Anda di halaman 1dari 49

1.4.

RANGCANGAN DASAR STRUKTUR HIDRAULIS ( PLTM Sumani ) 1. Perencanaan Hidraulis Bendung

- Berdasarkan hasil survey lapangan dan peta topografi skala 1 : 1.000. Elevasi dasar sungai dihulu rencana lokasi bendung adalah kurang lebih + 100,00 ( asumsi ) meter. Kemudian untuk dasar tubuh bendung diambil kurang lebih + 100,00 meter.

- Elevasi dasar sungai dihilir bendung berdasarkan peta situasi skala 1 : 1.000 adalah lebih kurang + 99,00 meter.

- Tinggi pembendungan dan elevasi mercu bendung . Tinggi mercu bendung diambil 3 meter, sedangkan elevasi mercu bendung adalah kurang lebih 100,00 + 3,00 = 103,0 meter.

- Lebar bendung direncanakan 26,5 meter.

- Bendung direncanakan type broad crested Spillway. Rumus debit :

direncanakan type broad crested Spillway. Rumus debit : dimana : Q = debit banjir 100 tahun

dimana :

Q

=

debit banjir 100 tahun ( m 3 / det )

H

=

tinggi muka air diatas mercu pada saat banjir 100 tahun (m)

L

=

lebar total mercu (m)

n

=

jumlah pilar ( n = 1 )

Debit banjir 100 tahun untuk PLTM Sumani adalah 260 m 3 / det. Jadi tinggi banjir rencana diatas mercu bendung :

260 = 1,7 H 3/2 ( 26,5 W 0,1 H )

mercu bendung : 260 = 1,7 H 3 / 2 ( 26,5 W 0,1 H )

260 = 4 H 3/2 ( 26,5 W 0,1 H )

Dengan recama coba W coba didapat :

H = 3,25 m.

H1

=

3,25

m

H1

=

ho

+

h1

Ho

=

H1

W

h1

MAB HI hi
MAB
HI
hi

Gambar

HIDRAULIS BENDUNG

Debit yang melimpah diatas mercu pada saat banjir maksimum 100 tahun, akan mencapai maksimum pada saat :

maksimum 100 tahun, akan mencapai maksimum pada saat : (minimum losses ) untuk : H1 =
maksimum 100 tahun, akan mencapai maksimum pada saat : (minimum losses ) untuk : H1 =

(minimum losses )

untuk :

H1

= 3,25 m.

ho

=

=. 3,25 1,083 m.

.

3,25

1,083 m.

 

 

 

h1

=

. 3,25

=. 3,25 2,167 m.

2,167 m.

Kecepatan air melimpah diatas bendung adalah :

= 2,167 m. Kecepatan air melimpah diatas bendung adalah : V = 4,61 m/det Freeboard dinding

V = 4,61 m/det

Freeboard dinding tepi kiri dan kanan bendung diambil : 0,50 m

Elevasi mercu bendung

Elevasi tembok samping minimum :

= 100,00 + 3,00 = + 103,00 m.

Elevasi bendung + H1 + 0,50 m.

103,00

=

+

3,25

+

0,50 =

106,75 m.

2.

PERENCANAAN INTAKE SALURAN Lebar intake diambil : 1,20 m = b

Tinggi bukaan diambil

Elevasi M.A.N : 103,00 m.

:

1,70 m

=

h

h b Gambar : Intake Saluran
h
b
Gambar :
Intake Saluran

Selisih muka air dihulu dan dihilir dapat dihitung dengan menggunakan Rumus pengaliran melalui ambang lebar sebagai berikut :

Rumus pengaliran melalui ambang lebar sebagai berikut : Q = debit rencana saluran = 1,2 x

Q

= debit rencana saluran = 1,2 x 3,25 = 3,9 m 3 /det.

µ

= koef. Kekerasan saluran diambil 0,78, menganggap tembok bersudut.

b

= lebar minimum pintu yang dibutuhkan = 1,20 m.

h1

= tinggi m.a. diatas ambang intake setelah pintu : 1,70 m.

z

= selisih tinggi M.A.N dihulu dan dihilir.

Tinggi ambang diambil = 1,30 m.

Elevasi dasar intake

=

100

+ 1,30 m.

=

+ 101,30 m.

= 1,30 m. Elevasi dasar intake = 100 + 1,30 m. = + 101,30 m. Z

Z = 0,19 m , Elevasi M.A.N disalurkan ( dibelakang pintu intake :

103,00 W 0,19 = 102,81 m.

MAB +106,25 MAB +105,15 Y3=3,85 m Y1=4,95 m MAN +103,00 MAN +102,81 W Y2= 1,025
MAB +106,25
MAB +105,15
Y3=3,85 m
Y1=4,95 m
MAN +103,00
MAN +102,81
W
Y2= 1,025 m
+101,30
+100,00
Debit yang masuk ke intake pada saat banjir maksimum
Tinggi muka air dihulu bendung :

M.A.B = + 103,25 ; Y1 = 4,95 m. Dengan Q 100 = 260 m 3 /det.

Penentun Q banjir yang masuk ke intake dengan dimensi lubang yag konstan, dapat dicari dengan berdasarkan ( Referensi g Open Channel Flow g Macmillan 1966 ).

( Referensi g Open Channel Flow g Macmillan 1966 ). Qi = debit banjir yang masuk

Qi

= debit banjir yang masuk ke intake

CD

= koefisien pengaliran ( Design of Small Dams, Fig. 309 )

B

=

lebar bukaan intake ( m ) = 1,20 m.

W

= tinggi bukaan intake ( m ) = 1,70 m.

Y1

= tinggi air banjir dimuka pintu ( m ) = 103,25 W 101,30 = 4,95 m.

Setiap pintu mempunyai koefisien kontraksi Cc atau koefisien pengaliran Cd yang tergantung pada bentuk dan kondisi aliran. Untuk pintu vertical dengan kondisi aliran bebas, koefisien kontraksi ditabelkan sebagai berikut ;

dan kondisi aliran. Untuk pintu vertical dengan kondisi aliran bebas, koefisien kontraksi ditabelkan sebagai berikut ;

dimana :

dimana : Dengan debit sebesar 260 m 3 /det. ( Q 100 ) Cc = 0,6032
dimana : Dengan debit sebesar 260 m 3 /det. ( Q 100 ) Cc = 0,6032

Dengan debit sebesar 260 m 3 /det. ( Q 100 )

dimana : Dengan debit sebesar 260 m 3 /det. ( Q 100 ) Cc = 0,6032
dimana : Dengan debit sebesar 260 m 3 /det. ( Q 100 ) Cc = 0,6032
dimana : Dengan debit sebesar 260 m 3 /det. ( Q 100 ) Cc = 0,6032

Cc = 0,6032

Dengan debit sebesar 260 m 3 /det. ( Q 100 ) Cc = 0,6032 Tinggi air

Tinggi air pada ambang intake dicari sebagai berikut :

Y2

=

Cc

W = 0,6032

. 1,7

=

1,025 m.

dicari sebagai berikut : Y2 = Cc W = 0,6032 . 1,7 = 1,025 m. =

= 11,158 m 3 / det.

11,16 m 3 / det

Jadi debit yang masuk ke intake pada saat banjir 100 tahun adalah sebesar 11,16 m 3 / det.

Tinggi air banjir disalurkan awal setelah pintu intake sebesar Y3 dicari dari grafik terlampir.

Y1 / W

=

4,95 / 1,70 = 2,912 ) dari grafik didapat

 
 

)

Y3 / W

= 2,25

=

Cd

= 0,555

)

Y3

2,25 . 1,70

=

3,85 m.

