Anda di halaman 1dari 16

MODUL

MEDIA PEMBELAJARAN PKN

DOSEN MATA KULIAH :

SYAMSU RIJAL, S.Pd.,MM.

PROGRAM S1 PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP)

ARRAHMANIYAH
DEPOK

MEDIA PEMBELAJARAN PKn (3 SKS)

Tujuan :

Mahasiswa memiliki wawasan pengetahuan dan pemahaman tentang konsep-konsep dasar, fungsi dan penggunaan Media Pembelajaran

Deskripsi Materi Kuliah : 1. Konsep-konsep Dasar Media Pembelajaran 2. Fungsi Media Pembelajaran 3. Jenis-jenis Media Pembelajaran 4. Media Dalam Proses Belajar Mengajar PKn 5. Spesifikasi Penggunaan Media Pembelajaran PKn 6. Klasifikasi Media Pembelajaran

Buku Sumber :
1. 2.

Media Pembelajaran, Prof.Dr.H. Asnawir, Delia Citra Utama Jakarta, 2002 Media Pendidikan, Hamalik Umar, Rosda Bandung, 1985

Catatan : UTS dilaksanakan setelah pertemuan ke-4 UAS dilaksanakan setelah pertemuan ke-8

PROGRAM S1 PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN STKIP ARRAHMANIYAH DEPOK

MODUL

Media Pembelajaran PKn (3 SKS)


POKOK BAHASAN

KONSEP-KONSEP DASAR MEDIA PEMBELAJARAN (Pertemuan ke-1 dan ke-2)

SYAMSU RIJAL, S.Pd.,MM.


A. PENDAHULUAN Semua unsur yang berada dalam lingkungan dunia pendidikan, baik sebagai guru, dosen, pelatih, instruktur, pengelola ataupu sebagai siswa, mahasiswa dan pihak yang dilatih, tentunya mengenal istilah Proses Belajar Mengajar (PBM) atau Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Dalam kedua istilah tersebut ada dua unsur proses atau kegiatan yang seolah-olah tak terpisahkan satu sama lainnya, yaitu proses/kegiatan belajar dan proses/kegiatan mengajar. Banyak orang menganggap bahwa ada proses belajar karena ada proses mengajar. Pertanyaannya, benarkah anggapan tersebut ? B. PROSES BELAJAR MENGAJAR Untuk menjawab pertanyaan diatas, coba perhatikan tiga periode

pelaksanaan PBM berikut : Periode lama/ortodok : Pada periode ini seorang guru bertugas mengajar dan siswa belajar dengan sistem komunikasi satu arah, sehingga siswa tidak akan bisa belajar tanpa keberadaan guru di hadapannya, atau dengan kata lain tanpa guru PBM tidak akan berjalan Periode Baru : Pada periode ini hampir sama dengan periode lama, tapi terjadi sedikit perkembangan, yaitu bahwa komunikasi yang terjadi sudah dua arah, sehingga siswa tidak hanya sebagai pendengar yang baik. Untuk materi-

materi tertentu, mungkin saja siswa lebih dulu memperoleh informasi daripada gurunya. Periode Modern Pada periode ini proses belajar dapat terjadi kapan dan di mana saja, terlepas dari ada yang mengajar atau tidak, sebab proses belajar terjadi karena adanya interaksi antara individu dengan lingkungannya. Jadi dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses yang komplek yang terjadi pada semua orang dan berlansung seumur hidup. Terjadinya proses belajar ditandai dengan terjadinya perubahan tingkah laku, baik bersifat pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotorik) maupun berupa nilai-nilai atau sikap (afektif). Sebagai contoh, sebelumnya si Ari kecil belum tahu nama dan letak ibukota provinsi Jawa Barat, tapi sekarang sebagai siswa SD dia dapat menyebutkan nama dan menunjukan letak ibukota provinsi tersebut, maka si Ari dikatakan sudah belajar secara kognitif. Begitu juga dengan si Luna yang awalnya belum lancar mengetik, tapi setelah kursus sekarang dia mahir memainkan sepuluh jarinya di papan ketikan, berarti si Mirna sudah belajar secara psikomotorik. Atau contoh lain, si Dudung yang tadinya tidak tahu siapa itu Kartini, sehingga dia kurang menghargai perjuangan dan jasa-jasanya, tapi setelah mempelajarinya sekarang dia sangat mengagumi dan menghargai pahlawan pejuang emansipasi wanita tersebut, berarti si Dudung telah belajar secara afektif. Tapi perlu diingat, bahwa tidak semua perubahan tingkah laku merupakan hasil dari proses belajar. Sebagai contoh, si Iwan yang pendiam tiba-tiba keluar dari sebuah warung dengan teman-temannya dengan banyak berbicara, tertawa-tawa. Ternyata syarafnya sedang dipengaruhi minuman keras, perubahan tingkah laku si Iwan ini bukan hasil proses belajar. Atau si Tuti yang seharinya ceriah tiba-tiba murung dan pendiam, ternyata perubahan ini terjadi karena sakit yang sedang dialaminya. Begitu juga dengan si Rio yang kurus, tiba-tiba suaranya jadi besar, ternyata dia sedang menginjak usia remaja. Ternyata perubahan yang terjadi pada tingkah laku mereka bukan karena proses belajar, tapi karena perubahan kondisi fisik pada diri mereka.

Bearti perubahan tingkah laku yang dimaksud pada pengertian belajar diatas dapat dibatasi pada perubahan yang diakibatkan oleh interaksi dengan lingkungan, bukan karena pertumbuhan/perubahan kondisi fisik, kelelahan, penyakit atau pengaruh obat-obatan. Dan perubahan yang terjadi bersifat permanen, tahan lama dan menetap.

C. MEDIA PEMBELAJARAN Apakah perubahan seperti yang terjadi pada diri si Ari, Luna dan Dudung di atas harus ada yang mengajar? Jawabnya mungkin ya, mungkin juga tidak. Artinya ketiga anak tersebut bisa saja memperoleh pengetahuan, keterampilan dan sikap dari sumber lain selain guru. Jadi pada saat ini guru bukanlah satu-satunya sumber belajar, walaupun tugas dan peranannya dalam PBM sangatlah penting. Dilihat dari perkembanganya, profesi guru berawal dari pelimpahan tugas orangtua yang tidak memungkinkan lagi memberikan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang dibutuhkan anak sesuai dengan tuntutan zaman. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi serta budaya pada umumnya, maka jumlah anak yang membutuhkan pendidikan semakinnya, dan pada akhirnya semua itu akan menambah berat peran, tugas dan tanggung jawab guru. Mengajar saat ini berbeda dengan zaman dulu. Pada zaman Socrates misalnya, ilmu pengetahuan yang diajarkan adalah hasil penemuan atau daya pikir dia sendiri. Tapi pada saat ini cara seperti itu sudah tidak mungkin lagi dipertahankan. Kompleksnya materi yang harus diajarkan, baik dari segi dimensi ruang, waktu, maupun tingkat kesulitannya, menyebabkan guru harus meninggalkan cara mengajar yang verbalistis. Dilain pihak untuk materi tertentu guru juga tidak mungkin mengajak siswa untuk berhadapan lansung dengan benda yang sedang dipelajari. Disinilah seorang guru membutuhkan alat bantu pembelajaran yang disebut dengan Media Pembelajaran atau Media Pendidikan. Dari uraian diatas, sebagai seorang guru mau tak mau harus mengakui bahwa kita bukanlah satu-satunya sumber belajar bagi siswa. Haruslah dipahami

bahwa proses belajar pada diri siswa dapat berlansung secara lansung atau pun tidak. Secara lansung maksudnya karena belajar dengan guru, sedangkan secara tidak lansung, memungkinkan siswa memperoleh ilmu dari sumber belajar lainnya (media). Jadi guru hanyalah salah satu dari begitu banyak sumber belajar yang memungkinkan tempat siswa belajar. Begitu banyak sumber belajar diluar guru yang disebut dengan media, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa Media Pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pemngirim (guru) ke penerima pesan (siswa), sehingga dapat meransang pikiran, perasaan dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa, sehingga proses belajar terjadi.

D. PERKEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN Dilihat dari model dan pemanfaatannya, perkembangan media pembelajaran dapat dibagi menjadai tahapan-tahapan berikut : Tahap awal Pada mulanya media hanya dianggap sebagai alat bantu mengajar guru (teaching aids). Pada periode ini yang digunakan adalah alat bantu visual seperti gambar, model, objek dan alat-alat lain yang dapat memberikan pengalaman konkret, motivasi belajar, mempertinggi daya serap dan retensi belajar bagi siswa. Tapi pada periode ini belum memperhatikan aspek disain, pengembangan pembelajaran dan evaluasi.

Pertengahan abad ke-20 Masuknya pengaruh teknologi audio juga mempengaruhi media pembelajaran, yang awalnya hanya bersifat visual, meningkat menjadi media audio-visual (Audio Visual Aids / AVA). Akhir tahun 1950

Pada periode ini mulai dipengaruhi oleh teori komunikasi, sehingga media tidak lagi hanya sebagai alat bantu guru, tetapi meningkat menjadi penyalur informasi belajar, sehingga media pembelajaran menjadi sangat penting keberadaannya dalam proses belajar mengajar. Tapi pada periode ini masih terfokus pada pemilihan media, sedangkan keberadaan siswa sebagai salah satu faktor utama PBM mendapat perhatian. Tahun 1960 1965 Periode ini mulai dipengaruhi oleh teori tingkah-laku (behaviorism theory) dari B.F. Skinner. Teori ini mendorong untuk lebih memperhatikan faktor siswa dalam PBM, karena mendidik adalah proses mengubah tingkah laku siswa, hal ini harus ditanamkan dengan benar, agar menjadi adat kebiasaan pada siswa. Semua itu ikut mendorong untuk diciptakannya media pembelajaran yang dapat mendorong terjadinya perubahan tingkah laku siswa sebagai hasil PBM. Media instruksional yang terkenal pada periode ini adalah teaching machine dan programmed instruction. Tahun 1965 1970 Periode ini mulai dipengaruhi oleh pendekatan sistem (system approach). Media pembelajaran merupakan integral dari program pembelajaran. Setiap program pembelajaran harus direncanakan secara sistematis dengan memusatkan perhatian pada siswa. PBM direncanakan berdasarkan kebutuhan dan karakteristik siswa yang diarahkan kepada perubahan tingkah laku yang sesuai dengan tujuan yang akan dicapai. Dalam perencanaan tersebut,media yang akan digunakan dan cara penggunaannya sudah dipertimbangkan dengan seksama. belum

Pada dasarnya para pengajar menyambut baik semua perubahan dan perkembangan yang terjadi pada media pembelajaran tersebut. Guru-guru mulai merumuskan tujuan pembelajaran berdasarkan tingkah laku siswa dan dilengkapi dengan berbagai media yang sesuai. Dari sini para guru juga mulai memahami bahwa cara belajar yang efektif pada setiap siswa itu berbeda-beda. Ada siswa yang lebih paham bila diajarkan dengan media visual, ada juga yang lebih cepat mengerti

melalui media audio dan ada juga melalui media audio visual. Dari sinilah mulai berkembangnya konsep Multi Media dalam PBM. Dalam hal ini Edgar Dale menyususn klasifikasi media pembelajaran mulai dari yang paling abstrak sampai yang paling konkret, klasifikasi ini dikenal dengan kerucut pengalaman (cone of experience).

abstrak

verbal Simbol visual visual radio film televisi wisata demonstrasi partisipasi

konkret

observasi Pengalaman lansung

Dengan penggunaan multimedia diharapkan : 1. mengurangi pelaksanaan PBM secara verbal 2. siswa lebih dimungkinkan belajar mandiri (media mewakili guru) 3. pesan yang ingin disampaikan guru lebih mencapai tujuan / instruksional yang diinginkan 4. lebih komunikatif, inovatif dan menarik (unsur seni)

5. keberadaan guru tetap sangat penting dan diperlukan sekali untuk memberikan perhatian dan bimbingan secara individual.

Bahan / sumber :
1. 2. 3.

Media Pembelajaran, Prof. Dr. H. Asnawir, Delia Citra Utama Jakarta, 2002 Media Pendidikan, Hamalik Umar, Rosda Bandung, 1985 Media Pendidikan, Dr. Arief Sadiman, M.Sc., Raja Grafindo Persada Jakarta, 1986

PROGRAM S1 PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN STKIP ARRAHMANIYAH DEPOK

MODUL

Media Pembelajaran PKn (3 SKS)


POKOK BAHASAN

FUNGSI MEDIA PEMBELAJARAN

(Pertemuan ke-3)

SYAMSU RIJAL, S.Pd.,MM.


A. PENDAHULUAN Pak Rahmat sangat jengkel karena tenaganya habis terkuras, waktunya banyak terbuang dan suaranya hampir hilang dari tenggorokan, tapi siswanya tidak juga mengerti apa yang diterangkannya. Lalu diapun bertanya dalam hati, siapa sebenarnya yang bodoh. Dia yang tidak bisa mengajar ataukah siswanya yang terlalu bodoh untuk mengerti pelajaran yang diberikannya. Ketika ditanyakan satu pertanyaan sederhana, dari 40 siswa hanya dua yang dapat menjawab dengan benar, lebih dari separoh menjawab kurang tepat, sedangkan sisanya salah sama sekali. Tapi pak Rahmat yang masih mempertanyakan siapa yang bodoh masih lebih baik dari pada guru lain yang lansung menfonis bahwa siswanyalah yang bodoh.

B. PBM SEBAGAI PROSES KOMUNIKASI PBM pada hakekatnya adalah proses komunikasi, yaitu proses penyampaian pesan dari sumber pesan (guru) melalui saluran (media) tertentu kepada penerima pesan (siswa). Pesan, sumber pesan, alat/media dan penerima pesan merupakan komponen proses komunikasi. Pesan yang akan dikomunikasikan adalah materi pembelajaran yang ada dalam kurikulum. Pesan yang berupa materi pembelajaran dituangkan oleh guru kedalam simbol-simbol komunikasi, baik berupa simbol verbal (lisan atau tertulis) maupun simbol non-verbal atau visual. Proses ini dikenal dengan encoding. Selanjutnya si penerima pesan (siswa) menafsirkan simbol-simbol tersebut sehingga dia menerima pesan. Proses ini dikenal dengan decoding. Berhasil atau tidaknya suatu komunikasi PBM sangat ditentukan oleh proses encoding oleh guru dan proses decoding oleh siswa. Terlepas dari siapa yang bodoh dan siapa yang pintar, inilah yang terjadi pada pak Rahmat, siswanya tidak atau kurang berhasil mendecoding pesan-pesan yang disampaikannya. Diagram berikut memperlihatkan proses komunikasi yang gagal dalam PBM :

SISWA 1 A

A1

SISWA 2

A2

GURU SISWA 3 B

SISWA n

Dari diagram diatas, terlihat bahwa pesan A yang dimaksud pak Rahmat hanya dapat didecoding sebagai A oleh siswa1, sedangkan siswa2 dan siswa3 menafsirkan berbeda, sementara n siswa lainnya menafsirkan salah sama sekali. Hal seperti ini biasanya terjadi disebabkan oleh beberapa faktor penghalang (barriers / noises). Ada penghalang yang bersifat psikologis, seperti minat, sikap, pendapat, kepercayaan, inteligensi dan pengetahuan. Ada juga penghalang yang bersifat fisik, seperti kelelahan, sakit, keterbatasan daya indera dan cacat tubuh. Siswa yang menyenangi mata pelajaran, materi serta guru yang mengajarnya tentu akan beda hasilnya dengan siswa yang tidak menyukai itu semua. Seorang guru jangan terlalu berharap dari seorang siswa yang lagi sakit untuk dapat menerima dengan baik pesan yang disampaikannya. Atau terhadap

siswa yang sehat sekalipun untuk dapat mengamati kehidupan binatang satu sel dengan mata telanjang. Selain itu ada dua faktor penghalang lainnya, yaitu faktor kultural seperti perbedaan adat-istiadat, norma-norma sosial, kepercayaan dan nilai panutan. Dan faktro lingkungan, yaitu hambatan yang ditimbulkan oleh situasi dan kondisi keadaan sekitarnya.PBM di tempat yang tenang, nyaman dan sejuk tentu akan berbeda hasilnya dengan proses yang dilakukan di kelas yang bising, panas dan berjubel/padat. Berbagai jenis hambatan tersebut, baik dalam diri guru saat mengecoding pesan maupun dalam diri siswa saat mendecoding pesan, mengakibatkan komunikasi PBM seringkali kurang efektif dan effisien. Salah satu cara untuk memperkecil penghalang (barriers) tersebut adalah dengan memanfaatkan media pembelajaran. Keberadaan media tersebut dapat
A meminimalisasi akibat dari perbedaan gaya belajar, minat, inteligensi, keterbatasan A

daya indera, cacat tubuh, keterbatasan jarak dan waktu. Diagram berikut memperlihatkan komunikasi PBM yang berhasil, karena sang guru memanfaatkan media yang relevan dan disusun dengan cermat, sesuai dengan materi yang akan disampaikan, dapat diterima oleh hampir semua siswa yang memiliki berbagai perbedaan. Dan yang tak kalah pentingnya, media yang GURU digunakan disesuaikan dengan tujuan instruksional yang ingin dicapai sebagaimana yang dimuat dalam kurikulum. Bagan komunikasi PBM yang berhasil :
A SISWA 1 A

SISWA 2

SISWA 3

MEDIA PEMBELAJARAN SISWA n

SUMBER PESAN

Pesan A yang ingin disampaikan oleh sumber pesan dengan bantuan kerjasama antara guru dan media dapat diartikan sebagai A pula oleh hampir semua siswa. Bahkan dengan pemanfaatan multi media dengan benar, memungkinkan untuk dilaksanakannya PBM jarak jauh, tanpa kehadiran dan peran aktif seorang guru, siswa dapat berinteraksi dengan media yang sudah disiapkan. PBM jarak jauh dengan multi media :
SISWA 1

SISWA 2

MEDIA PEMBELAJARAN

SISWA 3

SUMBER PESAN

SISWA n

C. FUNGSI MEDIA PEMBELAJARAN Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa keberadaan media pembelajaran memiliki kegunaan/fungsi sebagai berikut : 1. Memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbalistis 2. Mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan daya indera, seperti : a. objek yang terlalu besar, bisa diwakili dalam bentuk gambar, model atau film b. objek yang terlalu kecil, bahkan yang tak dapat dilihat dengan mata telanjang, dapat diperbesar dengan proyektor mikro lalu dijadikan gambar, model atau film

c. gerak benda yang terlalu lambat atau sangat cepat dapat diwujudkan dengan bantuan timelapse atau hight speed photography d. peristiwa yang terjadi dimasa lalu dapat ditampilkan kembali dengan bantuan rekaman film, foto atau video e. objek yang terlalu kompleks dan rumit seperti bagian-bagian sebuah mesin atau circuit dari rangkaian elektronik sebuah komputer dapat disajikan dengan bantuan model atau blok diagram f. konsep peristiwa yang terlalu luas seperti gunung berapi, gempa bumi atau iklim dapat disajikan dalam bentuk gambar atau film, dll. 3. Penggunaan media pembelajaran secara tepat dan bervariasi dapat mengatasi sifat pasif siswa, dalam hal ini media berfungsi untuk : a. menumbuhkan gairah belajar b. memungkinkan interaksi yang lebih konkret antara siswa dengan lingkungan dan kenyataan c. memungkinkan masing-masing siswa belajar mandiri sesuai kemampuan dan minatnya

4. Dengan sifat yang unik pada tiap siswa serta lingkungan dan pengalaman yang berbeda, sedangkan kurikulum dan materi pembelajaran yang harus mereka terima sama, maka guru akan mengalami kesulitan bilamana semua itu ditanganinya sendiri. Hal ini akan bertambah sulit bila latar belakang lingkungan guru dan siswa juga berbeda. Dengan memanfaatkan keberadaan media pembelajaran semua kesulitan tersebut akan teratasi, karena media dapat : a. memberikan ransangan yang sama b. menyamakan pengalaman c. menumbuhkan persepsi yang sama

Bahan / sumber :
4. 5. 6.

Media Pembelajaran, Prof. Dr. H. Asnawir, Delia Citra Utama Jakarta, 2002 Media Pendidikan, Hamalik Umar, Rosda Bandung, 1985 Media Pendidikan, Dr. Arief Sadiman, M.Sc., Raja Grafindo Persada Jakarta, 1986