Anda di halaman 1dari 28

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Fotogrametri dapat didefinisikan sebagai suatu seni, ilmu pengetahuan dan teknologi

untuk memperoleh data dan informasi spasial tentang suatu objek serta keadaan disekitarnya yang dapat diandalkan tentang fisik benda dan lingkungan melalui suatu proses pencatatan, pengukuran dan interpretasi data citra (hasil pemotretan). Oleh karena itu dengan adanya praktikum tentang pembuatan stereogram dan interpretasi foto udara kali ini diharapkan mahasiswa Program Studi Teknik Geomatika mampu melakukan pengamatan stereoskopis serta interpretasi foto udara dengan menggunakan prinsip-prinsip interpretasi yang benar. Dalam pengamatan stereoskopis diperlukan suatu alat yang disebut stereoskop. Untuk dapat melihat sepasang photo yang saling overlap, sangant sulit jika tanpa bantuan alat optis. Hal demikian karena melihat sepasang photo dengan jarak dekat sekitar 15 cm akan menyebabkan ketegangan pada otot-otot mata. Karena kesukaran itulah diperlukan Stereoskop untuk membantu kita dalam pengamatan. Adapun prinsip yang digunakan dalam interpretasi foto terdiri dari 7 (tujuh) kunci interpretasi yang meliputi : bentuk, ukuran, pola, rona, bayangan, tekstur, dan lokasi. Dengan beracuan pada 7 (tujuh) kunci tersebut maka kita dapat mengidentifikasi dengan jelas objek yang sebenarnya.

1.2

Maksud dan Tujuan Praktikum Adapun maksud dan tujuan praktikum Fotogrametri ini adalah:

a. b. c.

Mahasiswa mampu menggunakan alat stereoskop Mahasiswa mampu menentukan model 3 dimensi dari dua foto udara Mahasiswa mampu menginterpretasikan beberapa obyek pada foto udara dengan stereoskop

BAB II DASAR TEORI

2.1

Persepsi kedalaman Persepsi kedalaman merupakan fungsi dari sudut paralaktik = sudut perpotongan

sumbu optic mata kiri dan kanan manakala kedua mata terfokus pada suatu titik/ obyek.

dBA = dB - dA
dimana : dA = f (a) dan dB = f (b) Jarak terdekat persepsi kedalaman stereoskopik untuk rata-rata orang dewasa kira-kira 25 cm, dengan basis sekitar 66 mm maka sudut paralaktik maksimum adalah

= 2 tan-1 (3.3/25) = 15
Persepsi kedalaman stereoskopik maksimum kira-kira = 50 meter. Persepsi kedalaman stereoskopik merupakan fungsi sudut paralaktik ( )

2.1.1 Pengertian Pandangan Tiga Dimensi (3D) Penginderaan jauh sistem foto udara memanfaatkan teknik stereoskopis ini untuk mendapatkan informasi turunan dari serangkaian data foto udara seperti ketinggian, jarak, volume dan lain-lain. Untuk menghasilkan pandangan stereoskopis ini, digunakan alat pengamatan yang mampu menghasilkan pandangan stereoskopis pada foto udara bertampalan yaitu stereoskop. Melalui stereoskop ini, obyek-obyek yang terdapat pada area tampalan foto akan nampak seperti gambar tiga dimensi yang dapat diukur ketinggian atau kedalaman obyek tersebut. Pandangan tiga dimensi dari hasil pengamatan stereoskopis ini muncul dalam otak sebagai akibat adanya perpaduan dua gambar dengan sudut pandang yang berbeda. Masing-masing mata pengamat (observer) akan mendapatkan informasi dari gambar yang berada dibawahnya. Informasi dari kedua gambar tersebut diterima oleh otak manusia dan diterjemahkan sebagai gambar yang tiga dimensi. Serangkaian foto udara akan nampak menjadi tampilan tiga dimensi dalam proses pengamatan stereoskopis jika :
2

