Anda di halaman 1dari 4

PENGGUNAAN DERET BOWEN UNTUK PENENTUAN SEJARAH AKTIVITAS VULKANIK SUATU LOKASI RAJA SUSATIO MAHASISWA TEKNIK GEOLOGI

UGM Jl. Grafika No.2 Kampus UGM Yogyakarta

Abstract Deret reaksi Bowen adalah sebuah deret yang menunjukkan hubungan antara suatu mineral dengan suhu dimana mineral itu terbentuk dari suatu tipe magma. Ada berbagai mineral yang terbentuk sepanjang proses pembentukan mineral yang terdapat dalam deret reaksi Bowen. Reaksi Bowen hanya memiliki satu faktor yang mempengaruhi pembentukan mineral itu, yaitu suhu. Deret reaksi Bowen biasanya digambarkan dengan diagram Y dengan beberapa garis horizontal sepanjang Y. Garis horizontal yang pertama biasanya terletak di puncak diagram menunjukkan suhu pada 3272 0F (18000C). Garis horizontal yang selanjutnya berada pada suhu 20120F (11000C) terletak pada satupertiga dari jalur continous dan disonctinous. Garis horizontal yang selanjutnya berada pada suhu 16520F (9000C) terletak di atas pertemuan antara garis continoius dan discontinous. Dan garis horizontal yang terakhir berada pada suhu 11120F (6000C) dimana kedua garis antara garis continous dan discontinous bertemu. Suhu dan ini sendiri akan mempengaruhi ketahanan mineral terhadap lingkungannya atau tidak. Suhu, semakin rendah suhu pembentukan suatu mineral, maka tingkat resistensinya pun akan semakin besar. Begitu juga sebaliknya, semakin tinggi suhu

pembentukan suatu mineral, maka tingkat ketahanannya akan semakin rendah, dengan kata lain akan sangat mudah hancur. Pada reaksi Bowen ini sendiri terdiri dari dua jalur, yaitu jalur discontinous yang berada di sebelah kiri. Jalur ini merupakan hasil daripada mineral yang bersifat basa. Dan jalur satunya yaitu jalur continous yang berada di sebelah kanan. Jalur yang kedua ini merupakan hasil daripada mineral yang bersifat asam. Pada jalur discontinous, juga menunjukkan kandungan magnesium dan besi dan sedangkan pada jalur continous menentukan kandungan kalsium dan natrium.

Reaksi Bowen dikemukakan oleh Norman L. Bowen (1887 1956), Kanada.

Diagram yang ditunjukkan di atas adalah diagram yang menggambarkan deret reaksi bowen yang menunjukkan hubungan antara suhu, tipe magma, dan pada bagian continous juga komposisi kimia suatu mineral yang terbenntuk. Sebagai penggunaan deret reaksi Bowen untuk menjelaskan keberadaan suatu mineral, deret reaksi ini juga dapat digunakan untuk menentukan sejarah aktivitas vulkanik suatu daerah pada masa lalu. Penggunaan deret reaksi Bowen untuk

batu beku dan batu sedimen yang saling bersilang siur. Jika hal seperti ini sampai terjadi, maka cara yang dapat dilakukan adalah mencari kecenderungan lapisan tanah yang lain pada lokasi itu untuk menemukan pengganti data yang hilang pada lokasi tersebut. Penggunaan yang kedua adalah tentu saja untuk mengetahu jenis magma daripada gunung berapi itu sendiri. Hal ini akan jauh lebih mudah dilakukan daripada untuk fungsi yang pertama karena hanya menggunakan deret reaksi Bowen yang ada, kita sudah dapat menentukan jenis magma yang ada pada gunung berapi di lokasi itu. Seperti misalnya pada suatu lokasi kita menemukan banyak mineral plagioklas, maka dapat disimpulkan dengan cepat pada masa lalu atau bahkan hingga saat ini, jenis magma yang ada di lokasi tersebut atau gunung berapi terdekat adalah jenis magma yang asam karena menghasilkan mineral plagioklas. Dan untuk penggunaan deret reaksi Bowen

menentukan sejarah aktivitas vulkanik suatu daerah pada masa lalu dapat digunakan dengan cara pengamatan pada mineral yang tersebar pada suatu lokasi. Hal ini bisa digunakan karena pada dasarnya mineral yang tersebar di suatu lokasi pastilah menunjukkan identitas geologi lingkungan tersebut di masa lalu yang dapat berupa keterdapatan gunung berapi atau mungkin hanya dapur magma tanpa adanya kaldera atau gunung berapi. Selain mengetahui adanya keberadaan gunung berapi itu sendiri, dapat juga diketahui jenis magma daripada gunung berapi itu sendiri dan lingkungan sekitar gunung berapi itu sendiri. Penggunaan untuk yang

untuk menentukan lingkungan sekitar gunung berapi itu sendiri merupakan cara yang paling kompleks dari ketiga cara yang diungkapkan diatas karena memerlukan pengetahuan dari bidang lain terutama dari bidang sejarah geologi. Pada cara ini, awalnya adalah dengan menggunakan mineral yang kita temukan untuk diamati dengan seksama. Yang diamati kali ini lebih kepada suhu pembentukan mineral itu sendiri. Karena suhu

pertama adalah untuk mengetahui aktivitas vulkanik yang terjadi di masa lalu. Untuk yang ini diperhatikan dari banyaknya atau intensitas mineral yang tersebar pada lapisan tanah. Semakin banyak mineral yang ditemukan maka menunjukkan aktivitas vulkanik di lokasi itu termasuk ke dalam kategori yang semakin aktif. Begitu juga sebaliknya, semakin sedikit mineral yang ditemukan pada lapisan tanah, maka semakin menunjukkan kalau aktivitas vulkanik yang terjadi di masa lalu termasuk aktivitas yang rendah. Pada lapisan tanah pun ada kemungkinan ditemukannya lapisan tanah yang sedikit mengandung mineral tapi di lapisan lain di tempat yang sama ditemukan banyaknya mineral yang dapat ditemukan di tempat itu. Ini menunjukkan pada masa lalu aktivitas vulkanik di daerah itu di masa lalu termasuk gunung yang masih aktif tapi jarang melakukan kegiatan vulkanik seperti erupsi atau semacamnya sehingga ada

pembentukan mineral itu sendiri akan menunjukkan suatu petunjuk kepada lingkungan gunung berapi di lokasi itu di masa lalu. Semisalnya pada suatu lokasi ditemukan olivin. Pada deret reaksi Bowen, diketahui kalau olivin terbentuk pada suhu yang sangat tinggi. Ini menunjukkan pada lingkungan gunung berapi tempat ditemukannya olivin tersebut adalah daerah yang minim curah hujan sehingga kelembaban udaranya termasuk kering sehingga aktivitas magma hampir tidak terpengaruhi oleh suhu udara dan menghasilkan lingkungan pembentukan yang masih panas sehingga olivin dapat terbentuk. Tapi jika seandainya pada suatu lokasi

ditemukan banyak quartz atau muscovite, maka dapat disimpulkan kalau pada daerah itu termasuk daerah yang memiliki curah hujan yang cukup tinggi atau kadar air

kekosongan mineral pada suatu lapisan tanah. Tapi untuk yang pertama ini, perlu diwaspadai adanya ketidakselarasan yang mungkin ada di lokasi tersebut. Karena ada juga kemungkinan adanya erosi di lokasi pengamatan tersebut sehingga ada lapisan yang sebelumnya mengandung banyak mineral menjadi

dalam udara yang cukup tinggi karena menghasilkan suhu yang cukup rendah sehingga mineral yang

terbentuk adalah mineral yang terbentuk pada suhu rendah. Selain itu, mineral inipun juga dapat

menunjukkan iklim dan cuaca lokasi tersebut.

menghilang dan digantikan oleh endapan sedimen yang lain. Ketidakselarasan ini dapat diketahui adari susunan

Masih menggunakan olivin dan quartz. Jika pada suatu lokasi ditemukan banyak olivin, itu

adalah gunung berapi tipe strato dimana gunung berapi tipe strato memiliki kandungan mama berjenis intermedir, Tapi tentu saja, penggunaan deret reaksi bowen untuk penentuan aktivitas vulkanik di masa lalu ini memiliki faktor-faktor yang harus terpenuhi. Yang

menunjukkan lokasi tersebut tidak mengalami perubahan suhu yang drastis sehingga olivin bisa bertahan di tempat itu. Hal ini terjadi karena olivin sebagai mineral yang terbentuk pada suhu yang tinggi merupakan mineral dengan tingkat resistensi/ketahanan yang sangat buruk atau dengan kata lain mudah hancur dan mengalami proses sedimentasi seperti pelapukan dan perpindahan. Hal ini bisasanya bisa ditemukan pada daerah dataran rendah dengan empat iklim yang menunjukkan degradasi suhu secara perlahan sepanjang tahun. Sedangkan jika pada suatu lokasi ditemukan banyak sekali mineral quartz, maka dapat diambil kesimpulan kalau lokasi di tempat itu merupakan daerah dengan perubahan suhu yang sangat drastis sehingga ada kemungkinan besar mineral-mineral yang terbentuk pada suhu tinggi sudah hancur terlebih dahulu dan lalu terbawa pergi oleh proses sedimentasi berupa Kedua, mineral yang ditemukan haruslah dalam bentuk asosiasi mineral pada batuan beku atau berupa bijih mineral. Hal ini diperlukan karena seperti pada alasan sebelumnya, batuan beku adalah bukti suatu lokasi pernah mengalami aktivitas vulkanik dan jika yang ditemukan adalah mineral yang berasosiasi pada batu sedimen atau batu metamorf, ada kemungkinan itu bukanlah mineral asli lokasi itu atau mineral yang terbawa dari lokasi yang lain sehingga jika menggunakan mineral yang berasosiasi pada batuan sedimen atau metamorf dapat mengacaukan data penelitian yang ada. Bijih Bentuk kristal yang adapun juga dapat mineral dipilih pun karena memiliki alasan yang sama, yaitu lokasinya tidak berpindah-pindah sehingga bisa didapatkan atau diketahui adanya aktivitas vulkanik di suatu lokasi. Tapi terkadang ada juga kasus dimana