Elevasi M.A.B saluran sebelum pelimpah :

+ 101,30 +

3,85 = + 105,15 m.

Dengan Freeboard : + 105,15 + 0,50 = + 105,65 m. ( elevasi tembok samping )

3.

PINTU PEMBILAS

Lebar pintu pembilas diambil

:

1,20 m.

Tinggi lubang penguras

:

1,70 m.

Elevasi dasar pembilas

:

+ 100,00 m.

: 1,70 m. Elevasi dasar pembilas : + 100,00 m. MAN +152,00 Gambar : 5. Pintu
MAN
MAN

+152,00

Gambar : 5. Pintu Pembilas

a. Kecepatan Aliran untuk pengurasan. Kecepatan aliran melalui pintu penguras dibutuhkan untuk menghanyutkan sediment yang terbawa air sungai yang mengendap didepan pintu pengambilan dan pintu penguras. Dari peninjauan lapangan diameter maksimum = + 15 cm. Kecepatan untuk penguras :

Vc

=

1,50 . c . d 0,5

dimana : Vc = kecepatan kritis yang diperlukan untuk pengurasan (m/det)

c

= koefisien yang tergantung dari bentuk sediment diambil

 

c

=

5,50 ( grafik terlampir ).

d

= diameter terbesar sediment ( m ), dalam hal ini 0,15 m.

Vc

=

1,50 . 5,00 . ( 0,15 ) 0,5 = 2,90 m/det.

Debit minimum untuk penguras :

q

Debit minimum untuk penguras : q qm = debit minimum yang diperlukan untuk pengurasan persatuan lebar

qm

= debit minimum yang diperlukan untuk pengurasan persatuan lebar

g

= percepatan grafitasi

pengurasan persatuan lebar g = percepatan grafitasi Debit pengukuran = Q m = 1,20 x 2,49
pengurasan persatuan lebar g = percepatan grafitasi Debit pengukuran = Q m = 1,20 x 2,49
pengurasan persatuan lebar g = percepatan grafitasi Debit pengukuran = Q m = 1,20 x 2,49

Debit pengukuran = Q m = 1,20 x 2,49 = 3,00 m 3 /det

HUBUNGAN ANTARA d dan Vc PADA PINTU PENGURAS

m 3 /det HUBUNGAN ANTARA d dan Vc PADA PINTU PENGURAS Gambar : 6. Hubungan Diameter

Gambar : 6. Hubungan Diameter Butir dengan Kecepatan Kritis Catatan :

Vc

= kecepatan pengurasan.

C

= koefisien yang tergantung dari ukuran dan bentuk material Deposit.

= 3,2 - 3,9 ; pasir dan kerikil berbentuk bulat dengan nilai rendah dan bentuk bersudut dengan nilai tinggi.

= 4,5 - 5,5 ; pasir dan kerikil bercampur.

D = diameter maksimum material deposit ( m ).

Sumber : Standardizing Design and Specification on Irrigation Structures ;

March, 1985, Nedeca - DHV, Dept. P.U. Water Resources Development.

b. Penentuan dimensi pembuakaan saluran penguras.

Debit minimum pengurasan

Dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

:

3,00 m 3 / det.

Q

= V

A

.

Q

B

= t

.

.

v

dimana :

Q

= debit pengurasan yang diinginkan ( m 3 / det. ) didapat dari Flow Duration Curve ).

b

= lebar saluran penguras ( m ) = 1,20 m.

t

= tinggi bukaan ( m ).

V

=

kecepatan pengurasan = 2,90 m / det.

Q

( m 3 / det. )

t

( m )

 

2,8

 

0,80

3,0

0,86

3,2

0,92

c. Debit banjir rencana dihilir bendung . Kemiringan sungai rata- rata disebelah sungai bendung = 0,015 Lebar sungai rata-rata = 25,00 m. Tinggi banjir rencana dihilir bendung dihitung dengan rumus Manning.

Q =

V

x

A

dihilir bendung dihitung dengan rumus Manning. Q = V x A dimana : Q = debit

dimana :

Q

=

debit banjir 100 th. ( m 3 / det. ) = 260 m 3 / det.

N

=

koefisien kekasaran Manning = 0,035

A

= luas penampang aliran ( m 2 ).

R

= jari-jari hidraulis ( m ).

I

= kemiringan dasar sungai rata-rata = 0,015

V

= kecepatan aliran

Elevasi dasar sungai disebelah hilir = + 99,00

A = ( b + h ) h = ( 25 + mh ) h
A
=
( b + h ) h
=
( 25
+
mh ) h
O
hilir = + 99,00 A = ( b + h ) h = ( 25 +
hilir = + 99,00 A = ( b + h ) h = ( 25 +

Q

=

A

V

= + 99,00 A = ( b + h ) h = ( 25 + mh

Dengan cara coba-coba didapat tinggi banjir dihilir bendung setinggi 2,25 m ( h = 1,95 m ). Jadi elevasi muka air banjir dihilir bendung = +99,00 + 1,95 = +100,95 m.

4. BACK WATER CURVE Gunanya adalah untuk mengetahui sampai dimana pengaruh kenaikan muka air setelah adanya pengempangan oleh bendung. Untuk menghitung pengaruh pengempangan ini dipakai rumus :

L = 2 h / s *)

dimana : L = panjang pengaruh pengempangan kearah udik dihitung dari titik bendung .

S

= kemiringan sungai.

H

= tinggi akibat muka air di titik bendung akibat pengempangan.

Elevasi muka air sungai setelah adanya bendung adalah +106,25 m. Sedangkan elevasi mercu bendung sendiri +103,00 m.

Sehingga dengan adanya bendung muka air sungai menjadi naik setinggi +106,25 - 103,00 = 3,25 m.

A B L = 433 33 m.a. Sesudah ada bendung m.a. Sebelum ada bendung +
A
B
L = 433 33
m.a. Sesudah ada bendung
m.a. Sebelum ada
bendung
+ 106,25
h
S
+ 103,00
h
S

*)

Gambar . 7. Back Water Curve

Sumber : Sunarna, Perhitungan bendung tetap, Dept. P.U. & Tenaga Listrik Dtjen. Pengairan, Derektorat Irigasi, Bandung, 1972, hal. 29

h dihitung berdasarkan debit banjir rencana dengan periode 100 tahun ( 265 m 3 / det )

h

=

3,25 m

=

H1

S

=

0,015

3 / det ) h = 3,25 m = H1 S = 0,015 5. PERENCANAAN DESAND

5. PERENCANAAN DESAND ( KOLAM PENGENDAP PASIR ) Head = 90 m ( Sumber : Masyonyi, g Hydro Power Development g Vol. 2, medium head 30 W 150 m. Partikel yang dapat diendapkan = 0,3 mm. dengan pendekatan

d

:

0,3

0,4

0,5

0,7

1,0

mm

W

:

0,04

0,054

0,065

0,085

0,110

m/det.

dimana : d =

W =

Kecepatan maksimum = 0,35 m/det.

diameter partikel yang akan diendapkan ( mm ).

kecepatan pengendapan ( m/det ).

h = rata-rata kedalaman desand diambil 2,00 m.

Kecepatan kritis untuk pengendapan ditentukan dengan rumus Camp :

kritis untuk pengendapan ditentukan dengan rumus Camp : = d = 0,3 mm. untuk kondisi medium

=

d = 0,3 mm. untuk kondisi medium head.

44 untuk partikel 0,1 mm < d < 1 mm.

medium head. 44 untuk partikel 0,1 mm < d < 1 mm. Q design = 3,9

Q design

=

3,9 m 3 / d

= bh

.

