Anda di halaman 1dari 8

JURNAL PRAKTIKUM FARMAKOLOGI TOKSIKOLOGI

Nama / NRP : Merry Yulia A. / 2443009143 Golongan Kelompok :R :3

EFEK OBAT PADA MATA KELINCI ( Simulasi Komputer )

I. Tujuan : Memahami efek berbagai obat pada diameter pupil Memahami efek berbagai obat pada refleks korneal Memahami efek berbagai obat pada refleks cahaya Memahami efek berbagai obat pada tekanan intraokular

II. Dasar Teori Iris terdiri dari dua tipe otot, yaitu otot sirkular dan radial. Otot sirkular disarafi oleh sistem parasimpatis dan otot radial di persyarafi oleh sistem simpatis. Rangsangan terhadap sistem syaraf simpatis dan parasimpatis akan menimbulkan midriasi dan miosis, sedangkan kelumpuhan otot akan menimbulkan efek yang berlawanan dengan yang seharusnya.

Obat-Obat 1. Fisostigimin Fisostigimin merupakan obat antikolinesterase amin tersier yang secara efektif meningkatkan konsentrasi asetilkolin pada tempat transmisi asetilkolin

dan mempermudah transmisi impuls melintasi sambungan neuromuskuler. Tidak seperti neostigmin, fisotigmin menembus sawar darah-otak.

2. Epineprin Epinefrin mempunyai efek meningkatkan tekanan darah melalui aktivasi adrenoseptor - 1 jantung yang terjadi setelah pelepasan atau pemberian epinefrin berhubungan dengan kerja kronotropik positif dan inotropik positif atas jantung. Dengan demikian epinefrin juga mempunyai efek kronotropik positif (meningkatkan kecepatan denyut jantung) dan inotropik positif (memperkuat kontraksi myokardium) sehingga cardiac out put (curah jantung) meningkat. Efek samping dari epinefrin adalah Disritmia ventrikel, angina pektoris, nyeri kepala, tremor, pengeluaran urine berkurang, ketakutan serta ansietas.
3. Atropin Sulfat

Atropin, memiliki aktivitas kuat terhadap reseptor muskarinik, dimana obat ini terikat secara kompetitif sehingga mencegah asetilkolin terikat pada tempatnya di reseptor muskarinik. Atropin menyekat reseptor muskarinik baik di sentral maupun di saraf tepi. Keja obat ini secara umum berlangsung sekitar 4 jam kecuali bila diteteskan ke dalam mata maka kerjanya akan berhari-hari. Kerja : Atropin menyekat semua aktivitas kolinergik pada mata sehingga menimbulkan midriasis (dilatasi pupil), mata menjadi bereaksi terhadap cahaya dan sikloplegia (ketidakmapuan memfokus untuk penglihatan dekat). Pada pasien dengan glaucoma , tekanan intaraokular akan meninggi dan membahayakan. (M. J. Mycek, R. A. Harvey dan P. C. Champe, 1997)

4. Ephedrine

Mekanisme : Bekerja langsung merangsang reseptor a b1 dan b2. Efek perifer, bekerja langsung dan tidak langsung pada efektor sel. Seperti halnya epinefrin, efedrin meninbulkan bronkodilatasi,tetapi efeknya lebih lemah dan berlangsung lama. Hal ini digunakan untuk terapi asma bronkial. Penetesan lokal pada mata

menimbulkan midriasis (Staf Pengajar Departemen Farmakologi FK universitas Sriwijaya,2008). Efek pada mata : Kongesti pantulan (penggunaan nasal) dan iritasi lokal (Deglin,2004).

5. Adrenaline HCl

Penggolongan : Termasuk dalam obat adrenergic yang secara rinci digolongkan dalam obat system kardiovaskular, kardiopulmonari. (British National Formulary 54th,, 2007) Efek pada mata : Mempengaruhi otot spinchter dan radial pada iris yang dapat menyebabkan dilatasi pupil. (British National Formulary 54th,, 2007)
6. Lignokain Penggolongan : Termasuk dalam golongan obat anestesi lokal (Staf Pengajar Departemen Farmakologi FK universitas Sriwijaya,2008). Mekanisme : Mencegah rasa nyeri dengan menyebabkan blok konduksi sepanjang akson saraf yang reversibel.(Grace & Broley,2006). Efek pada mata : Anestesi pada mata dan pupil mengecil

Bahan dan alat Hewan percobaan : kelinci Alat Bahan : kotak kelinci, penggaris, pipet tetes, senter, kapas :

1. Larutan fisiologis NaCl 0,9% 2. Fisostigmin 0,5% 3. Atropin Sulfat 1%

4. Efedrin 0,5% 5. Adrenalin hidroklorida 0,1% 6. Lignokain hidroklorida 1 %

III. Skema Kerja Ukur diameter dari pupil kanan dan kiri (dengan menggeser penggaris kearah diameter pupil).

Catat tekanan intraokularnya (Low, Normal atau High).

Uji refleks cahaya dengan menggunakan senter dan uji refleks kornea dengan menggunakan kapas.

Gunakan mata kanan untuk kontrol dan mata kiri untuk perlakuan

Teteskan larutan fisiologis NaCl 0,9 % pada mata kanan dan obat pada mata kiri

Ulangi pengukuran diameter pupil, tekanan intraokular, refleks cahaya dan refleks kornea Catat hasilnya dalam tabel

IV. Hasil Praktikum

Kelinci Nomor/ mata

Obat / Saline

TIO

Refl. Cahaya

Refl. Korneal Sblm Ssdh

Ukuran pupil (mm) Sblm Ssdh 9 7 10 7 9,5 7 4,5 7 7 7

Sblm Ssdh Sblm Ssdh N N N N N N N N N N L N N N N N L N N N N N N N N N N N N N

(R/L) 1. Mata Epinefrin (R) 1. Mata NaCl 0,9% (L) 2. Mata Atropin (R) 2. Mata NaCl 0,9% (L) 3. Mata Ephedrine (R) 3. Mata NaCl 0,9% (L) 4. Mata Physostigmin (R) 4. Mata NaCl 0,9% (L) 5. Mata Lignocaine (R) 5. Mata NaCl 0,9% (L)

Mengecil Berkedip Berkedip 7 Mengecil Berkedip Berkedip 7 Tetap Berkedip Berkedip 7

Mengecil Berkedip Berkedip 7 Mengecil Berkedip Berkedip 7 Mengecil Berkedip Berkedip 7 Mengecil Berkedip Berkedip 7 Mengecil Berkedip Berkedip 7 Mengecil Berkedip Tidak 7

berkedip Mengecil Berkedip Berkedip 7

V. Pembahasan Midriasis terjadi pada perangsangan simpatis tetapi tidak terjadi bila epinefrin diteteskan pada konjungtiva mata normal. Terapi epinefrin biasanya menurunkan tekanan intraokuler yang normal maupun pada pasien glaukoma sudut lebar. Efek ini mungkin disebabkan berkurangnya pembentukkan cairan bola mata akibat vasokontriksi dan karena bertambahnya aliran keluar. (Setiawati, Arini dan Sulistia Gan, p.68) Efedrin adrenergik Midriasis berlangsung selama beberapa jam dan tidak menimbulkan siklopegia sehingga tidak begitu mengganggu bila dibandingkan dengan atropin yang

digunakan untuk maksud yang sama. Efedrin digunakan untuk menurunkan tekanan intraokular pada pasien glaukoma. (Setiawati, Arini dan Sulistia Gan, p.62) Fisostigmin menyebabkan miosis, hilangnya daya akomodasi, dan hipermia konjungtiva. Miosis terjadi cepat selama beberapa menit dan menjadi maxiaml setelah setengah jam. ( Zunilda D.S.,p.53 ) Jawaban tugas : 1. Apa perbedaan antara midriasis yang diinduksi oleh agen adrenegik dan obat antikolinergik? Adrenegik agen dapat membesarkan pupil mata dan dapat menghilangkan refleks cahaya tetapi tidak menghilangkan refleks korneal. Berbeda dengan obat antikolinergik yang dapat membesarkan pupil mata namun tidak menghilangkan refleks cahaya maupun refleks korneal. 2. Beberapa nama klinis yang digunakan pada midriasis dan miotik Midriasis : atropin, epinefrin, ephedrine Miosis : physostigmin

3. Terapi apa yang digunakan pada midriatikus ? Terapi yang digunakan berupa pemberian obat antikolinergik dan obat midriatikum. Obat midriatikum adalah obat yang digunakan untuk membesarkan pupil mata dan digunakan untuk siklopegia dengan melemahkan otot siliari sehingga memungkinkan mata untuk fokus pada obyek yang dekat. Obat midriatikum menggunakan tekanan pada efeknya dengan memblokade inervasi dari pupil spingter dan otot siliari.

4. The stomach was fluid taken form a case of poisioning produced pinpoint pupil when instilled into the eye of rabbit. The TIO was also found to be decressed. What is your probable diagnosis? Efek dari obat-obat kolinergik adalah menyebabkan miosis pada pupil, memberikan efek pada GIT karena meningkatkan gerakan peristaltik. Jadi

kemungkinan si pasien sedang menggunakan obat atropin sulfat sehingga ketika cairan lambung diambilditeteskan pada mata kelinci, maka pupil akan membesar dan terjadi midriasis.

VI. Kesimpulan Obat Ephedrine 0,5% menyebabkan efek midriasis. Obat Physotigmin 0,5% menyebabkan efek miosis Obat Atropin 1% menyebabkan efek midriasis. Obat Adrenalin hidroklorida 0,1%, memberikan efek midriasis Obat Lignokain hidroklorida 0,1%, tidak memberikan efek perubahan ukuran pada pupil mata kelinci. Larutan NaCl 0,9% (saline) sebagai kontrol.

VII.

Daftar Pustaka Omoigui, Sota, Buku Saku Obat-obatan Anastesia ed. 2, 1997, Jakarta

Setiawati, A., Sulista, Gan, 2009, Farmakologi dan Terapi ed. 5, Obat Adrenergik, Jakarta : Departemen Farmakologi dan Terapi Fakultas kedokteran Universitas Indonesia. Zunilda D.S., 2009, Farmakologi dan Terapi ed. 5, Agonis dan Antagonis Muskarinik, Jakarta : Departemen Farmakologi dan Terapi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Chang, F.D. 2000. Pemeriksaan Oftalmologik. Oftalmologi Umum Edisi 14.Widya Medika. Jakarta. 30 -41. Depiana, I., 2003, Glaukoma Sekunder, Medical Study Club (MiSC) Organ Indera, Jakarta : Fakultas kedokteran Universitas Indonesia. Mycek, M.J., R. A. Harvey dan P. C. Champe. (1997). Farmakologi Ulasan Bergambar. Edisi Kedua. Jakarta : Widya Medika. Hal. 38, 41, dan 45-46.
http://medlinux.blogspot.com/2011/10/efek-efek-adrenalin-epinefrin.html