Anda di halaman 1dari 11

Matahari SEPIA

karena anugerah manusiawi kita, kita dapat menulis program baru untuk diri kita sendiri Itulah sebabnya kapasitas binatang relatif terbatas sedangkan kapasitas manusia tidak terbatas. Stephen R Covey

Milyuner di Antara Kita


" Mana milyunernya? Mereka semua tidak ada yang terlihat seperti milyuner!" demikian komentar seorang vice president lembaga keuangan menanggapi sekelompok orang yang menjadi subyek penelitian tentang para milyuner. Betul, mereka memang tampak seperti orang biasa, berbaju biasa, memakan makanan biasa, bersikap seperti orang biasa. Sama sekali tidak tampak seperti gambaran milyuner yang sering muncul di televisi. Namun bila diteliti lebih lanjut, mereka adalah orang-orang yang sangat sukses di bidang masingmasing, dengan kekayaan bersih minimal di atas 1 juta dolar, setara di atas 10 milyar rupiah. Banyak penelitian tentang para milyuner menunjukkan bahwa penampilan mereka jauh dari gambaran televisi. Televisi lebih banyak menggambarkan penampilan selebritis, yang dipandang umum sebagai penampilan milyuner. Kenyataannya, para milyuner datang dari berbagai kalangan, kontraktor las, penjual barang bekas, petani, pembasmi hama, hingga penjual koin. Kebanyakan mereka hidup relatif sederhana dibandingkan dengan jumlah kekayaannya. Mobil mereka seperti rata-rata milik orang kebanyakan, bukan model terbaru. Rumah mereka berada di perumahan orang kebanyakan. Mereka juga bergaul dengan orang kebanyakan. Sebagian besar dari mereka tidak suka tampil di depan publik. Namun yang jelas, mereka mempunyai satu kesamaan : sangat merdeka secara finansial. Cerita tentang para milyuner tersebut merupakan hasil survey penelitian tentang para milyuner di Amerika, yang dibukukan secara bagus oleh Dr. Stanley dalam karyanya The Millionaire Next Door. Menjadi milyuner memang hanya salah satu ukuran keberhasilan seseorang. Masih banyak ukuran-ukuran pencapaian keberhasilan yang lain. Ada pencapaian keberhasilan dalam bidang politik, pelayanan masyarakat, ilmu pengetahuan, teknologi, seni, militer, dan lain sebagainya. Menjadi milyuner, yaitu suatu prestasi dalam finansial, menjadi ukuran sukses yang sangat mudah dipahami karena setiap orang tidak terlepas dari masalah finansial ini.

