BUKU RENCANA PROGRAM KEGIATAN PEMBELAJARAN SEMESTER (RPKPS) DAN

BAHAN AJAR ANTROPOLOGI HUKUM

oleh DR SULASTRIYONO, SH MSI UNIVERSITAS GADJAH MADA FAKULTAS HUKUM YOGYAKARTA 2012

BUKU RENCANA PROGRAM KEGIATAN PEMBELAJARAN SEMESTER (RPKPS) DAN BAHAN AJAR ANTROPOLOGI HUKUM Nama Matakuliah : Antropologi Hukum Kode/ SKS Prasyarat : 2 SKS : PIH atau PHI,

1

Status Matakuliah : wajib

A. Deskripsi Singkat
Mata kuliah ini diberikan pada mahasiswa Fakultas syariah dan hukum dalam menempuh penulisan hukum/ tugas Semester lima setelah mengikuti perkuliahan hukum adat. Tujuan pemberian mata kuliah ini mempersiapkan dan substansi mahasiswa akhir. Oleh karena itu mahasiswa diberikan bekal ilmu (knowledge) berupa pengertian perkembangan ilmu antropologi hukum. Selain itu mahasiswa juga diberikan bekal ketrampilan (skills) tentang pokok-pokok permasalahan kasus dengan metode pendekatan antropologi hukum dikaitkan dengan kasus konkrit di masyarakat. Sebagai pelengkap dalam mata kuliah ini mahasiswa diberikan bekal yang terkandung dalam releksi antropologi hukum hukum adat dan politik hukum pemerintah pada masa yang akan datang. nilai (value) seperti harapan dan ide/ gagasan

B. PERENCANAAN PEMBELAJARAN 1. Tujuan Pembelajaran Setelah menyelesaikan mata kuliah ini mahasiswa diharapkan dapat menjelaskan fungsi antropologi hukum sebagai ilmu bantu dalam mempelajari ilmu hokum dan syariah.. 2. Capaian Kompetensi Pembelajaran Mata Kuliah Antropologi Hukum 1 Elemen Kompetensi 1 Komp. Knowledge .Mengerti dan memahami : Jenis Kompetensi mata kuliah Materi pendukung Hukum Adat kuliah

Utama

s

1. Pengertian 2. Hubungan hukum hukum 3. antropologi dengan hukum adat

antropologi antropologi

dan antropologi hukum dengan ilmu

Hukum kekerabtan adat

Hubungan hukum den

4. Perkembangan antropologi hukum 5. Tema antropologi 2 Komp. Pendukung Skills hukum Mahsiswa mampu membuat Sikap mental dan proposal dan melaksanakan etika profesi penelitian menggunakan antropologi hukum. hukum dengan pendekatan kajian

3

Komp. Lain

Values

Mahasiswa hidup

mempunyai

1. 2. 3. 4.

Pendidikan Pancasila Agama Kewargane garaan Bahasa

bekal nilai-nilai hukum yang 1. Nilai keagamaan 2. Nilai kebersamaan 3. Nilai gotong royong

3

Pluralisme hukum c. Pluralisme hukum ilmu 4. Nilai demokrasi/ hukum Keadilan dan keterbukaan 3. Penelitian pendekatan hukum dengan antropologi a.Metode non sengketa 5. Alat merubah masyarakat Sarana pembangunan . Metode kasus c. Materi Pembelajaran: NO 1. Pendekatan antropologi hukum Tema kajian antropologi hukum model 3. Metode kasus sengketa. Ruang Hukum lingkup Antropologi a. Hubungan antropologi hukum dengan ilmu hukum b. b. Istilah antropologi dan antropologi hukum Sumber pengenal antopologi hukum 2.4. Topik (Pokok Bahasan) Pengenalan Hukum Antropologi Sub Pokok Bahasan a. Perkembangan antropologi hukum b. Perkembangan tema kajian antropologi hukum a. Nilai musyawarah 5. Fungsi masyarakat hukum dalam a. Alat kontrol sosial b.

LCD.4. hukum 2) diskusi kelas. LCD. Minggu Ke 1 dan 2 Pengantar Antropologi Hukum : a. Apabila suatu saat satu semester hanya 12 atau 13 minggu. maka kekurangan waktu mengajar dapat ditambah dan atau materi kuliah dipadatkan. 3)responsi tema 1)ceramah dengan didukung. Board. OHP. Manfaat c. Perkembangan Topik & Substansi Bahasan Metode Pembelajaran 1)ceramah dengan didukung White Board. maka pokok bahasan dibagi ke dalam 14 minggu. sementara 2-4 minggu sisanya dialokasikan untuk ujian midsemester dan akhir semester. Penelitian menggunakan pendekatan antropologi hukum dengan 1)ceramah dengan didukung White atau LCD. 2)tanya-jawab/ diskusi kelas. Pengertian b. White Board. Berdasarkan asumsi ini. Rencana Kegiatan Pembelajaran Mingguan: Rencana perkulihan selama satu semester direncanakan diselenggarakan dalam waktu 12 – 16 minggu. atau atau kajian antropologi hukum 5 . Dalam kegiatan belajar mengajar ini setiap kuliah diperkirakan memakan waktu selama 100 menit. Hubungannya antropologi dengan ilmu lain 3 dan 4 a. 3)responsi 5 dan 6 a.

3)responsi OHP. 3)responsi OHP. Board. 2)tanya-jawab/ diskusi kelas. Board. 3)responsi OHP. 2)tanya-jawab/ diskusi kelas.2)tanya-jawab/ diskusi kelas. 11 Perbaikan peoposal dan penelitian 1)ceramah dengan lapangan didukung White OHP. Diskusi proposal penelitian 1)ceramah dengan didukung White atau LCD. Board. . 3)responsi 7 Fungsi hukum dalam masyarakat 1)ceramah dengan didukung White atau LCD. 2)tanya-jawab/ diskusi kelas. 10 a. Board. 8 UJIAN MID-SEMESTER 9 Pembuatan kecil proposal penelitian 1)ceramah dengan didukung White atau LCD.

OHP. Board. OHP. Board. 3)responsi 13 Presentasi penelitian dan Diskusi hasil 1)ceramah dengan didukung White atau LCD. 2)tanya-jawab/ diskusi kelas. Board. 2)tanya-jawab/ diskusi kelas. 2)tanya-jawab/ diskusi kelas. 2)tanya-jawab/ diskusi kelas. Board. OHP. 2)tanya-jawab/ OHP. 3)responsi 15 Diskusi hasil penelitian 1)ceramah dengan didukung White atau LCD.atau LCD. 7 . 3)responsi 12 Penulisan laporan penelitian 1)ceramah dengan didukung White atau LCD. 3)responsi 14 Presentasi penelitian dan Diskusi hasil 1)ceramah dengan didukung White atau LCD.

diskusi kelas. 3)responsi 16 UJIAN AKHIR

5. Penilaian Selama ini penilaian utama terhadap hasil kegiatan belajar mahasiswa dilakukan melalui beberapa cara, yaitu dengan cara ujian 2 X selama satu semester (ujian mid dengan bobot 30 % dan akhir semester dengan bobot 30 %). Di samping itu, presensi kedatangan, keaktifan menanggapi materi kuliah adalah 10 %. Adapun sisanya 30% untuk pembuatan laporan penelitian/ paper. Evaluasi dilakukan melalui bentuk ujian tertulis baik mid-semester dan akhir semester dengan maksud untuk mengetahui kemampuan daya serap

mahasiswa terhadap materi yang diberikan di dalam kelas. Sedangkan evaluasi terhadap aktivitas individu dalam diskusi, tanya jawab dan kediplinan dalam mengikuti kegiatan perkuliahan dapat dipertimbangkan sebagai nilai tambah bagi mahasiswa yang sangkutan. Jumlah tersebut kemudian dikonversi ketentuan Nilai A adalah Nilai C : 55 85 - 100 69 Nilai B : 70 - 84 Nilai D : 35 = 54 Nilai E kurang dari 35 . 6. Bahan, Sumber Informasi, dan Referensi: a. Bahan 1) Bahan hukum primer yang berupa living law dalam suatu masyarakat 2) Bahan-bahan yang berasal dari berbagai penelitian, tulisan yang terkait dengan way of life ataupun adat dengan

kebiasaan yang ada dalam suatu masyarakat. b. Sumber Informasi: Tokoh masyarakat, masyarakat hukum, ahli hukum dan hasil-hasil penelitian yang terkait dengan materi kuliah. c. Referensi: Referensi Wajib: 1. TO Ihromi, 1994, Antropologi hukum Bunga rampai, 2. ---------------, 1990 Antropologi dan hukum 3. Soekanto, Soerjono, 1984, Antropologi Hukum materi Pengembangan Hukum Adat, Rajawali 4. Laura Nader, 1984, Studi antropologi Hukum, Ramadani Solo 5. Nobert Rouland, 1992, Antropologi Hukum, Atmajaya yogyakarta. 6. Hadikusuma Hilman. 1986, Bandung. Antropologi Hukum Indomnesia, Alumni

C. INDIKATOR KEBERHASILAN DAN EVALUASI 1. Rencana Dokumen Kegiatan Mingguan MINGG NO KE TOPIK/ POKOK BAHASAN 9 SUBSTANSI MATERI METODE PEMBEL. FASILI TAS

1

1

PENGANTAR

1. Kontrak perkuliahan 2. Materi 3. Silabi 4. pustaka 5. rpkps 1. Pengertian 2 Manfaat 3.Hubungannya antropologi lain hukum dengan dengan ilmu

Ceramah Dan diskusi

Laptop dan LCD

2

2 dan 3

Pengantar

Ceramah Dan diskusi

Laptop dan LCD

3

4 dan 5 6

Perkemb. Antropologi hukum Pendekatan antropologi hukum

Tema

kajian Ceramah Dan diskusi Ceramah Dan diskusi

antropologi hukum dan pluralisme hukum Penelitian dengan menggunakan pendekatan antropologi hukum, (kasus sengketa, studi kasus, kasus nonsengketa) 1. alat pengendalian sosial 2. alat merubah masyarakat 3. sarana pembangunan

Laptop dan LCD Laptop dan LCD

4

5

7

Fungsi hukum dalam masyarakat

Ceramah Dan diskusi

Laptop dan LCD

5 7

8 9 dan 10

Ujian mid Pembuatan proposal Teknik pembuatan proposal dan Ceramah Dan Laptop dan

Mater pembelajaran 1 1. Sistematika penyajian mater 3. Rencana Dokumen Masukan Mahasiswa NO INFORMASI BALIKAN I. Pemahaman anda thd mater 11 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 3 3 3 3 3 4 4 4 4 4 SKALA . Paper/ hasil LCD Laptop dan LCD 9 12 Diskusi Analisis mdan pembahasan data Laptop dan LCD 10 13 dan 14 Diskusi Hasil penelitian penelitian 1. Ceramah Dan diskusi. kemutakhiran mater 5. pelaporan hasil Ceramah penelitian Dan diskusi Paper/ hasil penelitian Laptop dan LCD 11 15 Diskusi Hasil penelitian Perbaikan laporan dan penyerahan laporan penelitian Ceramah Dan diskusi Paper/ Laptop dan LCD 2. Relevansi materi dg pokok bahasan 4. Cakupan materi 2.penelitian kecil penulisan 8 11 Diskusi proposal Perumusan maslah dan teknik penelitian diskusi paper Ceramah Dan diskusi paper/ penelit.

........... Gagasan 19. alokasi waktu diskusi 15...... Kesesuaian waktu dengan pelaksanaan latihan 17.... ...... komentar tentang pembelajaran ini 23. ....... interaksi tanya jawab 14. Materi dlm latihan 2 Strategi dan metode Pembelajaran 7 Kesesuaian stratategi dg tuj......... ..... Kesempatan Anda menyamp... 12........................ saran........ Kesan. Keterbukaan dosen thd gagasan anda 20... keseuaian waktu dg strategi yang disiapkan 16... Pembel 8..... Ketuntasan mater 18.. Intensitas penerap... Perband. .. Kegiatan pembelajaran ini akan lebih baik jika hal-hal berikut ini diperbaiki 24.... Keseuaian strategi dg karakter pesereta 9..6... Pesan... Sebutkan kesulitan Anda dlm pembelajaran 22...... kesesuaian penguunaan contoh 11.... ...... Teori dg latihan 10.................... interaksi dosen dg mhs 3 Lain-lain 21.. Kesesuian penggunaan media pembel........ Kualitas diskusi 13.... Bagaimana sistem perkuliahan yang baik 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 3 4 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 1 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 ........................ Berapa lama waktu pencarian bahan studi kasus 25...........

MSi) BAHAN AJAR ANTROPOLOGI HUKUM 13 . Sulastriyono.Terimkasih atas peran serta Anda dalam Evaluasi Pembelajaran ini Keterangan 1= 2= 3= 4= Tidak sesuai/ tidak memuaskan Kurang sesuai/ kurang memuaskan Cuku[p sesuai/ Cukup memuaskan Sangat sesuai/ sangat memuaskan Yogyakarta. 2012 Penyususun (DR. SH.

untuk itu marilah kita melihat beberapa pendapat dari para sarjana mengenai antropologi hukum itu : 1. Menurut Hilman Hadikusuma “ Antropologi Hukum adalah suatu bidang khusus atau suatu spesialisasi dari Antropologi Budaya yang menjadi ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri. Oleh karena hukum itu adalah bagian dari suatu kebudayaan dan antropologi budaya itu melakukan pendekatan secara menyeluruh. SULASTRIYONO. Secara redaksional para sarjana mendefinisikan antropologi itu berbeda-beda. Kemudian beliau menambahkan bahwa maka antropologi hukum melakukan . terutama dari etnologi atau ilmu bangsa-bangsa. ada banyak sarjana yang mendefinisikan tentang apa itu antropologi hukum. SH MSI FAKULTAS HUKUM YOGYAKARTA 2012 I.Pengertian Antropologi Hukum Dalam perkembangannya. menyeluruh terhdap segala hasil daya cipta manusia”.OLEH DR. PENGANTAR ANTROPOLOGI HUKUM A .

T. Hilman Hadikusuma.Norbert Rouland Antropologi Hukum adalah suatu disiplin yang melalui analisis uraian (lisan atau tertulis). Dijelaskan pula bahwa manusia yang dimaksud disini adalah manusia yang hidup bermasyarakat. Karena dirasakan pengertian diatas masih luas. baik manusia yang masih sederhana (primitif) budayanya maupun yang sudah modern (maju) budayanya. Pengantar Antropologi Hukum. Budaya yang dimaksud adalah budaya hukum. Ihromi. Tetapi masalah hukum yang dilihat dari segi-segi kecendekiawanan (intelektual). praktik-praktik dan gambaran-gambaran. Masalah hukum yang dimaksud bukan saja hukum dalam arti dan bentuk prilaku sebagai kebiasaan yang berulang-ulang terjadi sebagaimana dalam hukum adat atau hukum dalam arti dan bentuk kaedah peraturan perundangan . Norbert Rouland. 3. Benda Beckmann (1988) 1. Antropologi Hukum. Hak ulayat. yaitu segala prilaku budaya manusia yang mempengaruhi atau yang berkaitan dengan masalah hukum. Prof Hilman mempersempit definisi dari antropologi hukum menjadi suatu ilmu pengetahuan (logos) tentang manusia (antropos) yang bersangkutan dengan hukum. Yang terakhir ini merupakan objek yang menarik perhatian dalam antropologi hukum 1. filsafat. jika demikian hukum dengan pendekatan yang normatif.pendekatan secara menyeluruh terhadap segala sesuatu yang melatar belakangi budaya hukum itu. Hlm 2-3 3.O. ilmu jiwa. Antropologi Hukum dalam sejarahnya digunakan oleh pemerintah kolonial untuk mengamati “Hukum Rakyat” (Hukum Adat. Rechtskring) sehingga memudahkan mereka dalam melakukan penjajahan3 4. Pendekatan Antropologi dalam Kajian Hukum. dan berusaha menentukan logika yang mendasarinya2. meneliti proses pembentukan hukum yang khas bagi setiap masyarakat. bergaul antara satu dengan yang lain. dan lainnya yang melatabelakangi hukum itu serta cara menyelesaikan sesuatu perselisihan yang timbul dalam masyarakat. Hlm 1 15 . Hlm 3-4 2. Griffith Antropologi adalah disiplin yang mengkaji hukum bukan barat (Eropa Barat-Amerika) atau yang pada masa lalu sering dinamakan juga masyarakat primitif. 2.

