Anda di halaman 1dari 10

1

PENDAHULUAN A. Latar Belakang Teori hukum tradisional mengajarkan, hukum merupakan seperangkat aturan dan prinsip-prinsip yang memungkinkan masyarakat mempertahankan ketertiban dan kebebasannya. Para penganut teori hukum tradisional berkeyakinan bahwa hukum haruslah netral dan dapat diterapkan kepada siapa saja secara adil, tanpa memandang kekayaan, ras, gender atau harta. Meskipun mereka tidak satu pendapat mengenai apakah dasar yang terbaik bagi prinsipprinsip hukum, yakni apakah dasarnya adalah wahyu Tuhan, etika sekuler, pengalaman masyarakat, atau kehendak mayoritas. Akan tetapi, umumnya mereka setuju terhadap kemungkinan terpisahnya antara hukum dan politik, hukum tersebut menurut mereka akan diterapkan oleh pengadilan secara adil. Para teoritisi postmodern percaya, pada prinsipnya hukum tidak mempunyai dasar yang objektif dan tidak ada yang namanya kebenaran sebagai tempat berpijak dari hukum. Dengan kata lain, hukum tidak mempunyai dasar berpijak, yang ada hanya kekuasaan. Akhir-akhir ini, mereka yang disebut juga dengan golongan antifoundationalistis, telah mendominasi pikiran-pikiran tentang teori hukum dan merupakan pembela gerakan Critical Legal Studies. Gerakan Critical Legal Studies tidak berpijak pada satu model norma tertentu dan tidak pernah bertujuan untuk dapat menemukan satu model norma tertentu tersebut. Akan tetapi gerakan ini mencoba mencermati teori dan praktek hukum yang sepenuhnya antitesis yang oposisinya didasarkan pada argumen tersendiri. Oleh karena itu, seringkali gerakan Critical Legal Studies oleh sebagaian orang dikatakan tidak memiliki bentuk hakikatnya, tetapi mempunyai sejarah. It does not have a nature, but only a history. Fokus sentral pendekatan Critical Legal Studies adalah untuk mendalami dan menganalisis keberadaan doktrin-doktrin hukum, pendidikan hukum dan praktek institusi hukum yang menopang dan mendukung sistem hubungan-hubungan yang oppressive dan tidak egaliter. Teori kritis bekerja untuk mengembangkan alternatif lain yang radikal, dan untuk menjajagi peran hukum dalam menciptakan hubungan politik, ekonomi dan dan sosial yang dapat mendorong terciptanya emansipasi kemanusiaan. Dalam perkembangan lebih lanjut, pendekatan Critical Legal Studies telah melahirkan generasi kedua yang lebih menitikberatkan pemikiran dan perjuangannya dengan menggunakan hukum untuk merekontruksi kembali realitas sosial yang baru. Mereka berusaha keras untuk membuktikan bahwa di balik hukum dan tatanan sosial yang muncul di permukaan sebagai sesuatu yang netral, di dalamnya penuh dengan bias terhadap kultur, ras atau gender. Generasi kedua dari Critical Legal Studies sekarang muncul dalam wujud Feminist Legal Theories, Critical Race Theoriest, Radical Criminology dan juga Economic Theory of Law. Dalam tulisan ini lebih lanjut akan dibahas tentang Economic Theory of Law atau lebih tepat penulis sebut dengan analisis ekonomi terhadap hukum (The Economic Analysis of Law). Analisis ekonomi terhadap hukum (The Economic Analysis of Law) dalam hal ini dimaksudkan sebagai sebuah pendekatan yaitu pendekatan ekonomi terhadap hukum atau dengan kata lain

studi kritis terhadap hukum melalui pendekatan ekonomi (Critical Legal Studies with the antecedents of economic approach). Dalam kajian ini kami membahas tentang aliran hukum kritis yang mengananalisis ekonomi terhadap hukum (The Economic Analysis of Law). Analisis ekonomi terhadap hukum (The Economic Analysis of Law) dalam hal ini dimaksudkan sebagai sebuah pendekatan yaitu pendekatan ekonomi terhadap hukum atau dengan kata lain studi kritis terhadap hukum melalui pendekatan ekonomi (Critical Legal Studies with the antecedents of economic approach). Tujuan dan Manfaat Penulis dalam hal ini betujuan untuk membahas dan mengkaji bagaimanakah aliran hokum yang kritis dalam menganalisis tentang aliran ekonomi terhadap hokum yang berlaku dari awal munculnya aliran tersebut hingga sekarang berlaku di masyarakat. Dari gagasan yang kami susun ini diharapkan pembaca dapat mengetahui dan memahami bagaimana keterkaitan ekonomi terhadap hukum yang dibahas menurut aliran hokum secara kritis.

