Anda di halaman 1dari 16

KEPUNAHAN A. Pengertian Kepunahan dalam biologi berarti hilangnya keberadaan dari sebuah spesies atau sekelompok takson.

Waktu kepunahan sebuah spesies ditandai dengan matinya individu terakhir spesies, walaupun kemampuan untuk berkembang biak tidak ada lagi sebelumnya. Tetapi dikarenakan wilayah sebaran sebuah spesies atau takson yang bisa sangat luas, sehingga sangat sulit untuk menentukan waktu kepunahan. Kesulitan ini dapat berujung kepada suatu fenomena yang dinamakan takson Lazarus, dimana sebuah spesies dianggap telah punah tetapi muncul kembali. Melalui proses evolusi, spesies yang baru muncul dari suatu mekanisme spesiasi (dalam bahasa Inggris: speciation) dimana jenis makhluk hidup baru muncul dan berkembang biak secara lancar bila mereka mempunyai ecology niche. Spesies akan punah bila mereka tidak bisa bertahan bila ada perubahan di ekologi mereka ataupun bila persaingan semakin ketat dari makhluk hidup lain yang lebih kuat. Umumnya, suatu spesies akn punah dalam waktu 10 juta tahun,dihitung dari permulaan kemunculannya. Beberapa spesies, biasanya juda disebut fosil hidup telah bertahan dan tidak banyak berubah selamaratusan juta tahun. Salah satu contoh fosil hidup adalah buaya. Sebelum manusia memenuhi muka bumi, laju kepunahan makhluk hidup cukup rendah, walaupun beberapa kepunahan massal telah terjadi sebelum itu. Sejak kira-kira 100.000 tahun yang lalu, seiring dengan laju populasi manusia yang semakin tinggi, laju kepunahan makhluk hidup menjadi sangat cepat, jauh lebih cepat dari kepunahan Cretaceous-Tertiary, yang terjadi sekitar 65.5 juta tahun yang lalu. Kepunahan ini dinamakan kepunahan Holocene, salah satu dari enam jenis kepunahan yang sudah diidentifikasikan sampai saat ini.
B. Pola-pola Kepunahan

Keanekaragaman spesies yang ditemukan dimuka bumi telah meningkat sejak pertama kali kehidupan muncul. Penambahan ini tidak berlangsung mulus, namun melalui naik dan turunnya jumlah spesies. Terdapat adanya ganggguan besar, seperti letusan vulkanik yang serentak, atau tabrakan dengan asteroid, yang

menimbulkan perubahan dramatik pada iklim bumi sehingga banyak spesies mengalami kepunahan. Serta kepunahan suatu spesies dapat terjadi tanpa adanya bencana besar, misalnya satu spesies dapat mengalahkan spesies lain, atau mendorongnya ke arah penunahan melalui predasi atau pemangsaan. Spesies yang sukses mungkin berevolusi menjadi spesies lain akibat perubahan lingkungan, atau perubahan acak di dalam kisaran genetik atau kumpulan gen-nya. Faktor-faktor yang menentukan keberhasilan atau kegagalan suatu spesies seringkali tidak terlalu jelas.
C. Tingkat Kepunahan

Apabila beberapa individu suatu spesies hanya dijumpai di dalam kurungan, atau pada situasi yang diatur oleh manusia, spesies tersebut dikatakan punah di alam. Pohon Franklinia altamaha telah punah di alam tetapi tumbuh baik diperkebunan. Dalam keadaan tersebut, spesies tersebut dianggap telah punah dalam skala global. Suatu spesies dianggap punah dalam skala lokal atau extirpated, jika tidak ditemukan di tempat mereka dulu berada, tetapi masih ditemukan di daerah lain di alam. Serigala Gray wolf Canis lapus pernah ditemukan di seluruh Amerika Utara, sekarang punah dalam skala lokal di Massachusetts. Menurut para ahli Biologi konservasi, suatu spesies telah punah secara ekologi jika terdapat dalam jumlah yang sedemikian sedikit sehingga efeknya pada spesies lain di dalam komunitas dapat diabaikan.
D. Kepunahan Massal Yang Disebabkan Oleh Manusia Saat Ini

