DAMPAK GLOBALISASI TERHADAP PERTANIAN INDONESIA

BAB I
Pendahuluan

atau jangan jangan kita ini memang terkena sindrom local community AIDS (Stohr. untuk itu wajar jika eksistensinya akan selalu menjadi pusat perhatian dan perburuan negara maju yang miskin sumberdaya alam. Indonesia diprediksi mampu menjadi negara terkaya Ke-5 di dunia. maupun natural resources sepertinya enggan untuk dieliminasi oleh para pelaku kebijakan. bahwa globalisasi yang berpijak di atas kapitalisme juga berpeluang bagi meningkatnya kesenjangan dalam relasi dualisme tersebut. Instabilitas politik dan eksploitasi sumberdaya dalam mendorong kelangkaan akan semakin menggejala di era globalisasi. karena sejatinya struktur dan cultur bangsa ini masih patut dipertanyakan kelayakan dan kesiapannya dalam menghadapi globalisasi. baik pada human capital. jika mampu menggali secara optimal dan mengatur pengeluarannya (Pikiran Rakyat. Tetapi “Tidak” kata para ekonom. diskursus globalisasi di Indonesia pada kenyataannya hanya marak pada tataran wacananya. Jika strateginya tidak bias seperti Spanyol yang membabat habis Suku Indian. karena sesungguhnya globalisasi memberikan peluang yang sama kepada semua negara (kayamiskin. entitas ekonomi ini “sepi” seperti tidak mengerti atas substansi dan implikasi globalisasi. atau Inggris atas Suku Aborigin. 8 April 2004). utara-selatan. untuk itu mereka yang merasa terancam akan senantiasa menciptakan kondisi dan situasi yang tidak mendukung ke arah itu. Indonesia adalah negara kaya raya. supporting institution.A. Agar kita tidak menjadi budak. Tetapi harus ingat kata para sosiolog. kita harus memahami secara pasti arus pemikiran . maka mereka akan mengandalkan TNCs dan kaum borjuis puritan untuk menguasai Indonesia. buruh. Indonesia adalah ladang investasi yang potensial. Anehnya lagi. cukup tepat untuk direspon. Optimisme tersebut jauh sebelumnya pun diketahui semua negara maju. kuli. atau “pemaklun” di negeri sendiri. dsb) untuk menjadi kuat dan kaya. sementara pasca legalisasi. Kenapa bangsa ini dikatakan aneh? Karena bangsa yang secara sah telah menyatakan keterlibatannya dalam globalisasi (baca: perdagangan bebas) ini masih tetap tampak santai dan tidak responsif atas manuper politik negara pesaing pra-globalisasi. Untuk itu. Latar belakang Menghangatnya kembali diskursus globalisasi dalam bangsa yang aneh ini. Borok dan kelemahan bangsa yang masih kentara disana sini. 1990). timur-barat. Mungkinkah bangsa ini terlalu pede dengan kekayaan alamnya. Oleh karena itu neokolonialisme akan senantiasa mencengkram. maka sumberdaya lokal harus didorong untuk mengglobal.

termasuk implikasi jangka pendek dan jangka panjangnya. C. Tujuan Penulisan Adapun tujuan penulisan ini adalah sebagai berikut: 1. 2. Manfaat Penulisan Adapun manfaat penulisan karya tulis ilmiah ini adalah sebagai berikut: 1. Sebagai bahan dalam memberikan sumbangan pemikiran pada masyarakat dalam menyikapi dampak globalisasi terhadap pertanian Indonesia. Tujuan Umum Memperoleh gambaran dampak globalisasiterhadapi pertanian Indonesia.globalisasi yang sesungguhnya. 3. Untuk mengetahui dampak-dampak yang terjadi akibat globalisasi terhadap pertanian Indonesia. Tujuan Khusus Agar masyarakat lebih memahami dan mengetahui seberapa penting dampak globalisasi terhadap pertanian Indonesia. Untuk menyelesaikan tugas mata kuliah bahasa Indonesia 2. . B.