V

mm < d < 1 mm. Q design = 3,9 m 3 / d = bh
mm < d < 1 mm. Q design = 3,9 m 3 / d = bh

Didalam air tenang

1 mm. Q design = 3,9 m 3 / d = bh . V Didalam air
1 mm. Q design = 3,9 m 3 / d = bh . V Didalam air

L =

0,24

.

50

= 12 m.

Didalam air turbulensi

W 1

W 2

=

pengurangan kecepatan didalam air turbulensi

 
 

=

kecepatan pengendapan

 

=

W -

W 1

= 0,04

- 0,0224 = 0,0176

m/det.

L = 0,24 . 113,64 = 27,27 ~ 28 m. Di check dengan Velikanov :

L

= 0,24

.

113,64 = 27,27 ~ 28 m.

Di check dengan Velikanov :

Dianggap 95 % dari partikel diendapkan Dari grafik dengan W = 95 % didapat = 1,2 m.

diendapkan Dari grafik dengan W = 95 % didapat = 1,2 m. W = 95 %
diendapkan Dari grafik dengan W = 95 % didapat = 1,2 m. W = 95 %

W = 95 %

Dari grafik dengan W = 95 % didapat = 1,2 m. W = 95 % Untuk

Untuk kolam pengendapan = 3,2 . 113,64 = 363,65 m 3 Kapasitas kolam = 2 . 8,50 . 28 = 392 m 3 > 363,65 m 3 Diambil dimensi kolam pengendap = 2,00 . 8,50 . 28,00 m.

Desand entry

MAN +102,82 +102,75 + 101,30 H = 2,00 +100,75 Gambar 8. Desand Entry Kecepatan disaluran
MAN +102,82
+102,75
+ 101,30
H = 2,00
+100,75
Gambar
8. Desand Entry
Kecepatan disaluran :
Q 3,25
V1
1,794m/det
b.h
1,2.1.51

Settling Velocity W (cm/sec)
Settling Velocity W (cm/sec)

After L. Sudry

Particle Size : (mm)

Gambar

9. SETTLING VELOCITY IN NON W TURBULENT WATER

FOR VARIOS DENSITIES OF SILTY WATER,

W %
W %

Wp = percent settled for a given Particle size

Gambar 10. VELIKANOVrS RELATIONSHIP Wp = f ( ) FOR DESIGNING SETTLING BASINS

Kecepatan di desand menurun hingga 0,24 m/det.

Kehilangan tinggi karena pelebaran tiba-tiba :

0,24 m/det. Kehilangan tinggi karena pelebaran tiba-tiba : ( M.A.N ) Elevasi muka air di desand

( M.A.N )

Elevasi muka air di desand = +102,81 W 0,06

= +102,75

( M.A.N )

Jadi elevasi awal pada dasar kolam

= +102,75 W 2,00

= +100,75 m.

Perencanaan Pelimpah Samping :

Pelimpah samping diperlukan didalam bangunan kolam pengendap pasir untuk melimpah kelebihan akibat banjir yang terjadi. Pembuangan kelebihan air ini melalui pelimpah direncanakan kesebelah kanan saluran, yaitu kembali ke sungai Batang Toru.

Volume air yang akan dilimpahkan termasuk keadaan dimana terjadi penutupan pintu penstock pada saat banjir maksimum terjadi. Debit yang masuk ke intake pada saat banjir maksimum adalah : 11,16 m 3 /det.

Ketinggian mercu pelimpah diambil 10 cm diatas M.A.N yaitu :

+ 102,75 + 0,10 = + 102,85 m.

+105,45 MAB +105,15 +154,57 +102,85 h 1 h 2 10 cm MAN +102,75 2,00 m
+105,45
MAB +105,15
+154,57
+102,85
h 1
h 2
10 cm
MAN +102,75
2,00 m
+100,75

Gambar 11. Pelimpas Desand

Panjang pelimpah samping ( L ) diperkirakan dari Coleman and Smith Formula, berdasarkan N.B. Webber, Fluid Mechanics for Civil Engineer, 1971 :

N.B. Webber, Fluid Mechanics for Civil Engineer, 1971 : dimana ; L = panjang pelimpah (

dimana ;

L

= panjang pelimpah ( m )

V

= kecepatan rata-rata disaluran ( m/det )

B

= lebar saluran empat persegi panjang ( m )

h1 dan h2

= tinggi air dibagian ujung hulu dan hilir peloimpah ( m )

Lebar saluran di desand telah dihitung sebesar 8,50 m. h1 = perbedaan tinggi m.a.b dengan mercu pelimpah = 105,15 W 102,75 = 2,40 m. ( dihulu pelimpah ) H2 = perbedaan tinggi m.a.b dengan mercu pelimpah setelah pelimpah, diambil 0,20 m ( lihat pelimpah )

Dimensi desand : +105,15 4,40 m +100,75
Dimensi desand :
+105,15
4,40 m
+100,75
8,50 m
8,50 m

Gambar 12. Dimensi desand

8,50

x 28,00

x 2,00

m.

Q banjir disaluran : 11,16 m 3 /det

dasar saluran di desand :

+102,75 W 2,00 = + 100,75 m.

Sedangkan tinggi air pada saat banjir : +105,15 W 100,75 = 4,40 m.

Luas penampang basah : F = 4,40 x 5,50 = 37,40 m 2 Jadi kecepatan aliran di desand pada saat banjir 100 tahun :

Panjang pelimpah samping :

m 2 Jadi kecepatan aliran di desand pada saat banjir 100 tahun : Panjang pelimpah samping
m 2 Jadi kecepatan aliran di desand pada saat banjir 100 tahun : Panjang pelimpah samping

= 5,24 m diambil 10 m.

Dikontrol dengan memakai rumus debit pelimpah :

Q = 1,24 . L . H 1,5

dimana :

Q

= debit yang dapat dilimpahkan

L

= panjang pelimpah

H

= tinggi air diatas mercu pelimpah

panjang pelimpah H = tinggi air diatas mercu pelimpah Q = 1,24 . 11,00 . 1,30

Q = 1,24 . 11,00 . 1,30 1,5 = 18,38 > 11,16 m 3 /det ( debit air yang harus dibuang ).

Tinggi banjir diatas mercu pelimpah :

11,16

=

1,24

.

10,00 .

H

= 0,93

~ 0,95 m.

H 1,5

Jadi ketinggian air banjir setelah pelimpah adalah h2 ditambah mercu pelimpah :

+ 102,85 + 0,20 = 103,05 atau 50 cm diatas M.A.N.

Freeboard diambil sama dengan tembok samping dilokasi intake +105, 65 m.

Perencanaan ambang control Ambang control dibuat pada akhir desand dan dimaksudkan selain dapat menahan bed load yang lolos alur pengendapan juga mengontrol aliran air di desand.

MAN +102,75

Z +152,27 2,00 m. 2,00 m. +152,55 1,00 m. +99,75
Z
+152,27
2,00 m.
2,00 m.
+152,55
1,00 m.
+99,75
, 75 Z +152,27 2,00 m. 2,00 m. +152,55 1,00 m. +99,75 H h 1 1
, 75 Z +152,27 2,00 m. 2,00 m. +152,55 1,00 m. +99,75 H h 1 1
H h 1
H
h 1

1 = 0,8

+100,75

Gambar 13. Ambang Kontrol

Tingi muka ambang : 1,20 m. Maka tinggi air diatas mercu ambang : H = 2,00 W 1,20 = 0,80 m.

Untuk menghitung kehilangan energy diambang dipakai rumus :

Untuk menghitung kehilangan energy diambang dipakai rumus : dimana : Q = debit design = 3,9

dimana :

Q

= debit design = 3,9 m 3 /det.

 

b

=

lebar ambang =

b = lebar ambang = .

.

h1

= tinggi muka air setelah ambang = H1 W Z

µ

= koefisien pengaliran yang diambil 0,78 untuk tembok tepi bersudut.

g

= percepatan gravitasi ( m/det 2 )

 

Z

= kehilangan tinggi ( m )

( m/det 2 )   Z = kehilangan tinggi ( m ) Dengan coba-coba didapat harga

Dengan coba-coba didapat harga z = 0,021 m. Jadi kehilangan tinggi ( energy ) pada ambang tetap = 0,021 m.

Kontrol lompatan hidraulis didalam desand Bilangan Fraude :

dimana :

hidraulis didalam desand Bilangan Fraude : dimana : V1 = kecepatan awal = 1,35 m/det. Y1

V1

= kecepatan awal = 1,35 m/det.

Y1

= kedalaman awal = 1,51 m.

awal = 1,35 m/det. Y1 = kedalaman awal = 1,51 m. maka menurut referensi USBR tidak

maka menurut referensi USBR tidak terdapat lompatan hidraulis.

Kontrol alur pengendapan

Persamaan Shields :

d = 10 4 . R . S d = diameter partikel terbesar yang akan
d
=
10 4
.
R
.
S
d
= diameter partikel terbesar yang akan dibuang ( mm )
R
= jari-jari hidraulis rata-rata
S
= kemiringan dasar ( m/m )
Diambil sebesar bukaan saringan = 50 mm.
Jari-jari hidraulis dari penampang rata-rata dihitung sebagai berikut :
1
1
2
2
H = 1,80 m
B
2,00 m

Gambar 14. Penampang Desand

2 H = 1,80 m B 2,00 m Gambar 14. Penampang Desand Keliling basah = O

Keliling basah = O

=

2

+

2

.

2,012 = 6,025 m.

Desand Keliling basah = O = 2 + 2 . 2,012 = 6,025 m. Kemiringan dasar
Desand Keliling basah = O = 2 + 2 . 2,012 = 6,025 m. Kemiringan dasar

Kemiringan dasar = 0,60 %

untuk jarak 50 m

Diambil beda tinggi 1.00 m sampai pintu pengurasan.

50 m Diambil beda tinggi 1.00 m sampai pintu pengurasan. h = 0,30 m = 30

h

=

0,30 m

=

30 cm.

Dimensi lubang penguras Saluran penguras direncanakan dari pipa beton dengan dialirkan kembali ke sungai Parsariran. Diameter pipa penguras ditentukan sebagai berikut :

Qp

=

V

.

A

dimana :

Qp

= debit pengurasan yang diambil 50 % Q saluran.

V

= kecepatan pengurasan yang diambil 2,0 m/det.

A

= luas penampang basah pipa.

Qp

= 0,50 x 3,9 = 1,95 m/det.

penampang basah pipa. Qp = 0,50 x 3,9 = 1,95 m/det. Diambil diameter pipa 1,0 m.
penampang basah pipa. Qp = 0,50 x 3,9 = 1,95 m/det. Diambil diameter pipa 1,0 m.
penampang basah pipa. Qp = 0,50 x 3,9 = 1,95 m/det. Diambil diameter pipa 1,0 m.

Diambil diameter pipa 1,0 m.

3 m

L = 28 00 m
L = 28 00 m

Gambar 15. Sket Pandangan Atas Desand

Pintu penguras

11,00 m +102,75 +102,73 0,02 0,80 1,51 +100 75 Slope 1,00 Ambang pengontrol Ø 1,20
11,00 m
+102,75
+102,73
0,02
0,80
1,51
+100 75
Slope
1,00
Ambang pengontrol
Ø 1,20 m
3 m
L = 28,00 m

Gambar 16. Potongan Memanjang Desand

6. SALURAN PENGHANTAR Saluran penghantar sedapat mungkin dibuat saluran terbuka, dari pasangan batu kali dan diplester halus dengan adukan 1 pc : 4 pasir.

Bentuk Geometri Saluran penghantar dipilih berdasarkan atas pertimbangan kondisi topografi, geologi dan kemudahan pelaksanaan. Berdasarkan pertimbangan tersebut diatas, saluran penghantar PLTM Sumani terdiri dari :

Saluran terbuka dengan panjang 990 m Perhitungan dimensi dari saluran penghantar tersebut seperti dibawah ini.

1. Saluran terbuka

a. Bentuk Geometri Saluran PLTM Sumani direncanakan saluran berbentuk trapezium dengan lebar

bagian bawah sama dengan tingginya. Minimum 2,00 0,4 B=H 0.4 0, 0,5 0,5 H/5 H/5
bagian bawah sama dengan tingginya.
Minimum 2,00
0,4
B=H
0.4 0,
0,5
0,5
H/5
H/5
2,52
1
1
H
5
5
0,4

B = H

0,5 0,5 H/5 H/5 2,52 1 1 H 5 5 0,4 B = H 3,00 Gambar

3,00

Gambar 17. Penampang Saluran Penghantar

b. Penentuan Dimensi Saluran Debit yang direncanakan diambil sama dengan debit rat-rata Q mean = 3,25 m 3 /det.

Debit saluran penghantar ditambah 20% dari debit yang direncanakan. Jadi Q saluran = 1,2 x 3,25 = 3,9 m 3 /det.

Untuk penentuan ukuran saluran penghantar yang ekonomis dipilih dari tabel sebagai berikut :

Tabel 1. Ukuran Saluran

V

/

H

1,0

1,1

1,2

1,3

1,4

1,5

1,6

1,7

1,8

1,9

2,0

(m/det) /A

1,200

1,452

1,728

2,028

2,352

2,700

3,072

3,468

3,888

4,332

4,800

0,8

 

0,960

1,162

1,382

1,622

1,882

2,160

2,458

2,774

3,110

3,466

3,840

0,9

 

1,080

1,307

1,555

1,825

2,117

2,430

2,765

3,121

3,500

3,899

4,320

1,0

 

1,200

1,452

1,728

2,028

2,352

2,700

3,072

3,468

3,888

4,332

4,800

1,1

 

1,320

1,600

1,901

2,231

2,587

2,970

3,379

3,815

4,277

4,765

5,280

1,2

 

1,440

1,742

2,074

2,434

2,822

3,240

3,686

4,162

4,666

5,198

5,760

Debit rencana untuk saluran sebesar Q = 3,3 m 3 /det, dari table dipilih dimensi saluran penghantar sebagai berikut :

- Tinggi muka air di saluran H = 1,80 m

- Lebar dasar saluran B = 1,80 m

- Kecepatan di saluran V = 1 m/det.

- Freeboard diambil 0,5 m.

Kemiringan saluran penghantar dihitung sebagai berikut :

- Luas penampang basah A = 3,888 m 2

- Keliling basah O = 2 x 1,84 + 1,8 = 5,48 m.

- Jari-jari hidraulis

basah O = 2 x 1,84 + 1,8 = 5,48 m. - Jari-jari hidraulis - k

- k diambil 60

- Jadi

I

=

V 2

. k -2

.

=

1 2

.

(60) -2

I = 0,00044

R -4/3

.

(615) -4/3

1 4 Minimum 2,00 0,4 2,72 0.4 0,5 0,3 0,5 0.2 0.2 0,5 0.2 1
1
4
Minimum 2,00
0,4
2,72
0.4 0,5
0,3
0,5
0.2
0.2
0,5
0.2
1
1
H = 1,80
5 5
0,4
0,60
B = H = 1,80
0,60
3,00

Gambar 17. Penampang Saluran Penghantar

Dalam kondisi debit minimum

Q

min

= ( 0,4 x 3,9 ) m 3 /det.

Q

min = 1,56 m 3 /det.

Dari table didapat :

V

= 1,10 m/det.

H

=

1,10 m.

c. Kontrol Freeboard Saluran Terbuka Freeboard saluran terbuka dihitung berdasarkan kondisi yang ekstrim yaitu kenaikan muka air pada saat banjir dan pintu pipa pesat tiba-tiba tertutup.

h V2 y2 y1 V1
h
V2
y2
y1
V1

Gambar 19. Kenaikan Muka Air Akibat gSurges

Y1 = kedalaman air pada saat banjir = 1,80 m Y2 = kedalaman air yang baru setelah surge

1 1 5 5 1,80 1,80 Gambar 20. Penampang Saluran Terbuka
1
1
5
5
1,80
1,80
Gambar 20. Penampang Saluran Terbuka

A

= 3,888 m 2

 

O

=

2

1,836 +

1,7

= 5,47

m.

 

.

  .

I

= 0,00044

Rumus Strikler :

V1

V1

=

=

k

60

.

.

R 2/3

I ½

. ( 0,7108 ) 2/3

.

( 0.00044 ) 1/2 = 1,003 m/det.

Surge dihitung berdasarkan 2 persamaan dasar ( Reff. BWI ) :

( V1 + C ) Y1 = ( V2 + C ) Y2 uuuuuuuuuuuuuu

dasar ( Reff. BWI ) : ( V1 + C ) Y1 = ( V2 +

V1

= 1,0003

V2

=

0

uuuuu

( 1

)

( 2 )

dasar ( Reff. BWI ) : ( V1 + C ) Y1 = ( V2 +
dasar ( Reff. BWI ) : ( V1 + C ) Y1 = ( V2 +
dasar ( Reff. BWI ) : ( V1 + C ) Y1 = ( V2 +
dasar ( Reff. BWI ) : ( V1 + C ) Y1 = ( V2 +

Dengan cara trial & error didapat :

Y2 = 2,25 m

C = 0,446 m/det. (kecepatan gelombang)

=

Jadi pengambilan freeboard didepan sebesar 0,5 m masih memenuhi.

Besar surge h = (2,25 W 1,80) m

0,45 m

d. Kehilangan Tinggi Air Kehilangan tinggi air di saluran terbuka sebelum masuk saluran tertutup, akibat gradient saluran :

I = 0,00044

Hf

=

909 m x 0,00044 = 0,44 m

Jadi muka air normal sebelum masuk kolam / bak penenang :

(102,75 W 0,44) m = 102,31 m Dengan dasar saluran : (101,10 W 0,44) m = 100,66 m

7. BAK PENENANG Bak penenang dibuat pada ujung saluran penghantar, sebelum masuk ke Intake pipa pesat.

1. Ukuran Bak Penenang Ukuran bak penenang diambil pedoman sebagai berikut :

 

B

=

lebar bagian atas saluran penghantar

L

=

2 x B

dimana :

 

B

=

lebar bak penenang

(m)

L

= panjang bak penenang

(m)

Dari perhitungan didapat lebar bagian atas saluran penghantar = 2,75 m

Jadi :

B

=

2,75 m

L

=

2 x 2,75 m = 5,50 m ~ 6,00 m

Sedangkan kedalaman bak penenang ditentukan serta disesuaikan dengan elevasi dari intake pipa pesat.

2.

Intake Pipa Pesat

Elevasi dari pipa pesat harus diletakkan cukup rendah untuk menghindari terjadinya rongga udara. Kedalaman air yang dibutuhkan di atas pipa pesat bagian atas, untuk menghindari masuknya rongga udara disebut submergence ( S ) dan dapat dihitung dari salah satu rumus sebagai berikut :

a. Garis sumbu pipa pesat sejajar terhadap sumbu saluran penghantar :

S = 0,54 x V x D 0,5

Dimana :

V

= kecepatan aliran di dalam pipa pesat (m/det)

D

= diameter pipa pesat (m)

b. Garis dumbu pipa pesat membentuk sudut dengan sumbu saluran penghantar

S = 0,72 x V x D 0,5

PLTM Sumani kedudukan garis sumbu pipa pesat sejajar terhadap sumbu saluran

penghantar, maka digunakan rumus :

S

= 0,54 x V x D 0,5

S

= 0,54 x 3,178 x 1,25 0,5

S = 1,919 m

1,92 m.

3. Elevasi Muka Air Di Bak Penenang

Kehilangan tinggi muka air di saluran penghantar (saluran terbuka) sesudah air keluar dari saluran tertutup sampai dengan bak penenang :

Akibat gradient saluran

I

= 0,00044

Hf

=

909 m x 0,00044 = 0,44 m

Elevasi muka air maksimum di bak penenang/ Intake Pipa Pesat

= +101,75 W 0,44 m

= +101,31 m

Elevasi muka air minimum di bak penenang/ Intake Pipa Pesat

= +101,10 W 0,44 m

= +100,66 m

Elevasi dasar bak penenang/ Intake Pipa Pesat

= +99,85 W 1,92 W 1,27 m = +96,66 m

8. PIPA PESAT Untuk PLTM Sumani digunakan pipa pesat dari baja dengan segmen sepanjang 6 meter, dengan masing-masing segmen dihitungkan dengan las setempat. Panjang pipa pesat diperkirakan kurang lebih 353 m Debit rencana diambil Q mean = 3,9 m 3 /det Tinggi terjun H = 29,8 m.

1. Diameter Pipa Pesat

Diameter pipa pesat dihitung dengan rumus sebagai berikut

a. Empirical Formula

1. Diameter Pipa Pesat Diameter pipa pesat dihitung dengan rumus sebagai berikut a. Empirical Formula b.
1. Diameter Pipa Pesat Diameter pipa pesat dihitung dengan rumus sebagai berikut a. Empirical Formula b.

b. Dalandrs Formula

1. Diameter Pipa Pesat Diameter pipa pesat dihitung dengan rumus sebagai berikut a. Empirical Formula b.
1. Diameter Pipa Pesat Diameter pipa pesat dihitung dengan rumus sebagai berikut a. Empirical Formula b.
1. Diameter Pipa Pesat Diameter pipa pesat dihitung dengan rumus sebagai berikut a. Empirical Formula b.
1. Diameter Pipa Pesat Diameter pipa pesat dihitung dengan rumus sebagai berikut a. Empirical Formula b.
1. Diameter Pipa Pesat Diameter pipa pesat dihitung dengan rumus sebagai berikut a. Empirical Formula b.

c.

Sakariars Formula

c. Sakariars Formula Gambar 24. DIAGRAM FOR SUBMERGENCE OF PENSTOCK INTAKE
c. Sakariars Formula Gambar 24. DIAGRAM FOR SUBMERGENCE OF PENSTOCK INTAKE
Gambar 24. DIAGRAM FOR SUBMERGENCE OF PENSTOCK INTAKE
Gambar 24. DIAGRAM FOR SUBMERGENCE OF PENSTOCK INTAKE

Berdasarkan perhitungan dan ukuran plat baja dipasaran, maka diameter pipa pesat dipilih D = 1,25 m.

Maka kecepatan aliran dalam pipa pesat :

dipilih D = 1,25 m. Maka kecepatan aliran dalam pipa pesat : 2. Tebal Pipa Pesat

2. Tebal Pipa Pesat Tebal pipa pesat dihitung dengan menggunakan rumus :

Pesat Tebal pipa pesat dihitung dengan menggunakan rumus : D = diameter pipa pesat dalam satuan

D = diameter pipa pesat dalam satuan mm.

menggunakan rumus : D = diameter pipa pesat dalam satuan mm. tebal plat minimum 6 mm,

tebal plat minimum 6 mm, factor korosi 2 mm, maka tebal pipa pesat diambil 8 mm

3. Perlengkapan Struktur Panjang keseluruhan pipa pesat PLTM Sumani adalah 35 m. Perlengkapan struktur pipa pesat terdiri dari :

a. Karena panjang penstock hanya 35 m. maka ada 2 Angker blok, yaitu menyatu kolam penenang dan menyatu dengan gedung sentral.

b. Saddle Support Saddle support adalah perletakan pipa pesat diantara anchor block. Jarak setiap saddle support adalah 6 meter

c. Expansion Joint Pada pipa pesat dengan sambungan rigid joint, diperlukan pemasangan expansion joint yang berfungsi untuk memberikan pergeseran akibat perbedaan temperatur.

4. Kedalaman Pondasi Kedalaman pondasi untuk struktur anchor block berdasarkan penyelidikan lapangan adalah pada kedalaman 0,60 m dari tanah asli. Pada kedalaman tersebut daya dukung tanah cukup besar yaitu = 1.25 kg/cm 2 W 1.60 kg/cm 2 .

5. Kehilangan Tinggi Air di Pipa Pesat Kehilangan tinggi air pada pipa pesat terdiri dari :

a. Kehilangan tinggi air di saringan (screen losses)

b. Kehilangan tinggi di inlet (entry losses)

c. Kehilangan tinggi karena gesekan (friction losses)

d. Losses pada lengkungan pipa.

Untuk menghitung besarnya head losses pada pipa pesat diperkirakan sebesar 3 % dari head yang ada. Sehingga untuk PLTM Sipenggeng besarnya net head adalah :

97 % ( 101,31 W 72,4 ) meter + 1 meter = 29,05 meter.

9. GEDUNG SENTRAL Lokasi Gedung Sentral PLTN Sumani terletak ditepi sebelah kanan sungai Sumani. Secara topografis gedung sentral diindentifikasikan diantara profil serta pada titik test pit dari peta Geologi Teknik yang dibuat. Berdasarkan perkiraan dimensi turbin, generator dan perlengkapannya maka gedung sentral untuk PLTM Sipenggeng dibuat dengan ukuran 8,00 x 12,00 m. Elevasi lantai gedung sentral direncanakan pada elevasi +72,40 m.

Elevasi muka air banjir disungai Batang Toru pada lokasi tersebut, berdasarkan dari kenampakan dilapangan, diperkirakan +53,00 m, sehingga elevasi lantai gedung sentral cukup aman terhadap muka banjir.

1. Sub Struktuer Bangunan sub structure direncanakan mrempunyai konstruksi basement plat

beton yang berfungsi sebagai pondasi bangunan dan juga sebagai kolam draft

tube.

Berdasarkan perhitungan mesin pembangkit, elevasi muka air dikolam draft tube adalah 5,9 m, maka lantai mesin pembangkit adalah 59,50 m dan jarak lantai ke as turbin adalah 1,50 m.

Pondasi telapak diletakkan pada elevasi 57 m, dan lantai pelat basement terletak pada elevasi 56,25 m.

2. Super Strcture Struktur bangunan atas dibuat dari rangka beton bertulang, dengan dinding pengisi dari pasangan batu bata.

Sedangkan konstruksi atap dari konstruksi baja dengan penutup dari seng gelombang.

Bentang portal melintang adalah 7,00 m dan porlat memanjang berjarak 5,00 m.

Pintu masuk direncanakan terdiri dari daun dan rangka konstruksi baja dengan lebar 2,00 x 2,00 m, untuk penempatan monorail crane yang bergerak kearah memenjang gedung sentral, maka pada tengah portal perlu dipasang baja I untuk perletakan monorail crane tersebut.

Berdasarkan perkiraan dimensi mesin turbin, generator dan perlengkapannya, tinggi bersih ruang mesin adalah 6,00 m.

3. Lokasi Serandang Hubung ( Switchyard ) Lokasi serandang hubung direncanakan ditempatkan disamping kanan gedung sentral dengan ukuran 9,00 x 10,00 m.

Lokasi serandang hubung diberi pagar besi berupa anyaman kawat jajaraj genjang yang digalvanisir. Pagar dilengkapi dengan pintu double yang memisahkan lokasi serandang hubung dengan ruang kerja dan tempat parker.

Permukaan tanah di lokasi serandang hubung sesudah diratakan, ditutup dengan batu kerikil diameter 2,5 cm, setebal 10 cm.

4. Ruang Kerja dan Parkir Untuk keperluan parkir dan perputaran kendaraan serta tempat kerja perlu disediakan lokasi yang berdekatan dengan pintu gedung sentral dan lokasi serandang hubung.

1200 550 A 100 60 B B 600 600 60 x 60 A 800 400
1200
550
A
100
60
B
B
600
600
60
x 60
A
800
400
60
300
60

Gambar 25. Lay Out Gedung Sentral

Gambar 26. Potongan Gedung Sentral
Gambar 26. Potongan Gedung Sentral

10. SALURAN PEMBUANG ( TAIL RACE ) Setelah air dipergunakan untuk memutar turbin, maka air tersebut dibuang lewat draft tube, kemudian dialirkan kembali ke sungai melalui saluran pembuang yang dilengkapi suatu weir dengan maksud untuk menjaga agar supaya ujung draft tube tetap terendam air. Lokasi pembuangan akhir adalah pada sungai Batang Sumani. Kondisi topografi pada rencana saluran pembuang umumnya merupakan lereng-lerng yang miring kearah sungai sedangkan kondisi geologinya dapat dilihat pada hasil penyelidikan geologi seperti terlampir.

1. Perhitungan Weir Kolam Draft Tube Dari rancangan dasar ( besic design ) gedung sentral diketahui :

+ 71,25 h 1 + 70,90 1,5 + 69,40
+ 71,25
h 1
+ 70,90
1,5
+ 69,40

Gambar 27. Ambang Draft Tube

Q

3,9m

3

/det

1,7H

3

2

Q

(L

3

2

0,1nH)

3

2

3,9 1,7H (3 0,1.1.H) 3,9 5,1H 0,17H

5

2

Coba W coba = h 1 = 0,83 m.

2. Perhitungan Saluran Pembuang Debit air yang disalurkan oleh saluran pembuang sama dengan debit di saluran penghantar.

Maka dimensi saluran penghubung (tail race) disamakan dengan dimensi saluran penghantar. Panjang saluran pembuang kurang lebih 38,00 m

Q

=

3,9 m 3 /det

H

=

B

=

1,80 m

V

=

1 m/det

Freeboard

=

0,50 m

A

=

3,888 m 2

O

=

5,47 m

R

=

A/O =

3,468/5,64 =

0,615

R = A/O = 3,468/5,64 = 0,615 0,7108

0,7108

I

=

0,00044

11.

JALAN MASUK

Jalan masuk menuju gedung sentral dibuat mengikuti jalan setapak yang sudah ada

sehingga biaya pembuatannya relative lebih murah.

Panjang jalan masuk kurang lebih 1.165 m, dibuat dengan criteria seperti tersebut

dihalaman sebelumnya.

Gambar Penampang Tipikal adalah sebagai berikut :

a. Di daerah Timbunan b. Di daerah galian
a. Di daerah Timbunan
b. Di daerah galian

Gambar 29. Typical jalan masuk

ANALISA RANCANGAN DASAR MESIN PEMBANGKIT

1. DATA

Berdasarkan studi kelistrikan, hidrologi dan scheme PLTM Sumani dilokasi terpilih, maka disimpulkan sebagai berikut :

PLTM Sumani direncanakan berinterkoneksi dengan pembangkit lain yang ada

Debit rencana = 3,25 m 3 /det.

Karakteristik debit dilukiskan sesuai dengan gambar no. 4.1 Elevasi tinggi muka air di bak penenang : 101,91 m

Elevasi tinggi muka air normal di saluran pembuang : 70,25 m

Panjang pipa pesat : 35 m

Temperature air : 25 °C

2. PENENTUAN JUMLAH UNIT PEMBANGKIT

Berpedoman pada studi optimasi, maka energi optimum/tahun diambil sebagai dasar untuk menetapkan besarnya debit rencana yaitu sebesar 3,25 m 3 /det Batas debit minimum adalah sebesar 40 % dari debit rencana.

Jumlah kapasitas terpasang dihitung dengan rumus :

rencana. Jumlah kapasitas terpasang dihitung dengan rumus : Kp = Kapasitas terpasang ( kW ) Q

Kp

=

Kapasitas terpasang ( kW )

Q

=

Debit rencana ( 3,25 m 3 /det )

H

=

Tinggi terjun ( 29,8 m )

g =

efesiensi generator ( 0,92 )

t = efesiensi turbin ( 0,80 )

Kp = 9,8 . (3,25) (29,8) . 0,80 . 0,92 = 700 kW

Maka jumlah kapasitas terpasang PLTM Sipenggeng sebesar 2000 kW

Dengan pertimbangan :

Jumlah kapasitas terpasang PLTM Sumani akan terserap habis

Biaya pembangunan dan pemeliharaan yang ekonomis

Maka PLTM Sumani diusulkan menggunakan 1 unit pembangkit dengan kapasitas terpasang 700 kW Berdasarkan data karakteristik debit (flow duration curve W gambar no.4.1), maka pengoperasian pembangkit dalam 1 (satu) tahun sebagai berikut :

Dari bulan ke-1 sampai dengan ke-8, pembangkit beroperasi dengan kapasitas penuh Dari bulan ke-8 sampai dengan ke-10, pembangkit beroperasi dengan kapasitas yang menurun hingga mencapai 75 % dari kapasitas penuh. Dari bulan ke-10 sampai dengan ke-12, pembangkit beroperasi, dengan kapasitas`45 % dari kapasitas penuh.

3.

TURBIN

1. Penentuan Jenis Turbin Penentuan jenis turbin ditentukan oleh tinggi terjun dan besar debit rencana. Berdasarkan nomograf pemilihan jenis turbin dari Beca-Worley International, gambar No. 5.33, maka untuk PLTM Sumani dapat menggunakan jenis turbin Francis. Diusulkan PLTM Sumani menggunakan jenis turbin Francis poros datar dengan pertimbangan sebagai berikut :

Pengalaman pabrik turbin di dalam negeri untuk memproduksi turbin jenis Francis.

Efesiensi turbin francis cukup tinggi untuk berbagai kondisi beban

Pemeliharaan turbin francis lebih mudah dan murah

Konstruksi pekerjaan sipil untuk turbin francis lebih sederhana.

2. Rating Turbin

1.

Tinggi terjun rencana (Hd) = (Elevasi muka air di bak penenang) W (Elevasi

muka air di saluran pembuang) W (kehilangan tinggi hidrolik).

Kehilangan tinggi hidrolik dapat dihitung dengan rumus :

 

=

0,0734 x Q 2

=

0,0734 x 3,25 2 = 0,77 m

Jadi Hd

=

101,31 m W 72,40 m W 0,77 m

=

28,14 m.

2. Out put turbin dihitung dengan rumus :

= 28,14 m. 2. Out put turbin dihitung dengan rumus : Dimana: Pt = Out put

Dimana:

Pt

=

Out put turbin (kW)

Q

=

Debit rencana ( 3 m 3 /det)

Hd

=

Tinggi terjun rencana (92 m)

= efesiensi turbin, diperkirakan 0,80

=

efesiensi turbin, diperkirakan 0,80

Jadi

Kp = 9,8 . 3,25 . 28,14 . 0.80

= 717 kW

3. Kecepatan putar rencana (N) Ns dihitung dengan menggunakan rumus :

putar rencana (N) Ns dihitung dengan menggunakan rumus : Dimana : Ns = Specific Speet (m.kW)

Dimana :

Ns

=

Specific Speet (m.kW)

N

=

Kecepatan putar (Rpm)

Pt

=

Out put turbin (717 kW)

Hd

=

Tinggi terjun (28,14 m)

Maka :

Ns Nx

717 0,5

28,14

1,25

N x 0,4131 (m.kW)

Nilai Ns untuk jenis turbin francis dibatasi tidak lebih dari 350 m.kW Direncanakan mesin pembangkit tidak menggunakan gearbox sehingga nilai N turbin = N generator.

Kecepatan putar dihitung dengan rumus :

Kecepatan putar dihitung dengan rumus : Dimana : N = Kecepatan putar (Rpm) f = Frekuensi

Dimana :

N

=

Kecepatan putar (Rpm)

f

=

Frekuensi (50Hz)

P

=

Jumlah kutub

Dengan mencoba nilai P (jumlah kutub), maka didapat variasi nilai N dan Ns sebagai berikut :

Jumlah Kutub

8

6

4

Kecepatan Putar

750

1.000

1.500

Specific Speet

122,3

163,1

244,6

Umumnya, bila nilai kecepatan putar bertambah besar, maka harga generator akan bertambah murah.

Dicoba dengan memilih Ns = 163,1 m.kW

3. Tinggi Isap (Hs)

Rumus :

Hs

=

Ha W Hv W Hd

Dimana :

Hs

=

Tinggi isap

Ha

=

Tekanan udara (10,280 m)

Hv

=

Tekanan uap air (0,239)

=

Koef. Kavitasi

 

=

  =
 

Hd

=

Tinggi terjun (28,14 m)

Maka

Hs

=

10,280 W 0,239 W (0,0845 x 28,14)

 

=

7,663 m

4. Runner Diameter runner dihitung dengan rumus :

Dimana : D = Q = N = Maka : D Diameter Runner (m) Debit

Dimana :

D

=

Q

=

N

=

Maka :

D

Diameter Runner (m)

Debit (3 m 3 /det)

Kecepatan putar (1.000 Rpm) 90x3,25 3 0,66 1000
Kecepatan putar (1.000 Rpm)
90x3,25
3
0,66
1000

5. Setting Turbin Tinggi as Runner terhadap tinggi muka air normal = Hs W D/2 = 1,942 m

Jadi turbin di set pada elevasi = 73,9 m Tinggi muka air banjir pada elevasi = 70,40 m Sehingga turbin aman terhadap banjir

6. Spesifikasi Teknik Berdasarkan perhitungan di atas maka spesifikasi teknik turbin adalah sebagai berikut :

Jenis turbin

:

Francis poros datar

Tinggi terjun (Hd)

:

28,14 m

Debit

:

3,25 m 3 /det

Out put

:

717 kW

Specific speet (Ns)

:

163,1 m. kW

Kecepatan putar (N)

:

1.000 Rpm

Diameter Runner (D)

:

0,65 m

Tinggi Isap (Hs)

:

7,663 m

4.

