Anda di halaman 1dari 42

LAPORAN PENDAHULUAN ATRESIA ANI

Ayu Novelia D.P II A / 0901100005

Definisi
Atresia berasal dari bahasa Yunani, a artinya tidak ada, trepis artinya nutrisi atau makanan. Dalam istilah kedokteran atresia itu sendiri adalah keadaan tidak adanya atau tertutupnya lubang badan normal atau organ tubular secara kongenital

Atresia Ani
Memiliki nama lain yaitu anus imperforata Atresia Ani merupakan kelainan bawaan (kongenital), tidak adanya lubang atau saluran anus (Donna L. Wong, 520 : 2003). Atresia ani adalah malformasi congenital dimana rectum tidak mempunyai lubang keluar (Walley,1996). Atresia ani adalah tidak lengkapnya perkembangan embrionik pada distal anus atau tertutupnya anus secara abnormal (Suriadi,2001). Atresia ani adalah kondisi dimana rectal terjadi gangguan pemisahan kloaka selama pertumbuhan dalam kandungan

Etiologi
1. Secara pasti belum diketahui 2. Putusnya saluran pencernaan dari atas dengan daerah dubur sehingga bayi lahir tanpa lubang dubur 3. Kegagalan pertumbuhan saat bayi dalam kandungan berusia 12 minggu/3 bulan 4. Adanya gangguan atau berhentinya perkembangan embriologik didaerah usus, rektum bagian distal serta traktus urogenitalis, yang terjadi antara minggu keempat sampai keenam usia kehamilan

Patofisiologi
kelainan kongenital di mana saat proses perkembangan embrionik tidak lengkap pada proses perkembangan anus dan rektum. Dalam perkembangan selanjutnya ujung ekor dari belakang berkembang jadi kloaka yang juga akan berkembang jadi genitourinaria dan struktur anorektal. Atresia anal ini terjadi karena tidak sempurnanya migrasi dan perkembangan struktur kolon antara 7-10 minggu selama perkembangan janin.Kegagalan migrasi tersebut dapat juga karena kegagalan dalam agenesis sacral dan abnormalitas pada uretra dan vagina atau juga pada proses obtruksi. Anus imperforata dapat terjadi karena tidak adanya pembukaan usus besar yang keluar anus sehingga menyebabkan feses tidak dapat dikeluarkan.

Faktor predisposisi
Atresia ani dapat terjadi disertai dengan beberapa kelainan kongenital saat lahir seperti;
Sindrom vactrel (sindrom dimana terjadi abnormalitas pada vertebral, anal, jantung, trachea, esofahus, ginjal dan kelenjar limfe). Kelainan sistem pencernaan. Kelainan sistem pekemihan. Kelainan tulang belakang

Klasifikasi
Secara fungsional dapat dibagi menjadi 2 kelompok besar: Yang tanpa anus tetapi dengan dekompresi adequate traktus gastrointestinalis dicapai melalui saluran fistula eksterna. Kelompok ini terutma melibatkan bayi perempuan dengan fistula rectovagina atau rectofourchette yang relatif besar, dimana fistula ini sering dengan bantuan dilatasi, maka bisa didapatkan dekompresi usus yang adequate sementara waktu.

Yang tanpa anus dan tanpa fistula traktus yang tidak adequate untuk jalan keluar tinja.
Pada kelompok ini tidak ada mekanisme apapun untuk menghasilkan dekompresi spontan kolon, memerlukan beberapa bentuk intervensi bedah segera.

Anomali rendah
Rectum mempunyai jalur desenden normal melalui otot puborectalis, terdapat sfingter internal dan eksternal yang berkembang baik dengan fungsi normal dan tidak terdapat hubungan dengan saluran genitourinarius

Anomali intermediet
Rectum berada pada atau di bawah tingkat otot puborectalis; lesung anal dan sfingter eksternal berada pada posisi yang normal.

Anomali tinggi
Ujung rectum di atas otot puborectalis dan sfingter internal tidak ada. Hal ini biasanya berhungan dengan fistuls genitourinarius retrouretral (pria) atau rectovagina (perempuan). Jarak antara ujung buntu rectum sampai kulit perineum lebih dari 1 cm.

klasifikasi Wingspread (1984)


2 golongan yang dikelompokkan menurut jenis kelamin. Pada laki-laki: golongan I : 4 kelainan yaitu kelainan fistel urin, atersia rectum, perineum datar dan fistel tidak ada. golongan II : 4 kelainan yauti kelainan fistel perineum, membran anal, stenosis anus, fistel tidak ada Pada perempuan: golongan I : 5 kelainan yaitu kelainan kloaka, fistel vagina, fistel rektovestibuler, atresia rectum, dan fistel tidak ada golongan II : 3 kelainan yaitu kelainana fistel perineum, stenosis anus, dan fistel tidak ada

laki laki golongan I


Dibagi menjadi 4 kelainan yaitu kelainan fistel urin, atresia rectum, perineum datar dan fistel tidak ada. Jika ada fistel urin, tampak mekonium keluar dari orifisium eksternum uretra, mungkin terdapat fistel ke uretra maupun ke vesika urinaria. Cara praktis menentukan letak fistel adalah dengan memasang kateter urin Bila kateter terpasang dan urin jernih, berarti fistel terletak uretra karena fistel tertutup kateter Bila dengan kateter urin mengandung mekonuim maka fistel ke vesikaurinaria Bila evakuasi feses tidak lancar, penderita memerlukan kolostomi segera. Pada atresia rectum tindakannya sama pada perempuan ; harus dibuat kolostomi. Jika fistel tidak ada dan udara > 1 cm dari kulit pada invertogram, maka perlu segera dilakukan kolostomi.

laki laki Golongan II

dibagi 4 kelainan yaitu kelainan fistel perineum, membran anal, stenosis anus, fistel tidak ada Fistel perineum sama dengan pada wanita ; lubangnya terdapat anterior dari letak anus normal Pada membran anal biasanya tampak bayangan mekonium di bawah selaput Bila evakuasi feses tidak ada sebaiknya dilakukan terapi definit secepat mungkin. Pada stenosis anus, sama dengan perempuan, tindakan definitive harus dilakukan. Bila tidak ada fistel dan udara.

perempuan golongan I
dibagi menjadi 5 kelainan yaitu kelainan kloaka, fistel vagina, fistel rektovestibular, atresia rectum dan fistel tidak ada. Pada fistel vagina, mekonium tampak keluar dari vagina. Evakuasi feces menjadi tidak lancar sehingga sebaiknya dilakukan kolostomi. Pada fistel vestibulum, muara fistel terdapat divulva. Umumnya evakuasi feses lancar selama penderita hanya minum susu. Evakuasi mulai terhambat saat penderita mulai makan makanan padat. Kolostomi dapat direncanakan bila penderita dalam keadaan optimal. Bila terdapat kloaka maka tidak ada pemisahan antara traktus urinarius, traktus genetalis dan jalan cerna. Evakuasi feses umumnya tidak sempurna sehingga perlu cepat dilakukan kolostomi. Pada atresia rectum, anus tampak normal tetapi pada pemerikasaan colok dubur, jari tidak dapat masuk lebih dari 1-2 cm. Tidak ada evakuasi mekonium sehingga perlu segera dilakukan kolostomi. Bila tidak ada fistel, dibuat invertogram. Jika udara > 1 cm dari kulit perlu segera dilakukan kolostomi.

perempuan golongan II
dibagi 3 kelainan yaitu kelainan fistel perineum, stenosis anus dan fistel tidak ada. Lubang fistel perineum biasanya terdapat diantara vulva dan tempat letak anus normal, tetapi tanda timah anus yang buntu menimbulkan obstipasi Pada stenosis anus, lubang anus terletak di tempat yang seharusnya, tetapi sangat sempit. Evakuasi feses tidal lancar sehingga biasanya harus segera dilakukan terapi definitive. Bila tidak ada fistel dan pada invertogram udara.

Gambaran Klinik
Tidak adanya apertura anal Mekonium yang keluar dari suatu orifisium abnormal Muntah dengan abdomen yang kembung Kesukaran defekasi, misalnya dikeluarkannya feses mirip pita seperti pada stenosis. Perineum yang menonjol tetapi pojok tidak bersemu dengan mekonium. Hal ini terjadi jika bayi menangis dan mengedan.

Untuk mengetahui kelainan ini secara dini, pada semua bayi baru lahir harus dilakukan colok anus dengan menggunakan termometer yang dimasukkan sampai sepanjang 2 cm ke dalam anus. Atau dapat juga dengan jari kelingking yang memakai sarung tangan. Jika terdapat kelainan, maka termometer atau jari tidak dapat masuk. Bila anus terlihat normal dan penyumbatan terdapat lebih tinggi dari perineum. Bayi muntah muntah pada usia 24 48 jam setelah lahir juga merupakan salah satu manifestasi klinis atresia ani. Cairan muntahan akan dapat berwarna hijau karena cairan empedu atau juga berwarna hitam kehijauan karena cairan meconium

Komplikasi
a. Asidosis hiperkloremia. b. Infeksi saluran kemih yang bisa berkepanjangan. c. Kerusakan uretra (akibat prosedur bedah). d. Komplikasi jangka panjang. - Eversi mukosa anal - Stenosis (akibat kontriksi jaringan perut dianastomosis) e. Masalah atau kelambatan yang berhubungan dengan toilet training. f. Inkontinensia (akibat stenosis awal atau impaksi) g. Prolaps mukosa anorektal. h. Fistula kambuan (karena ketegangan diare pembedahan dan infeksi)

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan radiologis Dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya obstruksi intestinal. Sinar X terhadap abdomen Dilakukan untuk menentukan kejelasan keseluruhan bowel dan untuk mengetahui jarak pemanjangan kantung rectum dari sfingternya. Ultrasound terhadap abdomen Digunakan untuk melihat fungsi organ internal terutama dalam system pencernaan dan mencari adanya faktor reversible seperti obstruksi oleh karena massa tumor. CT Scan Digunakan untuk menentukan lesi. Pyelografi intra vena Digunakan untuk menilai pelviokalises dan ureter. Pemeriksaan fisik rectum Kepatenan rectal dapat dilakukan colok dubur dengan menggunakan selang atau jari. Rontgenogram abdomen dan pelvis Juga bisa digunakan untuk mengkonfirmasi adanya fistula yang berhubungan dengan traktus urinarius.

Penatalaksanaan

Medik:
Eksisi membran anal Fistula, yaitu dengan melakukan kolostomi sementara dan setelah umur 3 bulan dilakukan koreksi sekaligus

Keperawatan
Penanganan secara preventif antara lain o kepada ibu hamil hingga kandungan menginjak usia tiga bulan untuk berhati-hati terhadap obat-obatan o makanan awetan dan alkhohol yang dapat menyebabkan atresia ani. o Memeriksa lubang dubur bayi saat baru lahir karena jiwanya terancam jika sampai tiga hari tidak diketahui mengidap atresia ani karena hal ini dapat berdampak feeses atau tinja akan tertimbun. o Pengaturan diet yang baik dan pemberian laktulosa untuk menghindari konstipasi. Kepada orang tua perlu diberitahukan mengenai kelainan pada anaknya dan keadaan tersebut dapat diperbaiki dengan jalan operasi. Operasi akan dilakukan 2 tahap yaitu tahap pertama hanya dibuatkan anus buatan dan setelah umur 3 bulan dilakukan operasi tahapan ke 2, selain itu perlu diberitahukan perawatan anus buatan dalam menjaga kebersihan untuk mencegah infeksi. Serta memperhatikan kesehatan bayi.

Asuhan Keperawatan Atresia Ani

1. Pengkajian Diperlukan pengkajian yang cermat dan teliti untuk mengetahui masalah pasien dengan tepat, sebab pengkajian merupakan awal dari proses keperawatan. Dan keberhasilan proses keperawatan tergantung dari pengkajian. Konsep teori yang digunakan adalah model konseptual keperawatan dari Gordon. Menurut Gordon data dapat dikelompokkan menjadi 11 konsep yang meliputi :

Persepsi Kesehatan Pola Manajemen Kesehatan Mengkaji kemampuan pasien dan keluarga melanjutkan perawatan di rumah. Pola nutrisi Metabolik Anoreksia, penurunan BB dan malnutrisi umu terjadi pada pasien dengan atresia ani post kolostomi. Keinginan pasien untuk makan mungkin terganggu oleh mual dan munta dampak dari anestesi.

Pola Eliminasi Dengan pengeluaran melalui saluran kencing, usus, kulit dan paru maka tubuh dibersihkan dari bahan - bahan yang melebihi kebutuhan dan dari produk buangan. Oleh karena pada atresia ani tidak terdapatnya lubang pada anus, sehingga pasien akan mengalami kesulitan dalam defekasi (Whaley & Wong,1996). Pola Aktivitas dan Latihan Pola latihan dan aktivitas dipertahankan untuk menhindari kelemahan otot.

Pola Persepsi Kognitif Menjelaskan tentang fungsi penglihatan, pendengaran, penciuman, daya ingatan masa lalu dan ketanggapan dalam menjawab pertanyaan. Pola Tidur dan Istirahat Pada pasien mungkin pola istirahat dan tidur terganggu karena nyeri pada luka inisisi. Konsep Diri dan Persepsi Diri Menjelaskan konsep diri dan persepsi diri misalnya body image, body comfort. Terjadi perilaku distraksi, gelisah, penolakan karena dampak luka jahitan operasi (Doenges,1993).

Peran dan Pola Hubungan Bertujuan untuk mengetahui peran dan hubungan sebelum dan sesudah sakit. Perubahan pola biasa dalam tanggungjawab atau perubahan kapasitas fisik untuk melaksanakan peran (Doenges,1993). Pola Reproduktif dan Sexual Pola ini bertujuan menjelaskan fungsi sosial sebagi alat reproduksi (Doenges,1993). Pola Pertahanan Diri, Stress dan Toleransi Adanya faktor stress lama, efek hospitalisasi, masalah keuangan, rumah (Doenges,1993). Pola Keyakinan dan Nilai Untuk menerangkan sikap, keyakinan klien dalam melaksanakan agama yang dipeluk dan konsekuensinya dalam keseharian. Dengan ini diharapkan perawat dalam memberikan motivasi dan pendekatan terhadap klien dalam upaya pelaksanaan ibadah (Mediana,1998).

Pemeriksaan Fisik
Hasil pemeriksaan fisik yang didapatkan pada pasien atresia ani adalah anus tampak merah usus melebar kadang kadang tampak ileus obstruksi termometer yang dimasukkan melalui anus tertahan oleh jaringan pada auskultasi terdengan hiperperistaltik tanpa mekonium dalam 24 jam setelah bayi lahir tinja dalam urin dan vagina (Whaley & Wong,1996).

Diagnosa Keperawatan
Inkontinen bowel (tidak efektif fungsi eksretorik berhubungan dengan tidak lengkapnya pembentukan anus (Suriadi,2001). Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia (Doenges,1993). Gangguan integritas kulit berhubungan dengan kolostomi (Doenges,1993). Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur pembedahan (Doenges,1993). Kecemasan keluarga berhungan dengan prosedur pembedahan dan kondisi bayi (Suriadi,2001).

Diagnosa Keperawatan
Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan trauma saraf jaringan (Doenges,1993). Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan penumpuksan secket berlebih (Doenges,1993). Gangguan citra diri berhubungan dengan adanya kolostomi (Doenges,1996). Kurangnya pengetahuan keluarga berhungan dengan kebutuhan perawatan di rumah (Whaley & Wong,1996).

Intervensi Keperawatan
Dx 1 :Inkontinen bowel (tidak efektif fungsi eksretorik) berhubungan dengan tidak lengkapnya pembentukan anus (Suriadi,2001). Tujuan yang diharapkan yaitu terjadi peningkatan fungsi usus kriteria hasil : pasien akan menunjukkan konsistensi tinja lembek, terbentuknya tinja,tidak ada nyeri saat defekasi, tidak terjadi perdarahan.

Intervensi : Dilatasikan anal sesuai program. Pertahankan puasa dan berikan terapi hidrasi IV sampai fungsi usus normal.

Dx 2 : Gangguan integritas kulit berhubungan dengan kolostomi (Doenges,1996). Tujuan yang diharapkan adalah tidak terjadi gangguan integritas kulit kriteria hasil : penyembuhan luka tepat waktu, tidak terjadi kerusakan di daerah sekitar anoplasti. Intervensi : o Kaji area stoma. o Observasi luka, catat karakteristik drainase o Gunakan pakaian bayi yang lembut dan longgar pada area stoma. o Sebelum terpasang colostomy bag ukur dulu sesuai dengan stoma. o Yakinkan lubang bagian belakang kantong berperekat lebih besar sekitar 1/8 dari ukuran stoma. o Ganti balutan sesuai kebutuhan, gunakan teknik aseptik o Irigasi luka sesuai indikasi, gunakan cairan garam faali o Selidiki apakah ada keluhan gatal sekitar stoma.

Dx 3 : Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur pembedahan (Doenges,1993). Tujuan yang diharapkan adalah tidak terjadi infeksi kriteria hasil : tidak ada tanda tanda infeksi, TTV normal, lekosit normal. Intervensi : o Pertahankan teknik septik dan aseptik secaa ketat pada prosedur medis atau perawatan. o Amati lokasi invasif terhadap tanda-tanda infeksi. o Pantau suhu tubuh, jumlah sel darah putih. o Pantau dan batasi pengunjung , beri isolasi jika memungkinkan. o Beri antibiotik sesuai advis dokter.

Dx 4 : Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan penumpukkan sekret berlebih (Doenges,1993). Tujuan yang diharapkan adalah mempertahakan efektif jalan nafas, mengeluarkan sekret tanpa bantua kriteria hasil : bunyi nafas bersih, menunjukkan perilaku perbaikan jalan nafas misalnya, batuk efektif dan mengeluarkan sekret. Intervensi :
Kaji fungsi pernafasan, contoh : bunyi nafas, kecepatan, irama dan kedalaman dan penggunaan otot tambahan. Catat kemampuan untuk mengeluarkan dahak atau batuk efektif, catat karakter, jumlah spuntum, adanya hemaptoe. Bersihkan secret dari mulut dan trakea, penghisapan sesuai keperluan. Pertahankan masukan cairan sedikitnya 2500 ml/hari kecuali kontra indikasi. Kolaborasi pemberian mukolitik dan bronkodilator

Dx 5 : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia (Doenges,1993). Tujuan yang diharapkan adalah kebutuhan nurtisi tubuh tercukupi kriteria hasil : menunjukkan peningkatan BB, nilai laboratorium normal, bebas tanda mal nutrisi. Intervensi :
Pantau masukan/ pengeluaran makanan / cairan. Kaji kesukaan makanan anak. Beri makan sedikit tapi sering. Pantau berat badan secara periodik. Libatkan orang tua, misal membawa makanan dari rumah, membujuk anak untuk makan. Beri perawatan mulut sebelum makan. Berikan isirahat yang adekuat. Pemberian nutrisi secara parenteral, untuk mempertahankan kebutuhan kalori sesuai program diit.

Dx 6 : Kecemasan keluarga berhungan dengan prosedur pembedahan dan kondisi bayi.(Suriadi,2001;159) Tujuan yang diharapkan adalah memberi support emosional pada keluarga kriteria hasil : keluarga akan mengekspresikan perasaan dan pemahaman terhadap kebutuhan intervensi perawatan dan pengobatan. Intervensi :
o Ajarkan untuk mengekspresikan perasaan. o Berikan informasi tentang kondisi, pembedahan dan perawatan di rumah. o Ajarkan keluarga untuk berpartisipasi dalam perawatan pasien. o Berikan pujian pada keluarga saat memberikan perawatan pada pasien. o Jelaskan kebutuhan terapi IV, NGT, pengukuran tanda tanda vital dan pengkajian.

Dx 7 : Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan trauma saraf jaringan (Doenges,1996). Tujuan yang diharapkan bayi akan tampak rileks kriteria hasil : ekspresi wajah relaks, TTV normal. Intervensi : oCatat keluhan nyeri, durasi, dan intensitasn nyeri oCatat kemungkinan penyebab nyeri. oAjarkan dan anjurkan tehnik relaksasi oBerikan tindakan nyaman, seperti pijat penggung, ubah posisi oKolaborasi pemberian analgetik

dx 8 : Resiko tinggi terhadap konstipasi berhubungan dengan ketidakadekuatan masukan diit (Doenges,1993).
Tujuan yang diharapkan adalah pola eliminasi sesuai kebutuhan, Penurunan distensi abdomen, Meningkatnya kenyamanan. kriteria hasil : BAB 1x/hari, feses lunak, tidak ada rasa nyeri saat defekasi. Intervensi : Kaji fungsi usus dan karakteristik tinja Lakukan enema atau irigasi rectal sesuai order Auskultasi bising usus. Ukur lingkar abdomen Observasi pola diit dan intake cairan

Dx 9 : Gangguan citra diri berhubungan dengan adanya kolostomi (Doenges,1996). Tujuan yang diharapkan adalah pasien mau menerima kondisi dirinya sekarang Kriteria hasil : pasien atau orang terdekat mentatakan menerima perubahan ke dalam konsep diri tanpa harga diri rendah, menunjukkan penerimaan dengan merawat stoma tersebut, menyatakan perasaannya tentang stoma. Intervensi :
o Kaji persepsi pasien/ orang terdekat tentang stoma. o Motivasi pasien untuk megungkapkan perasaannya. o Kaji ulang tentang alasan pembedahan. o Observasi perilaku pasien. o Berikan kesempatan pada pasien atau orang terdekat untuk merawat stomanya. o Jadwalkan aktivitas perawatan pada pasien o Hindari menyinggung perasaan pasien atau pertahankan hubungan positif. o Pertahankan pendekatan positif selama tindakan perawatan

Dx 10 : Kurangnya pengetahuan keluarga berhungan dengan kebutuhan perawatan di rumah (Walley & Wong,1996). Tujuan yang diharapkan adalah pasien dan keluarga memahami perawatan di rumah kriteria hasil: keluarga menunjukkan kemampuan untuk memberikan perawata untuk bayi di rumah. Intervensi : o Ajarkan perawatan kolostomi dan partisipasi dalam perawatan sampai mereka dapat melakukan perawatan. o Ajarkan untuk mengenal tanda tanda dan gejala yang perlu dilaporkan perawat. o Ajarkan bagaimana memberikan pengamanan pada bayi dan melakukan dilatasi pada anal secara tepat. o Ajarkan cara perawatan luka yang tepat. o Latih pasien untuk kebiasaan defekasi. o Ajarkan pasien dan keluarga untuk memodifikasi diit (misalnya serat)

DAFTAR PUSTAKA
Alimul Aziz.2006. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak. Jakarta: EGC Wong, Donna L.2004.Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik. Jakarta: EGC Sacharin Rosa. 1994. Prinsip Keperawatan Pediatrik. Jakarta: EGC http://keperawatan-gun.blogspot.com/2008/06/askepatresia-ani.html http://hidayat2.wordpress.com/2009/04/11/askep-atresiaani/ http://blog.ilmukeperawatan.com/asuhan-keperawatanatresia-ani.html