pembiasan batas-batas sosial. dan teknologi. IMF) adalah medianya. teknologi dan institutional finance internasional (GATT. development aid (Kruijer). dan Topler). Pada perkembangannya. Secara teoretis globalisasi merupakan episodis dari teori evolusi (Hegel. Comte. modernisasi seluaruh bangsa (Rostow. dan budaya suatu negara atau bangsa (Tjiptoherijanto). Ricardo. yakni dominasi (kolonialisme) perspektif dan ideologi yang berbasis produksi ilmu.BAB II Kajian Teori A. Efisiensi (profit maxization) adalah ruhnya. dan budaya). globalisasi mencakup lima unsur penting. Malthus) yang meyakini bahwa masyarakat akan berkembang dari primitive ke modern. Darwin. Tinjauan Praxis Globalisasi Globalisasi merupakan kontinum dari skenario idiologi dan mode kapitalisme liberal yang embrionya telah lama dicetuskan oleh Adam Smith. revolusi industri motornya. Mill. yakni Trans National Corporation (Althusser). Tujuannya adalah melanggengkan dominasi dengan menghindari modus fisik melalui hegemoni. hegemoni berkembang dari Merkantisilme ke berbagai aspek neo-kolonialisme (ekonomi. Secara praktis historis-empiris. McClelland. yaitu: . Pelaku utamanya adalah kaum borjuis (the big bourgeoisie). politik. pen-Spanyolan Amerika merupakan dasar globalisasi tahap pertama. rekayasa sosial (social engineering) atau Social Darwinisme (Spencer). Sedangkan Marshal Plan merupakan awal dari peng-Amerika-an dunia (globalisasi ekonomi modern). Menurut Salim (1995). Inkeles). lalu disusul dengan perang dingin (globalisasi idiologi). sosial. politik. percepatan kapitalisme pasca krisis kapitalis di tahun 1930-an (Fakih). dan imperialisme/ kolonialisme awal perwujudannya. pengintegrasian ekonomi nasional kepada system ekonomi global (Fakih). WTO. idiologi. penghapusan peta dunia (Naisbith. pengetahuan. Huntington. ekonomi. dan basic need strategy (Grant).

globalisasi dalam perdagangan. 4. Adapun modusnya adalah ekspansi produksi. Glory. dan menyingkirkan birokrasi (parasit). terutama teknologi di bidang informasi. ekspansi pasar. dimana suatu barang tidak hanya diproduksi pada suatu tempat akan tetapi dibanyak tempat. dan menguasai 75% total investasi global. Gospel). Pendiriannya adalah kebijakan free market yang mendorong swasta dan pilihan konsumen. APEC. dan menguasai 67% perdagangan dunia antar TNCs. Karena konstruksinya menjalar dalam iklim kapitalisme. Dengan demikian terjadi reduksi kedaulatan ekonomi suatu Negara oleh konvensi internasional. 34. patron-nya adalah WTO dan IMF (Word Bank). dan 5. Para penganut ini percaya bahwa pertumbuhan ekonomi akan dicapai dengan “kompetisi bebas”. dan sebagainya. penghargaan atas tanggungjawab personal dan inisiatif kewiraswastaan. Kompetisi yang agresif merupakan implikasi dari trash bahwa “free market” adalah cara yang efisien dan tepat untuk mengalokasikan sumberdaya alam yang langka untuk memenuhi kebutuhan . yaitu dengan adanya AFTA. sedangkan Globalisasi dibesarkan oleh perusahaan-perusahaan raksasa (Trans Nasional Corporations) yang secara riil merupakan reinkarnasi kaum borjuis yang paling diuntungkan oleh metode ekonomi tersebut. transportasi. yang didesakkan lewat skema perdagangan bebas dan pertumbuhan ekonomi. serta institusiinstitusi ekonomi di tingkat regional dan nasional. globalisasi konsumsi. B. 2. 3. dimana terjadi peralihan dari pemenuhan kebutuhan (needs) kepada pemenuhan permintaan (wants). telekomunikasi. globalisasi industri. globalisasi investasi. globalisasi pada hakekatnya bertumpu di atas paham ekonomi neo-liberal. dan WTO. maka wajar jika dalam dua dasa warsa (1970-1990) perusahaan TNCs meningkat secara menakjubkan dari 7000 menjadi 37000. Menurut Fakih (2001). dimana modal akan mengalir ke tempat yang memberi banyak keuntungan.1. globalisasi teknologi.1% total perdagangan global. dan ekspansi investasi. Anatomi Globalisasi Imperialisme dan kolonialisme sebagai embrio Globalisasi lahir dan dibesarkan oleh kaum borjuis dengan berbagai modus (Gold. dan secara politik dipayungi oleh negara-negara maju (eks penjajah). Secara kelembagaan.