Keanekaragaman spesies di dunia mengalami penurunan paling drastis selama 30.000 tahun terakhir ketika spesies manusia menunjukkan dominasinya. Dalam rangka memenuhi kebutuhannya akan sumber daya alam manusia dengan cepat mengubah lingkungan darat dan perairan. Spesies lainpun menjadi korban. Saat ini kita sedang berada di tengah-tengah kepunahan ke enam, yang disebabkan bukan oleh bencana alam, namun oleh kegiatan manusia. Dampak pertama yang langsung terlihat dari kegiatan manusia terhadap kecepatan kepunahan kini telah terlihat. Kepunahan mingkin disebabkan secara langsung oleh perburuan dan secara tidak langsung karena kegiatan membakar serta

membuka hutan dan padang rumput. Bukti-bukti dan peninggalan-peninggalan manusia prasejarahdi berbagai dunia telah diteliti para ahli paleontologi dan arkeologi. Disimpulkan bahwa perubahan dan kerusakan habitat di jaman prasejarah tersebut terjadi bersamaan dengan meningkatnya kepunahan spesies. Tiga cara manusia mendominasi ekosistem dunia, adalah: 1. Permukaan tanah Tuntutan-tuntutan manusia terhadap lahan dan sumber daya telah mengubah setengah dari permukaan bumi yang tidak diselimuti es. 2. Siklus nitrogen Setiap tahun, berbagai kegiatan manusia seperti membudidayakan tanaman pertanian yang memfiksasi nitrogen, menggunakan pupuk yang mengandung nitrogen, dan menggunakan bahan bakar fosil, menyebabkan pelepasan nitrogen.
3. Siklus karbon di atmosfer

Diperterngahan abad ini, kadar karbon dioksida di atmosfer akan meningkat dua kali lipat, disebabkan penggunaan bahan bakar fosil oleh manusia.
E. Tingkat Kepunahan Di Perairan Dan Daratan

Spesies seringkali mempunyai daerah yang terbatas, ukuran populasi yang kecil, dan jumlah populasi yang sedikit. Spesies endemik adalah spesies yang hanya ditemukan di saru tempat dan tidak di tempat lain. Spesies endemik terutama yang berada di kepulauan, biasanya rentan terhadap kepunahan. Tingkat penuhan spesies segera mencapai puncaknya ketika manusia menempati pulau tersebut. Spesies yang paling rentan musnah terlebih dahulu biasanya karena diburu, kemudian baru laju kepunahan menurun. Kepunahan kebanyakan terfokus dalam spesies darat dan sebaliknya hampir tidak ada dokumentasi mengenai kasus spesies ikan arau karang yang punah dalam beberapa puluh tahun terakhir. Kepunahan spesies darat berbeda pula dengan kepunahan spesies air tawar. Kepunahan ikan air tawar lebih sering terjadi di daerah daratan utama daripada yang dipulau, karena di perairan daratan utama jumlah spesiesnya lebih banyak.

