Anda di halaman 1dari 4

Awal Sejarah Berdiri Negara Jerman Jerman mempunyai sejarah kenegaraan yang panjang dan unik.

Awalnya, Jerman berbentuk Persatuan Jerman. Pada 1871, Jerman berdiri, berbentuk Kekaisaran Jerman. Setelah Perang Dunia II, Kekaisaran Jerman terbagi menjadi dua negara, yaitu Jerman Barat (Republik Federasi Jerman) dan Jerman Timur (Republik Demokrasi Jerman). Kedua negara itu memiliki ideologi yang berbeda. Sejak penyatuan kembali (reunifikasi) Jerman Barat dan Jerman Timur pada 1990, Jerman memiliki nama resmi yang dikenal dengan istilah Republik Federasi Jerman. Saat sekarang, Jerman terdiri dari 39 Federasi yang berdaulat. Berlin merupakan ibu kota negara tersebut. Masa prasejarah Jerman dianggap sebagai masa sebelum kedatangan bangsa Romawi yang kemudian menuliskan berbagai catatan mengenai wilayah itu. Catatan sejarah mengenai wilayah yang sekarang disebut Jerman dimulai sejak adanya laporanlaporan Romawi dan Yunani mengenai kaum biadab ("Barbar") yang mendiami bagian utara Pegunungan Alpen. Masa ini dapat disebut sebagai era protosejarah. Era sejarah dimulai sejak abad ke-5, biasa dinamakan Abad Pertengahan oleh sejarawan Eropa. Pada masa ini, panggung sejarah didominasi oleh suatu federasilonggar berbagai kaum feodal yang dikenal sebagai Kekaisaran Suci Romawi, yang membentang selama hampir 10 abad, dari abad ke-9 sampai tahun 1806. Pada masa kejayaannya, teritori kekaisaran ini mencakup wilayah modern Jerman, Austria, Slovenia, Ceko, Polandia Barat, Perancis timur, Swiss, dan Italiautara modern. Setelah pertengahan abad ke-16, ketika kehilangan banyak teritori bangsa non-Jerman, kekaisaran ini disebut sebagai "Kekaisaran Romawi Suci Bangsa Jerman". Perang Napoleon mengubah alur sejarah, dari orientasi feodalisme menjadi negara militeristik, dengan terbentuknya Konfederasi Jerman tahun 18151866,Kekaisaran Jerman tahun 18711918, dan Republik Weimar tahun 19191933. Setelah pemerintahan Jerman Nazi Adolf Hitler tahun 19331945 yang membawa kehancuran bangsa ini dalam Perang Dunia II, muncullah Republik Federal Jerman (Jerman Barat) dan Republik Demokratik Jerman (Jerman Timur) sebagai simbol Perang Dingin, hingga Jerman bersatu kembali pada tahun 1990. Referensi: https://sites.google.com/site/awinkfile/home/sejarah-jerman http://mosselgermany.wordpress.com/profil-jerman/ http://www.scribd.com/doc/68056073/Sejarah-Negara-Jerman2

Sejarah Munculnya Faham Nasionalisme Pengertian dari Faham Nasionalisme kuno lebih banyak mendekati pada ikatan kesukuan. Misalnya ,ketika kekaisaran Romawi Barat runtuh pada sekitar abad V, ikatan kesukuan ini dijadikan hal yang utama dan terpenting sebab ikatan kesukuan dari Bangsa Roma hampir dikatakan tidak ada. Sebelum membahas tentang Nasionalisme, dalam hal ini Nasionalisme sebagi gejala dari sejarah. Tidak ada salahnya bahwa pengertian Nasionalisme tidak kita kacaukan dengan patriotisme, chauvinisme dan nation ( bangsa ). Seperti pembahsan awal tadi bahwa pengertian Nasionalisme pada proses sejarahnya lebih spesifik yang dapat dilacak di Eropa pada abad XV ( zaman Renaisance ). Patriotisme dan Chauvinisme lebih banyak mengandung unsur perasaan, ikatan emosional secara berlebihan, merupakan hal yang wajar