Foto udara tersebut memiliki tampalan Gambar dari foto udara tersebut memiliki sudut pengambilan yang berbeda dalam satu jalur terbang yang sama Foto yang diamati hendaklah memiliki skala yang sama Selain dari syarat dari foto udara tersebut diatas, kemampuan dari setiap orang

dalam menghasilkan efek tiga dimensional juga sangat bervariasi. Tidak setiap pengamat memiliki kemampuan yang sama dalam menghasilkan sebuah gambaran tiga dimensional pada serangkaian foto udara yang sama. Berberapa faktor seperti jarak pupil mata, jauh dekat kemampuan fokus pandang, dan lain-lain adalah sangat berpengaruh terhadap kemampuan seseorang menghasilkan gambaran tiga dimensional. Pertambahan usia seorang pengamat juga memungkinkan perubahan kemampuan pengamat tersebut dalam menghasilkan pandangan tiga dimensional. Dengan demikian seorang ahli fotogrametris yang bekerja dengan gambaran stereoskopis juga memiliki kemungkinan mengalami kesulitan pembentukan gambaran tiga dimensi pada masa tertentu. 2.1.2 Sudut Paralactic
B

db A da

Jika mata melihat suatu benda A, maka mata mengadakan Kontak dengan otak sedemikian hingga dapat mengira-ngirakan suatu jarak; dA = jarak dari benda A sampai ke mata, begitu pula halnya dengan benda B daopat dikira-kirakan jaraknya sebesar dB. A dan B kita sebut sebagai sudut paralactic. Suatu benda masih dapat dilihat secara stereoskopis dengan mata kita pada jarak lebih besar dari 25 cm, kecuali jika mata kita melihat benda tersebut dibantu dengan
3

lensa, mata kita masih dapat melihat benda-benda tersebut secara stereoskopis dengan jarak lebih kecil dari 25 cm. Pasangan sinar dari foto kiri dan kanan dalam satu bidang dan berpotongan di titik A . Paralak-y = 0 Beda tinggi dZ sebagai fungsi dari Paralak-x

o o

Pasangan sinar dari foto kiri dan kanan belum dalam satu bidang dan saling bersilangan Paralak-x dan y 0

Maksimum kira-kira = 50 meter.Persepsi kedalaman stereoskopik merupakan fungsi sudut paralaktik ( )

2.1.3 Stereoskop Cermin dan Saku Stereoskop Cermin Stereoskop yang digunakan untuk melihat foto yang bertampalan yang berukuran lebih besar daripada stereoskop saku. Bagian bagian dari stereoskop ini meliputi lensa cembung, sepasang prisma/cermin, cermin perak, tiang penyangga, lensa binokuler. Kelebihan dari stereoskop ini adalah dapat melakukan perbesaran dengan penambahan lensa binokuler, daerah yang diamati lebih luas daripada stereoskop saku, dan dapat menampakkan satu lembar foto udara secara penuh. Kekurangan stereoskop ini adalah ukurannya yang besar sehingga tidak praktis, harga relatif mahal, jika ditambahkan dengan binokuler maka akan memperkecil daerah yang diamati. Karakteristik stereoskop cermin : a. Lebih besar dari stereoskop saku
5

b. Daerah yang dapat dilihat secara stereoskop lebih luas jika dibandingkan dengan menggunakan stereoskop lensa c. Karena bentuknya agak besar maka agak lebih sukar dibawa ke lapangan

Gambar 2.1. Stereoskop Cermin Stereoskop Saku Stereoskop yang berukuran kecil , stereoskop ini terdiri dari lensa convex yang sederhana, dan mempunyai faktor perbesaran yang cukup besar. Bagian bagian dari stereoskop ini meliputi lensa cembung dan tiang penyangga. Kelebihan stereoskop ini adalah harganya yang murah, praktis dapat dibawa kemana mana, faktor
6

perbesarannya cukup besar. Kekurangan dari stereoskop ini adalah daerah yang bisa diamati sangat terbatas. Karakteristik Stereoskop saku atau stereoskop lensa: a. Lebih murah daripada stereoskop cermin b. Cukup kecil hingga dapat dimasukkan kedalam saku c. Terdiri dari susunan lensa convex yang sederhana d. Mempunyai faktor perbesaran yang cukup besar e. Mudah dibawa ke lapangan f. Daerah yang dapat dilihat secara stereoskopis sangat terbatas

Gambar 2.2. Stereoskop Saku

2.2

Interpretasi Foto Udara Interpretasi foto udara merupakan kegiatan menganalisa citra foto udara dengan

maksud untuk mengidentifikasi dan menilai objek pada citra tersebut sesuai dengan prinsipprinsip interpretasi. Interpretasi foto merupakan salah satu dari macam pekerjaan fotogrametri yang ada sekarang ini. Interpretasi foto termasuk didalamnya kegiatan-kegiatan pengenalan dan identifikasi suatu objek. Dengan kata lain interpretasi foto merupakan kegiatan yang mempelajari bayangan foto secara sistematis untuk tujuan identifikasi atau penafsiran objek. Interpretasi foto biasanya meliputi penentuan lokasi relatif dan luas bentangan. Interpretasi akan dilakukan berdasarkan kajian dari objek-objek yang tampak pada foto udara.
7

Keberhasilan dalam interpretasi foto udara akan bervariasi sesuai dengan latihan dan pengalaman penafsir, kondisi objek yang diinterpretasi, dan kualitas foto yang digunakan. Penafsiran foto udara banyak digunakan oleh berbagai disiplin ilmu dalam memperoleh informasi yang digunakan. Aplikasi fotogrametri sangat bermanfaat diberbagai bidang Untuk memperoleh jenis-jenis informasi spasial diatas dilakukan dengan teknik interpretasi foto/citra,sedang referensi geografinya diperoleh dengan cara fotogrametri. Interpretasi foto/citra dapat dilakukan dengan cara konvensional atau dengan bantuan komputer.Salah satu alat yang dapat digunakan dalam interpretasi konvensional adalah stereoskop dan alat pengamatan paralaks yakni paralaks bar.

2.3 Kunci Interpretasi Citra Di dalam menginterpretasikan suatu foto udara diperlukan pertimbangan pada karakteristik dasar citra foto udara.Dan dapat dilakukan dengan dua cara yakni cara visual atau manual dan pendekatan digital.Keduanya mempunyai prinsip yang hampir sama. Pada cara digital hal yang diupayakan antara lain agar interpretasi lebih pasti dengan memperlakukan data secara kuantitatif. Pendekatan secara digital mendasarkan pada nilai spektral perpixel dimana tingkat abstraksinya lebih rendah dibandingkan dengan cara manual. Dalam melakukan interpretasi suatu objek atau fenomena digunakan sejumlah kunci dasar interpretasi atau elemen dasar interpretasi. Dengan karakteristik dasar citra foto dapat membantu serta membedakan penafsiran objek objek yang tampak pada foto udara. Berikut tujuh karakteristik dasar citra foto yaitu : Bentuk Bentuk berkaitan dengan bentuk umum, konfigurasi atau kerangka suatu objek individual. Bentuk agaknya merupakan faktor tunggal yang paling penting dalam pengenalan objek pada citrta foto. Ukuran Ukuran objek pada foto akan bervariasi sesuai denagn skala foto. Objek dapat disalahtafsirkan apabila ukurannya tidak dinilai dengan cermat.
8

Pola Pola berkaitan susunan keruangan objek. Pengulangan bentuk umum tertentu atau keterkaitan merupakan karakteristik banyak objek, baik alamiah maupun buatan manusia, dan membentuk pola objek yang dapat membantu penafsir foto dalam mengenalinya. Rona Rona mencerminkan warna atau tingkat kegelapan gambar pada foto.ini berkaitan dengan pantulan sinar oleh objek. Bayangan Bayangan penting bagi penafsir foto karena bentuk atau kerangka bayangan menghasilkan suatu profil pandangan objek yang dapat membantu dalam interpretasi, tetapi objek dalam bayangan memantulkan sinar sedikit dan sukar untuk dikenali pada foto, yang bersifat menyulitkan dalam interpretasi. Tekstur Tekstur ialah frekuensi perubahan rona dalam citra foto. Tekstur dihasilkan oleh susunan satuan kenampakan yang mungkin terlalu kecil untuk dikenali secara individual dengan jelas pada foto. Tekstur merupakan hasil bentuk, ukuran, pola, bayangan dan rona individual. Apabila skala foto diperkecil maka tekstur suatu objek menjadi semakin halus dan bahkan tidak tampak. Lokasi Lokasi objek dalam hubungannya dengan kenampakan lain sangat bermanfaat dalam identifikasi. Kunci interpretasi citra pada umunya dapat berupa potongan citra yang telah diinterpretasi, diyakinkan kebenarannya, dan diberi keterangan sebelumnya. Keterangan pada kunci interpretasi ini dapat berupa : Jenis obyek yang digambarkan
9

Unsur interpretasi yang digunakan Keterangan tentang citra meliputi jenis, skala, waktu pemotretan dan lokasi daerahnya

Kunci interpretasi citra dimaksudkan sebagai pedoman dalam melaksanakan interpretasi citra.

10

BAB III PELAKSANAAN

3.1

Pengenalan Alat Stereoskop Stereoskop adalah alat yang digunakan untuk mengamati foto udara yang

bertampalan, dapat ditimbulkan kenampakan 3 dimensi. Gambar atau foto yang bagaimanakah yang dapat dilihat secara stereoskopis: ialah sepasang foto/gambar yang dipotret dari dua sisi yang berlainan sedemikian rupa sehingga dua foto tersebut saling overlap. Untuk dapat melihat sepasang foto yang saling overlap secara stereoskopis tanpa bantu perlengkapan optis, sangat dirasakan sekali kesulitannya. Hal ini dikarenakan : 1. melihat sepasang foto dari jarak yang dekat akan menyebabkan ketegangan pada otot otot mata. 2. mata difokuskan pada jarak yang sangat pendek kurang lebih 15 cm dari foto yang terletak diatas meja, sedangkan pada saat itu otak kita mengamati atau melihat sudut paralaktis dengan tujuan dapat membentuk stereo model pada suatu jarak atau kedalaman. Keadaan yang demikian ini sangat mengacaukan pandangan stereoskopis karena kesukaran kesukaran itulah diperlukan suatu stereoskop untuk membantu kita dalam pengamatan . Ada 2 jenis stereoskop, yaitu : 1. Stereoskop saku Lebih murah daripada stereoskop cermin

- Cukup kecil hingga dapat dimasukkan kedalam saku - Terdiri dari susunan lensa convex yang sederhana - Mempunyai faktor perbesaran yang cukup besar - Mudah dibawa ke lapangan - Daerah yang dpat dilihat secara stereoskopis sangat terbatas
11

Gambar 3.1 cara kerja stereoskop saku 2. Stereoskop cermin Lebih besar dari stereoskop saku

Gambar 3.2 stereoskop saku

Daerah yang dapat dilihat secara stereoskop lebih luas jika dibandingkan dengan menggunakan stereoskop lensa

- Karena bentuknya agak besar maka agak lebih sukar dibawa ke lapangan

Gambar 3.3 cara kerja stereoskop cermin 3.1.1 Pengenalan Stereogram

Gambar 3.4 stereoskop cermin

Stereogram adalah gabungan pertampalan dua lembar foto udara yang berurutan dan diorientasikan sedemikian rupa sehingga dapat dilihat secara langsung membentuk model dengan sebuah stereoskop saku. Cara membuatnya adalah sebagai berikut : 1. Meletakkan sepasang foto udara (fotocopy) di atas meja.
12

2. 3.

Mengambil stereoskop saku dan meletakkan di atas foto udara tersebut. Mengorientasikan hingga mendapatkan model 3D. Mereketkan dengan dengan cello-tape hingga tidak dapat digerakkan lagi.

4.

Melipat salah satu foto dengan batas kira-kira sesuai dengan garis pertampalan atau titik utamanya kemudian menampalkan kedua foto udara tersebut.

5.

Melihat kembali dengan seksama melalui stereoskop cermin dan beri tanda batas kiri dan batas kanan penglihatan.

6.

Mengambil sampling beberapa obyek di daerah pertampalan tersebut sehingga seluruh daerah model benar-benar dalam penglihatan 3D.

7.

Merekatkan pertampalan antar kedua foto udara dan gunting pinggir/sisi kedua foto udara itu sesuai batas penglihatan kiri dan kanan.

8.

Merapikan guntingan tadi dan merekatkan pada kertas HVS A4 siap untuk dibuat sebagai lampiran pada laporan akhir praktikum ini.

3.2

Interpretasi Obyek Berikut ini beberapa pedoman yang dapat digunakan untuk mengenal benda / obyek

yang diamati : 1. Bentuk Bentuk berkaitan dengan bentuk umum, konfigurasi atau kerangka suatu obyek individual. Bentuk merupakan faktor yang penting dalam pengenalan obyek citra foto. 2. Ukuran Ukuran obyek pada foto akan bervariasi sesuai dengan skala foto. Obyek dapat disalah tafsirkan apabila ukurannya tidak dinilai/dihitung dengan cermat. 3. Pola Pola berkaitan susunan keruangan obyek. Pengulangan bentuk umum tertentu atau keterkaitan merupakan karakteristik bayak obyek, baik alamiah maupun buatan manusia. Dengan mempelajari pola obyek, penafsir dapat mengenali obyek apa yang terdapat dapa foto udara tsb.

13

4.

Rona Rona mencerminkan warna atau tingkat kualitas kecerahan/kegelapan gambar obyek pada foto udara. Unsur ini berkaitan dengan pantulan sinar oleh obyek.

5.

Bayangan Bayangan merupakan unsur penting bagi penafsir karena bentuk dan kerangka bayangan menghasilkan suatu profil pandangan obyek yang dapat membantu dalam menginterpretasikan suatu obyek.

6.

Tekstur Tekstur adalah frekuensi perubahan rona dalam citra foto. Tekstur dihasilkan oleh susunan satuan kenampakan yang mungkin terlalu kecil untuk dikenali secara individual dengan jelas pada foto udara. Tekstur merupakan hasil bentuk, ukuran, pola, bayangan dan rona individual.

7.

Lokasi Lokasi obyek dalam interpretasi berhubungan dengan kenampakan obyek tersebut ditempat/lokasi tertentu.

14

BAB 4 HASIL DAN ANALISIS

4.1

Cara Kerja Stereoskop Stereoskop adalah alat yang menggunakan cara kerja stereoskopik. Yang di maksud

dengan stereoskopik disini adalah keadaan dimana mata kanan dan kiri dapat melihat secara bersama-sama. Alat ini digunakan untuk membantu untuk mendapatkan pengelihatan stereoskopis. Ada dua macam stereoskop, yaitu: 1. Stereoskop Saku 2. Stereoskop Lensa

Sebelum menjelaskan cara kerja stereoskop, untuk mendapatkan pengelihatan stereoskopis foto yang digunakan disini harus mempunyai daerah pertampalan. Selanjutnya cara kerja stereoskop adalah ketika cahaya keluar dari bayangan b1 dan b2 untuk dan a1 dan a2. Kemudian dari titik b1 dan b2 diteruskan oleh cermin samping dan cermin mata menuju ke mata. Begitu juga dengan a1 dan a2. Karena cermin bersifat maya dan datar maka bayangan b1 dan b2 dapat bertemu di titik B dan a1 dan a2 bertemu di titik A.

15

4.2

Hasil Interpretasi Obyek Dalam praktikum kedua ini menggunakan 4 foto udara yang akan dijelaskan seperti

dibawah ini. 4.2.1 Foto Udara 1

Latihan 3 No 1 Daerah Skala : Akaike, Kyusu Jepang : 1:8000

1. Identifikasi detail/objek :

No Nama Obyek

Hasil Interpretasi Berwarna putih, berbentuk garis, berukuran besar, terlihat lebih tinggi

A B C

Jalan Besar Sungai Besar Jalan

dari sekitarnya Berwarna hitam, berukuran besar Berwarna putih, berbentuk garis Berwarna keabuan, bentuknya tidak teratur, teksturnya menyerupai air,

D E

Danau Jembatan

bersebelahan dengan jembatan Terlihat lebih tinggi dari sekitarnya, berdekatan dengan danau
16

menunjukkan berbukit-bukit, mempunyai pola perulangan kotak-kotak, F G H J Persawahan Kerukan Rel Perumahan teksturnya berbuku-buku Berwarna keabuan, terlihat lebih dalam dari sekitarnya berbentuk 2 garis memanjang Berpola perulangan kota-kotak Berbentuk seperti jalan namun berada di gunung, terlihat lebih tinggi K L Jalan Gunung Jalan dari daerah sekitar Berbentuk garis Terlihat lebih tinggi dari sekitarnya, berpola pepohonan, memiliki O Bukit Berupa KotakP R S kotak Putih Bangunan Lembah Berwarna putih, berbentuk kotak Berbentuk Kotak Berwarna gelap, terlihat lebih dalam tekstur pohon

2. Adakah hal-hal khusus dari objek yang terdapat pada A ? Jawab :Objek A terlihat memiliki bayangan yang mengakibatkan terlihat lebi tinggi dari sekitarnya 3. Pada L objek apa yang terdapat di bawah jembatan ? Jawab :Yang terdapat di bawah jembatan adalah jalan. 4. Apa perbedaan utama antara persilangan pada M dan N? Jawab : perbedaan utama adalan ketinggian. Persilangan M lebih tinggi dari pada N

17

4.2.2 Foto Udara 2

Latihan 3 No 2 Daerah : Netherland Skala : 1 : 10.000

1. Identifikasi detail/objek :

No Nama Obyek A B Sungai Rel Kereta Barisan C D pepohonan Jembatan Jembatan Rel E F G H Kereta Jalan Bangunan Persawahan

Hasil Interprestasi Berwarna gelap, bentuknya berkelok-kelok, terlihat lebih dalam Berbentuk Garis memanjang

berpola Perulangan pepohonan , memiliki tektur pohon

Terlihat lebih tinggi dari sekitar, berada di atas sungai Berbentuk Garis memanjang Berbentuk kotak, memiliki tekstur bangunan Terlihat lebih rendah dari sekitarnya, memiliki pola perulangan kotak-

18

kotak J K Sungai Kecil Ladang Bangunan L M N O Besar Jalan Besar Pepohonan Hutan Gedung di memiliki pola perulangan pepohonan, memiliki tekstur pohon Berbentuk kotak, terlihat lebih tinggi dari sekitar Berwarna putih, berukuran besar Berwarna gelap, berbentuk garis, terliahat lebih dalam dari sekitarnya memiliki pola perulangan garis-garis

tengah Taman P R Kota Danau Kecil Telihat lebih tinggi dari sekitarnya Berwarna hitam, dikelilingi sawah

2. Kunci interpretasi apa saja yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi objek A dan J? - Rona/Warna - Bayangan - Bentuk 3. Apakah kunci interpretasi bayangan berguna dalam melakukan interpretasi pada pasangan foto stereo ini? Jelaskan jawaban saudara! Iya berguna, karena bayangan dapat menentukan ketinggian dan kedalaman objek pada gambar.

19

4.2.3 Foto Udara 3

Latihan 3 No 3 Daerah : Suriname Skala : 1 : 20.000


1. Identifikasi detail/objek :

No Nama Obyek A B C D E F G Sungai Besar Jalan Sungai Kecil Hutan Ladang Sawah Got Jalan H Ladang Ladang Kosong J diantara Hutan diantara

Hasil Interpretasi Berwarna putih, berbentuk besar memanjang Berwarna putih, berbentuk garis Berwarna hitam, berkelok-kelok Berukuran luas, berpola perulangan pohon, memiliki tekstur pohon Berbentuk kotak, berpola perulangan garis-garis Berwarna kelabu, berpola perulangan kotak-kotak Berwarna gelap, memanjang terlihat lebih dalam dari sekitar

Berwarna gelap

Berwarna putih, terlihat lebih dalam dari sekitarnya

20

Sungai Kecil

Berwarna gelap, berbentuk garis

2. Dimana letak daerah pemukiman ? Jawab : Pemukiman terletak sepanjang jalan B 3. Apakah daerah hutan (bagian bawah foto) memperlihatkan suatu karakteristik tertentu? Jika ya karakteristik apa ? Jawab : iya, Karakternya antara lain tekstur yaitu bertekstur pohon, bayangan (membuat pohonnya memiliki ketinggian tertentu) dan pola ( merupakan perulangan pohon).

4.2.4 Foto Udara 4

Latihan 3 No 4 Daerah : Pasifik Skala : 1 : 20.000

1. Identifikasi detail/objek :

21

No Nama Obyek A B C D E F G Sungai Ladang Pesisir Pantai Jalan Tanah Kosong Pantai Tebing Hutan yang

Hasil Interpretasi Berbentuk memanjang, terlebih lebih rendah Berwarna gelap, berbentuk kotak Berwarna putih, dekat pantai Berbentuk garis Berwarna putih Berwarna abu-abu, tekstur menyerupai air, bedekatan dengan daratan Terlihat lebih tinggi, pertekstur bebatuan'

gundul ( ladang kosong di tengah H K hutan) Hutan Berwarna putih, berbentuk seperti segitiga, Berpola perulangan pohon, memiliki tekstur pohon

2. Detail/objek mana saja menurut anda yang harus dipetakan pada skala 1:100000 dan mana saja yang dapat dipetakan dalam skala 1:10000. Jelaskan ! Jawab : - yang akan dipetakan dengan skala 1:100000 adalah Pantai, pesisir pantai dan hutan Sedangkan yang akan dipetakan dengan skala 1: 10000 adalah tebing , jalan, ladang,, sungai,

3. Berikan gambaran tentang daerah di sekitar J! Jawab : suatu wilayah yang memiliki tekstur seperti batuan kapur

22

BAB V PENUTUP

5.1

Kesimpulan Berdasarkan uraian di atas terdapat beberapa simpulan yaitu sebagai berikut : 1. Dalam praktikum kali ini dilakukan kegiatan mengidentifikasi foto udara dengan menjadikannya bentuk 3 dimensi dengan menggunakan alat stereoskop serta menginterpretasikan detail / objek pada pasangan foto stereo dengan menggunakan alat stereoskop. 2. Untuk membantu dan membedakan identifikasi obyek-obyek yang tampak pada foto udara, maka dengan melihat dari karakteristik dasar citra foto atau dikenal dengan 7 kunci interpretasi antara lain bentuk, ukuran, pola, rona, bayangan, tekstur, dan lokasi.

5.2

Saran Adapun saran untuk praktikum ini, yaitu : 1. Dalam melakukan interpretasi objek pada praktikum ini diharapkan mahasiswa memahami terlebih dahulu tentang 7 kunci interpretasi tersebut. 2. Perhatikan dengan baik detail ataupun objek yang anda amati dan terungkap dengan suatu penjelasan apabila sukar untuk memberikan nama atau istilah yang tepat. 3. Lebih teliti dan konsentrasi kembali ketika melakukan praktikum dengan steroskop.

23

DAFTAR PUSTAKA

Budi Cahyono, Agung dan Hapsari, Hepi. 2005. Petunjuk Praktikum Fotogrametri I. Surabaya: Program Studi Teknik Geodesi ITS Haryanto, Teguh. 2003. Photogrametri I. Surabaya: Program Studi Teknik geodesi ITS Dipokusumo, S. B. 2001. Fotogrametri. Departemen Teknik Geodesi. Penerbit ITB

24

Lampiran 1. Fotocopy foto udara (stereogram)

25

Lampiran 2. Gambar Stereoskop dan bagian bagiannya a. Stereoskop Saku

Bagian bagian stereoskop saku: 1. Folding Legs (Kaki lipat) berfungsi sebagai penyangga stereoskop. 2. Lensa berfungsi untuk memfokuskan bayangan agar terlihat lebih jelas

b. Stereoskop Cermin

Bagian bagian stereoskop cermin: 1. 2. 3. Lensa Binokuler (Binoculars) berfungsi untuk mengumpulkan cahaya Lensa (lens) berfungsi untuk memfokuskan bayangan agar terlihat lebih jelas Cermin (Mirror). Sepasang cermin samping yang berguna untuk mendapatkan bayangan dari sisi kiri dan sisi kanan dari sepasang foto udara. Cermin mata digunakan untuk memantulkan bayangan dari cermin samping agar diteruskan ke lensa 4. Tiang Penyangga (levelling screw) berfungsi sebagai penyangga stereoskop
26

Lampiran 3. Formulir Interpretasi

27

Lampiran 4. Job Description Nama Waktu Pelaksanaan Kamis, 19 April 2012 Habibi Sabtu, 21 April 2012 Membuat Laporan Membuat Kamis, 19 April 2012 Lia Eka Elviani stereogram dan mengidentifikasi foto udara 3 Sabtu, 21 April 2012 Membuat Laporan Mengidentifikasi Kamis, 19 April 2012 Rizkia Amaliyah Maryam Sabtu, 21 April 2012 foto udara 1 & 2 dan mencatat hasil interpretasi Membuat Laporan Mengidentifikasi Kamis, 19 April 2012 Eka Yulianti Puspita Sari Sabtu, 21 April 2012 foto udara 4 dan mencatat hasil interpretasi Membuat Laporan Job Membuat stereogram Tanda Tangan

28