Konsensus tersebut lebih dikenal dengan “The Neoliberal Washington Consensus”. Secara historis empiris. Harga yang tinggi berarti sinyal positif bagi investasi. subsidi. Pokokpokok globalisasi meliputi: Pertama. Inti dari globalisasi sesungguhnya tidak berbeda dengan imperialisme atau kolonialisme. Prosesnya dilakukan melalui invisible hand dan keluar dari cengkraman kebijakan pemerintah. paham keadilan sosial. longgarkan dan hilangkan kebijakan proteksi. harga). Untuk itu mereka akan berusaha secara langsung maupun tidak langsung menghapus berbagai kebijakan suatu negara yang dapat merintanginya. lakukan privatisasi atas BUMN. tidak lebih hanya sekedar pembungkus dari want yang sesungguhnya bertumpu pada natural resources. Pertanian (pangan) dan pertambangan (bahan bakar) merupakan dua sector yang menjadi fokus utama dari integrasi internasional. dumping. Adapun idiologi dan politik. serahkan pengelolaan pada ahlinya (privatisasi) jangan oleh masyarakat adat (lokal) karena tidak efisien (Fakih. kearifan lokal dan sebagainya sebagai patologi ekonomi neo-liberal. upah. biarkan mereka mempunyai otoritas. Menurut Adam Smith. pemilikan komunal. dan Becker. mereka berusaha keras untuk menciptakan berbagai kelangkaan sumberdaya di negara dunia ketiga. Singer. jalan menuju globalisasi adalah human capital. Ini merupakan perwujudan dari idiologi kapitalistik yang . 2001). Harga yang berlaku merupakan indicator apakah sumberdaya yang ada masih berlimpah atau sudah langka. kesejahteraan bersama. kesejahteraan bagi rakyat. C. Arndt. globalisasi lahir dari konsensus para pembela ekonomi private terutama wakil-wakil dari perusahaan raksasa yang menguasai dan mengontrol pasar dan ekonomi internasional serta memiliki kekuasaan untuk mendominasi informasi (media massa) dalam membentuk opini publik. investasi. hentikan subsidi. hapuskan kearifan lokal.manusia. Ketiga. Internasionalisasi produksi dan penguasaan ruang dalam distribusi sebagai gejala globalisasi diprakarsai lewat perubahan kebijakan pembangunan nasional kearah integrasi dengan kebijakan internasional. Oleh karena itu mereka memandang proteksi. Implikasinya. Kedua. Globalisasi Pertanian di Dunia Globalisasi pertanian secara kausalistik muncul sebagai respon atas tesis Malthus (1766-1834). dan karena keduanya merupakan determinan lahirnya globalisasi. bebaskan perusahaan swasta dari camput tangan pemerintah (perburuhan. yaitu penguasaan bahan baku (Malthus).