Setiap orang dapat merasakan bahwa menjadi milyuner adalah sebuah pencapaian prestasi yang hebat. Uniknya, mereka yang mencapai sukses dalam hal finansial, seringkali memiliki kehidupan yang juga sehat di bidang lainnya. Hampir semuanya adalah pasangan yang awet puluhan tahun dalam kehidupan berkeluarga. Mereka juga aktif dalam kegiatan amal dan bermasyarakat. Mereka mempunyai anak-anak yang disiplin, berprestasi, bebas narkoba. Mereka memiliki kemerdekaan finansial, yang juga membantu mereka untuk berprestasi sama baiknya di banyak bidang non finansial. Sukses dapat diprediksi! Seperti halnya bila Anda mau menuju ke suatu tempat, asalkan elah memilih arah yang benar, maka apakah ditempuh dengan merangkak, jalan kaki, atau berkendaraan, pasti suatu ketika akan sampai di tempat tujuan. Hanya masalah waktu yang membedakan. Sukses adalah buah dari perilaku, karena itu bila kita mempunyai perilaku orang sukses, pasti suatu saat menjadi sukses pula.. Perilaku adalah buah dari kebiasan. Kebiasaan dimulai dari sikap. Sikap dipengaruhi oleh keyakinan. Dan keyakinan dipengaruhi oleh pengetahuan. Jadi, awalnya adalah pengetahuan. Setiap hari, pengetahuan beredar secara berlimpah ruah di sekeliling kita. Kemampuan menangkap pengetahuan, merasakannya, menghayatinya, dan menjadikannya sebagai aksi untuk meraih tujuan, sangat dipengaruhi oleh kecerdasan. Para milyuner seperti telah diduga, memiliki kecerdasan yang cukup baik. Lebih penting lagi, mereka memiliki kecerdasan yang berimbang. Mereka rata-rata bersekolah dengan baik. Kalaupun putus sekolah, itu dikarenakan kondisi ekonomi keluarga, bukan karena mereka tidak cerdas. Jadi para milyuner ini memiliki kecerdasan intelektual, IQ, yang baik. Mereka juga adalah orang-orang yang tangguh, ulet, sabar, mampu mengendalikan diri, bermasyarakat dengan baik, memiliki keluarga harmonis, dan berbagai hal lain yang menjadi bukti bahwa mereka memiliki kecerdasan emosional, EQ, yang baik. Semua dari mereka juga setuju bahwa kehidupan spiritual, pelayanan, dan sedekah adalah hal yang sangat penting. Kebanyakan dari mereka menyumbangkan penghasilan 10 persen atau lebih dari pendapatan kotor. Mereka meyakini Tuhan sebagai sumber pemberi rizki, sebagai pendamping yang tidak kelihatan, atau sering diistilahkan sebagai "silent partner". Ini menunjukkan bahwa mereka memiliki kecerdasan spiritual, SQ yang sangat baik. Yang menarik adalah, para milyuner ternyata memiliki lebih dari sekedar IQ, EQ, SQ! Studi terhadap para milyuner dan orang-orang yang sangat sukses menujukkan bahwa mereka memiliki ciri-ciri lain yang menonjol. Pertama,

mereka mempunyai mimpi yang besar, tujuan yang jelas, dan teguh memegang mimpinya tersebut. Kedua, mereka tidak bekerja sendirian, mereka mampu memanfaatkan kekuatan yang ada di dalam dirinya maupun di sekeliling dirinya. Jadi, mereka mengembangkan dua kecerdasan lainnya sebagai pelengkap dari IQ-EQ-SQ. Mereka mengembangkan kecerdasan yang disebut Kecerdasan Aspirasi (Aspiration Intelligence), dan Kecerdasan Kekuatan (Power Intelligence). Inilah yang menjadi rahasia para milyuner dan orang-orang sukses, mereka secara simultan mengembangkan lima kecerdasan dengan seimbang! Sejak lahir, kita, manusia telah dianugerahi sesuatu yang luar biasa: senang belajar dan senang bertanya. Kelak inilah yang membuat manusia mampu mengukir peradaban gemilang. Peradaban Mesir kuno menorehkan Piramida, Indonesia kuno meracik Borobudur, Amerika modern membangunkan dunia dengan teknologi informasi dan teknologi komputer. Banyak yang berpendapat bahwa budaya Timur memberi kontribusi agar peradaban menjadi bijak, budaya Barat melengkapinya agar peradaban menjadi cerdas. Dan manusia akan terus maju tak terbatas. Dalam sisi manusia yang lebih dalam, kita memiliki anugerah ilahi yang membuat diri kita unik, sayangnya anugerah ini sering tertimbun oleh kesibukan sehari-hari. Anugerah ini sebenarnya adalah inti matahari diri kita, matahari kemanusiaan. Anugerah ilahi terpenting ini adalah kebebasan untuk memilih. Dari anugerah penting inilah anugerah anugerah yang lain saling terkait. Manusia dilengkapi dengan anugerah kesadaran diri, imajinasi, suara hati, dan kehendak bebas. Dengan anugerah-anugerah inilah manusia dapat terus bergerak maju tak terbatas. Anugerah proses, yaitu senang belajar dan senang bertanya, yang dipadukan dengan anugerah diri, yaitu kesadaran diri, imajinasi, suara hati dan kehendak bebas elengkapi manusia dengan sayap-sayap perkasa untuk terbang menggapai kesempurnaan. Manusia mampu menyempurnakan kehidupan sosial bermasyarakat dalam bisnis, pendidikan, penegakan hukum, pembangunan gedung pencakar langit, pengembangan teknologi nuklir, penemuan teknologi informasi dan lain-lain. Di sisi dalam, manusia juga mampu menyempurnakan pemahamannya tentang kemanusiaan, makna kehidupan, arti suatu pengorbanan, dan bakti kepahlawanan. Matahari SEPIA adalah suatu upaya untuk menerbitkan kembali matahari diri kita, matahari kemanusiaan kita, matahari 'milyuner' kita.