F. Biogeorafi Pulau Dan Tingkat Kepunahan Masa Kini Para ahli biologi telah mengamati bahwa area pulau turut menentukan jumlah spesies yang dapat menghuninya. Berdasarkan pola tersebut, dikembangkan model biogeografi pulau. Menurut model tersebut, pulau-pulau besar akan memiliki lebih banyak spesies dari pada pulau-pulau kecil. Hubungan tersebut telah digunakan untuk memprediksi jumlah dan persentase spesies yang akan punah ketika habitat alaminya dirusak. Asumsinya, suatu luasan hanya dapat mendukung sejumlah tertentu spesies yang dapat hidup di habitat tersebut. Ketika luas habitat alami suatu pulau berkurang, maka pulau itu hanya mampu mendukung spesies sebanyak yang hidup pada pulau yang lebih kecil ukurannya. Setiap hubungan atrea spesies bersifat unik. Artinya, perkiraan tingkat kepunahan berdasarkan hilangnya habitat cenderung bervariasi. Sebagai pendekatan alternatif, tingkat kepunahan dapat dihitung berdasarkan laju kepunahan pada spesies tertentu saja, yaitu kelompok yang keberadaannya lebih diketahui. pencuplikanini dapat memberikan proyeksi atau gambaran mengenai dampak-dampak pengurangan habitat, penurunan jumlah populasi, dan penyusutan sebaran berbagai spesies terkait. Pendekatan ini menggunakan informasi empirik. Walaupun hanya berlaku pada bebeerapa kelompok spesies yang lebih dikenal, hasil perhit8ungan ini akan lebih akurat dalam mengestimasi tingkat kepunahan di masa yang datang. Ketika metode prakiraan hilangnya habitat dan model biogeografi pulau diaplikasikan pada daerah geografis tertentu, tampak bahwa jumlah sebenarnya spesies yang diperkirakan akan punah nyaris sama dengan jumlah spesies yang punah atau terancam punah pada saat ini, sehingga secara umum metode ini terpecaya. Model biogeografi pulau tidak dirancang untuk memperkirakan berapa lama suatu spesies akan bertahan, sebelum punah. Meskipun pada akhirnya akan punah, mungkin saja populasi-populasi kecil spesies-spesies tersebut bertahan dalam satu dekade atau bahkan seabad. Hilangnya spesies di masa depan disebabkan oleh kegiatan manusia saat ini dapat disebut sebagai kepunahan yang terhutang.

G. Kepunahan Lokal

Banyak spesies yang mengalami serangkaian kepunahan lokal di wilayah penyebarannya. Spesies-spesies yang semula tersebar luas terkadang sebarannya menjadi terbatas pada kantung-kantung kecil, sisa habitat sebelumnya. Misalnya, kumbang tanah Amerika yang dulu tersebar di sebelah timur dan tengah Amerika Utara, sekarang hanya ditemukan dalam empat populasi yang terisolasi. Laju spesies yang ada di dunia diduga terdiri dari 1 miliar populasi yang berbeda, atau sekitar 200 populasi per spesies. Sementara ada beberapa spesies yang hanya memiliki sedikit populasi, spesies lainnya dapat memiliki ribuan populasi. Hilangnya populasi adalah sebanding dengan proporsi hilangnya habitat, sehingga tingkat hilangnya populasi di dunia jatuh lebih tinggi dibandingkan dengan kehilangan spesies. Kepunahan lokal yang besar merupakan pertanda biologi yang penting, y6ang mengingatkan bahwa ada sesuatau yang salah dengan lingkungan. diperlukan tindakan untuk mencegah kepunahan lebih lanjut baik lokal maupun global. Hilangnya populasi-populasi lokal tidak hanya berarti hilangnya kenekaragaman hayati, tetapi juga mengurangi nilai wilayah baik dinikmati, peneliti ilmiah. Ketersediaan sumber daya alam dan bahan-bahan penting bagi penduduk lokal, khususnya dalam ekonomi subsistem pun akan sirna.
H. Penyebab Kepunahan

Kerusakan habitat mendorong spesies dan bahkan seluruh komunitas menuju ambang kepunahan. Ancaman utama pada keanekaragaman hayati akibat kegiatan manusia adalah kerusakan habitat, fragmentasi habitat, degradasi habitat (termasuk populasi), perubahan iklim global, pemanfaatan spesies yang berlebih untuk pentingan manusia, invasi spesies-spesies asing dan meningkatnya penyebaran penyakit, serta sinergi dari faktor-faktor tersebut. Penyebab utama kerusakan komunitas biologi adalah bertambahnya populasi manusia di muka bumi. Sangat sedikit daerah di bumi yang belum pernah diubah oleh manusia. Manusia memanfaatkan sumber daya alam seperti kayu bakar, daging hewan liar, dan tumbuhan liar. Manusia pun mengkonversi banyak habitat alami menjadi tanah pertanian atau tempat tinggal. Pemanfaatan sumber deaya tak

terelakkan, sehingga penambahan populasi manusia berperan besar bagi kepunahan keanekaragaman hayati. Lebih banyak manusia berarti lebih banyak dampak kegiatan manusia dan lebih sedikit keanekaragaman hayati. Dampak (I) dari setiap populasi manusia terhadap lingkungan diperoleh dengan rumus: I=PAT Keterangan: P = jumlah penduduk A = rata-rata penghasilan T = tingkat teknologi
I. Perusakan Habitat

Penyebab utama hilangnya keanekaragaman hayati bukanlah dari eksploitasi manusia secara langsung, melainkan kerusakan habitat sebagai akibat yang tak dapat dihindari dari bertambahnya populasi penduduk dan kegiatan manusia. Ancaman utama pada keanekaragaman hayati adalah rusak dan hilangnya habitat, dan cara yang paling baik untuk melindungi keanekaragaman hayati adalah memelihara habitat. Termasuk dalam penghilangan habitat adalah perusakan habitat dan hancurnya habitat populasi dan fragmentasi habitat. - Hutan tropika humida Kerusakan hutan tropika humida telah manjadi sinonim dengan kepunahan spesies. Hutan tropika humida menempati 7% dari daratan bumi, tetapi diperkirakan mengandung lebih dari 50% keseluruhan spesies daratan. Banyak dari spesies tersebut penting bagi ekonomi lokal, dan berpontensi digunakan oleh seluruh penduduk dunia. Pada tingkat global hutan tropika humida sangat penting untuk menyerap kelebihan karbon dioksida yang dihasilkan pembahakaran bahan bakar fosil. Hutan tropika humida muda terdegradasi karena lapisan tanahnya tipis serta sedikit unusur hara. Tanah tersebut mudah erosi akibat penggundulan hutan. - Hutan tropika kering Hutan tropika kering lebih sesuai untuk pertanian dan peternakan. Hutan tropika kering juga lebih mudah dibersihkan dan dibakar daripada hutan tropik humida.

Curah hujan habitat ini adalah sedang, dengan kisaran 250-2.000 mm per tahun, dengan musim kering yang jelas batasnya. Dalam habitat ini dimungkinkan mineral unsur hara disimpan dalam tanah, yang kemudian dimanfaatkan tumbuhan. - Padang rumput Padang rumput di daerah beriklim sejuk merupakan habitat yang juga hampir musnah akibat kegiatan manusia. Mengubah padang rumput yang luas menjadi lahan pertanaian dan peternakan merupakan pekerjaan yang relatif mudah. - Habitat perairan dan lahan basah Lahan basah merupakan habitat penting bagi avertebrata air, ikan, dan burung. Lahan basah juga berguna untuk mengendalikan banjir, air minum, dan sumber listrik. Meskipun banyak spesies lahan basah tersebar luas, beberapa sistem perairan diketahui mempunyai tingkat endemisme yang tinggi. Lahan basah sering kali diuruk atau dikeringkan untuk bangunan. Air dikeringkan, aliran air dibendung, dan perairan lahan basah bahkan tercemari zat kimiawi. - Hutan bakau Hutan bakau merupakan salah satu komunitas lahan basah penting di daerah tropika. Hutan bakau terdiri atas spesies tumbuhan berkayu yang toleran terhadap air laut, serta menguasai daerah pantai dengan air laut atau air payau. Peranan hutan bakau sangat penting sebagai tempat mencarai makan dan berbiak bagi udang dan ikan. Terlepas dari nilai ekonominy yang tinggi, bakau sering ditebang habis untuk dijadikan sawah atau tambak udang dan penetasan udang. - Terumbu karang Terumbu karang tropika menempati 0,2% total permukaan lautan, tetapi diperkirakan dihuni sepertiga dari keseluruhan jumlah ikan yang hidup dilaut. Daerah terumbu karang yang lebih luas telah rusak akibat penangkapan ikan berlabihan, polusi, dan masuknya spesies asing hasil introduksi. Penyebab lainnya adalah penangkapan ikan, kerang, dan hewan lain secara berlabihan, serta infeksi penyakit yang mematikan karang, serta pengeboman dengan dimanit dan penggunaan bahan beracun untuk menangkap berbagai makhluk hidup yang ada disekitar karang.
- Pembentukan padang pasir (desertification)