. Pada dasarnya. klaim kekuasaan atas bio diversity dan berbagai inovasi dituangkan dalam lembaga Hak Paten dan Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI). alat mesin pertanian. Setelah itu muncul International Rice Research Institute (IRRI). Secara substansial. WTO. IMF. dan social darwinisme. un-security-lah yang melandasi semangat evolusi. dan oleh karenanya TNC lah yang dipercaya dan ditaklidi sebagai pihak yang paling berhak sebagai penyedia pangan dunia. tesis Malthus bersimbiosis dengan keyakinan dan mitos efficiency sebagai satu-satunya prinsip dasar yang harus dipergunakan dalam pengelolaan lingkungan alam. Ini merupakan skenario pemusnahan kearifan dan sumberdaya lokal. jika ingin menembus pasar internasional. karena segalanya menjadi ketergantungan atas input luar. dan kriteria pasar dimonopoli oleh TNCs melalui undang-undang Hak Paten. dan sebagainya. Semakin kuatnyanya TNCs. unsecurity. Sekalipun ada penyerahan proses produksi. karena sifatnya hanya melakukan titah (budak) “ngorder atau ngemaklun” yang posisi tawarnya serba lemah dalam segala hal. APEC. modal. Sangat sadis. dan berbangsa. ekonomi.an memunculkan konsep pembangunan pertanian yang kelak menjadi hantu bagi para petani. namun tidak lantas mendudukkan petani di negara dunia ketiga menjadi produsen. bahwa hanya Trans National Corporations (TNC) yang memiliki jaringan pemasaran internasional yang sudah mapan-lah yang paling efisien. Meningkatnya ketakutan akan kelangkaan pangan dan bahan baku mendorong Rockefeller dan Ford Foundations terjun ke sektor pertanian. pestisida. Melalui US Agency for International Development (USAID). Klaim kekuasaan pasar dilembagakan dalam bentuk Kartel. dan un-sustainability (sementara) yang eksis dalam naungan prudence atau the invisible hand (Adam Smith). Mitos tersebut kemudian berlanjut pada mitos lain.berkarakter efisiensi (profit maxization). Pada perkembangannya. bahkan Undang-Undang Bio-terorisme. Un-security inilah yang mendorong revolusi industri. pencarian dan penaklukkan. dan penemuan lewat rekayasa genetik. Negara-negara dunia ketiga harus tunduk pada mekanisme TNCs. competition for gain. GATT. hingga Putaran Uruguay. 2003). mulai dari benih. imperialism atau kolonialisme di dunia. pada tahun 1960. maka semakin memonopoli inovasi dan pasar. yaitu Green Revolution (IPFRI. inilah yang disebut dengan “Total Konsumen”. Berbagai macam sarana produksi. Center for Maize and Wheat Improvement (CYMMIT). freedom. Standar Internasional.