Aspiration Intelligence
Awalnya adalah karunia kesadaran diri. Manusia mampu menyadari keberadaan dirinya di dunia ini. Dengan kesadaran diri inilah manusia dapat mendeteksi kebutuhan-kebutuhannya dan keinginan-keinginannya. Manusia butuh makan, ingin hidup enak, ingin menikmati alam, ingin mencipta, ingin meraih sesuatu, ingin memiliki makna hidup. Kesadaran diri akhirnya menggerakkan karunia kecerdasan pertama, yaitu kemampuan manusia untuk bermimpi, membuat tujuan, dan cita-cita. Manusia mampu beraspirasi. Inilah kecerdasan aspirasi (Aspiration Intelligence), kecerdasan membuat cita-cita. Kecerdasan aspirasi di antara manusia hadir dalam tingkat yang berbedabeda. Karena itulah ada seorang manusia yang memiliki cita-cita besar dan tinggi, dan ada yang memiliki cita-cita sederhana. Studi yang dilakukan oleh para ahli tentang keinginan manusia, menggambarkan adanya kelompok yang memiliki cita-cita tinggi dan selalu mampu memperbaharui cita-cita tersebut. Kelompok ini, disebut Climbers atau para pendaki, terus berusaha meraih cita-cita yang lebih tinggi. Sementara terdapat pula kelompok yang kurang teguh memperbaharui cita-citanya sehingga mudah berhenti pada cita-cita yang sudah tercapai. Ini disebut sebagai kelompok Campers, atau mereka yang berkemah di tengah jalan. Bahkan ada kelompok yang bermimpi tinggi namun bercita-cita rendah, sehingga sangat sedikit keinginan mewujudkan cita-citanya. Kelompok ini, Quitters atau yang menyerah, adalah mereka yang tidak teguh bertahan dengan cita-cita tinggi dan merubahnya menjadi cita-cita yang sangat sederhana. Penelitian perbandingan antara para milyuner terhadap orang-orang biasa menunjukkan bahwa kecerdasan aspirasi ini menjadi salah satu perbedaan yang sangat menonjol. Kebanyakan orang tidak berani berpikir dan bermimpi besar. Itulah mengapa kebanyakan orang tidak mencapai prestasi yang besar, karena memang tidak pernah memimpikan prestasi yang besar! Dalam perjalanan meraih cita-cita manusia kemudian sadar bahwa meraih cita-cita atau sukses sangat berbeda dengan bahagia. Meraih sukses sebagai suatu tujuan dapat diukur oleh manusia. Manusia bisa menjelaskan bahwa dia mampu meraih sebagian kecil, sebagian besar, atau seluruh cita-citanya. Dengan adanya tujuan, sukses dapat diukur. Namun ternyata perasaan bahagia sangatlah subyektif, sulit diukur. Manusia bisa berbahagia saat belum mencapai cita-cita, sebaliknya dapat merasa sedih sesaat setelah mencapai cita-cita. Jadi bahagia tidak identik dengan sukses mewujudkan cita-cita. Bahagia muncul dengan cara berbeda.

