Anda di halaman 1dari 79

PERANAN KREDIT CEPAT AMAN UNIT PEGADAIAN SYARIAH SEMBAYAT DALAM MELANCARKAN KEGIATAN PETANI TAMBAK DI DESA BETOYO

MANYAR GRESIK

SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi dan Melengkapi Sebagian Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi Islam

Oleh Qudwatul Chusnah NIM : 20079422035 NIMKO : 2007.4.094.0022.1.00034

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI) IHYAUL ULUM GRESIK JURUSAN SYARIAH PROGRAM STUDI EKONOMI ISLAM TAHUN 2011

BAB I Pendahuluan

A. Latar Belakang Masalah Pada saat ini masih terdapat anggapan bahwa Islam menghambat kemajuan pembangunan ekonomi yang disebabkan oleh tatanan normalif. Pandangan ini berasal dari para pemikir barat yang menganut faham liberalisme dan tidak sedikit pula intelektual muslim yang mengiyakan. Ini seolah-olah merupakan agama yang berkaitan dengan masalah ritual saja, padahal Islam merupakan agama yang komprehensif yang mencakup seluruh aspek kehidupan, termasuk masalah pembangunan ekonomi serta industri pegadaian sebagai salah satu penggerak roda perekonomian. Islam adalah jalan yang utuh dan terpadu. Ia memberikan panduan dinamis dan lugas terhadap semua aspek kehidupan. Sehingga tidak konsisten jika menerapkan syariat Islam hanya dalam satu masalah kehidupan ini dan meninggalkannya dalam masalah yang lain. Al Quran yang dijadikan pedoman umat Islam telah banyak memberikan pandangan tentang ekonomi, baik yang bersifat ibadah sosial ataupun yang sifatnya menstimulir (memberi dorongan maupun semangat). Ini cukup memberikan dasar dalam masalah ekonomi. Dewasa ini, kalau kita bicara masalah ekonomi, tidak bisa lepas dari peranan gadai. Karena gadai merupakan media dalam penyalur aktifitas ekonomi masyarakat,

akan tetapi gadai yang beroperasi di Indonesia adalah gadai yang menggunakan konsep bunga. Yang mana dalam ajaran Islam termasuk ajaran samawi yang lainnya, bunga dipandang sebagai praktek yang eksploitatif, reduktif, destruktif. Demikian pula, lembaga keuangan dapat menyediakan dana bagi pengusahapengusaha swasta atau kalangan masyarakat pengusaha lemah yang membutuhkan dana bagi kelangsungan usahanya. Perkembangan pegadaian syariah di Indonesia merupakan suatu perwujudan dari permintaan masyarakat yang membutuhkan suatu jasa yang memenuhi prinsip-prinsip syariah. Perkembangan sistem keuangan syariah sebenarnya telah dimulai sebelum pemerintahan secara formal meletakkan dasar-dasar hukum operasionalnya. Dalam operasinya pegadaian syariah memiliki beberapa produk pegadaian yang biasanya juga dipakai oleh pegadaian syariah lainnya, di antaranya adalah pembiayaan. Di antara produk itu disediakan unit pegadaian syariah sembayat manyar gresik. Sesuai dengan kebutuhan masyarakat selaku nasabah, produk pembiayaan itu meliputi Kredit Cepat Aman (KCA), jasa taksiran, jasa titipan, kredit angsuran fidusia (KREASI), kredit angsuran sistem gadai (KRASIDA), dan lain-lain. Untuk memperkenalkan pegadaian syariah kepada nasabah diperlukan gambaran dari survei tentang kondisi nasabah tersebut. Dengan demikian kita bisa mengetahui bagaimana respon nasabah terhadap kehadiran pegadaian syariah ini dan juga bisa mengetahui seberapa besar tingkat keinginan nasabah akan pegadaian syariah. Dalam penelitian ini wilayah penelitian difokuskan pada Unit Pegadaian Syariah Sembayat dan desa Betoyo, kriteria wilayah penelitian tersebut didasarkan pada kondisi aktual dan kondisi potensial yang mengangkat variabel-variabel seperti

jumlah petani tambak, jumlah tambak yang dikelola, petani yang mayoritas muslim serta aktivitas ekonominya. Penelitian ini difokuskan pada pegadaian syariah tersebut karena sebelumnya peneliti telah melakukan survei terlebih dahulu. Situasi yang bisa dilakukan dalam penelitian ini adalah dengan mengeksplorasi dan mengklarifikasi mengenai informasi dari nasabah yaitu berupa gambaran tentang kebutuhan nasabah akan keberadaan Unit Pegadaian Syariah di Sembayat Manyar Gresik serta faktor-faktor yang mempengaruhi nasabah terhadap pegadaian syariah. Meskipun keadaan geografis di dalam pedesaan, pegadaian syariah telah menunjukkan keberhasilannya sebagai lembaga keuangan syariah dalam membawa umat untuk menerapkan sistem ekonomi secara syariah yang juga cukup berperan dalam pertumbuhan ekonomi indonesia hingga sekarang. Dengan melihat latar belakang di atas, maka penulis menganggap penting melakukan suatu pengkajian lebih mendalam untuk melihat minat nasabah terhadap produk Unit Pegadaian Syariah Sembayat Manyar. Oleh karena itu penulis akan melakukan penelitian dalam bentuk skripsi dengan judul PERANAN KREDIT CEPAT AMAN UNIT PEGADAIAN SYARIAH SEMBAYAT DALAM BETOYO

MELANCARKAN KEGIATAN PETANI TAMBAK DI DESA MANYAR GRESIK.

B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, maka kami ingin merumuskan pokok-pokok permasalahan sebagai berikut: 1. Bagaimana karakteristik dan keunggulan Kredit Cepat Aman serta proses pengajuannya di Unit Pegadaian Syariah Sembayat Manyar Gresik. 2. Bagaimana peranan Kredit Cepat Aman Unit Pegadaian Syariah Sembayat Manyar Gresik terhadap kegiatan petambak di desa Betoyo Manyar Gresik.

C. Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Untuk mengetahui karakteristik dan keunggulan Kredit Cepat Aman serta proses pengajuan di Unit Pegadaian Syariah Sembayat Manyar Gresik. 2. Untuk mengetahui peranan Kredit Cepat Aman di Unit Pegadaian Syariah Sembayat Manyar Gresik terhadap kegiatan petambak di desa Betoyo Manyar Gresik.

D. Manfaat Penelitian 1. Bagi instansi Bermanfaat untuk mengetahui peluang dan potensi tentang pendirian dan pengembangan pegadaian syariah atau lembaga keuangan syariah di wilayah kecamatan Manyar.

2. Bagi penulis Dapat menambah wawasan dan kajian ilmu serta bisa membandingkan teori yang telah didapatkan di bangku kuliah dengan kenyataan yang ada di lapangan. 3. Bagi pembaca Dapat menambah kajian ilmu serta bisa dijadikan sebagai penelitian pengembangan untuk selanjutnya.

E. Definisi Operasional Guna memudahkan dalam memahami judul skripsi tentang PERANAN KREDIT CEPAT AMAN UNIT PEGADAIAN SYARIAH SEMBAYAT DALAM MELANCARKAN KEGIATAN PETANI TAMBAK DI DESA BETOYO

MANYAR GRESIK, maka penulis menguraikan dan menjelaskan maksud yang terkandung dalam judul tersebut. Adapun yang dimaksud adalah sebagai berikut: 1. Peranan adalah tindakan yang dilakukan oleh seseorang dalam suatu peristiwa. 2. Kredit Cepat Aman (KCA) adalah pinjaman berdasarkan hukum gadai dengan prosedur pelayanan yang mudah, aman dan cepat. 3. Pegadaian Syariah adalah tempat penyerahan barang yang dilakukan oleh orang yang berhutang sebagai jaminan atas hutang yang diterimanya menurut syariat Islam. 4. Melancarkan adalah membuat supaya lancar. 5. Kegiatan adalah aktivitas manusia yang berhubungan dengan sesuatu.

6. Petani tambak adalah orang yang mengusahakan atau mengurusi tambak.

F. Sistematika Pembahasan Agar dapat terarah dan memberikan gambaran pemikiran terhadap maksud yang terkandung dalam skripsi ini dan memudahkan dalam pembahasan, maka perlu adanya sistematika pembahasan dalam skripsi ini yang diatur sebagaimana berikut: BAB I : PENDAHULUAN Bab ini menguraikan tentang latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat/pentingnya penelitian, definisi operasional, serta sistematika skripsi yang berisi ide pokok masingmasing sebab. BAB II : KAJIAN PUSTAKA Bab ini memuat kajian pustaka yang meliputi pengertian pegadaian syariah, akad perjanjian gadai, produk gadai syariah, sumber pendanaan, barang-barang jaminan dan kegiatan pertambakan. BAB III : METODE PENELITIAN Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan dengan metode studi kasus yang dijelaskan secara deskriptif. Prosedur pengumpulan datanya menggunakan survei pendahuluan, penelitian lapangan serta studi kepustakaan. Penelitian ini hanya dibatasi pada pembiayaan yang diterapkan pada Unit Pegadaian Syariah Sembayat Manyar Gresik.

BAB IV

: HASIL DAN PEMBAHASAN Bab ini meliputi gambaran umum tentang subjek penelitian yaitu Unit Pegadaian Syariah sembayat manyar gresik dan kegiatan petani tambak di desa Betoyo Manyar Gresik.

BAB V

: SIMPULAN DAN SARAN Bab ini meliputi simpulan yang ditarik dari hasil dan pembahasan serta saran-saran untuk perbaikan pada masa yang akan datang.

BAB II KAJIAN PUSTAKA

A. Pegadaian Syariah 1. Pengertian Pegadaian Syariah Transaksi gadai dalam fikih Islam disebut ar-rahn. Ar-rahn adalah suatu jenis perjanjian untuk menahan suatu barang sebagai tanggungan utang. Pengertian ar-rahn dalam bahasa arab adalah ats-tsubut wa ad-dawam

( ) yang berarti kekal dan tetap seperti dalam kalimat maun rahin ( ) yang berarti air yang tenang. Hal itu, berdasarkan firman Allah SWT dalam QS. Al-Muddatstsir (74) ayat 38 sebagai berikut:

Setiap orang bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya.

Pengertian gadai (rahn) secara bahasa seperti diungkapkan di atas adalah tetap, kekal dan jaminan. Sedangkan dalam pengertian istilah adalah menyandera sejumlah harta yang diserahkan sebagai jaminan secara hak, dan dapat diambil kembali sejumlah harta dimaksud sesudah ditebus. Sedangkan pengertian gadai (rahn) dalam hukum Islam (syara) adalah:

Menjadikan suatu barang yang mempunyai nilai harta dalam pandangan syara sebagai jaminan utang, yang memungkinkan untuk mengambil seluruh atau sebagian utang dari barang tersebut. Selain pengertian gadai (rahn) yang dikemukakan di atas, penulis juga mengungkapkan oengertian gadai (rahn) yang diberikan oleh para ahli hukum Islam sebagai berikut: a. Ulama Syafiiyah mendefinisikan sebagai berikut:

Menjadikan suatu barang yang biasa dijual sebagai jaminan utang dipenuhi dari harganya, bila yang berhutang tidak sanggup membayar hutangnya. b. Ulama Hanabilah mengungkapkan sebagai berikut:

Suatu benda yang dijadikan kepercayaan suatu utang, untuk dipenuhi

dari harganya, bila yang berhutang tidak sanggup membayar hutangnya. c. Ulama Malikiyah mendefinisikan sebagai beikut:

Sesuatu yang bernilai harta (mutamawwal) yang diambil dari

pemiliknya untuk dijadikan pengikut atas utang yang tetap (mengikat).

10

d. Ahmad Azhar Basyir Rahn adalah perjanjian menahan suatu barang sebagai tanggungan hutang atau menjadikan suatu benda bernilai menurut pandangan syara sebagai tanggungan marhun bih, sehingga dengan adanya tanggungan hutang itu seluruh atau sebagian hutang dapat diterima. e. Muhammad Syafii Antonio Gadai syariah (rahn) adalah menahan salah satu harta milik nasabah (rahin) sebagai barang jaminan (marhun) atas hutang/pinjaman (marhun bih) yang diterimanya. Berdasarkan pengertian yang dikemukakan oleh para ahli hukum Islam di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pengertian gadai (rahn) adalah menahan barang jaminan yang bersifat materi milik si peminjam (rahin) sebagai jaminan atas pinjaman yang diterimanya, dan barang yang diterima tersebut bernilai ekonomis, sehingga pihak yang menahan (murtahin) memperoleh jaminan untuk mengambil seluruh atau sebagian hutangnya dari barang gadai dimaksud, bila pihak yang menggadaikan tidak dapat membayar hutang pada waktu yang telah ditentukan. Pegadaian syariah merupakan perum pegadaian yang mempunyai karakteristik syariah seperti tidak memungut bunga dalam berbagai bentuk karena riba, menetapkan uang sebagai alat tukar bukan sebagai komoditas yang diperdagangkan, dan melakukan bisnis untuk memperoleh imbalan atas jasa dan atau bagi hasil.

11

Pegadaian syariah dalam pengoperasiannya menggunakan metode Fee Based Income (FBI) atau mudharobah (bagi hasil). Karena nasabah dalam menggunakan marhumbih (UP) mempunyai tujuan yang berbeda-beda misalnya untuk konsumsi, membayar uang sekolah, modal usaha atau tambahan modal kerja. Penggunaan metode mudharobah belum tepat pemakaiannya, oleh karena itu pegadaian menggunakan metode Fee Based Income (FBI). Sebagai penerima gadai atau disebut murtahin, pegadaian akan mendapatkan surat bukti rahn (gadai) berikut dengan akad pinjam meminjam yang disebut akad gadai syariah dan akad sewa tempat (ijarah). Dalam akad gadai syariah disebutkan bila jangka waktu akad tidak diperpanjang maka penggadai menyetujui agunan (marhun) milinya dijual oleh murtahin guna melunasi pinjaman. Sedangkan akad sewa tempat (ijarah) merupakan kesepakatan antara penggadai dengan penerima gadai untuk menyewa tempat untuk penyimpanan dan penerima gadai akan mengenakan jasa simpan.

2. Maksud dan Tujuan Didirikannya Perum Pegadaian Syariah Seperti yang kita ketahui di dalam sejarah dimulai berdirinya bank sampai dengan perum pegadaian selama periode memberikan ciri-ciri kredit barangbarang bergerak dengan maksud menolong rakyat untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat agar lebih mampu memenuhi kebutuhannya. Pada masa pembangunan jangka panjang tahap ke II diawali dengan program mengentaskan kemiskinan dan pengangkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Maka perusahaan umum pegadaian mempunyai maksud dan

12

tujuan yang tercantum dalam pembukuan Undang-Undang Dasar 1945 yang menyebutkan bahwa salah satu tujuan negara Indonesia adalah mewujudkan kesejahteraan umum dan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Sehubungan hal di atas maka perum pegadaian merupakan salah satu sarana yang disediakan pemerintah, ini akan memberikan sumbangan kepada usaha guna mencapai cita-cita luhur bangsa Indonesia yaitu masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan pancasila. Di samping itu pula bahwa tujuan dan perum pegadaian itu berdasarkan peraturan pemerintah no. 10 tahun 1990 tanggal 10 april 1990, pasal 5 butir menyatakan bahwa tujuan dari perum pegadaian adalah menyediakan pelayanan bagi masyarakat umum sekaligus memupuk berdasarkan prinsip pengelolaan perusahaan yang sehat dan bertujuan untuk: a) Turut melaksanakan dan menunjang pelaksanaan kebijaksanaan dan program pemerintah di bidang ekonomi dan pembangunan nasional. b) Mencegah praktek pegadaian gelap, riba dan pinjaman tak wajar. Berdasarkan tugas pokok dari perusahaan umum pegadaian yang sebagaimana tercantum dalam surat keputusan menteri keuangan Republik Indonesia no. kep-39/MK/6/1/1971 tanggal 20 Januari 1971, dimana fungsi pegadaian adalah: 1) Membina perekonomian masyarakat kecil dengan menyalurkan kreditnya dalam meningkatkan taraf hidup rakyat dan atas dasar hukum gadai kepada:

13

a) Para petani, petambak/nelayan, pedagang kecil, industri kecil, juga yang bersifat produktif. b) Para pengusaha golongan ekonomi lemah di dalam penambahan modal dan menginvestasikan modalnya. 2) Ikut serta memberantas pemberian pinjaman yang tidak wajar atau pegadaian gelap. 3) Membina pola perkreditan atas dasar hukum gadai. 4) Membina dan mengawasi pelaksanaan operasional perum pegadaian. Dalam fungsi yang pertama, ini akan membina dan mendorong perekonomian masyarakat dalam meningkatkan kemampuan untuk berusaha dalam memperbaiki taraf hidup masyarakat di dalam memenuhi kebutuhan dan membina fungsi-fungsi pertama ini akan memberikan sumbangsih kepada pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan. Fungsi yang kedua yaitu mencegah adanya pemberian pinjaman yang tidak wajar, pegadaian gelap dan praktek riba lainnya yang memang memberatkan masayarakat. Perum pegadaian turut memberantas dan melindungi serta mencegah masyarakat dari pinjaman-pinjaman yang sangat memberatkan, dengan kehadiran pegadaian ini akan memberantas dan mengatasi masalah dalam memenuhi dananya. Fungsi ketiga yaitu membina pola perkreditan atas dasar hukum gadai sehingga dalam fungsi ini akan benar-benar terarah dan bermanfaat terutama yang mengenai kredit yang bersifat produktif, di sini terkandung usnur yang mendidik

14

ke arah kemampuan untuk berusaha dan berdikari di dalam meningkatkan pendapatannya. Fungsi yang keempat dari fungsi ini perum pegadaian dalam memberikan kredit dan usaha lainnya yang bermanfaat terutama bagi pemerintah dan masyarakat. Dengan fungsi-fungsi tersebut jelas bahwa perum pegadaian mempunyai potensi yang penting di dalam mendukung usaha pemerintah di bidang pembangunan ekonomi untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.

3. Operasionalisasi Pegadaian Syariah Implementasi operasi pegadaian syariah hampir bermiripan dengan pegadaian konvensional. Seperti halnya pegadaian konvensional, pegadaian syariah juga menyalurkan uang pinjaman dengan jaminan barang bergerak. Prosedur untuk memperoleh kredit gadai syariah sangat sederhana, masyarakat hanya menunjukkan bukti identitas diri dan barang bergerak sebagai jaminan, uang pinjaman dapat diperoleh dalam waktu yang tidak relatif lama (kurang lebih 15 menit saja). Begitupun untuk melunasi pinjaman, nasabah cukup menyerahkan sejumlah uang dan surat bukti rahn saja dengan waktu proses yang juga singkat. Di samping beberapa kemiripan dari beberapa segi, jika ditinjau dari aspek landasan konsep, teknik, transaksi dan pendanaan, pegadaian syariah memiliki ciri tersendiri yang implementasinya sangat berbeda dengan pegadaian konvensional.

15

4. Landasan Konsep Dasar hukum yang menjadi landasan gadai syariah adalah ayat-ayat Al Quran, hadits Nabi Muhammad SAW., ijma ulama dan fatwa MUI. Hal dimaksud, diungkapkan sebagai berikut. a. Al Quran Dalam Al Quran surat Al-Baqarah ayat 283 yang dijelaskan bahwa konsep gadai sebagai berikut.


Jika kamu dalam perjalanan (dan bermu'amalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang). Akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya; dan janganlah kamu (para saksi) menyembunyikan persaksian. Dan barangsiapa yang menyembunyikannya, maka sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya; dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

16

b. Hadits Nabi Muhammad SAW. Dasar hukum yang kedua untuk dijadikan rujukan dalam membuat rumusan gadai syariah adalah hadits Nabi Muhammadh SAW., yang antara lain diungkapkan sebagai berikut. 1) Hadits Aisyah RA. yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, yang berbunyi:

( )
Telah menceritakan bin kepada kepada kami Ishaq bin Ibrahim Al telah Hanzhali dan Ali mengabarkan Khasyram keduanya kami Isa bin berkata;

Yunus dari Al

A'masy dari Ibrahim dari Al

Aswad dari 'Aisyah dia

berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah membeli makanan dari seorang Yahudi, lalu beliau menggadaikan baju besinya. (HR. Muslim)

17

2) Hadits dari Anas bin Malik RA. yang diriwayatkan oelh Ibnu Majah yang berbunyi:

, , : ) (
Telah meriwayatkan kepada kami Nashr bin Ali Al-Jahdhami, ayahku telah meriwayatkan kepadaku, meriwayatkan kepada kami Hisyam bin Qatadah dari Anas berkata: Sungguh Rasulullah SAW. menggadaikan baju besinya kepada seorang Yahudi di Madinah dan menukarnya dengan gandum untuk keluarganya. (HR. Ibnu Majah) 3) Hadits dari Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari, yang berbunyi:

) (
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Muqatil telah mengabarkan kepada kami 'Abdullah telah mengabarkan kepada kamiZakariya' dari Asy-Sya'biy dari Abu 'anhu berkata; Rasulullah Hurairah 'alaihi radliallahu wasallam

shallallahu

bersabda: (Hewan) boleh dikendarai jika digadaikan dengan pembayaran tertentu, susu hewan juga boleh diminum bila

18

digadaikan dengan pembayaran tertentu, dan terhadap orangyang mengendarai dan meminum susunya wajib membayar. (HR. AlBukhari) 4) Hadits riwayat Abu Hurairah RA. yang berbunyi:

: ) (
Barang gadai tidak boleh disembunyikan dari pemilik yang menggadaikan, baginya resiko dan hasilnya. (HR. Asy-Syafii dan AdDaruquthni) c. Ijma Ulama Jumhur ulama menyepakati kebolehan status hukum gadai. Hal dimaksud, berdasarkan pada kisah Nabi Muhammad SAW. yang menggadaikan baju besinya untuk mendapatkan makanan dari seorang Yahudi. Para ulama juga mengambil indikasi dari contoh nabi Muhammad SAW. tersebut, ketika beliau beralih dari yang biasanya bertransaksi kepada para sahabat yang kaya kepada seorang Yahudi, bahwa hal hal itu tidak lebih sebagai sikap Nabi Muhammad SAW. yang tidak mau memberatkan para sahabat yang biasanya enggan mengambil ganti ataupun harga yang diberikan oleh Nabi Muhammad SAW. kepada mereka.

19

d. Fatwa Dewan Syariah Nasional Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) menjadi salah satu rujukan yang berkenaan gadai syariah, di antaranya dikemukakan sebagai berikut. 1) Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia No: 25/DSN-MUI/III/2002, tentang Rahn; 2) Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia No: 26/DSN-MUI/III/2002, tentang Rahn Emas; 3) Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia No: 09/DSN-MUI/IV/2000, tentang Pembiayaan Ijarah; 4) Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia No: 10/DSN-MUI/IV/2000, tentang Wakalah; 5) Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia No: 43/DSN-MUI/VIII/2004, tentang Ganti Rugi. Landasan ini kemudian diperkuat dengan Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia No: 25/DSN-MUI/III/2002 tanggal 26 juni 2002 yang menyatakan bahwa pinjaman dengan menggadaikan barang sebagai jaminan hutang dalam bentuk rahn diperbolehkan dengan ketentuan sebagai berikut: a) Ketentuan umum: (1) Murtahin (penerima barang) mempunyai hak untuk menahan marhun (barang) sampai semua hutang rahin (yang menyerahkan barang) dilunasi.