alokasi sumberdaya untuk pembangunan pertanian tergeser oleh sektor manufaktur sebagai sektor prioritas. seperti Contrac Farming. Puncaknya tercapai tahun 1985. Berbagai input luar produk dari perusahaan-perusahaan TNCs dipaksakan kepada petani untuk diterapkan. pembangunan yang selayaknya “agriculture-led” menjadi di dominasi oleh pembangunan yang bersifat “manufacturing industries-led”. Corporate Farming. kebijakan ekonomi makro Indonesia semakin jelas tepolarisasi pada pertumbuhan.D. Dengan demikian. TNCs pun menjadi baking para petani berdasi dalam segala hal. yaitu swasembada beras. dan petani harus membayarnya. Ini merupakan praktik . yaitu cara perdagangan monopoli yang disertai dengan penghancuran kebun-kebun/hutanhutan rempah penduduk yang berani menyaingi monopoli perdagangan tersebut (Satari. Rakyat pedesaan yang semula merupakan petani mandiri berubah status menjadi buruh perkebunan. Implikasinya. Rice Estate. dan berakhir di awal abad ke 19 (VOC bangkrut). Meningkatnya respon negatif dari berbagai kalangan atas dampak negatif program Revolusi Hijau tidak lantas membuat TNCs terhenti. Di penghujung abad 20. Melalui pendekatan Agribisnis dominasi TNCs diperhalus dengan menghadirkan keragaman istilah yang sepertinya berbau pemerataan. Globalisasi Pertanian di Indonesia Genderang globalisasi pertanian di Indonesia sesungguhnya telah dimulai sejak pemerintah kolonial Belanda menerapkan kebijakan hongitochten. Tanah sebagai sumberdaya alam yang penting dikuasai oleh Pemerintah Kerajaan Belanda yang di desa diwakili Kepala Desa dan dipinjamkan kepada petani. Kemitraan (PIR. Pada tahun 1870 Pemerintah Kerajaan Belanda memberlakukan Undang-Undang Agraria (Agrarische) sebagai pelumas masuknya modal swasta Eropa sebagai tonggak pertanian modern (estate). TNCs pun dapat melangkah dengan mulus lewat pendekatan Agribisnis. Lewat pendekatan inilah senyatanya TNCs dapat dengan mudah mengintegrasikan pasar nasional kedalam pasar internasional yang dikuasai dan dikontrolnya. Pada tahun 1830 globalisasi semakin kentara dengan diterapkannya kebijakan tanam paksa (cultuurstelsel). TRI). Secara social praktis. Dengan demikian. Melalui sosialisasi pada berbagai ruang publik. Setelah itu intensitas dan eskalasi pasar input luar semakin menggila seiring dengan dikembangkannya konsepsi agribisnis. Globalisasi pertanian di Indonesia memuncak pada era 1970-an. dan sebagainya. perbudakan dan pemarginalan petani menjadi tidak kentara. 1999). ketika program Revolusi Hijau (Green Revolusion) intens diintroduksikan.

perburuhan. dan kekacauan social (social chaos). namun hasilnya tetap tidak pernah terwujud. serta melakukan privatisasi atas perusahaan milik negara. Kegagalan itu tidak hanya disuarakan oleh oposisi tetapi juga oleh para pendukungnya. tetapi juga akan menciptakan perlambatan ekonomi. Menurut Pollnac (1988) dan Garkovich (1989). Itu bukan hanya merusak ekonomi lokal. investasi. mengurangi subsidi. memangkas regulasi eksporimpor. poultryshop. Kecenderungannya akan mempercepat proses penurunan daya saing produk lokal. dsb) E. Menurut CIA. termasuk petani gurem (peasant) yang jumlahnya sangat dominan di Indonesia. 5/2/2004) berpendapat bahwa pengintegrasian perekonomian dunia hanya akan membawa malapetaka bagi Negara berkembang. UNDP (1999) melaporkan bahwa ketimpangan antar petani kaya dengan petani miskin semakin meluas setelah diberlakukannya globalisasi. segala sesuatu yang berbau lokal akan melemah dan hilang. Pada perkembangnnya. dan harga. Meskipun gagasannya dituangkan dalam kerangka pemberdayaan masyarakat sebagai penampakan corporate social responsibility TNCs. Globalisasi cenderung menghancurkan tatanan dan modal-modal sosial. dan Korten (2003) menyatakan bahwa globalisasi ekonomi justru menciptakan kondisi sebaliknya dari klaim para penganjurnya. Sekalipun perusahaanperusahaan TNCs dibebani tanggungjawab sosial. Barker. kerja) yang telah . anarki ekonomi. komunikasi. seperti mengendurkan bea masuk. menghadirkan sebuah lembaga baru dalam suatu masyarakat dengan maksud memotong struktur hubungan atau jaringan (sosial. Adalah sistem perdagangan dan sistem keuangan global sebagai biang keroknya. namun fenomenanya tidak akan jauh berbeda dengan pola kemitraan atau contrac farming yang pada hakekatnya bermodus eksploitasi. Mander. Kondisi tersebut tidak akan banyak membawa produk-produk lokal ke pasar internasional. globalisasi tidak menyentuh kaum miskin. Dampak Globalisasi Pertanian Globalisasi secara teoretis penuh dengan tuntutan atas negara-negara yang ingin (dipaksa harus) terlibat. Mahatir (Kompas. mengendurkan proteksi.efisiensi yang perlahan namun pasti akan menyingkirkan para petani kecil (fenomenanya dapat kita saksikan pada usahatani sayuran di Dataran Tinggi. Syarat-syarat yang ditetapkan sesungguhnya merupakan perangkap yang sulit ditembus oleh negara dunia ketiga.