GOVERNOR Pengaturan kecepatan putar dan pembebanan turbin menggunakan governor jenis mechanical hydraulic dengan pertimbangan sebagai berikut :

Mampu bekerja secara isolated maupun parallel dengan pembangkit lain. Mampu bekerja pada besaran debit yang bervariasi. Mampu bekerja pada besaran beban yang bervariasi Nudah dalam pengoperasian dan pemeliharaan

Pompa hydraulic governor digerakan dengan menggunakan motor DC. Peralatan control dan pengamanan elektris yang berhubungan dengan governor menggunakan arus DC yang disuplai dari sumber DC.

5.

GENERATOR

1. Jenis Generator Jenis generator yang dipilih adalah generator sinkron dengan ketentuan sebagai

berikut :

Jumlah fasa

:

3 fasa

Frekuensi

:

50 Hz

Tegangan

:

400 volt

Factor daya

:

0,8

Poros datar

System eksitansi tanpa sikat, dilengkapi AVR dengan variasi tegangan ± 2,50 % dan dapat diatur secara manual

System pendingin udara dari putaran generator sendiri.

2. Rating Generator Rating out put generator dihitung dengan menggunakan rumus :

 

Pg

=

Pt x ( g/pf)

Dimana :

pg

=

Out put generator (kVA)

Pt

=

Out put turbin (kVA)

g =

Efesiensi generator (0,92)

Pf

=

Faktor daya (0,8)

Maka :

Pg

=

717x

0,92

0,8

824,55kVA

1000kV A

Rating putar generator = 1.000 Rpm

3. Kelas Isolasi Belitan generator menggunakan material yang berisolasi kelas F. Kenaikan temperature pada belitan generator pada saat operasi, tidak melebihi batas ketentuan isolasi kelas B. Langkah ini diambil untuk menjamin umur isolasi.

4. Pentanahan Netral Generator Titik netral generator ditanahkan melalui tahanan pentanahan dengan pertimbangan membatasi besar arus gangguan tanah sehingga :

Mengurangi kerusakan pada peralatan listrik seperti Switch Yard, kabel dan generator Mengurangi tekanan mekanik pada rangkaian dan peralatannya. Mengurangi bahaya sentakan listrik pada manusia karena gangguan arus balik yang terpancar. Mengurangi ukuran trafo arus.

6. TRANSFORMATOR UTAMA Jenis transformator adalah transformator step up, pasangan luar, 3 fasa, hubungan YD dengan system pendingin ONAN. Rating tegangan tanpa beban pada sisi primer 400 volt dan sisi sekunder 22-21-20- 19-18 kV. Rating out put dipilih sebesar 1000 kVA

Titik netral 20 kV dari hubung Y diketanahkan melalui tahanan 40 sesuai dengan SPLN 52-3 : 1983.

Batas kenaikan temperature sesuai SPLN 8B-1978, untuk :

Minyak

:

tidak lebih dari 60 °C

Belitan

:

tidak lebih dari 65 °C

7. SERANDANG HUBUNG Lokasi serandang hubung 20 kV terletak di dekat gedung sentral dengan ukuran 10 m x 9 m. Transformator utama, transformator pemakai sendiri terletak di lokasi serandang hubung. Serandang hubung terdiri dari :

2 buah tiang yang membentuk huruf H, 1 buah feeder keluar, 3 fase 20 kV, 1buah disconnecting switch 3 kutup, 3 lightning arrester, 3 buah suspension isolator 20 kV, Switchgear 20 kV pasangan dalam beserta peralatan control dan pengamanannya berada di dalam lemari besi yang diletakan didalam gedung sentral. Lemari besi terbuat dari plat besi dengan ketebalan 3 m.

8. SISTEM SUPLAI DAYA PEMAKAIAN SENDIRI

1. Sumber daya AC Kebutuhan sumber daya AC di gedung sentral disuplai dari generator atau dari jaringan tegangan menengah 20 kV dengan menggunakan transformator distribusi 3 fasa, 25 kVA, 20 kV/380 V hubungan DY. Sisi primer hubungan delta dihubungkan ke bus bar 20 kV dan sisi sekunder hubungan bintang 380 V dihubungkan ke panel pembagi di gedung sentral. Titik netral dari hubungan

bintangdiketanahkan. Dalam keadaan darurat, suplai daya selain didapat dari jaringan tegangan menengah 20 kV disediakan pula disel generator set 25 kVA yang dihubungkan secara interlock di panel pembagi.

2. Sumber daya DC Sumber daya DC dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu :

Kelompok I untuk mensuplai kebutuhan sistem pembangkit (penguat medan magnet, relay-relay, pengaman indicator) Kelompok II untuk mensuplai kebutuhan lampu penerangan darurat.

Suplai daya DC untuk masing-masing kelompok terdiri dari batteray charge dan disimpan pada batteray dengan tegangan 110 volt DC.

9. KONTROL DAN PENGAMANAN Setiap bagian unit pembangkit seperti turbin, generator, transformator, serandang hubung dilengkapi dengan control dan pengaman baik bersifat elektris maupun mekanis. Peralatan control dan pengaman beserta peralatan bantuannyadiletakan pada panel. Untuk kemudahan pengawasan, maka panel dilengkapi indicator dan alarm. Kerja unit pengamanan digolongkan dalam 2 grup, yaitu :

Memberhentikan pengoperasian pembangkit serta membunyikan suara peringatan (Alarm) dan tanda gangguan, jika pada saat pembangkit beroperasi terjadi gangguan listrik dan mekanik yang sifatnya tetap. Memberikan suara dan petunjuk gangguan jika pada saat operasi terjadi ketidak normalan.

10. JARINGAN TEGANGAN MENENGAH 20kV Rencana PLTM Sumani akan diinterkoneksikan ke jaringan wilayah Sumatera Barat, yang jaraknya 3 km dari lokasi power house. Dengan demikian seluruh produksi listrik PLTM Sumani sebesar 20 kV akan disalurkan ke sistem jaringan wilayah (Propinsi).

Konduktor dipilih ukuran Ø 100 mm 2 jenis AAAC. Konstanta Saluran Hantaran Udara

Penampang Ø (mm 2 )

Tahanan R /km t = 30 °C

Reaktansi

Kapasitas Arus

/km

(Ampere)

100

0,359

0,335

325

150

0,227

0,320

425

200

0,196

0,313

490

240

0,147

0,305

585

Tegangan jatuh dihitung dengan rumus :

Tegangan jatuh =

585 Tegangan jatuh dihitung dengan rumus : Tegangan jatuh = Dimana : U = tegangan nominal

Dimana :

U

=

tegangan nominal sistem

P

=

Daya (MW)

L

=

Panjang saluran (km)

R

=

tahanan penghantar ( /km)

x

=

reaktansi penghantar ( /km)

=

sudut fasa (36,87 °)

=

tgn 36,87 ° = 0,75

Untuk hantaran dengan 100 mm 2 , maka tegangan jatuh :

=

Untuk hantaran dengan 100 mm 2 , maka tegangan jatuh : = 11. SISTEM KOMUNIKASI PLTM

11. SISTEM KOMUNIKASI PLTM Sipenggeng direncanakan berinterkoneksi dengan pembangkit lain sehingga diperlukan sarana komunikasi antara pembangkit. Sistem komunikasi direncanakan menggunakan radio SSB.

Gambar.30 CONNECTION DIAGRAM OF MAIN CIRCUIT UNIT SELECTION

Gambar.30 CONNECTION DIAGRAM OF MAIN CIRCUIT

UNIT SELECTION

106 W D - 141
106 W D - 141

Gambar.31 Recommended total draft head W reaction turbines

Gambar.32 TYPICAL TURBINE LIMITS OF APLICATION

Gambar.32 TYPICAL TURBINE LIMITS OF APLICATION