20

(2) Marhun dan manfaatnya tetap menjadi milik rahin. Pada prinsipnya marhun tidak boleh dimanfaatkan oleh murtahin kecuali seizin rahin, dengan tidak mengurangi nilai marhun dan pemanfaatannya itu sekedar pengganti biaya pemeliharaan perawatannya. (3) Pemeliharaan dan penyimpanan marhun pada dasarnya menjadi kewajiban rahin, namun dapat dilakukan juga oleh murtahin, sedangkan biaya dan pemeliharaan penyimpanan tetap menjadi kewajiban rahin. (4) Besar biaya administrasi dan penyimpanan marhun tidak boleh ditentukan berdasarkan jumlah pinjaman. (5) Penjualan marhun (a) Apabila jatuh tempo, murtahin harus memperingatkan rahin untuk segera melunasi hutangnya. (b)Apabila rahin tetap tidak melunasi hutangnya, maka marhun dijual paksa/dieksekusi. (c) Hasil penjualan marhun digunakan untuk melunasi hutang, biaya pemeliharaan dan penyimpanan yang belum dibayar serta biaya penjualan. (d)Kelebihan hasil penjualan menjadi milik rahin dan

kekurangannya menjadi kewajiban rahin.

21

b) Ketentuan penutup: (1) Jika salah satu pihak tidak dapat menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan di antara kedua belah pihak, maka penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbritase Syariah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah. (2) Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan jika dikemudian hari terdapat kekeliruan akan diubah dan

disempurnakan sebagaimana mestinya.

5. Akad Perjanjian dalam Pegadaian a. Jenis Gadai Qard Al-Hasan 1) Akad Qard Al-Hasan Akad Qard Al-Hasan adalah suatu akad yang dibuat oleh pihak pemberi gadai dengan pihak penerima gadai dalam hal transaksi gadai harta benda yang bertujuan untuk mendapatkan uang tunai yang diperuntukkan untuk konsumtif. Hal dimaksud, pemberi gadai (nasabah/rahin) dikenakan biaya berupa upah/fee dari penerima gadai (murtahin). Akad Qard Al-Hasan dimaksud, pada prinsipnya tidak boleh pembebanan biaya selain biaya administrasi. Namun, ketentuan biaya administrasi dimaksud berdasarkan cara: (a) biaya administrasi harus dinyatakan dalam nominal, bukan presentase, dan (b) biaya administrasi harus bersifat jelas, nyata dan pasti serta terbatas pada

22

hal-hal mutlak yang diperlukan dalam akad atau kontrak. Selain itu, mempunyai mekanisme dalam bentuk: a) Harta benda yang digadaikan oleh rahin berupa barang yang tidak dapat dimanfaatkan, kecuali dengan jalan menjualnya dan berupa barang bergerak saja, seperti emas, barang-barang elektronik dan sebagainya. b) Tidak ada pembagian keuntungan bagi hasil. Dalam akad Qard Al-Hasan, dapat disimpulkan prosesnya sebagai berikut: (1) Rahin membawa marhun (agunan) yang tidak dapat dimanfaatkan atau dikelola kepada kantor pegadaian syariah (murtahin) untuk meminta fasilitas pembiayaan. (2) Murtahin melakukan pemeriksaan, termasuk juga menaksir harga marhun yang diberikan oleh rahin sebagai jaminan hutang yang akan dipinjamnya. (3) Setelah semua persyaratannya terpenuhi, maka murtahin dan rahin akan melakukan akad/transaksi. (4) Sesudah selesai dilakukan akad oleh murtahin dengan rahin, maka murtahin memberikan sejumlah uang sesuai kebutuhan yang disesuaikan dengan nilai taksir marhun kepada rahin. (5) Ketika rahin melunasi hutangnya kepada murtahin, maka selain rahin mebayar hutangnya, ia juga membayar biaya administrasi, biaya taksir marhun dan biaya sewa tempat barang jaminan kepada kantor pegadaian syariah selaku pihak murtahin.

23

4. Fee 3. Pencairan Marhun Bih

1. Akad Rahn

Murtahin 2. Utang dan Jasa

Rahin

Marhun Keterangan gambar: : Berhubungan : Saling Berhubungan Gambar 2.1 Skema akad qardh al-hasan

2) Prosedur pemberian Pinjaman Jenis Gadai Qard Al-Hasan a) Prosedur Pemberian Dana Pinjaman Prosedur memperoleh dana pinjaman pada kantor pegadaian syariahdalam jenis gadai qard al-hasan dapat diuraikan sebagai berikut. (1) Calon rahin membawa marhun yang akan dijadikan agunan ke kantor pegadaian syariah (murtahin) dengan memperlihatkan bukti diri, seperti KTP, surat kuasa bila pemilik marhun tidak dapat datang sendiri. (2) Marhun tersebut diteliti oleh murtahin tentang kualitasnya dalam menentukan penaksiran harganya. Berdasarkan hasil penaksiran dimaksud, lebih kecil dari nilai pasar marhun. Hal tersebut

24

dilakukan oleh murtahin untuk menghindari adanya kerugian bila terjadi pelelangan. (3) Setelah rahin menerima pinjaman dana, baik secara langsung maupun tidak langsung sehingga dana pinjaman dimaksud mempunyai faedah. (4) Rahin menerima dana berdasarkan ketentuan pada poin a, b dan c di atas, tanpa ada pemotongan biaya. b) Prosedur Penaksiran Marhun Prosedur penaksiran marhun dilakukan oleh murtahin atau petugas yang mempunyai pengalaman dalam hal penaksiran harga agunan. Hal dimaksud diuraikan sebagai berikut. (1) Murtahin memperhatikan harga standar pasar di pusat yang sedang berlaku. (2) Murtahin memperhatikan harga standar pasar setempat yang disesuaikan dengan kondisi harga yang sedang berlaku. (3) Murtahin menentukan nilai taksir marhun yang dijadikan agunan oleh rahin. c) Ketentuan Pemberian Fee Ketentuan pemberian fee oleh rahin ke murtahin berdasarkan pengganti biaya administrasi yang telah dikeluarkan oleh murtahin. Ketentuan fee yang harus dibayar oleh rahin ke murtahin dibebankan kepada rahin berdasarkan kemampuan dan keikhlasannya.

25

d) Kategori Marhun Kategori marhun yang dijadikan agunan adalah harta yang bergerak dan tidak dapat dikelola kecuali menjualnya. Misalnya emas, barang elektronik dan semacamnya.
1. Rahin 2. Penaksir

Permohonan dan Penyerahan Penetapan Jumlah Pinjaman

Penetapan Jumlah Pinjaman

3. Kasir

Keterangan gambar: : Berhubungan : Saling Berhubungan Gambar 2.2 Prosedur pelaksanaan pemberian pinjaman jenis gadai qardhul hasan

3) Prosedur Pelunasan Pinjaman Ketika rahin berkeinginan untuk menyelesaikan kewajiban dalam bentuk melunasi dana pinjaman jenis gadai qard al-hasan yang pernah diambil di kantor pegadaian syariah, baik sebelum akadnya jatuh tempo maupun sesudah jatuh tempo maka prosedurnya sebagai berikut. a) Rahin membayar hutang yang disertai surat gadai kepada murtahin. b) Marhun dikeluarkan oleh murtahin dari tempat penyimpanan marhun. c) Marhun akan dikembalikan murtahin kepada rahin.

26

Pelunasan 1. Rahin 2. Kasir

Informasi Pelunasan Pinjaman

Pengembalian Marhun Petugas Penyimpan Marhun Keterangan gambar: : Berhubungan : Saling Berhubungan Gambar 2.3 Prosedur pelunasan pinjaman jenis gadai qardhul hasan

4) Prosedur Pelelangan Marhun Prosedur pelelangan marhun jenis gadai qard al-hasan di pegadaian syariah dilakukan oleh murtahin bila rahin tidak dapat melunasi hutangnya ketika jatuh tempo. Hal dimaksud, dilakukan oleh murtahin berdasarkan ketentuan sebagai berikut. a) Murtahin harus lebih dahulu mengetahui keadaan rahin sehingga belum melunasi hutangnya. b) Dapat memperpanjang waktu pembayaran. c) Bila murtahin sangat membutuhkan uang dan rahin belum melunasi hutangnya, maka murtahin boleh memindahkan marhun kepada murtahin lain dengan seizing rahin. d) Bila ketentuan di atas tidak terpenuhi, maka murtahin boleh menjual marhun dan kelebihan uang penjualannya dikembalikan kepada rahin.

27

e) Pelelangan/penjualan marhun harus dilakukan di depan umum dan sebelum penjualan dilakukan sebaiknya hal itu diberitahukan lebih dahulu kepada rahin.

b. Jenis Gadai Akad Mudharabah 1) Akad Mudharabah Akad mudharabah adalah suatu akad yang dilakukan oleh pihakpemberi gadai (rahin) dengan pihak penerima gadai (murtahin). Pihak pemberi gadai (rahin) atau orang yang menggadaikan harta benda sebagai jaminan untuk menambah modal usahanya atau pembiayaan produktif. Akad dimaksud, pihak pemberi gadai akan memberikan bagi hasil berdasarkan keuntungan yang diperoleh kepada penerima gadai sesuai dengan

kesepakatan, sampai modal yang dipinjamnya dilunasi. Akad mudharabah mempunyai ketentuan sebagai berikut. a) Jenis barang dalam akad mudharabah dimaksud adalah semua jenis barang yang bisa dimanfaatkan, baik berupa barang bergerak seperti motor, barang elektronik, tanah, rumah, bangunan, maupun jenis barang lainnya yang dapat diambil manfaatnya. b) Keuntungan yang dibagikan kepada pemilik barang gadai adalah keuntungan sesudah dikurangi biaya pengelolaan.

28

Y%

Modal

Murtahin

Murtahin

Marhun Bih Skill Rahin

Usaha

Hasil Usaha

X%

Akad Lain

Keterangan gambar: : Berhubungan : Saling Berhubungan Gambar 2.4 Skema akad mudharabah

(1)Rahin mendatangi murtahin untuk meminta fasilitas pembiayaan dengan membawa marhun, baik yang dapat dimanfaatkan/dikelola maupun yang tidak dapat dimanfaatkan. (2)Murtahin melakukan pemeriksaan, termasuk menaksir kualitas dan harga marhun yang diberikan oleh rahin sebagai jaminan hutangnya. (3)Apabila semua persyaratan terpenuhi maka murtahin bersama rahin melakukan akad mudharabah. (4)Sesudah selesai dilakukan akad, maka murtahin akan memberikan sejumlah dana yang dibutuhkan oleh rahin dan jumlah dana yang dimaksud lebih rendah dari nilai jumlah taksir marhun. (5)Sesudah rahin menerima sejumlah dana dari murtahin, selanjutnya akan dilakukan kesepakatan tentang pemanfaatan marhun. Jika

29

marhun tersebut disepakati untuk dapat dikelola maka akan ditentukan mengenai siapa yang mengelola, dan selanjutnya akan dilakukan akad pemanfaatan marhun dan hasilnya akan dibagi bersama berdasarkan akad. 2) Prosedur Pemberian Dana Pinjaman jenis Gadai Mudharabah Ketika seseorang membutuhkan modal usaha dalam bentuk uang tunai, maka ia dapat bermohon dalam bentuk jenis akad mudharabah ke kantor pegadaian syariah setempat dimana ia berada. Prosedur pemberian dana pinjaman jenis gadai akad mudharabah dimaksud, diuraikan sebagai berikut. a) Prosedur pemberian uang pinjaman terdiri atas: (1)Calon rahin menemui murtahin dan menyerahkan marhun dengan menunjukkan surat bukti diri, seperti KTP, surat kuasa bila pemilik marhun tidak dapat datang sendiri. (2)Marhun tersebut diteliti oleh murtahin tentang kualitasnya dalam menentukan penaksiran harganya. Berdasarkan hasil penaksiran dimaksud, dapat ditetapkan besarnya jumlah dana yang dapat dipinjamkan kepada rahin. Besarnya jumlah dana pinjaman dimaksud, lebih kecil dari nilai harga pasar marhun. Hal tersebut, dilakukan oleh murtahin untuk menghindari adanya kerugian bila terjadi pelelangan. (3)Setelah rahin menerima fasilitas pinjaman dana maka murtahin memberikan saran-saran kepada rahin dalam menggunakan

30

dananya untuk berusaha, baik secara langsung maupun tidak langsung sehingga pinjaman dana tersebut dapat bermanfaat sesuai hakikat pinjaman. (4)Rahin menerima dana bedasarkan ketentuan pada poin 1,2 dan 3 di atas tanpa ada pemotongan biaya. b) Prosedur Penaksiran Marhun Prosedur penaksiran marhun dilakukan oleh murtahin atau petugas yang mempunyai pengalaman dalam hal penaksiran harga agunan. Penaksiran dimaksud mempunyai pedoman yang terdiri atas barang (marhun) yang bergerak dan barang (marhun) yang tidak bergerak. Hal dimaksud diuraikan sebagai berikut. 1) Barang (marhun) yang bergerak: (a) Murtahin memperhatikan harga standar pasar di pusat yang sedang berlaku. (b)Murtahin memperhatikan harga standar pasar setempat yang disesuaikan dengan kondisi harga yang sedang berlaku. (c) Harga pedoman untuk keperluan penaksiran dimaksud selalu disesuaikan dengan perkembangan harga yang terjadi. (d)Murtahin dapat menentukan hasil nilai taksir terhadap barang yang dijadikan agunan. 2) Barang (marhun) yang tidak bergerak: (a) Murtahin meminta sertifikat tanah pada rahin untuk

mengetahui gambaran kondisi tanah yang dijadikan agunan.

31

(b)Murtahin dapat melihat langsung atau tidak langsung kondisi agunan di lapangan. (c) Murtahin melakukan uji kualitas yang dijadikan agunan (marhun). (d)Murtahin dapat menentukan hasil nilai taksir terhadap barang yang dijadikan agunan. c) Kategori Marhun Kategori marhun yang dapat dijadikan agunan adalah harta benda yang bergerak dan tidak bergerak yang dapat dikelola. Barang bergerak misalnya kendaraan, barang elektronik dan semacamnya. Sedangkan barang tidak bergerak dapat disebut misalnya rumah, tanah dan pekarangan.
1. Rahin Permohonan dan Penyerahan Barang Jaminan Penetapan Jumlah Pinjaman/Pembiayaan 2. Penaksir

Pencairan Dana Pembiayaan 3. Kasir

Keterangan gambar: : Berhubungan : Saling Berhubungan Gambar 2.5 Prosedur pelaksanaan pemberian dana pinjaman jenis gadai mudharabah

32

3) Prosedur Pelunasan Dana Pinjaman Ketika rahin berkeinginan untuk menyelesaikan kewajiban dalam bentuk melunasi dana pinjaman jenis gadai mudharabah yang pernah diambil di kantor pegadaian syariah, maka prosedurnya sebagai berikut.
Pelunasan 1. Rahin 2. Kasir

Informasi Pelunasan Pinjaman Pengembalian Marhun Petugas Penyimpan Marhun

Keterangan gambar: : Berhubungan : Saling Berhubungan Gambar 2.6 Prosedur pelunasan dana pinjaman jenis gadai akad mudharabah

Prosedur pelunasan dana pinjaman jenis mudharabah, dapat diuraikan sebagai berikut: a) Rahin membayar hutang yang disertai surat gadai kepada murtahin. b) Marhun dikeluarkan oleh murtahin dari tempat penyimpanan marhun. c) Marhun akan dikembalikan oleh murtahin kepada rahin. 4) Prosedur Pelelangan Marhun Prosedur pelelangan marhun jenis gadai akad mudharabah di pegadaian syariah dilakukan oleh murtahin bila rahin tidak dapat melunasi

33

hutangnya kepada murtahin ketika jatuh tempo. Hal dimaksud dilakukan oleh murtahin berdasarkan ketentuan sebagai berikut. a) Murtahin harus lebih dulu mengetahui keadaan rahin sehingga belum melunasi hutangnya. b) Dapat memperpanjang tenggang waktu pembayaran. c) Apabila murtahin sangat membutuhkan uang dan rahin belum melunasi hutangnya, maka murtahin boleh memindahkan marhun kepada murtahin lain dengan seizin rahin. d) Apabila ketentuan di atas tidak terpenuhi maka murtahin boleh menjual marhun dan kelebihan uang penjualannya dikembalika kepada rahin. e) Pelelangan/penjualan marhun harus dilakukan di depan umum dan sebelum penjualan dilakukan sebaiknya hal itu diberitahukan lebih dahulu kepada rahin.

c. Jenis Gadai Akad Bai Muqayyadah 1) Akad Bai Muqayyadah Akad bai muqayyadah adalah akad yang dilakukan oleh pemilik sah harta benda barang gadai dengan pengelola barang gadai agar harta benda dimaksud, mempunyai manfaat yang produktif. Misalnya pembelian peralatan untuk modal kerja. Untuk memperoleh dana pinjaman, nasabah harus menyerahkan harta benda sebagai jaminan berupa barang-barang yang dapat dimanfaatkan oleh penerima gadai, baik oleh rahin maupun murtahin.

34

Marhun Bih

Murtahin

Rahin

Marhun

Akad Lain

2. Penaksir Keterangan gambar: : Berhubungan : Saling Berhubungan Gambar 2.7 Skema akad muqayyadah

Dalam akad Bai Muqayyadah, dapat disimpulkan prosesnya sebagai berikut: a) Rahin mendatangi murtahin untuk meminta fasilitas pembiayaan

dengan membawa barang jaminan yang dapat dimanfaatkan atau tidak dapat dimanfaatkan (marhun) yang akan diserahkan kepada murtahin sebagai jaminan utang yang akan dipinjam (marhun bih). b) Murtahin akan melakukan pemeriksaan berkenaan kualitas, termasuk menaksir harga marhun yang diberikan oleh rahin sebagai jaminan marhun bih. c) Setelah semua persyaratan terpenuhi, maka murtahin dan rahin akan melakukan akad, dan menentukan mark up yang akan diberikan

35

kepada murtahin, mark up dimaksud dibayarkan pada saat jatuh tempo. d) Sesudah akad dilakukan, murtahin akan membelikan barang sesuai yang diinginkan oleh rahin dan harganya di bawah nilai taksir barang (di bawah nilai jaminan). e) Ketika rahin menerima barang yang diinginkan dari murtahin tersebut maka ada negosiasi kembali mengenai marhun tersebut, yaitu apakah barang tersebut dimanfaatkan atau tidak. Jika marhun tersebut disepakati untuk dimanfaatkan/dikeloa maka akan ditentukan mengenai siapa yang mengelola (sesuai kesepakatan), dan baru melakukan akad pemanfaatan marhun (akad yang sesuai jenis barangnya), dan hasilnya dibagi bersama berdasarkan persentase yang disepakati oleh pihak-pihak yang berakad. 2) Prosedur Pemberian Dana Pinjaman Jenis Gadai Muqayyadah Ketika seseorang membutuhkan modal usaha dalam bentuk uang tunai, maka dia dapat bermohon dalam bentuk jenis akad bai muqayyadah ke kantor pegadaian syariah setempat dimana ia berada. Prosedur pemberian pinjaman jenis gadai akad dimaksud diuraikan sebagai berikut. a) Prosedur Pemberian Uang Pinjaman Terdiri Atas: (1)Calon rahin menemui murtahin dan menyerahkan marhun dengan menunjukkan surat bukti diri, seperti KTP, surat kuasa bila pemilik marhun tidak dapat datang sendiri.

36

(2)Marhun tersebut diteliti oleh murtahin tentang kualitasnya dalam menentukan penaksiran harganya. Berdasarkan hasil penaksiran dimaksud, dapat ditetapkan besarnya jumlah dana yang dapat dipinjamkan kepada rahin. Besarnya jumlah dana pinjaman dimaksud, lebih kecil dari nilai harga pasar marhun. Hal tersebut, dilakukan oleh murtahin untuk menghindari adanya kerugian bila terjadi pelelangan. (3)Setelah rahin menerima fasilitas pinjaman dana maka murtahin memberikan saran-saran kepada rahin dalam menggunakan dananya untuk berusaha, baik secara langsung maupun tidak langsung sehingga pinjaman dana tersebut dapat bermanfaat sesuai hakikat pinjaman. (4)Rahin menerima dana bedasarkan ketentuan pada poin 1,2 dan 3 di atas tanpa ada pemotongan biaya. b) Prosedur Penaksiran Marhun Prosedur penaksiran marhun dilakukan oleh murtahin atau petugas yang mempunyai pengalaman dalam hal penaksiran harga agunan. Penaksiran dimaksud mempunyai pedoman yang terdiri atas barang (marhun) yang bergerak dan barang (marhun) yang tidak bergerak. Hal dimaksud diuraikan sebagai berikut. (1)Barang (marhun) yang bergerak: (a) Murtahin memperhatikan harga standar pasar di pusat yang sedang berlaku.

37

(b)Murtahin memperhatikan harga standar pasar setempat yang disesuaikan dengan kondisi harga yang sedang berlaku. (c) Harga pedoman untuk keperluan penaksiran dimaksud selalu disesuaikan dengan perkembangan harga yang terjadi. (d)Murtahin melakukan uji kualitas marhun. (e) Murtahin dapat menentukan hasil nilai taksir terhadap barang yang dijadikan agunan. (2)Barang (marhun) yang tidak bergerak: (a) Murtahin meminta sertifikat tanah pada rahin untuk

mengetahui gambaran kondisi tanah yang dijadikan agunan. (b)Murtahin dapat melihat langsung atau tidak langsung kondisi agunan di lapangan. (c) Murtahin melakukan uji kualitas yang dijadikan agunan (marhun). (d)Murtahin dapat menentukan hasil nilai taksir terhadap barang yang dijadikan agunan. c) Kategori Marhun Kategori marhun yang dapat dijadikan agunan adalah harta benda yang bergerak dan tidak bergerak yang dapat dikelola. Barang bergerak misalnya kendaraan, barang elektronik dan sebagainya. Sedangkan barang tidak bergerak dapat disebut misalnya rumah, tanah dan pekarangan.

38

1. Rahin Permohonan dan Penyerahan Barang Jaminan

2. Penaksir

Penetapan Jumlah Pinjaman/Pembiayaan

Pencairan Dana Pembiayaan 3. Kasir

Keterangan gambar: : Berhubungan : Saling Berhubungan Gambar 2.8 Prosedur pemberian dana pinjaman jenis gadai bai muqayyadah

3) Prosedur Pelunasan Pinjaman Ketika rahin berkeinginan untuk menyelesaikan kewajiban dalam bentuk melunasi dana pinjaman jenis gadai bai muqayyadah yang pernah diambil di kantor pegadaian syariah, baik sebelum maupun sesudah jatuh tempo maka prosedur yang harus dilalui sebagai berikut. a) Rahin membayar hutang yang disertai surat gadai kepada murtahin. b) Marhun dikeluarkan oleh murtahin dari tempat penyimpanan marhun. c) Marhun akan dikembalikan oleh murtahin kepada rahin.

39

Pelunasan 1. Rahin 2. Kasir

Informasi Pelunasan Pinjaman

Pengembalian Marhun Petugas Penyimpan Marhun

Keterangan gambar: : Berhubungan : Saling Berhubungan Gambar 2.9 Prosedur pelunasan dana pinjaman jenis gadai bai muqayyadah

4) Prosedur Pelelangan Marhun Prosedur pelelangan marhun jenis gadai akad bai muqayyadah di pegadaian syariah dilakukan oleh murtahin bila rahin tidak dapat melunasi hutangnya kepada murtahin ketika jatuh tempo. Hal dimaksud dilakukan oleh murtahin berdasarkan ketentuan sebagai berikut. a) Murtahin harus lebih dulu mengetahui keadaan rahin sehingga belum melunasi hutangnya. b) Dapat memperpanjang tenggang waktu pembayaran. c) Apabila murtahin sangat membutuhkan uang dan rahin belum melunasi hutangnya, maka murtahin boleh memindahkan marhun kepada murtahin lain dengan seizin rahin.

40

d) Apabila ketentuan di atas tidak terpenuhi maka murtahin boleh menjual marhun dan kelebihan uang penjualannya dikembalika kepada rahin. e) Pelelangan/penjualan marhun harus dilakukan di depan umum dan sebelum penjualan dilakukan sebaiknya hal itu diberitahukan lebih dahulu kepada rahin.

d. Jenis Gadai Akad Ijarah 1) Akad Ijarah Akad Ijarah adalah akad yang objeknya merupakan penukaran manfaat harta benda pada masa tertentu, yaitu pemilikan manfaat dengan imbalan, sama dengan seseorang menjual manfaat barang. Dalam akad ini ada kebolehan untuk menggunakan manfaat atau jasa dengan suatu penggantian berupa kompensasi. Untuk menghindari terjadinya riba dalam transaksi ijarah maka pengenaan biaya jasa barang simpanan nasabah harus memenuhi persyaratan, yaitu: a) Harus dinyatakan dalam nominal, bukan presentase; b) Sifatnya harus nyata, jelas dan pasti, serta terbatas pada hal-hal yang mutlak diperlukan untuk terjadinya transaksi ijarah; c) Tidak terdapat tambahan biaya yang tidak tercantum dalam akad. Untuk lebih jelasnya, penulis embuat skema sebagai berikut.

41

5. Fee 4. Pembayaran Marhun Bih 3. Akad Rahn 2. Murtahin 1. Rahin

6. Jasa Marhun Keterangan gambar: : Berhubungan : Saling Berhubungan Gambar 2.10 Skema jenis gadai akad ijarah

Dalam akad ijarah, dapat disimpulkan prosesnya sebagai berikut: (1) Rahin mendatangi murtahin untuk meminta fasilitas penyimpanan barang dengan membawa marhun, baik yang tidak dapat

dimanfaatkan/dikelola maupun yang dapat dimanfaatkan/dikelola yang akan diserahkan kepada pihak murtahin. (2) Murtahin melakukan pemeriksaan berkenaan kualitasnya, termasuk juga menaksir marhun yang diberikan oleh rahin sebagai barang yang akan disimpan atau dititip. (3) Setelah semua persyaratan terpenuhi, murtahin dan rahin akan melakukan kesepakatan dalam bentuk akad. (4) Sesudah akad dilakukan, maka murtahin akan memberikan tempat penyimpanan barang yang diinginkan oleh rahin dan jumlahnya yang disesuaikan dengan nilai taksir barang.

42

(5) Sebagai pengganti biaya penyimpanan dan perawatan, maka pada saat akad berakhir, rahin memberikan sejumlah jasa atau fee kepada murtahin. (6) Jasa adalah suatu tempat yang dimiliki oleh murtahin untuk dimanfaatkan oleh rahin dalam bentuk sewa. 2) Prosedur Penyimpanan Barang (Marhun) Ketika seseorang membutuhkan fasilitas tempat penyimpanan barang (marhun), maka ia dapat bermohon dalam bentuk akad ijarah ke kantor pegadaian syariah setempat dimana ia berada. Prosedur pemberian tempat marhun dimaksud diuraikan sebagai berikut. a) Prosedur pemberian tempat penyimpanan barang terdiri atas: (1)Calon rahin menemui murtahin dan menyerahkan marhun dengan menunjukkan surat bukti diri, seperti KTP, surat kuasa bila pemilik marhun tidak dapat datang sendiri. (2)Marhun tersebut diteliti oleh murtahin tentang kualitasnya dalam menentukan penaksiran harganya. Berdasarkan hasil penaksiran dimaksud, dapat ditetapkan besarnya jumlah dana yang dapat dipinjamkan kepada rahin. Besarnya jumlah dana pinjaman dimaksud, lebih kecil dari nilai harga pasar marhun. Hal tersebut, dilakukan oleh murtahin untuk menghindari adanya kerugian. (3)Setelah rahin menerima fasilitas, maka murtahin memberikan arahan agar rahin memberikan tanggung jawab dan ia menjadi tenang.

43

(4)Selanjutnya, rahin membayar uang jasa penyimpanan kepada murtahin. b) Prosedur penaksiran marhun Prosedur penaksiran marhun dilakukan oleh murtahin atau petugas yang mempunyai pengalaman dalam hal penaksiran harga agunan. Besar kecilnya jumlah fee yang dibayar oleh rahin kepada murtahin tergantung dari nilai taksir barang setelah petugas penaksir menilai marhun. Petugas penaksir sebaiknya orang yang berpengalaman dalam hal tersebut. Untuk lebih merinci aturan dimaksud diuraikan sebagai berikut. 1) Murtahin memperhatikan harga standar pasar di pusat yang sedang berlaku. 2) Murtahin memperhatikan harga standar pasar setempat yang disesuaikan dengan kondisi harga yang sedang berlaku. 3) Harga pedoman untuk keperluan penaksiran dimaksud selalu disesuaikan dengan perkembangan harga yang terjadi. 4) Murtahin melakukan uji kualitas marhun. 5) Murtahin menentukan nilai taksir marhun yang dijadikan agunan. c) Ketentuan fee Rahin memberikan fee kepada murtahin sebagai pengganti biaya simpanan yang telah dikeluarkan oleh murtahin. Ketentuan jumlah pemberian fee dari rahin kepada murtahin biasanya disepakati oleh pihak rahin dengan pihak murtahin pada saat terjadi akah ijarah.

44

d) Kategori marhun Kategori marhun yang dapat dimintakan tempat penyimpanan kepada murtahin adalah harta benda yang bergerak, misalnya kendaraan, barang elektronik dan semacamnya. Hal dimaksud mempunyai prosedur seperti yang diungkapkan pada skema berikut.
1. Rahin Permohonan dan Penyerahan Penetapan Jumlah Pinjaman Penetapan Jumlah Fee 2. Penaksir

Pencairan 3. Kasir Keterangan gambar: : Berhubungan : Saling Berhubungan Gambar 2.11 Prosedur pemberian pinjaman tempat marhun jenis gadai akad ijarah

3) Prosedur Pelunasan Jasa Simpan Ketika rahin berkeinginan untuk mengambil barang (marhun) yang telah dititip, maka ia berkewajiban melunasi jasa simpan jenis gadai ijarah di kantor pegadaian syariah, baik sebelum maupun sesudah jatuh tempo, maka prosedurnya sebagai berikut. a) Rahin membayar uang jasa simpan disertai bukti gadai kepada murtahin.

45

b) Marhun dikeluarkan oleh murtahin dari tempat penyimpanan marhun. c) Marhun akan dikembalikan oleh murtahin kepada rahin. Hal dimaksud mempunyai prosedur seperti yang diungkapkan pada skema berikut.
Pelunasan 1. Rahin 2. Kasir

Informasi Pelunasan Pinjaman

Pengembalian Marhun Petugas Penyimpan Marhun Keterangan gambar: : Berhubungan : Saling Berhubungan Gambar 2.12 Prosedur pelunasan jasa simpan tempat marhun jenis gadai akad ijarah

4) Prosedur Pelelangan Marhun Prosedur pelelangan marhun jenis gadai akad ijarah dilakukan oleh murtahin bila rahin tidak dapat melunasi jasa simpan kepada murtahin ketika jatuh tempo. Hal tersebut dilakukan oleh murtahin berdasarkan ketentuan sebagai berikut. a) Murtahin harus lebih dahulu mengetahui keadaan rahin sehingga belum melunasi hutangnya. b) Dapat memperpanjang waktu pembayaran.

46

c) Bila murtahin sangat membutuhkan uang dan rahin belum melunasi hutangnya, maka murtahin boleh memindahkan marhun kepada murtahin lain dengan seizing rahin. d) Bila ketentuan di atas tidak terpenuhi, maka murtahin boleh menjual marhun dan kelebihan uang penjualannya dikembalikan kepada rahin. e) Pelelangan/penjualan marhun harus dilakukan di depan umum dan sebelum penjualan dilakukan sebaiknya hal itu diberitahukan lebih dahulu kepada rahin.

6.

Produk Gadai Syariah Sejauh ini perum pegadaian menerbitkan produk pegadaian yang beragam,

ada yang berbasis konvensional dan ada pula yang syariah. Gadai merupakan kegiatan yang sejauh ini masih menjadi otoritas perum pegadaian, meskipun belakangan sejumlah bank syariah ikut menerbitkan produk gadai emas syariah. Produk pegadaian yang diterbitkan oleh perum pegadaian, antara lain. a. Kredit Cepat Aman (KCA) Yaitu pinjaman berdasarkan hokum gadai dengan prosedur pelayanan yang mudah, aman dan cepat. Dengan usaha ini, pemerintah melindungi rakyat kecil yang tidak memiliki akses dalam perbankan. b. Kredit Angsuran Fidusia (KREASI) Yaitu pemberian pinjaman uang yang ditujukan kepada pengusaha kecil atas dasar fidusia. Kredit atas dasar fidusia adalah pengikatan jaminan dengan

47

lembaga pengikatan jaminan sempurna dan memberikan hak preferen kepada kreditor (lembaga fidusia). Bagi kreditor barang jaminan tetap dapat digunakan. c. Kredit Angsuran Sistem Gadai (KREASIDA) Yaitu pemberian pinjaman kepada para pengusaha mikro kecil (dalam rangka pengembangan usaha) atas dasar gadai yang pengembalian pinjamannya dilakukan melalui angsuran dalam jangka waktu maksimal tiga tahun dan jaminan bergerak seperti perhiasan, kendaraan bermotor dan sebagainya. d. Jasa Taksiran Yaitu layanan kepada masyarakat yang memerlukan harta atau nilai harta benda miliknya yang diperiksa dan ditaksir oleh juru taksir yang berpengalaman dan professional. e. Jasa Titipan Yaitu layanan titipan barang berharga seperti perhiasan, emas, batu permata, kendaraan bermotor, surat-surat berharga (tanah, ijazah) kepada masyarakat. f. Gadai Gabah Yaitu kredit tunda jual komoditas pertanian yang diberikan kepada para petani dengan jaminan gabah kering giling. g. Gadai Investa Yaitu salah satu produk perum pegadaian berupa penyaluran pinjaman atas dasar hokum gadai dalam jangka waktu tertentu yang diberikan kepada nasabah dengan jaminan berbentuk saham yang tercatat dan diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia dan Obligasi Negara Ritel (ORI).

48

h. Kredit Usaha Rumah Tangga Yaitu kredit yang ditujukan kepada para pengusaha sangat mikro yang tergabung dalam suatu kelompok atau asosiasi dengan jaminan pokok sistem tanggung renteng di antara anggota kelompok tersebut. i. Ar-Rahn untuk Usaha Mikro Kecil (ARRUM) Yaitu pembiayaan bagi para pengusaha mikro kecil, untuk pengembangan usaha berprinsip syariah.

7.

Sumber Pendanaan Pegadaian sebagai lembaga keuangan tidak diperkenankan menghimpun dana

secara langsung dari masyarakat dalam bentuk simpanan, misalnya giro, deposito dan tabungan untuk memenuhi kebutuhan dananya, perum pegadaian memiliki sumbersumber dana sebagai berikut. a. Modal sendiri. b. Penyertaan modal pemerintah. c. Pinjaman jangka panjang yang berasal dari kredit lunak Bank Indonesia. d. Pinjaman jangka pendek dari perbankan. e. Dari masyarakat melalui penerbitan obligasi. 8. Barang Jaminan Jenis barang yang diterima sebagai barang jaminan pada prinsipnya adalah barang bergerak, antara lain. a. Barang-barang perhiasan, yaitu semua perhiasan yang dibuat dari emas, perhiasan perak, platina, baik yang berhiaskan intan atau mutiara.

49

b. Barang-barang elektronik, seperti laptop, TV, lemari es, radio, tape recorder, vcd/dvd player. c. Kendaraan, seperti sepeda, motor, mobil. d. Barang-barang rumah tangga. e. Mesin, seperti mesin jahit, mesin motor kapal. f. Tekstil. g. Barang-barang lain yang dianggap bernilai seperti surat-surat berharga baik dalam bentuk saham, obligasi maupun surat-surat berharga lainnya.

B. Kegiatan Pertambakan Budidaya tambak hingga sekarang terhitung sebagai suatu usaha yang dapat memberikan keuntungan yang luar biasa. Kecenderungan ke arah ini memang beralasan karena terbukti pada lahan-lahan yang baru dibuka ternyata dapat menghasilkan produksi, baik pada tingkat penguasaan teknologi petani yang masih rendah hingga sedang, seperti halnya di kabupaten Luwu Utara, produksi yang dicapai pada tahun 1998 sebesar 1.641 ton, sekalipun produksi tersebut masih rendah jika dibandingkan dengan potensi tambak seluas 11.090 ha. Kondisi yang terlihat di awal masa usaha tersebut pada umumnya diikuti dengan ekspansi lahan atau peningkatan jumlah input yang selalu berakhir dengan penurunan produktivitas yang berulang-ulang dengan pemecahan masalah jangka pendek. Tahap kegiatan persiapan tambak bervariasi sesuai dengan tingkat teknologi budidaya yang diterapkan maupun kondisi lahan yang digunakan. Secara umum tahapan-tahapan kegiatan budidaya tambak adalah:

50

1. Persiapan Tambak a. Pengeringan Dasar Tambak Semua tingkat teknologi budidaya tambak menghendaki pengeringan tanah dasar yang sempurna, yang dapat dilakukan pada periode musim kemarau. Pengeringan ini dimaksudkan untuk mengurangi senyawa-senyawa asam sulfida dan senyawa beracun yang terjadi selama tambak terendam air, memungkinkan terjadinya pertukaran udara dalam tambak sehingga proses mineralisasi bahan organik yang diperlukan untuk pertumbuhan dapat berlangsung, serta untuk membasmi hama penyakit dan benih-benih ikan liar yang bersifat predator ataupun kompetitor. b. Kedok Teplok Pengangkatan lumpur dasar sebaiknya dilakukan pada saat lumpur dasar dapat diangkat. Kebanyakan petambak melakukan kedok teplok pada saat tergenang sehingga partikel-partikel lumpur yang halus bercampur dengan air, sehingga kadar NH3-N dan H2S tetap tinggi. c. Pengolahan Tanah Dasar Tambak Pengolahan tanah dasar dilakukan menggunakan hand tractor atau dicangkul, dengan kedalaman tidak lebih dari 30cm. Hal ini dilakukan sehubungan dengan pengaruh unsur hara terhadap pertumbuhan plankton pada kedalaman tertentu, dan kemampuan unsur toksis berpengaruh terhadap pertumbuhan ikan di tambak. Pengolahan tanah dasar dilakukan pada tambak masam dan pada tambak yang sudah lama beroperasi, dn dilakukan pada musim tertentu, dimana unsur-

51

unsur toksis dalam bongkahan tanah dapat teroksidasi dengan sempurna (musim kemarau). Setelah tanah dasar tambak ditraktor kemudian dibalik dan lumpur yang ada di dalam caren harus diangkat sambil memperbaiki pematang. Selanjutnya direndam air (10-20) selama + 7 hari, lalu dikeringkan kembali. 2. Pengapuran Pengapuran adalah upaya peningkatan produktivitas tambak, utamanya tambak masam yang bertujuan: a) Memperbaiki struktur tanah yaitu meningkatkan daya sanggah (buffer) tanah dan air sehingga tidak terjadi perubahan kemasaman (pH) yang ekstrim. b. Menetralisir unsur toksis yang disebabkan oleh aluminium dan zat besi dengan ketersediaan unsur hara seperti fosfat akan bertambah. c. Menstimulir aktivitas organisme tanah sehingga dapat menghambat organisme yang membahayakan kehidupan ikan (disinfectan). d. Dapat merangsang kegiatan jasad renik dalam tanah sehingga dapat meningkatkan penguraian bahan organik dan nitrogen dalam tanah.

3. Pemberantasan Hama Pemberantasan hama (terutama trisipan, kepiting dan udang/ikan liar) yang paling efektif adalah melalui pengeringan tambak secara sempurna. Sedangkan pengapuran dengan menggunakan kapur hidrat dan kapur oksida pada suhu tinggi juga dapat berfungsi untuk memberantas ikan liar.

52

Pemberantasan hama ikan dapat dilakukan dengan menggunakan saponin, dimana keampuhannya sangat dipengaruhi oleh kondisi suhu dan salinitas air tambak. Pada salinitas rendah yaitu salinitas < 20 ppm sebaiknya diaplikasi pada dosis 20-30 kg/ha dan dilakukan pada siang hari, dan apabila salinitas > 30 ppm, saponin diaplikasi diaplikasikan dengan dosis 10-15 kg/ha. 4. Pemupukan Pemupukan dilakukan sesudah pemberantasan hama, dan pada kondisi sekarang ini pemupukan dilakukan pada semua tingkat teknologi. Jenis dan dosis pupuk ditentukan oleh tingkat kesuburan dari masing-masing tanah dasar tambak. 5. Persiapan Air untuk Penebaran Air dimasukkan ke dalam petakan tendon yang telah diendapkan + 4 hari. Persiapan tendon dilakukan sama dengan persiapan petak pembesaran, hanya tidak dilakukan pemupukan. 6. Penebaran Tokolan Tokolan PL 57-60 ditebar di petak pembesaran dengan kepadatan disesuaikan dengan luaslahan. Penebaran sebaiknya dilakukan pada waktu suhu udara dingin, yaitu pada jam 06.00-08.00 pagi atau jam 17.00 sore 22.00 malam. 7. Pemeliharaan Keberhasilan usaha budidaya tambak tidak hanya ditentukan oleh konstruksi tambak, desain dan tata letak tambak, pengolahan tambak dan pengadaan benih saja, tetapi juga ditentukan oleh proses pemeliharaan sejak penebaran sampai pemungutan hasil (panen). Kegiatan-kegiatan yang perlu

53

dilaksanakan selama periode pemeliharaan berlangsung adalah pemberian makanan tambahan dan pengelolaan air tambak. 8. Panen Panen ikan atau udang dapat dilakukan setelah masa pemeliharaan 3-4 bulan. Pada umur demikian ukuran bandeng berkisar 500 gr/ekor dan udang berkisar antara 30-40 gr/ekor. Pemanen ikan dan udang dapat dilakukan dengan dua cara yaitu panen sebagian dan panen total. 9. Pasca Panen Setelah pemanenan selesai, maka hasil panen harus ditangani secepatnya agar kualitas dan kesegaran ikan dan udang tetap baik hingga kepasar atau konsumen. Penanganan ikan relatif lebih sederhana dibanding dengan penanganan udang, karena bandeng tidak sepeka udang yang mudah cacat. Cara penanganan bandeng sebelum sampai ke konsumen adalah: Setelah ditangkap, ikan disortir sesuai ukuran, kemudian dicuci beberapa kali dengan air bersih atau air es. Masukkan ke dalam keranjang yang telah dilapisi daun pisang dan serpihan es batu dengan perbandingan 1 kg es untuk 2 kg ikan bandeng. Dan cara penanganan udang adalah: Udang hasil panen disortir sesuai ukuran dan dipisahkan. Udang dibersihkan dan masukkan ke dalam keranjang plastik tersebut diletakkan pada tempat yang dialiri air.

54

Udang dicuci dengan air es dengan cara mencelupkan keranjang berisi udang ke dalam es beberapa kali.

Udang ditiriskan. Untuk mempertahankan kesegaran udang, es batu yang digunakan dengan perbandingan 1 kg es untuk 1 kg udang.

55

BAB III Metode Penelitian

A. Rancangan Penelitian Penelitian adalah suatu usaha untuk menentukan, mengembangkan dan menguji kebenaran suatu pengetahuan yang dilakukan dengan metode-metode ilmiah agar pengetahuan yang dicapai dari penelitian tersebut mempunyai sifat ilmiah. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode penelitian kualitatif. Metode ini dapat diartikan sebagai penelitian yang tidak menggunakan perhitungan yaitu bersifat menjelaskan yang nantinya akan menghasilkan data yang deskriptif berupa kata-kata yang tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati pada latar ilmiah dan individu tersebut secara utuh, juga bergantung pada pengamatan manusia dalam kawasannya dan hubungannya dengan orang-orang dalam bahasa pristik atau lahannya. Selain itu yang lebih penting dalam penelitian ini adalah pemusatan perhatian agar sampai pada makna yang ditimbulkan, dalam hal ini penelitian akan dapat mengetahui perilaku secara utuh di samping data empirik yang ada. Dalam mengungkapkan makna tersebut, peneliti akan terlibat secara langsung di dalam kehidupan yang diteliti, kemudian berusaha menyesuaikan dan memahami lapangan.

56

Dalam penelitian ini, untuk mengetahui peranan kredit cepat aman Unit Pegadaian Syariah Sembayat dalam melancarkan kegiatan petani tambak di desa Betoyo Manyar Gresik. Maka penelitian menggunakan beberapa tahapan antara lain: 1. Tahap pendahuluan, pada tahap ini peneliti secara non formal menghadapi ke objek penelitian yang diteliti, dalam hal ini ada unit pegadaian syariah sembayat dan petani tambak di desa Betoyo mengutarakan maksud ingin mengadakan penelitian dengan mendiskusikan dahulu fokus permasalahan yang akan diteliti serta minta izin untuk mengumpulkan bahan-bahan yang dibutuhkan. 2. Tahap pelaksanaan penelitian, pada tahap ini peneliti mulai mengumpulkan data-data yang diperlukan serta melakukan wawancara dan observasi langsung pada orang-orang yang terlibat dalam proses peranan kredit cepat aman dalam melancarkan kegiatan petani tambak serta mengetahui secara jelas dan rinci mengenai permasalahan yang diteliti. 3. Tahap terakhir, pada tahap ini peneliti mengajak sumber informasi untuk mendiskusikan hasil dari observasi penelitian dengan tujuan memperbaiki kekurangan-kekurangan dari hasil pengamatan penelitian dan analisis penelitian agar tidak terjadi pembiasaan serta mempunyai hal yang baik.

B. Populasi dan Sampel Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.

57

Dalam penelitian ini, yang menjadi populasi adalah nasabah di unit pelayanan syariah sembayat. Sampela adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Metode sampling dalam penelitian ini adalah metode sampling random (sampling acak). Dengan menggunakan metode ini maka elemen dari populasi yang akan diteliti memiliki kesempatan yang sama untuk dipilih sebagai sampel.

C. Teknik Pengumpulan Data 1. Jenis Data Jenis data yang dikaji dalam penelitian ini terdiri atas: a. Catatan Lapangan Data catatan lapangan diperoleh melalui wawancara langsung dari orang pertama sebagai informasi kunci yaitu orang-orang yang mengetahui secara jelas dan rinci mengenai permasalahan yang diteliti yaitu tentang peranan kredit cepat aman unit pegadaian syariah sembayat dalam melancarkan kegiatan petani tambak di desa Betoyo Manyar Gresik. b. Data Tertulis Selain catatan lapangan, data tertulis juga diperoleh melalui wawancara langsung. Sumber data tersebut dicatat atau ditulis sebagai data utama dalam penelitian ini. c. Fotografi Data fotografi bersumber dari hasil observasi dan dari dokumen yang berupa deskripsi tentang pegadaian syariah dan petani tambak meliputi

58

sejarah berdirinya pegadaian syariah, jumlah karyawan, keadaan lokasi, letak geografis, sarana dan prasarana, letak desa, jumlah petani tambak dan jenis media yang digunakan dalam proses mendapatkan pinjaman dari pegadaian syariah. 2. Sumber Data a. Manusia yaitu yang berhubungan langsung dengan pegadaian, baik orangorang yang terlibat dalam proses transaksi maupun nasabah di pegadaian tersebut. b. Non Manusia 1) Kepustakaan (literature) yaitu sumber data yang diperoleh dengan cara menelaah buku-buku kepustakaan kemudian mengambil hal-hal yang ada kaitannya dengan topik pembahasan, juga mengadakan

perbandingan teori-teori para ahli melalui karya-karya ilmiah mereka. Penelaah ini dalam rangka mencari landasan teori dan penguat terhadap masalah-masalah yang penulis bahas dan teliti. 2) Lapangan (field) yaitu sumber data yang diperoleh dimana penulis melakukan penelitian, dalam hal ini adalah Unit Pegadaian Syariah Sembayat dan petani tambak di desa Betoyo Manyar Gresik. Mendapatkan data tersebut dilakukan dengan cara: a. Interview Interview adalah percakapan terarah yang tujuannya untuk mengumpulkan dan memperkaya informasi atau bahan-bahan (data) yang sangat rinci, kaya dan padat.

59

Wawancara merupakan metode pengumpulan data dengan cara bertanya langsung dengan responden. Dalam proses wawancara terdapat proses interaksi antara pewawancara dengan responden. Wawancara dengan langsung melakukan tanya jawab dengan dua orang atau lebih bertahap secara fisik atau dengan dapat melihat dan mendengarkan dengan telinga sendiri. Untuk memperoleh data yang maksimal tersebut, maka wawancara di sini dilakukan secara mendalam untuk mendapat informasi yang sedalam mungkin. Ketika sedang wawancara dapat direkam dengan izin responden tapi juga perlu buku catatan. Metode ini dilakukan oleh penulis untuk mengetahui informasi mengenai peranan kredit cepat aman pegadaian dalam melancarkan kegiatan petani tambak. b. Dokumentasi Metode dokumentasi adalah mencari data-data mengenai hal atau variabel yang berupa buku, catatan, arsip, transkrip, surat kabar dan sebagainya. c. Observasi Metode ini menggunakan pengamatan atau penginderaan langsung terhadap suatu benda, kondisi, situasi, proses atau perilaku. Metode ini dilakukan terhadap proses interaksi di dalamnya (obyek penelitian). Karena metode ini adalah pemusatan perhatian terhadap seluruh indera meliputi penglihatan, pendengaran, penciuman, peraba

60

dan pengecap. Metode ini dilakukan untuk mengetahui saran dan prasarana, letak geografis dan kondisi lingkungan serta proses transaksi pegadaian syariah dan kegiatan petani tambak di desa Betoyo Manyar Gresik selaku objek penelitian.

D. Teknik Analisa Data Analisa data adalah proses pengorganisasian data yang terkumpul terdiri dari catatan lapangan, komentar penelitian dan dokumen kemudian mengatur, mengurutkan, mengelompokkan dan mengkategorikan data sehingga dapat menemukan teori data. Dalam penelitian kualitatif, analisa data merupakan proses penelaah dan penyusunan secara sistematis semua transkrip wawancara, catatan lapangan dan bahan-bahan lain yang dihimpun oleh peneliti untuk memperoleh pengetahuan dan pengalaman mengenai data dan mengkomunikasikan apa yang telah ditentukan. Teknik yang digunakan dalam rangka untuk menganalisis peranan kredit cepat aman pegadaian syariah dalam melancarkan kegiatan petani tambak di desa Betoyo Manyar Gresik adalah deskriptif kualitatif. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui seberapa besar peranan pegadaian syariah dalam melancarkan kegiatan petani tambak tersebut.

61

Cara berfikir yang digunakan dalam analisis data deskriptif kualitatif adalah: Cara Berfikir Deduktif Cara berfikir deduktif adalah cara berfikir yang berpijak dari pengertian atau fakta yang bersifat umum, kemudian diteliti dan hasilnya dapat memecahkan persoalan khusus. Metode deduktif ini digunakan pada saat membahas rumusan masalah yaitu karakteristik dan keunggulan serta proses pengajuan dan juga peranan kredit cepat aman. Adapun komponen analisa data dalam penelitian adalah: a. Reduksi data Reduksi data merupakan upaya penyederhanaan temuan data dengan cara mengambil intisari data hingga ditemukan inti pokoknya. Fokus masalah beserta pola-polanya. Dengan cara ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih tajam tentang hasil pengamatan selama di lapangan dari bahanbahan yang sudah dikumpulkan melalui observasi dan wawancara selanjutnya dianalisa, disusun secara sistematis dan ditonjolkan persoalan-persoalan pokok dan substansinya. b. Penyajian data Setelah data-data terkumpul dan disusun secara sistematis serta ditonjolkan persoalan-persoalan yang pokok dan substansial, baik melalui wawancara observasi serta dokumentasi, kemudian dilakukan penyajian data dengan cara membuat model bagan atau skema sehingga rinciannya dapat

62

dijelaskan secara rinci dan jelas, sistematis, ringkas, utuh dan tepat pada sasaran. c. Penarikan kesimpulan Langkah selanjutnya adalah penarikan kesimpulan dari data-data yang telah terkumpul secara skematis. Komponen-komponen analisis data tersebut dapat dilihat pada pembahasan atau bab berikutnya.

63

BAB IV Hasil dan Pembahasan

A. Hasil Penelitian Dalam sub bab ini, penulis akan memaparkan hasil penelitian yang telah dilakukan di unit Pegadaian Syariah Sembayat dan petani tambak di desa Betoyo Manyar. Yang mana unit pegadaian syariah sembayat merupakan unit pegadaian pertama yang berdiri di daerah Sembayat dan desa Betoyo merupakan desa yang penduduknya mayoritas menjadi petani tambak. Dimana dalam penelitian ini, penulis telah melakukan berbagai metode untuk mencapai hasil penelitian yang maksimal dan untuk memperoleh hasil penelitian yang valid sehingga dapat membawa manfaat bagi penulis khususnya dan bagi masyarakat sekitar pada umumnya. Penulis akan menjelaskan beberapa hal yang ada kaitannya dengan hasil penelitian. Di antaranya adalah: 1. Letak Geografis Unit Pegadaian Syariah Sembayat terletak di desa Sembayat, ManyarGresik, tepatnya di Jalan Embong Baru no. 04 Sembayat, Manyar-Gresik. Sedangkan batas-batas wilayah ini adalah: Sebelah barat berbatasan dengan desa Mluwur Sebelah timur berbatasan dengan desa Karangrejo Sebelah utara berbatasan dengan desa Bungah Sebelah selatan berbatasan dengan desa Manyar

64

Ditinjau dari letaknya, posisi unit pegadaian syariah sangat strategis karena lokasinya terletak tepat di pinggir jalan raya dan tidak jauh dari pasar Sembayat sehingga mempermudah unit pegadaian syariah untuk mencari nasabah yang banyak. Desa Betoyo terletak di kecamatan Manyar dan kira-kira 1 km dari jalan raya. Di dalam desa Betoyo terdapat banyak tambak, maka dari itu penduduk di wiliayah tersebut mayoritas berprofesi sebagai petani tambak. 2. Sejarah Berdirinya Unit Pegadaian Syariah Unit pegadaian syariah Sembayat Manyar Gresik berdiri pada tahun 2008 atas prakarsa Bapak Firmansyah selaku manajer cabang pegadaian syariah. Unit pegadaian syariah ini merupakan unit dari cabang pegadaian syariah yang ada di kota Gresik. Unit ini berdiri di desa Sembayat karena merupakan tempat yang strategis. Hal ini juga atas tuntutan masyarakat sekitar, agar tidak jauh-jauh ke Gresik. 3. Struktur Organisasi Unit Pegadaian Syariah Secara umum struktur organisasi adalah suatu kerangka yang

menggambarkan secara garis besar segala hubungan berdasarkan jabatan, wewenang, tugas dan tanggung jawab masing-masing dimana hubungan tersebut harus berdasarkan pada fungsi organisasi, sehingga apabila digambarkan akan berupa suatu rangkaian pelaksanaan kegiatan secara tertib dan teratur. Dengan demikian jelas bahwa struktur organisasi unit pegadaian juga merupakan kerangka pelaksanaan dari penjabaran fungsi organisasi, struktur

65

organisasi sangat penting bagi pelaksanaan tugas dan pekerjaan di unit pegadaian syariah, karena: a. Dapat memberikan gambaran tugas dan tanggung jawab masing-masing anggota organisasi. b. Dapat memebrikan gambaran secara garis besar tentang organisasi. c. Dapat memberikan gambaran tentang garis besar kewenangan dan hubungan kerja antara anggota organisasi yaitu pegawai ataupun karyawan.

Bagan I STRUKTUR ORGANISASI UNIT PEGADAIAN SYARIAH SEMBAYAT MANYAR KABUPATEN GRESIK Manajer Cabang

Penaksir

Kasir

Penyimpanan Barang Bagian Gudang

Sumber : wawancara dengan manajer cabang. Dalam struktur organisasi setiap anggota atau pegawai diberikan wewenang, tugas dan tanggung jawab sesuai dengan ketentuan yang ada. Tugas dan tanggung jawab tersebut adalah:

66

1) Manajer Cabang Tugas dan tanggung jawab pokok a) Mengelola dan memanage operasional kantor cabang dan juga mengawasi jalannya operasional kantor unit pegadaian syariah. b) Memanage kegiatan umum kantor cabang dan kantor unit pegadaian syariah. c) Menetapkan strategi yang menunjang usaha pokok kantor cabang dankantor unit. d) Mengelola sumber-sumber dana dan penggunaannya dengan baik untuk memperoleh profitabilitas yang tinggi. 2) Penaksir Tugas pokok penaksir adalah menaksir barang jaminan untuk menentukan mutu dan nilai barang sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam rangka mewujudkan penetapan nilai uang pinjaman serta citra baik perusahaan. 3) Kasir Tugas pokok kasir adalah melakukan tugas-tugas penerimaan dan pembayaran sesuai ketentuan yang berlaku untuk kelancaran operasi kantor unit, membuat laporan dan menyerahkannya kepada manajer kantor cabang. 4) Penyimpanan Barang Jaminan Bagian Gudang Tugas pokok dari bagian ini adalah: - Melakukan pemeriksaan atas barang jaminan nasabah. - Melakukan penyimpanan atas barang jaminan nasabah.

67

- Melakukan pengeluaran atas barang jaminan nasabah selain barang kantor sesuai dengan peraturan dalam rangka ketertiban dan keamanan serta keutuhan barang jaminan nasabah.

BAGAN II DATA KARYAWAN UNIT PEGADAIAN SYARIAH SEMBAYAT MANYAR No 1 2 3 4 5 Nama Karyawan Firmansyah Suyadi Micky Hardiansyah Winarto Harianto L/P L L L L L Jabatan Manajer cabang Penaksir dan penyimpan barang Kasir Satpam satpam

Sumber: daftar pegawai 2011. 4. Kondisi Desa Betoyo Manyar Di dalam penelitian ini, penulis juga akan menjelaskan tentang kondisi desa Betoyo Manyar, di antaranya adalah a. Desa Betoyo terletak di kecamatan Manyar dan berada di kejauhan 1 km dari jalan raya.

68

b. Desa Betoyo mayoritas penduduknya bermata pencaharian petani tambak. Setelah melakukan penelitian, sekitar 300 orang penduduk menjadi petani tambak. c. Kegiatan petani tambak desa Betoyo ini yaitu pemeliharaan tambak, pemupukan tambak, pemberian pakan, pemberian bibit ikan dan lain-lain. Selain untuk kepentingan tambak, petani tambak juga mempunyai kebutuhan lain. Seperti kebutuhan hidup sehari-hari, kebutuhan sekolah dan juga kebutuhan mendadak yang lainnya.

B. Pembahasan dan Interpretasi 1. Karakteristik dan Keunggulan serta Proses Memperoleh Kredit Cepat Aman a. Proses Memperoleh Kredit dan Pelunasan Kredit Di dalam pegadaian ini adapun proses memperoleh kredit cepat aman adalah sebagai berikut: 1) Calon nasabah datang ke lokasi penaksiran dan menyerahkan barang yang akan dijaminkan. 2) Setelah barang diteliti mutunya, lalu ditaksirkan harganya. Berdasarkan taksiran tersebut ditetapkan berapa uang pinjaman yang akan diterima oleh nasabah. 3) Proses memperoleh pinjaman biasanya tidak lebih dari 15 menit tanpa dibebani biaya apapun.

69

BAGAN III PROSEDUR MEMPEROLEH KREDIT Nasabah Penaksir Kasir

Prosedur pelunasan hutang adalah sebagai berikut: a) Setiap saat uang pinjaman dapat dilunasi tanpa harus menunggu habisnya jangka waktu. b) Nasabah datang ke kasir membayar kredit, lalu menerima barang jaminanya, proses pengembalian kredit sampai penerimaan kembali jaminannya, memakan waktu tidak lebih dari 15 menit serta tidak dikenakan pungutan lain kecuali sewa modal. BAGAN IV PROSEDUR PELUNASAN UANG PINJAMAN Nasabah Kasir Pengeluaran Barang Jaminan

b. Karakteristik dan Keunggulan Kredit Cepat Aman Dalam pemberian kredit haruslah ada unsur-unsur yang terkandung dalam pemberian suatu fasilitas kredit, unsur-unsur kredit menurut Kasmir (2002:94) adalah sebagai berikut: 1) Kepercayaan Yaitu suatu keyakinan pemberi kredit bahwa kredit yang diberikan akan benar-benar diterima kembali di masa tertentu dan di masa yang akan datang.

70

2) Kesepakatan Adanya kesepakatan antara pemberi kredit dengan penerima kredit. Kesepakatan ini dituangkan dalam suatu perjanjian tertulis dimana masing-masing pihak menandatangani hak dan kewajibannya masingmasing. 3) Jangka waktu Setiap kredit yang diberikan memiliki jangka waktu tertentu, jangka waktu ini mencakup masa pengembalian kredit yang telah disepakati. Jangka waktu tersebut bisa berbentuk jangka pendek, jangka menengah atau jangka panjang. 4) Resiko Adanya suatu tenggang waktu pengembalian akan menyebabkan suatu resiko tidak tertagihnya atau kredit macet. Semakin panjang suatu kredit maka semakin besar resikonya demikian sebaliknya.

Di samping mempunyai unsur-unsur atau karakteristik tersebut, suatu kredit juga mempunyai keunggulan sebagai berikut: (a) Meningkatkan daya guna uang Dengan adanya kredit dapat meningkatkan daya guna uang, maksudnya jika uang di bank hanya disimpan saja tidak akan menghasilkan sesuatu yang berguna.

71

(b) Meningkatkan peredaran dan lalu lintas uang Dalam hal ini uang yang diberikan atau disalurkan akan beredar dari suatu wilayah ke wilayah lainnya sehingga suatu daerah yang kekurangan uang dengan memperoleh kredit maka daerah tersebut akan memperoleh tambahan uang dari daerah lainnya. (c) Meningkatkan daya guna barang Kredit yang diberikan oleh pegadaian dapat digunakan oleh nasabah untuk mengolah barang yang tidak berguna menjadi berguna atau bermanfaat. (d) Meningkatkan peredaran pegadaian Kredit dapat pula menambah atau memperlancar arus barang dari satu wilayah ke wilayah lainnya, sehingga jumlah barang yang beredar dari satu wilayah ke wilayah lainnya semakin meningkat. (e) Sebagai alat stabilitas ekonomi Dengan memberikan kredit dapat dikatakan sebagai stabilitas ekonomi karena dengan adanya kredit yang diberikan kan menambah jumlah barang yang diperlukan oleh masyarakat. (f) Meningkatkan kegairahan berusaha Bagi penerima kredit tentu akan dapt meningkatkan kegairahan berusaha, apalagi bagi nasabah yang mempunyai modal sedikit. (g) Meningkatkan pemerataan pendapatan Semakin banyak kredit yang disalurkan maka akan semakin baik, terutama dalam hal meningkatkan pendapatan.

72

(h) Dapat dilunasi kapan saja Dalam kredit ini, pelunasan dapat dilakukan sewaktu-waktu. Dalam jangka waktu pinjaman maksimal 4 bulan atau 120 hari. Pinjaman dapat diperpanjang dengan cara membayar sewa modal saja atau mengangsur sebagian uang pinjaman. 2. Peranan kredit cepat aman dalam melancarkan kegiatan petani tambak Berdasarkan hasil wawancara kami terhadap petani tambak didesa Betoyo, Kredit Cepat Aman di Unit Pegadaian Syariah ini sangatlah berguna bagi kelancaran kegiatan petani tambak tersebut. Dalam menjalankan usaha tambak ini, petani tambak memerlukan biaya untuk melancarkan usaha tambaknya. Di bawah ini dijelaskan beberapa biaya yang diperlukan petani tambak dan diperoleh dari Kredit Cepat Aman Unit Pegadaian Syariah. a. Biaya investasi Biaya investasi adalah biaya tetap yang harus dikeluarkan petambak untuk memulai usahanya. Biaya investasi meliputi biaya perijinan, sewa tambak dan pengolahan tambak serta pembelian peralatan (tabel 4.1). Biaya perijinan bernilai nol sebab biaya itu telah dibayar pemilik pada saat membuat tambak. Total biaya investasi yang diperlukan untuk tambak seluas 2 Ha sekitar Rp 8.000.000 dengan biaya terbesar perlengkapan tambak. Biaya perlegkapan tambak adalah biaya untuk membeli pompa air dan pembuat rumah pendega. Rumah pendega diperlukan sebab kebanyakan tambak dikelola orang lain yang bukan penduduk desa Betoyo. Tambak

73

disewa selama 4 tahun, tetapi pembayaran sewa dilakukan setiap tahun. Sewa tambak saat penelitian adalah Rp 1.250.000 per Ha setiap tahun. Pengelolahan tambak memerlukan biaya besar terutama untuk biaya tenaga kerja. Peralatan antara lain yang diperlukan adalah jaring, ember dan serok. Rincian biaya investasi dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 4.1 Biaya Investasi Pendederan dan Pembesaran Ikan No Jenis 1 Perijinan 2 3 4 5 Sewa tambak Pembenahan tambak Peralatan tambak Perlengkapan tambak Jumlah biaya investasi Nilai (Rp) 0 2.500.000 2.135.000 507.000 3.180.000 8.322.000 Penyusutan (Rp) 0 2.500.000 427.000 262.000 1.288.250 4.477.250

Sumber: wawancara kepada petani tambak. b. Biaya operasional Biaya operasional adalah biaya yang harus dikeluarkan ketika tambak dioperasikan untuk memelihara ikan. Budidaya ikan memerlukan bibit dan pakan. Untuk menambah persediaan makanan alami maka diperlukan pemupukan pada tambak. Dan untuk mengelola tambak diperlukan tenaga kerja (tabel 4.2). Biaya operasional terbesar (lebih dari 50%) adalah biaya pakan. Salah satu ciri penting pengelolaan tambak semi intensif adalah pemberian pakan. Biaya yang terbesar kedua (sekitar 10%) adalah biaya tenaga kerja. Tenaga

74

kerja yang diperlukan adalah 2 tenaga kerja upahan tetap dan 1 tenaga kerja pemilik, dengan upah sesuai jumlah produksi dan tenaga tidak tetap yang diperlukan saat panen. Tabel 4.2 Biaya Operasional Pendederan dan Pembesaran Ikan No 1 2 3 4 Benih Pupuk Pakan Tenaga kerja Jumlah Jenis Biaya Semester I Tahun 1 5.040.000 5.082.525 21.325.000 11.325.000 42.772.525 Semester I Tahun 2-4 5.040.000 5.082.525 22.335.005 11.535.000 40.392.530 Semester II Tahun 1-4 5.040.000 4.356.450 23.324.088 8.730.000 41.450.538

Sumber: wawancara kepada petani tambak. c. Modal kerja Modal kerja adalah modal yang diperlukan untuk mengoperasikan tambak pada periode awal. Modal yang diperlukan untuk mengoperasikan tambak seluas 2 Ha adalah Rp 29.010.776 dengan porsi 28,68% biaya investasi and 71,32% modal kerja. Dalam studi ini modal kerja meliputi pembelian bibit, pakan, pemupukan dan tenaga kerja bulan pertama sampai bulan ketiga.

75

Tabel 4.3 Kebutuhan Dana untuk Investasi dan Modal Kerja No Rincian Dana Proyek 1 Dana investasi yang bersumber dari a. Kredit b. Modal sendiri Jumlah dana investasi 2 Dana modal kerja yang bersumber dari a. Kredit b. Modal sendiri Jumlah dana modal kerja 3 Total dana proyek yang bersumber dari a. Kredit b. Modal sendiri Jumlah dana proyek Sumber: wawancara kepada petani tambak. Untuk memenuhi dana investasi dan modal kerja, sebagian dana diperoleh dari pinjaman (kredit). Dalam studi ini 70% biaya investasi berupa dana kredit dan sisanya modal sendiri, sementara untuk modal kerja 50% dari pinjaman (kredit) dan 50% dana sendiri (tabel 4.3). Merujuk pada temuan lapangan, dana dari pegadaian umumnya dilunasi dalam jangka pendek, oleh karena itu dalam analisis keuangan ini dana dari pegadaian diperpanjang per 10 hari. Pelunasannya paling sedikit dalam waktu 4 bulan, dan itu juga bisa dilakukan perpanjangan per 10 hari. 16.169.788 12.840.988 29.010.776 10.344.388 10.344.388 20.688.766 5.825.400 2.496.600 8.322.000

76

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan Berdasarkan paparan hasil penelitian dan pembahasan yang telah

dikemukakan di atas, maka ditarik kesimpulan sebagai berikut: 1. Proses memperoleh kredit sangatlah mudah, yaitu dengan cara nasabah datang dengan membawa jaminan kemudian ditaksir dan dalam waktu yang sangat singkat nasabah telah mendapatkan pinjaman. Proses pelunasan kredit pelunasan kredit sangatlah mudah, bisa dilunasi sewaktu-waktu dalam jangka maksimal 4 bulan atau 120 hari. 2. Karakteristik kredit cepat aman ini adalah: b. c. d. e. Kepercayaan Kesepakatan Jangka waktu Resiko

3. Keunggulan kredit cepat aman ini adalah: f. g. h. i. j. Meningkatkan daya guna uang Meningkatkan peredaran dan lalu lintas uang Meningkatkan daya guna barang Meningkatkan peredaran pegadaian Sebagai alat stabilitas ekonomi

77

k. l.

Meningkatkan kegairahan berusaha Dapat diluansi kapan saja.

4. Peranan Kredit Cepat Aman Unit Pegadaian Syariah dalam melancarkan kegiatan petani tambak adalah untuk: a. Biaya investasi Biaya investasi adalah biaya tetap yang dikeluarkan oleh petani tambak untuk memulai usahany. Biaya investasi meliputi biaya perijinan, sewa tambak dan pengolahan tambak serta pembelian peralatan. b. Biaya operasional dan biaya tenaga kerja Biaya operasional adalah biaya yang harus dikeluarkan ketika tambak mulai dioperasikan. Biaya operasional ini meliputi biaya pembelian bibit, pemupukan dan papan. Sedangkan biaya tenaga kerja adalah biaya yang diperlukan untuk mengupahi atau mengongkosi tenaga kerja yang membantu dalam mengoperasikan tambak.

B. Saran 1. Untuk karyawan, hendaknya terus selalu meningkatkan mutu pelayanan semaksimal mungkin karena, semakin mengedepankan pelayanan yang diberikan Unit Pegadaian Syariah Sembayat maka semakin banyak juga yang datang ke Unit Pegadaian Syariah Sembayat untuk memenuhi kebutuhannya. 2. Untuk semua pengurus Unit Pegadaian Syariah Sembayat agar lebih memberikan sosialisasi tentang pegadaian syariah untuk masyarakat sekitar.

78

3. Bagi masyarakat sekitar yang sudah pernah atau sering ke Unit Pegadaian Syariah Sembayat, hendaknya mensosialisasikan kepada masyarakat lain untuk menjadikan Unit Pegadaian Syariah Sembayat sebagai sarana intermedia dalam penyelesaian masalah dengan berprinsip pada syariat Islam. 4. Untuk semua yang telah mengetahui keberadaan Unit Pegadaian Syariah Sembayat, hendaknya mendukung dan berpartisipasi supaya terciptanya sistem perekonomian berdasarkan syariat Islam.