namun selisih nilainya hanya 2 persen (Khudori. Sebagaimana dikatakan Evans (1979) dan Warren (1980). petani Indonesia masih merasakan keuntungan. 2003). untuk itu ia menerapkan strategi kemitraan atau contarc farming. Nilai 2 persen sesungguhnya tidak berarti. pencemaran lingkungan. Meskipun jumlah produk pertanian yang diekspor dan dipasarkan di pasar domestik jauh lebih tinggi daripada impor. Pemikiran efisiensi yang diadopsi secara mentahmentah telah menyebabkan bangsa yang kaya akan sumberdaya ini jatuh pada budaya instan dan malas. merupakan skenario yang tidak mengindahkan karakteristik sosio-budaya dan pranata lokal. meningkatnya pengangguran dan angka kemiskinan. Dampak yang paling kentara adalah terjadinya “kemandegan inovasi” dalam seluruh sistem agribisnis. karena jika dianalisis. Memang sebagai “pemaklun” yang sangat ketergantungan. produk pertanian yang diekspor oleh Indonesia sesungguhnya adalah produk yang padat dengan input luar (impor). suatu proses yang disebutnya sebagai “dependent development”.terpola atau berlangsung mapan. Betapa tidak. Para pelaku importir yang sesungguhnya merupakan perpanjangan tangan dari TNCs dapat dengan mudah mendatangkan produkproduk dari luar karena longgarnya regulasi ekspor-impor. Produk-produk yang senyatanya dapat diproduksi di dalam negeri didatangkan dari luar hanya karena alasan murah. TNCs sebagai pihak yang paling tahu akan efisiensi memandang bahwa proses produksi usahatani (on-farm) sangat rentan terhadap risiko dan ketidakpastian. dan dengan ini kegagalan bisa terjadi. Ini merupakan implikasi dari ketergantungan pada produk-produk impor. Hasil penelitian FAO atas negara-negara yang mengimplementasikan kesepakatan putaran uruguay di 16 negara menunjukkan telah terjadinya trend konsentrasi pertanian yang jelas berakibat pada marginalisasi petani kecil. Impor berbagai produk dan bahan baku pertanian kian hari kian meningkat. Dampak budayanya adalah melemahnya penghargaan atas produk-produk lokal. Namun keuntungan tersebut jauh lebih rendah dibandingkan dengan biaya dan kerugian yang harus ditanggung. sebagai akibat dari berkembangnya budaya konsumerisme yang kebaratbaratan . nilai transaksi berjalan produk pertanian Indonesia itu sesungguhnya devisit. negara ketiga bisa menikmati kemajuan meskipun berada dalam kondisi ketergantungan. Keunggulan produk tersebut jelas sangat bersifat kompetitif semu (shadow competitivenes). serta risiko dan ketidakpastian lainnya. seperti gangguan kesehatan.