Makalah untuk Seminar Antropologi Hukum. Manfaat Antropologi Hukum6 Dilihat dari segi kebutuhannya maka manfaat dari Antorpologi Hukum ini dapat kita bedakan menjadi dua macam yaitu : 1. Makalah Penataran pengajaran Antropologi Hukum Dan Sosiologi Hukum Untuk Staf Pengajar Fakultas Hukum 18-30 Juli 1994 5 . khususnya di lingkungan perguruan tinggi ilmu-ilmu sosial terutama yang mempelajari masyarkat manusia dan budaya hukumnya. hubungan antara kompleksitas tersebut dengan prilaku manusia. Pengantar Antropologi Hukum. dan sampai sejauh mana serangkaian aturan hukum dapat memecahkan suatu konflik atau melakukan pengendalian sosial yang efektif. Segi Kebutuhan Teoritis Adalah manfaat dalam rangka pengembangan ilmu pengetahuan dan peningkatan mutu berpikir ilmiah. Koentjaraningrat. Hilman Hadikusuma. 9-12 Januari 1989. “Kajian Antropologi Hukum dan Sumbangannya Bagi Pengembangan Ilmu Hukum Di Fakultas Hukum”. perubahan yang terjadi dalam kompleksitas norma dan prilaku manusia tersebut4 5.Antropologi Hukum adalah studi ilmu-ilmu sosial terhadap hukum. Hlm 5-6. seperti sikap warga dari suatu masyarakat terhadap hukum. Segi Kebutuhan Praktis 4 . Makalah Penataran pengajaran Antropologi Hukum Dan Sosiologi Hukum Untuk Staf Pengajar Fakultas Hukum 18-30 Juli 1994 6. Koentjaraningrat Antropologi hukum adalah kajian yang menganalisa masalah manusia dalam sistem hukum. Depok. 2. bagaimana hukum dapat mengubah kebiasaan hidup warga sesuatu masyarakat. Pengetahuan hukum disini artinya hukum yang diciptakan dan dipertahankan oleh ahli-ahli hukum dan hakim-hakim. atau singkatnya: bagaimana aturan-aturan hukum itu mempengaruhi hukum manusia secara kongkret dalam kenyataan hidupnya5 B.Hlm 29. yang mensyaratkan pengetahuan tentang hukum. Fakultas Hukum UI. hlm 35-46 . Sedangkan pengertian Antropologi Hukum bedasarkan relevansi praktis adalah disiplin ilmu yang terutama berfokus pada kompleksitas norma dalam masyarakat. Sulistyowati Irianto. .

-Jadi titik tolak perhatian dari teoritisi itu bukan pada masalah perbuatan pelanggaran hukum. Tentunya golongan ini akan mendapat banyak sekali manfaat dari mempelajari Antropologi hukum ini antara lain adalah sebagai berikut : .Memahami lebih jauh tentang pengertian hukum pada masyarakat sederhana (pedesaan) apabila dibandingkan dengan pengertian hukum dalam masyarakat barat yang modern . kaidah-kaidah hukum mana yang dilanggar. kaidah-kaidah hukum mana yang menjadi dasar penetapan hukuman tetapi lebih pada latar belakang pandang hidup masyarakat bersangkutan dan bagaimana cara para anggota masyarakat berprilaku dalam memelihara lembaga-lembaga hukum atau pranata-pranata hukum mereka. pembentukan peraturan hukum.Memahami lebih jauh tentang perbedaan-perbedaan pendapat dan pandangan-pandangan masyarakat (bangsa-bangsa) tentang apa yang seharusnya dan sepatutnya mereka lakukan -Memahami lebih jauh tentang masyarakat (bangsa) yang mana yang masih kuat mempertahankan berlakunya nilai-nilai budaya (hukum) yang ideologis eksplisit. staf pengajar dan mahasiswa yang lebih banyak berpikir dan berprilaku sebagai pengamat (toeschouwer) terhadap kehidupan hukum sebagai gejala masyarakat.Adalah manfaat dalam rangka pembangunan hukum. mengetahui hal-hal yang melatarbelakangi prilaku-prilaku anggota masyarakat akan memudahkan pembuatan kesimpulan dan pemberian saran-saran yang baik untuk memperbaiki atau untuk mengadakan perubahan terhadap atura-aturan hukum yang bersangkutan. Sedangkan pihak-pihak yang tentunya akan memperoleh manfaat dari mempelajari Antropologi Hukum adalah : a. para dosen. 17 .Memahami lebih jauh tentang cara bagaimana mempertahankan nilai-nilai dasar atau bagaimana jika mereka mengadakan perubahan atas nilai-nilai dasar itu . dan masyarakat yang mana yang tidak kuat lagi mempertahankannya -Mengetahui lebih jauh tentang masyarakat (bangsa) yang mana yang mempunyai norma-norma perilaku hukum yang sudah tinggi dengan tuntutan yang tinggi dan yang mana yang tidak begitu tinggi. asisten. Teoritisi Yang termasuk dalam golongan ini adalah para peneliti ilmiah hukum. penegakan dan penerapan hukum dan keadilan bagi kehidupan bermasyarakat. -Maka dengan mengetahui struktur masyarakat dan pandangan hidup masyarakat yang bersangkutan.

para anggota dan pengurus partai politik. tergugat. para penegak hukum. menghadapi tuntutan rakyat yang merasa dirugikan. menyelesaikan perkara di luar pengadilan (menurut hukum adat) atau di muka pengadilan negeri -Memberikan pertimbangan kepada polisi sebagi pengusut. co : ketika duduk di persidangan legislatif.b. didalam lembaga-lembaga partai organisasi politik ataupun organisasi-organisasi masyarakat yang menyangkut urusan politik. saksi dalam suatu perkara. para pejabat instansi pemerintah. dan hakim sebagai pemutus suatu perkara C. Manfaat yang akan diperoleh oleh golongan ini adalah sebagai berikut : -Memberikan bekal pengetahuan Antropologi Hukum dalam menghadapi dan memecahkan masalah hukum praktis. jaksa sebagai penuntut. para anggota Lembaga Musyawarah Desa. -Mereka yang termasuk dalam golongan ini antara lain adalah para anggota DPR. Praktisi Politik Yang dimasud dengan praktisi politik adalah semua orang yang dalam pikiran dan prilakunya berperanan dalam arena politik. hakim. Yang termasuk golongan ini adalah para anggota DPR. dan lainnya disekitar ruang lingkup hukum praktis. baik yang duduk dalam pemerintahan. Terdakwa.Praktisi Hukum Yang dimaksud dengan praktisi hukum disini adalah para cendikiawan hukum praktis yang cara berpikir dan berprilaku sebagai pemain diatas panggung arena hukum dalam kehidupan masyarakat. penggugat. kader-kader parta organisasi. Manfaat yang dapat diperoleh dari mempelajari Antropologi Hukum oleh golongan ini adalah sebagai berikut: Sebagai tolak ukur sejauh mana para praktisi itu berprilaku politik dan berprilaku hukum Sebagai pertimbangan praktisi politik dalam mengambil keputusan (decision making) Sebagai pertimbangan praktisi politik dalam menetukan kebijakan umum (public policy) Sebagai pertimbangan praktisi politik dalam melakukan pembagian (distribution) dan penjatahan (alocation) . advokat. jaksa. polisi.

Namun tidak berarti bahwa Antropologi Hukum ini tidak ada hubungannya dengan ilmu lain. namun yang jadi perbedaannya adalah metode pendekatannya dan latar belakang sejarahnya. pria dan wanita mandi telanjang bersama satu pancuran air. Banyak sekali orang menyamakan pengertian antara hukum adat dengan Antropologi 19 . Maka dari itu Antropologi Hukum dibutuhkan dalam hal ini khususnya dalam menyesuaikan antara salah satu adat dan budaya dengan adat dan budaya lainnya II. sosiologi hulum. memang benar bila ada persamaan dalam pangkal tolak mempelajarinya yaitu dimulai dari masyarakat sederhana. etnografi (etnologi). ilmu jiwa sosial dan ajaran hukum keagamaan. kemudian tanggal diatas disepakati sebagai lahirnya ilmu pengetahuan Hukum Adat. 1. Pergaulan Masyarakat Seperti yang kita ketahui bahwa di dunia ini pada umumnya dan Indonesia pada khususnya disusun oleh bergam adat dan budaya dan tentunya antara satu dengan yang lainnya berbeda dan bukan hal yang tidak mungkin bila adat dan budaya yang satu tidak akan cocok bila ditempatkan diluar adat dan budaya tersebut tumbuh co. untuk lebih jelasnya marilah kita lihat hubungan serta perbedaan Antropologi Hukum dengan hukum adat. di Bali.D. HUBUNGAN ANTROPOLOGI HUKUM DAN ILMU LAIN Antropologi Hukum ini adalah suatu cabang ilmu dari Antropologi Budaya yang telah menjadi ilmu yang berdiri sendiri. Hukum Adat ini merupakan hukum asli Bangsa Indonesia yang memiliki umur yang sama dengan umur bangsa Indonesia dan pada tanggal 15-17 Januari1975 dinyatakan bahwa hukum adat adalah Hukum Indonesia asli yang tidak tertulis dalam bentuk perundangundangan Republik indonesia yang disana-sini mengandung unsur-unsur agama. Pada saat itu pula seorang sarjana yang bernama John Griffiths menyebut bahwa tanggal itu pun merupakan waktu lahirnya Antropologi Hukum. bukanlah suatu hal yang tabu tetapi berbeda bila hal tersebut dilakukan di Jawa. Perlu diketahui bahwa Hukum Adat dan Antropologi Hukum ini tidak sama pengertiannya. Antopologi Hukum Dengan Hukum Adat Seperti yang kita ketahui bahwa hukum adat ini lahir dari seorang sarjana yang bernama Van Volenhoven ketika ia menyampaikan kuliah inagurasinya di Universitas Leiden sebgai Profesor Hukum Konstitusi dan administrasi tanah seberang dan hukum Adat di Hindia Timur pada tanggal 3 Oktober 1901.

Tidak heran bila banyak sarjana dari negara yang kehilangan jajahannya seperti Belanda menganggap kedua ilmu diatas adalah sama. Pendekatan Antropologi bersifat menyeluruh. Perbedaan Antroplogi Hukum dengan Hukum Adat Antropologi Objek Hukum Adat Hukum Prilaku manusia Norma-norma hukum yang hukum menyangkut diluar perundangan Normatif-juridis (khusus) hukum Metode Pendekatan Metode Penelitian Holistik (menyeluruh) Penelitian lapangan Penelitian dengan tidak Kepustakaan dan dokumentasi dengan perhatian pada memperhatikan kasus perselisihan norma-norma yang ideal Norma-norma Norma-norma hukum hukum yang nyata yang tidak dikehendaki berlaku. oleh karena prilaku manusia itu berlainan. akhir pada titik awal Titik Tolak Dari tabel diatas kita dapat mengetahui bahwa objek dari antopologi hukum lebih luas.Hukum. mempelajari semua buadaya yang terkait dan melatarbelakangi suatu peristiwa hukum yang terjadi. mulai dari watak sampai dengan tingkah lakunya. pada titik (seharusnya) berlaku. tentunya hal ini dapat dimaklumi karena pokok perhatian ilmu-ilmu ini bukan pada masyarakat modern tetapi pada masyarakat yang masih sederhana dimana kehidupan hukum dan budayanya belum kompleks. Sedangkan dalam Hukum Adat hal-hal demikian itu tidak sampai dijangkau pembahasannya. tentunya semua mengalami perubahan dan berbeda-beda dipengaruhi oleh waktu dan tempat. yang diperhatikan hanya yang bersifat .

antropologi.. Ia hanya mengolah laporan-laporan penelitian atau buku-buku karangan orang lain. ia ingin mengetahui hubungan sebab akibat dari gejala-gejala yang lain.aturan-aturan hukum adat yang ideal. dengan tujuan mendapatkan pengertian tentang sejarah dan proses evolusi serta persebaran kebudayaan umat manusia di muka bumi. Kemudian Etnologi (Etnologi Lama) berkembang menjadi Antropologi sosial (Etnologi Baru) karena dalam pembahasannya tidak lagi sekedar membahas tentang sejarah evolusi dan persebaran budaya melainkan juga mempelajari kebudayaan di dunia secara komparatif untuk merumuskan generalisasi tentang masalah kebudayaan serta mengembangkan kaidah-kaidah tentang kehidupan masyarakat dan kebudayaan umat manusia. Dalam studinya Hukum Adat lebih menggunakan studi kepustakaan dan dokumentasi dan seperlunya saja turun ke lapangan. sosiologi. Ilmu Hukum Adat tidaklah sejauh itu. Dengan demikian Etnologi Hukum atau yang disebut juaga Antopologi hukum itu merupakan sumber bahan bagi Ilmu Pengetahuan Hukum Adat sebagai ilmu yang mempelajari hukum rakyat atau hukum di luar perundang-undangan yang dibuat oleh penguasa pemerintah Belanda. Antropologi Hukum dan Etnologi Etnologi (bahasa Yunani. bagi Indonesia sekarang adalah sumber-sumber bagi antropologi hukum 21 . Penelitian Antropologi Hukum lebih banyak dan sebagian besar adalah penelitian lapangan di tempat-tempat yang menjadi objek penelitian. Maka dari itu etnologi yang dimaksudkan disini adalah etnologi lama sebagai ilmu bangsabangsa yang berkaitan dengan hukum (Etnologi Hukum) dan lukisan tentang etnologi hukum yang disebut dengan Etnografi hukum yang sifatnya Diakhronis. Untuk mencapai maksudnya itu. perbandingan hukum. 2. Bahan-bahan Etnologi hukum tersebut dan bahan-bahan hukum adat yang terdapat dalam kepustakaan lama itu. sebagai ilmu pengetahuan ia juga melukiskan gejala-gejala yang diketahuinya. bahkan filsafat. Etnos = bangsa) adalah ilmu bangsa-bangsa. ilmu Hukum Adat menggunakan metode sejarah. Disini para peneliti harus mendapatkan sebanyak mungkin data-data tentang kasus-kasus perselisihan dan mengetahu dengan mata kepalanya sendiri fakta-fakta yang terjadi dan bagaimana prilaku manusianya dalam menyelesaikan perselisihan itu. Bahkan Van Volenhoven yang kita kenal sebagai bapak hukum adat sendiri tidak pernahmelakukan penelitian lapangn di Indonesia. yang mempelajari unsur-unsur atau masalah-masalah kebudayaan suku bangsa dan masyarakat penduduk suatu daerah di seluruh dunia secara komparatif.

sosial. baik yang nampak dalam keputusan petugas hukum maupun yang nampak dalam prilaku. tetapi menekankan pada kenyataan yang empiris. Untuk lebih jelasnya marilah kita lihat tabel di bawah ini Perbedaan Antropologi Hukum dan Sosiologi Hukum . 3. Ia mempelajari gejalagejala sosial. dalam rangka menunjang pembangunan dan pembinaan hukum nasional.. antar golongan masyarakat yang satu dengan yang lain. ia mencoba menemukan hukum-hukum yang menguasai proses tersebut. hubungan antar pribadi dan pribadi. Tetapi bila dilihat dari latar belakang sejarahnya kedua ilmu ini berbeda. dan kedua ilmu tersebut sama-sama tidak melakukan pendekatan normatif semata-mata. dan lain-lain) dengan kaidah-kaidah hukum dan asas-asas hukum yang berlaku dalam masyarakat. idea-idea sosial. lembaga-lembaga masyarakat.maka dengan ruang lingkup batas tersebut ia disebut sosiologi hukum Dengan demikian hampir tidak ada perbedaan objek antar sosiologi hukum dengan antropologi hukum. dan lainnya. apakah kaidah-kaidah hukum itu nyata berlaku. pribadi dan masyarakat.Indonesia yang modern dan ilmu pengetahuan hukum adat yang modern. Antropologi Hukum dan Sosiologi Hukum Sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari proses dalam masyarakat. Apabila yang dipelajari memusatkan perhatian pada hukum sebagai gejala dalam kehidupan masyarakat (ekonomi.

berpikir dan religius dan komunal liberalisme.Antropologi Hukum Sejarah Sejarah dari masyarakat (agraris) di Sosiologi Hukum Timbulnya Sejarah timbulnya dari kehidupan kehidupan masyarakat pedesaan sebagai dunia kemajuan (dunia barat) akibat industri timur (daerah jajahan) Tingkat Kompleksitas Masyarakat Masyarakat manusia Masyarakat barat. di dunia timur berbeda bersifat heterogen dengan hukumnya budaya dengan budaya yang kompleks barat. terdapat seperti halnya di dunia bukan saja didunia barat (Eropa) Cara maju tetapi juga pada masyarakat sederhana Kajian Hukum (primitif) Hukum yang dipelajari Hukum itu kebanyakan tidak kebanyakan berbentuk tertulis (kodifikasi tertulis dan bersifat unifikasi) lokal perundangan yang sistematis dan bersifat nasional Jadi perbedaan antara antropologi hukum dan sosiologi hukum adalah karena sejarah terjadinya ilmu yang berbeda. antropologi hukum lahir di dunia timur. dengan masyarakat yang belum kompleks Tradisional. 23 . individualisme. berdasar Prilaku kepentingan semata manusianya Sudut Beranggapan bahwa Beranggapan bahwa Pandang hukum itu bersifat sistem hukum itu bersifat modern universal. dari masyarakat pedesaan. magis Konseptual.

