Anda di halaman 1dari 29

Tugas

MENTORING

OLEH Nama NIM Prodi : Rickhal H. : FICI09004 : KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS HALUOLEO KENDARI 2009

A. Sifat Wudhu Nabi


Allah memerintahkan:Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak melakukan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan , kedua mata-kaki (Al-Maaidah:6).Allah tidak akan menerima shalat seseorang sebelum ia berwudhu (HSR. Bukhari di Fathul Baari, I/206; Muslim, no.255 dan imam lainnya).Rasulullah juga mengatakan bahwa wudhu merupakan kunci diterimanya

shalat. (HSR. Abu Dawud, no. 60).Utsman bin Affan ra berkata: Barangsiapa berwudhu seperti yang dicontohkan Rasulullah saw, niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu, dan perjalanannya menuju masjid dan shalatnya sebagai tambahan pahala baginya (HSR. Muslim, I/142, lihat Syarah Muslim, III/13). Rasulullah saw bersabda: Barangsiapa menyempurnakan wudhunya, kemudian ia pergi mengerjakan shalat wajib bersama orang-orang dengan berjamaah atau di masjid (berjamaah), niscaya Allah mengampuni dosa-dosanya (HSR. Muslim, I//44, lihat Mukhtashar Shahih Muslim, no. 132). Maka wajiblah bagi segenap kaum muslimin untuk mencontoh Rasulullah saw dalam segala hal, lebih-lebih dalam berwudhu. Al-Hujjah kali ini memaparkan secara ringkas tentang tatacara wudhu Rasulullah saw melakukan wudhu: 1. Memulai wudhu dengan niat Niat artinya menyengaha dengan kesungguhan hati untuk mengerjakan wudhu karena melaksanakan perintah Allah swt dan mengikuti perintah Rasul-Nya saw.Ibnu Taimiyah berkata: Menurut kesepakatan para imam kaum muslimin, tempat niat itu di hati bukan lisan dalam semua masalah ibadah, baik bersuci, shalat, zakat, puasa, haji, memerdekakan budak, berjihad dan lainnya. Karena niat adalah kesengajaan dan kesungguhan dalam hati. (Majmuatu ar-Rasaaili al-Kubra, I/243)Rasulullah saw menerangkan bahwa segala perbuatan tergantung kepada niatnya, dan seseorang akan mendapatkan balasan menurut apa yang diniatkannya (HSR. Bukhari dalam Fathul Baary, 1:9; Muslim, 6:48). 2. Tasmiyah (membaca bismillah) Beliau memerintahkan membaca bismillah saat memulai wudhu. Beliau bersabda:Tidak sah/sempurna wudhu sesorang jika tidak menyebut nama Allah, (yakni bismillah) (HR. Ibnu Majah, 339; Tirmidzi, 26; Abu Dawud, 101. Hadits ini Shahih, lihat Shahih Jamiu ash-Shaghir, no. 744).Abu Bakar, Hasan Al-Bashri dan Ishak bin Raahawaih mewajibkan membaca bismillah saat berwudhu. Pendapat ini diikuti pula oleh Imam Ahmad, Ibnu Qudamah serta imam-imam yang lain, dengan berpegang pada hadits dari Anas tentang perintah Rasulullah untuk membaca bismillah saat berwudhu. Rasulullah saw bersabda: Berwudhulah kalian dengan membaca bismillah! (HSR. Bukhari, I: 236, Muslim, 8: 441 dan Nasai, no. 78)Dengan ucapan Rasulullah saw: Berwudhulah kalian dengan membaca bismillah maka wajiblah tasmiyah itu. Adapun bagi orang yang lupa hendaknya dia membaca bismillah ketika dia ingat. Wallahu alam. 3. Mencuci kedua telapak tangan Bahwa Rasulullah saw mencuci kedua telapak tangan saat berwudhu sebanyak tiga kali. Rasulullah saw juga membolehkan mengambil air dari bejancdengan telapak tangan lalu mencuci kedua telapak tangan itu. Tetapi Rasulullah melarang bagi orang yang bangan tidur mencelupkan tangannya ke dalam bejana kecuali setelah mencucinya. (HR. Bukhari-Muslim) 4. Berkumur-kumur dan menghirup air ke hidung Yaitu mengambil air sepenuh telapak tangan kanan lalu memasukkan air kedalam hidung dengan cara menghirupnya dengan sekali nafas sampai air itu masuk ke dalam hidung yang paling ujung, kemudian menyemburkannya dengan cara memencet hidung dengan tangan kiri.Beliau melakukan perbuatan ini dengan tiga kali cidukan air. (HR. Bukhari-Muslim. Abu Dawud no. 140)Imam Nawawi berkata: Dalam hadits ini ada penunjukkan yang jelas bagi pendapat yang shahih dan terpilih, yaitu bahwasanya berkumur dengan menghirup air ke hidung dari tiga cidukan dan setiap cidukan ia berkumur dan menghirup air ke hidung, adalah sunnah. (Syarah Muslim, 3/122).Demikian pula Rasulullah saw menganjurkan untuk bersungguh-sungguh menghirup air ke hidung, kecuali dalam keadaan berpuasa, berdasarkan hadits Laqith bin Shabrah. (HR. Abu Dawud, no. 142; Tirmidzi, no. 38, Nasai ) 5. Membasuh muka sambil menyela-nyela jenggot. Yakni mengalirkan air keseluruh bagian muka. Batas muka itu adalah dari tumbuhnya rambut di kening sampai jenggot dan dagu, dan kedua pipi hingga pinggir telinga. Sedangkan Allah memerintahkan kita:Dan basuhlah muka-muka kamu. (Al-Maidah: 6)Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Humran bin Abaan, bahwa cara Nabi saw membasuh mukanya saat

wudhu sebanyak tiga kali. (HR Bukhari, I/48), Fathul Bari, I/259. no.159 dan Muslim I/14)Setalah Nabi saw membasuh mukanya beliau mengambil seciduk air lagi (di telapak tangan), kemudian dimasukkannya ke bawah dagunya, lalu ia menyela-nyela jenggotnya, dan beliau bersabda bahwa hal tersebut diperintahkan oleh Allah swt. (HR. Tirmidzi no.31, Abu Dawud, no. 145; Baihaqi, I/154 dan Hakim, I/149, Shahih Jaamiu ash-Shaghir no. 4572). 6. Membasuh kedua tangan sampai siku Menyiram air pada tangan sampai membasahi kedua siku, Allah swt berfirman:Dan bashlah tangan-tanganmu sampai siku (Al-Maaidah: 6)Rasulullah membasuh tangannya yang kanan sampai melewati sikunya, dilakukan tiga kali, dan yang kiri demikian pula, Rasulullah mengalirkan air dari sikunya (Bukhari-Muslim, HR. Daraquthni, I/15, Baihaqz, I/56)Rasulullah juga menyarankan agar melebihkan basuhan air dari batas wudhu pada wajah, tangan dan kaki agar kecemerlangan bagian-bagian itu lebih panjang dan cemerlang pada hari kiamat (HR. Muslim I/149)7. Mengusap kepada, telinga dan sorban Mengusap kepala, haruslah dibedakan dengan mengusap dahi atau sebagian kepala. Sebab Allah swt memerintahkan:Dan usaplah kepala-kepala kalian (Al-Maidah: 6).Rasulullah mencontohkan tentang caranya mengusap kepala, yaitu dengan kedua telapak tangannya yang telah dibasahkan dengan air, lalu ia menjalankan kedua tangannya mulai dari bagian depan kepalanya ke belakangnya tengkuknya kemudian mengambalikan lagi ke depan kepalanya. (HSR. Bukhari, Muslim, no. 235 dan Tirmidzi no. 28 lih. Fathul Baari, I/251) Setelah itu tanpa mengambil air baru Rasulullah langsung mengusap kedua telingannya. Dengan cara memasukkan jari telunjuk ke dalam telinga, kemudian ibu jari mengusap-usap kedua daun telinga. Karena Rasulullah bersabda: Dua telinga itu termasuk kepala. (HSR. Tirmidzi, no. 37, Ibnu Majah, no. 442 dan 444, Abu Dawud no. 134 dan 135, Nasai no. 140)Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Ahadits adh-Dhaifah, no. 995 mengatakan: Tidak terdapat di dalam sunnah (hadits-hadits nabi saw) yang mewajibkan mengambil air baru untuk mengusap dua telinga. Keduanya diusap dengan sisa air dari mengusap kepala berdasarkan hadits Rubayyi:Bahwasanya Nabi saw mengusap kepalanya dengan air sisa yang ada di tangannya. (HR. Abu Dawud dan lainnya dengan sanad hasan)Dalam mengusap kepala Rasulullah melakukannya satu kali, bukan dua kali dan bukan tiga kali. Berkata Ali bin Abi Thalib ra : Aku melihat Nabi saw mengusap kepalanya satu kali. (lihat _Shahih Abu Dawud, no. 106). Kata Rubayyi bin Muawwidz: Aku pernah melihat Rasulullah saw berwudhu, lalu ia mengusap kepalanya yaitu mengusap bagian depan dan belakang darinya, kedua pelipisnya, dan kedua telinganya satu kali. (HSR Tirmidzi, no. 34 dan Shahih Tirmidzi no. 31) Rasulullah saw juga mencontohkan bahwa bagi orang yang memakai sorban atau sepatu maka dibolehkan untuk tidak membukanya saat berwudhu, cukup dengan menyapu diatasnya, (HSR. Bukhari dalam Fathul Baari I/266 dan selainnya) asal saja sorban dan sepatunya itu dipakai saat shalat, serta tidak bernajis.Adapun peci/kopiah/songkok bukan termasuk sorban, sebagaimana dijelaskan oleh para Imam dan tidak boleh diusap diatasnya saat berwudhu seperti layaknya sorban.Alasannya karena: 1. Peci/kopiah/songkok diluar kebiasaan dan juga tidak menutupi seluruh kepala. 2. Tidak ada kesulitan bagi seseorang untuk melepaskannya. Adapun Kerudung, jilbab bagi wanita, maka dibolehkan untuk mengusap diatasnya, karena ummu Salamah (salah satu isteri Nabi) pernah mengusap jilbabnya, hal ini disebutkan oleh Ibnu Mundzir. (Lihat al-Mughni, I/312 atau I/383-384). 8. Membasuh kedua kaki sampai kedua mata kaki Allah swt berfirman: Dan basuhlah kaki-kakimu hingga dua mata kaki (Al-Maidah: 6)Rasulullah menyuruh umatnya agar berhati-hati dalam membasuh kaki, karena kaki yang tidak sempurna cara membasuhnya akan terkena ancaman neraka, sebagaimana beliau mengistilahkannya dengan tumit-tumit neraka. Beliau memerintahkan agar membasuh kaki sampai kena mata kaki bahkan beliau mencontohkan sampai membasahi betisnya. Beliau mendahulukan kaki kanan dibasuh hingga tiga kali kemudian kaki kiri juga demikian.Saat membasuh kaki Rasulullah menggosok-gosokan jari kelingkingnya pada sela-sela jari kaki. (HSR. Bukhari; Fathul Baari, I/232 dan Muslim, I/149, 3/128)Imam Nawai di dalam Syarh Muslim berkata. Maksud Imam Muslim berdalil dari hadits ini menunjukkan wajibnya membasuh kedua kaki, serta tidak cukup jika dengan cara mengusap saja.Sedangkan

pendapat menyela-nyela jari kaki dengan jari kelingking tidak ada keterangan di dalam hadits. Ini hanyalah pendapat dari Imam Ghazali karena ia mengqiyaskannya dengan istinja. Rasulullah saw bersabda: barangsiapa diantara kalian yang sanggup, maka hendaklahnya ia memanjangkan kecermerlangan muka, dua tangan dan kakinya. (HSR. Muslim, 1/149 atau Syarah Shahih Muslim no. 246)9. Tertib Semua tatacara wudhu tersebut dilakukan dengan tertib (berurutan) muwalat (menyegerakan dengan basuhan berikutnya) dan disunahkan tayaamun (mendahulukan yang kanan atas yang kiri) [Bukhari-Muslim]Dalam penggunaan air hendaknya secukupnya dan tidak berlebihan, sebab Rasulullah pernah mengerjakan dengan sekali basuhan, dua kali basuhan atau tiga kali basuhan [Bukhari] 10. Berdoa Yakni membaca doa yang diajarkan Nabi saw: Asyahdu anlaa ilaa ha illalah wa asyhadu anna Muhammadan abdullahi wa rasuulahu. Allahummaj alni minattawwabiina wajaalni minal mutathohhiriin (HR. Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasai, Ibnu Majah)Dan ada beberapa bacaan lain yang diriwayatkan dari Nabi saw.Semoga tulisan ini menjadi risalah dalam berwudhu yang benar serta merupakan pedoman kita sehari-hari

Adab-Adab Bermajlis
Allah Taala berfirman : Wahai orang-orang yang beriman apabila diaktakan kepada kalian untuk melapangkan majlis, maka lapangkanlah semoga Allah akan melapangkan bagi kalian. Dan apabila dikatakan kepada kalian untuk berdiri, maka berdirilah. Dan Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman diantara kalian dan orang-orang yang memiliki ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahamengetahui apa yang kalian perbuat (Al-Mujadalah : 11 ) Di antara adab-adab bermajlis : 1. Keutamaan dzikrullah didalam majlis dan larangan majlis yang tidak disebutkan nama Allah pada majlis tersebut. Telah ada larangan keras dari majlis yang sama sekali tidak disebut nama Allah, seperti yang disebutkan didalam hadits Abu Hurairah radhiallahu anhu, beliau berkata : Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda : Tidaklah dari suatu kaum mereka bangkit dari suatu majlis yang tidak disebutkan nama Allah padanya kecuali mereka bangkit semisal bangkai keledai, dan bagi mereka hanyalah penyesalan. Dan pada lafazh hadits ini terdapat penyangkalan pada majlis semacam itu. Sabda beliau Shallallahu alaihi wa sallam : Kecuali mereka bangkit semisal bangkai keledai , maksudnya semisal dengan bangkai keledai yang berbau busuk dan menjijikkan. Itu semua karena perbincangan mereka membicarakan kehormatan orang dan lain sebagainya. Yang dimaksud dengan kerugian adalah penyesalan, karena pengabaian mereka. Sebaliknya dengan hal itu, apabila majlis-majlis ini dimakmurkan dengan menyebut nama Allah dan memuji-Nya. Ucapan shalawat kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam , maka majlis-majlis ini akan dicintai Allah taala. Dan orang yang berada dimajlis tersebut akan diberi limpahan kebaikan . Hadist Abu Hurairah radhiallahu anhu memberitahukan kepada anda akan hal itu. Beliau berkata : Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya Allah memiliki para malaikat yang mengelilingi jalan-jalan, mencari orang-orang yang berdzikir. Apabila mereka menemukan suatu kaum yang berdzikir kepada Allah, mereka akan saling menyeru satu dengan lainnya: Kemarilah mengambil bagian kebutuhan kalian. Beliau bersabda: Lalu mereka mengembangkan sayap-sayap mereka kelangit dunia. Beliau bersabda: Lalu Rabb mereka bertanya kepada mereka, sedangkan Allah lebih mengetahui dari pada mereka, Apakah yang dikatakan para hamba-Ku ? Mereka mengatakan : Hamba-hambaMu bertasbih kepada-Mu, bertakbir kepada-Mu, memuji-Mu dan memuliakan-Mu. Beliau bersabda: Lalu Allah Taala berifrman : Apakah mereka melihat-Ku ? Para malaikat menjawab: Tidak, demi Allah mereka tidak melihat-Mu.

Beliau bersabda: Allah berfirman : lalu bagaimanakah jika mereka telah melihat-Ku ? Beliau bersabda : Para malaikat mengatakan : Seandainya mereka melihat-Mu, maka mereka akan semakin giat beribadah, akan semakin memuliakan-Mu, memuji-Mu dan memperbanyak tasbih kepada-Mu. Beliau bersabda: Dan apakah yang mereka minta ? Beliau bersabda: Para malaikat mengatakan: Mereka meminta surga. Beliau bersabda: Allah Taala berfirman: Apakah mereka telah melihat surga ? Beliau bersabda: Para malaikat mengatakan: Tidak demi Allah wahai Rabb-Ku tidaklah mereka melihatnya. Beliau bersabda: Allah berfirman: Lalu bagaimana jika mereka telah melihat surga ? Beliau bersabda: Para Malaikat mengatakan : Seandainya mereka telah melihat surga, niscaya mereka akan semakin bersemangat, semakin mengharapkannya dan keinginan mereka semakin besar. Beliau berkata: Allah berfirman: Apakah yang mereka meminta perlindungan darinya ? Beliau bersabda : Para Malaikat mengatakan : Mereka meminta perlindungan dari api neraka. Beliau bersabda: Allah berfirman: Apakah mereka telah melihat api neraka? Beliau bersabda: Para malaikat mengatakan : Tidak demi Allah wahai Rabb-Ku mereka belumlah melihat neraka. Beliau bersabda: Allah berfirman: Bagaimanakah jika mereka telah melihat api neraka? Beliau bersabda: Para Malaikat mengatakan: Seandainya mereka telah melihat api neraka, niscaya mereka akan semakin menghindarinya, dan akan semakin bertmabah rasa tkau mereka akan api neraka.

Beliau bersabda: Allah berfirman: Saya mempersaksikan kalian bahwa sesungguhnya Aku telah mengampuni meeka. Beliau bersabda: Satu dari Malaikat itu berkata : Diantara mereka seseorang yang bukan bagian dari mereka, sesungguhnya dia datang untuk suatu keperluan. Allah berfirman: Mereka adalah teman-teman yang sesama satu majlis, tidak orang yang duduk disamping mereka akan merasa bersedih 2. Memilih rekan semajlis Diantara perkara yang sangat penting pada kehidupan seseorang, adalah memilih teman satu majlis. Dikarenakan manusia akan terpengaruh dengan teman satu majlisnya, dan ini suatu yang mesti, betapapun orang tersebut mempunyai kekuatan hati dan kepribadian. Olehnya itu Nabi kita Shallallahu alaihi wa sallam telah mengarahkan agar memilih dengan teliti sahabat baik, seperti didalam sabda beliau Shallallahu alaihi wa sallam : Seseorang akan menuruti agama teman dekatnya, maka hendaknya salah seorang diantara kalian memperhatikan teman dekatnya Makna hadits diatas : bahwa seseorang senantiasa mengikuti adat kebiasaan temannya, tingkah laku dan pergaulannya. Maka hendaknya dia memperhatikan dengan seksama dan meneliti siapa yang dia akan jadikan teman baik. Barang siapa yang agamanya dan akhlaknya baik maka dia hendaknya menjadikannya sebagai teman baik, dan barang siapa yang tidak seperti itu, maka diapun menjauhinya. Karena sesungguhnya tabiat manusia adalah pencuri. Nabi Shallallahu alaihi wa sallam telah emberikan perumpamaan kepada kita dan mendudukkan pengaruh seorang teman duduk kepada temannya. Beliau Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Semisal seorang teman duduk yang shalih dan teman duduk yang buruk, laksana pembawa misik dan pandai besi. Seorang penjaja misik, dia akan memberimu atau anda akan membeli darinya, ataukah anda akan mendapatkan bau wangi darinya. Sementara seorang pandai besi, dia akan menjadikan pakaian anda terbakar ataukahk akan anda akan merasakan hawa panas

Hadist diatas ini menerangkan peringatan akan teman duduk yang buruk dan anjuran untukduduk bersama orang-orang yang shalih dan bertakwa. Dan teman duduk yang buruk ada dua, apakah dia itu seorang pelaku bidah/mubtadi ataukah seorang yang fasik. Adapun jika dia seorang mubtadi, sekian banyak perkataan para ulama As-Salaf yang memperingatkan hal itu akan mereka.Tidak duduk dengan meeka, dikarenakan mereka akan mendatangkan mudharat terhadap agama dan dunia. Majlis para pelaku bidah tidak akan lepas dari dua hal, apakah itu dia akan terbenam dalam bidah mereka, ataukah dia akan mendapatkan kebimbangan dan keragu-raguan karena syubuhat menyesatkan yang dilontarkan para pelaku bidah. Dan kedua hal tersebut suatu yang buruk. Diantara perkataan para ulama As-Salaf yang mencela pelaku bidah dan peringatan untuk tidak duduk dengan mereka, perkataan Al-Hasan Al-Bashri: Janganlah kalian duduk dengan pengumbar hawa nafsu dan janganlah kalian berdebat dengan mereka dan janganlah kalian mendengarkan mereka Abu Qilabah mengatakan: Janganlah kalian duduk dengan mereka, dan janganlah kalian bergaul dengan mereka, karena sesungguhnya saya tidak menjamin kalian akan aman bahwa mereka akan membenamkan kalian di kesesatan mereka dan akan menyamarkan sebagian besar perkara yang telah kalian ketahui Ibnu Al-Mubarak mengatakan: Jadikanlah majlis kalian bersamadenganorang-orang yang misikin dan janganlah engkau semajlis dengan pelaku bidah. Al-Fudhail bin Iyadh mengatakan: Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya mencari halakah-halakah dzikir, maka perhatikanlah anda duduk semajlis dengan siapa. Dan janganlah majlis anda bersama dnegna pelaku bidah , karena sesungguhnya Allah tidak akan melihat kepada mereka. Dan alamat nifak adalah seeroang berdiri dan duduk bersama dengan pelaku bidah. Dan apabila teman duduk adalah seorang yang fasik, maka anda tidak akan selamat dari mendengarkan perkataan yang kotor, ucapan yang batil, ghibah dan terkadang juga disertai dengan pengabaian shalat dan perbuatan maksiat lainnya yang akan mematikan

hati sanubari. Dan dari sinilah kita dapat jumpai bahwa sebagian besar orang-orang yang terjerumus setelah sebelumnya istiqamah, sebabnya karena duduk bersama orang yang fasik. 3. Ucapan salam bagi yang berada dimajlis, ketika datang dan pergi Telah disebutkan kepada kita, aab-adab mengucapkan salam, dan penjelasan bahwa termasuk amalan yang sunnah adalah mengucapkan salam kepada orang-orang yang berada disuatu majlis ketidak mendatangi mereka dan ketika hendak pergi meninggalkannya. Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, beliau berkata: Apabila seseorang diantara kalian mendatangi suatu majlis hendaknya dia mengucapkan salam, dan apabila dia bekeinginan untuk duduk maka duduklah, kemudian apabila dia hendak berdiri pergi, amak sesungguhnya yang pertama tidaklah lebih utaman dari pada yang terakhir . AtTirmidzi mengatakan : hadits ini hasan. 4. Makruh memberdirikan seseorang dari majlis duduknya kemudia dia duduk ditempat tersebut Siapa saja yang duduk ditempat yang diperbolehkan seperti masjid dan semisalnya, maka dia lebih berhak dengan majlis duduknya dari pada selainnya. Dimana apabila tiba-tiba dia meningalkan majlis duduknya karena suatu eprkara, kemudian dia kembali lagi kemajlis duduknya untuk selang waktu yang tidak begitu lama, maka dia lebih berhak dengan majlis duduknya, dan dia boleh memberdirikan orang yang duduk ditempat dia. Dalil akan hal itu adalah sabda Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dalam hadits Au Hurairah radhiallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Apabila salah seorang diantara kalian berdiri dan pada hadits Abu Awanah : Barang siapa yang berdiri dari majlisnya kemudian dia kembali ke majlis duduknya, maka dia lebih berhak dengan majlis duduknya tersebut Yang sebaiknya bagi seorang yang berada dimajlis untuk tidak mengabaikannya, karena dialah yang lebih berhak untk duduk dimajlis tersebut. Olehnya itu dijumpai larangan memberdirikan seseorang dari majlis duduknya yang diperbolehkan baginya. Ibnu

Umar radhiallahu anhuma meriwayatkan, bahwa Nabi Shallallahu alaihi wa sallam telah melarang seseorang diminta berdiri dari majlis dimana didudk disitu kemudian orang lain duduk dimajlis dia. Akan tetapi lapangkanlah dan luaskan. Dan Ibnu Umar membenci seseorang berdiri dari majlis duduknya lalu dia duduk ditemapt orang tersebut Hikmah dari larangan ini adalah agar tidak melecehkan hak seorang muslim yang akan menyeabkan perasaan benci. Dan anjuran untuk bersikap rendah hati yang akan menumbuhkan rasa kasih sayang.Dan juga setiap orang kedudukannya sama berkaitan dengan perkara yang mubah. Siapa saja yang telah mendapatkan sesuatu sebagai haknya maka sesuatu menjadi hak miliknya. Dan barang siapa menjadikan sesuatu sebagai hak miliknya tapa alasan yang benar mka termasuk perbuatan merampok yang diharamkan. Demikian yang dikatakan Ibnu Abu Jamrah Masalah : Kita telah mengetahui makruhnya memberdirikan seseorang dari majlis duduknya kemudian duduk ditempat tersebut. Akan tetapi apakah hukum makruh ini akan sirna jika sipemilik majlis mengizinkannya ? Jawab : Apabila si pemilik majlis telah menyerahkan majlis duduknya kepada orang lain, maka tidak ada larangan untuk duduk dimajlis tersebut. Disebabkan majlis itu adalah haknya dan dia telah menyeahkannya kepada orang lain. Adapun pendapat Ibnu Umar yang mengaggapnya makruh dalam sebuah atsar dari beliau, telah diriwayatkan oleh Abu Al-Khushaib, dia berkata : Saya pernah duduk , kemudian Ibnu Umar datang, dan seseorang lantas berdiri dari majlis duduknya, namun beliau tidaklah duduk dimajlis ersebut akan tetpai duduk ditempat yang lain. Maka orang itu berkata : Tidaklah mengapa jika anda duduk ditempat tersebut. Ibnu Uma rmengatakan : Saya tidak akan duduk ditempat engkau duduk sebelumnya dan tidak juga pada tempat duduk orang selain anda, setelah suatu yang saya saksikan sendiri dari Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam , seseorang datan kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam lalu seseorang lainnya berdiri dari majlis duduknya, kemudian orang yang datang itu pergi dan duduk ditempatnya. Maka Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam melarangnya

Adapun yang disandarkan kepada Ibnu Umar radhiallahu nhuma, Imam An-Nawawi mengatakan : Ini adalah sikap wara beliau. Dan duduk ditempat tersebut bukanlah suatu yang haram, apabila si pemilik majlis berdiri dan merelakanya. Akan tetapi beliau bersikap wara dari dua sisi : Pertama : Mungkin seseorang merasa segan kepada beliau , maka orang itu berdiri dari majlisnya namun dengan hati yang tidak mengenakkan. Olehnya itu Ibnu Umar berusaha menutup pintu kemugkinan ini, agar selamat dari hal ini. Kedua : Mendahulukan seseorang karena kekerabatan, adalah suatu yang makruh atau menyalahi suatu yang utama, Olehnya itu Ibnu Umar menolak hal itu agar seseorang tidak melakukan suatu yang makruh ataukan menyalahi suatu yang utama karena dirinya, dengan mundur dari tempatnya dishaf yang eprtama dan mengedepankan beliau dan yang serupa dengan itu. Masalah lainnya : Sebagian kaum muslimin bersengaja menghamparkan sajadah shalat atau yang serupa karena keinginan mereka untuk mendapatkan keutamaan shaf pertama, smeentara mereka melambatkan kedatangan kemasjid. Apakah perbuatan ini suatu yang dibenarkan syariat ? Jawab : Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah telah mengomentari masalah ini secara khusus, beliau mengatakan : Adapun yang dilakukan sebagian besar kaum muslimin dengan mendahulukan hamparan permadani dimasjid pada hari jumat atau hari lainnya, sebelum mereka mendatangi masjid, maka perbuatan ini suatu yang terlarang sesuai dengan konsensus kaum muslimin, bahkan suatu yan haram. Apakah shalatnya diatas permadani itu shahih ? Ada dua pendapat dikalangan ulama, karena meruapkan perbuatan merampas bagian dari masjid dengan menghamparkan permadani diatasnya, kemudian menghalangi orang-orang lainnya yang hendak mendirikan shalat dimasjid yang telah bersegera menuju masjid untuk mengerjakan shalat pada tempat itu. Lalu beliau lanjut mengatakan : yang disyariatkan dimasjid, adalah orang-orang memenuhi shaf yang pertama, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu alaihi wa sallam :

Tidakkah kalian mengatur shaf sebagaimana para malaikat mengatur shaf disisi Rabb mereka ? Para sahabat bertanya : Dan bagaimanakah para malaikat mengatur shaf disisi Rabb mereka ? Beliau menjawab : Mereka menyempurnakan shaf yang pertama, kemudian yang berikutnya dan mereka rapat dalam shaf mereka Dan didalam Ash-Shahihain dari beliau Shallallahu alaihi wa sallam beliau bersabda: Seandainya kaum muslimin mengetahui besarnya pahalamenyambut adzan dan shaf yang pertama, lalu mereka tidak mendapatkannya kecuali setelah mengundi, niscaya mereka akan mengundinya. Dan seandainya mereka mengetahui besarnya pahala bersegera mendatangi shalat diwkatu siang niscaya mereka akan berlomba Yang diperintahkan pada hadits tersebut adalah seseorang dengan sendirinya berlomba menuju masjid. Apabila dia mendahulukan permadaninya sementara dia snediri terlambat maka dia tleah menyelisihi syariat dari dua tinjauan : Pertama : Karena dia terlambat sedangkan yang diperintahkan adalah untuk bersegera. Dan tinjauan lainnya arena dia telah merampas salah satu bagian masjid, dan menghalangi orang-orang yang terlebih dahulu mendatangi masjid untuk mengerjakan shalat ditempat tersebut. Dan menghalangi mereka menyempurnakan shaf pertama kemudian shaf berikutnya. Kemudian juga dia akan melangkahi orang-orang yang telah terlebih dahulu hadir . Dalam sebuah hadits disebutkan : Seseorang yang melangkahi leher-leher orang maka dia telah mengambil jembatan menuju jahannam . Dan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda : Duduklah, karena sesungguhnya engkau telah menyakitiku Kemudian jikalau dia telah menghamparkan permadani/sajadah ini, bolehkan seseorang yang mendahuluinya hadir dimasjid untuk mengangkat permadani itu kemudian dia shalat ditempatnya ? Ada dua pendapat mengenai hal itu.

Pertama : Tidak dibenarkan baginya untuk melakukan hal itu, dikarenakan merupakan tergolong perbuatan memindahkan milik orang tanpa izinnya. Kedua : Dan ini pendapat yang tepat, bahwa boleh bagi orang lain untuk mengangkat permadaninya, kemudian mengerjakan shalat ditempatnya. Dikarenkan orang yang lebih dahulu tibanya lebih berhak untuk mengerjakan shalat di shaf terdepan itu. Dan juga hal itu suatu yang diperintahkan. Dan tidaklah mungkin perintah tersebut dilakukan dan memenuhi hak ini kecuali dengan mengangkat permadani itu . Dan suatu perintah yang tidak sempurna kecuali dengan sesuatu yang lain, maka sesuatu tersebut juga diperintahkan. Dan pula, permadani yang dihamparkan itu, diletakkan dengan pemaksaan. Dan itu adalah kemunkaran. Sementara Nabi Shallallahu alaihi wa sallam telah bersabda: Barang siapa diantara kalian uang melihat kemungkaran makan hendaknya dia merubahnya dengan tangannya, apabila dia tidak sanggup maka hendaknya dia merubahnya dengan lisannya dan apabila dia tidak sanggup maka hendaknya dia merubahnya dengan hatinya, dan itulah selemah-lemahnya iman Namun perlu diperhatikan dalam melakukan hal itu agar jangan sampai mengkaibatkan kemungkaran yang lebih besar dari kemungkaran tersebut Wallahu taala alam.

5. Melapangkan majlis. Allah taala berfirman : Wahai orang-orang yang beriman apabila dikatakan kepada kalian untuk melapangkan majlis, maka lapangkanlah semoga Allah akan melapangkan bagi kalian. Dan apabila dikatakan kepada kalian untuk berdiri, maka berdirilah. Dan Allah akan

mengangkat derajat orang-orang yang beriman diantara kalian dan orang-orang yang memiliki ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahamengetahui apa yang kalian perbuat (Al-Mujadalah : 11 ) Ini adalah adab dari Allah yang diberikan kepada setiap hamba-Nya. Apabila mereka berkumpul dalam suatu majlis secara berkelompok, dan sebagian diantara mereka atau sebagian yang datang membutuhkan kelapangan baginya dimajlis, maka termasuk adab agar mereka melapangkan majlis untuk yang datang tersebut. Untuk mencapai maksud dari ayat ini. Dan hal itu jangan sampai mengakibatkan sedikitpun kemudharatan bagi yang melapangkan majlis. Dia mengupayakan tercapainya tujuan saudaranya namun tanpa kemudharatan setelahnya. Dan balasan akan disesuaikan dengan amalan. Karena barang siapa yang elapangkan bagi saudaranya maka Allah akan melapangkan baginya. Dan barang siapa yang melebarkan bagi saudaranya maka Allah akan melebarkan baginya. Dan apabila dikatakan bangkitlah Yakni berdirilah dan mundurlah dfari majlis kalian, karena suatu keperluan mendadak, maka : Bangkitlah yakni segeralah berdiri untuk mencapai kemashlahatan itu. Karena beridri semisal dalam perkara-perkara ini termasuk dalam cakupan ilmu dan iman. Sebagaimana diaktakan oleh Ibnu Sadi. 6. Tidak diperbolehkan memisahkan dua orang kecuali dengan izin keduanya. Berkaitandenganhal ini diterangkan dalam sebuah hadits, bahwa Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda : Tidak halal bagi seseorang memisahkan dua orang kecuali dengan izin mereka berdua Ini merupakan adab nabawiyah yang sangat agung. Yaitu melarang seseorang duduk diantara dua orang kecuali dengan izin mereka berdua. Dan sebab larangan itu : bahwa bisa jadi antara kedua orang tersebut terjalin kecintaan dan kasih sayag dan telah terikat hal-hal yang rahasia serta amanah, maka pemisahan mereka berdua dengan dduduk

diantara keduanya akan membuat keduanya keberatan. Demikian disebutkan didalam Aun Al-Mabud. 7. Duduk dibagian akhir majlis Adab ini suatu yang tetap ditunjukkan dari perbuatan sahabat diiringi pembenaran Nabi Shallallahu alaihi wa sallam kepada mereka. Dari Jbair bin Smaurah radhiallahu anhu, beliau ebrkata : Apabila kami mendatangi Nabi Shallallahu alaihi wa sallam salah seorang diantara kami duduk dibagian akhir majlis Dimana para sahabat apabila seseorang diantara mereka mendatangi suatu majlis tidaklah pernah memaksakan diri untuk duduk dibagian depan, atau berdesakan dan bersempit-sempitan dengan yang duduk lainnya. Bahkan mereka duduk ditempat berakhirnya majlis. Ini menunjukkan kesempurnaan adab mereka radhiallahu anhum wa ardhaahum. 8. Larangan dua orang berbicara dengan berbisik tanpa melibatkan orang yang ketiga Didalam Al-Lisan, disebutkan bahwa makan an-najwa : Adalah pembicaraan rahasia antara dua orang. Jika dikatakan : Najautu najwan maknanya sayaberbicara rahasia dengannya. Demikian juga dengan kalimat : Najautuhu . Dan kata bendanya adalah annajwa. At-tanajau yang terlarang adalah dua orang yang berbicara rahasia tanpa melibatkan orang yang ketiga. Sebab larangan itu, agar kesedihan tidak meresapi hati orang yang ketiga karena melihat dua rekannya yang berbicara dengan rahasia. Sementara syaithan sangatlah bersemangat untuk memasukkan kesedihan , was-was dan kebimbangan didalam hati seorang muslim. Olehnya itu datang larangan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam akan perbuatan itu yang dengan begitu akan memotong setiap jalan syaithan. Dan agar supaya seorang muslim tidak berprasangka buruk kepada para saudaranya.

Dalil akan hal itu adalah sabda Nabi Shallallahu alaihi wa sallam : Tidaklah dua orang saling berbicara rahasia tanpa mengikutkan orang yang ketiga, karena yang dmeikian itu akan menyebabkannya bersedih .Adapun pada riwayat yang lainnya : Janganlah kalian berbisik-bisik berdua tanpa menyertakan orang yang ketiga . Namun apabila kaum tersebut berjumlah empat orang atau lebih maka tidak mengapa hal itu dilakukan, karena alsannya telah tertiadakan. Dan juga hadits Abdullah bin Masud, beliau berkata : Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda : Apabila klian terdiri atas tiga orang maka janganlah dua orang berbicara rahasia tanpa menyertakan yang ketiga, hingga berada dikerumunan orang banyak karena yang seperi itu akan membuatnya bersedih Adapun perbuatan Ibnu Umar radhiallahuanhuma, menunjukkan realisasi hadits tersebut. Abdullah bin Dinar meriwayatkan, beliau berkata : Saya bersama Abdullah bin Umar berada dirumah Khalid binUqbah yang berada dipasar. Lalu seseorang datang dan hendak membicarakan sesuatu yang rahasia dengannya. Dan tidak ada seorangpun yang bersama dengan Abdullah bin Umar selain diriku dan orang yang hendak mengajak Ibnu Umar untuk bebricara. Lalu Abdullah bin Umar memanggil orang lain lagi, hingga kami menjadi berempat. Beliau berkata kepadaku dan kepada ornag yang beliau panggil : Menyingkirlah sedikit. Karena sesunguhnya saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda : Tidaklah dua orang berbicara rahasia tanpa menyertakan yang ketiga 9. Larangan menyimak pembicaraan orang tanpa izin Telah ada ancaman yang keras bagi seseorang yang mendengarkan pembicaraan suatu kaum sementara mereka tidak menyukainya. Diantaranya hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Abbas radhiallahu anhuma, beliau berkata : Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda : Barang siapa yang menceritakan suatu mimpi yang tidaklah dilihatnya maka dia akan dibebankan untuk menyatukan dua biji gandum namun tidak melakukannya. Dan barang siapa yang mendengarkan pembicaraan suatu kaum sementara kaum tersebut tidak menyukainya ataukah mereka menjauh darinya maka akan dituang ketelinganya

timah cair pada hari kiamat. Dan barang siapa yang menggambarkan gambar mka dia akan diazab dan akan dibebani kepadanya untuk meniupkan ruh pada gmabar tersebut sementar dia tidak dapat meniupkannya Hanya saja larangan tersebut terbatas jika kaum terseut tidak menyukai hal itu. Dan tidak termasuk dalam larangan itu apabila mereka meridhainya. Dan juga tidak termasuk apabila perbincangan mereka secara keras hingga yang berada disekitarnya mendengarkan. Karena seandainya mereka hendak menyembunyikan pembicaraan mereka tidaklah mereka mengeraskannya 10. Sikap duduk yang terlarang Telah shahih diriwayatkan dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bahwa beliau melarang sikap duduk tertentu. Dan pada beberapa keadaan yang tertentu. Sikap dan keadaan ini, diantaranya ada yang dapat kita ketahui alasannya melalui nash dan ada juga yang dapat diketahui melalui ijtihad dan telaah ilmiyah. Sikap duduk yang terlarang diantaranya : Seseorang duduk dengan meletakkan tangan kirinya tepat dibelakang punggungnya lalu bersandar/bertelekan dengan daging pangkal persendian tangan yang tepat berada dipangkal ibu jari. Hal itu diterangkan pada hadits Asy-Syariid bin Suwaid radhiallahu anhu, beliau mengatakan : Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam melewatiku disaat aku sedang duduk seperti ini. Saya meletakkan tangan kiriku dibelakang punggungku lalu saya bertelekan dengan siku tangan belakangku. Beliau Shallallahu alaihi wa sallam bersabda : Apakah engkau duduk sebagaimana duduknya kaum yang Allah murkai ? Adapun keadaan yang dilarang, yaitu seseorang duduk diantara cahaya matahari dan bayangan. Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu beliau berkata: Abul Qasim Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Apabila salah seorang dari kalian berada dibawah matahari Makhlad mengatakan : Berada dibawah terik cahaya matahari dan bayangan yang menaunginya

menjadi menyusut sehingga sebagian dirinya berada dibawah matahari dan sebagian lainnya dinaungi bayangan maka hendaknya dia berdiri Dan pada riwayat Ahmad : hendaknya dia berpindah dari tempat duduknya Dan dari jalan Buraidah radhiallahu anhu, beliau berkata : Bahwa Nabi Shallallahu alaihi wa sallam melarang seseorang duduk diantara bayangan dan cahaya matahari Dan sebab dari larangan itu : bahwa majlis yang seperti itu adalah majlis syaithan, yang dengan sangat jelas disebutkan didalam riwayat Ahmad dan selainnya. Ahmad telah meriwayatkan dari hadits seseorang dari sahabat Nabi Shallallahu alaihi wa sallam , berkata: Bahwa Nabi Shallallahu alaihi wa sallam melarang seseorang duduk diantara cahaya matahari dan naungan bayangan. Dan beliau bersabda: Tempat duduk tersebut adalah tempat duduk syaithan Masalah : Telah shahih diriwayatkan didalam Shahih Muslim dan lainnya dari hadits Jabir bin Abdullah : Bahwa Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Janganlah seseorang diantara kalian duduk terlentang dengan meletakkan salah satu kakinya berada diatas kaki lainnya Dan juga telah shahih diriwayatkan didalam Ash-Shahihaini dan selainnya, dari hadits Abbad bin Tamim dari pamannya, bahwa beliau telah menyaksikan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam berbarig didalam masjid sambil mengangkat salah satu kaki beliau dan diletakkan pada kaki lainnya . Kedua hadits ini secara zhahir bertentangan, lalu bagaimana menyelaraskannya ? Jawab : Sebagian ulama mengatakan: Bahwa larangan tersebut mansukh dengan perbuatan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam . Nmaun Ibnu Haja menyanggah pendapat tersebut, karena hukum nasakh tidak dapat ditetapkan hanya dengan persepsi belaka. Saya berkata: Namun mesti mengetahui nash mana yang lebih dahulu dan mana yang belakangan. An-Nawawi dan ulama lainnya menyatukan kedua hadits tersebut, beliau berkata: Dan ada kemungkinan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam melakukannya untukmenerangkan pembolehan, bahwa jikalau kalian menghendaki duduk terlentang maka perbuatlah

seperti ini. Dan larangan yang saya larang akan duduk terlentang tidaklah berlaku secara mutlak. Melainkan maksudnya, bagi siapa yang akan terbuka sedikit dari auratnya atau akan menyebabkan terbukan aurat. Wallahu alam. Dan yang menguatkan pendapat ini, bahwa perbuatanNabi Shallallahu alaihi wa sallam bertujuan menerangkan suatu pembolehan bukan sebagai pengkhususan bagi beliau, adalah riwayat yang shahih didalam Shahih Al-Bukhari setelah beliau menyebutkan hadits abbad bin Tamim dari pamannya -, beliau berkata: Dari Ibnu Syihab dari Said bin Al-Musayyib, beliau berkata: Umar dan Utsman keduanya melakukan hal itu. Dan apabila sebagian sahabat melakukan hal itu, hal itu menunjukkan bahwa perbuatan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam menunjukkan suatu pembolehan. Akan tetapi mestilah aman dari terseingkapnya aurat. Wallahu alam. 11. Larangan memperbanyak tawa Bukanlah merupakan suatu kepribadian yang baik dan bukan juga suatu adab, apabila didalam sautu majlis lebih dominan tertawa. Sedikit tertawa akan menumbuhkan kegesitan didalam hati dan melegakan hati sementara banyak tertawa adalah penyakit yang akan mematikan hati. Dari abu Hurairah radhiallahu anhu beliau berkata : Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Janganlah kalian memperbanyak tawa karena banyak tertawa akan mematikan hati 12. Makruh bersendawa dihadapan beberapa orang Ditunjukkan pada sebuah hadits yang marfu hingga ke-Nabi Shallallahu alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar radhiallahu anhuma, beliau berkata : Seseorang bersendawa dihadapan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam , lalu beliau bersabda : Seharusnyalah engkau menahan sendawamu dihadapan kami, karena sesungguhnya yang paling kenyang diantara mereka didunia maka akan merasakan lapar yang teramat lama pada hari kiamat 13. Disunnahkan menutup majlis dengan bacaan Kaffarah Majlis Ketika seorang manusia adalah makhluk yang lemah dan syaithan senantiasa berupaya untuk menyesatkannya dan selalu berusaha untuk memalingkannya, dan

mempengaruhinya melalui cara membujuknya melakukan perbuatan-perbuatan jelek. Maka diapun mengintai kaum muslimin disetiap majlis mereka dan tempat-tempat pertemuan mereka, mendorong mereka untuk mengatakan perkataan dusta dan batil. Namun Allah Maha Pengasih kepada setiap hamba-Nya mensyariatkan kepada meeka melalui lisan Nabi mereka beberapa kalimat yang sebaiknya mereka ucapkan, yang akan menggugurkan segala noda yang menggantungi mereka pada majlis itu kemudian juga Rabb mereka telah berkenan menjadikan kalimat-kalimat ini sebagai penyerta majlis-majlis kebaikan, maka segala puji hanya bagi Allah pada awal dan akhir. Kalimat-kalimat ini disebutkan didalam hadits Abu Hurairah radhiallahu anhu, beliau berkata : Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Barang siapa yang duduk disuatu majlis yang banyak ucapan sia-sianya, kemudian dia sebelum berdiri mengucapkan: Subhanakallahumma wabihamdika, Laa Ilaha anta, astagfiruka tsumma atubu ilaika, kecuali Allah akan mengampuni segala yang ada pada majlis itu Dan pada riwayat At-Tirmidzi : Subhanakallahumma wa bihamdika Asyahadu Anlaa ilaha illa anta astagfiruka wa atuubu laika Dan dari hadits Aisyah beliau berkata : Bahwa apabila Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam duduk pada suatu majlis atau shalat, beliau mengucapkan beberapa kalimat. Maka Aisyah bertanya kepada beliau tentang kalimat-kalimat tersebut, beliau Shallallahu alaihi wa sallam bersabda : Apabila dia berbicara dengan kebaikan, maka akan menjadi penyertanya pada hari kiamat, dan apabila dia berbicara dengan selain itu, maka akan menjadi kaffarah baginya. Subhanakallahumma wa bihamdika astagrifukan wa atuubu ilaika

"Hukum Bermusik Dalam Islam" Mendengarkan musik dan nyanyian haram dan tidak disangsikan keharamannya. Telah diriwayatkan oleh para sahabat dan salaf shalih bahwa lagu bisa menumbuhkan sifat kemunafikan di dalam hati. Lagu termasuk perkataan yang tidak berguna. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman. "Artinya : Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan".[Luqman : 6]

Ibnu Mas'ud dalam menafsirkan ayat ini berkata : "Demi Allah yang tiada tuhan selainNya, yang dimaksudkan adalah lagu". Penafsiran seorang sahabat merupakan hujjah dan penafsirannya berada di tingkat tiga dalam tafsir, karena pada dasarnya tafsir itu ada tiga. Penafsiran Al-Qur'an dengan ayat Al-Qur'an, Penafsiran Al-Qur'an dengan hadits dan ketiga Penafsiran Al-Qur'an dengan penjelasan sahabat. Bahkan sebagian ulama menyebutkan bahwa penafsiran sahabat mempunyai hukum rafa' (dinisbatkan kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam). Namun yang benar adalah bahwa penafsiran sahabat tidak mempunyai hukum rafa', tetapi memang merupakan pendapat yang paling dekat dengan kebenaran. Mendengarkan musik dan lagu akan menjerumuskan kepada suatu yang diperingatkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam haditsnya. "Artinya : Akan ada suatu kaum dari umatku menghalalkan zina, sutera, khamr dan alat musik". Maksudnya, menghalalkan zina, khamr, sutera padahal ia adalah lelaki yang tidak boleh menggunakan sutera, dan menghalalkan alat-alat musik. [Hadits Riwayat Bukhari dari hadits Abu Malik Al-Asy'ari atau Abu Amir Al-Asy'ari] Berdasarkan hal ini saya menyampaikan nasehat kepada para saudaraku sesama muslim agar menghindari mendengarkan musik dan janganlah sampai tertipu oleh beberapa pendapat yang menyatakan halalnya lagu dan alat-alat musik, karena dalil-dalil yang menyebutkan tentang haramnya musik sangat jelas dan pasti. Sedangkan menyaksikan sinetron yang ada wanitanya adalah haram karena bisa menyebabkan fitnah dan terpikat kepada perempuan. Rata-rata setiap sinetron membahayakan, meski tidak ada wanitanya atau wanita tidak melihat kepada pria, karena pada umumnya sinetron adalah membahayakan masyarakat, baik dari sisi prilakunya dan akhlaknya.

