Anda di halaman 1dari 8

Terapi farmakologi (dengan obat) bagi penderita tukak lambung dapat dilakukan dengan menggunakan obat-obat sebagai berikut

: 1. Antasida

Antasida paling banyak digunakan dalam pengobatan penyakit tukak lambung. Obat ini berfungsi untuk mengurangi rasa nyeri di lambung dengan cepat. Antasida adalah basa-basa lemah yang berfungsi untuk mengikat secara kimiawi dan menetralkan asam di dalam lambung. Efeknya adalah mempertahankan pH cairan lambung antara 3 5, yang mengakibatkan berkurangnya kerja proteolitis dari pepsin yang kerja optimalnya pada pH 2. Antasida biasanya terdiri dari zat aktif yang mengandung alumunium hidroksida, magnesium hidroksida, dan kalsium. Terkadang antasida dikombinasikan juga dengan antiflatulen seperti simetikon dan dimetikon untuk mencegah terjadinya gejala kembung. Antasida dapat diminum pada saat perut kosong atau 1 jam setelah makan. Efeknya bisa bertahan 20 60 menit bila diminum pada perut kosong dan dapat bertahan sampai 3 jam bila diminum 1 jam setelah makan. Obat dalam bentuk tablet harus dikunyah sebelum ditelan agar lebih cepat bereaksi dengan asam lambung. Efek samping yang sering muncul dari antasida dengan zat aktif alumunium hidroksida adalah konstipasi (sembelit). Sedangkan antasida dengan zat aktif magnesium hidroksida dapat menyebabkan diare, sehingga kedua zat aktif ini sering dikombinasikan agar efek samping dapat diminimalisir. 2. Antagonis Reseptor H2

Di dalam tubuh terdapat reseptor H2 yang berperan dalam pengeluaran getah-getah selaput lendir seperti selaput lendir mulut, hidung dan saluran pencernaan termasuk lambung. Obatobat golongan antagonis reseptor H2 ini menempati reseptor histamin-H2 secara efektif disekitar permukaan sel-sel parietal, sehingga akan memblokir sementara fungsi reseptor H2. Akibat dari penghambatan ini sekresi asam lambung dan pepsin menjadi berkurang. Yang termasuk dalam golongan obat ini ialah simetidin, ranitidin, famotidin, dan roxatidin. 3. Penghambat Pompa Proton

Golongan obat ini berfungsi untuk mengontrol sekresi asam lambung dengan cara menghambat pompa proton yang mentransport ion H+ secara selektif keluar dari sel-sel parietal lambung. Dalam dosis tertentu kadar penghambatan terhadap asam lambung pada umumnya lebih kuat dari pada obat golongan antagonis reseptor H2. Yang termasuk golongan obat ini adalah omeprazol, lansoprazol, rabeprazol, pantoprazol, dan esomeprazol. 4. Obat Pelindung Mukosa

Cara kerja dari obat ini yaitu membentuk lapisan pelindung pada permukaan mukosa yang mengalami erosi atau tukak. Obat ini mempunyai efek perlindungan terhadap mukosa dari serangan asam, pepsin dan garam empedu. Yang termasuk dalam obat ini adalah sukralfat, bismuth subsalisilat, aluminium hidroksida. 5. Analog Prostaglandin-E

Mukosa lambung menghasilkan prostaglandin, yang berperan untuk menghambat sekresi asam dan merangsang sekresi mukus dan bikarbonat (efek sitoprotektif). Kekurangan prostaglandin ini diduga terlibat dalam patogenesis tukak lambung. Misoprostol merupakan analog dari prostaglandin E yang digunakan untuk pengobatan tukak lambung. Obat ini mempunyai efek menghambat secara langsung sekresi asam di sel-sel parietal dan melindungi mukosa dengan jalan merangsang sekresi mukus dan bikarbonat. Obat ini digunakan untuk tukak lambung yang disebabkan oleh penggunaan NSAID. 6. Antibiotika