pertama adalah litologi dan struktur dari lokasi tersebut. Penggunaan deret reaksi Bowen untuk aplikasi ini memerlukan suatu lokasi yang litologinya tidak terdiri dari batuan sedimen saja karena mineral yang terdapat pada batuan sedimen adalah mineral hasil pelapukan dan pengendapan yang bisa jadi asal mineral itu bukanlah dari tempat itu. Dan lokasi tersebut harus sudah memiliki struktur geologi dasar berupa batuan beku atau batuan metamorf karena suatu lokasi yang memiliki struktur geologi batuan beku adalah bukti kalau di tempat itu atau di lokasi sekitarnya ada atau pernah ada aktivitas vulkanik.

transportasi dan hanya menyisakan mineral quartz yang merupakan mineral yang memiliki tingkat

resistensi/ketahanan yang tinggi. Hal ini biasanya dapat ditemukan pada lokasi dengan iklim tropis yang umumnya hanya memiliki dua musim yang memiliki perubahan suhu yang drastis dari musim panas ke musim penghujan sehinga proses pelapukan dan proses sedimentasi akan terjadi jauh lebih cepat daripada lokasi dengan empat musim sepanjang tahun.

dijadikan referensi untuk lingkungan pegunungan ini sendiri. Jika seandainya ditemukan banyak mineral quartz dalam bentuk yang cukup besar, maka dapat diambil kesimpulan di lokasi tersebut memiliki suhu rata-rata yang rendah sehingga akan mengalami pendinginan yang relatif cepat. Begitu juga sebaliknya, jika ukuran kristalnya cukup halu, maka dapat diambil kesimpulan di lokasi tersebut memiliki suhu rata-rata yang cukup tinggi sehingga mineral membeku secara perlahan. Mineral yang ditemukan pun dapat menjadi indikasi daripada jenis gunung berapi itu sendiri. Jika pada suatu lokasi ditemukan banyaknya mineral basa, maka ada kemungkinan kalau jenis gunung berapi yang berada di tempat itu adalah gunung berapi perisai yang umumnya memiliki magma berjenis basa. Jika pada suatu lokasi ditemukan banyuak mineral asam, maka ada kemungkinan kalau gunung berapi yang ada di tempat itu atau di masa lalu adalah tipe gunung berapi kerucut. Tapi jika yang ditemukan adalah mineral dengan sifat

ditemukan banyak mineral tapi pada radius berpuluhpuluh kilometer tidak ditemukan adanya gunung berapi atau setidaknya gunung berapi yang paling terdekat memiliki jenis magma yang berbeda dari hasil mineral yang ditemukan pada lokasi. Misalkan saja pada suatu lokasi kita menemukan cukup banyak mineral plagioklas yang merupakan mineral hasil kristalisasi daripada gunung berapi dengan jenis magma yang asam. Tapi gunung berapi yang terdekat yang berjarak sekitar tiga puluh kilometer adalah tipe gunung berapi dengan magma basa dan di lokasi gunung berapi itu banyak ditemukan mineral olivin yang cocok dengan gunung berapinya. Kalau hal ini terjadi, kita harus melihat ke bawah tempat kita berpijak. Karena ada kemungkinan mineral yang ditemukan itu adalah sisa mineral daripada

intermedier, maka gunung berapi yang ada kemungkinan

gunung berapi yang mungkin dulu pernah ada di lokasi penemuan tersebut yang mungkin pada masa kini gunung tersebut sudah hancur oleh ledakannya sendiri karena seperti yang kita ketahui kalau gunung berapi asam adalah gunung berapi dengan tipe yang eksplosif sehingga ada kemungkinan gunung ledakannya sendiri sendiri atau

Jika seandainya yang ditemukan mineral basa yang berasal dari gunung berapi tipe basa, maka ada kemungkinan gunung tersebut tertimbun oleh proses alam dan lalu juga tertutupi oleh hasil erupsinya sendiri yang umumnya gunung berapi tipe basa adalah gunung yang erupsinya adalah intrusi dan tidak eksplosif sehingga dapat membuat perlapisan tanah sendiri dan tidak menghancurkan bagian atas lapisan tanah yang telah menutupinya.

menghancurkan

berapinya

menghasilkan naikan tanah yang membuatnya tidak memiliki kaldera lagi dan menjadi dapur magma tampa lubang ke atas.

DAFTAR PUSTAKA

http://en.wikipedia.org/wiki/Stratovolcano http://en.wikipedia.org/wiki/Volcanic_cone http://en.wikipedia.org/wiki/Shield_volcano http://science.jrank.org/pages/1003/Bowen-s-Reaction-Series.html Ir. Soetoto, S,U. 2001. GEOLOGI. Yogyakarta : tidak dipublikasikan Montanna, Annibale. 1987. Rocks and Minerals. Italy : Simon & Schuster. Inc