Anda di halaman 1dari 22

Profil Wirausaha

Fakultas Ekonomi Universitas Jambi

MEREKA PAHLAWAN KITA


agsyarif.blogspot.com

POS Laporan Laba Rugi PENDAPATAN Harga Pokok Penjualan Laba Kotor Biaya Usaha Laba Usaha Biaya Bunga Laba Sebelum Pajak Pajak 15% Laba Bersih

PIHAK berkepentingan 1,375,000 Masyarakat 866,250 Pemasok, Tenaga Kerja, Pabrikan 508,750 Karyawan, Distributor, PLN, PDAM, 243,000 TELKOM 265,750 60,000 Kreditor 205,750 30,863 Pemerintah 174,888 Perusahaan dan MEREKA

Mereka memulai hari dengan bangun lebih awal sebelum kita yang dilayani bangun dari tidur, tujuannya satu agar dapat menyediakan kebutuhan masyarakat (konsumen) akan produk/barang/jasa. Dalam Laporan Keuangan tercermin pada Pos Penjualan/Pendapatan. Mereka senantiasa memikirkan pemasok (petani, peternak, produsen) agar produk pemasok dimanfaatkan seefisien mungkin (jangan mubazir) untuk diolah menjadi bentuk produk lainnya yang siap disajikan, dan memperoleh nilai tambah dari proses produksi tersebut. Mereka tunaikan kewajiban dengan mendahulukan kepentingan pemasok, agar pemasok dapat lagi memutar dananya dan menghasilkan produk secara berkelanjutan. Dalam Laporan Keuangan merupakan pos Bahan baku dan bagian dari Harga Pokok Produksi. Mereka senantiasa mendahulukan hak tenaga kerja dengan membayar upah tepat waktu, adakalanya sebelum keringat tenaga kerja yang terlibat kering. Pada malam hari disaat tenaga kerja mereka tidur pulas, Mereka berpikir keras guna memenuhi hak upah tenaga kerja di esok hari. Dalam Laporan Keuangan merupakan pos Upah Tenaga Kerja Langsung dan bagian dari Harga Pokok Produksi. Mereka menghargai karya anak bangsa, berupa teknologi yang dimanfaatkan agar bekerja lebih produktif dalam proses produksi, dan menunaikan pembayaran teknologi tersebut sebelum mereka gunakan di perusahaan mereka. Dalam Laporan Keuangan merupakan pos Biaya Overhead Pabrik dan bagian dari Harga Pokok Produksi.

2012 @ Drs. H. Agus Syarif, MBS, APEC Certified Business Counsellor

18

Profil Wirausaha
Fakultas Ekonomi Universitas Jambi

Setelah mendahulukan kesejahteraaan masyarakat (konsumen), pemasok, tenaga kerja, dan pabrikan - Baru ada bagian yang dapat mereka nikmati, namun mereka masih belum juga mendahulukan kepentingan mereka dengan segera menikmatinya. Dalam Laporan Keuangan merupakan pos Laba Kotor. Karena mereka masih mendahulukan kepentingan pihak lain, yaitu kepentingan karyawan (membayar gaji karyawan tepat waktu), padahal adakalanya karyawan mereka melakukan demo dan tidak peduli kondisi kesehatan keuangan mereka. kepentingan orang-orang yang terlibat dalam mendistribusikan barang agar sampai pada konsumen (masyarakat) kepentingan penyedia listrik (PLN), air (PDAM), telpon (TELKOM) kepentingan-kepentingan pihak lainnya yang dalam bahasa Laporan Keuangan disebut Biaya Usaha/Operasional. Bila Laba Kotor lebih besar dari Biaya Usaha, berarti ada Laba Usaha, merupakan bagian yang bisa dimanfaatkan mereka. Tapi mereka masih tetap belum mau mengambilnya, karena masih ada pihak lain yang perlu didahulukan, yakni pemberi pinjaman (kreditor). Kreditor meminjamkan dananya kepada mereka, dengan berbagai persyaratan yang kadangkala memberatkan dan tidak adil (manfaat sepenuhnya dinikmati kreditor, dan risiko sepenuhnya untuk mereka). Tapi mereka tetap berjuang untuk mengusahakan memenuhi angsuran pokok plus bunganya. Bila beban bunga lebih kecil dari laba usaha, maka mereka memperoleh Laba Sebelum Pajak. Laba ini belum juga mereka ambil, karena mereka peduli kepada masyarakat luas dan negara. Mereka bayar pajak sesuai dengan ketentuan, patuh bayar banyak agar dapat digunakan untuk membangun infrastruktur. Tapi ironisnya adakalanya pajak yang masuk buat negara, dinikmati oleh oknum tertentu untuk kepentingan pribadi. Setelah pajak mereka bayar, maka sepenuhnya kelebihan itu adalah hak mereka (Laba Bersih). Mereka dapat menggunakan laba tersebut untuk pelesir, menikmati hiburan, belanja, dan kegiatan konsumtif lainnya. Anehnya, mereka belum juga mau mendahulukan kepentingan mereka.

2012 @ Drs. H. Agus Syarif, MBS, APEC Certified Business Counsellor

19

Profil Wirausaha
Fakultas Ekonomi Universitas Jambi

Mereka lebih cenderung mengalokasikan laba tersebut untuk investasi, untuk kepentingan perusahaan. Dan putaran arus kas tersebut terus berkesinambungan, kepentingan pihak lain mereka dahulukan: kepentingan masyarakat, pemasok, tenaga kerja, pabrikan, karyawan, distributor, kreditor, pemerintah, dll. Pihak-pihak itu adalah KITA. Adakah penghargaan bagi mereka ?? pribadi-pribadi yang mempunyai karakter pahlawan dan pejuang sejati merekamereka yang berusaha/berniaga, baik skala mikro, kecil, dan menengah (UMKM) maupun skala usaha besar.

2012 @ Drs. H. Agus Syarif, MBS, APEC Certified Business Counsellor

20

Profil Wirausaha
Fakultas Ekonomi Universitas Jambi

Aa Gym memulai pendidikan formal awal di SD Damar sebuah SD

swasta yang kini sudah dibubarkan. Sekolah ini cukup jauh dari rumahnya, sekitar tiga kilometer. Masa itu, pilihan satu-satunya ke sekolah adalah berjalan kaki. Menjelang naik ke kelas 3 SD, pindah ke KPAD Gegerkalong. Aa Gym pun pindah sekolah ke SD Sukarasa 3. Jiwa dagang Aa Gym sudah terbentuk sejak TK, terbawa-bawa hingga di Sekolah Dasar. Misalnya, beliau pernah menjual petasan yang memang pada waktu itu belum dilarang seperti sekarang. Alhasil, beliau pernah mendapat teguran dan pengurus DKM masjid. Namun, pada waktu itu beliau belum begitu mengerti ilmu agama dengan baik. Setelah lulus SMA dan memasuki kuliah Aa Gym tidak lulus tes Sipenmaru. Aa Gym mencoba daftar ke Pendidikan Ahli Administrasi Perusahaan (PAAP) Universitas Padjadjaran, yaitu sebuah program D3 di Fakultas Ekonomi. Alhamdulillah beliau diterima. Namun, kuliah di sini hanya bertahan selama tahun. Beliau lebih sibuk berbisnis daripada mengikuti kuliah. Teman-teman kuliah pun lebih mengenal beliau sebagai tukang dagang. Selepas PAAP, beliau masuk ke Akademi Tekhnik Jenderal Abmad Yani (ATA, sekarang Unjani). Kampusnya waktu itu sangat sederhana karena menumpang di SD Widyawan atau kadang di PUSDIKJAS. Maklum, karena pemiliknya adalah Yayasan Kartika Eka Paksi milik Angkatan Darat. Selama kuliah di ATA, beliau mengontrak sebuah kamar di pinggir sawah karena benar-benar ingin melatih hidup mandiri. Kegiatan berbisnis masa kuliah juga semakin menggebu. Beliau pernah membuat usaha keset dan perca kain. Beliau juga jadi penjual baterai dan film kamera kalau ada acara wisuda. Aa Gym juga sempat menjadi supir angkot jurusan Cibeber-Cimahi sekedar menambah pemasukan. Inti dari semua ini, memang Aa Gym sangat senang untuk membiayai kebutuhan sendiri tanpa menjadi beban siapa pun. Selain itu, beliau juga melatih diri untuk tidak dibelenggu oleh gengsi dan atribut pengekang lainnya. Aa Gym telah menyelesaikan program sarjana muda di ATA walaupun belum mengikuti ujian negara. Berarti, beliau memang tak berhak menyandang gelar apa pun. Kunci kesuksesan Aa Gym dalam menjalankan roda bisnis di pesantrennya, hingga telah berkembang menjadi 24 bidang usaha dalam 12 tahun, terletak pada pembangunan kredibilitas para pengelolanya yang meliputi tiga aspek utama yaitu, nilai kejujuran, kecakapan (profesionalisme), dan inovatif. Nilai kejujuran yang diajarkan meliputi ketepatan dalam menepati janji, manajemen waktu, memiliki fakta dan data yang jelas, terbuka, kemampuan mengevaluasi, rasa tanggung jawab dan pantang putus asa.

Nama : Yan Gymnastiar Nama Populer : KH Abdullah Gymnastiar Nama Panggilan : Aa Gym Lahir : Bandung, 29 Januari 1962 Istri : Ninih Muthmainah Muhsin Anak : - Ghaida Tsuraya - Muhammad Ghazi A - Ghina Raudhatul Jannah - Ghaitza Zahira Shofa - Ghefira Nur Fatimah - Ghaza M. Al Ghazali Agama: Islam Pendidikan formal : D-3 PAAP (Pendidikan Ahli Administrasi Perusahaan) Unpad - Fakultas Teknik Universitas Jenderaln Ahmad Yani Pendidikan Agama : - Pesantren Miftahul Huda Manonjaya Tasikmalaya - Belajar pada Ajengan Junaidi di Garut Karir: Komandan Resimen Mahasiswa di Akademi Teknik Jenderal Achmad Yani (1982) Pendiri Kelompok Mahasiswa Islam Wiraswasta (1987) Pemimpin Pondok Pesantren Daarut Tauhid, Bandung (1990sekarang) Alamat : Jalan Gegerkalong Girang No 38, Bandung

2012 @ Drs. H. Agus Syarif, MBS, APEC Certified Business Counsellor

21

Profil Wirausaha
Fakultas Ekonomi Universitas Jambi

SOICHIRO HONDA
(Montir tangguh yang menjadi bos industri mobil Jepang) Soichiro Honda lahir tanggal 17 November 1906 di Iwatagun (kini Tenrryu City) yang terpencil di Shizuoka prefecture. Daerah Chubu di antara Tokyo, Kyoto, dan Nara di Pulau Honshu yang awalnya penuh tanaman teh yang rapi, yang disela-selanya ditanami arbei yang lezat. Walaupun Gihei Honda miskin, namun ia suka pembaharuan. Ketika muncul pipa sigaret modal Barat, ia tidak ragu-ragu mengganti pipa cigaret tradisionalnya yang bengkok, tidak peduli para tetangganya menganggapnya aneh. Rupanya sifat itu dan juga keterampilannya menangani mesin menurun pada anak sulungnya. Sebelum masuk sekolah pun Soichiro sudah senang, membantu ayahnya di bengkel besi. Ia juga sangat terpesona melihat dan mendengar dengum mesin penggiling padi yang terletak beberapa kilometer dari desanya. Sewaktu untuk pertama kalinya Soichiro melihat mobil. Ketika itu saya lupa segalanya. Saya kejar mobil itu dan berhasil bergayut sebentar di belakangnya. Ketika mobil itu berhenti, pelumas menetes ke tanah. Saya cium tanah yang dibasahinya. Barangkali kelakuan saya persis seperti anjing. Lalu pelumas itu saya usapkan ke tangan dan lengan. Mungkin pada saat itulah di dalam hati saya timbul keinginan untuk kelak membuat mobil sendiri. Sejak saat itu kadang-kadang ada mobil datang ke kampung kami. Setiap kali mendengar deru mobil, saya berlari ke jalan, tidak peduli pada saat itu saya sedang menggendong adik. Gihei Honda sudah beralih dari pandai besi menjadi pengusaha bengkel sepeda. Gihei Honda memiliki majalah The World of Wheels yang dibaca Soichiro dengan penuh minat. Di majalah itu sebuah bengkel mobil dari Tokyo memasang iklan mencari karyawan. Soichiro buruburu melamar dan ia diterima. Walaupun ayahnya khawatir, namun Soichiro diantar juga ke kota besar itu. Honda hampir tidak percaya pada telinganya Honda merasa saat menunggu dipanggil belajar menjadi montir itu benar-benar merupakan ujian ketabahan yang paling berat, yang pernah dihadapinya seumur hidupnya. Di masa-masa setelah itu ia sudah tidak takut lagi menghadapi rintangan apa pun berkat ketabahan yang diperolehnya selama menjadi kacung. Honda yang selama kariernya tidak tahu banyak mengenai uang, Cuma mendapat keuntungan sedikit sekali tahun pertama itu. Tetapi Honda merasa beruntung karena bengkelnya sukses. Ia memutuskan untuk menabung dan memperkirakan selama masa kerjanya akan mampu mengumpulkan sampai 1.000 yen.

Ayahnya bernama Gihei Honda seorang tukang besi yang beralih menjadi pengusaha bengkel sepeda, sedangkan ibunya bernama Mika, Soichiro anak sulung dari sembilan bersaudara, namun hanya empat yang berhasil mencapai umur dewasa. Yang lain meninggal semasa kanakkanak akibat kekurangan obat dan juga akibat lingkungan yang kumuh. Di sekolah prestasinya rendah. Honda mengaku ulanganulangannya buruk. Ia tidak suka membaca, sedangkan mengarang dirasakannya sangat sulit. Tidak jarang ia bolos. Sampai sekarang pun saya lebih efisien belajar dari TV daripada dari membaca. Kalau saya membaca, tidak ada yang menempel di otak, katanya.

2012 @ Drs. H. Agus Syarif, MBS, APEC Certified Business Counsellor

22

Profil Wirausaha
Fakultas Ekonomi Universitas Jambi

KOLONEL HARLAND SANDERS


Kolonel Harland Sanders, lahir pada tanggal 9 September 1890. Mulai aktif dalam mewaralabakan (franchise) bisnis ayamnya pada usia 65 tahun. Saat ini, usahanya yang dikenal dengan Kentucky Fried Chicken atau KFC telah tumbuh menjadi salah satu yang terbesar dalam sistem makanan siap saji di dunia. Sosok Kolonel Sanders, pionir dalam restoran siap saji menjadi simbol dari semangat kewirausahaan. Lebih dari satu miliar ayam goreng hasil resep Kolonel dinikmati setiap tahunnya dan itu tidak hanya di Amerika Utara. Bahkan tersedia hampir di 80 negara di seluruh dunia. Pada umur 6 tahun, ayahnya meninggal dunia. Ibunya sudah tidak bisa bekerja lagi, dan Harland muda sudah harus menjaga adik laki-lakinya yang baru berumur 3 tahun dan suster bayinya. Dengan kondisi ini ia harus memasak untuk keluarganya. Pada umur 7 tahun ia sudah pandai memasak di beberapa tempat memasak. Pada usia 10 tahun ia mendapatkan pekerjaan pertamanya didekat pertanian dengan gaji 2 dolar sebulan. Ketika berumur 12 tahun ibunya kembali menikah dan ia meninggal rumah tempat tinggalnya dekat Henryville, Ind., untuk mendapatkan pekerjaan di pertanian di daerah Greenwood, Ind. Dia berganti-ganti pekerjaan selama beberapa tahun, pertama sebagai tukang parkir pada usia 15 tahun di New Albany, Ind., dan kemudian sebagai pada usia 16 tahun menjadi tentara yang dikirim selama 6 bulan di kuba. Setelah itu ia menjadi petugas pemadam kebakaran, belajar ilmu hukum melalui korespondensi, praktik dalam pengadilan, asuransi, operator kapal feri, penjual ban, dan operator bengkel. Pada usia 40 tahun Kolonel mulai memasak untuk orang yang yang bepergian yang singgah di bengkelnya di Corbin, Ia belum punya restoran pada saat itu, tetapi ia menyajikan makanannya pada meja makannya di ruang makan di bengkelnya. Semakin banyak orang yang datang ke tempatnya untuk makan, akhirnya ia pindah ke seberang jalan dekat penginapan dan restoran yang kapasitasnya 142 orang. Selama hampir 9 tahun ia menggunakan resep yang dibuatnya dengan teknik dasar memasak hingga saat ini. Citra Sander semakin baik. Gubernur Ruby Laffoon memberi penghargaan Kentucky Colonel pada tahun 1935 atas kontribusinya bagi Negara bagian cuisine. Dan pada tahun 1939, Keberadaannya pertama kali terdaftar di Duncan Hines "Adventures in Good Eating."

2012 @ Drs. H. Agus Syarif, MBS, APEC Certified Business Counsellor

23

Profil Wirausaha
Fakultas Ekonomi Universitas Jambi

Pada awal tahun 1950 jalan raya baru antar negara bagian direncanakan melewati kota Corbin. Melihat akan berakhir bisnisnya, Kolonel menutup restorannya. Setelah membayar sejumlah uang, ia mendapatkan tunjangan sosial hari tuanya sebesar $105. Percaya diri dengan kualitas ayam gorengnya, Kolonel meyakinkan dirinya untuk membuka usaha waralaba yang dimulai tahun 1952. Ia pergi jauh menyeberangi Negara bagian dengan mobil dari satu restoran ke restoran lainnya, memasak sejumlah ayam untuk pemilik restoran dan karyawannya. Jika reaksi yang terlihat bagus, ia menawarkan perjanjian untuk mendapatkan pembayaran dari setiap ayam yang laku terjual. Pada tahun 1964, Kolonel Sanders mempunyai lebih dari 600 outlet waralaba untuk ayam gorengnya di seluruh Amerika dan Kanada. Pada tahun itu, ia menjual bunga dari pembayarannya untuk perusahaan Amerika sebanyak 2 juta dolar kepada sejumlah grup investor termasuk John Y. Brown Jr., yang kemudian menjadi Gubernur Kentucky dari tahun 1980 sampai 1984. Kolonel mengingatkan untuk menjadikan terbuka perusahaannya bagi publik. Pada tahun 1976, sebuan survey independen memberi peringkat kedua dunia sebagai selebriti yang terkenal di dunia. Dibawah pemilik baru, perusahaan Kentucky Fried Chicken tumbuh dengan cepat. Kemudian menjadi perusahaan terbuka pada 17 Maret 1966, dan terdaftar pada New York Stock Exchange pada 16 Januari 1969. Lebih dari 3,500 waralaba dan restoran yang dimiliki perusahaan beroperasi hampir di seluruh dunia ketika Heublein Inc. mengakusisi perusahaan KFC pada 18 Juli 1971 seharga $285 million. Kentucky Fried Chicken menjadi anak perusahaan dari R.J. Reynolds Industries, Inc. (sekarang RJR Nabisco, Inc.), semenjak Heublein Inc. diakuisisi oleh Reynolds pada tahun 1982. KFC diakuisisi pada Oktober 1986 dari RJR Nabisco, Inc. oleh PepsiCo, Inc., seharga kurang lebih 840 juta dolar. Pada Januari 1997, PepsiCo, Inc. mengumumkan spin-off restoran cepat sajinya -- KFC, Taco Bell dan Pizza Hut menjadi perusahaan restoran independen, Tricon Global Restorans, Inc. Pada Mei 2002, perusahaan mengumumkan menerima persetujuan pemilik saham untuk merubah nama perusahaan menjadi Yum! Brands, Inc. Perusahaan, yang dimiliki oleh A&W All-American Food Restorans, KFC, Long John Silvers, Pizza Hut dan Taco Bell restorans, adalah perusahaan restoran terbesar di dunia dalam kategori unit system dengan jumlah mendekati 32,500 di lebih dari 100 negara dan wilayah.

2012 @ Drs. H. Agus Syarif, MBS, APEC Certified Business Counsellor

24

Profil Wirausaha
Fakultas Ekonomi Universitas Jambi

Sampai akhirnya ia terserang penyakit leukemia pada tahun 1980 di usia 90 tahun, Kolonel telah melakukan perjalanan 250,000 mil dalam satu tahun kunjungan restoran KFC mengelilingi dunia. Dan itu semua dilakukan oleh seorang laki-laki berusia 65 tahun yang menggunakan uang jaminan sosialnya untuk memulai usaha. Impian untuk sukses tidak harus impian masa kecil, bisa juga saat usia sudah senja. Inilah kegigihan Kolonel Sanders pendiri waralaba ayam goreng terkenal KFC. Dia memulainya di usia 66 tahun, pensiunan angkatan darat dari negara adidaya, tidak memiliki uang sepeser pun kecuali dari tunjangan hari tuanya, yang semakin menipis. Dia memiliki keahlian dalam memasak, dia tawarkan resep masakannya ke lebih dari 1.000 restoran di negaranya. Akhirnya restoran yang ke-1008, menerima resepnya tersebut dan kini kita dapat menikmatinya di Indonesia, Kentucky Fried Chicken.

2012 @ Drs. H. Agus Syarif, MBS, APEC Certified Business Counsellor

25

Profil Wirausaha
Fakultas Ekonomi Universitas Jambi

AHMAD RESNO
Ahmad Resno, karena brewokan, masyarakat disekitarnya memanggilnya Pak Brewok Kelahiran Blora Jawa Tengah, 1965 beristri Harini dengan 2 anak perempuan, memulai usaha bengkel Pambudi Luhur tahun 2004, merupakan sosok pengusaha kecil sejati kategori Mereka Pahlawan Kita http://eksis.blogsome.com Tidak suka bicara, bangun subuh langsung bekerja dan menjelang maghrib istirahat. Kesukaannya hanya berkarya, berkarya, dan berkarya. Hasilnya pria tamatan SMP ini sudah menghasilkan berbagai teknologi tepat guna, benar-benar tepat dan benar-benar berguna bagi masyarakat disekilingnya. Ide membuat mesin molen muncul dengan meliihat kondisi nyata lingkungan disekitarnya, industri kerajinan batu bata dan genteng. Pengrajin batu bata di daerah Kebon IX Muara Jambi, mengolah tanah liat secara manual dan secara ratarata hanya dapat menghasilkan 300 bata per hari. Kemampuan berproduksi yang terbatas ini merupakan faktor penghambat untuk memenuhi permintaan pasar.

Berdasarkan kondisi ini, Ahmad Resno merakit berbagai komponen besi tua menjadi mesin molen batu bata. Dan hasilnya menakjubkan, mesin tersebut mampu berproduksi minimal 10.000 bata per hari. Takjubnya lagi, mesin tersebut dapat dimanfaatkan oleh semua pengrajin bata, karena didisain bisa dibawa kemanapun. Daya ungkit (Leverage) yang luar biasa, masyarakat pengrajin merasakan manfaat teknologi ini guna memenuhi permintaan akan bata yang semakin meningkat. Manfaat lain dari keberadaan mesin ini adalah penyerapan tenaga kerja. Tenaga kerja yang terlibat sebanyak 6-8 orang setiap mesin berproduksi. Dan Ahmad Resno sudah merakit
2012 @ Drs. H. Agus Syarif, MBS, APEC Certified Business Counsellor

26

Profil Wirausaha
Fakultas Ekonomi Universitas Jambi

35 mesin molen. Alhasil, pria pendiam ini, sudah membuka 210 lapangan pekerjaan bagi masyarakat. Subhanallah. Kualitas bata juga lebih baik, bila secara manual bata yang dihasilkan adakalanya kropos, sedangkan dengan menggunakan mesin ini hasilnya padat. Dan kualitas bata yang dihasilkan berdampak juga pada penggunaan bahan bakar (kayu) disinyalir lebih irit dalam proses pembakaran. Ahmad Resno, pengusaha kecil yang masih belum profit oriented menyadari bengkelnya membutuhkan modal. Perbankan belum menyentuh usahanya karena ketidaklengkapan perizinan. Padahal dari kriteria 5cs sisi Capacity nya yakni kemampuan UMKM untuk melunasi hutangnya (capacity to repay) melalui potensi yang dimilikinya dan kemampuan menghasilkan keuntungan dari usahanya menjanjikan, atau kata iklan mie Lulu Tobing megang banget.

2012 @ Drs. H. Agus Syarif, MBS, APEC Certified Business Counsellor

27

Profil Wirausaha
Fakultas Ekonomi Universitas Jambi

Tahun 2001 saya (Khairul Ummah: Pendiri Sepia Institute Bandung) mendapat kesempatan untuk mengunjungi sejumlah perusahaan terkemuka Jepang di bidang teknologi. Program dengan sponsor JICA ini salah satunya mengunjungi Matsushita Electric Japan di Osaka. Saya tidak kenal siapa Matsushita, sampai penerjemah yang kebetulan duduk di samping saya menjelaskan bahwa Matsushita adalah produsen barang elektronik bermerek Panasonic. Ah, kalau itu saya kenal! Di pabrik Matsushita kami disuguhi berbagai produk paling baru seperti HDTV, home theatre, film 3D, hingga ponsel WCDMA ber MP3 yang sangat jernih bunyi musiknya (ini tahun 2001, saat ponsel Nokia yang kubawa masih berlayar hijau!). Jelas sangat mengesankan. Namun masih ada yang lebih mengesankan, yaitu saat kami mengunjungi museum Matsushita. Bagi rekan serombongan mungkin museum ini tak terlalu mengesankan, sebaliknya bagi saya justru sangat mengesankan. Museum ini menceritakan kisah awal Matsushita membangun perusahaannya. Perusahaan yang kini hampir seabad berdiri (dimulai 1917 saat usia masih 22 tahun) ternyata dimulai dari membuat fitting lampu! (Hal ini semakin meyakinkan diri saya bahwa sesuatu yang besar awalnya dimulai dari sesuatu yang kecil!) Salah satu kisah lain yang mengesankan adalah saat dia bertahan tidak mem-PHK karyawan sewaktu resesi ekonomi melanda Jepang. Untuk menghemat biaya, Matsushita memberlakukan kerja setengah hari dengan gaji tetap tidak dipotong. Tujuannya adalah membatasi overhead saat permintaan barang menurun, sambil berusaha keras menjual persediaan di gudang. Kisah ini sangat berkesan di hati saya, karena menunjukkan sikap Matsushita yang humanis dan sungguh bijaksana. Pulang dari kunjungan tersebut, Matsushita langsung menjadi salah satu hero saya (dan menjadi inspirasi bagi saya untuk memulai beberapa usaha).

2012 @ Drs. H. Agus Syarif, MBS, APEC Certified Business Counsellor

28

Profil Wirausaha
Fakultas Ekonomi Universitas Jambi

Suatu ketika saya mendapatkan buku berjudul Matsushita Konosuke : Pegawai Toko Sepeda yang Menjadi Raja Elektrik Jepang terbitan Grasindo, cetakan kedua 2004. Saya sudah tahu bahwa Matsushita tidak pernah sekolah formal dan berasal dari keluarga miskin. Setelah membaca buku itu baru jelas bahwa dia sebenarnya berasal dari keluarga tuan tanah, namun ayahnya bangkrut saat spekulasi bisnis beras yang membuat keluarganya jatuh miskin. Matsushita kecil kemudian bekerja di toko sepeda, lalu pindah ke perusahaan instalasi listrik. Pernah dia mengambil kelas teknik malam hari, tapi tidak tamat. Dari buku itu saya baru tahu bahwa ketika Matsushita mulai merintis perusahaannya sendiri, ternyata produk fitting lampu buatannya itu gagal! Namun bisnis gagal tersebut mengantarnya mendapat bisnis lain yang kemudian menjadi cikal perusahaan besar Matsushita Electric. Inilah kisah kegagalan Konosuke Matsushita yang saya cuplikkan dari buku tersebut. Matsushita keluar dari perusahaan intsalasi listrik tempat dia sudah bekerja selama 7 tahun. Alasannya, jabatan sebagai petugas pemeriksa yang bergaji besar dengan pekerjaan ringan justru membuatnya merasa bosan. Rekan-rekannya merasa aneh dengan sikap Matsushita itu. Kemudian bersama 2 rekan, yaitu Hayashi dan Morita, serta 1 adik ipar yaitu Toshio, Konosuke Matsushita membuat pabrik fitting lampu pada bulan Juni 1917. Ternyata mereka belum tahu dari bahan apa adonan hitam untuk fitting tersebut. Mungkin adonan itu terdiri dari aspal yang dicampur bubuk batu dan asbes, pikir mereka. Setelah dicoba ternyata gagal. Maka mereka berkeliling bertanya ke pabrik lain untuk mencari tahu adonan hitam bahan fitting tersebut. Tentu saja ditolak! Diam-diam Konosuke dan Hayashi memungut pecahan adonan yang sudah mengeras dan menelitinya sendiri. Tapi semuanya itu sia-sia. Tak lama setelah itu mereka mengetahui ada seorang kenalan Hayashi yang dulu melakukan penelitian tentang adonan hitam tersebut. Teman itu ternyata sudah tak berminat lagi membuat adonan hitam, maka dia mengajarkan semua yang pernah ditelitinya kepada Konosuke dan Hayashi. Semuanya itu membuat keduanya merasa terbang ke awan karena gembira.

2012 @ Drs. H. Agus Syarif, MBS, APEC Certified Business Counsellor

29

Profil Wirausaha
Fakultas Ekonomi Universitas Jambi

Pada pertengahan Oktober tahun itu sedikit demi sedikit fitting lampu bisa diselesaikan. Sayang sekali, ketika berusaha menjual fitting tersebut ke pedagang pengecer ternyata harganya tidak bagus. Untuk 100 buah fitting lampu hanya dihargai tidak lebih dari 10 yen. Belum lagi penolakan dari banyak pedagang karena pabrik Konosuke masih baru. Setelah 10 hari menawarkan dan kurang berhasil maka pada akhir bulan Oktober kedua rekan Konosuke undur diri dari bisnis tersebut. Bulan November tiba, Konosuke terus membuat fitting lampu dengan modal yang terus menipis. Konosuke mulai ragu. Bulan Desember pun tiba. Tetapi Konosuke belum tahu barang elektronik apa yang sebaiknya dibuatnya. Mungkin sebaiknya aku balik lagi bekerja di Perusahaan Listrik Osaka. Tapi nggak enak juga minta tolongnya, pikirnya diam-diam demi kebaikan Mumeno, istrinya. Pada suatu hari Konosuke didatangi oleh seorang pegawai perusahaan alat listrik. Orang itu meminta tolong kepada Konosuke, katanya, Kami ingin Bapak membuat tatakan kipas angin dari adonan hitam bahan pembuat fitting. Tatakan kipas angin? Apa itu? tanya Konosuke. Kemudian orang tersebut menceritakan tentang dudukan kipas angin tempat menaruh tombol-tombol. Dia mengeluarkan barang contoh, sebuah benda bulat dengan diameter 10 senti, tebalnya 1 senti, dan berlubang di tengahnya. Selain itu ada kira-kira 10 lubang kecil lainnya di beberapa tempat. Seperti Bapak lihat, tatakan ini kurang baik. Karena terbuat dari porselen jadi mudah pecah. Untuk itu pabrik kipas angin Kawakita Denki ingin mencoba menggantinya dengan tatakan yang terbuat dari bahan pembuat fitting lampu. Kira-kira bagaimana Pak, apa Bapak bersedia membuatnya? Kira-kira berapa banyak? tanya Konosuke. Untuk percobaan, tahun ini sekitar 1000 buah. Kalau hasilnya baik, tahun depan dan tahun-tahun berikutnya bisa 20-30 ribu buah, jawabnya lagi. Jadi, 20-30 ribu buah pertahun? Mendengar itu Konosuke langsung menyanggupi tawaran itu. Konosuke gembira sekali.

2012 @ Drs. H. Agus Syarif, MBS, APEC Certified Business Counsellor

30

Profil Wirausaha
Fakultas Ekonomi Universitas Jambi

Bulan Desember tahun itu Konosuke berhasil memenuhi pesanan 1000 tatakan dengan bayaran 160 yen. Hitunghitung untungnya adalah 80 yen. Berbeda dengan fitting lampu, tatakan itu tidak memerlukan bahan logam, sehingga biaya produksinya lebih rendah. Pesanan tatakan kipas angin itu terus datang tanpa henti, sehingga keuntungan yang didapat Konosuke pun semakin banyak. Selanjutnya Konosuke mulai membuat attachment plug yang digunakan untuk memasang lampu dengan mengambil listrik dari lampu lain. Kemudian Konosuke membuat fitting 2 lampu yang bagus, bahkan mendapat paten dari kreasi tersebut. Lalu fitting 3 lampu. Kemudian bikin lampu sepeda, lalu radio, dan seterusnya menjadi perusahaan pembuat barang elektronik dan peralatan listrik yang sukses. Get the point? Bagaimana hasil akhirnya kalau Konosuke tidak belajar membuat fitting lampu? Siapkah dia dengan pesanan tatakan kipas angin itu? Mungkinkah pesanan tatakan itu datang ke dia? Memang manusia hanya bisa berusaha sebaikbaiknya, Tuhan akan menjawab dengan cara-Nya yang halus, sering dengan kesempatan dari arah yang tak disangka. Konosuke Matsushita. Andai tak dicoba membuat fitting lampu .
A frail, sickly bicycle apprentice who survived unspeakable childhood tragedy, Konosuke Matsushita lacked formal education, wealth, charisma, connections and even a special talent. Yet, early hardships produced hidden strengths which opened Konosuke Matsushitas mind to the collective wisdom of others. The author reveals how a lifelong thirst for learning fueled the passion that led this humble, shy 5-foot-5-inch humanitarian idealist to pioneer management practices and advance his philosophy that the mission of a manufacturer is to relieve poverty and create wealth, not only for shareholders, but for society. Excerpt from the book entitled MATSUSHITA LEADERSHIP by Dr. John P. Kotter, Professor of Leadership at the Harvard Business School.

2012 @ Drs. H. Agus Syarif, MBS, APEC Certified Business Counsellor

31

Profil Wirausaha
Fakultas Ekonomi Universitas Jambi

Purdi E Chandra lahir di Lampung 9 September 1959. Secara "tak resmi" Purdi sudah mulai berbisnis sejak ia masih duduk di bangku SMP di Lampung, yakni ketika dirinya beternak ayam dan bebek, dan kemudian menjual telurnya di pasar. Lewat Bimbingan Belajar Primagama, Purdi berhasil menjadi pengusaha sukses. Untuk meraih impiannya Purdi berhenti kuliah. Akhirnya ia berhasil juga mendapatkan gelar dari lembaga pendidikan yang dibentuknya sendiri. Bisnis "resminya" sendiri dimulai pada 10 Maret 1982, yakni ketika ia bersama teman-temannya mendirikan Lembaga Bimbingan Test Primagama (kemudian menjadi bimbingan belajar). Waktu mendirikan bisnisnya tersebut Purdi masih tercatat sebagai mahasiswa di 4 fakultas dari 2 Perguruan Tinggi Negeri di Yogyakarta. Namun karena merasa "tidak mendapat apa-apa" ia nekad meninggalkan dunia pendidikan untuk menggeluti dunia bisnis. Dengan "jatuh bangun" Purdi menjalankan Primagama. Dari semula hanya 1 outlet dengan hanya 2 murid, Primagama sedikit demi sedikit berkembang. Kini murid Primagama sudah menjadi lebih dari 100 ribu orang per-tahun, dengan ratusan outlet di ratusan kota di Indonesia. Karena perkembangan itu Primagama akhirnya dikukuhkan sebagai Bimbingan Belajar Terbesar di Indonesia oleh MURI (Museum Rekor Indonesia). Mengenai bisnisnya, Purdi mengaku banyak belajar dari ibunya. Sementara untuk masalah kepemimpinan dan organisasi, sang ayahlah yang lebih banyak memberi bimbingan dan arahan. Bekal dari kedua orang tua Purdi tersebut semakin lengkap dengan dukungan penuh sang Istri Triningsih Kusuma Astuti dan kedua putranya Fesha maupun Zidan. Pada awal-awal berdirinya Primagama, Purdi selalu ditemani sang istri untuk berkeliling kota di seluruh Indonesia membuka cabangcabang Primagama. Dan atas bantuan istrinya pula usaha tersebut makin berkembang. Kini Primagama sudah menjadi Holding Company yang membawahi lebih dari 20 anak perusahaan yang bergerak di berbagai bidang seperti: Pendidikan Formal, Pendidikan NonFormal, Telekomunikasi, Biro Perjalanan, Rumah Makan, Supermarket, Asuransi, Meubelair, Lapangan Golf dan lain sebagainya.

2012 @ Drs. H. Agus Syarif, MBS, APEC Certified Business Counsellor

32

Profil Wirausaha
Fakultas Ekonomi Universitas Jambi

Walaupun kesibukannya sebagai entrepreneur sangat tinggi, namun jiwa organisatoris Purdi tetap disalurkan di berbagai organisasi. Tercatat Purdi pernah menjabat sebagai Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) cabang Yogyakarta dan pengurus Kamar Dagang dan Industri Daerah (Kadinda) DIY. Selain itu Purdi pernah juga tercatat sebagai anggota MPR RI Utusan Daerah DIY.

Lego motor, berhenti kuliah Bukan suatu kebetulan jika pengusaha sukses identik dengan kenekatan mereka untuk berhenti sekolah atau kuliah. Seorang pengusaha sukses tidak ditentukan gelar sama sekali. Inilah yang dipercaya Purdi ketika baru membangun usahanya. Kuliah di 4 jurusan yang berbeda, Psikologi, Elektro, Sastra Inggris dan Farmasi di Universitas Gajah Mada (UGM) dan IKIP Yogya membuktikan kecemerlangan otak Purdi. Hanya saja ia merasa tidak mendapatkan apa-apa dengan pola kuliah yang menurutnya membosankan. Ia yakin, gagal meraih gelar sarjana bukan berarti gagal meraih cita-cita. Purdi muda yang penuh cita cita dan idealisme ini pun nekad meninggalkan bangku kuliah dan mulai serius untuk berbisnis. Sejak saat itu pria kelahiran Punggur, Lampung Tengah ini mulai menajamkan intuisi bisnisnya. Dia melihat tingginya antusiasme siswa SMA yang ingin masuk perguruan tinggi negeri yang punya nama, seperti UGM. Bagaimana jika mereka dibantu untuk memecahkan soal-soal ujian masuk perguruan tinggi, pikirnya waktu itu. Purdi lalu mendapatkan ide untuk mendirikan bimbingan belajar yang diberi nama, Primagama. Saya mulai usaha sejak tahun 1982. Mungkin karena nggak selesai kuliah itu yang memotivasi saya menjadi pengusaha, kisah Purdi. Lalu, dengan modal hasil melego motornya seharga 300 ribu rupiah, ia mendirikan Bimbel Primagama dengan menyewa tempat kecil dan disekat menjadi dua. Muridnya hanya 2 orang. Itu pun tetangga. Biaya les cuma 50 ribu untuk dua bulan. Kalau tidak ada les maka uangnya bisa dikembalikan.

2012 @ Drs. H. Agus Syarif, MBS, APEC Certified Business Counsellor

33

Profil Wirausaha
Fakultas Ekonomi Universitas Jambi

Segala upaya dilakukan Purdi untuk membangun usahanya. Dua tahu setelah itu nama Primagama mulai dikenal. Muridnya bertambah banyak. Setelah sukses, banyak yang meniru nama Primagama. Purdi pun berinovasi untuk meningkatkan mutu lembaga pendidikannya ini. Sebenarnya yang bikin Primagama maju itu setelah ada program jaminan diri, ungkapnya soal rahasia sukses mengembangkan Bimbel Primagama. Kalau ikut Primagama pasti diterima di Universitas Negeri. Kalau nggak uang kembali. Nah, supaya diterima murid-murid yang pinter kita angkat jadi pengajar. Karena yang ngebimbing pinter, ya 90% bisa lulus ujian masuk perguruan tinggi negeri, lanjutnya.

2012 @ Drs. H. Agus Syarif, MBS, APEC Certified Business Counsellor

34

Profil Wirausaha
Fakultas Ekonomi Universitas Jambi

Bakso Kota Cak Man

Kalau saja Nurcholish tidak merayu Cak Man (Pemilik Bakso Kota) untuk mewaralabakan bisnisnya, bisa jadi merek bakso asal Malang cuma jago kandang. Tidak bisa dipungkiri, berkat jasa Nurcholish sebagai konseptor waralaba dalam meyakinkan pedagang bakso itu, jaringan Bakso Kota terus ekspansi di luar Kota Apel. Mulai dari sekitar Jakarta (Depok dan Plaza Semanggi), Jogya, sebentar lagi buka di Banjarmasin dan Tebet (Jakarta). Tidak mustahil jika brand itu mulai melekat kuat di benak para penggemar bakso beberapa daerah. Nurcholish bercerita ihwal ia kepincut mempromosikan Bakso Kota. Bermula dari kebiasaannya menyambangi istri yang tengah kuliah di Malang setiap 20 hari sekali, ia selalu menyempatkan mampir makan di Bakso Kota di Jl. Kedaung. Malang. Ia merasakan keunikannya dalam citarasa, tempat dan pelayanan warung bakso yang selalu ramai pembeli itu. Tanpa mau menunda waktu lebih lama, ia pun nekat berkenalan dengan si empunya Bakso Kota dan keluarganya. Lagi-lagi dengan keberaniannya, ia pun melontarkan gagasannya agar Bakso Kota diwaralabakan. Bagaimana tanggapan cak Man? "Mulanya yang bersangkutan, ketakutan dengan ide itu. Soalnya ia pernah tertipu,"ujar Nurcholish mengenang saat-saat pendekatan dengan Cak Man sekitar Juni 2004. Toh, Nurcholish pantang menyerah. Jika sebelumnya 20 hari sekali mengunjungi Bakso Kota, frekuensinya lalu ditingkatkan menjadi dua minggu sekaliuntuk kembali meyakinkan pengusaha bakso itu. Ujung-ujungnya, Cak Man tak kuasa lagi menolak. "Akhirnya saya diberi kesempatan buka Bakso Kota di Depok. cabang ini merupakan prototipe untuk gerai waralaba Bakso Kota," Nurcholish menjelaskan. Jadi, ia butuh waktu sekitar tiga bulan untuk menyakinkan Cak Man supaya mewaralabakan Bakso Kota. Nurcholish punya jurus sendiri untuk menepis rasa bimbang Cak Man. "Saya coba yakinkan Pak Abdurrahman Toekiman (Cak Man). Meski sudag terkenal di Malang, alangkah baiknya ekspansi ke kota lain dengan sistem waralaba. Selain itu, saya terangkan bahwa banyak para pakar pemasaran yang yakin kalau waralaba adalah konsep bagus dan bisa menyerap tenaga kerja banyak, "ungkapnya. Katakanlah untuk satu gerai, kita sudah mempekerjakan lima tenaga kerja.

2012 @ Drs. H. Agus Syarif, MBS, APEC Certified Business Counsellor

35

Profil Wirausaha
Fakultas Ekonomi Universitas Jambi

Menurutnya, usaha mikro bisa menjadi landasan pemerintah kita. Ini terbukti saat krismon, justru yang bertahan adalah UKM. Tidak hanya Nurcholish yang butuh waktu untuk meyakinkan pemilik merek/usaha. Koma Untoro umpamanya, harus bersabar menunggu beberapa bulana gar musisi Purwacaraka bersedia mewaralabakan sekolah musiknya. "Ketika saya datang tahun 2002 dengan mengusung konsep waralaba, gayung bersambut. Tapi, kami butuh waktu untuk proses penggodokan konsep lebih matang," ujar konseptor franchise Purwacaraka Music Studio (PMS) itu. Diakui Koma, awalnya Purwacaraka kurang optimis. Alasannya tidak memiliki banyak waktu untuk mengelola dan tidak begitu paham seluk-beluk bisnis dengan pola waralaba. Kendati baru mulai, bukan hambatan bagi PMS untuk segera mengepakan sayap. Makanya, meski baru digodok beberapa bulan, konsep waralaba PMS segera ditawarkan ke investor. Tergolong berani memang. Hasilnya? Ternyata, tahun pertama cukup berat untuk menjaring pemilik modal. Alhasil, pertumbuhan gerai melambat. Pada tahun pertama PMS cuma mampu membuka 10 gerai. Setahun kemudian, tepatnya akhir setelah ramai program reality show menyanyi di TV seperti Akademi Fantasi Indosiar dan Indonesian Idol, jumlah peserta PMS langsung melejit 50%. Selain itu, penambahan gerainya pun berlangsung cepat. Kini, PMS telah memiliki 50 gerai, dan tiap geraimempunyai rata-rata 300 peserta kursus. Instuisi bisnis Koma dan Nurcholish cukup tajam. Koma sukses mengusung konsep waralaba PMS. Demikian pula Nurcholish dengan bendera Bakso Kota yang dikibarkannya. Bagaimana mereka melihat peluang bahwa suatu usaha layak di waralabakan? "Saya melihat waktu itu belum ada sekolah musik yang berkembang pesat. Rata-rata penyelenggaraannya individu dan institusi yang terkenal cuma Yamaha," tutur Koma. Dan, pilihan Koma jatuh pada Purwacaraka bukan asal tunjuk. Pertimbangannya, Purwacaraka merupakan figur yang masih di sanjung dan kondang reputasinya. Sebagai musisi, kelebihan Purwacaraka adalah dibekali latar belakang pendidikan akademis yang ciamik, yaitu sarjana dari Institut Teknologi Bandung. Ini mampu menepis citra negatif, pemusik kebanyakan orang jalanan.

2012 @ Drs. H. Agus Syarif, MBS, APEC Certified Business Counsellor

36

Profil Wirausaha
Fakultas Ekonomi Universitas Jambi

Selain nama besar Purwacaraka, kelebihan lain PMS, "Komitmen yang tinggi si pemilik terhadap pendidikan musik di tanah air, khususnyauntuk anak-anak," kata Koma yang juga tercatat sebagai mentor Entrepreneur University milik Lembaga Pendidikan Primagama itu. Nilai tambah lainnya, tingginya jam terbang yang dimiliki Purwacaraka di bidang musik. bagi Koma sebuah waralaba harus besar dulu untuk dikenal orang. Caranya mesti membuka cabang sebanyak-banyaknya. PMS pertama kali dibuka 15 tahun lalu di Jl. Sriwijaya 44 Bandung. Sementara itu, Nurcholish mengungkapkan, ada beberapa persyaratan usaha agar layak diwaralabakan. Pertama, usaha itu harus unik atau memiliki karakteristik. "Saya yakin Bakso Kota mempunyai persyaratan itu. Sebab, Bakso yang dikenal di masyarakat adalah Baso Solo (bakso ditambah mi atau bihun). Sedangkan kekhasan Bakso Kota ini berasal dari Malang, yang ada pangsit gorengnya,"ia menerangkan. Perbedaan Nakso Kota dan Bakso Malang yang banyak beredar: Bakso Kota dominan bahan pangsit (kulit pangsit), sedangkan bakso Malang mungkin hanya lembaran pangsit digoreng yang diberi sedikit daging. Yang jelas, ada beberapa jenis pangsit di Bakso Kota. Sebut saja pangsit gorengan panjang, gorengan usus, plus gorengan mekar. Sebenarnya, antara gorengan panjang dengan gorenan mekar itu sama (isi dan kulit pangsitnya sama). Hanya bentuknya yang berbeda. Memang, di Malang jenis pangsit ini sudah jamak. Namun, di Jakarta dan sekitarnya, sulit ditemukan pangsit gorengan panjang. Itulah prinsip dasar yang membedakan Bakso Kota dari bakso Malang secara umum. Kriteria kedua, usaha itu bisa diduplikasi. Jadi, Bakso Kota yang ada di Depok dan Malang harus sama baik dalam hal rasa, penyajian maupun harga. Itulah sebabnya, untuk menyeragamkan, cabang di luar Malang selalu dikirimi bumbu dan saus racikan dari kota dingin itu. Adapun untuk pembuatan baksonya cukup dilakukan transfer knowledge. Baik Koma maupun Nurcholish mempunyai pola kerja sama sendiri dengan pemilik merek. "Pola kerja sama kami saling menguntungkan dengan bagi hasil. Tidak ada aturan atau negoisasi khusus. Masing-masing memiliki tugas yang berbeda. Saya lebih banyak menjalankan pemasaran,"ujar Koma yang ogah buka kartu soal bagi hasilnya lebih rinci. Akan tetapi, ia mengakui biaya kursus siswa PMS lebih mahal 40% dibandingkan dengan Sekolah Musik Yamaha. Meski demikian, pihaknya tidak

2012 @ Drs. H. Agus Syarif, MBS, APEC Certified Business Counsellor

37

Profil Wirausaha
Fakultas Ekonomi Universitas Jambi

gentar menghadapi ketatnya persaingan. Pasalnya PMS, sebagaimana diklaim Koma, unggul dalam aktivitas sering menggelar konser yang melibatkan para siswa PMS dan mengundang public figure. "Setelah konsep waralaba jalan, saya menjadi tim pemasaran dan pengembangan. Ada pembagian presentase antara Pak Abdurrahman sebagai pemilik dan saya. Untuk bagi hasil franchise fee saya mendapat 30% dan Pak Abdurrahman 70%. Sedangkan untuk royalty fee saya mendapat 20% dan pemilik 80%," papar Nurcholish berterus terang mengenai pola kerjasama dengan juragan Bakso Kota. Adapun besarnya fee royalti yang berlaku saat ini: 5% omset penjualan per bulan. Untuk fee waralaba ada tiga tipe yang kisarannya Rp 30-90 juta untuk masa kontrak 3 - 5 tahun. Setelah itu dapat diperpanjang kembali. Sejatinya, di luar Bakso Kota dan Purwacarakan Music Studio, masih banyak merek lain yang layak diwaralabakan. Menurut Peter Yunkim Gunawan saat ini ada tiga pemain lokal yang patut dijual secara franchise. "Contohnya, masakan Cina dari Tawan Restaurant, masakan Jepang ala Ichiban Sushi, dan Scoop Ice Cream," kata konsultan waralaba Young & Kim Consultant itu dalam jawaban e-mail-nya memproyeksikan. Ketiga usaha makanan itu, di mata Peter measing-masing memiliki kelebihan. Peter menerangkan, Tawan Restaurant mengawali bisnisnya pada 1996 di Megamal Pluit. Waktu krismon, banyak pengelola resto yang rontok, tapi Tawan tetap bertahan. Setiap membuka cabang tak pernah sepi pengunjung. Bahkan lokasi gerai cabangnya ada di Mal Taman Anggrek, Citraland dan Plaza Setiabudi. Untuk menu resto Cina berkualitas, harga tarif makanan Tawan dinilai Peter relatif murah. Dan, makanan andalannya aneka bubur. Yang menarik, hingga sekarang pemilik resto itu belum berniat mewaralabakan, padahal sudah banyak calon investor yang mengincar. Cikal bakal bisnis Ichiban Sushi, sebagaimana dituturkan Peter, dirintis dari food court di Plaza Senayan. Resto yang melangkah sejak tahun 1996 itu terkenal dengan harga terjangkau. Meski dibuat oleh orang lokal, kualitas sushi yang ditawarkan Ichiban Sushi tak kalah dari ramuan chef asli Jepang.

2012 @ Drs. H. Agus Syarif, MBS, APEC Certified Business Counsellor

38

Profil Wirausaha
Fakultas Ekonomi Universitas Jambi

Sementara itu, Scoops Ice Cream memulai bisnisnya dari Jl. Barito, Kebayoran Baru. "Suasana cozy dan citrarasa es krimnya khas, sehingga sering orang mengira itu produk impor. Pemiliknya tengah menyiapkan diri untuk terjun ke waralaba, lantaran animo calon investor sangat tinggi,"ungkap Peter. Sementara itu, berdasarkan hasil survei SWA, selain ketiga brand yang disodorkan Peter, ada beberapa merek lain yang layak diwaralabakan. Semisal Oil Mart (ritel oli), Gado-gado Boplo (restoran), ACI Ministore (minimarket 24 jam), Eazy Rent A Car (rental mobil), Beautika (restoran), Sekolah (klinik kecantikan), dan Julian Jaya (kursus menjahit). Siapa berminat mewaralabakan. Dikutip dari: SWA, No. 24/XXI/24 November - 7 Desember

2012 @ Drs. H. Agus Syarif, MBS, APEC Certified Business Counsellor

39