B.

GAGASAN A. Kondisi Kekinian Sebagimana diketahui, teori hukum kritis bangkit sebagai rasa ketidakpuasan terhadap teori-teori hukum yang memiliki landasan bahwa teori hukum dan ilmu hukum memiliki sistem. Menurut aliran teori hukum kritis, hukum tidak tersistem atau nonsistemik, sehingga hukum tidak netral. Aliran (teori) hukum kritis memiliki beberapa karakteristik umum sebagai berikut: 1. Aliran ini mengkritik hukum yang berlaku yang nyatanya memihak ke politik dan sama sekali tidak netral 2. Aliran ini mengkritik hukum yang sarat dan dominan dengan ideologi tertentu. 3. Aliran ini mempunyai komitmen yang besar terhadap kebebasan individual dengan batasan-batasan tertentu. 4. Ajaran hukum kritis kurang mempercayai bentuk-bentuk kebenaran yang abstrak dan pengetahuan yang benar-benar objektif, oleh karena itu ajaran hukum kritis menolak ajaranajaran dalam aliran positivisme hukum.

5.

Aliran ini menolak perbedaan antara teori dan praktek, dan menolak juga perbedaan antara fakta (fact) dan nilai (value), yang merupakan karakteristik dari paham liberal. Dengan demikian, aliran hukum kritis menolak kemungkinan teori murni yang memiliki daya pengaruh terhadap trasformasi sosial praktis.

Pada prinsipnya aliran teori hukum kritis menolak anggapan ahli hukum tradisional yang mengatakan sebagai berikut: 1. Hukum itu objektif, artinya kenyataan adalah tempat berpijaknya hukum. 2. Hukum itu sudah tertentu, hukum menyediakan jawaban yang pasti pasti dan dapat dimengerti. 3. Hukum itu netral, tidak memihak pada pihak tertentu. B. Solusi yang Pernah Ditawarkan Menurut Ifdal Kasim, analisis pemikiran aliran hukum kritis lebih menfokuskan diri kepada kritik terhadap hukum liberal dan mengedepankan analisis hukum yang tidak hanya bertumpu semata-mata pada segi doktrinal atau yang disebut sebagai internal relation, tetapi juga berbagai faktor di luar itu seperti preferensi-preferensi ideologis, bahasa kepercayaan, nilai-nilai dan konteks politik dalam proses pembentukan dan aplikasi hukum. Dengan kata lain, analisis hukum yang hanya memusatkan pengkajian pada segi-segi doktrinal dan asas-asas hukum semata, dengan demikian mengisolasi hukum dari konteksnya. Sebab hukum bukanlah sesuatu yang terjadi secara alamiah, melainkan direkontruksi secara sosial. Artinya, terdapat proses interaksi dan negosiasi berbagai kepentingan di antara faksi-faksi di dalam masyarakat dan negara, yang resultante lahir dalam bentuk hukum. Oleh karena itu hukum dinyatakan tidak netral dan objektif, tapi sebaliknya dikatakan subyektif dan sarat dengan pertimbangan politik.

Aliran hukum kritis ini mencoba mengemas sebuah teori yang bertujuan melawan pemikiran yang sudah mapan khususnya mengenai norma-norma dan standar hukum yang sudah built-in dalam teori dan praktek hukum yang selama ini ada, yang cenderung untuk diterima apa adanya (taken for granted), yaitu norma-norma dan standar hukum yang didasarkan pada premis ajaran liberal legal justice. Penganut aliran ini percaya bahwa bahwa logika dan struktur hukum muncul dari adanya power relationships dalam masyarakat. Kepentingan hukum adalah untuk mendukung (support) kepentingan atau kelas dalam masyarakat yang membentuk hukum tersebut. Dalam kerangka pemikiran ini, mereka yang kaya dan kuat menggunakan hukum sebagai instrumen untuk melakukan penekakanan-penekanan kepada masyarakat, sebagai cara untuk mempertahankan kedudukannya. Oleh karena itu hukum hanya diperlakukan sebagai a collection of beliefs. C. Peningkatan Perbaikan Kondisi Sekarang Haruskah hukum memperhatikan peningkatan efisiensi ekonomi? Jawaban atas pertanyaan ini akan bergantung pada kecondongan (leaning) politik pembaca. Penganut ekonomi pasar bebas dan leisez-faire akan memberikan jawaban setuju, sedangkan individu yang condong pada aliran kiri akan membantah bahwa hukum hendaknya lebih berhubungan dengan keadilan, hak dan redistribusi. Apakah hukum terutama terkait dengan promosi efisiensi ekonomi? Dua jawaban yang berlainan telah diberikan mungkin saja diulangi, namun jawaban yang disebut terdahulu barang kali kurang kuat dibandingkan sebelumnya. Bahkan, para pemasar bebas yang sangat getol (avid) akan menyatakan bahwa hukum akan memiliki suatu kepedulian sentral guna melindungi hak dan menegakkan keadilan, meskipun beberapa bagian tertentu akan menyangkut peningkatan maupun perlindungan sejumlah transaksi pasar. Kendati demikian, tanpa memperhatikan kenyataan bahwa hakim, penasihat hukum dan individu agaknya melihat hukum dalam kaitannya dengan hak dan keadilan, terdapat ssuatu aliran pemikiran hukum yang tidak hanya mendukung bahwa hukum harus memperhatikan efisiensi ekonomi, tetapi juga mengemukakan suatu teori deskriptif tentang efisiensi ekonomi dan perlindungan kekayaan sebagai suatu nilai ( the economic efficiency and the protection of wealth as a value). D. Pihak yang Terkait Terdapat banyak pihak juga yang membantu mengimplementasikan gagasan dan uraian peran atau kontribusi masing-masingnya melalui pernyataannya mengenai asal-usul pendekatan ekonomi pada hukum, yang tumbuh di Amerika Serikat pada awal tahun 1960-an dengan penelitian dari Ronald Coase, Guido Calabresi dan Richard Posner. Sebagaimana banyak teori lainnya, apa yang disebut aliran Chicago dapat mencari sejumlah inspirasi dari suatu campuran beberapa pendekatan sebelumnya.

E. Langkah-Langkah Strategis

Berdasarkan karakteristik aliran teori hukum kritis, sebagaimana telah disebutkan di atas maka dapat disebutkan bahwa pada dasarnya letak perbedaan teori hukum kritis dengan teori-teori hukum yang lain, terletak pada penggunaan paradigma dalam membidik dan mempelajari hukum. Dalam hal ini, teori hukum kritis atau disebut dengan teori hukum nonsistimatik memunculkan alternatif lain dalam mempelajari hukum. Pembahasan hukum dengan menggunakan pendekatan non sistematik dimaksudkan untuk memberikan kepuasan kepada para pengamat sosial dalam mendeskripsikan atau memahami kenyataan hukum serta penolakan pendekatan teori sistematis sebelumnya dengan menawarkan sebuah alternatif lain yang berbeda. Pendekatan hukum kritis atau dikenal dengan pendekatan hukum non sistematis dapat digunakan dalam menjelaskan beberapa persoalan dalam teoriteori sosial dan hukum yang belum terjangkau. Hal ini dapat dilakukan melalui dua cara:

1.

Menggunakan relasi-relasi sosial (social relation) sebagai landas pijak melakukan deskripsi sosio legal untuk mengganti norma-norma atau aturan-aturan yang nampak sebagai fenomena kepentingan terbatas.

2.

Melepaskan berbagai kendala metodologis dengan berusaha memperkuat dasar pijakan studi hukum kepada terciptanya sebuah sistem. Studi hukum kritis menekankan perlunya kajian hukum yang tidak terbatas pada penelaan materi aturan hukum atau undang-undang belaka. Kajian seperti ini tidak mencerminkan keshahihan ilmu hukum secara utuh, lengkap dan menyeluruh (the thruth about the law). Kajian hukum kritis adalah kajian dengan mempertimbangkan seluruh aspek dalam kehidupan masyarakat dan hukum. Seperti pernyataan Sampford, salah satu argumen diperlukannya teori hukum non sistematik it is only bay turning to theories of legal and social disorder that it is possible to explain the phenomena and fulfil the functions claimed for legal system theory.

KESIMPULAN A. Gagasan Aliran teori hukum kritis lahir sebagai akibat ketidakpuasan terhadap aliran-aliran teori hukum sebelumnya seperti aliran hukum normatif. Pada dasarnya aliran teori hukum kritis menitikberatkan pada pemikiran, bahwa terbentuknya suatu hukum merupakan proses interaksi dan negosiasi antar berbagai kepentingan dalam masyarakat dan negara. Oleh karena itu, hukum dinyatakan tidak netral dan tidak objektif, tapi sebaliknya dikatakan subyektif dan sarat dengan pertimbangan politik. Dengan demikian aliran teori hukum kritis, menggunakan berbagai pendekatan dalam memahami hukum. Beberapa pendekatan yang masuk dalam kelompok aliran teori hukum kritis antara lain adalah Realisme Hukum, aliran atau gerakan Studi Hukum Kritis (CLS), Teori Feminisme tentang Hukum, dan Teori Ekonomi tentang Hukum. B. Teknik Implementasi Dasar pemikiran Pendekatan teori ekonomi terhadap hukum (The Economic Analysis of Law) sebagaimana yang terdapat dalam Jurisprudence: Hilaire McCoubrey and Nigel D White adalah: 1. Asal-usul pendekatan ekonomi pada hukum berasal dari teori realisme; pendekatan ekonomi ini memunculkan realisme ekonomi yang mana menjelaskan hukum melalui faktor-faktor non-hukum, juga dari Studi Hukum Kritis dan teori Utilitarianisme.

2.

3.

Beberapa konsep yang dilahirkan dari Chicago School dalam memandang hukum tercermin dalam Teori Coase (The Coase Theorem) tentang zero transaction cost dan positive transaction cost. Juga teori Calabresi tentang economic efficiency, distributional preferences and other justice considerations. Beberapa pendekatan ekonomi menurut Posners adalah Pendekatan Ekonomi dan Pembuatan Undang-Undang (The Economic Approach and and Legislation), Pendekatan Ekonomi terhadap Hukum Adat (The Economic Approach and and Legislation), Hukum Kontrak (Contract Law) dan Hukum Pidana (Criminal Law). Dalam mengevaluasi pembuatan undang-undang tidak hanya dengan pendekatan ekonomi semata, akan tetapi melalui seluruh proses yang menyangkut pembuatan undang-undang yang berdasarkan asumsi: pembuat undang-undang adalah orang yang benarbenar maksimal menggunakan rasionya. Oleh karena itu hakim (pengambil keputusan) agar menginterpretasikan undang-undang sehingga dapat membantu dalam meningkatkan efisiensi ekonomi.

C. Prediksi Hasil Dengan demikian, secara langsung maupun tidak langsung, hukum berpengaruh dalam setiap aktivitas ekonomi, karena hukum merupakan payung yang melindungi para pelaku usaha. Peranan hukum dalam aktivitas ekonomi terlihat, contohnya dalam transaksi kontrak, yang dalam hal ini hukum

berfungsi mencegah seseorang dari perbuatan yang oportunis terhadap pelaku kontrak yang lain. Dengan kata lain, pendekatan ekonomi terhadap hukum memfokuskan pemikirannya tentang bagaimana hukum-hukum yang ada agar dapat membantu meningkatkan efisiensi ekonomi, baik pada awal pembentukan hukum melalui badan legislatif, melalui pendekatan hukum adat, hukum kontrak dan hukum pidana.

DAFTAR PUSTAKA

Nonet Philippe & Philip Selznick, Hukum Responsif, Nusamedia, Bandung 2008 Sudarsono. DRS. S.H. Pengantar Ilmu Hukum, Rineka Cipta, Jakarta, 1995 Hans Kelsen, Pengantar Teori Hukum Terjemahan, Nusa Media, Bandung, 2009 Friedman, The Economic Analysis of Law (terjemahan Drs. Muhammad Radjab) penerbit Bhratara, Jakarta. Rahardjo Sacipto, Ilmu Hukum, PT Citra Aditya Bhakti, Bandung, 2000

DAFTAR RIWAYAT HIDUP PENULIS

Ketua pelaksana Nama Lengkap NIM Tempat, tanggal lahir Jurusan Universitas/Institut Alamat dan No.HP/Telp. : Nandha Rizxy Lillah : E0011215 : Ngawi, 23 Juli 1991 : S1 Hukum : Universitas Sebelas Maret : Dusun Sukowiyono 3 RT 05 RW 03 Sukowiyono, Padas, Ngawi 085735121916 Hasil Karya Ilmiah Penghargaan Ilmiah : : -

Anggota

1.

Nama Lengkap

: Diko Anggalih Utomo : E0011101 : Banyuwangi, 9 Januari 1992 : S1 Hukum : Universitas Sebelas Maret : Jl. Jaya Wijaya No.232 Busukan, Surakarta 085728040044

NIM Tempat, tanggal lahir Jurusan Universitas/Institut Alamat dan No.HP/Telp.

Karya Ilmiah Penghargaan Ilmiah

: : -

10

2.

Nama Lengkap

: Tonny Priyangga : E0011317 : Karanganyar, 05 Agustus 1993 : S1 Hukum : Universitas Sebelas Maret : Jl. Adi Sumarmo No.25 Colomadu, Karanganyar 085647353481

NIM Tempat, tanggal lahir Jurusan Universitas/Institut Alamat dan No.HP/Telp.

Karya Ilmiah Penghargaan Ilmiah

: : -