S.berasal dari zaman penjajahan sedangkan sosiologi hukum lahir di dunia barat. sederhana dan tidak sistematis serta bersifat lokal. sebagaimana dilakukanoleh Liewellyn dan Hoebel. kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta globalisasi mendekatkan hubungan antar bangsa yang satu dengan bangsa yang lain. Hukum itu mengikuti kehidupan manusia bermasyarakat. Dalam antorpologi hukum berpegang pada anggapan bahwa ada manusia hidup bermasyarakat ada hukum. jadi baik di dunia maju atau masih sederhana hidupnya. disatukan dalam satu kesatuan yang sama atau dibukukan secara sistematis dan bersifat nasional. hukum selalu ada. magis religius dan kekeluargaan. III.H.H. Dalam antropologi hukum yang diketemukan di lapangan kebanyakan tidak tertulis. Sedangkan cara berpikir masyarakat barat adalah kepentingan individu lebih diperhatikan dari kepentingan bersama dengan kebebasan bergerak dan aturan hukum yang serba macam. . Sekitar tahun 1940 muncul karya-karya tulis yang pada umumnya merupakan analisis dari terhadap perkara-perkara perselisihan (trouble casses) dalam berbagai masyarakat sederhana. Pada saat ini kedua ilmu itu sudah bertemu di lapangan yang sama baik di desa maupun di kota. RUANG LINGKUP ANTROPOLOGI HUKUM7 Pada mulanya perhatian para tokoh antropologi hukum hanya bersifat menguraikan laporan tentang norma-norma hukum dalam masyarakat sederhana yang dikumpulkan dari para penulis pegawai pemerintahan kolonial dan para missionaris.Hilman Hadikusuma. tingkat ketergantungan satu sama lain tinggi. Hal ini disebabkan karena negara-negara terbelakang sudah mulai maju. dari masyarakat perkotaan dikarenakan kemajuan industri yang telah membuat terjadinya perubahan dalam masyarakat. kepentingan individeu berjalan bersama dengan kepentingan sosial. Masyarakat yang menjadi obyek perhatian antropologi hukum adalah masyarakat yang belum kompleks dengan budaya tangan yang sederhana. Sedangkan yang menjadi titik perhatian sosiologi hukum adalah masyarakat yang kompleks dengan budaya mesin Cara berpikir dan berprilaku manusia di dunia timur bersifat tradisional. 7Pengantar Antropologi Hukum oleh Prof. baik ia berbentuk tidak tertulis maupun berbentuk tertulis. Sedangkan hukum yang menjdi sasaran dalam sosiologi hukum kebanyakan merupakan hukum yang berbentuk tertulis (perundangan).

dimana dalam hal menentukan dasar-dasarnya kita belum terikat pada 25 . Roberts dan Howell dan lainnya. Bagaimana cara mendeskripsi sistem-sistem hukum. atau secara umum pengaturan normatif mengenai perilaku manusia dalam masyarakat yang secara budaya bersifat pluralistik atau majemuk (T. Dari karya-karya tulis tersebut menurut Laura Nader dalam bukunya “The Anthropological Study of Law” (1965) antara lain dikemukakan masalah pokok yang merupakan ruang lingkup antropologi hukum sebagai berikut: a. dan mengapa pula hukum itu berubah.O Ihromi ‘……dapat saja dikemukakan bahwa Antropologi Hukum sebagai suatu cabang spesialisasi dari Antropologi Budaya yang secara khusus menyoroti segi kebudayaan manusia yang berkaitan dengan hukum sebagai alat pengendalian sosial. atau sebagaimana dikatakan T. Apakah dalam setiap masyarakat terdapat hukum. Smith. seminar AH-1989). Ihromi. c. Bagaimana hubungan antara hukum dengan aspek kebudayaan dan organisasi sosial. dan bagaimana karakteristik hukum yang universal. sedangkan variasi karakteristik hukum terbatas. dan bagaimana kemungkinan untuk membandingkan sistem hukum yang satu dengan yang lain. Kemudian sebagaimana dikatakan Koentjaraningrat tentang Antropologi Budaya yang baru dikembangkan di Indonesia. hukum dipandang secara integrasi dalam kebudayaan. e. Dalam hubungan dengan hal tersebut dapat di catat bahwa ada kecenderungan-kecenderungan untuk mengangkat masalahmasalah tertentu dalam bahasan–bahasan Antropologi Hukum. Dengan demikian sasaran penelitian atau pengkajian Antropologi hukum itu luas dan menyeluruh. di mana hukum tidak terpisah dari kategori pengendalian sosial lainnya dan hukum yang di tekuni adalah hukum dalam aneka jenis masyarakat. seperti masalah yang berkaitan dengan hukum. apakah akibat jika sistem hukum dan subsistem hukum antara masyarakat dan kebudayaan yang saling berhubungan.O. hal mana akan mempunyai makna. Namun untuk memperoleh gambaran yang lebih konkret jauh lebih tepat untuk memberi contoh-contoh mengenai berbagai permasalahan yang pada umumnya di soroti atau dikaji oleh para peminat Antropologi Hukum itu. Apakah tipologi hukum itu berguna untuk menelaah hubungan antara hukum dan aspek kebudayaan dan organisasi sosial. seperti karya tulis Hoebel. d. b. Mungkinkah mengadakan tipologi hukum tertentu.Sejak tahun 1954 mulai terbit karya-karya tulis yang menggunakan metode kasus yang bersifat deskriptif.

dimanipulasi. dirobah. Awal kelahiran antropologi . sub disiplin anptropologi budaya yang memfokuskan kajiannya pada fenomena empiris kehidupan hukum dalam masyarakat secara luas dikenal sebagai antropologi hukum. Ihromi. bagaimana hukum berfungsi dalam kehidupan masyarakat. antropologi hukum pada dasarnya adalah sub disiplin ilmu hukum empiris yang memusatkan perhatiannya pada studi-studi hukum dengan menggunakan pendekatan antropologi. ANTROPOLOGI HUKUM: PERKEMBANGAN TEMA KAJIAN Dari optik ilmu hukum. Antropologi Hukum merupakan bagian dari Antropologi budaya spesialisasi yang ruang lingkup penelitiannya ditujukan kepada gejala-gejala hukum. Antropologi hukum pada dasarnya mempelajari hubungan timbal-balik antara hukum dengan fenomena-fenomena sosial secara empiris dalam kehidupan masyarakat. 1971:x. Kendati demikian.suatu tradisi. bukan dari kalangan sarjana hukum. studi antropologis mengenai hukum secara khusus mempelajari prosesproses sosial di mana pengaturan mengenai hak dan kewajiban warga masyarakat diciptakan. peristiwa-peristiwa hukum. dari sudut pandang antropologi. Dengan kata lain. studi-studi antropologi mengenai hukum memberi perhatian pada segi-segi kebudayaan manusia yang berkaitan dengan fenomena hukum dalam fungsinya sebagai sarana menjaga keteraturan sosial atau alat pengendali sosial (Pospisil. dan sebagainya. 1979:21). diinterpestasi dan diimplementasikan oleh warga masyarakat (F. 1989:8). atau bagaimana hukum bekerja sebagai alat pengendalian sosial (sosial control) atau sarana untuk menjaga keteraturan sosial (sosial order) dalam masyarakat. IV. pembangunan dan pembentukan hukum nasional. Dalam buku lain Hilman Hadikusuma. von Benda-Beckman. 1986). kita masih bebas untuk memilih cara yang sesuai dengan keadaan masyarakat dan budaya hukum di Indonesia yang bhineka dan kebutuhan kita dalam rangka menunjang pembinaan. “Antropologi Hukum Indonesia”. sehingga kita masih merdeka untuk memilih dan mengkombinasikan unsur-unsur dari berbagai aliran dari Antropologi yang paling cocok atau yang dapat diselaraskan dengan masalah kemasyarakatan di Indonesia (Koentjaraningrat. cara menyelesaikan perselisihan-perselisihan hukum. 1979. Demikian pula halnya dengan Antropologi hukum di Indonesia yang baru mulai di kembangkan ini. Oleh karena itu. 1973:538. Awal pemikiran antropologis tentang hukum dimulai dengan studi-studi yang dilakukan oleh kalangan ahli antropologi.

1979. tradisional dan kesukuan?. dari laporanlaporan berkala dan dokumen resmi para missionaris. metode kajian yang digunakan untuk memahami fenomena hukum dalam masyarakat adalah apa yang dikenal sebagai armchair methodology. tradisional (traditional) dan kesukuan (tribal) dalam skala evolusi bentuk-bentuk organisasi sosial dan hukum yang mengiringi perkembangan masyarakat manusia. sambil duduk di kursi empuk. dengan membaca dan menganalisis sebanyak mungkin documentary data yang bersumber dari catatan-catatan perjalanan para petualang atau pelancong. tradisional dan kesukuan (tribal) ke masyarakat yang kompleks dan modern dan hukum yang inberent dengan masyarakat semula menekankan pada status kemudian wujudnya berkembnag ke bentuk kontrak (Nader. 1980. pegawai sipil maupun para serdadu pemerintah kolonial dari daerah-daerah jajahannya (F. Sedangkan. yaitu metodologi untuk memahami hukum adalm perkembangan masyarakat melalui kajian-kajian yang dilakukan di belakang meja. Sndyer. yang secara ringkas menyatakkan: hukum berkembang seiring dan sejalan dengan perkembangan masyarakat. ia dipandang sebagai peletak dasar studi antropologis tentang hukum melalui introduksi teori evolusionistik (the evolusionistic theory) mengenai masyarakat dan hukum.hukum biasanya dikaitkan dengan karya klasik Sir Henry Maine yang bertajuk The Ancient Law yang diterbitkan pertama kali pada tahun 1861. Tema-tema kajian yang dominan pada fase awal perkembangan antropologi hukum berkisar pada pertanyaaan-pertanyaan: apakah hukum itu? Apakah juga ada hukum dalam masyarakat yang bersahaja. muncul karya Malinowski berjudul Crime and Custom in Savage Society yang pertama kali dipublikasikan pada tahun 1926 adalah hasil studi lapangan yang komprehensif dalam masyarakat suku Trobrian di kawasan Lautan Pasific dan seterusnya sampai sekarang metode fieldwork menjadi metode khas dalam studi-studi antropologi hukum. yang berjudul I fugao Law yang dipublikasikan pertama kali pada tahun 1919 merupakan hasil dari fieldwork yang intensif dalam masyarakat suku I fugao di Pulau Luzon Philipina. dalam ruangan yang nyaman. Kemudian. Karya Barton. bagaimanakah hukum berujud dan 27 . von Benda-Beckmann. dari masyarakat yang sederhana (primitive). 1989). 1981). Krygier. Roberts. misalnya. Pada awal abad ke –20 metode kajian hukum dari belakang meja mulai ditinggalkan dan mulai memasuki perkembangan metode studi lapangan (field-work methodology) dalam studi-studi antropologis tentang hukum. Tema kajian pada fase awal studi-studi teoritis mengenai hukum dengan pendekatan antropologis lebih difokuskan pada fenomena hukum dalam masyarakat bersahaja (primitive). 1965.

tetapi kemudian diarahkan kepada mekanisme dan institusi penyelesaian sengketa menurut hukum pemerintah kolonial dan pemerintah negara-negara yang sudah merdeka. disusul dengan karya Glukman mengenai Hukum orang Barotse dan Lozi di Afrika.beroperasi dalam kehidupan masyarakat? Pada decade tahun 1940-an 1950-an tema-tema kajian antropologi hukum mulai bergeser ke mekanisme-mekanisme penyelesaian sengketa dalam masyarakat sederhana.karya Bohannan. neo-tradisional dan menurut institusi hukum negara. mekanisme. Hoebel mempublikasikan The Law of Primitive Man (1954). Karya Nader dan Todd (1978) misalnya. Fase selanjtnya studi pluralisme penyelesaian sengketa mulai ditinggalkan dan mulai . Kemudian. Publikasi lain yang perlu dicatat adalah mekanisme penyelesaian sengketa di kalangan orang Togo di Afrika karya van Rouveroy van Nieuwaal. antropologi hukum. karya Bohannan mengenai Hukum orang Tiv. Tema pluralisme hukum pertama-tama difokuskan pada kemajemukan cara-cara penyelesaian melalui mekanisme tradisional. von Benda-Beckman (1984) yang memberi pemahaman tentang penyelesaian sengketa harta warisan di kalangan orang Minangkabau menurut pengadilan adat dan di pengadilan negeri di Sumatera Barat. Pada decade tahun 1960-an tema studi-studi antropologi lebih memberi perhatian pada fenomena kemajemukan hukum atau pluralisme hukum. Fase perkembangan tema studi antropologi hukum ke arah mekanisme-mekanisme penyelesaian sengketa seperti disebutkan di atas disebut oleh F.von Benda-Beckmann (1989) sebagai fase the anthropology of dispute settlements.. Sejak tahun 1970-an tema studi-studi antropologi hukum secara sistematis difokuskan pada hubungan antar isntitusi-isntitusi penyelesaian sengketa secara tradisional. kemudian karya F. Gluckman dan Gulliver misalnya tidak secara sistematis memberi perhatian pada eksistensi mekanisme dan isntitusi penyelesaian sengketa menurut hukum kolonial dan hukum negara-negara sedang berkembang. melalui Berkeley Village Law Projects. Karya Fallers mengenai Hukum dalam masyarakat suku Soga dan karya Pospisil tentang Hukum orang Kapauku di Papua. memfokuskan kajiannya pada proses. dan institusi-institusi penyelesaian sengketa di komunitas masyarakat tradisional dan modern di beberapa negara di dunia. Karya klasik dari Llewellyn dan Hoebel bertajuk The Cheyenne Way (1941) merupakan hasil studi lapangan berkolaborasi dari seorang sarjana hukum dengan ahli antropologi dalam masyarakat suku Cheyenne (suku Indian) di Amerika Serikat. karya Gulliver mengenai Hukum orang Arusha dan Ndendeuli. von BendaBeckman (1979) dan K.

Studi-studi ini dikembangkan oleh Agrarian Law Departement Wageningen Agriculture University. dalam Panel 2 didiskusikan Crisis in South Asia’s Fisheries: A Legal Pluralisme Perspective. mengenai kemajemukan hukum agraria dalam kehidupan suku Kilimanjaro di Afrika. von Benda-Beckman (1989) sebagai fase the anthropology of legal pluralism. mekanisme irigasi pertanian. Fase perkembangan tema pluralisme hukum yang menyoroti topik-topik penyelesaian sengketa maupun non penyelesaian sengketa. Kemudian pada bulan April 2002 yang lalu Commission on Folk Law and Legal Pluralisme menyelenggarakan the XIIIth International Congress and Symposium di Chiang Mai. Studi-studi pluralisme hukum di bidang pengelolaan sumber daya hutan. Afrika. secara eksplisit menggunakan kombinasi dimensi sejarah ntuk menjelaskan interaksi institusi hukum negara (state law) dengan hukum rakyat (folk law) dalam kajian pluralisme hukum penyelesaian sengketa. Thailand yang bertajuk Legal Pluralism and Unofficial Law in Pluralism and Natural Resources Management. K. pasar dan perdagangan. Karya bersama dari Joop Spiertz dan Melanie G. Studi yang dilakukan Moore (1986). dan dalam Panel 3 dipresentasikan didiskusikan makalah-makalah mengenai arah dari tema-tema 29 . hukum rakyat atau dengan hukum agama disebut oleh F. institusi koperasi dan perkreditan di daerah pedesaan di negara-negara sedang berkembang. Selain itu. von Benda-Beckman (1979). Wiber ( Eds) yang bertajuk The Role of Law in Natural Resources Management (1996) dapat ditunjuk untuk memperlihatkan kecnderungan arah tema studi antropologi hukum. sumber daya air. Kanada. studi-studi pluralisme hukum mulai difokuskan pada mekanisme jaminan sosial (social security). sumber daya perikanan. Kemudian. Snyder (1981). F. Sejak tahun 1990-an tema studi-studi antropologi hukum cenderung lebih diarahkan untuk memahami fenomena peran hukum dalam pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup. kecenderungan yang berkembnag sejak tahun 1970-an adalah penggunaan pedekatan sejarah dalam studi-studi antropologi hukum. Moore (1978) misalnya.diarahkan kepada studi-studi pluralisme hukum di luar penyelesaian sengketa. dll. dan dicatat sebagai perkembangan baru studi pluralisme hukum. Diperlihatkan dan diperbandingkan dalam buku ini. von Benda-Beckman (1984) misalnya. seperti dalam Panel 1 yang menjadi focus bahasan adalah Asian Resources Management in Transition: Implications for Customary Laws. Karya Sally F. interaksi antara hukum negara. sumber daya agraria di negara-negara Asia. secara khusus didiskusikan makalah-makalah dari peserta symposium mengenai pengelolaan sumber daya alam di negara-negara Asia.