Menurut Collin Hines (2000) dalam bukunya “Localization: The Global Manifesto”. membawa seluruh warga dunia ke situasi yang serba spekulatif. dan 2. Dampak lainnya adalah tidak berperannya kelembagaan-kelembagaan pendukung pertanian lokal. tersedia alternatif status selevel atau lebih rendah kita sudah meratifikasi perjanjian perdagangan bebas yang bisa menampungnya bila ia terpaksa meninggalkan hubungan yangtidak adil tersebut. globalisasi . Pada kondisi seperti ini.(western). lalu apa yang perlu kita lakukan? Jika mencari perimbangan dampak positif Globalisasi bagi negaranegara dunia ketiga. Sama seperti halnya dengan mekanisme kolonilasime. Ini merupakan peluang besar bagi investasi. yaitu lokalisasi (localism). tersebut. Hal ini terjadi karena TNCs selaku pihak yang kuasa. Ini pun merupakan rangkaian dari upaya untuk mengurangi campur tangan pemerintah. seperti polusi dan kekacauan pasar (market chaos). Bagaimana sikap kita? Menurut Scott (1983). Kalaupun dilakukan melalui peningkatan sumberdaya manusia tidak lebih sekedar untuk melanggengkan dominasi power dan mengeksploitasi budaya. karena secara perlahan inovasi lokal tercerabut dari budayanya. globalisasi bukanlah pemberian Tuhan. instabilitas dan polusi politik. kreativitas dan keinovatifan kelembagaan pendukung pertanian pemerintah malah menjadi mandul. telah memasok segala kebutuhan petani (buruh) secara langsung. Tetapi yang pasti memberi peluang yang besar untuk memunculkan tandingan atau komparasinya. kerangka legitimasi atas perlakuan tersebut memang tidak bisa diterimanya. Kondisi ini jelas sangat menguntungkan TNCs. penghancuran komoditas lewat penyebaran virus secara terencana. dampak positifnya paling banter politik etis (pembangunan fisik). suatu perlakuan tidak adil akan dianggap eksploitatif oleh pihak yang berada dalam kondisi rawan subsistensi bila: 1. dan pembentukan opini publik. Meningkatnya dominasi dan persaingan tidak menutup kemungkinan akan mendorong pihak yang lemah untuk menerapkan strategi picik. social chaos. artinya ia dapat diralat ke arah teologi baru globalisasi dengan lebih memberi tempat kepada pahan localism yang melindungi dan membangun Pada ujungnya. Celakanya. jelas sangat kecil dibandingkan dengan dampak negatifnya.

Namun itu saja tidak cukup. Gagasan Hines yang mengetengahkan Protect the Local Globally atau pendekatan berbasis lokalita memang lebih memberdayakan.kembali ekonomi lokal. BAB III Penutup . karena untuk meningkatkan daya saing produk pertanian Indonesia di pasar domestik maupun internasional seperti sekarang ini. perlu disertai dengan inovasi pada sistem pembangunan pertanian secara keseluruhan.

Pencabutan subsidi. Keberanian dan keberdayaan berinovasi mengembangkan sumberdaya lokal (localism) merupakan kunci untuk membangun kembali jati diri bangsa. Ketimpangan. Saran Setelah Kajian teori tersebut dapat disimpulkan. Saran yang dapat dipetik dari sub-sub kajian diatas adalah kita harus lihai dan bijaksana dalam menyikapi dampak-dampak Globalisasi yang telah terjadi. kemiskinan.A. DAFTAR PUSTAKA . B. lenyapnya berbagai sumberdaya dan budaya lokal. sekarang kita dapat melihat jelas dampak-dampak yang terjadi akibat Globalisasi bagi Indonesia. karena kita tidak akan mungkin lagi kembali ke dunia era sebelum globalisasi. Kesimpulan Globalisasi telah berdampak luas pada pertanian di negara-negara dunia ketiga. Mengglobalkan inovasi lokal merupakan indikator keberdayaan bangsa. dan berhentinya inovasi merupakan dampak langsung dari globalisasi. privatisasi sumberdaya dan institusi pemerintah. Lemahnya kondisi internal dan kuatnya cengkraman internasional merupakan sinergi penghancuran kearifan lokal di negara dunia ketiga. dan ketergantungan pada berbagai input luar adalah bukti konkritnya. Kita juga harus ikut serta untuk mencari solusi yang terbaik bagi bangsa. membiasnya pemberdayaan. longgarnya kran impor sebagai prasyarat untuk ekspor.

4 november 2010 .content/uploads/2009/10/dampak_globalisasi_terhad ap_pertanian_indonesia. Dampak Globalisasi terhadap pertanian di Indonesia.id/wp.unpad.Iwan (2009). From http://pustaka.ac.pdf .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful