Anda di halaman 1dari 7

Pendahuluan Nama "Hemiptera" berasal dari bahasa Yunani hemi (setengah) dan pteron (sayap) sehingga jika diartikan

secara keseluruhan, Hemiptera berarti "yang bersayap setengah". Nama itu diberikan karena serangga dari ordo ini memiliki sayap depan yang bagian pangkalnya keras seperti kulit, namun bagian belakangnya tipis seperti membran. Sayap depan ini pada sebagian anggota Hemiptera bisa dilipat di atas tubuhnya dan menutupi sayap belakangnya yang seluruhnya tipis dan transparan, sementara pada anggota Hemiptera lain sayapnya tidak dilipat sekalipun sedang tidak terbang. Tujuan Artikel ilmiah ini bertujuan untuk;
Mengetahui ciri-ciri umum, morfologi, siklus hidup serta klasifikasi dari ordo Hemiptera, khususnya Kepik.

Manfaat
Sebagai referensi dan sumber belajar yang dapat digunakan dalam pembelajaran mata kuliah Entomologi.

Entomologi

Pembahasan
Divisi exopterygota ORDO HEMIPTERA Ordo ini memiliki anggota yang sangat besar serta sebagian besar anggotanya bertindak sebagai pemakan tumbuhan (baik nimfa maupun imago). Namun beberapa di antaranya ada yang bersifat predator yang mingisap cairan tubuh serangga lain (Campbell, 2000).

Umumnya memiliki sayap dua pasang (beberapa spesies ada yang tidak bersayap). Sayap depan menebal pada bagian pangkal (basal) dan pada bagian ujung membranus. Bentuk sayap tersebut disebut Hemelytra. Sayap belakang membranus dan sedikit lebih pendek daripada sayap depan. Pada bagian kepala dijumpai adanya sepasang antene, mata facet dan occeli (Campbell, 2000). Tipe alat mulut pencucuk pengisap yang terdiri atas moncong (rostum) dan dilengkapi dengan alat pencucuk dan pengisap berupa stylet. Pada ordo Hemiptera, rostum tersebut muncul pada bagian anterior kepala (bagian ujung). Rostum tersebut beruas-ruas memanjang yang membungkus stylet. Pada alat mulut ini terbentuk dua saluran, yakni saluran makanan dan saluran ludah. Metamorfose bertipe sederhana (paurometabola) yang dalam perkembangannya melalui stadia : telur - nimfa - dewasa. Bentuk nimfa memiliki sayap yang belum sempurna dan ukuran tubuh lebih kecil dari dewasanya. Beberapa contoh serangga

Entomologi

anggota ordo Hemiptera ini adalah : Walang sangit (Leptocorixa acuta), Kepik hijau (Nezara viridula L), Bapak pucung (Dysdercus cingulatus F) (Campbell, 2000). Hemiptera terdiri dari 4 subordo berbeda: Auchenorrhyncha, Coleorrhyncha, Heteroptera, dan Sternorrhyncha. Subordo penyusun Hemiptera sendiri pada awalnya dipisahkan ke dalam 2 ordo berbeda, ordo Homoptera dan ordo Heteroptera/Hemiptera dengan melihat perbedaan pada kedua sayap serangga anggota penyusun kedua ordo tersebut. Kedua ordo tersebut akhirnya dikombinasikan menjadi satu ordo, yaitu ordo Hemiptera yang terdiri dari 4 subordo seperti yang dikenal sekarang dengan subordo Heteroptera memiliki anggota penyusun terbanyak (mencapai 25.000 spesies) di mana anggotanya umumnya adalah kepik-kepik sejati besar seperti walang sangit dan kepik pembunuh.

Ciri khas utama serangga anggota Hemiptera adalah struktur mulutnya yang berbentuk seperti jarum. Mereka menggunakan struktur mulut ini untuk menusuk jaringan dari makannya dan kemudian menghisap cairan di dalamnya. Hemiptera sendiri adalah omnivora yang berarti mereka mengonsumsi hampir segala jenis makanan mulai dari cairan tumbuhan, biji-bijian, serangga lain, hingga hewan-hewan kecil seperti ikan. Hemiptera tidak mengalami metamorfosis sempurna. Anakan serangga dari ordo Hemiptera yang baru menetas biasanya memiliki penampilan yang sama dengan induknya, namun ukuranya lebih kecil dan tidak besayap. Fase anakan ini dikenal dengan nama nimfa. Nimfa Hemiptera ini kemudian melakukan pergantian kulit berkali-kali hingga akhirnya menjadi dewasa tanpa melalui fase kepompong. Serangga anggota Hemiptera perlu melakukan perkawinan agar betinanya bisa membuahi telurnya dan berkembang biak, namun kutu daun atau afid yang juga merupakan anggota Hemiptera bisa melakukan partenogenesis (melahirkan tanpa kawin) sehingga mereka tetap

Entomologi

bisa berkembang biak tanpa harus kawin lebih dulu. a. Kepik renda lada (KRL), Diconocoris hewetti (Dist.) (Hemiptera: Tingidae) Kepik renda lada (KRL), Diconocoris hewetti (Dist.) (Hemiptera: Tingidae) adalah salah satu hama pada pertanaman lada di Indonesia. Hama ini selalu hadir pada perbungaan lada dan bulir bunga lada dengan jalan mengisap cairan bunga sebelum menjadi buah. Serangan nimfa dan imago pada bunga dan bulir bunga akan mengakibatkan perubahan warna bunga dari hijau kekuningan menjadi cokelat atau hitam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui fenologi pembungaan, kelimpahan populasi KRL, dan tingkat kerusakan bunga pada pertanaman lada. Kelimpahan dan fenologi pembungaan lada menentukan kelimpahan populasi KRL. Penelitian dilakukan di kebun petani, di Desa Air Anyir, Kecamatan Merawang, Kabupaten Bangka Induk, dari Mei 2003 sampai dengan Mei 2004, dan di Desa Puput, Kecamatan Simpang Katis Kabupaten Bangka Tengah, dari Oktober 2003 sampai dengan Mei 2004. Luas lahan percobaan masing-masing sekitar 5000 m2 yang sudah ditanami lada varietas Chunuk di Air Anyir dan varietas Lampung Daun Lebar (LDL) di Puput. Umur tanaman masing-masing sekitar 5 tahun. Jumlah pohon contoh di setiap lokasi 24 pohon. Pengamatan dilakukan setiap minggu dengan cara menghitung langsung KRL yang ada pada bulir bunga, serta banyaknya bunga yang terserang. Pada percobaan lainnya dilakukan pengamatan terhadap perkembangan bulir bunga serta tingkat keguguran fisiologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola pembungaan lada varietas Chunuk dan LDL mengikuti pola curah hujan. b. Kepik Penghisap Buah - Helopeltis sp (Hemiptera : Miridae) Selain menyerang buah, serangga ini juga menyerang pucuk tanaman kakao dengan cara menghisap cairan bagian tanaman tersebut. Serangan pada buah tua tidak terlalu merugikan, sedangkan serangan pada buah muda dan pucuk dapat menyebabkan kematian pucuk dan buah muda tersebut. Perkembangan dari telur hingga menjadi dewasa 21-24 hari. Telur berwarna putih berbentuk lonjong, diletakkan pada tangkai buah, jaringan kulit buah, tangkai daun, buah atau ranting. Lama periode telur 6-7 hari. Hemiptera tersebar di seluruh dunia, kecuali di daerah-daerah yang terlampau dingin seperti wilayah kutub. Cara hidup mereka yang beragam membuat persebaran mereka begitu luas. Beberapa anggota Hemiptera seperti walang sangit dan tonggeret hidup pada tanaman dan menghisap sarinya. Kepik pembunuh juga hidup di antara tanaman, namun mereka memburu Entomologi

hewan-hewan kecil. Sebagian kecil dari Hemiptera seperti kutu busuk diketahui hidup sebagai parasit dan menghisap darah hewan yang lebih besar. Anggota Hemiptera lainnya juga diketahui hidup di air, misalnya anggang-anggang dan kepik air raksasa. Salah satu anggang-anggang dari genus Halobes bahkan diketahui hidup di air asin. ORDO HEMIPTERA (Kepik)

Hemiptera adalah ordo dari serangga yang juga dikenal sebagai kepik. Hemiptera terdiri dari 80.000 spesies serangga seperti tonggeret, kutu daun, anggang-anggang, walang sangit, dan lain-lain. Mereka semua memiliki ciri-ciri khusus seperti mulut berbentuk jarum dan tidak mengalami metamorfosis sempurna.

METAMORFOSIS KEPIK(LADYBIRD)

1. Teknik Perkimpoian Ketika kepik akan melakukan perkimpoian, kepik selalu berusaha untuk berada sedekat mungkin dengan koloni aphid (sejenis kutu putih) sehingga ketika larva kepik lahir (menetas dari telur), maka larva tidak akan kekurangan makanan. Telur hasil perkimpoian kepik akan terletak tidak jauh dari koloni kutu putih yang hanya berjarak beberapa milimeter saja, yang mana jumlah koloni bisa saja mencapai ratusan tergantung kondisi alam.

Entomologi

Pejantan memiliki alat kelamin penis yang disebut aedeagus dan hanya bisa digunakan untuk kepik yang sejenis atau dengan istilah "Lock and Fit", jaditidak mungkin kepik yang berbeda jenis bisa terjadi perkimpoian. Pembuahan pada kepik bersifat internal.

2. Hatching/Saat bertelur Banyak orang percaya, harmonia axyridis akan meletakan telurnya dalam jumlah yang sama setelah perkimpoian, akan tetapi hal ini bisa dibenarkan jika kondisi alam tidak berubah. Namun ketika kondisi alam tidak memungkinkan,kepik akan menelurkan beberapa telur infertile, sebagai sumber makanan bagi telur yang berhasil menetas menjadi larva nantinyaDalam kondisi yang terburuk, larva yang menetas bisa saja memakan telur - telur kepik yang lain atau serangga yang lain.

3. Larva Kecil Untuk menetas menjadi larva hanya dibutuhkan sekitar 3 s/d 5 hari, sangat cepat untuk seekor larva kumbang kepik yang berukuran 1/8 inci. Larva - larva berkaki enam yang menetas akan segera memakan sebanyak mungkin kutu putih untuk menjalani metamorfosis mereka. Jika kondisi alam sangat mendukung, maka dalam 24 hari mereka sudah tumbuh menjadi larva dewasa(dari telur menjadi larva dewasa)

4. Larva Dewasa Larva dewasa berwarna hitam dan dengan strip warna orange di tubuhnya. Seekor larva bisa memakan kurang lebih 25 kutu putih setiap hari, dan larva dewasa mencapai 50 kutu putih setiap harinya. itu sebabnya mengapa pak tani dan para hobbi kebun sangat membutuhkan kepik untuk menolong tanaman mereka dari kutu - kutu daun.

5. Pupa/kepompong Pupa merupakan tahap di mana larva dewasa yang telah tumbuh dan hanya melekatkan diri pada tangkai atau batang tanaman tentunya bagian tubuhnya akan dilindungi lapisan keras atau disebut pupa atau kepompong. tahap ini merupakan tahap akhir sebelum menjadi kepik yang mana kepompong akan melindungi dari keadaan cuaca di sekitarnya namun tidak bagi predator sehingga tahap ini merupakan tahap yang sangat berbahaya dari serangan predator. Uniknya, kepompong dapat bergetar dengan keras untuk menghalau predator predator yang mendekatinya.

Entomologi

6. Kumbang Kepik Setelah keluar dari kepompong, seperti serangga lainnya, kepik memerlukan waktu untuk mengeraskan peralatannya(semacam cangkang yang menyimpan sayap di dalamnya) yakni exoskeleton dan elydra yang terbuat dari chitin.Dalam waktu 24 jam atau lebih, kepik tidak akan memiliki totol berwarna. Kepik kemudian akan terbang mencari makanan pertama. System pernapasan pada serangga disebut system trakea. Pernapasan sistem trakea terdiri atas pembuluh-pembuluh yang bercabang-cabang ke seluruh tubuh dan bermuara pada stigma atau spirakel. Udara pernapasan keluar dan masuk ke dalam tubuh Insecta melalui stigma. Stigma merupakan lubang yang terdapat di sepanjang sisi kiri dan kanan tubuh. System pencernaannya dimulai dari mulut yang terdiri atas bibir atas dan bawah, rahang serta gigi. Dari mulut makanan masuk ke kerongkongan lalu ke tembolok. Dari tembolok makanan yang telah disimpan beberapa waktu masuk ke empedal yang berdinding gigi kitin. Selanjutnya makanan masuk ke lambung. Pada lambung terdapat enam pasang kelenjar pencernaan yang menghasilkan enzim. Makanan yang telah dicerna menjadi sari-sari makanan diserap oleh usus dan diedarkan keseluruh tubuh oleh hemolimfa. Sisa pencernaan sementara disimpan di rectum berupa feses. Selanjutnya, dikeluarkan melalui anus.

Kesimpulan
Hemiptera terdiri dari 4 subordo berbeda: Auchenorrhyncha, Coleorrhyncha, Heteroptera, dan Sternorrhyncha. Ciri khas utama serangga anggota Hemiptera adalah struktur mulutnya yang berbentuk seperti jarum. Mereka menggunakan struktur mulut ini untuk menusuk jaringan dari makannya dan kemudian menghisap cairan di dalamnya.

Referensi
http://id.wikipedia.org/wiki/Kepik http://khiashawol.blogspot.com/2012/04/entomology-ordo-ordo-dalam.html http://fahry31.blogspot.com/2011_01_01_archive.html http://zaifbio.wordpress.com/2011/10/27/phylum-arthropoda/

Entomologi