Bila tukak lambung disebabkan oleh adanya infeksi H. Pylori, maka pengobatannya diperlukan dengan antibiotik. Untuk membasmi H. Pylori dan mencapai penyembuhan menyeluruh obat ini digunakan dalam bentuk kombinasi 2 antibiotik dengan obat tukak yang lain. Antibiotik yang digunakan dalam pengobatan tukak lambung antara lain, amoksisilin, tetrasiklin, klaritomisin dan metronidazol. Contoh kombinasi pengobatan : kombinasi amoksisilin + klaritomisin + lansoprazole, dan kombinasi metronidazol + tetrasiklin + omeprazole + bismut subsitrat.
Beberapa obat yang termasuk anti tukak. 1. Antasida Pada saat ini antasida digunakan untuk menghilangkan keluhan rasa sakit

dan obat dispepsia. Mekanisme kerjanya menetralkan asam lambung secara lokal. Preparat yang mengandung magnesium akan menyebabkan diare sedangkan alumunium menyebabkan konstipasi dan kombinasi keduanya saling menghilangkan pengaruh sehingga tidak terjadi diare dan konstipasi (Tarigan, 2001). 2. Histamine-2 receptor antagonist Empat antagonis H2 yang beredar di USA adalah: simetidin, ranitidin, famotidin, dan nizatidin. Kerja antagonis reseptor H2 yang paling penting adalah mengurangi sekresi asam lambung. Obat ini menghambat sekresi asam yang dirangsang histamin, gastrin, obat-obat kolinomimetik dan rangsangan vagal. Volume sekresi asam lambung dan konsentrasi pepsin juga berkurang (Katzung, 2002). Mekanisme kerjanya memblokir histamin pada reseptor H2 sel pariental sehingga sel pariental tidak terangsang mengeluarkan asam lambung. Inhibisi ini bersifat reversibel (Tarigan, 2001). Simetidin, ranitidin dan famotidin kecil pengaruhnya terhadap fungsi otot polos lambung dan tekanan sfingter esofagus yang lebih bawah. Sementara terdapat perbedaan potensi yang sangat jelas diantara efikasinya dibandingkan obat lainnya dalam mengurang sekresi asam. Nizatidin memacu aktifitas kontraksi asam lambung, sehingga memperpendek waktu pengosongan lambung (Katzung, 2002). Efek samping sangat kecil antara lain agranulasitosis, ginekomastia, konfusi mental khusus pada usia lanjut, dan gangguan fungsi ginjal dijumpai terutama pada pemberian simetidin. Simetidin sebaiknya jangan diberikan bersama warfarin, teofilin, siklokarpon, dan diazepam (Tarigan, 2001). 3. Proton pump inhibitor Inhibitor pompa proton merupakan prodrug, yang memerlukan aktivasi di lingkungan asam (Pasricha dan Hoogerwefh, 2008). Mekanisme kerjanya adalah memblokir kerja enzim K+/H+ ATP-ase yang akan memecah K+/H+ ATP. Pemecahan K+/H+ ATP akan menghasilkan energi yang digunakan untuk mengeluarkan asam dan kanalikuli sel pariental kedalam lumen lambung (Tarigan, 2001). Inhibitor pompa proton memiliki efek yang sangat besar terhadap produksi asam. Omeprazol juga secara selektif menghambat karbonat anhidrase mukosa lambung, yang kemungkinan turut berkontribusi terhadap sifat suspensi asamnya (Pasricha dan Hoogerwefh, 2008). 4. Obat penangkal kerusakan mukus a) Koloid Bismuth

Mekanisme kerja melalui sitoprotektif membentuk lapisan bersama protein pada dasar tukak dan melindunginya terhadap rangsangan pepsin dan asam. Obat ini mempunyai efek penyembuhan hampir sama dengan H2RA serta adanya efek bakterisidal terhadap H. pylori sehingga kemungkinan relaps berkurang. Efek samping tinja berwarna kehitaman sehingga timbul keraguan dengan perdarahan (Tarigan, 2001). b) Sukralfat Pada kondisi adanya kerusakan yang disebabkan oleh asam, hidrolisis protein mukosa yang diperantarai oleh pepsin turut berkontribusi terhadap terjadinya erosi dan ulserasi mukosa. Protein ini dapat dihambat oleh polisakarida bersulfat. Selain menghambat hidrolisis protein mukosa oleh pepsin, sukralfat juga memiliki efek sitoprotektif tambahan, yakni stimulasi produksi lokal prostaglandin dan faktor pertumbuhan epidermal. Karena diaktivasi oleh asam, maka disarankan agar sukralfat digunakan pada kondisi lambung kosong, satu jam sebelum makan, selain itu harus dihindari penggunaan antasid dalam waktu 30 menit setelah pemberian sukralfat. Efek samping konstipasi, mual, perasaan tidak enak pada perut (Pasricha dan Hoogerwefh, 2008). c) Analog Prostaglandin: Misoprostol Mekanisme kerjanya mengurangi sekresi asam lambung menambah sekresi mukus, sekresi bikarbonat dan meningkatkan aliran darah mukosa (Tarigan, 2001). Efek samping yang sering dilaporkan diare dengan atau tanpa nyeri dan kram abdomen. Misoprostol dapat menyebabkan eksaserbasi klinis (kondisi penyakit yang bertambah parah) pada pasien yang menderita penyakit radang usus, sehingga pemakaiannya harus dihindari pada pasien ini. Misoprostol dikontraindikasikan selama kehamilan, karena dapat menyebabkan aborsi akibat terjadinya peningkatan kontraktilitas uterus. Sekarang ini misoprostol telah disetujui penggunaanya oleh United States Food and Drug Administration (FDA) untuk pencegahan luka mukosa akibat NSAID (Pasricha dan Hoogerwefh, 2008). 5. Regimen terapi Terapi yang diginakan menggunakan kombinasi antibiotik yang dikombinasi dengan proton pump inhibitor (PPI) dan histamine-2 receptor antagonist (H2RA). Antibiotik berguna untuk eradikasi H. pylori karena penyebab utama tukak peptik adalah H. pylori. Penggunaan PPI dan H2RA untuk mengurangi sekresi asam lambung yang berlebihan pada tukak peptik (Akil, 2001).

Pilihan pertama untuk terapi adalah menggunakan Proton pump inhibitor sebagai dasar terapi 3 obat selama minimal 7 hari, tetapi lebih dianjurkan selama 10 sampai 14 hari. Terapi menggunakan PPI dan H2RA direkomendasikan pada pasien yang memiliki resiko tinggi komplikasi tukak, pasien yang gagal dalam eradikasi H. pylori (Berardy dan Lynda, 2005). Bismuth sebagai dasar terapi 4 obat merupakan pilihan pertama untuk terapi eradikasi H. pylori. Eradikasi dilakukan selama 14 hari, jika lama terapi ini sampai 1 bulan tidak akan efektif untuk eradikasi H. pylori. Meskipun terapi ini digunakan sebagai pilihan pertama, tetapi terapi ini juga dapat digunakan untuk terapi pilihan kedua, ketika kegagalan terapi menggunakan PPI sebagai dasar 3 obat (Berardy dan Lynda, 2005). Berkurangnya nyeri epigastrik harus dimonitor dengan seksama yang merupakan bagian terapi pada pasien dengan infeksi H. pylori atau NSAID induced ulcers. Umumnya nyeri tukak berkurang dalam beberapa hari ketika NSAID tidak digunakan dan dengan 7 hari inisiasi terapi anti tukak (Berardy dan Lynda, 2005). Pengguna NSAID jangka panjang memiliki 2% sampai 4% risiko berkembangnya ulser simtomatik, perdarahan GI atau bahkan perforasi. NSAID dihentikan sama sekali dan atau diganti dengan inhibitor COX-2 selektif. Meskipun terus menggunakan NSAID, penyembuhan dapat dilakukan dengan menggunakan obat-obat pensupresi asam, biasanya dengan dosis yang lebih tinggi dan durasi yang jauh lebih lama (8 minggu). PPI mempunyai efek yang lebih baik daripada H2RA dan misoprostol dalam mendorong tukak aktif, juga mencegah kekambuhan tukak (Berardy dan Lynda, 2005)

Analgetik non-opiod (perifer) Semua analgetik non-opiod (kecuali asetaminofen) merupakan obat anti peradangan nonsteroid (NSAID, nonsteroidal anti-inflammatory drug). Obat-obat ini bekerja melalui 2 cara: 1. Mempengaruhi sistem prostaglandin, yaitu suatu sistem yang bertanggungjawab terhadap timbulnya rasa nyeri. 2. Mengurangi peradangan, pembengkakan dan iritasi yang seringkali terjadi di sekitar luka dan memperburuk rasa nyeri Obat analgetik non-opiod digunakan untuk :

Meringankan

atau menghilangkan rasa nyeri tanpa mempengaruhi SSP atau

menurunkan kesadaran juga tidak menimbulkan ketagihan


Diberikan

untuk nyeri ringan sampai sedang : nyeri kepala, gigi, otot atau sendi,

perut, nyeri haid, nyeri akibat benturan Berdasarkan derivatnya, analgetik non-opiod dibedakan atas 8 kelompok yaitu :
Derivat Derivat Derivat Derivat Derivat Derivat Derivat Derivat

paraaminofenol : Parasetamol Asam Salisilat : asetosal, salisilamid dan benorilat asam propionat : ibuprofen, ketoprofen Asam fenamat : asam mefenamat asam fenilasetat : diklofenak asam asetat indol : indometasin pirazolon : fenilbutazon oksikam : piroksikam

Parasetamol
Merupakan

penghambat prostaglandin yang lemah. mempunyai efek analgetik dan antipiretik, tetapi kemampuan

Parasetamol

antiinflamasinya sangat lemah Asetosal (Aspirin)


Mempunyai Efek

efek analgetik, anitipiretik, dan antiinflamasi.

samping utama : perpanjangan masa perdarahan, hepatotoksik (dosis besar) dan

iritasi lambung.
Diindikasikan

pada demam, nyeri tidak spesifik seperti sakit kepala, nyeri otot dan

sendi (artritis rematoid).


Aspirin

juga digunakan untuk pencegahan terjadinya trombus (bekuan darah) pada

pembuluh darah koroner jantung dan pembuluh darah otak Asam Mefenamat
Mempunyai

efek analgetik dan antiinflamasi, tetapi tidak memberikan efek

antipiretik.
Efek

samping : dispepsia : 2-3 kali 250-500 mg sehari : anak di bawah 14 tahun dan wanita hamil

Dosis

Kontraindikasi

Ibuprofen
Mempunyai

efek analgetik, antipiretik, dan antiinflamasi, namun efek

antiinflamasinya memerlukan dosis lebih besar

Efek

sampingnya ringan, seperti sakit kepala dan iritasi lambung ringan. cepat melalui lambung

Absorbsi Waktu

paruh 2 jam dan lengkap (90%)

Ekskresinya berlangsung cepat Dosis

4 kali 400 mg sehari

Diklofenak
Diberikan

untuk antiinflamasi dan bisa diberikan untuk terapi simtomatik jangka

panjang untuk artritis rematoid, osteoartritis, dan spondilitis ankilosa.


Absorbsi Waktu Efek

melalui saluran cerna cepat dan lengkap

paruh 1-3 jam

samping : mual, gastritis, eritema kulit : 100-150 mg, 2-3 kali sehari

Dosis

Indometasin
Mempunyai

efek antipiretik, antiinflamasi dan analgetik sebanding dengan aspirin,

tetapi lebih toksik.


Metabolisme Efek

terjadi di hati

samping : diare, perdarahan lambung, sakit kepala, alergi lazim : 2-4 kali 25 mg sehari

Dosis

Piroksikam
Hanya diindikasikan untuk Waktu

inflamasi sendi.

paruh : > 45 jam cepat dilambung

Absorbsi Efek

samping : gangguan saluran cerna, pusing, tinitus, nyeri kepala dan eritema kulit. : 10-20 mg sehari

Dosis

Fenilbutazon
Hanya digunakan

untuk antiinflamasi, mempunyai efek meningkatkan ekskresi asam

urat melalui urin, sehingga bisa digunakan pada artritis gout.


Diabsorbsi Waktu

cepat dan sempurna pada pemberian oral.

paruh 50-65 jam

Efek samping Efek samping yang sering timbul pada analgetik non-opiod dikelompokkan sebagai berikut :
Gangguan Kerusakan Kerusakan

lambung-usus (asetosal, ibuprofen, metamizol) darah (parasetamol, asetosal,mefenaminat, metamizol) hati dan ginjal (parasetamol dan ibuprofen)

Alergi

kulit

Kehamilan dan laktasi Analgetik yang mempunyai pengaruh pada kehamilan dan laktasi antara lain adalah :
Parasetamol Asetosal

: dianggap aman walaupun mencapai air susu

dan salisilat, dan metamizol : pada kehamilan dapat menyebabkan

perkembangan janin terganggu.