Spiritual Intelligence
Ternyata setelah disadari oleh manusia, bahagia sebagai sebuah perasaan subyektif lebih banyak ditentukan dengan rasa bermakna. Rasa bermakna bagi manusia lain, bagi alam, dan terutama bagi kekuatan besar yang disadari manusia, Tuhan. Manusia mencari makna, inilah penjelasan mengapa dalam dalam keadaan pedih dan sengsara sebagian manusia masih tetap dapat tersenyum. Karena bahagia tercipta dari rasa bermakna, dan ini tidak identik dengan mencapai cita-cita. Kesadaran tentang penyebab rasa bahagia ini menggerakkan karunia kecerdasan kedua, kecerdasan spiritual (Spiritual Intelligence). Ini adalah kecerdasan manusia dalam memberi makna. Manusia yang memiliki taraf kecerdasan spiritual tinggi mampu menjadi lebih bahagia dan menjalani hidup dibandigkan mereka yang taraf kecerdasan spiritualnya rendah. Dalam kondisi yang sangat buruk dan tidak diharapkan, kecerdasan spiritual mampu menuntun manusia untuk menemukan makna. Kecerdasan spiritual bukanlah agama (religi). Terlepas dari agama, manusia dapat memberi makna melalui berbagai macam keyakinan. Ada yang merasa hidupnya bermakna dengan menyelamatkan anjing laut. Ada yang merasa bermakna dengan membuat lukisan indah. Bahkan ada yang merasa mendapatkan makna hidup dengan menempuh bahaya bersusah payah mendaki puncak tertinggi Everest di pegunungan Himalaya. Karena manusia dapat merasa memiliki makna dari berbagai hal, agama (religi) mengarahkan manusia untuk mencari makna dengan pandangan yang lebih jauh. Bermakna di hadapan Tuhan. Inilah makna sejati yang diarahkan oleh agama, karena sumber makna selain Tuhan tidaklah kekal. Ada kesan yang salah bahwa para milyuner bukanlah orang yang relijius. Hal ini disebabkan pemberitaan tentang orang-orang jahat yang mempunyai kekayaan 'semu', seperti koruptor, penipu, konglomerat rakus, yang memiliki kekayaan dengan jalan tidak halal. Orang-orang ini menjadi berita karena tindak-tanduknya yang merugikan masyarakat banyak. Karena orang-orang jahat ini 'tampak' kaya, maka sebagian publik mendapat gambaran bahwa orang kaya adalah orang jahat dan rakus, para penindas orang miskin. Publik lupa bahwa banyak orang miskin juga jahat dan rakus. Jahat dan rakus tidak ada hubungan dengan kaya atau miskin. Para milyuner sejati, yang mendapatkan kekayaan dengan jalan halal, ternyata justru sebaliknya sangat relijius. Mereka menyumbangkan banyak hartanya di jalan amal. Mereka mendirikan rumah sakit, panti asuhan, riset kanker, dan berbagai yayasan

amal. Dan kebanyakan dari mereka menghindari publikasi. Berbagai studi menunjukkan bahwa para milyuner sejati menyumbangkan minimal 10 persen dari pendapatan kotor untuk kegiatan amal, bahkan saat dulu mereka masih miskin. Mereka menyadari bahwa kekayaan mereka hanyalah titipan dari Tuhan, 'silent partner' mereka. Akhirnya melalui kecerdasan spiritual manusia mampu menciptakan makna untuk tujuantujuannya. Hasil dari kecerdasan aspirasi yang berupa cita-cita diberi makna oleh kecerdasan spiritual. Melalui kecerdasan spiritual pula manusia mampu tetap bahagia dalam perjalanan menuju teraihnya cita-cita.

Intelectual Intelligence
Didorong keinginan untuk meraih cita-cita manusia menggunakan kecerdasan ketiga, yaitu kecerdasan yang berkaitan dengan proses mewujudkan, proses penciptaan. Inilah karunia kecerdasan intelektual (Intelectual Intelligence), yaitu kecerdasan yang berhubungan dengan kemampuan manusia untuk belajar dan menciptakan sesuatu. Sebagian orang menyebutnya sebagai bakat. Memang setiap orang dikaruniai kelebihan berbeda-beda dalam kecerdasan intelektual ini. Istilah yang populer adalah IQ yang berbeda. Sebagian orang memiliki bakat lebih di kemampuan logika matematika. Sebagian lain lebih condong ke seni atau bahasa. Bahkan ada yang cenderung dalam pengolahan fisik. Semuanya berhubungan dengan kemampuan belajar dan penciptaan. Yang kuat matematika seperti Einstein lebih mudah untuk memahami persoalan matematika, memecahkan persoalan, bahkan mendefinisikan problem matematika. Kekuatan Einstein ada pada kemampuan belajar dan penciptaan di sekitar masalah matematika. Di lain sisi, seorang Michael Jordan adalah orang yang memiliki bakat di bidang olahraga. Dia dengan mudah menguasai suatu permainan basket (kemampuan belajar) dan bisa tampil di pertandingan dengan luar biasa (kemampuan penciptaan). Michael Jordan memiliki kecerdasan intelektual yang berbeda dengan Einstein. Manusia menyadari bahwa Tuhan memberi karunia berbeda-beda kepada setiap orang. Semua karunia kecerdasan penciptaan ini memiliki potensi sama, dikembalikan kepada manusia untuk mampu menggunakannya dalam meraih cita-cita. Akhirnya kita dapat melihat orang meraih sukses dengan berbagai cara yang berbeda. Ada yang melalui karya teknologi, ada yang melalui olah raga, dan ada yang melalui kreatifitas seni. Para milyuner

dengan jelas terlihat sebagai pembelajar yang baik. Mereka belajar dan terus belajar. Mereka haus akan pengetahuan baru. Mereka berpikiran terbuka dan senantiasa terus meningkatkan diri. Mereka secara intuitif sadar bahwa Tuhan memberi kelebihan berbeda-beda bagi setiap orang. Karena itu mereka tidak menjadi rendah diri hanya gara-gara kurang pintar dalam matematika. Ada banyak karunia bakat yang lain. Dan karena mereka percaya bahwa Tuhan Maha Adil, maka mereka pun yakin bahwa bakat unik yang dikaruniakan kepada mereka akan mampu digunakan untuk meraih sukses. Kalau memang benar bahwa manusia diberi potensi sama untuk meraih sukses, mengapa sebagian orang berhasil mewujudkan cita-citanya sementara sebagian lainnya tidak? Ternyata dalam proses mewujudkan cita-cita tersebut kemampuan penciptaan perlu memperhatikan faktor lain selain bakat : emosi.

Emotional Intelligence
Studi menunjukkan bahwa peran emosi dalam meraih tujuan ternyata jauh lebih besar dibandingkan dengan bakat. Akhirnya disadari ada hal lainnya, kecerdasan emosi (Emotional Intelligence), yaitu kemampuan manusia untuk mendeteksi dan mengelola emosi baik di dalam dirinya maupun di dalam diri orang lain. Kelompok orang yang mampu meraih sukses ternyata adalah kelompok orang yang mampu mengendalikan emosi dan peka terhadap emosi orang lain. Sangat mudah dipahami bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki emosi. Karena itu emosi mempunyai peran penting dalam mendukung keberhasilan. Ketika menghadapi tantangan secara pribadi, manusia perlu mengelola emosinya yang berupa perasaan takut, malas, tidak percaya diri, dan merubahnya menjadi perasaan berani, rajin, dan percaya diri. Juga dikarenakan dalam proses mencapai tujuan manusia seringkali memerlukan manusia lain, maka kepekaan terhadap emosi orang lain memberi peran dalam keberhasilan seseorang. Seseorang perlu mengembangkan kemampuan bertenggang rasa, berempati, saling memotivasi, hormat, bertahan untuk jujur, tegas, dan lainnya. Semua hal tersebut berhubungan dengan kemampuan mengenali dan mengelola emosi. Inilah peran kecerdasan emosi. Studi terhadap para milyuner menunjukkan ciri yang sama : mereka mampu menunda kesenangan, delay gratification. Mereka mempunyai sikap menabung dan berinvestasi, suatu sikap yang memerlukan kontrol diri kuat. Mereka mengenali emosi diri dan sanggup mengendalikannya. Mereka melawan emosi takut, cemas, terburu-buru, berfoya-foya, rendah diri, untuk

akhirnya menang menjadi pribadi yang berani, ulet, sabar, sederhana, dan berjiwa merdeka. Mereka mampu pula mengenali emosi orang lain, sehingga dapat membawakan diri dengan baik terhadap orang lain, mampu bekerjasama, dan peka untuk saling menolong. Tidak dapat dipungkiri bahwa para milyuner sejati mempunyai kendali diri yang sangat kuat. Kecerdasan emosi membuat manusia dapat bersikap pro aktif, yaitu kemampuan untuk memilih respon. Binatang sebaliknya adalah organisme yang reaktif. Binatang berespon secara langsung terhadap rangsang (stimulus) dari luar. Ketika dipukul, misalnya, binatang akan berespon secara langsung, takut lalu lari atau marah lalu menyerang. Manusia berbeda. Dengan kecerdasan emosi manusia mampu mengelola respon. Ketika dipukul manusia juga merasa takut atau marah, namun bisa memilih respon untuk bersikap berbeda. Pura-pura berani padahal takut. Pura-pura takut padahal berani. Atau bahkan menunjukkan sikap bahagia dengan tersenyum. Karena memiliki kecerdasan emosi manusia mampu memilih respon. Semakin cerdas emosi, semakin baik dan pintar dalam memilih respon.

Power Intelligence
Dan akhirnya manusia menyadari adanya kecerdasan kelima yaitu kecerdasan kekuatan (Power Intelligence). Ini adalah kecerdasan manusia dalam mengenali dan mengelola kekuatan baik dalam dirinya maupun di luar dirinya. Kecerdasan kekuatan ini menentukan seberapa efektif dan efisien seseorang dalam usaha mencapai tujuannya. Secara intuitif manusia tahu bahwa dengan menggunakan alat Bantu dia dapat bekerja lebih efisien. Manusia memanfaatkan pecahan batu untuk dijadikan pisau. Dengannya manusia bisa berburu lebih efisien dan efektif. Manusia juga mengetahui bahwa bekerja sama dengan manusia lain dapat membuat pekerjaan lebih mudah. Manusia menggabungkan kekuatan bakat, menyusun strategi, bekerja sama, membuat alat, bahkan bermimpi (membuat tujuan) bersama. Semua ini adalah tanda bahwa manusia dikaruniai kecerdasan kekuatan. Sebagian orang lebih cerdas kekuatan dibandingkan sebagian yang lain. Hal ini menjelaskan fenomena mengapa sebagian orang lebih cepat meraih sukses dibandingkan sebagian yang lain. Mereka yang cerdas kekuatan tidak sekedar mengandalkan kekuatan dirinya namun dengan cerdas mengelola pula kekuatan di luar dirinya. Kekuatan alam, kekuatan manusia, kekuatan binatang, dan juga instrumen-instrumen abstrak yang diciptakan manusia melalui kesepakatan seperti uang dan hukum. Kekuatan-kekuatan inilah yang

dengan cerdas dikelola oleh para milyuner untuk mencapai tujuan-tujuan mereka.

Karakter dan Kompetensi


Kelima kecerdasan manusia, yang ciri-cirinya kita temukan dalam pribadi para milyuner sejati, selanjutnya disebut sebagai kecerdasan SEPIA (Spiritual, Emotional, Power, Intelectual, Aspiration). Kelima kecerdasan ini menggambarkan dua hal penting dalam diri manusia, yaitu karakter (Character) dan kemampuan / kompetensi (Competence). Karakter adalah hal-hal yang berhubungan dengan sikap manusia. Di masa dahulu, karakter dianggap sebagai ukuran terpenting manusia. Karena itu dalam cerita-cerita jaman dahulu ditekankan tentang sikap ksatria, kejujuran, keuletan, kesabaran, dan semacamnya. Sedikit berbeda di awal abad-20, yaitu di jaman industri, kemampuan (kompetensi) menjadi ukuran penting. Kompetensi, yaitu hal-hal yang berkaitan dengan penciptaan, menjadi penting karena industrialisasi menuntut kemampuan-kemampuan yang lebih tinggi. Karena pada saat itu manusia mampu menciptakan sistemsistem yang jauh lebih baik (mesin, sistem upah, sistem hukuman, dsb) maka karakter menjadi bidang yang agak terabaikan. Pada masa ini ukuran keberhasilan manusia diyakini dapat dilihat dari level IQ (Intelligence Quotioent) yang lebih menggambarkan potensi kompetensi manusia. Pandangan terhadap manusia kembali seimbang di akhir abad-20 dengan banyaknya temuan penelitian tentang peran karakter bagi sukses seseorang. Di akhir abad-20 kembali ramai wacana EQ (Emotional Quotient), AQ (Adversity Quotient), dan SQ (Spiritual Quotient). Yang belum dibahas adalah adanya kecerdasan kekuatan (Power Intelligence) dan kecerdasan aspirasi (Aspiration Intelligence). Yang pasti, manusia kembali dipandang memiliki dua unsur dasar, yaitu karakter dan kompetensi. Saat ini karakter dan kompetensi dipandang sama penting. Seseorang ketika melamar pekerjaan misalnya, akan diuji baik kompetensinya maupun karakternya. Mereka yang diyakini akan berhasil dalam pekerjaan biasanya memiliki kemampuan yang diperlukan (kompetensi) maupun karakter yang disyaratkan seperti jujur, tekun, sabar, hormat, dan sebagainya. Seorang yang mempunyai keahlian sangat tinggi namun diragukan karakternya dapat menjadi berbahaya. Dia mungkin pintar, tapi bisa saja tidak bertanggungjawab, korupsi, menipu, membuat suasana kerja tidak nyaman, dan sebagainya. Sebaliknya, seseorang yang hanya memiliki karakter namun tanpa kompetensi juga tidak berguna, karena tidak dapat menciptakan nilai.

Boleh saja dia jujur, tekun, hormat, tapi bila tidak memiliki pendidikan dan keahlian yang diperlukan akan menyebabkan banyak kesalahan, tidak efisien, tidak efektif, dan bahkan dapat membahayakan karena kesalahan kerja. Menggunakan orang dengan karakter baik tapi tanpa kompetensi sama berbahayanya dengan orang kompeten yang tidak berkarakter. Karakter dan kompetensi ibarat malam dan siang, ibarat yin dan yang. Keduanya perlu ada bersamaan, saling mempengaruhi, dan seimbang. Tanpa salah satunya manusia menjadi pincang.

Matahari SEPIA
Agar mampu untuk sukses dan bahagia, manusia memerlukan pengembangan kelima kecerdasannya. Sukses disini dalam arti yang luas, menyangkut finansial, bisnis, karir, keluarga, kesehatan, pengembangan diri, dan semua tujuan yang berharga bagi manusia. Kelima kecerdasan ini merupakan refleksi dari karakter dan kompetensi. Kecerdasan aspirasi (Aspiration), spiritual (Spiritual) dan emosional (Emotional) mewakili karakter (Character). Sedangkan kecerdasan intelektual (Intelectual) dan pengelolaan-kekuatan (Power) mewakili kompetensi (Competence). Hubungan keseluruhan kecerdasan tersebut digambarkan dengan baik melalui Matahari SEPIA. Matahari SEPIA Di tengah bulatan matahari adalah keseimbangan karakter dan kompetensi yang dilambangkan dengan C-C (Character-Competence) dalam bentuk lingkaran Yin-Yang. Kekuatan karakter terpancar melalui tiga kecerdasan yaitu aspirasi (A), spiritual (S), dan emosi (E). Sedangkan kekuatan kompetensi terpancar melalui dua kecerdasan yaitu intelektual (I) dan pengelolaan-kekuatan (P). Keseimbangan Alam diciptakan dalam keseimbangan. Demikian pula dalam mengelola kecerdasan manusia perlu seimbang. Mengelola hanya kemampuan intelektual saja tidaklah seimbang. Demikian pula bila hanya fokus pada nilai spiritual, tidak juga seimbang. Keseluruhan kecerdasan SEPIA perlu dikelola, dikembangkan, dan dimanfaatkan secara seimbang. Menjadi selaras dan seimbang adalah kunci menuju sukses dan bahagia.