Akibat kegiatan manusia banyak komunitas biologis di daerah beriklim kering telah berubah menjadi padang pasir. Proses ini dikenal sebagai desertifikasi/ pembentukan padang pasir. Yang termasuk dalam komunitas lahan kering ini adalah padang rumput, hutan kering tropika, dan hutan belukar di daerah iklim sejuk. Daerah inib sebelumnya cocok untuk pertanian. Namun pemakaian yang terus-menerus, terutama selama bertahun-tahun kering dan angin kencang, seringkali mengakibatkan erosi tanah dan hilangnya kemampuan mengikat air oleh tanah.
J. Fragmentasi Habitat

Fragmentasi habitat adalah peristiwa yang menyebabkan habitat yang luas dan utuh menjadi berkurang dan terbagi menjadi dua atau lebih fragmen. Antara satu fragmen dengan lainnya seringkali terjadi isolasi oleh bentang alam yang terdegradasi atau telah diubah. Seringkali, pada bentang alam tersebut daerah tepinya mengalami serangkaian perubahan kondisi, yang dikenal dengan istilah efek tepi. Fragmen-fragmen kerapkali teradapat pada lahan yang kurang diminati seperti tebing curam, tanah tak subur, dan daerah yang sulit ditempuh. Seringkali fragmentasi terjadi karena pengurangan luas habitat secara besar-besaran. Fragmentasi dapat juga terjadi ketika luas habitat hanya berkurang sedikit, namun terpisah oleh penghalang yang membuat spesies tidak dapt bergerak bebas, misalnya jalan, rel kereta, saluran air, jaringan listrik, atau pagar. Efek tepi. Beberapa efek tepi yang penting adalah naik turunnya intensitas cahaya, kielembaban, suhu, dan kecepatan angin. Efek tepi ini dapat dirasakan hingga sejauh 250m ke dalam hutan. Beberapa efek tepi bahkan dapat dideteksi lebih jauh lagi ke dalam hutan. Oleh karena spesies tumbuhan dan hewan biasanya teradaptasi untuk suhu, kelembaban, dan intensitas cahaya tertentu saja, perubahan tersebutdapat memusnahkan banyak spesies dari fragmen-fragmen hutan. Ketika hutan terdegradasi, di tepi hutan terjadi peningkatan-peningkatan kecepatan angin, sementara kelembaban menurun, dan suhu meningkat. Perubahan iklim mikro seperti ini mudah menimbulkan kebakaran. Api dapat menyebar ke fragmenfragmen habitat melalui ladang pertanian terdekat yang dibakar secara rutin, seperti pada saat panen tebu atau kegiatan petani ladang berpindah.

Fragmentasi habitat memperbesar kerentanan terhadap serangan spesies asing dan spesies hama alami. Tepi hutan yang terganggu menyebabkan spesies hama mudah berkembang dan menyebar ke bagian dalam fragmen hutan tersebut. Hal ini berakibat bertambahnya jumlah hewan pengerat dan beberapa spesies burung. Fragmentasi habitat juga menyebabkan spesies liar menjadi dekat dengan tumbuhan dan hewan peliharaan, sehingga penyebaran penyakit menular pada spesies peliharaan dapat dengan mudah terjadi.
K. Degradai Habitat Dan Berbagai Polusi