*Mencukur Alis Bagi Wanita*


Oleh: Ustadz Abu Anisah bin Luqman al-Atsari

Salah satu cara mempercantik diri-menurut sangkaan mereka-adalah annamsh ' menghilangkan sebagian rambut wajah atau alis'.

Perkara ini perlu ditinjau secara hukum syar'i-apakah dibolehkan ataukah tidak- agar wanita muslimah tidak terjerumus ke dalam perbuatan haram demi mempercantik diri. Berikut penjelasannya. Wallahul Muwaffiq. Definisi an-Namsh An-namsh makna asalnya ialah rambut yang ringan atau mencabutinya.1 Sedangkan secara syar'i, istilah an-namsh, mencukur atau mencabut bulu rambut yang ada pada kening dan wajah secara umum, baik hanya menipiskan maupun mencukur habis seluruhnya.2 Imam an-Nawawi berkata: An-namishoh dengan huruf shod adalah wanita yang menghilangkan rambut wajahnya.3 Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata: An-namsh adalah menghilangkan rambut wajah dengan alat cukur. Ada yang mengatakan an-namsh maknanya khusus bila menghilangkan rambut dua alis, agar terlihat lebih tinggi atau rata.4 Hukumnya Ketahuilah, mencukur bulu alis dan wajah secara umum hukumnya haram berdasarkan nash-nash sebagai berikut: Pertama:al-Qur'an Allah SWT berfirman:....dan akan aku suruh mereka ( mengubah ciptaan Allah ) lalu benar-benar mereka mengubahnya...( QS.an-Nisa'(4)119 ) Imam Ibnul 'Arobi berkata: An-namishoh adalah wanita yang mencabut rambut untuk berhias. Ini termasuk mengubah ciptaan dan mengubah tabiat, haram hukumnya.5 Syaikh Abdurrahman as-Sa'di berkata: Ayat ini mencakup larangan mengubah ciptaan yang dzohir, yaitu:mentato, mencukur alis, merapikan gigi agar bagus, dan sebagaianya yang mereka telah diperdayai setan hingga mereka pun mengubah ciptaan Allah. 6 Kedua:al-Hadits Hadits yang melarang wanita mencabut bulu alis sangat banyak. Haditshadits ini jelas menunjukkan keharaman an-namsh karena kalimat laknat tidaklah datang melainkan untuk perkara yang haram.7 Cukuplah kami tampilkan dua hadits dalam masalah ini.

1. Abdullah bin Mas'ud berkata: Allah melaknat wanita mentato dan minta ditato, wanita yang mencukur bulu alis dan yang minta dicukur bulu alisnya. ( HR. al-Bukhari:5939 dan Muslim:2125 ) 2. Aisyah berkata: Nabiyullah saw melarang wanita mentato,menyambung rambut dan minta disambungkan rambutnya, serta mencukur bulu alis dan minta dicukur bulu alisnya. ( HR.Ahmad:6/257, dishahihkan al-Albani dalam Ghoyatul-Marom no.76 )

Ketiga: Kesepakatan ulama Para ulama fiqih telah menyepakati keharaman an-namsh secara umum karena dalil-dalilnya sangat jelas.8 Bahkan, hal ini termasuk dosa besar yang tidak boleh diterjang.9 Apakah Hanya Khusus Bulu Alis? Telah jelas hukum an-namsh, kini tersisa pertanyaan, apakah larangan annamshberlaku secara khusus mencukur bulu alis ataukah mencakup pula bula wajah? Definisi yang diberikan para ulama mencakup dua makna ini. Namun, yang lebih kuat, larangan an-namsh mencakup mencukur seluruh rambut dan bulu yang ada pada wajah secara umum, bukan hanya bulu alis 10, kecuali dua hal: 1. Bila wanita berjenggot Bila ada wanita berjenggot11, ia boleh mencukur jenggotnya karena jenggot termasuk aib bagi wanita. Imam an Nawawi berkata: Apabila wanita tumbuh jenggot maka disunnahkan mencukurnya Allah menciptakan wanita tanpa jenggot. Tumbuhnya jenggot bagi wanita akan memperburuk wajahnya dan merupakan aib. Sedangkan menghilangkan aib dibolehkan oleh agama sekedar agar aibnya hilang bukan demi mempercantik diri atau agar terlihat lebih sempurna.13 Dasarnya adalah hadits Arfajah bin As'ad bahwa hidungnya pernah terpotong pada hari Kulab. Kemudian dia memasang hidung buatan dari

perak tetapi ternyata hidungnya malah rusak. Maka Rasulullah saw menyarankan agar memasang hidung buatan dari emas. ( HR.Abu Dawud:4232, dihasankan Syaikh Syaikh al-Albani dalam al-Misykah:4400 ) 2. Bila wanita berkumis Para ulama asy-Syafi'iyyah berkata: Jika ada wanita tumbuh jenggotnya maka dianjurkan mencukurnya karena hal itu merupakan keburukan bagi mereka, berbeda dengan laki-laki. Wanita dianjurkan mencukur kumis dan rambut yang di bawah bibir.14 Bila tumbuh rambut pada wajah wanita yang menyelisihi tabiat kebiasaan dan dianggap aib maka boleh dihilangkan sekedar agar aibnya hilang, bukan untuk mempercantik diri atau lebih sempurna.15 Untuk Menyenangkan Suami? Sebagian ulama membolehkan 16 an-namsh apabila seizin suami atau bila dilakukan untuk menyenangkan suami. Alasan semacam ini lemah ditinjau dari beberapa sisi: Pertama.Menurut kaidah, dalil bersifat umum kita posisikan pada keumumannya, tidak boleh dikhususkan kecuali dengan dalil, sedangkan dalil yang mengkhususkan dalam masalah ini tidak ada.17 Kedua.Tidak ada ketaatan kepada makhluk apabila memaksiati al-Kholiq ( Sang Pencipta ) Tidak ada ketaatan dalam memaksiati Allah, ketaatan itu hanya dalam perkara yang baik. ( HR.al-Bukhari:7145 dan Muslim:1840 ) Ketiga. Berhias tidak boleh dalam perkara yang haram walaupun atas perintah dan seizin suami. Aisyah berkata: Ada wanita Anshor menikahkan putrinya. Dia menyambung rambut putrinya dengan rambut buatan. Wanita Anshor ini menemui Nabi, dia berkata: 'Sesungguhnya suaminya meminta saya agar menyambung rambutnya'. Nabi saw berkata:' Tidak boleh, karena Allah telah melaknat wanita-wanita yang menyambung rambutnya'. ( HR.al-Bukhari:5205 ) Keempat.Larangan dalam hadits adalah mengubah ciptaan Allah. Di dalam kaidah ushul (pokok)18, illat ( sebab ) yang telah dinash(dihapus)kan harus diamalkan, tidak boleh ditolak hanya dengan ijtihad dan alasan berhias untuk suami!19

Bagaimana Dengan Kaum Pria Hukuman-namsh yang telah disebutkan di atas secara tegas berlaku bagi para wanita. Penyebutan kaum wanita dalam hadits ialah karena mereka yang banyak menerjang larangan ini.20 Kaum lelaki tercakup pula dalam larangan hadits-hadita ini. Kaum lelaki tidak boleh mencukur rambut alisnya, baik sekedar mengurangi maupun mencukurnya sampai habis, karena hal itu termasuk mengubah ciptaan Allah. Kecuali apabila dalam kondisi tertentu, semisal bulu alisnya menakutkan atau terlalu panjang yang menutupi mata, maka boleh dicukur karena termasuk aib yang menutupi mata, maka boleh dicukur karena termasuk aib yang boleh dihilangkan. Adapun mencukur jenggot, para ulama telah menyepakati haramnya mencukur jenggot bagi lelaki berdasarkan dalil-dalil yang sangat banyak dan tegas.21 Sedangkan kumis boleh dicukur karena Rasulullah saw bersabda: Lima perkara termasuk fitrah: khitan, mencukur rambut sekitar kemaluan, memotong kuku, mencabut bulu ketiak, dan mencukur kumis. ( HR. Muslim:257 ) Contoh an-Namsh Masa Kini Salah satu bentuk an-namshadalah menipiskan rambut alis hingga sangat tipis. Kemudian rambut alis yang sudah tipis itu diwarnai dengan warna yang menyerupai kulit. Setelah itu dibuatlah alis buatan dengan pensil pewarna seseuai selera agar terlihat lebih cantik. Ini jelas termasukannamsh dan telah mengubah ciptaan Allah. Komite Fatwa Arab Saudi telah mengharamkan bentuk an-namshseperti ini.22 Fatwa Ulama Seputar an-Namsh Ulama adalah pewaris para nabi. Seluruh makhluk membutuhkan ilmu mereka. Mereka adalah pelita bagi para hamba, pelita bagi negeri, dan penegak umat. Mereka memarahkan setan, menghidupkan hati ahli kebenaran, dan mematikan hati orang yang menyimpang. Permisalan mereka di muka bumi ini bagaikan bintang di langit, sebagai petunjuk di kegelapan malam.23 Bagaimanakah fatwa ulama dalam masalah an-namsh? 1. Syaikh Abdul Aziz bin Baz Beliau berkata: Tidak boleh menghilangkan rambut alis, tidak boleh pula walau sekedar menipiskannya karena telah tetap dari Nabi saw bahwa

beliau melaknat para wanita yang mencukur bulu alis dan yang minta dicukur bulu alisnya. Sungguh para ahli ilmu telah menjelaskan bahwa mencukur rambut dua alis termasuk an-namsh.24 2. Syaikh Abdullah bin Jibrin Beliau berkata : Tidak boleh mencukur rambut alis, tidak boleh menghilangkannya, menipiskannya, atau mencabutinya sekalipun disetujui oleh suami. ( Perbuatan tersebut ) tidaklah menambah kecantikan bahkan termasuk mengubah ciptaan Allah sedang Allah adalah sebaik-baik pencipta. Sungguh telah datang ancaman dalam perkara ini yang melaknat pelakunya. Ini bermakna pengharaman.25 3. Syaikh Shalih al-Fauzan Beliau berkata: ' Haram bagi wanita menghilangkan rambut alisnya walau sedikit. Tidak boleh, baik dengan mencukurnya, mencabutinya, maupun menghilangkannya dengan berbagai cara karena Nabi saw telah melaknat orang yang mencukur bulu alis dan yang minta dicukur bulu alisnya.26 Tinjauan Secara Medis Sengaja, kami cantumkan kutipan dari para dokter ahli dalam masalah ini agar kita mengetahui bahaya dan efek yang ditimbulkan karena mencukur alis. Hal ini sebagai penguat yang menunjukkan bahwa tidak ada perkara haram yang diharamkan oleh Allah kecuali perkara tersebut memang mengandung bahaya dan keruskan yang kita ketahui maupun tidak. 1. Dokter Wahbah Ahmad Hasan berkata: Sesungguhnya menghilangkan rambut alis dengan berbagai cara, kemudian menggunakan pensil celak dan alat kosmestik untuk kulit mengandung bahaya. Allatalat tersebut terbuat dari susunan zat tambang yang berat. Menghilangkan rambut alis akan menimbulkan penyakit pada kulit. 27 2. Seorang peneliti berkata: Dewan perwakilan dunia untuk penyakit kanker telah mengadakan penelitian, bahwa sebagian zat sangat yang digunakan untuk pewarna rambut mempunyai efek yang tajam. Diantara dzat tersebut bernama Parfinilin ( PPD ). Zat ini digunakan untuk pewarna rambut dengan kadar yang berbedabeda. Di negara Amerika dan Eropa tidak boleh lebih dari 3 %. Akan tetapi, di negara lainnya, setelah diadakan penelitian terhadap pewarna rambut yang dijual di pasaran, ternyata kadarnya melebihi 70% (!) yang akan menimbulkan masalah kesehatan bagi orang yang menggunakan pewarna semacam ini dan tidak mustahil akan muncul masalah baru pada masa yang akan

datang!28

Catatan Kaki: 1. Mu'jam Maqoyis al-Lughoh karya Ibnu Faris:5/481 2. Lisanul Arab karya Ibnul Manzhur:7/101-102, an-Nihayah karya.Ibnul-Atsir:5/119 3. Syarh Shahih Muslim karya an-Nawawi:14/106 4. Fathul-Bari karya Ibnu Hajar:10/377 5. Ahkamul-Qur'an:1/501 6. Taisir Karim ar-Rahman karya as-Sa'di hal.209 7. Min Ahkam an-Namsh wat Tasyqir karya Dr.Ahmad bin Muhammad al Kholil hal.19 8. Syarh Shahih Muslim:14/106, Nailul Author karya asySyaukani:6/192 9. Al-Jami' Li Ahkam al-Qur'an karya al-Qurthubi:5/252, alKaba'ir karya adz-Dzahabi ( tahqiq Masyur Hasan Salman ) hal.422 10. Ini adalah pendapat jumhur ( mayoritas ) ahli ilmu, dikuatkan oleh Syaikh Ibnu Baz dalam Fatawa-nya:6/505 dan Ibnu Utsaimin dalam Fatawa-nya:4/132. Lihat Min Ahkam an-Namsh hal.11-12 11. Al-Jahidh berkata: Saya pernah melihat wanita berjenggot . Para penduduk Baghdad menceritakan bahwa salah satu putri Muhammad bin Rasyid al-Khonnaq memiliki jenggot yang lebat. ( al-Hayawan:1/36 ). Lihat buku Bangga Dengan Jenggot karya Shohibuna al-Ustadz Abu Ubaidah as-Sidawi cet.Pustaka AnNabawi, Surabaya 12. Syarh Shahih Muslim:3/149, Fathul Bari:10/351 13. Zinatul-Mar'ah al-Muslimah karya Abdullah al-Fauzan hal.118 14. Al Majmu' Karya an-Nawawi:1/349. Lihat pula al-Mufashol Fi Ahkam al-Mar'ah karya Abdul Karim Zaidan:3/384 15. Zinatul-Mar'ah al-Muslimah hal.118-119 16. Diantara mereka Ibnul Jauzi dalam Ahkam an-Nisa' hal.342, sebagian Hanabilah sebagaimana dalam Fathul Bari:10/378, Imam al-Aini dalam Umdatul Qori:2/193.Lihat al-Mufashol:3/382-383, Ahkam Tajmil an-Nisa' karya Dr.Izdihar al-Madani hal.136-142 17. Ibnu Qudamah berkata: Tidak boleh mengkhususkan dalil yang umum tanpa dalil. ( al-Mugni:8/540 ) 18. Zinatul-Mar'ah al-Muslimah hal.116

19. Lihat Ahkam an-Namsh karya Dr.Adil bin Mubarok al Muthoirot hal.39-40 20. Zinatul Mar'ah al-Muslimah hal.116 21. Lihat buku Bangga Dengan Jenggot karya Akhuna al-Ustadz Abu Ubaidah Yusuf as-Sidawi 22. Fatawa no.21778 tanggal 29 Dzulhijjah 1421 H 23. Akhlaqul-Ulama karya al-Ajurri hal.13-14 24. Fatawa al-Mar'ah hal.167 25. Fatawa al-Mar'ah hal.170 26. Zinatul-Mar'ah Baina at-Thibb wasy-Syar'i karya Muhammad bin Abdul Aziz al-Musnid hal.33 27. Al-Mutabarrijat karya Zahro' Fathimah binti Abdillah hal.94 sebagaimana dalam Zinatul-Mar'ah hal.32 28. Mustahdhorot Sobghi asy-Sya'r karya. Dr.Abdul Badi' Hamzah hal.46 sebagaimana dalam Min Ahkam an-Namsh hal.41-42

Sumber: Majalah al-Furqon, edisi 6 Th.ke-8, rubrik Nisa', hal.60-62