Anda di halaman 1dari 13

3.

Production Measurement Team

Dalam struktur Produksi PT.CPI, terdapat suatu divisi yang memiliki peran sangat penting dalam melakukan pengukuran hasil produksi. Production Management Team adalah salah satu divisi yang memiliki fungsi utama melakukan pengukuran hasil produksi (Well Testing) dimana data hasil pengukurannya akan digunakan untuk melakukan optimasi sebuah sumur guna meningkatkan produksi. Production Management Team memiliki tugas utama yaitu melakukan well testing dan sonolog test terhadap sumur-sumur produksi PT.CPI. Data-data yang diukur diantaranya Oil Production (BOPD), Water Production/Water Cut (BWPD), dan Water Fluid Level. 3.2.1 Well Testing Well testing dilakukan secara rutin pada hampir semua sumur seperti mulai dari sumur baru, sumur yang berproduksi, hingga sumur work over. Prioritas sumus-sumur yang akan di test adalah sebagai berikut: Prioritas pertama Prioritas pertama sumur-sumur yang akan dites adalah sumur-sumur baru, sumur yang bermasalah, sumur work over, dan sumur permintaan PE. Prioritas kedua Prioritas kedua adalah sumur-sumur yang sudah terjadwal untuk dilakukan test secara rutin setiap bulannya. Kriteria rutinitas test/pengambilan data pada sebuah sumur adalah: Sumur dengan produksi kurang dari 50 BOPD Untuk sumur jenis ini test dilakukan satu kali dalam sebulan Sumur dengan produksi lebih dari 50 BOPD Untuk sumur jenis ini test dilakukan sebanyak dua kali dalam sebulan Target pengetesan yang dilakukan perbulannya berjumlah 2100 tes/bulan. Apabila dalam satu bulan target pengetesan belum tecapai, maka sumur dengan produksi kurang dari 50 BOPD akan dilakukan dua kali pengetesan dalam sebulan. 3.2.2 Jenis Well Testing Jenis well testing yang digunakan di perusahaan Chevron Pasific Indonesia (CPI) ada 3 jenis: 1. Manual

Manual well test merupakan sebuah proses pelaksanan well testing dengan cara mengalirkan fluida dari sumur produksi ke fasilitas pengujian selama waktu tertentu secara manual, kemudian dilakukan pengukuran dan perhitungan secara manual juga untuk mendapatkan hasil produksi suatu sumur Berikut adalah urutan test sequence pada manual well testing: 1. Switching Pada tahapan ini dilakukan kegiatan buka dan tutup valve pada header di lokasi, test station, dan gathering station yang bertujuan untuk mengubah aliran fluida dari sumur produksi ke faslitisa pengujian atau sebaliknya setelah pengujian sumur berakhir. 2. Flushing (HO) / Purging (SLO) Flushing ataupun purging ini terdapat pada manual well testing ataupun automatic well testing. Flushing ataupun purging dilakukan setelah swithing ke test line atau ke well testing facilities. Adapun tujuan dari flushing atau purging ini adalah untuk membersihkan sisa fluida hasil test sumur sebelumnya. 3. Gauging Pada tahapan ini barulah dilakukan pengukuran fluida dalam jangka waktu tertentu dengan menggunakan tongkat ukuran, gauge tape, atau level indikator. Penetu lamanya test dapat dilihat dari besarnya produksi dan juga kapasitas test tank, sehingga kemungkinan terjadinya over flow dari test tank selama proses well testing dapat dihindari Terdapat 2 aktivitas penting dalam tahapan gauging; On-test dimana ala pengujian sumur produksi dengan mencatat waktu dan ketinggian liquida dalam test tank, dan Off-test dimana akhir dari suatu pengujian sumur minyak dengan mencatat waktu dan kertinggian liquida dalam test tank. 4. Purging Purging dalah proses memompakan liquda hasil well testing dalam test tank ke production line. Tujuan dari proses ini agar test tank mempunyai ruang/space yang uckup untuk melakukan well testing berikutnya. 5. Reporting Proses reporting menggunakan well test report (CP32-037). Dimana form ini masih digunakan sampai saat ini di daerah operasi Sumatera Light Oil (SLO), namun di Heavy Oil (HO) form ini sudah tidak digunakan lagi.

2. Semi-automatic Semi-automatic well test merupakan sebuah proses pelaksanaan well testing dengan cara mengalirkan fluida dari sumur produksi ke fasilitas pengujian selama waktu tertentu secara manual, kemudian pengukuran serta perhitungan untuk mendapatkan data produksi dilakukan secara otomatis dengan menggunakan sarana komputer. Berkembanganya teknologi komputer membawa pengaruh yang sangat besar bagi CPI, karena CPI dapat memanfaatkan berbagai teknologi yanga da untuk memudahkan pekerjaan manual well tesing di lapangan dalam mendapatkand data yang lebih cepat dan akurat. Kini pengukuran BS&W, flow rate, temperature, dan pressure dapat dengan mudah diketahui. Fasilitas well testing semi-otomatis terdapat di Bekasap GS, Aman TS, Minas, Antara, Balam, dan beberapa field lainnya. Terdapat 2 jenis fasilitas yang umum digunakan oleh CPI pada proses well testing semi otomatis, yakni; Multiphase Flow Meter (MPFM) dan Mobile Micromotion. Dari kedua fasilitas yang ada, Mobile Micromotion akan dibahas lebih lanjut lagi pada bab 3.2.2.

3. Automatic Lain halnya dengan well test manual dan semi-automatic, automatic well test merupakan sebuah proses pelaksanaan well test dimana mulai dari awal sampai perhitungan dan transmitting data produksi ke aplikasi DREAMS berjalan secara otomatis. Operator diperlukan hanya untuk mengawasi atau memastikan proses berjalan dengan baik dan lancar.

3.2.3 Mobile Micromotion Mobile Micromotion adalah salah satu bentuk fasilitas dari semi-automatic well testing. Saat ini di daerah SLO beroperasi mobile well testing, yang dioperasikan oleh operator yang telah memenuhi berbagai syarat berikut ini: 1. Pelatihan cara pengoperasian mounted micromotion metering dan dilengkapi dengan buku panduan (micromotion product catalog 2. Mempunyai user ID dan mampu meng-input data ke aplikasi DREAMS 3. Mempunyai driving license atau Surat Izin Mengemudi (SIM) untuk mengoperasikan mounted truck unit

4. Pelatihan tentang Fundamental Safe Work Practice (FSWP) Mobile micromotion akan melakukan pengukuran produksi setiap sumur sekali higga dua kali pengukuran setiap bulannya. Setelah dilakukan pengukuran maka didapatkanlah data mengenai Barrel Fluid Per Day (BFPD), Water Cut (WC), Barrel Oil Per Day (BOPD), temperature, density, dan tekanan. CPI sendiri memiliki 2 jenis mobile micromotion yakni; mobile micromotion yang menggunakan separator dan yang tidak menggunakan separator. Separator pada mobile micromotion berfungsi untuk memisahkan gas yang terkandung dalam fluida yang masuk ke spool test, karena jika dalam pengukuran sumur terdapat gas dan mobile micromotion yang digunakan tidak memiliki separator maka hasil pengukuran menjadi tidak valid bahkan bisa menghasilkan error. Berikut adalah langkah-langkah untuk mengoperasikan unit mobile micromotion: 1. Dapatkan data/print out melalui aplikasi DREAMS sumur yang akan di test 2. Lakukan pre-trip inspection pada: mounted truck, micromotion unit, dan supporting tool 3. Pastikan sumur dalam kondisi hidup serta tidak ada jumper line yang terbuka ke flow line yang dapat menambah producse fluida dari sumber lain. Ambil data mengenai casing pressure, dan lain sebagainya dari sumur. 4. Set truck unit dan connect micromotion unit ke spool di flow line 5. Pastikan dan tutup drain valve pada micromotion unit 6. Buka perlahan-lahan up dan down stream gate valve dan tutup main gate by pass valve sehingga fluida dari sumur mengalir ke micromotion unit keluar melalui down stream valve ke flow line 7. Biarkan well flow rate selama 10 menit (purging time) 8. Hidupkan Net Oil Computer ataupun ALTUS dan pastikan koefisienny benar, masukan data oil dan water density sumur yang akan di-test 9. Tekan tombol 0 (zero) point di remote flow transmitter (RFT) sampai lampu indikasi 25% hidup dan 75% mati 10. Tekan tombol start 2 (dua) kali 11. Lakukan pengujian selama 30 menit 12. Selagi dilakukan pengujian dengan menggunakan micromotion, dilakukan juga pengujian dengan cara manual dengan cara mengambil sample water cut di sampling point secara manual dengan menggunakan gelas ukur saat pengetesan tesebut. 13. Lalu bandingkan hasil yang diperoleh oleh micromotion dengan yang diperoleh dengan cara manual berdasarkan toleransi sebagai berikut:

14. Bila perbedaan water cut diluar toleransi, maka diambil dari rata-rata water cut dengan ketentuan: Perbedaan manual pertama dan yang kedua < 0,5%, maka pengambilan manual 2 kali dan test selama 30 menit Perbedaan manual pertama dan yang kedua < 1%, maka pengambilan manual 3 kali dan test selama 30 menit Perbedaan manual pertama dan yang kedua > 1%, maka pengambilan manual 4 kali dan test selama 60 menit 15. Setelah selesai, tekan tombol stop test. Lalu catat hasil test.

3.2.4 Sonolog Test Sonolog test merupakan salah satu rangkaian proses dalam well testing yang bertujuan untuk mengetahui ketingggian fluida (fluid level). Tes ini dilakukan dengan menggunakan sonolog unit. Sonolog unit adalah peralatan acoustic penghasil gelombang suara. Alat ini menggunakan gas nitrogen untuk mengalirkan getaran ke dalam well untuk kemudian dipantulkan kembali. Getaran yang telah dipantulkan kembali kemudian ditangkap oleh recorder yang akan ditransmisikan ke dalam echometer untuk menggambarkan pola getaran gas nitrogen. Bila getaran tersebut melewati tubbing joint, pola grafiknya akan membentuk defleksi dan saat getaran dipantulkan kembali oleh permukaan fluida, pola aliran akan menggulung. Kedalamam fluid level dapat dilihat dari dilihat dari jumlah tubbing joint yang dikonversikan menjadi satuan kedalaman. Data yang didapatkan dari hasil sonolog tes adalah: Static Fluid Level Static fluid level adalah ketinggian fluida sebelum diproduksi atau saat tidak sedang diproduksi dalam artian fluida tidak diangkat ke permukaan Working Fluid Level Working fluid level adalah ketinggian fluida ketika diproduksi. WFL minimum suatu sumur dapat dikatakan masih support adalah 300-400 ft diatas pump set depth. Support yang dimaksud saat pompa masih dapat digunakan untuk menghisap fluida dengan optimal dan tidak merusak pompa. Dengan komponen-komponen dari sonolog unit adalah sebagai berikut: Gun atau Well Sounder

Gun atau Well Sounder berfungsi menghasilkan gelombang suara yang berasal dari gas nitrogen kedalam casing annulus. Microphone Cable Microphone cable berfungsi menangkap gelombang suara yang telah dipantulkan daru casing annulus yang kemudian menghantalkan gelombang tersebut ke echometer Echometer Echometer berfungsi menangkap dan menerjemahkan gelombang suara yang dipantulkan menjadi data sonolog chart. Dalam pengambilan data tes dengan menggunakan sonolog unit sering sekali terjadi kesalahan. Kesalahan pengambilan data disebabkan oleh faktor-faktor berikut: Keberadaan foaming Keberadaan gas pada sumur akan mengakibatkan kesalahan interpretasi data sehingga data yang diambil menjadi lebih dangkal dari pada data sebenarnya. Kesalah pembacaan chart Hal ini terjadi jika dalam menentukan batas atas sumur dan batas level fluida dalam sumur terjadi kesalahan. Jika kesalahan ini terjadi maka penghitungan gangguan untuk menentukan jumlah joint hingga tercapainya level fluida dalam sumur tidaklah akurat Kegiatan well testing dengan menggunakan micromotion unit maupun dengan menggunakan sonolog unit keduanya sangat berperan dalam upaya optimasi sebuah sumur produksi. Data oil production rate yang terbaca dapat menggambarkan produktivitas sebuah sumur, jika data oil production rate semakin menurun maka harus dibuat program untuk meningkatkan produktivitas dari sumur tersebut seperti workover atau menutup sumur tersebut jika tidak dapat lagi diperbaiki. Selain itu, data fluid level dibutuhkan untuk menentukan kedalaman pemasangan pompa. Pompa yang pada umumnya digunakan pada lapangan minas ini adalah pompa ESP (Electrical Submersible Pump), dimana pompa akan bekerja efektif jika terendam dibawah permukaan fluida. Untuk pompa ESP disyaratkan pemasangan pompa minimum 500 ft dibawah permukaan fluida. Data-data hasil perhitungan setiap harinya akan diupdate ke dalam database energy component sehingga setiap orang dapat mengakses data ini.

3.2.5 Perlengkapan Well Testing Berikut adalah berbagai perlengkapan yang digunakan pada saat well testing:

1. Flow Meter Flow meter adalah sebuah instrument yangd dirancang untuk mengukur laju aliran (flow rate) liquda yang dipompakan atau mengalir di dalam pipa produksi. GPM (gallon per minute) atau BPD (barrel per day) merupakan satuan ukur yang umum digunakan. Tedapat beberapa jenis flow meter yang banyak digunakan pada operasi di lapangan berikut diantaranya: Mass Flow Meter Mass flow meter merupakan salah satu alat ukur yang umumnya digunakan untuk mengukur massa fluida yang mengalir. Alat ini terdiri dari satu atau dua flow tube yang berada di dalam housing tertutup, pasangan drive coil dan magnet, serta sebuah sensor temperature

Di dalam sensor, drive coil menggetarkan flow tube pada frekuensi 80 Hz. Drive coil ini terleteak pada titik tengah lengkungan flow tube. Ketika aliran fluida memasuki sensor dan ikut digetarkan, pada gerakan ke atas fluida akan mengikuti getaran flow tube. Tetapi keteika terjadi perubahan gerakan ke bawah, massa fluida akan memberikan perlawanan sehingga menyebabkan tube memuntir. Sifat memuntir ini yang disebut dengan coriolis effect. Banyaknya puntiran tube yang terjadi sebanding dengan laju aliran fluida di dalam flow tube. Dua buah pasangan electromagnetic detector dipasang untuk mendeteksi kecepatan getaran tube. Laju massa fluida ditentukan dengan mengukur selisih waktu (fasa) antara ke dua buah detektor. Selama tidak ada fluida mengalir, tidak terjadi puntiran tube sehingga selisih waktunya adalah nol.

Turbine Meter Terdiri atas dua bagian utama yaitu sensor dan display totalizer. Sensor mempunyai bilah (roto) yang berputar mengikuti kecepatan laju alir liquida. Sebuah magnetic pickup yang dipasang pada body mengeluarkan pulsa (frequeny) yang diteruskan ke perangkat display totalizer, lalu dikalkulasi dan ditampilkan dalam bentuk flow rate (BPD) dan total (barrels). Di lapangan seri dijumpai meter jenis ini dengan merk Halliburton dan Daniels. CPI memakainya di CVC, CGS (HO), dan injector well di SLO.

Vortex Meter Meter ini menggabungkan sensor dan transmitter dalam satu unit. Aliran fluida melewati sensor dan membentur sebuah penghalang (shedder bar) yang dipasang secara vertical. Akibat benturan ini terjadi pusaran-pusaran di sekitar penghalan tersebut. Pusaran-pusaran ini akan mengakibatkan terjadinya getaran (osilasi) yang besarnya berbanding lurus dengan kecepat aliran fluida dan berbanding terbalik dengan lebar penghalang (shedder bar). Getaran ini di deteksi oleh sebuah piezoelectric crystal yang terpasang di dalam shedder bar. Crystal ini mebgeluarkan tegangan yang diperkuat oleh amplifier, yang kemudian diolah dan ditampilkan pada display. Alat ini juga mampu mengirimkan output berupa sinyal 4 20 mA menuju sistem kontrol/monitoring di control room.

Positive Displacement Meter Positive Displacement (PD) meter pada prinsipnya mengukur volume likuida yang mengalir. Terdiri dari dua komponen utama yaitu : measuring element dan counter unit. Di dalam measuring element ini terdapat beberapa bilah yang dapat berputar dan membentuk segmen (ruang) dengan volume tertebtu. Laju alir liquid memutar bilah-bilah ini dan banyaknya putaran di hitung oleh counter (totalizer). PD meter terdiri dari banyak jenis, namun yang paling banyak dipakai adalah jenis rotating vane meter dan bi-rotor, akurasinya mencapa 0.1% dan dikenal luas di dunia sebagai meter penjualan. Di lapangan dijumpai meter jenis ini dengan merek AO. Smith. Di CPI dipakai hampir diseluruh GS dan seluruh shipping meter (LACT unit).

2. Water Cut Meter

Water cut meter (water cut monitor) adalah sebuah instrumen yang dirancang untuk mengukur presentase air dalam minya (water cut). Teknologi yang digunakan adalah gelombang micro (microwave) untuk mengukur sifat kelistrikan (electrical properties) aliran liquida. Sifat-sifat ini dianalisa oleh prosessor dan diteremahkan dalam bentuk persentase. Karena fungsinya untuk mengukur water cut liquida yang mengalir dalam pipa, maka alat ini selalu dipasankan dengan flow meter. Di lapangan banyak ditemui berbagai jenis water cut meter dengan merek dagang seperi : Agar OWM-201 dan MFI W-258

3.2.6 Gauging Separator Gauging separator berfungsi untuk memisahkan dan membuang gas yang ada pada fluida sehingga liquida yang dipompakan bebas dari gas, dan bertujuan untuk mengoptimalkan kinerja flow meter. Di HO gauging separator berupa bejana vertical, sedangkan di SLO berupa bejana horizontal dan biasnaya disebut test separator.

3.2.7 Permasalahan dalam well test 1. High Production dan High water cut Bila terjadi penyimpangan dan hasil test ditolak (reject) oleh sistem dimana data well test menunjukan penurunan atau kenaikan water cut 25% dan kenaikan produksi 100%, sebelum melakukan manual data transfer ke DREAMS atau men-delete data, operator wajib memastikan dan melakukan visual check pada fasilitas well test dan sumur: Pastikan tidak ada kegagalan configuration valve pada jetiing atau flushing circle, dimana kemungknan kill water line tetap mengalir ke gauging separator Pastikan tidak ada kebocoran pada 3-way valve atau 2-way valve yang memungkinkan fluida dari sumur lain dan production manifold ikut masuk ketika well test berlangsung. Lakukan manifold leak test atau 3-way valve leak test Pastikan Back Pressure Control Valve (BPCV) di incoming gauging separator tidak bocor dan membuka sesuai dengan manifold header pressure setting Pastikan jumper line atau valve dari killing line pada sumur tidak terbuka sewaktu well test berlangsung Sumur tidak dimatikan sebelum well test berlangsung

Pastikan pulse per barrel pada PLC telah di-set dengan benar Laporkan ke tim maintenance bila ada indikasi penyimpangan pada meter untuk melakukan: Perbandingan total volume pemompaan gauging separator dengan display meter Uji akurasi meter (proving) dan kalibrasi bila didapatkan penyimpangan pada meter.

2. No Flow Detected (NFD) No Flow Detected terjadi jika ball floater dari Level Switch Low Low (LSLL) pada gauging separator tidak ada indikasi terangkat oleh liquida, setelah 30 menit proses well test berlangsung (gauging), maka well test akan dibatalkan. NFD biasanya terjadi karena: Running pressure sumur waktu well test di bawah setting dari manifold header pressure, sehingga Back Pressure Control Valve (BPCP) di incoming gauging separator tidak membuka secara otomatis Sumur yang di test dalam kondisi mati Sumur tidak memompa waktu di test Sumur sedang dialirkan ke sour manifold Kegagalan LSLL Test line dan flow line tersumbat

3. Troubleshooting pada gauging separator Terjadinya keadaan yang tidak normal pada saat kegiatan well testing dilakukan akan mengaktifkan alarm system dan beacon light. Dimana pesan mengenai alarm nantinya ditampilkan pada layar PC monitor di control room. Berikut adalah 2 kondisi troubleshooting yang terjadi pada gauging separator: High level alarm Karena level liquida dalam gauging separator mencapai LAH maka konfigurasi valve pada train yang bersangkutan akan mengalihkan aliran sumur ke production header dan test train tersebut akan off line. Beberapa penyebab munculnya high level alarm adalah sebagai berikut: Gauging pup tidak bisa hidup otomatis (tripped) atau motor current unbalanced Level switch LSH tidak bekerja

Kegagalan menutup pada 3-way valve (leakage) Low pump flow rate, masalah ini disebabkan antara lain : a. Instrumentation problems (transmitter burnt out, power supply cut out, mass flow meter error) b. Mechanical problems (rubber, spring dan body valve rusak, plunger rusak, V-belt kendur/lepas, frozen oil, low suction pressure karena strainer tersumbat)

Produksi sumur yang sedang diuji lebih besar dari kapasitas gauging pump (contoh : >150 GPM atau >5100 BPD)

Konfigurasi pada sand jet valve (jetting cycle) gagal atau tidak menutup sempurna sehingga air dari killing line tetap mengalir ke gauging separator

Setelah masalah yang menyebabkan high-level ditemukan dan diatasi, kemudian operator mengaktifkan kembali test train dengan cara menekan tombol RESET pada PC monitor dan PLC sehingga high-level alarm dan beacon akan mati sehingga well test dapat dimulai kembali. Over flow Over flow terjadi saat permukaan liquida naik melewati LAH dan Keluar melalui over flow line serta mengalir ke control box. Beberapa penyebab terjadi over flow yakni: Tidak ada power supply ke LAh disebabkan putusnya fuse pada modul input PLC, losse connection pada wiring atau modul input rusak LAH gagal disebabkan terjadi scaling/corrosion pada fittings atau frozen oil atau pasir Ball floater LAh lepas karena selalu mendapat goncangan (vibration) atau bubbling didalam di dalam gauging separator karena fluida dari sumur banyak mengandung gas atau steam (high gas and vapour content) Micro switch rusak yang disebabkan au atau patah pada fitting Gauging separator tersumbat pasir atau benda lain, atau low suction separator pada gauging pump karena suction dipenuhi pasi atau frozen oil. Hal ini disebabkan karena jetting system pada AWT tidak aktif atau di offline kan hal ini dapat diatasi dengan flushing dan melakukan maual weekly drain pada gauging separator T-joints dan elbow pada incoming gauging separator bocor karena kikisan dari fluida yang mengandung pasi, hal ini dapat dideteksi dini dengan

melakukan uji ketebalan pipa atau fitting (wall thickness survey) secara teratur Drain line dan valve tersumbat pasir Tidak dapat melakukan drain pada gauging separator karena penyumbatan pada drain line. Hal ini dapat diatasi dengan melakukan flushing (pembilasan) menggunakan air dari killing line atau portable pump 4. Troubleshooting pada test separator Level dan pressure fluida did alam test separator harus dipertahankan konstan agar kinerja dari flow meter optimal. Kendala pada test separator umumnya sama dengan kendala pada production separator, berikut diantaranya: High liquid level/liquid over flow Liquida keluar dari separator melalui gas outlet, hal ini disebabkan: Flow rate liquida masuk lebih besar dari pada yang keluar. Hal ini dapat diatasi dengan menaikkan level setting pada control valve dan pembukaan pada gas outlet diperbesar Control valve di liquid outlet tidak bekerja (closed). Hal ini dapat diatasi dengan memeriksa control system: air supply dan control setting (raise level, proportional band) Block valve dekat control valve tertutup Terjadinya penyumbatan di pipa liquid outlet. Bersihkan outlet tersebut Rupture disk pecah atau pPSV terbuka. Separator harus di shutdown, rupture disk atau PSV diganti Low liquid/gas blowby Gas keluar melalui liquid outlet, hal ini disebabkan: Berkurang atau tidak ada fluida yang masuk. Hal ini dapat diatasi dengan menurunkan level setting pada control valve dan pembukaan pada gas outlet diperkecil High pressure karena control valve di gas outslet tidak bekerja (closed). Hal ini dapat diatasi dengan memeriksa control system: air supply dan control setting (raise level, proportional band) Control valve di liquid outlet tidak bekerja (fully Open). Hal ini dapat diatasi dengan melakukan adjustment pada control setting Wbypass valve pada liquid outlet terbuka

Drain valve terbuka

High reading pada flow meter Pembacaan pada meter lebih tinggi dari normal produksi sumur yang di test, misalnya: normal produksi suatu sumur 3000 BFPD, jika di meter terbaca 5000 BFPD, maka kemungkinan terjadi kesalahan pada meter. Hal ini terjadi karena: Terjadi out of calibration pada flow meter Gas keluar melalui liquid outlet disebabkan loq liquid leve/gas blowby pada test separator Kegagalan pada control valve di gas outlet High pressure pada test separator Pemilihan kapasitas meter yang kurang tepat

Low reading pada flow meter Hal ini kebalikan dari high reading di atas disebabkan oleh: Terjadi out of calibration pada flow meter Drain valve terbuka Bypass valve pada liquid outlet terbuka Mechanical problem pada meter Pemilihan kapasitas meter yang kurang tepat