baik yang tertulis atau tidak tertulis. begitu pula masih banyak yang tidak tertulis yang tersimpan dan hidup di tengah-tengah masyarakat daerah masing-masing. Di Indonesia sudah banyak kepustakaan yang memuat tentang hukum adat dari daerah-daerah. ada tiga cara yang pokok. Yang penting dalam penelitian adalah untuk menemukan hukum yang hidup. rintangan atau hambatan. . H. tuntutan dan kekerabatan yang dikemukakan dan berbagai kesulitan serta akibatakibat hukumnya. Sehubungan dengan cara yang ketiga ini jika mungkin diperhatikan motivasi. a. sebagaimana dikemukakan Hoebel. Cara yang bersifat diskriptif digunakan untuk mengetahui hal-hal yang praktis dengan melihat pola perilaku yang sesngguhnya terjadi. Menurut Ter Haar penelitian itu bersifat “etnologi hukum” (setempat). Titik tolaknya pada anggapan bahwa sebelum penelitian sudah ada pengertian hukum. S. penelitian ideologis dapat dilakukan dalam bentuk penjajakan (eksploratif) dengan mempelajari kaidah-kaidah hukum yang ideal.H. misalnya di dalam Adatrechtcbundel dari zaman Hindia belanda. yang nyata berlaku. Cara yang bersifat meneliti permasalahan dengan memperhatikan peristiwa-peristiwa hukum seperti perselisihan. Penelitian hukum dengan menggunakan pendekatan Antropologi (metode dan teknik penelitian Antropologi Hukum)8 Dalam penelitian Antropologi Hukum. Jadi. prilaku hukum yang sudah merupakan norma hukum. Jika penelitian lapangan dilakukan maka kebanyakan masih dilakukan pendekatan tradisional dengan metode institusi (kelembagaan). dan yang ketiga bersifat meneliti permasalahan (perselisihan dan motivasinya).kajian antropologi hukum masih berkisar pada kemajemukan hukum dalam pengelolaan sumber daya alam di negara-negara sedang berkembang di Amerika Latin. yaitu berdasarkan pengarahan etnologi yang mempelajari lembaga-lembaga hukum dari suatu masyarakat tertentu. Metode Ideologi Selama ini kebanyakan sarjana hukum dalam melakukan penelitian lebih banyak di perpustakaan daripada di lapangan. atau latar belakang sebab terjadinya perselisihan itu. Hilman Hadikusuma. 8 Dalam “Antropologi hukum Indonesia” oleh Prof. Cara yang bersifat ideologis digunakan untuk mengetahui aturan yang di kehendaki berlaku. V. alasan. Afrika dan Asia termasuk Indonesia. kedua yang bersifat deskriptif. yaitu pertama dengan cara yang bersifat ideologis.

dapat dikatakan kurang memperhatikan sistem hukum yang bersifat ideologis. c. Dengan demikian dalam penelitian deskriptif untuk mengetahui sejauh mana aturan-aturan hukum itu diterima anggota masyarakat. Yang penting 31 .Penelitian hukum adat oleh para peneliti dari masa sebelum kemerdekaan RI di Indonesia. oleh karena sebagaimana yang dikatakan B. Metode Deskriptif Penelitian yang bersifat deskriptif (melukiskan) merupakan studi prilaku yang menjauhi perumusan-perumsan aturan yang dikatakan eksplisit berlaku. the real problem is how the rules become adapted to life” (Malinowski. atau yang dikatakan norma hukum oleh para pemuka masyarakat. tetapi jangan pula kita mengorbankan yang umum terhadap yang hal-hal yang khusus dan jangan pula hendaknya kita lalu mengembangkan aturan-aturan hukum itu dari batangnya. Walaupun Van Vollenhoven dan Ter Haar melakukan pendekatan ideologis dalam penelitiannya. Sayangnya penelitian Malinowski itu tidak menggunakan pendekatan kasus. tetapi yang merupakan masalah ialah: “Not to study how human life submits to rules-it simply does not. bukanlah demikian. Jadi yang menjadi masalah bukanlah mempelajari bagaimana kehidupan manusia itu tunduk pada aturan-aturan hukumnya. Studi Kasus Penelitian yang memperhatikan masalah perselisihan dengan menggunakan metode studi kasus. sehingga dapat diragukan hasilnya. tidak berarti menyingkirkan masalah yang ideologis dengan norma-norma hukum yang eksplisit. tetapi masalahnya bagaimana dalam kenyataannya aturan-aturan hukum itu dapat diterima dalam kehidupan mereka itu. karena ia hanya menimbulkan hasil yang sukar dan pelik. Cardozo : bahwa kasus-kasus itu bukanlah untuk memperluas sendi-sendi persoalan.N. tetapi perilaku anggota masyarakat yang dikuasai aturan hukum itu. maka bukanlah aturan-aturan hukum itu yang perlu diteliti dengan seksama. dari masyarakat adat di Indonesia b. studi kasus. namun agaknya tidak sampai mengemukakan atau bertitik tolak dari cita-cita hukum. Tetapi yang menjadi sasran perhatiannya adalah situasi yang terjadi dan bagaimana kegiatan-kegiatan prilaku manusia dalam situasi itu. Penelitian deskriptif ini tidak mengutamakan perhatiannya pada apa yang tertulis sebagai norma hukum. Sebagaimana dikatakan Malinowski alam penelitiannya terhadap masyarakat Trobian. bahwa manusia itu serba ragam kegiatannya. pandangan hidup tentang hukum. 1926:127).

O. sebagaimana telah diuraikan di atas. Dalam penelitian terhadap kasus-kasus perselisihan memerlukan pendekatan yang eklektika. Hilman Hadikusuma. DISKUSI MODEL-MODEL PENYELESAIAN KASUS SENGKETA DAN FUNGSI HUKUM UNTUK MEMULIHKAN KETERTIBAN SOSIAL. S. maka kasus-kasus perselisihan itu merupakan objek yang penting dalam Antropologi Hukum. VI. Jika pendekatan Ideologis bertitik tolak dari norma ideal. Bab VI . yang berpandangan luas. dikatakan bahwa di antara metode pendekatannya ialah dengan studi kasus. Holmes antara lain mengatakan ‘bahwa hidupnya hukum sebenarnya bukanlah dari logika tetapi dari pengalaman’ (1881). dibandingkan dengan aturan-aturan yang umum dengan peralatan dan hipotesa yang bertautan dengan permasalahan. yang berbeda dari pendekatan yang idealogis. Walaupun kasus perselisihan itu bukan merupakan objek yang utama dalam ilmu ini. di mana norma-norma itu dijadikan pangkal tolak. Lebih lanjut akan diuraikan beberapa kasus dan cara pebyelesaian perselisihan pada beberapa masyarakat sederhana yang pernah dilakukan penelitian oleh para ahli asing.adalah karena metode kasus itu bersifat induktif. namun dikarenakan perilaku hukum manusia akan lebih nampak menonjol jika terjadi perselisihan dan cara penyelesaiannya. 9 Pengantar Antropologi Hukum Indonesia oleh Prof. H. maka pendekatan ekletika dengan metode kasus bertitik tolak dari peristiwa dan perilaku yang menunjukkan adanya norma-norma hukum pada titik akhir. Model-model penyelesaian kasus sengketa9 Pada bahasan sebelumnya dibahas tentang ‘cara pendekatan’ dalam Antropologi Hukum. di mana titik perhatian Antropologi Hukum diarahkan kepada kasus-kasus terjadinya perselisihan.H.W. maka semua kasus-kasus yang dapat dikumpulkan datanya dianalisis sedemikian rupa.

Andaikata terjadi perselisihan yang agak berat dikalangan anggota bersaudara. Seorang Monkalun tidak boleh ada hubungan dekat dengan para terperkara yang berselisih. sehingga salah satu pihak menuntut ganti rugi pada pihak lain dengan dukungan anggota keluarganya. Tingkat kewajiban saling membantu tersebut berkaitan dengan adanya hubungan darah. sebagaimana pernah diteliti oleh R. Di dalam keluarga luas setiap anggota berkewajiban secara timbal balik antara yang satu dengan yang lain tanpa membedakan jenis pria dan wanita untuk saling membantu terutama jika terjadi perselisihan di antara sesama anggota. Barton. Penyelesaiannya dilakukan dengan mengadakan perdamaian. Kasus perselisihan masyarakat Ifugao Masyarakat Ifugao yang terdepat di Luzon Utara Filipina. Dalam penyelesaian perselisihan yang ditangani oleh Monkalun para pihak yang berselisih tidak pernah berhadapan langsung. masyarakat yang masih sederhana terdiri dari keluarga-keluarga luas yang tidak berdasarkan organisasi politik. hal itu dapat dilakukannya tetapi jumlah tuntutan ganti rugi itu tidaklah sebanyak jika tuntutan itu diajukan kepada orang lain yang bukan anggota keluarga. Selain anggota keluarga dikarenakan adanya pertalian darah dan perkawinan. 33 . Apabila ia kelak berhasil mendamaikan kedua pihak yang berselisih. perkawinan dan kesetiaan terhadap keluarga luasnya. Setiap anggota keluarga luas di ukur berdasarkan apa yang diberikannya untuk kepentingan suku dan masing-masing anggota mempunyai suara dalam menentukan tujuan keluarga luasnya. terdapat pula segolongan pembantu yang yang selama hidupnya menggantungkan diri pada majikannya.A. walaupun mungkin ia masih menjadi anggota dalam keluarga luas. maka ia akan mendapat balas jasa yang disebut lukba atau liwa. karena peranannya ialah hanya sebagai juru damai. Masyarakat Ifugao tidak mengenal sistem peradilan yang dilakukan dengan persidangan yang dihadiri oleh kedua pihak yang berselisih di hadapan hakim. tetapi hanya merupakan kelompok-kelompok suku yang sifatnya demokratis. Ia tidak mempunyai wewenang untuk menetapkan keputusan.F. oleh karena sejak timbulnya perselisihan berarti kedua pihak telah saling bermusuhan dan merupakan perbuatan yang tabu apabila mereka saling berhubungan. Cara penyelesaian yang berlaku adalah dengan menggunakan seorang perantara yang merupakan juru damai yang disebut Monkalun.

4. Tangan yang lebih parah terbakar menunjukkan bahwa ia yang bersalah. Perkara hak-hak atas ladang . Kemudian pertimbangan yang tertuduh itu bersalah atau tidak yang menetapkan adalah Monkalun. Perkara saling menuduh Untuk menyelesaikan perkara panuyu atau tuduh menuduh antara dua orang. Namun. 2. Perkara tuduhan pencurian Dalam menyelesaikan perkara tuduhan pencurian. maka si tertuduh dipersilahkan memasukkan tangannya ke belanga yang berisi air mendidih dan diletakkan sebuah batu kerikil. usaha penyelesaian secara damai yang dilakukan Monkalun tidak selamanya berhasil. sedangkan yang tertuduh ada beberapa nama tetapi sulit menentukannya.Monkalun harus tetap berusaha mempertemukan keseimbangan diantara para pihak yang berselisih sehingga tercapai perdamaian dan perkara selesai dengan baik. antara lain : a Penyelesaian dengan percobaan 1. 3. maka Monkalun akan menyuruh keduanya meletakkan tangannya masing-masing pada sisi badannya. maka dapat dilakukan dengan cara hapud atau dengan cara Akba. ada beberapa cara lain yang dapat digunakan untuk menyelesaikan perkara. Perkara tuduhan maksiat Dalam menyelesaikan perkara maksiat. Kemudian Monkalun akan membakar sebilah pisau dan meletakkannya pada tangan-tangan mereka silih berganti.

atau dengan mengirim 35 . namun mereka adalah orang-orang yang ramah dan sopan santun dalam pembicaraan. sikap agresif dan keberanian merupakan ciri-ciri pokok kepribadian prianya. maka berarti pihak yang jatuh itu adalah pihak yang kalah. Kasus Perselisishan Masyarakat Comanche Masyarakat suku Indian Comanche adalah orang-orang Indian di Amerika Utara. Orang-orang Comanche kebanyakan adalah orang-orang yang pemberani. Jika perselisihan sengketa itu mengenai batas-batas peladangan. Masayarakat Comanche adalah suku pengembara yang pria dan yang wanitanya pandai berkuda. Hal-hal tersebut mempengaruhi dalam penyelesaian perselisihan di samping kuatnya keinginan membela kepentingan dan kehormatan keluarganya. penagihan dengan paksaan halus. Penyelesaian dengan beberapa tindakan. melakukan penyitaan benda dan hukuman mati. Cara penyelesaian perselisihan berlaku langsung antara pribadi. maka kedua belah pihak yang bersengketa dipersilahkan datang di tempat perbatasan yang disengketakan untuk melakukan adu gulat atau biasa yang disebut gultong. antara lain berupa permintaan maaf. B. b. sehingga di dalam penyelesaian perselisihan bukan kesalahan dan keberanian yang menentukan tetapi keberanian yang pernah ditunjukkan dalam peperangan. yang kemudian akan dipertimbangkan Monkalun penyelesaiannya. Pada abad ke-19 pada umumnya mereka menetap di daerah selatan Amerika Serikat dan tidak jarang karena pengembaraannya berburu atau berperang sampai memasuki wilayah negara Mexico. pembayaran denda atau ganti rugi. Pada masyarakat Ifugao dikenal cara penyelesaian perkara dengan melakukan beberap tindakan. mengemukakan bahwa mereka ini sebenarnya tidak mempunyai daerah yang tetap dan tidak mempunyai organisasi politik. Menurut Hoebel yang pernah melakukan penelitian terhadap Indian Comanche. Apabila lawannya dapat dijatuhkan sejauh sepuluh langkah dari garis awal pertandingan dan ia lalu menyerah.Dalam menyelesaikan perkara perselisihan hak milik ladang Monkalun dapat menuruh kedua belah pihak yang berselisih untuk salng melempar batu dan tombak. Sebenarnya yang merupakan daerah mereka adalah di sekitar pegunungan Wchita sampai sungai Merah di Texas.

mengikutsertakan kelompok atau mengirim kelompok. Dalam hal ini panglima perang sebagai ‘pembela hukum’ dengan memperhatikan dan mempertimbangkan kebenaran pihak penuduh.utusan. warisan atau urusan pekerjaan lainnya. oleh karena mereka tidak mengenal sistem peradilan. a. akan mengurus tuntutan ganti kerugian itu kepada tertuduh tanpa mengaharapkan imbalan balas jasa. maka pihak yang menderita kerugian akan bertindak langsung menyelesaikan tuntutan ganti kerugiannya. Penyelesaian dengan bantuan panglima perang. Walaupun mereka belum mengenal adanya pengadilan. C. Jadi penuduh ikut bersama-sama kelompok yang diajaknya untuk membantunya melakukan tuntutan ganti rugi. maka penuduh dapat bertindak dengan mengajak serta kelompok keluarga dan kenalannya untuk mendatangi tertuduh. Oleh karena jika ia tidak segera bertindak maka ia akan diejek atau diperolok-olokkan anggota keluarganya. Di antara anggota keluarga suku ini sering terjadi perselisihan yang menyangkut urusan keluarga rumah tangga. Sebagian besar mata pencahariannya adalah sebagai petani dengan sistem kekerabatannya yang bersifat kebapakan (patrilineal). namun mereka telah mempunyai . Penyelesaian Antar Pribadi Apabila terjadi sesuatu perbuatan yang merugikan oleh seseorang. mempermalu kelompok. dan sebagainya. atau hanya kelompok yang membantunya itu yang pergi sendiri tanpa ikut sertanya penuduh. c. b. Dalam acara mengajukan tuntutan ganti rugi oleh penuduh kepada tertuduh. maka ia akan berusaha meminta bantuan kepada panglima perang. ia akan dikatakan pengecut. Cara demikian mereka lakukan dalam penyelesaian perkara. Kasus Perselisihan Masyarakat Kpelle Masyarakat Kpelle adalah di antara suku di Liberia Tengah Afrika yang orang-orangnya berbahasa Mande. Penyelesaian dengan bantuan kelompok. atau meminta bantuan panglima perang. Apabila penuduh yang dirugikan tidak mampu bertindak sendiri dan atau tidak pula mempunyai kelompok yang dapat membantunya.

c. penentuan pemandu (sebagai hakim). Biasanya persidangan diadakan pada hari Minggu dan para hadirin harus berpakaian rapi atau pakaian yang baik dan sopan. maka pihak yang merasa diperlakukan secara kasar . dapat mengadukan masalahnya kepada anggota kerabat yang terpandang. Cara Mengajukan Perkara Jika terjadi perselisihan katakanlah seperti telah dipaparkan sebelumnya. atau yang merasa dirugikan. acara persidangan. pertimbangan dan penyelesaian perkara. maka mediator menyatakan sidang akan dibuka dan mempersilahkan diantara sesepuh yang bertugas untuk menyampaikan doa. seperti kepala perkampungan atau pemegang jabatan lain. Pejabat yang diminta menyelesaikan perkara itu akan bertindak sebagai mediator dalam menyelesaikan perkara tersebut b. a. para sesepuh masyarakat dan para hadirin telah berada di tempatnya masing-masing. pembukaan sidang. Biasanya sidang dilaksanakan di tempat kediaman pengadu. anggota yang hadir. d. tempat bersidang. pihak pengadu mempersiapkan tempat duduk para sesepuh masyarakat dan mediator dan tempat para anggota masyarakat yang akan ikut serta mendengarkan. yang kira-kira maksudnya ‘rumah tempat berembuk’ di mana sekelompok kerabat dan tetangga berperan menyelesaikan perkara perselisihan berdasarkan permintaan atau pengaduan dari para pihak yang berkepentingan. Pembukaan Sidang Setelah semua persiapan selesai. Mendengarkan Keterangan 37 . barulah mediator membuka sidang dan mendengarkan para terperkara. Tata cara penyelesaiannya meliputi acara-acara yaitu penyampaian pengaduan. atas apa yang terjadi dalam rumah tangga. penyelang pembicaraan dari hadirin. Waktu dan Tempat Bersidang Untuk menyelenggarakan persidangan dalam penyelesaian perkara si pengadu yang harus mempersiapkannya. untuk dapat menyelesaikan perselisihan mereka dengan baik. misalnya yang mempunyai kedudukan tinggi. Selesai mendengarkan do’a dengan khidmat.suatu lembaga peradilan yang disebutnya ‘berei mu meni saa’.

misalnya mengenai masyarakat Industri di Amerika Serikat. dan kita tidak punya cukup waktu untuk melacaknya. untuk mendapatkan kasus sengketa tentu saja membutuhkan waktu yang sangat panjang dan observasi partisipasi yang sangat intens. ANALISIS YANG DIPERLUAS)10 Pada awal tahun 1970-an terjadi perubahan yang cukup berarti. Jadi apabila dilapangan tidak dapat ditemuka sengketa. Kita dapat meggunakan apa yang disebut Metode kasus bukan sengketa (Trouble-less case methode). maka itu mediator ditawarkan mempertimbangkan kesemuanya dan menyimpulkan penyelesaian perkara Kesimpulan penyelesaian oleh mediator kesepakatannya kepada para pihak berperkara yang di dengar para hadirin. metode kasus sengketa banyak digunakan oleh para ahli. MODEL-MODEL PENELITIAN HUKUM DENGAN PENDEKATAN KASUS NON SENGKETA (ANALISIS STUDI KASUS. pada awal perkembangannya dalam rangka hendak mencari hukum apa yang senyatanya hidup dalam masyarakat. maupun dari para sesepuh dan hadirin. VII. Sebelumnya.Terlebih dahulu mediator mempersilahkan kepada si pengadu untuk angkat bicara menyampaikan keluh kesahnya. Setelah panjang lebar tanpa batas pengadu berbicara. tidak berarti bahwa penelitian dengan menggunakan metode antropologi hukum tidak dapat dilakukan. Penyelesaian Perkara Setelah selesai semua keterangan didengar baik dari para pihak terperkara tersebut. maka mediator mempersilahkan kepada pihak yang diadukannya atau tertuduh untuk menjawab dan memberikan keterangannya secara panjang lebar tanpa batas pula. penderitaan dan alasan-alasan dan hal-hal yang dikehendakinya dalam penyelesaiannya. Kehidupan 10 Dalam konsep-konsep dalam ilmu antropologi oleh Ari Indrayono Mahar. ANALISIS KONTEN. MA yang disampaikan pada : Penataran Pengajarn Antropologi Hukum dan Sosiologi Hukum Untuk Staf Pengajar Fakultas Hukum pada tanggal 18-30 Juli 1994 . Biasanya para pihak berperkara dalam penyelesaian perselisihan rumah tangga tidak berkeberatan menerimanya. e. sehingga kehidupan rumah tangga mereka kembali rukun. pusat kajian Antropologi hukum berkembang menjadi tema-tema non-sengketa. Namun.

Lapangan pengamatan yang sangat luas dan bervariasi itu menawarkan kejadian-kejadian khusus tentang ketaatan terhadap hukum secara sukarela dan terbukti kebenarannya. Ia menawarkan kasus nyata yang berlimpah-limpah . menyediakan data yang sangat kaya tempat kita dapat menemukan hukum yang hidup. yang memberikan cara bagaimana menelusuri dan menggambarkan setting sosial dari apa yang kita teliti itu. oleh karena sifatnya yang menyatakan prinsip-prinsip dan aturan-aturan yang relevan mengenai aturan berperilaku atau law of conduct. yang dapat menjelaskan aktivitas masyarakat sehari-hari. Contoh lain adalah bagaimanakah aturan-aturan yang disepakati bersama oleh para wanita pedagang batik pasar Klewer Solo. Selanjutnya aturan-aturan dari masing-masing arena sosial itu saling mempengaruhi satu sama lain. dan masing-masing arena sosial tersebut memiliki aturan pranatanya sendiri-sendiri. atau untuk menemukan ide atau prinsip normatif yang terkandung di belakang perilaku hukum yang aktual. Metode kasus bukan sengketa ini berguna ketika seorang peneliti hidup di tengah-tengah masyarakat untuk dapat mengumpulkan keterangan-keterangan. karena memang arena-arena tersebut rentan terhadap pengaruh hukum dari luar. situational analysis. dalam hal ini seseorang dilihat sebagai aktor / aktris yang berada dalam beberapa lapangan atau arena interaksi sosial sekaligus. contohnya adalah dalam lapangan perkawinan. untuk diketahui misalnya apakah pranata dan tatacara perkawinan suatu etnis tertentu sudah berubah dari masa-masa sebelumnya. Hal lain yang dapat membantu kita untuk dapat menelusuri kasus-kasus tersebut adalah apabila kita dapat memanfaatkan metode atau analisis yang lain seperti metode kasus yang di perluas atau extended case method. jika di catat dengan semestinya. sanksi apa yang akan dikenakan bila ada pelanggaran terhadap kesepakatan tersebut. Penelitian hukum dapat menggunakan metode kasus bukan sengketa itu dalam lapanganlapangan yang pada prinsipnya tidak trdapat sengketa. Contoh riil metode penelitian hukum dengan pendekatan kasus non sengketa ini adalah ketika seseorang ingin meneliti tentang tata penebangan kayu dan pemungutan buah-buahan yang awalnya tidak ingin melakukan penelitian antropologi hukum.sehari-hari dalam interaksi sosial yang meskipun tanpa sengketa itu. Dengan metode-metode tersebut dapat dihubungkan individu sebagai pusat analisis pertama itu dengan orang-orang lain yang diacunya berdasarkan hubungan-hubungan tertentu. 39 . kasus bukan sengketa merupakan unit analisa yang tidak terbilang nilainya. Dalam perkembangan antropologi hukum kemudian muncul pula apa yang terkenal sebagai konsep semi –autonomous social field.

untuk menggali data yang dapat menjelaskan aktivitas masyarakat seharihari. melawan petugas dan penunggakan bea pasar. 3) Klasifikasi berdasarkan proses-proses penyelesaian persengketaan • • Secara kekeluargaan/teman sendiri. penjual dan petugas pasar. Jarak antara pasar-pasar tersebut sekitar 500 m. perebutan penumpang. KAN (kelompok ini disebut lembaga non formal) Polisi atau pengadilan. Nagari Koto-Baru sejak tahun 1984 secara administratif.Kasus bukan sengketa memberi pemahaman yang mendalam dan lengkap dari sekedar mengumpulkan keterangna-keterangan yang dapat di telusuri melalui kasus sengketa. perjudian. Bab VIII . polisi dan sopir. dan kuli dengan kuli. terbagi menjadi dua daerah. Metode kasus bukan sengketa berguna sekali bagi seorang peneliti ketika ia hidup di tengah-tengah suatu masyarakat yang diteliti.H. petugas pasar. salah paham. atau norma-norma yang terkandung dibalik perilaku hukum yang aktual dari masyarakat tersebut. S. atau untuk menemukan gagasan-gagasan. yaitu sebelah utara disebut Nagari Koto-Baru Utara dan sebelah selatan disebut Nagari Koto-Baru selatan. VIII. Klasifikasi persengketaan terbagi atas : 1) Klasifikasi berdasarkan jenis persengketaan Terdiri atas pertengkaran. bahwa apabila terjadi persengketaan sebagian 11 Pengantar Antropologi Hukum oleh Prof. petugas pasar dan bandar judi. 2) Klasifikasi berdasarkan pihak-pihak yang bersengketa Terdiri atas penjual dan pembeli. MODEL-MODEL KASUS PERSELISIHAN DI INDONESIA11 A. kenek dan kenek. pencurian. perebutan tempat. penipuan. penjual dan penjual. (kelompok ini disebut lembaga formal) Menurut Dewi Hartanti. Hilman Hadikusuma. Di Nagari Koto-Baru Utara terdapat pasar sayur dan Nagari Koto-Baru Selatan terdapat pasar ternak. asas-asas. ketua jolo-jolo dan anggota. penganiyaan. Kasus Sengketa Di Sumatera Barat Kasus sengketa ini diambil dari makalah Dewi Hartanti dengan judul ‘Proses Penyelesaian Persengketaan di Pasar Tradisional Padang Panjang’ di Nagari Koto Baru.

jadi ada tiga lokasi yang dijadikan sample : a. Ada tiga hal yang menjadi permasalahan : a. dari Pengadilan Negeri. Jadi sebagian besar para pihak yang bersengketa dan kecenderungan menggunakan lembaga yang ada di dalam pasar. Lembaga ini bersifat mendamaikan secara musyawarah. b. Permasalahan menyangkut bagaimana kelompok ethnic saling berinteraksi dan 41 . merupakan tempat yang mewakili penduduk transmigrasi dan sebagian orang Bugis. misalnya pihak kepolisian atau pihak pengadilan. Pemerintahan Daerah. Instansi Transmigrasi. Seandainya para pihak yang bersngketa tidak puas dengan lembaga tersebut. c. Kecamatan dan beberapa pejabat mantan Pasirah (Kepala Marga) yang sudah pensiun. agraria. b. Lokasi Sekayu. Permasalahan bagaimana memahami kelompok ethnic yang berbeda dan struktur sosialnya beragam di tempat kediaman yang sama. Kasus Sengketa di Sumatera Selatan Kasus sengketa ini diambil dari makalah yang ditulis oleh Maasba Magassing dengan judul ‘Proses Penyelesaian Sengketa Tanah dan Bentuk Institusinya Berkenaan dengan Sengketa Atas Penggunaan Tanah Pada Areal Pemukiman Multi Etnis di Sumatera Selatan’. Lokasi Makarti. Yang menarik ialah tempat pemukiman yang multi etnic character dengan kehidupan seperti ini dapat menimbulkan akibat-akibat yang serba kompleks sifatnya dan sangat potensial terjadinya Inter Ethnic Conflicts mengenai penggunaan tanah. merupakan tempat yang mewakili penduduk setempat dan pendapat spontan orang-orang Bugis. Lokasi Sunsang. misalnya oleh teman sendiri atau ptugas pasar atau KAN. barulah dilimpahkan kepada pihak ketiga yang berupa lembaga formal. B. Lokasi ini dipilih karena sangat memungkinkan ketiga etnik trsebut saling berinteraksi terutama dalam penggunaan tanah.besar diselesaikan oleh lembaga-lembaga non-formal. merupakan tempat para pejabat pemerintahan formal. Lokasi yang diambil sebagai contoh adalah lokasi di Sunsang dan Makarti Kecamatan Banyuasin II Kabupaten Musi Banyuasin Sumatera Selatan.

. Hukum dapat menyelesaikan konflik-konflik dengan berbagai cara (keputusan pengadilan. Kita harus mengetahui apa yang secara umum disetujui tentang apa fungsi-fungsi hukum itu. demikian pula untuk menunjukkan fungsi-fungsi lainnya yang mungkin dikenal atau tidak dikenal dalam suatu masyarakat. Sering dinyatakan bahwa sistem-sistem hukum hanya merupakan sebagian dari sistem yang lebih besar dari pengendalian sosial. IX. Menurut Maasba Magassing. Schneider (1957) memberikan satu contoh kepada kita cara dalam hukum dan sistem-sistem supernatural saling mengisi satu sama lain dalam menangani secara berbeda mengenai pembunuhan ayah pada suku yap. maka kita harus mencari fungsi-fungsi hukum yang tersembunyi dan nyata. FUNGSI HUKUM DALAM MASYARAKAT Menurut Laura Nader. meski bagaimana hukum itu menangani pelanggaran biasanya lebih jelas daripada bagaimana dalam kenyataan hukum itu melayani untuk memelihara ketertiban. jika timbul sengketa bagaimana menyelesaikan dan institusi mana yang akan mereka gunakan.berhubungan satu sama lain. misalnya dalam hal menyangkut sengketa tanah (masalah batas tanah atau penyerobotan) cenderung diselesaikan sendiri oleh para pihak melalui ketua-ketua kelompok mereka atau diselesaikan pada tingkat musyawarah desa atau kecamatan saja. Untuk semakin memperluas. c. jika kita akan mengembangkan etnografi hukum yang benar. Selanjutnya tidaklah selalu jelas apakah fungsi-fungsi pengendalian sosial dari hukum ‘untuk membersihkan kekacauan sosial’ (Llewellyn dan Hoebel 1941). kebanyakan sengketa yang terjadi di daerah tersebut cenderung diselesaikan sendiri. maka sudut pandang seorang etnograf hendaknya diperluas agar supaya memasukkan deskripsi-deskripsi yang akan menerangkan hukum sebagai bagian dari pabrik yang banyak bagian-bagiannya. dan kadang-kadang fungsi-fungsi pengendalian sosial dari hukum hanya dapat dimengerti bila ditinjau sebagai bagian dari sistem yang lebih besar. Dan tingkat penyelesaian perdamaian itu biasanya berupa ganti rugi atau penggantian tanah. atau untuk memelihara ketertiban (malinowski 1942). Mereka jarang sekali menempuh upaya melalui lembaga Pengadilan Negara. Permasalahan yang menyengkut peraturan-peraturan pemerintah mengenai penggunaan/pengolahan tanah serta institusi-institusi yang menanganinya.

S. hukum juga memiliki nilai-nilai hiburan dari hukum yang memiliki fungsi-fungsi sosialisasinya. hukum dapat mencegah atau menyerahkan pelangar-pelanggar hukum . Perluasan tugas-tugas kita ini tidak tidak selalu setepat seperti kita harapkan jika kita bermaksud menggunakan data etnografi untuk tujuan-tujuan komparatif. atau bahkan jika kita berusaha untuk menjajagi hubungan-hubungan antara cara-cara dan tujuan-tujuan. ANEKA NORMA SOSIAL DALAM MASYARAKAT DAN ANEKA UPAYA MENCAPAI KETERTIBAN SOSIAL12 Mengapa para Sarjana Antropologi atau Sosiologi pada mulanya menganggap bahwa masyarakat sederhana tidak mengenal hukum? Oleh karena mereka berpangkal tolak pada pemikiran bahwa ketaatan terhadap nilai-nilai dasar atau ketertiban umum dalam masyarakat sederhana dipertahankan oleh kekuatan mengikat dari adat istiadatnya. dll). Dalam hubungan ini bisa diambil contoh dari Aubert (1963 : 19) mengenai fungsi formulasi –formulasi legislatif. Hartland. Menurut Aubert (1963 : 17) menyatakan bahwa esensi dari fungsi-fungsi hukum : Hukum nampaknya mempunyai dua fungsi yang berbeda namun saling berhubungan. menciptakan konformitas dengan norma-norma. dengan demikian. Menurut Riesman. ia diarahkan pada yang berprofesi hukum daripada penerangan kepada warganegara biasa mengenai apa hukum itu. X. menurut Beals. arbitrasi. Dalam diskusinya mengenai hukum-hukum pembantu rumah tangga Norwegia yang menunjukkan “bahasa hukum itu dibentuk lebih mendalam demi fungsi menyelesaikan konflik-konflik daripada fungsi mempengaruhi kesederhanaan secara hukum”. dan menyelesaikan konflik-konflik.mediasi. sehingga ketaatan pada adat berlangsung sebagai 12 Pendapat Pospisil 43 memberikan . bahwa manusia sederhana itu kehidupannya diliputi oleh adat istiadat yang mengikat secara tradisional. politik dan ekonomi atau hkum itu dapat melakukan tugas-tugas ini. Disamping itu. Sebagaimana dikemukakan E. Tidak selalu jelas mana dari fungsi-fungsi hukum ini dalam suatu masyarakat tertentu sungguh-sungguh dilaksanakan. hukum dapat memelihara ketertiban dalam lapangan-lapangan hukum. hukum dapat berfungsi untuk mendatangkan distribusi sumber-sumber secara lebih adil atau secara sebaliknya hukum dapat berfungsi untuk mempertahankan distribusi sumber-sumber secara lebih adil atau secara sebaliknya hukum dapat berfungsi untuk mempertahankan distribusi kekuasaan yang tak sama. Hukum barangkali semata-mata melaksanakan fungsi hukuman .

Tugas mamak rumah (Tungganai) adalah memimpin. membina. masih ada para antropolog yang berpendirian bahwa masyarakat sederhana diatur adat istiadatnya. Bahkan sampai Pospisil menguraikanhasil penelitiannya tentang ‘Kapauku Papuans and their law’ (New Haven. ialah perasaan kelompok. . 1958). S. Berikut akan diberikan beberapa norma sosial dalam masyarakat dengan aneka upaya mencapai ketertiban sosial. Setiap mamak dipanggil datuk dan mereka terdiri dari saudara laki-laki ibu atau menurut garis ibu yang terpilih sebagai mamak menurut tingkatnya masing-masing. Begitu seterusnya tugas dan kedudukan mamak dalam pmerintahan adat kekerabatan dalam kedudukan mereka sebagai Tungganai. Kemudian merupakan kesatuan kaum di bawah pimpinan mamak kaum (penghulu) selanjutnya merupakan kesatuan suku dibawah piminan mamak suku (penghulu suku) dan seterusnya tergabung dalam satu nagari di bawah pimpinan kepala nagari. Orang-orang Minang adalah anggota-anggota kesatuan kerabat dari satu rumah gadang di bawah pimpinan mamak rumah (Tungganai). Rivers di dalam uraiannya tentang social organization (New York 1924). Jadi para masyarakat sederhana adat istiadat itu sama dengan hukum. 13 Antropologi Hukum Indonesia oleh Prof. segala sesuatunya timbul secara spontanitas.bagian dari proses kehidupannya. Oleh karenanya ia menguasai harta kerabat sebagai milik bersama dan berkedudukan sebagai mamak kepala waris atau hakim kerabat dalam menyelesaikan perselisihan yang timbul di antara anggota kerabat atas dasar musyawarah dan mufakat. Hilman Hadikusuma.T. sehingga tidak perlu adanya sarana tertentu untuk penerapan kewenangannya. dan memelihara kehidupan dan kebahagiaan para kemenakan yaitu anakanak dari saudara-saudara wanitanya dan anggota keluarganya yang lain. trnyata tidak berubah dengan timbulnya teori evolusi. kekuatan yang menyebabkan timbulnya ketertiban dan ketaatan pada masyarakat sederhana. Hobhouse dalam ‘The Elements of Social Justice’ (London 1922) mengungkapkan bahwa pada masyarakat sederhana diatur oleh adat istiadat. Menurut W. Prilaku orang Minangkabau13 Orang Minangkabau atau biasa juga disebut orang Minang atau orang Padang adalah semua orang yang berasal dari daerah Sumatera Barat dan daerah rantaunya.R.H. Selanjutnya L. a.H.

artinya adat yang berlaku tidak boleh bertentangan dengan kitabulloh. begitu pula adat itu bersendikan alur dan patut. penghulu suku. 45 . Kehidupan keluarga Sunda bersifat Parental atau bilateral. dimana anggota kerabat yang lebih muda harus menghormati kerabat yang lebih tua. Walaupun demikian diantara mereka masih ada yang merasa satu keturunan dari satu nenek moyang tertentu (bondroyot) dan terikat pada adat pantangan sampai tujuh turunan. dan centeng petugas pembagi air desa. Masyarakat desa orang Sunda merupakan masyarakat ketetanggaan. petugas desa yang berkediaman di sekitar rukun tetangga bersangkutan. Adat Minang bersendikan Syara’ (hukum Islam). penghulu payung. pancen. judul. penghulu pucuk atau pucuk nagari menurut adat setempat. keseimbangan. dan lurah dalam mengatur pemerintahan desa dibantu oleh petugas keamanan. yaitu pembantu administrasi dsa. Perangkat desa tersebut dibawah pimpinan kepala desa yang disebut lurah. mandor.H. ulu-ulu petugas pengawas saluran air. Perilaku Orang Sunda14 Pada umumnya yang dikatakan orang Sunda adalah oerang-orang yang berasal dan bertempat kediaman di daerah propinsi Jawa Barat yang juga disebut daerah Pasundan atau tempat orang Sunda.penghulu kaum. 14 Bab V Antropologi Hukum Imdonesia Oleh Prof. atau punduh. tugu. Jika terjadi perselisihan kekluargaan. atau persoalannya disampaikan kepada kepala desa dengan seperangkat desanya. penghulu andiko. dan merasa ada hubungan dengan kuburan keramat nenek moyangnya. walaupun ada sebagian kecil masyarakat seperti orang Banten dan orang Cirebon yang dialek bahasanya agak berebeda dari bahasa Sunda. sedangkan lembur dikepalai oleh kokolot. Kesatuan rukun tetangga dikepalai oleh tugu. pejabat agama. kokolot atau pancen. S. tetapi dengan ikatan kekerabatan yang sudah tidak jelas dan banyak yang sudah tidak dapat diketahui lagi pertaliannya. dimana keluarga-keluarga rumah tangga merupakan satu kesatuan rukun tetangga yang berkelompok dalam perkampungan yang disebut lembur yang letaknya berjauhan antara yang satu dan yang lain. Hilman Hadikusuma. b. maka yang dapat diminta bantuan menengahinya selain keluarga tetangga adalah tua-tua kampung. hubungan darah antara pihak ayah dan pihak ibu. yang lebih mengutamakan kehidupan keorangtuaan.

ynag terdiri dari 23 kabupaten. dimana 13 kabupaten penduduknya adalah orang Bugis dan 6 kabupaten penduduknya adalah orang Makassar. tetapi antara anak lakilaki dengan saudara perempuannya nampak adanya rasa tanggung jawab dan rasa kewajiban melindungi saudara wanita. Perilaku Orang Bugis-Makassar15 Orang Bugis dan orang Makassar berdiam dan berasal dari daerah Propinsi Sulawesi Selatan. 16 Bab VII Antropologi Hukum Indonesia. atau Yang Maha Kuasa atau Yang Maha pencipta dan dimasa sekarang adalah berdasarkan ajaran Islam yaitu Tuhan Yang Maha Esa (Allah SWT) d. S.c. Kabupaten lainnya berpenduduk orang Toraja dan orang Mandar. Hilman Hadukisima. Kemudian penetapan keputusan atau penyelesaiannya dijatuhkan terhadap anggota yang berkepentingan sesuai dengan “wari” yaitu menurut keadaan dan golongan-golongan kekerabatan atau kedudukan adat kemasyarakatannya yang telah digariskan secara turun temurun.H. Antara orang Bugis dan Makassar berbahasa Mengsara.H. Untuk mengambil sesuatau keputusan atau penyelesaian maka pertimbangannya didasarkan pada “rapang” yaitu contoh-contoh kejadian di masa yang telah lalu yang merupakan yurisprudensi hukum adat brsamaan. Adat tersebut dilaksanakan dan dipertahankan oleh petugas-petugas adat. Antara sesama anak-anak laki-laki adakalanya terlihat adanya persaingan. ttapi kemudian terdesak oleh aksara serang yaitu aksara Arab. Ade’ adalah ketentuan norma kehidupan yang mengatur tata-tertib hubungan kekerabatn dengan hak-hak dan kewajiban-kewajiban keanggotaannya dan juga yang mengatur tata-tertib hubungan kemasyarakatan dan ketatanegaraan. yang walaupun terdapat perbedaanperbedaan yang khusus namun kebudayaannya tidak jauh berbeda. Hubungan kekerabatan orang Bugis-Makasar bersifat bilateral yang tersebar di seluruh daerah sampai ke luar batas daerah. karena masuknya pengaruh agama Islam sejak abad ke 17. kurang akrab dikarenakan rasa hormta dan keengganan. Tetapi dalam hubungan terbatas nampak hubungan antara anak laki-laki dengan ayahnya atau kanak-kanak laki-laki yang lebih tua. Untuk melaksanakan adat para petugas adat dan tua-tua masyarakat mengadakan “bicara” dengan musyawarah dan mufakat dalam bentuk peradilan adat. . Perilaku orang Sumbawa16 15 Bab VI Antropologi Hukum Indonesia oleh Prof. Hilman Hadikusuma. Mereka mempunyai aksara daerah yang berasal dari aksara Sanskerta. dengna memperhatikan syara’ yaitu ketentuan-ketentuan keagamaan dari yang Maha tunggal. oleh Prof. S.

Ramadani Solo Nobert Rouland. 1984. dan mesjid sebagai tempat ibadah dan melaksanakan upacara-upacara adat. Atmajaya yogyakarta. seorang malar yaitu petugas pengawas lingkungan tanah kampung dengan wakil-wakil dari gabungan kampung. penganiayaan. Di samping itu jauh dari kampung merupakan daerah peladangan berpindah. yaitu kerajaan Bima. sekarang oleh camat. berlarian kawin. Perkampungannya terdiri dari puluhan rumah-rumah panggung yang terbuat dari bahan kayu dengan pekarangan dan lubang lumbung padi. Tidak jauh dari kampung terdapat pedukuhan yang terdiri dari beberapa rumah dengan beberapa keluarga yang tinggl menetap menanam dan memelihara kebun buah-buahan. yang dibantu oleh seorang mandur sebagai pembantu umum. ketib dan marbat. dan kerajaan Sumbawa. kcuali segolongan kecil orang Donggo di Sumbawa timur.Orang sumbawa adalah semua orang yang berdiam dan berasal dari pulau Sumbawa yang kini termasuk daerah propinsi Nusa Tenggara Barat. Studi antropologi Hukum. modum. Alumni Bandung Laura Nader. dan sebagainya yang kesemuanya itu diselesaikan dengan ruku dan damai. 1986. seperti penghulu. anak jadah. Orang Sumbawa pada umumnya menganut agama Islam. sumbang. Di zaman dulu pulau Sumbawa terdiri dalam tiga kerajaan kecil. 47 . yang dulu dilakukan oleh Demong. Pemerintahan desa dan adat berkedudukan di kampung yang dipimpin oleh seorang kepala kampung. XI. maka persoalannya dilaporkan untuk diselesaikan pada tingkat kepala daerah. warisan. Apabila terjadi juga ada yang tidak dapat menerima penyelesaian damai tersebut. lebih-lebih di daerah pedalaman. Biasanya penyelesaian dan keputusan yang ditetapkan peradilan adat diterima dengan baik oleh para pihak yang berselisih. Antropologi Hukum. pencurian. 1992. tebu dan tanaman ubi. Antropologi Hukum Indomnesia. Pejabat pemerintahan kampung dan urusan agama tersebut berfungsi dan berperan sebagai peradilan adat kampung dalam menyelesaikan perselisihan yang timbul diantara warga kampung. Refleksi ilmu antropologi hukum Harapan masa yang akan datang mengenai peran antropologi hukum dalam pembangunan hukum DAFTAR PUSTAKA Hadikusuma Hilman. Ketiga kerajaan tersebut kini menjadi kabupaten. rura. Jabatan keagamaan ini merupakan jabatan terhormat di pedesaan. seperi sola perceraian. PENUTUP a. Di samping itu terdapat petugas-petugas keagamaan yang disebut hukum yang dipimpin oleh seorang lebei dengan anggotaanggota pengurus mesjid lainnya.

Rajawali . 1990 Antropologi dan hukum Soekanto. Antropologi Hukum materi Pengembangan Hukum Adat. 1994. Antropologi hukum Bunga rampai. ---------------.TO Ihromi. 1984. Soerjono.

In this address I shall first briefly illustrate how the law helped to destroy. economic. See. and the aim of The F. their community structures. Foundation which sponsors it. Chartrand. by proscribing particular behaviour.legal Pluralism: Reflections On The Role Of Law In Providing Justice For Indigenous Peoples – A Canadian Context Professor Paul L. 2 It will be agreed that the substantive criminal law.H. and political effects of the taking of their homelands by newcomers. is to promote research and informed discussion on the issues facing indigenous communities both nationally and internationally. for a general description of some of the trials. on-reserve and off reserve. 309 49 . 28 OR. @275 3 The author has a number of files on Wehtigo cases mostly derived from notes taken by observers at the trials.T.A. it also served a process of social engineering to change those values. 2 R v Gladue [1999] 2CNLR 252. plagued by the social. and added that.S. and also advanced Canadian political objectives in asserting political control over indigenous communities. In 1996 the Royal Commission on Aboriginal Peoples released a special report on criminal justice which contained this statement. Royal Commission on Aboriginal Peoples. Not only did the substantive criminal law of Canada fail to accommodate the distinct cultural values of indigenous peoples.I. I hope to be able to contribute in a small way to this goal in respect to indigenous peoples and justice. the excessive imprisonment of Aboriginal people is only the tip of the iceberg insofar as the estrangement of the Aboriginal peoples from the Canadian criminal justice system is concerned. (1979-80) 22 Criminal Law Quarterly. The principal reason for this crushing failure is the fundamentally different world views of Aboriginal and nonAboriginal people with respect to such elemental issues as the substantive content of Justice and the process of achieving Justice. reflects a society’s broad consensus on basic social values.. Minister of Supply and Services Canada 1996. Canada Commissioner.. These new-comers did not respect their ways of life. ‘Justice on the Northern Frontier: Early Murder Trials of Native Accused’. urban and rural in all territorial and governmental jurisdictions. My comments will draw upon developments in the judicial Doctrine of Aboriginal 1 Canada. ‘[n]ot surprisingly.” 1 On April 23. Former Commission on Aboriginal Peoples. Royal The title of this conference is ‘Indigenous Peoples and Justice’. 74-111. in a sentencing decision of the Supreme Court of Canada quoted this statement when deciding on the interpretation of the Criminal Code of Canada which pertains to Aboriginal people and incarceration. fragment and dispossess the Aboriginal peoples of Canada. or their inherent dignity as human beings. I hope to contribute to the discussion of the actual and potential role of the law in offering substantive remedial solutions to the injustices the law was used to create. @309. ‘The Canadian criminal justice system has failed the Aboriginal peoples of Canada First Nations.R. Inuit and Metis people. A reported case is R v. Bridging the Cultural Divide: A Report on Aboriginal People and Criminal Justice in Canada Ottawa. pp. Machequonabe (I 897). Cornelia Schuh. 1999. They have been left today marginalized and disillusioned as individuals in cities or little communities.

some of which are now enjoying a resurgence in contemporary Canada. Wehtigo killers were convicted of murder or manslaughter. “ Consideration of reports submitted by States parties under article 40 of the Covenant. @ 89-90 International Covenant on Civil and Political Rights. really cannibals . which relate to the obligations of ‘nation states’ to respect the presence of indigenous peoples. note 3.. An evil spirit who took possession of people who would then kill and devour their families and companions. “Rethinking Self-Determination” in (1993) 34 Virginia Journal of International Law 1-69. and that the authority of the Crown and of the Dominion of Canada. for the first time in history. supra. the belief that the victim was a Wehtigo and there was no intention to kill a human being was not accepted. He was killed with axe blows. his heart pierced with a wooden stake and hot tea was poured into it since the heart of a Wehtigo turns to ice. in what has been called the Riel Rebellion. would require comprehensive treatment in a separate address. these remote savages. At the fall of Batoche in May 1885. using nails as ammunition against Canadian troops. The law’s support for Canadian political objectives may be illustrated by the 1884 Indian Act amendments which prohibited meetings of three or more Metis or Indian persons.. the Wehtigo was much feared. The historical failure of the substantive criminal law to deal with conflicting worldviews and cultures may be dramatically illustrated by the Wehtigo murder cases. . Hannum. The manifest injustice of forcing foreign values into indigenous communities was dealt with only after conviction.. @ 66. at a time when armed insurrection was apprehended. and had to be ritually slain for the protection of the community.. Concluding observations of the Human Rights Committee.. and the prohibitions of the Indian Act against social institutions such as the Potlatch and against religious practices including various dances. CCPR/C/79/Add.. old Metis men were found in rifle pits. and upon the developments in international law. a Wehtigo killed in 1899 near Lesser Slave Lake.Rights in Canadian Courts. Human Rights Committee.. Both the educative and political functions of the law were identified clearly by Crown counsel in one of the Inuit show trials held in the Canadian far North at the beginning of the 20<sup>th century. the evidence at the trial showed that Moostoos was aware of his impending Wehtigo possession and declared his preference to be killed rather than hurt his own children. extends to the furthermost limits of the frozen North . especially during periods of isolation and hunger in the winter time. A companion amendment prohibited the sale of ball ammunition to Aboriginal people. These include the application of the Criminal Code prohibition against bigamy to polygamous Plains cultures. 6 The argument is made by Professor Hannum in H. ‘. by executive clemency or through the sentencing process. In the case of Moostoos. have got to be taught to recognize the authority of the British Crown.. Other examples may illustrate the intolerance of conflicting cultural values. these people . 105. The unconscionable taking of the lands of the indigenous peoples. 4 3 4 5 Schuh. will be brought in contact with and will be taught what is the white man’s justice.. As in all other Wehtigo cases. A person under the influence of the Wehtigo possessed remarkable physical strength and powers of resurrection. and the law’s justification by means of written treaty provisions and a theory of aboriginal title. 7 April 1999.. of which these countries are a part. Sixty-fifth session.3 The Wehtigo was one of the non-human beings in the world of several Woodland indigenous peoples in Canada.

The Law’s Accommodation of Indigenous Peoples I have tried to illustrate that Canada and its predecessor imperial colonies in asserting their political power over the Aboriginal peoples in Canada. the legitimacy of States is measured increasingly by their adherence to these standards and their protection of fundamental human rights. 51 . This exclusion. initiatives have begun to focus on interventions. reinforced the political aims of subjugating the identity of Aboriginal individuals by submerging their group identity and ‘justifying’ public policies that ‘treat everyone the same. It is on these accommodations.e. empty of people who mattered. Part One. I perceive. prior to the actual trial. but some accommodation. of physical and moral presence. (as required in the interests of the State). have done significant damage to the values and cultural practices of them. In Canada. as the world community develops standards of human rights for individuals and communities. that much of the discussion at this conference will focus. Peoples who do not matter do not have a history that matters. Other public and social institutions took the same approach. They matter neither in a political nor in a legal sense. which could not be contemplated today. The differences of history.The current Canadian Criminal Code Sentencing Provision in the Gladue case typifies the way in which the law dealt with indigenous accused. which failed to include Aboriginal people simply because Aboriginal people did not matter. mostly by means of modern treaty making and devolution of administrative authority to small groups of Aboriginal people. of kinship and territorial occupation. unfortunately. The early cases which began the process did not even include arguments from the Aboriginal people whose fundamental interests were at stake. The courts are playing a role in moving this policy shift by the development of a judicial Doctrine of Aboriginal Rights. at what may be called the front end of the system. The law and legal system.. 7 Section 15 (1) and (2) of Constitution Act 1982. there are weak and begrudging policy shifts towards recognition of the proprietary rights of the Aboriginal owners of Canadian territory. Today. So the history books in the schools taught a history of a country in which the story of the indigenous peoples was worthy of mention only in light of its relevance to the newcomers. They have (all but) destroyed the social viability of the political and social relations that once defined and governed distinct Aboriginal societies. This of course. that is. The development of the Doctrine of Aboriginal Rights proceeds in an ad hoc fashion. making no concessions in the substantive law. reflected the then approach to the political process which constituted Canada. have helped in these injustices. as is the way of the common law. were all sacrificed to the aim of building Canada as a pale imitation of Europe. The preferred social and political relations of the newcomers became firmly institutionalized in the politics and the law of Canada.’. i. after conviction. More recently. This proposition is best illustrated by the doctrine of terra nullius which attempted to justify the taking of Aboriginal lands by declaring them to be empty of people..

Many former economic resources have been destroyed. The cases to date have focused on economic activities such as fishing and using natural resources for cultural purposes. The function is the same within the newcomer society. The principles developed by the court reflected the nature of the conflict of interests over land. from evidence adduced by persons accepted as experts. A test that would protect buffalo hunting as the main economic activities that defined many indigenous Plains cultures is little comfort now that the buffalo are gone. That explains why recourse to Canadian courts is both a blessing and a curse from the perspective of indigenous peoples. These activities must be judicially characterized as being integral to a distinct Aboriginal group’s identity. This is not legal pluralism. Cultural and economic activities are now given the protection of the law if they are activities that substantially trace their origins to pre-contact times and have continued until today. Recent cases have expanded the doctrine of aboriginal rights beyond questions of land title. There is still only one system of law. Understanding the basic concept of aboriginal rights requires the recognition of distinct aboriginal societies. This doctrine of aboriginal rights cannot provide remedial justice by substituting access to a modem resource base for an indigenous people to raise its families and build its vision of a happy neighborhood. resulted from challenges to the expansion of Canadian exploitation of lands where the question of Aboriginal title had not been settled. there are preferred ways of organizing society around shared values. but the legal character of the actions that receive the law’s protection are derived from judicial approbation. the newcomer’s system. Another fundamental weakness is the decision of the judges themselves to undertake the task of interpreting the substantive content of social and political relations within indigenous societies. The conceptual basis upon which the courts of the newcomers select certain social and political relations within the indigenous society and transform them into legal relations enforceable within Canadian law and society formulates the doctrine of aboriginal rights. It is not necessary to prove aboriginal title to succeed on a claim of aboriginal rights. this legal protection has serious limitations. If these had been negotiated between political representatives of the indigenous peoples themselves and representatives of the Canadian system there would have been more legitimacy in agreements on the substantive content of aboriginal rights. social and political. The judges of the common law courts are neither singularly nor severally qualified to interpret indigenous identity and social and political relations within the . The function of law in such an Aboriginal society would be to formalize these relations with the sanctions of the law through a legal process. In these societies. Many cultural practices were effectively discontinued and extinguished by early law and policy may no longer be claimed as aboriginal rights because they do not meet the test of continuity. but only as interpreted within the Canadian legal system. the courts do not accord an independent validity to indigenous social and political relations. and the contemporary legal validity of indigenous social and political relations depends upon the substantive content of the Doctrine of Aboriginal Rights. moral. and the court moved very cautiously. Aboriginal title is only one element of aboriginal rights.Judicial Developments of Aboriginal Rights Doctrine The resurgence in judicial activity. When viewed in its proper historical context. beginning in the early 1970s. On this view. The ‘source’ of the law is said to be within the indigenous social system.

indigenous societies. The Government of Canada formally accepted in 1996 that the right of self-determination applies to all peoples. The role of the law in responding to the exercise of political power is exemplified by the recent Qu<i style="mso-bidi-font-style: normal">ebec Secession Reference in which the Supreme Court of Canada had no difficulty in introducing a theory of Governmental obligation to respond to separatist political initiatives from the Province of Quebec. Canada was criticized by the Committee of the Commission on Human Rights for its failure to explain the elements that make up the concept of self-determination as applied to the Aboriginal peoples in Canada.. “The States Parties . the Committee noted Canada’s admission that the situation of the Aboriginal peoples “remains the most pressing human rights issue facing Canadians” and the committee expressed its concern that Canada has not yet implemented the recommendations of the Royal 53 . A process whereby indigenous spiritual and political leaders come to court to plead their rights before appointed judges can not hope to sustain a great degree of political legitimacy. International Standards for The Protection of Indigenous Identity and Rights Two major United Nations human rights law instruments establish the right of selfdetermination in the following terms. in principle. as determined by indigenous people themselves. member States of the United Nations are required to respect that right. social and cultural development. and urged Canada to report adequately on implementation of the above-cited provision of the International Covenant on Civil and Political Rights. In its report. includes the same text recognizing the right of self-determination. It would have been better.. and shall respect that right. shall promote the realization of the right of self determination. and have been used to further weakened public support for the judicial development of aboriginal rights. In April 1999.” Furthermore.” The Draft Declaration on the Rights of Indigenous Peoples which is being considered by the UN Commission on Human Rights. however. it will be useful to turn to a brief consideration of the concern of international human rights law. Nowhere will this become more evident than in the eventual and necessary judicial definition of the group identity of indigenous people. with the rights of indigenous communities within some existing Nation-States. “All peoples have the right of self-determination. Evidence on substantive social relations within indigenous societies is adduced from elders and others and is largely based on oral history and testimony. including indigenous peoples who do not comprise the majority population within a Nation State. The Courts have undertaken a task for which they are not well suited. The Court’s undertaking to define the content of aboriginal rights was also done at a cost to traditional legal processes. the Supreme Court of Canada has explicitly accepted that the right of self-determination of ‘peoples’ constitutes international law and not merely convention. a topic which I will develop further below. to develop the law of obligations which would have required representatives of the Crown to negotiate the substantive content of aboriginal rights. By virtue of that right they freely determine their political status and freely pursue their economic. Newly developed common law rules for receiving oral evidence have had negative reaction responses which extend beyond the legal profession. In recent developments. But first. in conformity with the provisions of the Charter of the United Nations.

The English doctrine of parliamentary supremacy has given way. to a system where the law of the constitution not only limits the exercise of governmental power. When viewed functionally as a form of dialogue that replaces the assertion of preferences by the exercise of power. such will be measured in terms of reaching the goals behind self-determination. 6 The right of self-determination also loses any threatening character it might have when viewed in the proper context of its exercise by indigenous peoples within modem nation states. Policy. that self-determination is a substantive right vested in indigenous peoples. Thus.Commission on Aboriginal Peoples. which must include the continued preservation and nurturing of a distinct social and cultural society. I suppose too. On this basis. however. often small ‘nation-states’ which would necessarily result in massive social and political disruption. reflecting a preference for homogeneous. Negotiations with the representatives of the representatives of the powerful nation states are warranted. This position was elaborated in the Quebec Secession Reference decided in August 1998.5 It may be emphasized then. but also attaches positive obligations which are judicially enforceable. independent. in Canada’s constitutional democracy. This is true not only for norms of international law but for the interpretation of constitutional and legal rights. If self determination is viewed as an aspect of human rights with the objective of promoting preference for democratic and participatory political and economic systems in which the rights of individuals and the identity of minority communities are protected. rights are in constant evolution. This is an historic expression by the international community of the view that the right of self-determination comprises substantive law which State Parties are bound to respect and apply within the domestic context. The existence of indigenous peoples as enclaves within powerful nation states explains why we need the pressure of international law backed by the international community to oblige nation states to protect human rights and assure the implementation of a domestic application of the human right of self-determination. This approach is paralleled in the recent judicial development of positive obligations of both Government and Parliament in Canada to respect the law of the constitution by protecting rights and making them effective. it loses much of its threatening character. the right is not a licence to commit collective cultural suicide by ignoring the presence of powerful neighbours. The right of self-determination has often been resisted by State agents who have described it as an impossible goal. that those representatives of a people responsible for deciding on the substantive public decisions taken pursuant to the exercise of the right of self-determination are bound to make decisions that offer some reasonable prospect of success. Rights are never absolute and their exercise must respect the equal rights of other groups. the exercise of the right of self-determination must respect the same right of other ‘peoples’. Legal and Constitutional Developments concerning Political Rights of Indigenous Peoples of Canada In this section I will discuss arguments for the recognition of the rights of Aboriginal 5 6 . The right of self-determination is contained within international human rights law and thus attracts the obligation of States to protect it and make it effective in a domestic context.

A central reason that might be advanced for Canada’s reluctance to adopt the RCAP’s arguments for the recognition of Aboriginal ‘nations’ is wider public opinion about the underlying issues. did not adopt these specific recommendations but offered marginal changes to its existing ‘self-government’ negotiations policies. The first one is captured in the false cry of ‘one law for all’. released on 7 January 1998. defined as domestic versions of ‘indigenous peoples’ at international law. In the context of this brief presentation I will attempt to address two red herrings. The last great open questions in the development of this judicial doctrine are the actual definition of the ‘peoples’ in which the aboriginal rights are vested the right of ‘self-government’. the most significant movement towards formal recognition of the political rights of Aboriginal nations may be discerned in the terms of the treaty being formalized with the Nisga’a people in British Columbia. The formal response of the Canadian Government. moved the federal government to establish a Royal Commission to advise it on a comprehensive set of Aboriginal policies. The Final Report of the Royal Commission on Aboriginal Peoples urged Canada to adopt a twenty year policy strategy based on the formal recognition of Aboriginal ‘nations’. In 1982 the Constitution of Canada was amended to include recognition and affirmation of the existing aboriginal and treaty rights of its Aboriginal peoples. Inuit and Metis peoples. The need to put an obligation to hold meetings in the Constitution illustrates. the deep sense of mistrust in which these events took place.peoples as distinct societies or ‘nations’ in Canadian law and policy and offer some commentary on the ‘judicial definition of Aboriginal peoples’. Further. is the domestic common law aboriginal right of ‘selfgovernment’. This treaty is serving as a lightning rod for debates on the issues of Aboriginal group and political rights. within the category of political rights of communities. Canada has already attracted criticism from the United Nations for its intransigence. In particular. Canada may be said to have constitutionalized mistrust between itself and the Aboriginal peoples. Those meetings ended without any agreement among First Ministers to guarantee any substantive rights beyond the bare recognition provision already in the 1982 amendment. thrown into the confused public debate on Aboriginal selfgovernment. the courts will have a significant role in defining the group aboriginal rights which the constitution has put beyond the reach of legislative extinguishment. The Canadian Government does not want to shift rapidly on the formal recognition of indigenous peoples nor to develop a domestic application of the right of self-determination. A series of other events including the armed stand off at Oka in 1990. the report recognized the effect of colonial destruction of Aboriginal social and political community structures and proposed a process of building or ‘constituting’ nations. the Royal Commission argued. Among the ‘aboriginal rights’ protected by the 1982 amendment. all historic peoples indigenous to what is now Canadian territory. In the result. The Aboriginal peoples include the Indian (First Nations). it argues that the aboriginal right of self-government is vested in Aboriginal ‘nations’ and not in federally created ‘Indian bands’ or Metis or Inuit communities. The second 55 . The centre piece of the policy response was the creation of a 350 million dollar healing fund to address the legacy of sexual and physical abuse in Indian residential schools. In this context. A specific provision required the Prime Minister to invite representatives of the Aboriginal peoples to a series of First Ministers’ Conferences (the Prime Minister and the Premier of each Province and the Leader of each Territory) to discuss the elaboration of aboriginal rights.

’. The other bogey man raised by opponents of Aboriginal self-government. The RCAP Report took pains to explain that Aboriginal nations comprise freely associated social and political communities and not racial minorities. it down. are challenged in finding an answer.. The 1982 Constitutional amendment contains a Charter of Rights and Freedoms which includes not only a guarantee of equal rights for all individuals but also permits affirmative action laws and programmes designed to ameliorate the circumstances of disadvantaged individuals and groups. including those disadvantaged by reason of ‘race. whether by the State over individual citizens or by a State over distinct ‘peoples’ having the right of self-determination. What process then explains the consent of the distinct Aboriginal peoples in respect to Canadian power and authority over them? Aboriginal peoples have their own arguments to explain the illegitimacy of Canadian rule over them. not to conflate the groups comprised of such individuals with the Aboriginal ‘peoples’ having aboriginal collective rights protected by the aboriginal rights provisions in another Part of the Constitution Act 1982. The recent Quebec Secession Reference identifies a number of such ‘unwritten principles of the constitution’ of Canada that provide a rich source for 7 . but it ought not to go unnoticed that Canada’s own standards of legitimacy do not allow the easy cry of ‘one law for all’ to pass scrutiny. like all ‘peoples’. ethnic or national origin. on the other hand.. The slogan of ‘one law for all’ neatly avoids the question how the ‘all’ happens to include Aboriginal peoples. I will conclude this section by showing how the law of the constitution of Canada might be interpreted to accommodate both the existence of individuals of ‘Aboriginal ancestry’ on one hand. however. If we apply the argument of the Supreme Court of Canada about the legitimacy of the law of the constitution. But the reason the group has a collective right is not to advance biological cultures but social and political cultures which assert a common social and political vision of a good society. for the sole purpose of knocking. we find it is based on the democratic principle of the expression of the consent of the governed. Canada.’ It is important. Given the history and geographical and social circumstances of Aboriginal peoples. The goal of the collective right of self-determination and of self-government is the promotion of distinct cultures or agendas for living. is the idea that Aboriginal self-government extends special legal treatment to a ‘racial’ minority . and distinct Aboriginal ‘nations’ with collective rights. it is natural that most individuals within these nations will have a common genetic pool.7 This is the proper constitutional locus for debating the merits of remedial justice in the form of affirmative action programmes for disadvantaged ‘racial minorities’. has a right to decide on the nature and scope of its ‘public interest’. what is the argument to justify the political boundaries within which political power and legal authority is asserted over distinct peoples? The exercise of power must always be justified. Each distinct Aboriginal people. based on its preferred social and political values upon which its society is organized and governed. The identification of Aboriginal peoples. and I suspect other Nation States. groups having group rights. including individuals of biological ‘aboriginal ancestry.. In other words. Some objectives of Aboriginal self-government have been introduced above.is the idea that Aboriginal self-government is a species of ‘race-based’ legal differentiation that must not be tolerated in a democratic society. must be based upon generally acceptable fundamental principles designed to reach legitimate social and political objectives.

The Court has identified others in other cases and has explained that however. along with the Court’s introduction of a general theory of Government and Parliamentary obligation. or ‘special needs not special rights’ are political slogans and not substantive arguments. and the acceptance by the nation of these members based upon group rules of membership. however. Such a ‘nation’s Constitution’ would include the rules of membership whereby citizenship in an Aboriginal nation would be determined. the Court considered the following four unwritten principles. federalism. Those are not the only such principles. Once a ‘people’ has so constituted itself.R. it is. The rules of membership themselves would be based upon morally. socially and politically legitimate principles. the law has been an important State instrument of social and political control over indigenous peoples. Given the close ties between blood and belonging. democracy. 8 Ref Re Secession of Quebec [1998] 2 S. 8 On the facts of the Reference. this is not necessarily a recipe for instant social harmony. Expressions like ‘one law for all’ and ‘no special rights for racial minorities’.informed debate and argument. Such an approach reflects the element of ‘self-definition’ as an aspect of selfgovernment and ensures that membership in historic social and political communities is not merely a matter of ‘racial ancestry’ but a necessary element of the exercise of democratic rights. though. an attempt to proceed with the practical institutionalization of Aboriginal self-government on a principled basis that should have the approbation of both the domestic and international communities. and respect for minorities. The ‘judicial discussion of the principles in the Reference. 217 57 . to respond positively to a desire to negotiate the terms of secession of the Province of Quebec upon the free expression of the collective will of the population of the province by a referendum. political and social ideals and economic interests. Canada has a positive obligation to negotiate self-government within Canada. Thus it can be emphasized that the constitution of an Aboriginal nation with political rights of governance is based upon the free consent of individuals to associate themselves as members of the nation. constitutionalism and the rule law.C. suggests that in time it may prove to be the most significant ‘aboriginal rights’ case in the history of Canadian jurisprudence. and not upon accidents of birth. just as Canada was required by the Reference. Aboriginal ‘nations’ must constitute themselves in a democratic process that respects the human rights of its members and establishes a process for the free expression of the collective will of the people. and by assisting the political goals of Canada. The Court has identified the category of judicially found principles is not closed. including on such issues as the form of self-government and the political representative functions. If an ultimate objective of giving legal recognition to group political rights of Aboriginal self-government is the maintenance of distinct identities and cultures by aggregating communities of like-minded individuals. When we scratch their surface we find they are empty and they remind us that words ought to convey ideas and not be used as substitutes for ideas. it makes no sense to foist unwilling individuals defined merely by biological ancestry upon the community. Conclusion Through its educative function. The law has rationalized the exercise of power in the unconscionable dispossession of peoples and the subjugation of their collective and personal identity. How may some of these principles apply to the definition of Aboriginal peoples and the process of constituting nations’ policy recommended by the Royal Commission on Aboriginal Peoples? Tentatively. on the one hand.

how much is exposed to public and scholarly scrutiny.I. Western law upheld the virtue that "justice is blind". as a field of study and research. Description of the Elective Field of Study "Anthropology of Law" For the past 15 years. and. Controversy surrounds the very concept of Human Rights. Based on the popularity of these courses. Legal Anthropology and Pluralism Until recently. Human Rights developed from specific political contexts in the Western world and are often criticised as a Western imperialist mechanism. political and legal research and discussion. at the same time. that same educative function may be used to resurrect Aboriginal identity and rights and defeat the empty political rhetoric that threatens and stands in the way of justice for indigenous people. Legal Anthropology and Human Rights Legal Anthropology involves the examination of conflicts between culture and human rights. is a legitimate subject for moral. the non-recognition of human rights is used to justify oppressive regimes. the implementation of human rights must evolve in a dynamic way. cultural aspects of individuals and groups are viewed as relevant factors which should be considered by the law and the courts. practically significant.Today. Anthropology of Law. .R. Any legal distinctions based on culture or "race" that were drawn were immediately cast as being prejudicial. and to fulfil its own purposes. The starting point of Legal Anthropology is the comparison of "modern-Western" law and other (mostly contemporary. At the same time. In order to be accepted within a multicultural world. The question of legal pluralism. a new course of study in the Elective Field "Anthropology of Law" has been developed. and if so. Now. as the international community and domestic courts continue to develop and protect the substantive rights of indigenous peoples. Now. not necessarily historical) legal cultures. If I may conclude by returning to the ‘tip of the iceberg’ metaphor in the Gladue case. based on developing human rights standards. the new legal studies curriculum facilitates the integration of Legal Anthropology into the system of Elective Fields within the General Study of Law at the University of Vienna. Legal Anthropology focuses on the substance and function of legal institutions analysed within the context of various cultures and cultural traditions.S. The study of the clash between Western and non-Western traditions is interesting from the perspective of legal theory. the Faculty of Law at the University of Vienna has offered optional courses on Legal Anthropology. analyses this complex tension that surrounds the concept of human rights and enriches human rights standards by enhancing cross-cultural dialogue. whether reflected only in a separate criminal justice system or in a more comprehensive regime of Aboriginal self government. I look forward to the following papers and discussions which will reveal to me whether there is an iceberg in the New Zealand criminal justice system. which are laudable objectives of The F. Foundation which has sponsored this Conference. and indicative of a biased law or court.T.

Anthropology of Law. This evolution concerns nearly all sub-fields of the law. and "Non-Western" cultures in Europe Studying the rights of indigenous peoples leads to insights into the legal issues of immigrants with "non-Western" cultural backgrounds in Europe. and a new kind of "intercultural" criminal law. Indigenous peoples' rights are an important example for evolving mechanisms of Legal Pluralism in many countries around the world. there is a growing tendency to recognise the collective rights of indigenous peoples. With its special focus on these issues. Anthropology of Law examines these complex issues of human rights. cultural heritage. indigenous peoples' rights also affect fields like family law. who. the recognition of collective rights and self-government of minority groups makes it necessary to balance the legitimate powers of autonomous regimes with other fundamental rights. and the collective rights of minorities and religious groups Newly evolving human rights standards are a necessary precondition for pluralistic structures. A specific example Legal Pluralism can be applied to in Europe is the Sinti and Roma people. Many indigenous peoples live in states with a unified legal system. Anthropology of Law. and issues of religious freedom. share many parallels with indigenous peoples. Increasingly. in an academic way. The recognition of Pluralism is shaped by minimum human rights standards that should protect "minorities within minorities" and must be considered when ethnic and religious minorities are implementing their right to self-government. real property law. However.Anthropology of Law focuses on the new dialogue between law and culture that results from the recognition of cultural differences by the law. Nevertheless. benefit sharing. 59 . and evolving new standards in environmental law. and the Rights of Indigenous Peoples An important part of Legal Anthropological research and teaching activities at the Law Faculty of the University of Vienna is the rights of indigenous peoples. The practice and theory of Legal Pluralism within the "core-countries" of the Western tradition. is a broad field of Legal Anthropological studies. situated in Europe and North America. it will attempt to contribute. either based on a Western legal tradition or at least inspired by Western law. from a human rights perspective. to the peaceful co-existence of human beings with diverse cultural backgrounds. and will especially attempt to integrate into its focus aspects of modern communitarist and post-modern legal theory. new standards of religious freedom and minority rights result in a recognition of the autonomy and self-determination of ethnic and religious groups that are distinct from the cultural mainstream. natural resources management. health law. At the same time. Based on the discussion of self-government. Anthropology of Law raises some key questions in the modern world: How can traditional ecological knowledge and practices of local groups be protected to facilitate environmental protection and sustainable development? How can collective cultural rights be a necessary counterbalance against an unlimited process of globalisation only determined by so-called market forces? How can indigenous self-government structures be a model for addressing ethnic tensions and conflicts around the world? Anthropology of Law. There is an important cross-connection in the Anthropology of Law to the legal status of adherents to the Islamic religion and other Oriental religions. intellectual property.

court) system. Linann Indonesian law is best viewed as a large-scale social experiment opposing the idea of legal pluralism or co-existing multiple legal systems.Anthropology of Law. these different legal systems have found new life in modern practice. Much of Indonesian secular or national law on the private law side is ultimately based on 19th century Dutch codes with French roots. which has many interesting connections to the issue of mediation. The task of academic research and the Anthropology of Law is to develop practical criteria for making these "alternative systems of conflict resolution" compatible with a State's broader legal (esp. and modernization. understood as the ideologically motivated task of replacing foreign colonial law with laws incorporating distinctively Indonesian values. David K. On the public law side. and oddly enough the official law is often still a Dutch text (notwithstanding the fact that younger Indonesian lawyers and law students understand Dutch about as well as US law students understand Law French). However. Law reform's task since the early 1950s has oscillated between Indonesianization. and Islamic law of importance traditionally for family law matters affecting the Moslem majority. There are at least three kinds of legal systems to contend with. and Islamic law alongside adat for the Islamic indigenous majority. there are many institutionalised forms of conflict resolution based on diverse cultural backgrounds and world-views. understood as the economically or socially motivated task of replacing outdated colonial law with concepts suited for an increasingly globalized world. Indonesian legal systems tend more to coexist in the same geographic area with significantly greater overlap than US legal systems enjoying neater hierarchies under the Supremacy and Full Faith & Credit Clauses of the US Constitution. However. US law students should register an implicit comparison to the US as laboratory of federalism incorporating 51 distinct legal systems spread over a large geographic area with diverse populations. All these legal systems reflect historical influences such as secular or national law's provenance in the law formerly applicable to European colonists. Anthropology of Law will examine this newly evolving field. or at times even considered illegal. for varying political reasons. © institute for law and religion (webmaster) October INDONESIA Prof. adat or local ethnic group law still important under a variety of circumstances but particularly for matters concerning real estate and inheritance. often with their own courts or other interpretive systems: secular or national law. Legal developments in many states around the world have resulted in the formal recognition of conflict resolution methods that were once unofficial. the issue is often the extent to which authoritarian colonial era laws vie with modern concepts such . alongside concerns about modernizing laws to bring the Dutch colonial legal legacy of an extremely diverse developing nation into the modern global economy. and alternative methods of conflict resolution Within a multicultural and pluralistic society. adat law as local law applicable to the varying ethnic groups of indigenous peoples (Indonesians). The curriculum of the Elective Field Anthropology of Law benefits from the fact that there is a broad range of mediation classes offered by the Law Faculty.

and left-leaning groups (traditionally communists. the role of the legislative versus executive 61 . governmental and social) including significant concerns whether the country had sufficient internal cohesion to hold together during the crisis and continuing divisive challenges such as the independence of East Timor. adat law elements are reemerging in the governance system of distinct ethnic groups on the local level due to post-1998 political decentralization. Indonesia had an economic development-oriented "soft" authoritarian government from 1966-1998. The traditional Civil Law code framework has largely been sidelined over the past 20 years as legal development has pursued improvement in particular of economic law on the private law side through ad hoc statutes. plus the Indonesians now have their own version of culture wars in which (typically Islamic) religious conservatives often oppose what they consider to be the decadent morals of secular law. but the natural counterweight is the extent to which secular or national law is an acceptable common denominator for diverse ethnic and religious populations in a large country. In the modern setting. Then the Asian Financial Crisis occurred and brought down long-serving President Soeharto. However. These groups in turn have spawned at least three and arguably five larger plus a significant number of smaller political parties. views of judicial powers. Islamic groups with widely differing agendas. even among those favoring Civilian approaches. Wade and coming battles over gay marriage. plus continuing low grade insurgencies in Aceh and Papua. Institutionally speaking.as human rights in criminal law. Adat law's importance was underplayed for many years. Thus Indonesian public law was reformed on an accelerated basis both in the name of democratization and as a political strategy to counteract centrifugal forces via decentralization. so from an Indonesian perspective all these very basic political and legal changes are on-going in real time. with the result that Indonesians experienced what they referred to as a multi-dimensional crisis (economic. there has been a hidden migration from French to German models within the Civil Law world paralleling modern Dutch law itself (against a background whether legal modernization should follow Dutch law post-Independence versus other. Given its Dutch colonial legal heritage Indonesia is sometimes still reckoned formally a Civil Law country. typically Anglo-American models). Underlying political forces reemerging are divergent ones which drove the Indonesian independence struggle but were never fully reconciled thereafter: secular nationalists. so that since 1998 on a formal level Indonesian politics resembles Italian coalition governance post-WW II with rapidly changing constellations of parties as vehicles for leading politicians. although those working in land title law could attest to its continuing application. The laboratory of federalism concept does not necessarily mean that secular modernism prevails. But before US students dismiss such on-going developments as atavism. but in practice it is now better viewed as a mixed system. Islamic law is now expanding beyond family law to distinct areas like a syariah financial system (syariah banking and financial products) plus certain localities as a result of the growing influence of Islam in society. at least on the public law side. 1998 lies only five years in the past. please reflect on the analogy of abortion law controversies ever since Roe v. but that grouping has been officially banned since 1966 so that its latest equivalents represent labor and peasantry along the lines of European social democracy).

while Prof. enacting new laws is much easier than changing people's behavior in the private law area. Linnan treats the accelerated modernization of economic law in particular under IMF conditionality in the wake of the Asian Financial Crisis of 1997. many current reform efforts in the legal system focus predominantly on the judiciary. and general views of the legal professions still draw heavily on Continental views. The second is that it would be misleading to put too much emphasis on Continental models. first under Islamic law as covered by Prof. The question is not what the law says. economy and law lie at the core of our course. Most recently. and corruption. administrative levels of government. Such questions about differing views of the state. SELECT WEBSITES About Indonesian Society ANU WWW Virtual Library Indonesia CIA Factbook Indonesia Jakarta Post Antara News Agency . but it is arguable whether the direct inspiration may have been other Asian states like Korea drawing on Continental models). perhaps best understood as a belief that. Cammack looks at how the state may reach into familial affairs under syariah law in his separate unit. There "socialistic" Indonesian views of the economy at the constitutional law level were arguably incompatible with the Washington Consensus. David Linnan largely in terms of national law. Prof. In the name of good governance. if the rule of law is weak. but are largely considered ineffective (so just because the institutions may resemble Continental public law institutions to the outsider does not mean that the legal system works like it would in Berlin or Amsterdam). to the extent circa 20 years ago administrative courts on the Continental model were introduced. however. Indonesian law comes up in two places in this course. Indonesian public law has experienced the introduction of a relatively large number of independent regulatory or investigative commissions which are not typical under Continental public law.branches in law making. this is subject to three caveats. The first is that modern Continental public law institutions like a Constitutional Court have been introduced (perhaps closest to German models. Mark Cammack. or effectively restraining the state in the public law area. The third is Indonesian law reformers place heavy emphasis on legal enforcement (penegakan hukum). and second under Indonesian law as covered by Prof. but rather to what extent it actually regulates private and public relations in a modern developing non-Western nation on Southeast Asia's cultural borderline between East Asia (China & Japan) and Central or South Asia (stretching from India to the Middle East). however. There is also an overlay of post-1998 constitutional amendments seemingly modernizing public law at the highest levels.

Hooker. 63 .KITLV Daily Report Indonesia About Indonesian Legal System AusAID Working Paper for Indonesia-Australia Legal Development Facility (2003) (pages of 74 . Alumni. Bandung 1974 M. Legal Pluralism: An Introduction to Colonial and Neo-Colonial Laws.B.128 of 226 pages) UniMelb ALC Indonesia: Recent Work and Legislation Hukumonline Law & Finance Institutional Partnership From Indonesian Government Department of Foreign Affairs (DEPLU) People's Consultative Assembly (MPR) House of Representatives (DPR) Indonesian Attorney General's Office (Kejaksaan Agung) Indonesian National Police (POLRI) National Human Rights Commission (Komnas HAM) National Commission on Violence Against Women (Komnas Perempuan) From NGOs Reporting About Indonesia International Crisis Group Asia Foundation WALHI United States-Indonesia Society SELECT BIBLIOGRAPHY Books Sudargo Gautama & Robert N. An Introduction to Indonesian Law: Unity in Diversity. Hornick.

or Once More Unto the Breach: A Brief Institutional History. Islamic Courts in Indonesia: A Study in the Political Bases of Legal Institutions. Hooker. Federation Press. The Aspiration for Constitutional Government in Indonesia: A socio-Legal Study of the Indonesian Konstituante 1956-1959. The Lady and the Banyan Tree: Civil Law Change in Indonesia. Law Reform and the Commercial Court. Federation Press. Sydney 1999 Adnan Buyung Nasution. 19 World Development 763 (1991) June & Ronald Katz. Islam.B. Kuala Lumpur. Daniel Lev. 1992 Articles M. Legal Process and Economic Development: A Case Study of Indonesia. University of California 1972 Tim Lindsey (ed). Sinar Harapan. 14 American Journal of Comparative Law 282 (1965) David Linnan. 17 Wisconsin Journal of International Law 27 (1999) M. Clarendon Press 1975 M. 24 American Journal of Comparative Law 653 (1975) Daniel Lev. Young & T. Berkley. Legislating Social Change in an Islamic Society: Indonesia's Marriage Law. Indonesia: Law and Society. 44 American Journal of Comparative Law 45 (1996) Cheryl Gray. Jakarta. L. The New Indonesian Marriage Law: A Mirror of Indonesia's Political.Oxford. Sydney 2000 Tim Lindsey (ed). Indonesian Law Reform. Cultural and Legal Systems. Nationalism and the State in Suharto's Indonesia. Cammack. Indonesia: Bankruptcy. Heaton. 1 Australian Journal of Asian Law 1 (1999) LAW E506 Home . Cammack. Adat Law in Modern Indonesia. Oxford University Press 1978.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful