Anda di halaman 1dari 8

AMALAN DI BULAN SYAWWAL

Oleh: Aep Saepulloh Darusmanwiati Selintas sejarah penanggalan Islam Sejak dahulu, ada tiga barometer yang dijadikan pijakan dan pegangan oleh manusia untuk menentukan waktu di muka bumi ini: Pertama, dengan melihat gerakan bumi dengan bumi itu sendiri. Penghitungan ini melahirkan hitungan hari. Kedua, dengan melihat gerakan bumi terhadap matahari, yang kemudian melahirkan tahun matahari, tahun masehi (as-sanah asy-syamsiyyah). Ketiga, dengan melihat gerakan bulan terhadap bumi, yang kemudian melahirkan hitungan tahun bulan (as-sanah al-qamariyyah). Tahun syamsiyyah adalah tahun di mana berdasarkan penglihatan gerakan bumi yang mengelilingi matahari di mulai dari titik tertentu, sampai kembali lagi. Sementara tahun Qamariyyah merupakan masa yang didasarkan kepada bulan yang mengelilingi di sekitar bumi. Dalam Islam, tahun yang dipergunakan adalah tahun yang berdasarkan bulan, tahun qamariyyah. Hal ini ditegaskan oleh Allah dalam al-Qur'an: Artinya: "Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: "Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji" (QS. Al-Baqarah: 189). Jumlah bulan-bulannya sama dengan tahun syamsiyyah, yaitu dua belas bulan, sebagaimana firman Allah di bawah ini:

)981 : (

Artinya: "Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa" (QS. At-Taubah: 36). Nama-nama kedua belas bulan dimaksud urutannya adalah sebagai berikut: 1. Al-Muharram (yang diharamkan). Disebut demikian karena bulan ini termasuk bulan yang diharamkan untuk melakukan peperangan. Nama dahulunya adalah al-Mu'tamar. 2. Shafar (kosong, nol). Disebut demikian, karena rumah-rumah orang Arab pada bulan ini kosong dari penghuninya karena mereka keluar untuk melakukan peperangan setelah pada bulan sebelumnya tidak diperbolehkan berperang. Nama dahulunya Najir. 3. Rabi'ul Awwal (musim semi pertama). Disebut demikian, karena pada bulan tersebut memasuki musim semi pertama. Nama dahulunya Khawwan. 4. Rabi'ul Akhir (musim semi kedua). Disebut demikian karena pada bulan tersebut dahulunya memasuki musim semi kedua. Nama dahulunya Shuwan. 5. Jumadal Ula (membeku yang pertama). Disebut demikian, karena dinamakannya pada musim dingin, di mana air mulai membeku. Nama dahulunya Hantam atau Hanin. 6. Jumadal Akhirah (membeku yang kedua). Disebut demikian, karena dinamakannya pada musim dingin, di mana air mulai membeku pada tahap kedua. Nama dahulunya Zabba' 7. Rajab (mulia, agung). Disebut demikian karena pada bulan ini, orang-orang Arab dahulu memuliakan dan mengagungkan bulan ini dengan mengadakan perayaan-perayaan agama

]63 : [

dan tidak diperbolehkan melakukan peperangan. Dan bulan ini termasuk di antara bulan haram. Nama dahulunya al-Asham. 8. Sya'ban (bergerombol, berkelompok). Disebut demikian, karena pada bulan ini orangorang Arab dahulu mulai bergerombol dan berkelompok untuk kembali melakukan peperangan dan penyerangan setelah pada bulan Rajab mereka duduk di rumah, tidak diperbolehkan berperang. Nama dahulunya 'Adil. 9. Ramadhan (sangat panas). Disebut demikian karena pada bulan ini, udara sangat panas sehngga pasir di padang pasir menjadi sangat panas. Nama dahulunya Nafiq. 10. Syawwal (mengangkat, meninggikan). Disebut demikian, karena pada bulan ini unta-unta mengangkat ekor-ekornya untuk dibuahi, hamil dan kemudian melahirkan. Nama dahulunya Wagil. 11. Dzul Qa'dah (duduk, berhenti). Disebut demikian karena pada bulan ini mereka berhenti dari peperangan, karena termasuk bulan haram. Nama dahulunya Huwa'. 12. Dzul Hijjah (berhaji). Disebut demikian karena pada bulan ini orang-orang melakukan ibadah haji. Nama dahulunya Burak. Pada masa Rasulullah saw, nama-nama bulan ini sudah ada, sebagaimana dapat kita jumpai dalam banyak hadits Rasulullah saw menyebut nama-nama bulan dimaksud. Akan tetapi, nama tahun seperti tahun 1429 H dan lain sebagainya belum ada pada masa Rasulullah saw. Pada masa itu, nama tahun umumnya dikaitkan dengan kejadian besar yang terjadi pada tahun tersebut, misalnya ada tahun gajah ('amul fiil), karena pada tahun tersebut tentara Abrahah yang menunggangi gajah berangkat ke Mekkah untuk menghancurkan Ka'bah. Bahkan pada masa Khalifah Abu Bakar Shidiq pun belum ada penentuan tahun. Baru pada masa Khalifah Umar bin Khatab, dimulai adanya penamaan tahun. Umar bin Khatab adalah orang yang pertama kali meletakkan penanggalan Hijriyyah. Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menyebutkan di antara sebab mengapa Umar melakukan penanggalan tersebut. Dikisahkan bahwa ketika Abu Musa al-Asy'ari diangkat menjadi gubernur di Irak, dan Umar berkirim surat kepadanya, Abu Musa kembali berkirim surat bahwa surat dari Khalifah Umar tidak tertulis tanggalnya. Kemudian Umar segera bermusyawarah dengan para sahabat lainnya saat itu. Sebagian mengatakan, berikan penanggalan itu dengan berpegang pada waktu di mana Rasul diangkat menjadi Nabi. Sebagian yang lain, menyarankan agar perpijak kepada hijrah Nabi. Sebagian yang lain menyarankan dari kelahiran Rasulullah saw, dan sebagian yang lain dari wafat Rasulullah saw. Hanya Umar lebih setuju kepada Hijrah Nabi mengingat bahwa sejak Hijrah itulah jelas adanya perbedaan antara yang hak dan yang bathil. Setelah tahunnya sepakat, para sahabat juga berselisih pendapat mengenai bulan pertamanya, sebagian menyarankan Ramadhan, akan tetapi Umar berpendapat dari bulan Muharram, karena pada bulan tersebut adalah masa di mana orang-orang pulang dari ibadah haji. Sebagian riwayat dhaif mengatakan bahwa yang pertama kali meletakkan tahun hijriyah ini adalah Ya'la bin Umayyah ketika menjabat gubernur Yaman pada masa Khalifah Umar bin Khatab. Amalan di bulan Syawal Sepengetahuan penulis, dari hadits-hadits Rasulullah saw atau buku-buku para ulama, amalan yang selalu ditekankan pada bulan Sya'ban ini ada dua, yaitu puasa sunnat enam hari di bulan Syawwal, dan ibadah haji. A. Puasa enam hari di bulan Syawwal Rasulullah saw bersabda:

: (( , ] , )) [
Artinya: Rasulullah saw bersabda: "Barangsiapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan, kemudian diikuti dengan berpuasa enam hari pada bulan Syawal, maka sama dengan telah berpuasa selama satu tahun" (HR. Muslim). Abu Hurairah berkata: "Pahalanya satu tahun, karena setiap hari pahalanya sama dengan puasa sepuluh hari. Tiga puluh hari ramadhan sama dengan tiga ratus hari ditambah enam hari bulan syawal sama dengan enam puluh hari, sehingga jumlah seluruhnya adalah tiga ratus enam puluh hari yakni satu tahun. Hal ini, karena Allah berfirman: "Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya" (QS. AlAn'am: 160)". Jumhur ulama berpendapat, berdasarkan hadits di atas, bahwa puasa enam hari di bulan Syawal hukumnya sunnat. Sedangkan Imam Malik memandangnya sebagai perbuatan makruh, karena takut dinilai sebagai suatu kewajiban sebagaimana puasa di bulan Ramadhan. Jumhur ulama yang menghukumi sunnah, kemudian berbeda pendapat dalam hal praktek melakukan puasa enam hari dimaksud. Pendapat pertama, mengatakan, disunnahkan untuk dilakukan secara berurutan sejak awal bulan (dari tanggal 2 sampai tanggal 7 Syawal). Pendapat ini merupakan pendapat Imam Syafi'i dan Ibnul Mubarak. Hal ini di antaranya berdasarkan hadits di bawah ini:

: : (( ], )) [
Artinya: Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda: "Barangsiapa yang puasa enam hari setelah Idul Fitri secara berurutan, maka seolah dia telah melakukan puasa satu tahun penuh" (HR. Thabrani). Pendapat kedua, bahwa baik berurutan ataupun tidak sama-sama sunnahnya. Pendapat ini merupakan pendapatnya Imam Ahmad dan Imam Waki'. Pendapat ketiga, mengatakan, tidak sebaiknya tidak berpuasa beberapa hari setelah Idul Fitri, akan tetapi sebaiknya berpuasa tiga hari sebelum hari bulan purnama, dan tiga hari setelah hari bulan purnama (hari bulan purnama adalah tanggal 13, 14 dan 15, berarti menurut pendapat ini sebaiknya berpuasa tanggal 10, 11 dan 12 serta, 16, 17 dan 18). Manfaat-manfaat puasa syawal Di antara manfaat puasa Syawal ini sebagaimana dituturkan Ibnu Rajab adalah sebagai berikut: Pertama, puasa enam hari pada bulan Syawal pahalanya sama dengan puasa satu tahun penuh sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas. Kedua, puasa pada bulan Syawal dan Sya'ban seperti shalat sunnat rawatib. Fungsinya untuk menyempurnakan kekurangan-kekurangan dalam shalat wajib. Karena, kelak pada hari Kiamat, pahala wajib dapat disempurnakan dengan amalan sunnat. Ketiga, dengan puasa enam hari pada bulan Syawal di antara ciri puasa Ramadhannya diterima oleh Allah, karena apabila Allah menerima amal ibadah seseorang, Allah akan memudahkan orang tersebut untuk melakukan amal shaleh lainnya. Para ulama berkata: "Pahala kebaikan adalah dengan kebaikan setelahnya. Siapa yang melakukan kebaikan, lalu setelahnya diikuti dengan kebaikan lainnya, maka itu bukti diterimanya kebaikan pertama". Keempat, puasa enam hari di bulan Syawal di antara cara bersyukur kepada Allah. Orang yang berpuasa Ramadhan berhak mendapatkan ampunan (maghfirah) dari Allah atas segala dosa-dosanya yang telah lalu, dan tidak ada nikmat yang paling berharga selain pengampunan Allah. Karena itu, mereka yang telah berpuasa Ramadhan patut bersyukur atas nikmat ini, di antaranya dengan berpuasa enam hari di bulan Syawal. "Hendaklah kamu

mencukupkan bilangannya, hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, dan supaya kamu bersyukur" (QS. Al-Baqarah: 185). Kelima, puasa enam hari pada bulan Syawal, bukti bahwa kebaikan dan amal shaleh tidak berakhir seiring berlalunya Ramadhan, akan tetapi terus berlanjut selama hidup. Seorang ulama shaleh, Bisyir, pernah ditanya tentang orang-orang yang hanya beribadah pada bulan Ramadhan, ia menjawab: "Sejahat-jahat kaum adalah mereka yang hanya mengenal dan menyembah Allah pada bulan Ramadhan saja". Imam as-Syibly pernah ditanya: "Mana yang paling utama; apakah bulan Sya'ban atau bulan Ramadhan?" Ia menjawab: "Jadilah hamba yang menyembah Allah (rabbaniyyan) bukan yang menyembah bulan Ramadhan (ramadhaniyyan)". Bagaimana kalau dia mempunyai puasa yang harus diqadha dari bulan Ramadhan, apakah boleh berpuasa enam hari pada bulan Syawal tersebut sebelum mengqadha? Sebagian besar para ulama membolehkan untuk mendahulukan puasa enam hari bulan Syawal ini, karena berdasarkan keumuman hadits berikut ini:

: (( , ] , )) [
Artinya: Rasulullah saw bersabda: "Barangsiapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan, maka puasa satu bulan sama dengan puasa sepuluh bulan, ditambah dengan puasa enam hari pada bulan Syawal, maka genaplah sama dengan puasa satu tahun" (HR. Ahmad, Nasa'i dan Ibn Majah). Sebagian ulama mensyaratkan harus mengqadha terlebih dahulu, berdasarkan hadits dari Abu Ayyub di atas bahwa dalam hadits tersebut menggunakan kata-kata: "kemudian diikuti dengan puasa enam hari pada bulan Syawal". Kata-kata ini oleh kelompok tersebut dipahami keharusan mengganti yang wajib dulu, puasa qadha dulu. Hanya saja, penulis tetap berkesimpulan untuk mengambil keumuman hadits dari Tsauban di atas yang tidak mensyaratkan keharusan mengqadha lebih dahulu, terlebih sebagaimana dalam sebuah hadits di bawah ini, bahwa Siti Aisyah mengqadha puasa Ramadhan pada bulan Sya'ban. Ini artinya, bahwa Siti Aisyah pun terlebih dahulu melaksanakan puasa enam hari pada bulan Syawal ini, baru mengqadha puasa Ramadhannya pada bulan Sya'ban. Hadits di maksud adalah:

: (( ])) [
Artinya: Siti Aisyah berkata: "Saya mempunyai hutang puasa bulan Ramadhan, dan saya tidak dapat mengqadhanya melainkan hanya pada bulan Sya'ban" (HR. Bukhari Muslim). Hanya saja, menyegerakan untuk mengqadha tentu lebih baik sebagaimana disinggung oleh keumuman ayat berikut ini

Artinya: "Mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orangorang yang segera memperolehnya" (QS. Al-Mukminun: 61). B. Keutamaan-keutamaan melakukan Ibadah Haji Ada banyak keutamaan dan keistimewaan mereka yang melakukan ibadah haji, di antaranya adalah: 1. Ibadah haji merupakan di antara perbuatan utama untuk mendekatkan diri kepada Allah. Rasulullah saw bersabda:

)39 : (

: : (( )), : : (( )), : ]: (( )) [
Artinya: "Dari Abu Hurairah, bahwasannya ketika Rasulullah saw ditanya perbuatan apa yang paling utama, Rasul menjawab: "Iman kepada Allah dan rasulNya", ditanya lagi: kemudian apa lagi? Rasulullah saw menjawab: "Berjihad di jalan Allah", kemudian ditanya: Apa lagi? Rasulullah saw menjawab: "Haji Mabrur" (HR.Bukhari Muslim). 2. Haji adalah jihad yang tidak ada peperangan. Rasulullah saw bersabda:

: (( )) [ ]
Artinya: "Rasulullah saw bersabda: "Maukah aku tunjukkan satu jihad yang tidak ada peperangan di dalamnya? Dia adalah ibadah haji" (HR. Thabrani, dan hadits ini dinilai shahih oleh Imam Albany dalam Shahih al-Jami'). 3. Pahala Haji Mabrur adalah surga. Rasulullah saw bersabda:

: (( ] )) [
Artinya: "Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda: "Tidak ada balasan bagi Haji Mabrur itu selain surga" (HR. Muslim). 4. Diampuni-dosa-dosanya. Rasulullah saw bersabda:

: (( , ] )) [
Artinya: "Rasulullah saw bersabda: "Barang siapa yang melakukan ibadah haji, dan dia tidak berkata tidak baik juga tidak berbuat dosa, maka dosa-dosanya akan diampuni sebagaimana anak yang baru dilahirkan oleh ibunya" (HR. Muslim). 5. Dapat mencegah fakir dan miskin. Rasulullah saw bersabda:

: (( , ], )) [
Artinya: Rasulullah saw bersabda: "Lakukanlah Haji dan Umrah, karena keduanya dapat menolak kefakiran dan menghapus dosa, sebagaimana api yang sangat panas dapat membakar kotoran besi, emas dan perak" (HR. Turmudzi dan Nasai). 6. Orang yang melakukan haji doanya akan dikabulkan oleh Allah. Rasulullah saw bersabda:

: (( , , ] )) [
Artinya: "Rasulullah saw bersabda: "Para jamaah haji dan umrah merupakan tamu-tamu Allah, apabila mereka berdoa, Allah akan mengabulkannya, dan apabila mereka memohon ampun, Allah akan mengampuninya" (HR. Ibnu Hibban dan al-Bazzar).

BOLEHKAH PUASA SUNAT SYAWAL PADA HARI JUM'AT?


Oleh: Aep Saepulloh Darusmanwiati Pertanyaan: Assalamu'alaikum. Pak Aep, bolehkah puasa syawal dilakukan pada hari Jum'at, karena sepengetahuan saya, pada hari Jum'at itu kita makruh untuk berpuasa? Terima kasih. Pak Abdullah, Roma, Italia.

Jawaban : Wa'alaikum salam. Terima kasih atas pertanyaan luar biasa ini. Puasa sunnat pada hari Jum'at perlu dibedakan dalam dua kategori. Pertama, apabila hari Jum'at tersebut bertepatan dengan hari di mana dianjurkan berpuasa di dalamnya, misalnya hari Asyura (10 Muharram), hari Arafah (09 Dzulhijjah), maka puasa pada hari Jum'at sunnat hukumnya. Dan ini tidak ada perbedaan pendapat di kalangan para ulama. Karena kita berpuasa bukan karena hari Jum'atnya, tapi karena sebabnya, yaitu Asyura' nya, atau Arafah nya. Kedua, apabila tidak berkaitan dengan sebab, seperti yang penanya tanyakan, berkaitan dengan puasa Syawal misalnya, maka para ulama dalam hal ini berbeda pendapat. Ibnu Rusyd dalam bukunya Bidayatul Mujtahid, mencatat ada tiga pendapat: Pendapat pertama mengatakan, bahwa puasa sunnat yang dilakukan pada hari Jum'at tidak diperbolehkan (makruh), baik ia berpuasa sehari sebelumnya atau sesudahnya ataupun tidak berpuasa sebelum dan sesudahnya. Pendapat ini berdasarkan keumuman hadits shahih di bawah ini:

: )) : ((
Artinya: "Muhammad bin Ubbad berkata: "Saya bertanya kepada Jabir: Apakah Rasulullah saw melarang berpuasa pada hari Jum'at?" Jabir menjawab: "Iya" (HR. Bukhari Muslim). Pendapat kedua, puasa pada hari Jum'at boleh-boleh saja (tidak makruh), baik di awali berpuasa satu hari sebelum atau sesudahnya ataupun tidak diawali. Hal ini berdasarkan keumaman hadits di bawah ini:

: [ ]
Artinya: Ibnu Mas'ud berkata: "Rasulullah saw biasa melakukan puasa pada permulaan setiap bulan selama tiga hari, dan beliau sangat jarang sekali berbuka puasa pada hari Jum'at" (HR.Imam ahmad, Turmudzi, Nasai dan yang lainnya, Imam Turmudzi berkata: "Hadits tersebut adalah Hadits Hasan"). Pendapat kedua ini merupakan pendapatnya Imam Abu Hanifah, Imam Malik, dan Imam Muhammad bin Hasan. Bahkan Imam Malik dalam kitab al-Muwattha mengatakan:

Artinya: "Saya tidak pernah mendengar seorang pun ulama fiqih dan ulama-ulama terpercaya lainnya yang melarang berpuasa pada hari Jum'at. Bahkan sebaliknya, berpuasa pada hari Jum'at adalah sesuatu yang baik, dan saya menyaksikan sendiri sebagian ulama melakukan puasa pada hari Jum'at ini bahkan mereka jarang meninggalkannya". Pendapat ketiga, puasa sunnat pada hari Jum'at boleh-boleh saja apabila diawali dengan berpuasa hari sebelumnya (Kamis) atau berpuasa hari sesudahnya (Sabtu). Apabila tidak diawali dengan puasa sebelum atau sesudahnya, maka makruh (dibenci). Hal ini berdasarkan hadits di bawah ini:

: (( ] )) [

Artinya: "Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda: "Jangan kalian mengkhususkan hari Jum'at untuk melakukan ibadah tertentu yang tidak dilakukan pada hari-hari lainnya, juga janganlah kalian mengkhususkan hari Jum'at untuk berpuasa yang tidak kalian lakukan pada hari-hari lainnya, kecuali jika kebetulah jatuh pada hari di mana ia biasa berpuasa pada hari tersebut" (HR. Muslim). Juga berdasarkan hadits di bawah ini:

: : (( )) : : (( ] )) : , : (( )) [
Artinya: "Juwairiyyah bint al-Harits, Ummul Mu'minin berkata, bahwasannya Rasulullah saw pernah masuk ke rumahnya pada hari Jum'at, sementara Juwairiyyah sedang berpuasa. Rasulullah saw lalu bersabda: "Apakah kemarin kamu puasa?" Ia menjawab: "Tidak". Rasul bersabda kembali: "Apakah besok kamu berniat akan berpuasa?" Ia menjawab: "Tidak". Rasul lalu bersabda: "Kalau demikian berbukalah" (HR. Bukhari). Pendapat ketiga ini merupakan pendapat Imam Syafi'i dan Jumhur Syafi'iyyah, bahkan menurut catatan Imam Nawawi dalam al-Majmu', pendapat ini juga merupakan pendapatnya Abu Hurairah, az-Zuhry, Abu Yusuf, Imam Ahmad, Ishak dan Ibn al-Mundzir. Imam Nawawi dalam al-Majmu' membantah pendapat Imam Malik dengan mengatakan, bahwa apa yang disebutkan oleh Imam Malik adalah berdasarkan pemikirannya (ra'yu), bukan berdasarkan dalil. Sementara dalil mengatakan, makruh berpuasa hanya pada hari Jum'at kecuali apabila diiringi dengan puasa sebelum atau sesudahnya. Ra'yu siapapun selama bertentangan dengan dalil yang jelas tidak menjadi rujukan. Oleh karena itu, Imam Nawawi mengatakan, boleh jadi pendapat Imam Malik di atas karena beliau tidak mendengar adanya hadits di atas. Dan seandainya beliau mendengar hadits yang melarangnya, tentu beliau akan berpendapat lain. Apa yang dituturkan Imam Nawawi di atas, tidak berlebihan. Karena prediksi tersebut juga pernah dilontarkan oleh ulama madzhab Maliki sendiri. Imam Muhammad al-Amir alMaliki (w 1232 H) dalam bukunya at-Taj wal Iklil yang merupakan syarah dari kitab Mukhtashar Khalil, menukil pendapat Imam ad-Dawudy al-Maliki yang mengatakan, bahwa pendapat Imam Malik di atas boleh jadi karena hadits larangan berpuasa pada hari Jum'at ini tidak sampai kepadanya. Penulis secara pribadi kurang setuju dengan ungkapan Imam Nawawi atau Imam adDawudy ini, apakah betul sekaliber Imam Malik tidak mengetahui hadits larangan berpuasa pada hari Jum'at, padahal Imam Malik, sebagaimana diketahui, merupakan seorang muhaddits handal? Dan bukankah pendapat Imam Malik sendiri sebenarnya sesuai dengan dalil yaitu hadits Ibnu Mas'ud di atas yang mengatakan Rasul jarang meninggalkan puasa pada hari Jum'at. Penulis lebih cenderung untuk mengatakan bahwa, pendapat Imam Malik ini bukan karena tidak mendengar hadits larangan puasa pada hari Jum'at, beliau mendengarnya, akan tetapi beliau berpendapat demikian karena berdasarkan ijtihad kepada hadits-hadits yang ada, sebagaimana Imam Malik berpendapat bahwa puasa Syawal makruh baginya, karena takut dianggap sebagai sesuatu yang wajib. Barangkali penuturan Imam al-Bagi al-Maliki di bawah ini, sebagaimana dikutip dalam buku at-Taj wal-Iklil, di antara alasan mengapa Imam Malik berpendapat demikian. Menurut penuturan al-Bagi, karena dalam hal ini tidak ada bedanya antara Hari Jum'at dengan hari-hari lainnya. Apabila hari-hari lainnya diperbolehkan berpuasa menyendiri, maka pada hari Jum'at pun demikian. Perlu penulis tambahkan juga, berkaitan dengan puasa hanya pada hari Jum'at, Imam Syafi'i mempunyai dua qaul. Qaul pertama mengatakan bahwa puasa hanya pada hari

Jum'at makruh hukumnya apabila akan mengakibatkan lemah atau bahkan tidak melakukan ketaatan sama sekali pada hari Jum'at. Padahal hari Jum'at merupakan rajanya hari (sayyidul ayyam) dan hari yang sangat mulia. Apabila tidak akan mengakibatkan lemah dan menghalangi ibadah lainnya, maka puasa hanya pada hari Jum'at diperbolehkan. Qaul Imam Syafi'i ini dinukil oleh al-Qadhi Abu ath-Thayyib dalam buku alMujarrad, dan dinukil juga oleh Imam Muzani dalam al-Jami' al-Kabir. Hanya saja Ibnul Mundzir mengatakan bahwa apa yang dinukil oleh al-Qadhi tersebut tidak dinukil dan tidak disebutkan oleh ulama-ulama syafi'iyyah lainnya, sehingga penisbahan qaul tadi kepada Imam Syafi'i menjadi Dha'if (lemah). Dan pendapat terakhir inilah yang dipegang oleh Imam Nawawi dalam al-Majmu'. Hemat penulis, dalam dirasah madzhab Syafi'i, pendapat Imam Muzani baik yang termaktub dalam al-Mukhtashar nya ataupun dalam buku-buku lain, harus lebih didahulukan daripada pendapat lainnya. Oleh karena itu, hemat penulis, pendapat Imam Syafi'i sendiri tentang puasa hanya pada hari Jum'at ini boleh-boleh saja selama tidak menghalangi atau mengganggu ibadah lainnya pada hari tersebut. Hanya saja, mengingat para ulama syafi'iyyah pasca Imam Nawawi ini mengalami stagnasi, dan mereka lebih banyak mengacu kepada apa yang ditulis Imam Nawawi, maka jumhur syafi'iyyah muta'ahiriin umumnya mengikuti apa yang menjadi pendapat Imam Nawawi di atas. Dari beragam pendapat di atas, penulis lebih cenderung untuk menyimpulkan, bahwa: puasa sunnat apa saja, termasuk puasa enam hari di bulan syawal, yang dilakukan hanya pada hari Jum'at, boleh-boleh saja. Hanya lebih utama lagi apabila diiringi dengan puasa sebelum atau sesudahnya (Kamis atau Sabtu nya). Hal ini dikuatkan dengan hadits shahih qaulydi bawah ini:

: (( ] )) [
Artinya: "Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda: "Janganlah salah seorang dari kalian berpuasa pada hari Jum'at, kecuali ia berpuasa hari sebelum atau sesudahnya" (HR. Bukhari Muslim).