Salah satu degradasi lingkungan terbesar yang harus diatasi adalah kebakaran hutan. Kebakaran hutan menimbulkan dampak meluas terhadap keanekaragaman hayati ekosistem, lingkungan dan bahkan berbagai aspek sosial ekonomi hingga mencakup politik berskala internasional. Bentuk paling umum dari degradasi lingkungan adalah polusi. Polusi dapat disebabkan oleh pestisida, limbah, pupuk dari ladang pertanian, bahan kimia, dan limbah industri, gas atau asap, yang dikeluarkan pabrik-pabrik dan mobil serta sedimen dari lereng bukit yang longsor. - Polusi pestisida Pada tahun 1962 Rachel Carson menerbitkan buku yang berjudul Silent Spring, Carson menjelaskan proses biomagnifikasi. Melalui proses ini kadar dicholorodiphenyltrichloroethane (DDT) dan pestisida organochlorine lainnya semakin pekat dari suatu tingkat rantai makanan ke tingkat berikutnya. Pestisida yang disemprotkan pada tanaman pangan dan yang digunakan untuk membunuh jentik-jentik nyamuk, ternyata membahayakan populasi hidupan liar terutama burung yang banyak memakan serangga, ikan, dan berbagai hewan yang terlebih dahulu terkena DDT dan senyawa turunan lainnya. Burung dengan konsentrasi pestisida yang tinggi pada jaringannya, terutama burung pemangsa seperti elang menjadi lemah dan menghasilkan telur yang kulitnya sangat tipis sehingga mudah pecah dalam masa pengeramannya. Kegagalan menghasilkan keturunan dan banyaknya burung dewasa yang mati, mengakibatkan populasi mereka di seluruh dunia menurun. - Polusi air

Polusi air menimbulkan dampak negatif bagi manusia, hewan, dan semua spesies yang hidup di air. Lingkungan air seringkali menjadi tempat pembuangan terbuka, baik bagi limbah industri maupun limbah rumah tangga. Ini terjadi seiring dengan populasi penduduk yang semakin meningkat. Dengan bertambahnya sumber polusi karena terlepasnya mutrisi dan bahan kimia dari tambak udang dan peternakan ikan salem menyebabkan berbagai masalah, termasuk eutrofikasi. Nutrisi dan mineral-mineral penting yang awalnya bermanfaat bagi kehidupan tumbuhan dan hewan dapat menjadi polutan berbahaya. Limbah-limbah manusia, pupuk pertanian, detergen, proses-proses industri, dan erosi tanah seringkali melepaskan nitrat dan fosfat dalam jumlah besar ke dalam sistem perairan air tawar sehingga memicu proses euterofikasi. Euterofikasi menyebabkan ledakan populasi ganggang yang menutupi perairan. Sebagai akibat dari ledakan jumlah ganggang yang besar menyebabkan persaingan dan mengalahkan spesies plankton lainnya. Ganggang bahkan menaungi dan menghalangi spesies tumbuhan yang hidup di dasar perairan yang membutuhkan cahaya. - Polusi udara Berbagai macam polutan udara telah tersebar luas sehingga merusak seluruh ekosistem, polutan ini juga membahayakan kesehatan manusia. 1. Hujan asam Hujan asam dihasilkan ketika industri-industri seperti peleburan besi, pembangkit listrik tenaga batu bara dan minyak bumi melepaskan nitrogen dan sulfur dioksida dalam jumlah besar ke udara. Di udara senyawa ini bergabung dengan molekul air sehingga terbentuk asam nitrat dan asam sulfat. Asam ini kemudian ikut serta dalam pembentukan awan, dan langsung menurunkan pH air hujan dan berakibat melemahkan bahkan mematikan pohon di sejumlah daerah yang cukup luas. Bagi perairan hujan asam menyebabkan kegagalan berkembang biak atau bahkan kematian bagi ikan. 2. Produksi ozon dan penyebaran nitrogen Cahaya matahari yang bereaksi dengan senyawa kimia buangan kendaraan bermotor dan pabrik industri membentuk ozon dan senyawa kimia sekunder yang disebut kabut asap fotokimia (photochemical smog). Konsentrasi lapisan

ozon terbawah dapat merusak jaringan tumbuhan sehingga mudah rapuh, membahayakan komunitaqs biologi dan menurunkan produktivitas pertanian. 3. Logam beracun Dampak yang ditimbulkan dari buangan logam beracun (timah hitam atau timbal) dapat secara langsung meracuni kehidupan tumbuhan dan hewan serta menimbulkan cacat pada manusia terutama anak-anak. L. Perubahan Iklim Global Karbon dioksida, gas metana dan gas-gas lain dalam jumlah kecil di atmosfer dapat meneruskan cahaya matahari sehingga menghangatkan permukaan bumi. Uap air dan gas-gas tersebut menahan pantulan energi panas dari permukaan bumi. Pengeluaran panas dari bumi ke angkasa menjadi diperlambat. Gas ini disebut gas rumah kaca karena berfungsi seperti kaca pada rumah kaca. Rumah kaca biasanya meneruskan cahaya matahari tetapi menahan energi di dalam rumah kaca ketika suhu mulai menghangat atau memanas. Dampak yang sama juga terjadi di bumi oleh gas-gas atmosfer, sehingga disebut efek rumah kaca. Gas-gas yang dikenal sebagai gas rumah kaca adalah CO2, CH4, N2O, PFCS, HFCS, dan SF6. - Dampak pada lingkungan laut Suhu yang lebih hangat dapat menyebabkan salju di gunung es mencair dan di kutub bahkan mempersempit daerah yang tertutup es. Proses ini akan erus berlanjut dan semakin cepat. Hal ini menyebabkan kenaikan air laut setinggi 988 cm dan dapat membanjiri komunitas pesisir yang rendah posisinya. Di Indonesia hal ini dapat menyebabkan pulau-pulau tertentu terutama yang posisinya rendah beresiko tenggelam. Selain itu juga berdampak pada ekosistem yang akan mengalami kerusakan dan terdegradasi. - Dampak meluas pemanasan global Perubahan iklim global dapat mengubah komunitas biologi secara radikal dan dapat pula mengubah kisaran banyak spesies. Perubahan ini dapat melaju sehingga melampaui kemampuan menyebar spesies. M. Eksploitasi berlebihan

Eksploitasi berlebihan oleh manusia akan mengancam sepertiga mamalia dan burung yang genting dan rentang kepunahan. Selain itu terjadi perdagangan makhluk hidup liar yang legal maupun ilegal mempunyai andil atas penurunan populasi banyak spesies. Salah satu contoh adalah perdagangan internasional kulit binatang berbulu yang mengurangi populasi spesies tertentu seperti berang-berang dan spesies kucing-kuncingan. Pengambilan kupu-kupu secara berlebihan oleh kolektor serangga, pengambilan anggrek, kaktus, dan spesies tumbuhan lainnya oleh hortikulturis serta sebagainya. N. Spesies Asing Pengganggu (Invasive) Spesies eksotik adalah spesies yang terdapat di luar distribusi alaminya. Akibat ulah manusia sebaran mereka meluas. Spesies ini tidak dapat berkembang di tempat ia diintroduksi karena lingkungan barunya tidak cocok dengan yang dibutuhkannya. Namun sekian persen dari spesies itu dapat tumbuh dan berkembang di lokasi baru dan banyak diantaranya tergolong spesies pengganggu. Spesies pengganggu ini dapat berkembang dengan pesat sehingga merugikan spesies asli. Melalui kompetisi perebutan sumber daya yang terbatas, spesies pengganggu dapat menggantikan spesies asli, memangsa spesies asli hingga punah atau mengubah kondisi habitat sehingga spesies asli tidak dapat bertahan lagi. Hal inilah yang dapat menyebabkan kepunahan pada spesies asli di daerah tertentu. O. Penyakit Ancaman lain bagi spesies dan komunitas biologi adalah meningkatnya penularan penyakit akibat berbagai kegiatan manusia. Interaksi langsung dengan manusia dapat meningkatkan resiko penularan penyakit. Suatu populasi satwa liar dapat tertular penyakit yang berasal dari manusia maupun populasi hewan domestik di sekitar mereka. Selain itu penyakit juga dapat tersebar secara tidak langsung melalui berbagai kegiatan pembangunan setempat. Bagi beberapa spesies hewan langka, ancaman penyakit merupakan satu-satunya ancaman besar yang dapat menyebabkan kepunahan.

Dalam program penangkaran dan pengelolaan spesies-spesies terancam punah, terdapat tiga prinsip dasar epidemiologi yang perlu diperhatikan, yaitu:
1. Hewan dalam kandang maupun satwa liar dengan populasi yang padat dapat

lebih mudah terkena tekanan parasit dan penyakit. Pada kawasan konservasi peningkatan populasi hewan diiringi dengan peningkatan laju penularan penyakit. Hal ini dikarenakan pada kawasan konservasi, habitat buatan bagi hewan sangat terbatas sehingga hewan tetap kontak dengan sumber penyakit yang berpotensi dan resiko penularan penyakitpun meningkat. Kenyataan ini berbeda dengan di alam bebas, dimana habitat bagi hewan lebih luas. Laju penularan penyakitpun biasanya berkurang ketika hewan menjauh dari sumbersumber penyakit seperti kotoran, air liur, dan kulit.
2. Kerusakan habitat dapat memberikan dampak tidak langsung, yaitu kerentanan

makhluk hidup terhadap berbagai pennyakit. Ketika habitat rusak atau terdegradasi, populasi inang akan berdesakan pada area yang relatif sempit dan berakibat terhadap kualitas habitat dan ketersediaan makanan yang seringkali memburuk. Keterbatasan nutrisi dan kondisi yang penuh sesak akan menurunkan daya tahan satwa, sehingga semakin rentang terkena serangan penyakit.
3. Pada banyak daerah konservasi, kebun-kebun binatang, taman nasional, dan

daerah pertanian baru, spesies-spesies bertemu dengan spesies lain yang tak akan pernah atau jarang terjadi di alam liar, termasuk manusia dan hewan-hewan peliharaan sehingga infeksi penyakit dapat menyebar dari satu spesies ke spesies lainnya. P. Kerentaan Terhadap Kepunahan Kerusakan lingkungan akibat ulah manusia, menyebabkan daerah penyebaran dan ukuran dari populasi dari banyak spesies akan berkurang, bahkan beberapa spesies akan mengalami kepunahan. Terdapat kelompok-kelompok tertentu spesies yang tergolong sangat rentan terhadap kepunahan, yaitu: 1. Spesies dengan sebaran geografi yang sempit. 2. Spesies yang terdiri atas satu atau beberapa populasi. 3. Spesies yang populasinya sedikit. 4. Spesies yang ukuran populasinya menurun. 5. Spesies dengan kepadatan populasi rendah.

6. Spesies yang memerlukan daerah jelajah luas. 7. Spesies hewan dengan tubuh berukuran besar. 8. Spesies dengan kemampuan menyebar yang lemah. 9. Spesies yang bermigrasi musiman. 10. Spesies dengan variasi genetik yang rendah. 11. Spesies yang memerlukan habitat khusus. 12. Spesies yang hanya dijumpai pada lingkungan utuh dan stabil. 13. Spesies yang membentuk kelompok, baik permanen atau sementara. 14. Spesies yang telah terisolasi dan belum pernah kontak dengan manusia. 15. Spesies yang diburu atau dipanen manusia. 16. Spesies yang berkerabat dekat dengan spesies yang telah punah atau terancam punah. Kerentanan spesies terhadap kepunahan seringkali tidak berdiri sendiri. Seringkali berbagai ciri atau karakteristik ekologi dan biologi berkelompok sehingga menimbulkan kerentanan. Dengan mengenali karakteristik dari spesies yang mudah punah, dengan konservasi dapat mengantisipasi keperluan-keperluan pengelolaan populasi-populasi spesies yang rentan terhadap kepunahan.

DAFTAR RUJUKAN

Anonim. Tanpa Tahun. Kepunahan. (Online) (http://wikipedia.com, diakses tanggal 17 September 2010) Indrawan, Mochamad., B, Primack, Richard., Supriatna, Jatna. 2007. Biologi Konservasi. Yayasan Obor Indonesia:Jakarta

Makalah

KEPUNAHAN
Disusun untuk memenuhi tugas matakuliah Biokonservasi yang dibina oleh Bapak Suhadi

Oleh

Kelompok I Orieza Yuniartha K I 306342400769 Fadilah Nur Laily Nurita Okta Dewi 307342410 407342408153

UNIVERSITAS NEGERI MALANG FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM JURUSAN BIOLOGI September 2010