yang dimiliki oleh setiap manusia. Pengertian ini jauh dari arti Nasionalisme sebagai proses sejarah yang dapat dikatakan lebih primitif dari perasaan Nasional. Dalam konsep Nasionalisme klasik, atau ada juga yang menyebut Zaman Pra- Nasional, ikatan emosional yang melekat pada suatu bangsa yakni Patriotisme, chauvinisme dan Nation (bangsa) yang sangat menonjol. Di Eropa yang telah lama mengenal nation masih terdapat patriot Breton di Perancis, Beirin di Jerman, Skotlandia di Tanah Inggris dan patriot Friesland di Belanda. Mereka menganggap bahwa orang setanah airnya lebih unggul daripada bangsa lain. [1]Ada juga yang berpendapat bahwa nation dibentuk oleh sebuah himpunan manusia, yang ada kaitannya dengan hubungan darahnya, memiliki bahasa yang sama serta adat istiadat dan kebiasaan yang sama. Dalam menulusuri proses terbentuknya Nasionalisme klasik diberbagai negara Eropa, disini dijelaskan sekilas negara Eropa saja, khususnya wilayah Eropa Barat. Sepeninggal Karel Agung, sekitar tahun 833, kesatuan itu mulai runtuh salah satunya akibat dari serangan orang-orang Viking dari utara dan pada masa itu Perancis mulai mengalami masa feodal, sebagai masa yang penuh ketidaakstabilan, anarkhis daan sering terjadi berbagai pergolakan.[2] Kepulauan Inggris yang semula merupakan wilayah kekaisaran Romawi pada abad V telah diduduki oleh orangorang Anglo dan Saks yang menyeberang dari Germania dan sebagian menghancurkan para penduduk berbangsa Kelt. Dalam tahun 1066, raja daerah William dari Normandia menyeberang dari Perancis ke Inggris dan menaklukkan seluruh pulau itu di bawah penguasaannya. Nasionalisme alam arti modern sangat berbeda Nasionalisme Klasik. Nasionalisme dalam arti modern memiliki karakteritik dalam kehidupan politik selama Zaman Industri. Unsur kenegaraannya lebih intens dibandingkan dengan rasa Patriotisme. Pada abad XIX dan Abad XX terminologi Nasionalisme dikaitkan dengan proses sejarah tidak terbatas hanya di Eropa saja, tetapi juga tersebar diseluruh dunia. 2.2 Benih Benih dari Faham Nasionalisme Kesadaran Nasional yang dalam artian sebenarnya masih belum nampak di Eropa sampai dengan akhir Abad Pertengahan. Demikian pula kebanyakan penduduk mempunyai semacam keinsyafan bahwa penguasa tertinggi mereka adalah seorang raja Perancis yang kedudukannya sangat tinggi dah jauh diatas singgasana, tetapi tidak adan hubungannya dengan kehidupan mereka sehari-hari. Jika kita tahu bahwa Nasionalisme itu timbul dalam proses sejarah, maka lebih baik kita menerima Faham lain dengan apa yang disebut Nation atau bangsa itu. Faham tentang kebangsaan adalah merupakan suatu suku atau berbagai suku bangsa yang mendirikan suatu negara dan negara yang didirikan bersama itu adalah suatu negar Nasional yang artinya suatu negara dengan penduduknya yang memiliki hak dan kewajiban yang sama, berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah, penduduk yang ingin mengikat nasibnya dalam suatu negara bersama. [3]Petumbuhan kebangsaan dalam wujud kenegaraanmulai nampak secara serentak dengan kesadaran kepatriotan kebangsaan pada Abad XVI. Selama bebarapa abad sebelumnya negara Eropa memiliki berbagai bangsa yang bahasanya beranekaragam, kesadaran dari memiliki suatu negara kebangsaan masih belum nampak. Mereka masih di bawah pimpinan tentara, para kaum feodal dimasing-masing daerah atau Negara Kristen dalam

keseluruhannya.[4]Semangat Nasionalisme (kebangsaan) di Eropa mulai digugah dalam Perang Salib. Dengan menggalakkan penyebaran-penyebaran betapa pentingnya arti suatu negara yang memiliki keasadaran berbangsa pada waktu itu belum dilaksanakan sebelumnya. Mereka mengajarkan pada bangsa Eropa untuk mengatasi rasa kedaerahan dan memperoleh suatu pengetahuan bahasa, sehingga mereka tidak hanya menggunakan bahasa-bahsa sendirinya saja. Orang-orang Eropa sangat membanggakan atas bangsanya sendiri dan merendahkan bangsa lain. Dengan adanya semangat Salib mengakibatkan lahirnya persaingan kebangsaan yang istimewa dalam lingkungan negara-negara Kristen. Perang Salib yang besar dimana orang-orang Perancis sebagai dan persaingan Perancis dengan pserta-peserta dari Jerman dan Inggris. Ketika terjadi Perang Salib keempat, telah timbul persengketaan antara Perancis dan Italia disatu pihak serta orang Yunani di pihak lain. Pertikaian antara Kristen dan Islam juga melahirkan pula kesadaran kebangsaan yang besar dari bangsa-bangsa Castilia, Catalan dan Portugis. Benih-benih Nasionalisme modern dapat kita runut pada masa absolutisme yang terjadi selama abad XVII dan XVIII. Pada masa absolutisme di Eropa selam dua Abad tersebut, tentunya syarat agar raja dapat memerintah secara absolut atau mutlak kekuasaanya ynag terspusat. Sentralisasi yang diperoleh pada masa absolutisme tersebut dapat mengakhiri kekuasaan para bengsawan feodal yang lebih berkuasa dari raja. Kekuasaan-kekuasaan yang terpecah pada masa feodal akan merugikan khususnya dalam bidang perdagangan. Perdagangan ini akan memperoleh menfaat jika dalam seluruh negara tersebut terdapat suatu hukum yang sama, jika ada organisasi sentral atau jika lalu lintas ekonomi aman. Sebab kota-kota di Eropa menyokong raja, ketika ia memulihkan seluruh kekuasaannya.[5] Benih-benih Nasionalisme yang kemudian terwujud dalam pembentukan Negara Nasional, yang mana selain didorong oleh berbagai usaha dari raja-raja Eropa untuk menanamkan absolutisme meskipun ini semua harus mengeluarkan biaya yang cukup besar juga dipengaruhi oleh faktor wilayah atau geografis. Selain diatas tadi faktor-faktor dari benih-benih Nasionalisme selain absolutisme dan wilayah juga adanya faktor demokrasi serta parlementarisme yang pada awalnya diperjuangkan oleh para kaum borjuis. Inilah sebabnya mengapa negara-negara di Asia dan Afrika baru mengenal Nasionalisme dalam konsep modern, sebab mereka masih belum mengenal Demokrasi dan Parlementarisme, baru sekitar Abad XX mereka mulai mngenl adanya dua hal tersebut. 2.3 Pembentukan Negara-Negara Nasional Bahwa panggung Nasionalisme dan Negara-negara Nasional terjadi di Eropa, yang mana pertama kali lahir di Inggris pada Abad XIX. Nasionalisme dalam sejarah terjadinya berkaitan erat dengan perluasan kekusaan dari satu pusat kekuasaan. Pertumbuhan Negara-negara Nasional pada Abad XIX didorong dari berbagai kerusuhan sosial akibat Revolusi Industri yang telah mengikuti terjadinya Glourious Revolution 1688 di Inggris. Pada awalnya raja sam dengan dengan pengertian bangsa. Kemudian setelah timbulnya Parlementarisme, menmpatkan penduduk atau rakyat sama dengan bangsa (nation). Munculnya kaum borjuis juga disebut golongan paura yang kemudian disamakan dengan bangsa baru dengan faham Demokrasi. Maka pengertian kaum borjuis termasuk juga bagian dari

penduduk atau rakyat. Pembentukan Negara-negara Nasional di Eropa sering disebut sebagai keberhasilan perjuangan kaum borjuis. Penyusunan Republik dalm bentuk monarki yang berkonstitusi sangat jelas merupakan kemenangan dari kaum Borjuis yang sering kali disebut sebagai Kerajaan Borjuis. Gerakan-gerakan Nasionalis Eropa tidak hanya serta merta harus diasosiasikan dengan gerakan-gerakan demokratis semenjak terjadinya Revolusi Perancis. Namun kaum Nasionalis menuntut agar derajat yang yang diakui bukanlah derajat kemanusiaan universal, tetapi derajar untuk kelompok mereka sendiri. Seperti yang diketahui bahwa ciri-ciri negara Nasianal modern : memiliki keinsyafan dan persetujuan semua warga negara terhadap kesatuan Nasional ini sampai ketersediaan dalam mempertahankan dengan segala tenaganya. Setiap warga negara mempunyai hak dan kewajiban yang sama, kaum borjuis memiliki peran penting dalam pemerintahan, mereka melalui kekayaannya yang didapat dari hasil usahanya telah memberikan sejumlah konstribusi pentingdalam pemerintahan.[6] Dasar dan tujuan Negara Nasional adalah terbentuknya kepentingan dan kemakmuran bersamasama. Nasionalis-nasionalis Eropa memiliki hubungan yang erat satu sama lain terutama di Eropa Timur dan Selatan. Diantara negara-negara Eropa Tengah, faham liberal paling kuat dan juga berkuasa di Italia, setelah negara tersbeut berhasil melakukan pemberontakan liberal 1848. Konsep-konsep Negara Nasional modern juga dibentuk oleh aliran romantisisme yang tumbuh dan berkembang di Jerman dan akhirnya meluas di berbagai Negra Eropapada Abad XIX. Aliran romantik ini mendorong keberbagai bangsa. Sementara itu kehidupan intelektual di Eropa dalam abad XIX ini menjadi lebih kompleks dari pada Abad sebelumnya yakni adanya berbagai hal yang mempengaruhi antara lain: daerah Eropa lebih luas dibandingkan dulu, bangsa ini telah berkenalan dengan Dunia Timur, Ilmu Pengetahuan Alam mengalamun kemajuan dan Ilmu hayat telah memberikan banyak pengaruh terhadap cabang-cabang Ilmu Pengetahuan lainnya.