
76

75

41

adalah untuk melaksanakan UUD 1945, ketetapan MPR yang memuat garis-garis besar dalam bidang eksekutif, dan Peraturan Pemerintah.77

1.1.1.4.1. Pengertian Keppres No. 69 Tahun 2000 Keputusan Presiden (Keppres) No. 69 Tahun 2000 adalah sebuah peraturan yang menyatakan pencabutan Keppres No. 264 Tahun 1962 tentang larangan adanya organisasi Liga Demokrasi, Rotary Club, Divine Life Society, Vrijmetselaren Loge (Freemason), Moral Rearmamanet Movement, Ancient Mystical Of Rosi Crucians (AMORC), dan Organisasi Baha’i. Dengan kata lain, Keppres No. 69 Tahun 2000 merupakan legalisasi bagi keberadaan organisasiorganisasi tersebut di atas di Negara Republik Indonesia. Termasuk di dalamnya adalah organisasi Freemason yang menjadi bahasan utama dalam penelitian ini. Keppres No. 69 Tahun 2000 dikeluarkan pada masa

kepemimpinan Presiden Abdurrahman Wahid, pada tanggal 23 Mei 2000.

1.1.1.4.2. Latar Belakang Keppres No. 69 Tahun 2000 Beberapa pertimbangan yang mendasari dikeluarkannya Keppres no. 69 Tahun 2000 oleh Presiden Abdurrahman Wahid adalah:

77

http://www.undang-undang-indonesia.com/forum/index.php?topic=19.0, 2 Mei 2012

42

1.

Pembentukan

organisasi

sosial

kemasyarakatan

dan

keagamaan pada hakikatnya merupakan hak setiap warga Negara Indonesia. 2. Pelarangan terhadap organisasi-organisasi: Liga Demokrasi, Rotary Club, Divine Life Society, Vrijmetselaren Loge (Freemason), Moral Rearmamanet Movement, Ancient

Mystical Of Rosi Crucians (AMORC), dan Organisasi Baha’i, dipandang sudah tidak sesuai lagi dengan prinsip-prinsip demokrasi. 3. Meskipun dalam kenyataannya Keppres No. 264 Tahun 1962 sudah tidak efektif lagi, namun untuk lebih memberikan kepastian hukum perlu secara tegas mencabut Keputusan Presiden No. 264 Tahun 1962. Adapun dasar hukum yang dijadikan acuan oleh Presiden Abdurrahman Wahid untuk melegalisasi organisasi-organisasi Liga Demokrasi, Rotary Club, Divine Life Society, Vrijmetselaren Loge (Freemason), Moral Rearmament Movement, Ancient Mystical Of Rosi Crucians (AMORC), dan Organisasi Baha’i adalah Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945, dan Undang-Undang No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 165, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3886).

43

1.1.1.5. Pengertian Perspektif Iman Kristen 1.1.1.5.1. Pengertian Perspektif Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), perspektif berarti: “sudut pandang” ; “pandangan”.78

1.1.1.5.2. Pengertian Iman Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), iman berarti: 1. Kepercayaan (yang berkenaan dengan agama); keyakinan dan kepercayaan kepada Allah, nabi, kitab, dan sebagainya. 2. Ketetapan hati; keteguhan batin; keseimbangan batin.79

1.1.1.5.3. Pengertian Kristen Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Kristen berarti: “agama yang disampaikan oleh Kristus (Nabi Isa)”.80 Jadi, pengertian perspektif iman Kristen adalah memandang sesuatu dari sudut pandang iman/kepercayaan Kristen.

1.2. Kerangka Konseptual Konsep atau pengertian merupakan definisi secara singkat dari kelompok fakta atau gejala yang dapat dirumuskan sebagai suatu definisi yang dapat dipakai untuk menggambarkan secara abstrak suatu fenomena sosial.81

Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi 3, (Jakarta: Balai Pustaka, 2005), hal. 864 79 Ibid., hal. 425 80 Ibid., hal. 601 81 Pedoman Penelitian Skripsi, (Medan: Unimed, 1986), hal. 25

78

44

Dengan kata lain, kerangka konseptual adalah hasil kesimpulan yang tersedia dari penulisan kelompok fakta dan gejala yang tersedia. Jadi, kerangka konseptual dalam penelitian ini adalah umat Kristen memandang perkumpulan bidat Freemason dengan sikap kritis dan mewaspadainya sebagai suatu ancaman bagi kelestarian ajaran Kristen yang benar.

45

BAB III METODE PENELITIAN

3.1. Tempat Penelitian Penelitian berlokasi di wilayah provinsi Sumatera Utara dan sekitarnya.

3.2. Waktu Penelitian Penelitian berlangsung sejak bulan Februari 2012 sampai dengan awal Agustus 2012.

3.3. Metode Penelitian Dalam penelitian ini, metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif. Penelitian kualitatif berupaya untuk mempelajari tindakan-tindakan manusia dari sudut pandang pelaku-pelaku kehidupan sosial itu sendiri. Tujuan utama dari penelitian dengan pendekatan kualitatif adalah pendeskripsian dan pemahaman mengenai perilaku manusia.82 Fokus dari penelitian kualitatif bukanlah hasil, tetapi proses dari penelitian itu sendiri.83 Penekanan pada sudut pandang dari pelaku kehidupan sosial yang diamati, dan bukan sudut pandang dari peneliti.84 Tujuan utama penelitian kualitatif adalah memperoleh pendeskripsianE. Babbie dan J. Mouton, “The Practice Of Social Research”, dikutip tidak langsung oleh Sandra Brownrigg, Freemasonry: Men’s Lived Experience Of Their Membership Of A Male-Only Society, Mini Dissertation, (Pretoria: University Of Pretoria, 2007), hal. 60 83 E. Babbie dan J. Mouton, “The Practice Of Social Research”, dikutip tidak langsung oleh Sandra Brownrigg, Freemasonry: Men’s Lived Experience Of Their Membership Of A Male-Only Society, Mini Dissertation, (Pretoria: University Of Pretoria, 2007), hal. 60 84 E. Babbie dan J. Mouton, “The Practice Of Social Research”, dikutip tidak langsung oleh Sandra Brownrigg, Freemasonry: Men’s Lived Experience Of Their Membership Of A Male-Only Society, Mini Dissertation, (Pretoria: University Of Pretoria, 2007), hal. 60
82

46

pendeskripsian yang mendalam dan pemahaman mengenai pelaku-pelaku kehidupan sosial dan peristiwa-peristiwa.85 Pendekatan dalam proses penelitian kualitatif biasanya bersfat induktif, dan peneliti memandang banyak aspek dari kehidupan sosial dengan cara pandang kualitatif.86

3.4. Teknik Pengumpulan Data 1. Studi Pustaka Pengumpulan data melalui literatur yang ada 2. Dokumentasi Data berasal dari dokumen-dokumen yang berkaitan dengan obyek penelitian 3. Wawancara Salah satu cara yang paling sering digunakan dalam pengumpulan data pada penelitian kualitatif adalah wawancara individual.87 Sebuah wawancara kualitatif adalah interaksi antara pewawancara dan partisipan, di mana pewawancara merencanakan pertanyaan-

pertanyaan bersifat garis besarnya saja, ketimbang bersifat spesifik kata-demi kata. Wawancara penelitian dilakukan dengan menanyai partisipan untuk memperoleh pengetahuan mengenai kehidupan

E. Babbie dan J. Mouton, “The Practice Of Social Research”, dikutip tidak langsung oleh Sandra Brownrigg, Freemasonry: Men’s Lived Experience Of Their Membership Of A Male-Only Society, Mini Dissertation, (Pretoria: University Of Pretoria, 2007), hal. 61 86 Sandra Brownrigg, Freemasonry: Men’s Lived Experience Of Their Membership Of A MaleOnly Society, Mini Dissertation, (Pretoria: University Of Pretoria, 2007), hal. 61 87 Babbie dan J. Mouton, “The Practice Of Social Research”, dikutip tidak langsung oleh Sandra Brownrigg, Freemasonry: Men’s Lived Experience Of Their Membership Of A Male-Only Society, Mini Dissertation, (Pretoria: University Of Pretoria, 2007), hal. 67

85

47

partisipan.88 Fokus dari wawancara penelitian kualitatif adalah menyelami kehidupan dari partisipan.89 Pada penelitian ini, peneliti melakukan wawancara dengan orangorang di pihak pemerintah (Dinas Kesatuan Bangsa Pemerintah Provinsi Sumatera Utara) sebagai representasi dari pihak eksekutif (pembuat peraturan), dengan pihak organisasi yang diatur/dilegalkan oleh Keppres No. 69 Tahun 2000, dan dengan tokoh-tokoh Gereja di Sumatera Utara.

3.5. Teknik Analisis Data Dalam penelitian kualitatif, analisis data yang lazim digunakan adalah data reduction, data display, dan data conclusion/verification.90 1. Data Reduction Data reduction (pengurangan data) mengacu kepada memilih, memfokuskan, menyederhanakan, mentransformasikan data dalam bentuk catatan-catatan. Dengan demikian, memilih aspek-aspek mana dari data yang telah terbangun tersebut yang sebaiknya ditekankan, diminimalisir, atau dikesampingkan untuk tujuan penelitian.91

S. Kvale, “Interviews: An Introduction To Qualitative Research Interviewing”, dikutip tidak langsung oleh Sandra Brownrigg, Freemasonry: Men’s Lived Experience Of Their Membership Of A Male-Only Society, Mini Dissertation, (Pretoria: University Of Pretoria, 2007), hal. 67 89 Sandra Brownrigg, Freemasonry: Men’s Lived Experience Of Their Membership Of A MaleOnly Society, Mini Dissertation, (Pretoria: University Of Pretoria, 2007), hal. 67 90 Matthew B. Miles dan Michael Huberman, Qualitative Data Analysis, (Beverly Hills: Sage Publications, 1994), hal. 10. 91 Matthew B. Miles dan Michael Huberman, “Qualitative Data Analysis”, dikutip tidak langsung oleh website http://www.nsf.gov/pubs/1997/nsf97153/chap_4.htm

88

48

2. Data Display Data display (penayangan data) adalah langkah setelah data reduction, untuk menyajikan sebuah “bagunan” informasi yang telah terorganisir dan dipadatkan untuk menarik suatu kesimpulan. Penayangan data bisa berupa teks, diagram, tabel, yang dapat menimbulkan cara baru untuk merangkai dan berpikir tentang data-data yang telah tersaji. Penayangan data, apakah itu dalam bentuk kata atau diagram, digunakan oleh peneliti untuk memperhitungkan/membedakan polapola atau hubungan-hubungan dari data.92 3. Data Conclusion/Verification Data conclusion/verification (penarikan kesimpulan). Tahap ini mencakup langkah mundur untuk mempertimbangkan apa arti dari data yang telah dianalisa, dan menilai implikasinya bagi jawaban atas masalah.93

Matthew B. Miles dan Michael Huberman, “Qualitative Data Analysis”, dikutip tidak langsung oleh website http://www.nsf.gov/pubs/1997/nsf97153/chap_4.htm 93 Matthew B. Miles dan Michael Huberman, “Qualitative Data Analysis”, dikutip tidak langsung oleh website http://www.nsf.gov/pubs/1997/nsf97153/chap_4.htm

92

49

BAB IV LEGALISASI PERKUMPULAN FREEMASON DITINJAU DARI PERSPEKTIF IMAN KRISTEN

Sepanjang waktu sejak munculnya perkumpulan Freemason, pihak Gereja telah menyatakan sikap yang jelas mengenai keberadaan perkumpulan Freemason. Berbagai denominasi Gereja telah menunjukkan sikap mereka, baik secara eksplisit , maupun implisit terhadap perkumpulan Freemason.

4.1. Gereja Katolik Roma Melalui para Paus yang hidup pada masa awal berdirinya Freemason, hingga saat ini, Gereja telah mengeluarkan sikap yang jelas. Paus Clement XII (1730-1740), mengatakan: “Mari kita merenungkan kejahatan-kejahatan serius sebagai akibat dari perkumpulan-perkumpulan (seperti Freemason), bukan hanya ketenteraman Negara, tapi menyangkut keselamatan jiwa-jiwa. Perkumpulanperkumpulan seperti ini (Freemason) tidak sejalan dengan hukum sipil dan ekonomi dari Negara-negara yang ada. Untuk menutup jalan menuju kedurjanaankedurjanaan yang bisa dilakukan tanpa dihukum, dan juga atas alasan lain yang adil dan masuk akal, kami telah memutuskan dan menetapkan untuk mengutuk dan melarang pertemuan-pertemuan, reuni-reuni, dari perkumpulan yang sejenis dengan Freemason atau aliran-aliran lain yang sama. Kami melarang dan mengutuk mereka dengan ini, ketetapan kami saat ini, yang berlaku sampai seterusnya.” Kutukan Paus Clement XII ditujukan bukan hanya bagi perkumpulan

50

Freemason, tetapi juga bagi kaum awam Gereja yang dihimbau untuk menghindari pergaulan dengan perkumpulan Freemason, agar tidak di ekskomunikasi (dikucilkan) dari Gereja.94 Penerus dari Paus Clement XII, Paus Benedictus XIV (1740-1758), dalam keputusan Gereja, “Providas”, yang menegaskan bahwa pengutukan terhadap Freemason adalah sesuatu yang tak dapat dibatalkan, dan akan diberlakukan di masa datang, sebagaimana pada masa kini. Dalam dekrit “Providas”, Paus Benedictus XIV mengemukakan enam alasan mengapa Paus Clement XII melarang perkumpulan-perkumpulan rahasia seperti Freemason, yaitu: 1) Interconfessionalism (lintas kepercayaan) dari Freemason; 2) kerahasiaan mereka; 3) Sumpah mereka; 4) Oposisi mereka terhadap Gereja dan Negara; 5) Larangan terhadap mereka yang diumumkan oleh para kepala Negara dari beberapa Negara; dan 6) Ketidakbermoral-an mereka.95 Paus Clement XIII (1758-1769), juga menyatakan ketidaksetujuannya terhadap keberadaan Freemason. Dalam Ensiklik Kepausan “Christianae Republicae Salus”, Paus Clement XIII menulis: “Musuh dari segala kebaikan, telah menyebarkan benih kejahatan di ladang Tuhan. Dan gandum kejahatan telah tumbuh subur dengan cepat, sampai-sampai hendak menghancurkan panenan. Saatnyalah kini untuk menebang tanaman kejahatan itu. Pada masa kita ini, tak ada yang terbebas dari serangan-serangan mereka yang durhaka. Allah sendiri menjadi sasaran dari kelancangan mereka, di mana Allah digambarkan oleh

94

http://destroyfreemasonry.com/chapter1.htm, Papal Condemnations Of Freemasonry, 4 Juli

2012 Ibid., http://destroyfreemasonry.com/chapter1.htm, Papal Condemnations Of Freemasonry, 4 Juli 2012
95

51

mereka sebagai keberadaan yang bisu, hampa, tanpa rasa memelihara dan tanpa rasa keadilan; mereka merendahkan-Nya ke tingkatan hewan-hewan.96 Paus Roma selanjutnya, yaitu Paus Pius VI (1795-1799), meninggal di pengasingan, di mana Paus Pius VI diasingkan, berpindah-pindah dari Roma ke berbagai kota di Italia dan Perancis. Paus Pius VI diasingkan atas perintah Napoleon, di tengah-tengah berkecamuknya revolusi Perancis.97 Pengganti dari Paus Pius VI, yaitu Paus Pius VII (1800-1823), dalam Ensiklik Kepausan “Ecclesiam A Jesu Cristo”, menulis tentang para Freemason: “Mereka datang dalam rupa (kedok) domba, namun sebenarnya mereka tiada lain adalah serigalaserigala yang buas. Paus Pius VII menambahkan bahwa sifat yang paling jahat dari perkumpulan Freemason adalah ketidakpedulian mereka terhadap agama. Selain itu Freemason juga membebaskan tiap orang untuk melegalkan agama mereka sendiri sesuai dengan keinginan hati mereka masing-masing. Mereka mencemarkan dan menodai penderitaan Sang Juru Selamat kita dalam beberapa upacara-upacara yang menjijikkan.Mereka menggantikan Sakramen-sakramen Gereja dengan Sakramen-sakramen penemuan mereka sendiri, dan mereka mencemooh Misteri-misteri dari Gereja Katolik. Dan Freemason, karena kebencian khusus kepada (supremasi) Tahta Kepausan, hendak

menggulingkannya.98 Kecaman terhadap Freemason juga dilakukan oleh Paus Leo XII (18231829). Dalam Ensiklik Kepausan “Quo Graviora”, Paus Leo XII menulis tentang perkumpulan Freemason: “Mereka telah menunjukkan penghinaan mereka atas
Ibid., http://destroyfreemasonry.com/chapter1.htm, Papal Condemnations Of Freemasonry, 5 Juli 2012 97 http://adventist.org.au, Pope Pius VI and 1798, 5 Juli 2012 98 Ibid., http://destroyfreemasonry.com/chapter1.htm, Papal Condemnations Of Freemasonry, 5 Juli 2012
96

52

pemerintah, kebencian mereka terhadap kedaulatan Negara, serangan-serangan mereka terhadap Ketuhanan Yesus Kristus dan eksistensi Allah. Mereka secara terbuka membual tentang paham materialisme mereka, sebagaimana Anggaran Dasar dan Statuta Organisasi mereka yang menjelaskan rencana-rencana dan upaya-upaya mereka untuk menghilangkan legitimasi Kepala-kepala Negara, dan secara lengkap menghancurkan Gereja.” Paus Leo XII, dalam Ensiklik yang sama, menulis: “Orang-orang ini (Freemason, pen.), adalah mereka yang dimaksud oleh Rasul Yohanes, yang sebaiknya tidak diberi salam dan tumpangan. (2 Yoh.1:10). Mereka adalah orang-orang yang sama, yang menurut para Bapa Gereja, adalah “keturunan Iblis.”99 Paus Pius VIII (1829-1830), yang merupakan Paus Roma berikutnya, dalam Ensiklik Kepausan “Traditi”, memperbaharui kecaman terhadap Freemason, dengan mengutip istilah yang pernah dibuat oleh Paus Leo Yang Agung (wafat tahun 461 M): “Hukum mereka adalah kesesatan: Tuhan mereka adalah Iblis, dan perkumpulan mereka adalah kejahatan.”100 Penerus dari Paus Pius VIII, Paus Gregory XVI (1831-1846), dalam Ensiklik Kepausan “Mirari Vos”, menulis: “Sesungguhnya inilah saat di mana kuasa kegelapan menggiling orang-orang pilihan layaknya gandum.” Iblis menghasilkan perkumpulanperkumpulan rahasia, jurang penderitaan yang tanpa dasar, di mana jurang yang tanpa dasar itu telah digali oleh para bidat dan perkumpulan-perkumpulan sesat, yang memuntahkan semua penistaan dan kutukan mereka.”101

Ibid., http://destroyfreemasonry.com/chapter1.htm, Papal Condemnations Of Freemasonry, 5 Juli 2012 100 Ibid., http://destroyfreemasonry.com/chapter1.htm, Papal Condemnations Of Freemasonry, 10 Juli 2012 101 Ibid., http://destroyfreemasonry.com/chapter1.htm, Papal Condemnations Of Freemasonry, 10 Juli 2012

99

53

Paus Pius IX, penerus dari Paus Gregory XVI, dalam sebuah Ensiklik Kepausan tertanggal 9 November 1846, menulis: “Saudara-saudara seiman yang terkasih, kalian telah sepenuhnya menyadari kesesatan-kesesatan dan pirantipiranti yang mengerikan yang digunakan oleh anak-anak zaman ini untuk menggerakkan suatu perang tanpa ampun melawan Gereja Katolik, Otoritas Ilahi dari Gereja dan hukum-hukumnya, supaya menginjak-injak hak-hak dari kekuasaan Gereja dan Negara: demikianlah kehendak dari akal-akal bulus melawan Tahta Kepausan Roma, di mana Kristus telah meletakkan landasan yang tak termusnahkan dari Gereja-Nya. Demikianlah kehendak dari perkumpulanperkumpulan rahasia yang berasal dari kegelapan untuk keruntuhan Gereja dan Negara, yang oleh para Paus Roma sebelumnya telah dikutuk melalui Surat-surat Kerasulan mereka. Kami tegaskan lagi tentang pentingnya Surat-surat tersebut, dan mengharapakan supaya ditaati dengan perhatian penuh.” Dari tempat pengasingannya, Paus Pius IX dalam amanatnya “Quibus Quantisque” memperbaharui kutukan kepada Freemason: “Sekte kebinasaan yang menjijikkan itu, sebagaimana penghancuran keselamatan jiwa-jiwa yang sama fatalnya dengan kesejahteraan dan kedamaian dari masyarakat sekuler, telah dikutuk oleh para pendahulu kamu, Paus-Paus Roma sebelumnya; kami secara pribadi juga telah mengutuk mereka dalam Ensiklik Kepausan kami pada tanggal 9 November 1846 (Qui Pluribus), yang ditujukan kepada semua Uskup dari Gereja Katolik, namun sekarang, dengan otoritas tertinggi dari Gereja Katolik, kami, sekali lagi, mengutuk dan melarang mereka.” Dalam Ensiklik Kepausan bertanggal 21 November 1873, Paus Pius IX menyebut Freemason sebagai “(Synagogue of Satan” (Sinagog Setan). Dalam amanatnya tertanggal 15 September 1865,

54

“Multiplicer Inter”, Paus Pius IX mengatakan: “Dan sekarang, untuk memuaskan hasrat dan perhatian hati nurani kita, yang tinggal harus kita lakukan adalah menasihati dan memperingatkan orang-orang percaya yang mungkin memiliki hubungan dengan perkumpulan-perkumpulan semacam ini (Freemason, pen.) untuk mengikuti suara hati mereka, dan meninggalkan perkumpulan-perkumpulan yang jahat, untuk menghindari jatuh ke dalam jurang keruntuhan abadi.” Ditambahkan oleh Paus Pius IX: “Sebagaimana kepada orang-orang percaya lainnya, atas perhatian terhadap jiwa-jiwa mereka, kami, menasihati mereka dengan tegas, untuk mewaspadai wacana-wacana durhaka dari kelompokkelompok, yang dengan berkedok kejujuran, yang terbakar oleh kebencian yang gigih terhadap Agama Kristus dan semua otoritas yang sah: mereka memiliki satu pemikiran untuk membasmi, semua hak-hak Ilahi dan manusiawi. Biarlah orangorang percaya sadar terhadap kenyataan bahwa persaudaraan dari sekte-sekte tersebut adalah seperti halnya serigala-serigala, yang, seperti diramalkan oleh Tuhan kita, datang menyamar sebagai domba, bersembunyi untuk kemudian memangsa seluruh kawanan (domba): Biarlah orang-orang percaya tahu bahwa kepada perkumpulan-perkumpulan seperti itulah, menurut para Rasul, kita dilarang untuk bergabung, bahkan untuk memberi salam kepada mereka.” Dalam sebuah suratnya kepada Uskup Olinda (Brazil), Paus Pius IX menulis surat yang isinya sebagai berikut: “Roh Setan dari sekte ini (Freemason, pen.) telah begitu terbukti, dalam abad sebelumnya, pada masa Revolusi Perancis yang mengejutkan seluruh dunia. Pergolakan-pergolakan demikian membuktikan

55

bahwa pembubaran total dari masyarakat manusia dapat terjadi, kecuali kekuatankekuatan dari sekte yang jahat ini dihancurkan.”102 Sedangkan Paus Leo XIII, penerus dari Paus Pius IX, dalam Ensiklik Kepausan bertanggal 20 April 1884, menulis: ”Hari ini, para pelaku kejahatan sepertinya bersekutu dalam suatu upaya yang menakjubkan, yang terinspirasi, dan dengan bantuan dari sebuah perkumpulan yang diorganisir secara kuat dan tersebar luas di seluruh dunia, yaitu perkumpulan Freemason. Faktanya, orangorang ini tak lagi berusaha untuk menyembunyikan maksud-maksud mereka, namun mereka saling berlomba satu sama lain untuk menyerang kepenguasaan Allah Yang Maha Tinggi. Kini mereka secara terang-terangan dan terbuka berupaya meruntuhkan Gereja Yang Kudus, dan jika mungkin berhasil, untuk merampas semua karunia-karunia yang dimiliki oleh Negara-negara Kristen, yang telah mereka peroleh dari Yesus Kristus Juru Selamat kita.” Ditambahkan oleh Paus Leo XIII: “Sebagai hasilnya, dalam jangka waktu satu setengah abad, perkumpulan Freemason telah membuat kemajuan yang menakjubkan. Dengan menggunakan kelancangan dan kelicikan, Freemason telah merambah ke semua tingkatan hirarki sosial, dan di dalam Negara-negara modern, Freemason mulai meraih kekuasaan yang hampir setara dengan kedaulatan.” Ensiklik Kepausan yang dikeluarkan oleh Paus Leo XIII menekankan tentang tiga karakter Freemason: 1) Anti-moralitas; 2) Anti-Negara; dan 3) Anti-Gereja. 1. Anti-moralitas. Paus Leo XII menggambarkan padangan kaum Freemason mengenai moralitas sebagai berikut: “Pandangan yang berkembang di kalangan
102

Ibid., http://destroyfreemasonry.com/chapter1.htm, Papal Condemnations Of Freemasonry, 10 Juli 2012

56

Freemason, sebagaimana juga mereka ajarkan kepada kaum muda, adalah pandangan ‘moralitas sipil’, moralitas independen, moralitas bebas, yang berarti sebuah moralitas di mana tak ada tempat bagi keyakinan agama. Moralitas seperti ini tidak cocok, dan akibatnya adalah penghukuman bagi dirinya sendiri. Lebih jauh lagi, dalam Freemason terdapat beberapa kelompok yang menghalalkan segala cara untuk membiasakan

pengikutnya dengan kenajisan dan kejahatan; karena menurut pendapat mereka, masyarakat akan secara alami jatuh ke dalam tangan-tangan mereka, dan menjadi alat untuk mensukseskan rencana-rencana jahat mereka. Contoh sikap anti-moralitas mereka adalah: pernikahan sipil; melegalkan perceraian, pergaulan bebas, dan pendidikan non-agama bagi kaum muda. Kehendak mereka adalah penghancuran total atas dasar-dasar kejujuran dan keadilan. Dengan cara ini, Freemason membantu mereka yang, seperti perilaku hewan, tak memiliki aturan perilaku, hanya berdasarkan kemauan mereka sendiri. Cara kerja seperti ini hanya akan merendahkan martabat manusia dan membawanya ke dalam kejatuhan.” 2. Anti-Negara Mengenai hal ini, Paus Leo XIII pernah meramalkan bahwa Freemason memiliki kekuasaan yang hampir setara dengan kedaulatan. Dan telah mengisi tempat sebagai “Negara di dalam Negara”, yang akan segera membentuk “Super State” (Negara Super). Dalam keadaan itulah, kaum Freemason mengeluarkan dogma “Pemisahan Gereja Dan Negara”.

57

3. Anti-Gereja Dalam hal ini Paus Leo XIII mengatakan: Karena tujuan sebenarnya dari Gereja Katolik adalah penjagaan kemurnian yang utuh dari ajaran-ajaran yang diwahyukan Tuhan.” Dan Paus Leo XIII menambahkan: “Rasa permusuhan yang dilancarkan oleh perkumpulan ini (Freemason, pen.) terhadap Tahta Kerasulan Paus Roma telah ditingkatkan intensitasnya. Sampai kini, para pelaku kejahatan telah meraih apa yang mereka inginkan sejak lama, yaitu berikrar untuk menindas kuasa sakral Tahta Kepausan Roma dan menghancurkan seluruhnya Kepausan yang telah terlembagakan secara Ilahi.” Pada kesimpulannya, Paus Leo XIII membuka kedok Setanisme dari Yahudi-Masonik: “Dogma-dogma mereka yang utama begitu bertentangan dengan akal sehat, dan sangat sulit membayangkan ketidakwajarannya. Kenyataannya, bukankah merupakan puncak dari kegilaan dan kedurhakaan yang lancang dari mereka yang ingin menghancurkan Agama dan Gereja yang diciptakan oleh Allah sendiri: yang meyakini perlindungan abadi-Nya; dan setelah delapan belas abad ingin menggantikannya dengan tradisi dan lembaga-lembaga penyembah berhala?” Dan ditambahkan lagi oleh Paus Leo XIII: “Tak diragukan lagi bahwa dalam rencana yang bodoh dan jahat ini, sangat mudah untuk memahami kebencian yang keras yang merupakan gambaran Setan, terhadap Yesus Kristus. Kami menolak untuk mengikuti tuan-tuan bengis yang menyandang nama Setan dan semua keinginan jahat.”103

Ibid., http://destroyfreemasonry.com/chapter1.htm, Papal Condemnations Of Freemasonry, 11 Juli 2012

103

58

Paus Pius X (1903-1914), penerus dari Paus Leo XIII, dalam suratnya kepada rakyat Perancis, 6 Januari 1907, mengatakan: “Deklarasi-deklarasi, ribuan kali dipublikasikan di media massa, dalam kongres-kongres, di pertemuanpertemuan Masonik, dalam balai-balai parlemen, terbukti bagi diri mereka sendiri, bahwa serangan-serangan terhadap Gereja telah dipimpin secara progresif dan sistematis. Fakta-fakta seperti itu tak bisa disangkal, dan terhadap mereka (Freemason, pen.) kata-kata saja tidak mungkin berhasil menyadarkannya.”104 Penerus dari Paus Pius X, Paus Benediktus XV (1914-1922), sempat mengutuk sebuah buku karangan Ludovic Keller berjudul “The Spiritual Foundations Of Masonry and The Life Of The People” (Landasan rohani dari Freemason dan Kehidupan Masyarakat) yang terbit pada tahun 1915. Selain itu surat himbauan dari Kantor Pusat Vatikan kepada jemaat agar waspada karena persekongkolan-persekongkolan baru sedang ditujukan terhadap Iman Kristen oleh perkumpulan-perkumpulan anti-Katolik. Perkumpulan yang telah

menunjukkan hal tersebut adalah Y.M.C.A (Young Men Christian Association) (Perkumpulan Pemuda Kristen), yang dalam banyak kesempatan telah disebut sebagai “fundamental secara Masonik”. Surat dari Kantor Pusat Kepausan Vatikan tertanggal 5 November 1920 menyebutkan, bahwa menurut pernyataan pendiriannya, Y.M.C.A. berniat untuk memurnikan dan menyebarkan sebuah pengetahuan yang lebih sempurna dari kehidupan nyata, yang menempatkan dirinya di atas semua Gereja dan di luar yurisdiksi agama. Pandangan anti-

Ibid., http://destroyfreemasonry.com/chapter1.htm, Papal Condemnations Of Freemasonry, 11 Juli 2012

104

59

rohaniwan yang ekstrim seperti itu tak lain merupakan perwujudan dari paham Yahudi-Masonik.105 Paus Roma selanjutnya, Paus Pius XI (Tahun 1922), dalam Ensiklik Kepausan “Maximam Grasissimamque”, tertanggal 18 Juli 1924, menyatakan penentangannya terhadap ajaran-ajaran yang tak beriman: “Apapun yang dikutuk oleh Paus Pius X, kami pun mengutuknya. Kami secara tegas menegur ajaran ini, dan secara terbuka kami menyatakan bahwa ajaran ini harus dihukum.” Dinyatakan juga oleh paus Pius XI: “Freemason adalah musuh kita yang tidak kekal.”106

4.2. Gereja Orthodox Timur (Eastern Orthodox Church) Pandangan Gereja Orthodox terhadap perkumpulan Freemason adalah dengan tegas mengecam dan bersikap konfrontatif, tidak mentolerir jemaatnya untuk ikut ambil bagian dalam perkumpulan Freemason, baik secara langsung maupun tidak langsung. Gerakan Persatuan Orthodox Siprus (Pan-Cyprian Christian Orthodox Movement) telah menerbitkan sebuah buku saku yang mengklaim bahwa Lions Club, bersama dengan Rotary Club adalah tempat untuk merekrut orang-orang untuk menjadi anggota Freemason. Di buku saku itu disebutkan: “Para anggota Freemason adalah ‘kuda Troya’ dalam Negara kita. Mereka adalah pengkhianat, bukan hanya kepada Iman, tetapi juga kepada Negara. Mereka (Freemason) adalah sebuah organisasi Zionis, yang tujuannya

Ibid., http://destroyfreemasonry.com/chapter1.htm, Papal Condemnations Of Freemasonry, 11 Juli 2012 106 Ibid., http://destroyfreemasonry.com/chapter1.htm, Papal Condemnations Of Freemasonry, 11 Juli 2012

105

60

adalah menghancurkan Kekristenan dan memperbudak Negara kita.”107 Dalam buku saku itu juga disebutkan bahwa para anggota Freemason berada di belakang junta (pemerintahan militer) Yunani yang melancarkan kudeta, yang membawa ke arah diinvasinya Siprus (oleh Turki). Pada bulan Februari 1933, Sinode Kudus Gereja Orthodox Siprus mengeluarkan sebuah surat edaran yang menyebutkan bahwa Freemason adalah sebuah organisasi yang terkenal di luar Gereja, yang memiliki pandangan global yang tak sejalan dengan asas-asas dari Gereja Orthodox. Gereja Orthodox Siprus kembali mengutuk Freemason pada bulan Februari tahun 2000. Kritik tajam terhadap Freemason juga dilakukan oleh Uskup Agung Gereja Orthodox Siprus, Cyprianus, yang menjadi martir dalam membela kebebasan bangsa Yunani dari penjajahan Turki Ottoman pada tahun 1821, dengan mengatakan: “Oleh karena itu, dengan dibalut oleh busana-busana suci Epitrachilion dan Omophorion, kami katakan, jika ada orang yang memberitakan kepadamu setiap injil, yang berbeda yang kami beritakan kepadamu, meskipun seorang malaikat dari surga, terkutuklah dia! (Gal 1:8-9). Bagi mereka, yang mengejar pekerjaan Freemason yang bersifat Iblis dan tanpa hukum, dan bagi mereka yang mengikuti kegilaan dan kesalahan mereka, biarkanlah mereka dikucilkan dan dikutuk oleh Sang Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Setelah kematian, mereka tak terampuni. Seperti Kain yang merintih dan gemetar di atas bumi. (Kej 4:14). Bumi akan terbelah lalu menelan mereka, sebagaimana halnya Datan dan Abiram (Bil 16:31-32). Murka Tuhan akan berada di atas kepala mereka, dan upah mereka adalah bersama dengan Yudas Si Pengkhianat. Seorang malaikat
http://www.scribd.com/doc/40519351/The Rotary-Club-Unmasked-ArchimandriteHaralambos-Vasilopoulos, PAN-CYPRIAN CHRISTIAN MOVEMENT BLASTS LIONS, SCOUTS AND MASONS, 2 Agustus 2012
107

61

Tuhan akan mengadili mereka dengan pedang berapi, dan, sampai perhentian hidup mereka, mereka tidak akan mengalami kemajuan. Semoga karya-karya dan kerja keras mereka tidak diberkati, dan semoga mereka menjadi segumpal awan debu. Dan mereka yang masih tetap tinggal dalam kejahatan mereka, memang akan mengalami pembalasan demikian. Tetapi semua orang yang mau keluar dari tengah-tengah kejahatan mereka dan mau dipisahkan, dan setelah meludahi ajaran sesat yang menjijikkan tersebut, dan ingin pergi jauh-jauh dari kegilaan mereka yang terkutuk, orang-orang seperti itu akan menerima upah sebagaimana halnya Phineas yang gigih; mereka akan diberkati dan diampuni oleh Sang Bapa, Putra, dan Roh Kudus, Tritunggal yang tak terpisahkan, Satu Allah dalam hakikat, dan oleh kami para para hamba-Nya.” (Uskup Cyprianus dari Justiniana dan seluruh Siprus, Metropolitan Chrysanthos dari Paphos, Metropolitan Meletios dari Citium, Metropolitan Laurence dari Cyrenia, Siprus, 2 Februari 1815).108 Beberapa pernyataan lain yang juga mengecam Freemason datang dari Gereja Orthodox Rusia dan Yunani. Sikap Gereja Orthodox Rusia terhadap Freemason dinyatakan secara tegas oleh Metropolitan Anthony, yang memimpin Sinode Gereja Rusia di Sremsky-Karlovtsy di Yugoslavia. Pada tanggal 15 Agustus 1932, Metropolitan Anthony mengeluarkan sebuah surat penggembalaan kepada jemaat, yang menganjurkan jemaatnya untuk ‘tidak begitu saja percaya’ kepada setiap ajaran, tetapi menguji ajaran tersebut, apakah ajaran tersebut berasal dari Allah. Karena banyak nabi palsu yang telah datang ke dalam dunia (1 Yoh. 4:1). Kemudian Metropolitan Anthony memaparkan secara singkat tentang sejarah Freemason, dan menyatakan bahwa Freemason adalah salah satu ajaran yang
Ibid., http://www.scribd.com/doc/40519351/The Rotary-Club-Unmasked-ArchimandriteHaralambos-Vasilopoulos, PAN-CYPRIAN CHRISTIAN MOVEMENT BLASTS LIONS, SCOUTS AND MASONS, 2 Agustus 2012
108

62

paling sesat dan merusak dalam sejarah umat manusia.109 Metropolitan Anthony mengatakan: “Freemason adalah sebuah organisasi internasional rahasia yang berjuang melawan Tuhan, Kekristenan, dan semua pemerintahan nasional, terutama pemerintahan Kristen. Dalam organisasi internasional, kepentingan dan pengaruh utama dari Freemason adalah pada keanggotaan orang Yahudi. Karena alasan inilah, dan alasan-alasan lainnya, orang-orang Kristen Orthodox dilarang untuk menjadi anggota Freemason. Seluruh imamat Gereja Orthodox

berkewajiban untuk menyelidiki jemaatnya yang datang untuk Pengakuan Dosa, apakah mereka anggota dari perkumpulan Freemason. Jika benar mereka adalah anggota Freemason, jika terlihat bahwa mereka mempercayai dan menyebarkan ajaran-ajaran Freemason, mereka harus dinasihati bahwa keanggotaan dalam perkumpulan Freemason adalah berlawanan dengan Kekristenan Orthodox, dan yang bersangkutan harus secepatnya mengundurkan diri dari Perkumpulan Freemason. Jika mereka tidak mau mengundurkan diri dari perkumpulan Freemason, mereka tidak layak untuk menerima Perjamuan Kudus, dan ketidakbertobatan mereka akan membuat mereka dikucilkan dari Gereja Orthodox.” Sedangkan sikap yang jelas datang dari Gereja Orthodox Yunani, yang menyatakan bahwa orang-orang Kristen Orthodox harus menyangkali Gerakan Freemason dan mengundurkan diri dari perkumpulan tersebut jika mereka telah bergabung di dalamnya, dalam ketidaktahuan terhadap tujuan Freemason. Para Uskup dari Gereja Orthodox Yunani, dalam pertemuan mereka pada tanggal 12 Oktober 1933, menyatakan keprihatianan mereka setelah mempelajari dan
Ibid., http://www.scribd.com/doc/40519351/The Rotary-Club-Unmasked-ArchimandriteHaralambos-Vasilopoulos, The Act of the Russian Orthodox Church Abroad(1932), 2 Agustus 2012
109

63

menyelidiki organisasi internasional rahasia, Freemason. Mereka mendengarkan dengan seksama penjelasan dari Komisi Uskup yang dibentuk oleh Sinode Kudus, juga pendapat dari pihak Fakultas Theologia Universitas Athena, setelah itu mengambil kesimpulan: “Freemason bukanlah sebuah perkumpulan philantropis sederhana atau sebuah sekolah filsafat, tetapi menetapkan sebuah sistem mistis yang mengingatkan kita kepada kultus-kultus dan agama-agama kafir kuno, yang menurunkan dan meregenerasikannya kepada Freemason. Hal ini tidak hanya diakui oleh guru-guru terkemuka di Loge-loge Freemason, tapi juga dideklarasikan oleh mereka dengan bangga, bahwa Freemason adalah satusatunya misteri kuno yang masih bertahan, dan bisa dikatakan bahwa Freemason adalah ‘pengawalnya’. Sebuah hubungan antara Freemason dan misteri-misteri penyembahan berhala kuno juga diwujudkan dan dipertunjukkan dalam kegiatan penerimaan anggota baru (inisiasi) Freemason. Dalam inisiasi pada tingkat ketiga dari Freemason, anggota baru dipertunjukkan meniru penderitaan dari Hiram, tokoh panutan Freemason. Menurut pengakuan dari para guru terkemuka Freemason, Hiram adalah seperti halnya ‘Osiris’, salah satu personifikasi dari Matahari. Jadi, Freemason adalah sebuah agama misteri, yang berbeda, terpisah, dan terasing dari Iman Kristen. Tak diragukan lagi bahwa hal ini terlihat dari kenyataan bahwa Freemason memiliki kuil-kuil dan altar-altar mereka sendiri, dan memiliki upacara-upacara keagamaan mereka sendiri, seperti upacara-upacara pernikahan, pembaptisan, pemakaman, peresmian kuil Freemason, juga memiliki urutan hirarkinya sendiri, dan ajaran yang pasti.” Lebih lanjut lagi, Komisi Uskup Gereja Orthodox Yunani tersebut mengemukakan: “Memang benar, nampaknya, pada awalnya Freemason dapat

64

berdampingan dengan tiap agama lain. Hal ini jelas karena karakter sinkrenistiknya, dan ini membuktikan bahwa Freemason adalah penerus dari agama-agama kuno yang menerima anggota-anggota baru dari pengikut semua agama. Freemason, yang bermaksud untuk memberi ‘kesempurnaan moral’ dan ‘pengetahuan tentang kebenaran’ kini menempatkan diri mereka sebagaimana sebuah ‘agama super’ yang memandang agama-agama lain, termasuk

Kekristenan, sebagai yang lebih rendah (inferior) dibandingkan mereka. Berbeda halnya dengan Agama Kristen yang meninggikan Iman di atas segalanya, membatasi akal manusia hanya sampai pada pemberian Wahyu Ilahi, ajaran Freemason hanya memilki ‘kebenaran alami’ dan memperkenalkan cara ‘pemikiran bebas’ dan ‘pemahaman melalui akal saja’ kepada para anggota barunya, mereka mendasarkan dasar moralnya hanya kepada kekuatan alami manusia, dan hanya memiliki kehendak-kehendak alami.” Ditambahkan lagi oleh Komisi Uskup Gereja Orthodox Yunani: “Jadi, kontradiksi yang bertentangan antara Kekristenan dan ajaran Freemason cukup jelas. Jadi wajar bila berbagai Gereja dari berbagai denominasi telah mengambil sikap menentang Freemason. Gereja Barat tidak hanya menentang ajaran Freemason melalui sejumlah Ensiklik Kepausan (Katolik Roma), tapi juga Gereja Lutheran, Metodis, Presbyterian. Lebih jauh lagi, Gereja Orthodox, dalam integritasnya, menjaga perbendaharaan Iman Kristen, menyatakan

penentangannya terhadap Freemason, saat perdebatan atau keragu-raguan terhadap hal itu mengemuka. Saat ini, komisi Inter-Orthodox (antar Gereja Orthodox) yang bertemu di Gunung Athos, di mana para perwakilan dari GerejaGereja Orthodox Otonom (Autocephalus) ikut ambil bagian, telah

65

mengidentifikasi ajaran Freemason sebagai sebuah ‘ajaran sesat’ dan ‘anti Agama Kristen’. Majelis Para Uskup dari Gereja Yunani, pada sesi tersebut di atas merasa lega setelah mendengar penjelasan dan menerima kesimpulan berikut yang diambil dari penyelidikan-penyelidikan dan diskusi oleh pimpinan majelis saat itu, Uskup Agung Krisostomos dari Athena, yang mengatakan: "Freemason tidak dapat sama sekali tidak berlawanan dengan Kekristenan, sejauh itu adalah organisasi rahasia, bertindak dan mengajarkan ajarannya secara misterius dan rahasia, dan mendewakan rasionalisme. Freemason tidak hanya menerima orang Kristen sebagai anggotanya, tetapi juga Yahudi dan Muslim. Sebagai konsekuensinya, kaum imam tidak diizinkan untuk mengambil bagian dalam perkumpulan Freemason. Saya menganggap sebagai suatu kemerosotan jika ada imam yang melakukannya. Sangatlah penting untuk mendorong semua orang yang telah memasuki perkumpulan Freemason tanpa berpikir terlebih dahulu tentang akibatnya dan tanpa memeriksa apakah Freemason itu, untuk memutuskan hubungannya dengan perkumpulan itu, bahwa Kekristenan sendiri adalah agama yang mengajarkan kebenaran mutlak dan memenuhi kebutuhankebutuhan agama dan moral manusia. Dengan suara bulat dan dengan satu suara semua Uskup dari Gereja Orthodox Yunani telah menyetujui apa yang dikatakan, dan kami menyatakan bahwa semua umat dari Gereja harus berdiri menentang Freemason. Dengan iman yang tak tergoyahkan kepada Tuhan Kita Yesus Kristus, yang di dalamnya Kita memiliki penebusan oleh darah-Nya, pengampunan atas dosa-dosa Kita, menurut kekayaan kasih karunia-Nya, di mana Ia melimpahkannya kepada Kita dalam segala hikmat dan kebijaksanaan (Efesus

66

1:7-9), di mana kita memiliki kebenaran yang dinyatakan oleh-Nya dan dikabarkan oleh para Rasul, tidak dengan kata-kata persuasif tentang kebijaksanaan, tetapi dengan mengambil bagian dalam Sakramen-sakramen Ilahi, yang melaluinya Kita dikuduskan dan diselamatkan oleh hidup yang kekal, kita seharusnya tidak terpisah dari Anugerah Kristus dengan mengambil bagian dalam misteri-misteri lainnya. Adalah salah jika pada saat yang sama Kita memilki Kristus, tapi sekaligus juga mencari kesempurnaan moral di luar Dia. Karena alasan-alasan inilah, Kekristenan sejati tidak sesuai dengan Freemason. Oleh karena itu, semua yang telah terlibat dalam inisiasi dan misteri-misteri Masonik, sejak saat ini harus memutuskan semua hubungan dengan loge-loge Freemason dan kegiatan-kegiatannya, untuk memastikan bahwa, dengan demikian

memperbarui hubungan-hubungan mereka dengan satu Tuhan dan Juruselamat kita, yang telah diperlemah oleh ketidaktahuan dan salah mengartikan nilainilai.”110 Di Indonesia, pihak Gereja Orthodox, melalui pimpinannya, Pater Dr. Chrysostomos Manalu, D. Th., mengungkapkan ketidaksetujuannya terhadap perkumpulan Freemason maupun Rotary Club, perkumpulan-perkumpulan yang notabene dilegalkan oleh Keppres No. 69 Tahun 2000. Pater Chrysostomos Manalu mengatakan: “Freemason bermaksud membentuk agama baru. Orang yang masuk di dalamnya diarahkan untuk membentuk agama baru. Di Yunani mereka disebut ‘’ (dibaca: Masonas, pen.). Mereka yang bergabung dengan Freemason sama saja dengan menjual jiwa mereka.” Mengenai Rotary

Ibid., http://www.scribd.com/doc/40519351/The Rotary-Club-Unmasked-ArchimandriteHaralambos-Vasilopoulos, The Act of the Church of Greece (1933), 2 Agustus 2012

110

67

Club, Pater Chrysostomos Manalu mengatakan: “Perkumpulan Rotary Club adalah zionis. Memang secara finansial mereka mapan.”111

4.3. Gereja Kristen Lainnya Charles G. Finney, seorang pendeta dan theolog terkenal Gereja Presbyterian di Amerika Serikat (1792-1875), merupakan anggota Freemason pada waktu berusia dua puluh satu tahun, namun akhirnya bertobat dan menerima Yesus Kristus sebagai Juru Selamat setelah empat tahun bergabung dengan perkumpulan Freemason. Charles Finney menyebutkan bahwa moralitas Freemason adalah tidak Kristiani. Pengambilan sumpah dalam Freemason merupkana pelanggaran dari perintah Kristus. Charles Finney menganjurkan umat Kristen supaya tidak ambil bagian dalam perkumpulan Freemason.112 Charles Burchett, serorang pendeta di Gereja Baptis di Texas, Amerika Serikat (1985) menyatakan bahwa ajaran Freemason berlawanan dengan Iman dan ajaran Gereja Baptis.”113 Missouri Synod Of The Lutheran Church (Sinode Gereja Lutheran Missouri) melarang para anggota Freemason untuk menjadi anggota/jemaat Gereja. Sedangkan Gereja Metodis Inggris mengutuk Freemason pada Sidang Umumnya tahun 1985.114

Sesuai dengan hasil wawancara penulis dengan Pater Dr. Chrysostomos P. Manalu, pimpinan Gereja Orthodox Indonesia, di kawasan Simalingkar, Medan, pada tahun 2009. 112 http://www.isaiah54.org/finney.htm, “Why I Left Freemasonry”, 3 Agustus 2012 113 http://www.saintsalive.com/resourcelibrary/freemasonry/freemasonry and the southern baptist church, 8 Agustus 2012 114 http://educate-yourself.org/cn/freemasonryoccult31mar05.shtml, Freemasonry is a NonChristian Occult Religion, 8 Agustus 2012

111

68

Berikut ini adalah daftar denominasi-denominasi Gereja yang mengutuk Freemason:                    Methodist Church of England (Gereja Methodis Inggris) Wesleyan Methodist Church (Gereja Wesleyan) Assemblies of God Church of the Nazarene Orthodox Presbyterian Church Reformed Presbyterian Church Evangelical Mennonite Church Church of Scotland (Gereja Skotlandia) Christian Reformed Church in America Grace Brethren Evangelical Mennonite Church Synod Anglican Church of England (Sinode Gereja Anglikan Inggris) Free Church of Scotland General Association of Regular Baptist Churches Independent Fundamentalist Churches of America The Evangelical Lutheran Synod Baptist Union of Scotland Wisconsin Evangelical Lutheran Synod Presbyterian Church in America (Gereja Presbyterian Di Amerika).115

Ibid., http://www.educate-yourself.org/cn/freemasonryoccult31mar05.shtml, Freemasonry is a Non-Christian Occult Religion, 8 Agustus 2012

115

69

Seorang pengajar sekaligus peneliti di Sekolah Tinggi Theologia Paulus Medan, Sumatera Utara, Marojahan Hutabarat, M. Min., M. Pd.K., yang juga aktivis di Gereja Huria Kristen Indonesia Protestan (HKIP), berpendapat: “Freemason kini merupakan musuh bersama (dari umat Kristen, denominasi yang berbeda-beda, pen.)”.116 Pandangan senada juga dikemukakan oleh Bapak Pdt. Ruston Nababan, M. Th., Sekretaris Jenderal (Sekjen) Gereja Mission Batak (GMB), sebuah denominasi Kristen Lutheran, yang berpendapat bahwa Freemason merupakan sebuah perkumpulan yang ‘berbahaya’, karena dapat menyebabkan Kekristenan menjadi ‘mengambang’ (tidak jelas, pen.). Ditambahkan oleh Bapak Ruston Nababan: “Seharusnya pemerintah tidak melegalkan perkumpulan Freemason”.117

Sesuai dengan hasil wawancara penulis dengan Bapak Marojahan Hutabarat, M. Min., M. Pdk, pengajar dan peneliti di Sekolah Tinggi Theologia Paulus, di kawasan Simalingkar, Medan, pada tahun 2009. 117 Sesuai dengan hasil wawancara penulis dengan Bapak Pdt. Ruston Nababan, M. Th., Sekretaris Jenderal (Sekjen) Gereja Mission Batak (GMB), di kawasan Simalingkar, Medan, pada tanggal 13 Agustus 2012.

116

70

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Freemason jelas-jelas ditolak keberadaannya oleh Gereja secara umum, terlihat dari sikap penentangan yang jelas terhadap keberadaan perkumpulan Freemason dari waktu ke waktu oleh para pimpinan Gereja-gereja besar (Katolik Roma dan Gereja Orthodox Timur). 2. Ajaran Freemason tidak sesuai, dengan kata lain berlawanan dengan ajaran Kekristenan sebagaimana yang diajarkan oleh Alkitab 3. Mengikuti atau bergabung dengan perkumpulan Freemason, adalah dosa, karena merupakan pelanggaran terhadap ajaran Kristen yang benar.

5.2. Saran Beberapa saran yang bisa diberikan sebagai berikut: 1. Bagi umat Kristen, khususnya yang berada di Indonesia, disarankan untuk menolak keberadaan perkumpulan Freemason di manapun berada, karena ajaran Freemason bertentangan dengan ajaran Kekristenan yang benar.

71

2. Bagi pemerintah, khususnya pihak pembuat kebijakan (eksekutif), disarankan agar memperhatikan aspirasi dari umat Kristen, dalam menyusun atau merumuskan peraturan-peraturan yang ada, sehingga aspirasi tersebut dapat tersalurkan, dan membawa kebaikan bagi masyarakat, bangsa, Negara, dan umat manusia pada umumnya. 3. Bagi mereka yang telah bergabung dengan perkumpulan Freemason, disarankan agar meninggalkan perkumpulan tersebut, dan segera memutuskan hubungan dengannya, dan bertobat, serta kembali hidup dengan cara yang berkenan di hadapan Tuhan.

DAFTAR PUSTAKA

Artawijaya, Dilema Mayoritas: Pertanyaan ideologis Umat Islam Indonesia Menghadapi Kelompok Sekular, Komunis, dan Kristen Radikal, Jakarta: Medina Publishing, 2008 C. Peter Wagner (ed.), Meruntuhkan Benteng-Benteng di Kota Anda, Yogyakarta: Penerbit Andi, 1999 Dennys Lombard, Nusa Jawa: Silang Budaya Kajian Sejarah Terpadu: Jaringan Asia, Volume 2, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1996 Etiknius Harefa, Diktat Metode Penelitian Theologia, Medan: STT Paulus, 2010 Jan Siar Aritonang dan Karel Steenbrink (ed), A History Of Christianity In Indonesia, Leiden: Koninklijke Brill, 2008 John Anthony West, The Travellers Key To Ancient Egypt: A Guide to The Sacred Places of Ancient Egypt , New York: Knopf, 1985 John Joseph Considine, Catholic Foreign Mission Society of America, Inc., United States Of America: 1958 Ken Hepworth, Mematahkan Kutuk Atas Tanah dan Bangunan, Yogyakarta: Penerbit Andi, 2009 Kevin W. Mannoia dan Don Thorsen (ed.), Holiness Manifesto, Grand Rapids, Michigan: Wm. D. Eerdmans Publishing, Co., 2008 Matthew B. Miles dan Michael Huberman, Qualitative Data Analysis, Beverly Hills: Sage Publications, 1994 Pamela Welch, Church and Settler in Colonial Zimbabwe, A Study in The History of The Anglican Diocese of Mashonaland/Southern Rhodesia 1890-1925, Leiden: Koninklijke Brill N. V., 2008

1

Sandra Brownrigg, Freemasonry: Men’s Lived Experience Of Their Membership Of A Male-Only Society, Mini Dissertation, Pretoria: University Of Pretoria, 2007 Sinta Maring (ed.), Mengenal 265 Paus, Dari St. Petrus Hingga Benedictus XVI, Bekasi: Kristisima Media Pustaka, 2006 Sophia Perennis, Rene Guenon And The Future of The West, The Life and writings of a 20th Century Metaphysician, New York: Hillsdale, 2005 Th. Stevens, Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia Belanda dan Indonesia 1764-1962, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2004 Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi 3, Jakarta: Balai Pustaka, 2005 Unimed, Pedoman Penelitian Skripsi, Medan: Unimed, 1986 Walter H. Conser, A Coat of Many Colours, Religion and Society Along The Cape Fear River of North Carolina, Kentucky: The University Press Of Kentucky, 2006 www.biblebelievers.org.au/mason5.htm www.bilderberg.org/First_Degree.htm, FIRST DEGREE OR CEREMONY OF INITIATION www.catholic.com/quickquestions/what-does-the-church-say-about- freemasonry www.destroyfreemasonry.com www.educate-yourself.org/cn/freemasonryoccult31mar05.shtml www.en.wikipedia.org/wiki/Jacob_Cornelis_Matthieu_Radermacher www.ephesians5:11.org www.id.harunyahya.com/id/works/3104,

2

www.id.wikipedia.org/wiki/Freemasonry www.isaiah54.org/finney.htm www.kaskus.co.id/showthread.php?t=7830668 www.misi.sabda.org www.nsf.gov/pubs/1997/nsf97153/chap_4.htm www.saintsalive.com/resourcelibrary/freemasonry www.scribd.com/doc/40519351/The Rotary-Club-Unmasked-ArchimandriteHaralambos-Vasilopoulos www.undang-undang-indonesia.com/forum/index.php?topic=19.0 Yosef Eko Budi Susilo, Gereja dan Negara: Hubungan Gereja Katolik Indonesia Dengan Negara Pancasila, Averroes Press, 2002

3

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->