Anda di halaman 1dari 22

Teheran dalam Toples

~1~

Aminatul Faizah

Jaminan Kepuasan
Apabila Anda mendapatkan buku ini dalam keadaan cacat produksi (di luar kesengajaan kami), seperti halaman kosong atau terbalik, silakan ditukar di toko tempat Anda membeli atau langsung kepada kami dan kami akan menggantinya segera dengan buku yang bagus.

~2~

Teheran dalam Toples

Aminatul Faizah

~3~

Aminatul Faizah

TEHERAN DALAM TOPLES Aminatul Faizah Editor Muhajjah Tata Sampul @ruri_hefni Tata Isi Ika Tyana Pracetak Antini, Dwi, Yanto Cetakan Pertama September 2012 Penerbit DIVA Press (Anggota IKAPI) Sampangan Gg. Perkutut No.325-B Jl. Wonosari, Baturetno Banguntapan Jogjakarta Telp: (0274) 4353776, 7418727 Fax: (0274) 4353776 Email: redaksi_divapress@yahoo.com Blog: www.blogdivapress.com Website: www.divapress-online.com
Sumber Gambar Cover: www.ruri-hefni.deviantart.com

~4~

Teheran dalam Toples

Setiap hari aku gadaikan hari-hariku dengan kerinduan. Sekiranya rambutku selalu mengingatkan aku. Betapa pentingnya menebus masa laluku. Atau memperlihatkan aku dalam kebenaran, Sebelum aku menyesali. Dan kugugah hatiku dari lalai. Di hariku sekarang ada hari pengiringnya. Hari-hari indah tanpa luka di bawah naungan Langit Cinta Persia.

~5~

Aminatul Faizah

~6~

Teheran dalam Toples

Halaman Persembahan Kutulis buku ini untuk Ibuku. Aku mencintaimu selalu, Ibu. Selamanya. Karena, kaulah satu-satunya hartaku.

~7~

Aminatul Faizah

~8~

Teheran dalam Toples

Daftar Isi

Daftar Isi ........................................................ 1 Pembantu Baruku .................................... 2 Ali ............................................................ 3 Ruang Baca .............................................. 4 Apricot ..................................................... 5 Chadur ..................................................... 6 Tanah Lapang ........................................... 7 Payin-e Shahr ........................................... 8 Khafsah .................................................... 9 Sebuah Mimpi .......................................... 10 Sekolah..................................................... 11 Scnitzle..................................................... 12 Muharram ................................................ 13 Peta Dunia ............................................... 14 Cemburu ..................................................
~9~

9 11 22 29 34 42 50 57 69 79 84 95 101 113 128

Aminatul Faizah

15 Mauludi ................................................... 16 Eek Mubarok ........................................... 17 Perasaan Adalah Pengelana Waktu ........... 18 Khasan ..................................................... 19 Pertemuan itu........................................... 20 Dia ........................................................... 21 Paris ......................................................... 22 Memori .................................................... 23 In Memory ............................................... 24 Sebuah Foto yang Terbingkai .................... 25 Anaknya Hamidah ................................... 26 Salamah.................................................... 27 Pasta Delima ............................................ 28 Syair ......................................................... 29 Mawar di Persia ........................................ 30 Pantai Balbosa .......................................... 31 Mungkinkah Ini Kegilaan? ....................... 32 Pertunanganku ......................................... 33 Sebuah Jawaban ....................................... 34 Liburan Faris ............................................ 35 Kehampaanku .......................................... 36 Ke Arah Tuhan ..................................... 37 Teheran dalam Toples ............................... Tentang Penulis ..............................................

142 154 170 180 186 195 202 217 227 238 245 254 266 278 287 300 350 363 380 404 432 445 460 487

~ 10 ~

Teheran dalam Toples

1 Pembantu Baruku

etika masih kecil, aku bertanya banyak hal kepada ibu dan ayahku. Banyak hal yang ingin aku ketahui namun belum sempat aku tanyakan kepada mereka. Misalnya, seperti: Apa itu cinta, keberanian, dan kesetiaan? Tapi, seiring waktu, aku tahu semua itu dengan sendirinya. Seperti air sungai yang mengalir dengan sendirinya. Saat berusia lima tahun, aku beserta keluarga hijrah dari Turki menuju Iran. Aku tak tahu kenapa dan mengapa harus Iran. Sebuah negara yang sedang mengalami krisis politik. Negara yang kurang bersahabat di mata dunia internasional. Saat itu, tahun 1987. Ketika musim semi, kami pindah. Kami akan menuju timur Teheran. Sebuah kawasan yang jauh dari kata layak. Tapi, pekerjaan Ayah selalu memanggil. Ayahku adalah seorang ahli perminyakan yang selalu dicari jasanya oleh negara-negara Timur Tengah.

~ 11 ~

Aminatul Faizah

Aku agak kecewa. Apa lagi, saat melihat Teheran secara langsung. Sebuah kota kumuh yang agak mencekam. Aku tahu kalau ini bukanlah tempat yang mewah dan nyaman untuk ditinggali. Tempat yang kadang-kadang bom akan meledak di sekitar kita. Atau, kadang akan ada roket yang mendarat di sekitar rumah. Walaupun demikian, kata ayahku, kami akan memiliki rumah yang berhalaman luas dengan dinding pagar bata alami. Saat kami tiba di Teheran, ibuku merasa panik. Berkali-kali, Ibu mengucapkan shalawat nabi seraya merangkul aku dan adikku yang berusia satu tahun, takut kalau-kalau akan ada orang yang menghadang dan menyakiti kami. Sangat wajar jika Ibu ketakutan. Pada tahun itu, Iran baru saja menggulingkan Dinasti Shah dan menggantinya menjadi republik. Masih banyak pergolakan yang akan menyebabkan ketidakamanan. Wajah-wajah murung diliputi ketidakpercayaan, keputusasaan, kehilangan, dan kebencian yang kami lihat. Sunyi. Tak ada canda menghiasi jalanan. Bahkan, sapaan halus tak kami jumpai pula. Jalanan menuju ke rumah kami sangatlah mencekam. Banyak ancaman dan spanduk anti pemerintahan monarki dan mengagungkan Ayatullah Khomeini, seorang pria setengah dewa yang memakai surban hitam. Aku sempat bertanya siapa ia. Ibu hanya menjawab sebisa dan seadanya. Ibu melakukannya
~ 12 ~

Teheran dalam Toples

dengan dua alasan. Pertama, karena tak mau membicarakan masalah politik. Kedua, agar aku sebatas tahu dan tak penasaran lagi. Taksi tua yang aku naiki berjalan sangat lambat sekali. Kukira bukan karena mesinnya, melainkan karena sopir taksi itu kurang percaya dengan kami. Ia meyakini kalau kami adalah mata-mata Amerika. Berkali-kali, sopir memberikan pandangan yang sinis saat memandang kami. Wajah ibuku yang sangat asing dan gaya bicara Ayah yang cukup aneh membuatnya semakin yakin kalau kami adalah mata-mata. Ayahku adalah orang Turki keturunan bangsawan Inggris serta Jerman. Nama aslinya adalah Earl Gerd Klaus Muller. Saat menjadi mualaf, namanya diganti menjadi Maulana Yusuf atau Maulana Yusef. Wajah Ayah sangat tampan. Ayah memiliki alis dan rambut hitam, mata hijau bersinar, kulit putih, serta tubuh yang tegak. Ia adalah lelaki yang paling sempurna yang pernah aku lihat. Ayah selalu menjadi pelindung dan malaikat kami. Ayah tak pernah bohong kepadaku. Akhirnya, setelah berkendara kurang lebih satu jam, janji Ayah terbukti. Kami tiba di distrik Abdi Aziz. Sebuah distrik di daerah Teheran timur. Semua rumah di sana sangat sederhana, termasuk rumahku. Tempat ini lebih bagus daripada jalanan kawasan lain yang kami lewati. Meski jalanan di kawasan rumahku agak becek, tapi tak separah di kawasan lain. Banyak
~ 13 ~

Aminatul Faizah

sekali mobil buatan Amerika kuno yang berjalan di jalan ini. Aneh rasanya. Mereka membenci Amerika, namun memakai produk buatan negara itu. Ah..., nuansa yang klasik. Aku merasa seperti kembali ke era 50-an. Aku menatap rumahku. Rumah tua bergaya Persia dengan pilar tinggi yang ujungnya saling berbentuk setengah lingkaran. Rumah kami memang hanya terdiri dari bata, sama dengan rumah sekitar. Yang membedakannya adalah sebuah mobil baru di garasi. Selain itu, ada satu pohon apricot tua di halaman serta beberapa tanaman lain seperti anggur dan mawar. Halaman rumah lainnya tak selebat rumahku dan tak ada mobil baru. Di tengah halaman juga ada kolam besar yang banyak ikannya. Hal pertama yang aku tangkap dan memberikan kesan mendalam adalah anak lelaki yang mengintip dari seberang jalan. Terlihat sejuta ketakutan dan penasaran menghantuinya. Aku hanya bisa tersenyum memandang wajahnya yang terselip di antara pohon-pohon yang baru meranggas di antara semak-semak di depan rumahku. Setelah pintu gerbang halaman tertutup, hilang sudah wajah anak lelaki itu. Ibu membantuku mengambil semua barangbarangku. Empat koper penuh dengan dua kardus berisi buku. Ayahku langsung masuk, seolah sudah tahu semua tentang rumah ini. Ayah membuka pintu
~ 14 ~

Teheran dalam Toples

yang memiliki dua daun pintu itu. dari cerahnya wajah Ayah, aku tahu kalau inilah mungkin pintu surga itu. Mungkin, sebuah pintu yang akan mengantarkan kami ke sebuah jalan yang menyenangkan. Lalu, mataku menatap Ibu yang hanya terdiam terpaku. Kerudung sari biru muda Ibu menyibak ke rambut mungil Gazali, adikku. Gazali tersenyum, seolah mengetahui keindahan apa yang akan kami alami di rumah ini. Sebuah ruang tamu, ruang keluarga yang berisi pemanas ruangan dan TV lalu ruang makan , dan dapur. Di ruang atas, ada empat kamar serta satu ruang baca. Kamar-kamar itu adalah kamarku, Ayah dan Ibu, adikku, dan satu kamar yang kosong. Ibu membuka setiap jendela yang ada di rumah, membiarkan cahaya masuk dan menerangi seisi ruangan. Rumah tampak berantakan dengan semua perabotan yang masih tertutup kain putih. Ibu menyibak salah satu kain putih, mendudukkan aku dan adikku di atas kursi, lalu mencium kening kami. Ibu mengambil semua kain putih, melipat dan menyimpannya di gudang yang berada di dekat dapur. Kemudian, menyapu semua debu yang menempel. Sesekali, tersenyum melihat Ayah yang sedang mondar-mandir keluar masuk untuk mengambil koper. Setelah selama hampir dua jam bersih-bersih, akhirnya mereka duduk di dekat kami. Ibu hanya beberapa detik mendekap tubuh mungil adikku. Lalu,
~ 15 ~

Aminatul Faizah

berjalan menuju dapur untuk melihat semua barang yang ada dan mencatat bahan makanan yang harus dibeli. Ia mencatat semuanya dengan sangat teliti dan menyerahkannya kepada Ayah. Tak lama kemudian, Ayah menyuruh kami untuk menutup pintu rapat-rapat dan tak membukakannya untuk siapa pun juga. Mungkin, ia melihat mata-mata yang kurang menyukai keberadaan kami. Kadang, setelah Ayah keluar rumah, beberapa orang sengaja mondar-mandir di depan rumah. Kadang pula, ada mobil yang parkir cukup lama di depan rumah kami. Jika itu terjadi, Ibu buru-buru menutup gorden rumah dan mematikan TV Biasanya, kami kemudian akan . diboyong menuju lantai atas. Selama satu minggu, aku hanya bermain di kamar dan membaca buku di ruang baca. Atau, berjalanjalan di halaman bersama Ibu saat pagi hari. Ayahlah yang berkontak sosial dengan lingkungan luar rumah. Ibu sudah terbiasa mendekam dalam rumah selama beberapa tahun. Tak ada koran, internet, atau telepon rumah. Kalau mau menghubungi seseorang, kami harus menuju satu-satunya wartel yang ada di distrik ini. Jaraknya lima ratus meter dari rumah kami. Belum lagi, kami harus mengantre dan cara penghitungannya menggunakan jam tangan. Dua hari sekali, Ayah akan keluar untuk berbelanja dan membeli koran. Selebihnya, Ayah akan
~ 16 ~

Teheran dalam Toples

banyak menghabiskan waktu di rumah bersama kami. Aku bingung saat hendak menjawab pertanyaan dalam sebuah buku bahasa Inggris yang menanyakan pekerjaan orang tua. Ayah tak pernah bekerja lembur dan kami selalu hidup kecukupan. Ibuku bahkan hanya membuka komputer atau menulis di mesin ketik. Lalu, beberapa hari kemudian, sebuah buku jadi. Ibu malah mencurahkan semua kasih sayangnya untuk kami. Hanya untuk kami. Jadi, pekerjaan mereka adalah mengasuh aku dan adikku. Itu pemahamanku ketika itu. Pada suatu pagi hari yang tak biasa, Ibu sedang melaksanakan shalat sunnah dan Ayah sedang keluar untuk membeli bekal makanan. Hanya ada aku dan adikku yang sedang bermain di ruang baca. Kami menggambar sesuatu di kertas putih yang disediakan Ibu. Gazali hanya memainkan krayon di segala tempat sambil sesekali tersenyum saat aku melihatnya. Tak berapa lama berselang, seseorang mengetuk pintu. Kukira saat itu adalah Ayah. Aku berlari dengan seketika untuk membuka pintu. Namun, ternyata bukan. Seorang wanita memakai kerudung hitam panjang yang kusut dan seorang bocah memakai baju dan celana senada dengan warna cokelat kusam datang. Aku ingat wajah anak lelaki yang lagi-lagi menyembunyikan wajahnya dariku itu. Kali ini, ia bersembunyi di belakang tubuh ibunya sambil melirik aku yang sedang memegang krayon.
~ 17 ~

Aminatul Faizah

Nyonya yang beralis rapi dan berwajah cantik namun agak kurang terawat itu menyerahkan sekeranjang kue yang tak aku kenali namanya. Aku tak mengerti dengan kalimat yang ia ucapkan. Aku hanya diam dan tak tahu harus bagaimana. Bahasa Persianya memang sangat baik, sementara aku hanya belajar sedikit dari Ayah. Selama ini, aku malah memakai bahasa Inggris sebagai bahasa keseharian. Entah apa yang ia katakan. Aku tak mengerti. Aku tuntun tubuh wanita itu menuju ruang baca yang ada di lantai atas. Di sana, ada ibuku yang sedang shalat dan adikku yang sedang bermain krayon sambil telentang. Wanita itu dengan saksama melihat ibuku yang sedang shalat. Sejuta mimik wajah berubah di matanya. Ia mundur beberapa langkah ke belakang. Selesai shalat, Ibu melihat kami dan terperanjat. Ia melepas mukena dan menggendong adikku, lalu mengajak wanita itu bersandar di sofa mungil yang ada di ruang tamu. Sofa yang biasanya kami gunakan untuk membaca. Kuletakkan keranjang yang penuh dengan kue itu di meja yang ada di depan sofa. Assalamualaikum, kata ibuku pelan. Alaikum salam, jawab wanita itu sambil melihat anaknya yang tetap ketakutan melihat kami. Wajah anak itu aneh. Sorot matanya berisikan ketakutan dan kehancuran. Ia pasti telah mengalami hari yang sangat menyedihkan dan memilukan yang
~ 18 ~

Teheran dalam Toples

tak mudah untuk dilupakan. Namun, Ibu tahu cara tepat untuk menyapa dan mengambil hati anak itu. Ibu berlari menuju lantai bawah. Aku mendengar Ibu membuka lemari es. Saat kembali, Ibu membawa senampan minuman, kue, dan buah. Ibu memberikan satu gelas minuman kepada anak lelaki itu. Anak lelaki itu terlihat malu-malu. Lalu, Ibu mengelus rambutnya dan sedikit memberi tatapan kejujuran. Anak lelaki itu kemudian menurut dan mengambil segelas susu yang ada di tangan Ibu. Anakmu mengalami trauma, kata Ibu sambil melihat dalam-dalam wajah anak lelaki itu. Kenapa bisa begini? Ia melihat ledakan mobil secara tak sengaja. Ibu hanya tersenyum mendengarnya. Lalu, kembali memperhatikan bocah itu dengan penuh perasaan. Ibu mengelus ubun-ubun bocah itu dan kembali melihat ibunya. Ada apa? tanya Ibu. Mungkin, ia melihat tatapan mata wanita itu. Tidak, Khanum1. Di mana suamimu dan apa pekerjaannya? Suami saya sudah meninggal sejak dua tahun silam, kata wanita itu sambil menghapus air mata yang hampir keluar.
1

Nyonya.

~ 19 ~

Aminatul Faizah

Maaf. Kau bekerja di mana? tanya Ibu sambil melirik aku dan adikku yang sibuk memainkan krayon. Saya hanya pedagang kue keliling. Ibu melirik sekeranjang kue yang ada di atas meja. Pikirannya kali ini sama dengan yang aku pikirkan. Mungkin saja itu kue dagangan yang sengaja ia jual untuk kami. Ini kue daganganmu? tanya Ibu sambil melirik sekeranjang kue itu. Bukan, Khanum, itu untuk Anda. Hadiah ini sangatlah tak pantas untuk Anda. Maaf jika Anda merasa tersindir. Bukan itu maksudku. Kau tahu, aku sangat senang ada seorang tetangga yang datang mengunjungi kami untuk bersilaturahmi. Anda orang Sunni? Ya. Dan kau orang Syiah, kan? Memang, apa masalahnya? tanya Ibu sambil melirik aku yang memulas gambar bunga matahari. Tadinya, saya ingin menawarkan diri untuk bekerja. Namun setelah melihat cara Anda shalat tadi, saya berkecil hati. Melihat Anda bersedekap, saya langsung takut. Kenapa harus takut? Aku malah tak begitu tahu aliran agamaku. Aku hanya yakin kalau Islam adalah yang benar. Apalah artinya Syiah dan Sunni. Semuanya sama saja.
~ 20 ~

Teheran dalam Toples

Ibuku terdiam. Lalu, menghela napas dan melihat ke arah taman. Aku mendengar suara mobil Ayah. Ibu berlari membuka pintu gerbang. Terdengar suara mendorong pintu dan kembali menutupnya. Wanita itu malu-malu melihatku dan adikku. Anak laki-lakinya malah hanya diam sambil mendekap erat tangan ibunya. Mereka datang. Ayah duduk di dekatku, sementara Ibu duduk di tempat semula, di atas sofa, sambil menatap kami. Bekerjalah di tempat ini dari pagi hingga tengah hari. Setelah itu, kau akan punya waktu untuk anakmu. Kau hanya membersihkan rumah dan aku yang akan memasak. Kau juga belanja keperluan sehari-hari dan membeli koran setiap hari. Mau? Wajah wanita itu sumringah. Berkali-kali, ia mengucapkan terima kasih. Ia kembali bergegas pulang tanpa harus mengemban banyak luka dan himpitan. Secercah cahaya tampak di matanya yang sempat kehilangan arti kehidupan dan kebahagiaan. Chadur2 hitamnya berkali-kali melambai-lambai tertiup angin. Ia sempat melirikku sebelum pergi. Namun, anak lelaki itu tak melirikku. Keduanya berlalu saat mereka menutup pintu pagar. Itu adalah pembantu baruku. [ ]

2 Kain yang digunakan sebagai pakaian dengan cara dililitkan pada tubuh, kecuali muka.

~ 21 ~

Anda mungkin juga menyukai