Anda di halaman 1dari 7

.2 ENSEFALITIS 2.2.

1 Definisi Ensefalitis adalah infeksi yang mengenai CNS yang disebabkan oleh virus atau mikro organisme lain yang non purulent. Ensefalitis adalah peradangan akut otak yang disebabkan oleh infeksi virus. Terkadang ensefalitis dapat disebabkan oleh infeksi bakteri, seperti meningitis, atau komplikasi dari penyakit lain seperti rabies (disebabkan oleh virus) atau sifilis (disebabkan oleh bakteri). Penyakit parasit dan protozoa seperti toksoplasmosis, malaria, atau primary amoebic meningoencephalitis, juga dapat menyebabkan ensefalitis pada orang yang sistem kekebalan tubuhnya kurang. Kerusakan otak terjadi karena otak terdorong terhadap tengkorak dan menyebabkan kematian. 2.2.2 Etiologi 1. Ensefalitis Supurativa Bakteri penyebab ensefalitis supurativa adalah : staphylococcus aureus, streptococcus, E.coli dan M.tuberculosa. Patogenesis: Peradangan dapat menjalar ke jaringan otak dari otitis media, mastoiditis, sinusitis, atau dari piema yang berasl dari radang, abses di dalam paru, bronchiektasi, empiema, osteomeylitis cranium, fraktur terbuka, trauma yang menembus ke dalam otak dan tromboflebitis. Reaksi dini jaringan otak terhadap kuman yang bersarang adalah edema, kongesti yang disusul dengan pelunakan dan pembentukan abses. Disekeliling daerah yang meradang berproliferasi jaringan ikat dan astrosit yang membentuk kapsula. Bila kapsula pecah terbentuklah abses yang masuk ventrikel. Bila berkembang menjadi abses serebri akan timbul gejala-gejala infeksi umum, tanda-tanda meningkatnya tekanan intracranial yaitu : nyeri kepala yang kronik dan progresif,muntah, penglihatan kabur, kejang, kesadaran menurun, pada pemeriksaan mungkin terdapat edema papil. 2. Ensefalitis Siphylis Patogenesis Disebabkan oleh Treponema pallidum. Infeksi terjadi melalui permukaan tubuh umumnya sewaktu kontak seksual. Setelah penetrasi melalui epithelium yang terluka, kuman tiba di sistim limfatik, melalui kelenjar limfe kuman diserap darah sehingga terjadi spiroketemia. Hal ini berlangsung beberapa waktu hingga menginvasi susunansaraf pusat Treponema pallidum akan tersebar diseluruh korteks serebri dan bagianbagian lain susunan saraf pusat. 3. Ensefalitis Virus Virus yang dapat menyebabkan radang otak pada manusia : a. Virus RNA Paramikso virus : virus parotitis, irus morbili Rabdovirus : virus rabies Togavirus : virus rubella flavivirus (virus ensefalitis Jepang B, virus dengue) Picornavirus : enterovirus (virus polio, coxsackie A,B,echovirus) Arenavirus : virus koriomeningitis limfositoria b. Virus DNA Herpes virus : herpes zoster-varisella, herpes simpleks, sitomegalivirus, virus Epstein-barr Poxvirus : variola, vaksinia Retrovirus : AIDS 3. Ensefalitis Karena Parasit a. Malaria serebral Plasmodium falsifarum penyebab terjadinya malaria serebral. Gangguan utama terdapat didalam pembuluh darah mengenai parasit. Sel darah merah yang terinfeksi plasmodium falsifarum akan melekat satu sama lainnya sehingga menimbulkan penyumbatan-penyumbatan. Hemorrhagic petechia dan nekrosis fokal yang tersebar secara difus ditemukan pada selaput otak dan jaringan otak. Kelainan neurologik tergantung pada lokasi kerusakan-kerusakan. b. Toxoplasmosis Toxoplasma gondii pada orang dewasa biasanya tidak menimbulkan gejala-gejala kecuali dalam keadaan dengan daya imunitas menurun. Didalam tubuh manusia parasit ini dapat bertahan dalam bentuk kista terutama di otot dan jaringan otak. c. Amebiasis Amoeba genus Naegleria dapat masuk ke tubuh melalui hidung ketika berenang di air yang terinfeksi dan kemudian menimbulkan meningoencefalitis akut. Gejala-gejalanya adalah demam akut, nausea, muntah, nyeri kepala, kaku kuduk dan kesadaran menurun. d. Sistiserkosis Cysticercus cellulosae ialah stadium larva taenia. Larva menembus mukosa dan masuk kedalam pembuluh darah, menyebar ke seluruh badan. Larva dapat tumbuh menjadi sistiserkus, berbentuk kista di dalam ventrikel dan parenkim otak. Bentuk rasemosanya tumbuh didalam meninges atau tersebar didalam sisterna. Jaringan akan bereaksi dan membentuk kapsula disekitarnya. Gejaja-gejala neurologik yang timbul tergantung pada lokasi kerusakan. 4. Ensefalitis Karena Fungus Fungus yang dapat menyebabkan radang antara lain : candida albicans, Cryptococcus neoformans,Coccidiodis, Aspergillus, Fumagatus dan Mucor mycosis. Gambaran yang ditimbulkan infeksi fungus pada sistim saraf pusat ialah meningo-ensefalitis purulenta. Faktor yang memudahkan timbulnya infeksi adalah daya imunitas yang menurun.(2,4) 5. Riketsiosis Serebri Riketsia dapat masuk ke dalam tubuh melalui gigitan kutu dan dapat menyebabkan Ensefalitis. Di dalam dinding pembuluh darah timbul noduli yang terdiri atas sebukan sel-sel mononuclear, yang terdapat pula disekitar pembuluh darah di dalam jaringan otak. Didalam pembuluh darah yang terkena akan terjadi trombosis. Gejala-gejalanya ialah nyeri kepala, demam, mula-mula sukar tidur, kemudian mungkin kesadaran dapat menurun. Gejala-gejala neurologik menunjukan lesi yang tersebar. 2.2.3 Manifestasi Klinis

Meskipun penyebabnya berbeda-beda, gejala klinis Ensefalitis lebih kurang sama dan khas, sehingga dapat digunakan sebagai kriteria diagnosis. Secara umum, gejala berupa Trias Ensefalitis yang terdiri dari demam, kejang dan kesadaran menurun. (Mansjoer, 2000). Adapun tanda dan gejala Ensefalitis sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. 5. Suhu yang mendadak naik, seringkali ditemukan hiperpireksia Kesadaran dengan cepat menurun Muntah Kejang-kejang, yang dapat bersifat umum, fokal atau twitching saja (kejang-kejang di muka) Gejala-gejala serebrum lain, yang dapat timbul sendiri-sendiri atau bersama-sama, misal paresis atau paralisis, afasia, dan sebagainya (Hassan, 1997)

Inti dari sindrom Ensefalitis adalah adanya demam akut, dengan kombinasi tanda dan gejala : kejang, delirium, bingung, stupor atau koma, aphasia, hemiparesis dengan asimetri refleks tendon dan tanda Babinski, gerakan involunter, ataxia, nystagmus, kelemahan otot-otot wajah. 2.2.4 Patofisiologi Virus masuk tubuh pasien melalui kulit,saluran nafas dan saluran cerna.setelah masuk ke dalam tubuh,virus akan menyebar ke seluruh tubuh dengan beberapa cara: 1. 2. 3. Setempat: virus alirannya terbatas menginfeksi selaput lender permukaan atau organ tertentu. Penyebaran hematogen primer: virus masuk ke dalam darah kemudian menyebar ke organ dan berkembang biak di organ tersebut. Penyebaran melalui saraf-saraf: virus berkembang biak di permukaan selaput lendir dan menyebar melalui sistem saraf.

2.2.5 Pemeriksaan Diagnostik 1. Biakan: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.

Dari darah viremia berlangsung hanya sebentar saja sehingga sukar untuk mendapatkan hasil yang positif. Dari likuor serebrospinalis atau jaringan otak (hasil nekropsi), akan didapat gambaran jenis kuman dan sensitivitas terhadap antibiotika. Dari feses, untuk jenis enterovirus sering didapat hasil yang positif Dari swap hidung dan tenggorokan, didapat hasil kultur positif. Pemeriksaan serologis : uji fiksasi komplemen, uji inhibisi hemaglutinasi dan uji neutralisasi. Pada pemeriksaan serologis dapat diketahui reaksi antibodi tubuh. IgM dapat dijumpai pada awal gejala penyakit timbul. Pemeriksaan darah : terjadi peningkatan angka leukosit. Punksi lumbal Likuor serebospinalis sering dalam batas normal, kadang-kadang ditemukan sedikit peningkatan jumlah sel, kadar protein atau glukosa. EEG/ Electroencephalography

EEG sering menunjukkan aktifitas listrik yang merendah sesuai dengan kesadaran yang menurun. Adanya kejang, koma, tumor, infeksi sistem saraf, bekuan darah, abses, jaringan parut otak, dapat menyebabkan aktivitas listrik berbeda dari pola normal irama dan kecepatan.(Smeltzer, 2002) 1. CT scan

Pemeriksaan CT scan otak seringkali didapat hasil normal, tetapi bisa pula didapat hasil edema diffuse, dan pada kasus khusus seperti Ensefalitis herpes simplex, ada kerusakan selektif pada lobus inferomedial temporal dan lobus frontal. 2.2.6 Komplikasi Komplikasi jangka panjang dari ensefalitis berupa sekuele neurologikus yang nampak pada 30 % anak dengan berbagai agen penyebab, usia penderita, gejala klinik, dan penanganan selama perawatan. Perawatan jangka panjang dengan terus mengikuti perkembangan penderita dari dekat merupakan hal yang krusial untuk mendeteksi adanya sekuele secara dini. Walaupun sebagian besar penderita mengalami perubahan serius pada susunan saraf pusat (SSP), komplikasi yang berat tidak selalu terjadi. Komplikasi pada SSP meliputi tuli saraf, kebutaan kortikal, hemiparesis, quadriparesis, hipertonia muskulorum, ataksia, epilepsi, retardasi mental dan motorik, gangguan belajar, hidrosefalus obstruktif, dan atrofi serebral. 2.2.7 Penatalaksanaan Isolasi Isolasi bertujuan untuk mengurangi stimuli/rangsangan dari luar dan sebagai tindakan pencegahan. Terapi antimikroba : 1. Ensefalitis supurativa 1. Ampisillin 4 x 3-4 g per oral selama 10 hari. 2. Cloramphenicol 4 x 1g/24 jam intra vena selama 10 hari.

3.

Ensefalitis syphilis 1. Penisillin G 12-24 juta unit/hari dibagi 6 dosis selama 14 hari 2. Penisillin prokain G 2,4 juta unit/hari intra muskulat + probenesid 4 x 500mg oral selama 14 hari.

Bila alergi penicillin : 1. 2. 3. 4. 5. Tetrasiklin 4 x 500 mg per oral selama 30 hari Eritromisin 4 x 500 mg per oral selama 30 hari Cloramfenicol 4 x 1 g intra vena selama 6 minggu Seftriaxon 2 g intra vena/intra muscular selama 14 hari. Ensefalitis virus 1. Pengobatan simptomatis: Analgetik dan antipiretik: Asam mefenamat 4 x 500 mg Anticonvulsi : Phenitoin 50 mg/ml intravena 2 x sehari. 1. Pengobatan antivirus diberikan pada ensefalitis virus dengan penyebab herpes zoster-varicella:

Asiclovir 10 mg/kgBB intra vena 3 x sehari selama 10 hari atau 200 mg peroral tiap 4 jam selama 10 hari. 1. Ensefalitis karena parasit 1. Malaria serebral Kinin 10 mg/KgBB dalam infuse selama 4 jam, setiap 8 jam hingga tampak perbaikan. 1. 1. 1. Toxoplasmosis Sulfadiasin 100 mg/KgBB per oral selama 1 bulan Pirimetasin 1 mg/KgBB per oral selama 1 bulan Spiramisin 3 x 500 mg/hari Amebiasis Rifampicin 8 mg/KgBB/hari. Ensefalitis karena fungus

- Amfoterisin 0,1- 0,25 g/KgBB/hari intravena 2 hari sekali minimal 6 minggu - Mikonazol 30 mg/KgBB intra vena selama 6 minggu. 1. Riketsiosis serebri

- Cloramphenicol 4 x 1 g intra vena selama 10 hari - Tetrasiklin 4x 500 mg per oral selama 10 hari. Mengurangi meningkatnya tekanan intracranial, management edema otak : a) Mempertahankan hidrasi, monitor balance cairan : jenis dan jumlah cairan yang diberikan tergantung keadaan anak. b) Glukosa 20%, 10ml intravena beberapa kali sehari disuntikkan. c) Kortikosteroid intramuscular atau intravena dapat juga digunakan untuk menghilangkan edema otak 2.3 Perbedaan Ensefalitis dengan Meningitis Encephalitis Kesadaran Demam Lokasi terinfeksi di jaringan otak Banyak disebabkan virus download : WOC MENINGITIS ENSEFALITIS 3.1 Pengkajian Meningitis dan Esefalitis 1. Anamnesa 1. Identitas:

Meningitis Kesadaran relatif masih baik Demam Lokasi terinfeksi di selaput otak Banyak disebabkan bakteri

BAB 3 ASUHAN KEPERAWATAN

Nama, umur, jenis kelamin, agama, suku bangsa, alamat, tanggal masuk rumah sakit, nomor register, tanggal pengkajian dan diagnosa medis. Identitas ini digunakan untuk membedakan klien satu dengan yang lain. Jenis kelamin, umur dan alamat dan kotor dapat mempercepat atau memperberat keadaan penyakit infeksi. ensefalitis dapat terjadi pada semua kelompok umur. 1. Keluhan utama:

Panas badan meningkat, kejang, kesadaran menurun. 1. Riwayat penyakit sekarang:

Mula-mula anak rewel ,gelisah ,muntah-muntah ,panas badan meningkat kurang lebih 1-4 hari , sakit kepala. 1. Riwayat penyakit dahulu:

Klien sebelumnya menderita batuk , pilek kurang lebih 1-4 hari, pernah menderita penyakit Herpes, penyakit infeksi pada hidung,telinga dan tenggorokan. 1. Riwayat Kesehatan Keluarga:

Keluarga ada yang menderita penyakit yang disebabkan oleh virus contoh: Herpes dan lain-lain. Bakteri contoh: Staphylococcus Aureus, Streptococcus , E. Coli , dan lain-lain. 1. Imunisasi:

kapan terakhir diberi imunisasi DTP karena ensafalitis dapat terjadi post imunisasi pertusis. 1. Pemeriksaan fisik (ROS)

B1 (Breathing) : Perubahan-perubahan akibat peningkatan tekanan intra cranial menyebabakan kompresi pada batang otak yang menyebabkan pernafasan tidak teratur. Apabila tekanan intrakranial sampai pada batas fatal akan terjadi paralisa otot pernafasan (F. Sri Susilaningsih, 1994). B2 (Blood) : Adanya kompresi pada pusat vasomotor menyebabkan terjadi iskemik pada daerah tersebut, hal ini akan merangsaang vasokonstriktor dan menyebabkan tekanan darah meningkat. Tekanan pada pusat vasomotor menyebabkan meningkatnya transmitter rangsang parasimpatis ke jantung. B3 (Brain) : Kesadaran menurun. Gangguan tingkat kesadaran dapat disebabkan oleh gangguan metabolisme dan difusi serebral yang berkaitan dengan kegagalan neural akibat prosses peradangan otak. B4 (Bladder) : Biasanya pada pasien Ensefalitis kebiasaan mictie normal frekuensi normal. B5 (Bowel) : Penderita akan merasa mual dan muntah karena peningkatan tekanan intrakranial yang menstimulasi hipotalamus anterior dan nervus vagus sehingga meningkatkan sekresi asam lambung. Dapat pula terjadi diare akibat terjadi peradangan sehingga terjadi hipermetabolisme (F. Sri Susilanigsih, 1994). B6 (Bone) : Kelemahan 3.2 Analisa Data Analisa Data Etiologi Masalah Keperawatan DS: Nyeri kepala, Pusing, kehilangan CO 2 Gangguan perfusi jaringan memori, bingung, kelelahan, kehilangan $ serebral visual, kehilangan sensasi Hipoksia serebri DO: Bingung / disorientasi, penurunan $ kesadaran, perubahan status mental, Permiabilitas vaskuler gelisah, perubahan motorik, dekortikasi, $ deserebrasi, kejang, dilatasi pupil, Transudasi cairan edema papil $ Edema serebri $ Volume tengkorak $ TIK $ Vasospasme pembuluh darah serebri $ Sirkulasi terhenti $ Gangguan perfusi jaringan DS:Gangguan transmisi impuls Risiko tinggi terhadap cedera DO: pasien mengalami kejang, $ gangguan motorik, ataksia. Kejang $

Risiko tinggi terhadap cedera

DS: merasa lemah DO: pasien terlihat pucat dan lemah

Kejang $ Kelemahan $ Gangguan mobilitas fisik DS: Klien mengeluh frustasi. Peradangan DO: pasien mengalami kebingungan, $ emosi yang berlebihan, frustasi, Kerusakan myelin pada akson dan disorientasi realitas whitematter $ Gangguan sensori persepsi DS : klien merasa kedinginan Peradangan DO : suhu tubuuh klien lebih dari 37,5 C $ Suhu tubuh $ Hipertermi DS : klien mengeluh pusing dan nyeri pada kepala DO : suhu tubuh lebih dari 37,5C Terdapat bengkak di kepala Leukosit lebih dari 40.000

Gangguan mobilitas fisik

Perubahan persepsi sensori

Hypertermi

DS : klien mengeluh nyeri pada kepala DO : skala nyeri 4-7

Peradangan Risiko tingi terjadinya infeksi $ Suhu tubuh $ Metabolisme tubuh $ Penyebaran toksin ke jaringan tubuh $ Sepsis $ Risiko tinggi infeksi Peradangan Nyeri $ Nyeri

3.3

Diagnosa 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Gangguan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan edema serebral yang mengubah/menghentikan darah arteri/virus Risiko tinggi terhadap cedera berhubungan dengan kejang umum/fokal, kelemahan umum. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan neuromuskular, penurunan kekuatan. Perubahan persepsi sensori berhubungan dengan kerusakan myelin pada akson dan whitematter Hipertermi berhubungan dengan proses inflamasi. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan sepsis. Nyeri berhubungan dengan proses penyakit.

3.4 Intervensi Diagnosa 1 : Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi, toksin dalam sirkulasi Tujuan : Nyeri klien berkurang Kriteria Hasil : Skala nyeri menjadi > 4 Intervensi Rasional Mandiri Meningkatkan vasokonstriksi, penumpukan resepsi sensori yang selanjutnya akan menurunkan nyeri 1. Letakkan kantung es pada kepala, pakaian dingin di atas mata, berikan posisi yang nyaman kepala agak tinggi sedikit, latihan rentang gerak aktif atau pasif dan masage otot leher. 1. Dukung untuk menemukan posisi yang nyaman(kepala agak tinggi) Berikan latihan rentang gerak aktif/ pasif. Gunakan pelembab hangat pada nyeri leher atau Menurunkan iritasi meningeal, resultan ketidaknyamanan lebih lanjut Dapat membantu merelaksasikan ketegangan otot yang meningkatkan reduksi nyeri atau tidak nyaman tersebut Meningkatkan relaksasi otot dan menurunkan rasa sakit/ rasa tidak nyaman

1. 1.

pinggul Kolaborasi 5. Berikan anal getik, asetaminofen, codein

Mungkin diperlukan untuk menghilangkan nyeri yang berat

Diagnosa 2: Risiko tinggi terhadap terjadinya infeksi berhubungan dengan sepsis. Tujuan : Meminimalkan proses penyebaran infeksi Kriteria hasil : Leukosit normal 10.000-40.000 Tidak ditemukan tanda-anda inflamasi Intervensi Rasional Mandiri Pada fase awal meningitis, isolasi mungkin diperlukan sampai organisme diketahui/dosis antibiotik yang cocok telah 1. Beri tindakan isolasi sebagai pencegahan diberikan untuk menurunkan resiko penyebaran pada orang lain 1. Pertahankan teknik aseptik dan teknik cuci tangan Menurunkan resiko pasien terkena infeksi sekunder. yang tepat. Mengontrol penyebaran sumber infeksi 1. Ubah posisi pasien secara teratur, dianjurkan nafas Memobilisasi secret dan meningkatkan kelancaran secret yang dalam akan menurunkan resiko terjadinya komplikasi terhadap pernapasan Obat yang dipilih tergantung pada tipe infeksi dan sensitivitas individu

Kolaborasi 1. Berikan terapi antibiotik iv: penisilin G, ampisilin, klorampenikol, gentamisin.

Diagnosa 3 : gangguan perfusi jaringan serebral b.d edema serebral yang mengubah/ menghentikan darah arteri/virus Tujuan : Perfusi jaringan menjadi adekuat Kriteri hasil : Kesadaran kompos mentis Intervensi Rasional Mandiri Perubahan tekanan CSS mungkin merupakan potensi adanya resiko herniasi batang otak yang memerlukan tindakan medis dengan 1. Tirah baring dengan posisi kepala datar. segera 1. Bantu berkemih, membatasi batuk, muntah Aktivitas seperti ini akan meningkatkan tekanan intratorak dan mengejan. intraabdomen yang dapat men9ingkatkan TIK. Kolaborasi. Tinggikan kepala tempat tidur 15-45 derajat. Peningkatanaliran vena dari kepal akna menurunkan TIK Berikan cairan iv (larutan hipertonik, elektrolit ). Berikan obat : steroid, clorpomasin, asetaminofen Meminimalkan fluktuasi dalam aliran vaskuler dan TIK.

1.

1.

1.

Menurunkan permeabilitas kapiler untuk membatasi edema serebral, mengatasi kelainan postur tubuh atau menggigil yang dapat meningkatkan TIK, menurunkan konsumsi oksigen dan resiko kejang

Diagnosa 4 : Risiko tinggi terhadap cedera berhubungan dengan kejang umum/lokal, kelemahan umum. Tujuan : Mengurangi risiko cidera akibat kejang Kriteria hasil : Tidak ditemukan cidera selama kejang Intervensi Rasional 1. Mandiri Pertahankan penghalang tempat tidur tetap Melindungi pasien bila terjadi kejang terpasang dan pasang jalan nafas buatan 1. Tirah baring selama fase akut Menurunkan resiko terjatuh/trauma ketika terjadi vertigo, sinkop, atau ataksia Merupakan indikasi untuk penanganan dan pencegahan kejang

Kolaborasi 1. Berikan obat : venitoin, diaepam, venobarbital.

Diagnosa 5 : gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan neuromuskular, penurunan kekuatan. Tujuan : Klien dapat beraktifitas kembali dengan normal Kriteria Hasil :Klien tidak merasa lemah Intervensi Rasional 1. Bantu latihan rentang gerak. Mempertahankan mobilisasi dan fungsi sendi/posisi normal akstremitas dan menurunkan terjadinya vena yang statis 1. 1. Berikan perawatan kulit, masase dengan pelembab. Meningkatkan sirkulasi, elastisitas kulit, dan menurunkan resiko terjadinya ekskoriasi kulit Berikan matras udara atau air, perhatikan kesejajaran tubuh secara fumgsional. Berikan program latihan dan penggunaan alat mobilisasi. Menyeimbangkan tekanan jaringan, meningkatkan sirkulasi dan membantu meningkatkan arus balik vena untuk menurunkan resiko terjadinya trauma jaringan. Proses penyembuhan yang lambat seringkali menyertai trauma kepala dan pemulihan secara fisik merupakan bagian yang amat penting dari suatu program pemulihan tersebut.

1.

Diagnosa 6 : Perubahan persepsi sensori berhubungan dengan kerusakan myelin pada akson dan whitematter Tujuan : Meminimalkan perubahan persepsi sensori Kriteria : Klien dapat mengontrol emosi dirinya Intervensi Rasional Mandiri Menurunkan ansietas, respons emosi yang berlebihan/bingung yang berhubungan dengan sensorik yang 1. Hilangkan suara bising yang berlebihan. berlebihan 1. 1. Validasi persepsi pasien dan berikan umpan balik. Beri kesempatan untuk berkomunikasi dan beraktivitas. Membantu pasien untuk memisahkan pada realitas dari perubahan persepsi Menurunkan frustasi yang berhubungan dengan perubahan kemampuan/pola respons yang memanjang

Kolaborasi ahli fisioterapi 1. Terapi okupasi,wicara dan kognitif.

Pendekatan antardisiplin dapat menciptakan rencana penatalaksanaan terintegrasi yang didasarkan atas kombinasi kemampuan/ketidakmampuan secara individu yang unik dengan berfokus pada fungsi fisik, kognitif, dan keterampilan perceptual

Diagnosa 7 : hipertermi berhubungan dengan proses inflamasi. Tujuan : suhu tubuh kembali normal. Kriteria hasil : suhu tubuh 36,5 - 37,5 C Intervensi Rasional Mandiri 1. Pengeluaran panas secara konduksi 2. Pengeluaran panas secara evaporasi 1. Berikan kompres hangat 2. Anjurkan klien untuk menggunakan baju yang 3.Menentukan keberhasilan tindakan tipis. 3. Observasi Suhu tubuh klien 1. Kolaborasi dengan dokter 1. berikan obat penurun panas. 3.4 Evaluasi 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

1. Membantu menurunkan suhu tubuh

Mencapai masa penyembuhan tepat waktu, tanpa bukti penyebaran infeksi endogen atau keterlibatan orang lain. Mempertahankan tingkat kesadaran biasanya/membaik dan fungsi motorik/sensorik, mendemonstrasikan tandatanda vital stabil. Tidak mengalami kejang/penyerta atau cedera lain. Melaporkan nyeri hilang/terkontrol dan menunjukkan postur rileks dan mampu tidur/istirahat dengan tepat. Mencapai kembali atau mempertahankan posisi fungsional optimal dan kekuatan. Meningkatkan tingkat kesadaran biasanya dan fungsi persepsi. Tampak rileks dan melaporkan ansietas berkurang dan mengungkapkan keakuratan pengetahuan tentang situasi.